Anda di halaman 1dari 16

1

BAB 1
PENDAHULUAN
Anestesia tidak dapat dipisahkan dari pembedahan dan berbagai prosedur medis lain yang
menimbulkan rasa sakit. Dahulu anestesia umum dihubungkan dengan hilangnya kesadaran,
hilangnya rasa sakit, dan tersupresinya refleks-refleks tubuh. Anestesia umum kini
mengandung makna yang jauh lebih luas dan lebih luwes daripada itu. Anestesia umum pun
kini diaplikasikan pada berbagai prosedur medis nonbedah. Masa kini, bahkan orosedur tanpa
nyeri pun seringkali memerlukan tindakan anestesia, misalnya prosedur pemindahan (CT
Scan, MRI, dan sebagainya) pada psien yang ridak kooperatif.
Anestesia berasal dari perkataan Yunani yang berarti hilangnya rasa. Tindakan dan usaha
menghilangkan rasa sakit sudah ada sejak dahulu kala pada setiap bangsa, etnik, dan suku di
dunia. Cara dan bahan yang digunakan pun beragam. Ilmu anestesi sendiri berkembang pesat
sejak awal abad ke-20 dengan ditemukannya zat-zat anestetik, prosedur intubasi endotrakeal
dan berbagai teknik pemantauan.
Anestesia adalah gabungan antara science dan art. Fisiologi dan farmakologi adalah
ilmu kedokteran yang merupakan basis ilmiah anestesiologi. Sejalan dengan
perkembangannya, prosedur anestesia pun kemudian memerlukan ketrampilan psikomotor
khusus.









2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Komponen dalam anestesia umum
Dahulu dikenal istilah Trias Anestesia, yaitu hipnosis, anelgesia dan arefleksia. Sekarang
anestesia umum tidak hanya mempunyai ketiga komponen tersebut namun lebih luas. Secara
umum komponen yang ada dalam anestesia umum adalah:
a) Hipnosis (hilangnya kesadaran)
b) Analgesia (hilangnya rasa sakit)
c) Arefleksia (hilangnya refleks-refleks motorik tubuh, memungkinkan imobilisasi pasien)
d) Relaksasi otot, memudahkan prosedur pembedahan dan memfasilitasi intubasi trakeal.
e) Amnesia (hilangya memori pasien selama menjalani prosedur)
Dalam praktik klinis sehari-hari tidak semua komponen di atas harus terpenuhi. Sebagi
contoh pada prosedur endoskopi yang dilakukan di bawah anestesia umum, yang penting bagi
pasien adalah hipnosis, analgesia, dan imobilisasi. Bagi kebanyakan prosedur bedah,
analgesia menduduki peringkat teratas komponen anestesia yang harus dipenuhi. Terkadang
analgesia ini bukan untuk mengantisipasi prosedur pembedahannya, namun untuk prosedur
anestesia itu sendiri. Comtohnya adalah keteterisasi jantung yang sebenarnya tidak terlalu
nyeri. Analgesia tetap diberikan untuk melawan rangsang nosiseptif tindakan intubasi atau
pemasangan sungkup laring. Secara singkat. Anestesia umum dapat diartikan suatu tindakan
yang menyebabkan perubahan fisiologik yang reversibel yang dikondisikan untuk
memungkinkan pasien menjalani berbagai prosedur medis.







3

2.2 Keuntungan dan kerugian anestesia umum
Tidak semua pasien atau prosedur medis idual untuk dijalani dibawah anestesia umum.
Namun demikian, semua teknik anestesia harus dapat sewaktu-waktu dikonversikan menjadi
anestesia umum. Oleh karena itu di setiap tempat pelayanan anestesia meskipun hanya
monitored anesthesia care (MAC) harus tersedia perlengkapan untuk anestesia umum.
Keuntngan anestesia umum
a) Pasien tidak sadar, mencegah ansietas pasien selama prosedur medis berlangsung.
b) Efek amnesia meniadakan memori buruk pasien yang didapat akibat ansietas dan
berbagai kejadian intraoperatif yang mungkin memberikan trauma psikologis.
c) Memungkinkan dilakukannya prosedur yang memakan waktu lama
d) Memudahkan kontrol penuh ventilasi pasien.
Kerugian anestesia umum
a) Sangat memengaruhi fisiologi. Hampir semua regulasi tubuh menjadi tumpul di bawah
anestesia umum.
b) Memerlukan pemantauan yang lebih holistik dan rumit.
c) Tidak dapat mendeteksi gangguan susunan saraf pusat, misalnya perubahan kesadaran.
d) Resiko komplikasi pascabedah lebih besar.
e) Memerlukan persiapan pasien yang lebih seksama.
Harus diingat, bahwa yang terpenting adalah penguasaan fisiologi dan patofisiologi yang ada
pada pasien serta pemahaman akan farmakologi obat yang dipilih. Ketika memilih obat
tertentu utnuk digunakan, seorang anestesiologis harus siap dengan efek yang ditimbulkan,
kemungkinan interaksinya dengan obat lain dan siap menanggung efek samping yang timbul.






4

2.3 Fisiologi hilangnya kesadaran
Hingga kini, fisiologi pasti hilangnya kesadaran belum sepenuhnya dimengerti. Teori Meyer-
Overton menyatakan anestesia terjadi jika sejumlah molekul anestetika inhalasi berdifusi dan
larut dalam membran lipid sel.
Teori lain oleh Pauiling menyatakan sejumlah molekul zat anestetik berinteraksi dengan
molekul air membentuk clathrates (mikrokristal yang terhidrasi). Molekul inilah yang
menginhibisi reseptor-reseptor di SSP. Teori-teori ini tidak terbukti dengan nyata dan jelas.
Semakin hari justru semakin banyak bukti menentang teori ini.
Secara klasik dipercaya bahwa kesadaran hilang melalui peningkatan tonus GABA atu
inhibisi reseptor yang diaktivasi glutamat. GABA bersifat menginhibisi impul di otak,
sedangkan NMDA dan AMPA bersifat eksitasi
2.3.1 Gamma Aminobutyric Acid (GABA).
Gamma Aminobutyric Acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibitori di SSP, bekerja
dengan cara berikatan dengan reseptornya di membran sel. Ikatan ini menyebabkan
terbukanya kanal ion yang memungkinkan masuknya ion C
-
atau keluarnya ion K
+
. terjadi
hiperpolarisasi sel. Obat yang bekerja pada reseptor GABA (GABAergic / GABA analogue
drugs) memiliki efek depresif di SSP. Obat-oba tini biasanya bersifat antiansietas,
antikonvulsif, menyebabkan amnesia dan sebagainya.
Contoh obat tipikal GABAergik adalah golongan benzodiazepin, barbiturat, etomidat,
kloralhidrat dan zat-zat anestetik inhalasi. Selain itu ada juga glisin (glycine), neurotransmiter
inhibitori juga di medula spinalis dan batang otak. Greenblatt dan Meng (2001)
menyimpulkan bahwa anestetika inhalasi meniumbulkan potensiasi pada reseptor GABA dan
glisin. Sebagian besar obat anestetik intravena pun bekerja dengan memodulasi GABA.
2.3.2 Reseptor yang diaktivasi glutamat
Glutamat adalah neurotransmiter eksitasi utama pada SSP mamalia. Reseptornya termasuk
NMDA, AMPA dan kainat (kainate). Reseptor NMDA (N-methyl-D-aspartate receptor)
adalah satu dari dua reseptor utama ang diaktivasi glutamat. Reseptr lain adalah AMPA.
Kedua respetor sering dijumpai pada sinaps yang sama meskipun mempunyai fisiologi yang
berbeda. Fungsi reseptor kainat dan hubungannya dengan anestesia belum diketahui jelas.
Antagonis reseptor NMDA umumnya digunakan sebagai obat anestetik. Salah satu efeknya
5

yang unik di SSP adalah disosiasi. Sekarang golongan ini sering pula disalahgunakan sebagai
recreational drug karena efek halusinogeniknya. Di antara antagonis NMDA yang terkenal
adalah ketamin, N
2
O, dekstrometorfan, etanol dan xenon. Beberapa obat memiliki efek
antagonis NMDA bersama dengan agonis, misalnya tramadol.
Dengan berkembangnya ilmu kedokteran, semakin banyak ditemukan bukti bahwa
mekanisme terjadinya anestesi jauh lebih rumit daripada yang disangka. Zat anestetik tidak
lagi dipercaya hanya bekerja pada molekul tunggal di SSP, namum kemungkinan juga
bekerja di medula spinalis. Ditemukan bukti bahwa ketiga reseptor glutamat tidak sensitif
terhadap anestetika inhalasi.
2.4 Stadium-stadium anestesia
Stadium anestesia (anesthesia stages) dibuat berdasarkan efek ether. Ether merupakan zat
anestetik volatil yang poten dan digunakan luas pada jamannya. Selama masa penggunaan
ether yang cukup lama, dilakukan observasi dan pencatatan lengkap mengenai anestesia yang
terjadi. Klasifikasi Guedel dibuat oleh Arthur Ernest Guedel pada tahun 1937, meliputi:
a) Stadium (stage) 1: disebut juga stadium induksi. Ini adalah periode sejak masuknya
obat induksi hingga hilangnya kesadaran, yang antara lain ditandai dengan hilangnya
refleks bulu mata.
b) Stadium (stage) 2: disebut stadium eksitasi. Setelah kesadaran hilang, timbul eksitasi dan
delirium. Pernafasan menjadi ireguler, dapat terjadi pasien menahan nafas. Terjadi REM.
Timbul gerakan-gerakan involuntari, seringkali spastik. Pasien juga dapat muntah dan ini
dapat membahayakan jalan nafas. Pada stadium ini aritmia jantung pun dapat terjadi.
Pupil dilatasi sebagai tanda peningkatan tonus simpatis. Stadium 2 adalah stadium yang
berisiko tinggi
c) Stadium (stage) 3: disebut juga stadium pembedahan (surgical anesthesia), dibagi atas
empat plana (planes), yaitu:
Plana 1: mata berputar, kemudian terfiksasi.
Plana 2: refleks kornea dan refleks kornea hilang.
Plana 3: dilatasi pupil, refleks cahaya hilang.
Plana 4: kelumpuhan otot interkostal, pernafasan menjadi abdominal dan dangkal
Pada stadium ini otot-otot skeletal akan relaks, pernafasan menjadi teratur. Pembedahan
dapat dimulai
6

d) Stadium (stage) 4: merupakan stadium overdosis obat anestetik. Anestesia menajdi terlalu
dalam. Terjadi depresi berat semua sistem tubuh, termasuk batang otak. Stadium ini letal.

Gambar 1. Stadium-stadium anestesia
Anestesia modern telah berkembang menjadi prosedur yang mengutamakan keselamatan
pasien. Obat induksi masa kini bekerja cepat dan melampaui stadium 2. Sekarang hanya
dikenal tiga stadium dalam anestesia umum, yaitu induksi, rumatan (maintenance), dan
emergence.
2.5 Manajemen perioperatif-perianaestesia
Keseleruhan prosedur anestesia dimulai sejak periode pra-anestesia / prabedah dan diakhiri
pada periode pasca-anestesia/pascabedah. Ketiga periode ini dikenal dengan periode
perioperatif. Karena hal ini sangat penting, telah berkembang menjadi imu tersendiri, yaitu
perioperative medicine. Tujuan utama perioperative medicine adalah untuk mempersiapkan
pasien seoptimal mungkin serta meminimalkan komplikasi anestesia dan/atau pembedahan
yang akan dijalani.



7

2.5.1 Periode prabedah
Pada periode ini tujuan utamanya adalah mencari kemungkinan penyulit anestesia atau
tindakan pembedahan. Harus diketahui riwayat kesehatan pasien dan pemakaian obat-obatan.
Beberapa obat harus diteruskan hingga pagi sebelum operasi, namun ada pula obat yang
sudah harus dihentikan pemberiannya satu minggu sebelum pembedahan.
Salah satu yang dapat menyebabakan penyulit anestesia adalah kelainan anatomi, terutama
anatomi jalan nafas. Kelainan fungsi tubuh dan penyakit penyerta juga perlu diketahui karena
akan berhubungan dengan pilihan teknik dan obat anestetik. Penyakit kardiovaskuler adalah
di antara kelainan perioperatif yang sering menimbulkan komplikasi perioperatif. Penyakit
lain yang sering menimbulkan morbiditas bahkan mortalitas perioperatif adalah penyakit
paru, ginjal dan diabetes.
Infeksi akut harus diatasi dulu sebelum operasi elektif. Infeksi kronik yang masih aktif pun
perlu disikapi dengan hati-hati. Harus pula diketahui biohazard lain pada pasien, misalnya
hepatitis B, HIV, sifilis dan lain-lain.
Secara garis besar, dibawah ini adalah hal-hal yang biasa dikerjakan ketika melakukan
kunjungan pra-anestesia.
Anamnesis :
a) Identitas pasien penting untuk menghindari kesalahan pasien
b) Riwayat penyakit yang diderita, termasuk riwayat pengobatan. Perlu ditanyakan juga
alergi yang dimiliki dan pencetus serta obat yang biasa digunakan untuk mengatasinya.
c) Gaya hidup dan kebiasaan, misalnya kebiasaan meorkok, minum alkohol atau
penggunaan obat-obat rekreasional (misalnya metafemtamin, heroin, kokain).
d) Riwayat kematian anggota keluarga di atas meja operasi.perlu diingat jenis kematian yang
dapat merupakan informasi penting adalah kematian selama operasi denga anestesia
inhalasi, dengan gejala kekakuan otot disertai panas tinggi.
Pemeriksaan fisik :
a) Kemungkinan kesulitan ventilasi dan intubasi dapat diperkirakan dari bentuk wajah.
Leher pendek dan kaku, jarak tiro-mental, lidah besar, maksila yang protrusif, gigi geligi
yang goyah, dan sebagainya.
8

b) Pasien sesak nafas dapat dilihat dari posisi berbaring (setengah duduk atau menggunakan
bantal yang tinggi), frekuensi nafas, jenis pernafasan dan tingkat saturasi HbO
2
dari pulse
oxymeter. Pengamatan dan pemeriksaan laiin penting karena terkadang pasien mengaku
tidak sesak.
Status fisik :
Status fisik (physical status) menggambarkan tingkat kebugaran pasien untuk menjalani
anestesia. Klasifikasi status fisik yang disusun oleh American Society of Anesthesiologist
(ASA) telah dikenal dan digunakan secara luas di dunia.
Status fisik menurut klasifikasi ASA :
Kelas I : Pasien sehat yang akan menjalani operasi.
Kelas II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang, tanpa pembatasan
aktivitas.
Kelas III : Pasien dengan penyakit sistemik berat yang membatasi aktivitas rutin.
Kelas IV : Pasien dengan kelainan sistemik berat yang menyebabkan ketidakmampuan
melakukan aktivitas rutin, yang mengancam nyawanya setiap waktu.
Kelas V : Pasien tidak ada harapan, dengan atau tanpa pembedahan diperkirakan akan
meninggal dalam 24 jam.
Puasa
Lamanya puasa hendaknya disesuaikan dengan umur pasien, kondisi fisik dan rencana
operasinya. Pada umumnya pasien dewasa ememrllukanw aktu 6-8 jam untuk mengosongkan
lambung dari makanan padat. Anak besar perlu 4-6 jam, sedangkan anak kecil dan bayi 4
jam. Tujuan puasa adalah demi keselamatan pasien karena dapat mencegah terjadinya
pneumonia aspirasi yang dapat fatal. Jika psien rentan terhadap kondisi dehidrasi (misalnya
pasien polisitemia), perlu dipertimbangkan memberikan cairan intravena selama periode
puasa ini.

9



Premedikasi
Tujuan utama pemberian premedikasi adalah untuk mencegah atau setidaknya
meminimalisasi kemungkinan penyulit anetesia dan komplikasi pasca-anestesia. Bergantung
kepada tujuan dan sifat obatnya, premedikasi dapat diberikan malam sebelum operasi atau
beberapa jam sebelum anestesia. Obat-obat yang diberikan oleh dokter lain dan tidak terkait
dengan prosedur anestesia bukanlah premedikasi. Obat premedikasi diberikan oleh dokter
anetesiologis, cara pemberian obat premedikasi pun dapat melalui berbagai rute, termasuk
inhalasi.
Obat yang sering diberikan untuk premedikasi
Benzodiazepin
Di antara obat-obat golongan ini adalah diazepam, termazepam, lorazepam dan midazolam.
Benzodoazepin memiliki bberapa efek yakni ansiolitik, sedatif dan amnesia. Benzodiazepin
dapat menimbulkan efek ansiolitik pada dosis yang tidak menimbulkan efek sedasi. Efek
signifikan kasrdiovaskular dari midazolam terjadi berhubungan dengan benzodiazepine
induced peripheral vasodilation. Waktu pulih dari midazolam meningkat pada pasien usia
lanjut, obesitas dan penyakit hati berat.
Opioid
Pemberian opioid dapat menimbulkan sedasi, bukan karena efek asniolitik melainkan karena
depresi susunan saraf pusat. Opioid (dan opiat) adalah analgetik. Opiat atau opioid dengan
waktu paruh yang panjang dapat pula memberikan efek analgesia pascaoperasi.
Fenotiazin
Pada umumnya obat golongan ini menimbulkan sedasi dan ansiolitik, mempunyai efek
antiemetik, juga merupakan antagoni H
2
, dan antikolinergik. Oleh karenanya sering dipilih
untuk digunakan sebagai premedikasi.
Antikolinergik
10

Antikolinergik adalah obat yang memblokade neurotransmiter asetilkolin dengan cara
inhibisi kompetitif. Obat-obat ini menginhibisi tonus parasimpatis, dengan konsekuensi
menurunkan tonus otot polos di saluran cerna, saluran kemih dan sebagainya.
Contoh obat-obat golongan ini adalah atropin, glikopirolat, difenhidramin, dimenhidrinat,
ipratropium bromida.
-blocker
Penggunaan -blocker sebagai premdikasi dimaksudkan untuk menghambat respon
hemodinamik akibat stimulus nosiseptif (laringoskopi dan intubasi) serta menghambat respon
stress neuroendokrin. Harus diingat obat golongan ini tidak mempunyai komponen analgesia.
Kerjanya pada hemodinamika adalah pada reseptor-reseptor di sistem kardiovaskuler.
Klonidin dan deksmedetomidin
Obat-obat ini merupakan agonis
2
yang dapat mempotensiasi anestesia dengan mnurunkan
aktivitas noradrenergik pusat serta simpatolitik.
Antagonis reseptor H
2
, inhibitor pompa proton.
Proton pump inhibitor seperti omeprazol, lansoprazol dan pantoprazol bekerja pada sel
parietal lambung, berikatan dengan menghambat pompa proton sehingga menghambat sekresi
asam lambung. Penggunaannya pada premedikasi adalah sebagai profilaksis aspirasi asam
lambung pada anestesi umum.
Antagonis serotonin
Serotonin atau 5-hidroksitriptamin (5-HT) adalah neurotransmiter monoamin. Antagonis
reseptor 5HT hampir semuanya adalah antiemetik. Penggunaan rutin sebagai profilaksis anti
mual dan muntah dianjurkan sebelum induksi dan pascabedah terutama pada pasien dengan
riwayat mual muntah, pasien menjalani pembedahan yang berisiko tinggi menyebabkan
nausea seperti laparoskopi, serta operasi yang memerlukan pencegahan mual muntah seperti
pada bedah saraf atau operasi mata.
Metoklorpropamid
11

Metoklorpropamid bekerja sebagai cholinomimetic yang memfasilitasi transmisi asetilkolin
pada reseptor muskarinik selektif. Efektif pada pasien dengan gastropati diabetikum, gastro-
esophageal reflux disease (GERD) dan pencegahan peumonia aspirasi.

Sesungguhnya obat premedikasi idaman adalah obat tunggal yang memiliki efek ansiolitik,
mengurangi sekresi saluran nafas, antiemetik, mencegah refleks-refeks yang tidak diinginkan,
mempunyai efek amnesia, memiliki komponen analgetik serta tidak memiliki efek yang tidak
diinginkan. Sayangnya, hingga saat ini belum ada obat seideal ini, oleh karena itu dapat
diterima jika lebih dari satu obat diberikan sebagai premedikasi.
2.5.2 Periode intrabedah
Persiapan anestesia
Berbagai persiapan harus dilakukan sebelum pasien tiba. Untuk kepentingan praktis, akronim
STATICS sangat dikenal.
Hal pertama yang harus dilakukan ketika masuk ke ruangan bedah adalah memstikan sumber
listrik terpasang pada peralatan elektronik. Lampu ruangan, mesisn anestesia, berbagai alat
pantau, mesin penghangat tempat tidur/blanket roll, infusion pumps, syringe pumps,
defibrilator, dan sebagainya adalah peralatn elektronik yang harus dipstikan berfungsi.
Sumber gas terutama O
2
harus disambungkan dengan mesin anestesia. Setelah semua gas
diperiksa, harus dipastikan tidak ada kebocoran pada sirkuit nafas. Diperiksa juga kondisi
APL valve (adjustable pressure-limiting valve), yaitu katup yang dapat diatur untuk
mengeluarkan gas ke udara luar jika tekanan di sirkuit nafas telah tinggi.
Berikutnya adalah menyiapkan STATICS. Ini adalah akronim untuk memudahkan mengingat
kelengkapan alat yang harus disediakan sebelum anestesia
S = Scope. Yang dimaksud adalah laringoskop dan stetoskop. Laringoskop harus diperiksa
lampunya cukup terang atau tidak. Stetoskop diperlukan untuk konfirmasi bunyi nafas paru
kanan-kiri setelah intubasi endotrakeal.
T = Tubes. Yang dimaksud adalah endotracheal tube (ETT). ETT disiapkan dengan ukuran
yang sesuai, disertai satu ukuran di bawahnya dan satu ukuran di atasnya.
12

A = Airway. Yang dimaksud dengan airway adalah alat-alat untuk menahan lidah agar tidak
jatuh, yaitu pipa orofaringeal Guedel atau pipa nasofaringeal.
T = Tapes. Tapes adalah pita atau plester yang akan digunakan untuk memfiksasi ETT.
I = Introducer, yaitu kawat atau tongkat kecil yang dimasukkan ke dalam ETT untuk
memudahkan tindakan intubasi.
C = Connector, yaitu penghubung antara ETT dengan sirkuit nafas.
S = Suction. Di samping mesin anestesia harus tersedia mesin penghisap yang berguna untuk
membersihkan jalan nafas ketika laringoskopi-intubasi, selama anestesia berlansung dan
menjelang atau sesudah ekstubasi.
Pemantauan dan pencatatan
Semua perubahan selama anestesia dicatat dalam rekam medis anestesia (anesthesia
medical record). Tanda-tanda vital dicatat dala interval waktu tertentu, misalnya tiap 5 atau
10 menit. Demikian juga obat-obat yang digunakan, dosis, waktu pemberian. Jumlah dan
jenis cairan yang diberikan juga dicatat. Transfusi produk darah, jika ada, dicatat jenis dan
jumlahnya. Produksi urin diamai dan dicatat. Jika dilakukan pemeriksaan laboratorium
inoperatif pun dicatat waktu dan hasilnya.
2.5.3 Periode pasca bedah
Pasien yang sejak prabedah sudah direncanakan mwnjalani perawatan di ICU/PACU, begitu
operasi usai harus segera dibawa menuju ruang tersebut, jika kondisinya memungkinkan.
Semua pasien yang tidak memerlukan perawatan intensif di ICU/PACU, harus diobservasi di
ruang pulih. Pemantauan standar dilakukan sesuai kriteria Aldrette. Kriteria Aldrette original
adalah:
Tabel 1. Skor Aldrette original
Kriteria Skor Kondisi
Aktivitas 2

1
0
Mampu menggerakkan keempat ekstremitas dengan/tanpa
perintah
Mampu menggerakkan dua ekstremtias dengan/tanpa perintah
Tidak dapat menggerakkans emua ekstremitas
13

Respirasi 2
1
0
Mampu bernafas dalam dan batuk
Dispnea atau nafas terbatas
Apnea
Sirkulasi 2
1
0
TD 20 % dari nilai pra-anestesia
TD 20 - 50 % dari nilai pra-anestesia
TD %0 % dari nilai pra-anestesia
Kesadaran 2
1
0
Sadar penuh
Bangun ketika dipanggil
Tidak berespon
Warna 2
1
0
Merah muda
Pucat, ikterik, atau lainnya
Sianosis

Sekarang sering digunakan kriteria Aldrette yang dimodifikasi, yaitu:
Tabel 2. Modifikasi Skor Aldrette
Kriteria Skor Kondisi
Aktivitas 2
1
0
Mampu menggerakkan 4 ekstremitas dengan/tanpa perintah
Mampu menggerakkan 2 ekstremtias dengan/tanpa perintah
Tidak mampu menggerakkan semua ekstremitas
Respirasi 2
1
0
Mampu bernafas dalam dan batuk dengan bebas
Dispnea, nafas dangkal atau terbatas
Apnea
Sirkulasi 2
1
0
TD 20 mm dari nilai pra-anestesia
TD 20 50 mm dari nilai pra-anestesia
TD 50 mm dari nilai pra-anestesia
Kesadaran 2
1
0
Sadar penuh
Bangun jika dipanggil
Tidak berespon
Saturasi O
2
2
1
0
Mampu mempertahankan saturasi O
2
> 92% dengan udara kamar
Memerlukan inhalasi O
2
untuk mempertahankan saturasi O
2
> 92%
Saturasi O
2
< 90% meski dengan suplemen O
2

Untuk dapat dikeluarkan dari ruang pulih diperlukan nilai 9.
14

Penyebab tersering morbiditas pascabedah adalahh analgesia yang tidak adekuat dan
hipoksia. Hipoksia pascabedah dapat merupakan akibat tingginya konsumsi/kebutuhan O
2

(misalnya akibat shivering/menggigil atau akibat takikardia), dapat pula akibat turunnya
suplai O
2
. Komplikasi pasca-anestesia yang juga sering terjadi adalah mual-muntah (post
operative nausea and vomitus, PONV).
2.6 Manajemen jalan nafas, ventilasi dan oksigenasi
Dalam keadaan terhipnosis, kemampuan pasien untuk mempertahankan patensi jalan
nafasnya dapat terganggu. Sumbatan jalan nafas tersering pada pasien tak sadar adalah
jatuhnya pangkal lidah. Sumbatan jalan nafas lain dapat disebabkan sekret jalan nafas yang
tidak dapat keluar dengan mekanisme batuk. Sumbatan jalan nafas, meskipun parsial dapat
menyebabkan penumpukan CO
2
(hiperkarbia) dan gangguan oksigenasi (hipoksia).
2.6.1 Hipoksia
Hipoksia adalah istilah umum kurangnya konsentrasi O
2
tubuh. Jika kondisi ini terbukti di
dalam darah arteri, disebut hipoksemia. Terapi hipoksia hanya satu, yakni pemberian
suplemen O
2
. Terapi O
2
dapat melalui berbagai cara dan alat.
2.6.2 Ventilasi
Ventilasi sebenarnya emrupakan salahs atukomponen respirasi, yaitu respirasi eksternal.
Ventilasi menggambarkan keluar-masuknya udara pernafasan yang dikenal dengan volum
tidal. Banyaknya udara yang keluar-masuk dalam semenit disebut ventilasi semenit.
MV = TV x RR
MV = minute ventilation
TV = tidal volume
RR = respiratory rate
Tingginya konsentrasi CO
2
(di dalam darah arteri maupun dalam udara ekspirasi)
mencerminkan kegagalan ventilasi. Hal ini disebabkan satu-satunya jalan keluar CO
2
dari
tubuh adalah melalui ventilasi. Hiperkarbia tidak selalu terjadi bersamaan dengan hipoksia.
Jadi gagal ventilasi dapat terjadi meskipun tidak dijumpai hipoksia. Oleh karena itu tidak
15

tepat jika gagal ventilasi diterapi dengan pemberian O
2
. Penanganan gagal ventilasi adalah
dengan mengusahakan peningkatan volum semenit.
2.7 Alat bantu pernafasan
2.7.1 Pipa endotrakeal (endotracheak tube, ETT)
Pemberian ventilasi mekanik dapat melalui bag-mask, melalui pipa endotrakeal
(endotracheal tube, ETT) atau melalui sungkup laring (laryngeal mask airway, LMA).
Pemberian ventilasi mekanik dengan cara memompa gas melalui sungkup muka (bag and
mask ventilation) tidak dapat dilakukan untuk jangka lama. Ventilasi cara ini biasanya hanya
persiapan sebelum manajemen definitif jalan nafas dengan ETT atau LMA.
Komplikasi intubasi endotrakeal
Meskipun prosedur ini sangat penting dalam anestesia, salah satu komplikasi tersering
anestesia berhubungan dengan laringoskopi dan intubasi.sebagian besar komplikasi jalan
nafas adalah akibat trauma, baik karena tindakan langsung maupun karena penggunaan alat
bantu pernafasan yang lama. Tindakan laringoskopi sangat berisiko menyebabkan spasme
laring (laringospasme), terutama jika anestesia (atau analgesia) tidak adekuat. Spasme laring
sebenarnya adalah refleks protektif berupa addusi pita suara, mengakibatkan obstruksi jalan
nafas. Terpai tercepat laringospasme adalah ventilasi tekanan positif dengan O
2
100%.
2.7.2 Sungkup laring (laryngeal mask airway)
Laryngeal mask airway (LMA) adalah penemuan dan hasil kreasi dr. Archie Brain, seorang
anestesiologis dari Inggris. Ujung LMA yang terbuat dari karet akan berada pada posterior
laring, menutup pangkal esofagu. Lubangnya di bagian anterior akan berada tepat di depan
rima glotis. Oleh karena LMA tidak dimasukkan melalui pita suara, dengan sendirinya
kurang iritatif terhadap saluran nafas dan kurang traumatik. Kerugiannya, jalan nafas idak
sepenuhnya terlindung.
2.8 Obat-obat anestetik umum
Anestesia umum dilakukan dengan pemberian obat-obat anestetik inhalasi atau intravena,
atau kombinasi keduanya. Pada umumnya obat anestetikdapat digunakan untuk induksi
anestesia dan diteruskan untuk fase rumatan.

16

Tiopental
Obat ini bekerja sebagai modulator GABA di SSP. Awitan sangat cepat dan durasinya
pendek.
Propofol
Bekerja dengan meningkatkan tonus GABA di SSP. Awitan sangat cepat dan dursinya sangat
singkat.
Ketamin
Bekerja dengan menghambat reseptor NMDA, dikenal dengan anestetika disosiatif.
Midazolam
Golongan benzodiazepin yang sangat sering digunakan dalam anestesia, mempunyai awitan
yang cepat. Efek lainnya adalah amnesia anterigard.
Opioid
Reseptor opioid terdapat pada terminal prasinaps serabut nosiseptik C dan A-delta. Jika
diaktivasi akan mneginhibisi kanal Ca yang bergantung voltase, menurunkan cAMP dan
memblokade neurotransmiter nyeri seperti glutamat dan substansi P dari serabut-serabut
nosiseptif, dengan hasil akhir analgesia. Opioid mengaktivasi reseptor prasinaps neuron-
neuron GABA, menghambat pengelepasan GABA. Opioid juga mengantagonis reseptor
NMDA. Opioid sekarang menjadi ajuvan pada anestesia regional.
Pelumpuh otot.
Pelumpuh otot bekerja pada muscle-end plate, menghalangi kontraksi otot skeletal. Obat ini
sangat berguna untuk memfasilitasi laringoskopi dan intubasi serta memungkinkan
pengambilalihan pernafasan pasien secara total.