Anda di halaman 1dari 35

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Diesel berasal dari nama seorang insinyur dari Jerman yang menemukan
mesin ini pada tahun 1893, yaitu Dr. Rudolf Diesel. Pada waktu itu mesin tersebut
tergantung pada panas yang dihasilkan ketika kompresi untuk menyalakan bahan
bakar. Bahan bakar ini diteruskan ke silinder oleh tekanan udara pada akhir
kompresi.
Pada tahun 1924, Robert Bosch, seorang insinyur dari Jerman, mencoba
mengembangkan pompa injeksi daripada menggunakan metode tekanan udara
yang akhirnya berhasil menyempurnakan ide dari Rudolf Diesel. Keberhasilan
Robert Bosch dengan mesin dieselnya tersebut sampai saat ini digunakan oleh
masyarakat.
Dalam mesin diesel, bahan bakar diinjeksikan ke dalam ruang bakar pada
akhir langkah kompresi. Sebelumnya udara yang diisap telah dikompresi dalam
ruang bakar sampai tekanan dan temperatur menjadi naik. Naiknya tekanan dan
temperatur mengakibatkan bahan bakar menyala dan terbakar sendiri. Untuk
memperoleh tekanan kompresi yang tinggi saat putaran mesin rendah, banyaknya
udara yang masuk ke dalam silinder harus besar tanpa menggunakan throttle valve
untuk membatasi aliran dari udara yang dihisap.
Dengan demikian dalam sebuah mesin diesel, output mesinnya dikontrol
oleh pengontrol banyaknya bahan bakar yang diinjeksikan. Berbeda dengan mesin
diesel, output mesin bensin dikontrol oleh membuka dan menutupnya throttle
valve dengan cara mengontrol banyaknya campuran udara dan bahan bakar yang
masuk.
Bagian terpenting saat pemeliharaan pada mesin bensin yaitu perbandingan
udara dan bahan bakar dari campuran udara dan bahan bakar, besarnya campuran
yang masuk, apakah tetah memadai kompresinya, apakah ada atau tidak
kemampuan pengapiannya dan juga apakah saat pengapiannya tepat. Sementara
dalam mesin diesel, kompresi adalah bagian yang paling penting dalam
pemeliharaan.. Penggunaan perbandingan kompresi yang tinggi dan bahan bakar
2

dengan titik bakar (ignition point) yang rendah akan memperbaiki kemampuan
terbakarnya bahan bakar.
Banyaknya udara yang masuk ke silinder pada mesin diesel memiliki
pengaruh besar terhadap terjadinya pembakaran sendiri (self-ignition) yang dapat
menentukan output. Efisiensi pengisapan adalah suatu hal yang penting.
Untuk bahan bakar mesin diesel menggunakan minyak diesel (solar). Bahan
bakar diinjeksikan ke dalam ruang bakar, dan dapat terbakar secara spontanitas
oleh adanya temperatur udara yang tinggi. Tingginya temperature udara yang
dikompresikan dapat mempermudah bahan bakar untuk terbakar secara
spontanitas. Nilai kemampuan bahan bakar diesel untuk cepat terbakar adalah
angka cetane (cetane number). Untuk mesin diesel yang berkecepatan tinggi yang
digunakan pada kendaraan truk dan mobil-mobil angka cetane yang umumnya
digunakan sekurang-kurangnya 40-45
1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum lapang ini yaitu :
1. Mahasiswa mengenal komponen dalam ruang bakar mesin diesel.
2. Mahasiswa mengerti cara kerja dari pembakaran yang terjadi di dalam
silinder.
1.3. Waktu dan tempat praktikum
Praktikum lapangan Daerah Penangkapan Ikan, dilaksanakan pada hari
Senin tanggal 23 Juni 2014, Pukul 09.00 12.30 WIB bertempat di Laboratorium
Otomotif Fakultas Teknik Universitas Pancasakti, Tegal.










3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Mesin Diesel
Mesin diesel adalah sejenis mesin pembakaran dalam; lebih spesifik lagi,
sebuah mesin pemicu kompresi, dimana bahan bakar dinyalakan oleh suhu tinggi
gas yang dikompresi, dan bukan oleh alat berenergi lain (seperti busi).
Mesin ini ditemukan pada tahun 1892 oleh Rudolf Diesel, yang menerima
paten pada 23 Februari 1893. Diesel menginginkan sebuah mesin untuk dapat
digunakan dengan berbagai macam bahan bakar termasuk debu batu bara. Dia
mempertunjukkannya pada Exposition Universelle (Pameran Dunia) tahun 1900
dengan menggunakan minyak kacang (lihat biodiesel). Kemudian diperbaiki dan
disempurnakan oleh Charles F. Kettering.

2.2 Prinsip Kerja Mesin Diesel
Mesin/motor diesel (diesel engine) merupakan salah satu bentuk motor
pembakaran dalam (internal combustion engine) di samping motor bensin dan
turbin gas. Motor diesel disebut dengan motor penyalaan kompresi (compression
ignition engine) karena penyalaan bahan bakarnya diakibatkan oleh suhu
kompresi udara dalam ruang bakar. Dilain pihak motor bensin disebut motor
penyalaan busi (spark ignition engine) karena penyalaan bahan bakar diakibatkan
oleh percikan bunga api listrik dari busi.
Cara pembakaran dan pengatomisasian (atomizing) bahan bakar pada motor
diesel tidak sama dengan motor bensin. Pada motor bensin campuran bahan bakar
dan udara melelui karburator dimasukkan ke dalam silinder dan dibakar oleh
nyala listrik dari busi. Pada motor diesel yang diisap oleh torak dan dimasukkan
ke dalam ruang bakar hanya udara, yang selanjutnya udara tersebut dikompresikan
sampai mencapai suhu dan tekanan yang tinggi. Beberapa saat sebelum torak
mencapai titik mati atas (TMA) bahan bakar solar diinjeksikan ke dalam ruang
bakar. Dengan suhu dan tekanan udara dalam silinder yang cukup tinggi maka
partikel-partikel bahan bakar akan menyala dengan sendirinya sehingga
membentuk proses pembakaran. Agar bahan bakar solar dapat terbakar sendiri,
maka diperlukan rasio kompresi 15-22 dan suhu udara kompresi kira-kira 600C.
Meskipun untuk motor diesel tidak diperlukan system pengapian seperti
halnya pada motor bensin, namun dalam motor diesel diperlukan sistem injeksi
bahan bakar yang berupa pompa injeksi (injection pump) dan pengabut
(injector) serta perlengkapan bantu lain. Bahan bakar yang disemprotkan harus
mempunyai sifat dapat terbakar sendiri (self ignition).
2.3 Proses pembakaran mesin diesel
Proses pembakaran dibagi menjadi 4 periode:
Periode 1: Waktu pembakaran tertunda (ignition delay) (A -B) Pada
periode ini disebut fase persiapan pembakaran, karena partikel-partikel
4

bahan bakar yang diinjeksikan bercampur dengan udara di dalam silinder
agar mudah terbakar.
Periode 2: Perambatan api (B-C) Pada periode 2 ini campuran bahan bakar
dan udara tersebut akan terbakar di beberapa tempat. Nyala api akan
merambat dengan kecepatan tinggi sehingga seolah-olah campuran
terbakar sekaligus, sehingga menyebabkan tekanan dalam silinder naik.
Periode ini sering disebut periode ini sering disebut pembakaran letup.
Periode 3: Pembakaran langsung (C-D) Akibat nyala api dalam
silinder, maka bahan bakar yang diinjeksikan langsung terbakar.
Pembakaran langsung ini dapat dikontrol dari jumlah bahan bakar yang
diinjeksikan, sehingga periode ini sering disebut periode pembakaran
dikontrol.
Periode 4: Pembakaran lanjut (D-E) Injeksi berakhir di titik D, tetapi bahan
bakar belum terbakar semua. Jadi walaupun injeksi telah berakhir,
pembakaran masih tetap berlangsung. Bila pembakaran lanjut terlalu lama,
temperatur gas buang akan tinggi menyebabkan efisiensi panas turun.
2.4 Kepala Silinder
Kegunaan
1. Untuk menutup blok silinder dan sebagai ruang bakar
2. Sebagai dudukan dari katup-katup, busi, injektor, poros kam, saluran gas
masuk dan keluar, saluran air pendinginan dan pelumasan.











5

Bagian-bagiannya:

1. Pegas katup
2. Batang katup
3. Pengatur katup
4. Ruang pendingin (air)
5. Busi
6. Saluran masuk
7. Dudukan katup
8. Ruang bakar
9. Paking kepala silinder


2.4.1 Pembebanan
Kepala silinder mendapat pembebanan tekanan dan temperatur tinggi akibat
dari hasil pembakaran bahan bakar dalam silinder motor.

2.4.2 Bahan kepala silinder
Untuk menahan tekanan hasil pembakaran dan panas yang timbul, maka
kepala silinder harus : kuat, keras dan tahan panas.
Macam-macam bahan kepala silinder
1. Besi tuang
a. Mempunyai kekuatan tekan tinggi
b. Keras
c. Dapat meredam getaran dan suara
d. Pemuaian kecil

2. Campuran aluminium
a. Dapat memindahkan panas dengan baik
Maka : - Kecenderungan knocking berkurang
- Perbandingan komponen dapat ditinggikan
- Daya motor bisa lebih besar.
b. Pemuaian besar
Masalah : kerapatan paking kepala silinder berkurang
c. Dudukan dan penghantar katup harus dibuat dari logam yang keras, untuk
mengatasi keausan.
d. Ringan

2.4.3 Macam-macam pendingin kepala silinder
Kepala silinder harus didinginkan, karena kepala silinder langsung
bersinggungan dengan pembakaran motor.
1. Pendinginan udara

6



a. Sirip-sirip pendingin akan ,memperluas bidang permukaan
b. Suara keras akibat getaran sirip
c. Biasanya terdapat pada sepeda motor, ada juga pada mobil (VW).

2. Pendinginan air
Ke radiator
Saluran-saluran
Saluran-saluran
Dari pompa air

a. Melalui saluran-saluran, air dapat bersikulasi dari blok silinder motor ke
saluran pendingin pada kepala silinder, kemudian ke radiator.
b. Dapat meredam suara motor
c. Pendinginan merata.

2.4.4 Bentuk-bentuk ruang bakar
Perencanaan ruang bakar mempengaruhi:
1. Perbandingan kompresi
2. Efesiensi motor
3. Kecenderungan knocking
4. Daya motor



7

2.4.5 Ruang bakar motor diesel
1. Ruang bakar dalam torak
(DIRECT INJECTION)
Nozle


2. Ruang bakar kamar pusar (INDIRECT
INJECTION)
Nozle
Glow plug/
busi pemanas


















8

BAB III
HASIL PRAKTIKUM
3.1 Kepala Silinder
Kegunaan
1. Untuk menutup blok silinder dan sebagai ruang bakar
2. Sebagai dudukan dari katup-katup, busi, injektor, poros kam, saluran gas
masuk dan keluar, saluran air pendinginan dan pelumasan.


3.1.1 Pembebanan
Kepala silinder mendapat pembebanan tekanan dan temperatur tinggi akibat
dari hasil pembakaran bahan bakar dalam silinder motor.

3.1.2 Bahan kepala silinder
Untuk menahan tekanan hasil pembakaran dan panas yang timbul, maka
kepala silinder harus : kuat, keras dan tahan panas.
Macam-macam bahan kepala silinder
1. Besi tuang
a. Mempunyai kekuatan tekan tinggi
b. Keras
c. Dapat meredam getaran dan suara
d. Pemuaian kecil

2. Campuran aluminium
a. Dapat memindahkan panas dengan baik
Maka : - Kecenderungan knocking berkurang
- Perbandingan komponen dapat ditinggikan
- Daya motor bisa lebih besar.
b. Pemuaian besar
Masalah : kerapatan paking kepala silinder berkurang
c. Dudukan dan penghantar katup harus dibuat dari logam yang keras, untuk
mengatasi keausan.
9

d. Ringan

3.1.3 Macam-macam pendingin kepala silinder
Kepala silinder harus didinginkan, karena kepala silinder langsung
bersinggungan dengan pembakaran motor.
1. Pendinginan udara



a. Sirip-sirip pendingin akan ,memperluas bidang permukaan
b. Suara keras akibat getaran sirip
c. Biasanya terdapat pada sepeda motor, ada juga pada mobil (VW).

2. Pendinginan air
Ke radiator
Saluran-saluran
Saluran-saluran
Dari pompa air

a. Melalui saluran-saluran, air dapat bersikulasi dari blok silinder motor ke
saluran pendingin pada kepala silinder, kemudian ke radiator.
b. Dapat meredam suara motor
c. Pendinginan merata.

3.1.4 Bentuk-bentuk ruang bakar
Perencanaan ruang bakar mempengaruhi:
10

1. Perbandingan kompresi
2. Efesiensi motor
3. Kecenderungan knocking
4. Daya motor



3.1.5 Ruang bakar motor diesel
1. Ruang bakar dalam torak
(DIRECT INJECTION)
Nozle


2. Ruang bakar kamar pusar (INDIRECT
INJECTION)
Nozle
Glow plug/
busi pemanas


3.2. Blok Silinder
Blok silinder dan ruang engkol merupakan bagian pokok motor. Bentuk dan
konstruksi blok silinder tergantung pada beberapa faktor, antara lain :
Jumlah silinder, susunan silinder, susunan katup, jenis pendinginan, letak
poros kam, tempat dudukan motor, bahan serta pembuatannya.






11

3.2.1 Blok silinder harus memenuhi persyaratan
1. Kaku, pembebanan tekan tidak boleh mengakibatkan perubahan elatisitas
pada bentuknya
2. Ringan dan kuat
3. Konstruksi blok dan silinder harus memperoleh pendinginan yang merata
4. Pemuaian panas harus sesuai dengan bagian-bagian yang terpasang pada
blok tersebut (misal poros engkol, kepala silinder).
3.2.2 Silinder harus memenuhi persyaratan
1. Sifat luncur yang baik pada permukaan lurusnya dan tahan aus
2. Kuat terhadap tekanan tinggi
3. Tidak boleh mengalami perubahan bentuk akibat waktu pemakaian yang
lama
4. Konstruksi silinder harus memperoleh pendinginan yang merata
5. Mudah dioverhoul atau diganti.

3.2.3 Jenis Konstruksi
Berdasarkan susunan silinder :

Sebaris



Konstruksi sederhana, baik untuk motor 2 s.d 6
silinder

Konstruksi Blok Silinder
Blok silinder utuh








Pendinginan air
Konstruksi sederhana
Overhoul silinder perlu pengerjaan khusus
(mengebor, menghorning, memasang torak
oversial)
12


3.3 Lapisan Luncur Khusus
Silinder dan torak yang terbuat dari bahan aluminium mempunyai sifat
gesek yang sangat jelek. Untuk mengatasi hal tersebut, silinder aluminium harus
mempunyai lapisan luncur khusus.
1. Lapisan logam keras (misalnya : krom, nikel, campuran nikel,/ silisium)
a. Sifat luncur paling baik
b. Proses pelapisan perlu ketelitian tinggi
c. Sering digunakan pada motor kecil ( sepeda motor )
2. Penggunaan campuran aluminium dan silisium ( alusil )





Struktur permukaan setelah dituang
O Silisium murni
# Campuran aluminium/
silisium









Struktur permukaan setelah
pengerjaan akhir ( pengasahan )
Permukaan luncur merupakan
puncak-puncak kristal silisium
yang sangat keras dan tahan aus.
3.4 Poros Engkol
Jurnal poros engkol
Jurnal batang torak


13

Gerakan lurus / bolak-balik torak sebagai akibat tekanan gas pembakaran
dirubah menjadi gerakan putar dengan perantaraan batang torak.
Pembebanan pokok
1. Pembebanan puntir
2. Pembebanan bengkok
Puntir
Bengkok


Persyaratan bahan
1. Kuat, tahan terhadap pembebanan yang berubah-ubah (misal : getaran
puntir)
2. Permukaan pena bantalan harus tahan tekanan tinggi dan keausan.

Bahan dan cara pembuatan
Tuntutan tinggi
(Motor diesel)

: Poros engkol ditempa dari baja khusus
diikuti perlakuan panas untuk meningkatkan
kekuatan
Tuntutan sedang
(Motor bensin dan diesel
kecil)
: Poros engkol dituang dari besi tuang khusus
yang dapat menerima perlakuan panas
Pengerasan permukaan
pena-pena
(Jurnal)
: Permukaan pena diperkeras dengan
perlakuan panas atau kimia kemudian
digerinda dengan tekanan kecil.
Tebal lapisan keras : 0,05 0,5mm




14

3.4.1 Bagian-bagian utama poros engkol
1 2
3
4
Keterangan
1 Jurnal batang torak : Jurnal dan batang torak dihubungkan
dengan bantalan luncur
Jurnal batang torak menerima langsung
tekanan pembakaran
2 Jurnal poros engkol : Didukung langsung bantalan utama
dengan blok silinder
3 Bobot balans : untuk menyeimbang gaya-gaya yang
tidak seimbang dari mekanisme poros
engkol
4 Lubang oli : Dengan pelumasan tekan oli dari
bantalan utama poros engkol ke bantalan
luncur batang torak
Lubang dibuat besar untuk mengurangi
berat poros engkol.
3.5 Bantalan Poros Engkol
Bantalan poros engkol melindungi dan menghantarkan poros engkol.
Dengan demikian bantalan harus membatasi sekecil mungkin gesekan dan
keausan yang timbul, dengan bantalan sistem pelumasan.


15

Pembebanan
Ditinjau dari arahnya, beban yang harus dipikul bantalan dibedakan :
Gaya aksial

Arah beban yang ditumpu sejajar
poros
Gaya radial

Arah beban yang ditumpu tegak lurus sumbu
poros.

Gaya kombinasi

Arah beban sejajar dan tegak lurus sumbu
poros (terjadi saat tertentu).


3.5.1 Bantalan luncur
Prinsip kerja
Apabila dua bagian logam yang bersinggungan saling bergeser satu sama lain,
akan timbul panas dan keausan
Berdasarkan efek pelumasan, gesekan dibedakan menjadi 3 macam :
1. Gesekan kering Titik kontak antara bantalan dan poros terjadi
dibanyak tempat.
Kondisi ini tidak pernah terjadi pada motor dengan
sistem pelumasan yang baik.
16


Tingkat keausan tinggi


2. Gesekan setengah
cair

Titik kontak antara bantalan dan poros terjadi hanya
di beberapa tempat.
Kondisi ini terjadi pada saat lapisan oli tidak
sempurna, karena temperatur oli terlalu tinggi,
tekanan oli kurang (pompa oli bekerja tidak baik,
awal motor berputar).
Tingkat keausan rendah.


3. Gesekan cair


Tidak terjadi kontak langsung antara bantalan dan
poros
Gesekan terjadi antara lapisan oli pada permukaan
luncur bantalan dan poros.
Kondisi ini dicapai pada setiap keadaan kerja motor
yang baik
Tingkat keausan rendah sekali.

3.5.2 Jenis-jenis bantalan luncur
1. Berdasarkan konstruksinya
Bantalan luncur radial
Pasak
pemegang
Lubang oli
Alur oli


Fungsi :
Mendukung gaya radial
dalam hubungan antara
batang torak dan poros
engkol
Konstruksi :
Terbagi menjadi dua
bagian, agar bisa dipasang
pada poros engkol utuh.
17

Bantalan luncur aksial

Fungsi :
Mengantarkan poros
engkol saat menerima gaya
aksial, yaitu pada saat
terjadi
hubungan/pelepasan
kopling.
Konstruksi :
Terbagi dalam dua bagian
yang menyatu atau
terpisah dari bantalan
luncur radial.
Terpasang pada bagian
tengah dari panjang pors
engkol.

2. Berdasarkan bahan
Bantalan satu bahan

Terbuat dari besi tuang
kelabu (c 2%) atau
perunggu.
Pemakaian hanya
untuk beban kecil.
Bantalan dua bahan

Bahan baja
Pendukung luar
terbuat dari baja atau
paduan Cu Pb Sn
Permukaan luncur
terbuat dari paduan Pb
Sn

18

b
a


Bahan aluminium
Pelindung luar terbuat
dari paduan aluminium
Permukaan luncur
terbuat dari paduan
aluminium khusus.


Bantalan tiga bahan
a
b
c

Pelindung luar terbuat dari
baja
Pendukung terbuat dari
paduan Cu Pb Sn. Tebal
lapisan 0,3 1,5mm
Permukaan luncur terbuat dari
logam putih (contoh : paduan
Pb Sn
10
) secara galvaris.
Tebal lapisan 0,01 0,03
mm
Keterangan :
Apabila keausan permukaan
luncur besar, maka
pendukung akan berfungsi
sebagai permukaan luncur.
3.5.3 Pengikatan bantalan luncur
Penempatan:


Pasak pemegang
Pasak pemegang
19

Pengencangan (pre-load)

Untuk mendapatkan tekanan
bidang kontak yang sesuai
antara bantalan dan
dudukannya, diukur melalui
pengencangan pendahuluan
(pre-load).
Besarnya momen
pengencangan serta ukuran
celah, lihat spesifikasi yang
benar.
3.5.4 Bantalan gelinding
Bantalan gelinding dipakai pada :
1. Motor menggunakan sistem pelumasan campur
2. Motor dengan konstruksi poros engkol terbagi.
Contoh-contoh konstruksi

Bantalan peluru radial

Bantalan peluru kotak sudut

Bantalan rol jarum
20

3.6 Pelumasan bantalan poros engkol
3.6.1 Bantalan gelinding
Bantalan jenis ini tidak menuntut banyak pelumasan. Dalam praktik, cukup
pelumasan ciprat atau pelumasan campur.
3.6.2 Bantalan luncur

Bantalan luncur memerlukan pelumasan tekan
Aliran oli : Saluran utama alur pelumas pada bantalan poros engkol
saluran penghubung bantalan pangkal batang torak.
Jenis dan jumlah tergantung pada sistem pelumasan :
Pelumasan tekan sirkuit pompa bantalan luncur
Pelumasan campuran/autolube bantalan gelinding





21


3.7 Batang Torak Dan Roda Gaya
3.7.1 Batang Torak
Fungsi
1. menghubungkan torak dan poros engkol
2. merubah gerak lurus torak menjadi gerak putar pada poros engkol.
3. Memindahkan gaya torak ke poros engkol dan membangkitkan momen
putar pada poros engkol.
Pembebanan

Pembebanan yang terjadi pada
batang torak antara lain :
a. Tekan
b. Regangan
c. Tekukan


Bahan
Batang torak terutama terbuat dari bahan baja dengan perbaikan mutu,
contoh 34 CR MO 4, atau besi tuang (misal GGG 50). Batang torak untuk motor
balap terbuat dari paduan titan, karena sifatnya ringan dan kekuatan tinggi.
Pada motor-motor kecil, batang torak terbuat dari paduan aluminium.
1. Nama bagian-bagian pada batang torak


Persyaratan bahan
a. Ringan supaya kelembaman massa kecil
22

b. Bentuknya harus kaku, kuat terhadap tekanan atau tekukan.

2. Konstruksi dan bentuk profil
Tutup pangkal batang torak, terdapat 2 jenis yaitu :
a) Bentuk lurus

b) Bentuk miring

Keterangan gambar : (b)
a. Penampang dibuat miring (bergigi), untuk mempermudah kedudukan yang
baik pada saat pemasangan
b. Pengkal batang torak dibuat miring, supaya batang torak dapat dibongkar
pasang melalui diameter silinder.

Bentuk profil batang torak
Karena bentuk ini mempunyai kekuatan tinggi dan
stabil, dengan berat yang relatif ringan.


3.7.2 Roda gaya



B
B
23

Fungsi primer
1. menyimpan energi, untuk mengatasi hambatan/ tahanan diantara langkah-
langkah kerja (silinder tunggal)
2. menyeimbangkan ketidakstabilan putaran/memperhalus variasi putaran
motor (silinder banyak).
Fungsi sekunder (pada motor mobil)
1. sebagai pembawa roda gigi untuk starter
2. permukaan gesek, untuk tempat kedudukan plat kopling.

3.7.3 Torak
Fungsi torak
1. Mengisap, mengkompresi gas baru dan membuang gas bekas
2. Merubah tekanan hasil pembakaran menjadi gaya dorong pada batang torak
3. Mengatur pemasukan dan pembuangan gas pada motor 2 tak

1) Bagian/ ukuran utama pada torak

Puncak torak
Bidang api
Bidang cincin
Pinggang torak

D = Diameter torak (diukur
melintang terhadap pena,
pada bagian bawah
pinggang)
Tk = Tinggi komponen
Dp = Diameter mata pena torak
2) Pembebanan torak
a. Menerima tekanan dan temperatur gas pembakaran yang tinggi
b. Menerima gaya percepatan yang tinggi
c. Menerima gaya gesek dan gaya samping
3) Bahan dan pembuatan torak
D
1
2
3
4
24


a. Persyaratan bahan torak
1) Kuat terhadap tekanan tinggi
2) Tahan terhadap temperatur tinggi
3) Tahan terhadap keausan dan mempunyai sifat luncur yang baik
4) Mempunyai koefesien muai panas kecil
5) Ringan

b. Macam-macam paduan
1) Paduan Al Si Si 12 25%
2) Paduan Al Cu Cu 5% Si < 1%
3) Paduan al Si Cu Si & Cu masing-masing 5%
4) Paduan Al Ni Ni 25%

c. Keterangan
1) Silikon (Si) : Makin tinggi kadar Si, makin kecil muai
panas dan gesekan. Tetapi makin sulit
pengerjaan/ pembuatannya
2) Tembaga (Cu) : Tahan terhadap karat dan kemampuan
memindahkan panas baik.
3) Nikel (Ni) : Memiliki kekenyalan yang tinggi, tahan
terhadap temperatur tinggi, muai panas
kecil dan tahan terhadap karat.

d. Pembuatan torak
1) Penuangan yang diikuti pendinginan secara cepat
Paling umum, paling murah, juga dipakai pada penuangan torak
dengan bentuk yang rumit.
2) Percetakan dengan cara tekan
Memerlukan paduan khusus, menghasilkan torak dengan
kekuatan dan ketahanan terhadap temperatur lebih baik. Bentuk
torak harus sederhana supaya mal cetak dapat dikeluarkan lagi
25

dari bagian dalam torak. Hanya dipergunakan untuk motor
berprestasi tinggi (diesel-turbo).

e. Perbaikan permukaan luar torak
1) Pinggang torak
Untuk memperoleh sifat luncur yang baik, pinggang torak sering
dilapisi, misalnya dengan timah, grafit (karbon) atau molybden
2) Puncak torak
Untuk mengurangi penyerapan panas dan untuk mempertinggi
ketahana tehadap panas, permukaan puncak torak sering dieloxasi.
Eloxasi adalah perlakuan kimia yang mempertebal lapisan
aluminiumoxid yang sudah terdapat secara alami pada semua bagian
luar aluminium. Aluminiumoxid mempunyai titik lebur yang jauh
lebih tinggi daripada campuran aluminium dasar, sedangkan sifat
hantar panas berkurang.

f. Pelumasan torak

Oli yang keluar pada bantalan pangkal
batang torak terlempar akibat putaran
poros engkol

26


Lubang semprot khusus pada pangkal
batang torak, diarahkan ke sisi torak yang
menerima gaya samping pada langkah
usaha.


g. Pendinginan torak

1) Nosel penyemprot pada blok motor


2) Saluran penyemprot yang melewati batang torak

h. Kedudukan sumbu pena torak
Untuk memperkecil gerakan tamparan torak pada posisi TMA dan TMB,
sumbu pena torak sering digeser kearah samping (0,3 s.d 1mm), ke sisi
yang menerima gaya samping pada langkah usaha.

27


Posisi torak mendekati TMA




Posisi torak pada TMA



Posisi torak setelah TMA

i. Masalah pemuaian torak
Temperatur tinggi yang terjadi pada torak dari bahan logam ringan akan
mengakibatkan muai panas yang besar.
Pemecahan
1) Bentuk torak tirus dan lonjong

Bentuk torak
Saat dingin :
Tirus (A<B)
Lonjong (C< D)
Saat panas :
Silindris, karena
muai panas puncak
torak lebih besar dari
pada pinggang torak
Bulat, karena
pemuaian diarahkan
ke sumbu pena torak.

A
Lengkung
tirus
Tirus lurus
B
C
28

2) Konstruksi torak
a) Torak dengan pembatas perpindahan panas
Torak dengan pinggang bercelah

Macam-macam celah :
Celah melintang
Celah memanjang
Celah U
Celah T
Celah kombinasi
Keterangan
Fungsi celah untuk membatasi pemuaian panas pinggang torak
dengan cara memperkecil perpindahan panas dari puncak ke
pinggang torak (pada bagian melintang sumbu pena torak). Torak
jenis ini harus dibuat dari campuran logam dengan koefesien muai
panas kecil mahal.
Torak berpasangan

Torak terdiri dari 2 bagian yang dapat
dipisahkan, yaitu puncak torak dan badan
torak. Puncak torak terbuat dari baja tuang
dan badan torak terbuat dari aluminium.
Perpindahan panas dari puncak ke pinggang
torak akan terhambat dengan adanya
pemisahan 2 bagian tsb.
Pemakaian :
Pada motor diesel dengan tuntutan panas
tinggi.
b) Torak dengan kontrol pemuaian
Pemuaian dibatasi
- Torak baja invar
29



Penambahan baja akan mereduksi
pemuaian panas.
Invar = nama pembuatnya (baja
dengan pemuaian panas rendah)

- Torak dengan cincin pemikul

Cincin pemikul dibuat dari besi
tuang khusus dan dipasang pada
alur cincin torak pertama.
Pemuaian panas diperkecil
Keausan pada alur cincin
torak berkurang.

c) Pemuaian diarahkan ke sisi sumbu pena torak
1) Torak bimetal



Torak bimetal
juga sering disebut
Autotermik.
j. Pemeriksaan Torak
1) ukur diameter torak


a) Tujuan pengukuran :
Untuk menentukan
celah/selisih antara torak dan
dinding silinder.
b) Posisi pengukuran :
terhadap sumbu pena torak
bagian bawah.
30

c) Arah pengukuran :
terhadap sumbu pena torak
d) Besar celah : 0,15 mm
2) ukur alur cincin torak
a) Tujuan pengukuran :
Untuk memperoleh celah
yang diinginkan sesuai
dengn data.
b) Celah aksial terlalu
besar : Terjadi
pemompaan oli ke
ruang bakar oli
boros.
c) Celah aksial terlalu
kecil : Terlalu rapat,
tidak bisa mengembang
bisa patah.
d) Gerak bebas normal :
0,03 0,15 mm

3) Keseimbangan berat
Torak harus dibalans untuk mendapatkan putaran motor yang
stabil/halus. Perbedaan berat yang besar antar torak pada motor
dapat menimbulkan getaran pada saat kerja.

3.7.4 Cincin torak
1. Cincin Kompresi
Fungsi:
a. Sebagai perapat antara torak dengan silinder, agar tidak terjadi kebocoran
gas dari ruang bakar ke rumah poros engkol.
b. Sebagai penyekat oli, agar tidak masuk ke ruang bakar
c. Memindahkan panas torak ke dinding silinder.


31

Cara kerja :
a. Langkah buang
Torak bergerak dari TMB ke TMA.
Posisi cincin berada pada bagian
bawah alur, akibat tekanan gas bekas
dan gesekan cincin dengan dinding
silinder.

b. Langkah hisap
Torak bergerak dari TMA ke TMB.
Posisi cincin berada pada bagian atas
alur, akibat dari gesekan cincin
dengan dinding silinder.

c. Langkah kompresi
Torak bergerak dari TMB ke TMA.
Posisi cincin seperti pada langkah
buang, sehingga gas dapat
dimampatkan dengan sempurna.

d. Langkah usaha
Pada awal langkah usaha posisi cincin
berada pada bagian bawah alur, akibat
tekanan gas pembakaran. Selanjutnya
akan berada di tengah akibat dari
gesekan.

Persyaratan bahan
a. Tahan aus, liat dan mempunyai sifat luncur yang baik
b. Mempunyai kualitas pemegasan (defleksi) yang baik
c. Kelentingan pegas tidak berubah akibat temperatur tinggi.
Contoh-contoh cincin kompresi.
32

Bentuk-bentuk Keterangan


Cincin persegi panjang
Kuat, bentuk sederhana
Pembuatan mudah
Kadang-kadang permukaannya sedikit
cembung


Cincin bidang tirus
(cincin menit)
Dimaksudkan agar supaya pada saat
masa percobaan (running in) dalam
waktu singkat diperoleh kerapatan
permukaan yang baik.


Cincin trapezium

Dengan adanya sudut kemiringan cincin,
pada gerakan radial akan memperoleh
kelonggaran sehingga dapat bergerak
bebas pada alur apabila terjadi
perubahan bentuk (distorsi) atau noda-
noda pada dinding silinder.
Kemungkinan macet kecil sekali

Cincin bentuk L
Memperbaiki kedudukan sisi sisinya
pada dinding silinder
Dipakai pada motor 2 tak dan motor-
motor balap
Ringan dan kuat
mahal

2. Cincin oli
Fungsi
a. Mengikis kelebihan oli pada dinding silinder
b. Membentuk lapisan oli tipis dan merata pada dinding silinder agar dinding
silinder tidak cepat aus.
Cara kerja
33


Pada saat torak bergerak dari TMB ke TMA, oli akan melumasi dinding
silinder melalui saluran/perlengkapan dari sistem pelumasan. Pada saat torak
bergerak dari TMA ke TMB, cincin akan mengikis sebagian oli pada dinding
silinder dan membentuk lapisan oli yang tipis dan merata di sekeliling dinding
silinder.
Persyaratan bahan
a. Mempunyai sifat luncur yang baik
b. Pada cincin oli tanpa peregang harus mempunyai kualitas pemegasan yang
baik (defleksi)
c. Kelentingan pegas harus mampu membentuk lapisan oli yang sesuai
dengan dinding silinder.
Jenis-jenis cincin oli
Bentuk-bentuk Keterangan



Akibat pemakaian yang lama,
keausan permukaan luncur
dinding silinder bagian atas
dan bawah tidak sama. Maka
perlu adanya peregang agar
cincin oli dapat meregang
pada setiap kedudukan dalam
silinder.


Untuk menghindari
tersumbatnya lubang-lubang
pengembali pada cincin oli,
maka cincin dilengkapi
dengan peregang pegas cacing


Peregang
Pegas cacing
34

3.7.5 Pena torak
Fungsi
Pena torak berfungsi sebagai pemindah gaya dalam hubungan antara torak
dan batang torak.
Bahan
Pena torak biasanya dibuat dari baja nikel. Diameternya dibuat besar agar
luas bidang gesek menjadi besar sehingga tahan terhadap keausan. Pena torak juga
dibuat berlubang agar lebih ringan, sehingga bobot keseluruhan torak menjadi
lebih ringan.
Pengikatan pena torak
a. Pengikatan dengan baut klem


Yang bergerak bebas adalah torak
dengan pena torak . pena torak
terikat mati pada batang torak.

















35

DAFTAR PUSTAKA
Arismunandar,W dan Koichi T. Motor Disel Putaran Tinggi. Pradnya Paramita,
Jakarta.1997.
Daryanto.Motor Bakar Penerbit Remaja Karya, Bandung. 1998.
Heywood, J.B., Internal Combustion Engine Fundamentals, McGraw-Hill Book
Co, 1989.
Obert, F.O., Internal Combustion Engines and Air Pollution, Harper & Row
Publishers, 1973.
Pulkrabek, W.W.,Engineering Fundamentals of the Internal Combustion Engines,
Second edition. Pearson Prentice-Hall, 2004
Taylor, C.F., The Internal Combustion Engine in Theory and Practice, Cambridge,
MA: M.I.T. Press, 1977.