Anda di halaman 1dari 38

1

Judul Penelitian
Pengaruh Efek Samping Obat Anti
Tuberkulosis terhadap Kepatuhan Berobat
Tuberkulosis Paru di BBKPM Surakarta
2
Latar Belakang
Tuberkulosis paru atau yang sering disebut
TB paru adalah penyakit infeksi menular
langsung yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis (Bagiada, 2010).
Sekitar 1.9 milyar manusia telah terinfeksi
kuman Mycrobacterium tuberkulosis,
sehingga pada tahun 1991, WHO
mencanangkan TB sebagai global
emergency (Adiatma, 2001).
Indonesia menduduki peringkat ke-5 negara
dengan jumlah penderita TB paru terbanyak
di dunia setelah India, China, Afrika selatan,
Nigeria (WHO, 2009).
3
Penanggulangan TB Paru dilaksanakan
dengan strategi Directly Observed Treatment
Shortcourse (DOTS) atau pengawasan
langsung menelan obat (Depkes, 2007).
Salah satu faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pengobatan adalah
kepatuhan penderita minum obat (Adiatma,
2002).
Dalam pemakaian obat-obat Anti tuberkulosis
sering ditemukan efek samping yang
mempersulit keberhasilan pengobatan
(Bahar, 2001).
4
Rumusan Masalah
Apakah efek samping obat anti tuberkulosis
mempengaruhi kepatuhan berobat pasien
tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta ?
5
Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah ada pengaruh antara efek
samping obat anti tuberkulosis terhadap kepatuhan
berobat tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta

Tujuan khusus
Untuk mengetahui efek samping berat dan ringan akibat
obat anti tuberkulosis pada pasien tuberkulosis paru di
BBKPM Surakarta
6
Manfaat Penelitian
1. Manfat Teoritik:
Dengan adanya penelitian ini dapat diketahui pengaruh efek
samping obat anti tuberkulosis terhadap kepatuhan berobat pasien
tuberkulosis paru.

2. Manfaat Aplikatif:
Sebagai masukan untuk dapat memberikan pemikiran bagi
pemerintah maupun petugas kesehatan dalam usaha pengobatan
dan penanggulangan tuberkulosis paru.
Mewaspadai adannya efek samping obat anti tuberkulosis yang
dapat memperberat pengobatan tuberkulosis paru.
7
TINJAUAN
PUSTAKA
8
Definisi Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru atau yang dikenal dengan TB paru
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh
bakteri Mycrobacterium tuberculosis.
Basil tahan asam (BTA).
Cara penularan melalui inhalasi
(Utama, 2005).
9
Patogenesis
Infeksi primer
Infeksi pasca TB
10
Diagnosis
1. Gejala Klinis
- Gejala Respiratorik : Batuk terus menerus selama 3 minggu atau lebih,
dahak bercampur darah, batuk berdarah, sakit dinding dada, napas
pendek, wheezing local, sering flu.
- Gejala Sistemik : berat badan turun, demam dan berkeringat, rasa lelah,
dan hilang nafsu makan. (Crofton et al., 2002).
2. Pemeriksaan Fisik :
suara nafas bronchial, amphorik, suara nafas melemah, ronkhi basah,
tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum. (Suradi, 2001).



11
2. Pemeriksaan Laboratorium :
pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksannya dikatakan
positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS (dahak sewaktu- pagi-
sewaktu) BTA hasilnya positif (Depkes RI, 2007).
4. Pemeriksaan Radiologis : membantu dalam penegakan diagnosis. Pada
kasus pasien dengan infeksi primer terlihat gambaran nodul terkalsifikasi
dibagian perifer paru dengan kalsifikasi dari limfe nodus hilus (Amin, 2006).
5. Uji Tuberkulin :
menunjukan imunitas seluler yang timbul setelah 4-6 minggu setelah
penderita mengalami infeksi pertama tuberkulosis (Depkes RI, 2000).
6. Pemeriksaan Penunjang lain : analisa cairan pleura, pemeriksaan
histopatologi jaringan, pemeriksaan darah (PDPI, 2006).






12
Klasifikasi tuberkulosis

Kategori 1:
- Kasus baru dengan sputum positif.
- Kasus baru pasien tuberkulosis berat dengan sputum negatif atau punya
penyakit TB ekstra pulmoner.
Kategori 2:
- Kasus kambuh
- Kasus gagal dengan BTA positif.
Kategori 3:
- Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas.
- Kasus tuberkulosis ekstrapulmoner selain kategori 1.
Kategori 4:
- Tuberkulosis kronik (Bahar, 2001).

13
Tipe Penderita TB Paru

Kasus baru
Kasus kambuh (Relaps)
Kasus setelah putus berobat (Default)
Kasus setelah gagal (Failure)
Kasus pindahan (Transfer In)
Kasus lain
(Depkes RI, 2007)

14
Pengobatan Tuberkulosis

Tahap awal (intensif)
Tahap Lanjutan

Program Nasional Penaggulangan TBC di Indonesia
menggunakan paduan OAT sebagai berikut :
- Kategori 1 (2HRZE/4H3R3)
- Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3)
- Kategori 3 (2HRZ/4H3R3)
- OAT Sisipan (HRZE)
(Depkes, 2006)



15
Macam-macam obat anti
tuberkulosis
Isoniazid (INH)
Bersifat bakterisid, mekanisme kerjanya dengan menghambat
biosintesis asam mikolat
Rifampisin
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman semi-dormant yang
tidak dapat dibunuh oleh isoniazid, mekanisme kerjanya dengan
perintangan spesifik dari suatu enzim bakteri Ribose Nukleotida Acid
(RNA)-polimerase sehingga sintesis RNA terganggu.









16
Pirazinamid
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang berada dalam sel
dengan suasana asam, Mekanisme kerjanya berdasarkan
pengubahannya menjadi asam pyrazinamidase yang berasal dari
basil tuberkulosa.
Etambutol
menekan pertumbuhan kuman TB yang telah resisten terhadap
Isoniazid dan Streptomisin. Mekanisme kerja, berdasarkan
penghambatan sintesa RNA pada kuman yang sedang membelah,
juga menghindarkan terbentuknya mycolic acid pada dinding sel.
Streptomisin
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang sedang
membelah. Mekanisme kerja berdasarkan penghabatan sintesa
protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal.

17
Efek Samping Obat Anti
Tuberkulosis
Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan
Tidak ada nafsu
makan, mual,
sakit perut
Rifampisin Semua OAT diminum
malam
sebelum tidur
Nyeri Sendi Pirasinamid Beri Aspirin
Kesemutan s/d rasa
terbakar di kaki
INH Beri vitamin B6 (piridoxin)
100 mg per hari
Warna kemerahan
pada air seni
(urine)
Rifampisin Tidak perlu diberi apa-apa,
tapi perlu penjelasan
kepada pasien.
(Depkes, 2006)
18
EFEK SAMPING RINGAN OAT
EFEK SAMPING BERAT
Efek Samping Penyebab Penatalaksanaan
Gatal dan kemerahan
kulit
Semua jenis OAT Ikuti petunjuk penatalaksanaan
dibawah *).
Tuli Streptomisin Streptomisin dihentikan, ganti
Etambutol.
Gangguan
keseimbangan
Streptomisin Streptomisin dihentikan, ganti
Etambutol.
Ikterus tanpa penyebab
lain
Hampir semua
OAT
Hentikan semua OAT sampai
ikterus menghilang.
Bingung dan muntah-
muntah (permulaan
ikterus karena obat)
Hampir semua
OAT
Hentikan semua OAT, segera
melaklukan tes fungsi hati
Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan Etambutol
Purpura dan renjatan
(syok)
Rifampisin Hentikan Rifampisin
(Depkes, 2006)
19
Kepatuhan Berobat
DEFINISI :
Kepatuhan berobat adalah tingkah perilaku penderita
dalam mengambil suatu tindakan atau upaya untuk
secara teratur menjalani pengobatan (Depkes RI, 2002).
Kepatuhan minum obat anti tuberkulosis (OAT) akan
berpengaruh terhadap proses penyembuhan dari infeksi
tuberkulosis. Kepatuhan pasien dilihat dari keteraturan,
waktu dan cara minum obat (Schwenk, 2004).




20
Faktor- faktor yang berpengaruh terhadap
kepatuhan .

Karakteristik regimen obat dan penyakit
Aspek psikososial
Interaksi antara pasien dengan praktisi kesehatan
(Sarafino, 1990).
21
Pengobatan TB paru membutuhkan waktu lama paling sedikit 6 bulan untuk
dinyatakan sembuh, selain itu jumlah obat yang diminum penderita tidak
sedikit.
Pengobatan yang lama dan disertai dengan jumlah obat yang banyak ini
membuat penderita merasa jenuh terhadap pengobatan
Sering kali pasien mengeluh akibat efek samping dari obat-obatan TB yang
diminum
Penderita yang merasa tidak tahan dan merasa enggan untuk berlama-lama
merasakan efek samping yang dirasakan merugikannya dan semakin
memperburuk keadaan. Akhirnya mereka memilih untuk berhenti berobat
sebelum masa pengobatannya berakhir.


22
Pengaruh Efek samping obat anti
tuberkulosis terhadap kepatuhan berobat

Kerangka Pemikiran
23
Pasien TB paru dalam
program pengobatan
Kemudahan
dalam mencapai
pelayanan
kesehatan
- PMO
- Jarak rumah ke
tempat pelayanan
kesehatan

pendidikan Obat
Efek samping obat
-Usia
-Persepsi dengan
penyakitnya
-Motivasi
Kepatuhan berobat
keterangan
: Yang akan diteliti

: Yang tidak diteliti
/
: Yang mempengaruhi
Hipotesis
Terdapat pengaruh antara efek samping obat
anti tuberkulosis terhadap kepatuhan berobat
tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta.
24
Metode Penelitian
Rancangan
Penelitian
Observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional
Lokasi
Penelitian
Penelitian dilakukan di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Surakarta.
Waktu penelitian selama satu bulan, dari April sampai Mei 2012.
Subyek
Penelitian
Semua pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan TB di BBKPM
Surakarta yang memenuhi beberapa kriteria inklusi dan eksklusi
Teknik
Sampling
purposive sampling
25
Subyek Penelitian
Penderita tuberkulosis paru kasus baru
Pasien telah menjalani pengobatan fase
intensif
Laki-laki atau perempuan berusia lebih
dari 15 tahun
Bersedia untuk menjadi sampel
penelitian.
Kriteria Inklusi
Pasien dengan penyakit penyerta. Seperti :
diabetes mellitus, gagal ginjal, HIV/AIDS,
penyakit paru kronik, dll.
Kriteria
Eksklusi
26
Jumlah Sampel
27
Jumlah sampel ditentukan dengan rumus :
n = z. . q
d
keterangan :
n = jumlah sempel
z = tingkat kepercayaan, biasanya 95% dan = 5% , maka z = 1,96
= perkiraan pervelensi yang diteliti atau paparan pada populasi
q = 1-
d = presisi absolute yang dikehendaki pada kedua sisi proporsi populasi,
misalnya +/-5%

n = (1,96) x 0.5 x 0,5
(0,05)
n= 384
Jumlah sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini sebanyak 384 sampel. Namun
karena keterbatasan waktu dan jumlah sampel, maka peneliti hanya mengambil 30 sampel
untuk dianalisis, sesuai dengan jumlah sampel minimal menurut Rule of Thumb (Murti,
2006).
Variabel Penelitian
Efek samping obat anti tuberkulosis Variabel Bebas
Kepatuhan berobat Variabel Terikat
Kemudahan mencapai pelayanan
kesehatan
Tingkat pendidikan
Sosial dan Ekonomi
Keyakinan akan pengobatan
Variabel Luar
28
Definisi Operasional variabel
Variabel bebas : Efek samping obat anti tuberkulosis

29
Definisi : Efek samping dari obat anti tuberkulosis yang diterima pasien selama pengobatan
TB paru. Dimana efek obat yang membuat penderita tidak nyaman selama pengobatannya,
mengganti dengan obat lain, atau bahkan menyebabkan penderita menghentikan
pengobatannya. Efek samping ini meliputi : mual, tidak nafsu makan, nyeri sendi,
kesemutan sampai dengan rasa terbakar di kulit, gatal dan kemerahan kulit, tuli, gangguan
penglihatan, ikterus, purpura, dan syok
Alat ukur : Kuesioner
Cara pengukuran : Mengenai efek samping obat dilihat dari kuesioner yang akan
diberikan, apakah pasien selama menjalani pengobatan mengalami keluhan efek
samping obat atau tidak. Kemudian sampel dikelompokan menjadi dengan efek
samping dan tanpa efek samping.
Skala Pengukuran : Nominal
Definisi : adalah kepatuhan pasien TB paru dalam menjalani pengobatan, yang
diperlihatkan dengan kontrol teratur dan tepat waktu serta meminum obat sesuai
jadwal. Pengobatan terbagi dalam 2 fase yaitu fase intensif dan fase lanjutan, fase
intensif yaitu 2 bulan dan fase lanjutan selama 4 bulan dimana jadwal berobat atau
pengambilan obat dilakukan setiap 2 minggu sekali.

30
Variabel terikat : Kepatuhan berobat

Alat ukur : kuesioner dan catatan medik pasien
Cara pengukuran : Pengukuran dilakukan dengan melihat jadwal pengambilan obat
pasien yang dilihat dari kartu pengobatan pasien dan juga dilakukan pengukuran
dengan menggunaka kuesioner. Dimana sampel akan dikelompokan menjadi 2,
yaitu : patuh dan tidak patuh
Skala pengukuran : nominal
Variabel Luar

Dapat dikendalikan : Kemudan mencapai pelayanan
kesehatan , Tingkat pendidikan , Tingkat sosial
ekonomi
Tak terkendali : Keyakinan akan pengobatan
31
Sumber Data
1. Data primer dari hasil kuesioner yang diberikan
kepada pasien tuberkulosis paru di BBKPM
Surakarta
2. Data sekunder dari rekam medik pasien
tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta
32
Instrumen Penelitian
Catatan medis pasien di Balai Besar Kesehatan Paru
Masyarakat
Kuesioner
33
Jalannya penelitian
34
Penderita Tuberkulosis
Paru
Dalam pengobatan dan
menggunakan obat anti
tuberkulosis paru
Sesuai dengan kriteria
inklusi dan eksklusi
Dengan efek
samping
Tanpa efek
samping
Patuh Tidak
patuh
Patuh Tidak
patuh
Teknik analisis data statistik
35
No Efek samping obat
anti tuberkulosis
Kepatuhan
Patuh Tidak
patuh
1 Dengan efek samping A
1
B
1
A
1
B
2

2 Tanpa efek samping A
2
B
1
A
2
B
2

Data yang diperoleh dari penelitian diolah dengan teknik analisis statistic Chi
Square. Dengan variabel bebasnya adalah efek samping obat anti tuberkulosis dan
variabel terikatnya adalah kepatuhan berobat tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta.
Data yang diperoleh disajikan dalam tabel berikut :







A
1
B
1
:

Jumlah responden yang dengan efek samping obat anti tuberkulosis dan patuh dalam pengobatan.
A
1
B
2
: Jumlah responden yang dengan efek samping obat anti tuberkulosis dan tidak patuh dalam pengobatan.
A
2
B
1
: Jumlah responden yang tanpa efek samping obat anti tuberkulosis dan patuh dalam pengobatan.
A
2
B
2
: Jumlah responden yang tanpa efek samping obat anti tuberkulosis dan tidak patuh dalam pengobatan.
Keterangan :
36
Lalu data diolah dengan teknik Chi Square dengan menggunakan program komputer
SPSS (Statistical Product and Service Solution) 16,00 for windows dengan taraf signifikan
() 0,05 dengan derajat bebas (d.f) 1. Kemudian bandingkan nilai Chi Square dari hasil
perhitungan dengan nilai Chi Square dari tabel.
Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut :
1)Jika Chi Square hitung < Chi Square tabel, maka H
0
diterima
2)Jika Chi Square hitung > Chi Square tabel, maka H
0
ditolak
(Jonathan S, 2006).
Dengan ketentuan (Soekidjo N, 2005) :
Ho diterima, bererti tidak ada pengaruh antara dua variabel, dalam
hal ini tidak ada pengaruh antara efek samping obat anti tuberkulosis
terhadap kepatuhan berobat tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta.
Ho ditolak, bererti ada pengaruh antara dua variabel, dalam hal ini ada
pengaruh antara efek samping obat anti tuberkulosis terhadap
kepatuhan berobat tuberkulosis paru di BBKPM Surakarta.
Jadwal Penelitian
NO
JADWAL
KEGIATAN
MINGGU
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Topik Dikirim
Mahasiswa
2 Dibahas Tim
Skripsi
3 Proposal
4 Proposal Siap
5 Ujian
Proposal
6 Pengambilan
Data
7 Penyusunan
Skripsi
8 Ujian Skripsi

38