Anda di halaman 1dari 36

1

BAB I
ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS
Data Pasien Ayah Ibu
Nama An.RA Tn. D Ny. M
Umur 2 tahun 33 tahun 30 tahun
Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Perempuan
Alamat Komp. Pamahan RT 01/06, Bekasi, Jati Asih
Agama Islam Islam Islam
Suku bangsa Sunda Sunda Sunda
Pendidikan - SMK SMK
Pekerjaan - Swasta Ibu rumah tangga
Penghasilan - - -
Keterangan Hubungan dengan
orang tua : Anak
kandung

Tanggal Masuk RS 02 Oktober 2014

II. ANAMNESIS
Dilakukan sacara Alloanamnesis kepada ibu pasien.
a. Keluhan Utama :
Pasien datang dengan Kejang
b. Keluhan Tambahan :
Demam, batuk, pilek
c. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien seorang anak laki-laki berusia 2 tahun datang ke IGD RSUD Kota Bekasi
diantar oleh orangtuanya dengan kejang pada 2 jam SMRS, sebanyak 2x, diantara
kedua kejang pasien tidak menangis, mata mendelik ke atas. Durasi masing-masing
serangan kejang sekitar 10 menit, kejang seluruh tubuh, kedua tangan pasien
mengepal dan seluruh badan bergetar seperti menggigil. Tidak keluar busa dari mulut
pasien, lidah tidak tergigit. Kejang tidak diawali pada salah satu bagian tubuh. setelah
kejang pasien sadar dan menangis.
2

Sebelumnya pasien mengalami batuk dan pilek 3 hari SMRS, disertai demam.
Awalnya demam tidak terlalu tinggi, namun kemudian demam makin tinggi pada 1
hari SMRS. Mual dan muntah disangkal. BAB dan BAK seperti biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi - Difteria - Jantung -
Cacingan - Diare - Ginjal -
DBD - Kejang 18 bulan Darah -
Thypoid - Maag - Radang paru -
Otitis - Varicela - Tuberkulosis -
Parotis - Asma - Morbili -

a. Riwayat Penyakit Keluarga :
Kakak pasien juga pernah mengalami kejang pada usia 6 bulan. Kedua orangtua
pasien mengaku tidak memiliki penyakit kejang.

b. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran :
KEHAMILAN
Morbiditas kehamilan Anak ketiga dari 3 bersaudara
Perawatan antenatal Setiap bulan periksa ke bidan,
suntik TT 2x, USG 1x (tidak ada
kelainan)
KELAHIRAN
Tempat kelahiran Puskesmas
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Normal, spontan
Masa gestasi 9 bulan


Keadaan bayi
Berat lahir 3000 gr
Panjang badan 49 cm
Lingkar kepala tidak ingat
Langsung menangis
Nilai apgar tidak tahu
Tidak terdapat kelainan bawaan

3


c. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan :
Psikomotor
Tengkurap : 4 bulan (normal: 3-4 bulan)
Duduk : 6 bulan (normal: 6 bulan)
Berdiri : 12 bulan (normal: 9-12 bulan)
Bicara : 11 bulan (normal: 9-12 bulan)
Berjalan : 13 bulan (normal: 13 bulan)

d. Riwayat Makanan
Umur
(bulan)
ASI/PASI Buah/biskuit Bubur susu Nasi tim
0-2 +
2-4 +
4-6 + +
6-8 +/+ +/+ + -
8-10 +/+ +/+ + +

e. Riwayat Imunisasi :
Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)
BCG 2 bln -
DPT 2 bln 4 bln 6 bln -
POLIO Lahir 2 bln 4 bln 6 bln -
CAMPAK 9 bln - -
HEPATITIS B Lahir 2 bln 4 bln 6 bln -

f. Riwayat Keluarga
Ayah Ibu Kakak
Nama Tn. D Ny.M An. M
Perkawinan ke Pertama Pertama -
Umur 32 30 6 tahun
Keadaan kesehatan Baik Baik Riwayat kejang usia 6 bulan
4


g. Riwayat Perumahan dan Sanitasi :
Tinggal dirumah sendiri dengan 4 anggota keluarga (ayah, ibu, 2 anak) di pemukiman
yang padat penduduk, tembok dengan tetangga hampir menempel. Rumah terdiri dari
3 buah jendela, kadang-kadang dibuka. Matahari cukup banyak masuk ke rumah.

I. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : tampak sakit sedang
b. AVPU : alert
c. PAT
o A : Tonus(N), interactiveness (+) consolability (+) look/gaze (+) cry (+)
o B : sesak (-), napas cuping hidung (-), retraksi (-)
o C : pucat (-), mottled (-), cyanosis (-)
d. Tanda Vital
- Kesadaran : compos mentis
- Tekanan darah : 120/90 mmHg
- Frekuensi nadi : 140x/menit
- Frekuensi pernapasan : 44x/menit
- Suhu tubuh : 38,9
o
C
e. Data antropometri
- Berat badan : 10 kg
- Panjang badan : 84 cm
5

- Status Gizi menurut WHO:

o BB/U = z score = (-2) 0 = gizi cukup

o TB/U = z score = (-2) 0 = gizi cukup

6


o BB/TB = z score = (-2) (-1) = gizi cukup

f. Kepala
Bentuk : normocephali
Rambut : rambut hitam, tidak mudah dicabut, distribusi merata
Mata : edema palpebra -/- conjungtiva anemis -/-, sklera
ikterik -/-, perdarahan aktif -/-, secret -/-, pupil bulat
isokor, RCL+/+, RCTL +/+
Telinga : normotia, membran timpani intak, serumen -/-
Hidung : bentuk normal, sekret -/-, nafas cuping hidung -/-,
Mulut : bibir kering kemerahan, pucat -, T1/T1 detritus -/-,
kripta tidak melebar, faring hiperemis +/+
Leher : KGB tidak membesar, kelenjar tiroid tidak membesar
g. Thorax
- Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-)
- Palpasi : gerak napas simetris, vocal fremitus simetris
- Perkusi : sonor pada kedua ekstremitas
- Auskultasi : SN vesikuler, ronchi -/-, wheezing -/-
Cor BJ I & II normal, murmur -/-, Gallop -/-
7

h. Abdomen
- Inspeksi : perut cembung
- Auskultasi : bising usus (+) normal 3x/menit
- Palpasi : supel, nyeri tekan -, hepar dan lien tidak teraba
membesar
- Perkusi : shifting dullness -, nyeri ketok -
i. Kulit : ikterik -, petechie -
j. Ekstremitas : akral hangat, cyanosis (-), oedem (-), turgor kulit
cukup, Rumple Leed (-), ptechie(-), CRT <2detik

IV. PEMERIKSAAN NEUROLOGIS
Tanda Rangsang Meningeal
Rangsang Meningeal Kanan Kiri
Kaku kuduk (-)
Laseque (-) >70
o
(-) >70
o
Kernig (-) >135
o
(-) >135
o
Brudzinski I (-) (-)
Brudzinski II (-) (-)
Nervus Kranialis
Jenis Nervus Jenis Pemeriksaan Kanan Kiri
N I
Olfaktorius
Penghiduan + normal +normal
N II
Optikus
Tajam penglihatan + normal + normal
Lapangan pandang + +
Melihat warna + +
N III
Okulomotorius
Pergerakan bola mata + +
Strabismus - -
8

Nystagmus - -
Eksoftalmus - -
Diameter pupil 2 mm 2mm
Bentuk pupil Bulat,
isokor
Bulat,
isokor
Refleks cahaya + +
Diplopia - -
N IV
Trochlearis
Pergerakan bola mata ke
medial bawah
+ +
N V
Trigeminus
Membuka mulut + +
Mengunyah + +
Menggigit + +
Sensibilitas wajah + +
N VI
Abduscens
Pergerakan bola mata ke lateral + +
N VII
Facialis
Mengerutkan dahi + +
Menutup mata + +
Memperlihatkan gigi + +
Perasaan lidah bagian depan + +
N VIII
Vestibulocochlearis
Suara berbisik + +
N IX
Glossopharyngeus
dan
Fungsi menelan + +
Menghasilkan suara (fonasi) + +
9

N X (Vagus)
N XI
Accesorius
Mengangkat bahu + +
Memalingkan kepala + +
N XII
Hypoglossus
Pergerakan lidah Simetris
deviasi
Tidak ada
Tremor lidah - -

Sistem Motorik
Tropi : Eutropi
Tonus otot : Normal
Kekuatan otot :
Ekstremitas atas proksimal distal : 5 5 5 5 5 5 5 5
Ekstremitas bawah proksimal distal : 5 5 5 5 5 5 5 5
Gerakan Spontan Abnormal
Tremor : (-)
Khorea : (-)
Ballismus : (-)
Mipklonus : (-)
Atetosis : (-)
Distonia : (-)
Spasme : (-)
Test Sensibilitas
Eksteroseptif : sama pada tubuh kanan dan kiri
Rasa raba : ( +/ + ) ( +/ + )
Rasa nyeri : ( + / + ) ( + / + )
Rasa suhu panas : Tidak dilakukan
Rasa suhu dingin : Tidak dilakukan
Propioseptif : Dalam batas normal
10

Fungsi kortikal untuk sensibilitas
Stereognosis : Dalam batas normal
Pengenalan 2 titik : Dalam batas normal
Refleks
o Refleks Fisiologis
Kanan Kiri
Biceps :(+) (+)
Triceps :(+) (+)
APR :(+) (+)
KPR :(+) (+)
o Refleks Patologis
Babinski :(-) (-)
Oppenheim :(-) (-)
Chaddock :(-) (-)
Gordon :(-) (-)
Schaefer :(-) (-)
Hoffman-trommer :(-) (-)
Klonus lutut :(-) (-)
Klonus kaki :(-) (-)
Koordinasi
Mimik : Baik
Tes telunjuk-telunjuk : Baik
Tes telunjuk-hidung : Baik
Diadokhokinesia : Tidak dilakukan
Tes tumit-lutut : Tidak dilakukan
Tes Romberg : Tidak dilakukan
Vegetatif
Miksi : Dalam batas normal
Defekasi : Dalam batas normal
Reflex anal : Tidak dilakukan pemeriksaan
Reflex kremaster : Tidak dilakukan pemeriksaan
Reflex bulbokavernosa : Tidak dilakukan pemeriksaan


11

Vertebra
Bentuk
Normal : (+)
Scoliosis : (-)
Hiperlordosis : (-)
Pergerakan
Leher : Dalam batas normal
Pinggang : Dalam batas normal
Gejala-gejala Serebral
Ataksia : (-)
Disartria : (-)
Tremor : (-)
Nistagmus : (-)
Fenomena rebound : (-)
Vertigo : (-)
Interpretasi : tidak ada kelainan neurologi

II. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Laboratorium darah tanggal 20 September 2014
Jenis Hasil Satuan Nilai Normal
HEMATOLOGI
Darah lengkap
Leukosit 3,4 ribu/uL 5-10
Eritrosit 5 juta/uL 4-5
Hemoglobin 12,4 g/dL 11-14,5
Hematokrit 40,9 % 37-47
Trombosit 385 ribu/uL 150-400
I ndeks Eritrosit
MCV 80,8 fL 75-87
MCH 25,3 Pg 24-30
12

MCHC 32,7 % 31-37
KIMIA KLINIK
GDS 96 mg/dL 60-110
Elektrolit
Natrium (Na) 136 mmol/L 135-145
Kalium (K) 4,4 mmol/L 3,5 5,0
Clorida (Cl) 96 mmol/L 94 111


III. RESUME
a. Anamnesis
Pasien seorang anak laki-laki berusia 2 tahun datang ke IGD RSUD Kota
Bekasi diantar oleh orangtuanya dengan kejang pada 2 jam SMRS, sebanyak 2x,
diantara kedua kejang pasien tidak menangis, mata mendelik ke atas. Durasi masing-
masing serangan kejang sekitar 10 menit, kejang seluruh tubuh, kedua tangan pasien
mengepal dan seluruh badan bergetar seperti menggigil. Tidak keluar busa dari mulut
pasien, lidah tidak tergigit. Kejang tidak diawali pada salah satu bagian tubuh. setelah
kejang pasien sadar dan menangis. Sebelumnya pasien mengalami batuk dan pilek 3
hari SMRS, disertai demam. Awalnya demam tidak terlalu tinggi, namun kemudian
demam makin tinggi pada 1 hari SMRS.

b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang
Tanda vital : Suhu: 38,9
o
C
AVPU : alert
BB/TB : kesan gizi cukup
Thoraks : ronchi +/+

c. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium darah
Leukopenia (3.400 uL)


13

III. DIAGNOSIS KERJA
Kejang demam kompleks
Infeksi Saluran Pernapasan Atas

DIAGNOSIS BANDING
Kejang demam sederhana
Epilepsi

IV. PENATALAKSANAAN
Non Medika Mentosa
Rawat inap dengan lingkungan perawatan pasien yang tenang untuk menilai
kemajuan penyakit dan kemungkinan kejadian yang mengancam jiwa pada
puncak penyakit, mencegah atau mengobati komplikasi
Edukasi orangtua mengenai penyakit yang diderita
Pembersihan jalan nafas
Istirahat yang cukup
Oksigen terutama pada serangan batuk yang hebat disertai sianosis
Nutrisi yang cukup

Medika Mentosa
RL 720 cc / 24 jam
Diazepam 5,0 mg (bila kejang)
Dexa 3 x 2,5 mg
Sanmol 6 x 100 mg
Cinam 3 x 100 mg
Ambroxol 3 x 1/3 cth

V. PROGNOSIS
- Ad vitam : ad bonam
- As fungsionam : ad bonam
- Ad sanationam : ad bonam


14

VI. Follow Up
Tanggal 03 Oktober 2014
S : Kejang (-) Batuk (+), demam naik turun
O : KU: TSS, AVPU: alert
N : 100x/mnt
S : 37,9
0
C
P : 48x/mnt
Mata:RCL +/+,RCTL +/+,CA-/-, SI-/-
Hidung: NCH (-)
Bibir: sianosis -/-
Cor : SIS2 reg, m (-), g (-).
Paru : Sn ves, rh -/-, wh -/-. Retraksi (-)
Abd : supel, BU (+), Nyeri tekan (-)
Eks : edema tungkai (-/-), akral hangat (+/+) sianosis (-/-)
A : Kejang demam kompleks, ISPA
P: - RL 720 cc / 24 jam
Diazepam 5 mg (bila kejang)
Sanmol 6 x 100 mg
Cinam 3 x 100 mg
Ambroxol 3 x 1/3 cth

Tanggal 04 Oktober 2014
S : Kejang (-) Batuk (+), demam naik turun
O : KU: TSS, AVPU: alert
N : 100x/mnt
S : 37,9
0
C
15

P : 48x/mnt
Mata:RCL +/+,RCTL +/+,CA-/-, SI-/-
Hidung: NCH (-)
Bibir: sianosis -/-
Cor : SIS2 reg, m (-), g (-).
Paru : Sn ves, rh -/-, wh -/-. Retraksi (-)
Abd : supel, BU (+), Nyeri tekan (-)
Eks : edema tungkai (-/-), akral hangat (+/+) sianosis (-/-)
A : Kejang demam kompleks, ISPA
P: - RL 720 cc / 24 jam
Diazepam 5 mg (bila kejang)
Sanmol 6 x 100 mg
Cinam 3 x 100 mg
Ambroxol 3 x 1/3 cth

Tanggal 05 Oktober 2014
S : Kejang (-) Batuk (+), demam naik turun
O : KU: TSS, AVPU: alert
N : 100x/mnt
S : 37,9
0
C
P : 48x/mnt
Mata:RCL +/+,RCTL +/+,CA-/-, SI-/-
Hidung: NCH (-)
Bibir: sianosis -/-
Cor : SIS2 reg, m (-), g (-).
16

Paru : Sn ves, rh -/-, wh -/-. Retraksi (-)
Abd : supel, BU (+), Nyeri tekan (-)
Eks : edema tungkai (-/-), akral hangat (+/+) sianosis (-/-)
A : Kejang demam kompleks, ISPA
P: - RL 720 cc / 24 jam
Diazepam 5 mg (bila kejang)
Sanmol 6 x 100 mg
Cinam 3 x 100 mg
Ambroxol 3 x 1/3 cth

Tanggal 06 Oktober 2014
S : Kejang (-) Batuk (+), demam naik turun
O : KU: TSS, AVPU: alert
N : 100x/mnt
S : 37,9
0
C
P : 48x/mnt
Mata:RCL +/+,RCTL +/+,CA-/-, SI-/-
Hidung: NCH (-)
Bibir: sianosis -/-
Cor : SIS2 reg, m (-), g (-).
Paru : Sn ves, rh -/-, wh -/-. Retraksi (-)
Abd : supel, BU (+), Nyeri tekan (-)
Eks : edema tungkai (-/-), akral hangat (+/+) sianosis (-/-)
A : Kejang demam kompleks, ISPA
P: - RL 720 cc / 24 jam
Diazepam 5 mg (bila kejang)
17

Sanmol 6 x 100 mg
Cinam 3 x 100 mg
Ambroxol 3 x 1/3 cth

Tanggal 07 Oktober 2014
S : Kejang (-) Batuk (+) jarang, demam (-)
O : KU: TSS, AVPU: alert
N : 100x/mnt
S : 37,3
0
C
P : 48x/mnt
Mata:RCL +/+,RCTL +/+,CA-/-, SI-/-
Hidung: NCH (-)
Bibir: sianosis -/-
Cor : SIS2 reg, m (-), g (-).
Paru : Sn ves, rh -/-, wh -/-. Retraksi (-)
Abd : supel, BU (+), Nyeri tekan (-)
Eks : edema tungkai (-/-), akral hangat (+/+) sianosis (-/-)
A : Kejang demam kompleks, ISPA
P: - RL 720 cc / 24 jam
Diazepam 5 mg (bila kejang)
Sanmol 6 x 100 mg
Cinam 3 x 100 mg
Ambroxol 3 x 1/3 cth




18

VI. ANALISIS KASUS
a. Anamnesis
Pasien seorang anak laki-laki berusia 2 tahun dengan kejang pada 2 jam
SMRS, sebanyak 2x, diantara kedua kejang pasien tidak menangis, mata mendelik
ke atas. Durasi masing-masing serangan kejang sekitar 10 menit, kejang seluruh
tubuh, kedua tangan pasien mengepal dan seluruh badan bergetar seperti menggigil.
Sebelumnya pasien mengalami batuk dan pilek 3 hari SMRS, disertai demam.
Awalnya demam tidak terlalu tinggi, namun kemudian demam makin tinggi pada 1
hari SMRS.
Definisi dari kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada
kenaikan suhu tubuh >38
o
C yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium serta
biasanya terjadi pada anak usia 6 bulan 5 tahun. Kejang demam kompleks
merupakan salah satu klasifikasi dari kejang demam dimana memiliki salah satu ciri
dari: kejang lama >15 menit, kejang fokal, parsial atau umum yang didahului
parsial, berulang atau > 1 kali dalam 24 jam. Pada pasien ini terjadi kejang sebanyak
2 x dalam 24 jam dimana ini termasuk dalam kriteria kejang demam kompleks.
Selain itu pasien juga memiliki riwayat kejang sebelumnya serta kakak pasien
juga pernah mengalami kejang demam yang merupakan faktor resiko.
b. Pemeriksaan Fisik
Saat dilakukan pemeriksaan fisik, sudah tidak didapati kejang pada pasien
serta tidak terdapat penurunan kesadaran, Suhu didapatkan 38,9
o
C, yang merupakan
etiologi dari bangkitan kejang pada pasien. Tidak didapatkan kelainan neurologis
pada pasien. Selain itu didapatkan faring yang hiperemis serta tidak adanya ronchi
pada paru sehingga pasien diduga menderita ISPA yang menyebabkan febris.
c. Pemeriksaan Penunjang
Dari pemeriksaan penunjang didapatkan leukopenia (3,400 mg/dL) diduga hal
ini terjadi oleh karena infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas pasien.

19

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
Menurut National Institute of Health (NIH), kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi
atau anak, yang biasanya terjadi pada usia 3 bulan sampai dengan 5 tahun, berhubungan
dengan demam, namun tanpa bukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu dari
kejang.
4
Definisi ini mengeksklusi kejang dengan demam pada anak yang pernah mengalami
kejang tanpa demam.
4

Menurut International League Against Epilepsy (ILAE), kejang demam adalah
bangkitan kejang yang berhubungan dengan demam, tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat
atau ketidakseimbangan elektrolit akut, pada anak berusia lebih dari 1 bulan, yang tidak
pernah mengalami kejang tanpa demam sebelumnya.
4

Menurut Konsensus Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia
(UKK Neurologi IDAI ), kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
5

Definisi ini mengeksklusi anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam.
5
Kejang
disertai demam pada bayi berumur kurang dari 1 bulan juga tidak termasuk dalam kejang
demam.
5

2.2. Klasifikasi
Penggolongan kejang demam dikemukakan oleh berbagai pakar. Penggolongan tersebut
didasari oleh jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya kejang berlangsung,
gambaran elektroensefalografi, dan lainnya.
Klasifikasi kejang demam menurut Konsensus UKK Neurologi IDAI
5

Berdasarkan Konsensus UKK Neurologi IDAI, kejang demam diklasifikasikan menjadi:
Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)
Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat, kurang
dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan
atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam 24 jam.
Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)
Kejang demam kompleks adalah kejang demam dengan salah satu ciri berikut ini:
o Kejang lama. Kejang lama adalah kejang yang berlangsung lebih dari 15 menit
atau kejang berulang lebih dari 2 kali dan di antara bangkitan kejang anak
tidak sadar.
o Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial.
20

o Kejang berulang. Kejang berulang adalah kejang 2 kali atau lebih dalam 1
hari, di antara 2 bangkitan kejang anak sadar.
2.3. Epidemiologi
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berumur 6 bulan - 5 tahun.
5
Kejang demam sederhana
merupakan 80% diantara seluruh kejang demam, sedangkan 20% lainnya merupakan kejang
demam kompleks.
5
Kejang lama terjadi pada 8% kejang demam, sedangkan kejang berulang
terjadi pada 16% di antara anak yang mengalami kejang demam.
5
Kejang demam lebih sering
terjadi pada anak laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 1,4:1.
7

2.4. Etiologi
Etiologi kejang demam digambarkan dalam diagram berikut ini.

Gambar 1. Etiologi Kejang Demam
(Sumber: Schellack N. Febrile Seizures in Children. SA Pharmaceutical Journal 2012;
79(3):10-13)
Infeksi yang berakibat pada kejang demam

Infeksi merupakan penyebab tersering dari kejang demam.
8
Peranan infeksi pada sebagian
besar kejang demam tidak spesifik, serangan kejang terutama didasarkan atas reaksi demam
yang terjadi.
3,9
Faktor lain yang mungkin berperan menyebabkan kejang demam, antara
lain:
3,8
Efek produk toksik dari mikroorganisme terhadap otak
Respons alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh karena infeksi
Ensefalitis viral yang ringan yang tidak tidak diketahui atau ensefalopati toksik
sepintas
Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit
21


Virus Influenza A dan B
4,10
Infeksi virus influenza A merupakan penyebab terpenting kejang demam, terutama di Asia.
Hal ini berkaitan dengan tingginya insidensi kejang demam pada infeksi virus ini
dibandingkan dengan infeksi virus saluran nafas lainnya, seperti adenovirus dan virus
parainfluenza. Pada anak dengan infeksi virus Influenza A ditemukan suhu maksimal yang
lebih tinggi, durasi demam yang lebih pendek sebelum timbulnya kejang, dan kejang fokal.
Respiratory Synctitial Virus (RSV)
4
Komplikasi neurologis, meliputi ensefalopati dengan hipotonus dan kejang atau ensefalopati
yang bermanifestasi dengan kejang, dilaporkan berkaitan dengan infeksi RSV. Oleh karena
itu, baik melalui proses inflamasi langsung ataupun tidak langsung, RSV memiliki efek
neurotoksik dan menyebabkan ensefalopati selama infeksi saluran nafas akut.
Enterovirus
4
Enterovirus dilaporkan berkaitan dengan manifestasi kejang. Badai sitokin cytokine storm
pada sistem saraf pusat dapat terjadi pada infeksi enterovirus-71. Kejang demam juga dapat
disebabkan oleh infeksi enterovirus lainnya, seperti Coxsackievirus Grup A.
Rotavirus
4
Rotavirus merupakan penyebab gastroenteritis dengan dehidrasi tersering pada anak-anak
berusia 3-24 bulan. Kejang sebelum onset gastroenteritis dilaporkan terjadi pada 40% kasus.
Hilangnya cairan dan elektrolit pada diare rotavirus juga terlibat dalam patogenesis terjadinya
kejang.
Herpesvirus
4
Beberapa anggota keluarga herpesvirus memiliki neurotropisme dan menyebabkan gangguan
neurologis pada anak, diantaranya: virus herpes simpleks 1, virus herpes simpleks 2,
varicellazoster, Epstein-Barr, cytomegalovirus, human herpes virus 6, dan human herpes
virus 7. Virus herpes simpleks 1, cytomegalovirus, human herpes virus 6, dan human herpes
virus 7 berkaitan dengan kejang demam. Berdasarkan penelitian, human herpes virus 6, dan
human herpes virus 7 berkaitan dengan kejang lama (30 menit atau lebih).
Bakteri
4,11

Dibandingkan dengan infeksi viral, bakteremia jarang menyebabkan kejang demam.
Beberapa penelitian menemukan bahwa infeksi oleh Shigella dysenteriae (enteritis),
Streptococcus pneumoniae (infeksi saluran nafas), dan Escherichia coli (infeksi saluran
kemih) berkaitan dengan kejang demam.


22

Vaksinasi
4,5
Demam merupakan efek samping dari imunisasi yang umum terjadi. Kejang demam yang
berkaitan dengan vaksinasi sangat jarang terjadi. Kejang demam terutama terjadi pasca
pemberian vaksin tertentu, khususnya vaksin dengan organisme yang dilemahkan, seperti
vaksin Measles, Mumps, Rubella (MMR) dan vaksin yang mengandung toksin atau vaksin
dengan preparat sel utuh (whole cell), seperti vaksin whole cell pertusis. Angka kejadian
pasca vaksinasi MMR adalah 25-34 per 100.000 anak, sedangkan pasca vaksinasi DTwP
adalah 6-9 kasus per 100.000 anak. Tidak ada kontraindikasi untuk melakukan vaksinasi pada
anak yang mengalami kejang demam.
Genetik
4
Faktor resiko genetik telah lama diketahui berkontribusi terhadap kejang demam. Kejang
demam cenderung terjadi dalam keluarga, dengan resiko terbesar pada keluarga tingkat
pertama (orang tua dan saudara kandung). Namun, pola turunan dari kejang demam tidak
diketahui. Sekitar 10-20% saudara kandung dari anak dengan kejang demam akan mengalami
kejang demam. Dalam penelitian pada saudara kembar dan orang tua, kejang demam dapat
diturunkan sebesar 70%. Sebagian besar penelitian mendukung pola pewarisan poligenik atau
multifaktorial. Jarang ditemukan pola pewarisan monogenik pada kejang demam.


Gambar 2. Mutasi genetik pada kejang demam
(Sumber: Kundu G, Rabin F, Nandi E, Sheikh N, Akhter S. Etiology and Risk Factors of
Febrile Seizure An Update. Bangladesh Journal Child Health 2010; 34(3): 103-112.

23

2.5. Patogenesis/ Patofisiologi
Patofisiologi kejang demam hingga saat ini belum sepenuhnya dimengerti. Kejang demam
merupakan fenomena yang terkait dengan usia.
1
Beberapa penelitian mengemukakan terdapat
interaksi 3 faktor sebagai penyebab kejang demam, yaitu demam, imaturitas otak dan
termoregulator, serta predisposisi genetik.
1,4
Kejang merupakan kondisi akibat aktivitas neuronal yang berlebihan pada otak.
1

Neuron (unit fungsional terkecil dari sistem saraf) memiliki sifat khusus, yaitu eksitabilitas,
merupakan kemampuan untuk menciptakan sinyak elektrik, menintegrasikannya, dan
mentransmisikannyake neuron lain dan efektor.
12
Dalam keadaan istirahat, neuron memiliki membran potensial sebesar -70 mV.
12

Membran potensial istirahat merupakan perbedaan muatan di dalam dan di luar sel akibat
pemisahan muatan positif dan negatif oleh membran sel.
12


Gambar 3. Membran potensial
(Sumber: Barrett K, Barman S, Boitano S, Brooks H. Ganongs Review of Medical
Physiology. Edisi ke-23; 2010)

Pada neuron, perbedaan muatan di dalam dan di luar sel meupakan perbedaan jenis dan
konsentrasi ion. konsentrasi K
+
lebih tinggi di dalam daripada di luar sel, sebaliknya
konsentrasi Na
+
lebih tinggi di dalam daripada si luar sel. Gradien konsentrasi K
+
keluar sel
menyebabkan pergerakan pasif K
+
keluar sel ketika kanal selektif K
+
terbuka. Hal sama
terjadi pada Na
+
, yaitu ketika gradient konsentrasi Na
+
keluar sel, terjadi pergerakan pasif
Na
+
keluar sel ketika kanal selektif Na
+
terbuka. Oleh karena lebih banyaknya kanal K
+
yang
terbuka dibandingkan kanal Na
+
saat istirahat, permeabilitas membran terhadap K
+
lebih
besar. Perbedaan konsentrasi ini dijaga oleh pompa Na
+
/K
+
ATPase.
12
24

Sel saraf memiliki ambang batas untuk dapat tereksitasi. Stimulus dapat berupa
elektrik, kimia, ataupun mekanik. Ada 2 respon sel saraf terhadap stimulus, yaitu potensial
aksi dan potensial sinaptik. Hal ini terjadi karena konduksi ion-ion melewati membran sel
saraf akibat perubahan kanal ion.
12
Sebagai respon terhadap stimulus yang mendepolarisasi, beberapa kanal Na
+
terbuka,
dan ketika potensi ambang batas tercapai, terjadilah potensial aksi. Setelah itu kanal Na
+
menjadi inaktif (periode refraktori relatif dan absolut). Kemudian, terjadilah repolarisasi
dengan terbukanya kanal K
+
. Kanal K
+
terbuka lebih lambat dan lebih lama daripada kanal
Na
+
menyebabakan keadaan hiperpolarisasi. Setelah keadaan hiperpolarisasi, kondisi
berangsur-angsur kembali lagi ke membran potensial istirahat.

Setelah potensial aksi, respons
propagasi terjadi yang secara elektrotonikal mendepolarisasi membran di depannya.
12


Gambar 4. Eksitabilitas neuron selama propagasi impuls
(Sumber: Barrett K, Barman S, Boitano S, Brooks H. Ganongs Review of Medical
Physiology. Edisi ke-23; 2010)

Impuls ditransmisikan antara satu neuron dengan yang lain atau antara neuron dengan sel lain
pada sinaps. Sinaps merupakan pertemuan antara akson (sel pre-sinaps) dengan dendrit,
soma, atau akson neuron lainnya atau pada otot dan kelenjar (sel post-sinaps). Komunikasi
yang terjadi dapat berupa elektrik ataupun kimia. Pada sinaps kimia, terdapat celah sinaptik
yang memisahkan antara sep pre-sinaps dengan sel post-sinaps. Komunikasi dilakukan
dengan mengirimkan sinyal kimiawi yang dapat berdifusi melalui celah sinaps dan menempel
pada reseptor post-sinaps. Sedangkan pada sinaps elektrik, membran pre-sinaps dan post-
sinaps saling berdekatan, membentuk gap junctions.
12

25



Gambar 5. Propagasi impuls sepanjang neuron
( Sumber: Barrett K, Barman S, Boitano S, Brooks H. Ganongs Review of Medical
Physiology. Edisi ke-23; 2010)

Selain itu, untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel-sel neuron pada otak,
diperlukan energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak adalah
glukosa. Melalui proses oksidasi, glukosa dipecah menjadi CO
2
dan air.
13
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1
o
C akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Oleh karena itu kenaikan suhu
tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari K
+
maupun Na
+
mengakibatkan terjadinya lepasan muatan listrik.
Lepasan muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun
ke membran sel sekitarnya dengan bantuan neurotransmiter dan terjadi kejang.
13

Selain itu, pada anak terdapat imaturitas mekanisme termoregulator dan kapasitas
yang terbatas untuk meningkatkan metabolisme energi selular.
4
Pada percobaan dengan
binatang ditemukan bahwa eksitabilitas neuronal juga meningkat selama proses maturasi
otak.
4
Predisposisi genetik juga terbukti berkontribusi terhadap kejang demam dengan pola
pewarisan poligenik.
4
26


Gambar 6. Patogenesis/ patofisiologi kejang demam
(Sumber: http://doctorology.net/wp-content/uploads/2009/03/patofisiologi-kejang-
demam.jpg)

2.6. Manifestasi klinis

Anak dengan kejang demam memiliki perkembangan yang baik dan sehat secara neurologis
sebelum dan setelah kejang demam.
7
Serangan kejang pada kejang demam biasanya berkaitan
dengan peningkatan suhu pusat (core temperature) yang tinggi (39C atau lebih) dan cepat.
1

Umumnyaserangan kejang terjadi dalam 24 jam pertama timbulnya demam.
3
Sebagian besar
serangan kejang demam berlangsung singkat (kurang dari 15 menit) dengan sifat bangkitan
kejang berbentuk umum.
3
Umumnya kejang tidak berulang dalam 24 jam.
3

Bangkitan kejang dapat berupa postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot
menyeluruh), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama), ataupun
kejang fokal.
3
Saat kejang anak tidak sadar.
3
Selain itu, mata dapat berputar-putar (sehingga
hanya sklera yang terlihat), mulut berbusa, lidah atau pipinya dapat tergigit, gigi atau
rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar
kesadarannya), gangguan pernafasan, apnea atau henti nafas, dan kulitnya menjadi kebiruan.
3
Pada fase setelah kejang (fase post-iktal), anak sadar kembali, namun biasanya
tampak kelelahan atau tertidur. Hal ini dapat terjadi hingga 15 menit atau lebih.
7

27


Gambar 7. Bangkitan kejang tonik-klonik
(Sumber: http://drdjebrut.files.wordpress.com/2010/01/grand-mal-seizure.jpg)

2.7. Diagnosis
Diagnosis kejang demam dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.
6

2.7.1. Anamnesis
Anamnesis yang baik dapat membantu menegakkan diagnosis kejang demam. Perlu
ditanyakan kepada orang tua/ pengasuh yang menyaksikan anak kejang mengenai kejang:
jenis kejang, lama kejang, frekuensi dalam 24 jam, serta kondisi sebelum, diantara, dan
setelah kejang (termasuk kesadaran). Hal yang menyertai kejang seperti muntah, kelemahan
anggota gerak, kemunduran, dan lainnya juga perlu ditanyakan. Penting juga ditanyakan suhu
sebelum/ saat kejang.
Untuk demam, perlu ditanyakan pola demam (apakah mendadak tinggi atau perlahan-
lahan meningkat, apakah demam menetap atau hilang timbul, apakah membaik dengan
pemberian obat, dan lainnya). Selain itu, keluhan lain yang menyertai demam, seperti batuk,
pilek, sesak nafas, mual, muntah, diare, manifestasi perdarahan dan lainnya perlu ditanyakan.
Hal ini bertujuan mengidentifikasi sumber infeksi.
Pada riwayat penyakit dahulu perlu ditanyakan apakah sebelumnya pernah mengalami
kejang dengan demam atau tanpa demam. Ditanyakan pula apakah anak mengalami
gangguan neurologi sebelum demam. Penting juga ditanyakan apakah anak mengkonsumsi
obat-obatan anti kejang, atau obat-obatan lainnya. Selain itu, riwayat trauma kepala juga
penting ditanyakan.
Pada riwayat penyakit keluarga perlu digali riwayat kejang demam atau epilepsi
dalam keluarga. Pada riwayat kehamilan dan persalinan, perlu ditanyakan riwayat kehamilan
28

ibu, apakah pernah mengalami sakit selama kehamilan, apakah ibu merokok selama
kehamilan.
Pada riwayat tumbuh kembang, perlu ditanyakan pola tumbuh kembang anak apakah
sesuai dengan usianya. Pada riwayat vaksinasi, ditanyakan apakah anak baru saja menerima
vaksinasi MMR atau DTwP.

2.7.2. Pemeriksaan Fisik
7
Pada pemeriksaan fisik, nilai keadaan umum dan kesadaran anak. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, dan pernafasan) dan status tumbuh
kembang anak. Pasien kejang seringkali mengalami hipertensi dan takikardi, yang akan pulih
menjadi normal kembali bila kejang sudah berhenti. Bradikardia, hipotensi, dan perfusi yang
buruk merupakan tanda yang buruk. Pemeriksaan suhu tubuh pada anak dapat dilakukan di
beberapa tempat, seperti pada gambar.


Gambar 8. Tempat pengukuran suhu pada anak dan nilainya
(Sumber: http://netdoctor.co.uk/)

Pada anak dengan kejang demam penting untuk melakukan pemeriksaan neurologis, antara
lain:
Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, kernig, laseque, brudzinsky I dan brudzinsky
II
Pemeriksaan nervus kranialis I-XII
Tanda peningkatan tekanan intrakranial: ubun-ubun membonjol, papiledema
Pemeriksaan motorik: massa, tonus, kekuatan, dan refleks (fisiologis dan patologis)
Pemeriksaan sensorik: sensibilitias eksteroseptif, propioseptif, dan diskriminatif
Pemeriksaan autonom
Tanda infeksi di luar sistem saraf pusat juga dicari, seperti infeksi saluran nafas akut, otitis
media akut, infeksi saluran kemih, enteritis, dan lainnya.
29

Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan, diantaranya pemeriksaan terhadap adanya
fraktur kranial akibat trauma kepala, kelainan kraniofasial sebagai tanda gangguan
perkembangan korteks serebri, korioretinitis sebagai tanda infeksi rubella, cytomegalovirus,
dan toxoplasmosis, dan lainnya.
2.7.3. Pemeriksaan penunjang
14,15,16
Beberapa pemeriksaan penunjang yang diperlukan dalam mengevaluasi kejang demam,
diantaranya sebagai berikut.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin pada kejang demam, tetapi dapat
dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam, atau keadaan lain misalnya
gastroenteritis dehidrasi disertai demam. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dikerjakan
misalnya darah perifer, elektrolit, dan gula darah.

Pungsi Lumbal
Pemeriksaan cairan serebrospinal dengan pungsi lumbal dilakukan untuk menegakkan atau
menyingkirkan kemungkinan meningitis. Resiko terjadinya meningitis bakterialis adalah 0.6 -
6.7%.
Pada bayi kecil seringkali sulit untuk menegakan atau menyingkirkan diagnosis meningitis
karena manifestasi klinisnya tidak jelas. Oleh karena itu, pungsi lumbal dianjurkan pada:
Bayi kurang dari 12 bulan sangat dianjurkan untuk dilakukan
Bayi antara 12 - 18 bulan dianjurkan
Bayi > 18 bulan tidak rutin
Bila yakin bukan meningitis secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.

Elektroensefalografi
Pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau
memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh karenanya,
tidak direkomendasikan.
Pemeriksaan EEG masih dapat dilakukan pada keadaan kejang demam yang tidak khas.
Misalnya : kejang demam kompleks pada anak usia lebih dari 6 tahun, atau kejang demam
fokal.

30

Pencitraan
Foto X-ray kepala dan pencitraan seperti computed tomography scan (CT-scan) atau
magnetic resonance imaging (MRI) jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan hanya atas
indikasi seperti:
Kelainan neurologis fokal yang menetap (hemiparesis)
Paresis nervus VI
Papiledema

2.8. Diagnosis Diferensial
6,7
Diagnosis diferensial dari kejang demam diantaranya:
Infeksi intrakranial: meningitis dan ensefalitis
Keracunan: alkohol, teofilin, kokain, dan lainnya
Gangguan metabolik: hipoglikemia, hiponatremia, hipernatremia, hipoksemia,
hipokalsemia, hipomagnesemia, gangguan asam-basa, defisiensi piridoksin, gagal
ginjal, gagal hati
Gangguan metabolik bawaan
Trauma kepala
Penghentian obat antiepilepsi mendadak
Lain-lain: ensefalopati hipertensi, tumor otak, perdarahan intrakranial
Idiopatik

2.9. Tatalaksana
5,6,17
Apapun jenis dan etiologi kejang yang dihadapi, langkah penatalaksanaan kejang yang harus
dilakukan adalah:
Manajemen jalan nafas, pernafasan, dan fungsi sirkulasi yang adekuat.
Bila anak datang dalam keadaan kejang, tanyakan beberapa hal penting saja agar tidak
membuang waktu sambil memeriksa fungsi vital dengan cepat. Anamnesis dan
pemeriksaan fisik lengkap dilakukan setelah kejang teratasi.
Jalan nafas harus bebas agar oksigenasi terjamin. Pasien diletakkan dalam
posisi miring agar tidak terjadi aspirasi bila muntah. Lendir dihisap, diberikan oksigen
100%. Jangan memasukkan benda keras antara gigi yang sudah terkatup.
Terminasi kejang dan pencegahan kembalinya kejang.

31

2.9.1. Penatalaksanaan saat kejang
Biasanya kejang demam berlangsung singkat dan pada waktu pasien datang kejang sudah
berhenti. Apabila datang dalam keadaan kejang obat yang paling cepat untuk menghentikan
kejang adalah diazepam yang diberikan secara intravena. Dosis diazepam intravena adalah
0.3-0.5 mg/kg perlahan-lahan dengan kecepatan 1-2 mg/ menit atau dalam waktu 3-5 menit,
dengan dosis maksimal 20 mg.
Obat yang praktis dan dapat diberikan oleh orang tua atau di rumah adalah diazepam
rektal (level II-2, level II-3, rekomendasi B). Dosis diazepam rektal adalah 0.5-0.75 mg/kg
atau diazepam rektal 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk
anak dengan berat badan lebih dari 10 kg. Diazepam rektal juga dapat diberikan dengan dosis
5 mg untuk anak dibawah usia 3 tahun atau dosis 7.5 mg untuk anak di atas usia 3 tahun (lihat
bagan penatalaksanaan kejang demam)
Bila setelah pemberian diazepam rektal kejang belum berhenti, dapat diulang lagi
dengan cara dan dosis yang sama dengan interval waktu 5 menit. Bila setelah 2 kali
pemeberian diazepam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit. Di rumah sakit
dapat diberikan diazepam intravena dengan dosis 0.3-0.5 mg/kg.
Bila kejang tetap belum berhenti diberikan fenitoin secara intravena dengan dosis
awal 10-20 mg/kg/kali dengan kecepatan 1 mg/kg/menit atau kurang dari 50 mg/menit. Bila
kejang berhenti dosis selanjutnya adalah 4-8 mg/kg/hari, dimulai 12 jam setelah dosis awal.
Bila dengan fenitoin kejang belum berhenti maka pasien harus dirawat di ruang intensif. Bila
kejang telah berhenti, pemeberian obat selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam
apakah kejang demam sederhana atau kompleks dan faktor resikonya.

2.9.2. Pemberian obat pada saat demam
Antipiretik
Tidak ditemukan bukti bahwa penggunaan antipiretik mengurangi resiko terjadinya kejang
demam (level I, rekomendasi D), namun para ahli di Indonesia sepakat bahwa antipiretik
tetap dapat diberikan (level III, rekomendasi B). Dosis parasetamol yang digunakan adalah
10-15 mg/kg/kali deberikan 4 kali sehari dan tidak lebih dari 5 kali. Dosis Ibuprofen 5-10
mg/kg/kali, 3-4 kali sehari.
Meskipun jarang, asam asetilsalisilat dapat menyebabkan sindrom Reye terutama
pada anak kurang dari 18 bulan, sehingga penggunaan asam asetilsalisilat tidak dianjurkan
(level III, rekomendasi E).

Antikonvulsan
Pemakaian diazepam oral dosis 0.3 mg/kg setiap 8 jam pada saat demam menurunkan resiko
berulangnya kejang pada 30-60% kasus, begitu pula dengan diazepam rektal dosis 0.5 mg/kg
32

setiap 8 jam pada suhu > 38.5 derajat Celcius (level I, rekomendasi A). Dosis tersebut cukup
tinggi dan menyebabkan ataksia, iritabel dan sedasi yang cukup berat pada 25-39% kasus.
Fenobarbital, karbamazepin, dan fenitoin pada saat demam tidak berguna untuk mencegah
kejang demam (level II, rekomendasi E)

2.9.3. Pemberian obat rumat
Indikasi pemberian obat rumat
Pengobatan rumat hanya diberikan bila kejang demam menunjukan ciri sebagai berikut (salah
satu) :
Kejang lama > 15 menit
Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus. Kelainan
neurologis tidak nyata misalnya keterlambatan perkembangan ringan bukan
merupakan indikasi pengobatan rumat
Kejang fokal. Kejang fokal atau fokal menjadi umum menunjukan bahwa anak
mempunyai fokus organik
Pengobatan rumat dipertimbangkan bila :
o Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam.
o Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
o Kejang demam > = 4 kali per tahun
Jenis antikonvulsan untuk pengobatan rumat
Pemberian fenobarbital atau asam valproat setiap hari efektif dalam menurunkan resiko
berulangnya kejang (level I). Berdasarkan bukti ilmiah bahwa kejang demam tidak berbahaya
dan penggunaan obat dapat menyebabkan efek samping, maka pengobatan rumat hanya
diberikan terhadap kasus selektif dan dalam jangka pendek (rekomendasi D). Pemakaian
fenobarbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar pada 40-
50% kasus. Obat pilihan saat ini adalah asam valproat. Pada sebagian kecil kasus, terutama
yang berumur kurang dari 2 tahun asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati.
Dosis asam valproat 15-40 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis, dan fenobarbital 3-4 mg/kg per hari
dalam 1-2 dosis
Lama pengobatan rumat
Pengobatan diberikan selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan secara bertahap
selama 1-2 bulan.

33

2.9.4. Edukasi pada orang tua
Kejang selalu merupakan peristiwa menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang sebagian
besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus dikurangi
dengan cara yang diantaranya :
Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai prognosis baik
Memberitahukan cara penanganan kejang
Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
Pemberian obat untu mencegah rekurensi memang efektif tetapi harus diingat adanya
efek samping obat

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang
Tetap tenang dan tidak panik
Kendorkan pakaian yang ketat terutama disekitar leher
Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengan kepala miring. Bersihkan muntahan
atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit, jangan
memasukkan sesuatu kedalam mulut.
Ukur suhu, observasi dan catat lama dan bentuk kejang
Tetap bersama pasien selama kejang
Berikan diazepam rektal. Dan jangan diberikan bila kejang telah berhenti
Bawa kedokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih.

2.10. Prognosis
5,18
Prognosis dari kejang demam umumnya baik.

2.10.1. Kemungkinan mengalami kecacatan atau kelainan neurologis
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang sebelumnya
normal. Penelitian lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian
kecil kasus, dan kelainan ini biasanya terjadi pada kasus dengan kejang lama atau kejang
berulang baik umum atau fokal.

2.10.2. Kemungkinan mengalami kematian
Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.
34


2.10.3. Kemungkinan berulangnya kejang demam
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko berulangnya
kejang demam adalah:
Riwayat kejang demam dalam keluarga
Usia kurang dari 12 bulan
Temperatur yang rendah saat kejang
Cepatnya kejang setelah demam
Bila seluruh faktor di atas ada, kemungkinan berulangnya kejang demam adalah 80%,
sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulangnya kejang demam hanya
10-15%. Kemungkinan berulangnya kejang demam paling besar pada tahun pertama.

2.10.4. Faktor resiko terjadinya epilepsi
Faktor resiko lain adalah terjadinya epilepsi di kemudian hari. Faktor resiko menjadi epilepsi
adalah :
Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam pertama
Kejang demam kompleks
Riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung
Masing-masing faktor resiko meningkatkan kemungkinan kejadian epilepsi sampai 4-6%,
kombinasi dari faktor resiko tersebut meningkatkan kemungkianan epilepsi mejadi 10-49%
(level II-2). Kemungkinan menjadi epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemebrian obat rumat
pada kejang demam.

35

DAFTAR PUSTAKA

1. Kliegman R, Stanton B, St. Geme J, Schor N, Behrman R. Nelson Textbook of Pediatrics.
Edisi ke-19. Amerika Serikat: Elsevier Saunders, Inc.; 2011.
2. Hay W, Levin M, Sondheimer J, Deterding R. Current Diagnosis and Treatment:
Pediatrics. Edisi ke-20. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, Inc.; 2011.
3. Lumbantobing S. Kejang Demam. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; 2007.
4. Kundu G, Rabin F, Nandi E, Sheikh N, Akhter S. Etiology and Risk Factors of Febrile
Seizure An Update. Bangladesh Journal Child Health 2010; 34(3): 103-112.
5. Unit Kerja Koordinasi Neurologi Ikatan Dokter Indonesia 2006. Konsensus
Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia
(IDAI); 2006.
6. Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusomo. Pediatric Neurology and Neuroemergency in Daily
Practice. .Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2006.
7. Baumann R. Febrile Seizures [Online]. [Diunduh tanggal 24 April 2012]. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/
8. Schellack N. Febrile Seizures in Children. SA Pharmaceutical Journal 2012; 79(3):10-13.
9. Mayhar A, Ayazi P, Fallahi M, Javadi A. Risk Factors of the First Febrile Seizures in
Iranian Children. International Journal of Pediatrics 2010; 2010:1-3.
10. OLeary M, Chappell J, Stratton C, Cronin R, Taylor M, Tang Y. Complex Febrile
Seizures Followed by Complete Recovery in an Infant with High-Titer 2009 Pandemic
Influenza A (H1N1) Virus Infection. Journal of Clinical Microbiology 2010; 48(10):
3803-3805.
11. Kimia A, Ben-Joseph E, Rudloe T, Capraro A, Sarco D, Hummel D, Johnston P, dan
Harper M. Yield of Lumbar Puncture Among Children Who Present With Their First
Complex Febrile Seizure. Pediatrics 2010; 126; 62-69.
12. Barrett K, Barman S, Boitano S, Brooks H. Ganongs Review of Medical Physiology.
Edisi ke-23. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, Inc.; 2010.
13. Rudolph C, Rudolph A, Lister G, First L, Gershson A. Rudolphs Pediatrics.Edisi ke-22.
Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, Inc.; 2011.
36

14. Ojha A, Aryal U. Leucocytosis in Febrile Seizure. Journal of Nepal Pediatric Society
2011; 31(3): 188-191.
15. Farrell Kevin, Goldman R. The Management of Febrile Seizures. British Columbia
Medical Journal 2011; 53(6): 268-273.
16. Subcommitee on febrile seizures. Febrile Seizures: Guideline for the Neurodiagnostic
Evaluation of the Child with a Simple Febrile Seizure. Pediatrics 2011; 127: 389-394.
17. Steering committee on quality improvement and management, subcommittee on febrile
seizures. Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management of
the Child with Simple Febrile Seizure. Pediatrics 2008; 121: 1281-1286.
18. Ojha A, Shakya K, Aryal U. Recurrence Risk of Febrile Seizure in Children. Journal of
Nepal Pediatric Society 2012; 32(1): 33-36.