Anda di halaman 1dari 15

http://pelatihan-osn.

com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains


By : Asri Oktaviani
1. Tektonik Lempeng

Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh ahli geofisika Inggris, Mc Kenzie dan Robert Parker
(1967). Kedua ahli itu menjadikan teori-teori sebelumnya sebagai satu kesatuan konsep yang lebih
sempurna sehingga diterima oleh para ahli geologi.
Teori lempeng tektonik diyakini oleh banyak ahli sebagai teori yang menerangkan proses
dinamika bumi, antara lain gempa bumi dan pembentukan jalur pegunungan. Menurut teori ini kulit
bumi (kerak bumi) yang disebut litosfer terdiri dari lempengan yang mengambang di atas lapisan yang
lebih padat yang disebut astenosfer. Ada dua jenis kerak bumi, yaitu kerak samudra dan kerak
benua. Kerak samudra tersusun atas batuan yang bersifat basa, sedangkan kerak benua tersusun
atas batuan yang bersifat asam.
Kerak bumi menutupi seluruh permukaan bumi. Namun, akibat adanya aliran panas yang mengalir di
astenosfer menyebabkan kerak bumi pecah menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Bagian-bagian
itulah yang disebut lempeng kerak bumi (lempeng tektonik). Aliran panas tersebut untuk selanjutnya
menjadi sumber kekuatan terjadinya pergerakan lempeng. Lempeng tektonik; merupakan dasar dari
terbangunnya system kejadian gempa bumi, peristiwa gunung berapi, pemunculan gunung api
bawah laut, dan peristiwa geologi lainnya.
















Gambar 1. Lempeng tektonik
Pergerakan lempeng tektonik dibedakan menjadi tiga macam, yaitu pergerakan lempeng yang
saling mendekat, saling menjauh, dan saling melewati.
a. Pergerakan lempeng saling mendekat
Pergerakan lempeng yang saling mendekat dapat menyebabkan terjadinya tumbukan yang salah
satu lempengnya akan menunjam ke bawah tepi lempeng yang lain. Daerah penunjaman
tersebut membentuk palung yang dalam dan merupakan jalur gempa bumi yang kuat. Sementara
itu di belakang jalur penunjaman akan terjadi aktivitas vulkanisme dan terbentuknya cekungan
pengendapan. Contoh pergerakan lempeng ini di Indonesia adalah pertemuan Lempeng Indo-
Australia dan Lempeng Eurasia. Pertemuan kedua lempeng tersebut menghasilkan jalur
penunjaman di selatan Pulau Jawa, jalur gunung api di Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara,
serta berbagai cekungan di Sumatra dan Jawa.
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
Batas antarlempeng yang saling mendekat hingga mengakibatkan tumbukan dan salah satu
lempengnya menunjam ke bawah lempeng yang lain (subduct) disebut batas konvergen atau
batas lempeng destruktif.
b. Pergerakan lempeng saling menjauh
Pergerakan lempeng yang saling menjauh akan menyebabkan penipisan dan peregangan kerak
bumi hingga terjadi aktivitas keluarnya material baru yang membentuk jalur vulkanisme.
Meskipun saling menjauh, kedua lempeng ini tidak terpisah karena di belakang masing-masing
lempeng terbentuk kerak lempeng yang baru. Proses ini berlangsung secara kontinu. Contoh
hasil dari pergerakan lempeng ini adalah terbentuknya gunung api di punggung tengah samudra
di Samudra Pasifik dan Benua Afrika.
Batas antarlempeng yang saling menjauh hingga mengakibatkan terjadinya perluasan punggung
samudra disebut batas divergen atau batas lempeng konstruktif.
c. Pergerakan lempeng saling melewati
Pergerakan lempeng yang saling melewati terjadi karena gerak lempeng sejajar dengan arah
yang berlawanan sepanjang perbatasan antarlempeng. Pada pergerakan ini kedua perbatasan
lempeng hanya bergesekan. Oleh karena itu, tidak terjadi penambahan atau pengurangan luas
permukaan. Namun, gesekan antarlempeng ini kadang-kadang dengan kekuatan dan tegangan
yang besar sehingga dapat menimbulkan gempa yang besar. Contoh hasil dari pergerakan
lempeng ini adalah patahan San Andreas di Kalifornia. Patahan tersebut terbentuk karena
Lempeng Amerika utara bergerak ke arah selatan, sedangkan Lempeng Pasifik bergerak ke arah
utara.
Batas antarlempeng yang saling melewati dengan gerakan yang sejajar disebut batas
menggunting (shear boundaries).
Lempeng kerak bumi dibagi menjadi dua kelompok, yaitu lempeng mayor (lempeng besar) dan
lempeng minor (lempeng kecil). Perhatikan tabel berikut.
Lempeng mayor Lempeng minor
1. Lempeng Eurasia Lempeng Filipina
2. Lempeng Amerika Utara Lempeng Juan de Fuka
3. Lempeng Amerika Selatan Lempeng Lempeng Karibia
4. Lempeng Afrika Lempeng Kokos
5. Lempeng Indo-Australia Lempeng Nazca
6. Lempeng Pasifik Lempeng Skotia
7. Lempeng Antartika Lempeng Arabia
Pergerakan lempeng tektonik tersebut ternyata menimbulkan berbagai fenomena di permukaan
bumi, misalnya terjadinya gempa bumi. Gempa bumi yang terjadi akibat pergeseran lempeng tektonik
disebut gempa bumi tektonik. Gempa tektonik terjadi di daerah subduksi, yaitu batas pertemuan
lempeng yang bertumbukan.
Berlandaskan pada teori lempeng tektonik, kerak bumi terpecah-pecah menjadi lempengan-
lempengan yang mengapung di atas lapisan yang lebih cair. Lempeng tektonik tebalnya dapat
mencapai 80 km, tetapi ada juga yang lebih tipis dengan luas yang beragam. Jika lempeng-lempeng
tersebut bergerak saling bertumbukan, maka akan terjadi penunjaman. Sesuai dengan hukum fisika
sederhana, lempengan yang berat jenis atau massanya lebih besar akan menunjam dan menyusup
ke bawah lempeng yang lebih ringan. Pergerakan lempeng tektonik tersebut sangat lambat, yaitu
antara 1 dan 10 cm per tahun. Namun, pergerakan yang sangat lambat tersebut ternyata
mengumpulkan energi yang sangat kuat secara pelan-pelan di kedalaman sekitar 80 km. Apabila
tekanan dan regangan tumbukan lempeng mencapai titik jenuh, biasanya akan terjadi gerakan
lempeng tektonik secara tiba-tiba. Gerakan tersebut menimbulkan getaran di muka bumi yang disebut
gempa.
Jika lempeng tektonik saling memisah, maka terjadi aktivitas magmatis yang mengakibatkan
penambahan landas samudra. Di daerah pemisahan tersebut terdapat rekahan-rekahan yang
menjadi jalan untuk keluarnya cairan dari dalam bumi. Cairan yang keluar dari dalam bumi tersebut
kemudian mendingin menjadi batuan basalt. Banyaknya basalt yang terus terbentuk mendorong
lempeng tektonik ke arah yang saling berlawanan. Akibatnya, lempeng tektonik terpisah dengan jarak
yang makin jauh.
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
Salah satu contoh lempeng yang saling memisah adalah antara Lempeng Australia dan
Antartika. Kedua lempeng tersebut memisah hingga membentuk pematang tengah samudra.
Gerakan saling menjauh kedua lempeng tersebut menyebabkan lempeng India-Australia terdorong ke
arah utara hingga bertumbukan dengan lempeng Eurasia. Lempeng India-Australia yang merupakan
lempeng samudra selanjutnya menunjam dan menyusup ke bawah lempeng Eurasia.
Daerah sekitar penunjaman lempeng antara lain terbentuk palung di selatan Pulau Jawa, jalur
gunung api Sumatra, Jawa, dan Nusa Tenggara, serta cekungan Sumatra dan Jawa. Daaerah
penunjaman juga merupakan jalur gempa bumi yang kuat.
Pada setiap daerah penunjaman, kira-kira pada kedalaman 150 km, terjadi pelelehan batuan
yang disebut pelelehan sebagian (partial melting). Pelelehan terjadi karena adanya gesekan batuan
dengan massa yang sangat padat dan berat secara terus menerus. Melalui rekahan atau celah yang
ada, lelehan tersebut akan menyusup dan berusaha menembus kerak bumi. Jika lelehan tersebut
berhasil menembus kerak bumi berarti di tempat tersbut muncul gunung api. Oleh karena itu, dapat
diketahui bahwa gunung api dapat muncul di daerah terjadinya gesekan lempeng tektonik.


Gambar 2. Sebaran lempeng tektonik (garis kuning) dan gunung api (segitiga merah) di dunia
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
Zona subduksi lempeng tektonik yang terkenal berada di Sirkum Pasifik. Kawasan ini dikenal
dengan sebutan lingkaaran api Pacific (Ring of Fire) karena di sepanjang kawasan ini muncul
serangkaian gunung api. Lingkaran api Pasifik membentang di antara subduksi dan pemisahan
lempeng Pasifik dengan lempeng-lempeng India-Australia, Eurasia, dan Amerika Utara, serta
tumbukan lempeng Nazca dengan lempeng Amerika Selatan.
Zona lingkaran api Pasifik ini sangat luas, yaitu membentang mulai dari pantai barat Amerika
Selatan, berlanjut ke pantai barat Amerika Utara, melingkar ke Kanada, semenanjung Kamchatka,
Kepulauan Jepang, Indonesia, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik Selatan.
Selain menjadi tempat munculnya gunung api, zona subduksi di lingkaran api Pasifik juga
merupakan tempat terjadinya gempa bumi. Menurut United State Geological Survey (USGS), sekitar
90% gempa bumi di dunia terjadi di sepanjang jalur lingkaran api Pasifik. Gempa bumi yang terjadi di
lingkaran api Pasifik lebih sering diakibatkan oleh gerakan lempeng tektonik daripada aktivitas
gunung apinya.



http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
2. Komposisi Bumi

Keadaan dalam bumi selama ini hanya dikemukakan berdasarkan hipotesis-hipotesis.
Penyelidikan tentang isi bumi sebenarnya hanya meliputi daerah dengan kedalaman tidak lebih dari
dalamnya terowongan tempat pengeboran atau kedalaman sungai bawah tanah.
Salah seorang ahli yang yang pertama kali mengemukakan pendapatnya tentang materi dan
bentuk dalam bumi adalah Plato. Menurutnya, bumi terdiri dari masa cair yang pijar dan dikelilingi
oleh lapisan batuan yang keras yang disebut kerak bumi. Masa cair yang pijar itu berasal dari dalam
bumi dan kadang-kadang ke luar mencapai permukaan bumi dalam bentuk lava melalui pipa-pipa
gunung api.
Namun, penyelidikan tentang gempa bumi (seismologi) memberikan pandangan yang lain
tentang keadaan dalam bumi. Berdasarkan penyelidikan seismologi diketahui bahwa perambatan
geolombang gempa dipengaruhi oleh zat-zat penyusun bumi. Penyelidikan seismologi juga
membuktikan bahwa bumi terdiri dari lapisan-lapisan yang dibatasi oleh lapisan yang tidak
bersambung (diskontinu).
Secara struktur bumi dibagi menjadi 3 lapisan utama, yaitu kerak bumi (crush), selimut (mantle),
dan inti (core). Struktur bumi seperti itu mirip dengan telur, yaitu cangkangnya sebagai kerak,
putihnya sebagai selimut, dan kuningnya sebagai inti bumi.
1. Kerak Bumi (Crush)
Kerak bumi merupakan lapisan kulit bumi paling luar (permukaan bumi). Kerak bumi terdiri dari
dua jenis, yaitu kerak benua dan kerak samudra. Lapisan kerak bumi tebalnya mencapai 70 km
dan tersusun atas batuan-batuan basa dan masam. Namun, tebal lapisan ini berbeda antara di
darat dan di dasar laut. Di darat tebal lapisan kerak bumi mencapai 20-70 km, sedangkan di dasar
laut mencapai sekitar 10-12 km. Lapisan ini menjadi tempat tinggal bagi seluruh makhluk hidup.
Suhu di bagian bawah kerak bumi mencapai 1.100 C.
2. Selimut Bumi (Mantle)
Selimut atau selubung bumi merupakan lapisan yang letaknya di bawah lapisan kerak bumi.
Sesuai dengan namanya, lapisan ini berfungsi untuk melindungi bagian dalam bumi.Selimut bumi
tebalnya mencapai 2.900 km dan merupakan lapisan batuan yang padat yang mengandung silikat
dan magnesium. Suhu di bagian bawah selimut mencapai 3.000 C, tetapi tekananannya belum
mempengaruhi kepadatan batuan.
Selimut bumi dibagi menjadi 3 bagian, yaitu litosfer, astenosfer, dan mesosfer.
a. Litosfer merupakan lapisan terluar dari selimut bumi dan tersusun atas materi-materi padat
terutama batuan. Lapisan litosfer tebalnya mencapai 50-100 km. Bersama-sama dengan kerak
bumi, kedua lapisan ini disebut lempeng litosfer.
Litosfer tersusun atas dua lapisan utama, yaitu lapisan sial (silisium dan aluminium) serta
lapisan sima (silisium dan magnesium).
1) Lapisan sial adalah lapisan litosfer yang tersusun atas logam silisium dan alumunium.
Senyawa dari kedua logam tersebut adalah SiO
2
dan Al
2
O
3
. Batuan yang terdapat dalam
lapisan sial antara lain batuan sedimen, granit, andesit, dan metamorf.
2) Lapisan sima adalah lapisan litosfer yang tersusun atas logam silisium dan magnesium.
Senyawa dari kedua logam tersrsebut adalah SiO
2
dan MgO. Berat jenis lapisan sima lebih
besar jika dibandingkan dengan berat jenis lapisan sial. Hal itu karena lapisan sima
mengandung besi dan magnesium.
b. Astenosfer merupakan lapisan yang terletak di bawah lapisan litosfer. Lapisan yang tebalnya
100-400 km ini diduga sebagai tempat formasi magma (magma induk).
c. Mesosfer merpakan lapisan yang terletak di bawah lapisan astenosfer. Lapisan ini tebalnya
2.400-2.700 km dan tersusun dari campuran batuan basa dan besi.
3. Inti Bumi (Core)
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
Inti bumi merupakan lapisan paling dalam dari struktur bumi. Lapisan inti dibedakan menjadi 2,
yaitu lapisan inti luar (outer core) dan inti dalam (inner core).
a. Inti luar tebalnya sekitar 2.000 km dan terdiri atas besi cair yang suhunya mencapai 2.200 C.
b. Inti dalam merupakan pusat bumi berbentuk bola dengan diameter sekitar 2.700 km. Inti dalam
ini terdiri dari nikel dan besi (NiFe) yang suhunya mencapai 4.500 C.

Gambar 3. Skema Lapisan Dalam Bumi
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
3. Batuan Beku, Metamorf, dan Sedimen
Bumi tersusun atas campuran antarmineral yang bergabung secara fisik satu sama lainnya.
Campuran antarmineral itu disebut batuan. Sebagian batuan tersusun atas mineral yang sejenis,
sedangkan sebagian lainnya tersusun atas gabungan mineral, bahan organik, dan bahan vulkanik.
Kerak dan selubung atas bumi terdiri dari bermacam-macam batuan yang umur dan asalnya
berbeda-beda.
Magma merupakan induk batuan yang menjadi materi pembentuk litosfer. Magma adalah
batuan cair pijar yang terdapat di bawah kerak bumi dan suhunya sangat tinggi. Magma mengalami
proses perubahan hingga menjadi batuan. Berdasarkan proses pembentukannya, terdapat tiga
macam batuan, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf.


Gambar 4. Pegmatite, salah satu jenis batuan beku

1. Batuan Beku (igneous rock)
Batuan beku terbentuk dari magma yang membeku. Secara umum ciri-ciri batuan beku adalah
homogen dan kompak, tidak ada pelapisan, dan tidak mengandung fosil.
Batuan beku dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu berdasarkan tempat pembekuannya dan
berdasarkan mineral penyusunnya.
a. Berdasarkan Tempat Pembekuan
Berdasarkan tempat pembekuannya, terdapat tiga jenis batuan beku, yaitu batuan beku dalam,
batuan beku korok (gang), dan batuan beku luar.
1) Batuan Beku Dalam
Batuan beku dalam terbentuk jauh di bawah permukaan bumi, yaitu pada kedalaman 15-50
km. Karena tempat pembekuannya dekat dengan astenosfer, pendinginan magmanya
berlangsung sangat lambat sehingga menghasilkan batuan yang besar-besar dan berbutir kasar.
Batuan beku dalam disebut juga batuan plutonis.
Contoh: a) Granit yang mengandung kuarsa, feldspar, dan mika dengan tekstur rata.
b) Gabro yang di dalamnya terdapat mineral berwarna gelap.
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani

Gambar 5. Granite

2) Batuan Beku Korok (Gang)
Batuan beku korok terbentuk di daerah korok atau celah kerak bumi sebelum magma
sampai ke permukaan bumi. Proses pembekuan magma berlangsung agak cepat sehingga
membentuk batuan yang mempunyai kristal-kristal yang kurang sempurna. Misalnya, magma
yang mempunyai susunan granit dan membeku di dalam gang akan membentuk batuan beku
yang disebut porfiri granit. Batuan beku korok sering juga disebut batuan terobosan.
3) Batuan Beku Luar
Batuan beku luar atau disebut juga batuan lelehan terbentuk di permukaan bumi. Magma
yang keluar ke permukaan bumi mengalami proses pendinginan dan pembekuan yang sangat
cepat. Oleh karena itu, butirannya halus dan tidak terbentuk kristal-kristal batuan.
Contoh: a) Batu apung yang mengandung rongga-rongga gas.
b) Obsidian atau batu kaca yang bersinar dan berwarna hitam, abu-abu, kuning, atau
coklat.
b. Berdasarkan Mineral Penyusun
Berdasarkan mineral penyusunnya, terdapat dua jenis batuan beku, yaitu batuan beku
mineral ringan dan batuan beku mineral berat.
1) Batuan Beku Mineral Ringan
Batuan beku mineral ringan tersusun atas mineral-mineral ringan yang biasanya berwarna
terang, mudah pecah, dan banyak mengandung silikat. Oleh karena itu, termasuk batuan yang
bersifat asam.
2) Batuan Beku Mineral Berat
Batuan beku mineral berat tersusun atas mineral-mineral berat yang biasanya berwarna
gelap, tidak mudah pecah, dan kandungan silikatnya sedikit. Oleh karena itu, termasuk batuan
yang bersifat basa.

http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani


2. Batuan Sedimen
Batuan sedimen terbentuk karena adanya proses pengendapan (sedimentasi). Butir-butir
batuan sedimen berasal dari berbagai macam batuan yang mengalami pelapukan atau pengikisan,
baik oleh angin maupun air. Batuan yang lapuk atau terkikis menjadi butiran dalam berbagai bentuk
dan ukuran, bahkan ada yang larut dalam air. Butiran-butiran hasil pelapukan atau pengikisan
tersebut mengendap secara berlapis yang makin lama makin tebal dan padat. Lapisan itu menjadi
padat karena adanya tekanan atau beban yang terlalu berat. Tekanan yang terlalu lama membentuk
agregat batuan yang padat. Pemadatan dan sedimentasi itulah yang menyebabkan endapan-
endapan berubah menjadi batuan sedimen.


Gambar 6. Batuan Sedimen

Sehubungan dengan penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa batuan sedimen sebenarnya
berasal dari batuan lain yang telah ada. Batuan tersebut mengalami pelapukan, tererosi, terangkut,
dan selanjutnya diendapkan di tempat lain.
Batuan sedimen dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu menurut tenaga yang mengendapkan,
cara pengendapan, dan tempat pengendapan.
a. Menurut Tenaga yang Mengendapkan
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
Menurut tenaga yang mengendapkan, terdapat tiga jenis batuan sedimen, yaitu batuan
sedimen akuatis, aeolis atau aeris, dan glasial.
1) Batuan sedimen akuatis berasal dari pengendapan butir-butir batuan oleh air sungai, danau, atau
air hujan.
2) Batuan sedimen aeolis (aeris) berasal dari pengendapan butir-butir batuan oleh angin.
3) Batuan sedimen glasial berasal dari pengendapan butir-butir batuan oleh gletser.

Gambar 7. Batuan tersedimentasi karena pengaruh gletser
b. Menurut Cara Pengendapan
Menurut cara pengendapannya, terdapat tiga jenis batuan sedimen, yaitu batuan sedimen
mekanis, kimiawi, dan organik.
1) Batuan sedimen mekanik adalah batuan yang diendapkan secara mekanik tanpa mengubah
susunan kimia batuan.
2) Batuan sedimen kimiawi adalah batuan yang diendapkan secara kimia. Pada proses ini susunan
kimia batuan mengalami perubahan.
3) Batuan sedimen organik adalah batuan yang diendapkan oleh kegiatan organik.
c. Menurut Tempat Pengendapan
Menurut tempat pengendapannya, terdapat lima jenis batuan sedimen, yaitu batuan sedimen
teristris, marine, limnis, fluvial, dan glasial.
1) Batuan sedimen teristris adalah batuan sedimen yang diendapkan di darat.
2) Batuan sedimen marine, yaitu batuan sedimen yang diendapkan di laut.
3) Batuan sedimen limnis adalah batuan sedimen yang diendapkan di danau.
4) Batuan sedimen fluvial adalah batuan sedimen yang diendapkan di sungai.
5) Batuan sedimen glasial batuan sedimen yang diendapkan di daerah-daerah yang terdapat es
atau gletser.

http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
Gambar 8. Batuan Sedimen yang terbentuk di laut

3. Batuan Malihan (Metamorf)
Batuan metamorf adalah batuan yang telah mengalami perubahan, baik fisik maupun
kimiawinya. Oleh karena itu, batuan tersebut menjadi berbeda dari batuan induknya. Proses
perubahan batuan dipengaruhi oleh suhu yang tinggi, tekanan yang kuat, dan waktu yang lama.

Gambar 9. Batuan Metamorf
Batuan metamorf dibedakan menjadi tiga, yaitu metamorf kontak (metamorf termal), metamorf
dinamo (metamorf kinetik), dan metamorf pneumatolitis kontak.
a. Metamorf Kontak
Batuan metamorf kontak terbentuk karena pengaruh intrusi magma yang suhunya sangat
tinggi. Suhu yang sangat tinggi tersebut dikarenakan letaknya dekat dengan magma, misalnya di
sekitar batuan intrusi. Contohnya batolit, lakolit, stock, sill, dan dike.
Makin jauh dari intrusi makin berkurang derajat metamorfosisnya. Hal itu karena temperatur
yang makin rendah. Oleh karena itu, di sekitar batuan intrusi ditemukan adanya zona metamorfosis
yang melingkari batuan intrusi. Luas zona metamorfosis di sekitar batolit dapat mencapai puluhan
kilometer persegi, di sekitar stock sampai ribuan meter persegi, tetapi di sekitar sill dan dike zona
metamorfosis tersebut tidak jelas.
Pada zona metamorfosis banyak ditemui mineral-mineral bahan galian yang letaknya relatif
teratur menurut jauhnya dari batuan intrusi. Mineral-mineral bahan galian yang terbentuk melalui
proses metamorfosis antara lain besi, timah, tembaga, dan zink (seng) dihasilkan dari batuan
limestone dan calcareous shale.
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
b. Metamorf Dinamo
Batuan metamorf dinamo terbentuk karena pengaruh tekanan yang sangat tinggi, waktu yang
sangat lama, dan dihasilkan dalam proses pembentukan kulit bumi karena tenaga endogen. Batuan
metamorf dinamo pada umumnya terjadi di bagian atas kerak bumi. Adanya tekanan dari arah yang
berlawanan menyebabkan antara lain perubahan butir-butir mineral menjadi pipih dan ada yang
mengkristal kembali.
Pada jenis batuan metamorf dinamo ini batuan sedimen berubah menjadi batuan hablur,
misalnya gneis, sabak, dan serpih.


Gambar 10. Batuan Gneis
c. Metamorf Pneumatolitis Kontak
Batuan metamorf pneumatolitis kontak terbentuk karena pengaruh gas-gas dari magma.
Pengaruh gas panas pada mineral batuan menyebabkan perubahan komposisi kimiawi mineral
tersebut. Contoh batuan metamorf pneumatolitis kontak adalah kuarsa dengan gas borium berubah
menjadi turmalin (sejenis permata).
Pengetahuan tentang batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf beserta proses
pembentukannya menunjukkan adanya hubungan di antaranya. Hubungan tersebut bahkan dapat
menggambarkan suatu skema daur batuan. Diawali dari magma yang membeku menjadi batuan
beku, selanjutnya mengalami pelapukan dan erosi, mengalami pengendapan, menjadi batuan
sedimen, dan kemudian berubah bentuk menjadi batuan metamorf.
Banyak ahli geologi berpendapat bahwa kemungkinan besar batuan sedimen atau batuan-
batuan lain yang telah ada dapat berubah kembali menjadi magma. Magma menjadi awal dalam
mekanisme daur batuan karena pada mulanya bumi merupakan massa yang cair pijar.
Mekanisme daur batuan dapat dijelaskan sebagai berikut.
1) Magma mengalami proses pendinginan sehingga terjadi kristalisasi, selanjutnya membentuk
batuan beku.
2) Batuan beku mengalami pelapukan dan erosi, terangkut dalam bentuk larutan atau bukan
larutan, selanjutnya diendapkan sampai terjadi proses sementasi yang membentuk batuan
sedimen. Namun, ada pula yang langsung mengalami perubahan bentuk menjadi batuan
metamorf.
3) Batuan sedimen dapat mengalami perubahan bentuk, baik secara kontak, dinamo, maupun
hidrotermik menjadi batuan metamorf.
4) Batuan metamorf yang mencapai lapisan bumi (mendekati astenosfer) dapat berubah lagi
menjadi magma atau adanya magma baru yang menjadi batuan beku lagi. Demikian daur ini
berjalan seterusnya.
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani




http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
4. Mineral Geologi

Berbagai jenis sumber daya mineral dapat digolongkan berdasarkan kegunaannya. Pertama
adalah unsur-unsur kimia yang berguna karena sifat logamnya, antara lain besi, alumunium, mangan,
titanium, tembaga, timah hitam, dan seng. Kedua adalah bahan-bahan bukan logam antara lain
natrium klorida, kalsium fosfat, belerang, pasir, batu, batu bara, minyak tanah, gas bumi, dan air.
Sumber daya mineral memiliki dua pengertian. Pertama, sebagai salah satu komponen sumber
daya alam yang sehari-hari dikenal sebagai bahan tambang atau bahan galian, mamiliki kemampuan
untuk menunjang berbagai aspek kehidupan secara alami serta untuk keperluan berbagai bahan
baku industri. Kedua, sebagai bahan galian yang terdiri dari bebatuan, kelompok mineral, atau
individu, sedangkan untuk memperolehnya diperlukan teknolgi pencarian dan pengelolaan.
Mineral merupakan bahan pembentuk batuan yang tersusun oleh ikatan dari satu atau lebih
unsur bukan logam dan atau melalui berbagai proses kimiawi dan fisika yang secara alami seiring
dengan peristiwa geologi. Peristiwa yang berkaitan dengan pembentukan mineral dan bebatuan
adalah magnetik kegunungapian, seimentasi, serta kegiatan karena perubahan kondisi lingkungan
(proses metamorfik).
Mineral dan bebatuan pada umumnya bersifat padat, kecuali minyak dan gas bumi yang
masing-masing bersifat gas dan cair. Bahan galian memiliki sifat kelangkaan, keterbatasan, dan tidak
dapat diperbarui. Artinya, keberadaannya pada berbagai tempat di bumi tidak merata (ada kawasan
yang berlimpah dan ada kawasan yang tidak ada). Oleh karena itu, jika bahan galian habis karena
ditambang, untuk memperolehnya harus dicari di tempat yang lain. Keadaan tersebut memberikan
acuan terhadap keterbatasan cadangan yang dimiliki oleh suatu kawasan atau negara. Sehubungan
dengan hal itu, sumber daya mineral memiliki peranan dan andil yang cukup penting bagi penentuan
strategi politik, ekonomi, pembangunan, dan ketahanan suatu negara.
Pedoman pemilikan dan asas pemanfaatan sumber daya mineral, baik mineral logam maupun
nonlogam di Indonesia adalah UUD 1945 terutama pasal 33, UU No. 11 Tahun1967, dan PP No. 27
Tahun 1980. Sementara itu, PP No. 27 Tahun 1980 tersebut secara khusus mengatur pembagian
bahan tambang atau galian menjadi tiga kelompok besar, yaitu bahan galian golongan A (strategis),
golongan B (vital), dan golongan C (nonstrategis dan nonvital). Pembagian dalam tiga golongan
bahan galian tersebut didasarkan pada pentingnya bahan galian yang bersangkutan bagi negara.
1. Golongan A (strategis), yaitu dalam arti strategis untuk pertahanan/keamanan negara atau
strategis untuk menjamin perekonomian negara. Golongan bahan galian yang strategis meliputi
berikut ini.
Minyak bumi, bitumen cair, lilin bumi, gas alam;
Bitumen padat, aspal;
Antrasit, batubara, batubara muda;
Uranium, radium, thorium dan bahan-bahan galian radioaktif lainnya;
Nikel, kobalt;
Timah;
2. Golongan B (vital), yaitu vital dalam arti dapat menjamin hajat hidup orang banyak. Golongan
bahan galian yang vital meliputi berikut ini.
Besi, mangaan molibden, khrom, wolfram, vanadium, titan;
Bauksit, tembaga, timbal, seng;
Emas, platina, perak, air raksa, intan;
Arsin, antimon, bismut;
Yttrium, rhutenium, cerium dan logam-logam langka lainnya;
Berillium, korundum, zirkon, kristal kwarsa;
Kriolit, fluorspar, barit;
Yodium, brom, khlor, belerang;
3. Golongan C (nonstrategis dan nonvital), yaitu bahan galian yang tidak dianggap langsung
mempengaruhi hajat hidup orang banyak dan stratgis bagi negara, baik karena sifatnya maupun
karena sedikitnya cadangan atau jumlah bahan galian tesebut. Golongan bahan galian
nonstrategis dan nonvital meliputi berikut ini.
Nitrat-nitrat, pospat-pospat, garam batu (halite);
Asbes, telk, mika, grafit, magnesit;
http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan Olimpiade Sains
By : Asri Oktaviani
Yarosit, leusit, tawas (alum), oker;
Batu permata, batu setengah permata;
Pasir kwarsa, kaolin, feldspar, gips, bentonit;
Batu apung, tras, obsidian, perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth);
Marmer, batu tulis;
Batu kapur, dolomit, kalsit;
Granit, andesit, basal, trakhit, tanah liat, dan pasir sepanjan tidak mengandung unsur-unsur
mineral golongan a atau golongan b dalam jumlah yang berarti ditinjau dari nilai ekonomi
pertambangan.
Persebaran mineral logam yang dibedakan menjadi logam besi, logam dasar, logam radioaktif,
logam mulia, dan logam ringan antara lain sebagai berikut.
1. Logam besi terdiri dari Khrom (Cr), Kobalt (Co), Besi (Fe), Mangan (Mn), Molibdenum (Mo), Nikel
(Ni), dan Wolfram (W). Persebaran jenis logam ini antara lain besi anyak dijumpai di Aceh,
Sumatra Barat, Lampung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur. Nikel banyak dijumpai di
Sulawesi Tenggara, mangan di P. Timor, Yogyakarta, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Barat.
2. Logam dasar terdiri dari Antinom (Sb), Bismut (B), Tembaga (Cu), Timbal (Pb), Seng (Zn), Air
raksa (Hg), Timah putih (Sn). Persebaran jenis logam ini antara lain Timbal banyak ditemukan di
Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Air raksa banyak ditemukan di Sumatra
Barat, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Jawa Barat. Tembaga banyak
ditemukan di Aceh, Sumatra Barat, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan
Selatan, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Timah putih
banyak ditemukan di P. Batam, PBintan, Kep. Lingga, P. Bangka, Riau, dan Jambi.
3. Logam radioaktif hanya terdapat di Papua.
4. Logam mulia dibedakan menjadi Emas (Au), Perak (Ag), dan Platina (Pt). Emas banyak ditemukan
di P. Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Perak banyak ditemukan di Aceh,
Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sulawesi Utara, dan Papua. Platina hanya dapat
ditemukan di Riau.
5. Logam ringan dibedakan menjadi Alumunium (Al) yang banyak ditemukan hanya di Kalimantan
Tengah dan Magnesium (Mg) yang banyak ditemukan hanya di Lampung.
Mineral bukan logam dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu bahan galian bangunan,
bahan galian mineral industri, bahan galian mineral keramik, dan bahan galian batu permata.
1. Bahan galian bangunan meliputi andesit, granit, marmer, onik, batu apung, pasir dan batu, batu
bara, serta aspal. Andesit banyak ditemukan di Sumatra Barat, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Marmer banyak ditemukan di Sumatra Barat, Lampung, dan Jawa Timur. Batu apung banyak
ditemukan di Kalimantan Barat dan P. Lombok. Pasir banyak ditemukan di Jawa Barat dan Jawa
Tengah.
2. Bahan galian mineral industri meliputi bentonit, barit, diatome, dolomit, magnesit, fosfat, belerang,
batu gamping, talk, dan zeolit. Magnesit banyak ditemukan di Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, Papua, dan P. Flores. Belerang banyak ditemukan Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa
timur, dan Sulawesi Utara. Batu gamping banyak ditemukan di Aceh, Sumatra Barat, Sumatra
Selatan, P. Jawa, P. Sumba dan Sumbawa, P. Timor, dan Papua.
3. Bahan galian mineral keramik meliputi pasir kuarsa, bond clay, perlif, dan kaolin. Pasir kuarsa
banyak ditemukan di Jawa Timur, Kalimantan Barat, Riau, P. Bangka, dan Papua. Perlif banyak
ditemukan di P. Sumbawa dan Lampung. Kaolin banyak ditemukan di Kalimantan Barat dan
Kalimantan Timur.
4. Bahan galian batu permata meliputi intan yang banyak ditemukan di Riau, safir di Kalimantan
Timur dan Kalimantan Tengah, giok di Aceh, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, dan P.
Halmahera, serta granit banyak ditemukan di Sumatra Barat dan Kalimantan Barat.