Anda di halaman 1dari 20

PENCEMARAN AIR DAN PENCEMARAN TANAH

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup
Yang dibina Ibu Mimien Henie Irawati





Oleh:
1. Eni Setyowati 120351410900
2. Mymo Putriani 120351410910
3. Vindy Foniastuti 120351410906



UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGAM STUDI PENDIDIKAN IPA
Oktober, 2014
BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan sumber daya alam yang
melimpah baik dalam hal biotik maupun abiotik. Unsur pendukung lingkungan yang
sangat penting yaitu tanah, air dan udara. Indonesia memiliki tanah yang sangat subur
karena berada di kawasan yang umurnya masih muda, sehingga di dalamnya banyak
terdapat gunung-gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda kembali
yang kaya akan unsur hara. Namun seiring berjalannya waktu, kesuburan yang dimiliki
oleh tanah Indonesia banyak yang digunakan tidak sesuai aturan yang berlaku dan tanpa
memperhatikan dampak jangka panjang yang dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut.
Air di Indonesia sangat melimpah sehingga lebih dari 50% kawasan Indonesia terdiri
dari air, hal ini karena Indonesia merupakan negara kepulauan. Air juga merupakan
komponen penting untuk menunjang kehidupan makhluk hidup. Melimpahnya air di
Indonesia kebanyakan tidak dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia.
Sebaliknya, masyarakat kebanyakan menyalahgunakan kelebihan ini dengan
mencemarinya. Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan ditempat penampungan
air antara lain: danau, sungai, lautan, dan air tanah akibat aktivitas manusia. Dalam
kehidupan sehari-hari masyarakat memerlukan air bersih untuk minum, memasak,
mencuci, dan keperluan lain. Air tersebut mempunyai standar 3B (tidak
berwarna,berbau,dan beracun). Dalam kehidupan sekarang, adakalanya masyarakat
melihat air yang berwarna keruh dan berbau serta bercampur dengan benda-benda
sampah antara lain: kaleng, plastik, dan sampah organik. Pemandangan seperti itu dapat
dijumpai pada aliran sungai, rawa, danau, dan kolam. Air yang demikian biasa disebut air
kotor atau disebut pula air yang terpolusi. Bagi masyarakat pedesaan, sungai adalah
sumber air sehari-hari. Sumber-sumber yang mengakibatkan air tersebut tercemar berasal
dari mana-mana. Contohnya limbah-limbah industri yang dibuang dan dialirkan ke
sungai. Semua akhirnya bermura di sungai dan pencemaran air ini dapat merugikan
manusia apabila mengkonsumsi air ini.




1.2 Rumusan Masalah
1. Apa hakikat pencemaran?
2. Apa hakikat pencemaran air?
3. Apa hakikat pencemaran tanah?
4. Bagaimana hubungan antara pencemaran air dan pencemaran tanah?
5. Bagaimana dampak pencemaran air dan tanah?
6. Bagaimana penanggulangan pencemaran air dan tanah?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui hakikat pencemaran
2. Mengetahui hakikat pencemaran air
3. Mengetahui hakikat pencemaran tanah
4. Mengetahui hubungan antara pencemaran air dan pencemaran tanah
5. Mengetahui dampak pencemaran air dan tanah
6. Mengetahui penanggulangan pencemaran air dan tanah












BAB II
Pembahasan
2.1 Hakikat Pencemaran
Interaksi manusia dengan lingkungan hidupnya merupakan suatu proses yang wajar
dan terlaksana sejak manusia itu dilahirkan sampai akhir hidupnya. Hal ini membutuhkan
daya dukung lingkungan untuk kelangsungan hidupnya. Dan tidak jarang akibat interaksi
tersebut menimbulkan masalah.
Masalah lingkungan hidup sebenarnya sudah ada sejak dahulu, masalah lingkungan
hidup bukanlah masalah yang hanya dimiliki atau dihadapi oleh negara-negara maju ataupun
negara-negara miskin, tapi masalah lingkungan hidup adalah sudah merupakan masalah dunia
dan masalah kita semua. Dan masalah lingkungan dapat menimbulkan gangguan
kesejahteraan, kesehatan bahkan jiwa manusia.
SK menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 2/MENKLH/1988 tentang
masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi dan atau komponen lain ke dalam
air/udara dan atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan
proses alam, sehingga kualitas air atau udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi
sesuai dengan peruntukkannya disebut juga pencemaran.
Dalam UU Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No.4 Tahun 1982, dijelaskan
bahwa pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makluk hidup, zat,
energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan atau berubahnya tatanan lingkungan
oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke
tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat Berfungsi
lagi sesuai dengan peruntukannya semula.
Menurut Marsun Pencemaran lingkungan adalah peristiwa terdapatnya bahan
dengan kadar tertentu sehingga menganggu kesejahteraan manusia, bahan yang dimaksudkan
dalam ketentuan diatas ialah bahan kimia, unsur atau persenyawaan, yang kemudian disebut
bahan pencemar, atau pollutan. Tetapi dalam ekologi pengertian bahan itu meliputi juga
tingkah laku manusia dan lain-lain hal yang bersifat menganggu kesejahteraan makahluk
hidup.
Pencemaran umumnya timbul oleh kegiatan manusia yang tidak memperhitungkan
keadaan ekosistem. Akibatnya manusia sendiri yang memperoleh kesukaran dan gangguan
dalam kehidupannya.
Kalsifikasi pencemaran:
1. Pencemaran terhadap udara
2. Pencemaran terhadap tanah
3. Pencemaran terhadap air
Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran di sebut polutan. Syarat-syarat
suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makluk
hidup. Suatu zat dapat disebut polutan apabila:
1. Jumlahnya melebihi jumlah normal.
2. Berada pada waktu yang tidak tepat.
3. Berada di tempat yang tidak tepat.

Sifat polutan adalah Merusak dalam waktu lama. Contohnya Pb tidak merusak bila
konsentrasinya rendah. Akan tetapi dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi
dalam tubuh sampai tingkat yang merusak.
Dalam membagi tingkatan pencemaran, WHO telah menetapkan empat tingkatan
pencemaran, dengan melihat dan memeriksa efeknya terhadap lingkungan. Dalam
perhitungan yang digunakan adalah kadar zat pencemar dan waktu kontak antara zat
pencemar dan lingkungan sekitar. Tingkatan tersebut yaitu:
1. Pencemar tingkat pertama adalah pencemaran yang tidak menimbulkan kerugian
kepada manusia jika dilihat dari kadar zat pencemar yang hadir dan waktu kontaknya
dengan waktu kontanknya dengan lingkungan.
2. Pencemaran tingkat kedua adalah pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi
(gangguan) ringan pada panca indra dan alat vegetatif, serta telah menimbulkan
kerusakan pada ekosistem yang lain
3. Pencemaran tingkat ketiga adalahpencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada
faal tubuh yang menyebabkan sakit kronis
4. Pencemaran tingkat ke empat adalah pencemaran yang kadar zat pencemar demikian
besarnya sehingga menimbulkan gangguan dan sakit atau kematian dalam lingkungan.
Karena kegiatan manusia, pencermaran Lingkungan pasti terjadi. Pencemaran
lingkungan tersebut tidak dapat dihindari. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi
pencemaran, mengendalikan pencemaran , dan meningkatkan kesadaran dan kepedulian
masyarakat terhadap lingkungannya agar tidak mencemari lingkungan.

2.2 Hakikat Pencemaran Air
Air merupakan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan. Makhluk hidup
di muka bumi ini tak dapat terlepas dari kebutuhan akan air. Air merupakan kebutuhan utama
bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada
air. Namun demikian, air dapat menjadi malapetaka bilamana tidak tersedia dalam kondisi
yang benar, baik kualitas maupun kuantitasnya. Air yang relatif bersih sangat didambakan
oleh manusia, baik untuk keperluan hidup sehari-hari, untuk keperluan industri, untuk
kebersihan sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya.
Air yang kita pergunakan setiap hari tidak lepas dari pengaruh pencemaran yang
diakibatkan oleh manusia juga. Beberapa bahan pencemar seperti bahan mikrobiologi
(bakteri, virus, parasit), bahan organik (pestisida, detergen), dan beberapa bahan anorganik
(garam, asam, logam), serta beberapa bahan kimia lainnya sudah banyak ditemukan dalam air
yang kita pergunakan. (Darmono, 2001)
Pencemaran air dapat merupakan masalah regional maupun lingkungan global, dan
sangat berhubungan dengan pencemaran udara serta penggunaan lahan tanah atau daratan.
Walaupun air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbaharui, tetapi air akan dapat
dengan mudah terkontaminasi oleh aktivitas manusia untuk tujuan yang bermacam-macam
sehingga dengan mudah dapat tercemar. (Darmono, 1995)
Pencemaran air terjadi bila beberapa bahan atau kondisi yang dapat menyebabkan
penurunan kualitas badan air sehingga tidak memenuhi baku mutu atau tidak dapat digunakan
untuk keperluan tertentu (sesuai peruntukannya, misalnya sebagai bahan baku air minum,
keperluan perikanan, industri, dan lain-lain) (Sunu, 2001).
Air yang tersebar di alam semesta ini tidak pernah terdapat dalam bentuk murni,
namun bukan berarti bahwa semua air sudah tercemar. Misalnya, walaupun di daerah
pegunungan atau hutan yang terpencil dengan udara yang bersih dan bebas dari pencemaran,
air hujan yang turun di atasnya selalu mengandung bahan-bahan terlarut, seperti karbon
dioksida (CO2), oksigen (O2), dan nitrogen (N2), serta bahan-bahan tersuspensi misalnya
debu dan partikel-partikel lainnya yang terbawa air hujan dari atmosfer.
Adanya benda-benda asing yang mengakibatkan air tersebut tidak dapat digunakan
sesuai dengan peruntukannya secara normal disebut dengan pencemaran air. Karena
kebutuhan makhluk hidup akan air sangat bervariasi, maka batas pencemaran untuk berbagai
jenis air juga berbeda-beda. Sebagai contoh, air kali di pegunungan yang belum tercemar
tidak dapat digunakan langsung sebagai air minum karena belum memenuhi persyaratan
untuk dikategorikan sebagai air minum. (Kristanto, 2002)
Di dalam kegiatan industri, air yang telah digunakan (air limbah industri) tidak boleh
langsung dibuang ke lingkungan karena dapat menyebabkan pencemaran. Air tersebut harus
diolah dahulu agar mempunyai kualitas yang sama dengan kualitas lingkungan. Jadi air
limbah industri harus mengalami proses daur ulang sehingga dapat digunakan lagi atau
dibuang kembali ke lingkungan tanpa menyebabkan pencemaran. Proses daur ulang air
industri (Water Treatment Recycle Process) adalah salah satu syarat yang harus dimiliki oleh
industri yang berwawasan lingkungan. Apabila semua kegiatan industri memperhatikan dan
melaksanakan pengolahan air limbah industri dan masyarakat umum juga tidak membuang
limbah secara sembarangan maka masalah pencemaran air sebenarnya tidak perlu
dikhawatirkan. Namun kenyataanya masih banyak industri atau suatu pusat kegiatan kerja
membuang limbahnya ke lingkungan melalui sungai sehingga menyebabkan terjadinya
pencemaran lingkungan. (Wardhana, 2001).
Jenis Pencemaran Air
Menurut Darmono (1995), pencemaran air terdiri dari bermacam-macam jenis, antara lain :
a. Pencemaran mikroorganisme dalam air
Berbagai kuman penyebab penyakit pada makhluk hidup seperti bakteri, virus,
protozoa, dan parasit sering mencemari air. Kuman yang masuk ke dalam air tersebut
berasal dari buangan limbah rumah tangga maupun buangan dari industri peternakan,
rumah sakit, tanah pertanian, dan lain sebagainya. Pencemaran dari kuman penyakit ini
merupakan penyebab utama terjadinya penyakit pada orang yang terinfeksi. Penyakit
yang disebabkan oleh pencemaran air ini disebut water-borne disease dan sering
ditemukan pada penyakit tifus, kolera, dan disentri.
b. Pencemaran air oleh bahan anorganik nutrisi tanaman
Penggunaan pupuk nitrogen dan fosfat dalam bidang pertanian telah dilakukan sejak
lama secara meluas. Pupuk kimia ini dapat menghasilkan produksi tanaman yang tinggi
sehingga menguntungkan petani. Tetapi dilain pihak, nitrat dan fosfat dapat mencemari
sungai, danau, dan lautan. Sebetulnya sumber pencemaran nitrat ini tidak hanya berasal
dari pupuk pertanian saja, karena di atmosfer bumi mengandung 78% gas nitrogen. Pada
waktu hujan dan terjadi kilat dan petir, di udara akan terbentuk amoniak dan nitrogen
terbawa air hujan menuju permukaan tanah. Nitrogen akan bersenyawa dengan komponen
yang kompleks lainnya.
c. Pencemaran bahan kimia anorganik
Bahan kimia anorganik seperti asam, garam dan bahan toksik logam lainnya seperti
timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg) dalam kadar yang tinggi dapat menyebabkan
air tidak enak diminum. Di samping dapat menyebabkan matinya kehidupan air seperti
ikan dan organisme lainnya, pencemaran bahan tersebut juga dapat menurunkan produksi
tanaman pangan dan merusak peralatan yang dilalui air tersebut (karena korosif).
d. Pencemaran bahan kimia organic
Bahan kimia organik seperti minyak, plastik, pestisida, larutan pembersih, detergen,
dan masih banyak lagi bahan organik terlarut yang digunakan oleh manusia dapat
menyebabkan kematian pada ikan maupun organisme air lainnya. Lebih dari 700 bahan
kimia organik sintetis ditemukan dalam jumlah relatif sedikit pada permukaan air tanah
untuk diminum di Amerika, dan dapat menyebabkan gangguan pada ginjal, gangguan
kelahiran, dan beberapa bentuk kanker pada hewan percobaan di laboratorium. Tetapi
sampai sekarang belum diketahui apa akibatnya pada orang yang mengkonsumsi air
tersebut sehingga dapat menyebabkan keracunan kronis.

Komponen Pencemaran Air
Komponen pencemaran air akan menentukan terjadinya indikator pencemaran air.
Pembuangan limbah industri, limbah rumah tangga, dan kegiatan masyarakat lainnya yang
tidak mengindahkan kelestarian dan daya dukung lingkungan akan sangat berpotensi
terjadinya pencemaran air.
Menurut Sunu (2001), adapun komponen pencemaran air dikelompokkan sebagai
berikut :
a. Limbah zat kimia
Apabila limbah zat kimia yang belum terolah dibuang langsung ke air lingkungan seperti
sungai, danau, laut akan membahayakan bagi kehidupan organisme di dalam air. Limbah zat
kimia sebagai bahan pencemar air dikelompokkan sebagi berikut :
1. Insektisida
Insektisida sebagai bahan pemberantas hama masih banyak digunakan masyarakat
khususnya di sektor pertanian. Apabila pemakaian insektisida berlebihan, maka akan
mempunyai dampak lingkungan.
2. Pembersih
Zat kimia yang berfungsi sebagai pembersih banyak sekali macamnya seperti shampo,
detergen, dan bahan pembersih lainnya. Indikasi adanya limbah zat pembersih yang
berlebihan ditandai dengan timbulnya buih-buih pada permukaan air.
3. Larutan penyamak kulit
Senyawa krom (Cr) merupakan bahan penyamak kulit yang banyak digunakan pada
industri penyamakan kulit. Sisa larutan panyamak kulit akan dapat menambah jumlah
ion logam pada air. Untuk itu maka industri penyamakan kulit seharusnya mempunyai
instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk mengolah sisa larutan penyamak kulit
agar tidak merusak lingkungan khususnya pencemaran air.
4. Zat warna kimia
Penggunaan zat warna cenderung meningkat sejalan dengan perkembangan industri
menggunakan zat warna agar produknya mempunyai daya tarik yang lebih baik
dibandingkan dengan warna aslinya. Pada dasarnya semua zat warna adalah racun
bagi kesehatan tubuh manusia.
b. Limbah padat
Lingkup limbah padat yang dimaksudkan ini merupakan limbah hasil proses IPAL
berupa endapan (slude) yang biasanya hasil dari proses filter press. Slude dapat
dikategorikan tidak berbahaya dan dapat juga dikategorikan sebagai limbah bahan
berbahaya dan beracun (B3).
Limbah padat yang terbentuk lebih halus, bila dibuang ke air lingkungan tidak dapat
larut dalam air dan tidak dapat mengendap, melainkan membentuk koloid yang
melayang-layang di dalam air. Koloid tersebut akan menjadikan air menjadi keruh
sehingga akan menghalangi penetrasi sinar matahari ke dalam air dan mengakibatkan
terganggunya proses fotosintesis tanaman di dalam air. Kandungan oksigen terlarut di
dalam air juga menurun sehingga akan mempengaruhi kehidupan di dalam air.
c. Limbah bahan makanan
Limbah bahan makanan pada dasarnya bersifat organik yang sering menimbulkan bau
busuk yang menyengat hidung dan dapat didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila
limbah bahan makanan mengandung protein, maka pada saat didegradasi oleh
mikroorganisme akan terurai menjadi senyawa yang mudah menguap dan menimbulkan
bau busuk.
d. Limbah organic
Limbah organik biasanya dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme.
Oleh karena itu, bila limbah industri terbuang langsung ke air lingkungan akan
menambah populasi mikroorganisme di dalam air. Bila air lingkungan sudah tercemar
limbah organik berarti sudah terdapat cukup banyak mikroorganisme di dalam air, maka
tidak tertutup kemungkinan berkembangnya bakteri patogen.
e. Limbah anorganik
Limbah anorganik biasanya tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh
mikroorganisme. Limbah anorganik pada umumnya berasal dari industri yang
menggunakan unsur-unsur logam seperti Arsen (As), Kadmium (Cd), Timbal (Pb), Krom
(Cr), Kalsium (Ca), Nikel (Ni), Magnesium (Mg), Air Raksa (Hg), dan lain-lain. Industri
yang mengeluarkan limbah anorganik seperti industri electroplating, industri kimia, dan
lain-lain. Bila limbah anorganik langsung dibuang di air lingkungan, maka akan terjadi
peningkatan jumlah ion logam didalam air. Ion logam yang berasal dari logam berat, bila
terbuang ke air lingkungan sangat berbahaya bagi kehidupan khususnya manusia.

Sumber Pencemaran Air
Pencemaran air dapat ditandai oleh turunnya mutu, baik air daratan (sungai, danau, rawa,
dan air tanah) maupun air laut sebagai suatu akibat dari berbagai aktivitas manusia modern
saat ini sangat beragam sesuai karakteristiknya. Menurut Sunu (2001), adapun sumber
pencemaran air yaitu :
a. Pencemaran air oleh pertanian
Air limbah pertanian sebenarnya tidak menimbulkan dampak negatif pada
lingkungan, namun dengan digunakannya fertilizer sebagai pestisida yang kadang-kadang
dilakukan secara berlebihan, sering menimbulkan dampak negatif pada keseimbangan
ekosistem air. Sektor pertanian juga dapat berakibat terjadinya pencemaran air, terutama
akibat dari penggunaan pupuk dan bahan kimia pertanian tertentu seperti insektisida dan
herbisida.
b. Pencemaran air oleh peternakan dan perikanan
Penanganan yang tidak tepat terhadap kotoran dan sisa makanan ternak dapat
berpotensi sebagai sumber pencemaran. Karakteristik terhadap pencemaran air yang
diakibatkan oleh kegiatan peternakan antara lain:
Komposisi dan jumlah kotoran ternak bervariasi tergantung pada tipe, jumlah dan
metode pemberian makan dan penyiramannya.
Tingkat pencemaran sangat bervariasi tergantung pada lokasi lahan yang
digunakan untuk peternakan, sistem dan skala operasi serta tingkat teknik
pengembangbiakan.
c. Pencemaran air oleh industry
Air limbah industri cenderung mengandung zat berbahaya, oleh karena itu harus
dicegah agar tidak dibuang ke saluran umum. Karakteristik pencemaran air dari industri
manufaktur antara lain :
Limbah cair
Industri makanan
Industri tekstil
Industri pulp dan kertas
Industri kimia
Industri kulit
d. Pencemaran air oleh aktivitas perkotaan
Aktivitas manusia di perkotaan memberikan andil dalam menimbulkan pencemaran
lingkungan yang tinggi. Ledakan jumlah penduduk yang tidak terkendali mengakibatkan
laju pencemaran lingkungan melampaui laju kemampuan alam. Penyebab pencemaran air
karena limbah perkotaan seperti air limbah, kotoran manusia, limbah rumah tangga,
limbah gas, dan limbah panas.

2.3 Hakikat Pencemaran Tanah
Pengertian Pencemaran Tanah
Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 150 tahun 2000 tentang Pengendalian
kerusakan tanah untuk produksi biomassa: Tanah adalah salah atau komponen lahan
berupa lapisan teratas kerak bumi yang terdiri dari bahan mineral dan bahan organik serta
mempunyai sifat fisik, kimia, biologi, dan mempunyai kemampuan menunjang kehidupan
manusia dan makhluk hidup lainnya. Dan Kerusakan tanah untuk produksi biomassa
adalah berubahnya sifat dasar tanah yang melampaui kriteria baku kerusakan tanah.
Kita semua tahu Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya
alamnya. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena
berada di kawasan katulistiwa dengan iklim tropis dengan curah hujan yang cukup setiap
tahun untuk menyuburkan tanah. Tanah merupakan komponen terpenting dari kehidupan
makhluk hidup setelah air dan udara.
Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. Ketika suatu zat berbahaya/beracun telah mencemari
permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah.
Pencem aran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun
di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika
bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya.

Penyebab Pencemaran Tanah
Tanah dikatagorikan subur apabila tanah mengandung cukup nutrisi bagi tanaman
maupun mikro organisme, dan dari segi fisika, kimia, dan biologi memenuhi untuk
pertumbuhan. Tanah dikatakan tidak subur mempunyai pH dibawah 6 (tanah asam) atau pH
diatas 8 (tanah basa), Berbau busuk, Kering, Mengandung logam berat, Mengandung sampah
anorganik. Sedangkan tanah dapat dikatakan subur apabila pH minimal 6, maksimal 8, Tidak
berbau busuk, tidak kering, memiliki tingkat kegemburan yang normal, Tidak Mengandung
logam berat, Tidak mengandung sampah anorganik. Tanah dapat rusak karena terjadinya
pencemaran tanah.

Jenis-jenis penyebab pencemaran tanah yaitu :
a. Pencemaran langsung : Pencemaran ini misalnya terjadi karena penggunaan pupuk
secara berlebihan, pemberian pestisida, dan pembuangan limbah yang tidak dapat
diuraikan seperti plastik, kaleng, botol, dan lain-lainnya.
b. Pencemaran melalui air : Air yang tercemar (mengandung bahan pencemar/polutan)
akan mengubah susunan kimia tanah sehingga mengganggu jasad yang hidup di
dalam atau di permukaan tanah.
c. Pencemaran melalui udara : Udara yang tercemar akan menurunkan hujan yang
mengandung bahan pencemar yang mengakibatkan tanah tercemar juga. Contohnya
ketika terjadi hujan asam.
Sumber pencemar tanah tidak jauh beda atau bisa dikatakan mempunyai hubungan erat
dengan pencemaran udara dan pencemaran air, maka sumber pencemar udara dan sumber
pencemar air pada umumnya juga merupakan sumber pencemar tanah.
Secara umum, faktor pencemaran tanah dapat disebabkan limbah domestik, limbah
industri dan limbah pertanian.
Limbah domestik
Limbah domestik dapat berasal dari daerah: pemukiman penduduk; perdagang-
an/pasar/tempat usaha hotel dan lain-lain; kelembagaan misalnya kantor-kantor pemerintahan
dan swasta; dan wisata, dapat berupa limbah padat dan cair.
1. Limbah padat berupa sampah anorganik. Jenis sampah ini tidak dapat diuraikan oleh
mikroorganisme (non-biodegradable), misalnya kantong plastik, bekas kaleng
minuman, bekas botol plastik air mineral, dsb. Bungkus plastik yang kita buang ke
lingkungan akan tetap ada dan mungkin akan ditemukan oleh anak cucu kita setelah
ratusan tahun kemudian. Sehingga menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus
oleh akar tanaman dan tidak tembus air sehingga peresapan air dan mineral yang
dapat menyuburkan tanah hilang dan jumlah mikroorganisme di dalam tanah pun
akan berkurang akibatnya tanaman sulit tumbuh bahkan mati karena tidak
memperoleh makanan untuk berkembang.
2. Limbah cair berupa, deterjen, oli, cat, jika meresap kedalam tanah akan merusak
kandungan air tanah bahkan dapat membunuh mikro-organisme di dalam tanah.
Limbah industri
Limbah Industri berasal dari sisa-sisa produksi industri.
1. Limbah industri berupa limbah padat yang merupakan hasil buangan industri berupa
padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan. Misalnya sisa
pengolahan pabrik gula, pulp, kertas, rayon, plywood, pengawetan buah, ikan daging
dll.
2. Limbah cair yang merupakan hasil pengolahan dalam suatu proses produksi, misalnya
sisa-sisa pengolahan industri pelapisan logam dan industri kimia lainnya. Tembaga,
timbal, perak, khrom, arsen dan boron adalah zat-zat yang dihasilkan dari proses
industri pelapisan logam seperti Hg, Zn, Pb, Cd dapat mencemari tanah.
Limbah pertanian
Limbah pertanian berupa sisa-sisa pupuk sintetik untuk menyuburkan tanaman dan
memberantas hama, misalnya pupuk urea Pestisida pemberantas hama tanaman misalnya
DDT. Penggunaan pupuk yang terus menerus dalam pertanian akan merusak struktur tanah,
yang menyebabkan kesuburan tanah berkurang dan tidak dapat ditanami jenis tanaman
tertentu karena hara tanah semakin berkurang. Dan penggunaan pestisida bukan saja
mematikan hama tanaman tetapi juga mikroorga-nisme yang berguna didalam tanah. Padahal
kesuburan tanah tergantung pada jumlah organisme didalamnya. Selain itu penggunaan
pestisida yang terus menerus akan mengakibatkan hama tanaman kebal terhadap pestisida
tersebut.
2.4 Hubungan Antara Pencemaran Air dan Pencemaran Tanah
Pencemar tanah mempunyai hubungan erat dengan pencemaran udara dan pencemaran
air. Sumber pencemar udara dan sumber pencemar air pada umumnya juga merupakan
sumber pencemar tanah. Sebagai contoh gas-gas oksida karbon, oksida nitrogen, dan oksida
belerang yang menjadi bahan pencemar udara yang larut dalam air hujan dan turun ke tanah
dapat menyebabkan terjadinya hujan asam sehingga menimbulkan terjadinya pencemaran
pada tanah. Air permukaan tanah yang mengandung bahan pencemar misalnya tercemari zat
radioaktif, logam berat dalam limbah industri, sampah rumah tangga, limbah rumah sakit,
sisa-sisa pupuk dan pestisida dari daerah pertanian, limbah deterjen, akhirnya juga dapat
menyebabkan terjadinya pencemaran pada tanah daerah tempat air permukaan ataupun tanah
daerah yang dilalui air permukaan tanah yang tercemar tersebut.
2.5 Dampak Pencemaran Air dan Tanah
Dampak Pencemaran Air
1. Pencemaran air oleh bahan kimia organik yang berasal dari pupuk tanaman.
Petani biasa menggunakan pupuk unsur nitrogen dan fosfat yang berguna menyuburkan
tanaman dan meningkatkan produksi tanaman pangan. Akan tetapi, pada penggunaan
berlebih dapat mencemari air di sekitarnya. Kandungan yang tinggi pada air minum dapat
menyebabkan gangguan sistem peredaran darah.
2. Pencemaran air oleh bahan kimia anorganik yang berupa asam, garam, dan logam.
Dapat beralibat, sebagai berikut:
a. Air tidak layak untuk diminum karena membahayakan kesehatan.
b. Organisme yang hidup di air akan mati.
c. Produksi tanaman pangan menurun.
d. Peralatan dari logam akan rusak karena air menjadi bersifat korosif atau
menimbulkan karat.
3. Pencemaran air oleh bahan kimia organik.
Pencemaran air oleh bahan kimia organic dapat berupa minyak, plastic, pestisida, larutan
pembersih dan detergen. Pencemaran ini dapat membunuh ikan dan organisme lain yang
hidup di air.
4. Pencemaran air oleh bahan radioaktif yang terlarut dalam air.
Bahan radioaktif dapat mempengaruhi sistem rantai makanan. Bahan radioaktif juga
dapat mengakibatkan perubahan bahan dasar sel dan menimbulkan mutasi, kanker, serta
gangguan sistem reproduksi.

Dampak Pencemaran Tanah
1. Dampak pada Limbah Domestik
Timbunan sampah yang berasal dari limbah domestik dapat mengganggu/ mencemari
karena: lindi (air sampah), bau dan estika. Timbunan sampah juga menutupi permukaan
tanah sehingga tanah tidak bisa dimanfaatkan. Selain itu, timbunan sampah dapat
menghasilkan gas nitrogen dan asam sulfida, adanya zat mercury, chrom dan arsen pada
timbunan sampah dapat menimbulkan gangguan terhadap bio tanah, tumbuhan, merusak
struktur permukaan dan tekstur tanah. Limbah lain seperti oksida logam, baik yang
terlarut maupun tidak pada permukaan tanah menjadi racun. Sampah anorganik tidak ter-
biodegradasi, yang menyebabkan lapisan tanah tidak dapat ditembus oleh akar tanaman
dan tidak tembus air sehingga peresapan air dan mineral yang dapat menyuburkan tanah
hilang dan jumlah mikroorganisme di dalam tanah pun akan berkurang akibatnya
tanaman sulit tumbuh bahkan mati karena tidak memperoleh makanan untuk
berkembang.
Limbah cair rumah tangga berupa; deterjen, oli bekas, cat, jika meresap kedalam
tanah akan merusak kandungan air tanah bahkan zat-zat kimia yang terkandung di
dalamnya dapat membunuh mikro-organisme di dalam tanah. Limbah padat hasil
buangan industri berupa padatan, lumpur, bubur yang berasal dari proses pengolahan.
Penimbunan limbah padat mengakibatkan pembusukan yang menimbulkan bau di
sekitarnya karena adanya reaksi kimia yang menghasilkan gas tertentu. Dengan
tertimbunnya limbah ini dalam jangka waktu lama, permukaan tanah menjadi rusak dan
air yang meresap ke dalam tanah terkontaminasi dengan bakteri tertentu yang
mengakibatkan turunnya kualitas air tanah pada musim kemarau. Selain itu timbunan
akan mengering dan mengundang bahaya kebakaran.
2. Dampak pada Limbah Industri
Limbah cair sisa hasil industri pelapisan logam yang mengandung zat-zat seperti
tembaga, timbal, perak,khrom, arsen dan boron merupakan zat yang sangat beracun
terhadap mikroorganisme. Jika meresap ke dalam tanah akan mengakibatkan kematian
bagi mikroorganisme yang memiliki fungsi sangat penting terhadap kesuburan tanah.
Limbah cair sisa hasil industri pelapisan logam yang mengandung zat-zat seperti
tembaga, timbal, perak,khrom, arsen dan boron merupakan zat yang sangat beracun
terhadap mikroorganisme. Jika meresap ke dalam tanah akan mengakibatkan kematian
bagi mikroorganisme yang memiliki fungsi sangat penting terhadap kesuburan tanah.
Timbal sangat berbahaya pada anak-anak, karena dapat menyebabkan kerusakan otak,
serta kerusakan ginjal pada seluruh populasi. Berbagai pelarut yang mengandung klorin
merangsang perubahan pada hati dan ginjal serta penurunan sistem saraf pusat
3. Dampak pada Limbah Pertanian
Penggunaan pestisida bukan saja mematikan hama tanaman tetapi juga mikroorga-
nisme yang berguna di dalam tanah. Padahal kesuburan tanah tergantung pada jumlah
organisme di dalamnya. Selain itu penggunaan pestisida yang terus menerus akan
mengakibatkan hama tanaman kebal terhadap pestisida tersebut.
Perubahan kimiawi tanah yang radikal dapat timbul dari adanya bahan kimia
beracun/berbahaya bahkan pada dosis yang rendah sekalipun. Perubahan ini dapat
menyebabkan perubahan metabolisme dari mikroorganisme endemik dan antropoda yang
hidup di lingkungan tanah tersebut. Akibatnya bahkan dapat memusnahkan beberapa
spesies primer dari rantai makanan, yang dapat memberi akibat yang besar terhadap
predator atau tingkatan lain dari rantai makanan tersebut.
2.6 Penanggulangan Pencemaran Air dan Tanah
1. Bioremidiasi Air
Bioremediasi merupakan penggunaan mikroorganisme yang telah dipilih untuk
ditumbuhkan pada polutan tertentu sebagai upaya untuk menurunkan kadar polutan tersebut.
Pada saat proses bioremediasi berlangsung, enzim-enzim yang diproduksi oleh
mikroorganisme memodifikasi struktur polutan beracun menjadi tidak kompleks sehingga
menjadi metabolit yang tidak beracun dan berbahaya. Pengolahan air tercemar secara biologi
pada prinsipnya adalah meniru proses alami self purification di sungai dalam mendegradasi
polutan melalui peranan mikroorganisma. Peranan mikroorganisma pada proses self
purification ini pada prinsipnya ada dua yaitu: pertumbuhan mikroorganisma menempel dan
tersuspensi.
a. Pertumbuhan mikroorganisma menempel
Mikroorganisme ini keberadaannya menempel pada suatu permukaan misalnya pada
batuan ataupun tanaman air. Selanjutnya diaplikasikan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah
(IPAl). Selama pengolahan aerobik air limbah domestik, genus bakteri yang sering ditemukan
berupa Gram-negatif berbentuk batang heterotrofik organisme, termasuk Zooglea,
Pseudomonas, Chromobacter, Achromobacter, Alcaligenes dan Flavobacterium. Filamentous
bakteri seperti genera Beggiatoa, Thiotrix dan Sphaerotilus juga ditemukan dalam biofilm,
sebagaimana organisme seperti Nitrosomonas dan nitrifikasi Nitrobacter.

b. Pertumbuhan mikroorganisma yang tersuspesi
Mikroorganisme ini keberadaannya dalam bentuk suspensi di dalam air yang
tercemar. Berbeda dengan mikroorganisma yang menempel, sistem pertumbuhan
mikroorganisma yang tersuspensi terdiri dari agregat mikroorganisma yang pada umumnya
tumbuh sebagai flocs dalam kontak dengan air limbah pada waktu pengolahan. Agregat atau
flocs, yang terdiri dari berbagai spesies mikroba, berperan dalam penurunan polutan.
Umumnya spesies mikroba ini terdiri dari bakteri, protozoa dan metazoa.


2. Bioremidiasi Tanah
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan menggunakan
mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan untuk memecah atau mendegradasi
zat pencemar menjadi bahan yang kurang beracun atau tidak beracun (karbon dioksida dan
air). Salah satu mikroorganisme yang berfungsi sebagai bioremediasi adalah jamur vesikular
arbuskular mikoriza (vam). Jamur vam dapat berperan langsung maupun tidak langsung
dalam remediasi tanah. Berperan langsung, karena kemampuannya menyerap unsur logam
dari dalam tanah dan berperan tidak langsung karena menstimulir pertumbuhan
mikroorganisme bioremediasi lain seperti bakteri tertentu, jamur dan sebagainya.
















BAB III
Penutup
3.1 Kesimpulan
Pencemaran lingkungan merupakan berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh
kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air atau udara menjadi kurang atau
tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Zat yang mengakibatkan
pencemaran disebut juga polutan.
Pada pencemaran air terjadi bila beberapa bahan atau kondisi yang dapat
menyebabkan penurunan kualitas badan air sehingga tidak memenuhi baku mutu atau tidak
dapat digunakan untuk keperluan tertentu (sesuai peruntukannya, misalnya sebagai bahan
baku air minum, keperluan perikanan, industri, dan lain-lain). Jenis-jenis pencemaran air oleh
mikroorganisme, bahan anorganik nutrisi tanaman, bahan kimia anorganik, bahan kimia
organik. Sumber pencemaran air yaitu dari pertanian, peternakan, perikanan, industri dan
berbagai aktivitas perkotaan.
Pencemaran tanah adalah keadaan dimana bahan kimia buatan manusia masuk dan
merubah lingkungan tanah alami. faktor pencemaran tanah dapat disebabkan limbah
domestik, limbah industri dan limbah pertanian.
Hubungan antara pencemaran air dan pencemaran tanah yaitu berasal dari sumber
pencemar yang berasaldari udara dan sumber pencemar dari air pada umumnya juga
merupakan sumber pencemar tanah. Penanggulanagn pencemaran air dan tanah dapat
dilakukan dengan metode bioremidiasi dan remidiasi.








Daftar Pustaka
Cunningham, W.P. dan Cunningham, M.A. 2004.Principles of Environmental Science
Inquiry and Application.International Edition. Boston: McGraw Hill
Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Jakarta : Universitas
Indonesia Press.
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran. Jakarta : Universitas Indonesia Press.
Kristianto, P. 2002. Ekologi Industri. Yogyakarta : Penerbit Andi.
Marsun, Rio Sunarya. 1978. Ilmu Pengetahuan Alam Kimia Lingkungan I. Bandung: Proyek
Balai Pendidikan Guru Tertulis Jawa Barat.
Priadi, Bambang. 2012. Teknik Bioremediasi sebagai Alternatif dalam Upaya Pengendalian
Pencemaran Air. Jurnal Ilmu Lingkungan, 10 (1) : 38-48.
Sunu, Pramudya. 2001. Melindungi Lingkungan Dengan Menerapkan ISO 14001. Jakarta :
PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.
Wardhana, Wisnu. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan.Yogyakarta : Penerbit Andi.