Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia
memerlukan interaksi di setiap pekerjaanya baik dengan lingkungan maupun
dengan sesama manusia. Manusia hidup secara berkelompok, baik kelompok kecil
maupun kelompok besar. Oleh sebab itu di antara anggota kelompok tersebut
memerlukan pemimpin untuk dapat mempersatukan mereka di dalam satu visi dan
misi. Untuk mengelolanya diperlukan pemimpin yang mempunyai jiwa
kepemimpinan yang kuat sehingga dapat mempersatukan dan menjadi panutan
bagi kelompoknya.
Organisasi yang di dalamnya melibatkan lebih dari satu individu
memerlukan pemimpin untuk membimbing para anggotanya untuk dapat menjadi
satu kesatuan sehingga dapat mempersatukan pikiran pikiran dari anggotanya
dalam satu tujuan satu visi dan satu misi. Pemimpin yang baik dalam segi
pemikiran maupun tindakan serta mengayomi bawahannya adalah beberapa
kriteria contoh pemimpin yang baik.
Pemimpin yang visioner merupakan salah satu aspek dalam kriteria
pemimpin yang baik, dan untuk menjadi sosok pemimpin yang dapat diandalkan
bagi setiap anggotanya. Sehingga nantinya pemimpin dapat memberikan
pengarahan dengan baik dan memberikan inovasi inovasi dalam masa
kepemimpinannya.
B. Fokus Pembahasan

1. Pengertian Kepemimpinan !
2. Bagaiman konsep kepemimpinan visioner
3. Kelebihan dan kelemahan kepemimpinan visioner
2

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui pengertian kepemimpinan
2. Untuk mengetahui konsep kepemimpinan visioner
3. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan kepemimpinan visioner
apabila diterapkan dalam sebuah organisasi
























3

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian kepemimpinan
Kepemimpinan berasal dari kata dasar pemimpin yang diberikan imbuhan
ke-an. Pemimpin dan kepemimpinan memiliki kaitan yang erat namun ada
perbedaan yang tegas antara keduanya. Kepemimpinan merupakan inti dan motor
penggerak daripada administrasi dan manajemen atau merujuk kepada proses
kegiatan, sedangkan pemimpin merupakan unsur yang sangat menentukan lancar
tidaknya suatu organisasi dalam mewujudkan tujuannya atau merujuk kepada
pribadi seseorang,
(Terry dalam Nawawi, 2003: 23) mengemukakan bahwa:
Kepemimpinan adalah hubungan dimana seseorang yakni pemimpin
mempengaruhi pihak lain untuk bekerjasama secara suka rela dalam
mengusahakan (mengerjakan) tugas-tugas yang berhubungan, untuk
mencapai hal-hal yang diinginkan pemimpin tersebut.

Kepemimpinan diartikan pula sebagai kegiatan mempengaruhi pikiran,
perasaan, sikap dan perilaku orang lain, agar melakukan kegiatan/ pekerjaan untuk
mencapai tujuan yang akan dicapai seorang pemimpin (Nawawi, 2003: 26). Hal
senada dikemukakan (Thoha, 2010: 9) bahwa: kepemimpinan adalah kegiatan
untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni mempengaruhi perilaku
manusia baik perorangan maupun kelompok.
Pendapat di atas menekankan bahwa kepemimpinan mencakup kegiatan
mempengaruhi orang lain agar tujuan yang di inginkan dapat tercapai.
Kepemimpinan diartikan pula sebagai proses mempengaruhi kegiatan seseorang
atau kelompok dalam usaha ke arah pencapaian tujuan dalam situasi tertentu
(Sutisna dalam Mulyasa, 2007: 107).


4

Dharma dan Usman (2008: 2) menegemukakan bahwa:
Salah satu defenisi kepemimpinan yang agak memuaskan semua pihak
adalah defenisi kepemimpinan menurut Hughes, et al. (2002) yang
menyatakan kepemimpinan ialah proses mempengaruhi orang atau
kelompok untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien.
Defenisi kepemimpinan menurut Hughes et al. relatif memuaskan karena:
(1) defenisi tersebut relatif komprehensif yang ditandai oleh ada orang
yang memimpin (leader) untuk berproses, ada orang yang dipimpin
(follower) untuk berproses, dan ada tujuan yang efektif dan efisien yang
ingin dicapai (situasional); (2) variabelnya relatif unik yaitu menyangkut
manusia dan lingkungannya; (3) variabel terpadu yaitu memadukan ketiga
interaksi leader, follower, dan situasional; (4) variabelnya kompleks yaitu
tidak hanya searah (linear) tetapi juga multiarah; dan (5) defenisinya
relatif baru yaitu tahun 2002 atau masih di bawah delapan tahun. Menurut
jurnal pendidikan, teori relatif lama jika sudah delapan tahun ke atas.

Dari beberapa uraian pendapat ahli di atas, dapat diindentifikasi bahwa
unsur- unsur utama dari kepemimpinan adalah
1) Pemimpin sebagai orang yang mempengaruhi.
2) Bawahan atau anggota sebagai orang yang dipengaruhi.
3) Perilaku atau kegiatan sebagai proses mempengaruhi bawahan.
4) Tujuan yang ingin dicapai yakni efektif dan efisien.
Berdasarkan beberapa pengertian dan unsur kepemimpinan di atas, dapat
dipahami bahwa kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki oleh seorang
pemimpin dalam mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan.









5

B. Konsep Kepemimpinan Visioner
Kepemimpinan merupakan sebuah topik pembahasan yang sangat luas,
seperti berkelana mengarungi samudera yang mendapat pasokan air dari ribuan
sungai yang tidak pernah kering. Selalu ada hal baru dalam organisasi pada setiap
zaman yang menuntut adanya kepemimpinan tertentu yang dapat diterapkan.
Berbagai teori kepemimpinan dari para pakar bermunculan untuk menghadapi
perkembangan yang ada antara lain kepemimpinan transformasional,
kepemimpinan situasional, kepemimpinan sinergistik sampai pada kepemimpinan
visioner.
Dalam makalah kelompok kali ini, kami mendapat tugas untuk
memaparkan konsep kepemimpinan visioner. Kami beranggapan kepemimpinan
visioner ini cocok diterapkan pada organisasi yang membutuhkan kepemimpinan
yang mampu mengembangkan organisasinya dengan baik sampai jauh ke depan,
melampaui usia zaman. Untuk lebih jelasnya seperti apa kepemimpinan visioner
dan bagaimana kepemimpinan visioner ini, maka kami akan menjelaskan
pengertian kepemimpinan visioner menurut beberapa pakar. Berikut pendapat
para pakar mengenai pengertian kepemimpinan visioner adalah:
Kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan,
mengomunikasikan/mensosialisasikan/ mentransformasikan, dan
mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya
atau sebagai hasil interaksi sosial di antara anggota organisasi dan
stakeholders yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang
harus diraih atau diwujudkan melalui komitmen semua personel (Aan
Komariah dan Cepi Triatna, 2005: 82)

Diana Kartanegara (2003) dalam Unila (2009) bahwa kepemimpinan
visioner adalah pola kepemimpinan yang ditujukan untuk memberi arti pada kerja
dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama oleh para anggota perusahaan
dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja dan usaha yang dilakukan
berdasarkan visi yang jelas.
Robbins (2011) dalam Wahyudi mengemukakan bahwa:
Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin untuk menciptakan
dan mengartikulasikan suatu visi yang realistik, dapat dipercaya, atraktif
tentang masa depan bagi suatu organisasi atau unit organisasional yang
terus bertumbuh dan meningkat sampai saat ini.
6

Berdasarkan pendapat pakar di atas, kami berkesimpulan bahwa seorang
pemimpin yang visioner adalah mereka yang memiliki kemampuan
mengembangkan intuisi, imajinatif, kreatifitas dan pengetahuan yang luas untuk
mengembangkan organisasi. Pemimpin visioner ini mampu meramal atau
memprediksikan tantangan dan peluang organisasi dimasa yang akan datang
sehingga tidak hanya fokus dalam mencapai tujuan organisasi dalam jangka
pendek tapi juga fokus pada pencapaian tujuan organisasi dalam jangka panjang.
Kepemimpinan visioner ini ditandai dengan kemampuan seorang
pemimpin dalam menentukan dan menetapkan tujuan dan arah organisasi dengan
jelas dan rasional dalam menghadapi tantangan-tantangan yang muncul akibat
arus globalisasi dan perkembangan zaman yang sangat pesat. Ibarat kepala bagi
sebuah badan, pemimpin adalah otak yang mengatur semua gerakan anggotanya.
Oleh karena itu, kepemimpinan visioner harus memiliki kesanggupan,
kemampuan, kepiawaian yang luar biasa untuk menawarkan kesuksesan dan
kejayaan di masa depan (Seth Kahan dalam Alaydroes, 2008). Salah satu cara
dalam menentukan arah dan tujuan organisasi yaitu menetapan visi organisasi.
Demikian pentingnya seorang pemimpin memiliki kemampuan menggambarkan
dengan jelas tujuan-tujuan yang akan diraihnya dimasa depan adalah syarat utama
bagi seorang pemimpin yang visioner.

1. Pengertian visi
Visi lahir dari hasil kreativitas pemikiran seseorang atau melalui
perundingan dari beberapa orang tentang cita-cita atau tujuan yang ingin
dwujudkan dalam sebuah organisasi. Visi seorang pemimpin
mengimplementasikan pemahaman tentang pemahaman masa lalu, sekarang
dan yang akan datang. Gaffar dalam Wahyudi (2009: 19), visi adalah daya
pandang yang jauh, mendalam dan luas yang merupakan daya fikir abstrak
yang memiliki kekuatan amat dahsyat dan dapat menerobos segala batas-
batas fisik, waktu, dan tempat.

7

Wahyudi (2009: 20) mengemukakan bahwa visi adalah gambaran
masa depan mengenai keadaan organiasi yang dicita-citakan yaitu organisasi
yang lebih baik, inovatif dan mampu mengubah lingkungan. Hal senada
dikemukakan Beach (1998) dalam Komariah (2005), visi adalah suatu
pikiran yang melampaui realitas sekarang, sesuatu yang kita ciptakan yang
belum pernah ada sebelumnya, suatu keadaan yang akan kita wujudkan yang
belum pernah kita alami sebelumnya.
Berdasarkan pendapat di atas mengenai kepemimpinan visioner dan
pengertia visi, dapat disimpulkan bahwa visi merupakan peluruh, atribut atau
modal utama bagi kepemimpinan visioner. Visi dipengaruhi oleh
pengalaman, pendidikan, profesionalisme, interaksi atau komunikasi dan
tingkat intelektual seorang pemimpin dalam menentukan masa depan
organisasi.
Demikian pentingnya sebuah visi bagi kepemimpinan visioner
sehingga seorang pemimpin yang visioner harus mampu memahami konsep
visi, memahami karakterisik dan unsur visi, dan kepemimpinan visioner harus
memahami tujuan visi sebuah organsisasi.
Hal ini perlu dikuasai agar bisa menjadi perekayasa masa depan, agen
perubahan, penentu arah organisasi yang menjadi prioritasnya, pelatih dan
pembimbing yang profesional. Dengan memahami tentang Visi, diharapkan
seorang pemimpin dapat melakukan perubahan dalam menampilkan kekuatan
manajerial dan pembentukan ciri khas budaya guna merubah masa depan
organisas sesuai kebutuhan dan tuntutan zaman, sehingga dapat menghasilkan
sumber daya manusia yang handal sesuai harapan dan tujuan yang telah
ditetapkan.






8

2. Ciri-ciri kepemimpinan Visioner
Setiap pemimpin memiliki ciri khas tersendiri dalam memimpin
sebuah organisasi. Ada ciri-ciri tertentu yang melekat pada diri seorang
pemimpin dan dijadikan sebagai suatu kelayakan untuk menduduki jabatan
sebagai seorang pemimpi. Goleman (2004: 69) dalam buku terjemahan Susi
Purwoko mengungkapkan tentang ciri kepemimpinan visioner, yaitu :
Ciri-ciri kepemimpinan visioner menggunakan inspirasi bersama
dengan tritunggal EI, yaitu kepercayaan diri, kesadaran diri dan
empati, pemimpin visioner akan mengartikulasikan suatu tujuan yang
baginya merupaka tujuan sejati dan selaras dengan nilai bersama
otang-orang yang dipimpinnya. Dan karena memang meyakini visi
itu, mereka dapat membimbing orang orang menuju visi tersebut
dengan tegas. Tetapi dari semua kompetensi EI, empatilah yang
paling penting bagi kepemimpinan visioner. Kemampuan untuk
merasakan perubahan orang lain dan memahami sudut pandang
mereka berarti bahwa seorang pemimpin dapat mengartikulasikan
sebuah visi yang benar-benar menginspirasi.

Hal senada dikemukakan oleh Nasir (2012), ciri-ciri kepemimpinan
visioner sebagai berikut:
Berwawasan ke masa depan : pemimpin visoner mempunyai
pandangan yang jelas terhadap suatu visi yang ingin di capai, agar
organisasi yang dia masuki dapat berkembang. Sesuai dengan visi
yang ingin dia capai
Berani bertindak dalam meraih tujuan, penuh percaya diri, tidak
peragu dan selalu siap menghadapi resiko. Pada saat yang
bersamaan, pemimpin visioner juga menunjukkan perhitungan
yang cermat, teliti dan akurat. Dalam memperhitungkan kejadian
yang di anggapnya pentig.
Mampu menggalang orang lain untuk kerja keras dan kerjasama
dalam menggapai tujuan. Pemimpin visioner adalah sosok
pemimpin yang patut di contoh, dia mau membuat contoh agar
masyarakat sekitar mencontoh dia.
Mampu merumuskan visi yang jelas, inspirasional dan
menggugah, mengelola mimpi menjadi kenyataan : pemimpin
visioner sangatlah orang yang mempunyai komitmen yang kuat
terhadap visi di embannya, dia ingin mewujudkan visinya
kedalam suatu organisasi yang dia masuki.
Mampu mengubah visi ke dalam aksi : dia dapat merumuskan visi
kedalam misinya yang selanjutnya dapat diserap anggota
organisasi. Yang dapat menjadikan bahan acuan dalam setiap
melangkah kedepan
9

Berpegang erat kepada nilai-niliai spiritual yang diykininya :
pemimpin visioner sangatlah profesionalitas terhadap apa yang
diyakini, seperti nilai nilai luhur yang ada di bangsa ini. Dia
sosok pemimpin yang bisa dijadikan contoh.
Membangun hubungan (relationship) secara efektif : pemimpin
visoner sangatlah pandai dalam membangun hubungan antar
anggota, dalam hal memotivasi, memberi, membuat anggotanya
lebih maju dan mandiri. Secara tidak langsung hubungan itu akan
terjalin dengan sendirinya. Dia juga tidak malu malu dalam
member reward dan punnisment terhadap anggotanta, tinkat
integritasnya sangatlah tinggi
Innovative dan proaktif : dalam berfikir pemimpin vioner
sangatlah kreatif dia mengubah berfiir konvesiomal
menjadiparadigma baru, dia sangatlah sosok pemimpin yang
kreatif dan aktif. Dia selalu mengamati lankah langkah kedepan
dan isu isu terbaru tentang organisasi/instasi.

Mclaughin (2001) dalam Nur (2013) mengemukakan ciri-ciri
pemimpin visioner sebagai berikut:
Komitmen Terhadap Nilai Spiritual sebagai ciri yang paling
menonjol dari pemimpin visioner. Mereka mewujudkan rasa
integritas pribadi, dan memancarkan rasa energi, vitalitas dan
kehendak.
Memiliki inspirasi visi yang bersih dalam bentuk kemampuan
mewujudkan visi dasar yang telah ditrencanakan, didukung oleh
inspirasi positif dari masa depan, serta arah yang jelas tentang
bagaimana mencapai visi tersebut.
Menghormati hubungan baik diwujudkan dalam bentuk
kepedulian kepada orang lain dan menganggap bahwa mereka itu
adalah asset terbesar dalam suatu oraganisasi. Pemimpin visioner
mengedepankan pendekatan kemitraan dan menciptakan rasa
berbagi visi dan makna dengan orang lain. Mereka menunjukkan
rasa hormat yang lebih besar bagi orang lain dan hati-hati
mengembangkan semangat tim.
Berani mengambil langkah inovatif; melalui kemampuan
Pemimpin visioner mengubah paradigma lama, dan menciptakan
strategi yang "di luar kebiasaan" pemikiran konvensional dengan
pemikiran sistemik




10

3. Kompetensi yang dimiliki kepemimpinan visioner
Setiap pemimpin memiliki kompetensi tertentu, begitupun dengan
kepemimpinan visioner. Ada empat kompetensi yang dimiliki kepemimpinan
visoner menurut Burt Nanus (1992) dalam Suprayitno (2007: 119) adalah
a. Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk
berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan
lainnya dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk
menghasilkan guidance, encouragement, and motivation.
b. Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan
memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman
dan peluang. Ini termasuk, yang plaing penting, dapat "relate
skillfully" dengan orang-orang kunci di luar organisasi, namun
memainkan peran penting terhadap organisasi (investor, dan
pelanggan).
c. Seorang pemimpin harus memegang peran penting dalam
membentuk dan mempengaruhi praktik organisasi, prosedur,
produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat
dalam organisasi untuk menghasilkan dan mempertahankan
kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan
memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved
vision).
d. Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan
"ceruk" untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan
ssebuah bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data
untuk mengakses kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan
lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan untuk mengatur
sumberdaya organisasi guna memperiapkan diri menghadapi
kemunculan kebutuhan dan perubahan ini.

Barbara Brown dalam Wuri Setiawan (2009) mengemukakan sepuluh
kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin visioner yaitu:
1) Visualizing.
2) Futuristic Thinking.
3) Showing Foresight.
4) Proactive Planning.
5) Creative Thinking.
6) Taking Risks.
7) Process Alignment
8) Coalition building.
9) Continuous Learning.
10) Embracing Change.

11

Sepuluh kompetensi kepemimpinan visioner yang dikemukakan
Barbara Brown dapat dijelaskan sebagai berikut:
Kemampuan Memvisualisasikan
Pemimpin visioner mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang
hendak dicapai dan kapan hal itu akan dapat dicapai.
Memiliki Pola Pikir ke Depan
Pemimpin visioner tidak hanya memikirkan di mana posisi bisnis pada
saat ini, tetapi lebih memikirkan di mana posisi yang diinginkan pada
masa yang akan datang.
Menunjukkan Tinjauan/Rancangan ke Depan
Pemimpin visioner adalah perencana yang dapat memperkirakan masa
depan. Dalam membuat rencana, pemimpin visioner tidak hanya
mempertimbangkan apa yang ingin dilakukan, tetapi juga
mempertimbangkan teknologi, prosedur, organisasi, dan faktor lain yang
mungkin dapat memengaruhi rencana.
Perencana yang Proaktif
Pemimpin visioner menetapkan sasaran dan strategi yang spesifik untuk
mencapai sasaran tersebut. Pemimpin visioner mampu mengantisipasi
atau mempertimbangkan rintangan potensial dan mengembangkan
rencana darurat untuk menanggulangi rintangan itu.
Pemikiran Kreatif
Dalam menghadapi tantangan, pemimpin visioner berusaha mencari
alternatif jalan keluar yang baru dengan memperhatikan isu, peluang, dan
masalah. Pemimpin visioner akan berkata, "Jika sesuatu itu sulit,
pecahkanlah!"
Mengambil Risiko
Pemimpin visioner berani mengambil risiko dan menganggap kegagalan
sebagai peluang, bukan kemunduran.
Menyelaraskan Proses
12

Pemimpin visioner mengetahui bagaimana cara menghubungkan sasaran
dirinya dengan sasaran organisasi. Ia dapat dengan segera menyelaraskan
tugas dan pekerjaan setiap departemen pada seluruh organisasi.
Membangun Kerja Sama
Pemimpin visioner menyadari bahwa dalam rangka mencapai sasaran
dirinya, ia harus menciptakan hubungan yang harmonis, baik ke dalam
maupun ke luar organisasi. Ia aktif mencari peluang untuk bekerja sama
dengan berbagai macam individu, departemen, dan golongan tertentu.
Pembelajar yang Berkelanjutan
Pemimpin visioner harus mampu dengan teratur mengambil bagian
dalam pelatihan dan berbagai jenis pengembangan lainnya, baik di dalam
maupun di luar organisasi. Pemimpin visioner mampu menguji setiap
interaksi, negatif atau positif, sehingga mampu mempelajari situasi.
Pemimpin visioner mampu mengejar peluang untuk bekerja sama dan
mengambil bagian dalam proyek yang dapat memperluas pengetahuan,
memberikan tantangan berpikir, dan mengembangkan imajinasi.
Menyukai Perubahan
Pemimpin visioner mengetahui bahwa perubahan merupakan suatu
bagian yang penting bagi pertumbuhan dan pengembangan. Ketika
ditemukan perubahan yang tidak diinginkan atau tidak diantisipasi,
pemimpin visioner dengan aktif menyelidiki jalan yang dapat
memberikan manfaat pada perubahan tersebut.

4. Langkah-langkah kepemimpinan visioner
Visi adalah wawasan ke depan yang ingin dicapai oleh organisasi
dalam kurun waktu tertentu. Visi yang jelas dapat mendorong terjadinya
perubahan dalam organisasi. Visi inilah yang mendorong sebuah organisasi
untuk senantiasa tumbuh, belajar, serta berkembang dalam mempertahankan
keberadaannya sehingga bisa bertahan sampai beberapa generasi. Visi
tersebut dapat mengikat seluruh anggotanya, juga mampu menjadi sumber
inspirasi dalam menjalankan tugas mereka. Oleh karena itu, visi yang
13

diciptakan bersama juga berfungsi membangkitkan dan mengarahkan kerja
para anggotanya. Menjalankan visi secara benar akan memberikan dampak
yang mencerahkan organisasi.
Ada empat langkah yang harus dilalui kepemimpinan visioner yaitu
penciptaan visi, perumusan visi, tranformasi visi, dan implementasi visi.
Adapun penjabaran dari keempat langkah tersebut, sebagai berikut:
a. Penciptaan visi
Pemimpin sebagai pencipta visi berarti mampu memikirkan
secara kreatif masa depan organisasi. Terbentuknya visi dipengaruhi oleh
pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman profesional, interaksi dan
komunikasi internasional, pertemuan kelimuan, serta kegiatan intelektual
yang membentuk pola pikir (mindset) tertentu.
Visi merupakan gambaran masa depan yang lebih baik,
mendekati harapan, atraktif dan realistis yang didalamnya terdapat
intisari dari arah dan tujuan, misi, norma dan nilai yang merupakan satu
kesatuan yang utuh. Visi yang tercipta dari hasil kreatifitas pikir
pemimpin dengan pengikut/personil lain berupa ide-ide ideal tentang
cita-cita organisasi di masa depan yang ingin diwujudkan bersama .
b. Perumusan visi
Kepemimpinan visioner dalam tugas perumus visi adalah
kesadaran akan pentingnya visi dirumuskan dalam statement yang jelas
agar menjadi komitmen semua personil dalam mewujudkannya sehingga
pemimpin berupaya mengelaborasi informsi, cita-cita, keinginan peribadi
dipadukan dengan citacita/ gagasan personil lain dalam forum
komunikasi yang intensif sehingga menghasilkan kristalisasi visi
organisasi. Visi perlu dirumuskan dalam statement yang jelas dan tegas
dan perumusannya harus melibatkan stakeholders dengan fase kegiatan
sebagai beirkut:



14

(1) Pembentukan dan perumusan visi oleh anggota tim kepemimpinan
(2) Merumuskan strategi secara konsensus
(3) Membulatkan sikap dan tekad sebagai total commitment untuk
mewujudkan visi ini menjadi suatu kenyataan.
c. Transformasi visi
Transformasi visi merupakan kemampuan membangun
kepercayaan melalui komunikasi yang intensif dan efektif sebagai upaya
shared vision pada stakeholders sehingga diperoleh sense of belonging
dan sense of ownership. Visi harus ditransformasikan dengan melakukan
upaya berbagi visi dan diharapkan terjadi difusi visi dan menimbulkan
komitmen seluruh personel.
d. Implementasi visi
Implementasi visi merupakan kemampuan pemimpin dalam
menjabarkan dan menerjemahkan visi ke dalam tindakan. Visi yang tidak
diimplementasikan adalah slogan dan simbol-simbol yang tidak banyak
berpengaruh terhadap kinerja, bahkan secara ekstrem dapat dikatakan
bahwa tanpa implementasi, statement-statement yang diyakini sebagai
visi sebenarnya bukanlah visi. Visi harus diwujudkan dalam kerja
kepemimpinan.
Frank Martinrly dalam Qipti (2013) menguraikan bagaimana
seharusnya menjadi pemimpin yang visioner. Menurutnya ada lima langkah
yang semestinya dilakukan yaitu:
1) Fokus pada kepada tujuan organisasi
2) Membuat rencana jangka panjang
3) Mengembangkan visi bagi masa depan organisasi
4) Selalu berada dalam kondisi siap dan dinamis untuk perubahan
5) Selalu mengetahui perubahan kebutuhan konstituen/pelanggan.
Adapun penjabaran dari kelima langka di atas sebagai berikut:
1) Fokus kepada Tujuan Organisasi
Seluruh tindakan dan pengambilan keputusan harus di arahkan kepada
semata-mata upaya pencapaian tujuan final dari organisasi. Hal ini
dilakukan guna menghindari segala kecenderungan dan godaan
15

penyitaan energi dan pemborosan sumber daya kepada hal-hal kecil dan
tidak prinsip yang mungkin timbul. Untuk menjaga agar semua rencana
aksi focus kepada tujuan organisasi, memerlukan kekompakkan dan
pemeliharaan hubungan antara pimpinan dan seluruh staff/karyawan.
2) Membuat Rencana Jangka Panjang
Permusan jangka panjang akan menuntun kepada langkah yang jelas
sampai 5-10 tahun ke depan, siapa-siapa saja yang akan memimpin dan
bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan tersebut, kompetensi
kepemimpinan yang bagaimana yang diperlukan, lalu bagimana disain
pengembangan kepemimpinannya?. Untuk dapat menjawab pertanyaan-
pertanyaan ini perlu membentuk semacam komite yang ditugaskan untuk
menyiapkan langkah-langkah strategis pencapaian tujuan jangka panjang,
yang lingkup tugasnya antara lain: melakukan rekrutmen, seleksi,
orientasi, pelatihan, performance assessment dan penetapan tugas dan
tanggung jawab masing-masing.
3) Mengembangkan Visi bagi masa depan organisasi.
Kunci perumusan visi adalah menjawab pertanyaan: apabila kita
menginginkan dan bermimpi akan seperti dan menjadi apa organisasi kita
kelak di kemudian hari?. Begitu rumusan visi telah dibuat, maka
seharusnya visi tersebut akan menjadi inspirasi bagi seluruh aktivitas
organisasi, baik dalam rapat-rapat, dalam perbincangan, dalam
menghadapi segala tantangan dan peluang, dalam arena kerja. Begitu visi
telah dirumuskan, maka saat itu pula, visi disampaikan ke seluruh pihak
terkait di dalam organisasi, bahkan ke ruang-ruang public di luar
organisasi.
4) Selalu berada dalam kondisi siap dan dinamis untuk perubahan.
Selalu siap berubah dengan cepat akan terbantu dengan menyajikan
informasi-informasi mutakhir tentang segala perubahan yang terjadi di
luar organisasi yang berpotensi berdampak kepada organisasi 3-5 tahun
16

ke depan. Dorong dan fasilitasi anggota orgasnisasi untuk membaca,
mendengar dan mencari tahu segala hal yang terkait dengan kejadian-
kejadian dan berita yang relevan dengan tuntutan perubahan. Kemudian
setelah itu munculkan pertanyaan yang menantang: sejauhmana
organisasi mampu secara efektif merespon perubahan dan
kecenderungan-kecenderungan tersebut? Bagaimana pula organisasi lain
yang sejenis menyiapkan diri mereka menghadapi perubahan-perubahan
ini? Pertanyaan-pertanyaan iti seyogyanya akan dapat memicu dan
memacu anggota organisasi untuk berfikir dan memposisikan diri mereka
untuk siap berubah.
5) Selalu mengetahui perubahan kebutuhan konstituen/pelanggan.
Keinginan dan kebutuhan pelanggan seringkali mengalami perubahan.
Oleh karena itu, seharusnya organisasi menyediakan informasi-infromasi
aktual yang terkait dengan hal ini. Survey kepuasan pelanggan, kontak
langsung dengan pelanggan, mengefektifkan layanan customer care,
adalah beberapa cara yang dapat dilakukan agar orgnisasi selalu
mengetahui harapan dan keinginan pelanggan yang baru. Dengan
demikian organisasi akan selalu siap untuk melakukan perubahan dan
perbaikan untuk menjaga kepuasan pelanggan.
5. Peran Kepemimpinan Visioner
Burt Nanus (1992) dalam Komariah dan Triatna (2005: 94),
mengungkapkan ada empat peran yang harus dimainkan oleh pemimpin
visioner dalam melaksanakan kepemimpinannya, yaitu:
a. Peran penentu arah, (direction setter)
b. Agen perubahan (agen of change)
c. Juru bicara (spokesperson)
d. Pelatih (Coach)





17

Penjabaran dari keempat peran yang harus dimainkan oleh
kepemimpinan visioner yaitu:
a. Peran penentu arah (direction setter).
Peran ini merupakan peran di mana seorang pemimpin menyajikan suatu
visi, meyakinkan gambaran atau target untuk suatu organisasi, guna
diraih pada masa depan, dan melibatkan orang-orang dari get-go. Hal
ini bagi para ahli dalam studi dan praktek kepemimpinan merupakan
esensi dari kepemimpinan. Sebagai penentu arah, seorang pemimpin
menyampaikan visi, mengkomunikasikannya, memotivasi pekerja dan
rekan, serta meyakinkan orang bahwa apa yang dilakukan merupakan hal
yang benar, dan mendukung partisipasi pada seluruh tingkat dan pada
seluruh tahap usaha menuju masa depan.
b. Agen perubahan (agent of change).
Agen perubahan merupakan peran penting kedua dari seorang pemimpin
visioner. Dalam konteks perubahan, lingkungan eksternal adalah pusat.
Ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan politis terjadi secara terus-
menerus, beberapa berlangsung secara dramatis dan yang lainnya
berlangsung dengan perlahan. Tentu saja, kebutuhan pelanggan dan
pilihan berubah sebagaimana halnya perubahan keinginan
parastakeholders. Para pemimpin yang efektif harus secara konstan
menyesuaikan terhadap perubahan ini dan berpikir ke depan tentang
perubahan potensial dan yang dapat dirubah. Hal ini menjamin bahwa
pemimpin disediakan untuk seluruh situasi atau peristiwa-peristiwa yang
dapat mengancam kesuksesan organisasi saat ini, dan yang paling
penting masa depan. Akhirnya, fleksibilitas dan resiko yang dihitung
pengambilan adalah juga penting lingkungan yang berubah.
c. Juru bicara (spokesperson).
Memperoleh pesan ke luar, dan juga berbicara, boleh dikatakan
merupakan suatu bagian penting dari memimpikan masa depan suatu
organisasi. Seorang pemimpin efektif adalah juga seseorang yang
mengetahui dan menghargai segala bentuk komunikasi tersedia, guna
18

menjelaskan dan membangun dukungan untuk suatu visi masa depan.
Pemimpin, sebagai juru bicara untuk visi, harus mengkomunikasikan
suatu pesan yang mengikat semua orang agar melibatkan diri dan
menyentuh visi organisasi-secara internal dan secara eksternal. Visi yang
disampaikan harus bermanfaat, menarik, dan menumbulkan kegairahan
tentang masa depan organisasi.
d. Pelatih (coach).
Pemimpin visioner yang efektif harus menjadi pelatih yang baik. Dengan
ini berarti bahwa seorang pemimpin harus menggunakan kerjasama
kelompok untuk mencapai visi yang dinyatakan. Seorang pemimpin
mengoptimalkan kemampuan seluruh pemain untuk bekerja sama,
mengkoordinir aktivitas atau usaha mereka, ke arah pencapaian
kemenangan, atau menuju pencapaian suatu visi organisasi. Pemimpin,
sebagai pelatih, menjaga pekerja untuk memusatkan pada realisasi visi
dengan pengarahan, memberi harapan, dan membangun kepercayaan di
antara pemain yang penting bagi organisasi dan visinya untuk masa
depan. Dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat dibantah bahwa
pemimpin sebagai pelatih, lebih tepat untuk ditunjuk sebagai player-
coach.









19

BAB III
KESIMPULAN
Kepemimpinan sangat berpengaruh dalam proses penyelenggaraan
organisasi agar pengaruh yang timbul dapat meningkatkan kinerja personil secara
optimal. Maka pemimpin harus memiliki wawasan dan kemampuan dalam
melaksanakan gaya kepemimpinan.
Kepemimpinan visoner adalah kepmimpinan yang mampu menggerakkan
seluruh sumberdaya menjalankan misi agar dapat mendekati visi yang ditetapkan.
Kepemimpinan visioner memahami wawasan jauh kedepan dan memiliki
kemampuan membawa organisasinya berkembang dan mampu menghadapi segala
tantangan zaman. Kepemimpinan visioner dapat dinilai dari bagaimana ia
merumuskan dan mengimplementasikan visi.














20

DAFTAR PUSTAKA
Alaydroes. Fahmi. 2008. Kepemimpinan Visioner, (Online). http://pendidikan-
umat.blogspot.com/2008/01/kepemimpinan-visioner.html, Diakses 07
Oktober 2014)
Dharma, Surya dan Usman, Husaini. 2008. Wahana Saling Bertukar Pandangan
dan Pengalaman untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan. Jurnal Tenaga
Pendidikan Vol. 3, No. 2, 1-21
Goleman, Daniel., Boyatzis, Richard & Mckee, Annie. 2004. Kepemimpinan
Berdasarkan Kecerdasan Emosi. Jakarta: Gramedia
Komariah, Aan & Triatna, Cepi. 2005. Visionary Leadership Menujju Sekolah
Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mulyasa. 2007. Manajemen Berbasi Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nasir, Ibnu. 2012. Kepemimpinan Visioner (Online). (http://ibnunsr. wordpress.
com/2012/06/05/kepemimpinan-visioner/, Diakses, 08 Oktober 2014)
Nawawi, Hadari. 2003. Kepemimpinan Mengefektifkan organisasi. Yogyakarta:
Gadjah Mada University Press.
Nur, R N. 2013. Visionary Leadership dan Servant Leadership (Online). (http://
cahlassoed. blogspot. com/2013/01/ visionary-leadership-dan-servant.
html, Diakses, 08 Oktober 2014)
Suprayitno. 2007. Pemimpin Visioner dalam Perubahan Organisasional. Jurnal
Ekonomi dan Kewirausahaan, (Online) Vol. 7, No. 2, Oktober 2007 : 115
123 (http:// download. portalgaruda.org/ article.php? article=
115098&val= 5259&title=, Diakses 05 Oktober 2014).
Thoha, Miftah. 2010. Kepemimpinan dalam Manajemen. Jakarta: Rajawali Pers.
Unila, Mathedu. 2009. Pemimpin Visioner (Online), (http://mathedu-
unila.blogspot.com/2009/10/pemimpin-visioner.html, Diakses 07 Oktober
2014)
Qibti. 2013. Kepemimpinan Visioner Kepala Sekolah (Online).( http:// rapendik.
com/ program/wandira/ manajemen-sekolah/1392-kepemimpinan-visioner-
kepala-sekolah.html, Diakses 08 Oktober 2014)
21

Wahyudi. 2009. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajaran
(Learning Organization). Bandung: Alfabeta.
Wuri Setiawan. 2009. Peran Kepemimpinan Visioner untuk Menghasilkan Calon
Pendidik yang Berkarakter Kuat dan Cerdas di Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS Surakarta, (Online).
(http://eprints.uns.ac.id/3551/1/173362312201007331.pdf, Diakses 07
Oktober 2014)