Anda di halaman 1dari 58

PERTEMUAN KE II,

SKENARIO IV
RESTORASI GIC
Drg. Sindy Sabatina
PENGERTIAN, KOMPOSISI,
DAN SIFAT GIC
PURNAMAWATI
Pengertian GIC
Merupakan semen yang sewarna gigi dan bersifat tidak
iritatif serta semi-translusen, digunakan untuk merestorasi gigi
anterior, terutama kavitas labial, ceruk dan fisur. Juga digunakan
sebagai bahan bahan perekat dan pelapik dan sebagai bahan
untuk penutup fisur (kamus kedokteran gigi, 2003).


Komposisi Terdiri Dari Bubuk dan Cairan
A. Bubuk : yaitu larutan dasar asam kalsium aluminosilikat glass
yang mengandung fluoride. Ini dibuat dengan mencampur
silika + alumina + kalsium fluoride, metaloksida dan metal
fosfat pada 1100o-1500oC kemudian tuangkan lelehan ke pelat
logam atau ke dalam air.
Fungsi dari masing-masing komponen diantaranya adalah :
1.Alumina : meningkatkan opasitas
2.Silika : meningkatkan translusensi
3.Fluoride: meningkatkan to fusi, antikariogenesitas,
meningkatkan translusensi, meningkatkan waktu kerja,
meningkatkan kekuatan

lanjutan
4.Ca- Fluoride : meningkatkan opasitas, berperan sebagai
pencair/pengalir
5.Al-Fosfat : meningkatkan to leleh, meningkatkan translusensi
6.Cryolite : meningkatkan translusensi, sebagai
pencair/pengalir (Mahesh et al, 2011)

B. Cairan: Cairan yang digunakan pada GIC adalah asam
poliakrilik dengan konsentrasi sekitar 10%. (Anusavice, 2004)
c. Bahan tambahan :
Asam tartar, metal oksida dan polifosfat. ( Mahesh et al,2011)

Sifat GIC
Sifat fisis
1. Anti karies
Ion fluor yang dilepaskan terus menerus membuat gigi lebih tahan
terhadap karies
2. Thermal ekspansi sesuai dengan dentin dan enamel
3. Tahan terhadap abrasi
ini penting khusus pada penggunaan dalam restorasi dan groove yang
abrasi servikalnya oleh sikat gigi dan kavitas yang erosi.
Sifat mekanis
1. Compressive strength : 150 Mpa, lebih rendah dari silikat
2. Tensille strength : 6,6 Mpa lebih tinggi dari silikat
3. Hardness : 49 KHN, lebih lunak dari silikat
4. Frakture doughness : beban yang kuat dapat terjadi fraktur (Manappalli
dalam lubis, F.L. 2004).

lanjutan
Sifat Kimia
Semen ionomer kaca melekat dengan baik ke enamel dan
dentin perlekatan ini berupa ikatan kimia antara ion kalsium
dari jaringan gigi dan ion COOH dari semen (adhesi).
Sifat biologi
Semen ionomer kaca memiliki sifat biokompatibilitas yang
cukup baik, artinya tidak mengiritasi jaringan pulpa sejauh
ketebalan sisa dentin ke arah pulpa tidak kurang dari 0,5 mm
(Phillips dalam Lubis, F.L. 2004).
KEKURANGAN & KELEBIHAN
SERTA INDIKASI &
KONTRAINDIKASI
FITRI
Potensi antikariogenik
Translusen
Biokompatibel
Melekat secara kimia
dengan struktur gigi
Sifat fisik yang stabil
Mudah dimanipulasi
(Craig, 2004).


Water in and water out
Compressive strenght
kurang baik
Resistensi terhadap abrasi
menurun
Estetik kurang baik
Warna tambalan lebih
opaque, sehingga dapat
dibedakan secara jelas
antara tambalan dengan
gigi asli (Craig, 2004).


KELEBIHAN
KEKURANGAN
INDIKASI
Restorasi pada lesi
erosi/abrasi tanpa preparasi
kavitas
Penumpatan pit dan fisura
oklusal
Restorasi gigi sulung
Restorasi lesi karies kl. V
Restorasi lesi karies kl. III
lebih diutamakan yang
pembukaannya arah lingual
Reparasi kerusakan tepi
restorasi mahkota (Craig,
2004).


KONTRAINDIKASI
Kavitas-kavitas yang
ketebalannya kurang
Kavitas-kavitas yang
terletak pada daerah yang
menerima tekanan tinggi
Lesi karies kelas IV atau
fraktur insisal
Lesi yang melibatkan area
luas pada email labial yang
mengutamakan faktor
estetika (Craig, 2004).


KLASIFIKASI DAN JENIS DARI
GIC
SURYO
Berdasarkan Sifat Fisis dan Mekanis
1. Glass Ionomer Cement Konvensional
Bahan ini berasal dari asam polialkenoat cair seperti asam poliakrilat dan
komponen kaca yang biasanya adalah fluoroalumino silikat.
2. Resin Modifide Glass Ionomer Cement
Bahan ini mengkombinasikan reaksi asam-basa ionomer kaca tradisional dengan
reaksi polimerisasi amine-peroksiad self cured.
3. Hybird Ionomer
Jenis semen ini memiliki kekuatan tarik yang lebih tinggi dibandingkan dengan
jenis semen ionomer konvensional.
4. Tri Cure Glass Ionomer Cement
Semen ini terdiri dari kaca silicate, sodium fluorida dan moner yang dimodifikasi
polyacid tanpa kandungan air.
5. Metal Reinforced Glass Ionomer Cement
Pada jenis semen ini ditambahkan bubuk campuran perak amalgam pada bahan
konvensional yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan fisik semen dan
memberikan radiopastis.





Berdasarkan Aplikasi Klinisnya
Menurut Hunt, 1993

a. Tipe I : Luting cemeent
b. Tipe II : Restorative material
c. Tipe III : Bases and liners
i. Tipe III A
ii. Tipe III B
iii. Tipe III C
d. Tipe IV : Admixtures
Menurut Wilson dan Mclean (1988) :
a. Tipe I : Luting cement
b.Tipe II.1 : Restorative Aesthetic
II.2 : Reinforced Cement
c. Tipe III : Lining cement

Berdasarkan annusavice, 2004

a. Tipe I : Luting Cement
b. Tipe II : Restorative Cement
c. Tipe III : Liner and Basis
Cement
d. Tipe IV : Fissure sealants
e. Tipe V : Orthodontic Cements
f. Tipe VI : Core build up
g. Tipe VII : Fluoride releasing
h. Tipe VIII : ART(atraumatic
restorative technique)
i. Type IX : Deciduous teet.
MEKANISME PERLEKATAN
GIC TERHADAP STRUKTUR
GIGI
FENY
Retensi semen ionomer kaca terhadap jaringan
gigi berupa ikatan fisiko-kimia tanpa
menggunakan teknik etsa asam. Ikatan
kimianya berupa ikatan ion kalsium yang
berasal dari jaringan gigi dengan gugus COOH
(karboksil).
Gugus karboksil (COOH) multipel membentuk
ikatan hidrogen yang kuat. Dalam hal ini
memungkinkan pasta semen untuk membasahi,
adaptasi, dan melekat pada permukaan email.

Air memegang peranan penting selama
proses pengerasan dan apabila terjadi
penyerapan air maka akan mengubah
sifat fisik SIK.
Saliva merupakan cairan di dalam rongga
mulut yang dapat mengkontaminasi SIK
selama proses pengerasan dimana dalam
periode 24 jam. SIK sensitif terhadap
cairan saliva sehingga perlu dilakukan
perlindungan agar tidak terkontaminasi.
Kontaminasi dengan saliva akan menyebabkan
SIK mengalami pelarutan dan daya adhesinya
terhadap gigi akan menurun, dan juga rentan
terhadap kehilangan air beberapa waktu
setelah penumpatan.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal
maka selama proses pengerasan SIK perlu
dilakukan perlindungan agar tidak terjadi
kontaminasi dengan saliva dan udara, yaitu
dengan cara mengunakan bahan isolasi yang
efektif dan kedap air.
MANIPULASI GIC SEBELUM,
SAAT MANIPULASI DAN
SESUDAH MANIPULASI
JUNAEDI
SEBELUM MANIPULASI

Membersihkan kavitas dari kontaminan
dengan conditionerdibersihkan,
dikeringkan
Pilih tipe GIC
Siapkan matrik & wedge
Siapkan light cure (bila menggunakan GIC
LC)
Isolasi daerah kerja

DENTIN CONDITIONER
Kavitas diulasi DENTIN CONDITIONER ASAM
POLIAKRILIK 25 % selama 10 detik. Kemudian disemprot
air selama 30 detik & dikeringkan dengan baik.

TUJUAN : membantu aksi pembersihan dan
membuang smear layer
SAAT MANIPULASI
Pengadukan dilakukan pd glass slab yg dilapisi dgn kertas
disposibel, menggunakan spatula agate (plastik)

Perbandingan bubuk : cairan = 3: 1 (sesuai aturan pabrik)
dicampur dengan cepat dengan cara melipat (selesai
dlm waktu 40 detik)

KONSISTENSI ADONAN : Terlihat kental dan berkilat di
permukaan asam poliakrilat masih basah & dapat
melekat ke struktur gigi


Meletakkan GIC ke dlm kavitas dgn plastic
filling, selama peletakan & ketika membentuk
bahan adonan di dalam kavitas, instrumen diberi
bubuk kering, bukan alkohol supaya semen tidak
melekat ke instr.

Kelebihan semen dibuang membentuk kontur
yang diinginkan harus cepat dilakukan ketika
permukaan masih basah untuk mencegah
kerusakan bila semen mulai mengeras.
SETELAH MANIPULASI

DICEK DAERAH OVERFILLING
PERMUKAAN TUMPATAN DIULAS DENGAN
VARNISH
DILAKUKAN PEMOLESAN SETELAH 24 JAM

PEMOLESAN
MENGGUNAKAN
ABRASIVE RUBBER CUP
ATAU FINISHING DISC
YANG DIULASI COCOA
BUTTER
CEK DAERAH BATAS TEPI
TUMPATAN DENGAN GIGI


SETTING TIME GIC
REDY
Setting dari GIC terdiri dari 3 fase yaitu fase
pelepasan ion, fase hydrogel dan fase polysalt
gel

Ketika bubuk dan cairan GIC dicampurkan, cairan asam
akan memasuki permukaan partikel kemudian bereaksi
dengan membentuk lapisan semen tipis yang akan
mengikuti inti tumpatan (Lubis, 2004)

Selain cairan asam, kalsium, aluminium, sodium sebagaian
ion-ion fluoride pada bubuk GIC akan memasuki partikel
kaca yang akan membentuk ion kalsium (Ca2+) kemudian
ion aluminium (Al3-) dan garam fluor yang dianggap dapat
mencegah timbulnya karies sekunder. Selanjutnya partikel-
partikel lapisan kaca lapisan luar membentuk lapisan gel
(Lubis
Dissolution

Terdekomposisinya 20-30% partikel glass dan
lepasnya ion-ion dari partikel glass (kalsium,
stronsium, dan alumunium) akibat dari
serangan polyacid (terbentuk sol seme)

Gelation/ hardening
Ion-ion kalsium, stronsium, dan alumunium
terikat pada polianion pada grup polikarboksilat.
a. 4-10 menit setelah pencampuran terjadi
pembentukan rantai kalsium (fragile & highly
soluble in water).
b. 24 jam setelah pencampuran, maka alumunium
akan terikat pada matriks semendan membetuk
rantai alumnium (strong & insoluble).
Hydration of salts
Terjadi proses hidrasi yang progresive dari
garam matriks yang akan meningkatkan sifat
fisik dari glass ionomer cement. (Lubis, 2004)

Waktu setting GIC
Lama pengadukan : 25 30 detik
Waktu kerja : 2 menit
Waktu setting : 2 menit 20 detik
Finishing akhir setelah pengadukan : 6 menit

Menurut Craig, GIC mengalami setting 6 hingga
8 menit dari mulai mengaduk
HAL HAL YANG PERLU
DIPERHATIKAN SEBELUM
MELAKUKAN RESTORASI
GIC
SEPTIANA
1. Dinding kavitas dibersihkan menggunakan asa
poliakrilik 10%, kemudian cuci dengan air dan
keringkan.
2. matriks tumpatan yg tipis dibentuk dengan burnisher
sehingga dpt berkontak dgn gigi pada marginal
servikal.
3. bahan dicampur sesuai petunjuk pabrik dan
dimasukkan sedikit demi sedikit ke dlm kavitas
menggunakan isntrumen kecil
4. restorasi dibentuk sesuai anatomis gigi. Dan diatasnya
dioleskan varnish agar tidak terjadi kontaminasi
selama pengerasan.
PREPARASI KAVITAS DAN
TEKNIK FINISHING
PHOLISHING GIC
SARI & IID
ALAT MANIPULASI DAN POLISHING
GIC
Alat alat :- Kaca tebal (Glass Plate) + 1 cm
- Papper pad
- Agate spatel
- Sonde
- Pinset
- Matriks selluloid (Untuk tumpat
kavitas kls III)
- Plastik Filling instrument
- Polishing Strip
- Arkansas Stone

Teknik Manipulasi
Sebelum menumpat rongga mulut didaerah
sekitar gigi yang akan direstorasi harus bersih dan
kering
Apabila tumpat pada kelas III pasang matriks
selluloid terlebih dahulu pd proksimal
Ambil bahan restorasi
Tempatkan diatas papper pad yang ada di glass
plate
Aduk bahan GIC menggunakan Agate Spatel
diatas papper pad dengan gerakan melipat di satu
tempat dan jangan melebar


Lanjutan,,,
Setelah pengadukan dan didapatkan konsistensi yang
cukup, bahan dimasukkkan ke dalam kavitas dengan
menggunakan plastic filling instrumement
Kemudian matriks ditekan sampai bahan mengalami
setting
Sebelum setting sisa bahan yang melebihi matriks
dibersihkan dengan ujung sonde
Kemudian matriks dilepas dan diberi vaselin
24 jam setelah ditumpat baru dapat dilakukan
pemolesan menggunakan polishing strip atau paper disk
yang diberi vaselin, dpt juga menggunakan arkansas
stone.
Desain Preparasi
Klas I
Sebelum memasang isolator karet, perhatikan semua lokasi
kontak oklusal dengan menggunakan kertas artikulasi dan
tempatkan varnish di atasnya sehingga nanti setelah isolator
karet dibuka masih terlihat. Outline dibuat hanya sebatas
karies untuk mengurangi tekanan oklusal ke tambalan
tersebut.
Klas III
Dinding aksial terletak 0,5 mm dari email ke dalam
dentin dan variasi dari ini akan ditentukan oleh
kedalaman dan perluasan karies. Selagi masih
mungkin, dinding aksial diletakkan pada kedalaman
ideal, dan setiap penetrasi karies di bawah daerah ini
disingkirkan tanpa melibatkan seluruh dinding aksial.
Biasanya tidak ada kontak pada gingival dengan gigi
tetangga, yang mempermudah prosedur restorasi ini.
Preparasi dimulai dari bagian palato proksimal dengan bur
bulat nomer 1. Arah bur tegak lurus bidang labial gigi.
kavitas dibuat sesuai outline preparasi yang telah dibuat
dengan menggunakan bur silindris fissure yang berujung
bulat. Dapat pula dibuat retensi berupa undercut didaerah
sudut yang menghadap ke insisal maupun servikal gigi.
selanjutnya, seluruh permukaan kavitas dihaluskan dengan
diamond bur sehingga diperoleh hasil preparasi yang halus
pada 3 tempat, yaitu : insisal point angle, labial point angle
dan lingual point angle menggunakan round bur kecil.
Klas V

Bentuk ragangan restorasi klas V tidaklah
seragam, tetapi bervariasi tergantung karies atau
tingkat dekalsifikasi yang terjadi. Outline form
berbentuk ginjal pada bagian bukal 1/3 serviko
servikal. Kedalaman preparasi kurang lebih 3 mm
(sampai mengenai dentin).
Bila jaringan yang rusak telah disingkirkan dan
tepinya berada pada email yang baik, ragangan
biasanya persegi panjang dengan sudut membulat,
ovoid atau berbentuk ginjal.
Retensi dibuat pada oklusal, dan dinding gingival
di pertautan dengan dinding aksial. Tidak boleh ada
undercut pada dinding mesial dan distal.
Kedalaman retensi dibentuk menggunakan
diameter bur, dan tidak melebihi diameter bur bahkan
dalam beberapa hal malah bisa kurang.
PREPARASI KAVITAS
Restorasi estetik :
Bentuk preparasi kavitas umumnya sama .
Tanpa membuat preparasi kavitas yang formal

Teknik (secara umum ):
Semua jaringan karies harus dibuang.
Preparasi membuang jaringan email yang rapuh akibat dekalsifikasi.
Preparasi harus memudahkan penempatan bahan dan peyelesaiannya .
Lap. Kerja harus kering bahan restorasi amat rentan terhadap keadaan
lembab.
Pemasangan isolator karet sebagai bagian dari prosedur perawatan.
Tidak dilakukan pembuatan BEVEL

Variasi hasil Preparasi kelas III dan V
GIC
Finishing & Polishing
Haluskan tumpatan dengan menggunakan
slowly rotating bur steel tanpa menggunakan
semprotan air/udara
Periksa daerah gingival margin, agar jangan
ada sealant yang berlebih
Evaluasi tumpatan setelah 1 minggu, haluskan
kembali apabila diperlukan
Glass ionomer konvensional idealnya
membutuhkan waktu 24 jam untuk
polimerisasi
Setelah batas waktu tersebut, barulah kita dapat
melakukan proses contouring dan finishing
Apabila Anda menggunakan resin-modified, light-
cured glass ionomer, maka contouring dan finishing
dapat Anda lakukan setelah penyinaran. Dan untuk
mencegah dehidrasi, gunakanlah petroleum lubricant
ketika Anda melakukan proses contouring dan
finishing
Tekan tambalan dengan matriks yang sesuai kontur
gigi, kemudian oleskan cocoa butter atau varnish di
atas tambalan, biarkan 1-2 menit.)

Prosedur finishing yang tepat harus memuat:

Tekstur permukaan yang halus yang akan
memantulkan cahaya dengan cara yang sama pada
enamel gigi yang berdekatan
Kontur/bentuk suatu rstorasi secara psikologis cocok
untuk menyangga jaringan
Hubungan oklusi yang memperkecil penggunaan
stress dalam semua fungsi pergerakan mandibula
Ketepatan batas adaptasi dari resin pada batas
cavosurface
Bentuk umum yang serasi dengan bentuk gigi
sehingga meningkatkan estetis


BAHAN BASIS DAN PELAPIK
SERTA PELINDUNG
RESTORASI GIC
BAYU KRIDA
Zinc phosphate
Liquid: Phosphoric acid, aluminium phosphate and water.
Powder: Zinc oxide, magnesium oxide, and silica.

Polycarboxylate
Liquid: Polyacrylic acid, itaconic acid, maleic acid, tartaric
acid, and water.
Powder: zinc oxide

Glass Ionomer
Liquid: Itaconic acid, tartaric acid, maleic acid, and water.
Powder: Zinc oxide, aluminum oxide, and calcium.


BAHAN PELINDUNG GIC
Varnish :
Varnish bertujuan untuk melindungi pulpa dari
iritasi kimia bahan-bahan yang berkontak
dengannya untuk keperluan ini varnish berada
diantara dentin dan bahan restorasi.
Varnish mengandung satu atau lebih resin yaitu
gum natural dan resin sintetik atau rosin. Bahan-
bahan tersebut terlarut dalam larutan organic
seperti kloroform, alkohol, aseton, benzene,
toluene, etil asetat.

FAKTOR PENYEBAB
KEGAGALAN DAN CARA
PENCEGAHAN KEGAGALAN
DALAM RESTORASI GIC
KIKI
1. Preparasi permukaan
2. Persiapan bahan
4. Penyelesaian permukaan dari semen yang
telah mengeras
3. Penempatan bahan
5. Prosedur pasca-restorasi
Permukaan restorasi ionomer
kaca yang kasar dan seperti kapur
akibat kurangnya perlindungan
terhadap semen selama proses
pemata-ngannya.
Sumber: Anusavice, 2003
Kegagalan Restorasi
Restorasi ionomer kaca yang
sudah berusia enam tahun (tanda
panah). Perawatan konservatif
dan estetik untuk lesi erosi.
Sumber: Anusavice, 2003
Keberhasilan Restorasi
PERBEDAAN ATRISI, ABRASI,
DAN EROSI
MARTHA
Erosi adalah hilangnya atau
rusaknya lapisan perm gigi
atau enamel yg di sebabkan
oleh zat yang bersifat asam,
untuk menghindari
terjadinya erosi harus kumur
setelah mengkonsumsi
makanan ataupun minuman
yang mengandung asam,
dan biasakan menggunakan
sedotan pada saat minum yg
mengandung asam agar
tidak langsung mengenai
permukaan gigi


Atrisi adalah hilangnya
struktur oklusal atau insisal
gigi akibat dari gesekan gigi
kegigi yang kronis meskipun
keadaan tersebut terjadi paling
sering pada orang tua, gigi
sulung dari anak muda juga
dapat mengalami. Atrisi
biasanya merupakan keadaan
yang menyeluruh yang di
percepat oleh bruksisme




Abrasi adalah hilangnya
struktur gigi secara
patologis akibat dari
keausan mekanis yang
abnormal. Berbagai hal
dapat menyebabkan
abrasi, tetapi bentuk yang
paling umum adalah
abrasi sikat gigi yang
membuat lekuk
berbentuk V dibagian
servikal dari permukaan
vasial suatu gigi.