Anda di halaman 1dari 6

ARTIKEL mengenai Metode ABC

DHEA MEZITA PUTRI (120112575)



1
Analisa Kritis tentang Penerapan Activity-Based Costing dalam Manajemen Keuangan
Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan sebuah lembaga yang memiliki keistimewaan dibanding
institusi lain. Keistimewaannya terletak pada fungsi dasarnya, yaitu dalam hal pendidikan,
pengajaran dan usaha penemuan atau inovasi (riset). Fungsi-fungsi inilah yang kemudian
mendefinisikan peranan perguruan tinggi dalam masyarakat. Wacana yang kemudian sering
mengemuka dalam penyelenggaraan perguruan tinggi kemudian adalah mengenai academic
excellence dan manajemen perguruan tinggi, termasuk dalam hal pembiayaan. Jawaban dari
kedua wacana ini kemudian bergantung pada bagaimana pemahaman suatu negara dalam
penerapan good university governance.
Di lain pihak persaingan usaha di bidang pendidikan tinggi saat ini luar biasa ketat,
bukan hanya antar PTS tetapi juga antar PTN, bahkan PTN vs PTS. Ditambah lagi banyak
perguruan tinggi luar negeri yang ingin membuka perguruan tinggi di Indonesia, baik langsung
maupun bekerjasama dengan PTN dan PTS terkemuka di Indonesia. Untuk meningkatkan daya
saing, setiap perguruan tinggi harus memiliki sarana dan prasarana pendidikan dan pengajaran,
penelitian dan pengabdian masyarakat yang memadai.
Akibat persaingan tersebut pengelolaan keuangan menjadi isu kritis dalam mewujudkan
pelayanan pendidikan yang berkualitas. Tuntutan Good University Governance dan akuntabilitas
sudah seharusnya menjadi napas dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi. Sehingga upaya
pembenahan dalam pengelolaan keuangan menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen
pendidikan tinggi. Salah satu usaha untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan merancang
sistem pengelolaan keuangan perguruan tinggi berbasis aktivitas dan menghitung standart cost
pendidikan dengan metode Activity based Costing (ABC) .
Tujuan penulisan ini akan mencoba menganalisa empat artikel yang mengulas tentang
keberhasilan penerapan ABC di perguruan tinggi di Australia, Amerika Serikat, Portugis dan
negera tetangga Malaysia.
Konsep Activity Based Costing
Activity Based Costing (ABC) merupakan metode yang menerapkan konsep-konsep
akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat.
Namun dari perspektif manajerial, sistem ABC menawarkan lebih dari sekedar informasi biaya
produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari
aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya
selain produk, misalnya pelanggan dan saluran distribusi. (Azizi :2010, Lima:2011, Reich and
Abraham:2006).
Konsep activity based costing ini timbul karena sistem akumulasi biaya tradisional
(traditional costing) yang biasa dipakai tidak dapat mencerminkan secara benar besarnya
pemakaian biaya produksi dan biaya sumber daya fisik secara benar.(Azizi, 2010:2) Sistem
ARTIKEL mengenai Metode ABC
DHEA MEZITA PUTRI (120112575)

2
akuntansi biaya tradisional dirancang hanya untuk menyajikan informasi biaya pada tahap
operasional yang terbatas dengan:
1. Hanya menggunakan jam kerja langsung (biaya tenaga kerja langsung) sebagai dasar
untuk mengalokasikan biaya overhead dari pusat biaya kepada departemen-
departemen.
2. Hanya alokasi yang berkaitan dengan volume yang digunakan untuk mengalokasikan
biaya overhead yang sangat berbeda.
3. Cost pool (cost centers) yang terlalu besar dan berisi perangkat yang mempunyai
struktur biaya overhead yang sangat berbeda.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembebanan biaya secara
tradisonal kurang tepat karena hanya berdasarkan jumlah kebutuhan operasional, sehingga
mempunyai kelemahan-kelemahan yang membuat undercost pada volume yang rendah, output
sederhana, namun mengovercost pada volume tinggi dengan output yang kompleks, dengan
demikian perhitungan biaya menjadi terdistorsi. Activity based costing menghilangkan distorsi
sehingga dapat diketahui harga pokok input (proses, jasa) dan output yang sebenarnya.(Reich
and Abraham, 2006).
Fokus utama ABC adalah kegiatan/aktivitas. Mengidentifikasi biaya kegiatan dan
kemudian ke produk merupakan langkah dalam menyusun ABC system. ABC mengakui
hubungan sebab akibat atau hubungan langsung antara biaya sumber daya, penggerak biaya,
kegiatan, dan objek biaya dalam membebankan biaya pada kegiatan dan kemudian pada objek
biaya.
Dalam penerapan di lembaga pendidikan tinggi yang merupakan sebuah organisasi yang
masuk kepada kategori non profit atau nirlaba, ABC system menghitung pengeluaran keuangan
berdasarkan kegiatan dan alokasi waktu untuk mengerjakan kegiatan tersebut. Langkah awal
dalam system ABC ini adalah dengan mengidentifikasikan kegiatan yang disesuaikan dengan
misi, tujuan, target dan lingkup dari perguruan tingginya, serta tipe manajemen yang
diharapkan bisa mengelola kegiatan tersebut. Setelah teridentifikasi kegiatan yang sesuai.
Pengalokasian biaya untuk kegiatan dilakukan dengan pendefinisian dari kegiatan tersebut.
Dalam perguruan tinggi konvensional kegiatan perguruan tinggi didefinisikan sebagai Kegiatan
Pengajaran, Kegiatan Penelitian dan Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Umumnya di
setiap bidang kegiatan tersebut digerakkan oleh administrasi, sehingga pembiayaan untuk
kegiatan administrasi patut juga diperhitungkan tersendiri sebagai bagian dari kegiatan di
sebuah lembaga, sehingga tidak hanya mengalokasikan untuk 3 kegiatan (Pengajaran,
Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) akan tetapi harus juga mengalokasikan untuk
Kegiatan Administrasi. (Cox, et al. 1998).
Setelah terdapat penetapan akan pendefinisian kegiatan, alokasi waktu untuk masing-
masing departemen (Fakultas, Jurusan atau Prodi) harus bisa disesuaikan dengan karakteristik
dari setiap individu yang terlibat. Pendefinisian kegiatan dan alokasi waktu ini kemudian
dianalisa pembiayaannya dan juga mengakumulasi sumber-sumber daya yang dapat menjadi
ARTIKEL mengenai Metode ABC
DHEA MEZITA PUTRI (120112575)

3
cost driver (penggerak biaya) untuk kegiatan tersebut. (Azizi, 2010). Dalam konteks perguruan
tinggi cost driver adalah jumlah mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Dalam
menghitung penentuan cost driver adalah dengan melakukan pengidentifikasian aktivitas pada
berbagai tingkat. Pada proses ini aktivitas yang luas dikelompokkan ke dalam empat kategori
aktivitas, yaitu:
1. Aktivitas-aktivitas berlevel unit (unit level activities)
Aktivitas yang dilakukan setiap satu kali unit, besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh
jumlah unit yang dihasilkan untuk masing-masing output yang dihasilkan.
2. Aktivitas-aktivitas berlevel batch (batch level activities)
Aktivitas yang dilakukan setiap kali suatu batch pelayanan atau produk dihasilkan, besar
kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah batch produk/layanan yang dihasilkan.
3. Aktivitas-aktivitas berlevel produk (product level activities)
Aktivitas yang dilakukan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh
organisasi. Aktivitas ini menggunakan masukan (input) yang bertujuan untuk mengembangkan
dan atau memproduksi produk sebagai output. Biaya dari aktivitas jenis ini cenderung
meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah produk yang berbeda.
4. Aktivitas-aktivitas berlevel fasilitas (facility level activities)
Aktivitas-aktivitas yang dilakukan untuk mempertahankan proses produksi secara
keseluruhan. Aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume atau bauran produk/layanan yang
dihasilkan dan dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk/layanan yang berbeda.
Aktivitas ini memberikan keuntungan bagi organisasi sampai tingkat tertentu, akan tetapi tidak
memberikan keuntungan untuk satu spesifik produk/layanan. (Lima, 2011).
Langkah terakhir dalam menerapkan system ABC ini adalah dengan mengakumulasi
laporan dari setiap kegiatan. Baik itu dari tingkat prodi, jurusan, maupun fakultas. Laporan
tersebut dimasukkan kedalam data base untuk dikalkulasikan besaran pengeluaran yang ada
pada setiap kegiatan. Hasil dari laporan tersebut akan digunakan dalam penentuan kegiatan
pada tahun berikutnya, sehingga dapat diperoleh alokasi pembiayaan yang tepat guna dan
sasaran dalam menciptakan efektivitas dan efisiensi untuk penjaminan akuntabilitas dan mutu
perguruan tinggi yang bersangkutan.
FAKTA UNIK
Ke empat artikel rujukan melaporkan keberhasilan dalam menerapkan ABC system
dalam perguruan tinggi. Kendala yang dihadapi oleh masing-masing artikel mempunyai
ARTIKEL mengenai Metode ABC
DHEA MEZITA PUTRI (120112575)

4
kesamaan yaitu dalam melaksanakan proses pengakumulasian data mengenai kegiatan di
lingkungan civitas akademika.
Pada analisa Reich dan Abraham (2006) di Universitas Wollongong Australia (UOW)
menerapkan model yang diberi nama Revolving Door Workshop (RDW), dalam menggalang
data tersebut RDW terbukti telah berhasil mengakomodir data kegiatan staf di UOW secara
akurat sehingga membantu penerapan ABC system di UOW. RDW dirasakan mempunyai
kelebihan dalam melihat keakuratan data yang dihasilkan karena RDW adalah sebuah metode
yang dapat digunakan dalam waktu singkat (3 bulan), sifatnya yang sangat memasyarakat
(terbuka) dan telah diuji oleh lembaga lain. Penerapan metode RDW ini menurut Reich dan
Abraham menuntut keterlibatan seluruh sivitas akademika dalam menentukan alokasi kegiatan
dan mengetahui dengan menyeluruh keefektifan kegiatan pada masing-masing staf dan
menjembatani jurang antara setiap kegiatan karena setiap staf dapat secara jelas melihat besar
tugas dan tanggung jawab yang disesuaikan dengan alokasi biayanya.
Azizi (2010) melaporkan kesuksesan implementasi dari Activity Based Management
(ABM) dalam penerapan ABC system di Universiti Utara Malaysia (UUM). Pengumpulan data
kegiatan dilakukan dengan metode survey yang melibatkan interview, angket dan workshop
sebagaimana yang dilakukan pada RDW. Setelah terdapat data yang ada dan untuk
mentranformasikannya menjadi model kerja, UUM membeli sebuah software khusus yang
bernama SAS Activity Based Management yang bisa mengkalkulasikan data kegiatan dan
kemudian diintegrasikan dengan sebuah software bernama Online Analytical Process (OLAP).
Karena proses penganalisaan biaya dapat dilakukan secara online, otomatis semua
sivitas akademika dapat melihat secara jelas alokasi biaya yang disesuaikan dengan beban dan
besarnya kegiatan. ABM juga dapat membantu pihak administrator (Rektor, Dekan, bahkan
pemerintah) untuk mengalokasikan besaran biaya yang tepat untuk perguruan tingginya.
Cox et al, (1998) yang melaporkan tentang penerapan ABC System di Kansas State
University (K-State), menekankan pentingnya pemahaman bersama atas kode pendefinisian
kegiatan pada semua tingkat di universitas, baik itu administrator, Fakultas, Jurusan dan
Program Studi, dalam penerapannya K-State benar-benar mengandalkan pelaporan yang terus
menerus dari lini bawah ke lini atas dibantu pengawasan dari Badan Pengawas Internal yang
ada di K-State.
Cox et al (1998) menyatakan bahwa ABC system dapat menjadi sebuah alat yang baik
bagi kehumasan yang menjembatani hubungan antara staf di lingkungan K-State. Hal itu
menandakan bahwa unsure keterbukaan selalu dilakukan dalam menerapkan ABC system di
dalam setiap kegiatan di K-State. Karena semua pihak telah mendapatkan sosialisasi akan
pendefinisian kegiatan dan alokasi waktu yang sesuai bagi setiap orang dalam menyelesaikan
kegiatan tersebut.
Lima (2011) menyatakan bahwa penerapan ABC system di universitas di Portugal
adalah merupakan hybrid model dari Sistem ABC untuk perusahaan profit, karena tidak semua
ARTIKEL mengenai Metode ABC
DHEA MEZITA PUTRI (120112575)

5
kegiatan dapat diterapkan dengan menggunakan system ABC yang konvensional. Bahkan pada
beberapa bidang ABC system tidak bisa diterapkan sama sekali dan cenderung disarankan
untuk menggunakan system pembiayaan tradisional atapun hybrid dari penggabungan ABC dan
traditional system. Akan tetapi secara keseluruhan ABC system dapat menjadi model
pembiayaan yang sangat efektif dan fleksibel untuk diadaptasi oleh universitas di Portugal.
Dalam melihat keempat hasil dari artikel yang dianalisa tersebut dapat dilihat
kesesuaian yang melihat bahwa ABC system bisa menjawab permasalahan pada perguruan
tinggi di seluruh dunia, baik itu di Negara maju ataupun Negara berkembang.
Keempat artikel juga menuliskan pentingnya pemahaman akan kegiatan dan pentingnya
mengidentifikasi kegiatan sebagai dasar dalam penerapan ABC System. Alat bantu berupa
software akuntansi modern sudah menjadi keharusan bagi sebuah perguruan tinggi untuk
memilikinya.
Tiga artikel menyatakan bahwa ABC System sangat bisa mengurangi ketidak sesuaian
biaya dengan kegiatan, sifatnya yang mengutamakan keterbukaan bagi semua pihak dapat
mengurangi gap antar Fakultas, Jurusan dan Prodi yang biasanya terjadi karena kurang
proporsionalnya alokasi biaya serta bisa membuat pemahaman akan pemanfaatan sumber
biaya dan alokasi waktu yang ditetapkan.
Refleksi Diri
Keberhasilan ABC System di berbagai perguruan tinggi di dunia, seharusnya menjadi
tantangan tersendiri bagi pendidikan tinggi di Indonesia. Ada beberapa ciri-ciri pembiayaan
yang masih sering ditemui pada perguruan tinggi di Indonesia yaitu:
1. Proporsi pembiayaan pada tingkat jurusan dan prodi terkadang belum sepenuhnya
didasarkan pada formula dan proyeksi kebutuhan anggaran yang rasional.
2. Struktur anggaran yang gemuk ke atas membuat program dan aktivitas pelayanan tri
dharma pada tingkat jurusan menjadi sempit.
3. Tidak adanya budget mapping system yang memadai pada setiap komponen dan
aktivitas operasional dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi jurusan.
4. Tidak adanya kajian-kajian dan pengembangan model-model tentang analisa efisiensi
dan efektivitas biaya.
Dalam melihat hal tersebut, seharusnya kita bisa melakukan pembenahan pada setiap
komponen biaya yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan-kegiatan kita dalam
melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Sistem manajemen kita yang menganut Top-Down Management dimana penetapan
anggaran operasional menjadi kewenangan universitas melalui direktorat keuangan, bukan
menjadi sebuah halangan bagi setiap Fakultas, Jurusan dan Prodi untuk melakukan perhitungan
ARTIKEL mengenai Metode ABC
DHEA MEZITA PUTRI (120112575)

6
dan proyeksi kebutuhan yang seksama dan asumsi-asumsi publik mengenai besaran yang
memadai, sehingga terdapat kontrol yang melibatkan seluruh sivitas akademik.
Isu strategis yang ada pada HELTS 2003-2010 tentang Otonomi Pendidikan Tinggi yang
merupakan sebuah pergeseran paradigma Dikti dari pengendalian menuju ke fasilitasi,
pemberdayaan, peningkatan kemampuan (FEE). Sehingga paradigm PTN yang cepat atau
lambat menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum Pendidikan Milik Negara (PTBHP-MN)
seharusnya bisa memotivasi PTN yang ada di Indonesia untuk berbenah diri. Salah satu usaha
untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan merancang sistem pengelolaan keuangan
perguruan tinggi berbasis aktivitas dan menghitung standart cost pendidikan per mahasiswa
dengan ABC System
Pada pengelolaan anggaran keuangan perguruan tinggi negeri umumnya dilakukan
dengan sistem konvensional, pengalokasian dana hanya didasarkan pada proporsi kegiatan dan
sistem plafon yang diusulkan oleh unit-unit di dalam institusi (bottom-up system) dengan
melalui serangkaian pembahasan dengan tim reviewer bidang II. Sistem ini pada kondisi aktual
menyebabkan distorsi penggunaan dana anggaran sehingga terjadi over-absorption maupun
under-absorption. Hal tersebut berdampak pada inefisiensi operasional anggaran yang akan
bermuara pada ketidakakuratan estimasi dana pendidikan yang akan dikenakan pada
masyarakat melalui SPP (Sumbangan Pengembangan Pendidikan) dan SPI (Sumbangan
Pengembangan Institusi) mengingat salah satu komponen dana PNBP tersebut akan memegang
peranan strategis di masa mendatang.
ABC system adalah merupakan salah satu budget mapping systems yang bisa
mengalokasikan setiap komponen dan aktivitas operasional pada masing-masing Fakultas,
Jurusan dan Prodi dengan cara melakukan kajian-kajian dan pengembangan model-model
tentang: Kebutuhan biaya operasional berbasis aktivitas (cost driver) untuk setiap cost pool, dan
cost object kelembagaan Fakultas, jurusan dan Prodi; Penggalian sumber-sumber pembiayaan
baik yang bersifat budgeter maupun nonbudgeter; SOP pembiayaan jurusan sebagai pedoman
pendayagunaan anggaran yang terintegrasi dengan sistem akuntansi modern.
Karena sifat dari ABC system yang menekankan pada pemahaman pengalokasian biaya
di kegiatan sebagai factor penting dalam menjalankan sebuah organisasi, dimana dalam
prosesnya sangat menekankan pada teamwork, keterbukaan, proporsional dan bisa
dipertanggung jawabkan, maka pencanangan Good University Governance pada Perguruan
Tinggi Negeri ataupun Swasta di Indonesia dengan prinsip dasarnya Credibility, Transparency,
Accountability, Responsibility, dan Fairness bisa dilakukan dengan penerapan sebuah system
pembiayaan seperti ABC.
SUMBER : http://vinilie.wordpress.com/category/artikel-seputar-pendidikan/