Anda di halaman 1dari 2

Dalam percobaan pembuatan etil asetat ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi

katalisator asam sulfat dalam pembuatan etil asetat melalui reaksi esterifikasi. Ester merupakan suatu
turunan asam karboksilat yang diperoleh dengan mereaksikan suatu asam (karboksilat)/asam asetat
dengan alcohol (etanol) atau phenol.
Pertama-tama diambil 25ml campuran asam asetat alcohol ke dalam labu alas bulat kemudian
ditambahkan 4 tetes asam sulfat pekat yang berfungsi untuk mempercepat reaksi esterifikasi lalu
ditambahkan 2 butir batu didih yang berfungsi untuk mengontrol panas sehingga panasnya merata.
Sebelum labu alas bulat dipasangkan ujung dalam alat reflux dioles parafin sebagai pelembab dan
pelicin agar labu alas bulat mudah terlepas. Proses reflux bertujuan untuk menghomogenkan larutan. Labu
alas bulat dipasang kea lat reflux lalu dipanaskan dengan api kecil sampai 20 menit. Senyawa organic
akan mendidih pada suhu tetap sehingga pemanasan pelarut pada titik didihnya merupakan larutan dan
menjamin semua reaktan dalam reaksi tersebut. Pemanasan pelarut volatile akan menyebabkan molekul
pelarut menjadi uap panas. Suhu refluks dijaga agar pengembunan tidak lebih dari sepertiga bagian
panjang pendingin. Pemanasan yg cepat dan tinggi tidak menyebabkan perubahan suhu refluks tetapi
menyebabkan sebagian uap akan keluar dari system reaksi melalui puncak pendingin.
Setelah reflux selesai campuran didinginkan sebentar agar mudah untuk dipindahkan ke alat
destilasi. Proses destilasi ini bertujuan untuk memisahkan etil asetat dengan air atau dengan kata lain untuk
mendapatkan etil asetat murni. Setelah dipindahkan labu alas bulat dipanaskan dengan api kecil selama
20 menit dengan suhu antara 70-80 derajat C. Agar suhu stabil api digoyang memutar agar reaksi tetap
berjalan dan suhu tidak melebihi batas. Jika suhu melebihi 80 derajat ester akan rusak dengan tanda
tanda larutan menjadi menguning.
Kemudian hasil dinetralkan dengan Na2CO3 5% dengan cara ditetes teteskan hingga larutannya
netral dan dicek menggunakan kertas PH. Kemudian hasil desilat dipindahkan ke corong pisah dan
ditambahkan larutan CaCl2 jenuh 5 tetes dengan cara diteteskan demi tetes agar larutan ester dapat
dipisahkan. Lapisan ester ditampung pada Erlenmeyer 50ml dan ditambahkan 1gram Kristal MgSO4 yang
berfungsi menyerap sisa air hasil dari esterifikasi tersebut. Untuk mengefisienkan ekstraksi, fase air dan fase
organic harus bercampur secara keseluruhan denga cara penggoyangan memutar dan pengocokan
corong pisah. Setelah memasukan hasil desilat ke corong pisah dan sebelum penutup corong pisah
ditutup, sebaiknya corong pisah digoyangkan terlebih dahulu. Pegang corong dengan kedua tangan
dengan tangan yang satu pegang corong dan satu jari tetap pada penutupnya. Pegang corong disekitar
kran dengan tangan satu untuk menjaga agar kran tetap berada pada posisinya, yg lebih pentinga agar
kita dapat membuka dan menutup kran secara cepat. Ekstraksi ini akan berjalan baik jika fase organic
dan fase air terlihat dengan jelas dalam corong pisah. Dari hasil percobaan terlihat bahwa air berada
pada lapisan bawah sedangkan senyawa organic berada pada lapisan atas. Pembentukan 2 lapisan ini
dikarenakan adanya perbedaan massa jenis. Selain itu, kepolaran juga sangat mempengaruhi dalam
pemisahan lapisan ini.
Asam sulfat pekat mampu mengikat air (higroskopis), jadi untuk reaksi setimbang yang
menghasilkan air dapat menggeser reaksi ke kanan (ke arah produk) sehingga produk yang dihasilkan
menjadi lebih banyak. Dari factor ini dapat diambil kesimpulan bahwa penambahan asam sulfat sebagai
katalis untuk mempercepat kecepatan reaksi karena reaksi antara asam sulfat dengan air adalah reaksi
eksoterm yg kuat. Air yang ditambahkan asam sulfat akan mampu mendidih, sehingga suhu reaksinya
akan tinggi. Makin tinggi suhu reaksi, makin banyak molekul yang memiliki tenaga lebih besar atau sama
dengan tenaga aktivasinya, hingga makin cepat reaksinya.
Dalam percobaan ini, diperoleh berat jenis 0,99 g/ml sedangkan pada teori berat jenis etil asetat
adalah 0,897. Dan diperoleh factor berat jenis 110% ini mungkin dikarenakan pada saat meninmbang
MgSO4 yang kurang pas dengan berat yg ditentukan dan alat yang seadanya. Sehingga dalam
percobaan ini diperoleh rendemen sebesar 50,85% . rendemen ini dapat diperoleh dengan
membandingkan berat hasil dan berat pada teori.