Anda di halaman 1dari 14

EKOSISTEM SUNGAI

Carissa Paresky Arisagy


12/334991/PN/12981
Manajemen Sumberdaya Perikanan

Intisari
Keanekaragaman organisme yang terdapat pada ekosistem sungai dapat menjadi indikator
pencemaran dari ekosistem sungai. Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari
karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya. Lalu untuk mempelajari
cara pengambilan data parlementer lingkungan, mempelajari korelasi antara parlementer
lingkungan dengan kehidupan biodata perairan dan mempelajari kualitas perairan
berdasarkan indeks diversitas biodata perairan. Pengamatan dilaksanakan di sungai
Tambak Bayan pada tanggal20 April 2013. Pengamatan dilakukan secara langsung dengan
pengambilan sampel untuk dianalisis kandungan parameternya, baik fisik, kimia, maupun
biologi. Nilai parameter yang diperoleh, dianalisis hingga dapat ditentukan kualitas dari
suatu perairan berdasarkan korelasinya dengan biodata perairan. Berdasarkan hasil
penelitian stasiun dengan kondisi terbaik yaitu stasiun 1 dan yang teburuk adalah stasiun 2,
hal ini dilihat berdasarkan nilai denditas dan diversitas makrobentos yang berada di
perairan tersebut menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Sungai Tambak Bayan memiliki
kualitas perairan yang cukup baik.
Kata kunci : densitas , diversitas , parameter , plankton , sungai

PENDAHULUAN
Meskipun di permukaan bumi ini habitat air tawar relatif kecil apabila
dibandingkan dengan habitat lautan dan daratan, habitat air tawar juga memiliki peran
yang tidak kalah penting dibandingkan dengan habitat-habitat lainnya di permukaan bumi,
sebab ekosistem air tawar menyediakan sumber-sumber yang mudah didapat dan murah
untuk keperluan rumah tangga dan industri. Salah satu yang terpenting diantaranya adalah
sebagai penyedia air tawar. Akan tetapi, sungai sebagai salah satu ekosistem air tawar kini
perannya sudah mulai bergeser. Bergesernya fungsi sungai tersebut timbul karena adanya
tingkat pencemaran yang tinggi pada ekosistem sungai akibat adanya limbah baik limbah
produksi maupun rumah tangga. Kualitas dari sungai itu sendiri sangat ditentukan oleh
faktor-faktor pembatasnya seperti suhu, pH, alkalinitas, CO
2
, DO, kecepatan arus, densitas
plankton, dan diversitas plankton. Karena pergeseran peran dari ekosistem sungai tersebut,
maka dirasa perlu untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut tingkat kualitas dari suatu
perairan tawar khususnya ekosistem sungai melalui praktikum ekologi perairan tentang
ekosistem sungai.
Ekosistem dapat diartikan sebagai suatu kesatuan dinamis yang terdiri dari
berbagai spesies makhluk hidup yang saling berinteraksi, termasuk di dalamnya komponen
biotik dan abiotik (Asdak,2002). Sungai adalah ekosistem air tawar yang bergerak atau
berarus (lotik) yang memberikan pengaruh besar terhadap berbagai organisme yang ada di
dalamnya (Ambarwati,2009). Sungai memiliki ciri khas yang sedikit berbeda dengan
ekosistem air tawar lainya. Arus sungai yang cukup deras mengakibatkan O2 yang terlarut
menjadi tinggi (Odum, 1993). Air sungai yang mengalir membuat plankton tidak bisa
berdiam dan akan terbawa arus sebagai gantinya terjadi fotosintesis dari ganggang yang
melekat, sehingga dapat mendukung rantai makanan. Faktor-faktor ataupun fenomena
yang terjadi di sungai sehingga mempengaruhi kehidupan flora dan fauna yaitu, kecepatan
arus, erosi, dan sedimentasi (Effendi, 2003). Berdasarkan analisa kandungan unsur-unsur
kimia pada indikator biologi maupun fisik dapat dijadikan petunjuk ada tidaknya
perubahan lingkunagn dari keadaan seimbangnya (Marsono,2004). Perubahan dari
keadaan seimbang itulah yang dapat dijadikan parameter kualitas suatu perairan tercemar
atau tidak.
Adapun praktikum ekologi perairan mengenai ekosistem sungai ini dilaksanakan
dengan tujuan mempelajari karakteristik ekosistem sungai dan faktor-faktor pembatasnya.
Selain itu adalah untuk mempelajari cara-cara pengambilan data tolak ukur (parameter)
fisik, kimia dan biologi suatu perairan serta mempelajari korelasi antara tolok ukur
lingkungan dengan populasi biota perairan. Di samping itu praktikum ini juga bertujuan
untuk mempelajari kualitas perairan sungai berdasarkan indeks diversitas biota perairan.

METODOLOGI
Praktikum Ekologi Perairan acara ekosistem sungai dilaksanakan pada hari
Selasa, 2 April 2013 pukul 13.30 hingga 17.00 di Sungai Tambak Bayan. Pengamatan
ekositem sungai dibagi menjadi 4 stasiun. Keempat stasiun tersebut dibagi mulai dari hulu
hingga hilir sungai.
Pada masing-masing stasiun dilakukan pengambilan data parameter fisik seperti
suhu udara dan suhu air, kecepatan arus, dan debit air. Selain parameter fisik dilakukan
juga pengambilan data parameter kimia seperti DO, CO
2
bebas, alkalinitas dan pH dengan
mengambil sampel air danau lalu diukur dengan pH meter di laboratorium. Di samping itu
, juga dilakukan pengambilan data parameter biologi seperti densitas dan diversitas
makrobentos serta plankton. Pada masing-masing stasiun mengambil cuplikan
makrobentos dengan menggunakan plot dari kayu dan pengidentifikasian dilakukan
dengan bantuan mikroskop. Densitas makrobentos dinyatakan dalam satuan individu per
luas plot, sedangkan indeks diversitas makrobentos dihitung dengan rumus Shannon-
Wiener yaitu dengan persamaan H berbanding lurus dengan negatif sigma dari ni dibagi N
dikali
2
log ni dibagi N dengan H=indeks keanekaragaman, ni=cacah individu suatu genus,
N=cacah individu seluruh genera. Kemudian dilakukan pengukuran beberapa tolok ukur
lingkungan. Pengukuran suhu dilakukan dengan menggunakan termometer. Pengukuran
kecepatan arus dilakukan dengan menggunakan bola pingpong yang dilepaskan dengan
jarak tertentu dari hulu ke hilir. Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan pH meter.
Kandungan O
2
terlarut (DO) ditentukan dengan menggunakan metode Winkler. Hasil
titrasi awal hingga akhir (h + j = Y). O
2
terlarut (DO) ditentukan melalui persamaan
kandungan O
2
terlarut yang berbanding lurus dengan Y, 1000, 0,1 mg/l dan berbanding
terbalik denagn 50. Kandungan CO
2
bebas ditentukan melalui metode Alkalimetri. Volum
titran yang diperoleh dari hasil titrasi (C ml). Kandungan CO
2
bebas dihitung dengan
rumus 1000 dikali C dikali 1 mg/l dibagi dengan 50. Pengukuran Alkalinitas ditentukan
dengan menggunakan metode Alkalimetri. Alkalinitas dihitung dengan menjumlahkan
kandungan CO
3
2-
dan HCO
3
-
. Kandungan CO
3
-
ditentukan dengan mengalikan 1000
dengan C dikali 1 mg/l kemudian dibagi dengan 50. Kandungan HCO
3
-
ditentukan dengan
mengalikan 1000 dengan D dan 1 mg/1 dan dibagi dengan 50.
Adapun alat-alat dan bahan-bahan yang digunakan dalam acara praktikum ini
adalah bola tenis meja, stopwatch, roll meter, meteran / penggaris, termometer, botol
oksigen, erlenmeyer, gelas ukur, kempot, pipet ukur, pipet tetes, ember plastik, pH meter,
plat bamboo, sikat halus, saringan, lertas label, alat tulis dan mikroburet. Bahan-bahan
yang digunakan antara lain larutan MnSO
4
, larutan reagen O
2
, larutan H
2
SO
4
, larutan 1/8
N Na
2
S
2
O
3
, larutan KOH-KI, larutan 1/40 N Na
2
S
2
O
3
, larutan 1/44 N NaOH, larutan 1/50
N H
2
SO
4
, 1/50 N HCI, larutan indikator PP, larutan indikator amilum, larutan indikator
MO, larutan 4% formalin, larutan indikator (BCG/MR).


HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum ekosistem sungai dilaksanakan di sungai Tambak Bayan yang dibagi
menjadi 4 stasiun pengamatan. Stasiun 3 terletak dibawah jembatan, dimana di sekitar
sungai terdapat tambak budidaya ikan. Kondisi sungai berbatu-batu dengan air yang cukup
bersih, sehingga banyak digunakan sebagai tempat mandi atau sekerdar memandikan
hewan peliharaan . Dipinggiran sungai ditumbuhi vegerasi seperti pohon pisang dan
rumput liar. Pada saat pengamatan kondisi cuaca mendung dan gerimis, sehingga lokasi
agak sulit dijangkau karena rute yang ditempuh berbatu dan sedikit curam.
Tabel 1. Hasil pengamatan parameter fisik, kimia, dan biologi ekosistem sungai Tambak Bayan
Parameter
Stasiun
1 2 3 4
Fisik

Suhu udara (C) 29 - 28.6 33.5
Suhu air (C) 26.33 - 29.6 30
Kecepatan arus (m/s ) 0,68 0,34 0,53 1.095
Debit (m
3
/s) 0,702 0.05 0.85 2.14
Kimia
DO (ppm) 6.23 5.6 5.9 3.3
CO2 (ppm) 13.8 5.7 10 12.9
Alkalinitas (ppm) 85 38 63 96
pH 7 7 7.1 7
Biologi
Densitas plankton (idv/L) 55 62,5 92,5 77,5
Diversitas plankton 0.2027 1.0263 1.5454 2.2125
Densitas Makrobentos (idv/m2) 350 437,5 50 43,75
Diversitas Makrobentos 0.7607 0 0 0,59
Densitas Gastropoda (idv/m2) 106,99 1089,87 11,31 7,55
Cuaca Berawan Mendung Mendung Hujan
Vegetasi
Pohon
rimbun
Pohon
Rindang
Semak
semak
Pohon
rimbun

Kondisi pada stasiun 3 , berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa suhu
udaranya adalah sebesar 28,6
o
C dan suhu air sebesar 29,6
o
C , keadaan tersebut dapat
dipengaruhi oleh kondisi cuaca pada daerah stasiun 3 yang mendung. Kecepatan arus dan
debit air pada stasiun 3 relatif sedang, sebab stasiun 3 terletak di daerah tengah antara hulu
dan hilir. Pada data parameter kimia, menunjukan kndungan DO , CO
2
dan Alkalinitas
sebesar 4,2 : 8,4 dan 278 ppm. Dari data tersebut diketahui bahwa kandungan DO lebih
rendah apabila dibandingkan dengan CO
2
, hal ini dikarenakan intensitas cahaya yangt
diterima oleh air sungai relatif kecil. Sehingga menyebabkan proses fotosintesis tidak
berlangsung dengan sempurna. Akan tetapi disisi lain aktivitas respirasi organisasi lain di
dalam sungai seperti makrobentos masih tetap berlangsung hingga menyebabkan O
2
yang
terkandung dalam air menjadi lebih sedikit dibandingkan dengan CO
2
bebasnya.
Kandungan Alkalinitas pada stasiun 3 relati sedang , apabila dibandingkan dengan
alkalinitas pada stasiun lain . pada data parameter biologi menunjukan densitas plankton
yang cukup tinggi yakni 92,5 idv/l , dan diversitas plankton yang tinggi pula dengan besar
nilai 1,5454. Sementara densitas makrobentos yang relatif rendah 50 idv/m
2
, dengan
deversitasnya 0 . hal tersebut dapat disebabkan adanya arus yang cukup deras.







Grafik 1. Suhu vs Stasiun

Dari grafik tersebut diketahui bahwa suhu udara tertinggi berada pada stasiun 4 ,
begitu juga suhu air tertinggi juga berada pada stasiun 4 , hal tersebut sesuai dengan teori.
Menurut Shyham (2010) , semakin tingginya kedudukan suatu tempat , temperatur udara
di tempat tersebut semakin rendah , begitu juga sebaliknya semakin rendah suatu tempat .
temparatur udara akan semakin tringgi . diketahui bahwa stasiun 4 berada pada bagian hilir
yang berarti dapat menunjukan bahwa stasiun 4 berada pada daerah yang rendah , oleh
sebab itulah pada stasium-stasiun sebelumnya . suhu air terendah juga dimiliki oleh sebab
itulah pada stasiun 1 yang terletak di daerah yang lebih tinggi dari daerah lain/stasiun lain.
Akan tetapi suhu udara terendah dimiliki oleh stasiun 3 , hal tersebut tidak sesuai dengan
teori , ketidaksesuaian trsebut dapat diakibatkan pada stasiun 3 dipengaruhi oleh cuaca
yang mendung, adanya vegetasi yang menutupi jalannya penetrasi cahaya atau hal-hal
tersebut juga dapat diakibatkan adanya perbedaan waktu pengambilan data yang tidak
seragam sehingga menyebabkan data menjadi tidak sesuai.
0
10
20
30
40
0 2 4 6
S
u
h
u

(
o
C
)

Stasiun
Suhu Udara vs Suhu Air vs
Stasiun
Suhu Udara
Suhu Air
Linear (Suhu
Udara)
Linear (Suhu Air)
0
0.5
1
1.5
0 2 4 6
K
e
c
e
p
a
t
a
n

A
r
u
s

(
m
/
s
2
)

Stasiun
Kecepatan Arus vs Stasiun
Kecepatan Arus vs
Stasiun
Berdasarkan grafik, suhu pada masing-masing stasiun berbeda-beda, hal ini
dikarenakan kondisi lingkungan ( vegetasi ) yang berbeda-beda walaupun beberapa stasiun
keadaan cuacanya sama. Dan rata-rata suhu udara dan air pada masing-masing stasiun
menunjukkan suhu udara pada masing-msing stasiun lebih besar dibandingkan suhu
airnya. Hal ini disebabkan air memiliki kerapatan molekul yang lebih tinggi sehingga
mampun menyimpan panas lebih lama dibandingkan molekul udara (Purwakusuma, 2005).
Selain itu berdasarkan grafik keempat stasiun, stasiun I yang merupakan hulu sungai
memiliki suhu paling rendah (Victor dan Fufeyin, 1993).






Grafik 2. Kecepatan Arus vs Stasiun
Arus pada bagian hulu lebih besar dibanding daerah yang berada di hilir atau
menuju hilir (Wardini , 2002). Kecepatan arus merupakan faktor terpenting dari perairan
lotik (Whitton, 1975). Berdasarkan grafik kecepatan arus vs stasiun menunjukan stasiun 4
memiliki kecepatan arus yang tinggi. Kecepatan arus berkurang pada stasiun 2 dan
meningkat pada stasiun 3 dan 4. Hal tersebut menunjukan ketidaksesuaian dengan teori
yang ada. Keadaan ini dapat disebabkan oleh perbedaan ketinggian atau besar derajat
kemiringan sungai. Besar kecepatan arus pada stasiun-stasiun tersebut juga dipengaruhi
oleh sampah-sampah yang terbawa arus dan batu-batuan yang terdapat di perairan sungai
sehingga dapat mengurangi kecepatan arus (Fauzi, 2001).











Grafik 3. Debit vs Stasiun

Seperti halnya kecepatan arus , debit air pada stasiun 1 relatif sedang kemudian
pada stasiun 2 mengalami penurunan, namun meningkat pada stasiun 3 dan 4. Debit
merupakan volume air mengalir dalam selang waktu tertentu ( Haslam, 2001 ). Debit air
pada stasiun 1 adalah 0,702 m/s. besar debit pada stasiun ini dipengaruhi oleh kedalaman
air, lebar sungai dan panjang sungai. Debit pada stasiun 2 adalah 0,05 m/s. debit pada
stasiun ini merupakan debit paling rendah dibandingkan stasiun lainnya. Hal ini
dikarenakan kondisi perairan yang sempit serta keadaan perairan yang tidak begitu dalam.
Pada stasiun 3 debit airnya 0,85 m/s sama seperti stasiun lainnya, stasiun ini dipengaruhi
oleh kedalaman, lebar, panjang sungai, selain itu banyak dimanfaatkan warga untuk
mencuci, mandi sehingga mempengaruhi besar kecilnya debit air. Debit air pada stasiun 4
sebesar 2,24 m/s. Pada stasiun 4 ini berdasarkan grafik merupakan stasiun yang memiliki
debit air paling tinggi dibandingkan lainnya. Hal ini disebabkan karena kondisi kedalaman
sungai lebih dalam dan stasiun lainnya, serta lebarnya sungai lebih lebar dibandingkan
lainnya. Lebar dan kedalaman menjadi faktor pentiing dalam menentukan debit air
(Effendi, 2003).






0
0.5
1
1.5
2
2.5
0 2 4 6
D
e
b
i
t

A
i
r

(
m
3
/
s
e
k
o
n
)

Stasiun
Debit vs Stasiun
Debit vs Stasiun






Grafik 4. DO vs Stasiun
Berdasarkan grafik tersebut diketahui bahwa kandungan DO tertinggi terdapat
pada stasiun 1 dengan besar 6,23 ppm. Hal ini telah sesuai dengan teori sebab kadar DO
dipengaruhi oleh ketinggian. Stasiun 1 merupakan daerah hulu yang paling tinggi diantara
daerah lainnya, sehingga kadar DO nya tinggi. Kadar DO juga dipengaruhi oleh ada
tidaknya bahan pencemar. Stasiun 1 lingkungannya masih terjaga sehingga kadar
cemarannya sedikit. Berbeda dengan stasiun 2, 3, dan 4 yang telah terpengaruh oleh
kandungan-kandungan yang terbawa oleh arus dari stasiun sebelumnya. Besar kecilnya
kadar DO dapat dijadikan indikator timbulnya pencemaran . menurut Asdak (2004).
Berdasarkan grafik , stasiun 4 memiliki kadar DO yang relatif kecil , sehingga dapat
dikatakan bahwa pada stasiun sudah timbul / muncul tanda-tanda pencemaran. Hal tersebut
dapat terjadi karena stasiun 4 terletak pada hilir yang memungkinkan bahan-bahan
penyebab pencemaran terbawa oleh arus dari stasiun-stasiun sebelumnya. Bahan-bahan
penyebab pencemaran tersebut dapat berupa limbah rumah tangga maupun limbah industri.
Penurunan kadar DO juga dapat diakibatkan oleh keadaan dasar sungai yang berlumpur.
Dasar sungai berlumpur menyebabkan DO terikat di dalamnya.
Kadar oksigen terlarut di dalam perairan ditentukan oleh temperature ( suhu )
perairan, kadar garam, dan tekanan parsial gas yang terlarut dalam air ( Brown, 1957 ).
Kandungan DO pada stasiun 1 adalah 6,23 ppm dan merupakan stasiun yang memiliki
kandungan DO tertinggi. Hal ini dipengaruhi oleh suhu air di dalam perairan yang rendah
mengakibatkan kandungan DO di stasiun ini tinggi.DO pada stasiun 2 sebesar 5,6 ppm
lebih rendah dibandingkan pada stasiun 1. sedangkan stasiun 3 kadar DO sebesar 5,9 ppm.
Hal ini dipengaruhi oleh suhu air yang cukup rendah dan juga keanekaragaman hayati
yang cukup baik. Kadar DO pada stasiun 4 tergolong rendah sebesar 3,3 ppm. Hal ini
0
2
4
6
8
0 2 4 6
D
O

Stasiun
DO vs Stasiun
DO vs Stasiun
disebabkan tingginya suhu air dan juga vegetasi sekitar, semakin tinggi suhu perairan
maka kandungan DO rendah ( Alfianti, 2009 ).








Grafik 5. CO
2
vs Stasiun
Berdasarkan grafik, kandungan CO2 bebas tertinggi berada pada stasiun 1 , dengan
besar nilai kandungan 13,8 ppm. hal ini dipengaruhi oleh kandungan jumlah sampah yang
banyak di perairan. Sehingga di perombakan bahan organic dari sampah tersebut akan
menghasilkan CO2 yang tinggi juga. Sedangkan pada stasiun 2 kadar CO2 sebesar 5,7 ppm
dan merupakan stasiun yang memiliki kadar CO2 terendah dibandingkan stasiun lainnya.
Hal ini disebabkan pada stasiun ini terdapat sedikit sampah. Sehingga sedikit sekali terjadi
perombakan bahan organic dari sampah yang menghasilkan CO2. Hal tersebut juga dapat
dikarenakan pada stasiun 2 memiliki tingkat densitas makrobentos yang membutuhkan
banyak oksigen dibandingkan dengan karbondioksida. CO2 memiliki sifat kelarutan yang
tinggi sehingga keberadaannya relatif tinggi di perairan ( Effendi, 2003 ).







Grafik 6. Alkalinitas vs Stasiun
0
5
10
15
0 2 4 6
C
O
2

Stasiun
CO2 vs stasiun
CO2 vs stasiun
0
20
40
60
80
100
120
0 2 4 6
A
l
k
a
l
i
n
i
t
a
s

(
p
p
m
)

Stasiun
Alkalinitas vs Stasiun
Alkalinitas vs
Stasiun
Berdasarkan grafik tersebutkadar alkalinitas tertinggi terdapat pada stasiun 4. Hal
ini dikarenakan tingginya kandungan CO2 yaitu 12,9 ppm di dalam perairan. Tingginya
nilai alkalinitas menunjukkan bahwa kondisi perairan pada stasiun 4 sangat subur (Effendi,
2003). Alkalinitas yang baik untuk lingkungan >20 ppm (Lesmana,2005). Berdasarkan
data pengamatan besar kadar alkalinitas pada setiap stasiun telah menunjukan angka
alkalinitas yang baik. Alkalinitas menggambarkan kuantitas air (anionnya) untuk
menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas rendah menyebabkan nutrien bebas di air
sehingga banyak organisme yang hidup, dan sebaliknya. Alkalinitas pada stasiun 4 sesuai
sebab pada stasiun 4 hanya ditemukan sedikit organisme sebab niutrien yang terdapat
dalam air terikat, sehingga organisme kekurangan bahan pangan, sesuai dengan teori yang
diungkapkan setiowati (2007).






Grafik 7. pH vs Stasiun
Berdasarkan grafik percobaan , menunjukan hasil pengamatan parameter pH. Dari
pengamatan ditunjukan bahwa pH air rata-rata disetiapstasiun adalah 7 hal tersebut
dikarenakan kadar alkalinitas tinggi . menyebabkan basa. Namun kadar CO
2

tiinggimenyebabkan asam. sehingga pH nya netral. pH netral adalah 7. pH asam 0-7 dan
pH basa 7-14 (Purba, 1994). Pada grafik ditunjukan bahwa hanya terdapat sedikit
perbedaan pada stasiun 3 yang pH-nya sedikit lebih tinggi, yakni 7,1 kondisi tersebut
masih berada pada pH normal. Perbedaan pH dapat diakibatkan pencemaran limbah,
limbah basa semisal sabun maupun limbah pembuangan yang berasal dari rumah tangga
maupun industri. Sungai pada stasiun 3 masih digunakan warga untuk keperluan sehari-
hari seperti mandi dan mencuci. pH pada masing-masing stasiun tersebut dipengaruhi oleh
alkalinitas yang mampun menjaga kenetralan pH. Nilai pH sangat mempengaruhi proses
6.98
7
7.02
7.04
7.06
7.08
7.1
7.12
0 2 4 6
p
H

Stasiun
pH vs Stasiun
PH vs Stasiun
biokimiawi perairan, misalnya proses nitrifikasi akan berakhir jika pH rendah. Toksisitas
logam memperlihatkan peningkatan pH rendah (Novotny dan Oleh, 1994).






Grafik 8. Densitas Plankton vs Stasiun

Berdasarkan grafik , densitas plankton terbanyak ada pada stasiun 3 dan terendah
pada stasiun 1. Menurut Setiowati (2007). Air yang mengalir tidak mendukung kebeadaan
plankton . berdasarkan teori tersebut seharusnya densitas plankton tertinggi terdapat pada
stasiun 4 karena arusnya yang bersifat lambat. Akan tetapi pada pengamatan kecepatan
arus terendah berada pada stasiun 2 sementara stasiun 1 menunjukan kecepatan arus yang
relatif lambat. Hal tersebut dapat dikarenakan pada stasiun 3 mengandung banyak nutrien
dan kondisinya sesuai untuk plankton dapat hidup. Selain itu distribusi plankton tersebut
bisa juga dipengaruhi oleh kandungan DO serta CO
2
bebasnya. Semakin melimpah
kandungan DO maka densitas plankton akan semakin tinggi, begitu pula sebaliknya.






Grafik 9. Densitas Makrobentos Vs Stasiun
0
20
40
60
80
100
0 2 4 6
D
e
n
s
i
t
a
s

P
l
a
n
k
t
o
n

Stasiun
Densitas Plankton
Densitas Plankton
0
100
200
300
400
500
1 2 3 4
D
e
n
s
i
t
a
s


(

i
n
d
v

/

m
2
)

Stasiun
Densitas Makrobentos VS
Stasiun
Berdasarkan grafik tersebut densitas makrobentos tertinggi berada pada stasiun 2
dan terendah pada stasiun 4. Hal ini sesuai dengan teori. Arus air sedang membawa
tekanan dalam aliran materi dalam air (Effendi,2003). Hal ini menyebabkan distribusi
makrobentos terorientasi pada stasiun 2. Makrobentos seringkali digunakan sebagai
petunjuk penilaian kualitas perairan Setiowati (2007).







Grafik 10. Diversitas Plankton dan Diversitas Makrobentos vs Stasiun

Berdasarkan grafik tersebut divesitas plankton tertinggi berada pada stasiun 3 dan
diversitas makrobentoa tyertinggi pada stasiun 1. Air mengalir tidak mendukung
keberadaan plankton (Setiowati,2007). Sehingga pada stasiun 4 merupakan tempat yang
sesuai untuk plankton tetap hidup. Hingga terdapat beragam plankton pada daeradaerah
tersebut. Sementara makrobentos lebih beragam pada stasiun 1 sebab kondisi pada stasiun
1 yang memungkinkan makrobentos untuk hidup, seperti kadar DO yang besar dan kondisi
suhu air yang optimum, serta pH yang relatif netral.
Dari hasil penelitian terhadap parameter-parameter,maka dapat disimpulkan bahwa
daerah perairan sungai Tambak Bayan yang memiliki kualitas air terbaik adalah stasiun 1,
hal ini dilihat berdasarkan nilai denditas dan diversitas makrobentos yang berada di
perairan tersebut menunjukkan nilai yang cukup tinggi. Keberadaan makrobentos dapat
digunakan sebagai indikator kualitas perairan sebab makrobentos merupakan salah satu
kelompok terpenting dalam suatu ekosistem perairan sehubungan dengan perannya sebagai
organisme kunci dalam jaring makanan (Pratiwi, 2004). Di samping itu , pada stasiun 1
memiliki suhu air yang optimim, DO yang tinggi , serta pH yang netral.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
0 1 2 3 4 5
D
i
v
e
r
s
i
t
a
s

Stasiun
Diversitas Plankton vs Diversitas
Makrobentos vs Stasiun
Diversitas Plankton
Diversitas
Makrobentos
KESIMPULAN
Karakteristik sungai meliputi pergerakan air, jenis sedimen dasar, kuat arus, suhu,
serta debit air sebagai faktor pembatasnya. Parameter fisik, biologi dan kimia selalu
berhubungan dan menimbulkan dampak atau pengaruh antara suatu parameter dengan
parameter lainnya. Populasi biota perairan berbanding lurus dengan kecepatan arus dan
DO berbanding terbalik dengan kada CO2 dan alkalinitas serta normal pada suhu dan PH
stabil. Semakin tinggi diversitas suatu perairan maka kualitas pencemarannya akan
semakin rendah begitu pula sebaliknya.

SARAN
Ekosistem sungai Tambak Bayan masih tergolong baik karena belum terlalu
tercemar. sehingga untuk menjaganya diperlukan pengelolaan yang baik agar tetap dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat sehingga perannya tetap terjaga.

DAFTAR PUSTAKA
Alfianti, Madyastuti R. 2009. Pengantar Ekologi Perairan. Penerbit Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Ambarwati. 2011. Ekosistem Akuatik. CV Tiga Serangkai. Surakarta.
Asdak,C. 2002. Hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.
Asdak,C. 2004. Hidrologi dan pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.
Brown. 1957. Freshwater Ecology, Principles, and Applications. Chichester. UK.
Conell,D.W.and G.J. Miller . 1995. Kimmia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Y,koestoes
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Fauzi, M. 2001. Faktor Fisika dan Kimia Air Sungai. Universitas Riau. Riau.
Haslam, S. M. 2001. River Pollution and Ecology Perspective. John Wiley and Sons,
Chichester. UK.
Lesmana, D. S. 2005. Budi Daya Ikan Hias Air Tawar. Cetakan Pertama. Jakarta: Penebar
Swadaya.
Marsono. 2004. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.
Novotny dan Oleh. 1994. Water Quality, Prevention, Identification and Managemant of
Diffue Pollution. Van Nastrans Reinhold. New York.
Odum, E.P. 1993. Dasar-Dasar Ekologi. Gajah Mada Press. Yogyakarta
Pratiwi. 2004. Panduan Pengukuran Kualitas Air Sungai. IPB Press. Bogor.
Purba, Michael. 1994. Kimia SMA. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Purwakusuma. 2005. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press. Jakarta.
Setiowati. 2007. Biology Interactive. Azka Press. Jakarta.
Shyham. 2010. Standard Methods For the Examination of Water and Wastewater.
Washington American Public Health Association. USA.
Victor and Fufeyin. 1993. Tropical Zoology. Fish Communities. Nigeria.
Wardini. 2002. Ekosistem Sungai dan Penanganannya. Grafindo Media Tama. Bandung.
Whitton, B.A. 1975. Rivers Ecology, Studies in Ecology volume 2. Department of Botany
University of Durham. England.