Anda di halaman 1dari 23

Jakarta, 26 Juni 2014

MANAJEMEN
PAJAK PENGHASILAN
A. NERACA AKUNTANSI
PEMBUKUAN
B. LABA RUGI AKUNTANSI
D. DAFTAR PENYUSUTAN FI SKAL
C. LABA RUGI FI SKAL
REKONSI LI ASI (Penyesuaian)
Dokumen Sumber
Neraca Saldo Setlh
Penyesuaian
Ayat Jurnal
Penyesuaian
Neraca Saldo Seblm
Penyesuaian
Buku Besar
Buku Harian /
Jurnal Harian
Penghitungan PPh Akhir Tahun 2013
A.Penghasilan Neto Fiskal
B.Zakat (sudah ada di Rekonsiliasi Fiskal)
C.Kompensasi Kerugian
D.Pengh Tdk Kena Pajak (PTKP) tidak ada
E.Penghasilan Kena Pajak ( PKP )
F.PPh Terutang
G.PPh yang dipotong / dipungut pihak ketiga
(PPh 22 / 23 / 24) sdngkan PPh 21 tidak ada
H.PPh yg harus dibayar sendiri /
PPh yg lebih dipotong
H.PPh Yang Dibayar Sendiri :
- PPh Pasal 25 (angsuran)/STP Pokok PPh 25
- Fiskal Luar Negeri
J. PPh Kurang Bayar / Lebih Bayar (PPh Psl 29)
164.000.950
0
-
0
164.000.000
20.500.000

( 10.960.000)
9.540.000
-

(8.000.000)
-
1.540.000
Lanjut A
Lanjut B
Lanjut C
Lanjut D
Lanjut E
L/K Akuntansi

Perkiraan

Akuntansi
Rekonsiliasi
Fiskal
Positif Negatif
Peredaran Usaha :
1 Tdk. Final 300.000.000 - - 300.000.000
2 Final/Bukan Objek PPh 100.000.000 - 100.000.000 -
Biaya Usaha sesuai Fiskal terdapat
(Sumbangan 50.000.000)
200.000.000 50.000.000 - 150.000.000
Laba Operasi 200.000.000 50.000.000 100.000.000 150.000.000
Phslan bunga, jasa giro (final) 20.000.000 - 20.000.000 -
Phslan Dividen-Saham 50%
(Bukan Objek PPh)
30.000.000 - 30.000.000 -
Penghasilan Neto (Laba Bersih) 250.000.000 50.000.000 150.000.000 150.000.000
Rekonsiliasi Fiskal
L/K Fiskal
3
2
2
1
4
5
Penghasilan
Objek PPh
Bukan Objek
(Pasal 4 ayat 3)
Bukan Final
(Pasal 4 ayat 1)
Final
(Pasal 4 ayat 2)
1
2
3
PH NETO
FISKAL
KOREKSI
FISKAL
B i a y a
(expenses)
Deductible
(Pasal 6 ayat 1)
Non Deductible
(Pasal 9 ayat 1 & PP)
2
REKONSILIASI FISKAL
1
Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa;
Sewa & penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
Tambahan kekayaan neto berasal dari penghasilan yang belum dikenakan pajak
Objek PPh Bukan Final
Pasal 4 ayat (1) UU PPh
1. Tambahan kemampuan ekonomis
2. berasal dari dalam maupun luar
Indonesia,
3. dapat dipakai untuk konsumsi atau
menambah kekayaan
4. Dg nama & dalam bentuk apapun
6
Hadiah penghargaan/perlombaan;
Laba usaha;
Keuntungan karena penjualan/pengalihan harta;
Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah
dibiayakan;
Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;

1
Imbalan karena jaminan pengembalian hutang;
Dividen,
Royalti;
Penerimaan/perolehan pembayaran berkala;
Keuntungan karena pembebasan hutang;
Premi asuransi yang dibayar pemberi kerja;

Surplus BI, Imbalan
Bunga, Penghasilan
dari usaha berbasis
syariah;
UU 36/2008
Contoh Penghasilan dikenakan atau dipotong PPh
Final Pasal 4 ayat (2) UU PPh
2
No Jenis PPh
1. Bunga Tabungan/Deposito, Jasa Giro (kecuali Bank) 20%
2. Transaksi/Penjualan saham di bursa efek 0,1%
3. Hadiah Undian 25%
4. Jasa Konstruksi (Perusahaan Kontraktor) 2% - 6%
5. Sewa tanah dan/atau bangunan (Perusahaan Mall,dll) 10%
6. Revaluasi Aktiva Tetap 10%;18%
7. Pengalihan Hak Tanah/Bangunan (Perusahaan Real Estat) 1%;5%
8. Bunga/Diskonto obligasi 15%
9. Transaksi kontrak berjangka di bursa 2,5%
10. Diskonto SBI/SUN 20%
11. Peredaran Bruto Jumlah Tertentu (Setahun Tdk Lebih dari 4,8M) 1%
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah
Penghasilan Bukan Objek PPh Untuk Perusahaan Dalam Segala Bidang Usaha
Pasal 4 ayat (3) UU PPh
3
N Jenis Phslan Syarat
1 Bantuan / Sumbangan tidak ada hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan
2 Hibah diterima oleh badan keagamaan, badan pendidikan, badan
sosial termasuk yayasan, koperasi
3 harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti saham
atau sebagai pengganti penyertaan modal
4 Dividen yang diterima
PT, koperasi, BUMN,
atau BUMD, dari
penyertaan modal pada
badan usaha yang
berada di Indonesia
a. dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan;
b. bagi PT, BUMN, dan BUMD yang menerima dividen,
kepemilikan saham pada badan yang memberikan
dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang
disetor
5 Utang yang dibebaskan
oleh Bank atau
Lembaga Pembiayaan
Diterima oleh debitur yang jumlah utangnya tidak lebih
dari Rp 350 juta termasuk Kukesra, KUT, KPRSS, KUK,
KUR, Kredit kecil lainnya dalam rangka kebijakan
perkreditan Bank Indonesia dalam mengembangkan
usaha kecil dan koperasi
PMK
245/PMK.03/
2008
PP 130 Thn 2000
PMK
105/PMK.03/
2009
sisa lebih yang diterima/diperoleh badan/lembaga nirlaba yang bergerak
dalam bidang pendidikan dan/atau bidang litbang untuk sarpras (4thn)
4. KERUGIAN ATAU BIAYA PENYUSUTAN AKTIVA YANG TIDAK
DIGUNAKAN UNTUK USAHA
3. KERUGIAN YANG DIDERITA DI LUAR NEGERI
5. PPh YANG DITANGGUNG PEMBERI KERJA (TANPA KECUALI)
2. BIAYA YANG DIKELUARKAN UNTUK MEMPEROLEH PENGHASILAN
YANG BUKAN OBJEK PAJAK
1. BIAYA YANG DIKELUARKAN UNTUK MEMPEROLEH PENGHASILAN
YANG DIKENAKAN PPh FINAL
6. PAJAK MASUKAN YANG TERKAIT DENGAN PENGELUARAN YANG
BUKAN BIAYA FISKAL SBGMANA DIMAKSUD DALAM PASAL
9 AYAT 1 UU PPh ATAU BUKTI PEMBAYARAN PPN TIDAK ADA
8. BIAYA YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT DLM PSL 6 AYAT 1 UU PPh
PENGELUARAN YANG BUKAN BIAYA FISKAL
( NON DEDUCTIBLE EXPENSES)
UU PPh Pasal 9 Ayat 1 & PERATURAN PEMERINTAH (PP 94/2010)
7. PENGELUARAN SBGMANA TERCANTUM DLM PSL 9 AYAT 1 UU PPh

PP
94
THN
2010


UU
PPh

4. PREMI ASURANSI KESEHATAN, KECELAKAN, DWIGUNA,JIWA,BEA SISWA YANG
DI BAYAR PERUSH. KECULAI SBG PHSLAN
3. PEMBENTUKAN/ PEMUPUKAN DANA CADANGAN
5. PENGGANTIAN/ IMBALAN SEHUBUNGAN DENGAN PEKERJAAN/ JASA YG
DIBERIKAN DALAM BENTUK NATURA & KENIKMATAN
2. BIAYA YG DIBEBANKAN/ DIKELUARKAN UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI
PEMEGANG SAHAM, SEKUTU, ANGGOTA

1. PEMBAGIAN LABA DENGAN NAMA DAN BENTUK APAPUN

6. JUMLAH YG MELEBIHI KEWAJARAN YG DIBAYARKAN KEPADA PEMEGANG SHM/
PIHAK YANG MEMILIKI HUB. ISTIMEWA
7. HIBAH, BANTUAN, SUMBANGAN, DAN WARISAN SESUAI PSL 4 ayat (3) a & b
KECUALI SUMBANGAN DLM PSL 6 ayat (1) i s.d. m dan ZAKAT
PENGELUARAN SEBGMANA TERCANTUM DALAM PASAL 9 AYAT 1 UU PPh
YANG BUKAN BIAYA FISKAL
11. SANKSI ADMINISTRASI & SANKSI PIDANA YG BERKENAAN PELAKSANAN UU
PERPAJAKAN
10. GAJI YG DIBAYARKAN KPD ANGGOTA PERSEKUTUAN, FIRMA/PERSERO
KOMANDITER YG MODALNYA TIDAK TERBAGI ATAS SAHAM
9. BIAYA YG DIBEBANKAN/ DIKELUARKAN UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI WP/
TANGGUNGANNYA
8. PAJAK PENGHASILAN
2
1
Pemberian Natura/Kenikmatan
2
JENIS PEMBERI PENERIMA CONTOH
A BUKAN
BIAYA
BUKAN
PHSLAN
PPh 21 Ditanggung Perush., Pengobatan
Karyawan, Premi Asuransi
B BUKAN
BIAYA
PHSLAN Natura dari Bukan Subjek Pajak atau Dari
Subjek PPh yang Dikenakan PPh Final
C BIAYA BUKAN
PHSLAN
1. Makan Seluruh Pegawai (tmsk kupon)
2. Berkaitan dengan pelaksanaan
pekerjaan, keamanan, keselamatan
kerja, atau berkenaan dengan situasi
lingkungan kerja misalnya pakaian
seragam pabrik, SATPAM, HANSIP.
3. Daerah ttu dan Bea Siswa
D BIAYA PHSLAN Tunjangan PPh 21, Premi Asuransi
E BIAYA
50%
BUKAN
PHSLAN
HP & Mobil Pegawai ttu
PMK-83/PMK.03/2009 jo PER - 51/PJ/2009
KEP - 220/PJ./2002, PER-31/PJ/2012
9. Sumbangan dengan Syarat Tertentu
CONTOH PENGELUARANPENGELUARAN YANG MERUPAKAN BIAYA FISKAL
(DEDUCTIBLE EXPENSES) PASAL 6 AYAT (1) UU PPh
1. Biaya biaya untuk 3M termasuk biaya pembelian bahan, biaya administrasi,
premi asuransi, biaya perjalanan, pajak kecuali PPh, biaya pengolahan
limbah, biaya promosi & penjualan, biaya berkaitan dg pekerjaan,dsb.
UU 36/2008
1
2. Penyusutan dan amortisasi syarat digunakan untuk usaha atau yang
berkaitan dengan 3M.
3. Iuran kepada dana pensiun syarat pendiriannya telah disahkan Menkeu
4. Kerugian atas penjualan harta yang dimiliki WP syarat harta tsb digunakan
untuk usaha / 3M
5. Kerugian selisih kurs mata uang asing (Fiskal mengikuti SAK)
6. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan syarat dilakukan di
Indonesia
7. Biaya beasiswa, magang, dan pelatihan
8. Piutang yang nyata nyata tidak dapat ditagih syarat ttu 2
3
4
Uang Perjalanan Dinas &
Penggantian Pengobatan
13
No Uraian Pemberi Kerja Karyawan
1 Uang Perjalanan Dinas
Reimbursement
Biaya Penghasilan hanya
atas uang saku
2 Uang Perjalanan Dinas
Lump Sum
Bukan Biaya
Biaya
Bukan Penghasilan
Ph. atas seluruhnya
3 Penggantian Pengobatan Bukan Biaya Bukan Penghasilan
4 Tunjangan Pengobatan Biaya Penghasilan
5 Pengobatan Gratis Bukan Biaya Bukan Penghasilan

Atas penyusutan dan biaya pemeliharaan rumah perusahaan yang ditempati
pegawai tidak dapat dikurangkan dari penghasilan bruto, kecuali pegawai
yang bersangkutan diberikan tunjangan perumahan sebesar biaya tersebut.
BIAYA PROMOSI & PENJUALAN
Biaya Promosi dan/atau Biaya Penjualan yang dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto harus memenuhi kriteria berikut :
untuk mempertahankan dan atau meningkatkan penjualan;
dapat berupa barang, uang, jasa, dan fasilitas;
diterima oleh pihak lain;
Ada daftar nominatif paling sedikit harus memuat data penerima
berupa nama, NPWP, alamat, tanggal, bentuk dan jenis biaya,
besarnya biaya, No bukti pemot. dan besarnya PPh
dilampirkan saat menyampaikan SPT Tahunan PPh Badan
14
P
M
K
-
0
2
/
P
M
K
.
0
3
/
2
0
1
0

Besarnya Biaya Promosi yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto
merupakan akumulasi dari jumlah :
biaya periklanan di media elektronik, media cetak, dan/atau media
lainnya;
biaya pameran produk;
biaya pengenalan produk baru;dan/atau
biaya sponsorship yang berkaitan dengan promosi produk.

1
Seluruh
Jenis
Usaha
PIUTANG TAK TERTAGIH
Syarat untuk membiayakan piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih :
1. Telah dibiayakan dalam laporan laba rugi komersial;
2. WP harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih ke DJP;
dan
3. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau
instansi pemerintah yang menangani piutang negara; atau ada perjanjian
tertulis dengan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam
penerbitan umum atau khusus; atau ada pengakuan dari debitur bahwa
utangnya telah dihapuskan.
15
P
M
K
-
5
7
/
P
M
K
.
0
3
/
2
0
1
0


2
a. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih kepada debitur kecil
adalah piutang debitur kecil yang jumlahnya tidak melebihi
Rp100.000.000,00 yang merupakan gunggungan jumlah piutang dari
beberapa kredit yang diberikan oleh suatu institusi bank/lembaga
pembiayaan dalam negeri sebagai akibat adanya pemberian Kredit
Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit
Pemilikan Rumah Sangat Sederhana (KPRSS), Kredit Usaha Kecil
(KUK), Kredit Usaha Rakyat (KUR), Kredit kecil lainnya dalam rangka
kebijakan perkreditan Bank Indonesia dalam mengembangkan usaha
kecil dan koperasi
b. Piutang yang nyata-nyata tidak ditagih kepada debitur kecil lainnya
yang jumlahnya tidak melebihi Rp 5.000.000,00

PENGELUARAN HARUS DIDUKUNG DAFNOM
16
No PENGELUARAN DAFNOM DASAR HUKUM
1 Biaya entertainment,
representasi, jamuan
dan sejenisnya
Tanggal, Nama, Alamat, Jenis, Jumlah
(Rp), Relasi usaha berisi : Nama, Posisi,
Nama perusahaan, Jenis usaha, Ket.
(Format Terlampir)
SE-27/PJ.22/1986

2 Piutang yang nyata-
nyata tidak dapat
ditagih kepada debitur
kecil atau debitur kecil
lainnya
Identitas debitur berupa NPWP, alamat
dan jumlah Piutang yang nyata-nyata
tidak dapat ditagih (Tidak Ada Format
Terlampir)
PMK-
105/PMK.03/2009
3 Biaya Promosi
dan/atau Biaya
Penjualan dapat berupa
barang, uang, jasa, dan
fasilitas
Nama, NPWP, alamat, tanggal, bentuk
dan jenis biaya, besarnya biaya (Rp),
Keterangan, besarnya PPh (Rp) & No
bukti pemot. (Format Terlampir)
PMK-
02/PMK.03/2010
SUMBANGAN YANG DAPAT DIBIAYAKAN &
BEASISWA, MAGANG, & PELATIHAN
1. sumbangan penanggulangan bencana nasional
2. sumbangan penelitian dan pengembangan yang dilakukan di
Indonesia
3. biaya pembangunan infrastruktur sosial
4. sumbangan fasilitas pendidikan
5. sumbangan pembinaan olahraga
17
P
P

9
3

T
h

2
0
1
0

Sumbangan yang dapat dibiayakan meliputi:
Biaya beasiswa dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan,
sepanjang beasiswa di DN/LN formal/non formal pd tingkat
dasar, menengah dan tinggi, terdiri dari biaya pendidikan
sekolah, ujian, penelitian yg berkaitan dgn bidang studi yang
diambil, pembelian buku, hidup wajar sepanjang tidak ada
hubungan istimewa dengan pemberi dan bagi penerimanya
bukan objek PPh Pasal 21

Biaya magang, pelatihan, seminar, lokakarya, panataran bagi
pegawai merupakan biaya yang dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto dan bukan objek PPh Pasal 21. P
M
K
-
1
5
4
/
P
M
K
.
0
3
/
2
0
0
9

3
DASAR PENYUSUTAN BAGI WP YG
MELAKUKAN PENILAIAN KEMBALI AKTIVA
NILAI SETELAH
DILAKUKAN PENILAIAN KEMBALI AKTIVA
PADA BULAN PENGELUARAN
KECUALI :
HARTA YG MASIH DLM
PROSES PENGERJAAN,
PADA BULAN SELESAINYA
PENGERJAAN
PADA BULAN HARTA
MULAI DIGUNAKAN/
MENGHASILKAN DENGAN
PERSETUJ UAN DIRJ EN PAJ AK
SAAT MULAI PENYUSUTAN/AMORTISASI
Pasal 11 ayat (3),(4) dan (5)
Contoh: Penyusutan 2010
Beli Mobil tgl 31 Desember 2010 = selama 1 bulan
Jual Mobil tgl 25 Januari 2010 = tidak ada
Bidang usaha tertentu yang dapat berproduksi
berkali-kali dan baru menghasilkan setelah
lebih dari 1 tahun:
a. bidang usaha kehutanan
b. bidang usaha perkebunan tanaman keras
c. bidang usaha peternakan
P
M
K

2
4
8

&

2
4
9
/
P
M
K
.
0
3
/
2
0
0
8

kecuali
KEL. HARTA MASA TARIF PENYUSUTAN
BERWUJUD MAN-
FAAT
GARIS LURUS SALDO MENURUN

1. BUKAN BANGUNAN
- KELOMPOK 1
- KELOMPOK 2
- KELOMPOK 3
- KELOMPOK 4
4 THN 25 % 50 %
8 THN 12,5 % 25 %
16 THN 6,25 % 12,5 %
20 THN 5 % 10 %
2. BANGUNAN
PERMANEN 20 THN 5 %
TDK PERMANEN 10 THN 10 %
Pasal 11 ayat (11) PENENTUAN KELOMPOK HARTA BERWUJUD BUKAN BANGUNAN
DITETAPKAN DENGAN PMK No. 96/PMK.03/2009 NAMUN DAPAT SESUAI MASA MANFAAT
SESUNGGUHNYA DENGAN MENGAJUKAN PERMOHONAN KE DJP
MASA MANFAAT DAN TARIF PENYUSUTAN/AMORTISASI
Pasal 11 dan 11A
PENENTUAN KELOMPOK HARTA TIDAK BERWUJUD DISERAHKAN KEPADA MANAJEMEN
YANG KEMUDIAN MASA MANFAATNYA DISESUAIKAN DENGAN KELOMPOK TERDEKAT PADA
KELOMPOK HARTA TAK BERWUJUD UU PPh
K
E
L
.

H
A
R
T
A


T
I
D
A
K


B
E
R
W
U
J
U
D

TARIF WP BADAN
No Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif
1 s.d Rp 50.000.000,- 10%
2 Di atas Rp50.000.000,- s.d. Rp 100.000.000,- 15%
3 Di atas Rp100.000.000,- 30%
20
P
A
S
A
L

17
&
31
E

20
N
o
Lapisan Omset Tarif
2009
2010-
06 2013
07 2013
dst
Dasar
1 s.d 4,8 M 14% 12,5% 1%
2 di atas 4,8 M s.d. 50 M Pasal 31E ayat(1)
a) s.d. 4,8 M 14% 12,5% (4,8 M / Total Omset) x
PKP
b) Di atas 4,8 M s.d. 50 M 28% 25% Sisa PKP
3 di atas 50 miliar 28% 25% Psl 17 ayat (1) huruf b
Perseroan terbuka dapat memperoleh tarif sebesar 5% lebih
rendah dari tarif WP badan yang berlaku (Pasal 17 ayat (2b))
Peredaran bruto dalam Pasal 31E ayat (1) UU PPh adalah penghasilan yang diterima atau
diperoleh dari kegiatan usaha sebelum dikurangi biaya 3M dari Indonesia maupun dari luar
Indonesia, meliputi Phslan Yang Bukan OP maupun OP Final atau Non Final

PENGHITUNGAN PPh BADAN
Dg. Omset s.d. 4,8 Miliar atau > 50 Miliar
Peredaran bruto RS I dalam tahun pajak 2013 sebesar
Rp 60.000.000.000 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp 500.000.000.
Penghitungan pajak yang terutang:
Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut
dikenakan tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku karena jumlah peredaran
bruto KSP I melebihi Rp 50.000.000.000.
Pajak Penghasilan yang terutang:
25% x Rp500.000.000 = Rp125.000.000
21 21
O
m
s
e
t


s
.
d
.

4
,
8

m
i
l
i
a
r

O
m
s
e
t


d
i

a
t
a
s

5
0

m
i
l
i
a
r

Peredaran bruto RS I dalam tahun pajak 2013 sebesar
Rp4.500.000.000 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp500.000.000.
Penghitungan pajak yang terutang:
Seluruh Penghasilan Kena Pajak yang diperoleh dari peredaran bruto tersebut
dikenakan tarif sebesar 50% dari tarif Pajak Penghasilan badan yang berlaku
karena jumlah peredaran bruto KSP J tidak melebihi Rp4.800.000.000.
Pajak Penghasilan yang terutang:
50% x 25% x Rp500.000.000 = Rp62.500.000

PENGHITUNGAN PPh Badan Dengan Omset
Sethn > 4,8 Miliar s.d. 50 Miliar
Peredaran bruto RS K dalam tahun pajak 2013 sebesar
Rp 30.000.000.000 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp 3.000.000.000.
Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang:
1.Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas:
(Rp4,8 miliar : Rp 30 miliar) x Rp3 miliar = Rp 480.000.000

Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
tidak memperoleh fasilitas:
Rp3 miliar Rp 480.000.000 = Rp 2.520.000.000
3.Pajak Penghasilan yang terutang:
- 50%x 25% x Rp480.000.000 = Rp 60.000.000
- 25% x Rp2.520.000.000 = Rp 630.000.000
Jumlah PPh yang terutang = Rp 690.000.000

22 22
C
O
N
T
O
H


B. PPh Pasal 25 secara umum untuk bln April s.d. Desember
(PPh TERUTANG KREDIT PAJAK PPh 22,23,24)
12 bulan
ANGSURAN PPh PASAL 25 TAHUN PAJAK BERIKUTNYA
(PEREDARAN BRUTO SETAHUN > 4,8 MILIAR)
E. Dalam hal terdapat kompensasi kerugian, angsuran PPh Pasal 25 dihitung
kembali
A. PPh Pasal 25 utk bulan Januari s.d. Maret = Angsuran bulan Desember tahun
pajak sebelumnya (kecuali SPT Tahunan sudah dilaporkan)
D. Dalam hal terdapat penghasilan tidak teratur, angsuran PPh Pasal 25 dihitung
kembali
C. Dasar penghitungan angsuran adalah penghasilan neto fiskal tahun pajak
sebelumnya (dalam hal tidak terdapat kompensasi kerugian dan seluruh
penghasilan adalah teratur)
F. WP dalam sektor usaha tertentu seperti Bank, BUMN/D, diatur Khusus