Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Mempelajari Ketuhanan sebagaimana diungkapkan dalam kitab Brahma Sutra
I.I.I., merupakan hal yang penting, karena dinyatakan sebagai jalan yang dapat mengantar
manusia kepada kesempurnaan sampai kepada moksa.
Theologi atau Brahma Vidya adalah ilmu tentang Tuhan.Theos (bhs.Yunani)
berarti Tuhan dan Logos (Bhs. Yunani) berarti Ilmu.Perlunya belajar Ketuhanan adalah
untuk mengerti dan memahami tentang Tuhan agar dapat dihindari pengertian yang salah
sejauh mungkin tentang pengertian Tuhan yang dibedakan dari hal yang bukan Tuhan.
Masalah Ketuhanan inilah yang akan dibahas berturut-turut dalam uraian berikut
untuk mendapatkan gambarang yang jelas tentang pengertian, konsep, serta metode
penghayatan tentang Tuhan sebagaimana dapat kita lihat sepanjang sejarah pertumbuhan
agama Hindu.

1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat diangkat dari makalah ini adalah:
1. Bagaimana konsep Brahma Widya?
2. Bagaimana cara penghayatan Brahma Widya?
3. Bagaimana cara pemujaan Brahma Widya?
4. Apa saja sarana pemujaan Brahma Widya?

1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan yang dapat diangkat dari makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui konsep Brahma Widya.
2. Untuk mengetahui penghayatan Brahma Widya.
3. Untuk mengetahui cara pemujaan Brahma Widya.
4. Untuk mengetahui sarana pemujaan Brahma Widya.


2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Konsep Brahma Widya
Kedudukan Brahma Widya (ilmu pengetahuan tentang kesejatian Brahman atau
Ida Sang Hyang Widhi Waa) dalam agama Hindu adalah sangat mendasar dan urgen.
Dalam pustaka Brahma Sutra I.1.1 diuraikan bahwa jalan untuk mencapai moksah atau
nirwana adalah dengan mengenal Brahman/Ida Sang Hyang Widhi Waa secara tepat dan
baik.Apabila ditinjau secara etimologi, Brahma Widya berarti ilmu yang mempelajari
tentang kesejatian Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Waa dalam segala aspek-Nya.
Guna memahami keberadaan beliau serta segala sesuatu tentang-Nya, satu-
satunya jalan yang harus ditempuh adalah dengan mendalami pustaka-pustaka
suci.Pernyataan Sstrayonitwat (Brahma Sutra I.1.3) menegaskan bahwa Pustaka
Suci Weda dan Sastra Agama-lah yang merupakan sumber utama untuk dapat
memahami-Nya. Pernyataan itulah yang menjadi pegangan teguh dan diyakini tanpa
reserve oleh setiap pribadi Hindu, karena kenyataannya memang tidak dapat dibantah.

2.2 Penghayatan Brahma Widya
Berbagai model yang dapat dilihat dalam kehidupan beragama untuk menghayati
dan menunjukkan rasa bhakti dari setiap kelompok keyakinan kepada yang diyakini
sebagai kausa prima. Berikut ini adalah beberapa model yang panghayatan terhadap
Brahman atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa :
1. Animisme
Model keyakinan dalam Animisme adalah bahwa setiap yang ada di alam raya
ini adalah mempunyai jiwa/roh.Roh adalah wujud non fisik yang senantiasa hidup
sepanjang alam raya ini ada.Demikian juga bahwa setiap satu kesatuan wilayah ada
roh yang bertanggung jawab, melindungi, menata dan mengatur wilayah tersebut.
Karena roh sifatnya permanen, maka setiap orang wajib dan sangat
menghormati roh leluhurnya serta roh para tokoh yang ada di lingkungannya. Mereka
3

(para roh leluhur) diyakini senantiasa akan menuntun, membimbing dan mengarahkan
para keturunannya (sang prati-sentana) sehingga menemukan kebahagiaan hidup.
2. Dynamisme
Merupakan suatu keyakinan akan adanya roh-roh suci, benda-benda dan
tempat-tempat sakral. Bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini adalah berjiwa
(memiliki kekuatan).Di atas segala jiwa, ada jiwa tertinggi/jiwa utama. Dari
keyakinan akan adanya roh-roh suci dan benda-benda serta tempat-tempat sakral ini,
memunculkan adanya aktivitas perawatan terhadap benda-benda tersebut dan
perawatan terhadap tempat-tempat khusus di masing-masing wilayah.
3. Polytheisme
Suatu keyakinan yang mengakui adanya banyak tuhan, dimana masing-
masing tuhan mempunyai sifat sendiri-sendiri. Penganut Polytheisme dalam memuja
tuhan sering dan pasti melakukan perpindahan dari satu tuhan ke tuhan yang lain
apabila yang bersangkutan beralih profesi. Oleh Max Muller (pemimpin kaum
missionaris Jerman), karena kebingungannya dalam memahami konsep-konsep
pemikiran pada pustaka suci Reg Weda, model demikian disebut Kathenoisme.
4. Monotheisme
Model ini menekankan akan adanya keyakinan terhadap satu tuhan.
Keyakinan model ini dapat dibedakan menjadi dua macam yang antara satu dengan
yang lain sangat bertolak belakang, yakni:
a. Monotheisme Absolut.
Model ini bercirikan:
1. Tuhan berwujud tunggal dan bersifat personal/individu serta memiliki jenis
kelamin laki-laki.
2. Dalam pemujaan selalu dituakan, harus dipuja dengan sebutan bapak, tidak
boleh dipuja sebagai: kakak, teman, adik, ibu, dan sejenisnya.
3. Memiliki tempat sendiri, yaitu sorga. Ia dapat pergi kemana-mana tetapi
tempat tinggal yang tetap adalah sorga.
4. Merupakan raja yang berkuasa penuh atas sorga dan dunia; juga penguasa atas
segala takdir.
4

5. Raja ini harus selalu disembah dan dipuja. Manusia harus sering dan taat
menyembah dan menghormatinya sehingga sang raja menjadi puas, dan
manusia harus senantiasa takut kepadanya.
6. Manusia harus hanya menyembahnya, tidak boleh menyembah yang lain.
Apabila menyembah yang lain, berarti penghianatan terhadap kerajaan-Nya.
Bila hal ini terjadi, maka tuhan akan menghukum dan menjebloskannya ke
neraka.
7. Tuhan mempunyai musuh/saingan abadi yakni Setan/Kuasa Kegelapan.
Karena itu akan selalu terjadi persaingan antara kedua kekuatan tersebut
dalam memperebutkan manusia. Apabila manusia mau dikuasai oleh setan,
maka tuhan akan murka dan pada akhirnya manusia akan dijebloskan ke
neraka abadi.
8. Kehendak tuhan di sorga, agar diketahui oleh manusia, maka dikirim para
rasul. Manusia harus menuruti kehendak tersebut, apabila menentang atau
menyimpang, maka akan dijebloskan ke neraka.
b. Monotheisme Non Absolut.
Model ini menunjukkan ciri-ciri:
1. Tuhan adalah tunggal, tetapi boleh dipuja dalam banyak nama serta boleh
diposisikan sebagai ayah, ibu, guru, pemimpin, teman, kekasih, kakak, dan
sejenisnya.
2. Tuhan yang tunggal memiliki berbagai manifestasi atau perwujudan. Fungsi
perwujudan adalah agar para penyembahnya dapat menghayati keberadaan
beliau.
3. Tuhan tidak menentukan segalanya, beliau hanya menguasai beberapa takdir
saja, seperti: umur planet, gerakan alam, pertumbuhan mahluk, dsb.
4. Tuhan tidak mempunyai musuh abadi, juga tidak murka apabila manusia
melakukan penyimpangan. Tuhan hanya memantulkan apa adanya seperti apa
yang dilakukan mahluk ciptaannya (ibarat cermin).
5

5. Manusia menjadi baik atau jahat, cerdas atau bodoh, kaya atau miskin, dan
sejenisnya tergantung dari dirinya sendiri. Bukan karena rayuan setan, cobaan
dari tuhan, bukan pula karena takdir tuhan.
6. Manusia masuk sorga atau jatuh ke dalam neraka juga karena dirinya sendiri,
bukan karena hukuman dari tuhan.
7. Tuhan mengayomi seluruh ciptaannya dengan penuh kasih sayang. Beliau
bersifat netral ibarat cermin datar memantulkan setiap bayangan yang ada di
depannya.
5. Pantheisme
Konsepsi ketuhanan pada model ini menyatakan bahwa jiwa yang terdapat
pada setiap mahluk pada akhirnya akan kembali kepada tuhan (manunggaling kawula
lan Gusti). Selain itu, tuhan juga mau mengambil perwujudan dalam berbagai bentuk
duniawi, bukan saja sebagai manusia, tetapi juga sebagai manusia setengah binatang,
sebagai binatang, bahkan sebagai tumbuh-tumbuhan.
Ada tiga macam perwujudan umum yang dipakai oleh tuhan, seperti:
a. Anthrophomorphes; tuhan mengambil wujud sebagai manusia super, yakni
manusia dengan berbagai kelebihan/keistimewaan, seperti: sangat sakti, dapat
memurti, melakukan hal-hal diluar kemampuan manusia biasa, dsb.
b. Semi Anthrophomorphes; tuhan mengambil wujud setengah atau sebagian
manusia sebagian binatang, seperti: Narasimha, Ganea, dsb.
c. Unanthrophomorphes; tuhan mengambil wujud penuh sebagai binatang atau
sebagai tumbuh-tumbuhan, seperti: Kurma Awatara, Matsya Awatara, Soma, dsb.
6. Henotheisme
Model ini menyatakan bahwa dewa yang banyak itu adalah tunggal adanya,
dan yang tunggal itu adalah banyak adanya.
Ciri-ciri dari konsep model ini adalah:
1. Tuhan ada pada posisi: paling tinggi, paling mulia, paling utama dan seluruh alam
beserta isinya menyatu dengannya.
6

2. Tuhan merupakan perwujudan keindahan dan kemegahan seluruh alam, termasuk
kebajikan dan kemuliaan yang terdapat dalam diri manusia.
3. Pemujaan dilakukan dalam bentuk yang maha utama dalam usaha
menggambarkan kemaha-kuasaan tuhan, walaupun nama-nama tuhan yang
digunakan berbeda-beda.
4. Keberadaan tuhan adalah dalam posisi netral dan memenuhi seluruh alam yang
ada.
5. Dewa yang banyak itu adalah satu, sehingga tidak ada kontradiksi dalam
penampilan satu dewa terhadap dewa yang lain. Yang ada hanyalah perbedaan
tugas masing-masing.
6. Dalam kehidupan beragama senantiasa disertai nilai-nilai keindahan dan
kesemarakan.
7. Monisme
Konsep ini menjelaskan bahwa tuhan adalah tunggal, tetapi melingkupi
seluruh alam ini.Tuhan juga adalah inti dan kesejatian dari segala yang ada.Segala
yang ada muncul dari tuhan.
Sarwam khalu idam Brahman (Bhad Aranyaka Upanisad), artinya bahwa
segalanya ada dalam tuhan dan tuhan ada dalam segalanya.Tuhan ada pada setiap
mahluk, apapun jenis mahluk itu.Sebaliknya, seluruh mahluk, apapun jenisnya, ada
atau hidup dalam tuhan.
8. Atheisme
Atheisme dalam hal ini tidak sama dengan atheisme komunis dari Karl Mark
(tidak percaya akan adanya tuhan). Di sini atheisme artinya tidak bertuhan/perlu lagi
mencari tuhan, karena yang bersangkutan telah sampai kepada tuhan.







7

2.3 Pemujaan Brahma Widya
Pemujaan dilakukan terhadap Brahman/Ida Sang Hyang Widhi dilakukan dalam dua
model, yakni:
1. Trancendental atau Nirguna Brahman (Impersonal God).
Sang Hyang Widhi Waa dipuja/dihayati dalam posisi acintyarpa artinya diluar
daya jangkau/kemampuan pikir manusia. Sang Hyang Widhi Wasa:serba maha,
serba bukan, serba seluruh, dsb. Serba di luar daya jangkau pikir manusia maupun
mahluk lain, yang dalam teks Kawi dinyatakan tan kagrahita dening manah mwang
indriya. [Reg Weda X.90.1].
2. I mmanen atau Saguna Brahman (Personal God).
Sang Hyang Widhi Wasa dipuja/dihayati dalam posisi berwujud sehingga dapat
dijangkau oleh rasa atau daya pikir manusia. Dalam posisi ini beliau dipuja dengan
menggunakan berbagai gelar/nama nmarpa. Beliau dipuja dalam seribu
gelar/nama sahasranma [Reg Weda I.164.46]. Pemujaan model ini
disebut Saguna Upsana.
Beberapa gelar diantaranya:
a. Sang Hyang Acintya = Ia yang tak terpikirkan.
b. Sang Hyang Jagatnatha = Ia yang menjadi raja segala raja.
c. Sang Hyang Jagatkarana = Ia yang menyebabkan adanya alam raya.
d. Sang Hyang Paramakawi = Ia yang maha penyusun/pengarang.
e. Sang Hyang Parama Wisesa = Ia yang penguasa utama.
f. Sang Hyang Pramesti Guru = Ia yang guru segala guru.
g. Sang Hyang Taya = Ia yang tanpa panca indriya.
h. Sang Hyang Tri Purusha = Ia yang memiliki tiga kesucian tertinggi.
i. Sang Hyang Tri Murti = Ia yang memiliki tiga wujud utama.
j. Sang Hyang Tri Lokasarana = Ia yang menjadikan adanya Tri Loka.
k. Sang Hyang Prajapati = Ia yang menjadi raja semua mahluk.
l. Sang Hyang Tuduh = Ia yang maha mengatur.
m. Sang Hyang Tunggal = Ia yang satu-satunya.
n. Sang Hyang Wenang = Ia yang maha menentukan.
o. Sang Hyang Widhi Waa = Ia yang maha kuasa.
8

2.4 Sarana Pemujaan
Dalam Hindu terdapat berbagai macam persembahyangan, doa (Sanskerta:
prrthan) atau puja. Dilakukan berdasarkan beberapa hari suci dalam agama Hindu atau
pemujaan pada dewa atau arwah yang dihormati.Persembahyangan dapat dilakukan
dalam kuil keluarga maupun pura di lingkungannya. Ritual terkadang melibatkan api atau
air sebagai lambang kesucian. Pembacaan suatu bait mantra terus menerus dengan notasi
dan waktu tertentu, atau juga meditasi dalam yang diarahkan pada dewa yang dituju.
Pemujaan dalam Hindu dapat ditujukan kepada arwah seseorang suci yang dimuliakan,
dewata, salah satu atau seluruh Trimurti, yaitu dewa tertinggi dalam Hindu, atau meditasi
untuk mencapai kebijaksanaan sejati, mencari ketiadaan tak berbentuk seperti yang
dilakukan para resi dan orang suci pada dahulu kala. Beberapa tarian sakral juga
dianggap sebagai salah satu prasyarat kelengkapan suatu upacara keagamaan.
Salah satu sarana didalam pemujaan itu sendiri adalah sesajen dalam Hindu
disebut canang.Canang merupakan upakara yang sangat sering digunakan dalam
kehidupan beragama umat hindu khususnya di Bali. Hampir setiap hari dapat kita jumpai
adanya umat yang menghaturkan canang sebagai wujud bhakti dan syukur kehadapan Ida
Sanghyang Widhi Wasa.Walaupun bentuk dan ukuranya kecil, canang memiliki peranan
yang sangat penting, sehingga canang juga disebut Kanista atau inti dari upakara. Sebesar
apapun upakara tersebut maka tidak akan menjadi lengkap kalau tidak diisi dengan
canang.
Canang terdiri dari dua suku kata yang berbahasa kawi yaitu "ca" yang berarti
indah dan "nang" yang berarti tujuan. Jadi canang adalah sebuah sarana dalam bahasa
Weda yang bertujuan untuk memohon keindahan (sundharam) kehadapan Tuhan Yang
Maha Esa.Dalam ajaran agama Hindu di Bali, canang mempunyai beberapa bentuk dan
fungsi sesuai dengan kegiatan upacara yang diadakan. Canang adalah sebuah penjabaran
nilai - nilai Weda yang disimboliskan melalui unsur - unsur yang terdapat di dalam
Canang, antara lain :


9

1. Ceper
Canang yang dialasi oleh ceper sebagai simbol Ardha Candra, sedangkan canang yang
dialasi oleh tamas kecil adalah simbol dari Windhu

2. Porosan
Didalam canang terdapat sebuah porosan sebagai simbol silih asih, yang mempunyai
makna bahwa setiap umat harus mempunyai hati (posros) yang berisikan cinta kasih dan
welas asih serta rasa syukur yang mendalam kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa

3. Jajan, Tebu dan Pisang
Didalam ceper berisikan jajan, tebu dan pisang sebagai simbol dari Tedong Ongkara yang
melambangkan kekuatan Upetti, Stiti dan Pralinan dalam kehidupan di alam semesta

4. Sampan Urasari
Diatas raka - raka tadi disusunkan sebuah sampian urasari (di beberapa daerah disebut
Duras) yang melambangkan kekuatan Windhu dan ujung - unjung sampian tersebut
merupakan perlambangan Nadha

5. Bunga
Diatas sampian urasari disusunkan anekan bunga dengan susunkan sebagai berikut :
Bunga berwarna Putih disususnkan di Timur sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara
Bunga berwarna Merah disusunkan di Selatan sebagai simbol kekuatan Sang Hyang
Brahma
Bunga berwarna Kuning disusunkan di Barat sebagai simbol kekuatan Sang Hyang
Mahadewa
Bunga berwarna Biru atau Hijau disusunkan di Utara sebagai simbol kekuatan Sang
Hyang Wisnu
Kembang Rampai disusunkan ditengah - tengah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang
Panca Dewata

10

Dengan demikian Canang mempunyai makna sebagai sarana permohonan umat Hindu
kehadapan Sang Hyang Widhi (berwujud Ogkara) dan memohon kekuatan beliau dalam
manifestasi Sang Hyang Ista Dewata
Kesemuanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan spiritual pribadi atau
mencapai pencerahan spiritual. Hindu dapat bersembahyang kepada kebenaran dan
keberadaan absolut tertinggi yang disebut Brahman, atau secara umum ditujukan kepada
salah satu manifestasinya dalam Trimurti, yakni Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu
sebagai dewa pemelihara, Shiwa sebagai dewa pelebur. Atau diarahkan pada Awatara,
penitisan Wishnu di atas bumi yaitu Rama dan Krishna. Pemujaan juga dapat ditujukan
pada shakti dewa, yakni dewi-dewi pasangan sang dewa. Umat Hindu biasanya
bersembahyang dengan mengatupkan kedua telapak tangan dengan khidmat yang disebut
'pranam' dalam bahasa Sanskerta.


11

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Konsep Brahma Widya.
Brahmavidya adalah pengetahuan tentang Ketuhanan dalam Agama
Hindu,pemahaman tentang Tuhan itu penting dan perlu karena dengan mengenal
Tuhan secara tepat dan baik dapat mengantarkan kepada jalan kesempurnaan sampai
kepada moksa.
2. Penghayatan Brahma Widya.
Didalam penghayatan Brahma Widya memang diketahui memiliki beberapa model
penghayatan atau kepercayaan dalam beragama. Tetapi dibalik semua itu memiliki
tujuan yang sama, yaitu sama-sama memiliki suatu kepercayaan yang diyakini,
disembah, dan dipuja oleh tiap penganutnya sebagai yang Maha Kuasa.
3. Pemujaan Brahma Widya.
Bentuk apapun yang dipuja, bukan bentuknya yang dipuja tetapi nilai-nilai halus
dibalik bentuk yang memberikan arti pada bentuk tersebut. Leluhur kita telah
memberikan berbagai Dewa bukan untuk keisengan. Mereka telah memberikan
konsep yang bermacam macam dari Tuhan Utama yang sama, dengan
mempertimbangkan keterbatasan pikiran, intelek dan tuntutan emosi manusia.
4. Sarana Pemujaan.
Memperhatikan tentang sarana pemujaan dalam upacara, maka sesungguhnya makna
dari upakara yadnya atau bebanten yang dipersembahkan sebagai sarana pemujaan
antara lain merupakan cetusan hati manusia (umat hindu) untuk menyatakan terima
kasihnya kepada Hyang Widhi, dimana perasaannya itu diwujudkan dengan isi
dunia, yang berupa air, api, bunga, buah-buahan, dan sebagainya merupakan
perwujudan Hyang Widhi Wasa dengan manifestasinya merupakan alat juga upakara
yadnya atau bebanten merupakan pelajaran untuk memuja Hyang Widhi Wasa
dengan ke Maha Kuasaannya untuk menentukan dan memberikan anugrah kepada
umat Hindu.


12

3.2 Daftar Pustaka
http://tugasinternetkampus.blogspot.com/2011/07/theologi-hindu-brahma-vidya.html
(diakses tgl. 04 Okt. 2014)
http://vaprakeswara.wordpress.com/2010/04/03/theologi-hindu/
(diakses tgl. 04 Okt. 2014)
http://manyul83.blogspot.com/2010/12/theologi-hindu_15.html
(diakses tgl. 04 Okt. 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sembahyang
(diakses tgl. 06 Okt. 2014)
http://upadhana.blogspot.com/2014/05/catur-marga-yoga.html
(diakses tgl. 06 Okt. 2014)
http://www.idapedandagunung.com/viewtopic.php?f=7&t=82
(diakses tgl. 10 Okt. 2014)