Anda di halaman 1dari 8

Strategi korporasi dirumuskan oleh manajemen puncak dan dirancang sedemikian rupa

guna mencapai tujuan organisasi. Memformulasikan strategi korporasi di dalam perusahaan


besar akan sangat sulit sekali sebab banyak sekali strategi tingkat korporasi yang sangat
berbeda dan memerlukan koordinasi guna mencapai tujuan organisasi secara keseluruhan.
Berikut ini adalah beberapa jenis strategi tersebut
1. Strategi Ekspansi (expansion)
Strategi ekspansi menekankan pada penambahan atau perluasan produk, pasar dan fungsi
dalam perusahaan sehingga aktivitas perusahaan meningkat. Tetapi selain keuntungan yang
ingin diraih lebih besar, strategi ini juga mengandung resiko kegagalan yang tidak kecil.
a) Pertumbuhan konsentrasi
Strategi ini kadang disebut strategi penetrasi pasar, dimana perusahaan yang
memfokuskan pada bisnis produk/jasa tunggal, atau sejumlah kecil produk/jasa
yang sangat berkaitan.strategi ini mendorong peningkatan kinerja perusahaan,
dimana kemampuan untuk menilai kebutuhan pasar, perilaku pembeli, sensifitas
konsumen terhadap perubahan harga, dan efektifitas promosi adalah karakteristik
yang harus dimiliki.
Kondisi yang tepat untuk menerapkan strategi ini adalah:
1) Apabila dalam perusahaan-perusahaan industri terjadi resistensi terhadap
kemajuan teknologi. Hal ini biasanya terjadi pada kasus dimana
pertumbuhan penjualan produk sangat lambat dan telah mencapai titik jenuh
(product life cycle)
2) Apabila target pasar industri bukan pasar produk yang jenuh
3) Apabila pasar produk perusahaan mempunyai perbedaan yang signifikan
terhadap produk pesaing
4) Apabila pasokan bahan baku dan input lainnya memiliki kestabilan harga
dan kuantitas pasokan dan tersedia dalam jumlah memadai serta pada waktu
yang dibutuhkan
Terdapat beberapa alternatif strategi konsentrasi yang dapat dipilih, misalnya:
A. Meningkatkan pemakaian pelanggan lama dengan
1) Meningkatkan ukuran atau volume pembelian
2) Meningkatkan tingkat kekunoan atau ketertinggalan produk
3) Produk diiklankan untuk kegunaan lain
4) Memberikan insentif harga untuk pemakaian yang intensif
B. Menarik pelanggan pesaing
1) Meningkatkan usaha-usaha promosi
2) Berinisiatif memberikan pengurangan harga
3) Mengembangkan differensiasi merek
C. Menarik non-pengguna untuk membeli produk
1) Mencoba memberikan insentif harga
2) Meningkatkan atau menurunkan harga
3) Mengiklankan pemakaian baru
b) Strategi integrasi vertikal
Strategi ini terjadi apabila suatu bisnis atau perusahaan bergerak kearah pasokan
bahan baku(upstream industri). Apabila bisnis tersebut bergerak kearah tersebut
maka disebut integrasi vertikal kebelakang. Misalnya saja, coca-cola yang
memasuki industri manufaktur gelas kaca dengan membangun pabrik botol.
Sebaliknya, bila suatu bisnis bergerak kearah yang melayani pelanggan atau
pemakai akhir suatu produk/jasa(downstream industri) maka disebut integrasi
vertikal kedepan. Misalnya, keputusan pabrik sepatu mendirikan toko-toko sepatu di
daerah penjualan.
Terdapat beberapa alasan mengapa suatu perusahaan memilih dan melaksanakan
strategi integrasi vertikal:
Untuk menjamin kelancaran, kualitas dan kuantitas pasokan bahan baku
Mengendalikan biaya produksi dan operasi
Meningkatkan keuntungan secara keseluruhan aktivitas produksi dan operasi
Untuk mendapatkan tambahan potensi keuntungan
Menjamin kualitas produk akhir
c) Strategi diversivikasi
Strategi ini terjadi apabila suatu organisasi bergerak kearah bidang usaha yang
menghasilkan produk/jasa yang secara jelas berbeda dari bisnis semula. Merupakan
strategi yang populer dan seringkali membuahkan hasil yang memuaskan bagi
organisasi. Beberapa alasan mengapa organisasi menerapkan strategi diversivikasi
adalah:
1. Kelangsungan usaha (survival)
-mengimbangi atau menutup kerugian akibat penurunan pasar
-mengganti kerugian karena keusangan teknologi
-mengganti kerusakan daerah pemasaran yang tidak menguntungkan
-mengganti kerugian penurunan profit margin
2. Stabilitas
-menyeimbangkan fluktuasi musiman
-menyeimbangkan produk-produk dengan margin laba tinggi dan rendah
-mengisi kesenjangan suatu produk
-memelihara pangsa pasar
-menyaingi produk baru yang dihasilkan pesaing
-menyebarluaskan resiko
-mempertahankan kepastian pasokan sumber-sumber bahan baku
-menjamin cabang-cabang perusahaan untuk penjualan produk
-mempertahankan loyalitas pelanggan pada perusahaan
3. Pemanfaatan sumberdaya produktif
-memanfaatkan sisa produk atau byproduct dari proses produksi
-memanfaatkan kelebihan kapasitas produksi
-mengoptimalkan sumberdaya manajemen
4. Menyesuaikan perubahan kebutuhan dan selera pelanggan
-memenuhi tuntutan keragaman dealer
-memuaskan kelompok-kelompok pelanggan yang penting
5. Pertumbuhan
-menginvestasikan kembali pendapatan perusahaan/organisasi
-untuk memuaskan ambisi-ambisi manajemen
-untuk mengambil manfaat dari merger/akuisisi
6. Lain-lain
-mempertahankan reputasi kepemimpinan industrial
-untuk membeli skill manajemen baru atau sumberdaya lainnya
Ada tiga klasifikasi dari strategi diversifikasi, yaitu:
1. Diversifikasi horizontal, terjadi dimana suatu organisasi mulai memproduksi
produk-produk komplementer atau produk kompetitif pada pelanggan akhir yang
sama. Misalnya jaringan toko pakaian mengambil alih pengecer atau toko barang-
barang dan pakaian olah raga
2. Diversifikasi konsentris, terjadi dimana perusahaan menghasilkan produk/jasa,
pasar, dan teknologi yang masih berhubungan tetapi secara jelas berbeda dari
produk/jasa awal. Contohnya coca-cola yang memasuki bisnis orange juice dan
bisnis air mineral. Jelas merupakan produk berbeda tetapi sama-sama memiliki
fungsi guna sebagai minuman.
3. Diversifikasi konglomerasi, apabila perusahaan mulai memasuki bidang baru yang
menghasilkan produk/jasa yang berbeda dan tidak saling berkaitan dengan bisnis
semula. Misalnya perusahaan yang memiliki bidang usaha farmasi, perbankan,
asuransi, perdagangan, manufaktur dan sebagainya.
2. Strategi Stabilitas (stability)
Pada prinsipnya, strategi ini menekankan pada tidak bertambahnya produk, pasar dan
fungsi-fungsi perusahaan karena berusaha untuk meningkatkan efisiensi di segala bidang
dalam rangka meningkatkan kinerja dan keuntungan. Strategi ini relatif rendah resiko dan
biasanya dilakukan untuk produk yang tengah berada pada posisi matang/dewasa (maturity).
Menurut William F. Glueck, strategi ini akan efektif dalam situasi berikut:
1) Perusahaan berada dalam industri yang jenuh (mature industri)
2) Perusahaan telah berhasil menerapkan suatu strategi
3) Lingkungan perusahaan berubah sangat lambat atau stabil.
3. Strategi Penciutan (retrenchment)
Strategi penciutan dimaksudkan untuk melakukan pengurangan atas pasar maupun fungsi-
fungsi dalam perusahaan yang memiliki aliran keuangan (cash-flow) negatif. Biasanya
strategi ini diterapkan pada perusahaan yang berada pada tahap menurun (decline). Strategi
penciutan dilakukan ketika organisasi mengelompok kembali melalui reduksi biaya dan
aset dalam upaya membalikkan proses penurunan penjualan dan laba perusahaan. Strategi
ini terkadang dikenal sebagai strategi turnaround atau reorganizational. Tujuan dari strategi
ini adalah untuk memperkokoh keunggulan yang membedakan (distinctive competences)
yang dimiliki perusahaan. Pada masa strategi ini dijalankan, operasi perusahaan berjalan
dengan sumber daya (terutama dana) yang terbatas dan akan berada pada kondisi penuh
tekanan dari berbagai pihak seperti pemilik saham, pegawai, dan media.
Strategi penciutan dapat berbentuk penjualan aset untuk memperoleh dana tunai,
pemangkasan lini produk (product line), menutup bisnis yang kurang menguntungkan atau
yang tidak termasuk core competence perusahaan, otomasi proses, pengurangan jumlah
pegawai, dan penerapan sistem kontrol pengeluaran biaya. Pengurangan kapasitas produksi
berbagai perusahaan selama krisis moneter di Indonesia dapat diangkat sebagai contoh.
Demikian pula dengan kebijakan PHK maupun pemulangan tenaga kerja asing demi
menjaga keberlangsungan bisnis selama krisis.
Yang perlu diperhatikan adalah keputusan untuk membangkrutkan diri bisa juga hadir
sebagai salah satu bentuk penerapan strategi penciutan ini. Oleh karenanya perlu dicermati
hubungan antar perusahaan dalam satu kelompok usaha dan kesehatan keuangan
keseluruhan kelompok usaha tersebut dalam kaitan dengan strategi pembangkrutan diri ini.
Alasan suatu perusahaan memilih melakukan strategi ini adalah antara lain:
1) Perusahaan memiliki masalah finasial.
2) Perusahaan tidak dapat meramalkan masa depan dengan baik.
3) Pemilik telah merasa lelah dengan memprediksi bisnisnya yang tidak akan
berkembang dengan baik, atau merasa ada peluang yang lebih menguntungkan
dengan menjual perusahaan.
Ada beberapa jenis strategi penciutan atau strategi bertahan:
a) Cutback and turnaround
Adalah strategi penyehatan perusahaan yang bertujuan mengeliminasi kerugian dan
memotong biaya-biaya tetap atau memotong biaya-biaya operasi, atau mengurangi
ukuran operasi perusahaan agar beroprasi lebih efisien.
b) Divestasi(divestment)
Strategi yang bertujuan mengeliminasi kerugian dan memotong biaya-biaya tetap
yang ditanggung perusahaan dengan cara menjual aset atau kekayaan perusahaan.

c) Likuidasi(liquidation)
Strategi likuidasi dapat diidentifikasi ketika perusahaan melakukan penjualan
seluruh asetnya secara bagian per bagian untuk menghasilkan dana tunai. Likuidasi
biasanya dipahami sebagai pengakuan atas kekalahan dan cenderung secara
emosional sulit dijalani. Namun demikian, bisa dimengerti bahwa lebih baik
menghentikan operasi daripada mengalami kerugian yang lebih besar. Likuidasi
berbagai bank di Indonesia merupakan contoh.
d) Kebangkrutan(bankcruptcy)

4. Strategi Kombinasi (combination)
Strategi kombinasi adalah perpaduan antara dua atau lebih strategi yang dijalankan secara
simultan. Namun demikian, perlu diperhatikan bahwa strategi kombinasi harus
dioperasikan secara sangat hati-hati karena jika terlalu dalam dalam membawa resiko yang
lebih besar. Tidak ada perusahaan yang dapat menerapkan semua strategi secara bersamaan
meskipun semuanya ditujukan utnuk memberikan keuntungan pada perusahaan. Oleh
karenanya, di tengah sulitnya penentuan yang diambil, skala prioritas yang baik dan tepat
perlu dibangun. Hal ini dibutuhkan karena sumber daya yang dimiliki perusahaan tentunya
memiliki keterbatasan tertentu. Prioritas sangat dibutuhkan, karena dalam penerapan
strategi kombinasi akan berarti pula terjadinya penyebaran sumber daya dan kemampuan
yang mungkin akan terbaca oleh kompetitor sehingga mereka dapat mengambil langkah-
langkah yang justru membahayakan posisi perusahaan.
Dalam suatu perusahaan yang sangat terdiversifikasi, strategi kombinasi seringkali
diterapkan ketika divisi-divisi yang ada menerapkan strategi berbeda. Demikian juga
perusahaan yang sedang berusaha untuk mempertahankan operasinya (struggle for survival)
biasanya menerapkan strategi kombinasi dari beberapa strategi defensif secara simultan.