Anda di halaman 1dari 2

Konflik Antar Suku Di Indonesia (TUGAS IBD 4)

Beragamnya suku di Indonesia terkadang melahirkan sebuah peperangan yang


biasa kita sebut dengan perang antar suku. Alasan peperangan itu sangatlah
bermacam-macam. Menurut badan riset, data suku-suku yang ada di Indonesia
mencapai kurang lebihnya lebih dari 300 kelompok suku atau etnik. Jumlah
suku bangsa yang mencapai ratusan inilah pada kenyataannya memang sangat
rentan akan terhadap sebuah konflik. Dan perang antar suku pun pada akhirnya
menjadi suatu hal perstiwa yang memang tidak bisa dihindarkan lagi.
Konflik merupakan hal atau masalah yang lazim atau biasa terjadi di lingkungan
masyarakat. Dimana lagi-lagi perbedaan menjadi latar belakang yang mendasar
dalam setiap konflik perang antar suku di Indonesia. Peperangan antar suku
akhir-akhir ini menjadi bahan pekerjaan pemerintah untuk menetralisir
kekisruhan yang sering terjadi khususnya peperangan antar suku. Konflik
tersebut terjadi karena saking beragam nya suku-suku di Indonesia dan berawal
dari banyaknya suku-suku yang ada tersebut konflik-konflik pembeda atau
masalah budaya yang berbeda dan variatif mulai bermunculan.
Perang antarsuku di Indonesia yang sempat menarik perhatian adalah perang
suku dayak dan Madura. Peperangan antara Suku Dayak dan Madura
menimbulkan sebuah pergeseran moral tentang bagaimana seharusnya saling
menghargai perbedaan. Nyawa bukan lagi menjadi hal yang mahal saat itu.
Pemenggalan terhadap kepala manusia saat itu seolah menjadi bukti bahwa
kebencian telah benar-benar mengerikan. Penyebab terjadinya perang kedua
suku ini yaitu karena perbedaan budaya antara Suku Dayak dan Suku Madura,
perilaku yang tidak menyenangkan, pinjam meminjam tanah dan ikrar
perdamaian yang dilanggar. Kejadian ini memang telah lama berlalu. Tapi
konflik tersebut bagaimanapun keadaannya pasti akan tetap meninggalkan
kesan mengerikan yang mendalam bagi masyarakat kedua suku tersebut.
Setiap suku tentu memiliki budaya, adat-istiadat dan kebiasaan tertentu yang
beragam. Keanekaragaman tersebut tentu memabawa dampak dan kosekuensi
sosial yang beragam pula. Jika hal ini tidak dapat disikapi dengan baik maka
perbedaan tersebut justru akan terus manjadi faktor utama penyebab terjadi
perang antar suku.
Setiap suku akan menginterpretasikan budaya yang mereka miliki dalam
lingkungannya sehingga terciptalah stereotip yang dapat mengakibatkan
lestarinya perbedaan. Penonjolan strereotip suatu suku amat berbahaya. Namun
faktanya, stereotip dan stigma buruk itu tetap hidup. Bahkan, tanpa disadari kian
meluas. Bahaya karena hal ini dapat menimbulkan pepecahan perang antar suku
pun menjadi hal yang tak bias dihindarkan.
Stereotip orang Madura dalam pengetahuan orang Indonesia kadang identic
dengan watak yang kasar dank eras. Sering menyelesaikan masalah dengan
carok, mengakhiri sengketa dengan cara duel maut yang berkunjung ematian.
Penyebabnya adalah dendamatau pembalasan pihak keluarga dan kerabat yang
terluka hingga tewas.
Walaupun stereotip itu keliru dan berbahaya, hal tersebut seakan melekt dalam
benak keindonesiaan kita. Itulah yang sering memicu terjadinya kerusuhan etnis
atau suku di Indonesia bahkan berkembang menjadi perang antar suku.
Konflik sering terjadi di kalangan masyarakat karena manusia makhluk sosial
dan memiliki beragam pemikiran dan cara masing-masing untuk bersosialisasi.
Konflik tersebut biasanya hal sepele tapi berhubung menyangkut RAS atau
budaya maka rasa simpati antar sesame budaya yang membuat peperangan
tersebut menjadi bukan hal yang sepele lagi. Berawal dari masalah sepele yang
mungkin bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan bisa tuntas dengan cepat
tapi malah sebaliknya persoalan demi persoalan terus dijadikan kambing hitam
untuk memancing adanya peperangan antar suku tersebut. Mungkin budaya
tersebut menjadi pemacu terjadinya peperangan tersebut.
Coba dibayangkan, kalo seandainya masyarakat bisa lebih melihat pengaruh dan
akibat kerusuhan tersebut, maka tidak aka nada korban berjatuhan dan tidak ada
anak yang terlantar ditinggal oleh orang tuanya dan ini menjadi pekerjaan yang
harus segera diselesaikan oleh pemerintah baik setempat maupun pemerintah
pusat untuk mencegah terjadinya kekisruhan yang selanjutnya.
Warga Negara yang baik adalah warga Negara yang melandaskan hidupnya
akan aturan yang dijalankan dengan baik danmenghargainya.oleh karena itu
masalah perang kebudayaan, dan masalah masalah lain, ini menjadi contoh
bahwa tingkat kesadaran hukum masyarakat dan tingkat sosial masyarakat yang
sekarang terjadi semakin BURUK dan hal tersebut menjadikan
DISINTEGRASI yang bisa jadi menimbulkan pengaruh yang sangat BURUK
bagi para penerus nantinya ditengah maraknya budaya asing yang sedang
menjadi pembahasan kaum muda, harusnya Indonesia lebih mengkokohkan
pondasi budaya yang diwariskan, agar supaya para generasi mendatang akan
lebih kuat menahan arus tersebut.