Anda di halaman 1dari 24

1

Progaram Puskesmas
dalam Pemberantasan DHF
Clara Amanda Schram
10.2010.172
Kelompok B 5
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Terusan Arjuna No.6 Jakarta Barat 11510
Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731
clara_schram@hotmail.com
Pendahuluan
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan satu masalah kesehatan masyarakat penting
di Indonesia dan sering menimbulkan suatu letusan Kejadian Luar Biasa dengan kematian yang besar.

Di Indonesia nyamuk penular (vector) penyakit DBD yang penting adalah Aedes aegypti, Aedes
albopictus, dan Aedes scutellaris,tetapi sampai saat ini yang menjadi vector utama dari penyakit DBD
adalah Aedes aegypti.
Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang di tularkan melalui tusukan nyamuk
Aedes aegypty. Biasanya ditandai dengan demam yang bersifat bifasik selama 2-7 hari, ptekie dan
adanya manifestasi perdarahan, dengan ciri demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan
bertendensi menimbulkan rejatan (syok) dan kematian.
Kejadian Luar Biasa DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence rate(IR)= 35,19 per
100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar 10,17%, namun pada
tahun berikutnya IR cenderung meningakat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66 (tahun 2001); 19,24 (tahun
2002) dan 23,87 (tahun 2003).
Jumlah kasus DBD di Indonesia sebagai berikut, 44.548 orang (1996), dengan jumlah kematian
sebanyak 1.234 orang, tahun 1998 sejumlah 72.133 orang, denan jumlah kematian sebanyak 1.414
orang. Tahun 1999 jumlah kasus 21.134 orang, tahun 200 jumlaj kasus 33.443 orang, tahun 2001 jumlah
kasus 45.904 orang, tahun 2002 jumlah kasus 26.015 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 389
orang dan tahun 2005 jumlah kasus 38.635 orang dengan jumlah kematain sebanyak 539 orang.
2

Insiden penyebaran penyakit DBD di pengaruhi oleh kondisi lingkungan, mobilitas penduduk,
kepadatan penduduk, adannya container buatan maupun alami di tempat pembuangan akhir (TPA)
ataupun di tempat sampah lainnya, penyuluhan dan perilaku masyarakat, antara lain: pengetahuan,
sikap, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), fogging, abatisasi, dan pelaksanaan 3M
(menguras, menutup dan mengubur).
Selain itu, pemerintah melalui puskesmas memberikan bantuan berupa pengasapan sarang nyamuk
(fogging) dan memberikan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk bagi daerah yang memiliki
penderita DBD (Depkes, 2004). Penyakit DBD mudah berkembang oleh karena: antara rumah jaraknya
berdekatan, yang memungkinkan penularan karena jarak terbang aedes aegypti 40-100 meter. Aedes
aegypty betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang, yaitu menggigit beberapa orang secara
bergantian dalam waktu singkat.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui upaya manajemen program
puskesmas dalam melakukan pemberantasan DHF melalui tindakan promotif, preventif, kuratif,
rehabilitative, serta protektif, untuk melatih masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat,
untuk mengetahui status kejadian DHF disuatu wilayah.

Pembahasan
Skenario:
Pada akhir tahun berdasarkan evaluasi program pemberantasan DHF masih didapatkan prevalensi DHF
berkisar 18% dengan tingkat CFR 4%. Rata-rata penderita datang terlambat sehingga terlambat juga
dirujuk ke Rumah Sakit. Berdasarkan pemantauan jentik, didapatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) adalah
60%. Dilihat dari situasi endemisitas desa, maka beberapa desa termasuk desa endemis dan sisanya
termasuk desa sporadik. Kepala Puskesmas akan melakukan revitalisasi program pemberantasan DHF
dan ingin didapatkan insidens yang serendah-rendahnya dan CFR 0%. Didaerah tersebut dilakukan
pembangunan gedung-gedung kantor baru dan banyak sampah-sampah di sungai di sekitar pemukiman
warga. Masyarakat daerah tersebut masih menggunakan sarana penyimpan air minum dalam gentong.
Pihak puskesmas mendapatkan data 60% rumah terdapat jentik nyamuk. Program penyuluhan akan di
lakukan oleh petugas puskesmas dalam rangka pemberantasan sarang nyamuk.




3

Epidemiologi
a. Agent :
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue yang
termasuk dalam kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang dikenal sebagai
genus flavivirus, family falvivirus, family flaviviridae dan mempunyai 4 jenis serotype yaitu: DEN-
1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Yang di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat di hampir seluruh pelosok Indonesia, kecuali di
tempat-tempat ketinggian lebih dari 1000 meter diatas permukaan air laut. Infeksi salah satu
serotype akan menimbulkan antibody terhadap serotype bersangkutan, sedangkan antibody
yang terbentuk terhadap serotype lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberi
perlindungan yang memadai terhadap serotype yang lain. Serotype 3 merupakan serotype yang
dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukan manifestasi klinis yang berat.
1,2


b. Pejamu (host):
virus dengue ditularkan kepada manusia lewat gigitan nyamuk Aedes aegypty. Nyamuk Aedes
tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat mengigit manusia yang sedang mengalami
viremia. Kemudian virus yang ada dalam kelenjar liur berkembang biak dalam waktu 8-10 hari
(extrinsic ebcubation period) sebelum dapat di tularkan kepada manusia pada saat gigitan
berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina dapat ditularkan kepada telurnya (transovanan
transmission) , namun perananya dalam penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk
dan berkembang biak dalam nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama
hidup (infektif). Didalam tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 46 hari (intrinsic
incubation period) sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk
hanya dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2
hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul.
1,2

c. Lingkungan (environment).
2

Lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan vektor, sehingga berpengaruh pula
terhadap penularan penyakit DBD, antara lain sebagai berikut.



4

1) Lingkungan fisik, terdiri dari genangan air, khususnya genangan air yang tidak kontak
langsung dengan tanah, tempat penampungan air, air di pelepah atau batang pisang, air di
kaleng bekas atau ban bekas dan tanaman hias.

a. Letak geografis:
Penyakit akibat infeksi virus dengue ditemukan tersebar luas di berbagai negara
terutama di negara tropik dan subtropik seperti Asia Tenggara, Pasifik Barat dan
Caribbean dengan tingkat kejadian sekitar 50-100 juta kasus setiap tahunnya. Infeksi
virus dengue di Indonesia telah ada sejak abad ke-18 seperti yang dilaporkan oleh
David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda. Pada saat itu virus dengue
menimbulkan penyakit yang disebut penyakit demam lima hari kadang-kadang disebut
demam sendi. Disebut demikian karena demam yang terjadi menghilang dalam lima
hari, disertai nyeri otot, nyeri pada sendi dan nyeri kepala. Sehingga sampai saat ini
penyakit tersebut masih merupakan problem kesehatan masyarakat dan dapat muncul
secara endemik maupun epidemik yang menyebar dari suatu daerah ke daerah lain
atau dari suatu negara ke negara lain
b. Musim:
Secara nasional penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia setiap tahun terjadi
pada buan September s/d Februari dengan puncak pada bulan Desember atau Januari
yang bertepatan dengan waktu musim hujan. Akan tetapi Untuk kota besar, seperti
Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya musim penularan terjadi pada bulan Maret
s/d Agustus dengan puncak terjadi pada bulan Juni atau Juli.
2) Lingkungan biologi: terdiri dari tanaman yang dapat menampung air pada pelepah,
daun maupun batangnya.
a. Populasi: Kepadatan penduduk yang tinggi akan mempermudah terjadinya infeksi virus
dengue, karena daerah yang berpenduduk padat akan meningkatkan jumlah insiden kasus
DBD tersebut. Dengan semakin banyaknya manusia maka akan semakin besar peluang
nyamuk mengigit, sehingga penyebaran kasusu DBD dapat menyebar dengan cepat dalam
suatu wilayah.
b. Nutrisi: Teori nutrisi mempengaruhi derajat berat ringan penyakit dan ada hubungannya
dengan teori imunologi, bahwa pada gizi yang baik mempengaruhi peningkatan antibodi
5

dan karena ada reaksi antigen dan antibodi yang cukup baik, maka terjadi infeksi virus
dengue yang berat.
3) Lingkungan sosial-ekonomi, berupa perilaku masyarakat yang kurang memperhatikan
kebersihan lingkungannya, terutama menguras bak atau tempat penampungan air dan
sampah-sampah yang dapat menampung air.

d. Vektor
Nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopticus merupakan vektor penularan virus
dengue dari penderita kepada orang lain melalui gigitannya. Nyamuk Aedes aegypti merupakan
vektor penting di daerah perkotaan (daerah urban) sedangkan daerah perdesaan (daerah rural)
kedua spesies nyamuk tersebut berperan dalam penularan.
Nyamuk Aedes aegypti dewasa warna dasarnya hitam dengan belang-belang putih pada
badan terutama pada kaki. Pada thorax ada tanda khas berupa bulu-bulu putih membentuk
gambaran lire.Nyamuk tersebut mendapat virus dari orang yang dalam darahnya terdapat virus
tersebut. Orang itu (carrier) tidak harus orang yang sakit demam berdarah sebab orang yang
mempunyai kekebalan tidak akan tampak sakit atau bahkan sama sekali tidak sakit walaupun
dalam darahnya terdapat virus dengue. Dengan demikian orang tersebut dapat menularkan
penyakit kepada orang lain. Virus dengue akan berada dalam darah manusia selama 1 minggu.
Biasanya orang dewasa mempunyai kekebalan dengan virus ini. Nyamuk aedes aegypti bersifat
endo dan eksofagik. Aktif menghisap darah pada siang hari dengan dua puncak waktu yaitu pada
jam 8.00-12.00 dan pada jam 15.00-17.00. Beristirahat pada benda-benda tergantung dan
perabot-perabot yang terlindungi dari cahaya matahari atau pada tumbuhan-tumbuhan di luar
rumah. Di alam bebas nyamuk dewasa hidup kurang lebih 10 hari. Jarak terbang nyamuk kurang
lebih 30 meter dalam radius lebih kurang 100 meter.
Tempat bertelur Ae.aegypti adalah dinding vertical bagian dalam dari tempat-tempat yang
berisi air sedikit di bagian atas permukaan air.
3
Tempat berkemnbang biak Ae.aegypti adalah
TPAyang mengandung air jernih atau air yang sedikit terkontaminasi seperti bak mandi, drum,
tangki air, tempayan, vas bunga, perangkat semut dan tempat minuman burung. Ae.aegypti
menyukai tempat berkembang biak yang tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak dapat
hidup pada tempat berkembang biak yang berhubungan langsung dengan tanah.


6

Tempat berkembangbiak Ae.aegypti dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. TPA untuk keperluan sehari-hari, seperti drum, tangki reservoir, tempayan, bak mandi/ wc,
ember, dll
2. TPA bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum burung, vas bunga, perangkap
semut dan barang-barang bekas(ban, kaleng, botol, plastic, dll)
3. TPA alamiah seperti, lubang pohon, lubang batu, pelepah daun, tempurung kelapa, pelepah
pisang, potongan bamboo.
Dari berbagai tempat berkembang biak, bak mandi merupakan TPA yang paling banyak
mengandung larva karena volumenya lebih besar dari tempayan dan drum. Pada penelitian
didaerah Rawamangun dan Kayumanis, Jakarta, melaporkan, larva Ae.aegypti paling banyak
ditemukan pada bak mandi dibandingkan TPA lainnya. Jumlah larva yang ditemukan pada bak
mandi, ember plastic, vas bunga keramik dan vas bunga kaca berturut-turut 96,32,17,2 ekor. Di
daerah kapuk larva Ae. Aegypti paling banyak ditemukan pada bak mandi (75%) daripada TPA
lainnya. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka pemberantasan Ae.aegypti harus ditekankan
pada TPA didalam rumah terutama bak mandi.
4
Penyebaran Ae.aegypti tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis. Nyamuk itu dapat hidup
dan berkembang biak sampai ketinggian 11000 m dari permukaan air laut. Diatas ketinggian
1.000m ae.aegypti tidak dapat berkembangbiak karena pada ketinggian tersebut suhu udara
terlalu rendah sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk tersebut. Di Indonesia
Ae.aegypti tersebar diseluruh wilayah terutama di kota-kota pelabuhan dan dipusat-pusat
penduduk yang padat. Kepadatan Ae.aegypti tertinggi di daerah dataran rendah.
5

Beberapa cara untuk mengukur kepadatan populasi Ae.aegypti:
5
a. Dengan menghitung indeks nyamuk :
Biting/ landing rate: Jumlah Ae. Aegypti betina tertangkap umpan org/ jumlah
penangkapan X jumlah jam penangkapan
Resting per rumah: Jumlah Ae.aegypti betina tertangkappada penangkapan nyamuk
hinggap/ jumlah rumah yang dilakukan penangkapan
b. Dengan menghitung kepadatan larva:
Angka bebas jentik : jumlah rumah atau bangunan yang tidak ditemukan jentik X
100% / jumlah rumah atau bangunan yang diperiksa
7

House Index: Jumlah rumah atau bangunan yang ditemukan jentik x 100% / jumlah
rumah atau bangunan yang diperiksa
Container index : jumlah container berisi jentik x 100% / jumlah container yang
diperiksa
Breteau Index : jumlah container berisi jentik dalam 100 rumah atau bangunan
c. Dengan perhitungan perangkap telur
Ovitrap: jumlah padel berisi telur x 100% / jumlah padel yang diperiksa
d. Kepadatan populasi nyamuk : jumlah telur/ jumlah ovitrap yang digunakan.
Beberapa syarat untuk menjadi vector ialah :
6

Terdapat sumber infeksi yaitu penderita DBD. Virus dengue terdapat dalam darah
penderita 1-2hari sebelum demam dan berada dalam darah (viremia) penderita
selama 4-7hari
Umur nyamuk lebih 10hari. Waktu yang diperlukan virus untuk siap diinfeksikan
adalah lebih dari 10 hari karena perjalanan virus dari lambung sampai ke kelenjar
ludah nyamuk memerlukan waktu 10hari.
Jumlah nyamuk harus banyak agar bisa bertahan hidup karena musuhnya banyak
Nyamuk harus tahan terhadap virus karena virus juga merupakan parasit bagi
nyamuk.
Penetapan Status Kejadian
Didalam pembatasan penyakit sering dipakai istilah wabah dan kejadian luar biasa (KLB) yang artinya
sebagai berikut:
7

1) Wabah
Wabah adalah suatu peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang telah meluas secara cepat baik
jumlah kasus maupun luas daerah terjangkit.
2) Kejadian Luar Biasa
Timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam
kurun waktu tertentu.

8

Kriteria KLB (kriteria kerja) antara lain:
(1) Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal di suatu daerah.
(2) Adanya peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang dua kali atau lebih dibandingkan dengan
jumlah kesakitan/kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam, hari, minggu)
tergantung dari jenis penyakitnya.
(3) Adanya peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 kurun waktu (jam, hari, minggu)
berturut-turut menurut jenis penyakitnya.

Bila dicurigai adanya wabah perlu dilakukan penelitian di lapangan, maksudnya ialah:
- Untuk mengetahui adanya penderita-penderita lain atau penderita-penderita tersangka DHF
yang perlu dikonfirmasi laboratorium.
- Menentukan luas daerah yang terkena dan luas daerah yang perlu ditanggulangi.
- Penilaian sumber-sumber (inventory) mengenai keadaan umum ketempat, mengenai fasilitas
dan faktor-faktor yang berperanan penting pada timbulnya wabah.
- Setiap kakus demam berdarah/tersangka demam berdarah perlu dilakukan kunjungan rumah
oleh petugas Puskesmas untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik di rumah kakus tersebut dan
20 rumah di sekelilingnya. Bila terdapat jentik, masyarakat diminta melakukan pemberantasan
sarang nyamuk (Pada umumnya Penyemprotan/fogging, dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan
Dati II. Prioritas fogging adalah pada areal dengan kakus-kakus demam berdarah yang
mengelompok, dan yang meninggal).
7


Untuk menentukan KLB, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai klasifikasi daerah (kelurahan)
endemis DBD :
6
- Desa rawan I (endemis) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus DBD
- Desa rawan II (sporadic) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD
- Desa rawan III (potensial) yaitu dalam 3 tahun tidak ada kasus, tetapi berpenduduk padat,
transportasi rawan, dan ditemukan jentik >5%
- Desa bebas yaitu desa yang tidak pernah ada kasus


9

Bila terjadi KLB/wabah, dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus dengan interval I minggu), PSN
DBD. Iarvasidasi, penyuluhan di seluruh wilayah terjangkit, dan kegiatan penaggulangan lainnya yang
diperlukan, seperti: pembentukan posko pengobatan dan posko penanggulangan, penyelidikan KLB.
pengumpulan dan pemeriksaan spesimen serta peningkatan kegiatan surveilans kasus dan vektor, dan
lain-lain.
Program Pemberantasan DBD di Puskesmas
Lima tugas utama seorang manajer atau kepala puskesmas, untuk menjalankan prinsip manajemen
puskesmas berikut ini:
1. Membuat perencanaan Puskesmas :menganalisa kondisi, situasi dan kinerja puskesmas,
apakah sudah baik, masih kurang ataukah banyak yang belum beres, kemudian
menentukan perencanaan kegiatannya.
2. Mengatur pelayanan Puskesmas : menata apa saja jenis kegiatan program pelayanan,
siapa saja yang akan menjalankannya bersama seluruh staf puskesmas
3. Menggerakkan pegawai Puskesmas : mendorong segenap komponen pelayanan
puskesmas untuk melaksanakan tugas pokok sesuai fungsinya dalam pelayanan kepada
masyarakat
4. Mengevaluasi kinerja Puskesmas :menelaah hasil pencapaian program puskesmas
secara terpadu dengan instansi terkait, sebagai pedoman untuk menentukan
perencanaan pelayanan puskesmas.
5. Menggalang kerjasasam pelayanan Puskesmas: menjalin kerjasama internal puskesmas
dan eksternal puskesmas, antara staf, pegawai, petugas, aparat, pejabat, kader
kesehatan, tokoh masyarakat, dan yang lainnya, khususnya diwilayah kerja puskesmas
A. Masukan (management tools)
1. Man
Dokter
Menjadi seorang dokter adalah sebuah aktivitas mulia bila dilandasi dengan niat yang baik.
Selain mempelajari berbagai macam teori mengenai penyakit dan obat-obatan yang sangat
detail, seorang dokter juga perlu belajar cara berinteraksi dengan orang lain, agar dapat
memberikan pelayanan holistik pada pasiennya.
10

WHO menetapkan 5 standar dokter ideal yang dirangkum dalam 5 stars doctor, antara
lain:
1. Health care provider (penyedia layanan kesehatan) yaitu kemampuan dokter sebagai
tenaga medis, memberikan tindakan terhadap keluhan-keluhan pasiennya. Tindakan
kesehatan yang dilakukan dapat berupa kuratif, preventif, promotif dan rehabilitatif.
2. Decision maker (pembuat keputusan), salah satu peran seorang dokter yaitu
memberikan keputusan terhadap suatu permasalahan, yang sudah ditimbang dari sudut
pandang medis dari ilmu yang dikuasainya.
3. Community leader (pemimpin komunitas), didalam lingkungan bermasyarakat, seorang
dokter harus dapat mengayomi masyarakat untuk dapat hidup sehat, dapat menjadi contoh
bagi komunitas disekelilingnya
4. Manager (manajer), adakalanya seorang dokter akan menjadi pemimpin dari sebuah
lembaga kesehatan (puskesmas, DinKes atau Rumah Sakit), untuk itu, kemampuan mengelola
sistem, staf, dan berkolaborasi dengan struktur lembaga merupakan sesuatu yang perlu
dimiliki oleh setiap dokter.
5. Communicator (penyampai), memutuskan untuk menjadi seorang dokter, berarti
memutuskan untuk menjadi pekerja sosial, yang berhubungan dengan manusia. Di
masyarakat, dokter merupakan sosok panutan, lantaran karena ilmunya yang luas dan
kepeduliannya terhadap hidup sesama. Untuk itu, keterampilan berkomunikasi,
menyampaikan sesuatu dengan baik merupakan softskill yang harus dimiliki setiap dokter
Dalam menghadirkan pelayanan kesehatan, seorang dokter akan berkolaborasi dengan
tenaga kesehatan lainnya, antara lain perawat, ahli gizi, ahli farmasi, bidan, sanitarian dan
petugas administratif. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang area kerja masing-masing
disiplin ilmu, agar tidak saling tumpang tindih dan menimbulkan konflik lintas profesi.

Kooedinator P2M dan PKM
Petugas Laboratorium
Petugas Administrasi
Kader aktif
Jumantik

11

2. Money:
Dana untuk pelaksanaan program dapat diperoleh di:
1. APBD : sebagai contoh, APBD menyediakan anggaran
untuk pengawasan dan monitoring, sarana diagnosis, bahan cetakan,
kegiatan pemecahan masalah di kotamadya.
2. Swadaya Masyarakat : contoh, menyediakan anggaran untuk
operasional, pemeliharaan, pelaksanaan, pencegahan dan
penanggulangan DBD
3. Matrial:
Medis
Meliputi hal-hal dibawah ini :
a. Poliklinik set : stetoskop, timbangaan BB, thermometer, tensimeter, senter
b. Alat pemeriksaan hematokrit
c. Alat penyuluhan kesehatan masyarakat
d. Formulir laporan Standart Operasional dan KDRS (kasus DBD di Rumah Sakit)
e. Obat-obatan simptomatis untuk DBD (analgetik dan antipiretik)
f. Buku petunjuk program DBD
g. Bagan penatalaksanaan kasuk DBD
h. Larvasida

Non-Medis
Meliputi hal-hal dibawah ini :
a. Gedung puskesmas
b. Ruang tunggu
c. Tuang administrasi
d. Ruang periksa
e. Ruang tindakan
f. Laboratorium
g. Apotik
h. Perlengkapan administrasi
12

4. Method:
Terdapat metode untuk:
1. Penemuan penderita tersangka DBD
Kasus dilihat dari jumlah suspek DBD yang datang ke puskesmas
2. Rujukan penderita DBD
Semua kasus tersangka dilaporkan 1 x 24 jam
3. Diagnosis pasti penderita DBD: ditegakan bila mememukan criteria klinis
pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi serta didapatkan
peningkatan (positif) pada pemeriksaan Elisa (IgM/IgG)
4. Surveilans kasus DBD: dilakukan berdasarkan lapaoran kasus setiap klinik,
dokter praktek umum, puskesmas serta rumah sakit
5. Surveilans vector DBD: : pemantauan jentik berkala (PJB) dilakukan oleh petugas
kesehatan dan jumantik di tempat-tempat penampungan air (TPA) yang menjadi
perindukan nyamuk (bak mandi, drum, vas bunga, kaleng bekas) di rumah-
rumah yang di pilih secara acak dan dilaksanakan secara acak dan dilaksanakan
secara teratur setiap 3 bulan
6. Pemeberatasan vector
a. Abatisasi selektif
Pemberian bubuk abate yang dilakukan oleh petugas kesehatan , jumantik
dan kader kelurahan pada tempat penampungan air yang tidak dapat
dikuras. Caranya dengan menaburi tempat tersebut dengan bubuk abate
sesuai dengan dosis satu sendok peres ( 10 gram) untuk 100 liter air.
b. Kegiatan 3M
Dengan Bulan Gerakan 3 M yang perwujudannya melalui jumat bersih
selama 30 menit setiap satu minggu sekali. Dilakukan dengan pengawasan
kader PKK: menguras, menutup dan mengubur tempat pertumbuhan jentik.
c. Fogging fokus
Pengasapan menggunakan insektisida yang dilakukan pada titik fokus dan
sekitarnya dengan jarak radius 100 meter atau kurang lebih 20 rumah
sekitarnya. Dilakukan 2 siklus dengan dengan jarak seminggu.
Fogging fokus ini dilakukan jika penyelidikan epidemiologi (PE) positif, yaitu:
13

Dalam radius 100 meter dari rumah penderita DBD, ada 2 kasus DBD
lain
Dalam radius 100 meter dari rumah penderita DBD, ada 3 kasus demam.
Ada kasus DBD meninggal

d. Fogging massal
Dilakukan 2 siklus di seluruh wilayah daerah endemis merah pada awal dan
akhir musim penghujan.

7. Penyuluhan kesehatan
Perorangan: penyuluhan langsung dengan cara tanya jawab/ konsultasi
terhadap individu yang berobat di puskesmas.
Kelompok: dilakukan dengan mengadakan ceramah di tempat umum dan di
sekolah melalui diskusi, dan menggunakan poster.
8. Pelatihan kader PSN : kader PSN dilatih di puskesmas kecamatan
9. Pencatatan dan pelaporan kasus

B. Proses (management function)
1. Perencanaan
Penemuan penderita tersangka DBD : dilihat dari jumlah pasien suspect DBD yang
datang ke puskesmas
Tersangka DBD menurut WHO:
Criteria klinis:
Demam mendadak tinggi tanpa sebab yang jelas selama 2-7 hari
Manifestasi perdarahan sekurang-kurangnya uji tourniquet positif
Pembesaran hati
Syok
Kriteria labolatorium:
Trombositopenia (jumlah tombosit kurang dari atau sama
dengan 100.000/uL
Hemokonsentrasi, dapat di lihat peningkatan hematokrit.
14


Rujukan penderita DBD : Semua kasus tersangka dilaporkan 1 x 24 jam
Diagnosis pasti penderita DBD: ditegakan bila mememukan criteria klinis pertama
ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi serta didapatkan peningkatan (positif)
pada pemeriksaan Elisa (IgM/IgG)
Surveilans kasus DBD: Dilakukan setiap hari kerja, pada pukul 08.00- 14.00 berdasarkan
laporan kasus setiap klinik, dokter parktik umu, Puskesmas serta Rumah sakit
Surveilans vector pemantauan jentik berkala: Dilakukan 4 kali pertahun oleh petugas
kesehatan dan jumantik di tempat- tempat penampungan air yang menjadi tempat
perindukan nyamuk
Pemberantasan vector
Abatisasi selektif : akan dilakukan 4 kali pertahun oleh petugas
kesehatan , jumantik dan kader kelurahan pada tempat penampungan
air yang tidak dapat dikuras ,pada hari kerja
Kegiatan 3M : 4 kali perbulan , oleh masyarakat setiap hari
Jumat pukul 09.00-09.30 WIB
Fogging fokus : dilakukan jika penyelidikan epidemiologi ( PE)
positif yaitu,:
Dalam radius 100 meter dari rumah penderita DBD, ada 2 kasus
DBD lain
Dalam radius 100 m darirumah penderita DBD, ada 3 kasus
demam
Ada 3 kasus yang meninggal
Fogging massal : dilakukan 2 siklus di seluruh wilayah pada daerah
endemis merah pada awal dan akhir musim penghujan
Penyuluhan Kesehatan : Perorangan dan Kelompok
Penyuluhan kesehatan
Perorangan : setiap hari kerja ,pada pukul 08.00- 14.00 WIB.
Kelompok : 4 kali pertahun dilakukan dengan mengadakan cerama
di temoat umum dan sekolah.

Pelatihan kader PSN : 1 kali pertahun
15

Pencatatatan dan pelaporan kasus :pencatatan yang dilakuka pada jam kerja, seiap
bulanan, tribulanan , semester, dan tahunan dan pelaporan akan dilakukan setiap
tanggal 5 di awal bulan.
2. Organisasi
Terdapat struktur tertulis dan pembagian tugas yang teratur dalam rangka melaksanakan
program pemberantasan DBD
Terdapat strukur organisasi tertulis dan pemberian tugas yang jelas dalam melaksanakan
tugasnya. rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi)
yang dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan
organisasi. Atas dasar pengertian tersebut, fungsi pengorganisasian juga meliputi proses
mengintegrasikan semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh sebuah organisasi atau
mengatur sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi. Susunan organisasi
Puskesmas terdiri dari:
a. Unsur pimpinan : Kepala Puskesmas.
b. Unsur pembantu pimpinan : Urusan Tata Usaha
c. Unsur Pelaksana.
Unit yang terdiri dari tenaga/pegawai dalam jabatan fungsional. Jumlah unit tergantung kepada
kegiatan, tenaga dan fasilitas daerah masing-masing. Unit-unit terdiri dari:Unit I, Unit II, Unit III,
Unit IV, Unit V, Unit VI, Unit VII.
Kepala Puskesmas, mempunyai tugas memimpin, mengawasi dan mengkoordinasikegiatan
Puskesmas yang dapat dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional. Kepala Urusan
Tata Usaha, mempunyai tugas di bidang kepegawaian, keuangan,perlengkapan dan surat menyurat serta
pencatatan dan pelaporan. Unit I.mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu
dan anak, keluarga berencanadan perbaikan gizi. Unit II,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan
pencegahan dan pemberantasan penyakit,khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan dan
laboratorium sederhana. Unit III,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan
mulut, kesehatan tenaga kerjadan manula. Unit IV,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan
perawatan kesehatan masyarakat, kesehatansekolah dan olah raga, kesehatan jiwa, kesehatan
mata dan kesehatan khusus lainnya. Unit V,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan
pembinaan dan pengembangan upaya kesehatanmasyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat.
16

Unit VI,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat nginap.
Unit VII,mempunyai tugas melaksanakan kefarmasian.
3. Pelaksanaan
Proses bimbingan kepada staf agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas pokoknya sesuai
dengan keterampilan yang dimiliki dan dukungan sumber daya yang tersedia
Penemuan penderita tersangka : dilakukan setiap hari kerja ( dari hari senin
sampai jumat, dari pukul 08.00 sampai 14.00
Rujukan : dilakukan setiap penemuan kasus penderita yang langsung
merujuk ke rumash sakit setiap hari dan waktu kerja.
Diagnosis penderita DBD : didapatkan dari laporan rumah sakit rujukan
Surveilans kasus DBD : dilakukan setiap hari kerja
Surveilans vektor pengamatan jentik berkala: dilakukan 4kali setahun oleh petugas
kesehatan, jumantik, dan kader kelurahan pada tempat penampungan air pada hari
puku 08.00- 14.00
Pemberantasan vektor
i. Abatisasi selektif :dilakukan 4x setahun oleh petugas
kesehatan , jumantik dan kader kelurahan pada tempat penampungan air yang
tidak dapat dikuran pada hari kerja pukul 08.00 -14.00 WIB
ii. Kegiatan 3 M : 4xperbulan oleh masyarakat setiap
hari kerja 08.00- 14.00
iii. Fogging fokus
iv. Fogging massal
Penyuluhan kesehatan
i. Perorangan : setiap hari kerja
ii. Kelompok : 4x/ tahun dilakukan dengan
mengadakan ceramah di tempat umum dan di sekolah.
Pelatihan kader PSN :1x/tahun
Pencatatan dan pelaporan kasus : pencatatan dilakukan oleh petugas
Puskesmas 1kali 24 jam setelah menerima laporan dari Rumah sakit rujukan dan
dilaporkan pada tanggal 5 setiap bulannya

17

4. Pengawasan dan pengendalian
Proses untuk mengamati secara terus-menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi penyimpangan.
Fungsi manajemen ini memerlukan perumusan standar kinerja staf (standar performance
sesuai dengan prosedur tetap). Standar digunakan manager untuk menilai hasil kegiatan staf
atau unit (kelompok) kerja. Jika ditemukan penyimpangan, fungsi pengawasan managerial
harus mampu melakukan koreksi terhadap penyimpangan yang telah terjadi. Pengawasan
dan pengendalian dilaksanakan Melalui pencatatan dan pelaporan yang dilakukan:Bulanan,
Triwulanan, Tahunan.
C. Promotif
Promosi Kesehatan
Penyuluhan dan penggerakan masyarakat untuk PNS (pemberantasan sarang nyamuk), penyuluhan
tentang informasi tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui jalur informasi yang
ada :
a. Penyuluhan kelompok : PKK, organisasi social masyarakat lain, kelompok agama, guru, murid di
sekolah, pengelola tempat umum/instansi.
b. Penyuluha perorangan : kepada ibu-ibu pengunjung posyandu, kepada penderita/keluarganya di
puskesmas
c. Kunjungan rumah oleh kader/petugas puskesmas.
d. Penyuluhan melalu media massa : TV, radio dan lain-lain (oleh Dinas Kesehatan Tk. II, I, Pusat)
Menggerakan masyarakat untuk melaksanankan PSN penting terutama sebelum musim penularan
(musim hujan) yang pelaksanaannya dikoordinasi oleh kepala wilayah setempat. Di tingkat
puskesmas,ausaha pemberantasan sarang nyamuk seyogyanya diintegrasikan dalam program
sanitasi






18

D. Preventif
8

Pemberantasan vektor
a. Pengasapan (fogging/ ULV)
8
pelaksana : petugas kesehatan dinas kabupaten/kota. Puskesmas dan tenaga lain yang
telah dilatih
lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit
sasaran : rumah dan tempat-tempat umum
insektisida : sesuai dengan dosis
alat : mesin fog atau ULV
cara pengasapan/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan inerval 1 minggu
b. Pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD)
pelaksana : masyarakat di lingkungan masing-masing
lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit dan wilayah sekitarnya dan merupakan satu
kesatuan epidemiologis.
Sasaran : semua tempat potensial bagi perindukan nyamuk; tempat penampungan air, barang
bekas, lubang pohon/tiang pagar, tempat minum burung dan sebagainya, di rumah/bangunan
dan tempat umum.
Cara : melakukan kegiatan 3M plus
untuk mencegah dan membatasi penyebaran penyakit Demam Berdarah, setiap keluarga perlu
melakukan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) dengan cara 3M yaitu:
1. Menguras dengan menyikat dinding tempat penampungan air (tempayan,drum, bak mandi, dan
lain-lain) atau menaburkan bubuk abate/altosid bila tempat-tempat tersebut tidak bisa dikuras
2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak dapatmasuk dan
berkembang biak di dalamnya
3. Mengubur/membuang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan misalnya ban
bekas, kaleng bekas, tempat minuman mineral dan lain-lain
c. Larvasidasi
pelaksana : tenaga dari masyarakat dengan bimbingan petugas puskesmas/dinas
kesehatan kabupaten/kota
lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit
sasaran : tempat penampungan air(TPA) di rumah dan tempat-tempat umum
19

Larvasida : sesuai dengan dosis
Cara : larvasidasi dilaksanakan di seluruh wilayah KLB
Larvasida yang biasa digunakan antara lain adalah bubuk abate (temephos). Formulasi temephos
yangdigunakan adalah granules (sand granules). Dosis yang digunakan 1 ppm atau 10gram ( 1
sendok makan rata) untuk setiap 100 liter air. Larvasida dengan temephos ini mempunyai efek
residu 3 bulan. Selain itu dapat pula digunakan golongan insect growth regulator.

E. Kuratif
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma sebagai
akibat peningkatan kapiler dan sebagai akibat perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan
pakien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi perlu
perawatan intensif.
6,8
a. Tirah baring selama masih demam
b. Obat antipiretik atau kompres panas hangat.
c. Untuk menurunkan suhu dianjurkan pemberian parasetamol. Asetosal/salisilat tidak dianjurkan
oleh karena dapat menyebabkan gastritis, perdarahan atau asidosis.
d. Diajurkan pemberian cairan elektrolit (mencegah dehidrasi sebagai akibat demam, anoreksia
dan muntah) per oral, jus buah, sirup, susu. Disamping air putih, dianjurkan diberikan selama 2
hari.
e. Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok. Periode kritis adalah pada saat suhu turun
pada umumnya hari ke-3 -5 fase demam.
f. Pemeriksaan kadar hematokrit berkala untuk pengawasan hasil pemberian cairan yaitu
menggambarkan derajat kebocoran plasma dan pedoman kebutuhan cairan vena.
Jenis cairan kristaloid : larutan ringer laktat ( RL), larutan ringer asetat (RA), larutan garam faali (GF),
detroksa 5% dalam larutan ringer laktat (D5/RL), detroksa 5% dalam larutan ringer asetat (D5/RA).
(catatan :auntukresusitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA tidak boleh larutan yang
mengandung dekstran) Cairan koloid : dekstran 40, plasma, albumin




20

F. Protektif
Penyakit DBD sampai saat ini belum ada obat dan vaksinnya, untuk itu yang bisa dilakukan adalah
melakukan tindakan protektif dengan mencegah dan membatasi penyebaran penyakit DBD melalui
upaya memutuskan rantai penularan. Tindakan protektif dipengaruhi oleh prilaku dan kebiasaan
masyarakat.
8
1. Prilaku Masyarakat
Adalah reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Atau dapat pula diartikan suatu
tindakan yang dilatarbelajangi oleh pengetahuan, sikap dan praktek.
a. Pengetahuan
Merupakan hasil dari tahu, kemudian meningkat menjadi memahami, mengaplikasi, menganalisis,
dan mensistesis serta mengevaluasi dari obyek yang diterima oleh panca indera. Indicator untuk
mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi:
- pengetahuan tentang sakit (penyebab, gejala, cara pengobatan, cara penularan, cara pencegahan
DBD)
- pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan
- pengetahuan tentang kesehatan lingkungan (cara pembuangan sampah yang sehat)
Salah satu pengetahuan adalah tentang penanaman tanaman antinyamuk seperti cayuputih, sereh,jahe,
lengkuas, kemangi, kencur, jeruk purut, lavender. Pengetahuan mengenai pemeliharaan ikan cupang,
cere kepala timah dapat pula dilakukan untuk pemberantasan biologic.
b. Sikap
Merupakan penilaian dari reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu
stimulus atau obyek. Indicator untuk sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesadaran
seperti diatas:
- sikap tentang sakit (penyebab, gejala, cara pengobatan, cara penularan, cara pencegahan DBD)
- sikap tentang cara pemeliharaan kesehatan
- sikap tentang kesehatan lingkungan (cara pembuangan sampah yang sehat)
c. Praktik./Tindakan
Merupakan proses lanjutan yang diharapkan akan melaksanakan atau mempraktikan apa yang
diketahui atau disikapi. Indikato praktik kesehatan ini mencakup:
- praktik/tindakan sehubungan dengan penyakit mencakup pencegahan dan pengobatan penyakit
DBD
21

- praktik/tindakan sehubungan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan mencakup
mengkonsumsi makanan dan gizi seimbang
- praktik/ tindakan sehubungan kesehatan lingkungan mencakup pembuangan sampah pada
tempatnya.
2. Kebiasaan Masyarakat
Berhubungan dengan penyakit DBD adalah kebiasaan tidur siang dan menggantung baju. Hal ini
berhubungan dengan kebiasaan menggigit vector penyakit DBD yang aktif pada pagi dan siang hari serta
kesenangan vector untuk beristirahat dan bersarang didalam rumah pada baju/barang yang tergantung.
Untuk mengubah kebiasaan masyarakat mungkin kesulitan tetapi yang bisa dilakukan adalah memberi
pemahaman tindakan protektif seperti memakai obat nyamuk bakar/elektrik/spray/repellen atau
memakai kelambu saat tidur siang serta melipat baju yang bergantungan.

G. Pemberdayaan Masyarakat (jumantik)
DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sampai saat ini masih menjadi
permaslahan yang sangat sulit untuk diberantas. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD
merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas program dan
masyarakat termasuk sektor swasta. Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya
pemberantasan penyakit DBD antara lain membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan
penyakit DBD, mengembangkan teknologi pemberantasan, mengembangkan pedoman pemberantasan,
memberikan pelatihan dan bantuan teknis, melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta
penggerakan masyarakat.
Salah satu bentuk langsung peran serta masyarakat adalah kegiatan Pemantauan Jentik Berkala
(PJB) yang dilakukan oleh masyarakat melalui Juru Pemantau jentik (Jumantik). Kegiatan Jumantik
sangat perlu dilakukan untuk mendorong masyarakat agar dapat secara mandiri dan sadar untuk selalu
peduli dan membersihkan sarang nyamuk dan membasmi jentik nyamuk Aedes Aegypti. Tujuan Umum
rekrutmen Jumantik adalah menurunkan kepadatan (populasi) nyamuk penular demam berdarah
dengue (Aedes Aegypti) dan jentiknya dengan meningkatkan peran serta masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD), melalui penyuluhan yang
dilakukan secara terus menerus. Tugas pokok seorang Jumantik adalah melakukan pemantauan jentik,
penyuluhan kesehatan, menggerakkan pemberantasan sarang nyamuk secara serentak dan periodik
serta melaporkan hasil kegiatan tersebut kepada Supervisor dan Petugas Puskesmas sehingga akan
dapat dihasilkan sistem pemantauan jentik berkala yang berjalan dengan baik. Untuk itu peran Jumantik
22

akan dapat maksimal apabila masyarakat dapat membantu kelangsungan kegiatan dengan kesadaran
untuk memberikan kesempatan kepada Jumantik memantau jentik dan sarang nyamuk di rumahnya.
Jumantik adalah petugas yang berasal dari masyarakat setempat atau petugas yang ditunjuk oleh unit
kerja (pemerintah atau swasta) yang secara sukarela mau bertanggung jawab melakukan pemantauan
jentik secara rutim, maksimal seminggu sekali di wilayah kerja serta melaporkan hasil kegiatan secara
berkesinambungan ke kelurahan setempat. Jumantik tidak hanya terdiri dari petugas pusat kesehatan
masyarakat tetapi juga dari masyarakat sekitar dan anak-anak sekolah. Memantau jentik tidaklah terlalu
sulit jika kita sudah mengenal cirri-ciri jentik nyamuk Aedes aegypti. Jentik nyamuk ini memiliki cirri yang
khas yaitu selalu bergerak aktif di dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan
air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada
waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada disekitar dinding
tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong.
Bentuk kepompong adalah seperti koma, gerakannya lamban dan sering berada di permukaan air.
Setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk baru.
Pemeriksaan jentik dilakukan dengan memeriksa tempat penampungan air di sekitar rumah.
Jika tidak ditemukan jentik di permukaan, tunggu selama kurang lebih 1 menit karena untuk bernafas
jentik akan muncul ke permukaan. ocokkan ciri jentik dengan ciri-ciri jentik aedes aegypti. Jika sudah
dipastikan jentik tersebut adalah jentik aedes aegypti, maka dilakukan abatisasi dan pencatatan.
Abatisasi yaitu memberikan abate pada tempat penampungan air di mana jentik ditemukan untuk
membunuh jentik yang ada. Sedangkan pencatatan yang dilakukan meliputi tanggal pemeriksaan,
kelurahan tempat dilakukan pemantauan jentik, nama dan alamat keluarga, jumlah semua
penampungan air yang diperiksa, serta jumlah container yang di temukan jentik. Data tersebut akan
digunakan untuk menghitung angka bebas jentik. Hasil pencatatan ini dilaporkan ke Puskesmas
setempat dan kemudian diserahkan ke Dinas Kesehatan.
Survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut :
(1) Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
(2) Untuk memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar, seperti : bak mandi, tempayan,
drum, dan bak penampungan air lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan) pertama tidak
menemukan jentik, tunggu kira-kira 1 (satu) menit untuk memastikan keberadaan jentik.
23

(3) Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil, seperti: vas bunga/pot, tanaman
air/botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain.
(4) Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya keruh, biasanya digunakan senter.
Adapun metode kurvey jentik kecara visual dapat dilakukan kubagai berikut :
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air tanpa
mengambil jentiknya. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes aegypti biasanya
menggunakan persamaan house index kubagai berikut :

Angka Bebas Jentik (ABJ):
Merupakan salah satu indicator keberhasilan program pemberantasan vector penular DBD. Angka Bubas
Jentik kubagai tolak ukur upaya pemberantasan vector melalui gerakan PSN-3M menunjukan tingkat
partisipaki masyarakat dalam mencegah DBD. Rata-rata ABJ yang dibawah 95% menjelaskan bahwa
partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD di lingkungannya masing-masing belum optimal.
10
Penutup
Berdasarkan tujuan dari Puskesmas yaitu mendukung tercapainya pembangunan kesehatan nasional
maka Puskesmas memegang peranan penting dalam suksesnya program pemberantasan penyakit
menular (P2M) yang merupakan salah satu Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas.
Pada Program Puskesmas dalam Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue, penting bagi para
petugas puskesmas untuk melakukan pendekatan system dan menbandingkan antara cakupan dengan
target yang telah ditetapkan. Pemberantasan DBD dibandingkan dengan target variable yang dinilai:
jumlah penderita DBD, pemeriksaan jentik berkala, kegiatan penyuluhan DBD, pemberantasan vector
yaitu: kegiatan fogging, abatisasi dan gerakan 3M/ gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Untuk itu masyarakat harus mempunyai pengetahuan dan sikap yang baik tentang penyakit DBD dan
PSN DBD.
Tujuan dari program penelitian puskesmas ini untuk mengetahui pelaksanaan PSN DBD sehingga dapat
diketahui permasalahan yang ada untuk dapat meningkatkan ABJ dan untuk menurunkan angka
kesakitan DBD

24

DAFTAR PUSTAKA
1. Nasruddin. Faktor-Faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Kejadian DBD di Kabupaten
Sukoharjo. Laporan Penelitian Analitik. Yogyakarta: Program Pascasarjana, Universitas Gadjah
Mada.2000.h.69-73
2. Kadar, A. Epidemiologi dan Penyakit Menular. Magelang: Balai Pelatihan Kesehatan.2003.h.50-9
3. Departemen Kesehatan RI, Ikatan Dokter Anak Indonesia, dkk. Pedoman tatalaksana klinis
infeksi dengue di sarana pelayanan kesehatan. Jakarta : Departemen kesehatan. 2005
4. Kebijakan Dasar Puskesmas. Diunduh dari http://dinkes-
sulsel.go.id/new/images/pdf/buku/kebijakan%20dasar%20puskesmas.pdf. 1 Juli 2013.
5. Thomas S. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD). Edisi 3. Jakarta;
Departemen Kesehatan 2007.h.32-9
6. Widoyono. Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam: Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan,
Pencegahan & Pemberantasannya. Jakarta. Erlangga.2008.h.59-66
7. Hadisantoso. Modul Latihan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN
DBD). Cetakan IV. Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Jakarta.1998.41-4
8. Hadinegoro SR, Soegijanto S, Wuryadi S, Suroso T. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue di
Indonesia. Jakarta. Departemen Kesehatan. 2001.98-102
9. Karmila. Peran Keluarga dan Petugas Puskesmas terhadap Penanggulangan penyait Demam
Berdarah Dengue. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6972/1/09E01773.pdf. 1 Juli 2013
10. Sungkar S. Widodo AD, Suartanu N. Evaluasi program pemberantasan demam berdarah dengue
di Kecamatan Pademangan Jakarta Utara. Maj Kedokt Indon 2006;56:108-12.