Anda di halaman 1dari 30

SURVEILANS

EPIDEMIOLOGI
SURVEILANS DBD,
LEPTOSPIROSIS &
ILI
A. SURVEILANS
DEMAM BERDARAH
DENGUE (DBD)
GRAFIK INSIDENS RATE KASUS DBD PER PROPINSI DI
INDONESIA TAHUN 2011
1. Pendahuluan
Penyakit DBD merupakan salah satu penyakit yang
dapat menimbulkan kepanikan masyarakat karena
perjalanan penyakitnya yang cepat dan dapat
menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan
menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

Hingga saat ini masalah surveilans DBD masih
dihadapkan pada banyak permasalahan, karena
kasus-kasus yang dilaporkan tidak semua didukung
dengan pemeriksaan laboratorium (penurunan
trombosit dan hematokrit) sehingga terjadi
kecenderungan over diagnosa.
Hal tersebut menyebabkan tidak dilakukannya
pengelompokkan penderita Demam Dengue
(DD), DBD dan Dengue Shock Syndrome (DSS)

Pendahuluan (Lanjut)
Sesuai:
UU No.4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular
Permenkes No.560 Tahun 1989 tentang Jenis Penyakit
yang Dapat Menimbulkan Wabah
Tatacara pelaporan, penanggulangan seperlunya dan
harus segera dilaporkan selambat lambatnya 24 jam
setelah penegakan diagnosa.
Laporan tersangka DBD dimaksudkan sebagai tindakan
kewaspadaan dini di unit pelayanan kesehatan untuk
pencarian informasi kasus tambahan serta tindakan
pencegahan lainnya.

Laporan penderita DD, DBD, dan DSS disamping untuk
upaya tindak penyelidikan epidemiologi (PE), fogging focus
dll, juga untuk membatasi transmisi penyakit. Data
penyakit DBD yang diperoleh perlu diolah, dianalisa,
diambil kesimpulan untuk segera ditindaklanjuti.




2. Surveilans Epidemiologi (SE)
DBD

Merupakan proses pengumpulan,
pengolahan, analisis, interpretasi, dan
penyebarluasan informasi untuk
ditindaklanjuti. Tindakan ini dilakukan
secara sistematis dan terus menerus
tentang situasi penyakit DBD pada
kondisi yang mempengaruhi terjadinya
peningkatan dan penularan penyakit
DBD agar dapat dilakukan tindakan
pencegahan dan penanggulangan secara
efektif dan efisien.


Surveilans Epidemiologi (SE) DBD
(Lanjut)
Kasus DBD adalah: penderita DBD atau DSS
Penderita DBD adalah: penderita dengan demam tinggi
mendadak tanpa sebab jelas, berlangsung terus-menerus
selama 27 hari disertai tanda-tanda perdarahan
sekurang-kurangnya uji torniquet (rumple liede) positif
atau jumlah trombosit < 100.000 mikro liter.
Penderita DD adalah: sesuai dengan kriteria DD atau
hasil pemeriksaan serologis pada tersangka menunjukkan
peningkatan IgM.
Laporan kewaspadaan (KD-RS) adalah: laporan segera
(1x24 jam setelah penegakkan diagnosa) tentang
adanya penderita DD, DBD, DSS (termasuk tersangka
DBD) agar segera dapat dilakukan tindakan seperlunya
dan segera.
Surveilans Epidemiologi (SE) DBD
(Lanjut)
Stratifikasi desa/kelurahan:
Endemis: Dalam 3 tahun terakhir berturut-turut
ada kasus DBD.
Sporadis: Dalam 3 tahun terakhir tidak setiap
tahun terdapat kasus DBD.
Potensial:Selama 3 tahun terakhir tidak terdapat
kasus DBD, namun mempunyai
penduduk yang padat, mobilitas tinggi,
dan angka bebas jentik (ABJ) <95%.
Bebas: Tidak pernah terdapat penderita
dan mempunyai ketinggian >
1.000 meter dpl.

3. Alur Pelaporan
Bila menemukan penderita DBD di Puskesmas
atau pelayanan kesehatan lainnya, wajib
melaporkan 1x24 jam secara berjenjang dengan
menggunakan formulir:
- KD-RS dilaporkan 1x24 jam setelah
penegakkan diagnosis (F-1)
- DP-DBD sebagai data dasar perorangan yang
dilaporkan bulanan (F-2)
- Formulir K-DBD sebagai laporan bulanan (F-3)
- Formulir W2 sebagai laporan mingguan (F4)
- Formulir W1 dilaporkan bila terjadi KLB-DBD


4. Surveilans DBD di Puskesmas
dan Kabupaten/Kota
Kegiatan surveilans di puskesmas maupun
kabupaten/kota meliputi kegiatan
pencatatan/pengumpulan data penderita
DD, DBD, dan DSS.
Data kemudian diolah dan disajikan
sebagai dasar tindak lanjut maupun
sebagai dasar Sistem Kewaspadaan Dini
Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah
Dengue (SKD-KLB-DBD)

Surveilans DBD di Puskesmas dan
Kabupaten/Kota (Lanjutan)
Data lain yang dibutuhkan, sebagai data
pendukung:
1. Pencatatan/pengumpulan data
Dilakukan setiap hari yang berasal dari pelaporan
BP, RS, dokter praktek swasta, PE, dll.

Pencatatan dapat menggunakan buku register harian
yang memuat data/informasi tentang:
nama penderita, umur, jenis kelamin, alamat lengkap,
tanggal mulai sakit, tanggal dirawat, tempzt
perawatan, hasil laboratorium, tempat bepergian 2
minggu terakhir, dll.

Data yang sudah ada dapat direkap mingguan atau
bulanan.

Surveilans DBD di Puskesmas dan
Kabupaten/Kota (Lanjutan)
2. Pengolahan data
Berupa kegiatan pengelompokkan variabel
tempat (place), waktu (time), dan orang
(person) serta ukuran epidemiologi lainnya
(rate, proporsi, rasio, dll).

3. Penyajian data
Agar mudah dianalisis dan disimpulkan,
data yang sudah diolah kemudian diubah
dalam bentuk tabel, grafik, peta, dll yang
bentuk/jenisnya disesuaikan dengan kaidah
pembuatan grafik yang sesuai dengan
tujuannya.

Surveilans DBD di Puskesmas dan
Kabupaten/Kota (Lanjutan)
4. Analisis data
Data yang sudah menjadi grafik
kemudian dianalisis dan disimpulkan
untuk dijadikan dasar intervensi yang
akan dilaksanakan.

5. Apabila setelah dianalisis terdapat
peningkatan kasus di suatu wilayah
yang menjurus ke arah KLB-DBD,
maka dilakukan suatu tindakan sesuai
dengan prosedur yang telah
ditetapkan.

B. SURVEILANS
LEPTOSPIROSIS
1. Pendahuluan
Penyakit leptospirosis merupakan penyakit
zoonosis yang dapat menular ke manusia dan
sering menimbulkan KLB.
Di beberapa tempat di Jawa Tengah
menjadi masalah yang serius karena angka
kematian yang cukup tinggi (antara 30
40%) dengan kematian karena kerusakan
organ tubuh penting (ginjal, lever, jantung)
dan kelompok terserang adalah mereka
yang mempunyai perilaku yang tidak bersih,
serta sangat erat dengan riwayat kontak
dengan air yang tercemar urin tikus.


Pendahuluan (Lanjut)
Data-data tentang kasus Leptospirosis
selama ini masih sangat menggantungkan
pada laporan RS karena biasanya kasus
diketahui berdasarkan informasi dari RS
yang merawat (hospital base surveillance).

Dari data RS PE ke tempat kejadian
untuk mengetahui faktor risiko atau
mengetahui riwayat kontak, serta mencari
kemungkinan adanya penderita baru di
sekitar kasus.
Pendahuluan (Lanjut)
Laporan kasus dari masyarakat akan dapat ditangkap
oleh puskesmas (health centre base surveillance), yaitu
melalui penderita rawat jalan dengan gejala panas,
ikhterik, mual/muntah, mata kemerahan, serta nyeri
betis/pinggang Dijaring melalui rapid test diagnostic
untuk segera dilakukan tindakan.
Sistem pencatatan dapat dilengkapi dengan form lepto 1
meliputi: nama, umur, alamat, tanggal sakit, hasil
pemeriksaan laboratorium, pekerjaan dan keterangan-
keterangan lain yang mendukung riwayat kejadian sakit.
Untuk rekapitulasi bulanan dapat dimasukkan dalam
form lepto 2 meliputi: rekapitulasi berdasarkan lokasi
kejadian perbulan meliputi puskesmas, kasus,
laboratorium positif, serta kasus meninggal

2. Surveilans Epidemiologi (SE)
Leptospirosis
Sistem surveilans yang dilakukan terhadap manusia
juga sebagai alat SKD untuk daerah endemis
leptospirosis: daerah banjir, daerah pasang surut,
persawahan, rawa, dll yang berupa:
1. Daerah rawan banjir berupa surveilans aktif
maupun pasif
2. Penampungan pengungsi berupa surveilans aktif
maupun pasif
3. Daerah persawahan/pertambangan berupa
surveilans pasif
4. Daerah rawa/tanah gambut berupa surveilans
pasif

Surveilans Epidemiologi (SE)
Leptospirosis (Lanjut)
Surveilans aktif: dilakukan dengan mencari
penderita/tersangka dengan gejala: panas,
ikhterik, mual/muntah, mata kemerahan,
serta nyeri betis/pinggang.

Surveilans pasif: dilakukan melalui puskesmas,
BP, pustu, pusling, dan RS, pada penderita
dengan gejala panas, ikhterik, mual/muntah,
mata kemerahan, serta nyeri betis/pinggang
yang diambil sampel darahnya 5 ml untuk
pemeriksaan serologis.
3. Kewaspadaan Diri Terhadap KLB
Leptospirosis
1. Langkah antisipasi terhadap kasus leptospirosis
biasanya terjadi pada musim hujan (pasca
banjir) dimana banyak tikus berkeliaran dan
mencemari air dengan urinnya.
Surveilans lebih intensif di Puskesmas/RS
khususnya di daerah banjir (rob). Pencarian
penderita baru berdasarkan terdapatnya gejala
klinis dan pengambilan darah 35 ml untuk
diperiksa di laboratorium.

2. Terhadap rodent dilakukan penangkapan/
trapping tikus minimal 5 hari berturut-turut
untuk diambil spesimen darahnya untuk
pemeriksaan laboratorium.

C. SURVEILANS
INFLUENZA LIKE
ILNESS (ILI)
1. Pendahuluan
Mulai tahun 2004 merebak kasus Avian Influenza
(AI) pada ayam, yang pada saat ini sudah ada kasus
AI pada manusia.

Kemiskinan, pendidikan rendah, sanitasi
lingkungkungan yang buruk, menjadikan Indonesia
negara dengan potensi besar untuk penyebaran
influenza dan ILI.

Surveilans ILI merupakan salah satu kegiatan yang
perludilaksanakan untuk mengetahui besar masalah
kasus influenza sedini mungkin untuk menunjang
kewaspadaan dini terhadap AI dan pandemi
influenza.
2. Tujuan dan Definisi Kasus ILI
Tujuan:
1. Mengidentifikasi tipe dan strain virus influenza
2. Mempercepat identifikasi dan analisis apabila
dicurigai adanya kemungkinan kontaminasi AI ke
manusia

Definisi Kasus ILI:
Dikatakan sebagai kasus ILI bila memenuhi kriteria sbb:
1. Panas 37,8

C
2. Batuk/sakit tenggorok
3. Menderita gangguan pernafasan atau
4. Sakit/nyeri otot
3. Penyebab Infeksi dan Masa
Penularan
Penyebab Infeksi:
Tiga tipe virus influenza yang dikenal yaitu tipe A,
B, dan C. Tipe A terdiri dari sub tipe dimana hanya
2 (H1 dan H3) yang dikaitkan dengan epidemi dan
pandemi yang luas.

Masa Penularan:
Masa penularan berlangsung selama 35 hari sejak
timbulnya gejala klinis pada orang dewasa dan
sampai 7 hari pada anak-anak.
4. Cara Penularan dan Cara
Pencegahan
Cara Penularan:
Penularan melalui udara terutama terjadi pada
daerah yang padat penduduk, pada ruangan tertutup
seperti pada bis sekolah.
Penularan dapat terjadi dengan kontak langsung, oleh
karena virus influenza dapat hidup berjam-jam di
luar tubuh manusia, khususnya di daerah dingin dan
kelembaban yang rendah.

Cara Pencegahan:
1. Personal hygiene khususnya mengenai banyaknya batuk
dan bersin tanpa menutup mulut atau hidung.
2. Imunisasi dengan menggunakan virus yang tidak aktif
3. Menciptakan lingkungan dan rumah yang sehat dengan
cukup ventilasi, cukup pencahayaan matahri, dan
kelembaban nisbi.
5. Kasus ILI di Puskesmas dan RS
serta Cara Pengambilan Swab
Kasus ILI di Pukesmas dan RS:
1. Lakukan swab hidung kiri, kanan, dan tenggorokan
2. Lakukan rapid test pada swab hidung kiri
3. Dua spesimen disimpan di lemari es sesuai standar,
sebelum dikirim ke Puslitbang Biomedis dan Farmasi
Badan Litbangkes Kemenkes RI

Cara Pengambilan Swab:
1. Masukkan swab ke dalam lubang hidung sejajar
palatum, biarkan beberapa detik, usapkan pada
kedua lubanghidung secara bergantian.
2. Masukkan ke dalam vial dan patahkan
tangkainya,kemudian tutup vial.
3. Ambil swab dan usapkan pada tenggorokan dan
daerah sekitar tonsil kiri dan kanan.
4. Tutup vial, lapisi dengan para film
6. Format Laporan di
Puskesmas/RS
Puskesmas/RS :
Kabupaten/Kota :
Propinsi :
Minggu Ke : Bulan: Tahun:


No Nama Lk/Pr Umur Tgl Berobat Spesimen yang diambil
7. Sistem Pelaporan ILI





Keterangan:
: Koordinasi
: Laporan
: Rujukan
: Feed Back

Puskesmas/RS
Sentinel
CDC
Atlanta
Dinkes
kab./Kota
Dinkes
Propinsi
Balitbangkes