Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Sel tumbuhan memperlihatkan variasinya yang sangat besar dalam hal
ukuran dan strukturnya, perbedaan-perbedaan itu merefleksikan fungsi yang
beragam dari sel-sel tersebut dalam fisiologi tumbuhan yang bersangkutan.
Sekelompok sel yang secara esensial melakukan fungsi yang sama dan umumnya
mempunyai struktur yang sama disebut jaringan. Suatu organ, misalnya daun atau
akar, tersusun dari jaringan. Biasanya dalam suatu organ berbagai jaringan itu
melakukan fungsi-fungsi yang saling berhubungan (Setjo dkk, 2004).
Jaringan diklasifikasikan menurut dasar yang berbeda, dapat dari asal usul,
struktur atau fisiologi. Salah satu klasifikasi yang lazim, berdasar aspek
morfologis dan fisiologis yaitu jaringan meristematik (muda) dan jaringan
permanen (dewasa) (Setjo dkk, 2004).
Pada tanaman tingkat tinggi proses pertumbuhan silih berganti dengan
proses reproduksi, sedangkan pada tanaman yang mempunyai tingkatan rendah,
reproduksi dapat berarti satu sel tumbuh menjadi banyak sel (Dwidjoseputro,
1989).

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah struktur dan fungsi jaringan yang ada pada tumbuhan?
Apa sajakah organ yang menyusun tumbuhan?
Bagaimanakah pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan?
Bagaimanakah reproduksi pada tumbuhan?
Bagaimanakah penjelasan tentang kultur jaringan sebagai salah satu bentuk
bioteknologi tumbuhan?

1.3 Tujuan Penulisan Makalah
Mengetahui struktur dan fungsi jaringan yang ada pada tumbuhan.
Mengetahui organ yang menyusun tumbuhan.
Mengetahui pertumbuhan dan perkembangan pada tumbuhan.


2

Mengetahui reproduksi pada tumbuhan.
Mengetahui kultur jaringan sebagai salah satu bentuk bioteknologi tumbuhan.
































3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Jaringan Pada Tumbuhan

1. Jaringan Meristematik (muda)
Jaringan meristem adalah jaringan yang selalu membelah. Jaringan meristem
terdapat pada ujung batang dan akar sehingga sering disebut meristem apikal.

2. Jaringan Permanen (dewasa)
Jaringan dewasa adalah jaringan yang telah mengalami diferensiasi. Berdasarkan
bentuk dan fungsinya, jaringan dewasa dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, yaitu jaringan epidermis, parenkim, kolenkim, sklerenkim, pengangkut,
dan gabus.

a. Jaringan Epidermis
Jaringan epidermis adalah jaringan paling luar yang menutupi seluruh
permukaan tubuh tumbuhan. Jaringan ini berfungsi untuk melindungi
jaringan di dalamnya dan sebagai tempat pertukaran zat.
Dinding luar sel epidermis sering agak tebal dan ditutup oleh lapisan kutin,
sel penutupnya biasanya tidak berwarna (Setjo dkk, 2004).
Terdapat pula derivat epidermis yaitu perubahan struktur epidermis
dimana fungsinya juga ikut berubah. Beberapa macam derivat jaringan
tumbuhan antara lain:
- Stomata
Merupakan derivat epidermis yang berfungsi sebagai jalan masuknya O2
dan CO2 dari udara , Sebagai jalan penguapan (transpirasi), Sebagai jalan
pernafasan (respirasi)






4





- Trikoma
Merupakan alat tambahan pada epidermis yang berupa tonjolan/rambut





- Sel Kipas / Bulliform Cell
Merupakan sel yang berfungsi dalam proses pembukaan gulungan daun
dalam tunas dan untuk mengurangi penguapan yang berlebihan.






- Sel silika dan sel gabus
Fungsi sel silika dan sel gabus yang berfungsi untuk memperkuat batang
dan kulit batang menjadi keras.
- Litokis
Merupakan derivat epidermis yang terdapat di dalam mesofil daun.

b. Jaringan Parenkim
Jaringan parenkim sering disebut jaringan dasar karena terbentuk dari
meristem dasar. Jaringan ini terletak di sebelah dalam jaringan epidermis.
Sel-sel parenkim biasanya bundar, oval, silindris, dengan vakuola besar
dalam setiap sel, dinding sel sangat tipis, dan biasanya terdapat ruang antar
sel (setjo dkk, 2004). Fungsinya yaitu untuk menyimpan air dan cadangan


5

makanan. sel-sel parenkim ada yang memiliki klorofil yang disebut
klorenkim. Contoh parenkima penghasil makanan adalah parenkima daun
yang memiliki kloroplas dan dapat melakukan fotosintesis. Parenkima yang
memiliki kloroplas disebut sklerenkima. (Kistinnah, 2009).

c. Jaringan Kolenkirm
Kolenkim merupakan jaringan penyokong atau penguat pada organ tubuh
tumbuhan muda dan tanaman herba. Kolenkim merupakan sel hidup dan
sifatnya mirip parenkim. Dinding sal kolenkima mengandung selulosa,
pektin, dan hemiselulosa. Dinding sel kolenkima mengalami penebalan yang
tidak merata. Penebalan itu terjadi pada sudut-sudut sel, dan disebut
kolenkima sudut. (Kistinnah, 2009).
Kolenkim menjadi terdiferensiasi sebagai jaringan penguat yang paling
awal dan karenanya kolenkim terdapat di bagian tumbuhan yang lebih muda,
demikian pula terdapat di bagian yang lebih tua (Setjo dkk, 2004).

d. Jaringan Sklerenkim
Sklerenkim merupakan jaringan penguat yang terdiri atas sel mati.
Dinding sel sklerenkim sangat kuat, tebal, dan mengandung lignin.
Berdasarkan bentuknya, sklerenkim dibagi menjadi dua macam, yaitu serabut
dan sklereid (sel batu). Serabut atau serat berasal dari jaringan meristem,
umumnya terdiri atas sel-sel yang panjang dan bergerombol membentuk
anyaman atau pita. Contohnya, pelepah daun pisang. Sedangkan, sklereid
merupakan jaringan sklerenkim yang bentuk selnya membulat dengan
dinding sel yang mengalami penebalan. Contohnya, tempurung kelapa atau
kulit biji keras. (Setjo dkk, 2004).

e. Jaringan Pengangkut
Jaringan pengangkut atau jaringan pembuluh, merupakan jaringan
tumbuhan yang berfungsi untuk pengangkutan zat. Jaringan ini dibagi
menjadi dua macam,yaitu floem dan xilem. Floem berfungsi untuk
mengangkut zat makanan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh tubuh.


6

Sedangkan, xilem berfungsi untuk mengangkut air dan mineral dari akar ke
daun dan bagian tubuh lainnya. Xilem tersusun dari trakeida, buluh kayu, sel-
sel jejari, serabut, dan parenkima xilem. Floem tersusun dari dua tipe sel,
yaitu sel tapis dan parenkima floem, selain itu terdapat pula sel pengiring, sel
jejari dan sel serabut (Setjo dkk, 2004).
f. Jaringan Gabus
Jaringan gabus merupakan jaringan yang tersusun atas sel-sel gabus yang
berbentuk memanjang. Protoplasma sel gabus mati sangat awal setelah sel-sel
itu dibentuk oleh kambium gabus, dengan demikian sel gabus yang dewasa
mati (Setjo dkk, 2004).
Jaringan gabus ini berfungsi melindungi jaringan lain yang terdapat di
bawahnya agar tidak terlalu banyak kehilangan air. Oleh karena itu, sel gabus
biasanya ditemukan di permukaan luar batang. (Nugroho dkk, 2010).

2.2 Organ Pada Tumbuhan

1. Akar
Akar berdasarkan atas asalnya dibagi menjadi duan kategori yaitu (1) akar
primer, akar normal , akar yang bersal dari lembaga dan biasanya tetap
sepanjang hidup dan (2) akar liar atau akar adventif yang muncul secara
sekunder dari batang, daun atau jaringan lain yang mungkin permanen atau
sementara. Anatomi akar dari berbagai aspek lebih sederhana daripada batang
dan susunannya lebih seragam (Susetyo Setjo, 2004). Akar memiliki fungsi
untuk menyerap air dan nutrisi, memperkokoh tumbuhan, sebagai penyimpan
cadangan makanan, dan ada juga yang berfungsi untuk respirasi pada tumbuhan
tertentu. (Nugroho dkk, 2010).
Pada tumbuhan dikotil dan monokotil, ujung akarnya dilindungi oleh
tudung akar atau kaliptra agar akar tidak rusak saat menembus lapisan tanah.
Pada tumbuhan dikotil, akar lembaga terus tumbuh sehingga dihasilkan akar
tunggang. Sedangkan, pada tumbuhan monokotil akar lembaga mati sehingga
tidak bisa tumbuh. (Setjo dkk, 2004).


7

Berikut adalah penampang melintang akar dikotil dan monokotil dapat dilihat di
gambar berikut ini :









2. Batang
Batang merupakan bagian sumbu tumbuhan yang biasanya tegak ke atas
dan berhubungan dengan udara serta membawa daun-daun dan struktur
reproduktif. Terdiri atas buku dan ruas yang jelas dan memiliki perbedaan secara
mendasar dengan akar dalam hal struktur vaskularnya. Perbedaan tersebut
terletak pada susunan xilem dan floemya yaitu pada letak jejari (Setjo dkk,
2004). Batang berfungsi sebagai penyokong tumbuhan tersebut, sarana
transportasi atau pengangkut, penyimpan cadangan makanan, membantu proses
respirasi yaitu melalui lentisel. (Soerodikoesoemo dkk, 1993)

a. Batang Dikotil
Berikut ini merupakan penampang melintang batang dikotil.






Pada epidermis tumbuhan dikotil ada yang membentuk lentisel yang
berfungsi sebagai tempat keluar masuknya udara pada tumbuhan. Batang
tumbuhan dikotil memiliki lingkaran tahun hal ini disebabkan oleh aktivitas


8

kambium yang menyebabkan pertumbuhan membesar. Tipe ikatan pembuluh
pada batang dikotil yaitu kolateral terbuka karena antara xilem dan floem
terdapat kambium. (Soerodikoesoemo dkk, 1993).

b. Batang Monokotil
Berikut merupakan penampang melintang batang monokotil dan batang
dikotil:







Tipe ikatan pembuluh pada batang monokotil yaitu kolateral tertutup karena
letak xilem dan floem berdampingan tidak dibatasi oleh kambium
menyebabkan pertumbuhan monokotil hanya memanjang.

Batang dapat memiliki fungsi tambahan, yang berakibat pada berubahnya
bentuk (morfologi) dari bentuk dasar menjadi bentuk yang lain. Berikut adalah
beberapa bentuk modifikasi batang.
- Rhizoma, berfungsi sebagai alat perkermbangbiakan vegetative, contohnya
pada tanaman jahe.
- Tuber (umbi batang), berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan
makanan, contohnya pada tanaman kentang.
- Bulbus (umbi lapis), berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan
makanan dan alat perkembangbiakan vegetative, contohnya pada bawang
merah.
- Runner, tumbuh sebagai tunas aksilaris batang (tunas ketiak batang).
- Stolon, tunas yang tumbuh atau timbul dari bagian dasar batang
Offset, tunas yang tumbuh dari ketiak daun (tunas aksilaris daun)
(Soerodikoesoemo dkk, 1993).


9


3. Daun
Daun merupakan organ tumbuhan yang berfungsi untuk fotosintesis. Hal
ini disebabkan karena daun memiliki zat hijau daun (klorofil) yang bisa
menyerap sinar matahari. Umumnya ada dua tipe daun, yaitu (1) daun
dorsiventral atau bifasial yang tumbuh dalam arah horisontal dengan permukaan
atas dan bawah berbeda (umumnya pada tumbuhan dikotil) dan (2) daun
isobilateral disebut juga isolateral menggantung vertikal sehingga kedua
permukaan daun menerima sinar yang imbang (umumnya pada tumbuhan
monokotil) (Setjo dkk, 2004).
Secara anatomi, jaringan yang menyusun daun adalah epidermis, mesofil,
dan jaringan pembuluh.


a. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar yang menutup permukaan dan bawah
daun. Jaringan ini berfungsi melindungi jaringan daun di bawahnya. Biasanya
dilapisi kutikula untuk mencegah terjadinya penguapan air yang terlalu besar.
Epidermis tersusun atas berbagai tipe sel yaitu, sel epidermis yang menyusun
massa pokok jarigan epidermis, sel penutup stomata, biasanya didampingi sel
pengiring, berbagai trikoma, sel kipas, sel gabus, sel silika dan sel seperti serabut
(Setjo, 2004).
Epidermis dapat mengalami modifikasi menjadi stomata atau mulut daun
yang berfungsi untuk pertukaran udara. Pada tumbuhan darat, stomata ini
terletak di epidermis permukaan bawah daun, tetapi untuk tumbuhan air, seperti
teratai (Nelumbium nelumbo), stomatanya terletak di permukaan atas daun.
(Nugroho dkk, 2010).


10


b. Mesofil
Mesofil merupakan jaringan dassar yang dikelilingi epidermis atau yang
terletak diantara epidermis atas dan bawah, dan diantara tulang daun terdiri atas
parenkim berdinding tipis. Mesofil terdiri atas jaringan palisade dan jaringan
bunga karang (jaringan spons). Kedua jaringan ini banyak mengandung
kloroplas yang berperan sebagai tempat fotosintesis (Setjo dkk, 2004).
Jaringan palisade bentuknya memanjang, mengandung banyak kloroplas,
dan tersusun rapat. Jaringan ini terletak di bawah epidermis. Sedangkan, jaringan
bunga karang bentuknya beragam, tidak teratur, mengandung sedikit kloroplas,
dan tersusun renggang. Jadi, proses fotosinteis terjadi di jaringan palisade dan
hasilnya ditampung sementara di jaringan spons. Setelah itu, disebarkan ke
seluruh tubuh tumbuhan oleh jaringan pembuluh. (Nugroho dkk,2010).
c. Jaringan Pembuluh
Jaringan pembuluh atau pengangkut daun terdapat pada tulang daun. Pada
tulang daun terdapat urat-urat halus yang berperan sebagai pembuluh nadi dan
sebagai kerangka daun sehingga daun menjadi kuat. Jaringan pengangkut dibagi
menjadi dua, yaitu floem dan xilem. Susunan kedua jaringan ini sama seperti
susunan pada batangnya karena merupakan terusan dari jaringan pengangkut di
batang (Setjo dkk, 2004).

4. Bunga
Bunga merupakan alat perkembangbiakan pada tumbuhan Angiospermae.
Bunga merupakan alat perkembangbiakan karena di dalam bunga terdapat alat-
alat reproduksi, seperti benang sari, putik, dan kandung lembaga (Setjo, 2004).
Pada dasarnya, anatomi bunga tumbuhan monokotil dan dikotil adalah
sama, yaitu kelopak bunga (kaliks), mahkota bunga (corolla), benang sari
(stamen), putik, dan lembaga (ovarium). (Nugroho dkk,2010).



11


Kelopak bunga adalah bagian bunga terluar, terletak pada dasar bunga.
Kelopak ini berwarna hijau dan merupakan modifikasi dari daun. Bagian atau
lembaran kelopak bunga disebut juga daun kelopak (sepal). Mahkota dan
kelopak bunga sering disebut perhiasan bunga. Ukuran mahkota biasanya besar
dan berwarna-warni. Tumbuhan dikotil umumnya empat atau lima helai.
Sedangkan, pada tumbuhan monokotil tiga atau enam helai. (Nugroho
dkk,2010).


2.3 Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan

Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume yang bersifat irreversibel
(tidak dapat balik), dan terjadi karena adanya pertambahan jumlah sel dan
pembesaran dari tiap-tiap sel. Pada proses pertumbuhan biasa disertai dengan
terjadinya perubahan bentuk. Pertumbuhan dapat diukur dan dinyatakan secara
kuantitatif.
Perkembangan adalah proses menuju dewasa. Proses perkembangan
berjalan sejajar dengan pertumbuhan. Berbeda dengan pertumbuhan,
perkembangan merupakan proses yang tidak dapat diukur. Dengan kata
lain, perkembangan bersifat kualitatif, tidak dapat dinyatakan dengan angka.
Pada tanaman, pertumbuhan dimulai dari proses perkecambahan biji.
Perkecambahan dapat terjadi apabila kandungan air dalam biji semakin tinggi
karena masuknya air ke dalam biji melalui proses imbibisi. Apabila proses
imbibisi sudah optimal, dimulailah perkecambahan.


12

Struktur yang pertama muncul, yang menyobek selaput biji adalah radikula yang
merupakan calon akar primer. Radikula adalah bagian dari hipokotil. Pada
bagian ujung sebelah atas terdapat epikotil (calon batang). Berdasar letak
kotiledonnya, ada dua jenis perkecambahan yaitu tipe epigeal, dan tipe hipogeal.






Perkecambahan tipe hipogeal Perkecambahan tipe epigeal

Pertumbuhan primer dan pertumbuhan sekunder
Biji yang sudah berkecambah akan segera diikuti oleh pertumbuhan
primer karena pada pucuk dan ujung akar terdapat jaringan yang bersifat
meristematik (selalu membelah). Pemanjangan ujung akar dan ujung batang
tersebut disebut pertumbuhan primer. Pada tumbuhan dikotil terdapat jaringan
kambium yang merupakan meristem sekunder akan menyebabkan
terjadinya pertumbuhan sekunder (membesar). Kambium akan membelah ke
arah luar membentuk kulit kayu (floem), dan membelah ke arah dalam
membentuk kayu (xilem). Pada monokotil tidak terdapat kambium sehingga
hanya mengalami pertumbuhan primer saja. Pertumbuhan primer dan sekunder
berlangsung terus menerus selama tumbuhan tersebut hidup. (Nugroho
dkk,2010).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan :

a. Faktor luar meliputi:
- Nutrisi
Tumbuhan memerlukan unsur mineral dengan jumlah tertentu.
- Cahaya


13

Cahaya mutlak diperlukan oleh semua tumbuhan hijau untuk melakukan
fotosintesis, tetapi pengaruhnya terhadap pertumbuhan perkecambahan
tumbuhan adalah menghambat, karena cahaya dapat menyebabkan
terurainya auxin sehingga dapat menghambat pertumbuhan.

- Suhu
Secara umum, suhu akan berpengaruh terhadap kerja enzim. Bila suhu
terlalu tinggi, enzim akan rusak, dan bila suhu terlalu rendah enzim
menjadi tidak aktif.
- Kelembaban atau kadar air
Sampai pada batas-batas tertentu, makin tinggi kadar air, pertumbuhan
akan makin cepat. (Setjo dkk, 2004).


b. Faktor dalam
- Auksin : Auksin dibentuk oleh ujung batang dan ujung akar. Auksin yang
dihasilkan oleh ujung batang akan mendominasi pertumbuhan batang
utama, sehingga pertumbuhan cabang relatif sedikit.
- Giberelin : Hormon ini berfungsi mengatur pemanjangan batang (ruas
batang), juga pertumbuhan pucuk dan pembentukan buah. Secara umum
fungsi giberelin adalah untuk merangsang pertumbuhan meraksasa dan
terbentuknya buah tanpa biji (partenokarpi).
- Sitokinin : Hormon tumbuhan ini mempengaruhi pertumbuhan,
pengaturan pembelahan sel, dan pemanjangan sel. Konsentrasi sitokinin
dan auksin yang seimbang merupakan hal yang sangat penting dalam
pertumbuhan tanaman. Sitokinin sendiri tampaknya mempunyai peranan
dalam memperpanjang usia jaringan.


14

- Asam Absisat (= dormin) : Asam absisat ditemukan pada umbi-umbian
dan biji-biji yang dorman, beberapa jenis buah-buahan, daun, dan
jaringan tumbuhan lain. Secara fungsi asam absisat adalah mempercepat
penuaan daun, merangsang pengguguran daun, dan memperpanjang masa
dormansi (menghambat perkecambahan biji).
- Gas etilen : Gas etilen meningkatkan respirasi sehingga buah yang
asalnya keras dan masam, menjadi empuk dan berasa manis.
- Kalin: Kalin adalah hormon yang merangsang pembentukan organ tubuh.
Berdasarkan organ yang dibentuknya, kalin dibedakan atas:
- Kaulokalin : merangsang pembentukan batang
- Rhyzokalin : merangsang pembentukan akar. Sekarang telah diketahui
bahwa rhyzokalin identik dengan vitamin B1 (thiamin)
- Filokalin : merangsang pembentukan daun
- Antokalin : merangsang pembentukan bunga
- Asam traumalin : Tumbuhan memiliki kemampuan untuk memperbaiki
bagian yang luka, disebut daya restitusi atau regenerasi. Peristiwa ini
terjadi dengan bantuan hormon luka atau kambium luka atau asam
traumalin. (Setjo dkk, 2004).


2.4 Reproduksi Pada Tumbuhan
Pada prinsipnya kita mengenal dua cara reproduksi, yaitu reproduksi secara
vegetatif (aseksual) dan reprodusi secara generatif (seksual).

1. Reproduksi secara vegetatif (aseksual)
Dalam reproduksi vegetatif tidak diperlukan dua sel yang berbeda jenis
kelaminnya serta terjaminlah sifat-safat menurun artinya tiap tumbuhan baru
memiliki sifat yang serupa dengan induknya atau dengan kata lain tumbuhan
induk diabadikan dalam tumbuhan baru yang diturunkannya (Dwidjoseputro,
1989).
Pembiakan aseksual dapat berlangsung dengan berbagai cara, yaitu sebagai
berikut:


15

a. Dengan pembelahan
Pembelahan dilakukan terutama oleh golongan bakteri ddan golongan alga
biru bersel satu.
b. Dengan fragmentasi
Terutama alga yang bersel banyak dan alga yang berbentuk koloni berbiak
dengan melepaskan sebagian (fragment) dari tubuhnya. Juga beberapa
spesies dari Lichenes berbiak aseksual dengan framentasi.
c. Dengan pertunasan
Cara ini banyak dilakukan oleh tumbuhan berumpun (pisang, bambu),
agave, nenas dan sebagainya.
d. Dengan akar tongkat (rhizoma)
Banyak rumput-rumputan dan Zingiberaceae berbiak aseksual dengan akar
tongkat. Akar tongkat dapat pula dipandang sebagai suatu bentuk untuk
mengatasi keadaan yang buruk.
e. Dengan macam-macam umbi
Kentang berbiak aseksual dengan umbi batang (tuber), sedang bawang
dengan umbi lapis (bulbus).

2. Reproduksi Secara Generatif (seksual)
Pada reproduksi seksual diperlukan dua sel kelamin (gamet) yang berbeda
jenis. Perbedaan jenis tidak selalu mencangkup perbedaan morfologi seperti
sel telur (ovum) dan sel kelamin jantan (spermatozoida) yang pada umumnya
jauh lebih kecil (Dwidjoseputro, 1989).
Pada beberapa tumbuhan rendah didapati perkawinan antara dua sel
kelamin yang morfologinya tidak berbeda, dimana tidak dapat dibedakan
mana yang betina dan mana yang jantan. Pada tumbuhan biji
(spermatophyta) pembiakan seksual dilakukan dengan biji sebagai hasil
pembuahan sel telur oleh spermatozoida. Pembuahan dan perkawinan ini
disebut juga amfimiksis. Pembuahan sel telur didahului dengan peristiwa
penyerbukan yang dapat secara autogami (penyerbukan sendiri) dan
geitogami (penyerbukan tetangga (Dwidjoseputro, 1989).



16

2.5 Kultur jaringan sebagai salah satu biteknologi tumbuhan

Menurut Suryowinoto (1991) kultur jaringan dalam bahasa asing disebut
sebagai tissue culture, weefsel cultuus, atau gewebe kultur. Kultur adalah
budidaya dan jaringan adalah sekelompok sel yang mempunyai bentuk dan
fungsi yang sama.
Kultur jaringan digunakan sebagai istilah umum yang juga meliputi kultur
organ ataupun kultur sel. Istilah kultur sel digunakan untuk berbagai kultur yang
berasal dari sel-sel yang terdispersi yang diambil dari jaringan asalnya, dari
kultur primer, atau dari cell line atau cell strain secara enzimatik, mekanik, atau
disagregasi kimiawi. Terminologi kultur histotypic akan diterapkan untuk jenis
kultur jaringan yang menggabungkan kembali sel-sel yang telah terdispersi
sedemikian rupa untuk membentuk kultur jaringan.
Perkembangan teknologi kultur jaringan kini banyak diarahkan untuk
dapat memberikan simulasi proses biologis yang terjadi pada tubuh makhluk
hidup, sehingga tidak hanya digunakan untuk mempelajari proses atau
mekanisme yang terjadi pada sel, namun juga interaksi yang terjadi antara sel dan
lingkungan yang dapat diatur menyerupai berbagai keadaan fisiologis ataupun
patologis
Kultur jaringan termasuk ke dalam jenis perkembangbiakan vegetatif.
Bagian tumbuhan yang akan dikultur (eksplan) dapat diperoleh dari dari semua
bagian tumbuhan seperti pucuk, akar, meristem, bunga, bahkan serbuk sari.
Kultur jaringan lebih besar presentase keberhasilannya bila menggunakan
jaringan meristem (Hendaryono, 1994). Jaringan meristem adalah jaringan muda
yaitu jaringan yang terdiri atas sel-sel yang selalu membelah, dindingnya tipis,
belum mengalami penebalan dari zat pektin, plasmanya penuh dan vakuolanya
kecil-kecil. Kebanyakan jaringan meristem digunakan karena keadannya selalu
membelah sehingga diperkirakan mempunyai zat hormon yang mengatur
pembelahan.




17

Gambar 2. Jaringan Tumbuhan










(Sumber: Leavingbio, 2009)
Pelaksanaan teknik kultur jaringan berdasarkan teori sel yaitu mempunyai
kemampuan autonom bahkan mempunyai kemampuan totipotensi. Menurut
Suryowinoto (1991), totipotensi adalah kemampuan setiap sel, dari mana
saja sel tersebut diambil, apabila diletakkan dalam lingkungan yang sesuai
akan dapat tumbuh menjadi tumbuhan yang sempurna. Sifat totipotensi
merupakan potensi pada setiap sel penyusun jaringan dewasa untuk
mengadakan pembelahan dan membentuk individu baru. Sel-sel penyusun
jaringan dewasa (sel somatis) yang berada di bawah rangsangan tertentu
memiliki potensi untuk mengadakan pembelahan (embrionik) membentuk
kalus. Selanjutnya, kalus dibawah rangsangan tertentu memliki potensi untuk
berdiferensiasi menjadi individu baru multiselular melalui diferensiasi
(Haruna, 2009).

Macam-macam kultur jaringan
Berbagai bagian tanaman dapat digunakan sebagai eksplan dalam kultur
jaringan.
a. Kultur meristem, menggunakan jaringan pada akar, batang, serta daun yang
muda atau meristematik
b. Kultur anter, menggunakan kepala sari sebagai eksplan.


18

c. Kultur embrio, menggunakan embrio. Misalnya pada embrio kepala kopyor
yang sulit dikembangkan secara alamiah.
d. Kultur protoplas, meggunakan sel jaringan hidup sebagai eksplan tanpa
dinding.
e. Kultur kloroplas, menggunakan kroloplas. Kultur ini biasanya untuk
memperbaiki atau membuat varietas yang baru.
f. Kultur polen, menggunakan serbuk sari sebagai eksplannya.

Teknik kultur jaringan akan dapat berhasil dengan baik apabila syarat-
syarat yang diperlukan terpenuhi. Syarat-syarat tersebut meliputi pemilihan
eksplan sebagai bahan dasar untuk pembentukan kalus, penggunaan medium yang
cocok, keadaan yang aseptik, dan pengaturan udara yang terutama untuk kultur
cair. Meskipun pada prinsipnya semua jenis sel dapat ditumbuhkan, tetapi
sebaliknya dipilih bagian tumbuhan yang masih muda dan mudah tumbuh yaitu
bagian meristem, misalnya: daun muda, ujung akar, ujung batang, keping biji, dan
lain-lain (Hendaryono, 1994).


















19

BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan

1. Jaringan pada tumbuhan terdiri dari jaringan meristematik (muda)
dan jaringan permanen (dewasa). dapat dibedakan menjadi beberapa
macam, yaitu jaringan epidermis, parenkim, kolenkim, sklerenkim,
pengangkut, dan gabus.
2. Organ tumbuhan dibedakan menjadi akar, batang, daun, dan bunga
yang masing2 memiliki anatomi dan fisiologi yang berbeda-beda.
3. Pertumbuhan adalah proses kenaikan volume yang bersifat
irreversibel (tidak dapat balik), dan terjadi karena adanya
pertambahan jumlah sel dan pembesaran dari tiap-tiap sel sedangkan
perkembangan adalah proses menuju dewasa. Proses perkembangan
berjalan sejajar dengan pertumbuhan. Ada pula beberapa aktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan :
Faktor luar meliputi nutrisi, cahaya,suhu, kelembaban atau kadar air
sedangkan Faktor dalam meliputi berbagai macam hormone seperti
Auksin .Giberelin,Sitokinin,Asam Absisat,Gas etilen dll.
4. Pada tumbuhan terdapat dua cara reproduksi, yaitu reproduksi secara
vegetatif (aseksual) dan reprodusi secara generatif (seksual).
5. Kultur jaringan termasuk ke dalam jenis perkembangbiakan vegetatif.
Bagian tumbuhan yang akan dikultur (eksplan) dapat diperoleh dari
dari semua bagian tumbuhan seperti pucuk, akar, meristem, bunga,
bahkan serbuk sari.
6. Berbagai bagian tanaman dapat digunakan sebagai eksplan dalam
kultur jaringan. Macam-macam kultur jaringan yakni sebagai berkut :
Kultur meristem,Kultur protoplas, Kultur kloroplas dll.




20

DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro, D. 1980. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia.
Haruna. 2009. Totipotensi dan Kultur Jaringan (online), (http://curhat-
coret.blogspot.com, diakses tanggal 23 Agustus 2014).
Hendaryono, Daisy P. Sriyanti. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Kistinnah, Idun. 2009. Biologi 2 : Makhluk Hidup dan Lingkungannya. Jakarta :
Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
Leavingbio, 2010. Cell Diversity (online), (http://leavingbio.net, diakses tanggal
23 Agustus 2014).
Nugroho, L. Hartanto dkk,(2010), Struktur & Perkembangan Tumbuhan, Jakarta:
Penebar Swadaya.
Setjo, Setyoadi., Endang kartini., Murni saptasari., Sulisetijono. 2004. Anatomi
Tumbuhan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Soerodikoesoemo, Wibisono, dkk, 1993, Anatomi dan Fisiologi Tumbuhan,
Penerbit Universitas Terbuka, Depdikbud Jakarta.
Suryowinoto, M. 1991. Budidaya Jaringan dan Manfaatnya. Fakultas Biologi.
Universitas Gadjah Mada.Yogyakarta.