Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH PEMBENTUKAN BAHAN

MACAM SAMBUNGAN PLAT



2013




DISUSUN OLEH:
M.REDO ALFENDO
13503249001




PENDAHULUAN

Dalam praktik kerja bangku, kita pasti menemui atau melakukan pekerjaan
menyambung dua buah plat atau lebih. Dalam menyambung plat tersebut terdapat
berbagai macam metode yang dapat dilakukan sesuai dengan kondisi dan bahan
yang ada pada benda kerja, benda kerja yang akan disambung harus dipilih
metode yang sesuai. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan efisiensi dan kualitas
bahan terbaik yang bisa didapat. Untuk menentukan sambungan yang tepat pada
benda kerja, perlu diperhatikan beberapa faktor, antara lain: faktor ekonomis,
faktor kekuatan dan kerapatan sambungan, faktor proses pengerjaan sambungan,
serta faktor proses penggunaan sambungan.
Pada kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan beberapa macam dari
bentuk metode sambungan pelat. Antara lain: metode sambungan lipat (tekuk),
metode sambungan patri (solder), metode sambungan keling, metode sambungan
baut dan mur, metode sambungan las tahanan(resistensi).



ISI

METODE SAMBUNGAN LIPAT
metode sambungan lipat baik digunakan untuk jenis plat berbentuk lurus dan
melingkar. namun pelat harus memiliki ketebalan dibawah 1mm, karena jika pelat
memiliki ketebalan di atas 1mm akan menyulitkan pada proses penekukan. Proses
penyambungan dengan metode lipat ini dapat dikerjakan secara manual di atas
landasan pelat dan mesin-mesin pelipat (penekuk). Kedua plat yang telah
tersambung diperkuat dengan cara dipukul dengan mal. Metode ini sering
digunakan pada pengerjaan talang. Beberapa jenis sambungan pelat:
1. Sambungan plat (grooved seam)
2. Sambungan berimpit (lap seam)
3. Sambungan berimpit dengan solder (soldered seam)
4. Sambungan siku (elbow seam)
5. Sambungan siku timbal balik (reversible elbow seam)
6. Sambungan tegak (standing elbow)
7. Sambungan bilah (cap strip seam)
8. Sambungan alas tunggal (single bottom seam)
9. Sambungan alas ganda (double bottom seam)
10. Sambungan sudut ganda (corner double seam)
11. Sambungan alas luar (lap bottom seal)
12. Sambungan alas dalam (insert bottom seam)

Berikut langkah kerja dengan metode sambungan lipat:
1. Siapkan bahan seng (misal: 66x100 sebanyak 3 buah).
2. Kikir bagian tepi dan lukis bagian tepi plat yang akan disambung dengan
ukran 5mm, dan bagian lawannya 5mm+6mm (11mm).
3. Tekuk pelat sesuai dengan ukuran yang telah dibuat.
4. Satukan kedua ujung tekukan dengan cara ditarik berlawana arah.



5. Pilih hand groover yang sesuai dengan ukuran tekukannya untuk membuat
alur sambungan, Lalu pukul dengan palu besi.
6. Rapatkan sambungan dengan menggunakan palu plastik dan titiklah alur
sambungan dengan penitik pada jarak 30mm.
Untuk sambungan bilah mengunci ke bawah:
1. Tekuk plat yang akan disambung
2. Satukan kedua ujungnya dengan menekan
3. Pukul sambungan dengan palu plastik dengan arah ke atas.
















Gambar. 1.0 jenis sambungan plat

SAMBUNGAN PATRI (SOLDER)
Solder adalah suatu proses penyambungan dua logam plat atau lebih dengan
cara pemanasan dengan mencairkan bahan tambahan sedangkan plat benda kerja
tidak ikut mencair. Ditinjau dari proses penggunaaan panasnya solder dapat dibagi
kedalam dua jenis, yaitu solder lunak dan solder keras.



Penggunaan metode penyolderan ini biasanya bukan untuk mendapatkan kekuatan
sambungan, akan tetapi lebih menitikberatkan pada kerapatan sambungan,
terutama pada solder lunak. Pada proses penyolderan ini dibutuhkan fluks yang
berfungsi untuk membersihkan bahan sekaligus sebagai unsur pemadu dan
pelindung, selama proses penyolderan dilakukan.
1. Solder lunak
Digolongkan solder lunak di karenakan temperatur yang dibutuhkan untuk
proses penyolderan atau melelehkan bahan tambah dibawah 450
0
C.
Penggunaan jenis solder ini menitik beratkan pada tingkat kerapatan
sambungan bukan pada konstruksi sambungan yang membutuhkan
kekuatan tarik yang tinggi.
Pada proses penyolderannya dibutuhkan fluks, berikut beberapa
jenis fluks dan penggunaaanya:
No Bahan Fluks
1 Brass Zinc Chloride atau Amonium Chloride
2 Copper Zinc Chloride atau Amonium Chloride
3 Gun metal Zinc Chloride atau Amonium Chloride
4 Steel Zinc Chloride atau Amonium Chloride
5
Britania
metal
T Allow atau Olive Oli
6 Pewter T Allow atau Olive Oli
7 Lead T Allow atau Resin
8 Tin plate Zinc Chlorric
9
Galvanised
iron
Dilute Hydrochloride Acid
10 Zinc
11
Electrical
join
Resin atau Fluxite
(Kalfakjian,1984) Tabel. 1.1 fluks dan penggunaanya
Panas yang dibutuhkan untuk melelehkan bahan tambah dapat diperoleh dari
beberapa sumber berikut:
a. Sumber panas yang diperoleh dari arus listrik
soldir listrik kelebihannya, praktis tidak perlu persiapan yang lama, tempat
kerja bersih, karena tidak ada abu atau asap, namun kelemahannya alat ini
sering rusak dan memerlukan daya yang tinggi.




Gambar.1.1 solder listrik
b. Sistem pemanasan dengan Gas LPG
Kelebihan dari sistem ini panas soldir dapat optimal, kelemahannya harus
rutin membersihkan kompornya dan untuk menggunakan perlu persiapan
yang relatif lebih lama

Gambar.1.3 Solder dengan sumber pemanas LPG
c. Sistem pemanasan dengan arang kayu atau batu bara
Untuk batu bara kelebihannya, relatif lebih murah , kelemahannya tempat
kerja kotor, berasap, soldir sering dibersihkan dan selalu mengipasi.
Gambar.1.4 Solder dengan sumber pemanas arang kayu/batu bara
Kepala solder yang digunakan pada sistem pemanasan LPG dan arang kayu sama,
akan tetapi penggunaan kedua jenis solder tersebut saat ini sudah sangat jarang
ditemui. Penggunaan solder listrik lebih dipilih karena lebih praktis.
Proses penyolderan dan komposisinya dapat dilihat pada tabel:






No Solder
Komposisi solder lunak
lead Tin Bismuth Antimony
Titik
lebur
1 Blow pipe 34,5 65 - 0,5 183
0
C
2 Tinmans 48 50 - 2 505
0
C
3 Plumbers 66 34 - - 250
0
C
4 Pewterers 25 25 50 - 96
0
C
(Lyman,1968)
Tabel. 1.2 komposisi solder lunak
Proses penggunaan solder dapat dilakukan dengan beberapa langkah berikut:
1. Siapkan solder dan bersihkan bahan yang hendak disolder, lalu panaskan
batang solder pada sumber pemanas (listrik, LPG atau arang kayu).
2. Bersihkan daerah penyolderan dengan cara mengoleskan fluks.
3. Setelah kepala solder panas letakan pada bahan tambah agar panasnya
merata.
4. Oleskan fluks dan bahan tambah pada daerah yang akan disambung
dengan kepala solder yang panas, sampai merata pada seluruh daerah
bahan yang akan disambung.
5. Hasil penyolderan yang baik adalah apabila bahan tambah masuk ke dalam
celah-celah sambungan.

Gambar.1.5 Proses penyolderan



2. Solder keras (Brazing)
Solder keras dapat dibagi kedalam 2 jenis yaitu brazing dan silver.
Pembagian ini didasarkan pada komposisi penyolderan, titik cair serta
fluks yang digunakan.



a. Brazing : memiliki komposisi yang terdiri dari tembaga dan seng, serta
menggunakan fluks penyolderannya boraks. Menggunakan pemansan
antara 880-890
0
C
b. Silver : memiliki komposisi yang terdiri dari perak, tembaga dan seng.
Serta fluks yang digunakan dalam proses penyolderan ini ada dua
macam yaitu tenacity dan easy flo. Dan temperatur yang dibutuhkan
untuk penyolderan berkisar 750
0
C.

Hasil dari penyolderan ini memiliki karakteristik yang kuat dan rapat,
sehingga sering digunakan untuk penyambungan pipa-pipa bahan bakar. Dan
keunggulan lain dari solder keras ini dapat digunakan untuk menyambung dua
jenis bahan yang berbeda. Proses penyolderannya sendiri menggunakan alat
pemanas yang disebut brander pemanas, yang menggunakan gas sebagai bahan
bakarnya. Proses pembakaran pada proses ini suhunya dibawah 900
0
C.

Komposisi solder keras dapat dilihat pada tabel berikut:
No Solder
Komposisi solder keras
silver copper zinc canadium
Titik
lebur
fluks
1 B.S Gade A 61 29 10 - 735
0
C Tenacity
2 B.S Gade B 43 37 20 - 780
0
C Tenacity
3 B.S Gade C 50 15 16 19 630
0
C Easyflo
4
Soft spetler B.S
grade B
- 50 50 - 880
0
C Borax
5
Med. Spetler
B.S grade A
- 54 46 - 885
0
C Borax
6
Hard spetler
B.S grade AA
- 60 40 - 890
0
C Borax
Tabel.1.3 Komposisi solder keras

Proses penyolderan dengan solder keras:
1. Pastikan bahan yang hendak disambung bersih.
2. Beri jarak pada pelat yang hendak disambung. jarak antara pelat satu
dengan pelat sambungan berkisar 0,10 mm.



3. Pastikan fluks yang digunakan dalam keadaan baik.
4. Bahan yang hendak disambung harus dipanaskan sampai suhu
penyolderan sesuai serta pemanasan ini tidak sampai bahan tersebut
mencair.
5. Lalu panaskan bahan tambah pada ujungnya, kemudian celupkan pada
fluks sehingga fluks melekat pada bahan tambah.
6. Setelah fluks menempel pada bahan tambah, bahan tambah dicairkan pada
daerah yang akan disambung dengan pembakaran solder. Pencairan bahan
tambah dilakukan sampai bahan tambah merata pada daerah sambungan,
dan bahan masuk ke celah-celah sambungan.

Pengelompokan pematrian/penyolderan berdasarkan cara pengadaan energi
panasnya:
1. Patri busur : panas dihasilkan dari busur listrik dengan, elektroda karbon
atau dengan elektroda wolfram
2. Patri gas : Dimana panas ditimbulkan karena adanya nyala api gas.
3. Patri solder : gas dipindahkan dari solder besi atau tembaga yang
dipanaskan.
4. Patri tanur: tanur digunakan sebagai sumber panas.
5. Patri induksi: panas dihasilkan karana induksi listrik frekuensi tinggi
6. Patri resistensi: panas dihasilkan karena resitensi listrik.
7. Patri celup : logam yang disambung dicelupkan ke dalam logam patri cair.

SAMBUNGAN KELING
Metode sambung keling merupakan metode yang paling kuat
dibanding dengan metode yang lain, namun metode ini bukan untuk
sambungan yang di aliri air. Karena sambungan akan bocor bila di aliri air.
Pemilihan paku keling di sesuaikan berdasarkan ukuran benda kerja dan
strukturnya, untuk kerja plat biasanya menggunakan paku keling
berdiameter 3-5mm.



Paku keling terbuat dari logam yang lunak seperti baja lunak,
tembaga, aluminium, kuningan dsb. Sambungan keling dapat dibagi
kedalam beberapa macam:
1. Sambungan keling biasa (rivet)
Riveting merupakan metode sambungan yang sederhana, penggunaanya
sangat baik untuk sambungan pelat-pelat aluminium. Karena pelat
aluminium sulit disambung dengan metode solder maupun las. Jenis-jenis
rivet dapat dibagi berdasarkan kepalanya:
Gambar.1.6 Jenis-jenis kepala paku keling

Setiap bentuk kepala paku keling memiliki kegunaannya masing-masing,
setiap bentuk memiliki kekhususan.
berikut dapat dilihat dimensi rivet menurut Metrics Rivets B.S
4620.





Panjang
nomina
l rivet
Diameter nominal (d)
1 1,2 1,6 2 2,5 3
3,
5
4 5 6 7 8 10 12 14 16
3 X X X X X
4 X X
5 X X
6 X X X X X
8 X X X X
10 X X X X X
12 X X X X X
14 X X X X X X
16 X X X X X X X X X X
18 X X X X X X X X
20 X X X X X X X X
22 X X X X X X X X
25 X X X x X X X X X
28 X X X X
30 X X X X X
32 X
35 X X X X X
38 X X X X
40 X X X
45 X X X X
50 X X X X
55 X X
60 X X
65 X
70 X
75 X X
(British Standard 4620)
Tabel 1.4 dimensi rivet B.S 4620
2. Paku tembak (blind rivet special)
Rivet spesial merupakan rivet yang pemasangannya hanya pada
satu sisi saja. Hal ini disebabkan karena pemasangan kepala bawahnya
tidak memungkinkan menggunakan bucking bar. Penggunaan jenis rivet
ini untuk kondisi pemasangan bucking bar pada sisi shop headnya yang
sulit.
Kekuatan rivet spesial ini tidak sepenuhnya dibutuhkan dengan
komposisi bahan 99,45% aluminium murni, rivet ini juga lebih ringan
dibandingkan dengan rivet-rivet jenis lain. Rivet spesial di produksi oleh



pabrik dengan karakteristik tersendiri. Pemasangan dan pelepasan rivet ini
juga membutuhkan peralatan yang khusus(spesial).

Dimensi rivet menurut diamond brand:
No-kode
Diameter
flens
Diameter
lobang bor
Tebal revetting
Diameter
kepala rivet
Kep.
countersink
DB 320
DB 329
2,4
2,5
2,6
0,5 1,8
1,8 4,3

DB 420
DB 423
DB 429
DB 435
DB 440
3,2
3,3



3,4
0,5 1,7
1,8 2,5
2,5 4,3
4,3 5,5
5,8 7,1
0,7 2,5
2,5 3,3
3,3 5,1
5,1 6,6
6,6 7,9
DB 518
DB 523
DB 529
DB 537
DB 545
DB 550
4,0
4,1




4,2
0,5 1,3
1,3 2,5
2,5 4,1
4,1 5,8
5,8 7,9
7,9 9,1

2,0 3,3
3,3 3,8
4,8 6,6

6,9 9,9
DB 625
DB 629
DB 635
DB 640
DB 649
DB 657
DB 665
DB 675
4,8
4,9






5,0
0,5 2,3
2,3 3,3
3,3 4,8
4,8 5,6
5,6 7,6
7,6 9,7
9,7 12
12 - 14

(Diamond Brand Rivet, 2005)
Tabel. 1.4 dimensi rivet







Gambar.1.7 Paku tembak




Teknik dan prosedur pemasangan paku tembak dapat dilihat pada langkah berikut:
1. Menandai lubang paku
a. Aturan pada kedudukan tiga kali diameter paku lalu goreskan pada
salah satu tepi sambungan.
b. Aturlah kembali penggores tepi pada jarak 1 kali diameter paku
keling lalu goreskan pada tepi sambungan yang lain sebagai sumbu
lubang paku keling.
c. Tandailah pada garis itu, untuk paku keling yang pertama dengan jarak
3 kali diameter paku keling dari tepi.
d. Ukur jangka tertentu, jangkakan jarak itu pada garis sumbu dimulai
dari lubang paku pertama.
e. Tandailah titik-titik pusat dengan penitik pusat.
2. Mengebor lubang paku keling
a. Tahan benda uji itu dengan alas atau landasanpada waktu melakukan
pengeboran.
b. Bor dulu pada satu kampuh (sambungan) lalu jika telah dibor
bersihkan bagian-bagian yang tajam pada lubang dengan mamakai
kikir.
c. Tumpangkanlah kampuh sambungan satu sama lain, perhatikanlah
batas sambungannya dan jepit dengan klem C.
d. Bor kedua ujung sambungan melalui lubang kampuh di atasnya.
e. Ikat kampuh sambungan dengan sekrup pada kedua lubang di kedua
ujung kampuh tadi.

3. Teknik pengelingan
a. Ambil paku kelilng yang cocok diameternya dan dengan panjang yang
tepat (rumus menentukan panjang paku keling: 1 diameter paku
keling ditambah dua kali tebal (plat).
b. Potonglah tangkai paku keling kalau terlampau panjang.
c. Masukkan paku keling dari bawah dan tahanlah dengan landasan lalu
rapatkan kampuh sambungan dengan besi pembentuk kepala paku.



d. Pukul tangkai paku dengan palu, dalam hal pemukulan ini harus lurus
betul.
e. Bentuklah kepala paku mula-mula dikerjakan dengan palu, lalu dipakai
alat pembentuk kepala paku.

Pemasangan rivet tipe countersink:
Pemasangan rivet tipe ini dapat dilakukan dengan mesin countersink atau
dimpling. Pemasangan dengan mesin countersink biasa dilakukan terhadap pelat
yang tebal. Sedangakan dimpling digunakan untuk plat-plat yang relatif tipis.
Pemasangan rivet tipe countersink:
bentuk sisi pelat yang akan disambung pada rivet countersink dengan pilot
countersink atau dengan menggunakan countersink drill bit. Kedua mesin ini
dapat dipasang pada mesin bor/bor tangan. Penggunaan alat ini digunakan setelah
pelat yang disambung telah didebburing.





pemasangan
rivet countersink








Gambar.1.8 Gun blind rivet dan pemasangan paku tembak

Las resistensi (Tahanan)
Yaitu suatu metode penyambungan pelat dengan cara dua buah plat
yang hendak disambung ditekan satu sama lain dan disaat yang bersamaan



dialiri arus listrik dengan arus yang disesuaikan dengan ukuran dan tebal
plat, permukaan yang ditekan akan panas dan mencair karena adanya
resistensi listrik. Dalam las ini terdapat 2 kelompok, yaitu sambunga
tumpang dan sambungan tumpul. Sambungan tumpang biasanya
digunakan untuk menyambung plat-plat yang tipis.
Penyambungan plat-plat tipis sangat baik menggunakan las
resistensi listrik. Prosenya sangat sederhana, dimana sisi-sisi plat yang
hendak disambung ditekan dengan dua elektroda yang di aliri arus listrik,
sehingga menyebabkan plat yang ditekan panas dan mencair, pencairan
inilah yang mejadi asal mula terjadinya proses penyambungan.
Berdasarkan proses penggunaanya las resistensi listrik dapat dibagi
ke dalam dua jenis:
1. Las titik (spot welding)
Proses pengelasan dengan metode las titik menghasilkan bekas las
yang berbentuk seperti titik. Elektroda penekan terbuat dari tembaga yang
dialiri arus listrik (atas dan bawah). Elektroda bagian bawah merupakan
elektroda tetap yang berfungsi sebagai tumpuan plat, sedangkan elektroda
bagian atas berfungsi sebagai elektroda penekan pada saat plat akan
disambung. Agar pada saat proses penyambungan plat tidak sampai
berlubang, maka di beri air pendingin pada ujung elektrodanya dengan
cara mengaliri air melalui selang air secara terus menerus sehingga akan
mendinginkan batang elektroda.

Gambar.1.9 Las resistensi listrik




2. Las resistensi Rol
Sistem pengelasan ini prinsipnya sama dengan las resistensi titik.
Namun batang elektroda yang digunakan pada sistem las ini di ganti
dengan rol(roda yang dapat berputar) sehingga dapat menyambung dua
plat sesuai dengan alur atau sepanjang garis yang dikehendaki.








Gambar.2.0 Las resistensi rol

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan las resistensi:
1. Pastikan Pelat atau benda kerja yang hendak di las bersih dari oli, karat,
cat dan kotoran lainya.
2. Beri tanda pada bagian plat yang hendak disambung dengan menggunakan
penitik, hal tersebut dilakukan untuk meminimaliasir kesalahan
pengelasan.
3. Setting alat las dan buka keran air, arus listrik yang mengalir harus sesuai
dengan tebal plat yang hendak disambung. Hal ini bertujuan untuk
menghindari plat tidak tersambung secara sempurna serta agar plat tidak
berlubang pada saat dilas.
4. Apabila ujung elektroda telah kotor, bersihkan dengan kikir maupun
ampelas agar pada saat dilas sambungan tidak mudah terlepas.






SAMBUNGAN SEKRUP/BAUT DAN MUR
Sambungan baut dan mur merupakan salah satu metode yang
digunakan dalam menyambung dua buah plat, jenis sambungan ini bukan
merupakan jenis sambungan permanen, artinya sambungan ini dapat
sewaktu-waktu dilepas. Proses penyambungan dengan cara ini dapat
dilakukan dengan terlebih dahulu mengebor plat yang akan disambung
dengan ukuran diameter yang telah disesuaikan dengan baut dan mur.
Baut, mur dan screw memilki ulr yang digunakan sebagai pengikat,
yang dapat dikelompokan berdasarkan bentuk profilnya seperti: ulir
segitiga,persegi, gigi gergaji, bulat dan trapesium.
Jenis bahan yang digunakan dalam pembuatan baut akan
menentukan dan mempengaruhi kekuatan baut itu sendiri, seperti yanga da
pada tabel yang meperlihatkan kekuatan tarik maksimium dan minimum.








Tabel. 1.5 bahan baut,skrup dan mur.
Penggolongan jenis baut, mur dan skrup didasarkan pada bentuk
kepalanya yaitu segi enam, socket segi enam dan kepala persegi. Serta
memiliki fungsi antara lain: baut penjepit, baut untuk pemakaian khusus,
sekrup mesin, sekrup penetap, dan mur.













Gambar.2.1 Baut tembus, tap dan tanam









Gambar.2.2 Jenis baut. Pondasi, penahan, mata, T, kereta




Gambar.2.3 Macam-macam skrup mesin







Gambar.2.4 Jenis mur lingkaran, flens, tutup, mahkota, kuping.





RANGKUMAN
Metode penyambungan yang tepat merupakan salah satu cara untuk
mendapatkan hasil yang terbaik dari kualitas suatu sambungan plat.
Sambungan plat dengan metode penekukan sangat baik digunakan untuk
bahan-bahan plat yang tipis. Karena jika plat yang tebal akan mempersulit pada
saata proses penekukan / pelipatan.
Metode sambunga patri/solder baik digunakan untuk plat yang memiliki
jenis logam yang berbeda, misalkan pada rangkaian elektronik. Hal ini disebabka
karena pada proses penyambungan diberikan bahan tambah yang dipanaskan agar
dapat menyatukan dua buah plat yang berbeda jenis. Proses pemansan ini tentu
tidak sampai menyebabkan plat meleleh.
Metode sambungan keling baik digunakan untuk menyambung plat yang
salah satu sisisnya sulit dijangkau maupun tidak terlihat, prosesnya yaitu dengan
terlebih dahulu mengebor dua buah plat yang hendak disambung sesuai dengan
diameter paku keling. Kemudian plat dijadikan satu dan dimasukan paku keling
kedalam lubagnya, dan selanjutnya dilakukan pembentukan kepala paku keling
pada sisi satunya dengan cara dipukul maupun dengan gun blind rivet.
Sambungan las titik diguanakan untuk menyambung plat-plat tipis, dengan
metode ini bekas las yang ada tidak akan terlalu terlihat, serta tidak perlu
membuat lubang bor. Namun harus diperhatikan arus yang digunakan pada plat
yang hendak disambung.
Sambungan baut/skrup dan baut, metode sambungan ini baik digunakan
untuk sambungan yang dirancang tidak permanen atau dapat dilepas.





Daftar pustaka
Ambiyar, dkk.2008.Teknik pembentukan plat jilid 3.Departemen Pendidikan
Nasional: jakarta.
Tim fakultas teknik UNY.2001.membuat macam-macam sambungan plat.
Departemen Pendidikan Nasional: yogyakarta.
http://ebookbrowsee.net/gdoc.php?id=245296098&url=2306259a1703fd78bfd520
c65d254ef5
http://www.google.com/search
http://www.scribd.com/doc/78476238/teknik-penyambungan
http://teknikmesin-antonjepry.blogspot.com/2013/02/kerja-plat-dan-
pemipaan.html