Anda di halaman 1dari 20

1

JURNAL BELAJAR 1
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 05 September 2013
Hari ini Kamis, 05 September 2013 merupakan hari Pertama kami masuk kuliah. Setelah
Jam pertama selesai kami mengikuti Mata Kuliah Landasan dan Problematika Pendidikan.
Mata Kuliah ini dibina oleh Bapak Dr. H. Agus Ramdani, M.Sc. Menurut perspektif saya,
beliau orangnya Disiplin waktu. Setelah memperkenalkan diri dan Mata Kuliah yang
dibina, Dosen membagikan kepada kami kartu ZOPP ( Zeil Oriented Project Planning)
kemudian kami diminta untuk memilih salah satu dari sekian banyak kartu yang ada guna
menuliskan Problematika Pendidikan menurut Perspektif kami masing-masing. Saya
sendiri memilih warna Biru muda, Lalu menuliskan (tiga) Problematika pendidikan saat
ini, yakni:
1. Pendidikan kita berorientasi pada Pengetahuan ( Oriented Knowlege)
2. Supervisi dan pengawasan yang cenderung Formalitas.
3. Kurangnya Relevansi lulusan pendidikan dengan dunia kerja.
Hasil Refleksi:
Secara garisbesar ada 14 Problematika Pendidikan yang dikemukakan oleh 23
Mahasiswa Magister Administrasi Pendidikan di kelas A, yakni :
1. Sarana dan prasarana sekolah belum memadai;
2. Media Pembelajaran/Iptek;
3. Dukungan dari orang tua;
4. Tenaga Pendidik/Kinerja Guru;
5. Kurikulum;
6. Peserta Didik;
7. Disiplin kerja;
8. Kebijakan Pemerintah;
9. Sumber Daya Manusia;
10. Assesmen;
11. Pengawasan pendidikan;
12. Diklat guru;
13. Penempatan guru tidak sesuai keahlian;
14. Biaya Pendidikan.
2
Pada pertemuan ini dosen memberikan motivasi dan memberikan tugas Analisis kritis.
Kami membuat analisis kritis dari artikel/makalah yang terdapat dalam buku Menggagas
Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi oleh
Shindunata (editor). Buku ini terdiri dari tiga bagian, yakni :
Bagian I : Politik dan Demokrasi.
1. Mukhtar Buchori, Peranan Pendidikan dalam Pembentukan Budaya Politik di
Indonesia.
2. Ariel Heryanto, Industrialisasi Pendidikan.
3. Wuri Soedjatmiko, Pendidikan Tinggi dan Demokrasi
4. Diana Nomida Musnir, Arah Pendidikan Nasional dalam Persfektif Historis
5. Al. Purwa Hadiwardoyo, Menolak Diskriminasi, Mendukung Otonomi
Bagian II : Globalisasi
6. B. Suprapto Brotosiswojo, Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, serta
Globalisasi.
7. J. Soejadjati Djiwandono, Globalisasi dan Pendidikan Nilai.
8. Djohar, Praksis Pendidikan Berwawasan Ekologi
9. James J. Spillane, Pendidikan bagi Menajer Indonesia.
10. Liek Wiliardjo, Pendidikan Teknologi Tepat-Guna
Bagian III : Mencari Visi Pendidikan.
11. Andi Hakim Nasoetion, Ilmu untuk Kehidupan dan Penghidupan.
12. J.C. Tukiman Taruna, Pengembangan Masyarakat dalam Konteks Pendidikan
untuk Semua.
13. Alex Lanur, Dampak Konsep Manusia Filsafat Manusia yang Bersifat
Personalistik pada Pendidikan
14. Imam Bernabib, Renungan tentang Filsafat Pendidikan Dewasa ini.
15. Mursal Esten, Strategi Kebudayaan untuk Sistem Pendidikan.
16. Zamakhsyari Dhofier, Sumbangan Visi Islam dalam Sistem Pendidikan
Nasional.
Pada bagian III : Mencari Visi Pendidikan. Kami dibagikan Topik Artikel/makalah
berdasarkan nomor urut absensi. Artikel 11 untuk nomor absensi 001 sampai 004; Artikel
12 untuk nomor 005 sampai 008; Artikel 13 untuk nomor absensi 009 sampai 011; Artikel
14 untuk nomor 012 sampai 014; Artikel 15 untuk nomor 015 sampai 018; Artikel 16
untuk nomor 019 sampai 023.
3
JURNAL BELAJAR 2
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 12 September 2013
Kamis, 12 September 2013 merupakan pertemuan ke-dua. Hari ini ialah hari
pertama untuk membahas buku Menggagas Paradigma Baru Pendidikan:
Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi, yang disusun oleh
Sindhunata (Editor) dan diterbitkan oleh Kanisius Yokyakarta pada tahun 2000.
Presenter Bapak Ahmad J auhari mewakili kelompok 1 dengan Artikel berjudul
Ilmu untuk Kehidupan dan Penghidupan yang ditulis oleh Andi Hakim
Nasution.
Hasil Refleksi:
Andi Hakim Nasution, dalam tulisannya mengemukankan beberapa gagasan tentang
pendidikan, ide dan gagasan beliau antara lain :
Pengajaran sains seharusnya bertolak dari latihan pemahaman dan penguasaan fakta
dasar mengenai ilmu yang kemudian berkembang ke tahapan penerapan, analisis , dan
sintesis. Lalu Latihan membaca kritis sehingga membuat siswa dapat meramu sendiri
pengetahuan baru dari kumpulan pengetahuan yang sudah ada.
Melek huruf harus didampingi melek angka, Kemampuan berhitung diperlukan,
disamping itu memerlukan juga kemampuan bernalar yang diajarkan melalui logika,
matematika diskret, dan analisis data.
Belajar dari Sejarah dan Kesusastraan Dunia, Selain perlunya pandangan sejarah yang
menyeluruh bagi siswa, diperlukan juga upaya agar siswa diberi kewajiban membaca dari
khazanah susastra dunia.
Matematika dan Bahasa Asing Modern sebagai Modal Penguasaan Ilmu untuk
Penghidupan. Untuk dapat menguasai ilmu sebagai penghidupan diperlukan kemampuan
berkomunikasi dalam bahasa ilmu itu dan bahasa pengantar ilmu itu. Bahasa ilmu adalah
4
matematika karena prinsip ilmu selain kesemestaan adalah juga sifat penyederhanaannya.
Penyederhanaan adalah abstraksi pemasalahan dan abstraksi pemasalahan dicapai melalui
pemodelan secara matematika.
Memaksimalkan Penggunaan Internet dalam Pendidikan Sains. Informasi yang
tersedia digunakan untuk eksplorasi pengetahuan sains, terlebih untuk memperoleh
informasi perkembangan sains terbaru dan perkembangan proses pembelajaran yang lebih
maju. Internet digunakan dalam kerangka kegiatan yang bernuansa akademik sehingga
Perlu dibangun cyber-acadecmic community.
Pada presentasi dibahas tentang Ilmu untuk Kehidupan dan Penghidupan. Mengikuti
pandangan al-Ghazali, ibnu Khaldun menyebut dua jenis ilmu yakni: Ilmu Naqliah dan
Ilmu Aqliah. Ilmu Naqliah merupakan Ilmu yang diturunkan sebagai wahyu oleh Sang
Maha Pencipta kepada Manusia. Sedangkan Ilmu Aqliah merupakan ilmu yang diajarkan
oleh Yang Kuasa kepada manusia melalui akal manusia. Contoh Ilmu Aqliah untuk
Kehidupan diantaranya Fenomena mengenai kerupuk dan abu rokok, Pelajaran kapilaritas
dan higroskopi, Fenomena siswa yang kembali ke Indonesia setelah mengikuti orang
tuanya tugas belajar di luar negeri.
Setelah mendengar dan mengikuti presentasi yang disampaikan, muncul pertanyaan
mendasar pada diri saya untuk diajukan yaitu: Pembelajaran apa yang dapat kita ambil dari
tulisan tersebut untuk diterapkan dalam dunia pendidikan kita sekarang ?
5
JURNAL BELAJAR 3
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 19 September 2013
Hari ini Kamis, 19 September 2013 merupakan pertemuan ke-tiga. Hari ini ialah
hari kedua untuk membahas buku Menggagas Paradigma Baru Pendidikan:
Demokratisasi, Otonomi, Civil Society, Globalisasi, yang disusun oleh
Sindhunata (Editor) dan diterbitkan oleh Kanisius Yokyakarta pada tahun 2000.
Presentasi pada hari ini terdiri dua Artikel, yaitu:
1. J.C. Tukiman Taruna, Pengembangan Masyarakat dalam Konteks Pendidikan
untuk Semua. Dengan presenter: Andy Eddy (007), anggota sebagai berikut:
- Ahmad Syukran (005); Alfian Satriadi (006); dan Ayu Suhartiny (008)
2. Alex Lanur, Dampak Konsep Manusia Filsafat Manusia yang Bersifat
Personalistik pada Pendidikan. Dengan presenter Dian yanuartri (011), dan
anggota: Bq. Jasni Mahayani (009); Bambang Siswanto (010); dan Dina
Nurlaily (012).
Hasil Refleksi:
Pada bagian awal dari presentasi ini dibahas tentang Pengembangan Masyarakat
dalam Konteks Pendidikan untuk Semua. Karya J.C. Tukiman Taruna. Pengembangan
masyarakat yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah: process through which the
human being is assisted in his growth and development within the scope of his
potential. Dengan demikian, Kata-kata kunci dari pernyataan tersebut adalah: 1)
proses, 2) manusia, 3) dibantu pertumbuhannya dan, 4) pengembangannya disesuaikan
dengan potensi yang dimiliki oleh masing-masing orang. Bagaimana relevansi antara
pengembangan masyarakat dan pendidikan seharusnya dimaknai ketika dewasa ini
6
banyak pihak meng-quo-vadis-kan pendidikan di Indonesia? Salah satu alternatif
jawabannya adalah perlu disebarluaskan konsep pendidikan untuk semua (Education
For All/EFA), sebuah konsep yang menegaskan keterlibatan semua pihak dalam
kependidikan. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan program rintisan
sebagai pendekatan pendidikan untuk semua (Education For All/EFA) dan sebuah
upaya peningkatan Pemberdayaan Masyarakat.
Pembahasan berikutnya adalah tulisan tentang Dampak Konsep Manusia
Filsafat Manusia yang Bersifat Personalistik pada Pendidikan Karya Alex Lanur.
Dalam manusia terdapat beberapa struktur dasar yang sangat menentukan, struktur
tersebut adalah : 1). Manusia adalah makhluk Jasmaniah-Rohaniah; 2). Manusia adalah
makhluk individual-sosial; 3). Manusia adalah makhluk yang bebas; dan 4). Manusia
adalah makhluk yang menyejarah. Bila manusia dicirikan secara personal, maka yang
dimaksud adalah pribadi yang ditandai oleh empat dimensi tersebut. Penjelasannya
sebagai berikut:
1. Manusia adalah makhluk jasmaniah-rohaniah; Implementasi dari dimensi
kejasmanian manusia menunjuk pentingnya pendidikan jasmani sebagai bagian
integral dan praksis pendidikan. Adapun dimensi rohani mengharuskan praksis
pendidikan mengusahakan agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuan-
kemampuan olah rohaninya. Pengolahan rasa, kepekaan, religiositas, dan lain-lain
mendapat tempatnya.
2. Manusia adalah makhluk individual-sosial; Dimensi individu-sosial yang melekat
pada manusia menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk individu yang berada
dalam realitas sosialnya. Namun eksistensi manusia yang mempunyai ciri individu
ini tidak boleh dikaburkan dengan dimensi sosialnya. Oleh karena itu, dalam
praksis pendidikan dimensi individu ini harus mendapat tekanan lebih dahulu.
3. Manusia adalah makhluk yang bebas; Salah satu hal penting dalam diri manusia
adalah dimensi kebebasan. Dengan adanya dimensi ini, seyogianya pendidikan
akan mengarahkan peserta didik menjadi manusia yang mempunyai kemandirian
dan sekaligus rasa tanggungjawab. Kemandirian itu mengandaikan manusia
mempunyai pengetahuan yang cukup, keterampilan yang memadai, dan tata nilai
yang benar sehingga dapat mengambil sikap hidup yang konsisten dalam
membangun interaksi dengan lingkungan dan sesamanya.
7
4. Manusia adalah makhluk yang menyejarah; Dimensi manusia sebagai makhluk
yang menyejarah menandaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bisa
membuat sejarah dan sekaligus hidup dan berkembang dalam kesejarahannya.
Konsekuensi dari pengakuan atas dimensi ini adalah peserta didik bukanlah kertas
kosong. Peserta didik sudah tumbuh dalam sejarah tertentu dan diharapkan mampu
untuk membuat sejarahnya sendiri.
Pada bagian akhir dari presentasi dibuka diskusi, ada beberapa hal yang
dipertanyakan oleh audiens, namun pertanyaanya berupa pengembengan dan terlalu
teknis untuk dibahas. Pertanyaannya seperti : apakah ada dampak negatif dari konsep
pengembangan masyarakat ? Apakah MBS telah berhasil mencapai tujuannya ? Kepada
siapakah Kepala sekolah bertanggung jawab, menurut Konsep MBS ? konsep dan
metode Pembelajaran seperti apa agar peserta didik dapat dikembangkan sejalan dengan
empat stuktur dasar manusia (sebagai makhluk yang jasmaniah-rohaniah, makhluk yang
individual-sosial, makhluk yang bebas, dan makhluk yang menyejarah) ?
Setelah menelaah dan mengikuti pembahasan tentang kedua tulisan diatas, Tulisan
tentang Pengembangan Masyarakat dalam Konteks pendidikan untuk Semua oleh
J.C. Tukiman Taruna dapat memberikan inspirasi dalam mengembangkan calon tesis
yang akan saya kerjakan. Pada tulisan tersebut dijelaskan tentang Konsep
pengembangan masyarakat. Berbagai indikator program pengembangan Masyarakat
dijelaskan dengan cukup rinci yang nantinya dapat digunakan untuk mengembangkan
instrumen teknis implimentasi penerapannya. Terkait dengan hal tersebut maka akan
dilakukan pengkajian dan penelitian tentang pelaksanaan MBS pada SD Negeri di
Kabupaten Sumbawa Besar. Tulisan tentang dampak konsep manusia filsafat
manusia yang bersifat personalistik pada pendidikan oleh Alex Lanur memberikan
gambaran kepada kita tentang struktur dasar yang terdapat dalam diri manusia. Peserta
didik merupakan subjek dari seluruh proses dan kegiatan pendidikan. Untuk itu,
semestinya dalam pelaksanaan pendidikan senantiasa memperhatikan empat struktur
dasar yang dimiliki oleh manusia.
8
JURNAL BELAJAR 4
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 26 September 2013
Hari ini Kamis, 26 September 2013 merupakan pertemuan ke-empat. Hari ini ialah hari
ketiga untuk membahas buku Menggagas Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi,
Otonomi, Civil Society, Globalisasi, yang disusun oleh Sindhunata (Editor) dan
diterbitkan oleh Kanisius Yokyakarta pada tahun 2000. Presentasi pada hari ini terdiri tiga
Artikel, yaitu:
1. Imam Bernabib, Renungan tentang Filsafat Pendidikan Dewasa ini. Dengan
presenter : Dwi Sunarto (013) dan anggota sebagai berikut :
- Eka Prihatin (014); Erti Jumainah (015); dan Gusty Ayu Aryanthi (016)
2. Mursal Esten, Strategi Kebudayaan untuk Sistem Pendidikan. Dengan presenter:
Hasbullah (018) anggota sebagai berikut :
- Hadi Rasyid (017); dan I Gusti Ayu Aristianti Pratiwi (019).
3. Zamakhsyari Dhofier, Sumbangan Visi Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional.
Dengan presenter: Imanto Rahadi (020) Anggota sebagai berikut:
- ; Indri Selfiani ( 021); Jaya diputra (022); dan Laziza Iklima (023)
Hasil Refleksi:
Pada bagian awal dari presentasi ini dibahas tentang Renungan tentang Filsafat
Pendidikan Dewasa ini. Karya Imam Bernabib. Bertitik tolak dari sebuah kenyataan
problematis mengenai pendidikan, penulis mulai dengan mempersoalkan mengenai
masalah peserta didik yang berada dalam dikotomi subjek dan objek. Penulis
menyarankan seyogianya pendidikan memberi tempat yang seimbang bagi peserta
didik, baik sebagai objek ataupun subjek pendidikan. Penulis juga mendeskripsikan
9
persoalan pokok yang sekarang ini melanda dunia pendidikan di Indonesia. Persoalan
itu dia rumuskan dalam tegangan antara proses pembentukan individu peserta didik,
masyarakat, serta nilai-nilai dan arah dari pendidikan itu sendiri. Dari sudut individu,
penulis mendukung bahwa individu sudah semestinyalah diarahkan untuk menjadi
pribadi yang mandiri. Untuk itu, intervensi terhadap peserta didik haruslah dilakukan
dengan bijaksana, mengingat bahwa individu yang sedang dalam proses pendidikannya
adalah pribadi yang sedang menjadi. Dalam proses atau garis hidup semacam itulah
pribadi itu sedang membentuk diri.
Pembahasan berikutnya adalah tulisan tentang Strategi Kebudayaan untuk Sistem
Pendidikan Karya Mursal Esten. Sejumlah fenomena yang terjadi di Tanah Air
memperlihatkan betapa pentingnya suatu strategi kebudayaan untuk sebuah bangsa
yang besar dan majemuk seperti Indonesia. Ancaman disintegrasi bangsa, arogansi
kesukuan, terpinggirkannya daerah-daerah, konflik antaretnis dan agama, masalah
transmigrasi dan permukiman, fenomena KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme), dan
sejumlah fenomena budaya lainnya, merupakan akibat dari tiadanya atau kelirunya
strategi kebudayaan. Beberapa kontroversi dan kerancuan di dalam politik kebudayaan
telah terjadi sejak puluhan tahun. Disatu sisi ingin mengembangkan masyarakat dan
kebudayaan yang memiliki identitas, namun disisi lain dikembangkan pula sistem dan
proses sentralisasi yang mengabaikan daerah-daerah sebagai sumber nilai dan identitas.
Kebudayaan nasional hanya menjadikan puncak-puncak kebudayaan daerah sebagai
bagiannya (UUD 1945). Proses reformasi yang tengah berlangsung pada hakikatnya
adalah proses kebudayaan. Reformasi hukum, reformasi sistem pemerintahan,
reformasi pendidikan, reformasi politik, reformasi sistem keamanan, dan reformasi
sistem-sistem lainnya haruslah dilihat sebagai reformasi budaya. Perkembangan
kebudayaan Indonesia dalam milenium III akan terjadi proses desentralisasi dan proses
globalisasi. Untuk itu, Strategi kebudayaan harus memberi tempat bagi hal itu di dalam
proses pendidikan. Sebagaimana pendapat dari John Naisbitt, yang mengatakan bahwa
suku bangsa (tribe) yang bisa mengglobal adalah suku yang memiliki identitas yang
kuat dan lentur. Peranan suku-suku bangsa yang demikian akan semakin besar dan
prospek.
Pembahasan terakhir adalah Tulisan tentang Sumbangan Visi Islam dalam Sistem
Pendidikan Nasional karya Zamakhsyari Dhofier. Dari sudut pandang sosio-historis,
10
perbedaan maupun persamaan tujuan pendidikan Islam dan pendidikan nasional akan
mengalami perubahan sesuai dengan konteks sosialnya. Karena memang pendidikan
Islam dan sistem pendidikan nasional secara keseluruhan memiliki latar belakang
sosio historis yang sama maka persoalan yang muncul dan upaya-upaya
pemecahannya akan menuju ke arah yang sering kali sama dan serasi. Perbedaan yang
mungkin ada antara tujuan pendidikan Islam dengan pendidikan nasional lebih bersifat
sementara, bukan perbedaan yang substansial, dan lebih diwarnai oleh perbedaan
kepentingan antarkelompok sosial yang memegang kendali pengelolaannya. Contoh
perbedaan yang paling menonjol adalah pandangan epistemologis sejumlah pengamat
pendidikan yang mengatakan bahwa pendidikan pesantren menekankan pembangunan
moral dan akhlak peserta didik dengan melupakan aspek pencerdasan, sedangkan
pendidikan di sekolah-sekolah modern menekankan pengembangan intelektual dengan
mengabaikan pembinaan moral. Pada saat pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi
agama Islam memasuki milenium ketiga, terjadi proses konvergensi antara keduanya.
Lembaga-lembaga pendidikan agama Islam sedang memperbaiki kelemahannya
dengan memperkaya kurikulum bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Proses
konvergensi tersebut dilakukan dengan strategi menyambut uluran tangan
pemerintah.
Pada bagian akhir dari persentasi dibuka diskusi, ada beberapa hal yang
dipertanyakan oleh audiens, namun pertanyaanya berupa pengembangan dan terlalu
teknis untuk dibahas.
Setelah menelaah dan mengikuti pembahasan tentang tulisan diatas, Tulisan
tentang Renungan tentang Filsafat Pendidikan Dewasa ini. Karya Imam Bernabib
memberikan saran seyogianya pendidikan memberi tempat yang seimbang bagi
peserta didik, baik sebagai objek ataupun subjek pendidikan. Kemudian, individu
sudah semestinyalah diarahkan untuk menjadi pribadi yang mandiri. Untuk itu,
intervensi terhadap peserta didik haruslah dilakukan dengan bijaksana, mengingat
bahwa individu yang sedang dalam proses pendidikannya adalah pribadi yang sedang
menjadi.
Tulisan tentang Strategi Kebudayaan untuk Sistem Pendidikan Karya Mursal
Esten mengemukakan kepada kita bahwa Strategi kebudayaan harus memberi tempat
11
bagi desentaralisasi dan globalisasi di dalam proses pendidikan. Sejalan dengan
pendapat John Naisbitt, yang mengatakan bahwa suku bangsa (tribe) yang bisa
mengglobal adalah suku yang memiliki identitas yang kuat dan lentur. Peranan suku-
suku bangsa yang demikian akan semakin besar dan prospek.
Tulisan tentang Sumbangan Visi Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional karya
Zamakhsyari Dhofier memberikan gambaran bahwa secara sosio-historis perbedaan
maupun persamaan tujuan pendidikan Islam dan pendidikan nasional akan mengalami
perubahan sesuai dengan konteks sosialnya. Sudah saatnya pendidikan kita terjadi
proses konvergensi antara keduanya. Dimana pendidikan melakukan pengembangan
intelektual serta pembangunan moral dan akhlak peserta didik secara bersama dalam
pembelajaran.
12
JURNAL BELAJAR 5
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 03 Oktober 2013
Hari ini Kamis, 03 Oktober 2013 merupakan pertemuan ke-lima. Hari ini ialah hari ke-
empat untuk membahas buku Menggagas Paradigma Baru Pendidikan: Demokratisasi,
Otonomi, Civil Society, Globalisasi, yang disusun oleh Sindhunata (Editor) dan
diterbitkan oleh Kanisius Yokyakarta pada tahun 2000. Pada pertemuan ini dosen
memberikan refleksi singkat tentang artikel-artikel yang telah dibahas pada pertemuan ke-
dua sampai pertemuan ke-empat. Ada beberapa point penting yang disampaikan oleh
beberapa penulis dalam buku tersebut, pokok-pokok pikirannya sebagai berikut :
1. Andi Hakim Nasoetion, dengan tulisan Ilmu untuk Kehidupan dan
Penghidupan. Memberikan ide dan pikirannya, antara lain:
a. Pengajaran sains seharusnya bertolak dari latihan pemahaman dan
penguasaan fakta dasar mengenai ilmu.
b. Kemudian berkembang ke tahapan penerapan, analisis , dan sintesis.
c. Latihan membaca kritis sehingga membuat siswa dapat meramu sendiri
pengetahuan baru dari kumpulan pengetahuan yang sudah ada.
d. Melek huruf harus didampingi melek angka.
e. Belajar dari Sejarah dan Kesusastraan Dunia.
f. Untuk dapat menguasai ilmu sebagai penghidupan diperlukan kemampuan
berkomunikasi dalam bahasa ilmu itu dan bahasa pengantar ilmu itu.
g. Internet digunakan dalam kerangka kegiatan yang bernuansa akademik
sehingga Perlu dibangun cyber-acadecmic community.
2. J.C. Tukiman Taruna, dengan tulisannya Pengembangan Masyarakat dalam
Konteks Pendidikan untuk Semua. Menyampaikan ide dan gagasannya,
sebagai berikut :
a. Relevansi antara pengembangan masyarakat dan pendidikan seharusnya
dimaknai.
13
b. Perlu disebarluaskan konsep pendidikan untuk semua (Education For
All/EFA).
c. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) merupakan program rintisan sebagai
pendekatan pendidikan untuk semua (Education For All/EFA) dan sebuah
upaya peningkatan Pemberdayaan Masyarakat.
d. Indikator keberhasilan MBS.
3. Alex Lanur, dengan tulisan Dampak Konsep Manusia Filsafat Manusia
yang Bersifat Personalistik pada Pendidikan mengemukakan idenya tentang:
a. Dalam manusia terdapat beberapa struktur dasar yang sangat menentukan,
struktur tersebut adalah : 1). Manusia adalah makhluk Jasmaniah-Rohaniah;
2). Manusia adalah makhluk individual-sosial; 3). Manusia adalah makhluk
yang bebas; dan 4). Manusia adalah makhluk yang menyejarah.
b. Implementasi dari dimensi kejasmanian manusia menunjuk pentingnya
pendidikan jasmani sebagai bagian integral dan praksis pendidikan.
c. Adapun dimensi rohani mengharuskan praksis pendidikan mengusahakan
agar peserta didik dapat mengembangkan kemampuan-kemampuan olah
rohaninya. Pengolahan rasa, kepekaan, religiositas, dan lain-lain mendapat
tempatnya.
d. Dimensi individu-sosial yang melekat pada manusia menunjukkan bahwa
manusia adalah makhluk individu yang berada dalam realitas sosialnya.
Namun eksistensi manusia yang mempunyai ciri individu ini tidak boleh
dikaburkan dengan dimensi sosialnya. Oleh karena itu, dalam praksis
pendidikan dimensi individu ini harus mendapat tekanan lebih dahulu.
e. seyogianya pendidikan akan mengarahkan peserta didik menjadi manusia
yang mempunyai kemandirian dan sekaligus rasa tanggungjawab.
Kemandirian itu mengandaikan manusia mempunyai pengetahuan yang
cukup, keterampilan yang memadai, dan tata nilai yang benar sehingga
dapat mengambil sikap hidup yang konsisten dalam membangun interaksi
dengan lingkungan dan sesamanya.
f. manusia adalah makhluk yang bisa membuat sejarah dan sekaligus hidup
dan berkembang dalam kesejarahannya. Konsekuensi dari pengakuan atas
dimensi ini adalah peserta didik bukanlah kertas kosong. Peserta didik
14
sudah tumbuh dalam sejarah tertentu dan diharapkan mampu untuk
membuat sejarahnya sendiri.
4. Imam Bernabib, dengan tulisannya Renungan tentang Filsafat Pendidikan
Dewasa ini. Menuangkan ide dan gagasannya, ialah :
a. Seyogianya pendidikan memberi tempat yang seimbang bagi peserta didik,
baik sebagai objek ataupun subjek pendidikan.
b. Individu/peserta didik sudah semestinyalah diarahkan untuk menjadi
pribadi yang mandiri. Untuk itu, intervensi terhadap peserta didik haruslah
dilakukan dengan bijaksana.
c. Individu yang sedang dalam proses pendidikannya adalah pribadi yang
sedang menjadi. Dalam proses atau garis hidup semacam itulah pribadi itu
sedang membentuk diri.
5. Mursal Esten, dalam tulisannya Strategi Kebudayaan untuk Sistem
Pendidikan. Mengemukakan ide dan gagasannya, antara lain:
a. Pentingnya suatu strategi kebudayaan untuk sebuah bangsa yang besar dan
majemuk seperti Indonesia.
b. Proses reformasi yang tengah berlangsung pada hakikatnya adalah proses
kebudayaan.
c. Strategi kebudayaan harus memberi tempat bagi desentralisasi dan
globalisasi di dalam proses pendidikan.
d. Sistem Pendidikan adalah bagian terpenting dari strategi kebudayaan.
6. Zamakhsyari Dhofier, dalam tulisannya Sumbangan Visi Islam dalam Sistem
Pendidikan Nasional. Menyampaikan ide sebagai berikut:
a. Perbedaan maupun persamaan tujuan pendidikan Islam dan pendidikan
nasional akan mengalami perubahan sesuai dengan konteks sosialnya.
b. saatnya pendidikan kita terjadi proses konvergensi. Dimana pendidikan
melakukan pengembangan intelektual serta pembangunan moral dan akhlak
peserta didik secara bersama dalam pembelajaran.
Pada akhir perkuliahan dosen memberikan Tugas Analitis Kritis untuk Buku
Kedua. Referensi: Tilaar, H.A.R 2010. Paradigma baru pendidikan nasional.
Jakarta, Rineka Cipta. Kelas telah dibagikan dalam 6 kelompok sebelumnya,
hanya dijadikan 3 kelompok pembahasan saja. Hasil analisis Kritis akan
dipresentasikan pada hari kamis, 17 Oktober 2013.
15
JURNAL BELAJAR 6
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 10 Oktober 2013
Hari ini Kamis, 10 Oktober 2013 merupakan pertemuan ke-enam. Pada pertemuan ini kita
mengaitkan Visi Pendidikan Nasional dengan enam pendapat/artikel yang terdapat dalam
Bagian III: Mencari Visi Pendidikan dari Buku Menggagas Paradigma Baru Pendidikan
oleh Sindhunata (editor).
Hasil Refleksi:
Setelah membaca dan mengkaji visi Pendidikan Nasional, saya dapat menemukan
beberapa keterkaitan antara visi pendidikan Nasional dengan ide dan gagasan ke-enam
penulis tersebut, sebagai berikut:
Tujuan Pendidikan Nasional menurut Undang-Undang Sisdiknas adalah:
1) Meningkatkan iman, takwa, dan akhlak mulia; (sumbangsih gagasan
Zamakhsyari Dhofier)
2) Meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi; (sumbangsih
gagasan Andi Hakim Nasoetion)
3) Meningkatkan sensitivitas dan kemampuan ekspresi estetis;
4) Meningkatkan kualitas jasmani; (sumbangsih gagasan Alex Lanur)
5) Meningkatkan pemerataan kesempatan belajar kepada semua jalur, jenis, dan
jenjang pendidikan bagi semua warga negara secara adil, tidak diskriminatif,
dan demokratis tanpa membedakan tempat tinggal, status sosial-ekonomi, jenis
kelamin, agama, kelompok etnis, dan kelainan fisik, emosi, mental serta
intelektual;
6) Menuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun secara efisien,
bermutu, dan relevan sebagai landasan yang kokoh bagi pengembangan
kualitas manusia Indonesia; (sumbangsih gagasan J.C. Tukiman Taruna,)
7) Menurunkan secara signifikan jumlah penduduk buta aksara; (sumbangsih
gagasan Andi Hakim Nasoetion dan J.C. Tukiman Taruna,)
16
8) Memperluas akses pendidikan nonformal bagi penduduk laki-laki ataupun
perempuan yang belum sekolah, tidak pernah sekolah, buta aksara, putus
sekolah dalam dan antar jenjang serta penduduk lainnya yang ingin
meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan keterampilan;
9) Meningkatkan daya saing bangsa dengan menghasilkan lulusan yang mandiri,
bermutu, terampil, ahli dan profesional, mampu belajar sepanjang hayat, serta
memiliki kecakapan hidup yang dapat membantu dirinya dalam menghadapi
berbagai tantangan dan perubahan; (sumbangsih gagasan Imam Bernabib)
10) Meningkatkan kualitas pendidikan dengan tersedianya standar pendidikan
nasional dan standar pelayanan minimal (SPM), serta meningkatkan kualifikasi
minimum dan sertifikasi bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan
lainnya;
11) Meningkatkan relevansi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
pembangunan melalui peningkatan hasil penelitian, serta pengembangan dan
penciptaan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh perguruan tinggi serta
penyebarluasan dan penerapannya pada masyarakat;
12) Menata sistem pengaturan dan pengelolaan pendidikan yang semakin efisien,
produktif, dan demokratis dalam suatu tata kelola yang baik dan akuntabel;
(sumbangsih gagasan Mursal Esten)
13) Meningkatnya efisiensi dan efektifitas manajemen pelayanan pendidikan
melalui peningkatan pelaksanaan manajemen berbasis sekolah, peran serta
masyarakat dalam pembangunan pendidikan, serta efektivitas pelaksanaan
otonomi dan desentralisasi pendidikan termasuk otonomi keilmuan;
(sumbangsih gagasan J.C. Tukiman Taruna) .
14) Mempercepat pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme untuk
mewujudkan Depdiknas yang bersih dan berwibawa.
Dengan adanya keterkaitan ide dan gagasan para penulis artikel tersebut, memberikan
inspirasi pada saya untuk terus menambah pengetahuan dan wawasan tentang Pendidikan
sehingga kelak dapat memberikan ide dan gagasan dalam membenahi problematika
pendidikan. Berangkat dari keinginan itu, saya berharap kiranya Bapak dosen pengampu
memberikan bimbingan dan arahannya.
17
JURNAL BELAJAR 7
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 17 Oktober 2013
Hari ini Kamis, 17 Oktober 2013 merupakan pertemuan ke-tujuh. Pada hari ini, pertama
kali membahas tentang buku Paradigma baru pendidikan nasional yang ditulis oleh
Prof. Dr. H.A.R. Tilaar yang diterbitkan oleh Rineka Cipta, jakarta pada tahun 2000.
Presentasi hari ini terdiri dari 2 pembahasan, yaitu:
1. Paradigma Lama, Anomali, dan Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Yang
menjadi presenter ialah Bapak Ahmad Riyadi (004) dan pak mewakili kelompok 1
dan kelompok 4.
2. Desentralisasi Pendidikan Nasional dalam Rangka Pelaksanaan UU No. 22
Tentang Pemerintahan Daerah dan UU No. 25 Tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan Presenter Ayu Suhartiny
yang mewakili kelompok 2 dan kelompok 5.
Hasil Refleksi
Pada bagian awal dari presentasi hari ini dibahas bagian 2 dari Buku diatas
tentang Paradigma Lama, Anomali, dan Paradigma Baru Pendidikan Nasional.
Tujuan kita membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah untuk
Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Oleh sebab itu pendidikan nasional telah
menempatkan diri dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sejak lahirnya
Republik Proklamasi. Perubahan-perubahan fundamental telah terjadi didalam
sisdiknas, suatu sistem pendidikan kolonial yang elistis diubah menjadi pendidikan
yang populis. Ada empat Indikator Perkembangan Sistem Pendidikan Nasional, yaitu:
1). Popularasi Pendidikan, 2). Sistematisasi Pendidikan, 3). Proliferasi Pendidikan,
dan 4). Politisasi Pendidikan. Bangsa Indonesia dilanda krisis total yang menerpa
seluruh aspek kehidupan masyarakat dan berbangsa. Krisis yang menyeluruh tersebut
pada hakekatnya merupakan refleksi krisis kebudayaan yang merupakan krisis
18
pendidikan pula. Oleh sebab itu sudah pada waktunya kita meninjau kembali
paradigma-paradigma yang telah mendasari krisis pendidikan nasional. Dari hasil
yang telah kita capai selama masa era pra-krisis akan kita temukan anomali-anomali
yang terjadi. Metodologi gestalt atau metodologi holistik sangat kita perlukan oleh
karena krisis yang kita alami merupakan suatu krisis total. Berdasarkan analisis
terhadap pengalaman sisdiknas era Orde Baru serta anomali-anomali yang terjadi.
Maka dapat disusun berbagai paradigma untuk era Reformasi dalam pengembangan
sisdiknas. Pertama, penulis mengusulkan program prioritas pasca-krisis, kemudian
usulan program prioritas 1999-2004. Metode yang digunakan mengikuti metode yang
telah diterapkan dalam analisis kajian era Orde Baru yaitu dengan bertitik tolak pada
empat indikator sisdiknas yang telah disebutkan sebelumnya. Penulis sangat runut dan
kongkrit dalam menyampaikan gagasannya tersebut.
Pembahasan berikutnya adalah tulisan tentang Desentralisasi Pendidikan
Nasional dalam Rangka Pelaksanaan UU No. 22 Tentang Pemerintahan Daerah dan
UU No. 25 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah. Arus reformasi total sedang melanda kehidupan bermasyarakat
dan bernegara. Tujuan reformasi adalah menuju kepada masyarakat madani indonesia,
Di masa Orde Baru untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, digunakan
cara-cara paksaan yang sentralistik yakni mengerahkan rakyat untuk melaksanakan
keinginan sekelompok elit penguasa. Oleh karena itu, di era reformasi diperlukan
adanya partisipasi rakyat yang bertanggung jawab. Pendidikan yang terlepas dari
masyarakat dan budaya masyarakatnya, adalah pendidikan yang tidak mempunyai
akuntabilitas karena Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang hidup dari, oleh,
dan untuk masyarakatnya. Di dalam pengembangan kebudayaan, kita menghadapi dua
tugas yang besar, yakni: pengembangan budaya daerah dan pengembangan budaya
nasional. Oleh karena itu, dalam rangka desentralisasi pendidikan dan kebudayaan
diperlukan perangkat undang-undang pengaturan. Di dalam hal ini, diperlukan
koordinasi dan kerja sama antar-daerah agar kedua jenis kebudayaan ini tetap
merupakan kekayaan yang tidak ternilai dari bangsa dalam menghadapi gelombang
globalisasi dengan kebudayaan globalnya. Bangsa yang dilanda oleh kebudayaan
global akan kehilangan identitasnya apabila bangsa itu tidak menghargai dan tidak
mengembangkan kebudayaannya sendiri.
19
JURNAL BELAJAR 8
Nama Mata Kuliah : Landasan dan Problematika Pendidikan.
Dosen Pembina : Dr. Agus Ramdani, M.Sc.
Nama Mahasiswa : Andy Eddy
NIM : I2K 013 007
Hari/Tgl : Kamis, 24 Oktober 2013
Hari ini Kamis, 24 Oktober 2013 merupakan pertemuan ke-delapan dan semestinya hari
terakhir pembahasan tentang buku Paradigma baru pendidikan nasional yang ditulis
oleh Prof. Dr. H.A.R. Tilaar yang diterbitkan oleh Rineka Cipta, jakarta pada tahun 2000.
Adapaun pembahasannya adalah tentang Paradigma baru Perencanaan dan Manajemen
Pendidikan Nasional di Daerah. Yang telah diAnalisis Kritis oleh kelompok 3 dan
kelompok 6. Walaupun pembahasan ini tidak dipresentasikan, saya merasa perlu untuk
dibahas dalam jurnal belajar ini agar kita memiliki satu kesatuan pemahaman dan
pemikiran karena ketiga pembahasan dalam buku ini memiliki keterkaitan.
Hasil Refleksi:
Dengan terbitnya Undang-Undang Otonomi Daerah pada tahun 1999
maka dimulailah salah satu rentetan proses demokrasi di dalam kehidupan
masyarakat dan bangsa Indonesia. Salah satu pelaksanaan dari Undang-Undang
Otonomi Daerah ialah di dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.
Penyelenggaraan pendidikan dan kebudayaan yang akan menjadi tugas dan
wewenang Daerah. Untuk itu, di dalam pelaksanaannya memerlukan persiapan-
persiapan baik di dalam penyusunan rencananya, program, dan penyediaan sumber
daya. Otonomi pada hakekatnya bertujuan untuk memandirikan seseorang atau
suatu lembaga atau suatu daerah. Dalam rangka untuk mencapai tujuan
kemandirian tersebut maka usaha-usaha yang dilaksanakan adalah usaha
Pemberdayaan (empowerment). Pelaksanaan Undang-Undang Otonomi daerah
memerlukan suatu perubahan sikap dari para pelakunya serta kemampuan
kelembagaan agar supaya pelaksanaan otonomi dapat berjalan dengan sebaik-
baiknya.
20
Ada empat pemain inti dalam proses pemberdayaan agar lembaga
pendidikan berfungsi untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, yakni :
masyarakat Lokal, Universitas di Daerah, lembaga pemerintahan di Daerah, dan
Lembaga Pendidikan. Antara Pemda Kabupaten dengan masyarakat di dalam
penyelenggaraan pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan akuntabilitas
Horizontal. Artinya, masyarakat dan Pemda dua-duanya bertanggung jawab
terhadap the Stake Holder(masyarakat) yang memiliki pendidikannya.
Universitas di daerah mempunyai hubungan yang konsultatif dengan masyarakat
lokal dan Pemda Kabupaten, sehingga universitas dapat menjadi sumber
pembaharu dalam peningkatan mutu pendidikan, karena juga universitas dengan
status otonominya mempunyai hubungan konsultatif dengan Pemda Provinsi dan
juga pemerintah Pusat. Fungsi universitas menjadi cukup sentral dalam
pembangunan di daerah.
Melihat kepada fungsi universitas di daerah sebagai pusat yang
mempunyai kemampuan dan kedudukan yang otonomi maka lembaga universitas
di daerah dapat dijadikan pusat jaringan kerja sama untuk masing-masing provinsi.
Universitas bukan hanya berfungsi sebagai clearing house dari hasil uji-coba dan
pusat informasi, tetapi juga dapat dijadikan sebagai mitra penarik dari gerbong
reformasi pendidikan di daerah.
Berdasarkan gagasan ide penulis tersebut, saya dapat memahami bahwa
penulis begitu konsen dan sistematis dalam mensintesis sebuah konsep yang
disebut Desentralisasi pendidikan. Pada bagian ini penulis merumuskan bentuk
Paradigma Baru Perencanaan dan Manajemen Pendidikan Nasional di Daerah,
dimana Universitas di Daerah dijadikan Pusat jaringan Kerjasama. Kemudian
timbul pertanyaan mendasar pada diri saya, Apakah tulisan ini memiliki keterkaitan
dengan diterbitkannya Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS ?
jawaban untuk pertanyaan ini telah ditanggapi oleh dosen pengampu, bahwa
memang tulisan-tulisan ini (HAR. Tilaar) memiliki keterkaitan dengan lahirnya
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS.
Berangkat dari uraian diatas, saya merefleksikan bahwa Pendidikan adalah
persoalan mendasar dalam kehidupan Karena setiap perubahan yang terjadi
dibidang yang lain akan ikut merubah pola dan paradigma pendidikan.
Sebagaimana yang telah terjadi dan disampaikan dalam tulisan-tulisan diatas.