Anda di halaman 1dari 9

.

Perjalanan Sinyal Suhu pada Sistem Saraf


Sinyal suhu yang dibawa oleh reseptor pada kulit akan diteruskan ke dalam otak melalui jaras
spinotalamikus (mekanismenya hampir sama dengan sensasi nyeri). Ketika sinyal suhu sampai di
tingkat medulla spinalis , sinyal akan menjalar dalam traktus Lissauer beberapa segmen di atas
atau di bawah, dan selanjutnya akan berakhir terutama pada lamina I, II dan III radiks dorsalis.
Setelah mengalami percabangan melalui satu atau lebih neuron dalam medulla spinalis, sinyal
suhu selanjutnya akan dijalarkan ke serabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik
anterolateral sisi berlawanan, dan akan berakhir di tingkat reticular batang otak dan komplek
ventrobasal thalamus. Beberapa sinyal suhu pada kompleks ventrobasal akan diteruskan ke
korteks somatosensorik.
b. Faktor yang Mempengaruhi Suhu Tubuh
Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas
yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya,
sangat terkait dengan laju metabolisme.
Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih
cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun
dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hampir seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi
panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan
peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.
Hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan (growth hormone) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan
metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
Hormon tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga
peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas
normal.
Hormon kelamin
Hormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15%
kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu
lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormon progesterone pada masa ovulasi
meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 0,6C di atas suhu basal.
Demam (peradangan)
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120%
untuk tiap peningkatan suhu 10C.
Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 30%. Hal ini terjadi
karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme.
Dengan demikian, orang yang mengalami malnutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh
(hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami
hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan
panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar
komponen otot/organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan
suhu tubuh hingga 38,3 40,0 C.
Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan
mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan
pada saat terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah
kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh
terganggu.
Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang
atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat
mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi
sebagian besar melalui kulit.
Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh
darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang
mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi
(kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke
kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif
untuk keseimbangan suhu tubuh.
2. Mekanisme Pengaturan Suhu
Tubuh mempunyai dua kompartemen pokok, kulit (yang terdiri dari kulit dan jaringan subkutan)
dan bagian inti (terdiri dari organ dalam, saluran cerna, dan otot). Panas disampaikan melalui
bagian kulit dan bagian inti, yang memungkinkan kulit menjadi hangat saat inti dingin dan
sebaliknya.
Regulasi suhu tubuh merupakan proses dinamis yang terdiri dari empat mekanisme (Phillips dan
Skov, 1988) :
- Konduksi : perpindahan panas secara langsung dari tubuh ke objek yang lebih dingin tanpa
gerakan (misalnya, dari sel dan kapiler ke kulit dan pakaian)
- Konveksi : perpindahan panas melalui sirkulasi (misalnya, daerah inti hangat ke area perifer
dan dari pergerakan udara ke kulit)
- Radiasi : perpindahan panas diantara kulit dan lingkungan.
- Evaporasi : perpindahan panas ketika kulit atau baju basah dan panas hilang dari kulit/baju
basah ke lingkungan.
Suhu tubuh sangat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas dan suhu lingkungan, kelembaban tinggi
akan mempengaruhi panas atau dinginnya tubuh. Kepala, wajah, tangan, dan kaki yang terbuka
dapat mempengaruhi suhu tubuh, dimana pada daerah vaskuler terjadi konduksi panas dari
pembuluh darah ke kulit atau dari kulit ke pembuluh darah.
Produksi panas terjadi di inti, yang dipersarafi oleh rangsangan termoreseptor dari hipotalamus.
Suhu inti atau normotermia yakni berkisar antara 36,6
o
-37,5
o
C atau 98
o
-99,5
o
F (Smelteer dan
Bear, 1992).
Suhu tubuh yang normal bervariasi, individu yang sehat dapat ditentukan dengan memantau suhu
pada pagi hari dan sebelum tidur dalam jangka waktu 2-4 minggu. Kehilangan panas dan
peningkatan panas bervariasi pada individu dan dipengaruhi oleh daerah permukaan tubuh, sifat
perifer vasomotor, dan jumlah jaringan subkutan.
Pendinginan pada individu yang hipertermia dan pemanasan pada individu yang hipotermia
harus dilakukan dengan hati-hati jangan sampai terjadi terlalu dingin atau terlalu panas. Pada
kasus yang akut biasanya pelaksanaan pendinginan atau penghangatan dengan kolaborasi pada
dokter.
Menggigil merupakan hal yang fisiologis untuk meningkatkan panas, respon secara fisiologis :
- Peningkatan konsumsi oksigen 2 sampai 5 kali dari normal
- Peningkatan metabolisme 400%-500%
- Peningkatan kerja jantung, produksi CO
2
, vasokontriksi kutaneus dan akhirnya terjadi
produksi asam laktat

a. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :
Vasodilatasi
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini
disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan
vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan
pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak.
Berkeringat
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas
kritis, yaitu 37C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui
evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang
cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal
10 kali lebih besar. Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika suhu
meningkat melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls
di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh
kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang
produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena rangsangan dari
epinefrin dan norefineprin.
Penurunan pembentukan panas
Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil dihambat
dengan kuat.
b. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun, yaitu :
Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh
Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.
Piloereksi
Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri.
Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya bulu
ini akan berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.
Peningkatan pembentukan panas
Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil,
pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.

c. Mekanisme Hilangnya Panas Melalui Kulit
Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah.
Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20
mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi
merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh
mekanisme kehilangan panas.
Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat
di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali suhu udara bersentuhan
dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi
hanya proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.
Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada
di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil.
Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua
mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh
lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses
perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.
Evaporasi
Evaporasi (penguapan air dari kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu
gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58
kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar
450 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12
16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi
molekul air secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.
Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan
konduksi. Namun ketika suuhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu
dari lingkungan melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh
melepaskan panas adalah melalui evaporasi.
Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual ( yang
dapat diukur ) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh
tubuh dan proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan.
Usia
Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi
efek tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme
pembentukan panas melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses
termogenesis tanpa menggigil (non-shivering thermogenesis). Secara umum, proses ini mampu
meningkatkan metabolisme hingga lebih dari 100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini
dapat terjadi karena pada neonatus banyak terdapat lemak coklat. Mekanisme ini sangat penting
untuk mencegah hipotermi pada bayi.
3. Macam Gangguan
a. Hipertermia
Adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami peningkatan suhu tubuh
lebih dari 37
o
C (100
o
F) per oral atau 38,8
o
C (101
o
F) per rektal karena peningkatan kerentanan
terhadap faktor-faktor eksternal (Diagnosa Keperawatan : Aplikasi pada Praktik Klinis, 2000).
b. Hipotermia
Suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko untuk menderita penurunan suhu tubuh
di bawah 35,5
o
C (96
o
F) per rektal disebabkan oleh peningkatan faktor-faktor eksternal (Diagnosa
Keperawatan : Aplikasi pada Praktik Klinis, 2000).
Hipotermia diklasifikasikan melalui pengukuran suhu inti:
Ringan: 33-36 : merasa dingin, menggigil
Sedang: 30-33 : gangguan berjalan, gangguan bicara, perasaan bingung, otot keras
Berat: 27-30 : gangguan kesadaran, tidak bisa sembuh tanpa pertolongan
Sangat berat: <30 : pingsan, mata terlihat tidak normal, nafas pelan, gangguan pada
jantung, bisa meninggal
c. Demam
Adalah keadaan ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu tubuh normal. Demam adalah
istilah umum, dan beberapa istilah lain yang sering digunakan adalah pireksia atau febris.
Apabila suhu tubuh sangat tinggi (mencapai sekitar 40C), demam disebut hipertermi.
Demam dapat disebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang mempengaruhi pusat
pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek perangsangan terhadap pusat pengaturan
suhu sehingga menyebabkan demam disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein,
pecahan protein, dan zat lain, terutama toksin polisakarida, yang dilepas oleh bakteri toksik atau
pirogen yang dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama
keadaan sakit.
Mekanisme demam dimulai dengan timbulnya reaksi tubuh terhadap pirogen. Pada mekanisme
ini, bakteri atau pecahan jaringan akan difagositosis oleh leukosit darah, makrofag jaringan, dan
limfosit pembunuh bergranula besar. Seluruh sel ini selanjutnya mencerna hasil pemecahan
bakteri dan melepaskan zat interleukin-1 ke dalam cairan tubuh, yang disebut juga zat pirogen
leukosit atau pirogen endogen. Interleukin-1 ketika sampai di hipotalamus akan menimbulkan
demam dengan cara meningkatkan temperature tubuh dalam waktu 8 10 menit. Interleukin-1
juga menginduksi pembentukan prostaglandin, terutama prostaglandin E2, atau zat yang mirip
dengan zat ini, yang selanjutnya bekerja di hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam.
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase demam,
meliputi fase awal, proses, dan fase pemulihan (defesvescence). Tanda-tanda ini muncul sebagai
hasil perubahan pada titik tetap dalam mekanisme pengaturan suhu tubuh.
d. Heat Stroke
Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat
mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heat stroke. Klien yang
termasuk beresiko bisa masih sangat muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit
kardiovaskular, hipotiroidisme, diabetes atau alkoholik. Yang termasuk beresiko adalah orang
yang mengkonsumsi obat untuk menurunkan kemampuan tubuh saat mengeluarkan panas (mis.
fenotiazin, antikolinergik, diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor beta-adrenergik) dan
mereka yang menjalani latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. atlet, pekerja konstruksi dan
petani). Tanda dan gejala heat stroke termasuk kebingungan, sangat haus, mual, kram otot,
gangguan visual, dan bahkan inkontinensia (keadaan tidak dapat mengendalikan tubuh). Tanda
lain yang paling penting adalah kulit yang hangat dan kering.
e. Frostbite
Tangan dan kaki menjadi beku dengan pembekuan kristal es didalam jaringan tubuh, yang bila
ringan akan dapat sembuh akan tetapi bisa kronis dengan gejala gejala sakit, pucat, perubahan
warna kulit yang akhirnya timbul gangren yang harus diamputasi.
Frosbite dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya antara lain :
Penyakit jantung,
Asma / bronkitis,
Diabetes.
f. Kulit kering
Cuaca dingin dapat menyebabkan kulit menjadi terasa kering dan keriput, hal ini dapat membuat
rasa tidak nyaman dan tidak sedap dipandang, terutama bagi para wanita.
Biasanya kulit kering ini hanya bersifat sementara saja, namun jika kejadiannya sering dan terus
menerus, bekas-bekas kulit kering ini akan nampak jelas terlihat berupa keriput dan garis-garis
halus pada kulit.
g. Gangguan Syaraf Bell`s Palsy
Bell`s Palsy berhubungan dengan suhu dan udara dingin. Meskipun data pendukung faktor ini
masih sangat kurang, data (anamnesis) dari sekian banyak pasien yang mengalami Bell`s Palsy
merujuk pada faktor itu. Misalnya, sopir kendaraan yang tiba-tiba merasa mulutnya bergeser atau
menceng setelah membuka jendela kaca mobil. Orang yang sering tidur di lantai, pada saat
bangun mulutnya langsung menceng. Atau biasanya kalau di daerah X orang sering pergi-
pergi ke tempat yang lembap seperti ke sumber mata air. Setelah itu, wajah mereka lumpuh dan
mereka mengatakan itu karena ditampar hantu. Padahal karena Bell`s Palsy. Dan semua contoh
itu berhubungan dengan udara atau suhu yangn dingin.
Bell`s Palsy merupakan gejala klinis dari suatu penyakit mononeuropati (gangguan yang
mengenai satu syaraf). Syaraf yang dimaksud adalah Nervus VII (nervus fascialis). Saraf ini juga
sering disebut syaraf fascialis. N.VII yang terkena adalah saraf 7 tepi, inti dari N.VII berada di
batang otak.
N.VII berfungsi mengatur otot-otot pergerakan organ pada daerah wajah, antara lain di daerah
mulut dan gerakan seperti meringis dan bibir maju ke depan. Pada daerah mata, syaraf ini juga
mengatur seputar pergerakan kelopak seperti memejam, pergerakan kelopak bola mata, dan
mengatur aliran air mata. Serabut N.VII menuju ke arah kelenjar ludah dan juga ke bagian
pendengaran.
Pada kasus Bell`s Palsy, saraf ini mengalami gangguan. Saraf tidak dapat mengantar impuls
motorik ke otot karena terhambat akibat pembengkakan. Susunan N.VII dari inti di bagian otak
hingga ujung saraf sangat panjang. Bell`s Palsy, bila dibandingkan dengan stroke, bisa dikatakan
tidak terlalu berbahaya. Malah penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya.
Menurut Tamsuri Anas (2007), suhu tubuh dibagi menjadi :
Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36C
Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 37,5C
Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 40C
Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40C
Demam adalah gejala berupa naiknya suhu tubuh sebagai respon normal tubuh terhadap suatu
gangguan. Suhu tubuh diukur dengan termometer, dikatakan demam bila:
Suhu rektal (di dalam dubur): lebih dari 38C
Suhu oral (di dalam mulut): lebih dari 37.5C
Suhu ketiak: lebih dari 37.2C
Termometer bentuk dot bayi digital: lebih dari 37.8C
Suhu telinga: mode rektal: lebih dari 38C; mode oral: lebih dari 37.5C
Suhu tubuh dikendalikan oleh suatu bagian dari otak yang disebut hipotalamus. Hipotalamus
berusaha agar suhu tubuh tetap hangat (36,5-37,5 C ) meskipun lingkungan luar tubuh berubah-
ubah. Hipotalamus mengatur suhu dengan cara menyeimbangkan antara produksi panas pada
otot dan hati dan pengeluaran panas pada kulit dan paru-paru. Ketika ada infeksi, sistem
kekebalan tubuh meresponnya dengan melepaskan zat kimia dalam aliran darah. Zat kimia
tersebut akan merangsang hipotalamus untuk menaikkan suhu tubuh dan akhirnya akan
menambah jumlah sel darah putih yang berguna dalam melawan kuman.
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan
fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan
regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang
diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus
mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme
umpan balik ini terjadi bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan
suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan
pada 37C. apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang untuk
melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi
panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap.

Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan
fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan,
diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik
(feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat
temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan
mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati
batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap
tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37C. Apabila suhu tubuh meningkat
lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme
untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan
pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap. Upaya-upaya yang kita dilakukan
untuk menurunkan suhu tubuh yaitu mengenakan pakaian yang tipis, banyak minum, banyak
istirahat, beri kompres, beri obat penurun panas (Harold S. Koplewich, 2005). Ada beberapa
teknik dalam memberikan kompres dalam upaya menurunkan suhu tubuh antara lain kompres
hangat basah, kompres hangat kering (buli-buli), kompres dingin basah, kompres dingin kering
(kirbat es), bantal dan selimut listrik, lampu penyinaran, busur panas (Anas Tamsuri, 2007).
Dalam postingan kali ini, kita akan berfokus pada penggunaan teknik kompres hangat dalam
upaya menurunkan suhu tubuh.

Anda mungkin juga menyukai