Anda di halaman 1dari 35

Elektronika Dasar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Dalam kehidupan saat ini musibah kebakaran sangat rawaan sekali terjadi,
musibah kebakaran ini disebabkan oleh kelalaian dari manusia, karena kurang
berhati-hati dalam penggunaan dari alat-alat yang dapat menimbulkan musibah
kebakaran. Kerugian yang ditimbulkan dari musibah kebakaran ini tidak sedikit,
karena dari musibah ini dapat menimbulkan kerugian materil dan korban jiwa yang
tidak sedikit. Untuk mengurangi kerugian materil dan korban jiwa yang ditimbulkan
dari musibah kebakaran ini, maka dibentuklah sebuah organisasi yang berfungsi
untuk memadamkan kebakaran, tetapi dalam pengoprasiannya ternyata
organisasi ini terbentur oleh ketidak tepatan waktu sampai lokasi kejadian, factor
besar yang mengakibatkan hal tersebut terjadi adalah karena terhalangnya
gerakan dari para petugas pemadam kebakaran dijalan menuju lokasi terjadinya
kebakaran, dan hal ini disebabkan karena ketidak tahuan dari masyarakat dan
pengguna jalan akan keadaan darurat yang tengah terjadi. Dan untuk mengatasi
masalah tersebut maka dibuatlah sebuah alat, yang disebut dengan Sirene, yang
berfungsi memberitahukan kepada masyarakat dan para pengguna jalan akan
keadaan darurat yang tengah terjadi, dengan harapan agar masyarakat dan para
pengguna jalan tidak menghalangi gerak para petugas pemadam kebakaran dan
dapat memberi tahukan bahwa mobil pemadam kebakaran dalam perjalanan dan
pengguna jalan tidak menghalangi gerak dari para petugas pemadam kebakaran,
sehingga petugas pemadam kebakaran dapat sampai tepat waktu pada lokasi
terjadinya kebakaran, dan dapat memadamkan kebakaran sebelum kebakaran itu
meluas dan membuat banyak kerugian dan korban jiwa.
Dalam pembuatan alat ini “Sirene”, dibuat sedemikian rupa sehingga
menghasilkan sebuah suara yang sangat unik dan berbeda dari suara-suara yang
lain, sehingga masyarakat dapar membedakan dan mengenal suara dari Sirene.
Dan pada kesempatan ini praktikan memcoba membuat alat Sirene dalam contoh
ini adalah sebagai Sirene Pemadam Kebakaran dan menyajikan informasi tentang
pembuatan alat Sirene itu pada makalah ini.

Sirine / 2 KB 01
1
2
Elektronika Dasar

I.2 Batasan Makalah


Karena luasnya ruang lingkup dalam bidang elektronika, maka penulis
membatasi masalah yang akan dibahas, pada hal-hal yang menyangkut pada
pembuatan dari alat Sirene saja yang bertujuan untuk mempermudah dalam
pemahaman dan pengertian tentang masalah-masalah pada Sirene. Dan pada
makalah ini penulis mencoba menjelaskan tentang masalah Sirene Pemadam
Kebakaran secara garis besarnya, yang terbagi menjadi 5 bab yang setiap bab
membahas tentang sirene pemadam kebakaran yang terdiri dari Pendahuluan,
Landasan Teori, Analisa Rangkaian, Cara Pengoprasian Alat, Kesimpulan dan
Penutup. Yang masing-masing bab akan menguraikan tentang masalah-masalah
pada Sirene ini, dengan harapan agar dapat mudah dimengerti dan dipahami dan
sebagai acuan bagi penulis dalam pembuatan makalah ini, agar tidak terlalu jauh
menyimpang dari pokok masalah yang dibahas.

1.3 Tujuan Penulisan


Setelah melaksanakan praktikum elektronika dasar di laboratorium elektronika
dan komputer, Universitas Gunadarma, setiap mahasiswa dituntut untuk
membuat sebuah alat elektronika dan laporan (karya tulis), yang berguna untuk
melatih mahasiswa dalam membuat alat dan karya tulis, dan untuk mengetahui
seberapa jauh mahasiswa memahami tentang ilmu elektronika yang telah
diberikan kepada mahasiswa tersebut, adapun tujuan yang lebih lanjut dari
penulisan laporan ini adalah :
1. Memberikan penjelasan dan cara kerja secara garis besar dari proyek
elektronika yang telah dibuat. “Sirene”.
2. Memberikan pengenalan dasar tentang rangkaian elektronika, serta
komponen-komponen dalam perangkat elektronika.
3. Sebagai syarat kelulusan dan syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester
pada Semester ini tahun ajaran 2008/2009
4. Untuk menambah pembendaharaan Universitas Gunadarma.
5. Menambah wawasan penulis mengenai perkembangan didalam bidang
elektronika.
6. Melatih penulis dalam karya tulis.

Sirine / 2 KB 01
3
Elektronika Dasar

1.4 Metode Penulisan


Alasan penulisan memilih judul SIRENE sebagai proyek praktikum yang
ditugaskan serta pembuata makalah yang diberikan ialah karena Sirene
merupakan rangkaian yang memiliki, manfaat cukup luas untuk orang banyak
yang sekarang banyak dipergunakan sebagai Sirene Pemadam Kebakaran, juga
secara lebih khusus untuk dapat dipakai langsung dalam menunjang kegiatan
praktikum elektronika yang diselanggarakan di laboratorium elektronika dasar.
Dari data-data yang diperoleh, penulis menyajikan dan menjelaskannya dalam
makalah ini.

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematik penulisan dalam makalah ini terdiri dari 5 (lima) bab yang
bertujuan agar pembaca dapat memahami dan mengerti isi dari laporan ini, yang
terdiri dari :

BAB I Pendahuluan
Pada bab ini praktikan menjelaskan tentang Penggunaan dan Aplikasi perangkat
elektronika dalam kehidupan sehari-hari dan penggunaannya dalam teknologi
sekarang ini. Serta kami juga akan menjelaskan tentang tujuan dalam pembuatan
proyek yang berjudul “ Sirene ”

BAB II Landasan Teori


Berisikan tentang teori dasar yang berhubungan dengan analisa rangkaian
proyek, dan kerangka terbentuknya proyek “ Sirene “ ini.

BAB III Analisa Rangkaian


Dalam analisa rangkaian, kami akan menjelaskan dan menganalisa rangkaian
baik secara blok maupun secara detail, sehingga dalam penggunaannya akan
semakin jelas dan mudah dimengerti.

BAB IV Cara Pengoprasian Alat


Berisi tentang cara dan panduan dalam pengoprasian alat dari proyek yang akan
kami presentasikan.

Sirine / 2 KB 01
4
Elektronika Dasar

BAB V Penutup
Berisi kesimpulan, rangkuman dan saran-saran dari apa yang telah diuraikan pada
bab-bab sebelumnya.

Sirine / 2 KB 01
Elektronika Dasar

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 SIRENE
Sejalan dengan perkembangan zaman, peralatan Elektronik semakin hari
semakin berkembang dan canggih, meskipun begitu banyak juga peralatan
elektronik sederhana yang masih digunakan untuk membantu dalam kehidupan
sehati-hari. Contohnya Sirene ini meskipun dari jenis dan kemampuan yang
sederhana, tetapi dalam penggunaannya sangat bermanfaat. Sistem
penggunaannya bukan menggunakan sensor, tetapi masih digunakan
berdasarkan manualisasi yaitu “ditekan”, dengan menggunakan saklar.
Sirene ini merupakan salah satu teknologi yang canggih tetapi merupakan
sebuah alat sederhana, yaitu suatu alat yang dirangkai dari komponen-komponen
seperti : transistor, kapasitor, dioda, resistor, IC, dll. Yang semuanya merupakan
dari jenis komponen elektronika yang sangat sederhana, banyak dan mudah
didapat. Rangkaian Sirene ini merupakan rangkaian elektronik yang mempunyai
kemampuan mengeluarkan output dalam bentuk gelombang suara atau bunyi,
yang fungsinya sebagai suatu alat pemberitahuan sederhana. Dan dalam
penyajian bentuk yang cukup mudah dimengerti oleh semua pengguna, karena
untuk mengoprasikan alat ini juga cukup mudah dioprasikan.
Sirene adalah sebuah perangkat elektronik dimana output dari rangkaian
Sirene ini adalah dalam bentuk gelombang suara atau bunyi, yang keluar pada
speaker. Sirene ini berfungsi sebagai alat pemberitahu atau peringatan, sehingga
pengaruh suara dalam penyajiannya sangat diperlukan untuk menarik perhatian
pendengar, sehingga orang yang mendengar suara atau bunyi tersebut dapat
langsung mengetahui bahwa suara atau bunyi yang didengar itu adalah suara
Sirene. Dan disini Sirene ini berfungsi sebagai alat pemberitahu atau peringatan.

2.2 Teori Dasar Elektronika


Dalam elektronika, komponen elektronika dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1. Komponen Aktif
2. Komponen Pasif
Komponen aktif adalah komponen elektronika yang dalam pengoprasiannya
membutuhkan sumber tegangan dan sumber arus, misalnya Dioda, Resistor,
Kapasitor, Trafo dan lain-lain. Sedangkan Komponen Pasif adalah komponen

Sirine / 2 KB 01
5
6
Elektronika Dasar

elektronika yang dalam pengoprasiannya tidak memerlukan sumber tegangan


atau sumber arus tersendiri, misalnya Transistor, Tranducer, SCR, Relay,
Integrated Circuit (IC) dan lain-lain. Namun disini kami akan menjelaskan uraian
dari komponen-komponen elektronika yang bersangkutan dengan alat yang kami
buat yaitu “ Sirene “.

2.2.1 Op-Amp
Op-Amp adalah rangkaian terintegrasi yang mampu menguatkan sinyal masukan
AC / DC.

Karakteristik Op-Amp Ideal :


1. AV = ~ (Penguatan Tak Hingga) = PLN
2. Zin = ~ (Impedansi Tak Hingga)
3. BW = ~ (Bandwidth Tak Hingga)
4. Zout = 0 (Impedansi Output)
5. Vout = 0 (Tegangan Output = 0, apabila Input = 0)

Sifat Op-Amp Ideal :


1. Ia = Ib = 0
2. Va = Vb
3. Ia besarnya tak tentu
4. Vsat = 90% * Vcc

+ Vcc
Ia
Va -
Ib
Vout
Vb +

- Vcc

Gambar 2.1 : Skema Op-Amp

Sirine / 2 KB 01
7
Elektronika Dasar

1 8

2 - 7

3 + 6

4 5
Gambar 2.2 : Gambar Fisik Op-Amp

Keterangan Pin :
1. Offset null
2. Inverting input
3. Non Inverting input
4. – Vcc : tegangan aktivator negatif
5. Offset null
6. Output
7. + Vcc : tegangan aktivator positif
8. No conection (NC)

Fungsi masing-masing PIN


 Pin 1 & 5 : Offset null
“Tegangan Offset (tegangan kesalahan) atas masukan yang diberikan
untuk mengembalikan tegangan output ke posisi nol”.
 Pin 2 : Inverting
“Inputan pembalik (dimana output yang dihasilkan berlawanan dengan
input)”.
 Pin 3 : Non inverting
“Inputan tak membalik (dimana output yang dihasilkan sama dengan
input)”.

Sirine / 2 KB 01
8
Elektronika Dasar

 Pin 4 : - Vcc
“Tegangan catu negatif untuk pengaktifan Op-Amp”.
 Pin 6 : Output
“Terminal untuk keluaran dari Op-Amp”.
 Pin 7 : + Vcc
“Tegangan catu positif untuk pengaktifan Op-Amp”.
 Pin 8 : NC (No Conection)
“Tak dihubungkan, disertakan dengan bermaksud untuk memperkokoh
kemasan Op-Amp”.

Blok Diagram

+V

- Penguat Penguat Penguat


Differensial tegangan keluaran
Impedansi penguatan impedansi
+ masukan tinggi tinggi rendah

-V

Rangkaian Dasar OP –Amp


Ada tiga rangkaian dasar pada Op – Amp yaitu :
1. Inverting Amplifier
2. Non Inverting Amplifier
3. Voltage Follower

1. Inverting Amplifier
Pada rangkaian ini input pada op – amp didapat pada kaki inverting seperti
terlihat pada gambar dibawah ini :

Sirine / 2 KB 01
9
Elektronika Dasar

Rf

Ia + Vcc
Rin
Vin -
Ib Ic
Vout
Vb +

- Vcc

Gambar 2.3 : Rangkaian Inverting Amplifier

Pada rangkaian ini kita dapat mencari Vout dengan menggunakan


persamaan Kirchoff I :
Ia + Ib = Ic
Dari prinsip bumi semu bahwa ic = 0 didapat :
Ia + Ib = Ic
Ia + Ib = 0 Vout = Rf . Vin
Vin + Vout = 0 Rin

Rin Rf Av = Rf
Vin = Vout Rin

Rin Rf

2. Non Inverting Amplifier


Rf

Ib + Vcc
Rin
-
Ia Ic
Vout
Vin +

- Vcc

Gambar 2.4 : Rangkaian Non-Inverting Amplifier

Sama seperti Inverting amplifier pada rangkaian ini juga dapat diturunkan dari
hukum kirchoff I :

Sirine / 2 KB 01
10
Elektronika Dasar

Ia + Ib = Ic
0 – Vin + Vout – Vin =0
Rin Rf
- Vin + Vout – Vin = 0
Rin Rf Rf
Vout = Vin Rf + 1
Rf Rin

Vout = Vin 1 + Rf
Rin

3.Voltage follower

+ Vcc
Pada Voltage Follower mempunyai
Va -
output : Vout = Vin
Vout
Vb + Sebab rangkaian ini mengalami

- Vcc
penguatan satu.

Gambar 2.5 : Rangkaian Voltage follower

Slow Rate
Laju perubahan maximum tegangan Op-Amp (laju lentingan).
v input v t output

v
Slew Rate = V/ t

t t

Sirine / 2 KB 01
11
Elektronika Dasar

Summing Circuit
Rangkaian Summing circuit merupakan dasar dari computer analog yang
bekerja untuk menyelesaikan persamaan – persamaaan aljabar sederhana seperti
penjumlahan dan pengurangan . Adapun rangkaian – rangkaian dari summing
circuit adalah sebagai berikut :

1. Inverting Adder
R1 Rf
V1
R2
V2 +V
-

Vout
+
-V

Gambar 2.6 : Rangkaian Inverting Adder

Pada rangkaian ini input didapat dari kaki inverting sehingga didapat persamaaan

Vout = - Rf V1 + Rf V2
R1 R2

Jika Rf=R1= R2 maka kita akan mendapatkan persamaan dari output adalah :

Vout = V1 + V2

2. Scalling Adder

Rangkaian ini hamper sama dengan rangkaian inverting adder tetapi


scalling adder mempunyai penguatan berskala, hal itu dapat kita lihat pada besar
nilai resistor yang berskala.

Sirine / 2 KB 01
12
Elektronika Dasar

R1 Rf
V1
R2
V2 +V
R3 -
V3
Vout
+
-V

Gambar 2.7 : Rangkaian Scalling Adder

Rumus Untuk outputnya adalah Vout = - Rf V1 + Rf V2 + Rf V3


R1 R2 R3
Apabila pada rangkaian tersebut mempunyai besar resistor yang sama, Rf = R1 =
R2 = R3 maka output yang didapat : Vout = V1 + V2 + V3

3. Adder Subtractor
Rangkaian Adder Subtarctor mempunyai input baik dari kaki inverting
maupun kaki non inverting. Sebelum menjumlahkan hasil outputnya kita harus
membandingkan penguatan di kaki inverting dengan kaki non iverting, apabila
berbeda kita harus menambahkan resistor beban pada input yang penguatannya
kurang hingga kedua input mempunyai penguatan yang sama.
R1 Rf
V1
R2
V2 +V
R3 -
V3
Vout
R4 +
V4 -V
R5 Rf'
V5
R6
V6

Gambar 2.8 : Rangkain Adder Subractor

Sirine / 2 KB 01
13
Elektronika Dasar

Vout = - Rf V1 + Rf V2 + Rf V3 + Rf’ V4 + Rf’ V5 + Rf’ V6


R1 R2 R3 R4 R5 R6

Jika semua resistor bernilai sama,Rf=Rf’=R1=R2=R3=R4=R5=R6 maka outputnya


:Vout = V1 + V2 + V3 + V4 + V5 + V6
Sehingga penguatan di kedua input adalah sama.

4. Direct Adder
Rf

+V
-

Vout
R1 +
V1 -V
R2
V2

Gambar 2.9 : Rangkain Direct Adder

Rangkaian ini mempunyai input pada kaki non inverting sehingga mempunyai
persamaan output : Vout = Rf’ V1 + Rf’ V2
R1 R2

Jika mempunyai besar resistor yang sama maka outputnya adalah :


Vout = V2 + V3 + V4

Comparator
Rangkaian ini dapat membandingkan dua buah tegangan yang dapat
masuk melalui dua terminal input op – amp.

Rangkaian dasarnya menggunakan modus loop terbuka sehingga outputnya


memenuhi :
Vout = 90%.Vref. (V2 – V1)

Sirine / 2 KB 01
14
Elektronika Dasar

Va +V
-

Vb
+
-V
L1 L2

Gambar 2.10 : Comparator

LED dipasang saling berlawanan arah sebagai indikator polaritas output yang
dihasilkan op – amp.

2.2.2 Dioda
Dioda merupakan suatu semikonduktor yang hanya dapat menghantar arus
listrik dan tegangan listrik pada satu arah aja. Dioda dibuat dari germanium dan
silikon. Dan berfungsi untuk menyearahkan tegangan AC menjadi tegangan DC,
dioda berasal dari kata :
1. Di berarti dua.
2. Oda berarti elektroda.
Jadi dua elektroda (anoda dan katoda) yang digabung menjadi satu
komponen . Dioda pada umumnya dispesifikasikan dalam nilai batas
tegangan dan arus. Dioda didalam elektronika sering diperlukan, karena suatu
komponen yang dapat mengalirkan arus apabila diberi tegangan pada satu arah
saja dan tidak mengalirkan arus apabila diberi tegangan dengan arah yang
berlawanan. Untuk tegangan yang rendah, masih menggunakan dioda yang
terbuat dari bahan semi konduktor (Germanium dan Silikon). Untuk tegangan
tinggi orang masih banyak memakai dioda vakum. Bahan semi konduktor adalah
bahan yang mempunyai 4 elektron valulsi seperti silikon (Si), Germanium (Ge),
dan Stanum (Sn). Keempat elektron valensi tersebut saling mengikat yang dikenal
dengan ikatan kovalen dan bermuatan netral (semi konduktor instrinsik). Dioda
dibuat dari bahan semi konduktor jenis P atau jenis N. Pertemuan dua elektroda
atau junction dioda antara anoda (elektroda positif) dan katoda (elektroda negatif).

Sirine / 2 KB 01
15
Elektronika Dasar

Bahan Dioda

Simbol Dioda

2.2.3 Resistor
Resisitor adalah sebuah alat yang digunakan untuk menghambat arus listrik
pada sebuah rangkaian listrik, resistor digunakan untuk mendapatkan arus yang
sesuai dengan yang dibutuhkan oleh rangkaian. Untuk mengendalikan arus dalam
sebuah rangkaian lisrtik, digunakan komponen yang mempunyai resistansi.
Artinya komponen tersebut mempunyai kemampuan untuk membatasi arus listrik
yang mengalir pada rangkaian. Bentuk dan penggunaan resistor dapat dibagi
atas:
1. Resistor Tetap (fixed resistor)
2. Resistor Variable (potensiometer)
3. Resistor yang dapat diubah secara continue (trimpot)
4. Theristor / NTC
- Suhu tinggi, Resistansi kecil.
- Suhu rendah, Resistansi besar.
5. Resistor peka cahaya (LDR – Light Dependent Resistor)
- Cahaya tinggi, Resistansi kecil.
- Cahaya rendah, Resistansi besar.
Simbol – Simbol Resistor :

Resistor Tetap Potentiometer Trimpot LDR

Sirine / 2 KB 01
16
Elektronika Dasar

Bahan pembentuk resistor dapat dibagi atas :


1. Resistor kawat
2. Resistor arang/komposisi.
3. Resistor lapisan okisida logam.
4. Resistor dalam IC.
5. Resistor film.

Sifat dan fungsi dari resistor :


1. Untuk membangkitkan panas (filament).
2. Untuk membagi tegangan.
3. Sebagai penghubung rangkaian (kopel).
4. Perubah bentuk arus.
5. Untuk penentuan besaran fisis.

Dari semua kompenen elektronika, resistorlah yang paling banyak


digunakan. Ketelitian resistor digolongkan dalam persentase penyimpanan dari
nilai nominalnya. Misalnya resistor-resistor yang akan digunakan dalam proyek
disini adalah 5 % artinnya bahwa nilai sebenarnya dari resistor yang digunakan
tidak akan menyimpang kurang atau lebih dari 5 % dari nilai nominalnya. Jadi
suatu resistor dari 100 ohm mempunyai tahanan antara 95 ohm sampai 100 ohm.
Resistor pada umumnya mempunyai nilai toleransi 1%, 2%, 3%, 5%, 10%
dan 20%. Resistor yang mempunyai nilai toleransi lebih kecil biasanya lebih mahal
harganya. Resistor juga dapat dispesifikasikan menurut kapasitansinya untuk \
mendisipasi (menyerap) daya listrik, dinyatakan dalam Watt.
Karena bentuk fisik dari resistor kecil, maka pada bahannya diberikan nilai
tahanan dalam kode warna menurut standart internasional. Seperti terlihat pada
gambar no. 1 dan no. 2. Dibawah ini :

Gambar 2.11 : Warna Gelang Resistor

Sirine / 2 KB 01
17
Elektronika Dasar

Keterangan :
Gelang ke-1 dan ke-2 menyatakan angka.
Gelang ke-3 menyatakan faktor pengali (banyaknya nol).
Gelang ke-4 menyatakan toleransinya.

Tabel 2.1 : Tabel Kode Warna Resistor

Contoh dari kode warna :

Merah Orange Merah Emas Nilai R


2 3 x 100 5% 1500 +5%Ohm

Pada resistor tidak dapat dipolaritaskan, artinya jika pemasangannya bolak-balik


tidak akan berpengaruh.

Sirine / 2 KB 01
18
Elektronika Dasar

2.2.4 IC (Integral Circuit) LM389


Komponen-komponen elektonika yang berbeda ( resistor, kapasitor, transistor, dll)
dikombinasikan menjadi sebuah komponen elektronik kompleks yang dinamakan
dengan “Integrated Circuit “ (IC). Dari penjelasan diatas maka IC dapat
merupakan sebuah rangkaian. Pada alat yang kami kerjakan “Sirene” ini kami
memakai IC dengan kode LM389, IC LM389 ini pada rangkaian sirene berfungsi
sebagai penguat, disini yang diperkuat adalah dalam bentuk suara, sehingga pada
alat Sirene ini memiliki suara yang khas, dan untuk lebih jelasnya tentang IC
LM389 ini, dapat dilihat pada gambar skema IC LM389 dibawah ini :

Gambar 2.12 : IC LM-389

Deskripsi Umum
LM398 adalah merupakan tiga buah deret transisitor NPN yang memiliki
kesamaan fungsi dengan penguatan tenaga bunyi LM398. Input Amplifier
(penguatan) diperkuat dengan ground dan secara otomatis membuat Output
menjadi salah satu supply (persediaan) tegangan. Gain disetel pada nilai 20 untuk
memperkecil bagian yang hilang (terbuang), tetapi penambahan Resistor dan
Kapasitor untuk mengurangi bagian yang hilang (terbuang) pada Pin 4 dan 12
akan membuat setiap nilai Gain bertambah sampai diatas 200, dengan demikian
maka ketiga Transisitor memiliki Gain yang tinggi dan membuat karakteristik (ciri
khas) yang sangat unik. Dan ketiga transistor ini dapat menyetel sendiri
perbedaan (variatif) lebar pada Aplikasi (penggunaan) sistem VHF.

Sirine / 2 KB 01
19
Elektronika Dasar

Keistimewaan
Amplifier (penguat)
 Bekerja (eksploitasi) pada battry (tegangan kecil)
 Bagian yang hilang (terbuang) kecil
 Lebarnya jarak supply tegangan
 Perubahan arus kecil
 Perubahan tegangan Gains dari 20 sampai 200
 Ground memperkuat input
 Pemusatan tegangan output tetap
 Distorsi (penyimpangan) kecil
Transistor
 Bekerja (eksploitasi) pada 1 uA sampai 25 mA
 Jarak frekuensi dari DC sampai 100 MHz
 Pembentukan yang sempurna
Aplikasi (penggunaan)
 Radio AM - FM
 Intercom
 Walkie - Talkie
 Mainan dan Permainan
 Portable Phonographs
 Power Converter

2.2.5 Kapasitor
Kapasitor adalah komponen elektronika yang dapat menyimpan muatan
listrik. Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan
oleh suatu bahan dielektrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal misalnya
udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal diberi
tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah satu
kaki (elektroda) metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif
terkumpul pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir
menuju ujung kutup negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke
ujung kutup positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non-konduktif.
Muatan elektrik ini "tersimpan" selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung

Sirine / 2 KB 01
20
Elektronika Dasar

kakinya. Di alam bebas, phenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya
muatan-muatan positif dan negatif di awan.

Gambar 2.13 : prinsip dasar kapasitor

A. Kapasitansi

Kapasitansi didefenisikan sebagai kemampuan dari suatu kapasitor untuk


dapat menampung muatan elektron. Coulombs pada abad 18 menghitung bahwa
1 coulomb = 6.25 x 1018 elektron. Kemudian Michael Faraday membuat postulat
bahwa sebuah kapasitor akan memiliki kapasitansi sebesar 1 farad jika dengan
tegangan 1 volt dapat memuat muatan elektron sebanyak 1 coulombs. Dengan
rumus dapat ditulis :

Q = CV …………….(1)

Q = muatan elektron dalam C (coulombs)

C = nilai kapasitansi dalam F (farads)

V = besar tegangan dalam V (volt)

Dalam praktek pembuatan kapasitor, kapasitansi dihitung dengan


mengetahui luas area plat metal (A), jarak (t) antara kedua plat metal (tebal
dielektrik) dan konstanta (k) bahan dielektrik. Dengan rumusan dapat ditulis
sebagai berikut :
C = (8.85 x 10-12) (k A/t) ...(2)
Seperti halnya hambatan, kapasitor dapat dibagi menjadi :
Kapasitor Tetap
Kapasitor tetap merupakan kapasitor dengan nilai kapasitas tetap.

Sirine / 2 KB 01
21
Elektronika Dasar

Simbol Kapasitor Tetap :

Kapasitor Tidak Tetap


Kapasitor tidak tetap adalah kapasitor yang memiliki nilai kapasitansi atau
kapasitas yang dapat diubah-ubah. Kapasitor ini terdiri dari :

a. Kapasitor Trimer
Kapasitor yang nilai kapasitansinya dapat diubah-ubah dengan cara
memutar porosnya dengan obeng.

Simbol Trimmer :

b. Variabel Capasitor (Varco)


Kapasitor yang nilai kapasitansinya dapat diubah-ubah dengan
memutar poros yang tersedia.

Simbol Varco :

Fungsi Kapasitor pada rangkaian listrik :


1. Untuk menyimpan muatan listrik.
2. Untuk menahan arus searah dan melewatkan arus bolak-balik.
3. Sebagai kopel (penghubung) pada rangkaian listrik.
4. Sebagai penentu frekuensi.

Sirine / 2 KB 01
22
Elektronika Dasar

Tabel 2.2 : Konstanta dielektrik bahan kapasitor

Untuk rangkain elektronik praktis, satuan farads adalah sangat besar sekali.
Umumnya kapasitor yang ada di pasar memiliki satuan uF (10-6 F), nF (10-9 F)
dan pF (10-12 F). Konversi satuan penting diketahui untuk memudahkan
membaca besaran sebuah kapasitor. Misalnya 0.047uF dapat juga dibaca sebagai
47nF, atau contoh lain 0.1nF sama dengan 100pF.

B. Tipe Kapasitor

Kapasitor terdiri dari beberapa tipe, tergantung dari bahan dielektriknya.


Untuk lebih sederhana dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu kapasitor electrostatic,
electrolytic dan electrochemical.

1. Kapasitor Electrostatic
Kapasitor electrostatic adalah kelompok kapasitor yang dibuat dengan
bahan dielektrik dari keramik, film dan mika. Keramik dan mika adalah bahan yang
popular serta murah untuk membuat kapasitor yang kapasitansinya kecil.
Tersedia dari besaran pF sampai beberapa uF, yang biasanya untuk aplikasi
rangkaian yang berkenaan dengan frekuensi tinggi. Termasuk kelompok bahan
dielektrik film adalah bahan-bahan material seperti polyester (polyethylene
terephthalate atau dikenal dengan sebutan mylar), polystyrene, polyprophylene,
polycarbonate, metalized paper dan lainnya.
Mylar, MKM, MKT adalah beberapa contoh sebutan merek dagang untuk
kapasitor dengan bahan-bahan dielektrik film. Umumnya kapasitor kelompok ini
adalah non-polar.

Sirine / 2 KB 01
23
Elektronika Dasar

2. Kapasitor Electrolytic
Kelompok kapasitor electrolytic terdiri dari kapasitor-kapasitor yang bahan
dielektriknya adalah lapisan metal-oksida. Umumnya kapasitor yang termasuk
kelompok ini adalah kapasitor polar dengan tanda + dan - di badannya. Mengapa
kapasitor ini dapat memiliki polaritas, adalah karena proses pembuatannya
menggunakan elektrolisa sehingga terbentuk kutup positif anoda dan kutup negatif
katoda.
Telah lama diketahui beberapa metal seperti tantalum, aluminium,
magnesium, titanium, niobium, zirconium dan seng (zinc) permukaannya dapat
dioksidasi sehingga membentuk lapisan metal-oksida (oxide film). Lapisan
oksidasi ini terbentuk melalui proses elektrolisa, seperti pada proses penyepuhan
emas. Elektroda metal yang dicelup kedalam larutan electrolit (sodium borate) lalu
diberi tegangan positif (anoda) dan larutan electrolit diberi tegangan negatif
(katoda). Oksigen pada larutan electrolyte terlepas dan mengoksidai permukaan
plat metal. Contohnya, jika digunakan Aluminium, maka akan terbentuk lapisan
Aluminium-oksida (Al2O3) pada permukaannya.

Gambar 2.14 : Prinsip kapasitor Elco

Dengan demikian berturut-turut plat metal (anoda), lapisan-metal-oksida


dan electrolyte(katoda) membentuk kapasitor. Dalam hal ini lapisan-metal-oksida
sebagai dielektrik. Dari rumus (2) diketahui besar kapasitansi berbanding terbalik
dengan tebal dielektrik. Lapisan metal-oksida ini sangat tipis, sehingga dengan
demikian dapat dibuat kapasitor yang kapasitansinya cukup besar.
Karena alasan ekonomis dan praktis, umumnya bahan metal yang banyak
digunakan adalah aluminium dan tantalum. Bahan yang paling banyak dan murah
adalah Aluminium. Untuk mendapatkan permukaan yang luas, bahan plat

Sirine / 2 KB 01
24
Elektronika Dasar

Aluminium ini biasanya digulung radial. Sehingga dengan cara itu dapat diperoleh
kapasitor yang kapasitansinya besar. Sebagai contoh 100uF, 470uF, 4700uF dan
lain-lain, yang sering juga disebut kapasitor elco.
Bahan electrolyte pada kapasitor Tantalum ada yang cair tetapi ada juga
yang padat. Disebut electrolyte padat, tetapi sebenarnya bukan larutan electrolit
yang menjadi elektroda negatif-nya, melainkan bahan lain yaitu manganese-
dioksida. Dengan demikian kapasitor jenis ini bisa memiliki kapasitansi yang besar
namun menjadi lebih ramping dan mungil. Selain itu karena seluruhnya padat,
maka waktu kerjanya (lifetime) menjadi lebih tahan lama. Kapasitor tipe ini juga
memiliki arus bocor yang sangat kecil Jadi dapat dipahami mengapa kapasitor
Tantalum menjadi relatif mahal.

3. Kapasitor Electrochemical
Satu jenis kapasitor lain adalah kapasitor electrochemical. Termasuk
kapasitor jenis ini adalah batere dan accu. Pada kenyataanya batere dan accu
adalah kapasitor yang sangat baik, karena memiliki kapasitansi yang besar dan
arus bocor (leakage current) yang sangat kecil. Tipe kapasitor jenis ini juga masih
dalam pengembangan untuk mendapatkan kapasitansi yang besar namun kecil
dan ringan, misalnya untuk applikasi mobil elektrik dan telepon selular.

2.2.6 Transistor
Transistor adalah sebuah komponen semi konduktor aktif yang disusun
dari tiga elektroda dengan bahan dasar type N dan type P, penyusunan ketiga
elektroda tersebut merupakan dasar dari pada jenis transistor yaitu PNP dan
NPN.

Gambar 2.15 : simbol Transistor NPN dan PNP

Sirine / 2 KB 01
25
Elektronika Dasar

Simbol Transistor Bahan Trioda


Keterangan dari fungsi masing-masing transistor adalah :
1. Emitor (E) adalah lapisan yang melepaskan muatan (hole positif atau elektron).
2. Colector (C) adalah lapisan yang menampung muatan (hole positif atau
elektron).
3. Basisi (B) adalah lapisan yang mengatur besarnya muatan yang akan
mengalir.

Transistor terdiri dari dua jenis yaitu transistor bipolar dan unipolar.
Transistor bipolar adalah transistor yang ada pada daerah N mempunyai banyak
sekali electron pita dan pada daerah P mempunyai banyak sekali hole. Jenis dari
transistor bipolar adalah transistor PNP dan NPN, sedangkan pada transistor
unipolar misalnya FET, MOSFET, JPET dan lain-lain. Fungso dari transistor
adalah sebagai penguat arus, saklar elektronika, osilator, pencampur (mixer) dan
penyearah.
JFET (Junction Field Effect Transistor) adalah salah satu model transistor
junction dan mempunyai resistansi input yang cukup tinggi. JFET memerlukan
pembawa mayoritas untuk dapat bekerja (muatan hole atau elektron). JFET
mempunyai kaki terminal, sama halnya dengan transistor bipolar yaitu Drain (D),
Source (S) dan Gate (G). MOSFET (Metal Okide Semi Conductor) adalah gate
yang mempunyai gate terbuat dari bahan logam dan antara kanal dan gate dilapisi
oleh suatu bahan silikon dioksida. MOSFET mempunyai jenis kanal N dan kanal
P.
Dalam penggunaan transistor untuk suatu proyek harus dipakai transistor
yang tepat. Jangan coba menggantinya dengan tipe lain yang dikatakan sama,
maka akan berakibat fatal. Letak sambungan kaki suatu transistor sudah
ditetapkan.

2.2.7 Speaker
Speaker adalah sebuah alat atau komponen elektronika yang berfungsi
sebagai penangkap gelombang lintrik dalam bentuk magnit dan merubahnya
kedalam bentuk gelombang suara atau bunyi. Speaker adalah sebuah alat atau
komponen elektronika yang berfungsi merubah gelombang listrik menjadi
gelombang suara atau bunyi, ini karena pada speaker mempergunakan magnet

Sirine / 2 KB 01
26
Elektronika Dasar

didalamnya yang berfungsi untuk menangkap setiap sinyal yang masuk padanya
dalam bentuk gelombang listrik.
Sinyal gelombang listrik inilah yang membuat fibra speaker bergetar dan
akhirnya akan dapat mengeluarkan suara atau bunyi, jadi speaker adalah sebuah
alat atau komponen elektronika yang dapat merubah gelombang listrik menjadi
gelombang suara atau bunyi yang berfungsi untuk menangkap gelombang-
gelombang suara atau bunyi. Dan pada akhirnya akan menghasilkan keluaran
berupa suara atau bunyi. Pada rangkaian ini kami menggunakan speaker dengan
spesifikasi 8ohm/1W, yang artinya pada speaker yang kami gunakan memiliki
tahanan 8ohm, dan bekerja pada daya 1 watt.

Gambar 2.16 : Speaker

2.2.8 Saklar
Saklar adalah sebuah alat atau komponen elektronika yang berfungsi untuk
memutus dan menyambung aliran listrik, pada rangkaian saklar berfungsi sebagai
terminal. Pada umumnya saklar memiliki dua kondisi yaitu ON (menyambung) dan
OFF (memutus), apabila saklar dalam kondisi ON maka kedua kutup saklar dalam
kondisi terhubung, sehingga arus listrik dapat mengalir dari sumber tegangan ke
dalam rangkaian, sehingga rangkaian dapat bekerja, tetapi apabila saklar dalam
keadaan OFF maka kedua kutup saklar dalam kondisi memutus (tidak
tersambung), sehingga arus listrik dari sumber tegangan tidak dapat mengalir ke
dalam rangkaian, sehingga rangkaian tidak dapat bekerja.

Gambar 2.17 : Saklar On Off

Sirine / 2 KB 01
Elektronika Dasar

BAB III
ANALISA RANGKAIAN

Pada bab ini kami menguraikan atau menganalisa alat yang telah kami buat
SIRENE tentang cara atau prinsip kerja dari alat Sirene ini. Penganalisaan pada
rangkaian Sirene ini akan kami sajikan dalam 2 (dua) metode yaitu :
1. Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram
2. Analisa Rangkaian Secara Detail
Yang semua ini kami lakukan untuk dapat lebih memperjelas tentang cara atau
prinsip kerja dari Rangkaian Sirene ini, dengan harapan akan lebih mudah untuk
dimengerti atau dipahami.

3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram


Analisa secara blok diagram untuk SIRENE ini dibagi menjadi empat
bagian yaitu : Input, Multivibrator, IC / Penguat dan Output. Dan untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut dibawah ini :

Astable IC /
Input
Multivibrato Penguat
r

Output

Gambar 3.1 : rangkaian secara blok diagram

Input
Input adalah tegangan yang diberikan terhadap rangkaian (vcc). Pada
rangkain ini tegangan input yang diberikan sebesar 12 volt, inputan dapat
bersumber dari power suplai atau baterai.

Astable Multivibrator
Astable mutivibrator adalah rangkain yang tidak memiliki keadaan
yang stabil pada kedua state nya, jadi selalu berpindah-pindah dari keadaan

Sirine / 2 KB 01
27
28
Elektronika Dasar

lainnya. Tegangan yang melalui rangkaian ini akan tersimpan sementara dalam
kapasitor kemudian dilepaskan ke kaki basis masing-masing tansistor dan
tegangan keluar melalu kaki emitor, jika tegangan keluar melui kaki kolektor maka
terjadi cut off . Astable multivibrator juga memiliki satu inputan dan dua output
yang menghasilkan gelombang kotak.

Gambar 3.2 : Astable Mutivibrator


IC / Penguat
LM398 adalah merupakan tiga buah deret transisitor NPN yang memiliki
kesamaan fungsi dengan penguatan tenaga bunyi LM398. Input Amplifier
(penguatan) diperkuat dengan ground dan secara otomatis membuat Output
menjadi salah satu supply (persediaan) tegangan. Gain disetel pada nilai 20 untuk
memperkecil bagian yang hilang (terbuang), tetapi penambahan Resistor dan
Kapasitor untuk mengurangi bagian yang hilang (terbuang) pada Pin 4 dan 12
akan membuat setiap nilai Gain bertambah sampai diatas 200, dengan demikian
maka ketiga Transisitor memiliki Gain yang tinggi dan membuat karakteristik (ciri
khas) yang sangat unik. Dan ketiga transistor ini dapat menyetel sendiri
perbedaan (variatif) lebar pada Aplikasi (penggunaan) sistem VHF.

Output
Outputan yang dikeluarkan oleh rangkaian ini dikeluarkan melalui Speaker
yang berfungsi mengubah gelompang listrik menjadi gelombang suara yang dapat
diatur amplitudo dan frekuensinya dengan menggunakan Potensiometer.

Sirine / 2 KB 01
29
Elektronika Dasar

3.2 Analisa Secara Rinci


Tegangan masuk melalui Vcc sebesar 12 v, dalam rangkaian, arus tegangan
ini masuk pada komponen R9, R8, R6, Pt1, dan TR1, disini arus tegangan cenderung
masuk pada TR1,C5 dan C4, karena memiliki hambatan yang lebih kecil. Arus
tegangan langsung masuk pada Pin 2 (Vs) pada IC LM 389 dikarena tidak ada
hambatan. Kemudian arus tegangan yang masuk dari kaki collector TR1 akan
diteruskan ke emitor TR1 dan kemudian masuk ke Pin 3 (BYPASS) IC LM389.
Kemudian arus tegangan yang masuk dari R6 akan terbagi menjadi tiga,
masing-masing tegangan masuk ke kaki basis TR1, C4, dan collector TR2. Arus
tegangan yang masuk di C4 akan disimpan sementara dan kemudian dilepaskan ke
basis TR3. Arus tegangan yang melalui P1 dan R7 akan bertemu dengan arus
tegangan yang dilepaskan oleh C4 dan bersama-sama masuk ke kaki basis TR3 (Pin
7 IC LM389), dari basis TR3 arus tegangan bertemu dengan arus tegangan dari R9,
kemudian diteruskan melalui kaki emitor TR3 (Pin 8 IC LM 389) dan mengalir ke
ground.
Arus tegangan dari R9 mengalir ke C5, dan bertemu dengan arus dari R8 dan
masuk ke kaki basis TR2 (Pin 10 IC LM 389), kemudian arus dari TR3 yang
sebelumnya akan bersama-sama dengan arus dari TR2 mengalir ke Pin 5 (-in) IC LM
389 melalui C3 dan mengalir menuju speaker melalui R3 dan P2.
Selain itu arus dari TR3 dan TR2 mengalir menuju Pin 16 IC LM 389 (+in) ,
setelah itu arus akan di perbesar di dalam IC, kemudian arus akan keluar melalui Pin
1 (Vout) dan disimpan pada C1 dan kemudian bersama-sama dengan tegangan dari
C2 dan R1 arus masuk menuju speaker sehingga dapat menghasilkan suara.
Pada rangkaian ini arus tegangan yang masuk tidak stabil karena IC LM 389
sudah dibuat sedemikan rupa sehingga menyerupai rangkaian astable multivibrator
yang memiliki dua keadaan yang tidak stabil sehingga selalu berubah-ubah dari satu
keadaan ke keadaan yang lainnya. Hal ini disebabkan karena adanya C4 dan C5
pada rangkaian yang berfungsi menyimpan dan kemudian melepaskan arus tegangan
sehingga arus tegangan yang keluar dari TR2 dan TR3 berubah-ubah menjadi besar
kemudian menjadi kecil. Keadaan yang tidak stabil inilah yang dimanfaatkan untuk
menghasilkan suara pada sirene yang berubah-ubah dari besar ke kecil dan begitu
seterusnya.

Sirine / 2 KB 01
30
Elektronika Dasar

Sirine / 2 KB 01
Elektronika Dasar

BAB IV
CARA PENGOPERASIAN ALAT

1. Sediakan sumber tegangan DC sebesar 12 V, sumber tegangan dapat


berasal dari Power Supply : Trafo, Baterai, adaptor.
2. Kemudian hubungkan kutub positif dengan jack banana berwarna merah
(Vcc) dan kutub negatif dengan jack banana berwarna hitam (Ground)
3. Pindahkan saklar ke posisi “ON”.
4. Kemudian alat mengeluarkan suara..
5. Untuk memperbesar Frekuensi putar P1 berlawanan arah dengan jarum
jam.
6. Untuk memperbesar Amplitudo putar P2 berlawanan arah dengan jarum
jam.

Sirine / 2 KB 01
31
Elektronika Dasar

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Rangkaian Sirene adalah rangkaian elektronik yang penggunaannya
ditujukan bagi keperluan sehari-hari yang fungsinya yaitu sebagai alat pemanggil,
yang didalam pengerjaannya membutuhkan IC sebagai penguat. Setelah
menyelesaikan proyek Sirene ini kami dapat menarik kesimpulan antara lain :
a. Untuk dapat menyelesaikan suatu proyek harus benar-benar terencana
karena untuk dapat menghasilkan proyek yang baik, harus dimulai dengan
perencanaan komponen, dan kemudian pembuatan jalur rangkaian pada
papan PCB dengan memperhatikan contoh rangkaian pada sket gambar
yang diberikan.
b. Dengan memanfaatkan teori dan praktek pada praktikum elektronika dasar
kami mulai merangkai komponen pada PCB yang sebelumnya telah kita
buat jalur rangkaiannya.
c. Sirene ini merupakan rangkaian elektronika yang terdiri dari komponen-
komponen seperti resistor, transistor, kapasitor (Elco), Potensiometer,
Speaker dan IC (Integral Circuit) serta saklar/switch, yang semuanya
dirangkai sehingga didapatkan hasil seperti yang diinginkan.
d. Sirene ini merupakan salah satu dari alat elektronika sederhana dan
bermanfaat sekali pada penggunaannya,terutama pada kehidupan
seharihari dalam keadaan berbahaya/darurat, Sirene ini diharapkan dapat
memberikan solusi dan alternative bagi keperluan kita semua, yang
penggunaannya sebagai alat peringatan atau pemberitahuan elektronika.

5.2 Saran.
Pembuatan proyek rangkaian elektronik seperti ini ternyata sangat
membantu dalam kreatifitas para mahasiswa, terutama kami sebagai mahasiswa
jurusan Sistem Komputer yang tentunya sangat perlu belajar untuk membuat
proyekproyek rangkaian elektronika seperti ini. Dan rangkaian ini dapat
dikembangkan lebih luas lagi sehingga hasilnya akan lebih bermanfaat.

Sirine / 2 KB 01
32
33
Elektronika Dasar

Rangkaian Sirene ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan karena masih
adanya keterbatasan ilmu pengetahuan, oleh karena itu masih banyak
kemungkinan pengembangan yang dapat dilakukan dari rangkaian Sirene ini.
Dari keseluruhan kerja yang telah kami lakukkan, dan berbagi kendala yang
terjadi selama proses pembuatan rangkaingan Sirene ini, mulai dari pembuatan
skema pada Printed Circuit Board (PCB). Pemasangan dan penyolderan
komponen hingga pemasangan kedalam box / aklirik yang telah jadi, penulis
menyarankan beberapa hal, antara lain :
Untuk pembuatan skema pada PCB, beri mahasiswa pelatihan khusus
untuk membuat skema pada PCB dan yakinkan bahwa hitamnya tinta
sebuah bagus / penuh (tidak berpori / berserat) sebelum merendamnya
dalam larutan Ferri Clorit agar hasilnya bagus.
Pada saat pemasangan komponen, pastikan kaki-kaki komponen tidak
tertukar tempat pada lubang (hole) PCB.
Untuk penyolderan, gunakan timah yang kilapnya bagus (biasanya merk
Asahi) dan hindarkan terlalu lama memanaskan nya pada kaki komponen
agar komponen tidak rusak (terutama untuk komponen IC) serta buatlah
cairan timah pengerutan pada kaki komponen.
Periksalah seluruh rangkain sekali atau dua kali lagi sebelum mencoba
menggunakan Sirene yang telah dibuat.

Dan setelah melaksanakan praktikum, kami ingin menyampaikan beberapa saran


diantaranya adalah :
1. Agar materi yang disampaikan untuk bahan pembuatan proyek atau
makalah lebih di tingkatkan lagi.
2. Pemeliharaan alat-alat praktikum agar lebih diperhatikan lagi terutama Ic
dan komponen-komponen lainnya.
3. Dalam pembuatan alat dan makalah ini kami harapkan kakak Asisten dapat
membantu dan memberikan petunjuk.
4. Untuk waktu yang diberikan pada saat proyek dan pembuatan makalah,
agar dapat ditambah.
5. Pembagian kelompok lebih diperhatikan agar tidak ada diskriminasi orang
yang malas dan yang rajin.

Sirine / 2 KB 01
Elektronika Dasar

LAMPIRAN

DATA PENGAMATAN
P1 - P2
Keadaan/
Min-Min Min-Max Max-Min Max-Max
Pin
1 4,9 - 5 V 5 - 5,2 V 5,2 V 5V
2 10 V 10 V 10 V 10 V
3 5-7V 5-6V 5-6V 5-6V
4 1,5 V 1,3 V 1,5 V 1,5 V
5 0,01 V 0,01 V 0,01 V 0,015 V
6 2,8 - 9,2 V 0,075 V 0,1 V 4-7V
7 0,03 V 0,03 V 0 - 0,25 V 0,25 V
8 0,03 V 0,03 V 0,03 V 0,028 V
9 0,03 V 0,03 V 0,03 V 0,028 V
10 0 - 0,6 V 0 - 0,05 V 0 - 0,5 V 0 - 0,05 V
11 0,2 - 5 V 1-3V 1-3V 1 - 3,5 V
12 1,5 V 1,5 V 1,5 V 1,5 V
13 10 V 10 V 10 V 10 V
14 0-5V 1-4V 1-3V 1 - 3,5 V
15 5-7V 5-6V 5,2 - 5,9 V 5,5 - 6 V
16 0,02 V 0,06 - 0,075 V 0,06 - 0,075 V 0,01 - 0,015 V
17 0V 0,045 V 0,04 V 0,035 V
18 0V 0,045 V 0,04 V 0,035 V

Gambar grafik pada Osiliscop

MIN-MIN MIN-MAX

VOLT / DIV : 5 V VOLT / DIV : 5 V


TIME / DIV : 0,5 ms TIME / DIV : 0,5 Ms

Sirine / 2 KB 01
35
36
Elektronika Dasar

Max-Min Max-Max

VOLT / DIV : 5 V VOLT / DIV : 5 V


TIME / DIV : 0,5 ms TIME / DIV : 0,2 ms

DAFTAR KOMPONEN
NAMA KOMPONEN NILAI
Resistor
R1 2.7 Ω
R2 Jumper
R3, R7 22 KΩ
R4, R6, R9 10 KΩ
R5 1 KΩ
R8 56 KΩ
Potensiometer
P1, P2 100 KΩ
Kapasitor
C1 47 μF
C2 0,05 μF
C3 0,1 μF
C4, C5 10 μF
Speaker 8 Ω / 0,5 W
Saklar ON/OFF
IC LM 389 transistor NPN

Sirine / 2 KB 01