Anda di halaman 1dari 43

SISTEM

FAKULTA
U
Bah
MTEKNO
DIS
SUMOH
ASPERIKA
UNIVERSIT
SA
anA
OLOGIA
SUSUNOLEH

HARJO,S.PI

NANDAN
TASMULAW
AMARINDA
2011
Ajar
AKUAKU
:
.,M.SI.

ILMUKEL
WARMAN
A

ULTUR
LAUTAN

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 2

I. PENGERTIANSISTEMTEKNOLOGIAKUAKULTUR

Akuakultur adalah sektor produksi pangan yang berkembang cepat dengan rata
ratapertumbuhan8.9%pertahun,jikadibandingkandenganpenangkapanhanya1,2%
danproduksidaginghewandaratyanghanya2.8%padaperiodeyangsama(FAO2004).
Menurunnya stok perikanan laut dunia dan pertumbuhan populasi manusia adalah
harga yang harus dibayar oleh pertumbuhan akuakultur selanjutnya. Di samping itu,
sektor produksi akuakultur masih harus meningkat 5 kali lipat lagi untuk dua dekade
berikutnya agar dapat memenuhi kebutuhan protein minimum untuk nutrisi manusia
(FAO2004dalamRoselian,etal2007).
Istilah sistem teknologi akuakultur terdiri atas tiga suku kata, yakni sistem,
teknologi,danakuakultur.Masingmasingkatatersebutmemilikimaknaharfiahsendiri.
Kata sistem bermakna sebagai suatu kesatuan yang terdiri atas komponenkomponen
atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan aliran suatu informasi,
materi, atau energi (Wikipedia). Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur
prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersamasama untuk melakukan suatu
kegiatan atau untuk menyelesaikan suatu sasaran tertentu (JOG, 2003). Teknologi
merupakanperkembangansuatumedia/alatyangdapatdigunakandenganlebihefisien
guna memproses serta mengendalikan suatu masalah. Dan terakhir adalah istilah
akuakulturadalahistilahyangmeskipunsudahdigunakansejaklebihdari20tahunyang
lalu untuk menunjukkan semua kegiatan budidaya organisme akuatik, baik hewan
maupun tanaman di lingkungan air tawar, payau, dan laut. Namun istilah ini masih
digunakan secara sempit, misalnya; akuakultur hanya dikaitkan dengan kegiatan
pemeliharaan ikan saja sedangkan istilah akuakultur sudah sangat ekspresif dan
mencakupsemuanya(PillaydanKutty,2005).
Berkenaan dengan pengertian di atas, maka dapat dijabarkan bahwa sistem
teknologi akuakultur adalah seperangkat komponenkomponen yang berfungsi secara
terpadu dan saling berinteraksi pada suatu media/alat yang akan selalu mengalami
perkembangan/kemajuan dari masa ke masa dalam rangka efektifitas dan efisiensi
kegiatanpembudidayaanorganismeakuatik
Buku ajar ini, selanjutnya akan memuat berbagai teknologi dan komponen
komponen pendukungnya yang diterapkan pada berbagai sistem akuakultur, mulai dari
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 3

sistemakuakulturkonvensionalyangsederhana,ekstensif,dansubsisten,hinggasistem
akuakulturyangmodernberteknologitinggi.
Secara garis besarnya sistem teknologi akuakultur ini dibagi berdasarkan pola
sistem akuakultur yang digunakan, setiap sistem akuakultur memiliki variasi dalam hal
komponen instrumen yang digunakan. Semakin intensif suatu sistem akuakultur
semakinbanyakdansemakincanggihteknologinya.
Untuk menghindari kebingungan dalam memahami pembahasan selanjutnya,
maka dalam buku ini akan mengacu pada dua konsep yang dipublikasikan oleh Baluyut
(1989) tentang Praktek dan Sistem akuakultur dan FAO (2010) tentang teknologi
akuakultur,sertaberbagaijurnalilmiahterkait.
Sistem akuakultur merupakan seperangkat sarana dan prasarana budidaya yang
saling mempengaruhi dan berfungsi secara terpadu, yang mana terdiri atas subsistem
subsistem seperti; ikan, media budidaya, air, pakan, dan berbagai peralatan penunjang
lainnya. Namun kemudian, sistem akuakultur lebih menekankan pada perbedaan atas
media budidaya yang digunakan, karena pada prinsipnya subsistem lainnya akan
berubahmengikutiperubahanmediabudidayayangdigunakantersebut.
Pada akhirnya secara jelas bisa disimpulkan bahwa sistem adalah semua
komponen pendukung, sedangkan teknologi adalah alat/wadah/media/budidaya ikan.
Sebagai contoh; sistem kolam, di mana sistem adalah semua komponenkomponen
kolam, sedangkan kolam itu sendiri adalah sebuah teknologi/alat/wadah/media untuk
membudidayakanikan.
1.1. KlasifikasiIntensitasSistemAkuakultur
Intensitassistemproduksiakuakultursecarakhususdiklasifikasikanmenuruttipe;
kepadatan biomassa ikan dan pemberian pakan. Pembagiannya kemudian didasarkan
pada aliran air (lotic atau lentic), dan menekankan pada level proses perbaikan kualitas
airyangmengendalikanprosesproduksi(Krometal,1989dalamColt1991)
1
.
Semakin padat biomassa ikan yang dipelihara, semakin banyak dan semakin
canggihteknologiyangdigunakan.Olehkarenaitu,intensifikasiberartitingkatataulevel
teknologi yang digunakan dalam mengontrol sistem produksi akuakultur sedangkan
ekstensifikasi adalah perluasan area akuakultur sehingga lebih menekankan pada luas
badan air (m
2
) yang digunakan untuk menghasilkan produk akuakultur yang kontrol
lingkungannya masih sangat tergantung pada purifikasi alami (self purification) tanpa
adausahainputteknologisebagaimanahalnyadalamsistemintensif.

1
J . Colt. 1991. Aquaculture production systems. J. Animal Science 69 : 4183-4192
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 4

Dengan demikian, sistem intensif dan sistem ekstensif bisa menghasilkan produk
dalamjumlahyangsama,namunperbedaannyaterletakpadaluasareayangdigunakan
danpenggunaanbiayaawal.Jikaekstensiflebihbanyakbiayauntuklahan,makaintensif
lebih banyak biaya untuk pembelihan teknologi dan energi yang digunakan, selain itu
ekstensif lebih menekankan tentang luas badan air (m
2
) sedangkan intensif lebih pada
volumeair(m
3
).
Klasifikasi sistem produksi akuakultur menurut Colt (1991) yang didasarkan atas
polaaliranair,meliputi:
1. Kolam adalah sistem produksi yang paling sederhana, pada kondisi operasional
normal dilakukan penambahan air baru untuk mengganti air yang hilang akibat
evaporasi,evapotranspirasi,daninfiltrasi.
2. Sistemairmengalir(flowthrough),dimanaikandapatdipeliharadengankepadatan
tinggi. Sistem ini menggunakan air dalam jumlah besar untuk menghilangkan
limbah. Biasanya pretreatmen diperlukan untuk menghilangkan limbah padat, Fe
dan Mg, nitrogen, dan gas karbon dioksida, atau diberikan oksigen tambahan
dengan aerasi. Karena adanya peraturan tentang lingkungan hidup, maka biasanya
posttreatmen juga diperlukan sebelum air dari unit budidaya dibuang ke perairan
umum.
3. Sistem resirkulasi (sistem tertutup), biasanya diperuntukkan pada beberapa daerah
yang terbatas dalam hal sumberdaya air, di mana air yang telah digunakan untuk
produksi akuakultur dapat diolah untuk menghilangkan limbah metabolit dan
kemudiandigunakankembali.
4. Sistem kolam hibrida, yakni di dalam kolam sengaja ditumbuhkan algae atau
tumbuhan air sebagai biofilter untuk menyerap limbah metabolit, sistem ini biasa
dikembangkanuntukakuakulturdidaerahtropis.
5. Karamba (cage system) masih dikategorikan sebagai sistem air mengalir (flow
through) walaupun dibeberapa kawasan dengan peraturan buangan limbah yang
ketat, sistem ini bisa digolongkan sebagai sistem resirkulasi dengan pengolahan
limbahyangminim.
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 5

MenurutColt(1991),berdasarkantatanama(nomenclature)yangmengacupada
karakteristik pencampuran hidrolis limbah akuakultur (hydraulic mixing) dari tipetipe
sistembudidayayangberbedadapatdiklasifikasikanmenjaditigagrup,yakni:
1. Plugflow reaktor (PFR), dimana air mengalir melalui unit budidaya secara datar
tanpa pencampuran longitudinal, sehingga limbah metabolit seperti amonia
meningkat secara linear sepanjang arah longitudinal. Sistem ini biasanya digunakan
dalambudidayaikansalmondantrout.
2. Continuousflowstirredtankreaktor(CFSTR),secaraidealpadasisteminiairteraduk
dan bercampur seluruhnya ke dalam unit budidaya sehingga konsentrasi efluen
limbah metabolit seperti amonia sama dengan konsentrasi limbah di dalam unit
budidaya. Contoh dari sistem ini adalah bak bundar, kurangnya sudut kemiringan
bak budar merupakan keuntungan dari sistem produksi dengan intensitas tinggi
(ColtdanWatten,1988).
3. Arbitraryflow reaktor (AFR) dimana pencampuran air dalam sistem (kolam) lebih
disebabkan oleh pengaruh suhu, fotosintesis, reaksi kimia di sedimen, dan gerakan
angin.Prosesinicenderungmenghasilkanstratifikasikimiadansuhusecaravertikal.
Gerakan angin cenderung mengaduk air kolam, tetapi juga dapat menyebabkan
gradienhorisontalsecarasignifikan
Static system
Flow-trough
Flow-trough +water treatment
Reuse system
Reuse system +natural proses
Cage system
Static system
Flow-trough
Flow-trough +water treatment
Reuse system
Reuse system +natural proses
Cage system
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 6

Meskipunsemuasisteminimasihpentinguntukdidiskusikan,namunsemuanya
masih eksis digunakan dalam aktifitas akuakultur, tentu saja hal ini tergantung pada
kondisikawasandaninvestasidalamusahaakuakultur.
1.2. PemilihanSistemAkuakultur
Menurut Baluyut (1989)
2
bahwa pemilihan suatu sistem akuakultur ditentukan
olehbeberapafaktorberikutini:
1. Tujuandaripengembanganusaha/keuntunganyangingindicapai
Terkaitdengantujuanpengembanganinisebenarnyabermaksuduntuk;
Meningkatkansuplai/produksiikanuntukkonsumsilokal/domestik
Menghasilkanlapangankerjabarudanmeningkatkanpenghasilan
Meningkatkandevisanegara
Pembangunansosialekonomidanmemperluasusahasampingan.
Biasanya tujuan dari pengembangan akuakultur ini bagi pihak swasta tentu saja
adalah nilai komersialnya, sebaliknya bagi pemerintah, hal ini dimaksudkan untuk
menyediakan mata pencaharian sampingan bagi petani/pembudidaya untuk
memperbaikikondisisosialekonominya.Dengandemikian,berdasarkanatastujuan
pengembangantersebut,makaakuakulturdapatdibagiatas;
Skalakecil(inputrendah,modalkecil,resikokecil,danteknologirendah)
Skalabesar(inverstasibesar,teknologitingkattinggi)
2. Spesiesbudidayayangdapatditerimapasar(acceptability/marketability)
Pemilihan spesies ikan sangat terkait dengan target usaha yang ingin dicapai.
Tidak semua ikan cocok untuk dibudidayakan pada semua skala. Misalnya jenis
udangyangbernilaiekonomistinggiakanlebihmenguntungkandibudidayakanpada
skala kecil. Juga spesies tertentu hanya cocok pada tipe sistem tertutup tertentu,
seperti udang windu yang lebih cocok dibudidayakan pada kolam/tambak ikan dari
padadikaramba.Demikianpulaadaikanyangcocokpadasuatunegaratetapitidak
cocokdinegaralain.
Pemilihan spesies budidaya sangat tergantung pada beberapa faktor, yakni;
keterseidaan lokasi yang sesuai, karakteristik biologi spesies lokal/introduksi, dapat
diterima dipasar lokal atau internasional, dan ketersediaan teknologi dan peralatan
yangdibutuhkanuntukmembudidayakannya.
Tabel.SpesiesyanglazimdibudidayakandiAsia
CommonName ScientificName CultureSystem* Environment**
Ikan
Milkfish Chanoschanos E,S,I F,B,S
Freshwatereel Anguillajaponica EX,E,I F
Anguillaspp.
Greymullet Mugilcephalus EX,E,I F,B,S
Cockup Latescalcarifer EX F

2
Baluyut EA. 1989. Aquaculture system and practices : A review. FAO. UN development
programme. Rome
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 7

Grouper Epinephelusspp. EX S
Porgy Myliomacrocephalus EX S
Myliospp.
Redporgy Chrysophrymajor S,I S
Blackporgy Acanthopagrusschlegeli S B,S
Tilapia Oreochromis mossambicus SI F.S
O.nilotica E,SI F,S
Tilapia zillii S F
O.aureus S F
O. mossambicus x O.
niloticus
S F
O.niloticus xO. aureus S F
Redtilapia Oreochromis spp. S,I F,B,S
Sweetfish,ayu Plecoglossus altivelis I F
Commoncarp Cyprinus carpio E,S F
Goldfish(wild) Carassius auratus E,S F
Cruciancarp Carassius carassius E,S F
Puntiuscarp Puntius gonionotus E,S F
Puntius spp.
Rohu Labeo rohita EX,S F
Mrigal Cirrhinamrigala EX,S F
Bottomcarp Cirrhinamolitorella E,S F
Catla Catlacatla EX,S F
Grasscarp Ctenopharyngodonidellus E,S F
Blackorsnailcarp Mylopharyngodonpiceus E,S F
Silvercarp Hypophthalmichthys
molitrix
EX,E,S F
Bigheadcarp Aristichthysnobilis EX,E,S F
Nilem Osteochilushasselti EX,E F
Walkingcatfish Clariasbatrachus E,S F
Clariasspp.
MOLLUSCS
Japaneseoyster Crassostreagigas E,I S
Hardclam Metrixlusoria I S
Smallabalone Haliotisdiversicolor I S
Corbiculas Corbiculafluminea E F
C.formosa E F
Purpleclam Soletellinadiphos E S
Applesnail Ampullariusinsularum S,I F
Bloodclam Tegillarcagranosa S S
Crassostreamalabonensis E S
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 8

C.iredalei EX,E S
C.palmipes S S
C.cuculata EX,S S
C.lugubris E S
C.belcheri E S
C.commercialis S S
Metrix metrix EX,S S
Cockle Andara granos E,S S
Greenseamussel Mytilus smaragdinus EX,E,S S
REPTILES
Softshellturtle Trionyx sinensis I F
Crocodile Crocodilus siamensis I F
C.porocus I F
AMPHIBIANS
Bullfrog Ranacatasbiana S F
Tigerfrog Ranatigrina I F
SEAWEEDS
Gracilaria Gracilariaspp. E B,S
Nori Porphyraspp. E S
Wakame Undariapinnatifida E S
Greenlaver Monostromanitidum E S
*EX = experimental, E = extensive, S = semiintensive, I = intensive
**F=freshwater,B=brackishwater,S=saltwater(Sumber:Liao,1988)
Huet and Timmermans (1972) dalam Baluyut (1984) menyebutkan kriteria untuk
mengevaluasikelayakannyasuatuspesiesbudidaya,sebagaiberikut:
Harussesuaidenganiklimwilayahdimanaikandibudidayakan
Memilikilajupertumbuhanyangtinggi
Harusbisaberreproduksipadakondisibudidayayangterkontrol
Harus
Bisamenerima/memakanpakanbuatanyangmurahdantersediaberlimpah
Harusdapatditerimaolehkonsumen/lakudijual
Harusbisadipeliharadengankepadatantinggi
Harusresistenterhadappenyakit
3. KetersediaanTeknologi
Karena akuakultur melibatkan banyak metode termasuk pemijahan dan
pembesaran, maka ketersediaan teknologi yang telah dikuasai sangat menentukan
keberhasilannya. Selain itu, juga terkait dengan tingkat kerumitan (complexity) dan
kemudahannyauntukdipelajariolehparapembudidaya.
Secara umum, sistem berbiaya rendah dengan teknologi sederhana seperti
budidaya ikan nila/mujair lebih mudah diajarkan kepada pembudidaya daripada
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 9

sistem budidaya canggih berteknologi tinggi seperti budidaya udang windu yang
intensif.
Oleh karena itu, jika akuakultur ingin digunakan sebagai mata pencaharian
alternatif atau sebagai pengganti usaha penangkapan dipesisir, maka sistem yang
akan digunakan harus sederhana, mudah diaplikasikan, fasilitas produksi berbiaya
murah yang pembuatan dan pengoperasiannya bisa melibatkan semua anggota
keluarga atau kelompok, misalnya budidaya rumput laut dan kerangkerangan. Di
sisi lain, teknologi yang rumit memerlukan biaya yang lebih besar dan tambahan
fasilitaslainnya,namunmenjanjikankeuntunganyanglebihbesarjuga.Inibiasanya
dilakukanolehpengusahamenengahataubesaryangmampumembayartenagaahli
dalammenjalankanusahaakuakulturtersebut.
4. Ketersediaaninputproduksidansaranapendukunglainnya
Konsenkuensi atas level teknologi adalah kesiapan dari input produksi,
misalnya pakan dan benih, fasilitas tambahan seperti hutchery, mesin processing,
mesinpembuates,dancoldstorage(ruangpenyimpananbersuhudingin).padalevel
rendah, para pembudidaya tidak cukup hanya dengan ketersediaan input produksi
tetapijugamemerlukanpetunjukteknisdandukunganluas.Namundemikian,untuk
skala besar yang beroperasi secara intensif terutama yang berusaha untuk tujuan
ekspor, faktor kritisnya adalah ketersediaan benih dan pakan secara kontinu dan
juga kegiatan pasca panen dan processing untuk menjamin mutu produk yang
dihasilkan.
5. Kebutuhanakaninvestasi.
Besarkecilnyamodalyangditanamkanpadausahaakuakulturtergantungpadatipe
sistem yang diadopsi. Secara umum, investasi meningkat sebagai fungsi dari level
teknologi dan kerumitan sistem akuakultur. di mana sistem ektensif biasanya lebih
sedikitmodalyangdiinvestasikandaripadasistemintensif.
Sistemakuakulturskalakecilsepertirakitatautaliuntukbudidayarumputlautatau
kerangkerangantentubiayanyalebihkecil,sebaliknyauntuksistemintensifdengan
kompleksitas sistem produksi seperti budidaya udang windu memerlukan
perencanaankeuanganyangbesar,tidakhanyapadaawalusahatetapijugaselama
operasionaldanpemeliharaannya.
6. Kondisilingkungan.
Hal penting yang harus diperhatikan adalah dampak lingkungan yang
ditimbulkan dari usaha akuakultur ini, sebagai contoh ekpansi budidaya intensif di
Taiwantelahmenimbulkanmasalahpenyakityangseriusdanmemburuknyakualitas
air.
Penebangan hutan mangrove secara besarbesaran untuk dijadikan tambak
juga telah menimbulkan gangguan atas keseimbangan ekologis di sejumlah pesisir,
menurunkan produktifitas perairan, dan membatasi daerah pemijahan (breeding
ground) dan pengasuhan (nursery ground) jenisjenis ikan penting dan kehidupan
akuatiklainnya.
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 10

DiAustralia,potensikemungkinanterjadinyaeutrofikasikarenabebanlimbah
nutrien yang dikeluarkan oleh aktifitas akuakultur telah menjadi perhatian
(Jamandre, 1988). Di Negros, Philipina juga telah terjadi perdebatan antara pabrik
guladanindustriakuakulturkarenalimbahyangdikeluarkanpabrikgulatersebutke
sungai yang airnya dipakai untuk akuakultur, dilaporkan meningkatkan temperatur
danmenurunkanpHsehinggamerusakusahatambakudang(Cayco,1988).
Akuakultur sendiri dapat menghasilkan dampak negatif terhadap lingkungan
sehingga penting untuk mempertimbangkan masalah lingkungan ini dalam memilih
suatu sistem akuakultur, yang mana harus dapat mengurangi dampak langsung
akuakulturterhadapekologi.
Tabel.Kemungkinandampaklingkunganyangditimbulkanolehkegiatanakuakultur
SistemBudidaya DampakLingkungan
EXTENSIVE
1. Budidayarumputlaut Bisa mengganggu terumbu karang; rough weather
losses;kompetisipasar,danmasalahsosial.
2. Budidayakerangkerangan
(mussels,oysters,clams,
cockles)
Ada resiko kesehatan publik dan resistensi
konsumen (penyakit mikrobial, red tides, polusi
industri, rough weather losses, kelangkaan bibit,
kompetisipasarekspor,danmasalahsosial.
3. Tambak
(mullets,milkfish,shrimps,
tilapias)
Rusaknya ekosistem, khususnya mangrov,
menigkatnya persaingan tidak sehat dengan sistem
yang lebih ekstensif, tidak berkelanjutan dengan
pertumbuhan popolasi yang tinggi,
konflik/kegagalan,gangguansosial/.
4. Karambaapung/tancap(carps,
catfish,milkfishtilapias)
Berkurangnya nelayan tradisional, menimbulkan
masalah navigasi lalu lintas kapal, gangguan sosial,
sulit pengelolaannya, dan merusak hutan karena
penggunaankayu.
SEMIINTENSIVE
1. Kolamdantambak
(udang,ikanmas,lele,
bandeng,belanak,nila)
Adaresikokesehatanbagi petanidaripenyakitkutu
air; salinisasi/pemasaman tanah/aquifers. Kompetisi
pasar, ketersediaan/harga pupuk dan pakan,
konflik/gangguansosial.
2. Perpaduanakuakulturdan
pertanian(minapadi;
longyam,dll)

Ada resiko kesehatan dari kotoran yang dijadikan


pakan, bahan berracun dari pakan (misalnya; logam
berat,pestisida)bisaterakumulasidisedimenkolam
dandidagingikan
3. Sewagefishculture(sumber
airdarikolampengolahan
limbahkota;karambadikanal
Resikokesehatanbagipetani,karyawanpengolahan
ikan dan konsumen; penolakan konsemen terhadap
produk
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 11

pengolahanlimbah)
4. Karamba,khususnyadi
kawasaneutrofikataukaya
bentos(ikanmas,lele,nila)
Berkurangnya nelayan tradisional, menimbulkan
masalah navigasi lalu lintas kapal, gangguan sosial,
sulit pengelolaannya, dan merusak hutan karena
penggunaankayu.
INTENSIVE
1. Kolam/tambak(udang; ikan,
khsusnyaikankarnivora,spt;
lele,gabus,kerapu,kakap,dll.)
Buangan limbah tinggi BOD dan TSS,
konflik/gangguansosial
2. Karamba Akumulasi sedimen yang anoksik dibawah karamba
sehinggaterjadipenumpukkanfesesdansisapakan;
persaingan pasar, konflik/gangguan sosial,
menggunakankayu/materiallainnya.
3. Kolamairderas,silos,bak,dll. Buangan limbah tinggi BOD dan TSS; masalah
spesifikpadaberbagailokasi

Pertimbangan yang dilakukan untuk usaha akuakultur di pesisir yang berdampak


langsungdenganhutanmangrove,antaralain:
1) Membangun tipe akuakultur yang tidak melibatkan penghancuran hutan
mangrove,tetapiberasosiasidenganfloradanfaunasekitar,misalnyakaramba
2) Perpaduan akuakultur dengan kehutanan dengan menanam mangrove
sepanjangtanggultambakataudisekitarareabudidaya
3) Menjagafungsiekosistemberartibahwa:
- Jika memungkinkan membangun sistem akuakultur sudah disediakan untuk
reklamasimangrovedaripadamembabatmangrovebaru
- Sedapatdapatnya hanya sedikit memanfaatkan hutan mangrove atau
membukatambakpadaareadenganhanyasedikitpohonmangrovenya
- Menempatkan lahan akuakultur setelah daerah hutan mangrove sehingga
dapatmenjagabagianproduksiuntukpenangkapan
- Memastikanbahwaareatambahlebihkecildaripadaareahutanmangrove.
4) Memberikan perhatian lebih atas pemilihan lokasi, instalasi desain sistem, dan
managemenoperasionalnya.
1.3. DasarPerancanganSistem
Sebelum memulai sebuah detail desain, penting untuk mendapatkan kriteria
proses terkait dengan spesies ikan yang akan dibudidayakan, sistem yang digunakan,
danlangkahlangkahpraktisyangakandilakukan.Halinimencakupsemuadatatentang
laju pertumbuhan, fekunditas, kelangsungan hidup, dan syarat kualitas air yang
dibutuhkan.
Dalam sistem air mengalir dan resirkulasi, perhitungan tentang aliran air dapat
dihitung menggunakan pendekatan keseimbangan massa. Biasanya, hal inidiasumsikan
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 12

bahwa oksigen terlarut adalah faktor pembatas yang paling utama. Dalam sistem
denganintensitastinggi,faktorpembataskualitasairdapatjugaberupaamonia,karbon
dioksida, dan pH. Tingkat intensitas dalam sistem ini lebih akurat diukur dengan
konsumsioksigenkumulatif(COC)yangmelaluisistemini(Meade1988).PengaruhCO
2
,
pH, dan ammonia dapat juga diabaikan (Colt 1981). Pada sistem air mengalir tanpa
aerasi, faktor pembatasnya adalah pH rendah, oksigen terlarut jika pH netral, dan NH
3

jikapHtinggi.Padasistemdenganpenambahanoksigenmurni,CO
2
bisamenjadifaktor
pembataspadapHnetral.PadasistemterbukadimanaoksigendanCO
2
dapatbertukar
melaluipermukaanair,makaamoniabisamenjadifaktorpembatas.
Walupun sistem kolam nampak sederhana, namun interaksi antara hewan
budidaya, algae, zooplankton, bakteri, proses fisika dan kimianya sangat sulit untuk
dimengerti. Sehingga desain dan operasi kolam masih didasarkan pada informasi
empiris. Penurunan konsentrasi oksigen terlarut adalah masalah serius dalam berbagai
sistemkolamyangdisebabkanolehbeberapafaktor,seperti:
1. FluktuasiDOhariankarenafotosintesisdanrespirasi
2. Algaeyangmati,dimanaprosesdekomposisinyamemerlukanoksigen
MasalahlainjugayangtakkalahpentingnyaadalahpHyangtinggidandagingikan
yangberbaulumpur.
Sistem karamba sangat tergantung pada proses pembersihan alami (gerakan air)
untukmenghilangkan limbahmetabolit dan mensuplai oksigen.Lokasi yang ideal untuk
karamba di laut adalah area yang memiliki pergerakan air yang bagus serta terlindung
dari angin kencang dan gelombang. Banyaknya tiram yang menempel pada jaring
karambaadalahmasalahyangseriusdanmemerlukantindakanpergantianjaringsecara
teratur.Jikakarambaditempatkanpadaperairanyangtenangtidakdapatmeningkatkan
produktifitasnyasamahalnyadengankolamstatistanpapergantianair.
Sistem resirkulasi potensial dikembangkan pada area dengan sumber daya air
yang terbatas atau dekat dengan pasar. Sistem resirkulasi nampak prospektif bagi para
pengusaha. Dibandingkan dengan kolam atau sistem air mengalir, sistem resirkulasi
secara nyata membutuhkan modal dan biaya operasional yang lebih tinggi,
keberhasilannya secara ekonomi dari penggunaan sistem resirkulasi di Amerika lebih
potensial diperuntukkan bagi sistem untuk tujuan penelitian, pendederan, dan jenis
jenisikanyangberhargamahal,sepertiberbagaijenisikanhias.
a. PemilihanMaterial
Desain sistem akuakultur komersil melibatkan pemilihan material yang serius,
khususnya untuk tujuan marikultur. Faktorfaktornya tidak hanya pada masalah fouling
(menempelnya tiram), stress, dan karat, tetapi juga pengaruh logam, senyawa organik
yangmerembesdarimaterialyangdigunakan,atauadsorpsimaterialdariair.Beberapa
plastikdankaretbersifattoksik,biasanyapadamaterialmaterialyangmasihbaru.
b. Reliability(KeyakinanAtasSistemYangDigunakan)
Reliabiliti merupakan kunci dalam desain sistem akuakultur. interupsi air atau
macetnya suplai air selama 1 6 jam dapat menyebabkan kematian total ikan pada
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 13

sistem resirkulasi atau air mengalir. Pada tahuntahun awal operasi, reliabilitas sistem
bisamencapai99.9%tetapimasihadakematianikan.
Masalah operasional cenderung muncul dari dua sumber (Huguenin and Colt,
1989),yakni:
Sumber internal, karena kesalahan desain atau ketidaksesuaian prosedur operasi
dantermasukmasalahdalampemilihanmaterial.Penggunaanklorin,kejenuhangas,
danketerbatasanpengendaliandanmonitoring.
Sumbereksternal,misalnyakarenaadanyapengaruhcuacaatauiklim.
Untuk menanggulangi kegagalan, biasanya pada beberapa sistem menyedian
sumberaircadangan,generator,danberbagaitandaperingatansepertialaram,kontrol
otomatis,dll.
Sistem akuakultur berdasarkan atas keberadaan wadah pemeliharaan, dapat
digolongkanmenjadi:
1. PemeliharaanIkanDalamRuangan(IndoorRearing)
Lebih dari 50 tahun yang lalu, sistem pemeliharaan ikan di dalam ruangan telah
berkembang. Sistem dengan kondisi yang terkontrol di dalam ruangan juga telah
berkembangdalamproduksibibitrumputlaut.Darisegipengetahuanjugaberkembang,
seperti; siklus nutrien, aksi bakteri, dan kimia air sehingga memungkinkan untuk
memelihara ikan baik sebagai sumber makanan maupun sebagai hiasan karena dalam
sistem tertutup seperti ini, air mengalami proses resirkulasi dan filtrasi yang baik. Air
yangbersirkulasimelaluifilteryangmenggunakanbakteriyangsecaraalamaimerombak
dan mendaur ulang limbah yang dihasilkan ikan, sehingga sistem produksi tetap bisa
berjalan pada wadah yang secara total terisolasi dari luar (tertutup). Sistem seperti ini
sangatpentingdalampengendalianpenyakitdanjugamenjagastabilitaskondisiairyang
dibutuhkanolehbeberapaspesiesikanuntuktumbuhdanberreproduksi.

2. PemeliharaanIkanDiLuarRuangan(IndoorRearing)
20 % produksi akuakultur dunia saat ini adalah tumbuhan, terutama rumput laut
yang dibudidayakan di laut menggunakan rakit atau tali. Rumput laut bisa digunakan
langsung sebagai bahan pangan atau sebagai bahan untuk memproduksi alginat atau
karaginan (agaragar). Produksi rumput laut umumnya skala kecil dan dikerjakan oleh
nelayanyangtinggaldipesisir.
Selanjutnya, setengah dari produksi moluska dunia adalah kerangkerangan
(oyster,clam,mussel).Lagilagimayoritasproduksinyaadalahdarisistemskalakecildan
dikerjakan oleh orangorang yang menggabungkan kegiatan menangkap ikan (nelayan)
sambil membudidayakan rumput laut. teknologi pembudidayaan kerang umumnya
menggunakan tali atau rakit untuk mengikatnya. Bibit yang baik bisa diperoleh di
hatchery. Pakan kerang adalah algae mikroskopik sehingga nelayan tidak perlu
menyediakanpakanapapun.

3. SistemAkuakulturdiPesisir
ikan juga dibudidayakan di pesisir dengan menggunakan kolam atau karamba
jaringapung.Karenakemajuanteknologi,adapotensisistemyangdapatdikembangkan
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 14

untuk memelihara ikan di laut terbuka, yakni rumpon (ranching) di mana benih ikan
dilepaskan ke laut dan kemudian dikumpulkan lagi dengan cara dipancing atau dengan
melatihnya untuk merespon suara tertentu. Zona pesisir Asia dan Amerika Latin umum
membudidayakan udang yang umumnya dilakukan di tambaktambak. Udang yang
dipelihara di tambak dengan berbagai kepadatan. Pada kepadatan yang rendah, sistem
hanya memerlukan sedikit input pakan dan pupuk. Semakin tinggi kepadatan, semakin
banyaksuplaipakandanakhirnyadisebutbudidayaintensif,kincirpunharusdiletakkan
ditambakuntukaerasi.


SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 15

II. SISTEMKOLAM
3

Hampir separuh dari akuakultur dunia, bagaimanapun juga adalah


membudidayakanikanikanherbivoredanfilterfeedingdiairtawardengankolamtanah
dan seringkalidijalankan oleh satukepala keluarga, system produksinya sederhana dan
hanya terjadi sedikit perubahan di banyak negara. Pembudidaya menggali tanah dekat
rumah (pekarangan), kadangkadang di daerah sungai, paparan banjir, atau delta
sepertidiIndonesia,VietNam,danNegaraberkembang lainnya.Sumberairkolamdari
hujan,maupunairtanahataudarianaksungaimaupunkanalkanalirigasi.
Sumber benih kadangkadang dari alam, tetapi umumnya pembudidaya
memijahkansendiriuntukmemperolehbenih.Benihbiasanyadidederkandidalamhapa
sampaiukuranyangbaikuntukditebardikolampembesaran.Persiapandankonstruksi
kolam yang baik dan semua komponennya sangat menentukan keberhasilan budidaya.
Kolam yang baik tidak harus mahal konstruksinya, mudah dalam perawatannya, dan
efisiendalammanajemenkualitasairnya.
1. KOMPONENKOMPONENKOLAMIKAN
Meskipun terdapat berbagai macam jenis kolam, namun komponen dan struktur
utamanyasecaraumumadalahsebagaiberikut:
Dindingkolamatautanggul,untukmenahanairtetapdidalam
Pipaatausaluran,untukmenyalurkanairkedalammaupunkeluarkolam
Pengendaliair,untukmengontrolketinggiandanaliranair
Titianataujalurtapak,untukjalan/akseskekolam
Peralatanpanendanperalatanlainnyauntukmanajemenikandanair

3
FAO. 1996. Simple Methods for Aquaculture. FAO Training Series
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 16

2. JENISJENISKOLAM
Kolamdapatdibedakanmenurut:
a. Jeniskolamberdasarkansumberairnya
b. Jeniskolamberdasarkantujuandrainasenya
c. Jeniskolamberdasarkanmaterialkonstruksinya
d. Jeniskolamberdasarkanmetodekonstruksinya
e. JeniskolamberdasarkanKegunaannyadalammemeliharaikan
Karakteristik kolam biasanya sangat ditentukan oleh bentuk dan kondisi lahan di
manakolamdibangun.
a. JenisKolamBerdasarkanSumberAirnya
1. Kolamdengansumberairtanah,terdiriatas2,yakni
Springwater pond, di mana air disuplai dari mata air yang ada di dekat kolam,
suplaiairbisasepanjangtahun,namunkualitasairnyabiasanyakonstan(tetap)

Seepagepond,dimanasumberairberasaldarirembesandidasarkolam,halini
terjadi pada kolam yang dibangun pada tanah yang mengandung banyak air
seperti rawa. Tinggi rendahnya air di kolam bervariasi tergantung pada level
mukaairdibawahtanah.

2. Kolam tadah hujan, di mana airnya berasal dari hujan dan aliran air di
permukaantanah(runoff),tidakadasuplaiairpadamusimkemarau.Kolam
seperti ini biasanya dibangun miring sebelah untuk menahan lebih banyak
air.

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 17

3. Kolam yang diairi dari badan air (ponds can be fed from a water body), kolam
jenis ini airnya bersumber dari sungai kecil (stream), danau, waduk, atau
kanal irigasi. Tipe pengairan kola mini ada yang langsung (misalnya, barrage
pond), di mana aliran badan air langsung masuk ke kolam

Dan ada yang tidak langsung (misalnya, diversion pond), dimana air
dari sungai/kanal irigasi sebelum masuk ke kolam lebih dahulu melalui
saluran kecil yang sengaja dibuat sehingga jumlahnya bisa dikontrol.

4. Kolam Pompa (PumpFed ponds), biasanya kolam seperti ini letaknya lebih
tinggi daripada level muka air, sehingga air harus dipompa dari sumbernya
seperti;sumur,mataair,danau,waduk,dankanalirigasi.

b. JenisKolamBerdasarkanTujuanDrainasenya
1. Undrainageble Ponds, kolam ini tidak dapat dikeringkan secara grafitasi,
biasanya air berasal dari air tanah atau aliran air permukaan (runoff),
sehingga level airnya akan berubah tergantung musim. Kolam ini ada dua
tipe,yakni:
a. Kolam yang digali di daerah rawa (swampy area), di mana tidak ada
sumberairlain,kecualiairtanah(graundwater)
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 18

b. Kolamyangdibentukdenganmenggali/menyingkirkanpasir,kerikil,atau
tanahliat

2. Drainageble Pond, kolam jenis ini biasanya posisinya lebih tinggi dari level
muka air di luar kolam, sehingga mudah untuk dikeringkan secara grafitasi.
Sumber air kolam ini bisa berasal dari mata air, runoff, sungai kecil, atau
pompa(pumpfed).

3. PumpDrained Ponds, kolam ini bisa dikeringkan secara grafitasi pada level
tertentu,kemudiandilanjutkandenganpompaagarbisakeringsecaratotal.
Hal ini hanya bisa dilakukan jika tidak ada air dari dalam tanah yang
merembesmasukkekolam.

c. JenisKolamBerdasarkanMaterial
1. EarthenPonds(kolamtanah),kolamjenisinisemuanyadibuatdaritanah
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 19

2. WalledPonds(Kolamberdinding),kolaminidisekelilingdindingnyaterbuat
darisemen,batubata,batako,ataukayusiring.

3. Lined Ponds, kolam ini adalah kolam tanah yang dilapisi dengan bahan tak
tembusairseperti;plastikataulembarankaret(rubbersheet)

d. JenisKolamBerdasarkanMetodeKonstruksinya
1. DugOutPond,kolaminidibuatdenganmenggalitanahuntukmembuatlubangyang
akan diisi air. Biasanya merupakan kolam tidak terdrainase (undrainageble pond)
dengansumberairdarihujan,runoff,atauairtanah.

2. Embankment Ponds, kolam ini dibentuk dengan tidak menggali tanah, tetapi hanya
membangunsatuatauduatangguluntukmenahanair.Biasanyaairdiisimaupundi
keringkansecaragrafitasi,mengikutialiranairsungai,ataudenganpompa.
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 20

3. CutandFillPonds,pembuatankolaminimerupakankombinasiantaramenggalidan
jugamembuattanggul(embankment)padapermukaantanahyangmiring.Biasanya
kolam ini mudah drainasenya dan air dimasukkan dengan pompa maupun secara
grafitasi.

f. JeniskolamberdasarkanKegunaannyadalammemeliharaikan
Terdapat banyak tipe kolam dalam kegiatan akuakultur, masingmasing
digunakanuntuktujuantertentu,yakni:
1. Kolampemijahan,untuktujuanproduksitelurdanbenih
2. Kolampendederan,untukmemproduksianakan(juvenile)
3. Kolampembesaran,untukmemproduksiikanhinggaukurankonsumsi
4. Kolaminduk,untukpersiapandanpematanganinduk
5. Kolam penampungan sementara, untuk menampung ikan sebelum
dikirim/dijualkepasar
6. Kolamterpadu,misalnya;minapadi,longyam,akuaponik,dll
7. Kolampenampunganselammusimdingin(khususdikawasansubtropics)
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 21

3. TIPETIPEKOLAM
Pada dasarnya hanya ada 3 tipe kolam, di mana sangat tergantung pada cara
kolam itu dibangun sesuai dengan kondisi lahan yang tersedia, tipe kolam tersebut
dapatdikelompokkan,sebagaimanaditunjukkanolehtableberikutini:
Tipedasar
Kolam
Suplaiairutama
Draining MetodeKonstruksi
Airtanah Airpermukaan pompa
Seep
age
Spring
Hujan/
runoff
direct
In
derect
Beragam
sumber
Un
Drain
able
Drain
able
Pum
ped
Dug
out
Em
bank
ment
Cut
and
fill
a. Sunken
pond
Suplaiair
tunggal
Ada
kombinasi
suplaiair

Slope
graund
b. Barrage
Pond
Tanpa
saluran
pembagi
Dengan
saluran
pembagi
Pengairan
secaraseri

dam

c. Diversion
Pond
Pengairan
secaraseri
Pengairan
secara
paralel

Flat
graound

Flat
graound

=umumdigunakan
=tidakumumdigunakan
a. SunkenPond(KolamCekungan)
Ciricirikolamtipeiniadalah:
Umumnyalantaikolamlebihrendahdaripadatanahdisekitarnya
Kolam bisa diairi langsung dari air tanah, hujan/runoff, tetapi normalnya
ditambahkandenganairyangdipompa
Kolam ini tidak bisa dikeringkan atau hanya bisa dikeringkan sebagian dibangun
dengan metode dugout atau menggunakan cekungan tanah dan terkadang
diberisedikittangguluntukmenambahkedalamkolam.

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 22

Contohsunkenpondyangdibangundisebuahlembah

b. BarragePond(KolamBendungan)
Ciricirikolamtipeiniadalah:
Dibuat di dasar lembah dengan cara membendung aliran air di ujung lembah
yang lebih rendah. Biasanya dibangun secara seri bertingkattingkat mengikuti
konturlembah.
Kolambendunganinidapatdikeringkanmelaluibadansungaidibawahnya
Jika banir besar datang, kelebihan air biasanya dibagi ke sisi lain kolam untuk
menjaga level air tetap konstan. Saluran pembagi ini dibangun untuk tujuan
suplaiairdapatdikontrolmelaluistrukturyangdisebutwaterintake
Pengairannya langsung dari mata air, anak sungai, atau waduk terdekat. Air
masukkekolampadatitikinletdanterusmengalirhinggatitikoutlet.
Untuk menghindari meluapnya air saat banjir, maka harus dibuatkan lubang
alternatif(spillway)
Contohkolambendungan(Barragepond)
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 23

Barrage pond di lembah berbentuk V


tanpasaluranpembagi
Barrage pond di susun seri dengan saluran
pembagi

c. DiversionPond(KolamPengalihan)
Ciricirinya:
Kolamtipeinidialiriairlangsungsecaragrafitasiataudenganpompamelalui
saluranpembagi(yangbergunadalammengalihkanairdarisumberutama),
dari mata air, anak sungai, danau, dan waduk. Aliran air dikontrol melalui
pintumasuk.Terdapatinletdanoutletpadasetiapkolam
Diversion pond ini dapat dibangun pada lahan miring seperti cutandfill
pondataudilahanyangdatarsepertisawahdengantangguldisekelilingnya.
Biasanyadapatdikeringkanmelaluisalurandrainase.

Contohdiversionponddilahandatar Contohdiversionponddilahanmiring

4. KELEBIHANDANKELEMAHANDARISEMUATIPETIPEKOLAMTERSEBUT
Tipe Kelebihan Kelemahan
SunkenPond
Tidakmemerlukan
tanggulkecualiuntuk
Levelairsangatbervariasitergantung
musim
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 24

perlindungandaribanjir
Tidakperlubadanair
untukmensuplaiair
MembuatnyaHanya
memerlukansedikit
keterampilan

Memerlukanlebihbanyakkerjauntuk
menggali
Tidakdapatdikeringkan,suplaiair
tidakterkontrol,selaindipompa
sehinggamahal
Produktifitasrendahdariairtanah
Manajemennyasulit
BarragePond
mudahmendesain
salurankecil
biayakonstruksirelatif
kecilkecualiada
masalahpenahanbanjir
produktifitasalami
tinggi,menurutkualitas
suplaiair
perluhatihatimembuattanggul
Memerlukanspillwaydansaluran
drainase
Tidakadakontrolairyangmasuk
(kuantitas,kualitas,danikanliar)
Tidakdapatdikeringkansempurna
kecualimusimkering
Manajemennyasulit(misal,
pemupukan,pemberianpakan)karena
suplaiairbervariasi
Ukurandanbentuknyairregular
DiversionPond
Mudahmengontrol
suplaiair
Memungkinkanuntuk
managemenkolam
yangbaik
Dapatdikeringkan
sempurna
Memungkinkanuntuk
bentukdanukuran
yangregular
biayakonstruksilebihtinggidaripada
barragepond
produktifitasalamibaiksecara
topografijikadibangunditanah
5. KARAKTERISTIKFISIKKOLAM
kondisifisikkolamikandapatdigolongkanmenjadi;ukuran,bentuk,dan
kedalamannya.
a. Ukurankolam(size)
b. Bentukkolam(shape)
c. KedalamanKolam(waterdepth)

a. UkuranKolam(size),
Ukurankolamdapatdiukurmelaluiareapermukaanairketikakolamterisipenuh

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 25

Ukuranuntukkolambendungan(barragepond)tergantungpadatinggi
tanggulyangdibangunmelintangilembahdantopografilembahitusendiri.
Panjangdanlebarkolamdapatdihitungdariprofillongitudinaldanprofil
penampangmelintanglembah.
Ukuranbarrageponddantinggibendungan

Untukukuransetiapukuranindividusunkenponddandiversionpondditentukan
olehpetaniitusendiri,berdasarkanfaktorfaktorberikut:
Kegunaan,kolampemijahanlebihkecildaripadakolampendederan,dan
kolampendederanlebihkecildaripadakolampembesaran
Jumlah ikan yang diproduksi, kolam hanya untuk kebutuhan seharihari
(subsistence)lebihkecildaripadakolamuntukskalakomersial.
Level manajemen, kolam intensif akan lebih kecil daripada kolam semi
intensif,dankolamsemiintensiflebihkecildaripadakolamekstensif
Ketersedia sumberdaya, tidak perlu membuat kolam yang lebih besar,
jikatidaktersediacukupsumberair,bibit,pupuk,danpakan.
Ukuran ikan saat panen dan kebutuhan pasar lokal, kolam yang sangat
besar, meskipun hanya dilakukan panen secara bertahap, dapat
mensuplaiterlalubanyakikanuntukpasarlokal.

Ukurankolampembesaransemiintensif
4

Typeofpond Area(m
2
)
Subsistenceponds 100400
Smallscalecommercialponds 4001000
Largescalecommercialponds 10005000

UkurankolamterkaitdenganKetersediaansumberdaya
Sumberdaya KolamKecil KolamBesar
Air Kuantitas sedikit; cepat diisi dan Kuantitas lebih besar, lebih

4
Kolam semi-intensif =ada perlakuan pemberian pupuk dan pakan tambahan
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 26

dikeringkan lambatdiisidandikeringkan
bibit Jumlahsedikit Jumlahlebihbesar
Pupuk/pakan Jumlahsedikit Jumlahlebihbesar
Pasar Panensedikit,untukpasarlokal Panen banyak, untuk pasar di
kota

Catatan : ketika mendesain sebuah kegiatan budidaya dengan beberapa kolam


pembesaran, perhatikan bahwa biaya konstruksi berkurang ketika ukuran
kolam meningkat, dan bahwa perlu perbaikan manajemen ketika jumlah
kolammeningkat.

b. BentukKolam(shape)
Bentuk kolam bisa jadi memiliki berbagai bentuk, sebagaimana diketahui bahwa
barrage pond bentuknya sangat tergantung pada topografi lembah di mana kolam
tersebutdibangun.

Pada umumnnya, untuk


kolam sunken pond dan
diversion pond didesain
dengan bentuk yang biasa
kita lihat, seperti berbentuk
bujur sangkar atau persegi panjang. Untuk ukuran kolam yang sama, panjang total
tanggul secara reguler meningkat karena ada perubahan bentuk dari bujur sangkar
menjadi persegi panjang. Sehingga biaya konstruksi menjadi lebih mahal.
Perbandingannyaditunjukkantabelberikutini.
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 27


Kitajugabisamengetahuibahwa kolampersegipanjangtidak akanterlalu mahal
jikadibangunsecaraberkelompok(disekatsekat).

Jikabentukkolambujursangkar:
Karenabentukkolamsepertiinilebih
murah,kolambujursangkarsangatberguna
khusus untuk kolamkolam lebih kecil
(maks. 400 m
2
), yang mana direncanakan
proses pemanennya dapat dikeringkan
secaratotal.

Jikabentukkolampersegipanjang:
lebih baik membangun kolam berbentuk
persegipanjang,jika:

P
S
p
l
d
m
d

Ukur
Untu
deng
PemilihanKo
Secara umum
panjanglebih
lebarnya (L).
dengan bu
membuat le
denganlebar
Jikake
yang le
tidak t
Karena
dihinda
ankolamyan
k ukuran ko
anjaringtari
olamPersegi
m, panjang
hpanjangdua
. tetapi jika
lldozer, aka
ebar kolam
rpisaubulldo

emiringanlah
ebih panjang,
erlalu tinggi
a lahan lebih
arimembang
ngdibangun>
lam > 100 m
k
Panjang
(P) kolam p
akalilipatda
membuat
an lebih m
berganda
zer.
hanlebihdari
, karena leba
dan agar tan
h miring, ma
untanggulle
SumoharjoS.
>400m
2
diat
m
2
tetapi dir
persegi
ripada
kolam
murah
sesuai
i1,5%:kolam
arnya terbata
nah yang dig
ka kolam me
ebihdari3me
Sistem
.Pi.,M.Si.J.B
tastanahden
rencanakan u
mlebihbaikd
s. Agar tangg
ali bisa untu
enjadi lebih
eter.
mTeknologi
DP.FPIKUnm
ngankemiring
untuk melaku
dibangunden
gul yang men
k penyeimba
sempit, sehi
Akuakultur
mul 28
gan1,5%
ukan panen
nganbentuk
nuruni bukit
ang tanggul.
ingga harus


SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 29

Memilihbentukkolamterkaitdengantopografi:
Alasannpemilihanbentukkolamyangharussesuaidengantopografilokal,ketika:
Inginmemanfaatkansetiapbagiandariareayangtersedia
Ingin menghemat biaya konstruksi, karena bentuk kolam tinggal memanfaatkan
tepianataukemiringantanah
Bentukkolamregulertidakterlaludipentingkan

c. KedalamKolam
Selain kolam bendungan (barrage pond) yang dibangun menuruni bukit, kolam
ikanumumnyadangkal.Kedalamanmaksimumnyatidaklebihdari1,5meter.Area
yang paling dangkal
sekurangkurangnya
0.5 meter untuk
membatasi
pertumbuhan tanaman
air. Kedalaman kolam
kolamikanyangkecildipedesaannormalnyabervariasiantara0.5 (areadangkal)
sampai1m(areayangdalam).
Kolam yang lebih dalam biayanya lebih mahal, karena volume tanggul menjadi
lebihbesar.
Namundemikian,terkadangjugapentinguntukmembuatkolamlebihdalam,jika
; kolam dibangun di daerah kering dan atau di kawasan subtropis, yang berguna
agarikanbisamenghindarisuhuyangdingin(padamusimdingin).
Karakteristikkolamberdasarkankedalamannya
KolamDangkal KolamDalam
Suhuairmeningkatlebihcepat Airlebihhangatpadamusimdingin
Fluktuasisuhulebihbesar Suhuaircenderungstabil
Rentanterhadappredatorsepertiburung Kurangtersediapakanalami
Pertumbuhantanamanairlebihbesar Sulitmenjaringikanpadaairyangdalam
Hanyamemerlukantanggulyangkecil
Diperlukan tanggul yang lebih kuat dan
tinggi


SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 30

III.TEKNIKAKUAKULTUR

1.1. PerkembanganTeknikAkuakultur
Parapembudidayatelahmengembangkanataumengadaptasikanberbagaiteknik
khususuntukmemperbaikioperasimereka.Beberapateknikberasaldaribidanglaindan
ada yang diperoleh dari para pembudidaya dan teknisi yang kompeten. Teknikteknik
tersebut mulai dari trik lapangan yang sederhana seperti membasahi tanah dan
menggulungnya menjadi bentuk memanjang untuk mengujinya apakah terdapat cukup
tanah liat untuk menahan air di tanggul kolam hingga bioteknologi canggih seperti
transfergen.karenasektorakuakulturberkembangkekawasanbaru,spesiesbaru,dan
untuk mencapai kontrol lebih dari sekedar siklus hidup organisme budidaya, para
pembudidaya telah membuktikan bahwa mereka sangat inovatif dalam memberikan
solusiuntukmasalahbaruyangmerekahadapi.
Sebagai contoh ikanikan jenis mas pada awalnya terbatas pada kisaran kawasan
spesies masingmasing, di mana benihnya dapat ditangkap dari sungaisungai atau
kolam pemeliharaan. Studi tentang bagaimana suhu berubahubah sepanjang hari dan
faktor lain yang mempengaruhi siklus reproduksi ikan sehingga menimbulkan
kemampuan berkembang biak ikan mas yang jauh dari perairan aslinya di mana pada
kondisi alami tidak akan membuatnya memijah. Manipulasi suhu air dan lama
penyinaran pada siang hari tetap penting dalam keberhasilan produksi perbenihan dari
berbagaispesiesikanbudidayasaatini.
Ketika hormondapatdiidentifikasidan perannyabisadiketahuidalamvertebrata
tingkat tinggi seperti ikan, pembudidaya mulai melakukan percobaan juga dengan
mengekstrak hormon yang memproduksi organ pada ikan dan didapatkan bahwa
perkembangan telur dan pemijahan dapat dipacu untuk semua spesies melalui
penyuntikan ekstrak hormon dari kelenjar pituitary. Teknikteknik tersebut telah
digunakan saat ini untuk memproduksi ikan seperti; mas, salmon, dan ikan air tawar
lainnya. Kerangkerangan dan moluska lainnya memproduksi telurnya melalui
manipulasi suhu sedangkan udang dibuat untuk mengembangkan ovarinya dengan
membuang kelenjar yang menghasilkan hormon inhibitory yang terletak pada mata.
Hormon juga digunakan dalam proses pembalikan kelamin ikan tilapia (nila) untuk
memproduksipopulasijantanyangmenghasilkanproduksilebihbaik.
Terdapat sebuah periode singkat pada awal kehidupan ikan ketika diferensiasi
kelaminnya belum sempurna sehingga dengan memberikan pakan yang mengandung
hormon testosteron dapat mengarahkannya untuk berkembang dengan sifatsifat
jantan.
Beberapa jenis ikan diurut untuk mendapatkan telur dan sperma dalam proses
pembenihandanfertilisasinyaterjadisecaraeksternal.Biasanyadilakukandalamsebuah
mangkokdimanatelurdanspermadicampurkan.Untukudangtidakdapatdengancepat
matang dalam masa penangkaran sehingga dilakukan inseminasi buatan dengan
mengekstrak kapsul sperma dari jantan dan memasukkannya ke dalam betina yang
sudahmatangovariumnyauntukmenggantikanprosespematangansecaraalami.
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 31

1.2. KehandalanPenyediaanPakan
Pada tahap awal dalam berbagai budidaya hewan memerlukan pakan khusus
untuk bisa bertahan hidup dan membutuhkan berbagai macam teknik yang telah
dikembangkan untuk menghasilkan pasokan pakan yang terpercaya, baik pakan hidup
atau bukan untuk menyokong kegiatan pembenihan. Spesies tertentu dari algae
mikroskopik dipilih dari ribuan spesies yang hidup di air laut maupun tawar dan
ditumbuhkan di dalam bak dengan campuran nutrien yang sesui untuk membuatnya
berkembangbiak.Algaeinikemudiandiberikankepadalarvalarvaudangmaupunikan.
Banyak ikan atau udang budidaya memerlukan hewan mikroskpik hidup pada
tahap tertentu dari perkembangannya dan tipe pakan yang dibutuhkan bisa sangat
spesifik. Para pembudidaya telah menemukan bahwa hewan seperti artemia dan
rotifera dapat memenuhi kebutuhan ini dan telah dikembangkan teknikteknik untuk
memeliharanya sampai pada level yang lebih canggih. Artemia adalah udang kecil
seperti mahluk yang tumbuh di danau asin di Utah , USA dan Iran. Ketika kandungan
garam meningkat hingga level tertentu, artemia kembali membentuk kista telur
sehingga kemudia bisa disimpan dalam bentuk kering selama beberapa tahun. Dan
sewaktuditaruhdiairlagi,artemiamenetasdaninitelahdibuktikansebagaipakanideal
untuktahapawalberbagaijenisikandanudang.
Karena masalah biaya dalam pemeliharaan pakan hidup, maka berbagai teknik
telah dikembangkan untuk menghasilkan pakan buatan dengan kerapatan yang sesuai
untuk dapat mengapung di air, rasa yang tepat dan menarik, kandungan nutrien yang
tepat untuk pertumbuhan dan sintasan. Vitamin larut terlalu cepat, maka banyak
metodetelahdikembangkanuntukmembungkusvitamindenganmikrokapsul.
Di kolam, sangat sulit untuk dapat melihat berapa banyak ikan yang makan atau
yang lepas, seperti di peternakan ayam, maka beberapa teknik telah dikembangkan
untuk dapat memastikan bahwa ikan atau udang bisa makan dengan baik, sehingga
pakan tidak terbuang percuma. Misalnya, pemberian pakan dengan tempayan telah
dilakukansehinggabisadicekberapapakanyangtersisa.Dalamkaramga,petanisaatini
sudahadayangmenggunakankamerabawahairuntukmelihatapayangterjadi.
1.3. MasaDepanTeknikAkuakultur
Banyak teknikteknik penting dari usahan budidaya terkait dengan sektor
kesehatan, mengisolasi sampel air dan jaringan pada agar untuk menguji bakteri atau
fungi, pemakaian mikroskop elektro, dan DNA untuk memeriksa virus, pemakian
antibiotikataubakteriyangbaikuntukmenjagakondisiairtetapbaik.Sehinggasaatini
sudah ada bidangbidang kajia seperti cryogenics, yakni pembekuan telur, sperma, dan
embrio pada suhu ultra rendah untuk disimpan supaya bisa digunakan kemudian.
Pemakaianbahananastetis(bius)ataupenurunansuhuuntukmenenangkanikandalam
proses transportasi, merendam udang segar ke dalam campuran antioksidan agar
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 32

kesegarannyatahanlama.Tekniktekniktersebutsangatbergunauntukakuakulturyang
terusberkembang.

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 33

VI.SISTEMAKUAKULTURTERPADU
(INTEGRATEDFARMING)

1. SistemKolamIkanTerpadu
Memproduksi ikan di kolam dapat dengan mudah dipadukan dengan produksi
komoditas pertanian lainnya, khususnya pada lahan yang miring. Kosepnya adalah
sebagaiberikut:
Untuk lahan miring, jika terdapat hutan di bagian hulu akan menghasilkan kayu,
bahanbakardanmakanan.Hutanakanmelindungitanahdarierosi.
Wadukbisadibangundibagianhuluuntukmenampungairsebagaipersediaanpada
musimkemarau
Selanjutnya, dibagian yang lebih rendah, kolam ikan bisa dibangun. Berbagai jenis
hewan bisa dibangun di dekat kolam ikan yang akan berguna untuk menghasilkan
pupukkandangbagikebutuhankolamikan.
Airdarikolamikanbisadigunakanuntukmenyiramberbagaitanamandikebunyang
adadisekitarkolam.
Lumpur yang mengendap di dasar kolam bisa secara periodik diangkat dan
dimanfaatkanuntukpupukorganikbagitanaman.

Dikawasan akuakultur,kitabisa mengkombinasikan dua sistemproduksidalam


duakelompokkolamsecaraterpisah,yakni:
Sistem intensif, di mana ikan dipelihara dengan kepadatan tinggi dan
pertumbuhannyadijamindenganpemberianpupukdanpakanyangcukup.
Sistem ekstensif, di mana ikan dipelihara dengan kepadatan yang rendah,
pertumbuhan ikan hanya mengandalkan pakan alami. Produksi pakan alami di
kolam ekstensif ini dipacu dengan cara mengalirkan air yang kaya nutrien dari
sistemintensif.
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 34

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 35

2. SistemPolykultur
3. SistemAkuaponik
4. SistemMultitrofikTerpadu


SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 36

VII. TEKNIK FILTRASI DALAM PRODUKSI AKUAKULTUR


BERKELANJUTAN
5



7.1. Pendahuluan
Akuakultur adalah sektor produksi pangan yang berkembang dengan cepat,
denganrataratapertumbuhan8.9%pertahun,jikadibandingkandenganpenangkapan
hanya 1,2 % dan produksi daging hewan darat yang hanya 2.8 % pada periode yang
sama (FAO, 2004). Dibandingkan dengan akuakultur, penangkapan secara keseluruhan
sudah tidak berkembang, meskipun belum menurun hingga era 1990an, tetapi secara
umumstokperikananlautsudahoverfished.menurunnyastokperikananlautduniadan
pertumbuhan populasi manusia adalah harga yang harus dibayar oleh pertumbuhan
akuakultur selanjutnya. Di samping itu, sektor produksi akuakultur masih harus
meningkat 5 kali lipat lagi untuk dua dekade berikutnya sehingga dapat memenuhi
kebutuhanproteinminimumuntuknutrisimanusia(FAO,2004).
Perkembangan industri akuakultur secara intensif diikuti oleh peningkatan
dampak lingkungan yang ditimbulkannya. Proses produksi menghasilkan sejumlah
polutan yang terdiri atas feses dan pakan yang tidak termakan (Read and Fernandes
2003). Limbah yang dikeluarkan akuakultur keperairan umum mengandung nutrien,
berbagai senyawa organik dan anorganik seperti; ammonium, fosfor, karbon organik,
dan bahan organik lainnya (Piedrahita, 2003; Sugiura et al., 2006). Level nutrien yang
tinggi mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan perairan, bahkan memicu
timbulkanspesiespatogen(Thompsonetal,2002)
Untuk memproduksi 1 kg ikan memerlukan 13 kg pakan (asumsi FCR 13)
(Neyloretal,2000).Sekitar36%pakandikeluarkandalambentuklimbahorganik(Brune
et al, 2003). Kurang lebih 75 % dari pakan berupa N dan P yang tidak dimanfaatkan
berupa limbah di air (Piedrahita, 2003; GutierrezWing and Malone, 2006). Sistem
akuakultur intensif yang memproduksi 3 ton ikan nila setara dengan 50 penduduk
manusia dalam suatu komunitas (Helfman et al 1997). Hal ini dapat dikatakan bahwa
biomassa ikan hidup kirakira menghasilkan limbah 5 kali lebih banyak daripada
biomassa manusia. Alasannya adalah ruang lingkup kecernaan ikan yang terbatas
sehingga sebagian besar pakan tidak dapat dicerna dengan baik dan dibuang
(Amirkolaie, 2005). saluran pencernaan ikan pendek dan rasio panjang saluran
pencernaannyasangatkeciljikadibandingkandenganpanjangtubuhnya(Hertrampfdan
PiedadPascual, 2000). Sebagai contoh, usus ikan mas 2.02.5 lebih panjang dari
tubuhnya,sedangkandomba30kalilebihpanjang.Ususmanusia34kalilebihpanjang
daritubuhnya.Konsekuensinnyaadalahpadaikanwaktutinggalmakanandalamsaluran
pencernaannya lebih pendek. Untuk alasan inilah pakan yang diberikan kepada ikan
harus memiliki tingkat kecernaan yang tinggi. Secara khusus, tubuh ikan mengandung

R Crab, Y Avnimelech , T Defoirdt, P Bossier, W Verstraete. 2007. Nitrogen Removal Technique in


Aquaculture for sustainable production. Review article. Aquaculture J ournal. 270 : 1 - 4

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 37

6575% protein (Hertrampf dan PiedadPascual, 2000). Selain itu, ikan memanfaatkan
proteinuntukpertumbuhan,tidaksepertihewandaratyanglebihbanyakmenggunakan
karbohidrat dan lemak (Hepher, 1988). Maka dari itu kebutuhan protein untuk ikan
sekitar 23 kali lebih banyak daripada mamalia. Ammonium adalah salah satu produk
akhir dari metabolisme protein
+
4
NH (ammonium) dan NH
3
(ammoniak)
kesetimbangannya tergantung pH dan suhu, jumlah dari keduanya disebut total
ammonium nitrogen (TAN).
+
4
NH bisa toksik terhadap ikan, tetapi NH
3
lebih beracun,
karenatidakdapatdikeluarkandanlarutdalamlemaksehinggadapatmasukmenembus
membranbiologisdibandingkandengan
+
4
NH (Krneretal,2001).
+
4
NH Ntoksikpada
konsentrasi di atas 1.5 mg N/L, pada berbagai kasus NH
3
yang masih dapat ditoleransi
dalamsistemakuakulturadalah0.025mg/L(Chenetal,2006).Namundemikian,tingkat
toksisitasnya sangat tergantung pada kekuatan spesies, ukuran, padatan, degradasi
organik,senyawaaktifpermukaan,logamberat,dannitrat(Colt,2006).
Sebagai acuan atas sejumlah besar limbah yang dihasilkan, penggunaan tepung
danminyakikansebagaibahanutamapakanadalahhalyangtidakberkelanjutandalam
produksiakuakultur.sekitarsepertigadariproduksiikanduniadikonversimenjadipakan
untukakuakultur(Delgadoetal2003).Proporsisuplaitepungikanyangdigunakanuntuk
memproduksi ikan akuakultur meningkat dari 10 % pada tahun 1988 menjadi 17 % di
tahun 1994, dan 33 % pada tahun1997 (Naylor, et al 2000). Dengan demikian,
akuakultur bisa menjadi solusi bagi kekurangan protein dunia, tetapi juga bisa menjadi
promotor bagi hancurnya stok perikanan di seluruh dunia. Rasio ikan liar dengan ikan
budidaya untuk ikan nila adalah 1.4:1 dan 5.16 : 1 untuk ikan laut (Naylor et al, 2000).
Pembelian atas pakan untuk akuakultur menghabiskan lebih dari 50 % dari ongkos
produksi, ini terutama merupakan biaya komponen protein (Bender et al, 2004). Rata
rata 25 % dari input protein ini dikonversi menjadi daging ikan (Avnimelech dan Ritvo,
2003). Dengan demikian, untuk membuat peningkatan keberlanjutan dari produksi
akuakultur, maka penelitian untuk sumber protein murah dengan efisiensi FCR yang
lebihtinggisangatdiperlukan.

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 38

7.2. PenyisihanNdiluarunitbudidaya
Pada umumnya perbaikan kualitas air dalam sistem akuakultur terbagi atas
beberapa tipe perlakuannya, yakni; (1) perlakuan dengan kolam tanah/tandon dan (2)
kombinasi pemisahan partikel padat dan bak nitrifikasi sebagaimana yang digunakan
dalam istalasi pengolahan limbah domestik. Perlu dicatat bahwa penyisihan nitrogen
sebenarnyaadalahdenganmelibatkanprosespelepasanataufiksasinitrogenkembalike
atmosfir(VanRijnetal,2006),namunhalinitidakakandibahasdisini.
a. Perlakuandengankolamtanah/tandon
Prosedurperlakuaninimemilikihubunganlangsungdenganresirkulasiairantara
kolamproduksidankolamperlakuan.Limbahnutriencairdarikolamproduksidibiarkan
mengendap beberapa jam dalam kolam pengendapan untuk mengalami proses
perombakan secara alami baik fisik, kimia, maupun biologis sehingga kualitas airnya
membaik sebelum digunakan kembali untuk proses produksi (Hargreaves, 2006).
Parameter utama dalam sistem ini adalah waktu tinggal (hydraulic retention time),
pencampuran/homogenasidikolamperlakuan,danaerasiberkalapadasedimenkolam
melalui drainase. Penggunaan kolam perlakuan seperti ini akan menghadapi hambatan
akibat dari algae yang mati/membusuk dan proses anaerobik di sedimen (Van Rijn,
1996). Kerugian utama pada sistem ini adalah proses nitrifikasi yang tidak stabil dari
fluktuasi biomassa yang tidak dapat diprediksi dan spesiasi dalam kolam perlakuan
(Hargreaves, 2006). Keuntungan utamanya adalah bahwa mikroalgae yang tumbuh
dalam kolam percobaan dapat digunakan untuk memproduksi organisme lain seperti
kerangatauArtemiayangbisamenjadipenghasilantambahan(Wang,2003).
Konfigurasi sistem yang memungkinkan adalah membandingkan produksi ikan
denganasimilasinutrienolehmoluskaatautanamanair.Disininutrienyangdilepaskan
darisistemakuakulturakandikonversikedalambiomassatanamanatauorganismelain
sehinggadenganmudahdapatdihilangkandanbisamenjadiprodukikutanyangbernilai
ekonomis. Nutrien yang diasimilasi oleh tanaman fotoautotrof dapat digunakan untuk
mengembalikanlimbahyangkayanutrieninikedalamsumberlainyangmenguntungkan
(Neorietal,2004).
Biofiltrasi dengan tumbuhan ini menghasilkan sebuah ekosistem mini yang
seimbang. Tumbuhan autotrof bertentangan dengan ikan/udang dan mikroba
heterotrof, tidak hanya berdasarkan atas kebutuhan nutrien tetapi juga kebutuhan
oksigen,pH,danCO
2
(Neorietal,2004).Hasilnyaadalahbiofiltrasidengantumbuhanini
dapat mengurangi dampak lingkungan akibat kegiatan produksi di sistem akuakultur.
dewasa ini pendekatan akuakultur intensif terpadu telah dikembangkan dari prinsip
polikultur ekstensif, perpaduan budidaya ikan/udang dengan tanaman sayur,
mikroalgae,avertebrate,dantanamanair(Neorietal,2004).Melaluipembagianproses
produksi ke dalam beberapa tahap, sehingga kita dapat meningkatkan biomassa dalam
sistemdanmemperbaikiefisiensipenggunaanfasilitasfisik(Wangetal,2003).


SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 39

b. ProsesFiltrasi
Metode perlakuan yang digunakan dalam pengolahan limbah cair akuakultur
diklasifikasikan dalam proses fisika, kimia, dan biologis. Pada unit operasi fisik,
penyisihan partikel padat dilakukan dengan cara pengendapan atau filtrasi mekanis
(padatanterlarutdantidakterlarut)(VanRijn,1996).Duatipefiltermekanisadalahfilter
saring (screen) dan media filter berupa butiran (granular), keduanya digunakan untuk
padatan yang tak terlarut (Franconava et al, 2004). Untuk penyisihan protein (protein
skimming) menggunakan fraksinasi busa dengan memberi tekanan pada udara (air
stripping)(Hussenot,2003).
Pada unit proses kimiawi yang biasanya digunakan setelah proses fisika dan
sebelum proses biologis. Kerugian proses kimia ini karena menggunakan bahan aditif
yang biasanya tetap berada di sebagian besar air, sehingga menjadi masalah yang
signifikan pada air yang akan digunakan kembali. Proses kimia yang umum digunakan
dalam akuakultur adalah disinfeksi menggunakan ozon (Summerfelt, 2003). Disinfeksi
dengan irradiasi ultra violet bisa menjadi alternatif karena tidak menggunakan bahan
kimiaikutanyangberracun(Hassen,etal2000).
Proses biologis adalah salah satu bagian yang paling digunakan dalam kegiatan
akuakultur dan yang utama dari proses biologis ini adalah nitrifikasi. Nitrifikasi terjadi
dalam berbagai sistem yang dapat dikelompokkan dalam dua tipe, yakni; sistem
terapung/setengahtenggelam(contoh;rotatingbiologicalcontactor,dantriclingfilter)
dan sistem tenggelam fixed film filter (contoh; fluidized bead reactor dan bead filter)
(MallonedanPfeiffer,2006).

Proses nitrifikasi oleh bakteri di biofilter dipengaruhi oleh berbagai faktor,


seperti; konsentrasi oksigen, bahan organik, suhu, pH, alkalinitas, salinitas (Chen et al,
2006). Bakteri nitrifikasi adalah mikroorganisme yang sangat sensitif dan sangat mudah
dipengaruhi oleh berbagai faktor penghambat, misalnya; konsentrasi ammonia yang
tinggi, konsentrasi oksigen rendah (< 1 mg/L), dan pH pada kisaran optimal (7.5 8.6)
(LingandChen,2005).Nitrifikasisecarakhususpadalangkahkedua(NO
2
NO
3
)sangat
sensitif terhadap sulfida (Joye dan Hollibaugh, 1997). Sulfida terdapat di sedimen dan
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 40

limbah yang terakumulasi. Pada rasio C/N yang tinggi, bakteri heterotrof akan muncul
danbersaingdenganbakterinitrifikasidalamhalpengambilanoksigendanruangdalam
biofilter(Michaudetal,2006).Dengandemikian,nitrifikasilebihbaikpadakondisirasio
C/Nyangrendah
Rotating biological contactor telah beberapa dekade digunakan dalam instalasi
pengolahan limbah, saat ini telah secara luas digunakan untuk filter nitrifikasi dalam
akuakultur.Teknologiiniberdasarkanpadaperputaran(rotasi)substratyangtenggelam
yang terbuat dari polystyrene atau polyvinil klorida dengan kepadatan tinggi yang
dipasang pada sebuah lingkaran tipis (Brazil, 2006). Bakteri nitrifikasi akan tumbuh di
mediatersebutdankarenaadanyaputaran,bakterisecarabergantianakanbersentuhan
dengan air dan udara, sehingga terjadi pertukaran CO
2
dan oksigen dari udara yang
dihasilkan oleh bakteri. Secara umum RBC terbagi atas beberapa kompartemen yang
menghasilkan pola plugflow sehingga meningkatkan efisiensi penyisihan limbah secara
keseluruhan,danmemilikiberbagaikondisidimanamikroorganismeakantumbuhdalam
berbagaitingkatan(WattendanSibrell,2006).RBCsistemmemilikikeuntungandengan
rendahnya energi yang dibutuhkan untuk menggerakkan air melewati vessel sehingga
menjadi aerasi pasif dan
menghilangkan karbon
dioksida, serta rendahnya
penyumbatan (Brazil, 2006).
Menurut Miller dan Libey
(1986) bahwa sistem RBC
dapat menghilangkan TAN
0.190.79 g TAN/m
2
. Basil
(2006) menyebutkan bahwa
RBC dapat menhilangkan TAN
sebesar0.42g/m
2
/hari.
Trickling filter terdiri
atas medium yang menyatu
(fixed bukan butiran) yang
mana air mengalir di atas lapisan biofilm yang tumbuh di medium. Karena air mengalir
secara tipis, maka air secara kontinu teroksigenasi sedangkan karbon dioksida
dilepaskan ke udara. Luas area permukaan beberapa media filter yang digunakan
berkisar 1001000 m
2
/m
3
, misalnya; rumput finturf buatan (284 m
2
/m
3
), kaldnes ring
(500 m
2
/m
3
), norton ring (220 m
2
/m
3
), dan leca/tanah liat (5001000 m
2
/m
3
) (Timmons
etal,2006).Materialorganikyangmasukke/.,nmbdalambiofilterakandiadsorpsioleh
lapisantipismikrobadandidegradasisecaraaerobik.
Kamstra et al (1998) melaporkan bahwa trickling filter mampu menyisihkan
0.240.55 g TAN/m
2
/hari dalam skala komersial. Penyisihan TAN tertinggi adalah 1.1
g/m
2
denganratarata0.61g/m
2
.hasilyangsamajugaditunjukkanpadabiofiltermedia
pasirdenganpolaaliranairvertikal.
Downflowmicrobeadfilter(Biofilterdenganaliranairvertikal)adalahkombinasi
antara trickling filter dan tipe media biofilter butiran (granular) (Timmons et al, 2006).
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 41

Penggunaan media terapung dalam konfigurasi sistem downflow memiliki keuntungan


karena dapat menggunakan media yang lebih kecil dengan luas permukaan yang lebih
luas, ketika air yang berresirkulasi melewati media ini, maka partikel solid akan
tertangkapdanprosesbiofiltrasimenjadiaktif(MalonedanBeecher,2000).Konfigurasi
ini memberikan keuntungan tambahan dari hydraulic liading sehingga tidak
membutuhkanprosesfiltrasimekanisdenganperalatancanggih(GreinerdanTimmons,
1998).Mediayangdigunakanterbuatdaripolystyrenediameter13mmdenganprositas
3640 % dengan luas permukaan 11503936 m
2
/m
3
dengan area penyisihan TAN rata
rata0.30g/m
2
(Timmonsetal,2006).
Fluidized sand biofilter telah lama secara luas digunakan dalam sistem
akuakultur resirkulasi yang sangat baik dalam menjaga kualitas air (Summerfelt, 2006).
Filter pasir ini memiliki luas permukaan 4.00020.000 m
2
/m
3
dan biaya yang sedang.
Kerugian dari penggunaan FSB ini adalah tidak dapat diaerasi sebagaimana dalam
tricklingfilter.Sementaraitu,aerasiharusdilakukan,filteriniharusdioperasikandengan
aliran air yang singkat supaya menjaga kesesuaian pemuaian/pergeseran media filter.
FSBdapatmenghilangkanTANsekitar0.24g/m
2
/hari(TimmonsdanSummerfelt,1998).
Tabel.Areapenyisihannitratpadabeberapajenisbiofilter
Tipebiofilter
Ratarataarea
removalrate(g
TAN/m
2
hari
referensi
Rotating biological
contactor
0.190.79 MillerandLibey,1985;Brazil,2006
Tricklingfilter 0.240.64 Kamstra et al., 1998; Schnel et al., 2002; Eding et
al.,2006;LyssenkoandWheaton,2006
Beadfilter 0.300.60 GreinerandTimmons,1998;Timmonsetal.,2006
Fluidizedsandbiofilter 0.24 MillerandLibey,1985;Timmons&Summerfelt,1998

RBC memiliki jumlah area penyisihan TAN tertinggi diikuti oleh BF dan TF, dan
terakhir adalah FSB. Meskipun RBC memiliki performa terbaik, namun bersama dengan
TFharganyalebihmahaldibandingkandengantipebiofilterlainnya.BFdanFSBbiayanya
palingkecildenganpertimbanganbiayaperkgproduksiikan.
7.3. PenyisihanNitrogenDalamUnitBudidaya
Tigajalur konversi nitrogen secara alami ada untuk menghilangkan amonia dari
sistem akuakultur merupakan proses fotoautotrof yang dilakukan oleh algae, bakteri
autotrof yang mengkonversi ammonia menjadi nitrat, dan bakteri heterotrof yang
mengkonversiammonianitrogenmenjadibiomassabakteri(Ebelingetal,2006).
Pengembangandanpengendaliankepadatanbioflokheterotrofdalamkolomair
atau mikroorganisme yang menempel (perifiton) bisa sejalan dengan penyisihan bahan
organikdananorganiksecarabiologisdalamwadahakuakultur(Avnimelech,2005;Azim
et al, 2003). Proses ini merupakan bagian yang terpadu dalam unit budidaya
(Hargreaves, 2006). Hal yang penting adalah bioflok dan perifiton ini dapat dikonsumsi
olehorganismebudidaya(kultivan)(Burfordetal,2003,2004;Harietal,2004;Azimand
SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 42

Wahab, 2005; Keshavanath and Gangadhar, 2005). Sebagaimana yang dijelaskan dalam
paragraf berikut, kedua penedekatan ini adalah solusi untuk masalah kualitas air dan
dapatmengurangipenggunaanminyakikandantepungikandalamakuakultur.
3.1.TeknikPerlakuanDenganPerifiton
Komunitas perifiton terdiri atas biota akuatik yang menempel pada matriks
tenggelam. Di mana menempel algae, fungi, protozoa, zooplankton, dan invertebrata
lainnya (Azim et al, 2005). Seperti fitoplankton, perifiton dapat ditemukan dihampir
semua tipe air, dari kolam kecil hingga laut, pada daerah topis berada pada kisaran
oligotrofik hingga semua wilayah trofik (Azim dan Asaeda, 2005). Dengan cahaya yang
cukup,dengankedalamansampai0.5m,danlajufotosintesisyangtinggi,makaproduksi
autotrofdapatberhasil(Vermaat,2005).Produksiperifitonberkisar13gC/m
2
substrat
per hari atau sekitar 26 berat kering/ m
2
per hari (Azim et al, 2005). Perifiton
menangkap detritus organik, menghilangkan nutrien dari kolom air, dan membantu
mengontroloksigenterlarutsertapHdisekitarair(Benderetal,2004).
Pemberian substrat memperbaiki kondisi aliran nitrogen dalam air terutama
berkaitandenganaktifitasautotrofdanheterotrofyangterjadipadaperifiton(Milstein,
2005). Keuntungan dengan penggunaan perifiton adalah bisa menjadi makanan alami
bagi ikan, namun tidak semua ikan dapat memakan perifiton, adaptasi morfologi dan
fisiologis dibutuhkan untuk memakan perifiton (Azim et al, 2005). Walaupun bukti
percobaan langsung sangat jarang, namun jenis ikan yang memakan perifiton sangat
banyakdibandingkan dengan ikan yang bukan planktonvorus (Van Dam dan Verdegem,
2005).Di samping ikanyang makroherbivor,pemakan detritusdan planktondapatjuga
memakanperifiton(VanDam,2002).PerifitonmemilikiC/Nrasio10(AzimdanAsaeda,
2005). Kemampuan asimilasinya sekitar 0.2 g N/m
2
/hari. Hal ini jelas bahwa perifiton
memerlukanluaspermukaanyangbesaruntukdapatmemenuhikemampuannyadalam
mengendalikan kualitas air. Di samping menghilangkan N, produksi biomassa juga
terbentuk sekitar 4 gram berat kering/ m
2
/hari dan kandungan proteinnya sekitar 25 %
berat kering (Azim et al, 2005). Hal ini menjadi pakan tambahan sehingga mengurangi
biayapakandalamproduksi.

SistemTeknologiAkuakultur

SumoharjoS.Pi.,M.Si.J.BDP.FPIKUnmul 43

Di samping memerlukan area yang luas, masalah yang terjadi dalam sistem ini
adalah sangat tergantung pada intensitas cahaya matahari (Azim dan Asaeda, 2005).
Pada kondisi mendung/berawan, cahaya matahari tidak cukup sehingga laju
pengambilan nitrogen maksimum tidak tercapai. Masalah lain adalah memerlukan
tenagakerjauntukmemanenperifiton,yangmerupakanhalyangtidakdapatdilakukan
dalam proses produksi akuakultur yang mengaplikasikan perifiton. Akan tetapi, teknik
yang lebih memanfaatkan pakan alami bisa sangat signifikan hasilnya, terutama pada
akuakulturskalakecildansistemakuakulturekstensifyangbiasadilakukanpadanegara
negara berkembang. Untuk menumbuhkan perifiton dapat dilakukan dengan
menambahkan substrat statis di kolam yang dapat ditempatkan secara vertikal seperti
bambu,hizol,dankanchi.Karenaperifitonsangatmudahdibudidayakandalamberbagai
modifikasi wadah akuakultur dengan teknik dan manajemen sederhana sehingga
menjadimerupakankeuntunganyangmendasardalamakuakultur(Azimetal,2003)
3.2.TeknologiBioflok
Suspensi yang tumbuh (Suspended growth) dalam media budidaya terdiri atas;
fitoplankton, bakteri, agregatbahan organik, dan grazer bakteri (Hargreaves,2006). Jika
nitrogen dan karbon seimbang,
maka ammonia dari hasil
perombakan bahan organik dapat
dikonversi menjadi biomassa
bakteri (Schneider et al, 2005).
Dengan penambahan karbohidrat
di kolam, akan menstimulasi
pertumbuhan bakteri sehingga
penyerapan nitrogen melalui
produksi protein mikrobial dapat
terjadi (Avnimelech, 1999).
Pengambilan nitrogen untuk
biomassa bakteri menurunkan
konsentrasiammonimlebihcepatdaripadaprosesnitrifikasi(Hargreaves,2006),karena
lajupertumbuhandanproduksibiomassabakteriheterotrof10kalilebihtinggidaripada
bakterinitrifikasidenganproduksiperunitsubstratsekitar0.5gbiomassaC/gsubstratC
yangdigunakan(Eddingetal,2006).
Di lingkungan alamiah, mikroorganisme cenderung membentuk agregat
(menggumpal/mengumpul), kecepatan mengendapnya tidak seperti bentuk/ukuran
persegi (square size) sebagaimana yang diperkirakan dalam hukum Stoke (Logan dan
Hunt, 1988). karena agregat ini sangat porus, maka aliran air akan membuyarkan
agregatini.Halinimeningkatkansuplainutrienkedalamselyangadadalamagregatini
danakanmengurangilajupengendapannyakedasarmediabudidaya.