Anda di halaman 1dari 42

ASPEK BIOLOGI PERTUMBUHAN, REPRODUKSI, DAN

KEBIASAAN MAKAN IKAN SELAR KUNING


(Caranx leptolepis)

HENDRY ARIEF FAVIAN


C24070078

LAPORAN PRAKTIKUM M.K. BIOLOGI PERIKANAN

DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

1
2
RINGKASAN

Praktikum mengenai pertumbuhan ikan, aspek reproduksi dan kebiasaan


makanan ikan sangat berkaitan dengan program studi biologi perikanan di
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Pentingnya pemahaman tentang
biologi perikanan merupakan salah satu upaya untuk memberikan kemampuan
dalam menganalisis dan menduga pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan.
Sehingga dengan demikian dapat melihat jumlah stok yang ada di alam
berdasarkan ukuran ikan. Ikan yang digunakan sebagai objek kajian dalam
praktikum ini adalah ikan selar kuning (Caranx leptolepis). Tujuan dari praktikum
ini adalah untuk mengetahui informasi tentang aspek pertumbuhan yang meliputi
hubungan panjang-berat dan ukuran optimum dalam populasi ikan selar kuning
(Caranx leptolepis), aspek reproduksi yang meliputi Tingkat Kematangan Gonad
(TKG), Indeks Kematangan Gonad (IKG), Fekunditas, dan diameter telur serta
aspek kebiasaan makanan dari ikan Selar kuning (Caranx leptolepis). Metoda yang
digunakan dalam praktikum ini diantaranya, menganalisa pertumbuhan dengan
menggunakan parameter panjang dan berat adalah dengan rumus W = aLb, TKG
diamati dengan menggunakan klasifikasi Casie, IKG adalah nilai dalam persen (%)
sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh, fekunditas metode
yang digunakan adalah metode gabungan, Pengukuran diameter telur dilakukan
dengan cara mengukur langsung telur sampel menggunakan mikroskop yang sudah
ditera, dan metode yang digunakan dalam mempelajari tabiat makanan ikan
meliputi penentuan secara kualitatif dan kuantitatif. Ikan selar (Caranx leptolepis)
memiliki nilai frekuensi relatif untuk ikan jantan dan betina berturut-turut adalah
38% dan 31%. Jumlah individu jantan pada selang tersebut lebih banyak
dibandingkan dengan individu betina. Ikan selar jantan pada populasi tersebut
lebih berat dibandingkan ikan betina. Pertumbuhan ikan selar (Caranx leptolepis)
bersifat allometrik negatif (b < 3 ). Hal ini membuktikan bahwa pertumbuah
panjang ikan selar lebih mendominasi daripada pertumbuahn beratnya. Kondisi
ikan tergantung dari jumlah organisme, kondisi organisme, lingkungan, suhu, dan
salinitas. Bahwa ikan selar dengan kisaran ukuran panjang tubuh 115–147 cm, ikan
rata-rata memiliki tingkat kematangan gonad II dan III. Ikan betina memiliki IKG
yang lebih besar, hal ini ditunjukan dengan nilai perbandingan hanya 1,75. Proporsi
antara ikan jantan dan betina ternyata lebih didominasi oleh ikan selar betina
dengan proporsi sebanyak 52,76%. Hubungan panjang dan fekunditas kurang erat
dibandingkan dengan hubungan berat dan fekunditas. Telur pada data yang
dihasilkan masih pada stadia TKG III sehingga ukuran diameter telur belum
maksimal dan masih banyak yang berukuran kecil. Makanan utama ikan selar
kuning (Caranx leptolepis) adalah Coscinodiscus karena ditemukan dalam jumlah
yang paling besar ditemukan dalam usus ikan yaitu sebanyak 26 %.
KATA PENGANTAR

Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas praktikum dari mata
kuliah Biologi Perikanan pada semester IV. Praktikum yang dilaksanakan pada tiga
minggu sebelum ujian tengah semester IV di laboratorium Biologi makro 1 dan
tiga minggu pelaksanaan responsi di laboratorium metode dan observasi untuk
membahas hasil praktikum, sehingga didapatkan hasil yang bisa dibahas pada
laporan ini. Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada para dosen yang telah
senantiasa membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan laporan
praktikum biologi perikanan ini. Tak lupa terima kasih kepada para asisten yang
turut berpartisipasi dalam membimbing dalam pengolahan data sampai penyusunan
laporan ini selesai. Terlebih kepada teman-teman sekalian yang telah memberikan
semangat dalam penyusunan laporan ini.
Harapannya laporan ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun yang
membacanya. Terimakasih dan mohon maaf apabila terjadi kesalahan dalam
penulisan.

Bogor, 06 Juni 2009

Hendry Arief Favian


DAFTAR ISI

RINGKASAN...............................................................................................i
KATA PENGANTAR....................................................................................ii
DAFTAR ISI..............................................................................................iii
DAFTAR TABEL........................................................................................iii
Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kematangan Gonad (TKG)…………………..…
11 iii
Tabel 2. Sebaran frekuensi panjang ikan selar kuning (Caranx leptolepis)
…...15......................................................................................................iii
Tabel 3. Sebaran frekuensi berat ikan selar kuning (Caranx leptolepis)
……...16.................................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR....................................................................................iv
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................v
Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kematangan Gonad (TKG).........................12
Tabel 2. Sebaran frekuensi panjang ikan selar kuning (Caranx leptolepis)
16
Tabel 3. Sebaran frekuensi berat ikan selar kuning (Caranx leptolepis) 17
Tabel 4. Proporsi kelamin ikan selar kuning (Caranx leptolepis)............20

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kematangan Gonad (TKG)…………………..…11


Tabel 2. Sebaran frekuensi panjang ikan selar kuning (Caranx leptolepis)…...15
Tabel 3. Sebaran frekuensi berat ikan selar kuning (Caranx leptolepis)……...16
Tabel 4. Proporsi kelamin ikan selar kuning (Caranx leptolepis)………….....19
Tabel 5. Organisme makanan di dalam usus ikan selar (Caranx leptolepis)….24
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Ikan Selar (Caranx leptolepis) …………………………………………4


Gambar 2. Distribusi frekuensi panjang ikan selar (Caranx leptolepis) ………….15
Gambar 3. Distribusi frekuensi berat ikan selar (Caranx leptolepis)……………..16
Gambar 4. Hubungan panjang berat ikan selar …………………………………...17
Gambar 5. Nilai tengah faktor kondisi ikan selar berdasarkan
selang kelas panjang …………………………………………………...18
Gambar 6. Tingkat kematangan gonad (%) ikan selar (Caranx leptolepis) jantan
dan betina berdasarkan selang kelas panjang total…………………… 20
Gambar 7. Indeks kematangan gonad ikan selar (Caranx leptolepis) jantan dan
betina berdasarkan selang kelas panjang total. ……………………..…21
Gambar 8. Hubungan fekunditas dengan panjang dan berat tubuh ikan selar
(Caranx leptolepis). ……………………………………………………22
Gambar 9. Sebaran diameter telur ikan selar (Caranx leptolepis).………………..23
Gambar 10. Nilai IP ikan selar (Caranx leptolepis) …..…………………………..25

DAFTAR LAMPIRAN

Tabel 6. Data Ikan Selar (Caranx leptolepis) …………………………………….28


I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Biologi perikanan sebagai dasar ilmu mengenai semua aspek-aspek yang


berhubungan dengan studi biologi ikan. Setiap makhluk hidup mengalami
pertumbuhan selama hidupnya dan melakukan reproduksi untuk menjaga
kelangsungan hidupnya. Begitu juga yang terjadi pada ikan, pertumbuhan tersebut
dapat diamati secara fisik atau melalui pengamatan perkembangan jaringan.
Pertumbuhan pada ikan dapat berlangsung lambat ataupun cepat. Pertumbuhan
adalah perubahan ukuran bagian-bagian tubuh dan fungsi fisiologis tubuh.
Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Faktor
internal itu meliputi keturunan, pertumbuhan kelamin. Pertumbuhan ikan memiliki
hubungan yang erat antara pertumbuhan panjang dan berat. Berdasarkan teori
hubungan panjang berat dapat dinyatakan dengan rumus W= aLb, dalam hal ini
“W” = berat, “a dan b”= konstanta, dan “L”= panjang ikan Dalam menduga
pertumbuhan ikan di daerah tropis sulit dilakukan karena proses pertumbuahan
ikan terus menerus sehingga tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat bentuk
sirkulus pada sisik saja. Pertumbuhan ikan juga dapat menduga sebaran tingkat
kematangan gonad ikan berdasarkan ukuran.
Ikan melakukan reproduksi untuk mempertahankan dan melestarikan
spesiesnya. Reproduksi merupakan suatu siklus penting yang dijalani oleh seluruh
makhluk hidup, begitu pula dengan ikan. Ikan melakukan reproduksi secara
eksternal. Ikan akan melakukan reproduksi bila gonadnya telah matang, dan
kematangan gonad dapat ditentukan. Penentuan IKG (Indeks Kematagan Gonad)
dan TKG (Tingkat Kematangan Gonad) sangat penting dilakukan, karena dapat
berguna untuk mengetahui perbandingan antara gonad yang telah matang dan stok
yang ada di perairan, ukuraan pemijahan, musim pemijahan, dan lama pemijahan
dalam satu siklus. Terdapat dua cara untuk menentukan tingkat kematangan gonad
dari ikan. Pertama dengan cara morfologis yaitu dengan pengamatan secara visual
terhadap ukuran gonad ikan. Metode ini banyak dilakukan dan relatif lebih mudah,
namun tingkat ketelitian rendah. Pengamatan secara morfologis lebih praktis
dilkukan terutama dilapangan. Cara kedua yaitu dengan metode histologis. Metode
ini dilakukan di dalam laboratorium yaitu dengan mengamati perkembangan gonad
melalui fase perkembangan sel. Faktor-faktor yang mempengaruhi saat pertama
kali ikan matang gonad adalah jenis spesies, umur, ukuran, dan sifat fisiologis.
Sedangkan faktor luarnya adalah suhu, arus, individu lawan jenis, dan tempat
memijah yang sesuai (Effendi, 2002).

Banyaknya telur yang belum dikeluarkan sesaat sebelum ikan memijah atau
biasa disebut dengan fekunditas memiliki nilai yang bervariasi sesuai dengan
spesies. Jumlah telur yang dihasilkan merupakan hasil dari pemijahan yang tingkat
kelangsungan hidupnya di alam sampai menetas dan ukuran dewasa sangat
ditentukan oleh faktor lingkungan. Dalam pendugaan stok ikan dapat diketahui
dengan tingkat fekunditasnya. Tingkat fekunditas ikan air laut biasanya relatif
lebih tinggi dibandingkan dengan ikan air tawar. Telur yang dihasilkan memiliki
ukuran yang bervariasi. Ukuran telur dapat dilihat dengan menghitung diameter
telur. Diameter telur merupakan garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur
dengan mikrometer yang berskala yang sudah ditera. Pengamatan fekunditas dan
diameter telur dilakukan pada ikan dengan TKG III dan IV.
Proses makan adalah salah satu yang dilakukan makhluk hidup untuk
melakukan metabolisme dan juga menunjang aktivitas fisik. Energi sebagai sumber
untuk melakukan aktifitas diperoleh dari makanan yang dimakan kemudian
dirombak di dalam tubuh menjadi energi dan unsur lainnya sehingga dapat dicerna
dan diserap oleh tubuh. Makanan adalah semua organisme, bahan dan zat yang
dimanfaatkan oleh organisme untuk menunjang kehidupan dan perkembangan
organ tubuh. Makanan pada ikan penting untuk pertumbuhan energi yang
dihasilkan dari makanan berfungsi untuk pertumbuhan sel organisme. Pada saat
ikan mengambil dan mencari makan disebut kebiasaan makan atau feeding habit.
Ikan dalam hal pencarian makanan pula memiliki waktu khusus. Waktu saat ikan
aktif mencari makan disebut juga feeding periodicity. Mempelajari kebiasaan
makan ikan pada dasarnya adalah untuk mengetahui kualitas dan kuantitas
makanan yang dimakan oleh ikan. Sehingga dapat menentukan nilai gizi alamiah
ikan disamping melihat hubungan ekologis dalam tingkat trofik.
Praktikum mengenai pertumbuhan ikan, aspek reproduksi dan kebiasaan
makanan ikan sangat berkaitan dengan program studi biologi perikanan di
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Pentingnya pemahaman tentang
biologi perikanan merupakan salah satu upaya untuk memberikan kemampuan
dalam menganalisis dan menduga pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan.
Sehingga dengan demikian dapat melihat jumlah stok yang ada di alam
berdasarkan ukuran ikan.

I.2 Tujuan

Tujuan dari praktikum aspek pertumbuhan ikan adalah untuk mengetahui


perkembangan yang dialami ikan melalui analisa beberapa parameter yang dilihat,
serta menduga secara kualitatif tingkat pertumbuhan yang dialami oleh ikan
tersebut. Pada praktikum aspek reproduksi ikan diharapkan dicapai suatu
pemahaman bagi mahasiswa tentang bagaimana membedakan tingkat kematangan
dari gonad suatu jenis individu ikan, serta dapat memprediksi waktu pemijahan dan
tahap perkembangan untuk rekrutmen. Untuk mengetahui jumlah telur dari ikan,
ukuran telur terhadap perkembangan individu menjelang pemijahan, serta untuk
menduga produktivitas dan potensi produksi dari kelompok lain. Praktikum aspek
kebiasaan makanan bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis organisme yang
menjadi makanan ikan, waktu-waktu ikan aktif mencari makan dan proporsi, serta
kecenderungan makanan dari ikan.

I.3 Manfaat

Manfaat mempelajari dari aspek biologi perikanan yang terdiri dari


beberapa sub pokok bahasan, diantaranya yaitu pertumbuhan ikan, reproduksi ikan,
dan kebiasaan makanan ikan selar kuning (Caranx leptolepis). Dari hasil yang
didapatkan berdasarkan pengolahan data sehingga dapat melihat dan mengetahui
sebaran ukuran ikan dalam populasi. Dapat melihat ukuran maksimum ikan yang
siap memijah dengan sebaran tingkat kematangan gonad berdasarkan ukuran
panjang total.
II. TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Ikan selar

Klasifikasi ikan selar (Caranx leptolepis) menurut Saanin, 1984 in Hidayat


2005, adalah:
Phylum : Chordata
SubPhylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub Kelas : Teleostei
Ordo : Percomorphy
Sub Ordo : Percimorfes
Family : Carangidae
Genus : Caranx
Spesies : Caranx leptolepis
Gambar 1. Ikan Selar (Caranx leptolepis)

Bentuk tubuh ikan selar kuning lebih kecil daripada ikan selar lainnya.
Panjang tubuh ikan ini sampai 16 cm. Jenis ikan ini ditandai dengan garis lebar
berwarna kuning dari mata sampai ekor. Sirip punggung ikan selar kuning terpisah
dengan jelas, bagian depan disokong oleh jari-jari keras dan banyak jari-jari lunak.
Sirip ekor bercagak dua dengan lekukan yang dalam, sirip perut terletak dibawah
sirip dada. Ikan selar kuning termasuk ikan laut perenang cepat dan kuat. Daerah
penyebaran ikan ini adalah semua laut di daerah tropis dan laut indopasifik, ikan ini
banyak tertangkap di perairan pantai serta hidup berkelompok sampai kedalaman
80 meter (Djuhanda, 1981 in Hidayat, 2005).

II.2 Pertumbuhan

Pada tingkat individu dan populasi pertumbuhan didefinisikan sebagai


proses perubahan ukuran (panjang, berat, atau volume) pada periode waktu tertentu
(level individu). Pada level populasi, Pertumbuhan adalah proses perubahan jumlah
individu/biomas pada periode waktu tertentu (Affandi, 2002).
Secara umum pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal yang memperngaruhi pertumbuah ikan yaitu keturunan
(genetik), jenis kelamin, parasit dan penyakit (Effendy, 1997 in Tutupoho, 2008).
Faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan ikan yaitu jumlah dan ukuran
makanan yang tersedia, suhu, oksigen terlarut (Weatherley, 1972 in Tutupoho,
2008).

Menurut Le Cren, 1951 in Tutupoho, 2008, Hubungan panjang dan bobot


diketahui dengan menghitung menggunakan rumus berikut :

W = aLb
Katerangan :

W = Bobot ikan dalam gram


L = Panjang ikan dalam milimeter
a dan b = Konstanta

Jika nilai b = 3, pertumbuhan ikan seimbang antara pertambahan panjang


dan pertambahan beratnya (isometrik). Jika nilai b < 3, pertumbuhan panjang lebih
dominan dibandingkan pertambahan beratnya (Allometrik negatif). Jika nilai b > 3
(Allometrik positif), pertambahan berat lebih dominan dibandingkan dengan
pertambahan panjang (Effendy, 1979 in Tutupoho, 2008).
Berat dianggap suatu fungsi dari panjang. Hubungan panjang dengan berat
hampir mengikuti hukum kubik yaitu bahwa berat ikan sebagai pangkat tiga dari
panjangnya.

II.3 Reproduksi

Reproduksi adalah kemampuan individu untuk menghasilkan keturunan


sebagai upaya sebagai upaya untuk melestarikan jenisnya dan kelompoknya.
Kegiatan reproduksi pada setiap jenis hewan air berbeda-beda, tergantung kondisi
lingkungan. Ada yang berlangsung setiap musim atau kondisi tertentu setiap tahun.
Ikan memiliki ukuran dan jumlah telur yang berbeda tergantung tingkah laku dan
habitatnya. Sebagian ikan memiliki jumlah telur banyak, namun ukuran kecil,
sebagai konsekuensi dari sintasan yang rendah. Sebaliknya ikan yang memiliki
jumlah telur yang sedikit, ukuran setiap butir telur besar, dan terkadang
memerlukan perawatan dari induknya (Fujaya, 1999).

II.3.1 Tingkat kematangan gonad (TKG)

Tingkat kematangan gonad (TKG) adalah tahap-tahap tertentu


perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Penentuan tingkat
kematangan gonad antara lain dengan mengamati perkembangan gonad. Dalam
proses reproduksi, perkembangan gonad yang semakin matang merupakan bagian
dari proses produksi ikan sebelum pemijahan. Selama itu, sebagian besar hasil
metabolisme tertuju pada perkambangan gonad. Berat gonad akan maksimal pada
waktu ikan akan memijah, kemudian akan menurun secara cepat dengan
berlangsungnya musim pemijahan hingga selesai (Effendie, 1997 in Rizal, 2009).
Menurut Larger et al (1977) in Tampubolon (2008), menyatakan bahwa ada
dua faktor yang mempengaruhi saat pertama kali ikan matang gonad, yaitu faktor
luar dan faktor dalam. Faktor dalam antara lain, perbedaan spesies, umur, ukuran
serta sifat-sifat fisiologis dari ikan tersebut, seperti kemampuan adaptasi terhadap
lingkungan. Sedangkan faktor luar yang mempengaruhinya yaitu makanan, suhu,
arus dan adanya individu yang berlainan jenis kelamin dan tempat berpijah yang
sama.
II.3.2 Indeks kematangan gonad (IKG)

Perubahan yang terjadi dalam gonad secara kuantitatif dapat dinyatakan


dalam suatu indeks yang disebut indeks kematangan gonad (IKG). Indeks ini
menunjukan perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan termasuk gonad
yang dinyatakan dalam persen. Indeks ini akan meningkat nilainya dan akan
mencapai batas maksimum pada waktu akan terjadi pemijahan. Pada ikan betina
nilai IKG lebih besar dibandingkan dengan ikan jantan (Effendie, 1997 in Rizal,
2009).

II.3.3 Fekunditas

Fekunditas merupakan ukuran yang paling umum dipakai untuk mengukur


potensi produksi pada ikan, karena relatif lebih mudah dihitung, yaitu jumlah telur
dalam ovari ikan betina (Sjafei et al, 1992 in Rizal, 2009). Peningkatan fekunditas
berhubungan dengan peningkatan berat tubuh dan berat gonad. Fekunditas
berbeda-beda tiap spesies dan kondisi lingkungan berbeda. Spesies ikan yang
mempunyai fekunditas besar, pada umumnya memijah di daerah permukaan
perairan sedangkan spesies yang mempunyai fekunditas kecil melindungi telurnya
pada tanaman atau substrat lainnya (Nikolsky, 1963 in Rizal, 2009).
Besarnya fekunditas spesies dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain
fertilitas, frekuensi pemijahan, perlindungan induk (parental care), kondisi
lingkungan, kepadatan populasi, ketersediaan makanan, ukuran panjang dan bobot
ikan, ukuran diameter telur, dan faktor lingkungan (Satyani, 2003; Moyle dan
Cech, 2004; Okarsson dan Taggart, 2006 in Tampubolon, 2008).

II.3.4 Nisbah Kelamin (sex ratio)

Nisbah kelamin adalah perbandingan ikan jantan dan ikan betina dala suatu
populasi. Untuk beberapa spesies ikan, perbedaan jenis kelamin dapat ditentukan
melalui perbedaan morfologi tubuh (dimorfisme seksual) atau perbedaan warna
tubuh (dikromatisme seksual) antara ikan jantan dan ikan betina (Tjakrawidjaja,
2006; Satyani, 2003 in Tampubolon, 2008). Nisbah kelamin 1 : 1 merupakan
kondisi yang ideal (Ball dan Rao, 1984 in Tampubolon, 2008). Perbandingan jenis
kelamin dapat digunakan untuk menduga keberhasilan pemijahan, yaitu dengan
melihat imbangan jumlah ikan jantan dan ikan betina di suatu perairan, juga
berpengaruh terhadap produksi, rekruitmen, dan konservasi sumberdaya ikan
tersebut (Effendie, 2002 in Tampubolon, 2008).

II.3.5 Diameter telur

Menurut Effendie, 1979 in Baginda, 2006, diameter telur adalah garis


tengah atau ukuran panjang dari suatu telur yang diukur dengan mikrometer
berskala yang sudah ditera. Semakin meningkat tingkat kematangan gonad garis
tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar.
Masa pemijahan setiap spesies ikan berbeda-beda, ada pemijahan yang
berlangsung singkat (total leptolepisawner), tetapi banyak pula pemijahan dalam
waktu yang panjang (partial leptolepisawner) ada pada ikan yang berlangsung
beberapa hari. Semakin meningkat tingkat kematangan, garis tengah telur yang ada
dalam ovarium semakin besar pula (Effendie, 1979 in Rizal, 2009).

II.4 Kebiasaan makanan

Makanan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan bagi


reproduksi, dinamika populasi dan kondisi ikan di suatu perairan (Nilolsky, 1963
in Rahayu, 2009). Keberadaan suatu jenis ikan di perairan memiliki hubungan yang
erat dengan keberadaan makanannya (Larger, 1972 in Rahayu, 2009). Kebiasaan
makanan ikan secara alami tergantung kepada lingkungan tempat ikan itu hidup
(Effendie, 2002).
Kebiasaan makanan ikan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
habitat, kesukaan terhadap jenis makanan tertentu, musim, periode harian mencari
makanan, spesies kompetitor, ukuran dan umur ikan (Ricker, 1970 in Rahayu,
2009). Nikolsky, 1963 in Rahayu, 2009, menyatakan bahwa urutan kebiasaan
makanan ikan terdiri dari : (1) makanan utama, yaitu makanan yang biasa dimakan
dalam jumlah yang banyak. (2) makanan tambahan, yaitu makanan yang biasa
dimakan dan ditemukan di dalam usus dalam jumlah yang lebih sesikit; (3)
makanan pelengkap, yaitu makanan yang terdapat dalam saluran pencernaan
dengan jumlah yang sangat sedikit; serta (4) makanan pengganti, yaitu makanan
yang hanya dikonsumsi jika makanan utama tidak tersedia.
III.METODE PRAKTIKUM

III.1 Waktu dan Tempat

Praktikum mata kuliah biologi perikanan dilaksanakan pada tiga waktu


yang berbeda sesuai dengan bahan yang dipraktikumkan. Pada minggu pertama
dilakukan praktikum mengenai aspek pertumbuhan selanjutnya aspek reproduksi
dan yang terakhir yaitu aspek kebiasaan makanan. Praktikum dilaksanakan pada
hari Jum’at mulai pukul 07.00 sampai 10.00 di laboratorium biologi makro I,
dilanjutkan pada minggu ke enam sampai ke 8 dilakukan responsi untuk
pengolahan data di laboratorium metode dan observasi, Departemen Manajemen
Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian
Bogor.

III.2 Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan pada praktikum ini meliputialat bedah lengkap,


botol film, timbangan digital, tissue, cawan petri, mikroskop cahaya berskala,
benang jahit, penggaris, gelas ukur, gelas objek, pipet, buku identifikasi.
Sedangkan bahan-bahan yang digunakan meliputi tiga ekor ikan selar (Caranx
leptolepis), Formalin 10%.

III.3 Prosedur Kerja

Sediakan ikan selar (Caranx leptolepis) sebanyak 3 ekor, untuk analisis


pertumbuhan ikan, sebagai awalan keringkan permukaan tubuh ikan menggunakan
tissue lalu ukur panjang total ikan menggunakan penggaris dan berat dari masing-
masing ikan yang diukur menggunakan timbangan digital. Kemudian beri tanda
pada ikan 1, 2, dan ikan 3 menggunakan jarum pentul. Lakukan pembedahan
terhadap ketiga ikan secara berurutan. Setelah dilakukan pembedahan perhatikan
bagian dari organ dalam ikan selar tersebut untuk memastikan organ yang akan kita
ambil sebagai bahan. Amati jenis kelamin berdasarkan gonad dan catat tingkat
kematangan gonad dari masing-masing ikan.masukan gonad pada botol film yang
telah berisi formalin sesuai urutan ikan. Selanjutnya keluarkan usus secara utuh
dari rongga perut dan uraikan untuk pengukuran panjangnya. Ukur tiap usus ikan
menggunakan benang kemudian masukan usus kedalam botol film secara terpisah
sesuai nomor ikan.

Selanjutnya dilakukan analisis reproduksi dari masing-masing ikan.


Analisis selanjutnya hanya dilakukan pada ikan betina yang memiliki gonad
dengan Tingkat kematangan gonad 3 dan 4. Yaitu dilakukan penghitungan terhadap
jumlah telur menggunakan metode hitung langsung. Setelah dihitung jumlahnya
dilajutkan dengan menghitung diameter dari masing-masing telur sampel sebanyak
50 butir.

Analisis yang terakhir yaitu aspek kebiasaan makanan dari masing-masing


ikan. Usus yang sudah diawetkan menggunakan formalin kemudian diukur
panjangnya dan dilakukan pembedahan terhadap usus kemudian diberi
pengenceran menggunakan air sebanyak 10 ml untuk selanjutnya dilakukan
identifikasi organisme yang ada di dalam usus ikan selar (Caranx leptolepis)
menggunakan buku identifikasi.

III.4 Analisis Data

III.4.1 Pertumbuhan

a. Distribusi frekuensi panjang dan berat

Pengolahan data mengenai distribusi frekuensi dilakukan dengan cara


mengelompokan data ukuran panjang ikan ke dalam beberapa kelompok kelas
interval. Metode dalam mencari jumlah kelas ialah JK = 1 + 3,32 (log n) dengan n
berarti banyaknya data. Kemudian menetukan nilai maksimum dan nilai minimum
dari data. Tahap berikutnya yaitu menentukan kelas interval dengan rumus (Max-
Min)/JK. Setelah data hasil pencarian jumlah kelas, nilai maksimum dan minimum,
serta kelas intervalnya diketahui, selanjutnya dilakukan pengelompokan data
berdasarkan ukuran kelas. Setelah dikelompokan dilakukan analisis untuk mencari
frekuensi masing-masing kelas menggunakan data analisis pada program Microsoft
excel.

b. Hubungan panjang berat

Dalam menganalisa pertumbuhan dengan menggunakan parameter panjang


dan berat adalah dengan rumus W = aLb. Model pertumbuhan ini mengikuti pola
hukum kubik dari dua parameter yang dijadikan dasar analisis, dengan pendekatan
regresi linear maka hubungan kedua parameter tersebut dapat dilihat. Nilai b
digunakan untuk laju pertumbuhan kedua parameter yang dianalisis. Asumsi
hukum kubik ini adalah idealnya seluruh ikan akan mengalami pertambahan
panjang dan berat secara bertahap. Setiap pertambahan panjang akan menyebabkan
pertambahan berat dengan kuantitas tiga kali lipatnya. Tapi kenyataan ini berbeda
dari setiap ikan, karena adanya pengaruh dari musim dan jenis kelamin.

Model pendekatan hukum kubik kemudian diturunkan sehingga menjadi


sebuah bentuk hubungan normal Log W = Log a + Log L atau Y = a + bx. nilai
konstanta b dapat dicari dengan model perhitungan

Korelasi parameter dari hubungan panjang berat dapat dilihat dari nilai
konstanta b (sebagai penduga tingkat kedekatan hubungan kedua parameter) yaitu
dengan hipotesis:

1. Jika nilai b = 3, pertumbuhan ikan seimbang antara pertambahan panjang


dan pertambahan beratnya (isometrik).

2. Jika nilai b ≠ 3, pertumbuhan ikan dikatakan Allometrik :

a. Jika nilai b < 3, pertambahan Panjang lebih dominan dibandingkan


pertambahan beratnya (Allometrik negatif).

b. Jika nilai b > 3, pertambahan berat lebih dominan dibandingkan


dengan pertambahan panjang (Allometrik positif)

Pengukuran parameter pertumbuhan dilakukan menggunakan analisis data


secara statistik menggunakan Microsoft Excel dengan metode analisis data yang
ada. Dari model yang didapat antara parameter panjang dan berat, maka
selanjutnya ditentukan kurva pertumbuhan kedua parameter tersebut berdasarkan
urutan waktu, yaitu dengan model W(t) = aL3(t). pola ini mengikuti hukum kubik
seperti yang telah disebutkan di atas.

c. Faktor kondisi

Faktor kondisi adalah keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan


dalam angka-angka berdasarkan pada panjang dan berat. Pengamatan kondisi ikan
dapat dilihat dari tiga model pengamatan yaitu:

Kt = Kondisi yang diamati berdasarkan panjang total


Ks = Kondisi yang diamati berdsarkan panjang baku
Kf = Kondisi yang diamati berdasarkan panjang cagak
Dalam menganalisis kondisi ikan terlebih dahulu ikan dikelompokan
berdasarkan jenis kelaminya. Ikan yang mempunyai jenis kelamin yang sama
dilihat koefisien pertumbuhan (model gabungan panjang dan berat). Setelah pola
pertumbuhan panjang tersebut diketahui, maka baru dapat ditentukan kondisi dari
ikan tersebut. Faktor kondisi pada pertumbuhan ikan yang alometrik dicari dengan
metode yang berbeda dengan faktor kondisi pada peretumbuhan ikan yang
isometrik. Faktor kondisi dapat naik dan turun, keadaan ini merupakan indikasi dari
musim pemijahan bagi ikan, khususnya ikan-ikan betina. Faktor kondisi juga
dipengaruhi oleh indeks relatif penting makanan dan pada ikan betina dipengaruhi
oleh indeks kematangan gonad, ikan yang cenderung menggunakan cadangan
lemaknya sebagai sumber tenaga selama proses pemijahan, sehingga akibatnya
ikan mengalami penurunan faktor kondisi.
Jika pertumbuhan ikan yang ditemukan isometrik, maka model yang
digunakan adalah :

Sedangkan jika pola pertumbuhan allometrik, maka model yang digunakan


adalah :

Faktor kondisi dapat naik dan dapat turun. Keadaan ini merupakan indikasi
dari musim pemijahan bagi ikan, khususnya ikan-ikan betina. Faktor kondisi juga
dipengaruhi oleh indeks relatif penting makanan dan pada ikan betina dipengaruhi
oleh indeks kematangan gonad. Ikan yang cenderung menggunakan cadangan
lemaknya sebagai sumber tenaga selama proses pemijahan, sehingga akibatnya
ikan mengalami penurunan faktor kondisi.

III.4.2 Reproduksi

a. Proporsi Jantan betina

Dalam menentukan proporsi jenis kelamin, hal pertama yang harus dicari
adalah jumlah individu jantan dan betina untuk mengetahui seberapa besar
perbandingan jumlah keduanya terhadap jumlah total individu. Selajutnya
ditentukan frekuensi harapan dengan harapan proporsi jantan dan betina seimbang
(50% : 50%). Dan dilakukan uji dengan selang kepercayaan 95% untuk mengetahui
sebaran reproduksi yang mungkin terjadi.
b. Tingkat Kematangan gonad (TKG)

TKG adalah tahap tertentu perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan
memijah. Standar penentuan dapat dipakai TKG ikan Belanak (Mugil sp)
modifikasi dari Casie in Effendie dan Surbaja. TKG diamati dengan menggunakan
klasifikasi Casie.

Tabel 1. Klasifikasi Tingkat Kematangan Gonad (TKG).


TKG BETINA JANTAN
I Ovary seperti benang, panjang Testes seperti benang, lebih pendek,
sampai ke depan tubuh, warna ujungnya di rongga tubuh, warna
jernih permukaan licin jernih
II Ukuran lebih besar, pewarnaan Ukuran testes lebih besar, pewarnaan
gelap kekuningan, telur belum putih susu, bentuk lebih jelas dari
terlihat jelas TKG I
III Ovary berwarna kuning, secara Permukaan testes Nampak bergerigi,
morfologi telur sudah terlihat warna makin putih, dalam keadaan
butirnya dengan mata diawetkan mudah putus
IV Ovary makin besar, telur Seperti TKG III tampak lebih jelas,
berwarna kuning, mudah testes semakin pejal dan rongga tubuh
dipisahkan, butir minyak tidak semakin penuh, warna putih susu.
tampak, mengisi ½ - 2/3 rongga
tubuh, usus terdesak
V Ovary berkerut, dinding tebal, Testes bagian belakang kempis dan
butir telur sisa terdapat di dekat bagian dekat pelepasan masih terisi
pelepasan

c. Indeks kematangan gonad (IKG)

IKG adalah perbandingan dari berat gonad terhadap tubuh ikan. Nilai IKG
seharusnya bisa dijadikan tingkat kematangan gonad. Peningkatan IKG akan
meningkat seiring dengan meningkatnya tingkat kematangan gonad ikan tersebut
(Effendi, 1979 in Yonvitner et al. 2008) :

Keterangan :
BG : Berat Gonad (gram)

BT : Berat Tubuh (gram)

IKG (indeks Kematangan Gonad) atau GSI (Gonado Somatic Index) yaitu
nilai dalam persen (%) sebagai hasil perbandingan berat gonad dengan berat tubuh
ikan. Pertumbuhan IKG akan sama dengan TKG. IKG akan maksimal pada saat
akan terjadi pemijahan.

d. Fekunditas

Dalam analisis fekunditas metode yang digunakan adalah metode gabungan


dari beberapa metode yang ada yaitu (Effendi, 1979 in Yonvitner et al. 2008)

1. Mengitung langsung satu persatu telur ikan

2. Metode volumetrik yaitu dengan pengenceran telur

X:x=V:v
Keterangan :

X : Jumlah telur yang akan dicari


x : Jumlah telur contoh
V : Volume seluruh gonad
v : Volume gonad contoh

3. Metode gravimetrik, prinsipnya sama dengan volumetrik, bedanya hanya


pada ukuran volume diganti dengan ukuran berat.

4. Metode gabungan (hitung gravimetrik dan volumetrik).

Keterangan :

F : Fekunditas
G : Berat gonad total
V : Volume pengenceran
X : Jumlah telur yang ada dalam 1 cc
Q : Berat telur contoh
e. Diameter telur

Pengukuran diameter telur dilakukan dengan cara mengukur langsung telur


sampel menggunakan mikroskop yang sudah ditera. Langkah-langkah pengukuran
diameter telur yaitu :
1. Pisahkan ikan yang mempunyai TKG III dan IV

2. Ambil 50 butir telur yang masih utuh dari gonad yang mempunyai TKG III
dan IV

3. Letakan telur sampel pada gelas objek secara berjajar untuk memudahkan
pengukuran.

4. Amati di bawah mikroskop dengan metoda penyapuan kemudian catat nilai


dari diameter telurnya.

III.4.3 Kebiasaan makan

a. Indeks bagian terbesar (Index of preponderance, IP)

Metode yang digunakan dalam mempelajari tabiat makanan ikan meliputi


penentuan secara kualitatif dan kuantitatif. Pengukuran jenis makanan yang
didapatkan menggunakan metode prakiraan tumpukan dengan persen, langkah
yang harus dilakukan adalah :
1. Menentukan volume dan isi alat pencernaan

2. Volume isi alat pencernaan diencerkan sampai 10 atau 20 kali. Kemudian


kocok hingga merata.

3. Mengambil sebagian isi alat pencernaan dan masukan ke cawan petri.


Selanjutnya isi alat pencernaan tersebut diamati dengan menggunakan
mikroskop.

4. Lihat jenis spesies yang ditemukan dan lakukan identifikasi organisme


menggunakan buku identifikasi plankton laut yang telah disediakan.

5. Perkirakan persentase volume tumpukan organisme kemudian bandingkan


dengan volume total.

Perhitungan indeks bagian terbesar (Index preponderance, IP) dilakukan


untuk mengetahui persentase suatu jenis organisme makanan tertentu terhadap
semua organisme makanan yang dimanfaatkan oleh ikan contoh. Indeka bagian
terbesar dihitung menggunakan rumus perhitungan menurut Natarajan dan
Jhingran, 1961 in Effendie, 1979 :
Keterangan :

IPi : Indeks bagian terbesar organisme makanan ke-i


Vi : Persentase Volume jenis organisme makanan ke-i
Oi : Persentase frekuensi kejadian jenis organisme makanan ke-i
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Pertumbuhan

IV.1.1 Distribusi Frekuensi panjang dan berat

Tabel 2. Sebaran frekuensi panjang ikan selar kuning (Caranx leptolepis)


Selang Nilai Frekuensi Frekuensi Frekuensi Frekuensi
Kelas Tengah ikan jantan kan betina relatif- relatif-
(mm) (xi) (mm) (fj) (ekor) (fb) (ekor) jantan (%) betina (%)
115-118 116.5 1 2 2 3
119-122 120.5 2 9 3 13
123-126 124.5 23 21 38 31
127-130 128.5 16 19 27 28
131-133 132.5 11 9 18 13
134-137 136.5 5 6 8 9
138-142 140.5 2 1 3 1
60 67 100 100

Gambar 2. Distribusi frekuensi panjang ikan selar (Caranx leptolepis)

Dari tabel 1 dan grafik 1 di atas dapat diketahui bahwa frekuensi terbanyak
dan merupakan modus, dengan jumlah 23 ekor pada ikan jantan dan 21 ekor untuk
ikan betina terletak pada selang kelas panjang 123 – 126 mm. Nilai frekuensi relatif
untuk ikan jantan dan betina berturut-turut adalah 38% dan 31 %. Jumlah individu
jantan pada selang tersebut lebih banyak dibandingkan dengan individu betina.
Perbedaan frekuensi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti
keturunan, jenis kelamin, umur, parasit, penyakit, makanan, suhu, kualitas air
(Effendie, 1997 in Tutupoho, 2008). Tercapainya kematangan gonad untuk pertama
kali menyebabkan kecepatan pertumbuhan menjadi sedikit lambat karena sebagian
energi tertuju pada perkembangan gonad. Selain itu, pembuatan sarang, pemijahan,
dan penjagaan keturunan membuat pertumbuhan tidak bertambah karena pada
waktu tersebut umumnya ikan tidak makan.

Tabel 3. Sebaran frekuensi berat ikan selar kuning (Caranx leptolepis)


Nilai
Frekuensi Frekuensi Frekuensi Frekuensi
Selang Tengah
ikan jantan kan betina relatif- relatif-
Kelas (mm) (xi)
(fj) (ekor) (fb) (ekor) jantan (%) betina (%)
(mm)
19.79-20.79 20.29 0 1 0.00 1.49
21.79-22.79 22.29 4 4 6.67 5.97
23.79-24.79 24.29 16 21 26.67 31.34
25.79-26.79 26.29 19 17 31.67 25.37
27.79-28.79 28.29 11 14 18.33 20.90
29.79-30.79 30.29 4 5 6.67 7.46
31.79-32.79 32.29 4 4 6.67 5.97
33.79-34.79 34.29 2 1 3.33 1.49
60 67 100 100

Gambar 3. Distribusi frekuensi panjang ikan selar (Caranx leptolepis)

Berdasarkan tabel 2 didapatkan informasi bahwa frekuensi tertinggi untuk


ikan selar jantan ialah terletak pada selang kelas 25,79 – 26,79 mm yaitu sebanyak
19 ekor. Sedangkan pada ikan selar betina frekuensi tertinggi terletak pada selang
kelas 23,79 – 24,79 mm yaitu sebanyak 21 ekor. Frekuensi relatif dari masing
masing ikan yaitu, untuk jantan 31,67 % dan betina 31,34 %. Hal ini menunjukan
bahwa ikan selar jantan pada populasi tersebut lebih berat dibandingkan ikan
betina.
Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor, salah satunya adalah
perkembangan gonad pada ikan betina lebih cepat, sehingga pada stadia tersebut
pertumbuah berat ikan betina lebih ditujukan kepada gonad (ovum).

IV.1.2 Hubungan panjang dan berat

Gambar 4. Hubungan panjang berat ikan selar jantan dan betina

Penentuan pola pertumbuhan melalui pendekatan dengan melihat hubungan


panjang berat tubuh ikan. Dengan hipoteis Ho : b = 3 dan H1 : b ≠ 3 menggunakan
uji (t). Berdasarkan gambar 1, dapat diperoleh informasi dari scatter plot dengan
model dugaan W = 0.001L2.047 yang artinya setiap kenaikan panjang total ikan
sebesar satu satuan akan menaikan nilai berat 2,047 satuan. Didapatkan nilai b =
2,047 dan Thit yang didapat sebesar (28,97) lebih besar dari Ttab (2,27).
Berdasarkan pustaka yang ada, jika nilai b = 3, pertumbuhan ikan seimbang antara
pertambahan panjang dan pertambahan beratnya (isometrik). Jika nilai b < 3,
pertumbuhan panjang lebih dominan dibandingkan pertambahan beratnya
(Allometrik negatif). Jika nilai b > 3 (Allometrik positif), pertambahan berat lebih
dominan dibandingkan dengan pertambahan panjang (Effendy, 1979 in Tututpoho,
2008). Artinya dengan nilai Thit > Ttab sehingga tolak Ho dan terima Hi, jadi
pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif (b < 3 ). Hal ini membuktikan bahwa
pertumbuah panjang ikan selar lebih mendominasi daripada pertumbuhan beratnya.
Berdasarkan grafik hubungan panjang berat ikan selar didapatkan nilai
koefisien determinasi (R2) adalah 0,563, hal ini berarti model regresi tersebut dapat
menjelaskan hubungan panjang berat ikan selar sebesar 56,3 %. Berdasarkan
perhitungan didapatkan pula nilai koefisien korelasi (r) adalah 0,75, hal ini berarti
hubungan antara panjang dan berat ikan selar erat.

IV.1.3 Faktor kondisi

Gambar 5. Nilai tengah faktor kondisi ikan selar berdasarkan selang kelas panjang

Dari tabel dan grafik di atas dapat dilihat bahwa faktor kondisi rata-rata
paling besar terdapat pada selang panjang total 115-118 mm sebesar 1.49. Faktor
kondisi rata-rata ikan selar jantan paling kecil terletak pada selang kelas panjang
total 119-122 mm sebesar 0,20. Pada ikan betina dapat dilihat bahwa faktor kondisi
rata-rata paling besar terdapat pada selang kelas panjang total 138-142 mm sebesar
0.65896. Faktor kondisi rata-rata ikan selar jantan paling kecil terletak pada selang
kelas panjang total 134-137 mm sebesar 0,59. Kondisi ikan dapat tergantung dari
jumlah organisme, kondisi organisme, lingkungan, suhu, dan salinitas.
Ikan yang berukuran kecil mempunyai faktor kondisi yang labih tinggi,
kemudian menurun ketika ikan tersebut bertambah besar, serta peningkatan nilai
faktor kondisi dapat terjadi karena perkembangan gonad yang akan mencapai
puncak sebelum memijah (Effendie, 2002 in Tutupoho, 2008).
IV.2 Reproduksi

IV.2.1 Proporsi Kelamin

Tabel 4. Proporsi kelamin ikan selar kuning (Caranx leptolepis)


Proporsi jenis kelamin
Proporsi (%) Selang kepercayaan 95%
Jantan 47,24 0,3667< P <0,5781
Betina 52,76 0,4275< P <0,6276

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa yang paling mendominasi


adalah ikan selar betina dengan proporsi sebesar 52,76% dibandingkan dengan ikan
selar jantan. Proporsi kelamin adalah perbandingan jumlah ikan jantan dengan ikan
betina dalam proporsi dimana perbandingan ideal adalah 1 : 1 artinya jantan 50%
dan betina 50%. Dari tabel di atas diketahui bahwa proporsi ikan Selar jantan
hanya 47,24% sedangkan ikan betina sebesar 52,76%. Proporsi ikan selar betina
yang lebih banyak memungkinkan ikan tersebut lebih besar peluangnya untuk
bereproduksi. Selang kepercayaan untuk ikan jantan diperoleh 0,3667< P <0,5781,
artinya pada selang kepercayaan 95% dari 0,3667 sampai 0,5781 mencakup ikan
selar jantan untuk bereproduksi. Untuk ikan selar betina didapatkan 0,4275< P
<0,6276 artinya pada selang kepercayaan 95% dari 0,4275 sampai 0,6276
mencakup ikan selar betina untuk bereproduksi. Akibat dari proporsi pada ikan
selar jantan dan betina tidak seimbang, maka dapat diduga bahwa proses rekrutmen
ikan selar tersebut tidak maksimal.
IV.2.2 Tingkat Kematangan gonad

Jantan

100%
90%
80%
70% TKG IV
60%
Fr (%)

TKG III
50%
40% TKG II
30% TKG I
20%
10%
0%
2

7
8

13

13

14
11

12

12

13

14
5-

9-

3-

7-

1-

5-

9-

4-
11

11

12

12

13

13

13

14

SelangKelas(mm)

Betina
100%
90%
80%
70% TKG IV
60%
Fr (%) TKG III
50%
40% TKG II
30%
20% TKG I
10%
0%
11 8

12 2

12 6

13 0

13 4

13 8

14 3
7
12

13

13

13

14
11

12

14
5-

9-

3-

7-

1-

5-

9-

4-
11

SelangKelas (mm)

Gambar 6. Tingkat kematangan gonad (%) ikan selar (Caranx sp) jantan dan betina
berdasarkan selang kelas panjang total.

Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa ikan selar Jantan yang memiliki
TKG III dan II memiliki penyebaran yang paling luas pada setiap selang kelas.
Untuk ikan yang memiliki TKG I dan IV masing – masing hanya tinggi
frekuensinya pada selang kelas bawah dan atas. Hal ini menunjukan bahwa ikan
selar dengan kisaran ukuran panjang tubuh 115–147 cm, ikan memiliki tingkat
kematangan gonad II dan III.
Dari grafik di atas dapat diketahui bahwa ikan selar betina yang memiliki
TKG III dan II, serta sebagian TKG IV memiliki penyebaran yang paling luas pada
setiap selang kelas. Ikan yang memiliki TKG I hanya terdapat pada selang kelas
bawah. Hal ini menunjukan bahwa ikan selar dengan kisaran ukuran panjang tubuh
115–147 cm, ikan memiliki tingkat kematangan gonad II dan III
Berat gonad akan maksimal pada waktu ikan akan memijah, kemudian
akan menurun secara cepat dengan berlangsungnya musim pemijahan hingga
selesai (Effendie, 1997 in Rizal, 2009). Menurut Larger et al, 1977 in
Tampubolon, 2008, menyatakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi saat
pertama kali ikan matang gonad, yaitu faktor luar dan faktor dalam. Faktor dalam
antara lain, perbedaan spesies, umur, ukuran serta sifat-sifat fisiologis dari ikan
tersebut, seperti kemampuan adaptasi terhadap lingkungan. Faktor luar yang
mempengaruhinya yaitu makanan, suhu, arus dan adanya individu yang berlainan
jenis kelamin dan tempat berpijah yang sama.

IV.2.3 Indeks kematangan gonad


Gambar 7. Indeks kematangan gonad ikan selar (Caranx leptolepis) jantan dan betina
berdasarkan selang kelas panjang total.

Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa nilai IKG ikan jantan
yang menunjukan perbandingan gonad ikan dan berat total tubuh ikan terbesar ada
pada selang panjang ikan 139-142 mm yaitu sebesar 2.29. Pada selang tersebut
gonad ikan berada pada ukuran maksimum sehingga perbandingan ukuran gonad
dan bobot tubuh semakin dekat. Nilai IKG dari ikan selar betina terbesar terletak
pada ukuran panjang pada selang 135-138 mm sebesar 1.75.

Indeks ini menunjukan perbandingan berat gonad dengan berat tubuh ikan
termasuk gonad yang dinyatakan dalam persen. Indeks ini akan meningkat nilainya
dan akan mencapai batas maksimum pada waktu akan terjadi pemijahan. Sesuai
dengan pustaka yang ada, bahwa ikan betina memiliki IKG yang lebih besar, hal ini
ditunjukan dengan nilai perbandingan hanya 1,75. Pada ikan betina nilai IKG lebih
besar dibandingkan dengan ikan jantan (Effendie, 1997 in Rizal, 2009).

IV.2.4 Fekunditas
Gambar 8. Hubungan fekunditas dengan panjang dan berat tubuh ikan selar (Caranx
leptolepis).

Berdasarkan grafik hubungan fekunditas dan panjang di atas kita dapat


mengetahui hubungan fekunditas dan panjang tubuh ikan selar betina. Hubungan
fekunditas dan panjang tubuh ikan selar betina didapatkan nilai determinasi (R2)
adalah 0,034 artinya model regresi tersebut dapat menjelaskan hubungan
fekunditas dan panjang tubuh ikan selar betina sebessar 3,4 % saja. Dan
perhitungan yang didapatkan dari koefisien korelasi (r) adalah 0.18 sehingga
korelasi hubungan panjang dan fekunditas tidak erat.
Begitu pula dengan hubungan fekunditas dan panjang tubuh ikan selar
betina. Hubungan fekunditas dan berat tubuh ikan selar betina didapatkan nilai
determinasi (R2) adalah 0,104 artinya model regresi tersebut dapat menjelaskan
hubungan fekunditas dan berat tubuh ikan selar betina sebessar 10,4 %. Dan
perhitungan yang didapatkan dari koefisien korelasi (r) adalah 0.322 sehingga
korelasi hubungan berat lebih erat. Sesuai dengan pustaka yang ada bahwa
Peningkatan fekunditas berhubungan dengan peningkatan berat tubuh dan berat
gonad (Nikolsky, 1963 in Rizal, 2009).

IV.2.5 Diameter telur

TKG III
n=
1550

TKG IV
n=
700

Gambar 9. Sebaran diameter telur ikan selar (Caranx leptolepis)

Dari data dan grafik di atas kita dapat mengtahui nilai diameter telur pada
TKG III dan IV dibandingkan dengan ukuran panjang tubuh ikan. Ukuran diameter
telur dapat menunjukan kualitas telur, yaitu pada telur yang berukuran besar akan
menghasilkan larva yang berukuran lebih besar begitu pula sebaliknya dengan telur
yang berukuran kecil. Berdasarkan data di atas telur dengan diameter terbesar
adalah 0.555 mm. frekuensi terbanyak berada pada ukuran diameter telur 0.235
mm. hal ini menunjukan bahwa ukuran diameter telur umumnya masih kecil. Pola
pemijahan ikan selar kuning (Caranx leptolepis) adalah pemijahan total karena
hanya satu pola yang terdapat pada grafik.

Berdasarkan pustaka Effendie, 1979 in Baginda, 2006, diameter telur


adalah garis tengah atau ukuran panjang dari suatu telur yang diukur dengan
mikrometer berskala yang sudah ditera. Semakin meningkat tingkat kematangan
gonad garis tengah telur yang ada dalam ovarium semakin besar. Dengan demikian
diduga bahwa telur pada data yang dihasilkan masih pada stadia TKG III sehingga
ukuran diameter telur belum maksimal dan masih banyak yang berukuran kecil.

IV.3 Kebiasaan makanan

IV.3.1 Indeks bagia terbesar (Index of Preponderance, IP)

Tabel 5. Organisme makanan di dalam usus ikan selar (Caranx leptolepis).

No Organisme makanan
Coscinodis
1
cus

2 Nitzschia

Rhizosolen
3
ia

4 Ceratium

Mesodiniu
5
m
6 lainnya : Ornithocer Haloleptolepish Colocalyptr
Peridinium Pleurosigma Xysronella
cus aera a
Chaetocer Codonellop
Phyrophacus Oxitoxum Cosconosira Obelia
os sis
Thalassiosi Pyraphaco
Tintinnopsis Clamydodon Coxliella Diploneis
ra s
Dactyliosole
Hemiaulus Colozum Rhabdonema Parenchymula Louderia
n
Globorotali Triceratiu Protahabdon
Pyrocystis Dinophysis Isthmia
a m ella
Achnantho
Planktonicella Globigerenita Leptocylindrus Podocyrtis Muggiaea
s
Grammatophor Prorocentru
Globigerina Melosira Exuvinella Auricularia
a m
Leptolepishaeroz Corocalypt Gymnodini
Stephanopysis Gyrosigma Disrophanus
oom ra um
Thalasione
Cochlodinium Noctiluca Thalasiotrix Paravavella Religerlarga
ma
Scolionem Asterolampr
Globoquadrima Calanos Bacteriastrum Guinardia
a a
Belleroche Leptolepishaeroid
Biddulphia Favella Peroecus Gonyaulax
a irella
14%
26%

Coscinodiscus
11%
Nitzschia
Rhizosolenia
Ceratium
Mesodinium
lainnya

13%

20%

16%

Gambar 10. Nilai IP ikan selar (Caranx leptolepis)

Indeks preponderance (indeks bagian terbesar) merupakan metode yang


digunakan untuk melihat makanan utama, makanan pelengkap, makanan tambahan,
dan makanan pengganti. Berdasarkan tabel IP di atas dapat dilihat bahwa Dari
grafik di atas dapat diketahui bahwa persentase jumlah organisme yang dikonsumsi
oleh ikan selar (Caranx leptolepis) (Indeks Propenderance) berdasarkan tingkat
konsumsinya. Dapat dilihat bahwa Coscinodiscis dan Nitchia lebih mendominasi
dibandingkan dengan organisme lainnya. Artinya ikan selar mengkonsumsi
Coscinodiscus dan Nitchia dalam jumlah yang cukup besar yaitu masing masing
26 % dan 20 %. Organisme lainnya adalah Rhizosolenia, Ceratium, Mesodinium,
dan kelompok lainnya berturut-turut memiliki jumlah sebanyak 16 %, 13 %, 11 %,
dan 14% untuk organisme lainnya seperti yang telah disebutkan dalam tabel di
atas.
Jika dikaitkan dengan pustaka yang ada, Nikolsky , 1963 in Rahayu, 2009
menyatakan bahwa urutan kebiasaan makanan ikan terdiri dari : (1) makanan
utama, yaitu makanan yang biasa dimakan dalam jumlah yang banyak. (2)
makanan tambahan, yaitu makanan yang biasa dimakan dan ditemukan di dalam
usus dalam jumlah yang lebih sesikit; (3) makanan pelengkap, yaitu makanan yang
terdapat dalam saluran pencernaan dengan jumlah yang sangat sedikit; serta (4)
makanan pengganti, yaitu makanan yang hanya dikonsumsi jika makanan utama
tidak tersedia. Makan yang termasuk makanan utama ikan selar kuning (Caranx
leptolepis) adalah Coscinodiscus karena ditemukan dalam jumlah yang paling besar
ditemukan dalam usus ikan yaitu sebanyak 26 %.
V. KESIMPULAN

V.1Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa ikan selar (Caranx leptolepis) memiliki nilai


frekuensi relative untuk ikan jantan dan betina berturut-turut adalah 38% dan 31 %.
Jumlah individu jantan pada selang tersebut lebih banyak dibandingkan dengan
individu betina. Ikan selar jantan pada populasi tersebut lebih berat dibandingkan
ikan betina. Pertumbuhan ikan bersifat allometrik negatif (b < 3 ). Hal ini
membuktikan bahwa pertumbuah panjang ikan selar lebih mendominasi daripada
pertumbuahn beratnya.
Kondisi ikan tergantung dari jumlah organisme, kondisi organisme,
lingkungan, suhu, dan salinitas. Bahwa ikan selar dengan kisaran ukuran panjang
tubuh 115–147 cm, ikan rata-rata memiliki tingkat kematangan gonad II dan III.
Ikan betina memiliki IKG yang lebih besar, hal ini ditunjukan dengan nilai
perbandingan hanya 1,75. Proporsi antara ikan jantan dan betina ternyata lebih
didominasi oleh ikan selar betina dengan proporsi sebanyak 52,76%. Hubungan
panjang dan fekunditas kurang erat dibandingkan dengan hubungan berat dan
fekunditas. Telur pada data yang dihasilkan masih pada stadia TKG III sehingga
ukuran diameter telur belum maksimal dan masih banyak yang berukuran kecil.
Makanan utama ikan selar kuning (Caranx leptolepis) adalah Coscinodiscus karena
ditemukan dalam jumlah yang paling besar ditemukan dalam usus ikan yaitu
sebanyak 26 %.
V.2Saran

Dalam pelaksanaan praktikum sebaiknya diberi gambaran awal mengenai


tugas apa yang selanjutnya akan diberikan, sehingga dapat dipersiapkan
sebelumnya. Pengambilan data hasil praktikum sebaiknya disesuaikan terlebih
dahulu dengan data yang bebar-benar diperlukan agar tidak terjadi kebingungan
saat pengolahan data. Peralatan praktikum sebaiknya lebih dilengkapi dan
jumlahnya disesuaikan dengan praktikan agar tidak terjadi antrian yang panjang
dan memakan waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Ridwan dan Usman Muhammad.2003. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru :


Unri Press

Baginda, Harris. 2006. Biologi reproduksi ikan tembang (Sardinela fimbriata) pada
bulan januari-juni di perairan Ujung Pangkah, Jawa Timur. Skripsi.
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Hidayat, Taufik. 2005. Pembuatan Hidrolisis Protein dari Ikan Selar Kuning
(Caranx leptolepis) dengan menggunakan enzim papain. Skripsi. Program
Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Institut Pertanian Bogor.

Rahayu, E Lestari. 2009. Kebiasaan makan ikan motan (Thynnicthiys thynnoides


Bleeker, 1852) Dirawa Banjiran Sungai Kampar Kiri, Riau. Skripsi.
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Rizal, D. Ahmad. 2009. Studi biologi reproduksi ikan senggiringan (Puntiun


johorensis) di daerah aliran sungai Musi, Sumatra Selatan. Skripsi.
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Tampubolon. P. Atmaja. 2008. Biologi Reproduksi ikan motan (Thynnicthiys


thynnoides Bleeker, 1852) Dirawa Banjiran Sungai Kampar Kiri, Riau.
Skripsi. Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Tututpoho, Shelly.N.E. 2008. Pertumbuhan Ikan Motan (Thynnicthiys thynnoides
Bleeker, 1852) Dirawa Banjiran Sungai Kampar Kiri, Riau. Skripsi.
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

LAMPIRAN

Tabel 6. Data Ikan Selar (Caranx sp)

bera
panja
no no panja ber jenis t
ika TK ng fekundi IK
ur ika ng at kelam gon
n G usus tas G
ut n (mm) (g) in ad
(mm)
(g)
sel 26,0 0,3
1 3 128 B 2 0,08
ar 9 1
sel 1,8
2 1 134 31 B 3 0,58 17400
ar 7
sel 0,2
3 2 125 24 B 2 60 0,07
ar 9
sel 1,7
4 3 125 22 B 4 0,38 13498
ar 3
sel 31,3 0,0
5 1 137 J 2 0,02
ar 4 6
sel 25,5 0,3
6 2 131 J 2 0,09
ar 9 5
sel 30,9 0,9
7 3 138 J 3 0,28
ar 1 1
sel 28,5
8 1 132 B 3 0,4 7350 1,4
ar 8
sel 21,1 1,0
9 2 122 J 4 0,23
ar 7 9
sel 26,2
10 3 134 B 3 0,42 7350 1,6
ar 9
sel 0,2
11 1 123 27 J 2 0,07
ar 6
sel 0,0
12 2 127 27 J 2 0,02
ar 7
sel 1,2
13 3 130 28 B 4 0,34 5845
ar 1
sel 24,9
14 1 123 J 2 173 0,3 1,2
ar 2
sel
15 2 127 23,7 J 1 0,07 0,3
ar
sel 28,3 1,3
16 3 130 B 3 0,39 12168
ar 9 7
sel 2,2
17 1 134 29,3 B 4 109 0,66 48411
ar 5
sel 27,0 1,1
18 2 129 B 4 130 0,32 3200
ar 7 8
sel 32,8
19 3 133 B 4 148 0,79 47400 2,4
ar 6
sel 0,6
20 1 125 26 B 3 50 0,16 694
ar 2
sel 0,7
21 2 121 22 B 3 48 0,17 893
ar 7
sel 0,2
22 3 127 27 B 3 52 0,06 4002
ar 2
sel 1,0
23 1 124 23 J 2 45 0,25
ar 9
sel 1,8
24 2 130 28 J 3 55 0,51
ar 2
sel 0,2
25 3 131 27 J 2 67 0,06
ar 2
sel 0,0
26 1 125 25 J 2 35 0,01
ar 4
sel
27 2 124 25 J 1 42 0,05 0,2
ar
sel
28 3 123 25 B 3 73 0,5 28175 2
ar
sel 26,4 0,0
29 1 125 B 1 45 0,02
ar 9 8
sel 22,8 0,2
30 2 120 J 2 100 0,06
ar 2 6
sel 24,1 0,5
31 3 125 J 3 50 0,13
ar 8 4
sel 22,8 0,3
32 1 126 J 1 40 0,07
ar 8 1
sel 31,1 1,1
33 2 137 B 3 45 0,37 6142
ar 7 9
sel 24,2 0,3
34 3 127 B 2 65 0,08
ar 4 3
sel 24,1
35 1 126 J 3 65 0,17 0,7
ar 2
sel 29,3 0,3
36 2 132 J 3 32 0,11
ar 7 7
sel 23,9 1,1
37 3 125 B 4 37 0,28 7725
ar 2 7
sel
38 1 134 30 J 3 73 0,3 1
ar
sel 1,8
39 2 124 24 B 4 81 0,44 10538
ar 3
sel 0,3
40 3 132 28 J 2 87 0,11
ar 9
sel 23,6 0,3
41 1 124 B 2 88 0,08
ar 3 4
sel 29,8 1,8
42 2 135 J 3 65 0,55
ar 4 4
43 sel 3 126 24,9 J 3 40 0,42 1,6
ar 7 8
sel 0,7
44 1 130 26 B 3 30 0,2 4772
ar 7
sel 0,6
45 2 132 27 B 3 45 0,18 3435
ar 7
sel 0,4
46 3 138 23 B 2 35 0,11
ar 8
sel 0,9
47 1 125 26 J 3 40 0,24
ar 2
sel
48 2 130 24 B 3 50 0,36 1926 1,5
ar
sel 0,3
49 3 126 24 B 2 80 0,09
ar 8
sel 1,0
50 1 125 23 B 4 15 0,24 9516
ar 4
sel 1,4
51 2 124 22 J 3 55 0,32
ar 5
sel 0,5
52 3 128 25 J 3 20 0,14
ar 6
sel 1,0
53 1 125 23 J 3 62 0,25
ar 9
sel 1,9
54 2 126 26 B 3 30 0,51 6472
ar 6
sel 0,3
55 3 129 25 J 2 32 0,08
ar 2
sel 0,7
56 1 124 26 J 3 72 0,2
ar 7
sel
57 2 126 25 B 3 95 0,3 4998 1,2
ar
sel 0,8
58 3 136 27 B 4 82 0,23 3285
ar 5
sel 0,5
59 1 125 26 J 3 60 0,14
ar 4
sel 0,2
60 2 135 28 J 2 50 0,08
ar 9
sel 0,2
61 3 130 24 J 2 45 0,05
ar 1
sel 23,4 1,4
62 1 127 B 3 18 0,34 22516
ar 4 5
sel 25,2 0,7
63 2 130 J 2 40 0,2
ar 1 9
sel 32,1 2,2
64 3 139 B 3 44 0,72 69822
ar 1 4
sel 28,0 2,3
65 1 129 B 4 21 0,65 12610
ar 4 2
sel 25,9 1,7
66 2 125 B 3 20 0,45 13530
ar 1 4
sel 28,1 1,1
67 3 131 J 3 23 0,32
ar 2 4
sel 24,8 0,3
68 1 128 J 3 15 0,09
ar 7 6
sel 25,7 1,3
69 2 125 B 3 20 0,35 17689
ar 8 6
sel 1,9
70 3 135 30,5 B 3 13 0,06 49200
ar 7
sel 0,4
71 1 126 23,2 J 2 23 0,1
ar 3
sel 24,7 0,9
72 2 129 J 3 24 0,24
ar 5 7
sel 21,9 0,8
73 3 124 J 2 21 0,18
ar 8 2
sel 26,9 2,5
74 1 135 B 3 19 0,68 4254
ar 2 3
sel 24,9 0,4
75 2 129 B 2 12 0,11
ar 2 4
sel 2,6
76 3 128 25,5 B 3 14 0,67 5982
ar 3
sel 1,2
77 1 132 29 J 3 30 0,37
ar 8
sel 3,6
78 2 141 32 J 4 45 1,18
ar 9
sel
79 3 130 27 J 3 25 0,46 1,7
ar
sel
80 1 128 25 B 3 32 0,3 8200 1,2
ar
sel 0,3
81 2 133 29 B 2 22 0,11
ar 8
sel 0,1
82 3 121 23 B 2 12 0,04
ar 7
sel 28,5 0,9
83 1 129 B 3 30 0,27 3904
ar 8 4
sel 0,3
84 2 125 24,2 B 2 22 0,08
ar 3
sel 26,8 0,9
85 3 131 B 3 18 0,25 8104
ar 4 3
sel 0,0
86 1 122 22 B 1 20 0,01
ar 5
sel
87 2 132 28 J 3 37 0,14 0,5
ar
sel 0,4
88 3 132 27 J 2 22 0,12
ar 4
sel 2,2
89 1 139 34 J 3 22 0,77
ar 6
sel 1,0
90 2 126 24 J 3 14 0,25
ar 4
sel 0,3
91 3 127 27 J 2 22 0,09
ar 3
sel 0,5
92 1 120 21 B 3 23 0,12 4749
ar 7
sel
93 2 127 24 J 2 25 0
ar
sel 1,1
94 3 125 26 B 4 22 0,31 14183
ar 9
sel 1,7
95 1 136 29 B 4 25 0,5 1622
ar 2
sel
96 2 126 25 J 2 24 0
ar
sel
97 3 138 33 J 4 25 0,76 2,3
ar
sel 1,2
98 1 125 24 J 1 24 0,29
ar 1
sel
99 2 125 23 J 1 20 0
ar
10 sel 3 124 26 J 4 21 0
0 ar
10 sel
1 121 24 B 4 15 0,6 33480 2,5
1 ar
10 sel 1,2
2 125 24 B 3 15 0,3 5340
2 ar 5
10 sel 0,6
3 127 24 B 3 15 0,15 4158
3 ar 3
10 sel 1,1
1 128 25 J 3 24 0,29
4 ar 6
10 sel 0,4
2 120 23 B 3 23 0,11 7051
5 ar 8
10 sel 1,3
3 120 25 B 4 23 0,33 4711
6 ar 2
10 sel
1 130 25 J 3 25 0,17 68
7 ar
10 sel
2 131 26 J 1 25 0
8 ar
10 sel 0,2
3 125 22 J 3 21 0,06
9 ar 7
11 sel
1 118 23 B 2 25 0,07 0,3
0 ar
11 sel 0,3
2 116 25 J 3 30 0,08
1 ar 2
11 sel 0,6
3 121 26 B 4 22 0,16 2920
2 ar 2
11 sel 0,4
1 130 26 J 2 30 0,11
3 ar 2
11 sel 0,3
2 124 23 B 2 28 0,09
4 ar 9
11 sel 0,9
3 132 27 B 3 32 0,25 2708
5 ar 3
11 sel 0,3
1 125 28 B 3 25 0,1 2895
6 ar 6
11 sel 1,6
2 128 23 J 4 30 0,38
7 ar 5
11 sel 2,4
3 129 31 B 4 47 0,75 20800
8 ar 2
11 sel 0,1
1 120 26 B 2 30 0,03
9 ar 2
12 sel 2,2
2 129 29 B 4 38 0,65 8017
0 ar 4
12 sel 22,9
1 126 J 1 52
1 ar 7
12 sel
2 130 24,2 J 1 55
2 ar
12 sel 24,6
3 125 J 1 85
3 ar 5
12 sel 19,7
1 115 J 1 45 0
4 ar 9
12 sel 26,9
2 128 B 3 60 0
5 ar 9
12 sel 23,8
3 125 B 3 30 0
6 ar 2