Anda di halaman 1dari 18

0

MAKALAH


(Metode Kajian Makna)

Dipresentasikan Pada Mata Kuliah Dalalah Wal Maajim
Program Pascasarjana IAIN Imam Bonjol Padang



Oleh
RIMA FITRIA MELATI
NIM. 088 12 1739

Dosen Pembimbing :
Prof. Dr.H.Masnal Zajuli, MA


KOSENTRASI BAHASA ARAB PROGRAM PASCASARJANA INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
IMAM BONJOL PADANG
1435 H/ 2013 M
1



A. Pendahuluan
Secara umum semantik lazim diartikan sebagai kajian mengenai makna
bahasa. Semantik dieksplisitkan dengan istilah makna bahasa karena selain makna
bahasa, dalam kehidupan kita banyak makna-makna yang tidak berkaitan dengan
bahasa, melainkan dengan tanda-tanda dan lambang-lambang lain, sepeti tanda-tanda
lalu lintas, tanda-tanda kejadian alam, lambang-lambang negara, simbol-simbol
budaya, simbol-simbol keagamaan dan dan lambang atau simbol lainnya. Bidang ilmu
yang mengkaji makna sebagai tanda dan lambang itu disebut semiotika. Lalu, karena
bahasa itu juga merupakan sistem lambang maka sebenarnya makna bahasa juga
termasuk dalam semiotika. Namun, secara khusus kajian mengenai makna bahasa ini
mempunyai wadah sendiri, yaitu semantik.
Bahasa merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan manusia.
Karena tanpa kehadiran bahasa, manusia akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi
antara satu dengan lainnya. Hal ini meyakinkan, bahwa pentingnya manusia untuk
menyikapi sekaligus mempelajari bagaimana bahasa itu digunakan, agar tidak
menimbulkan kesalah pahaman antara penyampai bahasa dan penerima bahasa.
Hakikatnya, suatu bahasa dapat terbentuk karena adanya manusia dan
interaksi yang ada di antara mereka dan kenyataan ini juga turut serta mempengaruhi
eksistensi sebuah bahasa. Dimana statis dan dinamisnya suatu bahasa dapat dilihat dari
para penggunanya, yakni selama para penggunanya itu bergerak dinamis, maka
perkembangan suatu bahasa tersebut juga akan turut bergerak dinamis pula dan begitu
sebaliknya.
Kedinamisan dan eksistensi suatu bahasa dapat terus terjaga dengan adanya
penelitian-penelitian bahasa. Dan untuk membuahkan hasil penelitian yang optimal,
maka haruslah dilakukan dengan penuh strategi dan metodologi yang benar dan tepat.
Oleh karena itu, berkaitan dengan pemaparan di atas, maka penulis mencoba
untuk memberikan gambaran terkait dengan metodologi bahasa dengan spesifikiasi
pada kajian makna.
2

B. Pembahasan
1. Pengertian Metodologi
Istilah metodologi terlahir dari kata metode. Dalam sebagian literatur ilmu
bahasa, pengertian metode seringkali dibedakan dengan teknik. Metode dipahami sebagai
cara penelitian yang lebih abstrak, sedangkan teknik dipandang sebagai cara penelitian
yang lebih kongkret atau bersifat operasional. Di samping metode dan teknik, istilah
metodologi dipakai sebagai acuan terhadap ilmu tentang metode.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia metode adalah cara mencari
kebenaran dan asas-asas gejala alam, masyarakat, atau kemanusiaan berdasarkan
disiplin ilmu yang bersangkutan. Sedangkan metodologi ialah ilmu tentang metode.
1

Sedangkan yang dimaksud dengan kajian makna adalah kajian semantik, hal
ini dilatar belakangi oleh kajian utama dari semantik yang berupa makna.
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat kita fahami bahwa, yang
dimaksud dengan metodologi kajian bahasa di sini adalah sebuah pembahasan tentang
cara yang digunakan untuk mencari kebenaran atau fakta-fakta dari sebuah kajian makna
berdasarkan disiplin ilmu yang bersangkutan.

2. Objek Kajian Semantik
Objek kajian makna (semantik) adalah makna itu sendiri. Makna, sebagai
objek kajian semantik tidak dapat diamati atau diobservasi secara empiris. Dulu, paling
tidak sebelum Chomsky (1965) menerbitkan Aspect of the Theory of Syntax (1965),
makna ini agak ditelantarkan oleh para linguis karena objek kajiannya tidak dapat
diobservasi secara empiris itu. Berbeda dengan kajian fonologi, morfologi atau sintaksis
yang objeknya diamati.
2

Akan tetapi dewasa ini kajian semantik banyak dilakukan orang karena
orang sadar bahwa kajian bahasa tanpa mengkaji maknanya adalah sangat sumbang

1
Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:Balai Pustaka, Edisi Ketiga)
2
Abdul Chaer, Kajian Bahasa Sruktur Internal, Pemakaian dan Pembelajaran, (Jakarta, Rieneka
Cipta,2007), h.67
3

sebab pada hakikatnya orang berbahasa untuk menyampaikan konsep-konsep atau
makna-makna. Bahasa tanpa memperdulikan makna adalah sangat di luar nalar dan akal
sehat.
Karena bahasa itu digunakan untuk menyampaikan makna dan makna itu
meliputi semua tataran bahasa, maka sesungguhnya objek kajian semantik itu sangat luas.
Banyak aspek dari bahasa yang dapat diteliti maknanya. Kajian dapat dilakukan terhadap
makna-makna bunyi bahasa (yang disebut fonestem), makna-makna satuan lesikon yang
disebut makna leksikal, satuan gramatikal yang disebut makna gramatikal, satuan
sintaksis yang disebut makna sintaksis dan satuan wacana yang disebut makna
kontekstual.
Untuk selanjutnya hanya akan dibicarakan kajian mengenai makna leksikal,
makna gramatikal, dan makna kontekstual (kalimat dan wacana).
a. Makna Leksikal
Makna leksikal adalah makna leksem, makna butir leksikal (lexikal
item), atau makna yang secara inheren ada dalam butir leksikal.
b. Makna Gramatikal
Makna gramatikal adalah makna yang muncul sebagai hasil proses
gramatika, seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Umpamanya, dari kata
berkendaraan, bersepeda, berkuda, imbuhan ber- memiliki makna mengendarai.
c. Makna Kontekstual
Makna kontekstual adalah, pertama, makna penggunaan sebuah kata
(atau gabungan kata) dalam konteks kalimat tertentu; kedua, makna keseluruhan
kalimat (ujaran) dalam konteks situasi tertentu. Umpamanya, kata mengambil
dalam kalimat-kalimat berikut mempunyai makna yang berbeda.
1) Semester ini saya tidak mengambil mata kuliah matematika dasar (kata
mengambil bermakna mengikuti)
2) Diam-diam dia mengambil uang saya dari laci meja (kata mengambil
bermakna mencuri)
3) Tahun depan perusahaan kami akan mengambil 20 orang pegawai baru
(kata mengambil bermakna menerima)
4

4) Kabarnya Pak Lurah akan mengambil pemuda itu sebagai menantunya
(kata mengambil bermakna menjadikan).
3


Dalam proses kajian bahasa, baik kajian bahasa secara umum maupun
bahasa Arab, terdapat tiga metodologi yang dapat dipakai, yaitu metode historik,
metode komparatif, dan metode deskriptif dan tiap-tiap dari ketiga metode
tersebut dapat mengambil bagian pada aspek bunyi (ashwat), aspek kata
(sintaksis), aspek kalimat (morfologi), atau aspek makna (semantik).
Dalam makalah kali ini, penulis akan mengkrucutkan pembahasan pada
bahasan yang terkait seputar ketiga metode tersebut, mulai dari apa yang
dimaksud dari ketiga metode tersebut dan bagaimana terapannya dalam kajian
makna atau semantik Arab.

a. Metode Historik
Metode historik disebut juga dengan metode diakronik (diachronic
methode), yaitu suatu bentuk kajian yang mempelajari sejarah bahasa tertentu
atau salah satu aspek bahasa tertentu.
4

Untuk menggali permasalahan yang akan menjadi objek kajian metode
historik ini, kita dapat meneliti ataupun membandingkan antara karya-karya
ilmiyah atau sastra Arab yang ada pada masa lampau dengan masa modern
sekarang ini. Dari proses pembandingan tersebut, maka akan kita temukan
beberapa perubahan. Perubahan ini, dapat terjadi pada aspek-aspek internal
kajian bahasa seperti, aspek bunyi, kosa kata, struktur kalimat, dan
makna/semantik, ataupun terjadi pada aspek-aspek eksternal non-linguistik
seperti faktor politik, sosial, budaya, geografis dan sebagainya.
Dalam metode ini, dapat dibahas mengenai perubahan makna dalam
bahasa Arab atau faktor-faktor yang menimbulkan perubahan tersebut dan
merupakan objek kajian historik. Sebagai contoh, sebelum tahun 1982, belum

3
op.cit, h.68-64
4
Moh. Matsna HS, Orientasi Semantik Al-Zamakhsyari Kajian Makna Ayat-Ayat Kalam , (Jakarta:
Anglo Media, 2006), h.67, cet.1
5

ada kata untuk maksud gerakan spontanitas rakyat Palestina untuk
melawan kekejaman Zionis Israel. Padahal dasar kata itu sudah ada dari
dahulu, seperti tertera dalam al-Mujam al-Wasith:
: )( : . : .

: .
.
5


Dari metode ini, dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut:
- Kapan terjadinya perubahan makna
- Penyebab terjadinya perubahan makna

b. Metode Komparatif
Metode ini adalah suatu kajian bahasa yang mengambil objek dua
bahasa atau lebih, atau mengambil salah satu aspek bahasa dari masing-
masing bahasa yang berasal dari satu rumpun. Umpamanya studi banding
antara bahasa Indonesia dan Malaysia yang keduanya adalah bahasa melayu.
Metode komparatif ini adalah metode tertua dalam kajian bahasa. Objek
kajian kebahasaannya sama dengan objek kajian metode lainnya, yaitu
masalah bunyi, kata, kalimat, dan makna.
Khusus pada Metode Komparatif yang dipakai dalam studi makna,
objek kajian itu bisa berupa:
1) Makna kata yang masuk ke dalam suatu bahasa dari bahasa lain, apakah
makna yang sudah baku itu berasal dari bahasa kedua tadi, atau dari
bahasa lainnya, atau mungkin berasal dari bahasa pertama tadi.
2) Makna kata yang berasal dari bahasa lain, apakah sudah terjadi
penyempitan, pengkhususan, atau perubahan secara total. Atau
mungkin tidak ada perubahan makna sama sekali dari bahasa aslinya.

Metode komparatif ini berorientasi pada dimensi dikronik dan
sinkronik. Umpamanya kajian perbandingan anatara kedua bahasa yang
berbeda rumpun, yang terkenal dengan metode kontranstif. Hanya saja
6

metode ini lebih menekankan kepada tujuan mencari segi-segi persamaan dan
perbadaan antara dua bahasa yang dikontraskan, untuk bekal para guru
bahasa asing dalam mengatasi kesulitan yang dialami para pelajar dalam
proses belajarnya.
c. Metode Deskriptif
Metode deskriptif adalah suatu bentuk kajian bahasa secara ilmiyah
yang mengalami tataran bahasa atau dialek tertentu, baik dari aspek bunyi,
kata, kalimat, atau makna, pada kurun waktu dan tempat tertentu pula. Kajian
ini juga disebut sebagai kajian sinkronik, yakni mengkaji hubungan-
hubungan makna (makna tetap) dari sebuah bahasa dalam kurun waktu
tertentu.
Khusus dalam kajian makna, metode ini mendeskripsikan dan
menganalisis bagaimana keadaan makna dan penggunaanya oleh para
penuturnya pada kurun waktu tertentu.
Penggunaan metode ini diawali oleh usaha-usaha para linguis Arab
dalam mendeskripsi makna-makna kata dengan cara mendatangi langsung
orang-orang Arab pedalaman yang masih murni bahasanya. Cara semacam ini
dilakukan para linguis Arab pada abad kedua dan ketiga hijriah dan
seterusnya. Hanya saja, para linguis abad ketiga dan seterusnya hanyalah
mengkodifikasikan hasil-hasil penelitian para linguis sebelumnya.

Metode deskriptif ini adalah metode yang lebih banyak digunakan oleh
para linguis Arab pada awal pertumbuhannya, dibandingkan dengan metode
kajian bahasa lainya. Hal ini dapat dilihat dengan adanya beberapa ciri-ciri
sebagai berikut:
1) Para linguis Arab memulai kegiatan kajiannya dengan
mengumpulkan data kebahasaannya, kemudian menelitinya dan
mengklasifikasikannya secara induktif.
2) Objek yang diteliti terbatas pada bahasa Arab di daerah pedalaman,
tidak daerah kota atau perbatasan, karena tidak lagi mencerminkan
bahasa Arab murni akibat dari terpengaruh bahasa asing.
7

3) Yang diteliti adalah bahasa lisan dengan menyimak langsung dari
penduduk setempat, atau melalui periwayatan orang-orang yang
dapat dipercaya.
4) Yang ditulis para linguis Arab tentang makna bahasa, pada
umumnya bersifat laporan.

Dalam metode ini, para linguis Arab melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Menghimpun makna yang mereka cari dari sumbernya
b) Mengecek dan meneliti kebenaran makna yang telah didapat
c) Mengklasifikasikan makna-makna yang telah didapat ke dalam tema-tema
atau abjad-abjad huruf hijaiyah.
d) Membuat kaidah-kaidah atau analogi-analogi masalah makna.

3. Beberapa Teori Kajian Makna
Ada banyak teori yang telah dikembangkan oleh pakar linguistic dan filosofi
sekitar konsep makna dalam kajian semantik, antara lain:
a.
CK.Odgen dan Richards dalam bukunya the meaning of meanig
menggambarkan bagan segitiga yang disebut dengan segitiga makna atau segitiga
semiotik, yaitu sebagai berikut:
tought-refrence-sense
b




a . c
- - -

8

Gambar ini membedakan tiga unsur berbeda yang terdapat pada suatu
makna dan menjelaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antara kata seperti
simbol dengan sesuatu yang di luar ungkapan kata tersebut. Menurut mereka suatu
kata itu terdiri dari dua bagian, bagian pertama yaitu sight atau bentuk yang
berhubungan dengan fungsinya sebagai simbol dan bagian yang kedua yaitu unsur
yang berhubungan dengan pikiran atau rujukan.
5

Ketiga unsur ini memiliki makna yang berbeda-beda dan tidak memiliki
kaitan makna secara langsung. Jika dilihat pada bagan di atas, makna antara titik (a)
dan (c) dihubungkan dengan garis putus-putus. Sedangkan titik (a) dan (b), serta (b)
dan (c) dihubungkan garis biasa. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena
hubungan antara (a) dan (c) bersifat langsung. Sebab (a) adalah masalah dalam
bahasa dan (c) adalah masalah diluar bahasa yang hubungannya biasanya bersifat
arbitrer. Sedangkan hubungan (a) dan (b) serta hubungan (b) dan (c) bersifat
langsung. Titik (a) dan (b) sama-sama berada di dalam bahasa; sedangkan (b) dan (c)
adalah acuan dari (b) tersebut.
Pemikiran tentang karakter ganda ini merujuk kepada zaman De Sausser.
Dimana ia telah menguatkan karakteristik ganda yang dimiliki suatu simbol dengan
cara memberikan contoh yang bersifat analogi yaitu dengan menyamakan dengan
sepotong kertas yang memiliki dua sisi. Dimana antara satu dengan yang lain tidak
mungkin dipisahkan.
Jadi teori isyarat berarti bahwa makna suatu kata adalah isyarat kata tersebut
kepada sesuatu yang bukan dirinya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yaitu:
a) Pendapat pertama mengatakan bahwa makna suatu kata adalah apa yang
diisyaratkan oleh kata itu.
b) Pendapat yang mengatakan bahwa makna suatu kata adalah hubungan
antara ungkapan dan yang diisyaratkan oleh ungkapan tersebut.

5
Ahmad Mukhtar Umar, Ilmu Dilalah, (Kairo: Darul Ulumul, 1993), h.54
9

Kajian tentang makna menurut pendapat yang pertama berarti cukup dengan
mengkaji dua sisi dari segitiga tersebut, yaitu sisi simbol dan sisi yang diisyaratkan.
Sedangkan kajian tentang makna menurut pendapat yang kedua mengharuskan
mengkaji ketiga sisi segitiga tersebut karena untuk sampai kepada sesuatu yang
diisyaratkan itu melalui pikiran atau gambaran yang ada di otak.
Para ahli ini mengatakan bahwa suatu kata yang diisyaratkan tidaklah harus
yang dapat disentuh yang dapat diamati objeknya. Misalnya kata ( meja), kata
meja merupakan kata yang dapat disentuh dan diamati. Terkadang juga bisa berupa
sesuatu yang tidak dapat disentuh, seperti aksi atau kejadian tertentu, seperti kata
(pembunuhan). Kata pembunuhan merupakan suatu aksi atau perbuatan dimana
ia tidak dapat disentuh namun bisa diamati. Sesuatu yang abstrak seperti kata
(berani). Kata tidak dapat disentuh tapi ia bisa diamati dari gejala
yang nampak.
Walaupun demikian masing-masing kondisi ini mungkin kita dapat
mengamati apa yang diisyaratkan oleh lafaz tersebut karena setiap kata mengandung
makna, sebab kata adalah simbol yang menggambarkan sesuatu yang bukan dirinya.
Kadang-kadang yang diisyaratkan itu ada yang tidak terbatas, seperti kata
pena). Kata tidak diisyaratkan pada pena tertentu karena mungkin saja kata
disandarkan kepada jenis pena apa saja.
Oleh karena itu sebagian dari ahli teori ini merekombinasikan bahwa kata
diisyaratkan kepada (tingkatan pena), atau (jenis pena).
Demikian juga halnya dengan kata kerja (lari) yang diisyaratkan kepada setiap
jenis pekerjaan yang jenisnya lari. Teori isyarat ini telah ditentang dengan pernyataan
sebagai berikut:
10

a) Teori isyarat hanya mengkaji tentang fenomena bahasa seputar di luar kerangka
bahasa.
b) Teori isyarat berlandaskan atas dasar kajian yang terdapat di luar (sesuatu yang
diisyaratkan). dan agar kita dapat memberikan pengertian yang mendalam tentang
suatu makna. maka perlu ada ilmu yang mendalam tentang segala sesuatu yang
ada di dunia. tetapi kemampuan manusia kebanyakan sedikit sekali.
c) Teori isyarat tidak membahas kata-kata seperti kata dan kata serta
kata lainnya yang sejenis dengan kata-kata ini yang tidak mengisyaratkan kepada
sesuatu yang ada. kata-kata ini memiliki makna yang dapat dipahami oleh
pendengar dan pembicara, tapi sesuatu yang ditunjukkannya tidak mungkin
diketahui dalam bentuk materi.
d) Maka sesuatu itu bukanlah zatnya. Maka makna kata bukanlah (apel)
yang mungkin dimakan tetapi maknanya tidak dimakan.
Simbol atau lambang adalah unsur linguistik berupa kata atau kalimat.
Refrent (acuan) adalah objek, peristiwa, fakta atau proses yang berkaitan dengan
dunia pengalaman manusia. Sedangkan konsep (thought, refrens atau meaning)
adalah apa yang ada dalam pikiran tentang objek yang ditunjukkan oleh lambang
(simbol). Menurut teori ini tidak ada hubungan antara simbol (lambang) dengan
acuan (refrent), tidak ada hubungan antara bahasa dengan dunia fisik, hubungannya
selamanya melalui pikiran dalam wujud konsep-konsep yang bersemayam dalam
pikiran.
Jika seorang menyebut kucing (al-qith), terbayang pada pikiran kita apa
yang disebut kucing. Adapun acuannya (refrent) adalah berupa kucing sebenarnya.
kalau kita disuruh untuk merinci tentang kucing kita dapat menyebutkannya. Hal itu
terjadi karena realitas kucing telah ada dalam otak. Semuanya itu terjadi melalui
pengalaman. Jadi sebuah kata atau leksem disebut bermakna refrensial kalau ada
refrensnya atau acuannya. Adapun yang non refrensial, terdapat sejumlah kata yang
11

disebut kata-kata deiktik yang acuannya tidak menetap pada satu maujud, melainkan
dapat berpindah dari maujud yang satu kepada maujud yang lain.
6

b.
Bentuk klasik dari teori deskriptif atau teori image atau teori mentalistik
ditemukan oleh seorang filosog Inggris yang bernama Jhon Lock pada abad ke tujuh
belas. Ia mengatakan bahwa penggunaan kata-kata itu harus ada isyarat nyata kepada
pikiran dan pikiran-pikiran yang digambarkan itu dia dianggap sebagai tujuan
langsung lagi khusus.
Teori ini menganggap bahasa sebagai media atau alat untuk menyampaikan
pikiran atau gambaran luar dan maknawi dari pada kondisi di dalam. Apa yang
diberikan berupa ungkapan bahasa merupakan makna tertentu yang pemakaiannya
mengarahkan kepada saling paham sebagai tanda terhadap suatu pemikiran.
Pemikiran yang ada dalam otak kita memiliki bentuk dan fungsi tersendiri dari
bahasa, jika kita merasa cukup dengan menjaganya dengan pikiran sendiri maka
mungkin saja kita merasa cukup dengan bahasa itu saja, tapi itu hanyalah perasaan
kita saja karena kita butuh untuk memindahkan pikiran kepada yang lainnya yang
dengan ini bisa menjadikan kita mengemukakan dalil-dalil (sesuatu yang dapat
diamati secara umum ) terhadap apa yang ada dalam pikiran kita yang khusus yang
bekerja pada otak kita.
Teori ini menganggap setiap ungkapan bahasa atau setiap makna yang
membedakan ungkapan bahasa , maka pemikiran ini harus memenuhi hal-hal sebagai
berikut:
1) Ada pada otak pembicaraan
2) Pembicara harus menghasilkan ungkapan yang menjadikan orang yang
mendengarnya mengetahui bahwa pemikiran tertentu terdapat dalam akalnya
pada waktu itu.

6
ibid, h.54-57
12

3) Ungkapan tersebut harus membawa kepada satu pemikiran dengan akal
pendengar.

Dapat disimpulkan bahwa teori ini memfokuskan kepada pikiran atau
gambaran yang terdapat dalam akal pembicara atau pendengar, dengan maksud
membatasi makna suatu kata atau apa dimaksud pembicara dengan kata yang
dipakainya pada waktu tertentu, baik ketika kita mengatakan bahwa makna itu adalah
pemikiran atau gambaran otak atau kita mengungkapkannya sebagai hubungan
antara simbol dengan pikiran.
7

c.
Pelopor teori ini adalah J.R Firth. Teori kontekstual sejalan dengan teori
relativisme dalam pendekatan semantik bandingan antar bahasa. Makna sebuah kata
terikat pada lingkungan kultural dan ekologis pemakaian bahasa tertentu. Teori
kontekstual mengisyaratkan pula bahwa sebuah kata atau simbol ujaran tidak
mempunyai makna jika ia terlepas dari konteks. Kedua kata itu baru mendapatkan
makna sekunder jika sesuai dengan konteks.
Walaupun demikian, ada pakar semantik yang berpendapat bahwa setiap
kata mempunyai makna dasar atau primer yang terlepas dari konteks situasi. Kedua
kata itu baru mendapatkan makna sekunder sesuai dengan konteks situasi. Dalam
kenyataannya kata itu tidak terlepas dari konteks pemakaiannya. Oleh karena itu,
pendapat yang membedakan makna primer atau makna dasar dan makna sekunder
atau makna kontekstual secara eksplisit mengakui pentingnya konteks situasi dalam
analisis makna. Jadi makna kontekstual adalah makna sebuah leksem atau kata yang
berada di dalam suatu konteks.
K.Ammar memberikan komentarnya bahwa paling tidak teori konteks ini
harus memperhatikan beberapa konteks:

7
ibid, h.57
13

- Linguistic context ( )
- Emotional context ( )
- Situational context ( )
- Cultural context ( )

d.
Yang dimaksud dengan medan makna adalah seperangkat unsur leksikal
yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang
kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya, nama-nama warna,
nama perabot rumah tangga atau nama-nama perkerabatan yang masing-masing
merupakan satu medan makna .
Teori ini menegaskan bahwa agar kita memahami makna suatu kata, maka
kita harus memahami pula kesimpulan kosa kata yang maknanya berhubungan. Lyon
berpendapat bahwa:
1) Setiap butir leksikal hanya ada pada satu medan makna
2) Tidak ada butir leksikal yang tidak menjadi anggota pada medan makna
tertentu
3) Tidak ada alasan untuk mengabaikan konteks
4) Ketidakmungkinan kajian terhadap kosa kata terlepas dari struktur
Banyaknya unsur leksikal dalam satu medan makna antara bahasa yang satu
dengan bahasa yang lain tidak sama besarnya, karena hal tersebut berkaitan erat
dengan sistem budaya masyarakat pemilik bahasa itu. Medan warna mengenal nama-
nama seperti merah, cokelat, biru, hijau, kuning, abu-abu, putih dan hitam. Dengan
catatan, menurut fisika, putih adalah campuran berbagai warna. Sedangkan hitam
tidak berwarna. Untuk menyatakan nuansa warna yang berbeda, maka ada beberapa
14

keterangan warna perbandingan, seperti: merah darah, merah jambu dan lain
sebagainya.
Jumlah nama atau istilah kekerabatan juga tidak sama banyaknya antara
bahasa yang satu dengan bahasa yang lain, bahkan bisa juga konsep penamaanya
berbeda. Dalam budaya Indonesia dikenal nama kakak dan adik, yaitu orang yang
lahir dari ibu yang sama. Bahasa Inggris menyebut orang yang lahir dari ibu yang
sama dengan istilah brother dan sister disini, jelas perbedaan konsep penamaannya;
bahasa Indonesia berdasarkan usia, lebih tua atau lebih muda. Sedangkan dalam
bahasa Inggris berdasarkan jenis kelamin, lelaki dan perempuan.


e.
Teori ini biasanya disebut juga dengan teori tingkah laku. semantic
mempelajari kebermaknaan kata dan satuannya atau kelompok kata yang bersifat
verbal.Seorang psikolog menjelaskan semantic dengan berbagai cara. psikologi
mempelajari gejala kejiwaan manusia baik melalui kegiatan verbal maupun non
verbal. sedangkan seorang linguist akan memusatkan perhatian kepada peristiwa
kebahasaan (seperti yang didengar, dilihat dan dibaca dalam kehidupan sehari-hari).
Charles Morris dalam bukunya sign, language dan behavioral sebagaimana
yang dikutip oleh Fatimah Djajasudarma menjelaskan bahwa simbol-simbol dan
tanda-tanda adalah membicarakan apa yang ditandai (signified). Seekor anjing dapat
bereaksi berharap akan adanya makanan bila mendengar bel (bel binatang dianggap
sebagai penanda adanya makanan). Hal ini bisa dibandingkan dengan seorang sopir
yang bereaksi bila melihat tanda gambar tanah longsor, maka dia akan menghentikan
perjalanannya. Tanah longsor adalah signified (yang ditandai).
Pakar semantic, filosofi dan psikologi ketiganya menggunakan bahasa
sebagai alat. Bahasa berfungsi sebagai simbolik, emotif dan afektif. ada dua cara
bagi manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang benar, yaitu rasionalisme
15

dan empirisme. Cara yang pertama, rasionalisme akan menghasilkan aliran rasionalis
yang berhubungan dengan sifat ilmu yang a priori dalam ; pemahaman ilmunya
ditentukan (distandarkan) oleh ilmu itu sendiri. Aliran rasionalisme ini menggunakan
penalaran deduktif untuk menyusun pengetahuannya. Menurut aliran ini apa yang
kita pikirkan sudah ada pada ide dan ide tersebut bukan ciptaan manusia. cara yang
kedua empirisme menggunakan penalaran induktif, berbicara berdasarkan data
secara deskriptif. Penalaran empirisme ini tumbuh dari pengalaman-pengalaman
(eksperimen) sehingga berakhir dengan deduktif.
8












8
ibid, h.59-68
16

KESIMPULAN
Manhaj dirasatul maana terdiri dari beberapa teori, yaitu:
1.
Teori isyarat berarti bahwa makna suatu kata adalah isyarat kata tersebut
kepada sesuatu yang bukan dirinya. Dalam hal ini terdapat dua pendapat, yaitu:
a. Pendapat pertama mengatakan bahwa makna suatu kata adalah apa yang
diisyaratkan oleh kata itu.
b. Pendapat yang mengatakan bahwa makna suatu kata adalah hubungan antara
ungkapan dan yang diisyaratkan oleh ungkapan tersebut.
2.
Teori ini menganggap bahasa sebagai media atau alat untuk menyampaikan
pikiran atau gambaran luar dan maknawi dari pada kondisi di dalam. Apa yang
diberikan berupa ungkapan bahasa merupakan makna tertentu yang pemakaiannya
mengarahkan kepada saling paham sebagai tanda terhadap suatu pemikiran.
3.
Teori kontekstual mengisyaratkan pula bahwa sebuah kata atau simbol
ujaran tidak mempunyai makna jika ia terlepas dari konteks. Kedua kata itu baru
mendapatkan makna sekunder jika sesuai dengan konteks.

4.
Yang dimaksud dengan medan makna adalah seperangkat unsur leksikal
yang maknanya saling berhubungan karena menggambarkan bagian dari bidang
kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu. Misalnya, nama-nama warna,
nama perabot rumah tangga atau nama-nama perkerabatan yang masing-masing
merupakan satu medan makna .
5.
Teori ini biasanya disebut juga dengan teori tingkah laku. semantic
mempelajari kebermaknaan kata dan satuannya atau kelompok kata yang bersifat
verbal.
17

DAFTAR PUSTAKA

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, Edisi Ketiga
Abdul Chaer, Kajian Bahasa Sruktur Internal, Pemakaian dan Pembelajaran, Jakarta,
Rieneka Cipta,2007
Moh. Matsna HS, Orientasi Semantik Al-Zamakhsyari Kajian Makna Ayat-Ayat Kalam ,
Jakarta: Anglo Media, 2006
Ahmad Mukhtar Umar, Ilmu Dilalah, (Kairo: Darul Ulumul, 1993