Anda di halaman 1dari 125

EVALUASI KELAYAKAN USAHA TERNAK KAMBING PERAH

PERANAKAN ETAWA (PE), DI PETERNAKAN UNGGUL,


KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR




SKRIPSI






ABDUL ROSID
H34066001




















DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

RINGKASAN

ABDUL ROSID. Evaluasi Kelayakan Usaha Ternak Kambing Perah
Peranakan Etawa (PE), di Peternakan Unggul, Kecamatan Ciampea,
Kabupaten Bogor. Sekripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen Institut Pertanian Bogor (DI bawah bimbingan HARMINI).
Adanya penetapan kebijakan diberlakukannya otonomi daerah, setiap
daerah didorong untuk mampu mengembangkan komoditas unggulan sebagai
sumber pemasukan bagi pendapatan asli daerah. Salah satu komoditas pada
subsektor peternakan yang mulai dikembangkan pemerintah daerah khusunya
propinsi Jawa Barat adalah kambing perah. Selain itu pengembangan kambing
perah didukung dengan adanya sumber daya ternak kambing lokal yang
berkualitas dan adaptif terhadap kondisi lingkungan yang panas dan lembab.
Indikator peningkatan pembangunan subsektor peternakan dapat dilihat dengan
adanya indikasi bertambahnya populasi ternak pada komoditas yang ada.
Penyebaran populasi ternak kambing dari tahun ke tahun umumya terjadi
peningkatan. Peningkatan terbesar populasi kambing terjadi di propinsi Jawa
Tengah yang merupakan salah satu daerah sentra ternak kambing nasional. Hal ini
terlihat bahwa Propinsi J awa Tengah merupakan populasi kambing terbesar di
Indonesia, yaitu mencapai 3.193.842 ekor pada tahun 2007 (data sementara).
Sedangkan Jawa Barat berada pada urutan ketiga terbesar, sebanyak 1.393.190
ekor setelah propinsi Jawa Timur. Berdasarkan jumlah populasi terbesar ketiga
nasional tersebut dapat dikatakan bahwa ternak kambing merupakan salah satu
komoditas unggulan di provinsi Jawa Barat yang masih berpotensi untuk
dikembangkan.
Pengembangan agribisnis peternakan khususnya kambing perah PE di
Kabupaten Bogor dapat dijadikan sebagai pengembangan sentra usaha komoditi
unggulan. Angka populasi ternak kambing PE yang berada di Kabupaten Bogor
mengalami peningkatan. Kecamatan Ciampea merupakan salah satu sentra
perkembangan populasi ternak kambing perah di Kabupaten Bogor. Data dinas
peternakan dan perikanan Kabupaten Bogor pada tahun 2007 menjelaskan bahwa
Kecamatan Ciampea, terjadi peningkatan jumlah populasi kambing perah cukup
signifikan mencapai 129,26 persen diantara kecamatan yang ada di Kabupaten
Bogor. Peningkatan jumlah populasi tersebut mengindikasikan bahwa
perkembangan usaha ternak kambing keberadaannya dapat diterima oleh
masyarakat.
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka tujuan
dari penelitian ini adalah :1) Menganalisis kelayakan usaha Peternakan Unggul
dari aspek kelayakan finansial dan non finansial (aspek pasar, teknis, manajemen
dan sosial). 2) Menganalisis tingkat kepekaan kelayakan usaha kambing perah PE
terhadap perubahan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi manfaat dan
biaya dari usaha tersebut.
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan
kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang

aspek-aspek budidaya kambing perah PE secara umum meliputi analisis
aspek pasar, aspek teknis, aspek institusional-organisasi-manajerial, dan aspek
sosial Peternakan Unggul. Analisis kuantitatif meliputi analisis kelayakan
finansial pengusahaan kambing unggul, analisis kelayakan finansial ini
menggunakan perhitungan kriteria-kriteria investasi yaitu, Net Present Value
(NPV), Internal Rate Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback
Period (PBP) dan analisis Switching value. Data yang diperoleh diolah secara
manual dengan menggunakan program komputer Ms. Excel.
Analisis yang dilakukan terhadap aspek non finansial penting untuk
dilakukan karena dapat memberikan gambaran terhadap usaha yang akan maupun
sedang dijalankan. Walaupun aspek non finansial belum ada keseragaman yang
pasti tentang aspek apa saja yang menjadi acuan untuk diteliti. Namun pada
penelitian ini yang dilakukan terhadap aspek non finansial meliputi aspek pasar,
aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial.
Hasil analisis kriteria kelayakan finansial, usaha Peternakan Unggul
berdasarkan dua skenario menunjukan Skenario I dilihat dari kriteria NPV, IRR,
net B/C dan PBP lebih menguntungkan dibandingkan dengan Skenario II: masing-
masing nilai yang diperoleh NPV sebesar Rp 359. 966.477, IRR: 127 persen, Net
B/C: 5,77 dan PBP: 2,01 tahun atau setara dengan dua tahun, tiga hari. Skenario
II hasil yang diperoleh dari pendekatan NPV nilai yang diperoleh adalah Rp
57.872.694 IRR : 44 persen, Net B/C : 1,61 dan PBP : 6,88 tahun, setara dengan
enam tahun sepuluh bulan,enam belas hari.
Analisis Switching Value pada skenario I diperoleh tingkat penurunan
harga susu yang dapat ditolerir sebesar 30,16 persen, dan kenaikan biaya yang
dapat ditolerir sebesar 55,43 peersen. Sedangkan skenario II diperoleh tingkat
kepekaan terhadap penurunan harga susu kambing sebesar 13,03 persen,
sedangkan peningkatan biaya variabel diperoleh sebesar 18,52 persen. Hasil
perbandingan tersebut menunjukan skenario II lebih peka atau sensitif terhadap
perubahan baik dari penurunan harga susu maupun kenaikan biaya variabel.
Semakin sensitif terhadap suatu perubahan dampak usaha yang akan dijalankan
semakin berrisiko. Perbandingan Switching Value usaha Peternakan Unggul.
Penyebab skenario II lebih peka/sensitif dibandingkan skenario I, dikarenakan
pada skenario II kemampuan usaha kambing perah PE dengan kapasitas kandang
sebanyak 50 ekor ternak kambing dan kemampuan investasi awal sebnnyak 21
ekor, penerimaan outflow yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan inflow yang
dihasilkan sehingga kurang efisien menggunakan biaya investasi yang
ditanamkan.













EVALUASI KELAYAKAN USAHA TERNAK KAMBING PERAH
PERANAKAN ETAWA (PE), DI PETERNAKAN UNGGUL,
KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR





SKRIPSI








ABDUL ROSID
H34066001








Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis











DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2009

Judul Skripsi : Evaluasi Kelayakan Usaha Ternak kambing Perah
Peranakan Etawa (PE), Di Peternakan Unggul,
Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor
Nama : Abdul Rosid
NIM : H34066001




Disetujui,
Pembimbing




Ir. Harmini, MSi
NIP. 196009211987032002







Diketahui,
Ketua Departemen Agribisnis
Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor





Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP.195809081984031002






Tanggal Lulus: .....................

PERNYATAAN


Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul Evaluasi
Kelayakan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan Etawa (PE), di Peternakan
Unggul, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor adalah karya saya sendiri dan
belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.




Bogor, September 2009

Abdul Rosid
H34066001


















RIWAYAT HIDUP



Penulis dilahirkan di Bekasi, Jawa Barat pada tanggal 15 Maret 1983.
Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Alih
Jeran dan Ibu Aisah. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Strada
Bekasi pada tahun1997 dan pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP)
diselesaikan pada tahun 2000 di SLTP Strada Bekasi.
Lulus dari SLTP penulis langsung melanjutkan ke SMK Negeri 1 Cibadak,
Sukabumi dan lulus pada tahun 2003. Ditahun yang sama penulis diterima
sebagai mahasiswa Program Studi Diploma III, Pengelola Perkebunan,
Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor melalui jalur Reguler dan lulus pada tahun 2006. Setelah lulus dari
Diploma III penulis mendapat kesempatan melanjutkan pada Jenjang Strata Satu
(S1) Program Sarjana Agribisnis Penyelenggaraan Khusus Departemen
Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Selama mengikuti pendidikan penulis aktif sebagai pengurus himpunan propesi
mahasiswa Agronomi (Himagron) IPB tahun 2004-2005. Tim pemberdayaan
masyarakat desa IPB masa bakti 2004-2005. Assessment team lahan perkebunan
di PT Baris Agro tahun 2006-2007. Pengurus Keluaga Muslim Ekstensi, 2007-
2008. Serta asisten dosen di Universitas Al- Zaytun Indonesia pada Fakultas
Pertanian Terpadu tahun 2009.











KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
Evaluasi Kelayakan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan Etawa (PE), di
Peternakan Unggul, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor Penelitian ini
bertujuan menganalisis kelayakan usaha di Peternakan Unggul baik dari aspek
finansial maupun aspek non finansial.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan
dikarenakan keterbatasan dan kendala yang dihadapi penulis. Oleh karenanya,
penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua
pihak ke arah penyempurnaan skripsi ini sehingga bermanfaat bagi semua pihak,
baik bagi pelaku usaha peternak kambing perah, pembaca dan khususnya bagi
penulis sendiri.


Bogor, September 2009

Abdul Rosid



















UCAPAN TERIMA KASIH

Penulisan skripsi yang berjudul Evaluasi Kelayakan Usaha Ternak
Kambing Perah Peranakan Etawa (PE), Di Peternakan Unggul, Kecamatan
Ciampea, Kabupaten Bogor ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak. sehingga skripsi ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya
sebagai salah satu syarat kelulusan.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih dan
penghargaan kepada:
1. Ir. Harmini, MSi selaku dosen pembimbing atas bimbingan, motivasi dan
arahannya selama penulis menyusun skripsi ini.
2. Ir. Popong Nurhayati, MM dan Etrya, SP. MM selaku dosen penguji pada
ujian sidang penulis yang telah meluangkan waktunnya serta memberikan
kritik, saran maupun masukan demi menyempurnakan penelitian ini.
3. Ir. Juniar Atmakusuma, MS sebagai dosen evaluator pada kolokium rencana
penelitian yang telah memberikan masukan dan saran sebagai bekal turun
lapang.
4. Jumadi atas kesediaannya menjadi pembahas dalam seminar hasil skripsi yang
telah memberikan masukan dan koreksi untuk penyempurnaan hasil skripsi ini
5. Orang tua tercinta, abang Samin, Limih, Rusman serta seluruh keluargaku atas
doa dan dukungannya selama penulis menyelesaikan kuliah di IPB, semoga
ini bisa menjadi persembahan yang terbaik.
6. Keluarga Dr.Ir. Hariyadi MS, Ibu Yuli Nurlestari, SE. MM beserta keluarga
atas motivasi dan dukungannya selama penulis penyelesaikan kuliah.
7. Bapak Wisnanto selaku pemilik Peternakan Unggul, trimakasih atas diskusi,
pengalaman dan kesempatan yang diberikan kepada penulis melakukan
penelitian.
8. Wahyu Dwihartanto, Dewintha Stani, Surahmat,Nike Irawati, Ai maslihah,
Bembi, Arief Rivai, Ragel, Amir Elbani, Risman, Nuning, Yosi, Ajen
Mukarom, Ayila, Tessa Magrianti, Kang Husein trimakasih atas bantuan,
saran, diskusi dan masukannya selama penulis menyelesaikan kuliah di IPB.

9. Teman teman PLP, Keluarga Besar Asrama Kalsel, Keluarga Besar Muslim
Ekstensi Institut Pertanian Bogor beserta Pembina, Seluruh Staf dan dosen
Fakultas Ekonomi dan Manajemen, teman-teman Ekstensi khusunnya
angkatan satu atas kebersamaan dan perjuangannya yang telah kita lalui
semoga rasa kekeluargaan dan kebersamaan tetap terjaga.
10. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu,
terimakasih atas bantuannya.






Bogor, September 2009

Abdul Rosid
















DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL .................................................................................. v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. vii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... viii

I PENDAHULUAN ........ 1
1.1. Latar Belakang . 1
1.2. Perumusan Masalah . 6
1.3. Tujuan Penelitian . 7
1.4. Kegunaan Penelitian 7
1.5. Ruang Lingkup Penelitian ... 7
II TINJAUAN PUSTAKA . 9
2.1. Usaha Peternaan Kambing Perah 9
2.2. Klasifikasi Biologi dan Karakteristik Kambing PE 10
2.3. Budidaya . 10
2.4 Penelitian Terdahulu ............................................................... 13
III KERANGKA PEMIKIRAN ......................................................... 18
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis .. 18
3.1.1. Studi Kelayakan Proyek ............................................. 18
3.1.2. Aspek-aspek Analisis Kelayakan .............................. 18
3.1.3. Analisis Sensitivitas .................................................... 21
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional .. 22

IV METODE PENELITIAN . 25
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian . 25
4.2. Jenis dan Sumber Data ............................................................ 25
4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data ................................... 25
4.4. Asumsi Dasar . 30

V GAMBARAN UMUM....................................................................... 33
5.1 Sejarah dan Perkembangan.......................................................... 33
5.2 Lokasi Peternakan........................................................................ 34
5.3 Keadaan Penduduk Kecamatan Ciampea.................................... 36

VI ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL............................................ 39
6.1 Aspek Pasar.................................................................................. 39
6.1.1 Permintaan........................................................................ 39
6,1.2 Penawaran....................................................................... 40
6.1.3 Analisis Pesaing dan Peluang Pasar................................ 40
6.1.4 Bauran Pemasaran........................................................... 41
6.1.5 Analisis Aspek Pasar........................................................ 45
6.2 Aspek Teknis................................................................................ 46
6.2.1 Lokasi Produksi................................................................ 46
6.2.2 Teknis Budidaya............................................................... 48
6.2.3 Produksi susu.................................................................... 54
6.2.4 Tenaga Kerja.................................................................... 54
6.3 Aspek Manajemen....................................................................... 55
6.4 Aspek Sosial................................................................................ 56

VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL.................................................. 58
7.1 Inflow.......................................................................................... 58
7.2 Outflow....................................................................................... 61
7.3 Analisis Kelayakan Finansial..................................................... 66
7.4 Analisis Switchinng value.......................................................... 70

VIII KESIMPULAN DAN SARAN..................................................... 72
8.1 Kesimpulan................................................................................ 72
8.2 Saran.......................................................................................... 72

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 74
LAMPIRAN ....................................................................................... 76
















DAFTAR TABEL


Nomor Halaman
1. Populasi Ternak Menurut Jenis di Kabupaten Bogor
Tahun 2006-2007 .................................................................. 2

2. Populasi Kambing Perah di Beberapa Kecamatan di
Kabupaten Bogor Tahun 2006-2007 ........................................ 3

3. Perkembangan Konsumsi Susu Per Kapita Per Tahun
di Indonesia Tahun 2005-2006 ................................................ 4

4. Perbandingan Komposisi Susu Sapi, Susu Kambing, dan Air
Susu Ibu Per 100 gram 5

5. Jumlah Pemberian Pakan Berdasarkan Kondisi
Pertumbuhan Kambing.............................................................. 13

6. Luas Wilayah Setiap Desa di Kecamatan Ciampea
Tahun 2008............................................................................... 35

7. Luas Lahan (Ha) Berdasarkan Pemanfaatan Lahan
di Kecamatan Ciampea Tahun 2008....................................... .. 36

8. Jumlah Penduduk dan Kepala Keluaarga di Kecamatan
Ciampea Tahun 2008................................................................. 37

9. Jumlah Penduduk di Kecamatan Ciampea Berdasarkan
Umur Tahun 2008...................................................................... 37

10. Jumlah Penduduk (jiwa) Kecamatan Ciampea
Berdasarkan Mata Pencharian Tahun 2008............................... 38

11. Estimasi Produksi Susu Kambing di Peternakan Unggul........ . 59

12. Estimasi Penerimaan Penjualan Anak Kambing Per Tahun..... 61

13. Biaya Investasi pada Peternakan Unggul................................. . 62

14. Biaya Re-Investasi Usaha Peternakan Unggul......................... . 63

15. Rincian Biaya Tetap Usaha Peternakan Unggul....................... 64

16. Angsuran Pembayaran Pinjaman Usaha
Peternakan Unggul................................................................... . 65

17. Rincian Biaya Konsentrat Per Ekor Per Hari............................ 65

18. Hasil Kriteria Kelayakan Usaha Pada Skenario 1..................... 68

19. Perbandingan Hasil Kelayakan Usaha Pada Dua Skenario....... 70

20. Perbandingan Hasil Switching Value Usaha
Peternakan Unggul.................................................................... 71


































DAFTAR GAMBAR


Halaman

1. Kerangka Pemikiran Oprasional............................................... 24
2. Kemasan Susu Murni di Peternakan Unggul............................ 43
3. Kandang Tipe Panggung di Peternakan Unggul....................... 48
4. Pemberian Pakan Ampas Kedelai............................................. 50
5. Kegiatan Sanitasi Kandang di Peternakan Unggul................... 51



























DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Kuisoner.................................................................................... 77
2. Estimasi perkembangan Populasidan Produksi Kambing PE.... 80
3. Biaya investasi, penyusutan dan nilai sisia Usaha
peternakan Unggul..................................................................... 85

4. Rincian Biaya variabel Usaha Peternakan Unggul................... 86
5. Laba Rugi Skenario I................................................................ 87
6. Cashflow skenario I .................................................................. 88
7. Switching Value penurunan harga susu (Skenario I)................. 90
8. Switching Value Kenaikan Biaya Variabel (Skenario I)............ 92
9. Estimasi Perkembangan Populasi danProduksi Kambing
PE (Skenario II)........................................................................ 94

10. Biaya Investasi, Penyusutan dan Nilai Sisa (Skenario II) ......... 99
11. Estimasi Penerimaan Usaha Peternakan Unggul (Skenario II).... 100
12. Rincian Biaya Variabel (Skenario II)......................................... 101
13. Cashflow skenario II ................................................................ 102
14. Laba Rugi Skenario II................................................................ 104
15. Switching Value penurunan harga susu (Skenario II)................ 105
16. Switching Value Kenaikan Biaya Variabel (Skenario II)........... 107











I PENDAHULUAN


1.1.Latar Belakang
Adanya penetapan kebijakan diberlakukannya otonomi daerah, setiap
daerah didorong untuk mampu mengembangkan komoditas unggulan sebagai
sumber pemasukan bagi pendapatan asli daerah. Salah satu komoditas pada
subsektor peternakan yang mulai dikembangkan pemerintah daerah kusunya
propinsi Jawa Barat adalah kambing perah. Selain itu pengembangan kambing
perah didukung dengan adanya sumber daya ternak kambing lokal yang
berkualitas dan adaptif terhadap kondisi lingkungan yang panas dan lembab.
Indikator peningkatan pembangunan subsektor peternakan dapat dilihat dengan
adanya indikasi bertambahnya populasi ternak pada komoditas yang ada.
Menurut BPS Peternakan (2007) penyebaran populasi ternak kambing dari
tahun ke tahun umumya terjadi peningkatan. Peningkatan terbesar populasi
kambing terjadi di propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu daerah sentra
ternak kambing nasional. Hal ini terlihat bahwa Propinsi Jawa Tengah merupakan
populasi kambing terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 3.193.842 ekor pada
tahun 2007 (data sementara). Sedangkan J awa Barat berada pada urutan ketiga
terbesar, sebanyak 1.393.190 ekor setelah propinsi Jawa Timur. Berdasarkan
jumlah populasi terbesar ketiga nasional tersebut dapat dikatakan bahwa ternak
kambing merupakan salah satu komoditas unggulan di provinsi Jawa Barat yang
masih berpotensi untuk dikembangkan.
Populasi kambing perah Peranakan Etawa (PE) di Kabupaten Bogor
relatif lebih kecil dibandingkan jumlah populasi jenis ternak lainnya, namun
berdasarkan informasi data tersebut (Tabel 1) memperlihatkan perkembangan
ternak kambing PE merupakan ternak yang mengalami peningkatan populasi
tertinggi di Kabupaten Bogor mencapai 51,01 persen dibandingkan dengan jenis
ternak lain seperti sapi, kerbau, domba, babi, ayam dan sebagainya. Informasi
khusus mengenai perkembangan populasi kambing (perah) di Jawa Barat
khususnya di Kabupaten Bogor dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.


Tabel 1. Populasi Berbagai J enis Ternak di Kabupaten Bogor Tahun 2006-2007
No Jenis Ternak
Jumlah Populasi (ekor)
Pertumbuhan
(%) Tahun 2006 Tahun 2007
1 Sapi Potong 14.831 17.502 18,01
2 Sapi Perah 5.123 5.268 2,83
3 Kerbau 21.228 16.662 -21,51
4 Kambing PE 1.382 2.087 51,01
5 Kambing Non PE 120.682 115.299 -4,46
6 Domba 229.012 223.253 -2,51
7 Babi 5.779 2.406 -58,37
8 Ayam Ras Petelur 3.533.007 3.791.836 7,33
9 Ayam Ras Pedaging 11.864.000 12.756.836 7,52
10 Ayam Ras Pembibit 601.000 748.239 24,50
11 Ayam Buras 1.201.644 1.007.202 -16,18
12 Itik 241.299 150.986 -37,43
13 Puyuh 16.000 4.000 -75
14 Aneka Ternak
- Kuda
- Kelinci
- Kera

277
4.118
6.498

292
5.756
6.277

5,42
39,78
-3,40

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor (2008)

Pengembangan agribisnis peternakan khususnya kambing perah PE di
Kabupaten Bogor dapat dijadikan sebagai pengembangan sentra usaha komoditas
unggulan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya (Tabel 1), angka populasi
ternak kambing PE yang berada di Kabupaten Bogor mengalami peningkatan,
sedangkan daerah mana saja di Kabupaten Bogor yang merupakan sentra produksi
susu kambing dapat dilihat pada Tabel 2. Kecamatan Ciampea merupakan salah
satu sentra perkembangan populasi ternak kambing perah di kabupaten Bogor.
Data dinas peternakan dan perikanan Kabupaten Bogor pada tahun 2007
menjelaskan bahwa Kecamatan Ciampea, terjadi peningkatan jumlah populasi
kambing perah cukup signifikan mencapai 129,26 persen diantara kecamatan yang
ada di Kabupaten Bogor. Peningkatan jumlah populasi tersebut mengindikasikan
bahwa perkembangan usaha ternak kambing keberadaannya dapat diterima oleh
masyarakat.

Tabel 2. Populasi Kambing Perah di Beberapa Daerah Sentra di Kabupaten Bogor
Tahun 2006-2007
Kecamatan
Populasi (ekor)
Persentase
Perkembangan (%)
2006 2007
Cijeruk 324 404 24,69
Caringin 245 341 39,18
Ciampea 123 282 129,26
Pamijahan 187 243 29,95
Cigombong 117 222 89,74

Sumber : Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor (2008)

Kambing perah merupakan ternak dwiguna, selain susu sebagai produk
utama, daging dan produk sampingan seperti kotoran ternak dapat dimanfaatkan
sebagai sumber pupuk organik. Usaha ternak kambing perah dapat dijadikan
sebagai ternak alternatif diversifikasi hasil peternakan selain sapi, karena
terbatasnya daerah yang sesuai untuk pengembangan sapi perah di Indonesia.
Namun, hanya kambing perah tertentu yang dapat menghasilkan susu kambing,
karena mengingat tidak semua jenis kambing dapat menghasilkan susu secara
kontinyu dan produktivitas susu dalam jumlah yang banyak. Salah satu jenis
kambing yang berpotensi untuk dikembangkan di Indonesia adalah kambing PE.
Dilihat dari kebutuhan konsumsi susu, umumnya terjadi peningkatan baik
susu segar maupun susu olahan (Tabel 3). Peningkatan populasi penduduk dan
pendapatan masyarakat merupakan faktor yang dapat mempengaruhi pola
konsumsi susu per kapita. Konsumsi susu baik susu olahan maupun susu segar
pada tahun 2006 terjadi peningkatan sebesar 10,47 kg per tahun per kapita
dibandingkan pada tahun sebelumya. Masyarakat Indonesia umumnya
mengkonsumsi susu kambing dalam bentuk susu segar. Secara khusus jumlah
konsumsi susu segar per tahun per kapita termasuk didalammya susu kambing
terjadi peningkatan, pada tahun 2005 sebesar 0,1 kg menjadi 0,16 kg per tahun
per kapita.


Tabel 3. Perkembangan Konsumsi Produk Susu Per Kapita Per Tahun di
Indonesia Tahun 2005-2006

No. J enis Produk Tahun/(kg)
2005 2006
1 Susu segar 0,10 0,16
2 Susu cair pabrik 0,12 0,14
3 Susu kental manis 1,10 1,10
4 Susu bubuk 4,59 5,16
5 Susu bubuk bayi 3,90 3,90
6 Keju 0,01 0,00
7 Hasil lain dari susu 0,01 0,01
Total konsumsi Susu 9,82 10,47

Sumber : BPS Peternakan (2007)

Keunggulan susu kambing perah dibandingkan susu yang bersumber dari
susu sapi, susu kambing mudah dicerna dan tidak menimbulkan gangguan
pencernaan bagi mereka yang alergi mengkonsumsi susu sapi. Susu segar yang
biasa dikonsumsi masyarakat adalah susu sapi. Keberadaan ternak kambing perah
sebagai ternak ruminansia kecil berpotensi sebagai penghasil susu selain sapi yang
umumnya kita kenal. Susu segar yang dimaksud adalah tanpa adanya penambahan
atau pengurangan suatu apapun kandungan alami dari susu tersebut yang
dihasilkan dari pemerahan. Dari sisi kandungan nutrisi, susu kambing memiliki
kandungan nutrisi yang lebih baik dibandingkan susu sapi (Tabel 4). Selain
sebagai sumber minuman bernutrisi susu kambing juga diyakini dapat
menyembuhkan beberapa penyakit seperti gangguan pernafasan dan lambung.
Perbandingan komposisi kimia antara susu sapi, susu kambing dan air susu ibu
(ASI), kandungan kimia susu kambing memiliki keunggulan dibandingkan susu
lainnya, komposisi kimia tersebut diantaranya kandungan Protein, Kalsium,
Magnesium, Natrium, dan Niacin dimana kandungan kimia tersebut dibutuhkan
oleh tubuh manusia.


Tabel 4. Perbandingan Komposisi Susu Sapi, Susu Kambing, dan Air Susu Ibu Per 100 gram

Komposisi Kimia Satuan Susu Sapi Susu Kambing Air Susu Ibu
Protein gram 3,3 3,6 1,0
Lemak gram 3,3 4,2 4,4
Karbohidrat gram 4,7 4,5 6,9
Kalori kal 61 69 70
Fosfor gram 93 111 14
Kalsium gram 19 134 32
Magnesium gram 13 14 3
Besi gram 0,05 0,05 0,03
Natrium gram 49 50 17
Kalium gram 152 204 51
Vitamin A IU 126 185 241
Thiamin mg 0,04 0,05 0,014
Riboflavin mg 0,16 0,14 0,04
Niacin mg 0,08 0,28 0,18
Vitamin B6 mg 0,04 0,05 0,01

Sumber : US Department of Agriculture dalam Sutama dan Budiarsana (1997)


Susu kambing memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga
susu sapi. Sebagai informasi harga susu kambing ditingkat konsumen di luar
Jakarta sudah mencapai Rp 20.000-40.000/liter sedangkan harga susu sapi hanya
berkisar Rp 4000-5000/liter (Sodiq dan Abidin 2008). Bahkan peternak kambing
perah di wilayah Bogor, Dwi Susanto mampu menjual harga susu kambing
mencapai 100.000/liter)
1
. Harga jual susu kambing yang tinggi menjadikan
insentif bagi peternak untuk mengembangkan usaha kambing perah. Tingginya
harga susu kambing adalah karena susu kambing dijadikan sebagai minuman obat
dan bahan baku untuk kecantikan. Selain itu, juga dipengaruhi oleh masih
sedikitnya peternak yang mengusahakan ternak kambing, sehingga menyebabkan
pasokan susu terbatas.
Adanya peluang bisnis usaha ternak kambing perah di Kecamatan
Ciampea Bogor menjadikan daya tarik investor untuk berinvestasi. Pemilik
Peternakan Unggul adalah salah seorang yang mampu membaca peluang bisnis
tersebut dengan mendirikan peternakan yang khusus memelihara jenis kambing
PE. Peternakan ini terletak di Kecamatan Ciampea yang merupakan salah satu

1
Adijaya, Dian. Tangguk Rezeki dari Susu Kambing. Trubus no 468 edisi november 2008.
daerah sentra produksi susu kambing. Dengan hadirnya usaha Peternakan Unggul,
diharapkan tidak hanya menguntungkan bagi peternaknya sendiri, tetapi juga
memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar dan sebagai pemasukan pendapatan
pemerintah daerah setempat.

1.2.Perumusan Masalah
Kambing perah merupakan ternak yang bersifat dwiguna selain penghasil
susu sebagai produk utama juga dapat dimanfaatkan dagingnya. Kandungan susu
kambing memiliki nutrisi yang cukup baik. Adanya peningkatan konsumsi susu
per kapita per tahun, dan memiliki harga jual yang cukup tinggi, menjadikan daya
tarik pelaku usaha untuk memasuki usaha kambing perah dengan harapan
memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnnya.
Peternak Kambing Unggul dalam menjalankan usaha tersebut, belum
melakukan analisis kelayakan terhadap usaha yang sedang dijalankan. Manfaat
dengan melakukan analisis kelayakan bagi pelaku usaha dapat mengetahui apakah
usaha yang dijalankan mendatangkan keuntungan atau kerugian serta sebagai
informasi bagi investor maupun pelaku usaha melakukan investasi pada komoditi
peternakan, khususnya kambing perah peranakan etawa, selain itu pengembangan
dan pengusahaan kambing PE tersebut membutuhkan waktu tidak sebentar dalam
penanaman modal investasi yaitu selama lima tahun. Biaya investasi yang
dikeluarkan seperti biaya pembangunan kandang, pengadaan bibit kambing PE,
pengeluaran untuk biaya produksi membutuhkan modal yang besar serta setiap
usaha dihadapi adanya risiko. Risiko yang dihadapi seperti adanya pesaing antar
produsen susu kambing, tingkat kematian ternak akibat penyakit ternak,
perubahan harga input, ketersediaan pakan, perubahan ekonomi suatu negara
seperti sekarang ini terjadi krisis global. Oleh karena itu, penting untuk
mempelajari bagaimana kelayakan pengusahaan ternak kambing perah tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana kelayakan investasi pengusahaan ternak kambing perah ini,
apakah sudah layak diusahakan dilihat dari aspek finansial dan non
finansial ?
2. Bagaimana tingkat kepekaan (sensitivitas) kelayakan pengusahaan
kambing perah apabila terjadi perubahan pada faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi manfaat dan biaya ?

1.3. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah di atas maka tujuan
dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisis kelayakan usaha Kambing Perah Peranakan Etawa di
Peternakan Unggul dari aspek kelayakan finansial dan non finansial (aspek
pasar, teknis, manajemen dan sosial)
2. Menganalisis tingkat kepekaan kelayakan usaha kambing perah PE
terhadap perubahan dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi manfaat
dan biaya dari usaha tersebut.

1.4. Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan-masukan
yang bermanfaat bagi pemilik usaha kambing perah mengenai kelayakan usaha
tersebut demi keberlangsungan usahanya. Bagi penulis, untuk mengaplikasikan
ilmu yang dipelajari selama masa perkuliahan dan sebagai sarana informasi dunia
usaha di subsektor peternakan secara nyata. Bagi pembaca, diharapkan hasil
penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi atau rujukan sebagai informasi
pengusahaan kambing perah, serta sebagai pertimbangan ketika terjun ke dunia
usaha atau pemilihan bisnis dalam pengambil keputusan.

1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini dibatasi hanya mengkaji aspek yang berkepentingan
langsung dengan perusahaan, sehingga penelitian ini mencakup aspek pasar, aspek
teknis, aspek manajemen, aspek sosial dan aspek finansial. Kriteria kelayakan
untuk aspek pasar ditinjau dari komponen potensi pasar dan bauran pemasaran
yang dijalankan perusahaan. Kriteria kelayakan untuk aspek teknis ditinjau dari
komponen lokasi produksi, tata letak tempat produksi, perencanaan dan proses
budidaya. Kriteria kelayakan untuk aspek manajemen ditinjau dari komponen
manajemen sumberdaya manusia dan manajemen organisasi perusahaan. Kriteria
investasi aspek finansial yang digunakan Net Present Value (NPV), Internal Rate
of Return (IRR), Net Benefit-Cost Ratio (Net B/C) dan Payback Period (PBP).







































II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Usaha Peternakan Kambing Perah
Peternakan adalah usaha manusia untuk mendayagunakan hewan bagi
kesejahteraan umat manusia. Kegunaan yang diperoleh manusia dari ternak yang
dipeliharanya, antara lain tenaga kerja, makanan berupa daging, telur dan susu,
olah raga dan rekreasi, serta kotorannya yang digunakan sebagai pupuk organik
maupun biologis.
Menurut Mubyarto (1989), peternakan dilihat dari pola pemeliharaannya
di Indonesia dapat dibagi tiga kelompok, yaitu 1) peternakan rakyat dengan cara
pemeliharaan yang tradisional, 2) peternakan rakyat dengan cara pemeliharaan
yang semi komersial dan 3) peternakan komersial. Agar dapat berproduksi dengan
optimal maka diperlukan faktor-faktor produksi meliputi ternak, tenaga kerja,
modal dan manajemen.
Manajemen kambing perah adalah seni merawat, menangani dan mengatur
kambing. Terdapat beberapa hal yang termasuk didalamnya, yaitu pemeliharaan,
tenaga kerja, modal, pencegahan penyakit, dan kotoran. Agar sukses menjalankan
usaha peternakan kambing perah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu
bibit ternak yang digunakan, teknik pemberian pakan dan manajemen usaha
ternak itu sendri (Siregar dan Ilham 2003).
Kambing merupakan hewan yang sangat penting dalam pertanian
subsisten, karena kemampuannya yang unik dalam mengadaptasikan dan
mempertahankan dirinya dalam lingkungan yang kering (William dan Payne
dalam Fauzian 2002). Sebagian masyarakat pedesaan memperlakukan kambing
sebagai pabrik kecil penghasil daging dan susu. Hasil lain yang bisa diperoleh dari
ternak kambing adalah kulit dan kotorannya yang berfungsi sebagai pupuk
kandang (Sarwono 2006). Menurut Devendra dan Burns (1994), ternak perah
merupakan ternak yang memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan dapat
mempertahankan produksi susunya sampai jangka waktu tertentu.



2.2. Klasifikasi Biologi dan Karakteristik Kambing PE
Berdasarkan klasifikasi biologi, kambing digolongkan dalam kerajaan
animalia, filum cordata, kelas kelompok mamalia, ordo Arthodactyla, famili
Bovidae, sub famili Caprinae dan genus Capra. Menurut Sodik dan Abidin
(2008), dalam perkembanganya tipe kambing diklasifikasikan berdasarkan produk
utamanya seperti kambing tipe perah, tipe potong, tipe dwiguna ( gabungan tipe
potong dan perah) dan kambing tipe bulu.
Kambing PE merupakan kambing unggul asal Indonesia, hasil persilangan
antara kambing kacang lokal dengan kambing Jamnapari asal India. Diantara jenis
kambing perah tersebut, kambing PE memiliki kemampuan memproduksi susu
sebanyak 1,5-3 liter per hari. Dengan kemampuan produksi susu tersebut maka
kambing perah PE cukup signifikan untuk dikembangkan sebagai ternak
penghasil susu yang sangat potensial. Selain itu, kambing PE pun sangat adaptif
dengan topografi Indonesia, tidak memerlukan lahan luas dan pembudidayaannya
relatif mudah.
Ciri fisik kambing PE diantarannya warna bulu kombinasi dari warna
putih dan hitam/ putih dan coklat. Dimana bagian kepala hingga leher berwarna
coklat atau hitam, dengan bentuk telingga panjang dan menggantung. Garis muka
cembung dengan bulu rewos/surai menggantung terkulai. Berat kambig jantan
mencapai 90 kg dan kambing betina mencapai 60 kg Jantan dan betina memiliki
tanduk kecil dengan produk susu 136-253 kg selama masa laktasi 175-287 hari.

2.3. Budidaya
Pengusahaan ternak kambing perah adalah semua kegiatan produksi
dengan tujuan produk utama yang dihasilkan berupa susu, disamping
menghasilkan anak untuk bibit atau sebagai kambing potong. Aspek yang harus
diperhatikan ketika membudidaya kambing perah diantaranya :
1) Pemilihan Bibit Unggul
Bibit berpengaruh sangat besar terhadap produktivitas ternak, dan oleh
karenanya pemilihan bibit yang berkualitas baik sangat penting untuk
diperhatikan. Menurut Sutama (2007), hal yang harus diperhatikan ketika memilih
induk kambing agar memiliki kemampuan produksi susu yang tinggi diantaranya :
untuk ciri kambing betina yaitu mempunyai karakter keibuan, garis punggung
rata, mata cerah bersinar, kulit bulu halus dan bulu tidak kusam. Posisi rahang atas
dan bawah rata, kapasitas rongga perut besar, dada lebar serta kaki kuat dan
normal. Ukuran ambing cukup besar, kenyal, dan berbentuk simetris. Puting susu
dua buah dan normal. Sedangkan bibit kambing jantan yang baik, memiliki
kriteria dengan ciri-ciri diantaranya: mempunyai karakter jantan yang kuat,
perototan kuat dan mata yang dimiliki terlihat bersinar. Bentuk punggung kuat
dan rata. Bentuk kaki kuat dan simetris, testis dua buah berbentuk normal,
simetris dan kenyal, penis normal serta libido tinggi.
2) Reproduksi
Pemeliharaan yang sesuai dan sumber induk kambing yang unggul sangat
mempengaruhi kualitas keturunan ternak yang dihasilkan. Menurut Sutama
(2007), Kambing Peranakan Etawa betina mulai dapat dikawinkan umur ternak
12-15 bulan. Sedangkan kambing jantan pada umur 1,5 tahun. Kambing jantan
berpotebnsi mengawinkan kambing betina setiap bulannya mencapai 12-16 ekor.
Adanya pengaturan interval beranak adalah delapan bulan maka potensi kelahiran
selama dua tahun menghasilkan tiga kali masa kelahiran. Lamanya kambing
bunting adalah sekitar 144-156 hari. Setelah melahirkan pemberian susu pada
anak kambing pra sapih sebaiknya umur 1-7 hari bersumber dari susu induknya.
Minggu ke dua mulai diperkenalkan susu sapi dan susu kambing (50:50%)
sebanyak 800ml/hari/ekor. Usia anak kambing 3-4 minggu mulai di tingkatkan
pemberian susu hingga 1 liter susu sapi/hari/ekor. Sedangkan minggu ke 5-10
diberikan susu sapi sebanyak 1,5-2 liter sapi/ekor/hari dan mulai memperkenalkan
pakan tambahan seperti rumput. Hingga minggu ke 11-12 pemberian susu sapi
mulai dikurangi hingga ternak tersebut beralih memakan rumput/konsentrat.
3) Kandang
Pembuatan kandang dapat dilakukan dengan jenis panggung dan non
panggung seperti penggunaan lantai dengan tanah atau beton. Umumnya jenis
kandang yang sering dijumpai menggunakan jenis kandang panggung. Kandang
merupakan tempat tinggal bagi ternak, pola pemeliharaan secara intensif harus
memperhatikan kontruksi kandang. Tujuannya adalah agar kontruksi kandang
kuat dan yang lebih penting lagi ternak yang berada di dalam kandang merasa
nyaman atau tidak gaduh. Menurut Setiawan dan Tanius (2003), fungsi kandang
bagi ternak diantaranya: sebagai tempat ternak berlindung dari semua gangguan
yang dapat diprediksi seperti aklimatisasi, terpaan angin, sinar matahari maupun
binatang pengganggu. Fungsi kandang harus mempermudah pengawasan dan
pemeliharaan bagi peternak, seperti makan, minum, tidur, membuang kotoran.
Hingga pada proses pemerahan susu nasntinya. Kebutuhan luas kandang menurut
Sarwono (2006) kapasitas induk beranak dan 10 pejantan di perlukan kadang
seluas 165 meter persegi dengan ketinggian panggung kandang 0,5 m
2
, serta
kebutuhan lahan seluas 6.000 m
2
.
4) Pakan
Ternak ruminansia perlu hijauan sebagai makanan yang dikonsumsi ternak
setiap hari. Penyediaan hijauan yang cukup dan berkualitas tinggi merupakan
prioritas utama dalam menunjang keberhasilan suatu usaha peternakan. Pakan
yang sempurna mengandung protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral.
Jenis hijauan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak adalah jenis rumput
seperti rumput gajah, rumput raja, panicum maxsimum, paspalum atratum dan
kacang-kacangan seperti desmodium rensonii, gliricidia sp, sesbania sp dan
calliandra sp.
Jenis jenis pakan ternak yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi
diantaranya rumput, daun-daunan, onggok, dedak, shorgum, ketela rambat dan
singkong merupakan sumber energi yang dibutuhkan ternak. Sumber protein
meliputi legum, limbah hasil pertanian (bungkil kedelai, bungkil kelapa, ampas
tahu). Pemenuhan sumber energi bagi ternak dapat menggunakan garam dapur,
kapur, tepung tulang dan mineral mix, sedangkan sebagai sumber vitamin dapat
menggunakan jagung kuning, hijauan segar (rumput dan legum), dan wortel. Hal
yang harus diperhatikan ketika memberikan pakan disesuaikan dengan kondisi
dan umur ternak (Tabel 5). Seperti pada Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan
Cita Rasa (P4S Cita Rasa), pemberian pakan untuk kebutuhan ternak meliputi
konsentrat, ampas tahu, rumput dan dedaunan. Pemberian pakan pada masa induk
bunting dan masa laktasi diberikan dalam jumlah yang lebih banyak.


Tabel 5. Jumlah Pemberian Pakan Berdasarkan Kondisi Pertumbuhan Kambing
Kondisi Pertumbuhan Jumlah Pemberian (kg/ekor)
Konsentrat Ampas tahu Rumput Dedaunan
Kambing laktasi 0,5 3 5 2
Induk bunting 0,25 3 5 2
Pejantan 0,5 3 6 4
Anak >8 bulan 0,25 1,5 2,5 2
Anak 5-8 bulan 0,1 1 1.5 1

Sumber : P4S Cita Rasa dalam Setiawan dan Tanius (2003)

5) Penyakit pada Kambing
Kambing yang sehat mencirikan sistem manajemen pemeliharaan seperti
kebersihan kandang, pakan yang cukup, tanggap terhadap gejala penyakit
sehingga dapat ditanggulangi sedini mungkin. Dengan harapan produksi yang
dihasilkan seoptimal mungkin. Beberapa jenis penyakit ada yang bersifat menular
dan tidak menular. Menurut Sutama (2007), penyakit menular disebabkan oleh
inveksi virus, bakteri, jamur, parasit darah, cacing dan kutu. Jenis penyakit yang
sering menyerang ternak diantaranya mastitis, scabies, puru, cacingan. Sedangkan
jenis penyakit yang tidak menular dikarenakan kekurangan mineral, tanaman
beracun, racun. Jenis penyakit tidak menular diantaranya perut kembung, kurus
kurang gizi, patah kaki karena terjepit dan lain sebagainya. Penyebaran penyaki
dapat terjadi melalui : kontak langsung dengan hewan sakit, tanaman beracun,
racun, melalui serangga, angin dan pekerja kandang.

2.4. Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai kambing perah PE telah dilakukan oleh Ardia (2000),
pada penelitiannya mengenai analisis pendapatan usaha ternak kambing perah
peranakan etawa di peternakan Barokah, Desa Caringin, Kecamatan Caringin,
Kabupaten Bogor. Berdasarkan hasil penelitiannya, penerimaan di peroleh dari
penjualan susu kambing, kambing betina usia enam bulan, dan penjualan dara siap
kawin. Harga pokok produksi per kg pada tahun 1997 sebesar Rp 2.885,88, tahun
1998 sebesar Rp 2.992.29, dan pada tahun 1999 sebesar Rp 3.195.59. Sedangkan
harga jual susu kambing setiap tahunnya sama sebesar enam ribu rupiah. Dari
struktur biaya, biaya yang paling tinggi adalah biaya pakan dan gaji tenaga kerja.
Biaya pakan dari tahun 1997-1999 sebesar 38 persen, 36,88 persen dan 40,09
persen. sehinga mempengaruhi pendapatan dari tahun 1997-1999 yaitu sebesar Rp
25.046.666, Rp 21.402.016 dan Rp 21.163.958. terjadinya penurunan pendapatan
karena adanya kenaikan biaya pakan.
Analisis usaha ternak kambing perah dan pemasaran susu kambing yang
dilakukan oleh Ahmad (2000) di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Cita
Rasa. Menggunakan dua metode pengusahaan ternak kambing dengan memelihara
semua anak yang lahir dan pengusahaan ternak dengan menjual semua anak yang
lahir selama pemeliharaan ternak kambing perah. Masing-masing metode
mempunyai keunggulan dan kelebihan. pengusahaan dengan memelihara semua
anak kambing, nilai pendapatan turun naik karena setiap tahunnya peternak harus
mengeluarkan biaya investasi pembuatan kandang. Pengusahaan dengan menjual
seluruh anak akan memberikan pendapatan bersih yang positif setelah tahun
pertama. Penerimaan dari menjual susu konstan karena tidak ada penambahan
jumlah ternak, tidak ada investasi tambahan ditengah tahun proyek, tetapi untuk
dapat melanjutkan pengusahaan ternak harus dilakukan investasi ulang setelah
induk afkir.
Pengusahaan dengan memelihara semua anak kambing nilai NPV yang
diperoleh pada tingkat diskonto 16 persen adalah sebesar Rp 560.151.929, pada
tingkat diskonto 20 persen sebesar Rp 414.872.987, nilai IRR sebesar 39 persen
menunjukan lebih besar dari tingkat diskonto maupun sukubunga pinjaman yang
berlaku. Net B/C yang dihasilkan pada tingkat sukubunga 16 dan 20 persen
sebesar 1,59 dan 1,45. Sedangkan pengusahaan dengan menjual semua anak
kambing NPV yang diperoleh pada tingkat diskonto 16 dan 20 persen sebesar Rp
277.500.080 dan Rp 204.620.206 nilai IRR yang didapat sebesar 37 persen, nilai
Net B/C pada tingkat sukubunga 16 dan 20 persen adalah 1,35 dan 1,27.
Hasil analisis aspek finansial yang dilakukan Setyowati (2001) pada
prospek pengembangan usaha ternak kambing perah peranakan etawa berlokasi di
Desa Ciherang Pondok, Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Berdasarkan
aspek finansial tahun 2000 diperoleh nilai keuntungan Rp 28.277.360 dengan
nilai R/C yang diperoleh 1,33, nilai BEP Rp 61,951,398,63 hal ini mengalami
peningkatan dibandingkan tahun 1999 sebesar 37,72 persen, karena terjadi
peningkatan biaya tetap 30,32 persen khususnya biaya tenaga kerja
(42,03 persen ). Sedangkan peningkatan penerimaan sebesar 2,8 persen harga
popok penjualan yang diperoleh sebesar Rp 67.427.025 dan rasio laba penjualan
sebesar 24,64 persen.
Hasil analisis dilihat dari matrik SWOT menunjukan faktor internal dan
eksternal terbagi menjadi kekuatan dan peluang yang akan mendukung usaha
perusahaan serta kelemahan dan ancaman dapat menghambat perkembangan
usaha. Alternatif strategi pengembangan yang dilakukan di Pusat Pelatihan
Pertanian dan Pedesaan Swadaya Citra Rasa dengan memadukan foktor eksternal
dan internal adalah mempertahankan pelanggan yang sudah ada, memudahkan
jalur distribusi produk, meningkatkan pelayanan pada konsumen, meningkatkan
kondisi keuangan, melakukan diversifikasi produk, memanfaatkan perkembangan
teknologi, meningkatkan kegiatan promosi, memperbaiki sistem pembukuan, dan
menurunkan HPP guna meningkatkan penerimaan dan melakukan penyuluhan.
Dalam penelitian Ratnawati (2002) mengenai kelayakan usaha peternakan
sapi dan kambing perah di pesantren Darul Fallah. Pengembangan usaha kambing
perah pada sekala 50 ekor berdasarkan analisa aspek finansial menyimpulkan
layak untuk diusahakan baik pada tingkat diskonto 13 maupun 18 persen. IRR
yang didapatkan adalah 23 persen dan payback period nya selama 3,4 tahun.
pada tingkat diskonto 13 persen nilai NPV yang didapatkan adalah sebesar Rp
35.709.280 dan N/B nya sebesar 1,34. pada tingkat diskonto sebesar 18 persen
NPV yang didapatkan sebesar Rp 15.102.390 dan Net B/C yang didapatkan 1,11.
Pengembangan usaha kambing perah pada sekala usaha 50 ekor tidak layak untuk
dilakukan ketika terjadi penurunan harga sebesar 15 persen pada tingkat diskonto
sebesar 18 persen.
Kajian kelayakan pada aspek non finansial, dilihat dari aspek pasar
menunjukan bahwa susu sapi yang diproduksi oleh Darul Fallah memiliki pasar
yang bagus karena menjaga kualitas susu yang dihasilkan. Darul Fallah selalu
mengalami kelebihan permintaan. Begitu juga dengan susu kambing memiliki
prospek yang bagus karena masih sedikit yang mengusahakan ternak kambing
perah sehingga terjadi kelebihan permintaan.
Penelitian tentang kelayakan Finansial penggemukan kambing dan domba
pada Mitra Tani Farm yang dilakukan oleh Fitrial (2009), berlokasi di Kecamatan
Ciampea, Kabupaten Bogor. Hasil analisis yang didapat dilihat dari kelayakan
non finansial pada aspek pasar dan manajemen layak untuk dijalankan. Analisis
aspek finansial usaha penggemukan kambing dan domba peternakan Mitra Tani
Farm selama lima tahun dengan tingkat diskonto 8,5 persen diperoleh nilai NPV
sebesar 359.346.744, net B/C dan Gross B/C sebesar 2,53, IRR sebesar 11,7
persen dan PBP selama 1,5 tahun. hasil dari analisis yang diperoleh masing-
masing kriteria investasi tersebut sesuai dengan nilai indikator yang ditetapkan
sehingga usaha penggemukan kambing dan domba layak untuk dijalankan.
Melalui pendekatan nilai analisis switching value menunjukan usah tersebut dapat
mentolerir kenaikan harga input mencapai 5,34 persen dan penurunan kuantitas
penjualan output sebesar 4,79 persen.
Analisis Struktur Biaya Usaha Ternak Kambing Perah di Kabupaten
Bogor yang dilakukan Stani (2009), berdasarkan hasil analisis struktur biaya
dengan mengelompokan biaya-biaya yang terjadi pada usaha kambing perah,
struktur biaya tersebut terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Menyimpulkan
semakin besar skala usaha yang dilakukan, maka biaya persatuan ternak dan biaya
per liter susu semakin menurun. Masing masing skala yang diperoleh: skala I
dengan jumlah kepemilikan ternak sebesar Rp 26.521 per liter, skala II Rp 25.750
per liter dan skala III sebesar Rp 17.472.
Penelitian terahulu yang dilakukan oleh Fitrial (2009) mengkaji apek
finansial dan non finansial, komoditi yang diteliti pada ternak kambing dan domba
sebagai usaha penggemukan. Sedangkan Ratnawati (2002) hanya mengkaji dari
sisi aspek Finansial, dengan komoditi yang diteliti sapi dan kambing perah.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Ardia (2000) dan Ahmad (2000)
penelitian yang dilakukan mengkaji dari aspek pendapatan, sekenario yang
dilakukan penelitian Ahmad (2000) dengan memelihara semua anak yang lahir
dan pengusahaan ternak dengan menjual semua anak yang lahir selama
pemeliharaan ternak kambing perah. Penelitian Setyowati (2001) meneliti dari sisi
prospek pengembangan usaha ternak kambing dengan melihat asfek finansial dan
analisis SWOT. Sedangkan penelitian yang akan saya lakukan mengkaji dari
aspek finansial dan non finansial dengan sekenario yang dilakukan. Penerimaan
menggunakan dua sekenario yaitu bersumber dari susu saja artinnya sumber
penerimaan yang diperoleh hanya dari produk susu kambing. Sedangkan skenario
ke dua sumber penerimaan selain dari produk susu yang dihasilkan juga dari
penjualan anak dan kambing afkir.


























III KERANGKA PEMIKIRAN


3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Studi Kelayakan Proyek
Studi kelayakan dapat dilakukan untuk menilai kelayakan investasi baik
pada sebuah proyek maupun bisnis yang sedang berjalan, sehingga kita
mengetahui berhasil atau tidaknya investasi yang telah ditanamkan. Studi
kelayakan proyek merupakan penelitian tentang layak atau tidaknya suatu
proyek dibangun untuk jangka waktu tertentu (Umar 2005).
Menurut Soeharto (1999), Investasi dapat dilakukan oleh swasta maupun
negara dengan motif keuntungan finansial ataupun keuntungan non finansial.
Pihak swasta lebih berminat tentang manfaat ekonomis suatu investasi.
Sedangkan pemerintah dan lembaga nonprofit melihat apakah proyek bermanfaat
bagi masyarakat luas yang berupa penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan
sumberdaya yang melimpah, dan penghematan devisa. Semakin luas skala
proyek maka dampak yang dirasakan baik secara ekonomi maupun sosial
semakin luas.

3.1.2. Aspek-Aspek Analisis Kelayakan
Aspek-aspek dalam studi kelayakan adalah bidang kajian dalam studi
kelayakan tentang keadaan objek tertentu, yang dilihat dari fungsi-fungsi bisnis.
Menurut Subagyo (2007), pembagian dan pengkajian aspek-aspek dalam studi
kelayakan terbagi menjadi dua bagian yaitu aspek primer dan aspek sekundear.
Aspek primer merupakan aspek yang utama dalam penyusunan studi
kelayakan. Aspek primer ini ada dalam semua sektor usaha yang terdiri dari :
aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, aspek manajemen dan
organisasi, aspek hukum, serta aspek ekonomi dan keuangan. Aspek sekunder
adalah aspek pelengkap yang disusun berdasarkan permintaan instansi/lembaga
yang terkait dengan objek studi, yaitu aspek analisis mengenai dampak
lingkungan dan aspek sosial. Secara umum analisis kelayakan terbagi menjadi
aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, dan aspek finansial.

1) Aspek Pasar
Evaluasi aspek pasar sangat penting dalam pelaksanaan studi kelayakan
proyek. Salah satu syarat agar pemasaran berhasil, proyek yang akan dilaksanakan
harus dapat memasarkan hasil produksinya secara kompetitif dan menguntungkan.
Analisis aspek pasar terdiri dari rencana perasarana output yang dihasilkan oleh
proyek dan rencana penyediaan input yang dibutuhkan untuk kelangsungan dan
pelaksanaan proyek (Gittinger, 1986). Kriteria kelayakan pada aspek pasar
dikatakan layak apabila usaha kambing perah memiliki peluang pasar, artinya
potensi permintaan lebih besar dari penawaran. Keberhasilan dalam menjalankan
usaha perlu adanya strategi pemasaran dan pengkajian aspek pasar dengan cermat.
Hal yang dapat dipelajari bentuk pasar yang dimasuki, komposisi dan
perkembangan permintaan dimasa lalu dan sekarang.
2) Aspek Teknis
Pengkajian aspek teknis dalam studi kelayakan dimaksudkan untuk
memberikan batasan garis besar parameter-parameter teknis yang berkaitan
dengan perwujudan fisik proyek. Aspek teknis memiliki pengaruh besar terhadap
perkiraan biaya dan jadwal kegiatan yang dilakukan nantinya, karena akan
memberikan batasan-batasan lingkup proyek secara kuantitatif (Soeharto 1999).
Indikasi suatu proyek dikatakan layak dalam menjalankan usahanya dapat dilihat
dari adanya perkembangan produksi yang dihasilkan, lokasi usaha yang strategis,
dalam artian mudah dijangkau keberadaannya. Infrastruktur yang mendukung
seperti fasilitas jalan, listrik, transportasi, pengadaan bahan baku serta sarana
produksi mudah diperoleh, dan bentuk layout usaha tertata secara sistematis
guna memudahkan dalam proses produksi.
Menurut Husnan dan Suwarsono (2000) aspek teknis merupakan suatu
aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan proyek secara teknis dan
operasi setelah proyek selesai dibangun. Aspek teknis dilakukan untuk
mendapatkan gambaran mengenai lokasi proyek, besar skala operasi/luas
produksi, kriteria pemilihan mesin dan peralatan yang digunakan, proses produksi
yang dilakukan dan jenis teknologi yang digunakan.
3) Aspek Manajemen
Analisis ini berkaitan dengan hal-hal yang berkenaan dengan pertimbangan
mengenai sesuai tidaknya proyek dengan pola sosial budaya masyarakat setempat,
susunan organisasi proyek dengan pembentukan tim kerja, pembagian kerja,
pembuatan rencana kerja agar sesuai dengan prosedur organisasi setempat,
kesanggupan atau keahlian staf yang ada untuk mengelola proyek. Menurut
Subagyo (2007) Struktur organisasi manajemen proyek disusun berdasarkan
skala dan kompleksitas proyek. Semakin besar skala proyek, semakin kompleks
struktur yang diterapkan.
4) Aspek Sosial Ekonomi
Analisis sosial berkenaan dengan implikasi sosial yang lebih luas dari
investasi yang diusulkan, dimana pertimbangan-pertimbangan sosial harus
dipikirkan secara cermat agar dapat menentukan apakah suatu proyek tanggap
(responsive) terhadap keadaan sosial (Gittinger 1986). Dampak positif pembangunan
proyek pada masyarakat sekitar antara lain adalah ikut menciptakan lapangan
pekerjaan, meningkatkan pendapatan penduduk sekitar, baik secara langsung
maupun tidak langsung, peningkatan fasilitas infrastruktur umum dan lain
sebagainya. Sedangkan dampak negatif yang ditimbulkan bisa berupa pencemaran
lingkungan karena limbah, hingga faktor keamanan yang tidak nyaman untuk
berinvesatasi.
5) Aspek Finansial
Gittinger (1986) menyatakan bahwa analisa proyek pertanian adalah untuk
membandingkan biaya-biaya dengan manfaatnya dan menentukan proyek-proyek
yang mempunyai keuntungan yang layak. Suatu proyek dapat dilaksanakan atau
tidak, bila hasil yang diperoleh dari proyek dapat dibandingkan dengan sumber-
sumber yang diperlukan (biaya). Dana yang diinvestasikan layak atau tidaknnya
akan diukur melalui kriteria investasi net present value, net benefit cost ratio, dan
Internal Rate of Return Menurut Umar (2005), tujuan menganalisis aspek
keuangan dari suatu studi kelayakan proyek bisnis adalah untuk menentukan rencana
investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan, dengan
membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan seperti ketersediaan dana,
modal, kemampuan proyek untuk membayar kembali dana tersebut dalamwaktu
yang telah ditentukan dan menilai apakah proyek akan dapat berkembang terus.
Kritertia investasi yang digunakan yaitu Net Present Value, Internal Rate of
Return, Net Benefit Cost Ratio, Payback Period.
a) Net Present Value (NPV)
Present Value merupakan nilai selisih antara nilai sekarang investasi
dengan nilai sekarang penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan
datang (Husnan dan Suwarno 2000). Menurut Umar (2005), NPV yaitu
selisih antara present value dari investasi dengan nilai sekarang dari
penerimaan-penerimaan kas bersih di masa yang akan datang. Untuk
menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan.
b) Internal Rate of Return (IRR)
Tingkat imbalan internal atau internal rate of return (IRR) adalah tingkat
bunga yang menyamakan nilai sekarang (present value) dari arus kas yang
diharapkan di masa datang atau dapat didefenisikan juga sebagai tingkat
bunga yang menyebabkan NPV=0.
c) Net Benefit Cost Ratio ( Net B/C Ratio)
Rasio manfaat dan biaya atau net benefit cost (B/C ratio) adalah nilai nilai
perbandingan antara jumlah present value yang bernilai positif (pembilang)
dengan present value yang bemilai negatif (penyebut). Nilai net B/C ratio
menunjukkan besarnya tingkat tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya
sebesar satu rupiah (Husan dan Suwarsono 2000).
d) Payback Period (PBP)
Payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk menutup
kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas, dengan kata
lain payback period merupakan rasio antara pengeluaran investasi dengan
cash inflow yang hasilnya merupakan satuan waktu (Umar 2005). Selama
proyek dapat mengembalikan modal/investasi sebelum berakhirnya umur
proyek, berarti proyek masih dapat dilaksanakan.

3.1.3. Analisis Sensitivitas
Proyeksi selalu menghadapi kendala yang dapat saja terjadi pada keadaan
yang telah kita perkirakan. Proyek-proyek sensitif berubah-ubah diantaranya
diakibatkan oleh harga, keterlambatan pelaksanaan, kenaikan biaya, dan hasil.
Mengenai harga, analis boleh saja membuat asumsi alternatif lain mengenai harga
jual pada masa yang akan datang dan meneliti pengaruhnya terhadap manfaat
sekarang.
Analisis sensitivitas dapat dilakaukan dengan pendekatan switching value.
Analisis switching value digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan
pada nilai penjualan dan biaya variabel yang akan menghasilkan keuntungan
normal yaitu NPV sama dengan nol. Variabel yang akan dianalisis dengan
switching value merupakan variabel yang dianggap signifikan dalam proyek.
Adapun variabel-variabel yang dimaksud antara lain nilai input dan biaya
variabel, sehingga dengan analisis ini akan dicari tingkat harga penjualan
minimum dan peningkatan biaya maksimum agar proyek masih dapat dikatakan
layak. Penggunaan variabel analisis tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa
harga input dan jumlah output merupakan komponen biaya yang penting. Oleh
karena itu akan dilihat perubahan nilai penjualan minimum dan biaya variabel,
apakah masih memenuhi kriteria umum kelayakan investasi.
Parameter harga jual produk dan biaya dalam analisis finansial
diasumsikan tetap pertahunnya, namun dalam kondisi nyata kedua parameter
tersebut dapat berubah-ubah sejalan dengan pertambahan waktu. Untuk itu analisi
switching value perlu dilakukan untuk melihat seberapa besar tingkat kepekaan
yang masih bisa ditolerir terhadap penurunan harga atau kenaikan biaya sehingga
suatu usaha dikatakan layak atau tidak.

3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, setiap daerah didorong
untuk mampu mengembangkan komoditas unggulan sebagai pemasukan bagi
pendapatan daerah. Salah satu komoditas pada subsektor peternakan yang
memiliki potensi besar untuk dikembangkan pemerintah daerah adalah kambing
perah. Kambing perah merupakan ternak dwiguna, selain susu sebagai produk
utama, daging dan produk sampingan seperti kotoran ternak dapat dimanfaatkan
sebagai sumber pupuk organik. Selain itu, usaha ternak kambing perah dapat
dijadikan sebagai ternak alternatif upaya diversifikasi hasil peternakan selain sapi,
karena terbatasnya daerah yang sesuai untuk pengembangan sapi perah di
Indonesia.
Susu kambing memiliki harga jual yang lebih tinggi dibandingkan harga
susu sapi. Harga jual susu kambing yang tinggi menjadikan insentif bagi peternak
untuk mengembangkan usaha kambing perah. Adanya peluang bisnis tersebut
menyebabkan banyak orang tertarik berinvestasi langsung pada sub sektor
peternakan, khususnya ternak kambing perah
Peternak Unggul adalah salah satu usaha peternakan yang bergerak
dibidang peternakan kambing perah yang berlokasi di Kecamatan Ciampea,
Kabupaten Bogor. Usaha yang dijalankan ini sudah berjalan kurang lebih satu
tahun. Selama usaha ternaknya berjalan, pemilik telah mengeluarkan biaya
investasi yang tidak sedikit, mengingat setiap usaha yang dilaksanakan memiliki
risiko. Oleh karena itu perlu dilakukan pengkajian kelayakan usaha pada saat
merencanakan dan mengembangkan usaha tersebut. Analisis kelayakan ini dapat
dilihat dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen, aspek sosial, aspek
finansial dan analisis Switching value. Adapun alur kerangka pemikiran
oprasional dapat dilihat seperti pada Gambar 1.











Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional
Adanya prospek dan peluang bisnis kambing PE
Apakah usaha peternakan Unggul layak
dijalankan
Aspek non finansial :
Aspek pasar
Aspek teknis
Aspek manajemen
Aspek sosial
Aspek finansial :
Analisis Kriteria Investasi
(NPV, IRR, Net B/C, PBP)
Analisis Sensitivitas
Adanya pengembangan usaha ternak kambing
perah diharapkan dijadikan sebagai sumber
peningkatan pendapatan penghasilan daerah.
Pengusahaan Ternak Unggul

Layak
(lanjutkan usaha )
Tidak layak
(sebaiknya perbesar skala
usaha atau di investasikan
ke usaha lain)
IV METODE PENELITIAN

4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kampung Malang, Desa Cibuntu, Cikampak
Ciampea, Kabupaten Bogor pada Peternakan Unggul. Pemilihan lokasi dilakukan
secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa Peternakan Unggul
merupakan salah satu peternakan kambing perah yang baru berjalan dan
merupakan daerah yang mengalami peningkatan ternak kambing PE tertinggi di
Kabupaten Bogor (Tabel 3). Kegiatan pengumpulan data untuk keperluan
penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2009. Waktu tersebut digunakan untuk
memperoleh data dan keterangan dari pemilik peternak dan semua pihak yang
terkait.

4.2. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan
dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung melalui pengamatan
dan wawancara lebih mendalam dengan pemilik ternak dan karyawan serta
menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya (Lampiran 1).
Data sekunder diperoleh dari catatan-catatan serta dokumentasi dari pihak atau
instansi yang terkait, seperti Departemen Pertanian, Dinas Peternakan, Biro Pusat
Statistik setempat, dan Perpustakaan. Selain itu, dilakukan juga penelusuran
melalui buku serta penelitian-penelitian sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai
bahan rujukan yang berhubungan dengan topik penelitian.

4.3. Metode Pengolahan Data dan Analisis Data
Analisis yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis kualitatif dan
kuantitatif. Analisis kualitatif dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang
aspek-aspek budidaya kambing perah PE secara umum meliputi analisis aspek
pasar, aspek teknis, aspek institusional-organisasi-manajerial, dan aspek sosial
Peternakan Unggul. Analisis kuantitatif meliputi analisis kelayakan finansial
pengusahaan kambing unggul, analisis kelayakan finansial ini menggunakan
perhitungan kriteria-kriteria investasi yaitu, Net Present Value (NPV), Internal
Rate of Return (IRR), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP)
dan analisis Switching value. Data yang diperoleh diolah secara manual dengan
menggunakan program komputer Ms. Excel.
1) Analisis Aspek Pasar
Analisis aspek pasar dapat dilihat dari sisi output yaitu terdapat suatu
permintaan yang efektif akan didapatkan penerimaan yang menguntungkan dari
kegiatan pemasaran. Dari sudut pandangan input yaitu mengkaji pasar input dan
pasar output, harga, bagaimana penawaran baik informasi di masa lalu maupun
dimasa yang akan datng, distribusi atau jalur pemasaran untuk input, proporsi
penjualan untuk pasar yang dituju, konsumen dari perusahaan, persaingan yang
dihadapi, perkiraan penjualan, dan kendala dalam pemasaran produk output.
2) Analisis Aspek Teknis
Aspek teknis dianalisis secara deskriptif untuk mendapatkan gambaran
mengenai lokasi budidaya kambing perah, agroklimat, besar skala operasi/luas
produksi, ketersediaan input, fasilitas produksi dan peralatan yang digunakan,
ketepatan penggunaan teknologi, dan perencanaan output serta kendala produksi
yang dapat terjadi, serta proses produksi yang dilakukan.
3) Aspek Institusional-Organisasi-Manajerial
Aspek ini dapat dilihat berdasarkan sesuai tidaknya usaha dengan pola
sosial budaya masyarakat setempat, spesifikasi keahlian dan tanggung jawab
pihak yang terlibat untuk mengelola usaha. Mengkaji struktur organisasi dalam
perusahaan, bagaimana bentuk organisasi/kelembagaan dalam perusahaan.
4) Analisis Aspek Sosial dan Lingkungan
Aspek sosial dapat dilakukan dengan menganalisis perkiraan dampak
yang ditimbulkan terhadap berjalanya usaha terhadap kondisi sosial masyarakat,
lingkungan maupun terhadap manfaat-manfaat kegiatan pengusahaan secara
menyeluruh. Aspek lingkungan dikaji secara deskriptif untuk mengetahui dampak
yang ditimbulkan oleh kegiatan usaha ternak kambing perah peranakan etawa.
5) Analisis Aspek Finansial
Dalam melakukan analisis finansial diperlukanlah kriteria investasi yang
digunakan untuk menyatakan layak atau tidaknya suatu usaha. Kriteria investasi
yang digunakan yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR),
Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Payback Period (PBP). Analisis kelayakan
investasi dilakukan dengan terlebih dahulu menyusun aliran tunai diskontokan
(discounted cashflow) karena adanya pengaruh waktu terhadap nilai uang atau
semua biaya dan manfaat yang akan datang harus diperhitungkan.
a) Net Present Value (NPV)
Net Present Value dapat diartikan sebagai nilai sekarang dari arus
pendapatan yang ditimbulkan oleh investasi. NPV menunjukkan keuntungan yang
akan diperoleh selama umur investasi, merupakan jumlah nilai penerimaaan arus
tunai pada waktu sekarang dikurangi dengan biaya yang dikeluarkan selama
waktu tertentu. Rumus yang digunakan dalam perhitungan NPV adalah sebagai
berikut :

keterangan :
B
t
= Penerimaan (Benefit) tahun ke-t (Rupiah)
C
t
= Biaya (Cost) tahun ke-t (Rupiah)
n = Umur ekonomis proyek (Tahun)
i = Tingkat suku bunga/Discount rate (persen)
t = Periode Tahun
Dalam metode NPV terdapat tiga penilaian investasi, yaitu :
NPV 0 berarti secara finansial usaha layak untuk dilaksanakan karena
manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya.
NPV 0 berarti secara finansial usaha tersebut tidak layak untuk
dilaksanakan, hal ini dikarenakan manfaat yang diperoleh lebih kecil dari
biaya/tidak cukup untuk menutup biaya yang dikeluarkan.
NPV =0, berarti secara finansial proyek sulit dilaksanakan karena manfaat
yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan


b) Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate Return adalah nilai discount rate yang membuat NPV dari
suatu proyek sama dengan nol. Internal Rate of Return adalah tingkat rata-rata
keuntungan intern tahunan dinyatakan dalam satuan persen. J ika diperoleh dari
IRR lebih besar dari tingkat diskonto yang berlaku, maka proyek layak untuk
dilaksanakan. Sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat suku bunga yang
berlaku maka proyek tersebut tidak layak untuk dilaksanakan. Rumus yang
digunakan dalam menghitung IRR adalah sebagai berikut :



Keterangan :
NPV
1
=NPV yang bernilai positif
NPV
2
=NPV yang bernilai negatif
i
1
=Tingkat bunga yang menghasilkan NPV positif
i
2
=Tingkat bungayang menghasilkan NPV negatif

c) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)
Net B/C ratio merupakan angka perbandingan antara nilai kini arus
manfaat dibagi dengan nilai sekarang arus biaya. Angka tersebut menunjukkan
tingkat besarnya tambahan manfaat pada setiap tambahan biaya sebesar satu
satuan uang. Kriteria yang digunakan untuk pemilihan ukuran Net B/C ratio dari
manfaat proyek adalah memilih semua proyek yang nilai B/C rationya sebesar
satu atau lebih jika manfaat didiskontokan pada tingkat biaya opportunitis capital
(Gittinger, 1986) tetapi jika nilai Net B/C <1, maka proyek tersebut tidak layak
untuk dilaksanakan. Rumus yang digunakan sebagai berikut


Net B/C Ratio =

Keterangan :
Net B/C =Nilai Benefit-cost ratio
B
t
=Penerimaan yang diperoleh pada tahun ke t
C
t
=Biaya yang dikeluarkan pada tahun ke-t
n =Umur ekonomis proyek
i =Tingkat suku bunga (persen)
t =Tingkat Investasi (t=0,1,2,n)
untuk pembilang yaitu Bt- Ct >0 dan penyebut yaitu BT- Ct <0.

d) Payback Period
Payback Period merupakan jangka waktu periode yang dibutuhkan untuk
membayar kembali semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan di dalam investasi
suatu proyek. Semakin cepat waktu pengembalian, semakin baik proyek tersebut
untuk diusahakan. Akan tetapi analisis PBP memiliki kelemahan karena
mengabaikan nilai uang terhadap waktu (present value) dan tidak
memperhitungkan periode setelah PBP. Secara sistematis dapat dirumuskan
sebagai berikut :

PBP =


Keterangan :
PBP = Waktu yang diperlukan untuk mengembalikan modal investasi
(Tahun/bulan)
I =Besarnya biaya investasi yang diperlukan (Rupiah)
Ab =Manfaat bersih yang diperoleh setiap tahunnya (Rupiah)

e) Analisis Switching value
Keuntungan dengan kita menganalisis Switching value diharapkan dapat
mengidentifikasi pengaruh yang terjadi akibat peningkatan dan penurunan suatu
variabel seperti penurunan harga jual produk, penurunan produksi serta peningkatan
harga input. Pendekatan switching value, dimana analisis ini mencari beberapa
perubahan maksimum yang dapat ditolerir agar proyek masih bisa dilaksanakan dan
masih memberikan keuntungan normal, dimana nilai NPV sama dengan nol.
Analisis ini dilakukan dengan cara mencoba-coba terhadap perubahan variabel yang
terjadi dapat diketahui batasan tingkat kenaikan dan penurunan maksimum yang
masih bisa ditolerir, sehingga suatu usaha masih memperoleh laba normal.
Parameter harga jual produk susu yang dihasilkan dan biaya dalam analisis
finansial diasumsikan tetap setiap tahunnya. Namun pada kondisi di lapang
kenyataannya dapat berubah-ubah. Untuk itu switching value perlu dilakukan guna
melihat sampai berapa persen penurunan harga atau kenaikan biaya yang terjadi
dapat mengakibatkan perubahan dalam kelayakan investasi dari kondisi layak
menjadi tidak layak.

4. 4. Asumsi Dasar yang Digunakan
1. Lahan yang digunakan adalah lahan milik sendiri, luasan lahan yang ada
seluas 2.570 m
2
.


2. Umur proyek adalah lima tahun berdasarkan pada umur produktif kambing
selama 5 tahun. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa kambing
merupakan aset penting dalam usaha dan merupakan biaya investasi
terbesar. Sumber modal yang digunakan berdasarkan pada dua skenario,
skenario I modal yang digunakan bersumber dari modal sendiri 50 persen
dan modal pinjaman 50 persen. Hal tersebut dikarenakan keterbatasan
pemilik dalam penyediaan modal investasi dengan cara meminjam modal
yang bersumber dari bank. Sedangkan skenario II modal yang digunakan
adalah seluruhnya menggunakan modal sendiri sesuai dengan kemampuan
modal investasi yang dimiliki oleh peternak, yaitu sebesar 124.910.000
rupiah. Sehingga biaya investasi yang dikeluarkan disesuaikan dengan
kemampuan modal yang dimiliki, seperti kepemilikan luas lahan, kapasitas
ternak dalam kandang, biaya pendirian kandang dan pengadaan kambing
diasumsikan biaya yang dikeluarkan setengah dari biaya yang berlaku
pada Skenario I.
3. Jumlah hari dalam satu bulan adalah 30 hari dan kapasitas kandang
menampung 100 ekor kambing produktif/dewasa scenario I dan 50 ekor
Skenario II.
4. Setiap masa produksi susu kambing (laktasi) diasumsikan susu yang
dihasilkan habis terjual.
5. Kegiatan pemerahan susu dilakukan dua kali dalam sehari. Dengan masa
laktasi (masa waktu diperah) selama enam bulan. Kemampuan
menghasilkan susu sebanyak 0,64 liter per ekor per hari.
6. Harga jual anak kambing jantan adalah Rp 500.000 per ekor, betina
Rp 600.000 per ekor dan nilai ternak afkir Rp 1.500.000 per ekor.
7. Nilai penerimaan/penjualan usaha pada scenario I pada tahun pertama
belum mencapai 100 persen, dikarenakan pada tahun tersebut, enam bulan
pertama digunakan untuk pembangunan proyek dan jumlah kambing
belum mencapai 100 persen (lima ekor jantan dan 95 ekor betina).
8. Harga jual susu kambing yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rp
40.000/liter berdasarkan harga yang belaku pada saat penelitian.
9. Biaya yang dikeluarkan terdiri dari biaya investasi dan biaya oprasional.
Biaya investasi dan oprasional dikeluarkan pada tahun pertama dan biaya
reinvestasi yang dikeluarkan untuk peralatan-peralatan yang sudah habis
umur ekonomisnnya. Biaya oprasional terdiri dari biaya tetap dan variabel.
10. Harga input dan output yang digunakan adalah konstan hal ini untuk
mempermudah perhitungan cash flow.
11. Nilai sisa dihitung berdasarkan perhitungan metode garis lurus dimana
harga beli dibagi umur ekonomis. Sedangkan untuk harga tanah
dasumsikan sama harga beli dengan harga jual pada ahkir umur proyek.
12. Tipe lahan adalah kelas A3, Mengingat lokasi peternakan jauh dari
keramaian dan jalan yang dilewati merupakan jalann desa.
13. Setiap kelahiran anak kambing sebanyak satu ekor, dari total anak yang
dilahirkan tingkat kematian sebesar lima persen (Sutama, 2007).
Perbandingan rasio jumlah kambing jantan yang lahir sebesar 31,5 persen
(data di lapang).
14. Tingkat sukubunga yang digunakan untuk modal sendiri adalah tingkat
sukubunga deposito BI bulan Juni-Juli 2009 sebesar tujuh persen
sedangkan suku bunga pinjaman 14 persen.
15. Nilai sisa pada ahkir umur proyek diasumsikan bernilai nol, kecuali
barang-barang yang masih memiliki umur ekonomis lebih dari lima tahun
dan ternak kambing.
16. Besarnya pajak yang digunakan berdasarkan undang-undang Republik
Indonesia tentang perpajakan no. 17 tahun 2000 yang isinya adalah (kantor
perpajakan kota Bogor, 2009):
a) Tidak dikenakan pajak apabila perusahaan menderita kerugian
b) Dikenakan pajak 10 persen apabila perusahaan memperoleh
pendapatan kurang atau sama dengan Rp 50.000.000
c) Dikenakan pajak 15 persen apabila perusahaan memperolah
pendapatan antara Rp 50.000.000 sampai dengan Rp 100.000.000
Dikenakan pajak 30 persen apabila perusahaan memperolah
pendapatan sebesar lebih dari sama dengan Rp 100.000.000
















V GAMBARAN UMUM

5.1. Sejarah dan Perkembangan
Peternakan Kambing Unggul adalah peternakan yang dikelola oleh Bapak
Wisnanto. Awal berdirinya usaha Peternakan Unggul didirikan pada bulan Juli
2008. Usaha ternak kambing perah yang dilakukan merupakan usaha yang
bersifat komersial, artinya tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan keluarga,
tetapi diusahakan lebih untuk dipasarkan. Awal mula Pak Wisnanto terjun dalam
bisnis peternakan dengan mengusahakan kambing kacang sebagai tujuan utama
untuk hewan kurban (pedaging). Pertama kali memelihara ternak jenis kambing
kacang tersebut berjumlah 10 ekor hingga jumlah kambing yang dimiliknya
berkembang menjadi 50 ekor. Karena kesulitan memasarkan kambing kacang
yang dimiliknya, maka pemilik beralih usaha yang pada awal mulanya
mengusahakan kambing kacang menjadi kambing perah PE. Kambing PE yang
diperolehnya dipesan langsung dari daerah Jepara, yang merupakan salah satu
sentra pembibitan kambing PE di Jawa Tengah. Alasan yang membuat pemilik
peternakan ini tertarik menekuni usaha ternak kambing PE adalah usaha tersebut
bersifat dwiguna, selain susu sebagai produk utama juga dapat dimanfaatkan
dagingnya, bila kambing tersebut sudah tidak produktif lagi sebagai penghasil
susu. Selain itu usaha kambing PE sangat menguntungkan disebabkan oleh
tingginya harga jual susu kambing dan juga masih tingginya permintaan
konsumen yang belum terpenuhi. Harapan pemilik terhadap usaha yang sedang
dijalankan sebagai sumber pendapatan utama jika beliau telah pensiun dari
pekerjaannya.
Investasi awal usaha ternak kambing perah berasal dari modal sendiri
pemilik dan pinjaman dari bank. Tenaga kerja pengelolaan ternak tersebut
berjumlah dua orang dengan riwayat pendidikan lulusan SMU. Dimana tenaga
kerja yang digunakan sebelumnya sempat bekerja disalah satu usaha peternakan
kambing perah. Sehingga pekerja yang digunakan sudah terbiasa melakukan
aktivitas usaha peternakan kambing perah. Pekerja tersebut difasilitasi tempat
tinggal yang berada di sekitar kandang. Tujuan pemilik menyediakan tempat
tinggal yakni untuk memudahkan dalam pengawasan ternaknya dan pengontrolan
terhadap keamanan ternak dari pencurian.
Pemasaran produk yang telah dihasilkan awal mulanya dilakukan melalui
mulut ke mulut, seperti menawarkan kepada sodara-sodara pemilik ternak, rekan
kerja, hingga kepada pihak lain. Sekarang ini peternakan Unggul sudah
mempunyai Agen yang membantu dalam pemasaran produk susunya (toko-toko
herbal sekitar Jakarta dan Bogor) bahkan mulai dicoba pada salah satu Indomaret
di Jakarta sebagai tempat untuk memasarkan. Perkembangan usaha cukup baik,
ini ditandai dengan respon permintaan terhadap susu kambing yang selalu
meningkat. Pemilik berencana untuk menguji susu hasil ternaknya pada
laboratorium uji mutu susu karena banyak konsumen yang meminta hasil
sertifikasi susunya. Target pasar susu kambing diperuntukkan bagi konsumen
menengah ke atas dan orang-orang mengkonsumsi untuk penyembuhan.

5.2. Lokasi Peternakan
Lokasi usaha peternakan kambing perah Unggul terbagi dua. Untuk
kantor pemasaran terletak di J l Anggrek No 13, Perumahan Taman Cimanggu,
Kota Bogor. Sedangkan kandang terletak di Desa Cibuntu, Kecamatan Ciampea,
Kabupaten Bogor. Kecamatan Ciampea berlokasi di bagian Barat Kabupaten
Bogor. Kecamatan Ciampea memiliki jarak 34 km dari Ibukota Kabupaten Bogor,
122 km dari Ibukota Provinsi Jawa Barat, 72 km dari Ibukota Negara RI Jakarta
dan 5 km dari desa/kelurahan yang terjauh, dapat dilihat bahwa jarak antara
Kecamatan Ciampea dengan Ibukota Negara RI Jakarta tidak terlalu jauh,
sehingga memudahkan aksessibilitas ke pusat pasar Negara Indonesia. Kecamatan
Ciampea secara geografis mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Ranca Bungur.
b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Tenjolaya.
c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Dramaga.
d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Cibungbulang.
Secara topografi, bentuk dan kontur wilayah, lokasi kandang merupakan
dataran yang agak berombak sekitar 45 persen. Ketinggiannya berada di antara 300 m
di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 20 - 30C. Hari hujan rata-rata per
tahun sekitar 22 hari dan banyaknya curah hujan sekitar 278 mm. J enis tanah yang
ada di lokasi ini adalah latosol (Laporan Tahuhan Kecamatan Ciampea, 2007).
Kecamatan Ciampea memiliki luas wilayah sekitar 3,062.5 hektar yang
terdiri dari 13 Desa yaitu Benteng, Bojong Jengkol, Bojong Rangkas, Ciampea,
Ciampea Udik, Cibanteng, Cibadak, Cibuntu. Cicadas. Cihideung Udik,
Cihideung hilir. Cinangka dan Tegalwaru. Desa Cinangka sebagai desa terluas
dengan Iuas wilayah 340 hektar, sedangkan Desa Bojong Rangkas sebagai desa
dengan luas wilayah terkecil yaitu 104 hektar. Luas wilayah masing-masing Desa
dapat dilihat seperti pada Tabel di bawah ini.

Tabel 6. Luas Wilayah tiap Desa di Kecamatan Ciampea, Tahun 2008

No. Nama Desa
Luas Wilavah
(Ha)
Luas Wilayah
(Km
2
)
Persentase
(%)
1. Cihideung Ilir 178 1,78 5,81
2. Cinangka 340 3,40 11,10
3. Cihideung Udik 284 2,84 9,28
4. Bojong J engkol 212 2,12 6,92
5. Cibanteng 162 1,62 5,29
6. Benteng 248,5 2,485 8,11
7. Bojong Rangkas 104 1,04 3,40
8. Cibuntu 254 2,54 8,30
9. Ciampea 246 2,46 8,03
10. Tegal Waru 338 3,38 11,04
11. Cicadas 320 3,20 10,45
12. Ciampea Udik 262 2,62 8,55
13. Cibadak 114 1,14 3,72
Jumlah 3.062,5 30.625 100,00

Sumber : Monografi Kecamatan Ciampea, Tahun 2008

Pemanfaatan lahan yang telah dilakukan di Kecamatan Ciampea
diantaranya digunakan untuk permukiman (rumah), sawah, ladang/kebun,
empang, dan Iain-lain. Untuk mengetahui luas lahan yang digunakan untuk
masing-masing pemanfaatan lahan tersebut dapat dilihat pada Tabel 7.


Tabel 7. Luas lahan (Ha) Berdasarkan Pemanfaatan Lahan di Kecamatan
Ciampea, Tahun 2008

No. Desa Rumah Sawah Ladang/Kebun Empang Lain-lain
1. Ciampea Udik 103 203 3 1,3 3.5
2. Cinangka 90 127 4 0,5 5
3. Cibuntu 92 148,4 1,7 3 2,3
4. Cicadas 135 125 1,5 1,3 2,5
5. Tegal Waru 189 150 5 0,5 5,5
6. Bojong Jengkol 109 85 4 1,2 0
7. Cihideung Udik 99 197 2 3,5 6
8. Cihideung Ilir 101 80 1 2 4,1
9. Cibanteng 116 50 2 0,5 4
10. Bojong Rangkas 75 45 0 0,5 3
11. Cibadak 95 6 0 0,5 3
12. Benteng 98 40 2 2,5 2,5
13. Ciampea 115 30 2,5 1,5 3
Jumlah 1.417 1.286,4 28,7 18,3 44,4

Sumber : Laporan Tahunan Kecamatan Ciampea, Tahun 2008

5.3. Keadaan Penduduk Kecamatan Ciampea
Jumlah penduduk di Kecamatan Ciampea adalah 139.037 jiwa dengan
jumlah laki-laki sebanyak 70.827 jiwa. Sedangkan perempuan sebanyak 68,210
jiwa. Jumlah penduduk dan kepala keluarga dapat dilihat pada Tabel 8. Jumlah
penduduk diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya.
Desa Cibanteng merupakan desa yang memiliki jumlah penduduk lebih
banyak yaitu 15.740 jiwa dengan 3.619 kepala keluarga, sedangkan desa yang
memiliki jumlah penduduk lebih sedikit adalah DesaCiampea Udik yaitu 7.183
jiwa dengan 1.648 kepala keluarga. Dengan jumlah penduduk 139.037 jiwa dan
luas wilayah 30.625 km
2
maka Kecamatan Ciampea memiliki kepadatan
penduduk 4.540 jiwa/km
2
.


Tabel 8. Jumlah Penduduk dan Jumlah Kepala Keluarga di Kecamatan Ciampea,
Tahun 2008

No.

Nama Desa

Jumlah Penduduk Total (jiwa)

J umlah KK
Laki-Laki Perempuan
1. Benteng 5.575 5.370 10.945 2.754
2. Bojong Rangkas 5.733 5.433 11.166 2.818
3. Bojong J engkol 4.748 4.430 9.178 2.193
4 Ciampea 5.040 5.080 10.120 2.4 15
5. Cibadak 4.881 5.062 9.943 2.345
6. Cihideung Ilir 4.886 4.539 9.425 2.021
7. Cibanteng 8.075 7.665 15.740 3.619
8. Cihideung Udik 7.126 6.556 13.682 3.158
9. Cicadas 5.178 4.975 10.153 2.419
10. Cibuntu 4.008 4.066 8.074 1.736
11. Ciampea Udik 3.740 3.443 7.183 1.668
12. Cmangka 5.773 5.511 11.284 2.756
13. Tegal Waru 6.064 6.080 12.144 2.885
Jumlah 70.827 68.210 139.037 32.787

Sumber: Monografi Kecamatan Ciampea, Tahun 2008

Berdasarkan Tabel 9. dapat diketahui bahwa umur penduduk di
Kecamatan Ciampea sebagian besar berada pada umur produktif (15-40 tahun).
Produktif adalah mampu menghasilkan sesuatu dalam jumlah besar, sehingga
membuka peluang untuk pengembangan ternak kambing perah di Kecamatan
Ciampea.

Tabel 9. Jumlah Penduduk di Kecamatan Ciampea Berdasarkan Umur,
Tahun 2008

No. Umur (tahun) Jumlah (jiwa) Persentrase (%)
1 0 -14 25.043 20,00
2 15-29 51.581 41,16
3 30-40 34.967 27,90
4 40 tahun ke atas 13.727 10,94
Jumlah 125.318 100

Sumber : Monografi Kecamatan Ciampea, Tahun 2008
Penduduk Kecamatan Ciampea mempunyai pekerjaan yang beraneka
ragam, namun secara garis besar sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani
dan buruh. Keadaan masyarakat berdasarkan mata pencahariannya (Tabel 10).
Adannya informasi mengenai monografi suatu wilayah diharapkan sebagai bahan
informasi pendukung aktifitas usaha seperti kebutuhan akan tenaga kerja, lokasi
usaha peternakan yang sesuai (jauh dari pemukiman) dan lain sebagainnya.

Tabel 10. Jumlah Penduduk (jiwa) Kecamatan Ciampea Berdasarkan Mata
Pencaharian, Tahun 2008

No. Mata Pencaharian Jumlah (orang)
1. Petani pemilik lahan 2.129
2. Petani penggarap sawah 3.130
3. Buruh tani 3.719
4. Pengusaha 4,672
5 Pengrajin 9.737
6 Buruh industry 2.442
7 Pertukangan 1.194
8 Buruh pertambangan 5.857
9 Pengemudi 563
10. Pedagang 10.871
11. TNl/Polri 180
12. Pegawai Negeri Sipil 944
13. Lain-lain 1.963

Sumber : Laporan Tahunan Kecamatan Ciampea, Tahun 2008












VI ANALISIS ASPEK NON FINANSIAL

Analisis yang dilakukan terhadap aspek non finansial penting untuk
dilakukan karena dapat memberikan gambaran terhadap usaha yang akan maupun
sedang dijalankan. Walaupun aspek non finansial belum ada keseragaman yang
pasti tentang aspek apa saja yang menjadi acuan untuk diteliti. Namun pada
penelitian ini yang dilakukan terhadap aspek non finansial meliputi aspek pasar,
aspek teknis, aspek manajemen, dan aspek sosial dan ekonomi.

6.1. Aspek Pasar

6.1.1. Permintaan
Berkembangnya pola perubahan gaya hidup, menyebabkan seseorang
mulai memperhatikan pola hidup sehat. Adanya trend back to nature
mengarahkan konsumen untuk mengkonsumsi yang bersumber dari alam. Selain
itu didukung dengan pengetahuan masyarakat tentang khasiat susu kambing
sehingga menyebabkan terjadi peningkatan permintaan susu kambing. Sampai
saat ini belum ada data pasti baik dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan
(Deperindag) maupun Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai jumlah permintaan
susu kambing secara nasional maupun ekspor. Namun informasi permintaan susu
kambing dapat diketahui dari Ketua Asosiasi Peternak Kambing Perah (Indonesia)
yang mengatakan dari kebutuhan 6,000 liter per hari hanya baru seperempatnya
yang bisa terpenuhi
2
. Permintaan susu kambing akan tetap ada selama masih ada
yang sakit dan keinginan masyarakat untuk menjaga kesehatan. Dilihat dari
segmentasi pasar konsumsi susu kambing cenderung untuk kalangan menengah-
atas
3
.




2
Adijaya, Dian. Tangguk Rezeki dari Susu Kambing. Trubus no 468 edisi
november 2008
3
hasil wawancara langsung dengan peternak dan Dinas Peternakan
6.1.2. Penawaran
Sampai saat ini Deperindag dan BPS belum dapat menyajikan data
mengenai total penawaran yang pasti untuk produksi susu kambing, khususnya
untuk wilayah Bogor. Berdasarkan informasi dari hasil survei dan dilihat dari
jumlah peternak dan pedagang (agen) susu kambing banyak terlihat di pinggir-
pinggir jalan khususnya wilayah Bogor. Beberapa peternak atau kelompok
peternak sudah mulai mengembangkan peternakan kambing dengan tujuan utama
sebagai penghasil susu mengarah pada pengusahaan skala besar termasuk
Peternakan Unggul dalam menjalankan usahanya. Di beberapa daerah seperti
Bogor, Sukabumi, Bandung dan beberapa lokasi di Pulau Jawa, sudah banyak
peternak mandiri yang memiliki populasi kambing PE di atas 100 ekor (Sodik dan
Abidin 2008).
Selain didukung oleh ketersediaan sumber pakan, Bogor memiliki
agroklimat yang cocok untuk pengembangan usaha ternak kambing perah. Serta
lokasi Bogor yang dekat dengan konsumen potensial seperti Jakarta, Tangerang,
Bekasi dan kota-kota besar lainnya sehingga usaha kambing yang dijalankan
tersebut kedepanya memiliki prospek usaha yang menguntungkan. Menurut
informasi yang bersumber dari Peternak Unggul tingkat penyerapan pasar susu
kambing dapat diketahui dengan adanya produksi susu yang selalu habis terjual
bahkan beberapa agen untuk mendapatkan produk susu kambing sebelumnya
melakukan pemesanan terlebih dahulu. Minimal pemesanan setiap agen rata-rata
mencapai 5-10 liter per minggu. Adannya peningkatan jumlah penduduk dan
menyebarnya informasi tentang kasiat susu kambing diharapkan menjadikan
peluang meningkatnya permintaan terhadap susu kambing.

6.1.3. Analisis Pesaing dan Peluang Pasar
Usaha ternak kambing PE dilihat dari pesaing usaha dapat dikatakan
cukup tinggi. Hal ini tercermin dari jumlah peternakan kambing perah yang cukup
banyak. Informasi ini mengindikasikan tingginya minat peternak untuk
mengembangkan usaha ternak kambing perah, akan tetapi jumlah peternak yang
cukup banyak tersebut tidak menimbulkan persaingan yang terlalu ketat.
Persaingan yang terjadi bersifat sehat dan saling melengkapi. Artinya sesama
pelaku produsen susu kambing saling menginformasikan jika ada pesanan susu
yang disesuaikan dengan daya beli konsumen.
Usaha ternak kambing perah masih memiliki prospek yang cukup
menjanjikan. Malaysia dan Brunai merupakan pasar regional produk ternak dan
tidak dapat dipenuhi oleh Indoensia. Malaysia memerlukan sekitar 2.000 ekor
kambig/domba per bulan dan pasar Timur Tengah khusunya Arab Saudi sekitar 1-
3 juta ekor per tahun untuk ternak kurban (Sutama et,al 2007). Adanya kebutuhan
ekspor ternak khususnya kambing yang belum terpenuhi mengindikasikan
produksi susu kambing yang diproduksi relatife stabil. Hasil wawancara dengan
pemilik ternak, selama masih ada yang sakit permintaan akan susu kambing masih
akan tetap dibutuhkan. Apalagi melihat pola hidup masyarakat dewasa ini
mengarah kepada minuman kesehatan dan pengobatan alami membuat kebutuhan
akan mengkonsumsi susu kambing meningkat. Selain susu kambing sebagai
sumber pendapatan dapat juga menjual produk lain seperti ternak afkir, anakan
kambing hingga pada kotoran ternak yang digunakan sebagai pupuk organik. Hal
ini menjadi peluang karena dapat memberikan potensi pendapatan tambahan.

6.1.4. Bauran Pemasaran
Bauran pemasaran yang diterapkan oleh Peternak Unggul meliputi price,
product, place, dan promotion. Tujuan menerapkan bauran pemasaran
diharapkan mengetahui tingkat intensitas persaingan sesama pelaku usaha.
sehingga produk yang dihasilkan ketika dipasarkan dapat ditrima oleh konsumen.
Selain itu menguntungkan bagi pelaku usaha yang akan menjalankan suatu usaha.

6.1.4.1. Harga (Price)
Untuk mengetahui perkembangan harga susu di pasaran, pemilik Peternak
Unggul melakukan survei kepada penjual susu di pinggir-pinggir jalan yang
bertujuan untuk membandingkan keunggulan produk lain dengan produk Peternak
Unggul seperti dari sisi rasa dan aroma yang nantinya sebagai bahan evaluasi
produk yang dihasilkannya. Peternakan Unggul dalam menetapkan harga jual susu
kambing, mengacu pada harga susu kambing yang berlaku di pasaran. Peternak
tersebut mempunyai formula sendiri dalam menghasilkan susu yang
diproduksinya, artinya peternak unggul sangat memperhatikan kualitas dan
kuantitas susu yang dihasilkan
Harga jual susu kambing di Peternakan Unggul dengan harga yang
ditetapkan sebesar Rp 40.000 per liter. Harga tersebut merupakan harga di tingkat
pengecer atau agen. Harga yang berlaku ditingkat peternak lain di bawah harga Rp
40.000 per liternnya dikarenakan disesuaikan dengan kualitas susu yang
dihasilkan. Kemasan yang kurang menarik dan rasa susu yang dihasilkan kurang
gurih dan beraroma prengus mempengaruhi terhadap harga jual. . Faktor trend
back to nature juga dapat menentukan harga susu kambing yang akan dipasarkan.
Susu kambing Peternakan Unggul saat ini dipasarkan melalui
agen/distributor yang berada di Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Bahkan Peternakan
Unggul bekerjasama dengan Indomaret yang berlokasi di Jakarta. Berkembangnya
agen-agen yang tertarik bekerja sama dengan Peternakan Unggul, menyebabkan
produksi susu yang dihasilkan selalu habis terjual.

6.1.4.2. Produk (Product)
Hasil susu yang dipasarkan dalam bentuk susu segar yang sudah dikemas
plastik. Produk yang dipasarkan sudah dalam bentuk kemasan yang menarik yaitu
pada kemasan bagian depan mencantumkan gambar kambing Etawa dengan
tulisan (berwarna hitam) dalam kemasan tercantum lambang W yang berarti
inisial nama pemilik usaha tersebut, identitas nama usahanya yaitu Unggul
kemudian mencantumkan susu kambing organik berkhasiat. Tidak lupa pula
mencantumkan label halal. Setiap kemasan tercantum informasi tanggal produksi,
serta pada kemasan bagian belakang tercantum informasi mengenai khasiat susu
kambing. Diantaranya meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan kecerdasan
anak, memperlambat osteoporosis atau kerapuhan tulang dan menyembuhkan
rematik, hingga mempercepat penyembuhan penyakit maag kronis, membantu
penyembuhan penyakit kangker. Hal ini bertujuan agar dapat mengedukasi khasiat
susu kambing kepada konsumen. Susu yang dipasarkan per liternya terbagi
menjadi lima kantong dengan ukuran 200 ml (Gambar 2). Hal tersebut dapat
memudahkan agen untuk menjual kepada konsumen apabila konsumen membeli
dalam jumlah kurang dari satu liter.

Gambar 2. Kemasan Susu Murni di Peternakan Unggul

Kemasan susu yang dihasilkan oleh peternakan unggul merupakan susu
murni tanpa campuran bahan lain. Lamanya masa simpan susu kambing peternak
unggul dapat disimpan selama tiga bulan dengan kondisi susu keadaan beku.
Apabila susu dalam keadaan suhu ruang hanya mampu bertahan selama delapan
sampai sepuluh jam. Sebelum dikonsumsi direkomendasikan susu kambing
tersebut dipanaskan dalam suhu 50-60
0
C selama 5-10 menit bersamaan dengan
kemasannya. Penyajian susu kambing tersebut dapat dikombinasikan dengan gula,
kopi, jahe, sirup sesuai selera konsumen bahkan dapat disajikan dalam keadaan
dingin. Susu kambing baik dikonsumsi setiap hari, pagi dan sore hari.

6.1.4.3. Tempat (Place)
Pemilihan lokasi untuk memasarkan produk susu yang dihasilkan perlu
dilakukan guna produk yang akan dipasarkan dapat diketahui oleh konsumen.
Untuk saat ini tempat penjualan susu kambing masih tergolong spesifik. Hal ini
dapat dilihat seperti pemasaran yang dilakukan tidak disemua lokasi, produk
tersebut dapat dipasarkan pada toko herbal, tempat pengobatan alternatif. Di
samping itu, cakupan wilayah susu kambing ini masih sekitar wilayah
Jabodetabek. Beberapa distributor tetap dari perusahaan yaitu diantaranya toko
herbal yang berada di jalan Sukasari-Bogor, Pasar Minggu, Pasar Santa, Jati
Bening-Bekasi,dan mulai menawarkan pada Indomart yang berlokasi di Jakarta.
Dalam mendistribusikan produk yang dihasilkan, pihak Peternakan
Unggul menggunakan dua saluran pemasaran, yaitu :
a) Peternakan Unggul Konsumen Akhir
b) Peternakan Unggul Distributor/agen Konsumen Akhir
Saluran pemasaran pertama, Peternakan Unggul memasarkan secara langsung
produk ke konsumen akhir dan biasanya pihak konsumen akhir langsung
memesan produk pada kantor pemasaran yang terdapat di wilayah Cimanggu
Bogor. Lalu pihak perusahaan mengantarkan pesanan produk tersebut kepada
pihak konsumen akhir atau biasanya disebut dengan layanan antar (delivery
service). Pada saluran dua, pihak perusahaan memasarkan produknya terlebih
dahulu ke distributor kemudian produk dipasarkan ke konsumen akhir.
Sebelum produk susu dipasarkan, produk yang dihasilkan terlebih dahulu
di simpan di freezer (lemari pendingin) yang berada pada kantor pemasaran
maupun di lokasi kandang, kemudian setelah susu tersebut dalam kondisi beku
baru dapat disalurkan kepada distributor ataupun konsumen akhir. Dengan kondisi
kemasan susu pada kondisi beku, hal ini dapat mempertahankan kondungan
nutrisi yang terkandung pada susu tersebut, sehingga tidak mengalami kerusakan.
Pengiriman susu dengan jarak jauh perlakuan yang dilakukan dengan melakukan
pengemasan produk yaitu susu dikemas di dalam Styrofoam tujuannya adalah
menjaga agar susu tetap beku lebih lama.

6.1.4.4. Promosi (Promotion)
Promosi produk bagi usaha yang baru berjalan perlu dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Anggororatri (2008), susu kambing
merupakan produk yang masih berada pada tahap perkenalan, pada proses tahap
perkenalan perlunya pengembangan terhadap kesadaran tentang susu kambing
salah satunya dengan pemberian edukasi manfaat dan khasiat susu kambing.
Promosi yang dilakukan untuk mengenalkan produknya kepada konsumen yaitu
pada mulanya pemilik menginformasikan melalui mulut ke mulut. Diantaranya
pemilik memperkenalkan produk kepada sesama rekan kerja, saudara terdekat dan
menawarkan kepada individu lainnya serta memberikan kartu nama guna
memudahkan untuk berkomunikasi bila tertarik untuk memesannya. Selain itu
dengan menerima mahasiswa untuk melakukan penelitian di lokasi kandang
Peternakan Unggul sebagai salah satu bentuk promosi untuk memberikan
informasi kepada pihak lain.
Pemasaran susu kambing dipengaruhi juga oleh sertifikasi produk.
Sertifikasi produk berguna untuk meyakinkan konsumen akan khasiat dan
kandungan zat dari susu yang dihasilkan oleh produsen. Sebelum agen
bekerjasama memasarkan produk susu kambing tersebut, pemilik
menginformasikan terlebih dahulu mengenai keunggulan susu yang dihasilkan
dan khasiat susu kambing bila mengkonsumsinnya. Selain itu pemilik
memberikan fasilitas berupa spanduk yang berisikan mengenai khasiat susu
kambing dan mencantumkan nama Peternakan Unggul sebagai produsennya. Hal
ini dilakukan juga sebagai bentuk promosi Peternakan Unggul sebagai produsen
susu kambing, disamping baik agen maupun konsumen mengetahui manfaat dan
khasiat susu kambing yang diproduksinya. Sehingga dengan adanya informasi
tersebut diharapkan konsumen mengingat dan tertarik untuk mengkonsumsi susu
kambing tersebut.

6.1.5. Hasil Analisis Aspek Pasar
Berdasarkan uraian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa pengusahaan
ternak kambing perah yang dilakukan oleh Peternakan Unggul tidak ada masalah
terkait dengan aspek pasar yang dapat menghambat jalannya usaha peternakan
kambing perah ini, sehingga dapat dikatakan layak untuk dijalankan. adannya
informasi tentang permintaan kambing hidup ke Negara tetangga dan permintaan
susu kambing yang belum terpenuhi menurut ketua asosiasi peternakan
kedepannya sebagai peluang usaha, mengingat masyarakat tidak hannya terfokus
terhadap usaha kambing perah saja. Faktor modal dapat dijadikan sebagai
hambatan bagi para pelaku usaha yang bergerak pada usaha peternakan kambing
perah, sehingga persaingan sesama produsen susu kambing kedepannya masih
relatif kecil.





6.2. Aspek Teknis

6.2.1. Lokasi Produksi
Lokasi usaha ternak kambing perah di Peternakan Unggul terbagi menjadi
dua. Kandang berlokasi di Jalan Cibuntu, Cikampak Kecamatan Ciampea dilahan
seluas 2570 m
2
, merupakan salah satu daerah sentra produksi susu kambing di
Kabupaten Bogor (Tabel 3). Sedangkan kantor pemasaran terletak di Jalan Raya
Cimanggu, yang secara lokasi mempunyai akses mudah ke kota-kota lain yang
berpotensi sebagai konsumen susu kambing seperti Puncak, Tangerang, Depok,
Bekasi hingga ke J akarta. Sehingga lokasi ini mempunyai nilai strategis yang
tinggi bagi pemasaran produk pertanian.
Kriteria-kriteria utama dalam pemilihan lokasi ini adalah :
1. Ketersediaan Bahan Baku
Ketersediaan bahan baku pada pengusahaan kambing perah ini diantarannya
Bibit, pakan, obat-obatan, dan bahan bangunan. Pihak Peternakan Unggul
mendapatkan sumber bibit yang dibelinya dari daerah Kaligesing, pemesanan
bibit dapat dipesan pada sesama peternak kambing perah yang ada di wilayah
Bogor, khusunya Ciampea akan tetapi bibit kambing peternakan unggul
diperolehnya dengan mengusahakan sendiri dari ternak yang sudah ada.
Sehingga kebutuhan akan bibit bisa dipenuhi sendiri dengan cara
memanfaatkan anak yang lahir nantinya dijadikan sebagai ternak untuk
diproduksi. Estimasi dari jumlah ternak sebannyak 54 ekor kambing betina
produktif menghasilkan jumlah anak yang lahir sebanyak 51 ekor dengan
asumsi tingkat kematian ternak sebannyak tiga ekor yaitu lima persen tingkat
kematian. Jumlah anak jantan yang lahir 16 ekor (31,5 persen dari total anak
yang hidup), sisanya dari total 35 ekor anak yang hidup merupakan anak
kambing betina. Kapasitas kandang yang telah disediakan memuat 100 ekor
kambing produktif/dewasa, dari total 100 ekor kapasitas kandang jumlah
kambing jantan yang dipelihara sebannyak lima ekor yang nantinya sebagai
induk jantan sisanya diasumsikan dijual. Mengenai perkembangan dan
produksi ternak dapat dilihat seperti lampiran 2.
Pakan seperti rumput dapat dibudidayakan sendiri seperti menanam
rumput gajah disekitar lokasi kandang. Mengingat susu yang dihasilkan
mengarah pada susu organik, maka pakan yang diberikan dalam bentuk pakan
alami, untuk mendukung hal tersebut kotoran ternak yang dihasilkan
dimanfaatkan untuk lahan rumput yang telah disediakan. Tujuannya
menyediakan lahan yang ditanami rumput agar pasokan rumput dapat
disediakan sendiri, mengingat kebutuhan pakan yang bersumber dari rumput
tidak mencukupi seiring bertambahnya jumlah populasi kambing, untuk
mengatasi peternak memberikan pakan tambahan berupa konsentrat dan
ampas tempe yang didapatnnya dari pengrajin tempe. Banyaknnya kebutuhan
pakan yang dibutuhkan lebih lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 2.
konsentrat dan obat-obatan dibelinya dari koperasi peternakan di daerah
Cimanggu. Bahkan untuk keperluan obat-obatan Peternakan Unggul dapat
menyediakan sendiri mengingat istri dari pemilik membuka jasa Klinik
Kesehatan Hewan yang berlokasi di daerah Cimanggu. Sedangkan Sedangkan
bahan-bahan untuk membuat perlengkapan bangunan seperti kandang
diperolehnya dari wilayah sekitar lokasi kandang, dengan memanfaatkan
kayu-kayu kampung (kayu albasia, nangka) dan membelinya di matrial
bangunan yang berada dekat dengan lokasi kandang.
2. Listrik dan air
Sarana infrastruktur tenaga listrik di lokasi kandang tidak menjadi masalah
dikarenakan sudah adanya saluran listrik di lokasi usaha Peternakan Unggul.
Tenaga listrik ini dimanfaatkan untuk sarana penerangan di sekitar kandang
dan penggunaan alat seperti Freezer dan shiler. Sumber air didapatnya dari
sumur air tanah yang telah dibuatnya. Bahkan kebutuhan air juga didapat dari
saluran air sungai/air hujan yang tidak jauh dari lokasi kandang, yang nantinya
ditampung di penampungan kolam air yang telah disediakan.
3. Suplai tenaga kerja dan fasilitas transportasi
Kebutuhan tenaga kerjanya yang digunakan, Peternakan Unggul
memperkerjakan karyawan sebanyak dua orang. Menurut buku laporan data
monografi Kecamatan Ciampea tahun 2008, potensi jumlah angkatan kerja di
Kecamatan Ciampea adalah untuk angkatan kerja pria sebanyak 37.876

orang sedangkan angkatan kerja perempuan sebanyak 38.268 orang, artinya
potensi untuk sumber tenaga kerja masih berpotensi dalam penyediaan sumber
tenaga kerja. Selain itu daerah Ciampea merupakan daerah pertanian,
diantaranya peternakan. Sehinga sumbear daya manusianya berpotensi sebagai
tenaga kerja dibidang pertanian.
Lokasi usaha Peternakan Unggul hanya berjarak kurang lebih 15 km dari
jalan yang menghubungkan provinsi (Jawa Barat, Banten, Jakarta) yaitu J alan
Raya Ciampea. Dari jalan propinsi tersebut tersedia sarana transportasi umum
yang menjangkau daerah tersebut seperti angkutan umum dan ojek motor
sehingga untuk mencapai lokasi mudah dijangkau oleh pihak distributor dan
konsumen akhir.

6.2.2. Teknis Budidaya
1. Kandang
Sistem pemeliharaan ternak kambing perah dilakukan secara intensif.
Kandang berbentuk panggung (Gambar 3) yang terdiri dari tiga bagian kandang.
Artinya aktifitas kambing mulai dari makan hingga pemerahan susu aktifitasnya
dilakukan di dalam kandang.

a). Bagian dalam b). Tampak luar
Gambar 3. Kandang Tipe Panggung di Peternakan Unggul

Kandang dibagi berdasarkan fungsinya yaitu kandang produksi, kandang
pembesaran atau penggemukan dan kandang tempat bunting. Kandang produksi
adalah kandang yang disediakan khusus untuk dihuni oleh induk produktif dan
kambing yang sedang kawin, di kandang ini pula pemerahan dilakukan. Luasan
kandang yang digunakan kurang lebih 150 m dengan daya tampung ternak dewasa
sebanyak 100 ekor, dengan rincian panjang kandang 25 m dan lebar kandang 6 m.
Tiap kandang dibuat beberapa sekat, ukuran 2,5 m x 3 m sebanyak 14 sekat, tiap
sekat memuat 6 ekor dewasa. Sekat berukuran 1,5 m x 2,5 m sebanyak empat
sekat dengan total kapasitas tampung ternak sejumlah 16 ekor. Sedangkan ukuran
kandang untuk anak berukuran 4 m x 3 m, sebanyak delapan sekat menampung
kurang lebih 32 ekor anak kambing dibawah umur empat bulan. Kandang dibuat
permanen dengan tiang kolong kandang terbuat dari semen cor. Lantai kolong
kandang dibuat miring agar limbah kotoran kambing dapat langsung mengalir ke
parit atau bak penampungan limbah yang sudah disediakan di sekitar kandang.
2. Pakan
Peternakan Unggul memberikan pakan berupa rumput dan dedaunan,
pemberiannya dengan cara disabitkan (cut and carry). Untuk sumber protein
diperoleh dari dedaunan, konsentrat yaitu campuran bungkil kelapa sawit, dedak,
onggok, dan garam mineral dan ampas tempe. Rumput diperoleh dengan
menanam sendiri di lahan sekitar kandang, sedangkan konsentrat, ampas tempe
diperoleh dengan cara membeli. Peternakan Unggul memberikan pakan tambahan
berupa konsentrat dan ampas tempe. Masing masing pakan diberikan rumput
sebannyak dua kg, konsentrat 0,5 kg, dan ampas tempe sebanyak tiga kg. Sebagai
sumber energi, ternak diberi rumput gajah dan rumput lapang. Menurut Mathius,
yulistiani dan Wilson (1989), Pemberian pakan yang baik sebanyak sepuluh
persen dari bobot badan ternak. Rata-rata kambing dewasa produktif peternakan
unggul adalah 40 kg per ekor. Artinya kebutuhan pakan yang harus diberikan
adalah sebannyak 40 kg dikali sepuluh persen, setara dengan empat kg.
Kebutuhan pakan Peternakan Unggul dilihat dari pemberian jumlah pakan
terbilang sudah lebih dari cukup, rata-rata total pemberian pakan sebanyak 5,5 kg
per ekor per harinnya. Frekuensi pemberian rumput dilakukan tiga kali yaitu pagi,
siang dan sore pada pukul 06.00, 12.00 dan 17.00. Konsentrat dan ampas tempe
diberikan dua kali sehari yaitu pukul 06.30, dan 17.30 WIB. Pemberian konsentrat
pada pagi dan sore dilakukan setelah pemberian pakan rumput dan sebelum
pemerahan yang berfungsi untuk menenangkan kambing ketika diperah. Posisi
tempat pemberian pakan berada di luar kandang. Manfaat yang didapat dengan
posisi kotak pakan berada di luar diantaranya, memudahkan dalam pemberian
pakan, memudahkan pembersihan sisa-sisa pakan, kondisi kandang menjadi lebih
bersih, selain itu ternak tersebut mendapatkan sirkulasi udara yang baik
(Gambar 4).


Gambar 4. Pemberian Pakan Ampas Kedelai

Kegiatan memberi pakan mulai dari mengarit rumput hingga mencacahnya
menjadi potongan-potongan kurang lebih sepanjang lima cm. tujuannya agar
ternak menjadi lebih mudah memakan ruput yang telah diberikan. Rumput yang
diberikan sebanyak dua kg per harinnya. Biasanya pemberian dilakukan satu jam
setelah pencacahan. Sedangkan pemberian konsentrat peternakan Unggul
membuat pormulasi sendiri yaitu dengan melakukan pencampuran bahan seperti
onggok, bungkil sawit, dedak, garam dapur dengan perbandingan 1:1:5:0,05 kg.
Banyaknya pemberian per ekor per hari sebanyak 0,5 kg. Pemberian konsentrat
dapat dilakukan setelah kambing berusia empat bulan, peternakan Unggul dalam
pemberian konsentrat sangat memperhatikan ternaknya terlebih pada ternak yang
sedang diperah (masa laktasi) dimaksudkan untuk menjaga kualitas susu yang
dihasilkan. Pemilik Peternakan Unggul menyakini dengan pemberian konsentrat
secara teratur selain untuk menjaga kesehatan ternak juga memberikan rasa gurih
pada susu yang dihasilkan. Pemberian ampas kedelai dilakukan tiga kg per ekor
per harinya. Sumber pakan ampas tempe didapatnya dari pengusaha tempe di
wilayah Jakarta. Peternak untuk menjaga kontinuitas pasokan dengan mencari
dibeberapa tempat. Penanganan anak kambing yang dilakukan oleh Peternakan
Unggul adalah masa menyusui anak kambing selama tiga bulan. Anak kambing
yang baru lahir, susu yang bersumber dari induk digantikan dengan susu sapi.
Tujuan menggantikan susu kambing dengan susu sapi agar susu kambing yang
dihasilkan dapat dijual mengingat harga susu kambing yang relatif lebih tinggi
dibandingkan dengan susu kambing per liternnya.
3. Sanitasi
Pembersihan kandang (sanitasi) yang dilakukan di Peternakan Unggul
dalam sehari dilakukan dua kali, yaitu pagi dan sore hari dilakukan satu jam
sebelum melakukan pemerahan susu kambing. Alat yang digunakan yaitu ember
untuk mengambil air dari kolam penampungan air dan sapu lidi untuk
membersihkan kotoran kambing. Tujuan utama pembuatan lantai kolong yang
miring agar tercipta kebersihan kandang. Pembersihan sisa-sisa pakan juga
dilakukan setiap hari, apabila sisa-sisa pakan tidak dibersihkan terlebih pada
ampas tempe, dapat menimbulkan aroma tidak sedap dan berakibat pengurangan
nafsu makan pada ternak.
Kandang yang bersih merupakan cara pencegahan serangan penyakit pada
ternak. Ruang kandang dibuat dengan lorong/gang. Lorong dibuat di tengah
dengan ruangan di samping kiri dan kanan, biasanya lorong ini dipakai sementara
untuk ternak (terutama ternak sapihan dan proses pemerahan). Dengan model
lorong ini, ada beberapa keuntungan yang bisa diperoleh yaitu pintu keluar
kandang cukup satu, keluar masuknya ternak lebih mudah diatur, dan
membersihkan kandang lebih mudah (Gamabr 5).


Gambar 5. Kegiatan Sanitasi Kandang di Peternakan Unggul

4. Reproduksi
Sistem perkawinan Peternakan Unggul dilakukan secara alami, belum
pernah melakukan perkawinan dengan menerapkan Inseminasi Buatan (IB).
artinya proses perkawinan menggunakan kambing pejantan yang dimilikinya.
Peternak menganggap dengan menggunakan teknologi IB akan menambah beban
biaya dan juga untuk memanfaatkan kambing jantan yang berlebih. Meskipun
begitu, ternak kambing yang dipelihara peternak tetap menghasilkan anak. Hal ini
merupakan kelebihan dari jenis kambing PE dimana dalam keadaan fertilitas yang
baik, kambing betina mampu menghasilkan anak kambing setiap tahun pada
keadaan yang sehat. Sumber indukan didatangkan dari daerah Kaligesing, awal
mulanya Peternakan Unggul mendatangkan sebanyak 21 ekor (usia sepuluh
bulan) yaitu kambing jantan sebanyak satu ekor dan sisanya 20 ekor kambing
betina. Kini jumlah ternak yang ada sebanyak 61 ekor dengan tingkat kematian
yang disebabkan kembung dan mencret pada anak kambing sebanyak dua ekor
artinya lima persen dari total anak yang lahir. Populasi kambing seluruhnya
menjadi 59 ekor.
Ternak kambing mulai dikawinkan pada usia satu tahun baik jantan dan
betina. Ternak mulai memiliki keturunan/anak yang lahir dari masa perkawinan,
lamanya kurang lebih 150 hari (5 bulan) masa kebuntingan. Rata-rata kambing di
Peternakan Unggul menghasilkan anak dalam satu tahun menghasilkan satu ekor
anak (data di lapangan). Peternakan Unggul belum mencatat (recording)
mengenai keadaan ternaknya seperti produksi, kesehatan dan reproduksi.
Rekording yang telah dilakukan adalah data penjualan, data pembelian dan
transaksi keuangan.
5. Pemerahan
Sebelum proses pemerahan, langkah awal yang dilakukan oleh pekerja
adalah pemberian pakan dan sanitasi kandang. Mengingat susu kambing sangat
peka terhadap kondisi aroma bau yang tidak sedap dan dapat terkontaminasi dari
mikroba. Terlebih bau yang bersumber dari kotoran ternak, maka dari itu kualitas
susu sangat dipengaruhi dari kondisi kebersihan kandang. Kambing betina mulai
dapat diperah setelah melahirkan (masa laktasi) Sebelum melakukan pemerahan
ambing kambing dilakukan pembersihan dengan air hangat, tujuannya
membersihkan kotoran yang menempel disekitar ambing. Satu persatu kambing
betina diperah bergiliran dengan kambing tersebut dibawa ke luar dan diikat
dengan tali tambang agar memudahkan dalam pemerahan. Peternakan Unggul
sangat memperhatikan kebersihan susu yang dihasilkan yaitu pemerahan
dilakukan di lorong jalan kandang, bertujuan mengurangi tingkat kepanikan
kambing yang berada di kandang dan kondisi lorong lebih bersih dari kotoran
ternak selain itu memudahkan dalam proses pemerahan. Peralatan yang digunakan
yaitu ember bersih untuk menampung susu, gelas ukur, sealer, dan saringan susu.
6. Penanganan Hama Penyakit
Beberapa penyakit yang sering menyerang kambing perah di peternakan
Unggul adalah mencret, kembung perut dan kudis. Umumnya ternak kambing
perah yang terkena mencret dan kembung masih anak dibawah umur satu tahun.
Sedangkan kudis dapat menyerang hingga usia ternak lebih dari satu tahun. Cara
mengatasi penyakit kudis dengan obat ipomex dan menjaga kebersihan kandang
agar penyakit kudis tersebut tidak menular ke ternak yang lain dan berkembang
biak. Sedangkan penyakit kembung, pengobatan yang dilakukan peternak adalah
dengan memberikan obat kembung untuk manusia dapat diberikan kepada
kambing yang sakit dengan tingkat keberhasilan yang bervariasi. Kemungkinan
penyebab kedua penyakit ini sering menyerang ternak adalah karena memberikan
hijauan yang masih terlalu muda atau hijauan yang basah oleh embun. Penyebab
lainnya adalah waktu penelitian dilakukan pada saat musim hujan yang
memungkinkan ternak lebih mudah terserang penyakit diare/mencret karena
lingkungan atau udara dingin dan lembab. Sehingga faktor kebersihan kandang
menjadi salah satu faktor yang dapat menekan serangan hama dan penyakit yang
merugikan bagi ternak.
Upaya pemeliharaan kesehatan ternak dilakukan sendiri oleh pemilik. Istri
pemilik sudah berpengalaman dan mempunyai pengetahuan di bidang tersebut.
Istri pemilik adalah salah satu dosen Fakultas Kedokteran Hewan di IPB dan
memiliki klinik hewan yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya.
7. Penanganan Limbah Kotoran Ternak
Kedepannya usaha peternakan Unggul mengarah pada produsen susu
kambing organik murni. Hasil kotoran ternak yang dihasilkan oleh Peternak
Unggul dimanfaatkan sebagai pupuk organik di lahan rumput yang dimilikinya.
Pemanfatan kotoran yang dihasilkan mendukung dengan tujuan Peternakan
Unggul sebagai produsen susu kambing organik, karena pakan yang diberikan
bersumber dari pakan rumput yang dipupuk dengan pupuk hasil kotoran ternak.
Penanganan limbah yang dihasilkan dengan cara membersihkan kotoran ternak
dengan sapu lidi dan menyiram air di bagian kolong kandang dari penampungan
kolam air kemudian mengarahkan ke tempat penampungan kotoran yang berada
di sisi kandang. Setelah kotoran dalam kondisi kering kotoran tersebut dimasukan
kedalam karung yang nantinnya diangkut ke lahan rumput.

6.2.3. Produksi Susu
Dari sisi produktifitas susu kambing yang dihasilkan terbilang belum
mencapai efisiensi usaha. Saat ini produktifitas susu hanya mencapai 0,64 liter per
ekor per hari. Produktifitas susu tersebut lebih rendah dari yang dilaporkan oleh
Sutama (2007) mengatakan bahwa kambing PE memiliki kemampuan
memproduksi susu sebanyak 1,5 liter, bahkan dapat mencapai tiga liter per ekor
per hari. Rendahnya produksi susu yang dihasilkan diduga ambing yang dimiliki
ternak berukuran relatif kecil. Semakin kecil ambing, maka semakin sedikit
dihasilkan kelenjar penghasil susu. Penanganan susu hasil pemerahan setelah
disaring, kemudian ditakar sebanyak 200 ml, setelah itu dikemas dengan kantong
plastik berlabel yang direkatkan dengan alat sealer yang diberi tanggal produksi
susu. Kemudian disimpan ke dalam lemari pendingin (freezer). Peternak meyakini
cara mengatasi kambing agar tidak stres sesekali ternak diberi lagu-lagu, kondisi
ternak dalam keadaan nyaman dapat mengurangi penurunan produksi susu.

6.2.4. Tenaga Kerja
Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kegiatan yang biasa
dilakukan pekerja dalam mengelola usaha ternak kambing perah adalah
membersihkan kandang dan peralatan kandang, mengambil rumput, mengambil
ampas kedelai, memberi pakan dan minum, pemerahan susu, pengemasan susu
dan pemasaran hasil yang dilakukan oleh pemilik usaha Peternakan Unggul.
Kegiatan membersihkan kandang rutin dikerjakan pagi dan sore menjelang
pemerahan susu sehabis pemberian pakan. Kegiatan yang dibersihkan mulai dari
pembersihan sisa-sisa pakan yang berada dikotak tempat pakan hingga
membersihkan bawah kandang. Pembersihan dibagian dalam kandang
menggunakan alat berupa sapu lidi, sedangkan bagian bawah awalnya dengan
sapu lidi kemudian dibersihkan lagi dengan menyiramkan dengan air. Sisa sisa
kotoran tersebut ditampung dan apabila dalam keadaan kering dimasukan kedalam
karung yang nantinya digunakan pada lahan rumput. Sedangkan air siraman
tersebut dialirkan langsung ke kebun rumput.

6.3 . Aspek Manajemen
Aspek manajemen yang diterapkan Peternak Unggul mencakup planing,
organizing, actuating dan contoling. Perencanaan terhadap usaha peternakan
kambing perah khususnya kambing PE, pemilik Peternakan Unggul sudah
menerapkannya usaha tersebut yang berlokasi di Kecamatan Ciampea.
Perencanaan pengembangan usaha ini yaitu dengan penjualan susu sebagai produk
utamanya, penjualan ternak afkir sebagai pedaging dan anakan kambing PE.
Pengembangan usaha peternakan kambing perah ini peternak telah melakukan
penanaman biaya investasi, mengeluarkan biaya oprasional dan biaya tetap.
Organisasi yang diterapkan pada peternakan Unggul, memiliki struktur
manajerial yang sederhana selain itu usaha yang dijalankan merupakan usaha
perorangan. Dalam menjalankan usahannya pemilik usaha merupakan sekaligus
sebagai manajer. Untuk menjalankan aktifitas usahannya pemilik dibantu oleh dua
orang pekerja. Pekerja yang digunakan merupakan lulusan SMU yang telah lama
berpengalaman beternak kambing perah, pengalaman yang diperoleh sebelumnya
pekerja pernah bekerja di peternakan lain, sehingga pekerja sudah terbiasa
mengurus dan mempekerjakan aktifitas di kandang. Masing-masing pekerja telah
memiliki tanggungjawab yang jelas. Sistem pengupahan yang dilakukan
peternakan unggul, pembayarannya dengan sistem bulanan.
Kontrol terhadap usaha dan aktivitas usaha yang dijalankan dilakukan oleh
Bapak Wisnanto yang merupakan pemilik sekaligus manajer usaha tersebut.
Pengontrolan yang dilakukan, pemilik melakukannya dalam seminggu biasannya
dua kali yaitu pada hari libur kerja (Sabtu dan Minggu). Terkecuali hari-hari libur
lainnya. Mengingat pemilik selain menjalankan usaha Peternakan Unggul juga
bekerja di salah satu instansi pemerinthan yang belokasi di Bekasi. Pengontrolan
ini berkaitan dengan tugas-tugas yang diberikan agar benar-benar telah
dilaksanakan oleh karyawan seperti pemberian pakan, pembersihan kandang,
pemerahan susu hingga penanganan pengemasan susu hasli perahan. Pengontrolan
yang dilakukan pemilik bertujuan untuk menjaga kualitas dan kuantitas produk
yang nantinya akan dipasarkan serta kesehatan ternak terjaga.

6.3.1. Hasil Analisis Aspek Manajemen
Hasil dari analisis aspek manajemen, yang meliputi manajemen
sumberdaya manusia dan manajemen organisasi usaha peternakan dapat
dikatakan bahwa pengusahaan ternak kambing perah yang dilakukan oleh
Peternakan Unggul tidak ada masalah manajemen yang dapat menghambat
jalannya usaha peternakan ini, walau struktur organisasi terbilang sederhana
sehingga dapat dikatakan layak untuk dijalankan.

6.4 . Aspek Sosial
Usaha budidaya kambing perah Peranakan Etawa yang dilakukan
Peternakan Unggul, merupakan salah satu kegiatan yang memiliki manfaat baik
secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung memberikan manfaat
berupa penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitart. Hal ini dalam
menjalankan usahanya Peternakkan Unggul memberdayakan masyarakat sekitar
sebanyak dua pekerja, dengan difasilitasi mes. Manfaat sosial secara tidak
langsung, usaha tersebut dalam melakukan aktifitasnya memerlukan sarana
transportasi dalam proses pengangkutan baik untuk pengambilan pakan maupun
proses pemasaran hasil ternak yang dijalankannya. Bagi pihak lain dapat
dimanfatkan sebagai sumber penghasilan tambahan seperti pakan berupa
konsentrat yang didapat dari membeli di lingkungan sekitar.
Dampak yang ditimbulkan dari usaha tersebut berupa menimbulkan bau
yang bersumber dari kotoran ternak. Upaya yang dilakukan peternak tersebut
dengan melakukan pengelolaan limbah ternak dengan cara pembersihan kandang
secara teratur dan memanfaatkan kotoran tersebut sebagai pupuk organik yang
dimanfaatkan sebagai pemupukan pada lahan rumput yang tersedia. Penanganan
yang dilakukan dengan menampung kotoran ternak tersebut dan dimasukan
kedalam karung yang nantinya diangkut ke lahan rumput.

6.1.4.1. Hasil dari Analisis Aspek Sosial
Hasil dari analisis aspek sosial ekonomi, dapat dikatakan bahwa
pengusahaan ternak kambing perah yang dilakukan oleh Peternakan Unggul tidak
ada masalah manajemen yang dapat menghambat jalannya usaha ternak ini,
sehingga dapat dikatakan layak untuk dijalankan. Penanganan limbah ternak yang
baik dapat mengatasi pencemaran terhadap bau yang tidak sedap yang bersumber
dari kotoran/limbah ternak di sekitar lingkungan dekat lokasi kandang. Selain itu
berdampak positif terhadap masyarakat sekitar, antara lain secara langsung
menciptakan kesempatan lapangan kerja. Secara tidak langsung usaha kambing
perah tersebut tidak bertentangan langsung dengan masyarakat sekitar dan sebagai
penyedia minuman susu yang bergizi.





















VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL


7.1. Inflow
Dalam sebuah cashflow, inflow merupakan aliran kas masuk bagi suatu
usaha. Inflow Peternakan Unggul terdiri dari pinjaman dari bank, nilai sisa,
penerimaan penjualan produk utama, berupa susu murni, serta penerimaan yang
bersumber dari ternak afkir dan penjualan anak kambing. Besarnya pinjaman pada
usaha kambing perah ini adalah sebesar 131.100.000 rupiah. Besarnnya biaya
tersebut diperoleh dari setengah dari total biaya investasi. Sedangkan nilai sisa
diperoleh hanya pada tahun ahkir umur proyek yaitu sebesar 91.076.667 rupiah.
Komponen yang masih memiliki umur sisa adalah komponen biaya yang
memiliki umur ekonomis lebih dari lima tahun atau komponen yang masih
memiliki sisa umur ekonomis diahkir umur proyek diantaranya : lahan
diasumsikan memiliki nilai sisa sama dengan nilai beli yaitu 69.390.000 rupiah,
kandang sebesar 17.500.000 rupiah, mes 2.500.000 rupih, sumur timba 500,000
rupiah, instalasi listrik 1.000.000 rupiah, cangkul 16.667 rupiah, arit 20.000
rupiah, ember 50.000 rupiah, glas ukur 25.000 rupiah dan sepatu boot sebesar
75.000 rupiah. sedangkan ternak kambing afkir dimasukan sebagai komponen
penerimaan, lebih lengkapnnya dapat dilihat pada (Lampiran 3).


7.1.1. Penerimaan Susu Murni
Penerimaan susu murni adalah penerimaan yang bersumber dari hasil
produk utama usaha peternakan kambing perah khususnya peranakan etawa.
Jumlah penerimaan ini kecenderungan mengalami peningkatan dari tahun pertama
hingga tahun ke lima. Hal ini dikarenakan jumlah populasi kambing betina yang
mengalami masa laktasi pada tahun ke satu hingga tahun ke tiga belum mencapai
100 persen (Lampiran 2). Peningkatan populasi kambing ini diperoleh dari usaha
perbanyakan sendiri. Harga jual yang ditetapkan berdasarkan harga yang berlaku
dipasaran. Harga jual susu yang ditetapkan adalah dengan harga 40.000 rupiah per
liter. Produk susu merupakan produk yang dapat dihasilkan sepanjang tahun,
artinya selama kambing mengalami masa laktasi/menyusui, kambing tersebut
dapat menghasilkan susu murni setiap hari. Adapun estimasi susu yang dihasilkan
Peternakan Unggul hingga akhir proyek dapat dilihat pada Tabel 11 di bawah ini.

Tabel 11. Estimasi Produksi Susu Kambing di Peternakan Unggul
Tahun Produksi Susu
(Liter)
Harga Susu Per Liter
(Rp)
Penjualan Susu (Rp)
1 6,221
40,000
248,832,000
semester 1 1,037

41,472,000
semester 2 5,184

207,360,000
2 6,893
40,000
275,712,000
semester 1 1,037

41,472,000
semester 2 5,856

234,240,000
3 10,253
40,000
410,112,000
semester 1 4,397

175,872,000
semester 2 5,856

234,240,000
4 10,944
40,000
437,760,000
semester 1 4,512

180,480,000
semester 2 6,432

257,280,000
5 10,944
40,000
437,760,000
semester 1 4,512

180,480,000
semester 2 6,432

257,280,000



total 45,254

1,810,176,000

Agar produk susu yang dihasilkan secara berkesinambungan, tindakan yang
dilakukan oleh peternakan Unggul dengan mengatur masa bunting atau laktasi.
Penerimaan susu di tahun pertama sebessar 248.832.000 rupiah (Tabel 11.)
diperoleh dari total kambing laktasi pada tahun pertama (54 ekor) dikalikan rata-
rata produksi susu per ekor (0,64 liter) dikalikan dengan lamannya maasa laktasi
yaitu enam bulan (180 hari ) serta dikalikan harga jual susu per liter (Lampiran 2)

7.1.2. Penerimaan Sampingan
Peternakan kambing perah merupakan usaha yang bersifat dwiguna,
artinya selain susu sebagai produk utamanya juga dapat dimanfaatkan produk
sampingan. Diantaranya penerimaan yang diperoleh dari penjualan ternak afkir.
Ternak afkir yang dimaksud adalah ternak yang dari sisi produksi susu sudah
tidak produktif lagi, artinya produksi susu yang dihasilkan tidak optimal lagi.
Umumnya ternak yang dikatakan ternak afkir adalah ternak yang mempunyai
umur lima tahun. Biasanya daging ternak tersebut dapat dimanfaatkan sebagai
makanan sate kambing, atau pada hari raya idul kurban. Rata-rata bobot kambing
afkir berkisar antara 30-50 kg. Harga ternak afkir yang berlaku dipasaran per
ekornya sebesar 1.500.000 rupiah sedangkan ternak produktif harga yang berlaku
dipasaran adalah 2.250.000 rupiah. Penerimaan ternak afkir ditahun ke lima
diperoleh dari perhitungan jumlah kambing afkir diahkir umur proyek (100 ekor)
dikalihkan harga kambing afkir per ekornnya (Rp 1.500.000), total penerimaan
yang bersumber dari ternak afkir adalah sebesar 150.000.000 rupiah. Ternak yang
tergolong sebagai ternak afkir adalah ternak jantan dan betina yang sudah tidak
produktif lagi menghasilkan susu, biasannya usia ternak sudah mencapai lima
tahun atau lebih. Besarnya penerimaan yang bersumber dari ternak afkir yang
didapat, berdasarkan jumlah ternak yang diinvestasikan selama umur proyek.
Anak kambing dapat dimanfaatkan sebagai sumber penerimaan.
Penerimaan yang diperoleh dari penjualan anak kambing adalah anak kambing
yang berusia minimal empat bulan. Dikarenakan pada usia empat bulan ternak
sudah mulai tidak menyusui dan sudah dapat memakan rerumputan, sehingga
konsumen yang berminat untuk membeli tidak terlalu khawatir terhadap kematian
ternak. Harga per ekor anak kambing betina sebesar 600.000 rupiah, sedangkan
harga untuk anak kambing jantan sebesar 500.000 rupiah. Tujuan Peternakan
Unggul menjual anak kambing sebagai sumber tambahan penerimaan, sehingga
usaha yang dijalankan menghasilkan penerimaan tambahan. Mengingat produk
utama berupa susu maka jumlah populasi ternak yang lebih banyak di pelihara
adalah kambing betina. Menurut Sutama (2007), dengan pengaturan yang baik
setiap kambing pejantan dapat mengawini betina sebanyak 12-16 ekor per bulan.
Secara teoritis satu ekor jantan mampu mengawinkan kambing betina mencapai
1 : 74-112 Ekor. Sedangkan perbandingan jantan dan betina yang dilakukan oleh
peternakan Unggul adalah 1:20 ekor. Berdasarkan pengalaman yang telah
dilakukan, perbandingan jantan dan betina 1:20 dirasa cukup untuk mengawinkan
kambing betina yang ada, mengingat dalam satu hari jumlah kambing yang siap
dikawinkan belum tentu secara bersamaan.
Penjualan anak kambing dilakukan setelah kapasitas kandang terpenuhi
yaitu sebanyak 100 ekor. Berdasaran rasio ternak jantan dan betina yang
dilakukan 1:20 ekor, kebutuhan kambing jantan yang dipelihara sebagai indukan
sebanyak lima ekor selebihnnya dari anak kabing jantan yang lahir dilakukan
penjualan.. Penjualan yang dilakukan pada anak kambing betina yaitu setelah
jumlah kambing betina mencapai 95 ekor, dapat dilihat pada Lampiran 2.
Penerimaan yang bersumber dari penjualan anak kambing setiap tahunnya
berbeda, karena jumlah kambing yang melahirkan pertahunnya tidak secara
bersamaan seperti pada Tabel 12). Besarnnya penerimaan bersumber dari
penjualan anak kambing baik jantan maupun betina adalah jumlah kambing
jantan ditahun pertama (16 ekor) dikalikan harga per ekor kambing jantan (Rp
500.000) ditambah jumlah kambing betina yang siap dijual dikalikan harga per
ekor anak kambing betina (Rp 600.000). Dikarenakan tahun pertama belum ada
pemasukan dari penjualan anak kambing betina maka besarnya penerimaan dari
penjualan anak kambing ditahun pertama adalah sebesar 8.000.000 rupih yang
bersumber dari penjualan anak kambing jantan, begitu juga perhitungan
penerimaan hingga tahun kelima.

Tabel 12 Estimasi Penerimaan Penjualan Anak Kambing Per Tahun (skenario I)
Sumber Pemasukan Tahun
1 2 3 4 5
1. Kambing jantan (ekor) 16 16 26 28 28
2. Kambing betina (ekor) 0 29 58 62 62
Total anak kambing terjual (ekor) 16 45 84 90 90

7.2 . Outflow

7.2.1. Biaya Investasi
Outflow adalah aliran kas yang dikeluarkan oleh suatu usaha. outflow
Peternakan Unggul dikelompokan menjadi biaya investasi dan biaya oprasional
diantarannya biaya tetap dan biaya variabel. Biaya investasi yang dilakukan oleh
Peternakan Unggul dilakukan pada tahun pertama. Biaya investasi yang
dikeluarkan oleh Peternakan Unggul adalah lahan, kandang, mes, lemari
pendingin/freezer, alat perekat kemasan plastik/sealer, cangkul, garpu, arit,
ember, drum, glas ukur, kambing PE, kolam penampungan air dan peralatan
kandang yang masa pakainya satu tahun atau lebih (Tabel 13).

Tabel 13. Biaya Investasi Pada Peternakan Unggul (Skenario I)
No. Komponen biaya Satuan Jumlah Harga satuan (Rp) Jumlah biaya (Rp)
1 Lahan meter 2570 27,000 69,390,000
2 instalasi listrik unit 1 2,000,000 2,000,000
3 Kandang unit 1 35,000,000 35,000,000
4 Mes unit 1 5,000,000 5,000,000
5 Sumur timba unit 1 1,000,000 1,000,000
6 Freezer unit 2 4,000,000 8,000,000
7 Shiler unit 1 200,000 200,000
8 timbangan unit 1 250,000 250,000
9 mesin air unit 1 1,500,000 1,500,000
10 selang meter 20 6,000 120,000
11 Kambing ekor 59 2,250,000 132,750,000
12 kolam unit 2 5,000,000 5,000,000
13 Drum unit 15 100,000 1,500,000
14 Garpu unit 1 80,000 80,000
15 Cangkul unit 1 50,000 50,000
16 Arit unit 2 30,000 60,000
17 Ember unit 10 10,000 100,000
18 Gelas ukur unit 2 25,000 50,000
19 Sepatu boot unit 3 50,000 150,000
Total 262,200,000

Lahan yang tersedia dimanfaatkan untuk membangun fasilitas kandang,
mes, kolam penampungan air dan sisanya dipergunakan sebagai lahan rumput.
Kandang yang dibangun adalah kandang permanen, dengan bahan yang
digunakan adalah terbuat dari kayu, bambu, lantai bawah terbuat dari semen cor,
dan atap menggunakan asbes. Sedangkan pembuatan kandang dilakukan dengan
cara borongan, hal ini bertujuan agar pembuatan kandang lebih cepat dalam
pengerjaannya. Lemari pendingin yang digunakan untuk kebutuhan penyimpanan
hasil produk susu sebanyak dua buah. fungsi lemari pendingin bagi usaha
peternakan kambing perah adalah dapat memperpanjang masa simpan susu yang
dihasilkan, sehingga susu tidak mengalami kerusakan kandungan gizinya. Alat
sealer yang digunakan sebanyak satu buah berfungsi sebagai perekat kemasan.
Biaya investasi usaha peternakan unggul dilakukan tidak hanya pada tahun
pertama. Biaya investasi yang dilakukan Peternakan Unggul dikeluarkan kembali
pada tahun tertentu atau disebut biaya re-investasi. Hal tersebut dikarenakan nilai
ekonomis seperti cangkul, arit, gelas ukur, ember, dan sepatu boot lamanya umur
pakai kurang dari lima tahun seperti pada table dibawah ini.

Tabel 14. Biaya Re-Investasi Usaha Peternakan Unggul
Uraian

Umur ekonomis
(thn)
1 2 3 4 5
1. Cangkul
3
50,000 50,000
2. Arit
3
60,000 60,000
3. Ember
2
100,000 100,000 100,000
4. Gelas ukur
2
50,000 50,000 50,000
5. Sepatu boot
2
150,000 150,000 150,000
Total
410,000 0 300,000 110,000 300,000

Biaya re-investasi yang dikeluarkan kembali berdasarkan lamannya umur
ekonomis peralatan yang digunakan. Diantaranya untuk pembelian kembali
peralatan seperti cangkul, arit, ember, gelas ukur, serta sepatu boot yang dilakukan
pada tahun ke 3, 4 dan 5 (Tabel 14). Peralatan yang masih memiliki sisa umur
ekonomis nantinnya diperhitungkan kedalam nilai sisa.

7.2.2. Biaya Operasional
Biaya operasional adalah biaya yang dikeluarkan agar terlaksananya suatu
kegiatan usaha yang sedang dijalankan. Biaya oprasional yang dikeluarkan untuk
mengusahakan Peternakan Unggul terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.
Biaya tersebut akan dikeluarkan secara berkala selama usaha tersebut masih
berjalan.
1. Biaya Tetap
Biaya tetap yang akan dikeluarkan setiap usaha berbeda-beda. Biaya tetap
yang dikeluarkan oleh Peternakan Unggul (Tabel 15) diantaranya untuk
membayar gaji pimpinan sebesar 2.000.000 per bulan atau setara dengan
24.000.000 per tahun, sedangkan gaji karyawan sebanyak dua orang sebesar
2.000.000 setara dengan 24.000.000 rupiah per tahun, gaji yang diterima oleh
karyawan diterimannya secara bulanan. Penggunaan biaya listrik per bulan
berdasarkan informasi di tempat penelitian sebesar 170.000 rupiah. Listrik
dipergunakan untuk lampu penerangan kandang dan mes, serta alat pendingin
susu. Biaya promosi sebesar 2.000.000 rupiah digunakan untuk pembuatan kartu
nama, biaya komunikasi dan spanduk. Sedangkan biaya pajak bumi dan bangunan
yang deikeluarka per tahun sebesar 80.000 rupiah (informasi di lapang).

Tabel 15. Rincian Biaya Tetap Usaha Peternakan Unggul
No.

Komponen Biaya

Biaya per unit
(Rp)

Jumlah biaya per
bulan(Rp)

Jumlah biaya per
tahun(Rp)

1 Gaji Pimpinan 2.000.000 2.000.000 24.000.000
2 Gaji Karyawan 1.000.000 2.000.000 24.000.000
3 Tagihan Listrik 170.000 170.000 2.040.000
4 PBB 80.000 80.000
5 Promosi 2.000.000 2.000.000
6 Angsuran 38.187.273
Total biaya tetap 90.307.273

Biaya angsuran pinjaman modal peternakan kambing perah PE Peternakan
Unggul dalam menjalankan usahannya dilakukan setiap tahun selama umur
proyek. Lamanya pinjaman tersebut yaitu lima tahun sesuai dengan umur proyek,
rumus yang digunakan yaitu rumus perhitungan angsuran kredit dengan annuity
(nilai angsurn tetap).

Angsuran per Tahun =pinjaman x {interest x (1 +interest)^periode}
{(1 +interest)^periode 1}

Adapun rincian perhitungan cicilan pinjaman pokok dan bunga pinjaman
dapat di lihat pada Tabel 16. Sukubunga yang digunakan adalah sebesar 14
persen, nilai tersebut berdasarkan acuan suku bunga yang berlaku bulan Agustus
2009 pada Bank Indonesia.




Tabel 16. Angsuran Pembayaran Pinjaman Usaha Petrernakan Unggul
Perhitungan Pembayaran Kredit

No Uraian Keterangan
1 Pinjaman Rp131,100,000
2 J angka Waktu Pengembalian (tahun) 5
3
Tingkat Suku Bunga
14%
4
Angsuran Kredit per Tahun
Rp38,187,273
Pembayaran Angsuran Pinjaman

No Tahun Pokok Pinjaman Biaya Bunga Angsuran
Sisa Pokok
Pinjaman
1 1 19,833,273 18,354,000 38,187,273
111,266,727
2 2 22,609,931 15,577,342 38,187,273
88,656,796
3 3 25,775,322 12,411,951 38,187,273
62,881,474
4 4 29,383,867 8,803,406 38,187,273
33,497,608
5 5 33,497,608 4,689,665 38,187,273
0

7.2.2.2. Biaya Variabel
Biaya variabel yang dikeluarkan diantaranya untuk kebutuhan pembelian
susu sapi, obat-obatan, transportasi, kain penyaring susu, dan plasik untuk
kemasan susu. Biaya pembelian susu sapi untuk anak kambing yang baru lahir,
harga per liter susu kambing sebesar 5.000 rupiah. Susu tersebut dipesan dari
peternakan sapi di Darul Fallah yang berlokasi tidak jauh dari lokasi kandang.
Harga bahan baku konsentrat seperti : onggok Rp1.300 per kg, bungkil sawit
Rp1.500 per kg, dedak Rp1.300 per kg dan garamdapur Rp 2.500 per kg.
Berdasarkan informasi harga-harga tersebut maka biaya yang dikeluarkan setiap
0,5 kg konsentrat adalah sebesar 668 rupiah atau setara dengan 1.336 rupiah/kg.
Rincian biaya konsentrat lebih jelasnnya dapat dilihat seperti pada Tabel 17
dibawah ini dengan perbandingan pakan onggok, bungkil sawit, dedak dan garam
dapur masing-masing sebannyak 1:1:5:0.05 kg.







Tabel 17. Rincian Biaya Konsentrat Per 0,5 Kg
Kosentrat :

Komposisi
(kg)
Harga /kg

Gram/ekor/
Hari
Biaya/ Ekor/ Hari
(Rp)
a. Bungkil sawit 1 1.500 0,071 142,0
b. Onggok 1 1.300 0,071 106,5
c. Dedak 5 1.300 0,355 461,0
d. Garam mineral 0,05 2.500 0,004 200,0
Total 7,05 6.600 0,500 668
Pemberian ampas kedelai per ekor mencapai tiga kg, dengan harga ampas
kedelai sebesar 150 rupiah per kg. Sumber ampas kedelai diperoleh dari pengrajin
tempe yang berlokasi di Jakarta. Pengambilan ampas kedelai dalam sebulan
sebayak delapan kali dengan biaya pengangkutan ampas kedelai sebesar 300.000
rupiah. Biaya obat-obatan yang dikeluarkan untuk pembelian Ipomex sebesar
11.017 rupiah per ekor per tahun serta vitamin sebesar 2.034 rupiah per ekor per
tahun. Sedangkan biaya kemasan susu dengan ukuran 200 ml, sebesar 1.450
rupiah. Rincian biaya variabel dapat di lihat pada lampiran tiga.

7.2.2.3. Analisis Rugi Laba
Analisis rugi laba digunakan untuk mengeahui perkembangan usaha dalam
kurun waktu tertentu, komponen rugi laba terdiri dari penerimaan, biaya
oprasional, penyusutan, dan biaya lain di luar usaha dan pajak penghasilan.
Rincian perhitungan rugi laba, dimana perhitungan rugi laba akan berpengaruh
terhadap pajak penghasilan usaha, yang secara otomatis akan mempengaruhi hasil
perhitungan Cashflow tersebut.
Rata-rata rugi laba yang diperoleh dari hasil perhitungan skenario I dan II
selama lima tahun masing-masing sebesar 130.486.871 dan 12.095.643 rupiah
(lampiran 5 dan 14). Hasil laba bersih yang dihasilkan menunjukan bahwa
skenario I memperoleh laba bersih lebih besar dibandingkan pada skenario II. Hal
ini dikarenakan pada skenario II dari sisi penerimaan lebih keci di bandingkan
skenario II, mengingat modal yang digunakan kurang lebih setengah dari modal
skenario I, selain itu kapasitas ternak pada skenario II setengah dari skenario I
yaitu sebannyak 50 ekor kambing dewasa produktif.


7.3. Analisis Kelayakan Finansial
Analisis kelayakan finansial kriteria investasi pengusahaan peternakan
kambing perah peranakan etawa yang dilakukan oleh Peternakan Unggul dilihat
dari pendekatan empat kriteria yaitu NPV, Net B/C, IRR dan PBP. Hasil
perhitungan investasi ini diperoleh dari hasil pengurangan komponen outflow
dengan inflow. Komponen inflow yang diperoleh pada usaha peternakan Unggul
meliputi, penjualan susu kambing, dan anakan kambing jantan maupun betina.
Sedangkan kotoran ternak yang dihasilkan tidak diperhitungkan. Mengingat
kotoran ternak tersebut dimanfaatkan untuk pemupukan lahan rumput yang telah
disediakan. Sehingga tidak mengguunakan pupuk yang bersumber dari bahan
kimia seperti pupuk urea, SP36 dan KCl. Melainkan sumber pupuk organik
berasal dari limbah ternak yang diusahakan.
Skenario usaha yang digunakan terdiri dari dua skenario yaitu, skenario I
modal yang digunakan adalah bersumber dari modal sendiri dan pinjaman.
Masing-masing biaya yang dikeluarkan baik modal sendiri maupun modal
pinjaman adalah sebesar 50 persen. Alasan pemilik ternak menggunakan sebagian
modal pinjaman agar modal usaha yang digunakan dapat menutupi kekurangan
biaya yang dikeluarkan. Sedangkan skenario II modal yang digunakan bersumber
dari modal sendiri, artinya modal usaha yang digunakan tidak bersumber dari
pinjaman bank maupun dari pinjaman pihak lain. Tingkat suku bunga pinjaman
yang digunakan sebesar 14 persen sedangkan tingkat suku bunga deposito adalah
sebesar tujuh persen mengacu pada bank sentral Indonesia.
Berdasarkan analisis kelayakan skenario I (Tabel 18), nilai NPV yang
diperoleh berdasarkan nilai sekarang akan memperoleh keuntungan sebesar
359.966.477 rupiah selama umur proyek. Berdasarkan kriteria investasi NPV 0
berarti secara finansial usaha layak untuk dilaksanakan karena manfaat yang
diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Artinnya pengusaahn kambing
perah yang dijalakan oleh Peternakan Unggul memberikan manfaat positif selama
umur proyek dengan suku bunga pinjaman 14 persen, sehingga dari keriteria
tersebut usaha ini layak untuk dilaksanakan. Apabila besarnnya NPV yang
diperoleh 0 berarti secara finansial usaha tersebut tidak layak untuk
dilaksanakan, hal ini dikarenakan manfaat yang diperoleh lebih kecil dari biaya
sehingga tidak cukup untuk menutup biaya yang dikeluarkan. Bila besarnnya
penerimaan NPV =0, berarti secara finansial proyek sulit dilaksanakan karena
manfaat yang diperoleh hanya cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan.
Dilihat dari nilai IRR pada skenario I yaitu sebesar 127 persen, Nilai
tersebut menunjukan lebih besar dari tingkat suku bunga pinjaman sebesar 14
persen. J ika diperoleh IRR lebih besar dari tingkat diskonto yang berlaku, maka
proyek layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari
tingkat suku bunga yang berlaku maka proyek tersebut tidak layak untuk
dilaksanakan. Berdasarkan kriteria IRR usaha ini layak untuk dijalankan.
Nilai net benefit cost ratio (Net B/C) yang diperoleh sebesar 5,77. Faktor
yang mempengaruhi besarnnya nilai IRR pada skenario I karena nilai PV psositif
yang dihasilkan lebih besar dibandingkan PV negatif. Hasil tersebut diperoleh
dari nilai PV positif dibagi dengan nilai PV negatif, Masing-masing angka yang
diperoleh adalah sebesar : Rp 435.497.978 dan Rp -75.531.501 (Lampiran 6.)
faktor yang mempengaruhi besarnnya nilai net B/C pada skenario I karena nilai
PV psositif yang dihasilkan lebih besar dibandingkan PV negatif. Masing-masing
angka yang diperoleh adalah sebesar : Rp 435.497.978 dan Rp -75.531.501
(Lampiran 6.). Nilai tersebut menunjukan lebih dari satu. Artinnya dari setiap satu
satuan biaya yang dikeluarkan mampu menghasilkan manfaat bersih sebesar 5,77
satuan. Angka tersebut menunjukkan tingkat besarnya tambahan manfaat pada
setiap tambahan biaya sebesar satu satuan uang. Nilai tersebut menunjukan usaha
peternakan kambing perah pada peternakan kambing Unggul layak untuk
dijalankan (net B/C >dari 1).
Payback Periode yang diperoleh (Tabel 18) adalah selama 2,01 tahun.
proyek berahkir. Hal ini menunjukan kemampuan tingkat pengembalian modal
usaha peternakan Unggul lebih kecil dari umur proyek yaitu selama lima tahun.
Artinnya usaha peternakan Unggul dilihat dari PBP usaha ini layak karena
pengembalian modal investasi tercapai sebelum umur proyek berahkir. Pentingnya
mengetahui tingkat pengembalian modal bagi para pelaku usaha maupun investor
yang ingin menanamkan modal pada usaha tertentu agar dapat mengantisipasi
terhadap perubahan risiko pengembalian modal. Artinnya semakin cepat tingkat
pengembalian modal investasi, semakin kecil risiko terhadap perubahan nilai uang
yang terjadi.

Tabel 18. Hasil Kriteria Kelayakan Usaha pada Skenario I
No. Kriteria kelayakan Skenario I
1 NPV (Rp) 359.966.477
2 IRR (%) 127
3 Net B/C 5,77
4 PBP (tahun) 2,01

Hasil analisis skenario II dengan penggunaan modal investasi bersumber
dari modal sendiri yang dilakukan sesuai dengan kemampuan modal yang
dimilikinnya. Besarnnya modal investasi adalah sebesar 124.910.000 rupiah
(Lampiran 10). Nilai NPV yang diperoleh lebih besar dari pada nol yaitu sebesar
57.872.694 rupiah. Artinnya pengusahaan kambing perah yang dijalakan oleh
Peternakan Unggul memberikan manfaat positif selama umur proyek menurut
nilai sekarang akan menghasilkan keuntungan sebesar 57.872.694 rupiah dengan
suku bunga deposito tujuh persen, sehingga dari keriteria tersebut usaha ini layak
untuk dilaksanakan.
Dilihat dari nilai IRR pada skenario satu yaitu sebesar 44 persen nilai
tersebut menunjukan lebih besar dari tingkat suku bunga diskonto sebesar tujuh
persen. Berdasarkan kriteria IRR usaha ini layak untuk dijalankan.
Nilai net benefit cost ratio (Net B/C) yang diperoleh sebesar 1,61 nilai
tersebut menunjukan lebih dari satu. Artinnya bahwa setiap nilai pengeluaran
sekarang sebesar Rp 1,00 akan memberikan manfaat bersih sebesar Rp 1,61. Nilai
tersebut menunjukan usaha peternakan kambing perah pada peternakan Unggul
layak untuk dijalankan. Namun dari hasil perbandingan nilai IRR yang diperoleh
pada dua skenario, hasil terbesar lebih kecil dibandingkan pada skenario II (Tabel
19) yaitu sebesar 5,77. Kecilnya nilai net B/C pada skenario II dikarenakan pada
tahun ke 1,2 dan 4 net benefit yang dihasilkan mengalami kerugian (bernilai
negatif) dapat dilihat seperti pada Lampiran 13.
Payback Periode yang diperoleh adalah selama 6,88 tahun setara dengan
enam tahun sepuluh bulan enam belas hari. Hal ini menunjukan kemampuan
tingkat pengembalian modal pada skenario II usaha peternakanan Unggul lebih
besar dari pada umur proyek. Artinnya usaha peternakan Unggul dilihat dari PBP
usaha ini tidak layak karena pengembalian modal investasi tercapai melebihi umur
proyek berahkir (Lampiran 13). Hal ini menggambarkan bahwa semakin kecil
manfaat bersih per tahun yang dihasilkan, semakin kecil juga nilai inflow yang
dihasilkan oleh usaha tersebut. Selain itu net benefit yang diperoleh pada
skenario II pada tahun ke 1 hingga tahun ke 4 bernilai negatif, sedangkan ditahun
ke 5 diperoleh net benefit bernilai positif sebesar 132.481.552 rupiah.

Tabel 19. Perbandingan Hasil Kelayakan Usaha pada Dua Skenario
No. Kriteria kelayakan Skenario I Skenario II
1 NPV (Rp) 359.966.477 57.872.694
2 IRR (%) 127 44
3 Net B/C 5,77 1.61
4 PBP (tahun) 2,01 6.88

Hasil perbandingan dua skenario tersebut pada Tabel 19. Secara umum
skenario I lebih layak dibandingkan dengan skenario II. Tingkat penerimaaan
yang diperoleh pada skenario II lebih kecil dibandingkan hasil skenario I hal ini
disebabkan karena kurang efisennya biaya investasi yang dikeluarkan. Pernyataan
tersebut didukung dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Stani (2009), yang
menyatakan semakin besar skala usaha yang dilakukan semakin efisien usaha
yang dijalankan diantarannya biaya persatuan ternak dan biaya yang dikeluarkan
per liter susu semakin menurun.

7.4. Analisis Switching Value
Hasil analisis Switching Value yang dapat dilihat pada Tabel 20 (hasil
perhitungan lampiran 7, 8, 15 dan 16), parameter yang digunakan adalah dengan
melihat tingkat kepekaan atau perubahan terhadap penurunan harga susu kambing
dan peningkatan biaya variabel sehingga pada tingkat berapa usaha tersebut masih
dapat memperoleh laba positif. Penurunan harga susu kambing dapat terjadi
mengingat usaha susu kambing perah merupakan pasar persaingan sempurna,
dimana setiap pelaku usaha mempunyai peluang memasuki usaha kambing perah
mengingat harga susu kambing yang cukup tinggi menjadi daya tarik pelaku usaha
baru terjun pada usaha susu kambing. Semakin banyak pesaing/investor masuk
pada usaha susu kambing berdampak terhadap harga yang berlaku dipasaran
terjadi penurunan, maka dari itu perlu dikaji sejauh mana sensitvitas melalui
pendekatan switching value masih bisa menguntungkan. Begitu juga terhadap
perubahan biaya variabel, bisa saja biaya-biaya variabel yang dikeluarkan terjadi
kenaikan akibat kebijakan pemerintah menaikan harga bahan bakar minyak yang
berimbas terhadap kenaikan biaya variabel.
Tabel 20. Perbandingan Hasil Switching Value Usaha Peternakan Unggul

Dari hasil perhitungan (Tabel 20) skenario I menghasilkan bahwa
penurunan harga susu kambing masih dapat ditolerir adalah sebesar 30,16 persen
artinya apabila tingkat penurunan harga diatas 30,16 persen usaha yang dijalankan
menjadi tidak layak. Dikarenakan berdampak terhadap tidak sesuainya dengan
kriteria kelayakan dilihat dari nilai NPV, IRR, Net B/C, dan PBP. Begitu juga
pada analisis Switching Value dilihat dari kepekaan peningkatan biaya variabel.
Hasil yang didapat pada skenario I peningkatan biaya variabel dapat ditolerir
dibawah atau sama dengan 55,43 persen. Apabila terjadi peningkatan biaya
variabel diatas 55,43 persen maka usaha tersebut menjadi tidak layak. Hal ini
dikarenakan keuntungan yang diperoleh habis digunakan untuk seluruh biaya
kegiatan usaha pada Peternakan Unggul.
Analisis Switching Value pada skenario II diperoleh tingkat kepekaan
terhadap penurunan harga susu kambing sebesar 13,03 persen, sedangkan
peningkatan biaya variabel diperoleh sebesar 18,52 persen. Hasil perbandingan
tersebut menunjukan skenario II lebih peka atau sensitif terhadap perubahan baik
dari penurunan harga susu maupun kenaikan biaya variabel seperti pada Tabel 20
Semakin sensitif terhadap suatu perubahan dampak usaha yang akan dijalankan

Parameter

Switching Value (%)
Skenario I Skenario II
Masimum Penurunan harga susu 30,16 % 13,03 %
Maksimum Peningkatan biaya variabel 55,43 % 18,52 %
semakin berrisiko. Perbandingan Switching Value usaha Peternakan Unggul.
Penyebab skenario II lebih peka/sensitif dibandingkan skenario I, dikarenakan
pada skenario II kemampuan usaha kambing perah PE dengan kapasitas kandang
sebanyak 50 ekor ternak kambing dan kemampuan investasi awal sebnnyak 21
ekor, penerimaan outflow yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan inflow yang
dihasilkan sehingga tidak efisien dalam menggunakkan biaya investasi yang telah
ditanamkan.

























VIII KESIMPULAN DAN SARAN


8.1 Kesimpulan
1. Berdasarkan kriteria aspek kelayakan non finansial usaha peternakan
kambing perah peranakan etawa yang dilakukan di peternakan Unggul
terdiri dari aspek pasar, aspek teknis, aspek manajemen dan sosial
memiliki tingkat kelayakan yang relatif baik sehingga usaha peternakan
unggul layak untuk dikembangkan.
2. Hasil analisis kriteria kelayakan finansial, usaha Peternakan Unggul dari
ke dua skenario menunjukan Skenario I dilihat dari kriteria NPV, IRR,
net B/C dan PBP lebih menguntungkan dibandingkan dengan Skenario II:
masing-masing nilai yang diperoleh NPV sebesar Rp 359. 966.477, IRR:
127 persen, Net B/C: 5,77 dan PBP: 2,01 tahun atau setara dengan dua
tahun, tiga hari. Skenario II hasil yang diperoleh dari pendekatan NPV
nilai yang diperoleh adalah Rp 57.872.694 IRR : 44 persen, Net B/C :
1,61 dan PBP : 6,88 tahun, setara dengan enam tahun sepuluh bulan,enam
belas hari.
3. Analisis switching value dengan pendekatan parameter penurunan harga
susu dan kenaikan biaya variabel yang dilakukan pada dua skenario.
Skenario II (modal sendir) merupakan skenario yang paling sensitif
terhadap parameter penurunan harga dan peningkatan biaya variabel
dibandingkan skenario I (modal sendiri dan pinjaman), masing-masing
nilai yang diperoleh skenario I sebesar 30,16 persen dan 55,43 persen
sedangkan Skenario II sebesar 13,03 persen dan 18,52 persen.

8.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan saran yang dapat
diberikan pada usaha peternakan unggul diantaranya :
1. Peternakan unggul dari sisi aspek teknis dalam menjalankan usahanya
sebaiknya melakukan rekording bertujuan untuk menghindari terjadinnya
perkawinan kerabat dekat/inbreeding sehingga menghasilkan kambing
yang berkualitas baik dan dapat meningkatakn produksi susu.
2. Peningkatan produksi susu dapat ditingkatkan dengan cara selektif dalam
memilih calon induk kambing yang nantinya untuk dikembangkan.
Kurang optimalnya produksi susu yang dihasilkan diduga adannya
penggunaan induk yang memiliki ambing yang berukuran relatif kecil.
Semakin kecil ambing yang dimilik ternak, maka semakin sedikit
dihasilkan kelenjar penghasil susu.
3. Penggunaan modal investasi yang digunakan apabila memiliki dana yang
tidak mendukung, sebaiknnya menggunakan dana bersumber dari modal
sendiri dan pinjaman agar diperoleh keuntungan yang lebih besar. Hasil
perhitungan apabila penggunaan modal yang dimiliki Peternakan Unggul
sebaiknya tidak dilakukan karena kurang efisien. Hasil perhitungan
menunjukan tingkat investasi awal peternakan kambing perah sebanyak 59
ekor dengan kapasitas kandang sebanyak 100 ekor lebih menguntungkan
dibandingkan pada investasi awal sebanyak 21 ekor kambing produktif
dengan kapasitas kandang sebanyak 50 ekor.kambing dewasa produktif.


























DAFTAR PUSTAKA

Ahmad NF. 2002. Analisis Usaha Ternak Kambing Perah dan Pemasaran Susu
Kambing [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Anggororatri R. 2008. Analisis Daya Saing dan Strategi Pemasaran Susu
Kambing CV Lakta Tridia, Ciwidey, Jawa Barat. [Bogor]: Program Studi
Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Ardia AW. 2000. Analisis Pendapatan Usaha Ternak Kambing Perah Peranakan
Etawa [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Badan Pusat Statistik. 2007 Statistik Peternakan. Jakarta. Departemen
Pertanian RI.

BPS. 2007. Bogor : Statistik Peternakan. Drinas Peternakan dan Perikanan
Kabupaten Bogor

Devendra C dan Burns. 1994. Produksi kambing di daerah tropis. Bandung:
Institut Teknologi Bandung.

Fauzan AN. 2002. Analisis Usaha Ternak Kambing Perah Dan Pemasaran Susu
Kambing : Kasus Di Pusat Penelitian Dan Pedesaan Swadaya (P4S) Cita
Rasa, Kabupaten Bogor. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian, Institut
Pertanian Bogor.

Fitrial. 2009. Analisis Tingkat Kelayakan Finansial Penggemukan Kambing dan
Domba pada Mitra Tani Farm [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor.

Gitingger JP.1968. Analisis Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Penerjemah
Slamet Sutomo Dan Komet Manggiri. Jakarta: Universitas Indonesia perss.

Husnan S. dan Suwarsono.2000. Studi Kelayakan Proyek Yogyakarta: UPP AMP
YKPN.

Mathius, Yulistiani, dan Wilson. 1989.Tata Laksana Pemberian Pakan Kambing
dan Domba. Kumpulan Peragaan dalam Rangka Penelitian Kambing dan
Domba di Pedesaan. Balai Penelitian ternak. Pusat Penelitian dan
pengembangan Peternak. Bogor.

Mubyarto (1989) Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES.

Ratnawati N. 2002. Kajian Kelayakan Finansial Pengembangan Usaha Peternakan
Sapi dan Kambing Perah [skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor.

Sarwono, B. 2006. Beternak kambing Unggul. Jakarta: Penebar Swadaya.

Setiawan A dan Tanius A. 2003. Beternak Kambing Perah Peranakan Etawa.
Jakarta: Penebar Swadaya.

Setyowati D. 2001. Prospek Pengembangan Usaha Ternak Kambing Perah
Peranakan Etawa [skripsi]. Bogor: Fakultas Peternakan. Institut Pertanian
Bogor.

Siregar, M. dan N. Ilham. 2003. Upaya Peningkatan Efisiensi Usahaternak
Ditinjau dari Aspek Agribisnis yang Berdaya Saing. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Soeharto, Iman. 1999. Manajemen Proyek.. Jakarta: Erlangga

Stani, Dewintha. (2009). Analisis Stuktur Biaya Usaha Ternak Kambing Perah
(Kasusu: Tiga Skala Pengusahaan di Kabupaten Bogor). [Skripsi]. Bogor :
Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor.

Subagyo, A. 2007. Studi Kelayakan. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Sodik, A. Dan Abidin, Z. 2008. meningkatkan produksi susu kambing peranakan
etawa. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Sutama I K , et al. 2007. Budidaya Kambing Perah. Direktorat Budidaya Ternak
Rumenansia. Direktorat Jendral Peternakan. Departemen Pertanian.
Jakarta

Sutama I-K. 2007. Petunjuk Teknis Beternak Kambing Perah. Bogor: Balai
Penelitian Ternak.

Sutama I-K. dan Budiarsana. I-G M. 1997. Kambing Peranakan Etawa Penghasil
Susu Sebagai Sumber Pertumbuhan Baru Subsektor Peternakan di
Indonesia. Bogor: Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Balai
Penelitian Ternak.

Umar H. 2005. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

































LAMPIRAN




















Lampiran 1. Kuisoner

1) Identitas Perusahaan :
1. Nama perusahaan :
2. Pemilik perusahaan :
3. Tanggal berdiri :
4. Sumber modal :
5. Status perusahaan :
6. alamat perusahaan :


2) Biaya Investasi :
Bangunan

No. Uraian J umlah/luas
(m2)
Harga
satuan
(Rp)
Nilai (Rp) Umur
ekonomis
1 J umlah kandang
2 Luas kandang
3 Biaya pembuatan/sewa
4 Daya tampung kandang
5


Lahan

No. Uraian J umlah/luas
(m2)
Harga satuan
(Rp)
Nilai (Rp) Umur
ekonomis
1 Luas lahan
2 Beli/sewa
3
4



Peralatan

No. Uraian J umlah Harga satuan
(Rp)
Nilai (Rp) Umur
ekonomis
1 Mesin air
2 Cangkul
3 Parang
4 Ember
5 Freezer




Lanjutan Lampiran 1

3) Biaya oprasional
Benih/induk kambing

No. Uraian J umlah
(ekor)
Harga satuan
(Rp)
Nilai
(Rp)
Umur
ekonomis
1 J antan
2 Betina
3
4 ..
5



Pakan dan Konsentrat

No. Uraian J umlah (kg) Harga satuan
(Rp)
Nilai (Rp) Umur
ekonomis
1 Ampas tempe/tahu
2 Onggok
3 Dedak
4 Mineral
.



Obat-obatan dan vitamin

No. Uraian J umlah Harga satuan
(Rp)
Nilai (Rp)
1 Ipomex
2
3 .
4


Transportasi

No. Uraian J umlah Harga satuan
(Rp)
Nilai (Rp) Umur
ekonomis
1 J enis kendaraan
2 J umlah
3 Sewa/beli
4




Lanjutan Lampiran 1

4) Aspek pasar :
Tujuan pasar susu kambing
Berapa jumlah permintaan pasar
Bagaimana persaingan yang dihadapi perusahaan
Perbandingan harga dengan pesaing
Jumlah pesaing
Lainnya

5) Aspek teknis :
Lokasi proyek
Jenis kandang
Peralatan
Pemeliharaan kambing PE
Transportasi
Panen
Lainnya

6) Aspek manajemen
Badan hukum
Struktur organisasi
Penyediaan tenaga kerja
Sistem pembagian kerja
Lainnya


7) Aspek sosial
Dampak usaha terhadap masyarakat
Dampak usaha terhadap lingkungan
Reaksi masyarakat terhadap usaha yang dijalankan
Lainnya



Lampiran 2. Estimasi Perkembangan Populasi dan Produksi Kambing PE (Skenario I)
No. Keterangan Tahun ke 1 (bulan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
induk (ekor) 59 59 59 59 59 59 59 59 59 59 94 94
a. jantan 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
b. betina 54 54 54 54 54 54 54 54 54 54 89 89
c. penambhn induk betina 0 0 0 0 0 0 0 0 0 35 0 0
2 kawin (ekor) 54

3 bunting (bulan) 1 2 3 4 5

4 kelahiran anak kambing (ekor) 51
a. jantan 16
b. betina 35

5 jumlah kambing laktasi (ekor) 54 54 54 54 54 54

6 masa kering (ekor) 54

7 produksi susu (liter) 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037

8 kebutuhan pakan (kg/liter)
a. ampaskedelai 5,310 5,310 5,310 5,310 5,310 5,310 5,310 5,310 5,310 5,310 8,481 8,481
b. konsentrat 885 885 885 885 885 885 885 885 885 885 1,414 1,414
c. susu sapi 1,154 1,154 1,154

9 kebutuhan kemasan (kantong) 5,184 5,184 5,184 5,184 5,184 5,184

10 penjualan anak (ekor) 16
a. jantan 16
b. betina 0




Lanjutan Lampiran 2
Tahun Ke 2 (bulan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
94 94 94 94 94 94 94 94 94 94 94 94
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
89 89 89 89 89 89 89 89 89 89 89 89
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
35 54

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

51 33
16 10
35 23

54 54 54 54 54 54 35

54

1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 672


8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 8,481
1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,414
1,154 1,154 1,154 743

5,184 5,184 5,184 5,184 5,184 5,184 3,360

45
16
29



Lanjutan Lampiran 2
Tahun ke 3 (bulan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
94 94 94 94 94 100 100 100 100 100 100 100
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
89 89 89 89 89 95 95 95 95 95 95 95
0 0 0 0 6 0 0 0 0 0 0
35 60

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

51 33
16 10
35 23

35 35 35 35 35 54 54 54 54 54 54 35

54 35 35 54

672 672 672 672 672 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 1,037 672


8,481 8,481 8,481 8,481 8,481 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021
1,414 1,414 1,414 1,414 1,414 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504
743 743 1,154 1,154 1,154 743

3,360 3,360 3,360 3,360 3,360 5,184 5,184 5,184 5,184 5,184 5,184 3,360

33 51
10 16
23 35




Lanjutan Lampiran 2
Tahun ke 4 (bulan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
95 95 95 95 95 95 95 95 95 95 95 95
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
35 60

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

57 33
18 10
39 23

35 35 35 35 35 60 60 60 60 60 60 35

54 35 35 60

672 672 672 672 672 1,152 1,152 1,152 1,152 1,152 1,152 672


9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021
1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504
743 743 1,283 1,283 1,283 743

3,360 3,360 3,360 3,360 3,360 5,760 5,760 5,760 5,760 5,760 5,760 3,360

33 57
10 18
23 39



Lanjutan Lampiran 2
Tahun ke 5 (bulan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100
5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5
95 95 95 95 95 95 95 95 95 95 95 95
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
35

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

57 33
18 10
39 23

35 35 35 35 35 60 60 60 60 60 60 35

60 35 35 60

672 672 672 672 672 1,152 1,152 1,152 1,152 1,152 1,152 672


9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021 9,021
1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504 1,504
743 743 1,283 1,283 1,283 743

3,360 3,360 3,360 3,360 3,360 5,760 5,760 5,760 5,760 5,760 5,760 3,360

33 57
10 18
23 39




Lampiran 3. Biaya Investasi, Penyusutan dan Nilai Sisa Usaha Peternakan Unggul
no.

Komponen biaya

Satuan

J umlah

Harga satuan (Rp)

J umlah biaya (Rp)

Umur ekonomis
(Thn)
Penyusutan per
tahun(Rp)
Nilai sisa

1 Lahan meter 2570 27,000 69,390,000 69,390,000
2 instalasi listrik unit 1 2,000,000 2,000,000 10 200,000 1,000,000
3 Kandang unit 1 35,000,000 35,000,000 10 3,500,000 17,500,000
4 Mess unit 1 5,000,000 5,000,000 10 500,000 2,500,000
5 Sumur timba unit 1 1,000,000 1,000,000 10 100,000 500,000
6 Freezer unit 2 4,000,000 8,000,000 5 1,600,000 0
7 Shiler unit 1 200,000 200,000 5 40,000 0
8 timbangan unit 1 250,000 250,000 5 50,000 0
9 mesin air unit 1 1,500,000 1,500,000 5 300,000 0
10 selang meter 20 6,000 120,000 5 24,000 0
11 Kambing ekor 59 2,250,000 132,750,000 5 26,550,000 0
12 kolam unit 2 5,000,000 5,000,000 5 1,000,000 0
13 Drum unit 15 100,000 1,500,000 5 300,000 0
14 Garpu unit 1 80,000 80,000 5 16,000 0
15 Cangkul unit 1 50,000 50,000 3 16,667 16,667
16 Arit unit 2 30,000 60,000 3 20,000 20,000
17 Ember unit 10 10,000 100,000 2 50,000 50,000
18 Gelas ukur unit 2 25,000 50,000 2 25,000 25,000
19 Sepatu boot unit 3 50,000 150,000 2 75,000 75,000
Total 262,200,000 34,366,667 91,076,667





Lampiran 4. Rincian Biaya Variabel Usaha Peternakan Unggul
no. Komponen Biaya Satuan Biaya per unit (Rp) Tahun
1 2 3 4 5
1 Pakan 43,435,311 54,689,863 63,432,845 66,433,918 66,909,590
a. Ampas tempe kg 150 10,509,345 10,985,018 11,460,690 11,936,363 12,412,035
b. Konsentrat kg 1337 15,612,216 22,678,595 23,520,905 24,122,555 24,122,555
c. susu sapi liter 5,000 17,313,750 21,026,250 28,451,250 30,375,000 30,375,000
2 Obat-obatan 770,006 1,226,789 1,226,789 1,305,095 1,305,095
a. Ipomex ekor 11,017 650,000 1,035,593 1,035,593 1,101,695 1,101,695
b. Vitamin ekor 2,034 120,006 191,196 191,196 203,400 203,400
3 Transportasi unit 300,000 28,800,000 28,800,000 43,200,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
a. Kain lap unit 10,000 10,000 20,000 30,000 30,000 30,000
b. Sapu lidi unit 15,000 15,000 15,000 30,000 30,000 30,000
c. Saringan unit 15,000 15,000 30,000 30,000 60,000 60,000
5 Kemasan susu kantong 1,450 45,100,800 49,972,800 79,344,000 79,344,000 79,344,000

Total biaya variabel 118,146,117 134,754,452 187,293,634 190,403,013 190,878,685





Lampiran 5. Laba Rugi Skenario 1
No. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaansusu 248,832,000 275,712,000 410,112,000 437,760,000 437,760,000
2 PenjualanAnak kambing 8,000,000 25,400,000 47,800,000 51,200,000 51,200,000
3 Ternak afkir 150,000,000
Total inflow 256,832,000 301,112,000 457,912,000 488,960,000 638,960,000
B. OUTFLOW
II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
3 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
4 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
5 penyusutan 34,366,667 34,366,667 34,366,667 34,366,667 34,366,667
Total Biaya Tetap 86,486,667 86,486,667 86,486,667 86,486,667 86,486,667
b. Biaya Variabel
1 Pakan 43,435,311 54,689,863 63,432,845 66,433,918 66,909,590
2 Obat-obatan 770,006 1,226,789 1,226,789 1,305,095 1,305,095
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 43,200,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasansusu 45,100,800 49,972,800 79,344,000 79,344,000 79,344,000
Total Biaya Variabel 118,146,117 134,754,452 187,293,634 190,403,013 190,878,685
Total out flow 204,632,784 221,241,118 273,780,301 276,889,679 277,365,352
labasebelumbungadanpajak 52,199,216 79,870,882 184,131,699 212,070,321 361,594,648
biayabunga 18,354,000 15,577,342 12,411,951 8,803,406 4,689,665
labasebelumpajak 33,845,216 64,293,540 171,719,748 203,266,914 356,904,983
pajak pendapatan usaha 3,384,522 7,144,031 34,015,924 43,480,074 89,571,495
lababersih 30,460,695 57,149,509 137,703,823 159,786,840 267,333,488



Lampiran 6. Cashflow Skenario I (Modal Sendiri dan Pinjaman )
No. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaan susu 248,832,000 275,712,000 410,112,000 437,760,000 437,760,000
2 Penjualan Anak kambing 8,000,000 25,400,000 47,800,000 51,200,000 51,200,000
3 Pinjaman 131,100,000
4 penjualanternak afkir 150,000,000
5 Nilai sisa 91,076,667
Total inflow 387,932,000 301,112,000 457,912,000 488,960,000 730,036,667

B. OUTFLOW
I. Investasi
1 Lahan 69,390,000
2 Instalasi listrik 2,000,000
3 Kandang 35,000,000
4 Mess 5,000,000
5 Sumur timba 1,000,000
6 Freezer 8,000,000
7 sealer 200,000
8 Timbangan 250,000
9 Mesin air 1,500,000
10 Selang 120,000
11 Kambing 132,750,000
12 Kolam 5,000,000
13 Drum 1,500,000
14 Garpu 80,000
15 Cangkul 50,000 50,000
16 Arit 60,000 60,000
17 Ember 100,000 100,000 100,000
18 Gelasukur 50,000 50,000 50,000
19 Sepatu boot 150,000 150,000 150,000
total investasi 262,200,000 0 300,000 110,000 300,000

II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
3 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000



4 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
5 Angsuran 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273
Total Biaya Tetap 90,307,273 90,307,273 90,307,273 90,307,273 90,307,273
b. Biaya Variabel
1 Pakan 43,435,311 54,689,863 63,432,845 66,433,918 66,909,590
2 Obat-obatan 770,006 1,226,789 1,226,789 1,305,095 1,305,095
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 43,200,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasan susu 45,100,800 49,972,800 79,344,000 79,344,000 79,344,000
6 pajak pendapatan usaha 3,384,522 7,144,031 34,015,924 43,480,074 89,571,495
Total Biaya Variabel 121,530,638 141,898,483 221,309,559 233,883,087 280,450,180
Total out flow 474,037,911 232,205,756 311,916,832 324,300,360 371,057,453

Net Benefit -86,105,911 68,906,244 145,995,168 164,659,640 358,979,214
DF 14 % 0.8772 0.7695 0.6750 0.5921 0.5194
PV per Tahun -75,531,501 53,021,117 98,542,580 97,491,725 186,442,555
NPV 359,966,477
IRR 127%
PV Positif 435,497,978
PV Negatif -75,531,501
N B/C 5.77
Manfaat bersihrata-rata/tahun 130,486,871.05
PBP 2.01











Lampiran 7. Switching Value Penurunan Harga Susu 30,16 % (Skenario 1)
No. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaan susu 173,800,873 192,575,659 286,449,587 305,760,795 305,760,795
2 Penjualan Anak kambing 8,000,000 25,400,000 47,800,000 51,200,000 51,200,000
3 Pinjaman 131,100,000
4 penjualanternak afkir 150,000,000
5 Nilai sisa 91,076,667
Total inflow 312,900,873 217,975,659 334,249,587 356,960,795 598,037,462
B. OUTFLOW
I. Investasi
1 Lahan 69,390,000
2 Instalasi listrik 2,000,000
3 Kandang 35,000,000
4 Mess 5,000,000
5 Sumur timba 1,000,000
6 Freezer 8,000,000
7 sealer 200,000
8 Timbangan 250,000
9 Mesin air 1,500,000
10 Selang 120,000
11 Kambing 132,750,000
12 Kolam 5,000,000
13 Drum 1,500,000
14 Garpu 80,000
15 Cangkul 50,000 50,000
16 Arit 60,000 60,000
17 Ember 100,000 100,000 100,000
18 Gelasukur 50,000 50,000 50,000
19 Sepatu boot 150,000 150,000 150,000
Total investasi 262,200,000 0 300,000 110,000 300,000



II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
3 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
4 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
5 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
6 Angsuran 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273
Total Biaya Tetap 90,307,273 90,307,273 90,307,273 90,307,273 90,307,273

b. Biaya Variabel
1 Pakan 43,435,311 54,689,863 63,432,845 66,433,918 66,909,590
2 Obat-obatan 770,006 1,226,789 1,226,789 1,305,095 1,305,095
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 43,200,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasan susu 45,100,800 49,972,800 79,344,000 79,344,000 79,344,000
6 pajak pendapatan usaha 3,384,522 7,144,031 34,015,924 43,480,074 89,571,495
Total Biaya Variabel 121,530,638 141,898,483 221,309,559 233,883,087 280,450,180
Total out flow 474,037,911 232,205,756 311,916,832 324,300,360 371,057,453

Net Benefit -161,137,038 -14,230,097 22,332,755 32,660,435 226,980,009
DF 14 % 0.8772 0.7695 0.6750 0.5921 0.5194
PV per Tahun -141,348,279 -10,949,598 15,073,974 19,337,600 117,886,304
NPV 0
IRR 14%
PV Positif 152,297,877
PV Negatif -152,297,877
N B/C 1.00
Manfaat bersihrata-rata/tahun 21,321,212.80
PBP 12.30




Lampiran 8. Cashflow Switching Value Kenaikan Biaya Variabel 55,43 % (Skenario 1)
no. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaan susu 248,832,000 275,712,000 410,112,000 437,760,000 437,760,000
2 Penjualan Anak kambing 8,000,000 25,400,000 47,800,000 51,200,000 51,200,000
3 Pinjaman 131,100,000
4 penjualan ternak afkir 150,000,000
5 Nilai sisa 91,076,667
Total inflow 387,932,000 301,112,000 457,912,000 488,960,000 730,036,667

B. OUTFLOW
I. Investasi
1 Lahan 69,390,000
2 Instalasi listrik 2,000,000
3 Kandang 35,000,000
4 Mess 5,000,000
5 Sumur timba 1,000,000
6 Freezer 8,000,000
7 sealer 200,000
8 Timbangan 250,000
9 Mesin air 1,500,000
10 Selang 120,000
11 Kambing 132,750,000
12 Kolam 5,000,000
13 Drum 1,500,000
14 Garpu 80,000
15 Cangkul 50,000 50,000
16 Arit 60,000 60,000
17 Ember 100,000 100,000 100,000
18 Gelas ukur 50,000 50,000 50,000
19 Sepatu boot 150,000 150,000 150,000
Total investasi 262,200,000 0 300,000 110,000 300,000




II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
3 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
4 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
5 Angsuran 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273 38,187,273
Total Biaya Tetap 90,307,273 90,307,273 90,307,273 90,307,273 90,307,273
b. Biaya Variabel
1 Pakan 43,435,311 54,689,863 63,432,845 66,433,918 66,909,590
2 Obat-obatan 770,006 1,226,789 1,226,789 1,305,095 1,305,095
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 43,200,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasan susu 45,100,800 49,972,800 79,344,000 79,344,000 79,344,000
6 pajak pendapatan usaha 3,384,522 7,144,031 34,015,924 43,480,074 89,571,495
Total Biaya Variabel 188,905,755 220,565,286 344,000,902 363,545,042 435,928,368
Total out flow 541,413,028 310,872,559 434,608,175 453,962,315 526,535,641

Net Benefit -153,481,028 -9,760,559 23,303,825 34,997,685 203,501,025
DF 14 % 0.8772 0.7695 0.6750 0.5921 0.5194
PV per Tahun -134,632,481 -7,510,433 15,729,418 20,721,439 105,692,056
NPV 0
IRR 14%
PV Positif 142,142,913
PV Negatif -142,142,914
N B/C 1.00
Manfaat bersih rata-rata /tahun 19,712,189.83
PBP 13.30






Lampiran 9. Estimasi Perkembangan Populasi dan Produksi Kambing PE (Skenario II)
no. Keterangan 1 (Bulan)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 induk (ekor) 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 21 36
a. jantan 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 3
b. betina 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20
c. penambhn induk betina 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 13
2 kawin (ekor) 20

3 Bunting (bulan) 1 2 3 4 5

4 kelahiran anak kambing 19
a. jantan 6
b. betina 13

5 jumlah kambing laktasi 20 20 20 20 20 20

6 masa kering @

7 produksi susu (liter) 384 384 384 384 384 384

8 kebutuhan pakan (kg/liter)
a. ampaskedelai 1,890 1,890 1,890 1,890 1,890 1,890 1,890 1,890 1,890 1,890 1,890 3,240
b. konsentrat 315 315 315 315 315 315 315 315 315 315 315 540
c. susu sapi 428 428 428

9 kebutuhan kemasan (kantong) 1,920 1,920 1,920 1,920 1,920 1,920

10 penjualan anak 5
a. jantan 5
b. betina 0






Lanjutan Lampiran 9.
Tahun ke 2 (Bul an)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
36 36 36 36 36 36 49 49 49 49 49 49
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
33 33 33 33 33 33 33 46 46 46 46 46
0 0 0 0 0 0 13 0 0 0 0 0

13 20

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

19 13
6 4
13 9

20 20 20 20 20 33 13

@ @

384 384 384 384 384 629 245


3,240 3,240 3,240 3,240 3,240 3,240 4,411 4,411 4,411 4,411 4,411 4,411
540 540 540 540 540 540 735 735 735 735 735 735
428 428 428 287 287

1,920 1,920 1,920 1,920 1,920 3,145 1,225

6
6
0

Lanjutan Lampiran 9.



Tahun ke 3 (Bul an)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
49 49 49 49 49 49 50 50 50 50 50 50
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
46 46 46 46 46 46 46 47 47 47 47 47
0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0

13 20

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

19 12
6 4
13 8

13 13 13 13 20 20 20 20 20 33 13

@ @ @ @

245 245 245 245 384 384 384 384 384 634 250


4,411 4,411 4,411 4,411 4,411 4,411 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501
735 735 735 735 735 735 750 750 750 750 750 750
287 428 428 428 278 278

1,920 1,920 1,920 1,920 1,920 3,169 1,249

13 18
4 6
9 12

Lanjutan Lampiran 9.



Tahun ke 4 (Bul an)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

14 20

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

19 13
6 4
13 9

13 13 13 13 20 20 20 20 20 33 33

@ @ @ @

250 250 250 250 384 384 384 384 384 640 640


4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501
750 750 750 750 750 750 750 750 750 750 750 750
278 428 428 428 300 300

1,920 1,920 1,920 1,920 1,920 3,198 3,198

12 19
4 6
8 13

Lanjutan Lampiran 9.



Tahun ke 5 (Bul an)
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50 50
3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3
47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47 47
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

14 20

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5

19 13
6 4
13 9

33 14 14 14 20 20 20 20 20 33 14

@ @ @ @

640 269 269 269 384 384 384 384 384 640 269


4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501 4,501
750 750 750 750 750 750 750 750 750 750 750 750
300 428 428 428 300 300

1,920 1,920 1,920 1,920 1,920 3,198 1,345

13 19
4 6
9 13

Lampiran 10. Biaya Investasi, Penyusutan dan Nilai Sisa Usaha Peternakan Unggul modal sendiri (skenario II)




no.
Komponen
biaya Satuan Jumlah
Harga satuan
(Rp)
Jumlah biaya
(Rp)
Umur ekonomis
(Thn) Penyusutan per tahun(Rp) Nilai sisa
1 Lahan meter 1300 27,000 35,100,000 35,100,000
2 instalasi listrik unit 1 2,000,000 2,000,000 10 200,000 1,000,000
3 Kandang unit 1 17,500,000 17,500,000 10 1,750,000 17,500,000
4 Mess unit 1 5,000,000 5,000,000 10 500,000 2,500,000
5 Sumur timba unit 1 1,000,000 1,000,000 10 100,000 500,000
6 Freezer unit 2 4,000,000 8,000,000 5 1,600,000 0
7 Sealer unit 1 200,000 200,000 5 40,000 0
8 timbangan unit 1 250,000 250,000 5 50,000 0
9 mesin air unit 1 1,500,000 1,500,000 5 300,000 0
10 selang meter 20 6,000 120,000 5 24,000 0
11 Kambing ekor 21 2,250,000 47,250,000 5 9,450,000 0
12 kolam unit 2 5,000,000 5,000,000 5 1,000,000 0
13 Drum unit 15 100,000 1,500,000 5 300,000 0
14 Garpu unit 1 80,000 80,000 5 16,000 0
15 Cangkul unit 1 50,000 50,000 3 16,667 16,667
16 Arit unit 2 30,000 60,000 3 20,000 20,000
17 Ember unit 10 10,000 100,000 2 50,000 50,000
18 Gelas ukur unit 2 25,000 50,000 2 25,000 25,000
19 Sepatu boot unit 3 50,000 150,000 2 75,000 75,000
Total 124,910,000 15,516,667 56,786,667

Lampiran 11. Estimasi Penerimaaan usaha peternakan unggul Skenario II



Keterangan
Tahun
1 2 3 4 5

Produksi susu (liter) 2,304 2,304 2,794 3,039 3,284

Penjualan susu (Rp) 92,160,000 92,160,000 111,760,000 121,560,000 131,360,000

Penjualan anak kambing (ekor) 5 6 31 31 32
Jantan 5 6 10 10 10
Betina 0 0 21 21 22

Penjualan anak kambng (Rp) 2,500,000 3,600,000 17,600,000 17,600,000 18,200,000
Jantan 2,500,000 3,600,000 5,000,000 5,000,000 5,000,000
Betina 0 0 12,600,000 12,600,000 13,200,000

Nilai sisa 56,786,667

Ternak afkir 75,000,000

Total penerimaan 94,660,000 95,760,000 129,360,000 139,160,000 281,346,667




Lampiran 12. Rincian Biaya variabel skenario II




No. Komponen Biaya Satuan Biaya per unit (Rp)
Tahun
1 2 3 4 5
1 Pakan 7,117,155 26,400,695 28,881,804 30,769,559 31,045,099
a. Ampas tempe kg 150 283,500 6,886,215 8,021,430 8,102,430 8,102,430
b. Konsentrat kg 1337 421,155 10,229,855 10,229,855 12,036,610 12,036,610
c. susu sapi liter 5,000 6,412,500 9,284,625 10,630,519 10,630,519 10,906,059
2 Obat-obatan 274,070 469,834 652,547 652,547 652,547
a. Ipomex ekor 11,017 231,356 396,610 550,847 550,847 550,847
b. Vitamin ekor 2,034 42,714 73,224 101,700 101,700 101,700
3 Transportasi unit 300,000 28,800,000 28,800,000 15,000,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
a. Kain lap unit 10,000 10,000 20,000 30,000 30,000 30,000
b. Sapu lidi unit 15,000 15,000 15,000 30,000 30,000 30,000
c. Saringan unit 15,000 15,000 30,000 30,000 60,000 60,000
5 Kemasan susu kantong 1,450 16,704,000 20,257,776 20,327,376 23,194,687 20,508,232

Total biaya variabel 52,935,225 75,993,305 64,951,727 97,936,793 95,525,878



Lampiran 13 cash flow Skenario II (Modal Sendiri )




No. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaan susu 92,160,000 92,160,000 111,760,000 121,560,000 131,360,000
2 Penjualan Anak kambing 2,500,000 3,600,000 17,600,000 17,600,000 18,200,000
3 Modal sendiri 124,910,000
4 Penjualan ternak afkir 75,000,000
5 Nilai sisa 56,786,667
Total inflow 219,570,000 95,760,000 129,360,000 139,160,000 281,346,667
B. OUTFLOW
I. Investasi
1 Lahan 35,100,000
2 Instalasi listrik 2,000,000
3 Kandang 17,500,000
4 Mes 5,000,000
5 Sumur timba 1,000,000
6 Freezer 8,000,000
7 Sealer 200,000
8 Timbangan 250,000
9 Mesin air 1,500,000
10 Selang 120,000
11 Kambing 47,250,000
12 Kolam 5,000,000
13 Drum 1,500,000
14 Garpu 80,000
15 Cangkul 50,000 50,000
16 Arit 60,000 60,000
17 Ember 100,000 100,000 100,000
18 Gelasukur 50,000 50,000 50,000
19 Sepatu boot 150,000 150,000 150,000
total investasi 124,910,000 0 300,000 110,000 300,000
II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
3 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
4 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
5 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
Total Biaya Tetap 52,120,000 52,120,000 52,120,000 52,120,000 52,120,000
b. Biaya Variabel



1 Pakan 7,117,155 26,400,695 28,881,804 30,769,559 31,045,099
2 Obat-obatan 274,070 469,834 652,547 652,547 652,547
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 15,000,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasan susu 16,704,000 20,257,776 20,327,376 23,194,687 20,508,232
6 pajak pendapatan usaha 0 0 0 0 919,237
Total Biaya Variabel 52,935,225 75,993,305 64,951,727 97,936,793 96,445,115
Total out flow 229,965,225 128,113,305 117,371,727 150,166,793 148,865,115

Net Benefit -10,395,225 -32,353,305 11,988,273 -11,006,793 132,481,552
DF 7 % 0.9346 0.8734 0.8163 0.7629 0.7130
PV per Tahun -28,258,630 -28,258,630 9,786,002 -8,397,030 94,457,515
NPV 57,872,694
IRR 44%
PV Positif 104.243.517
PV Negatif -64.914.289
N B/C 1,61
Manfaat bersihrata-rata/tahun 18,142,900.26
PBP 6.88











Tabel Lampiran 14. Rugi Laba skenario II
no. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaan Susu 92,160,000 92,160,000 111,760,000 121,560,000 131,360,000
2 Penjualan Anak Kambing 2,500,000 3,600,000 17,600,000 17,600,000 18,200,000
3 Ternak afkir 75,000,000
Total inflow 94,660,000 95,760,000 129,360,000 139,160,000 224,560,000
B. OUTFLOW
II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji Pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji Karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
3 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
4 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
5 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
6 Penyusutan 15,516,667 15,516,667 15,516,667 15,516,667 15,516,667
Total Biaya Tetap 67,636,667 67,636,667 67,636,667 67,636,667 67,636,667

b. Biaya Variabel
1 Pakan 7,117,155 26,400,695 28,881,804 30,769,559 31,045,099
2 Obat-obatan 274,070 469,834 652,547 652,547 652,547
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 15,000,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasan susu 16,704,000 20,257,776 20,327,376 23,194,687 20,508,232
Total Biaya Variabel 52,935,225 75,993,305 64,951,727 97,936,793 95,525,878
Total out flow 120,571,892 143,629,972 132,588,394 165,573,460 163,162,545

Laba SebelumPajak -25,911,892 -47,869,972 -3,228,394 -26,413,460 61,397,455
Pajak Pendapatan Usaha 0 0 0 0 919,237
Laba Bersih -25,911,892 -47,869,972 -3,228,394 -26,413,460 60,478,219




Lampiran 15. Penurunan Harga Susu 13,03 % (Skenario II)

no. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaan susu 80,154,315 80,154,315 97,201,022 105,724,376 114,247,730
2 Penjualan Anak kambing 2,500,000 3,600,000 17,600,000 17,600,000 18,200,000
3 Modal sendiri 124,910,000
4 Penjualan ternak afkir 75,000,000
5 Nilai sisa 56,786,667
Total inflow 207,564,315 83,754,315 114,801,022 123,324,376 264,234,396
B. OUTFLOW
I. Investasi
1 Lahan 35,100,000
2 Instalasi listrik 2,000,000
3 Kandang 17,500,000
4 Mess 5,000,000
5 Sumur timba 1,000,000
6 Freezer 8,000,000
7 Sealer 200,000
8 Timbangan 250,000
9 Mesin air 1,500,000
10 Selang 120,000
11 Kambing 47,250,000
12 Kolam 5,000,000
13 Drum 1,500,000
14 Garpu 80,000
15 Cangkul 50,000 50,000
16 Arit 60,000 60,000
17 Ember 100,000 100,000 100,000
18 Gelasukur 50,000 50,000 50,000
19 Sepatu boot 150,000 150,000 150,000
total investasi 124,910,000 0 300,000 110,000 300,000
II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
3 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
4 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
5 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
Total Biaya Tetap 52,120,000 52,120,000 52,120,000 52,120,000 52,120,000



b. Biaya Variabel
1 Pakan 7,117,155 26,400,695 28,881,804 30,769,559 31,045,099
2 Obat-obatan 274,070 469,834 652,547 652,547 652,547
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 15,000,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasan susu 16,704,000 20,257,776 20,327,376 23,194,687 20,508,232
6 pajak pendapatan usaha 0 0 0 0 919,237
Total Biaya Variabel 52,935,225 75,993,305 64,951,727 97,936,793 96,445,115
Total out flow 229,965,225 128,113,305 117,371,727 150,166,793 148,865,115

Net Benefit -22,400,910 -44,358,990 -2,570,705 -26,842,417 115,369,282
DF 7 % 0.9346 0.8734 0.8163 0.7629 0.7130
PV per Tahun -38,744,860 -38,744,860 -2,098,461 -20,477,952 82,256,703
NPV 0
IRR 7%
PV Positif 82,256,703
PV Negatif -100,066,133
N B/C 1
Manfaat bersihrata-rata/tahun 3,839,251.76
PBP 32.53











Lampiran 16. Kenaikan Biaya Variabel 18,52 % (Skenario II)

No. Uraian 1 2 3 4 5
A. INFLOW
1 Penerimaan susu 92,160,000 92,160,000 111,760,000 121,560,000 131,360,000
2 Penjualan Anak kambing 2,500,000 3,600,000 17,600,000 17,600,000 18,200,000
3 modal sendiri 124,910,000
4 penjualanternak afkir 75,000,000
5 Nilai sisa 56,786,667
Total inflow 219,570,000 95,760,000 129,360,000 139,160,000 281,346,667
B. OUTFLOW
I. Investasi
1 Lahan 35,100,000
2 Instalasi listrik 2,000,000
3 Kandang 17,500,000
4 Mess 5,000,000
5 Sumur timba 1,000,000
6 Freezer 8,000,000
7 sealer 200,000
8 Timbangan 250,000
9 Mesin air 1,500,000
10 Selang 120,000
11 Kambing 47,250,000
12 Kolam 5,000,000
13 Drum 1,500,000
14 Garpu 80,000
15 Cangkul 50,000 50,000
16 Arit 60,000 60,000
17 Ember 100,000 100,000 100,000
18 Gelasukur 50,000 50,000 50,000
19 Sepatu boot 150,000 150,000 150,000
total investasi 124,910,000 0 300,000 110,000 300,000
II. Biaya Operasional
a. Biaya Tetap
1 Gaji pimpinan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
2 Gaji karyawan 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000 24,000,000
3 Listrik 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000 2,040,000
4 PBB 80,000 80,000 80,000 80,000 80,000
5 Promosi 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000 2,000,000
Total Biaya Tetap 52,120,000 52,120,000 52,120,000 52,120,000 52,120,000



b. Biaya Variabel
1 Pakan 7,117,155 26,400,695 28,881,804 30,769,559 31,045,099
2 Obat-obatan 274,070 469,834 652,547 652,547 652,547
3 Transportasi 28,800,000 28,800,000 15,000,000 43,200,000 43,200,000
4 Perlengkapan 40,000 65,000 90,000 120,000 120,000
5 Kemasan susu 16,704,000 20,257,776 20,327,376 23,194,687 20,508,232
6 pajak pendapatan usaha 0 0 0 0 919,237
Total Biaya Variabel 62,743,235 90,073,590 76,986,193 116,082,839 114,314,778
Total out flow 239,773,235 142,193,590 129,406,193 168,312,839 166,734,778

Net Benefit -20,203,235 -46,433,590 -46,193 -29,152,839 114,611,889
DF 7 % 0.9346 0.8734 0.8163 0.7629 0.7130
PV per Tahun -40,556,896 -40,556,896 -37,707 -22,240,561 81,716,693
NPV 0
IRR 7%
PV Positif 81,716,693
PV Negatif -103,392,061
N B/C 1
Manfaat bersihrata-rata/tahun 3,755,206.34
PBP 33.26






`