Anda di halaman 1dari 10

Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013 189

FAKTOR PEMBENTUK POLA PERGERAKAN WISATAWAN PADA DESTINASI ALAM DI


KABUPATEN MALANG
Myrna Sukmaratri, Nindya Sari, Dian Dinanti
Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
Jalan M.T. Haryono no.167, Malang 65145, Indonesia Telp. 0341-567886
E-mail : myrnasukma@gmail.com


ABSTRAK
Sumber daya alam berupa potensi wisata di Kabupaten Malang cukup besar terutama wisata alam
dibandingkan wilayah lain dalam lingkup Malang Raya (Kota Malang dan Kota Batu). Permasalahan di objek
wisata alam Kabupaten Malang adalah pergerakan wisatawan yang hanya terkonsentrasi di beberapa objek
wisata saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pergerakan wisatawan serta faktor-faktor
pembentuk pola pergerakan tersebut. Pola pergerakan wisatawan didapatkan dari hasil kuisioner berdasarkan
rute wisata pengunjung. Selanjutnya, metode crosstab digunakan untuk mengetahui keterkaitan variabel
dengan pola pergerakan yang dihasilkan. Dari hasil analisis didapatkan bahwa pergerakan wisatawan
membentuk 46 rute perjalanan dengan empat jenis pola pergerakan, yaitu single point, base site, stopover, dan
chaining loop. Pola pergerakan wisatawan pada objek wisata alam di Kabupaten Malang yang dominan adalah
pola pergerakan single point (58,5%), sedangkan pola pergerakan yang paling sedikit adalah pola pergerakan
chaining loop (5,8%). Berdasarkan rute pergerakan wisata yang dilakukan wisatawan di Kabupaten Malang
pada pola pergerakan single point, Pantai Balekambang adalah objek wisata yang paling banyak dikunjungi.
Sementara pada pola pergerakan multiple pattern dengan menggunakan market basket analysis terlihat
bahwa objek wisata yang sering muncul dalam bentuk rute adalah Coban Rondo-Batu. Dari sepuluh variabel
yang dianalisis, pola pergerakan wisatawan dibentuk oleh lima variabel yaitu asal wisatawan, pengalaman
berkunjung, lama kunjungan, lama perjalanan, dan moda transportasi.
Kata Kunci: Pola Pergerakan, Faktor Pembentuk Pola Pergerakan, Crosstab.

ABSTRACT
The beauty nature of Malang Regency is one of the potencial resource of the tourism development compared to
other regions surroundings Malang City and Batu City. The problem of Malang Regencys natural tourism is the
tourist movement which is concentrated only in a few tourism objects. This study aims to determine the tourists
movement patterns and factors that influence those movement patterns. The movement patterns are obtained
from the questionnaires based on visitors routes. Furthermore, the crosstabs method is used to determine the
relationship between the variables with the movement patterns generated. From the analysis, it was found that
the tourist movement set up 46 trip routes with four types of movement patterns, in which single point, base
site, stopover, and chaining loop. The movement pattern of natural tourism which is dominant in Malang
Regency is single point (58,5%), whereas the least movement patterns is chaining loop (5,8%). Based on the
tourism movement patterns in single point pattern, Balekambang Beach is the most visited tourism object.
While in the multiple movement pattern which uses market basket analysis shows that the most tourism object
that appears frequently is Coban Rondo-Batu. From ten variables were analyzed, the tourists movement
patterns are influenced by five variables: origin of tourists, experience of visits, duration of visits, duration of
travel, and mode of transportation.
Keywords: Movement Patterns, Factors of Movement Patterns , Crosstab.

PENDAHULUAN
Sumber daya alam berupa potensi wisata
di Kabupaten Malang cukup besar terutama
wisata alam dibandingkan wilayah lain dalam
lingkup Malang Raya (Kota Malang dan Kota
Batu). Sepanjang bagian selatan Kabupaten
Malang terdapat pantai yang terkenal dengan
keindahan alamnya seperti Pantai Balekambang
dan Pantai Ngliyep. Selain itu, beberapa wisata
danau berupa bendungan juga menjadi wisata
unggulan di Kabupaten Malang yakni Bendungan
Selorejo dan Bendungan Sutami. Pada dataran
tinggi Kabupaten Malang, terdapat wisata
gunung seperti air terjun Coban Rondo dan
Kebun Teh yang dapat dijadikan salah satu
FAKTOR PEMBENTUK POLA PERGERAKAN WISATAWAN PADA DESTINASI WISATA ALAM DI KABUPATEN MALANG
190
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013
destinasi wisata para pengunjung di Kabupaten
Malang.
Salah satu kendala pengembangan wisata
alam di Kabupaten Malang adalah jauhnya jarak
antara satu objek wisata dengan objek wisata
lain dan masih belum difasilitasi moda
transportasi publik dengan maksimal. Selain itu,
kondisi aksesibilitas, sarana prasarana penunjang
objek wisata, serta masih banyaknya informasi
objek-objek wisata yang memiliki potensi belum
banyak terpublikasikan secara meluas dapat
mempengaruhi minat berkunjung wisatawan.
Kondisi inilah yang menyebabkan kunjungan
para wisatawan di Kabupaten Malang hanya
terkonsentrasi di objek-objek wisata alam yang
berkembang. Hal ini ditunjukkan dengan data
kunjungan wisatawan yang tinggi hanya pada
objek wisata unggulan seperti Pantai
Balekambang sebanyak 270.558 jiwa dan
Gunung Kawi sebanyak 105.705 jiwa pada tahun
2011.
Penelitian mengenai pergerakan
wisatawan ini bertujuan untuk pengembangan
wisata lebih baik di masa yang akan datang
dengan mengetahui perilaku wisatawan dan
pengembangan produk wisata untuk memenuhi
permintaan wisata (Lau, 2007). Dengan
mengetahui pergerakan wisatawan berdasarkan
rute perjalanan wisatawan dan faktor-faktor
yang membentuk pola pergerakan tersebut
berguna untuk pengembangan infrastruktur dan
transportasi, pengembangan produk wisata,
perencanaan destinasi, dan perencanaan atraksi
wisata baru.
METODE PENELITIAN
Ruang lingkup penelitian ini adalah wisata
alam di Kabupaten Malang, di mana lokasi
penelitian dilakukan di 11 titik destinasi wisata
alam.
Tabel 1. Lokasi penelitian
Bagian Objek Wisata Kecamatan
Utara Kebun Teh Lawang
Selatan Pantai Balekambang Bantur
Pantai Kondang Merak Bantur
Pantai Sendang Biru Sumbermanjing Wetan
Pantai Ngliyep Donomulyo
Bendungan Sutami Sumberpucung
Barat Gunung Kawi Wonosari
Coban Rondo Pujon
Bendungan Selorejo Ngantang
Timur Coban Pelangi Poncokusumo
Agrowisata Poncokusumo
Penelitian ini menggambarkan pola
pergerakan wisatawan pada destinasi wisata
alam di Kabupaten Malang berdasarkan rute
wisata serta membentuk zona dari pola-pola
pergerakan tersebut. Market basket analysis
digunakan untuk mengetahui item/objek wisata
yang sering dikunjungi oleh wisatawan dalam
bentuk rute. Dalam prosesnya, analisis ini akan
dibantu oleh salah satu algoritma yang sering
digunakan dalam market basket analysis, yaitu
Apriori Algorithm. Selanjutnya dari hasil rute
perjalanan masing-masing pola pergerakan dan
hasil market basket analysis dapat dibentuk zona
wisata.
Selanjutnya uji statistik crosstab-chi
square digunakan untuk mengetahui faktor-
faktor pembentuk pola pergerakan wisatawan
tersebut. Pengumpulan data pada penelitian ini
dengan menggunakan teknik kuisioner kepada
responden.
Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam penelitian
ini adalah seluruh wisatawan yang mengunjungi
wisata alam di Kabupaten Malang. Metode
sampel yang digunakan untuk pengambilan data
responden adalah dengan menggunakan teknik
non probabilitas sampling.
Pada studi ini diambil sampel berdasarkan
jumlah populasi wisatawan di objek wisata alam
Kabupaten Malang tahun 2011 sebesar 1985
pengunjung per hari. Berdasarkan tabel Isaac &
Michael dengan tingkat kepercayaan 10%, maka
sampel yang digunakan adalah 241 jiwa. Berikut
adalah tabel jumlah sampel wisatawan untuk
masing-masing objek wisata:
Tabel 2. Jumlah sampel tiap destinasi wisata
Destinasi Wisata Jumlah Sampel/Responden
Kebun Teh 14
Pantai Balekambang 50
Pantai Kondang Merak 8
Pantai Sendang Biru 20
Pantai Ngliyep 12
Bendungan Sutami 23
Gunung Kawi 36
Coban Rondo 28
Bendungan Selorejo 32
Coban Pelangi 8
Agrowisata Poncokusumo 10
Total 241
Tenik non probabilitas sampling dalam
penyebaran kuisioner ini dilakukan dengan
accidental sampling yaitu teknik penentuan
sampel berdasarkan kebetulan/insidental
bertemu dengan peneliti dapat digunakan
sebagai sampel. Adapun persyaratan responden
sebagai sampel dalam penelitian ini didasarkan
pada kriteria minimal berpendidikan SMA atau
sederajat, telah berusia 17 tahun.
Myrna Sukmaratri,Nindya Sari,Dian Dinanti
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013 191
Analisa Pola Pergerakan Wisatawan
Analisis pola pergerakan wisatawan ini
menggunakan teori yang bersumber dari Alan
Leu dan Bob McKercher (2006) dalam jurnalnya
Understanding Tourist Movement Pattern In a
Destination: A GIS Approach.
Tabel 3. Pola pergerakan
Pola pergerakan Penjelasan
Single point Pergerakan yang menuju hanya
satu titik destinasi tanpa
mengunjungi titik destinasi lain
dan kembali ke tempat asal
menggunakan rute yang sama
Base site

Pola pergerakan yang
menyerupai sebaran sinar dengan
satu titik pusat. Wisatawan
memulai perjalanan dari tempat
asal dan menuju ke tujuan utama,
dan dilanjutkan melakukan
kunjungan ke tujuan sekunder
dalam wilayah tertentu.
Stopover Pergerakan yang menuju satu
titik destinasi utama dimana
mengunjungi titik destinasi lain
(sekunder) dalam proses
pergerakannya

Chaining Loop

Pergerakan dengan tipe memutar
seperti cincin yang
menghubungkan 2 atau lebih titik
destinasi dan tidak terjadi
pengulangan rute.


Destination region loop

Perjalanan wisatawan yang
dimulai dengan rute mengelilingi
destinasi lainnya. Setelah
menyelesaikan tur secara
berkeliling (pola lingkaran),
mereka kembali ke tempat asal
melalui rute yang paling singkat
antara tujuan utama dan tempat
asal berangkat. Ini merupakan
kombinasi daripola single point
dan chaining loop.
Complex neighbourhood
Merupakan kombinasi dua atau
lebih pola-pola yang telah
disebutkan diatas.
Sumber: Lau &McKercher, 2006
Pola pergerakan dibagi menjadi 3 jenis,
yaitu single pattern, multiple pattern, dan
complex pattern. Pola pergerakan single
pattern adalah single point, sedangkan pola
pergerakan multiple pattern dibagi menjadi
3 jenis, yaitu base site, stopover, dan
chaining loop. Untuk pola pergerakan
complex pattern dibagi menjadi 2 jenis, yaitu
destination region loop dan complex
neighbourhood.
Analisa Faktor Pembentuk Pola Pergerakan
Wisatawan
Faktor pembentuk pola pergerakan dibagi
menjadi faktor individu, faktor waktu, dan faktor
fisik. Faktor individu dibagi menjadi empat, yaitu
asal wisatawan, jumlah dan pengaturan wisata,
serta pengalaman berkunjung. Faktor fisik dibagi
menjadi empat, yaitu moda transportasi, lama
perjalanan, keunikan, dan keragaman atraksi.
Sedangkan, faktor waktu dibagi menjadi lama
kunjungan dan waktu berwisata.
Untuk mengetahui variabel yang
terkontribusi membentuk pada pola pergerakan
wisatawan digunakan analisis statistik crosstab-
chisquare. Dasar pengambilan keputusan dalam
pendekatan chi square ini berdasarkan
perbandingan chi square hitung dengan tingkat
signifikansi yaitu 5%. Jika nilai Chi square hitung
lebih dari 5% (0,05) maka H
o
diterima, yang
berarti tidak ada hubungan antara dua variabel
yang diteliti. Jika nilai Chi square hitung lebih
kecil dari 5% (0,05) maka H
0
ditolak atau dengan
kata lain berarti ada hubungan antara dua
variabel yang diteliti. Untuk menentukan tingkat
kekuatan hubungan pada dua variabel adalah
dengan melihat nilai koefisien kontingensi
menggunakan kategori tingkat kekuatan
menggunakan kriteria Guilford.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pola Pergerakan Wisatawan
Berdasarkan hasil kuisioner terhadap
wisatawan, pola pergerakan wisatawan di
destinasi wisata alam Kabupaten Malang hanya
ada dua macam, yaitu single pattern dan
multiple pattern (base site, stopover, dan
chaining loop). Pola pergerakan ini didapatkan
berdasarkan rute wisata pengunjung.
Tabel 4. Pola pergerakan wisatawan
Pola Pergerakan %
Single point 58,5%
Base site 20,3%
Stopover 15,4%
Chaining loop 5,8%
Total 100%
Pada pola pergerakan single point,
destinasi wisata dominan yang dikunjungi adalah
Pantai Balekambang dengan prosentase 12,86%
dan paling sedikit dikunjungi oleh wisatawan
adalah Coban Pelangi. Untuk pola pergerakan
base site dengan dua destinasi wisata, rute
perjalanan dominan adalah Gunung Kawi-Blitar
FAKTOR PEMBENTUK POLA PERGERAKAN WISATAWAN PADA DESTINASI WISATA ALAM DI KABUPATEN MALANG
192
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013
(3,73%) dengan Gunung Kawi sebagai destinasi
wisata utama yang dikunjungi.
Pada pola pergerakan stopover dengan
dua destinasi wisata, rute perjalanan dominan
adalah Pantai Balekambang-Kota Malang (3,32%)
dengan Kota Malang sebagai destinasi wisata
utama. Sedangkan pola pergerakan stopover
dengan tiga destinasi wisata, rute perjalanan
dominan adalah Sengkaling-Coban Rondo-Kota
Batu (0,83%) dengan Kota Batu sebagai wisata
utama. Untuk pola pergerakan stopover dengan
empat destinasi wisata hanya terdapat dua rute
perjalanan wisata yaitu Pantai Sendangbiru-
Pantai Balekambang-Kebun Teh-Kota Batu dan
Gunung Kelud-Bendungan Selorejo-Coban
Rondo-Kota Batu.
Pada pola pergerakan chaining loop
dengan dua destinasi wisata, rute perjalanan
dominan adalah Kota Batu-Coban Rondo dengan
prosentase 2,49%. Sedangkan pola pergerakan
chaining loop dengan tiga destinasi wisata, rute
perjalanannya adalah Coban Rondo-Sengkaling-
Kota Batu. Berikut adalah gambar peta pola
pergerakan dari masing-masing pergerakan
wisatawan pada destinasi wisata alam di
Kabupaten Malang:


Gambar 1. Pola pergerakan single point.


Gambar 2. Pola pergerakan base site 1.


Gambar 3. Pola pergerakan base site 2.


Gambar 4. Pola pergerakan base site 3.


Gambar 5. Pola pergerakan stopover 1.


Gambar 6. Pola pergerakan stopover 2.

Myrna Sukmaratri,Nindya Sari,Dian Dinanti
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013 193

Gambar 7. Pola pergerakan chaining loop.

Pergerakan wisatawan yang berkunjung ke
destinasi wisata alam di Kabupaten Malang
mayoritas atau didominasi oleh pola pergerakan
tipe single point yaitu sebesar 58,5%.
Selanjutnya diikuti dengan pola pergerakan base
site sebanyak 20,3%, stopover sebanyak 15,4%,
dan pola pergerakan chaining loop sebanyak
5,8%. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan
bahwa pola pergerakan wisatawan pada
destinasi wisata alam di Kabupaten Malang yang
dominan adalah pola pergerakan single point,
sedangkan pola pergerakan yang paling sedikit
adalah pola pergerakan chaining loop.
Pergerakan wisatawan pada destinasi
wisata alam di Kabupaten Malang membentuk
46 rute perjalanan wisata. Ternyata wisatawan
tidak hanya mengunjungi wisata yang ada di
Kabupaten Malang tetapi juga mengunjungi
objek wisata di luar Kabupaten Malang seperti
Kota Batu, Kota Malang, Kota Blitar, dan Kota
Surabaya. Diketahui pula bahwa wisatawan
yang berkunjung pada destinasi wisata alam di
Kabupaten Malang maksimal pergerakannya
hanya mengunjungi empat destinasi wisata
selama mereka berwisata.
Tabel 5. Jumlah destinasi wisata yang
dikunjungi
Pola Pergerakan
Jumlah destinasi wisata yang
dikunjungi
1 2 3 4
Single point 58,5% - - -
Base site - 19,09% 1,24% -
Stopover - 12.86% 1,66% 0,83%
Chaining loop - 4,98% 0,83% -
Total 58,51% 36,93% 3,73% 0,83%
Wisatawan yang berkunjung pada
destinasi wisata alam di Kabupaten Malang
sebanyak 58,5% hanya berwisata di satu
destinasi wisata saja dan hanya 0,83%
wisatawan yang mengunjungi empat destinasi
wisata selama mereka berwisata. Pada pola
pergerakan multiple pattern, wisatawan ini tidak
hanya mengunjungi objek wisata yang ada di
Kabupaten Malang. Selain berwisata di objek
wisata alam, wisatawan ini juga mengunjungi
objek wisata lain baik di Kabupaten Malang
maupun di luar Kabupaten Malang, seperti Kota
Batu (BNS, Jatim Park 1, Jatim Park 2, Selecta,
Songgoriti, Cangar, Secret Zoo), Kota Blitar, Kota
Malang, Kota Surabaya, Gunung Kelud, dan
wisata alam Bromo. Wisata perkotaan dan
wisata buatan yang ditawarkan oleh Kota Batu,
Kota Malang, dan Kota Surabaya menarik minat
wisatawan untuk berkunjung selain mengunjungi
wisata alam yang menjadi wisata unggulan
Kabupaten Malang.
Pada rute pergerakan wisata terlihat
bahwa kunjungan wisatawan hanya
terkonsentrasi di beberapa objek wisata alam
saja di Kabupaten Malang. Hanya sebesar 0,41%
pada pola pergerakan stopover, wisatawan yang
mengunjungi objek wisata alam yang memiliki
data kunjungan wisatawan rendah seperti Pantai
Bajul Mati. Pergerakan pada pola multiple
pattern terlihat bahwa wisatawan memilih
objek-objek wisata yang lokasinya berdekatan
seperti Bendungan Selorejo-Coban Rondo-Kota
Batu, Pantai Balekambang-Pantai Sendang Biru,
dan Pantai Sendang Biru-Pulau Sempu. Selain
itu, motivasi keagamaan dalam berwisata juga
mempengaruhi preferensi wisatawan dalam
memilih destinasi wisata yang dikunjungi seperti
wisatawan yang berwisata dengan tujuan
beribadah dan ziarah memilih rute perjalanan
wisata Gunung Kawi-Makam Bung Karno, Blitar
atau Gunung Kawi-Masjid Tiban, Turen
Market Basket Analysis
Berdasarkan rute pergerakan wisata yang
dilakukan wisatawan di Kabupaten Malang pada
pola pergerakan single point, objek wisata Pantai
Balekambang adalah objek wisata yang paling
banyak dikunjungi. Sementara pada pola
pergerakan multiple pattern digunakan market
basket analysis untuk melihat rute perjalanan
wisatawan dominan. Analisis ini dibantu oleh
salah satu algoritma yang sering digunakan
dalam market basket analysis, yaitu Apriori
Algorithm dengan tujuan mencari frekuensi item
yang paling sering muncul. Analisis ini dapat
mengetahui kebiasaan wisatawan dalam
menentukan obyek wisata yang akan dikunjungi
saat melakukan perjalanan wisata ke Kabupaten
Malang.

FAKTOR PEMBENTUK POLA PERGERAKAN WISATAWAN PADA DESTINASI WISATA ALAM DI KABUPATEN MALANG
194
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013
Tabel 6. Hasil dari market basket analysis
Dari hasil market basket analysis dengan
Apriori Algorithm didapatkan bahwa perjalanan
wisatawan paling dominan adalah Coban Rondo-
Batu. Hal ini dikarenakan jarak dua objek wisata
tersebut yang berdekatan serta jenis wisata yang
berbeda sehingga kedua objek wisata ini
menjadi preferensi wisatawan dalam rute
perjalanan wisata mereka. Namun, rute
perjalanan wisata hasil market basket analysis
hanya terdiri dari dua destinasi wisata (item)
saja. Ini menunjukkan pergerakan wisatawan
yang terbatas saat melakukan wisata di
Kabupaten Malang.
Zona Wisata Berdasarkan Pola Pergerakan
Berdasarkan rute perjalanan dari
keseluruhan rute perjalanan wisatawan terlihat
bahwa terdapat pengelompokan objek-objek
wisata. Selain itu, dari analisis sebelumnya yaitu
market basket analysis didapatkan hasil bahwa
rute dominan wisatawan adalah Coban Rondo-
Batu. Hasil tersebut menjadi salah satu input
dalam penentuan zona ini.

Gambar 6. Zona berdasarkan pola pergerakan

Dari rute perjalanan keseluruhan pola
pergerakan wisata terbentuk dua zona wisata,
yaitu Zona Utara yang terdiri dari Coban Rondo
dan wisata di Kota Batu dan Zona Selatan yang
terdiri dari Pantai Ngliyep, Pantai Kondang
Merak, Pantai Balekambang, Pantai Bajul mati,
Pantai Sendang Biru, dan juga Pulau Sempu.
Pola Pergerakan Wisatawan Berdasarkan
Faktor-Faktor Pembentuk
Untuk melihat faktor yang membentuk
pola pergerakan tersebut selanjutnya akan
dibahas pola pergerakan wisatawan di destinasi
wisata alam Kabupaten Malang berdasarkan asal
wisatawan, jumlah orang yang berkunjung,
pengaturan wisata, pengalaman berkunjung,
lama kunjungan, waktu kunjungan, moda
transportasi, lama perjalanan, dan keunikan
serta keragaman atraksi wisata yang ditawarkan.
Asal wisatawan
Pada penelitian ini asal wisatawan
dibedakan menjadi asal wisatawan dari
Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Luar
Malang Raya di Jawa Timur, dan juga asal
wisatawan dari luar Jawa Timur.
Tabel 7. Pola pergerakan wisatawan
berdasarkan asal wisatawan
Pola
Pergerakan
Asal wisatawan
Kabupaten
Malang
Kota
Malang
Kota
Batu
Luar
Malang
Raya di
Jawa
Timur
Luar
Jawa
Timur
Single
point 19,5% 12,0% 4,6% 22,4% -
Base site 1,2% 6,6% 3,3% 5,4% 3,7%
Stopover 2,9% 6,6% 0,8% 4,1% 0,8%
Chaining
loop 1,2% 0,4% 1,7% 2,1% 0,4%
Total 24,9% 25,7% 10,4% 34,0% 5,0%
Pada pola pergerakan single point,
prosentase asal wisatawan terbanyak berasal
dari luar Malang Raya di Jawa Timur yaitu
sebesar 22,4% selanjutnya berasal dari
Kabupaten Malang sebesar 19,5%. Pada pola ini
tidak ada wisatawan yang berasal dari luar Jawa
Timur. Pada pola pergerakan base site dan
stopover, prosentase asal wisatawan dominan
berasal dari Kota Malang yakni sebesar 6,6%.
Untuk pola pergerakan chaining loop, asal
wisatawan dominan adalah berasal dari luar
Malang Raya di Jawa Timur yaitu sebesar 2,1%.
Wisatawan yang berasal dari sekitar
Kabupaten Malang seperti Kota Malang, Kota
Batu, Kota Kediri, Kabupaten Blitar, Mojokerto,
dan Kabupaten Malang sendiri lebih banyak
mengunjungi hanya satu destinasi wisata saja
dikarenakan mereka dapat mengunjungi
destinasi wisata lain di Kabupaten Malang pada
hari lain. Berbeda dengan wisatawan yang
berasal dari luar Jawa Timur seperti Batam di
mana jarak Kabupaten Malang dengan asal
wisatawan cukup jauh sehingga mereka
memanfaatkan hari berwisata dengan
mengunjungi beberapa destinasi wisata
sekaligus.
Dari hasil chi-square tests yang telah
dilakukan, memperlihatkan bahwa output chi
square hitung adalah 0,000 di mana nilai hitung
tersebut < 0,05 serta nilai koefisien kontingensi
adalah 0,431 sehingga dapat disimpulkan bahwa
No Obyek Wisata Jumlah Support Confidence
1. H O 20 20% 74,07%
Myrna Sukmaratri,Nindya Sari,Dian Dinanti
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013 195
ada hubungan yang cukup erat antara asal
wisatawan dengan pola pergerakan wisata yang
dilakukan.
Jumlah orang yang berkunjung
Kunjungan wisata yang dilakukan oleh
wisatawan di Kabupaten Malang dibedakan
dengan kunjungan yang dilakukan secara
perseorangan/individual, keluarga, dan
rombongan.
Tabel 8. Pola pergerakan wisatawan
berdasarkan jumlah orang berkunjung
Pola pergerakan
Jumlah orang yang berkunjung
Keluarga Rombongan
Single point 36,5% 22,0%
Base site 10,4% 10,0%
Stopover 7,9% 7,5%
Chaining loop 3,7% 2,1%
Jumlah 58,5% 41,5%
Wisatawan dalam melakukan kunjungan
wisatanya berwisata bersama keluarga dan
rombongan dan bisa dikatakan tidak ada
wisatawan yang berwisata secara individu. Pada
pola pergerakan single point, wisatawan yang
berkunjung bersama keluarga lebih banyak
dibandingkan wisatawan yang berkunjung
bersama rombongan atau rekan yaitu sebesar
36,5%. Sedangkan sebanyak 22% wisatawan
melakukan kunjungan dengan pola pergerakan
multiple pattern berwisata bersama keluarga.
Hasil pengolahan data dengan metode
crosstabulation yang telah dilakukan dengan
variabel jumlah orang yang berkunjung,
memperlihatkan bahwa wisatawan dengan pola
pergerakan stopover lebih banyak berwisata
bersama keluarga dibandingkan dengan
berwisata bersama rombongan yaitu sebesar
7,9%. Begitu pula dengan wisatawan dengan
pola pergerakan chaining loop yang lebih banyak
melakukan kegiatan berwisata bersama keluarga
yaitu 3,7% dibandingkan dengan yang berwisata
bersama rombongan.
Dari hasil chi-square tests yang telah
dilakukan, memperlihatkan bahwa output chi
square hitung adalah 0,393 di mana nilai hitung
tersebut > 0,05 sehingga dapat disimpulkan
bahwa tidak ada hubungan jumlah orang
berkunjung selama berwisata dengan pola
pergerakan wisata yang dilakukan.
Pengaturan wisata
Pengaturan wisata dapat mempengaruhi
pola pergerakan wisatawan. Pada wisatawan
yang mengikuti paket wisata maka pola
pergerakan wisatanya akan terjadi sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan sedangkan
wisatawan yang tidak mengikuti paket wisata,
kegiatan wisatanya akan lebih fleksibel sehingga
pola pergerakan wisata dapat lebih luas.
Wisatawan yang mengunjungi destinasi
wisata alam di Kabupaten tidak ada yang
menggunakan paket wisata khusus yang berasal
dari biro perjalanan wisata yang tersedia.
Pengaturan wisata para wisatawan ini lebih
berkategori sebagai wisata berencana (pra-
arranged tour) dimana perjalanan wisata ini dari
jauh hari sebelumnya telah diatur segala
sesuatunya, baik transportasi, akomodasi
maupun objek-objek yang akan dikunjungi.
Mereka lebih banyak melakukannya dengan cara
non paket wisata. Oleh karenanya dapat
diinterpretasikan bahwa baik pada pola
pergerakan single point maupun multiple
pattern, wisatawan tidak menggunakan paket
wisata.. Dengan demikian dapat disimpulkan
tidak ada hubungan antara pola pergerakan
wisatawan dengan pengaturan wisatanya
Pengalaman berkunjung
Karakteristik pola pergerakan wisatawan
berdasarkan pengalaman berkunjung ini
dibedakan menjadi dua yaitu pengalaman
berkunjung pertama (first time visitors) dan
pengalaman berkunjung kembali (repeaters).
Tabel 9. Pola pergerakan wisatawan
berdasarkan pengalaman berkunjung
Pola pergerakan
Pengalaman berkunjung
Pertama Kembali
Single point 20,7% 37,8%
Base site 11,6% 8,7%
Stopover 8,3% 7,1%
Chaining loop 2,1% 3,7%
Jumlah 43% 57%
Sebanyak 37,8% wisatawan yang telah
pernah berwisata dengan rute tersebut
(repeaters) lebih banyak mengunjungi destinasi
objek wisata saja (single point). Sedangkan
wisatawan dengan pola pergerakan base site
sebesar 11,6% belum pernah berwisata dengan
rute tersebut sebelumnya (first-timers visitors).
Begitu juga dengan wisatawan dengan pola
pergerakan stopover, sebesar 8,3% belum
pernah berwisata dengan rute wisata tersebut
sebelumnya. Hal ini dikarenakan wisatawan
dengan kunjungan pertama akan lebih aktif
dalam berwisata sehingga pergerakan wisata
bisa lebih luas daripada wisatawan yang telah
mengunjungi atau berwisata dengan rute
tersebut sebelumnya. Namun, berbeda dengan
wisatawan chaining loop yang lebih banyak telah
FAKTOR PEMBENTUK POLA PERGERAKAN WISATAWAN PADA DESTINASI WISATA ALAM DI KABUPATEN MALANG
196
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013
pernah melakukan perjalanan wisata dengan
rute wisata tersebut (repeaters), yaitu sebesar
3,7% dan wisatawan sebagai first-timers visitors
sebesar 2,1%.
Dari hasil chi-square tests yang telah
dilakukan, diperoleh output chi square hitung
adalah 0,015 di mana nilai hasil hitung tersebut <
0,05 serta nilai koefisien kontingensi adalah
0,204 sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan namun hubungan lemah
antara pengalaman berkunjung dengan pola
pergerakan wisata yang dilakukan.
Lama kunjungan
Semakin tinggi lama kunjungan, maka
akan semakin bervariasi pola pergerakan karena
wisatawan dapat mengunjungi beberapa
destinasi wisata dalam satu waktu. Sebaliknya,
dengan singkatnya lama tinggal maka wisatawan
sangat efisien dalam menggunakan waktu wisata
sehingga pola pergerakannya terbatas.
Tabel 10. Pola pergerakan wisatawan
berdasarkan lama kunjungan
Pola
pergerakan
Lama kunjungan
< 3
jam
3-5
jam
5-8
jam
>8 jam
(tidak
menginap)
>8 jam
(menginap)
Single point 28,2% 24,5% 4,1% - 1,7%
Base site - 5,4% 13,3% 0,8% 0,8%
Stopover - 4,1% 7,9% 2,5% 0,8%
Chaining
loop
- 0,4% 3,3% 1,7% 0,4%
Total 28,2% 34,4% 28,6% 5,0% 3,7%
Pada pergerakan single point, wisatawan
lebih banyak berwisata dengan lama tinggal < 3
jam. Untuk pola pergerakan base site stopover,
maupun chaining loop, lama kunjungan
wisatawan mayoritas adalah selama 5-8 jam.
Atraksi yang ditawarkan dapat mempengaruhi
lama kunjungan wisatawan ke destinasi wisata.
Semakin menarik atraksi yang ditawarkan akan
dapat menarik wisatawan dengan kunjungan
yang lebih lama. Sebaliknya, jika atraksi wisata
dianggap kurang menarik sehingga wisatawan
hanya datang untuk melihat-lihat lalu
meninggalkan lokasi wisata tersebut.
Hal tersebut terlihat pada wisatawan di
Kabupaten Malang dengan pola single point
dengan lama kunjungan yang panjang (5-8 jam),
bahkan hingga menginap dikarenakan atraksi
yang ditawarkan beragam dan unik serta adanya
fasilitas wisata yang menunjang. Misalnya saja
pada objek wisata Kebun Teh Wonosari yang
menawarkan atraksi serta fasilitas wisata yang
lengkap seperti arena bermain anak, kolam
renang, trek sepeda gunung mengelilingi kebun
teh, penginapan, dan proses pengolahan teh
sehingga wisatawan yang berkunjung pun dapat
menikmati wisata dengan nyaman dan
berdampak pada lama kunjungan yang tinggi.
Pada pola pergerakan base site dan
stopover dengan lama kunjungan hanya 3-5 jam
dengan rata-rata kunjungan 2 jam dapat
dikarenakan kurang menariknya atraksi wisata
yang ditawarkan. Kurang beragamnya atraksi
wisata dan pemilihan jenis wisata yang sama
dapat menyebabkan kebosanan pada wisatawan
sehingga wisatawan hanya datang ke destinasi
wisata dengan lama tinggal yang singkat.
Dari hasil chi-square tests yang telah
dilakukan, diperoleh output chi square hitung
adalah 0,000 di mana hasil nilai hitung tersebut <
0,05 serta nilai koefisien kontingensi adalah
0,612 sehingga dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan yang cukup erat antara lama
kunjungan selama berwisata dengan pola
pergerakan wisata yang dilakukan.
Waktu kunjungan
Pola berwisata para wisatawan akan lebih
beragam pada hari pertama dan kedua
kunjungan, dan menurun pada pertengahan, dan
selanjutnya semakin menurun di akhir waktu
kunjungan. Wisatawan yang mengunjungi
destinasi wisata alam di Kabupaten Malang
melakukan perjalanan wisata pada hari pertama
kunjungan mereka. Baik pada pola pergerakan
single point maupun pola pergerakan multiple
pattern, wisatawan melakukan wisata pada
waktu kunjungan hari pertama sehingga dapat
disimpulkan tidak ada hubungan antara pola
pergerakan wisatawan dengan waktu kunjungan
wisatanya.
Moda Transportasi
Penggunaan moda transportasi yang
nyaman dapat memungkinkan wisatawan
mengunjungi beberapa objek wisata selama
berwisata.
Tabel 11. Pola pergerakan wisatawan
berdasarkan moda transportasi
Pola pergerakan
Moda transportasi
Sepeda motor Mobil Bus
Single point 27,4% 29,9% 1,2%
Base site 2,9% 13,3% 4,1%
Stopover 2,5% 8,7% 4,1%
Chaining loop 1,2% 2,5% 2,1%
Total 34,0% 54,4% 11,6%
Pada pola pergerakan single point,
wisatawan sebanyak 29,9% menggunakan mobil
sebagai moda transportasi berwisata. Begitu
Myrna Sukmaratri,Nindya Sari,Dian Dinanti
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013 197
pula dengan pola pergerakan base site, stopover,
dan chaining loop di mana prosentase terbesar
wisatawan menggunakan moda transportasi
mobil untuk berwisata.
Dari hasil pengamatan lapangan diperoleh
bahwa, wisatawan yang berkunjung pada
destinasi wisata alam di Kabupaten Malang tidak
ada yang menggunakan moda transportasi
umum seperti angkutan desa ataupun ojek. Hal
ini dikarenakan hanya beberapa objek wisata
alam di Kabupaten Malang yang dilalui oleh
angkutan umum seperti Bendungan Sutami
karena keberadaan objek wisata tersebut berada
di tepi jalan raya Malang Blitar (jalan arteri
primer). Sedangkan, untuk wisata pantai hanya
sampai di jalan utama saja sehingga
menyebabkan para wisatawan memutuskan
untuk menggunakan moda transportasi pribadi
seperti sepeda motor dan mobil, atau menyewa
bus.
Dari hasil chi-square tests yang telah
dilakukan, diperoleh output chi square hitung
adalah 0,000 di mana hasil nilai hitung tersebut <
0,05 serta nilai koefisien kontingensi adalah
0,404. Dengan hasil tersebut secara statistik
dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan
yang cukup erat antara moda transportasi yang
digunakan berwisata dengan pola pergerakan
wisata yang dilakukan.
Lama Perjalanan
Semakin lama perjalanan menuju lokasi
wisata menyebabkan pergerakan wisata menjadi
terbatas. Sedangkan semakin singkat lama
perjalanan menuju lokasi wisata akan
menyebabkan pergerakan wisata semakin luas
karena wisatawan dapat mengunjungi lebih dari
satu objek wisata tanpa harus menghabiskan
waktu wisata mereka di perjalanan.
Tabel 12. Pola pergerakan wisatawan
berdasarkan lama perjalanan
Pola pergerakan
Lama perjalanan
< 1 jam 1-3 jam >3 jam
Single point 7,5% 39,0% 12,0%
Base site - 3,3% 17,0%
Stopover - 1,7% 13,7%
Chaining loop - 0,4% 5,4%
Total 7,5% 44,4% 48,1%
Lama perjalanan pada wisatawan dengan
pola pergerakan single point didominasi dalam
rentang 1-3 jam. Sedangkan, pada pola
pergerakan base site, stopover, dan chaining
loop lama perjalanan dominan adalah >3 jam.
Lama perjalanan ini dapat dipengaruhi oleh
kondisi jalan dan lokasi objek wisata yang
berjauhan. Kondisi jalan yang rusak pada wisata
pantai misalnya dapat menambah waktu lama
perjalanan wisatawan sehingga menyebabkan
pergerakan wisata menjadi terbatas.
Dari hasil chi-square tests yang telah
dilakukan, diperoleh output chi square hitung
adalah 0,000 di mana hasil nilai hitung tersebut <
0,05 serta nilai koefisien kontingensi adalah
0,551 sehingga secara statistik dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan cukup
erat antara lama perjalanan selama berwisata
dengan pola pergerakan wisata yang dilakukan.
Keragaman dan keunikan atraksi
Atraksi wisata yang berbeda akan
menciptakan variasi permintaan wisatawan.
Keunikan, keragaman, dan jumlah atraksi yang
ditawarkan pada suatu objek wisata dapat
menaikkan kunjungan wisatawan.
Tabel 13. Pola pergerakan wisatawan
berdasarkan keunikan dan keragaman atraksi
Pola
Pergerakan
Keunikan Atraksi Keragaman Atraksi
Unik Tidak
unik
Beragam Tidak
beragam
Single point 30,7% 27,8% 39,0% 19,5%
Base site 10,0% 10,4% 15,4% 5,0%
Stopover 8,7% 6,6% 11,6% 3,7%
Chaining loop 2,5% 3,3% 4,1% 1,7%
Total 51,9% 48,1% 70,1% 29,9%
Sebanyak 39,0 % wisatawan dengan
pergerakan single point menyatakan bahwa
destinasi wisata yang dikunjungi memiliki atraksi
wisata yang beragam. Wisatawan dengan pola
pergerakan base site sebanyak 15,4%,
menyatakan bahwa keseluruhan objek-objek
wisata yang dikunjungi memiliki atraksi yang
beragam. Selanjutnya, wisatawan dengan pola
pergerakan stopover mayoritas menyatakan
bahwa destinasi wisata yang dikunjungi memiliki
atraksi yang beragam dan unik. Sedangkan,
sebanyak 3,3% menyatakan atraksi yang
ditawarkan tidak memiliki keunikan karena
atraksi wisata tersebut juga bisa didapatkan di
destinasi wisata lain.
Dari hasil chi-square tests yang telah
dilakukan, diperoleh output chi square hitung
variabel keunikan dan keragaman atraksi adalah
> 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak
ada hubungan antara keunikan dan keragaman
atraksi wisata dengan pola pergerakan wisata
yang dilakukan.
FAKTOR PEMBENTUK POLA PERGERAKAN WISATAWAN PADA DESTINASI WISATA ALAM DI KABUPATEN MALANG
198
Planning for Urban Region and Environment Volume 2, Nomor 3, Juli 2013
KESIMPULAN
Pergerakan wisatawan di objek wisata
alam Kabupaten Malang membentuk 46 rute
perjalanan wisata yang terdiri dari dua jenis
pola, yaitu single pattern dan multiple pattern
yang terdiri dari pergerakan base site, stopover,
dan chaining loop. Sebanyak 58,5% wisatawan
hanya berwisata ke satu objek wisata saja (single
point). Sedangkan, sebanyak 20,3% wisatawan
berwisata dengan pola pergerakan base site,
sebanyak 15,4% dengan pola pergerakan
stopover, dan wisatawan dengan pola
pergerakan chaining loop sebanyak 5,8%.
Pada pola pergerakan single point, Pantai
Balekambang adalah objek wisata yang paling
banyak dikunjungi. Sementara pada pola
pergerakan multiple pattern dengan
menggunakan market basket analysis terlihat
bahwa objek wisata yang sering muncul dalam
bentuk rute adalah Coban Rondo-Batu.
Berdasarkan rute perjalanan dari keseluruhan
pola pergerakan wisata terbentuk dua zona
wisata, yaitu Zona Utara yang terdiri dari Coban
Rondo dan wisata di Kota Batu dan Zona Selatan
yang terdiri dari Pantai Ngliyep, Pantai Kondang
Merak, Pantai Balekambang, Pantai Bajul mati,
Pantai Sendang Biru, dan juga Pulau Sempu.
Berdasarkan hasil analisis crosstab-chi
square yang telah dilakukan, didapatkan hasil
bahwa faktor pembentuk pola pergerakan
wisatawan pada destinasi wisata alam di
Kabupaten Malang adalah asal wisatawan,
pengalaman berkunjung, lama kunjungan, lama
perjalanan, dan moda transportasi.
DAFTAR PUSTAKA
Gigi, Lau Wai Chi. 2007. Mapping Tourist
Movement Patterns : GIS Approach.
Tesis. Hongkong: The Hongkong
Polytechnic University School of Hotel
and Tourism Management.
http://repository.lib.polyu.edu.hk/jsp
ui/handle/10397/2261 (diakses
tanggal 28 Juli 2012)
Gigi, Lau. McKercher, Bob. 2006. Understanding
Tourist Movement Patterns in A
Destination: A GIS Approach.
Hongkong.
http://www.scribd.com/doc/2075293
0/Understanding-Tourist-Movement-
Patterns (diakses tanggal 28 Juli
2012)
Bappeda Kabupaten Malang. 2006. Rencana
Induk Pengembangan Pariwisata
Kabupaten Malang. Kabupaten
Malang: Bappeda Kabupaten Malang.
Bappeda Kabupaten Malang. 2010. Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Malang Tahun 2010-2030. Kabupaten
Malang: Bappeda Kabupaten Malang.