Anda di halaman 1dari 62

TUMPATAN SIK/GIC

Atrisi pada gigi


a. Definisi : Abrasi gigi merupakan keadaan
abnormal dimana ada lapisan pada
gigi yaitu email yang hilang dan
terkikis, atau terkadang hingga
lapisan yang lebih dalam dari email
yaitu dentin
b. Penyebab:
a. Abrasi gigi yang disebabkan oleh penyikatan gigi
dengan arah horizontal dan dengan penekanan
berlebihan
b. Kebiasaan buruk seperti menggigit pensil
c. Kebiasaan menggunakan tusuk gigi yang
berlebihan diantara gigi
d. Penggunaan gigi tiruan lepasan yang
menggunakan cengkeram

a. Definisi: hilangnya atau rusaknya lapisan permukaan gigi
atau lapisan email yang disebabkan oleh zat yang
bersifat asam. Paparan zat asam yang terus
menerus pada permukaan gigi ini menyebabkan
email melunak, walaupun air liur dapat berfungsi
untuk menetralisir tetapi lama-kelamaan gigi tetap
akan kehilangan lapisan emailnya.
b. Penyebab:
- Makanan dan minuman yang asam, minuman asam
contohnya soft drink dan minuman buah-buahan.
- Penyakit GERD dan penyakit lainnya yang terkait dengan
seringnya muntah seperti bulimia.
- Gangguan gastrointestinal.
- Mulut yang kering/Xerostomia.
- Konsumsi obat-obatan atau suplemen yang mengandung
zat yang bersifat asam.

a. Definisi : Atrisi gigi merupakan kerusakan pada
permukaan gigi atau restorasi akibat
kontak antar gigi selama
pengunyahan atau karena adanya
kelainan fungsi.
b. Penyebab:

Faktor pola makan
Kebiasaan bruxism
Kerasnya jaringan gigi
Jaringan periodontal
Kondisi tulang penyangga
Tonus otot pengunyahan
GIC/SIK memiliki kemampuan berikatan secara fisikokimia
baik pada email maupun dentin.
Suatu bubuk kaca dan asam ionomer yang mengandung
gugus karboksil, juga disebut sebagai semen polialkenoat.
Semen ionomer kaca sering disebut dengan ASPA (Alumine
Silicate and polyacrylic acid) (Anusavice, 2003)
Powder : alumina silikat
Liquid : asam poliakrilat, asam tartaric

(Manappallil, 2004)
SiO2 (silica) 29%
Al2O3 (alumunium oksida) 16,6%
CaF2 (Calsium fluoride) 34,2%
Na3AlF6 (klorit) 5,0%
AlF3(alumunium fluoride) 5,3%
AlPO4 (alumunium phospat) 9,9%



(Craig, 2002)

Asam poliakrilat 40-50%
Fungsi: Untuk melekatkan pada struktur gigi
tanpa perlakuan kusus
Asam tartarik 5,0%
Fungsi: Mengontrol reaksi pengerasan,
membantu keluarnya ion-ion dari glass dan
memperlambat pengerasan
Air 47%
Fungsi: Media reaksi, serta menambah
kekuatan bahan.

Sifat Fisis
a. Anti karies
karies.
b. Thermal ekspansi sesuai dengan dentin dan
enamel
c. Tahan terhadap abrasi

Sifat Mekanis
a. Compressive strength : 150 MPa, lebih
rendah dari silikat

b. Tensile strength : 6,6 MPa, lebih tinggi
dari silikat

c. Hardness : 49 KHN, lebih lunak dari
silikat

d. Frakture toughness : Beban yang kuat
dapat terjadi fraktur

Sifat Kimia
a. Semen Ionomer Kaca melekat dengan baik
ke enamel dan dentin, perlekatan ini
berupa ikatan kimia antara ion
kalsium dari jaringan COOH dari Semen
Ionomer Kaca.
b. Ikatan dengan enamel dua kali lebih besar
daripada ikatannya dengan
dentin.
c. Dengan sifat ini maka kebocoran tepi
tambalan dapat dikurangi.
d. Semen Ionomer Kaca tahan terhadap
suasana asam.







Sifat Biologi
a. Bikompatibilitas baik
b. saliva selama penumpatan dan sebelum
semen mengeras sempurna akan merugikan
tumpatan karena semen akan mudah larut
dan daya adhesi akan menurun.

1. Glass Ionomer Cement Konvensional
2. Resin Modifide Glass Ionomer Cement
3. Hybird Ionomer
4. Tri Cure Glass Ionomer Cement
5. Metal Reinforced Glass Ionomer Cement



1. Menurut Wilson dan Mclean (1988) :
a. Tipe I : Luting cement
b.Tipe II.1 : Restorative Aesthetic
II.2 : Reinforced Cement
c. Tipe III : Lining cement
a. Tipe I : Luting cemeent
b. Tipe II : Restorative material
c. Tipe III : Bases and liners
i. Tipe III A
ii. Tipe III B
iii. Tipe III C
d. Tipe IV : Admixtures
a. Tipe I : Luting Cement
b. Tipe II : Restorative Cement
c. Tipe III : Liner and Basis Cement
d. Tipe IV : Fissure sealants
e. Tipe V : Orthodontic Cements
f. Tipe VI : Core build up
g. Tipe VII : Fluoride releasing
h. Tipe VIII : ART(atraumatic restorative
technique)
i. Type IX : Deciduous teet.

Potensi antikariogenik
Translusen
Biokompatibel
Melekat secara kimia dengan struktur gigi
Sifat fisik yang stabil
Mudah dimanipulasi

(Craig, 2004)
Compressive strenght kurang baik
Resistensi terhadap abrasi menurun
Estetik kurang baik
Warna tambalan lebih opaque, sehingga
dapat dibedakan secara jelas antara tambalan
dengan gigi asli.

(Craig, 2004)
Untuk karies gigi-gigi anterior seperti klas I
(kavitas kecil), III (bag prox sisi palatal) dan
Klas V
Untuk karies gigi-gigi posterior yang kecil
dan dangkal yang tidak membutuhkan
tekanan yang besar seperti klas I dan klas II
superfisial
Dapat digunakan untuk restorasi erosi pada
daerah gingival (akibat resesi)
Restorasi gigi sulung
Memperbaiki tepi restorasi

Semen glass ionomer bersifat brittle sehingga
tidak digunakan untuk tambalan di bagian
oklusal yang menahan daya kunyah besar
atau berkontak dengan gigi lawan.
Semen glass ionomer memiliki compressive
strength dan hardness lebih kecil dari semen
silikat sehingga mudah pecah pada bag cusp.

Bakar, abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis.
Yogyakarta: Quantum Sinergis Media
Perlekatan GIC ke enamel/dentin
Mekanisme perlekatan terjadi oleh karena ada
interaksi ion kalsium dan atau ion phosphate dari
permukaan enamel/dentin
Perlekatan akan lebih efektif pada permukaan
gigi yang bersih jadi harus menggunakan acidic
conditioner (cleansing agents) dan larutan ferric
Chloride
Cleansing agents untuk menghilangkan smear
layer dari dentin
Ion Fe mengendap akan meningkatkan ionic
interaction antara semen dan dentin

Retensi semen ionomer kaca terhadap jaringan gigi
berupa ikatan fisiko-kimia tanpa menggunakan teknik
etsa asam. Ikatan kimianya berupa ikatan ion kalsium
yang berasal dari jaringan gigi dengan gugus COOH
(karboksil).
Gugus karboksil (COOH) multipel membentuk ikatan
hidrogen yang kuat. Dalam hal ini memungkinkan
pasta semen untuk membasahi, adaptasi, dan melekat
pada permukaan email.

Air memegang peranan penting selama
proses pengerasan dan apabila terjadi
penyerapan air maka akan mengubah
sifat fisik SIK.
Saliva merupakan cairan di dalam
rongga mulut yang dapat
mengkontaminasi SIK selama proses
pengerasan dimana dalam periode 24
jam. SIK sensitif terhadap cairan saliva
sehingga perlu dilakukan perlindungan
agar tidak terkontaminasi (varnish).
Kontaminasi dengan saliva akan
menyebabkan SIK mengalami pelarutan dan
daya adhesinya terhadap gigi akan menurun,
dan juga rentan terhadap kehilangan air
beberapa waktu setelah penumpatan.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal
maka selama proses pengerasan SIK perlu
dilakukan perlindungan agar tidak terjadi
kontaminasi dengan saliva dan udara, yaitu
dengan cara mengunakan bahan isolasi yang
efektif dan kedap air.
Semen ionomer kaca mengalami 3 fase reaksi
pengerasan :

1. Fase pertama adalah fase pelepasan ion yang diawali
reaksi ionisasi radikal karboksil (COOH) yang terdapat
dalam rantai asam (asam poliakrilat) menjadi ion COO
(ionkarboksilat) dan ion H+.
2. Fase kedua adalah fase hidrogel. Fase hidrogel
terjadi 5 sampai 10 menit setelah pencampuran
dilakukan. Selama fase ini berlangsung, permukaan
semen SIK harus dilindungi dari lingkungan yang
lembab dan kering, karena ion kalsium yang bereaksi
dgn poliasam polianionik mudah larut dalam air.

3. Fase terakhir adalah gel poliagram, yang terjadi
ketika SIK mencapai pengerasan akhir. Matriks yang
terbentuk akan menjadi mature ketika ion-ion
aluminium, yang pelepasannya dari permukaan kaca
lebih lambat, terikat kedalam campuran semen
membatu membentuk hidrogel poliagram yang
menyebabkan semen menjadi lebih kaku. Fase gel
poliagram ini menyebabkan SIK terlihat lebih
menyerupai gigi.
1. Outline Form (Garis tepi/Batas)
2. Resistance Form (Bentuk resistensi)
3. Retention Form (Bentuk retensi)
4. Convenience Form
5. Removal of Caries (Penyingkiran Jaringan karie
s)
6. Finishing The Enamel Margin (Menghaluskan
dinding enamel margin)
7. Toilet of The Cavity (Membersihkan Kavitas)

1. Agate spatle
Sebagai
pencampur/pengaduk
bahan tumpat GIC
2. Paper pad
Sebagai alas pencampur
bahan GIC


3. Ball applicator
Digunakan untuk
memasukkan bahan
tumpat kedalam kavitas
yang dalam
4. Sonde
Mengukur atau menilai
apakah bahan telah
setting time atau belum.
4. plastic instrument
Digunakan untuk
memasukkan bahan
tumpatan ke
kavitas yang tidak
dalam.
5. Condenser

Bagian yang halus
digunakan untuk
memadatkan bahan
tumpatan SIK dan
RK
Retensi semen ionomer kaca diperoleh dari
ikatan fisiokimia yang dimiliki oleh sifat
adhesinya
Untuk tumpatan glass ionomer cement oleh
karena perlekatannya secara kimia maka
hanya bagian gigi yang terkena karies saja
yang di ambil.
Kemudian diulas conditioner baru ditumpat.
Pada kavitas yang dalam, digunakansistem
sandwich atau teknik laminasi dengan cara
menumpatkan Glass Ionomer Cement sebagai
basis dan diikuti dengan penumpatan
komposit atau amalgam.


Membersihkan kavitas dari kontaminan
dengan conditionerdibersihkan,
dikeringkan
Pilih tipe GIC
Siapkan matrik & wedge
Siapkan light cure (bila menggunakan GIC LC)
Isolasi daerah kerja

Gigi diisolasi agar tidak
lembab
Permukaan gigi dibersihkan
dari plak, debris
Memerlukan surface
conditioner untuk
membersihkan permukaan
dentin (dentin conditioner)
Tujuan DC membantu aksi
pembersihan dan
membuang smear layer
Proteksi pulpa dengan
calcium hydroxide, bila
ketebalan dentin < 0,5 mm
Semen harus cepat
diaplikasikan, karena
working time setelah
mixing adalah 2 menit pada
temperatur kamar

Perbandingan
powder/liquid 1,3 : 1
sampai
1,35 : 1
Pencampuran harus
cepat, menggunakan
paper pad dan spatel
plastik
Mixing time 30 60
detik
Encapsulated products
dengan mechanical
mixer 10 detik

Tahap manipulasi
Working time dapat diperpanjang dengan
menggunakan cold glass slab ( 3C ) tetapi
menyebabkan compressive strength menurun
tidak dianjurkan
Semen ini sensitif terhadap kelembaban,
maka itu semen yang baru mengeras
dilindungi dari kelembaban dengan
menggunakan varnish
Setelah mengeras diulas lagi dengan varnish

Melindungi pulpa dr iritan yg berasal dari
semen atau bhan restorasi dan mengurangi
penetrasi oral fluid pada restorasi
Setelah dilakukan
penumpatan GIC,
tumpatan GIC tdk boleh
dilakukan tahapan
finishing dan polishing
secara langsung tetapi
gic dilapisi dengan
varnish.
Varnish melindungi pulpa
dr iritan yg berasal dr
semen atau bhn restorasi
dan mengurangi
penetrasi oral fluid pd
restoration-tooth
interface ke dalam
underlying dentin

GIC belum mengeras
sempurna sebelum 24 jam.
Dalam tahapan
polimerisasi, pengerasan
awal GIC sekitar 7-8 menit.
Namun GIC masih dalam
keadaan lunak, sehingga
diperlukan pemberian
varnish untuk melapisi GIC
dari kontaminasi saliva
karena sifat GIC yg mudah
larut dan aus.
Setelah 24 jam GIC
mengeras sempurna.
Dilakukan tahap finishing
dan polishing.

Polishing menggunakan
abrasive rubber cup, atau
finishing disc yang diulasi
cocoa butter.
Cek daerah batas tepi
tumpatan dengan gigi.
GIC diindikasikan untuk kelas III dan V



Gambar 4. Preparasi kelas III
Contoh kasus Macam desain kelas v

GIC mengeras sempurna setelah 24 jam,
sehingga tidak dilakukan finishing dan
polishing pada 1 kali kunjungan, karena GIC
masih dalam keaadaan lunak.
Untuk melindungi GIC yang lunak tsb agar
tidak terkontaminasi oleh saliva, maka
dilakukan perlindungan dengan pemberian
Varnish.
(Anusavice, 2003)
1. Preparasipermukaan
2. Persiapan bahan
4. Penyelesaian permukaan dari semen yang
telah mengeras
3. Penempatan bahan
5. Prosedur pasca-restorasi
Permukaan restorasi
ionomer kaca yang kasar
dan seperti kapur akibat
kurangnya perlindungan
terhadap semen selama
proses pemata-ngannya.
Restorasi ionomer kaca
yang sudah berusia enam
tahun (tanda panah).
Perawatan konservatif dan
estetik untuk lesi erosi.
Keberhasilan Restorasi
Teknik isolasi yang baik
Perbandingan powder dan liquid yang benar
Design kavitas yang sesuai
Teknik manipulasi yang sesuai
Proses polishing
Teknik finishing
Anusavice, J. Kenneth. Phillips: Buku Ajar
Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Ed: 10.
Jakarta:EGC.






Diskolorisasi pada tumpatan GIC biasanya
disebabkan oleh kebocoran mikro. Kebocoran
mikro biasanya terjadi akibat retensi dari
bahan restorasi GIC kurang kuat. Sehingga,
cairan yang berada dirongga mulut (
minuman bersoda, alkohol, sirup) akan
meresap melalui tepi tumpatan GIC.

1. Kontraksi selama proses setting
2. Ekspansi dan kontraksi karena adanya
kontak dengan air
3. Ekspansi dan kontraksi karena perubahan
temperatur