Anda di halaman 1dari 12

1

BIJIH TEMBAGA
Tembaga atau cuprum dalam tabel periodik yang memiliki lambang
Cu dan nomor atom 29. Tembaga di alam tidak begitu melimpah dan
ditemukan dalam bentuk bebas maupun dalam bentuk senyawaan. Bijih
tembaga yang terpenting yaitu pirit atau chalcopyrite (CuFeS
2
), copper
glance atau chalcolite (Cu
2
S), cuprite (Cu
2
O), malaconite (CuO) dan
malachite (Cu
2
(OH)
2
CO
3
) sedangkan dalam unsur bebas ditemukan di
Northern Michigan Amerika Serikat.
Dalam jumlah kecil tembaga ditemukan pada beberapa jenis t anaman,
bulu-bulu burung terutama yang berbulu terang dan dalam darah binatang-
binatang laut seperti udang dan kerang.
Pengolahan Bijih Tembaga
Bijih tembaga dapat berupa karbonat, oksida dan sulfida. Untuk
memperoleh tembaga dari bijih yang berupa oksida dan karbonat lebih mudah
dibanding bijih yang berupa sulfida. Hal ini disebabkan tembaga terletak
dibagian bawah deret volta sehingga mudah diasingkan dari bijihnya.
Bijih berupa oksida dan karbonat direduksi menggunakan kokas untuk
memperoleh tembaga, sedangkan bijih tembaga sulfida, biasanya kalkopirit
(CuFeS
2
), terdiri dari beberapa tahap untuk memperoleh tembaga, yakni:
1) Pengapungan (flotasi)





Gambar kalkopirit
2

Proses pengapungan atau flotasi di awali dengan pengecilan
ukuran bijih kemudian digiling sampai terbentuk butiran halus. Bijih
yang telah dihaluskan dimasukkan ke dalam campuran air dan suatu
minyak tertentu. Kemudian udara ditiupkan ke dalam campuran unt uk
menghasilkan gelembung-gelembung udara. Bagian bijih yang
mengandung logam yang tidak berikatan dengan air akan berikatan
dengan minyak dan menempel pada gelembung-gelembung udara yang
kemudian mengapung ke permukaan. Selanjutnya gelembung-gelembung
udara yang membawa partikel-partikel logam dan mengapung ini
dipisahkan kemudian dipekatkan.
2) Pemanggangan
Bijih pekat hasil pengapungan selanjutnya dipanggang dalam
udara terbatas pada suhu dibawah titik lelehnya guna menghilangkan air
yang mungkin masih ada pada saat pemekatan dan belerang yang hilang
sebagai belerang dioksida.

Campuran yang diperoleh dari proses pemanggangan ini disebut
calcine, yang mengandung Cu
2
S, FeO dan mungkin masih mengandung
sedikit FeS. Setelah itu calcine disilika guna mengubah besi(II) oksida
menjadi suatu sanga atau slag besi(II) silikat yang kemudian dapat
dipisahkan. Reaksinya sebagai berikut :

Tembaga(I) sulfida yang diperoleh pada tahap ini disebut matte
dan kemungkinan masih mengandung sedikit besi(II) sulfida.
3) Reduksi
Cu
2
S atau matte yang yang diperoleh kemudian direduksi dengan
cara dipanaskan dengan udara terkontrol, sesuai reaksi :
2Cu
2
S(s) + 3O
2
(g) 2Cu
2
O(s) + 2SO
2
(g)
Cu
2
S(s) + 2Cu
2
O(s) 6Cu(s) + SO
2
(g)
3

Tembaga yang diperoleh pada tahap ini disebut blister atau
tembaga lepuhan sebab mengandung rongga-rongga yang berisi udara.
4) Elektrolisis
Blister atau tembaga lepuhan masih mengandung misalnya Ag,
Au, dan Pt kemudian dimurnikan dengan cara elektrolisis. Pada
elektrolisis tembaga kotor (tidak murni) dipasang sebagai anoda dan
katoda digunakan tembaga murni, dengan elektrolit larutan tembaga(II)
sulfat (CuSO
4
). Selama proses elektrolisis berlangsung tembaga di anoda
teroksidasi menjadi Cu
2+
kemudian direduksi di katoda menjadi logam
Cu.
Katoda : Cu
2
+(aq) + 2e Cu(s)
Anoda : Cu(s) Cu
2
+(aq) + 2e
Pada proses ini anoda semakin berkurang dan katoda (tembaga
murni) makin bertambah banyak, sedangkan pengotor-pengotor yang
berupa Ag, Au, dan Pt mengendap sebagai lumpur.
Sifat Fisika
1) Tembaga merupakan logam yang berwarna kuning seperti emas kuning
seperti pada gambar dan keras bila tidak murni.







2) Mudah ditempa (liat) dan bersifat mulur sehingga mudah dibentuk
menjadi pipa, lembaran tipis dan kawat.
3) Konduktor panas dan listrik yang baik, kedua setelah perak.



4

Pemakaian Tembaga
1) Sebagai bahan untuk kabel listrik dan kumparan dinamo.
2) Paduan logam. Paduan tembaga 70% dengan seng 30% disebut kuningan,
sedangkan paduan tembaga 80% dengan timah putih 20% disebut
perunggu. Perunggu yang mengandung sejumlah fosfor digunakan dalam
industri arloji dan galvanometer. Kuningan memiliki warna seperti emas
sehingga banyak digunakan sebagai perhiasan atau ornamen-ornamen.
Sedangkan perunggu banyak dijadikan sebagai perhiasan dan digunakan
pula pada seni patung.






Kuningan Perunggu
3) Mata uang dan perkakas-perkakas yang terbuat dari emas dan perak
selalu mengandung tembaga untuk menambah kekuatan dan
kekerasannya. Gambar mata uang yang terbuat dari emas:









4) Sebagai bahan penahan untuk bangunan dan beberapa bagian dari kapal.
5) Serbuk tembaga digunakan sebagai katalisator untuk mengoksidasi
metanol menjadi metanal.
5

Senyawa Tembaga
Tembaga di alam memiliki tingkat oksidasi +1 dan +2. Tembaga
dengan bilangan oksidasi +2 merupakan tembaga yang sering ditemukan
sedangkan tembaga dengan bilangan oksidasi +1 jarang ditemukan, karena
senyawaan tembaga ini hanya stabil jika dalam bentuk senyawa kompleks.
Selain dua keadaan oksidasi tersebut dikenal pula tembaga dengan bilangan
oksidasi +3 tetapi jarang digunakan, misalnya K
3
CuF
6
. Beberapa senyawaan
yang dibentuk oleh tembaga seperti yang tertera pada Tabel.
Tembaga(II) Nama Tembaga(I) Nama
CuO
Cu(OH)
2

CuCl
2

CuF
2

CuS
CuSO
4
.5H
2
O
Cu(NO
3
)
2
.
3
H
2
O
tembaga(II) oksida
tembaga(II) hidroksida
tembaga(II) klorida
tembaga(II) fluorida
tembaga(II) sulfida
tembaga(II) sulfat
pentahidrat atau vitriol biru
tembaga(II) nitrat trihidrat
Cu
2
O
CuCl
CuI
tembaga(I) oksida
tembaga(I) klorida
tembaga(I) iodida

Teknik Pengolahan Tembaga
Tembaga atau Cupper berlambang unsur Cu berasal dari bahasa
yunani Kypros atau Siprus berarti merah. Tembaga adalah salah satu dari dua
logam dibumi selain emas yang berwarna merah atau kekuningan,
mempunyai nomor Atom 29 dengan kepadatan 8, 92g/ cm3 . Tembaga murni
mencair pada suhu 1083 C dan akan menjadi uap atau mendidih pada suhu
2567 C pada tekanan normal. Dalam Sistim Periodik Unsur masuk di
golongan IB, satu golongan dengan perak dan emas yang berarti bahwa
6

tembaga adalah salah satu dari logam mulia, itu karena tingkat
kereaktifannya yang rendah.
Sifat-sifat tembaga antara lain :
1) Kuat dan Ulet
2) Dapat ditempa
3) Tahan Korosi
4) Penghantar listrik dan panas yang baik
5) Logam yang kurang aktif
Bijih tembaga yang terpenting adalah berupa sulfida seperti kalkosit
dan kalkopirit. Penambangan tembaga di Indonesia terdapat di Papua (irja),
Sulut, Jabar dan beberapa daerah lain di Indonesia.
Penggunaan Tembaga :
1) Untuk kawat listrik
2) Untuk membuat logam paduan
Seperti:
Kupronikel, terdiri dari 75% Cu dan Ni 25% , untuk membuat koin.
Duralium, terdiri dari Al 96% dan Cu 4% , untuk komponen pesawat.
Kuningan, terdiri dari Cu 70% dan Zn 30% , untuk alat musik dan
berbagai aksesoris.
Perunggu, terdiri dari Cu 95% dan Sn 5% , untuk membuat patung
dan ornament.
Tembaga (II) sulfat, CuSO4.5H2O yang dikenal dengan nama terusi
atau blue vitriol digunakan sebagai fungisida, misalnya pada kolam renang.
Kegunaan lain adalah pada pemurnian tembaga dan penyepuhan dengan
tembaga.
Tembaga di alam terdapat sebagai :
Sulfida, seperti chalcopite, bronit, chalcocite, covelite.
Oksida, seperti cuprite, ferronite.



7

Untuk pengolahan mineral tembaga menjadi tembaga batang dikenal 2
macam cara, yaitu:
A. Phyrometalurgi
Adalah suatu proses pengolahan mineral dengan dasar panas. Inti
dari proses ini adalah pengolahan tembaga dengan melalui suatu proses
yang bertujuan untuk mengubah pengotor senyawa Sulfida menjadi
Oksida atau disebut dengan proses Roasting.
CuFeS2+ 9O2 menjadi 2Cu2S+ 2Fe2O3+ 6SO2
Pada persamaan kimia diatas menunjukkan bahwa proses Roasting
bertujuan untuk mengubah Besi Sulfida menjadi Besi Oksida sedangkan
Tembaga tetap Sulfida. Diubahnya besi sulfida menjadi besi oksida
adalah agar pada proses selanjutnya yaitu smelting atau peleburan,
tembaga sulfida akan mencair meninggalkan besi oksida yang bertitik
cair lebih tinggi dan akan ditinggalkan sebagai terak pengotor, sedangkan
tembaga yang telah mencair akan turun kebawah karena berat jenis
tembaga yang lebih tinggi dari besi oksida. Adapun urutan prosesnya
sebagai berikut:
1) Bijih tembaga dihaluskan dengan alat peremuk batuan.
2) Bijih dicampur air sehingga terbentuk slurry.
3) Slurry dimasukkan ke tangki sel flotasi dengan tujuan pemisahan
dari mineral pengotor.
4) Diperoleh konsentrat Cu dalam bentuk Cu dengan kadar tinggi .
5) Diproses lanjut dalam pabrik pengawa-airan (dewatering plant)
untuk menghilangkan air dengan:
Penyaring putar
Pengeringan sampai di dapat konsentrat Cu yang kering
6) Roasting atau pemanggangan bertujuan untuk proses reduksi
pengotor.
7) Ekstraksi tembaga murni dari konsentrat tembaga dengan dengan:
Prometalurgi
Elektrolisis ( dengan arus listrik)
8

Namun seiring dengan kemajuan teknologi, proses Phyrometalurgi
sudah tidak diterapkan untuk pengolahan tembaga, karena kemudian
diketahui ada suatu proses yang lebih ekonomis untuk pengolahan
tembaga yaitu hidrometalurgi. Phyrometalurgi tetap digunakan tetapi
dipakai pada pengolahan-pengolahan mineral lain seperti nikel,
manganese, chrom dll.
B. Hidrometalurgi
Hidrometalurgi adalah suatu proses pengolahan tembaga dari batuan
alam dengan berdasar pada air sebagai pengolahnya, namun maksud air
adalah bukan air biasa melainkan air yang telah dicampur dengan suatu
asam tertentu sebagai reduktor. Hidrometalurgi dipakai karena
keuntungan-keuntungannya antara lain :
Biaya pengolahan yang rendah
Recovery yang tinggi
Proses pengolahan relatif mudah
Investasi alat yang rendah sehingga memungkinkan percepatan BEP
Proses pengolahan yang relatif lebih singkat
Pada proses ini dipakai suatu asam sebagai reduktor yaitu asam
sulfat ( H2SO4) yang mudah didapatkan dan rendah biaya pengolahan.
Dipakainya asam sulfat sebagai pereduktor adalah bertujuan untuk
membentuk tembaga sulfat (CuSO4.5H2O). Tembaga adalah suatu unsur
yang sangat mudah membentuk sulfida. Maka dari itu asam sulfat dipakai
sebagai pilihan. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut :
Mula-mula batuan tembaga dihancurkan hingga menjadi halus
sampai mess tertentu.
Selanjutnya tempatkan pada suatu tabung yang terbuat dari bahan
tahan asam (plastik, fiber, dll) lalu ditambah air dengan ukuran
tertentu.
Kemudian tambahkan asam sulfat pekat sambil diaduk agar terbentuk
larutan tembaga sulfat (CuSO4.5H2O) .
9

Setelah terbentuk larutan tembaga sulfat pindahkan pada suatu
tabung elektrolisis yang bertujuan untuk mengambil ion tembaga dari
larutan tembaga sulfat yang terbentuk pada proses pengasaman.
Secara bertahap ambil tembaga yang menempel pada katoda, dan
tembaga hasil dari katoda adalah tembaga murni.
Selanjutnya tembaga hasil dari katoda siap untuk proses peleburan
pada tungku peleburan tembaga yang mampu menghasilkan suhu
1300 C.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengolahan mineral
tembaga untuk saat ini yang terbaik dan termurah dari biaya produksi adalah
proses hidrometalurgi yang dilanjutkan dengan proses elektrolisa kemudian
dilanjutkan dengan proses peleburan.
Maka dari itulah kami menyarankan proses hidrometalurgi dan
elektrolisis yang akan kami terapkan pada teknologi pengolahan untuk batuan
dari Indonesia karena proses ini sangat tepat diterapkan untuk jenis batuan
dari Indonesia.
Nilai Ekonomis Tembaga
OZ Minerals memproyeksi harga tembaga tahun 2013 berpotensi naik
5% atau sekitar US$ 3,7-US$ 3,8 per pound. Kenaikan harga tembaga
didorong adanya urbanisasi dan program pembangunan perkotaan di sejumlah
negara berkembang. Di sisi lain terjadi penurunan produksi sejumlah
perusahaan tambang.
OZ Minerals dalam keterangan perusahaan, mengungkapkan
perusahaan menurunkan target produksinya tahun ini menjadi 90 ribu ton dari
target sebelumnya sebesar 95 ribu ton. Padahal, permintaan global diprediksi
melebihi pasokan yakni sebesar 17 ribu ton pada 2013.
Sementara, Morgan Stanley memperkirakan, permintaan tembaga di
China, negara konsumen logam terbesar dunia, diprediksi bakal naik hingga
7,6% tahun ini dan 5% pada 2014. Harga rata-rata tembaga tahun lalu tercatat
US$ 8.554 per ton. China sebagai konsumen tebesar seperti yang dilihat pada
graik di bawah ini:
10













Berdasarkan data Bloomberg, harga rata-rata tembaga pada 2012
adalah US$ 7.953 per ton, lebih rendah 9,9% dibanding harga rata-rata 2011.
Pada awal 2013, harga tembaga mulai meningkat, namun belum signifikan.
Harga tembaga diperkirakan akan terus mananjak karena naiknya permintaan
sedangkan produksi tetap atau bahkan sengaja diturunkan.











11

Penambangan Tembaga Indonesia (PT. Freeport)
Tambang tembaga terbesar di Indonesia adalah yang diusahakan PT
Freeport Indonesia di area Grasberg, Papua. PT. Freeport Indonesia adalah
sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport
- McMoRan Copper & Gold Inc. Perusahaan ini merupakan perusahaan
penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport
Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-
masing tambang Ertsberg dari (1967-1988) dan tambang Grasberg (sejak
1988), di kawasan Tembagapura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Freeport juga mengoperasikan beberapa tambang bawah tanah besar, meski
dengan kemampuan produksi yang masih berada di bawah Grasberg. Dengan
cadangan 25 milyar pon tembaga, 40 juta ons emas dan 70 juta ons perak,
nilainya sekitar 40 milyar dollar AS berdasarkan harga berlaku.
1) Potensi Ertsberg
Ditemukan Ertsberg atau Gunung Bijih, sebuah cadangan mineral
yang terletak di kaki pegunungan bersalju. Ertsberg terdiri dari 40-50 %
oksida besi dalam bentuk mineral magnetit, 3,5% tembaga dalam bentuk
mineral kalkopirit dan bornit (keduanya sulfida besi dan tembaga).
Ertsberg merupakan deposit tembaga terkaya yang pernah ditemukan di
atas permukaan tanah. Analisis laboratorium memastikan perkiraan
ekspedisi bahwa terdapat kandungan tembaga sebesar 13 acres, suatu
kode yang dibuat oleh Wilson untuk menyatakan 13 juta ton bijih. Jauh
lebih ke dalam tanah, diperkirakan terdapat 14 juta ton bijih untuk setiap
kedalaman 100 meter. Jumlah keseluruhan diperkirakan mencapai 50 juta
ton bijih.
Potensi kandungan mineral Ertsberg mencapai 50 juta ton bijih
mineral. Dinas Pertambangan Papua menyebutkan cadangan Ertsberg
sebanyak 35 juta ton, dengan kadar Cu 2,5%. Jika diasumsikan harga
rata-rata tembaga selama sekitar 20 tahun periode penambangan di
Ertsberg adalah US$ 2000/ton, pendapatan yang dapat diraih dari seluruh
12

potensi mineral tambang Ertsbegr adalah (35 juta ton x 2000 US$ /ton) =
US$ 70 miliar.
2) Potensi Grasberg
Wilayah Freeport di Grasberg menyimpan potensi tembaga, emas
dan perak dalam jumlah yang sangat besar. Kandungan logam yang
terdapat pada deposit sangat tinggi, yaitu 1,9 miliar ton. Deposit logam
tersebut mengandung potensi cadangan tembaga 18 juta ton (40,3 milyar
pond), emas mencapai 1600 ton (52,1 juta ons) dan perak 3400 ton (111
juta ons). Dengan kapasitas yang ada sekarang 115.000 MTPD (million
ton per day), diperkirakan umur tambang tersebut sekitar 46 tahun
(estimasi tahun 1994 adalah 27 tahun).
Cadangan Grasberg yang ditemukan tersebut akhirnya
melipatgandakan cadangan total menjadi 200 juta ton metrik.
Berdasarkan data-data yang ditampilkan pada Laporan Keuangan
Freeport bulan Juni 2009, cadangan emas dan tembaga tambang Grasberg
masing-masing sebesar 38,5 juta ons dan 35,6 juta ton. Dengan harga
rata-rata emas dan tembaga sepanjang periode tambang diasumsikan
masing-masing sebesar 900 US$/ons dan 5.000 US$/ton, total potensi
pendapatan emas tambang Grasberg adalah (38,5 juta ons x 900US$/ons)
= 34,65 US$ miliar. Sedangkan total potensi pendapatan tembaga
tambang Grasberg adalah (35,6 juta ton x 5.000 US$/ton) = 178 US$
miliar.

Anda mungkin juga menyukai