Anda di halaman 1dari 22

Ahmad faizal zain

DEFINISI
Demam Tyfoid adalah suatu penyakit infeksi
sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh
Salmonella typi .
EPIDEMIOLOGI
Data World Health Organization (WHO) tahun 2003
memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di
seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun.

Menurut laporan WHO 2003, insidensi demam tifoid pada
anak umur 5-15 tahun di Indonesia terjadi 180,3/100.000 kasus
pertahun dan dengan prevalensi mencapai 61,4/1000 kasus
pertahun.
ETIOLOGI
Salmonella typi adalah bakteri Gram-
negatif, mempunyai flagel, tidak
berkapsul, tidak membentuk spora,
fakultatif anaerob.
Patomekanisme
Perjalanan Penyakit Demam Tifoid
Hari -15 Hari 0 Hari 7 Hari 21
37
0
C
40
0
C
Masa inkubasi
Asimtomatik
Fase invasif
Demam intermiten
Nyeri kepala
Lesu,lelah
Tidak enak di perut
Konstipasii
Diare
Fase tifoid
Demam menetap
Bradikardi
Hepatomegali
Splenomegali
Konstipasi
Diare
Rose spot
Penyembuhan
Karier
Relaps
Komplikasi
Mulai demam
1 2 3 4 5 6 7 8 minggu
demam
darah
tinja
urin
antibodi
Diagnostik Laboratorium
Hubungannya dengan perjalanan penyakit
S.typhi masuk
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan Darah Tepi.
anemia normokrom normositik, leukeopeni : jarang
<3000, trombositopenia
2. Identifikasi kuman melalui isolasi / biakan
ditemukan bakteri S. typhi dalam biakan dari darah,
urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum.
3. Identifikasi kuman melalui uji serologi
Titer O meningkat (4x atau 1 :160)
Uji widal
Deteksi kadar IgM dan IgG (typhi dot)
Metode Enzim
Immuno Assay
(EIA)
untuk mendeteksi antibodi IgG, IgM
dan IgA terhadap antigen, antibodi IgG
terhadap antigen flagella d (Hd) dan
antibodi terhadap antigen Vi S. typhi.
Metode Enzym
Liked
Immunosorbent
Assay (ELISA)
Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan gejala klinis berupa
demam, gangguan gastrointestinal dan mungkin
disertai perubahan atau gangguan kesadaran.
Diagnosis pasti ditegakkan melalui isolasi
Salmonella typhi dari darah.
Diagnosis banding
a. Stadium dini : influenza, gastroenteritis,
bronchitis, bronkopneumonia
b. Tuberculosis, infeksi jamur sistemik, malaria
c. Demam typhoid berat : sepsis, leukemia,
limfoma
Terapi
a. Medikamentosa
A. Antibiotic ,
Antibiotic lini pertama :
1. Kloramfenikol (drug of choice) 50 100
mg/kgBB/hari), oral atau IV, dibagi dalam 4 dosis,
selama 10 14 hari. (bayi < 2 minggu. 25
mg/kgBB/hari)
2. Amoksisilin 100 mg/kgBB/hari, oral atau
intravena, dalam 3 dosis selama 10 14 hari
3. Cotrimoxazole 50 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis,
sampai 3 hari bebas demam, selama 10 14 hari.

Antibiotik lini kedua :
1. Ofloxacin 15 mg/kgBB/hari p.o selama 2 hari
2. Ciprofloxacin 2 x 750 mg sampai 4 minggu, untuk
menanggulangi karier, karena pasien dapat
menularkan secara fecal - oral (typhoid mary).
Tidak boleh diberikan pada pasien dengan usia
kurang dari 15 tahun, karena bisa menyebabkan
penutupan epifise tulang lebih cepat.
3. Ceftriaxon 50 mg/kgBB/hari, intravena atau
intramuskular, sekali sehari selama 5 hari.
4. Cefixime 10 15 mg/kgBB/hari, oral dibagi dalam
2 dosis, selama 10 hari
B. Kortikosteroid diberikan pada kasus berat dengan
gangguan kesadaran. Deksametason 1 3
mg/kgBB/hari intravena, dibagi 3 dosis hingga
kesadaran membaik.
C. Antipiretik (bila perlu) : paracetamol 10 mg/kgBB/hari

b. Bedah, Tindakan bedah diperlukan pada penyulit
perforasi usus
c. Suportif, Demam tyfoid ringan dapat dirawat di
rumah, dengan :
- Tirah baring
- Isolasi memadai
- Kebutuhan cairan dan elektrolit di cukupi

Demam typhoid berat harus dirawat
inap di rumah sakit :
1. Cairan dan kalori
Terutama pada demam tinggi, muntah atau diare, bila
perlu asupan cairan dan kalori diberikan melalui sonde
lambung.
Pada ensefalopati, jumlah kebutuhan cairan dikurangi
menjadi 4/5 kebutuhan dengan kadar natrium rendah.
Penuhi kebutuhan volume cairan intravascular dan
jaringan dengan pemberian oral/parentral
Pertahankan fungsi sirkulasi dengan baik
Pertahankan oksigenasi jaringan, bila perlu berikan O
2

Peliharan keadaan nutrisi
Pengobatan gangguan asam basa dan elektrolit
2. Antipiretik, diberikan apabila demam > 39
0
C, kecuali
pada riwayat kejang demam dapat diberikan lebih awal
3. Diet
Makanan tidak berserat dan mudah dicerna
Seteleh demam reda, dapat segera diberikan makanan
yang yang lebih padat dengan kalori cukup.
4. Transfusi darah : kadang kadang diperlukan pada
perdarahan saluran cerna dan perforasi usus.
5. Lain lain (rujukan subspesialis, rujukan spesialisasi
lainnya)
6. Konsultasi bedah anak apabila dijumpai komplikasi
perforasi usus.

Komplikasi
a. Komplikasi neuropsikiatri : gangguan kesadaran, delirium, stupor bahkan koma
b. Hepatitis tifosa asimtomatik
c. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transminase, kolesistitis akut dan
kolesistitis kronik yang terjadi setelah tifoid
d. Sistitis, pielonefritis
e. Pneumonia
f. Trombositopenia
Prognosis
Bayi muda dan penderita dengan gangguan imun
sering mempunyai keterlibatan sistemik, dalam
perjalanan penyakit yang lama, dan komplikasi.
Prognosis jelek pada anak dengan meningitis
Salmonella (angka mortalitas 50%) atau
endokarditis.
Pencegahan
A.Meningkatkan personal hygiene

B.Vaksin, ada 3 macam :
a.Vaksin yang berisi kuman salmonella typhi, s.
paratyphi B yang dimatikan ( subkutan )
b.Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi hidup
yang dilemahkan (Ty 21a) (oral, umur 2 tahun )
c.Vaksin yang berisi komponen Vi dari Salmonella
typhi ( IM )
Monitoring
Terapi
Apabila pada hari ke 4 -5 setelah pengobatan
demam tidak reda evaluasi komplikasi,
sumber infeksi lain / resistensi antibiotik /
kemungkinan salah diagnostik
Tumbuh kembang
Infeksi demam typhoid yang akut sehingga
relative tidak mengganggu tumbuh kembang
anak.
Referensi
Behrman, Kliegman, Arvin. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15 .
2000 . Jakrta : EGC.

Prasetyo Risky Vitria, Ismoedijanto. Metode Diagnostik Demam
Tifoid Pada Anak. Surabaya. Di unduh di www.pediatri.com/buletin pada
bulan september 2011

Widodo Darmowandoyo. Demam Tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Anak Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi kedua. 2008. Jakarta
;Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.

Yuslam Herawati. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Standar Pelayanan
Medis Kesehatan Anak. Edisi pertama. 2004. Jakarta : Ikatan Dokter Anak
Indonesia.