Anda di halaman 1dari 4

Nama : Muhammad Alifan S. D.

NPM : 270110130107
Kelas : C
Dosen : Ir. Vijaya dan Ir. Nana

Perkembangan Rasa Ingin Tahu Pada Mahluk Hidup
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu, kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu dan
filsafat dimulai dari keduanya. Dalam berfilsafat kita didorong untuk mengetahui apa yang kita
tahu dan apa yang belum kita tahu. Rasa ingin tahu mahluk lain lebih didasarkan oleh naluri
(instinct) / idle curiosity. Naluri ini didasarkan pada upaya mempertahankan kelestarian hidup
dan sifatnya tetap sepanjang zaman. Manusia juga mempunyai naluri seperti tumbuhan dan
hewan tetapi ia mempunyai akal budi yang terus berkembang serta rasa ingih tahu tidak
terpuaskan.
Suatu masalah yang telah dapat dipecahkan maka akan timbul masalah lain yang
menunggu pemecahannya, manusia setelah tau apanya maka ingin tahu bagaimana dan
mengapa. Manusia tidak henti-hentinya mencari pengetahuan. Pengetahuan yang ditemukan
manusia itu selalu mengasyikkan penemunya kerena memberinya tambahan kemampuan untuk
melakukan sesuatu.
Manusia sebagai makhluk berpikir diberi hasrat ingin tahu tentang benda dan peristiwa
yang terjadi di sekitarnya termasuk juga ingin tahu tentang dirinya sendiri. Rasa ingin tahu ini
mendorong manusia untik menjelaskan gejala-gejala alam serta berusaha memecahkan masalah
yang dihadapi dan akhirnya manusia dapat mengumpulakan pengetahuan. Sejalan dengan
perkembangannya menusia memanfaatkan akal budi yang dimilikinya dan juga ditunjang dengan
rasa ingin tahu, maka berkembanglah pula ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.
Perkembangan pengetahuan pun lebih berkembang lagi manakala ditunjang dengan adanya tukar
menukar informasi antar manusia.
Manusia mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi dan selalu berkembang. Meskipun
makhluk lain juga mempunyai rasa ingin tahu, tetapi rasa ingin tahunya itu hanya dipergunakan
sebatas untuk memenuhi kebutuhan makanannya saja. Tidak perkembangan rasa ingin tahunya
untuk menciptakan sesuatu yang melebihi kebutuhan makanannya; rasa ingin tahunya bersifat
menetap yang disebut dengan idle curiousity. Berbeda dengan manusia yang mempunyai rasa
ingin tahu selalu berkembang perkembangan rasa ingin tahu itu selalu dimulai dengan
pertanyaan apa atau what tentang segala sesuatu yang dilihat dan diamatinya, kemudian
dilanjutkan dengan pertanyaan bagaimana atau how dan mengapa atau why pertanyaan-
pertanyaan seperti ini telah tumbuh sejak anak-anak belajar disekolah taman kanak-kanak (TK).
Adanya kemampuan berpikir pada manusia menyebabkan terus berkembangnya rasa
ingin tahu manusia terhadap segala sesuatu yang ada di alam semesta ini. Jawaban terhadap
berbagai pertanyaan manusia terhadap berbagai gejala atau peristiwa yang terjadi di alam
tersebut akhirnya menjadi ilmu pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dari alam semesta ini
selanjutnya menjadi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan alam (IPA). Ilmu pengetahuan
itu terus berkembang sejalan dengan sifat manusia yang selalu ingin tahu, terutama tentang
benda-benda yang ada disekelilingnya, alam jagad raya beserta isinya, dan bahkan tentang
dirinya sendiri. Dengan demikian, ilmu pengetahuan alam tumbuh dan berkembang berkat rasa
ingin tahu manusia yang tinggi.
Secara sederhana, perkembangan ilmu pengetahuan alam itu dimulai dari rasa ingin tahu
terhadap sesuatu, kemudian dilakukan suatu pengamatan. Berdasarkan pengamatan yang
berulang kali maka diperoleh pengalaman. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang terus
menerus maka diperoleh pengetahuan. Kumpulan dari pengetahuan tentang sesuatu yang disusun
secara sistematis dinyatakan sebagai ilmu pengetahuan. Bagian dari ilmu pengetahuan yang
mengungkapkan rahasia dan gejala alam yang meliputi asal usul alam semesta dengan segala
isinya, termasuk proses, mekanisme, sifat benda maupun peristiwa yang terjadi diebut sebagai
ilmu pengetahuan alam (IPA).
Manusia dengan rasa ingin tahunya yang besar, selalu berusaha mencari keteranga
tentang fenomena alam yang teramati. Untuk menjawab pertanyaan atau rasa ingin tahunya,
manusia sering mereka-reka sendiri jawabannya. Jawaban semacam ini sering tidak logis, tetapi
sering diterima masyarakat awam sebagai suatu kebenaran. Pengetahuan semacam ini disebut
sebagai pseudo science yaitu pengetahuan yang mirip sains tetapi bukan sains.

Cara memperoleh pengetahuan dengan pendekatan pseudo science (sains semu), antara
lain:
1. Mitos, gabungan dari pengamatan, pengalaman dengan dugaan, imajinasi dan
kepercayaan.
2. Wahyu, merupakan komunikasi sang pencipta dengan makhluknya sebagai utusan yang
menghasilkan ilmu pengetahuan yang benar.
3. Otoritas dan tradisi, yaitu pengetahuan yang telah lama ada dan dipergunakan oleh
pemimpin atau secara tradisi untuk menyatakan kebenaran.
4. Prasangka, berupa dugaan yang kemungkinannya bisa benar atau salah.
5. Intuisi, merupakan kegiatan berpikir yang non analitik (tanpa nalar), tidak berdasarkan
pada pola berpikir tertentu, dan biasanya pendapat itu diperoleh dengan cepat tanpa
melalui proses yang dipikirkan terlebih dahulu.
6. Penemuan kebetulan, yaitu pengetahuan yang pada awalnya ditemukan secara kebetulan
dan beberapa diantaranya adalah sangat berguna.
7. Cara coba ralat (trial and error), pengetahuan yang diperoleh melalui cara coba- salah-
coba-salah, tanpa dilandasi dengan teori yang relevan.
Pada zaman yunani (600-200 SM) terjadi pola pikir manusia yang lebih maju dari pola
pikir mitos, dimana terjadi penggabungan antara pengamatan, pengalaman dan akal sehat, logika
atau rasional. Aliran ini disebut sebagai rasionalisme, yaitu pertanyaan akan dijawab dengan
logika atau hal-hal yang masuk akal.
Lebih lanjut lagi dikenal metode deduksi, yaitu penarikan suatu kesimpulan didasarkan
pada sesuatu yang bersifat umum (premis mayor) menuju kepada yang khusus (premis minor).
Metode ini merupakan perkembangan pola pikir dalam memperoleh kebenaran berdasarkan
logika. Aristoteles (348-322 SM) sebagai contoh:
Premis mayor: semua makhluk hidup akan mengalami kematian
Premis minor: manusia adalah makhluk hidup
Kesimpulan: maka manusia suatu saat akan mati
Dasar perkembangan metode ilmiah sekarang adalah metode induksi, yang intinya
adalah bahwa pengambilan kesimpulan dilakukan berdasarkan data pengamatan atau
eksperimentasi yang diperoleh.

Daftar Pustaka

Nasoetion, Andi Hakim. 1992. Pengantar ke Filsafat Sains. Bogor : Litera Antar Nusa
http://spyagent-elektronika.blogspot.com/2013/07/alam-pikiran-manusia-dan-
perkembangannya.html
http://ihdinakarima.wordpress.com/2014/05/02/konsep-dasar-ilmu-alamiah-dasar/
http://www.aguschandra.com/2010/10/ilmu-alamiah-dasar/
http://sahabatilmucenter.wordpress.com/landasan-pendidikanfilsafat-ilmu/