Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

Pengujian terhadap mutu fisiologik benih mencakup kegiatan pengujian daya


kecambah atau daya hidup dan kesehatan benih. Uji daya kecambah benih dapat
dilakukan secara langsung dengan mengamati dan membandingkan unsur-unsur tumbuh
penting dari benih pada suatu periode uji tertentu. Struktur pertumbuhan yang dinilai
terdiri untuk menguji daya kecambah dari akar, batang dan daun. Uji daya hidup benih
dapat pula dilakukan secara tidak langsung, yaitu dengan mengukur aktivitas
metabolisme benih misalnya dengan menggunakan uji tetrazolium. Pengujian dengan
menggunakan uji tetrazolium lebih bersifat kepada pendugaan daya hidup benih bukan
untuk mengukur daya kecambah benih. Oleh karena itu, untuk mengetahui daya
kecambah benih yang sesungguhnya harus dilakukan uji perkecambahan. Namun
demikian, untuk menduga daya hidup benih yang paling cepat, metode uji tetrazolium
merupakan alternatif yang dapat digunakan.

Prinsip metode TZ adalah bahwa setiap sel hidup akan berwarna merah oleh
reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan
merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih. Enzim yang mendorong terjadinya
proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi (Byrd, 1988).
Kelebihan metode TZ meliputi waktu pengujian yang singkat, sangat tepat diaplikasikan
pada benih yang mengalami dormansi serta benih yang mengalami pemasakan lanjutan
(after ripening), tingkat ketelitian tinggi, sedangkan kelemahannya memerlukan
keahlian dan pelatihan yang intensif, bersifat laboratoris, tidak dapat mendeteksi
kerusakan akibat fungi atau mikroba lainnya dan bersifat merusak.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A.TUJUAN

Tujuan uji tetrazolium adalah untuk memperkirakan viabilitas benih dengan


cepat. Seperti pada uji belah, uji tetrazolium merupakan uji viabilitas tak langsung, dan
memberikan hasil yang lebih tinggi dari uji perkecambahan. Karena itu uji
perkecambahan tidak dapat digantikan oleh uji tetrazolium.
Uji tetrazolium cocok dilakukan terutama pada lot benih yang
perkecambahannya lama, benih sulit di dipatahkan dormansinya, perkecambahan
rendah,dan memastikan sisa benih tidak tumbuh pada akhir pengujian perkecambahan.

B.TEORI

Larutan tetrazolium (2,3,5 – triphenyl tetrazolium klorida atau bromida)


digunakan sebagai indikator untuk menunjukkan proses biologis yang terjadi di dalam
sel hidup. Perlu diketahui bahwa bahan kimia tetrazolium diduga menyebabkan
carcinogenic effects. Oleh karena itu diharapkan agar hati-hati dalam menggunakan
larutan kimia ini, sebagai contoh: gunakan masker, dan ventilasi yang cukup selama
menangani serbuk garam TZ dan gunakan sarung tangan karet selama menangani
larutan kimia TZ. Larutan tetrazolium diserap oleh benih.
Di dalam benih, tetrazolium berinteraksi dengan jaringan sel hidup dan
menyerap hidrogen. Hasil reaksi dengan hidrogen menyebabkan perubahan warna, dari
jernih menjadi merah. Karena itu, uji tetrazolium memungkinkan kita untuk
membedakan antara jaringan hidup yang berwarna merah dengan jaringan mati yang
tidak berwarna. Selain benih hidup yang seluruhnya berwarna merah dan benih tidak
hidup yang tidak berwarna, mungkin didapat benih dengan pewarnaan sebagian.
Pewarnaan sebagian ini dapat terjadi karena pada benih hidup terdapat jaringan mati
(jaringan nekrotik).

2
Posisi dan ukuran daerah nekrotik menentukan apakah benih tersebut
diklasifikasikan sebagai benih hidup atau tidak hidup. Interpretasi yang benar dari
pewarnaan ini mungkin sukar dan membutuhkan pengalaman.
Bebrapa faktor yang dapt mempengaruhi reaksi tetrazolium yaitu :
• Temperatur (temperature optimum sekitar 40oC)
• pH larutan (pH paling baik sekitar 7,0)
• keadaan benih (benih yang paling baik dahulu diberi perlakuan dengan layak
cepat dan lebih seragam)
• konsentrasi larutan (konsentrasi 0,5 dan 1,0% adalah konsentrasi yang paling
umum, berlainan sesuai dengan jenis benih)

• tekanan atmosfir (benih berwarna lebih cepat pada keadaan hampa udara)

Cara Mempersiapkan Benih Sebelum Pewarnaan

Benih harus direndam dalam air dengan suhu kamar selama 24 jam. Hal ini untuk
memudahkan pembelahan benih. Juga agar pewarnaan lebih merata, sehingga akan
memudahkan evaluasi selanjutnya. Benih dengan kulit benih yang keras harus
diskarifikasi (ditusuk) untuk mempermudah penyerapan. Benih dengan kulit biji
(pericarp) yang keras harus diekstraksi terlebih dahulu sebelum perendaman.

Pewarnaan dengan Tetrazolium

Sangatlah penting untuk membuka jaringan benih sebelum pewarnaan untuk


memungkinkan penetrasi larutan tetrazolium, dan memudahkan evaluasi. Mengenai
bagaimana membuka jaringan benih yang terbaik untuk jenis individual tidak mungkin
dibahas dalam cakupan kerja petunjuk ini. Penguji benih harus mencoba berbagai
macam pilihan cara dan mengambil cara yang memberikan hasil pewarnaan terbaik.
Benih direndam dalam larutan tetrazolium 1% dalam gelas piala atau wadah lain yang
sesuai. Jaringan benih harus terendam sempurna dalam larutan tetrazolium. Larutan ini
jangan sampai terkena sinar matahari karena akan menyebabkan turunnya efektifitas

3
larutan tetrazolium (tetrazolium tidak akan bekerja). Karena itu benih dan larutannya
harus ditutup rapat selama masa proses pewarnaan, misalnya dengan aluminium foil
atau bahan lain yang sejenis. Jaringan benih ini harus terendam dalam larutan
tetrazolium selama minimal 2 - 24 jam dengan suhu 30-35° C, bergantung pada jenis.
Cuci benih dengan air destilasi dan letakkan pada kertas filter sampai dievaluasi.

Evaluasi
Evaluasi akan membedakan mana benih hidup dan mana yang tidak hidup.
Benih hidup adalah benih yang berpotensi menghasilkan kecambah normal. Benih ini
akan terwarnai dengan sempurna, atau jika hanya parsial saja, pola pewarnaan
menunjukkan bahwa struktur pentingnya hidup. Benih tidak hidup adalah benih yang
tidak memenuhi kriteria ini. Benih dengan pertumbuhan embrio atau struktur penting
lainnya yang tidak normal, akan dimasukkan sebagai benih tidak hidup, dengan ada atau
tidaknya pewarnaan. Evaluasi pola pewarnaan membutuhkan pengalaman dan uji coba.

Rumus Bangun dan Reaksi Kimia Tetrazolium


H
N-N-C6H5 N-N-C6H5+HCl
2H++2C
C6H5C C6H5C
Dehydrogenase
N=N+-C6H5 N=N-C6H5
NADP NAD
Cl-
Formazan
2,3,5 triphenylNADPH NADP
(red)
Tetrazolium
chloride

(colourless)

4
Tetrazolium

atau

C.PROSEDUR PENGUJIAN DENGAN TETRAZOLIUM

Alat Dan Bahan

a. Alat : - Gelas ukur

- Oven

- Pinset atau alat penjepit untuk mengeluarkan benih dari larutan tetrazolium

- Pisau untuk membelah benih kacang merah menjadi 2 bagian

- Alat tulis

5
- kertas label, digunakan untuk menuliskan nama kelompok, yang
ditempatkan pada gelas ukur supaya tidak tertukar dengan kelompok lain.

b. Bahan : - Benih kacang merah sebanyak 15 benih

- Tetrazolium (larutan 0.1)

Prosedur Kerja

Pelaksanaan praktikum dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

• Benih kacang merah yang berjumlah 15 benih dipotong menjadi 2 bagian.


Sehingga didapatlah kacang merah berjumlah 30 butir.
• Ditempatkan sejumlah larutan tetrazolium di gelas ukur yang juga sudah diberi
label
• Benih yang berjumlah 30 butir tersebut dimasukkan kedalam larutan tetrazolium
tersebut.
• Setelah benih tersebut dimasukkan kedalam larutan tetrazolium tersebut, gelas
ukur yang berisi tetrazolium tersebut dimasukkan kedalam oven selama ± 1 jam.
• Setelah 1 jam, larutan tersebut dikeluarkan dan diamati perubahan yang terjadi
pada benih kacang merah tersebut.
• Pengamatan dilakukan dengan melihat indikator warna yang ditunjukkan benih,
apakah benih tersebut berwarna merah cerah, merah muda atau putih.
• Maka dapatlah dihitung persentase benih yang berwarna merah cerah, merah
muda ataupun putih.

6
D. CONTOH GAMBAR HASIL PENGAMATAN

Jagung

Barley

7
Kacang Merah

Najas marina

Sorgum

8
BAB III

KESIMPULAN

Prinsip metode TZ adalah bahwa setiap sel hidup akan berwarna merah oleh
reduksi dari suatu pewarnaan garam tetrazolium dan membentuk endapan formazan
merah, sedangkan sel-sel mati akan berwarna putih. Enzim yang mendorong terjadinya
proses ini adalah dehidrogenase yang berkaitan dengan respirasi (Byrd, 1988).

Tujuan uji tetrazolium adalah untuk memperkirakan viabilitas benih dengan cepat.

Beberapa faktor yang dapt mempengaruhi reaksi tetrazolium yaitu :


• Temperatur (temperature optimum sekitar 40oC)
• pH larutan (pH paling baik sekitar 7,0)
• keadaan benih (benih yang paling baik dahulu diberi perlakuan dengan layak
cepat dan lebih seragam)
• konsentrasi larutan (konsentrasi 0,5 dan 1,0% adalah konsentrasi yang paling
umum, berlainan sesuai dengan jenis benih)

• tekanan atmosfir (benih berwarna lebih cepat pada keadaan hampa udara)

9
DAFTAR PUSTAKA

darori.2007. VIII. UJI TETRAZOLIUM. available at


http://www.dephut.go.id/files/P13_PTH_07.pdf

http://www.seeds.iastate.edu/seedtest/test/tz.html

http://www.ukmalt.com/graphics/germpregerm.jpg

http://www.ilcrop.com/seedlab/tests/TZtest.gif

Handout Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Teknologi Benih

www.bsn.go.id/files/348256349/Litbang%202009/Bab%205.pdf

http://dacnet.nic.in/seednet/seeds/Material/Handbook_of_seed_testing/Chapter
%2014.pdf

www.wikipedia.com

10