Anda di halaman 1dari 29

KANKER SERVIKS

A. PERJALANAN PENYAKIT DAN PATHWAY



Ca Cervix merupakan sel-sel kanker yang
menyerang bagian squamosa columnar
junction cervix (Price&Wilson, 2002).
Menurut American Cancer Society (2013),
terdapat 2 tipe Ca Cervix, yaitu squamous
cell carcinoma dan adenocarcinoma.
Sekitar 80% hingga 90% merupakan
squamous cell carcinomas. Kanker ini
berkembang di sel skuamosa yang menutupi permukaan exocervix. Squamous cell
carcinomas seringkali bermula pada tempat pertemuan antara exocervix dan endocervix yang
disebut transformation zone. Cervical adenocarcinoma berkembang dari sel kelenjar yang
memproduksi mukus di endocervix.
Karsinoma adalah penyakit yang progresif, mulai dengan intraepitel, berubah menjadi
neoplastik dan akhirnya menjadi kanker serviks setelah 10 tahun atau lebih. Secara
histopatologi lesi pre invasif biasanya berkembang melalui beberapa stadium dysplasia
(ringan, sedang, berat) menjadi karsinoma in situ dan akhirnya invasif. Berdasarkan
karsinogenesis umum, proses perubahan menjadi kanker diakibatkan oleh adanya mutasi gen
pengendali siklus sel. Gen pengendali tersebut adalah onkogen, tumor supresor gene dan
repair genes. Onkogen dan tumor supresor gen mempunyai efek yang berlawanan dalam
karsinogenesis, dimana onkogen memperantarai timbulnya transformasi maligna, sedangkan
tumor supresor gen akan menghambat perkembangan tumor yang diatur oleh gen yang
terlibat dalam pertumbuhan sel. Meskipun kanker invasif berkembang melalui perubahan
intraepitel, tidak semua perubahan ini progres menjadi invasif. Lesi pre invasif akan
mengalami regresi secara spontan sebanyak 3 35 %.
Bentuk ringan (dysplasia ringan dan sedang) mempunyai angka regresi yang tinggi.
Waktu yang diperlukan dari displasia menjadi karsinoma in situ (KIS) berkisar 1- 7 tahun,
sedangkan waktu yang diperlukan dari karsinoma in situ menjadi invasif adalah 3 20 tahun.
Proses perkembangan kanker serviks berlangsung lambat, diawali adanya perubahan
dysplasia yang perlahan-lahan menjadi progresif. Dysplasia ini dapat muncul bila ada


aktivitas regenerasi epitel yang meningkat misalnya akibat trauma mekanik atau kimiawi,
infeksi virus atau bakteri dan gangguan keseimbangan hormon. Dalam jangka waktu 7 10
tahun perkembangan tersebut dari bentuk pre invasif menjadi invasif pada stroma serviks
dengan adnanya proses keganasan. Perluasan lesi di serviks dapat menimbulkan luka,
pertumbuhan yang eksofilik atau dapat berinfiltrasi ke kanalis serviks. Lesi dapat meluas ke
forniks, jaringan pada serviks, parametria dan akhirnya akan menginvasi ke rektum dan atau
vesika urinaria. Virus DNA ini menyerang epitel permukaan serviks pada sel basal zona
transformasi, dibantu oleh faktor risiko lain mengakibatkan perubahan gen pada molekul vital
yang tidak dapat diperbaiki, menetap dan kehilangan sifat serta kontrol pertumbuhan sel
normal sehingga terjadi keganasan. Berbagai jenis protein diekspresikan oleh HPV yang pada
dasarnya merupakan pendukung siklus pendukung hidup alami virus tersebut. Protein
tersebut adalah E1, E2, E4, E5, E6 dan E7 yang merupakan segmen open reading
frame(ORF). Di tingkat seluler, infeksi HPV pada fase laten bersifat epigenetic.
Pada infeksi fase laten, terjadi ekspresi E1 dan E2 yang menstimulus ekspresi terutama
L1 dan L2 yang berfungsi pada replikasi dan perakitan virus baru. Virus baru tersebut
menginfeksi kembali sel epitel serviks. Di sampung itu, pada infeksi fase laten ini muncul
reaksi imun tipe lambat dengan terbentuknya antibodi E1 dan E2 yang mengakibatkan
penurunan ekspresi E1 dan E2 dan jumlah HPV 50.000 virion per sel dapat mendorong
terjadinya integrasi antaraDNA virus dengan DNA sel penjamu untuk kemudian infeksi HPV
memasuki fase aktif. Ekspresi E1 dan E2 rendah hilang pada pos integrasi ini menstimulus
ekspresi onkoprotein E6 dan E7. Selain itu, dalam karsinogenesis kanker serviks terinfeksi
HPV, protein 53 (p53) sebagai supresor tumor diduga paling banyak berperan. Fungsi p53
wild type sebagai negatif control cell cycle dan guardian of genom mengalami degradasi
karena membentuk kompleks p53 E6 atau mutasi p53. Kompleks p53-E6 dan p53 mutan
adalah stabil, sedangkan p53 wild type adalah labil dan hanya bertahan 20 30 menit.
Apabila terjadi degradasi fungsi p53 maka proses karsinogenesis berjalan tanpa kontrol
oleh p53. Oleh karena itu, p53 juga dapat dipakai sebagai indikator prognosis molekuler
untuk menilai baik perkembangan lesi pre kanker maupun keberhasilan terapi kanker serviks.
Dengan demikian dapatlah diasumsikan bahwa pada kanker serviks terinfeksi HPV terjadi
peningkatan kompleks p53-E6. Dengan pernyataan lain, terjadi penurunan p53 pada kanker
serviks terinfeksi HPV. Dan seharusnya p53 dapat dipakai sebagai indikator molekuler untuk
menentukan prognosis kanker serviks. Bila pembuluh limfe terkena invasi, kanker dapat
menyebar ke pembuluh getah bening pada servikal dan parametria, kelenjar getah bening


obtupator, iliakan eksterna dan kelenjar getah bening hipogastrika. Dari sini tumor menyebar
ke kelenjar getah bening iliaka komunis dan pada aorta. Secara hematogen, tempat
penyebaran utama adalah paru-paru, kelenjar getah bening mediastinum dan supravesikuler,
tulang, hepar, empedu, pankreas dan otak (Prayetni, 1997).
Pathway :




























Virus HPV
Faktor Risiko
Virus Herpes
Genetalia atau
Kondiloma
Infeksi HPV
Peningkatan
leukosis
Hiperplasia sel
Infeksi pada
serviks
PK Infeksi
Kanker serviks
Perkembangan
sel abnormal
yang cepat di
uterus
Keputihan
berlebihan
Nyeri Akut
Gangguan
Citra Tubuh
Sel-sel banyak
mengandung pembuluh
darah dan rapuh
Klien malu
dengan
kondisinya
Sel-sel bersaing
untuk
mendapatkan
nutrisi
Produksi
keton
Menyebar
melalui sistem
limfatik
Kelaparan di
tingkat sel
(sel sehat)
Stimulasi
HCl
Ketidakseimbangan nutrisi :
Kurang dari Kebutuhan tubuh
Iritasi mukosa
serviks
Mual
Glukoneogenesis
BB > 20%
PK
Perdarahan
Ke arah
parametrium menuju
kelenjar regional
Perkembangan sel
yang cepat
Sel tumor ikut
luruh saat haid
Keluar darah
saat coitus
Enggan
berhubungan
seksual
HB
Perdarahan
masif
Disfungsi
Seksual
libido
kapasitas
penampungan
Mendesak
vesika urinary
PK Anemia
Mendesak dan
menekan saraf
lumbosakralis
Inkontinensia
Urine
Gangguan
miksi
Kendali
ekstremitas
terganggu
Ggn gerak
ekstremitas
bawah
Ggn Mobiitas
Fisik
kontrol
fingter
rektum
kontrol
defekasi
Konstipasi
1














B. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pap Smear
Metode serviks Pap merupakan hal yang utama untuk mendeteksi lesi prekursor kanker
serviks dan kanker serviks stadium awal. Tapi harus hati-hati dengan posisi bagian
materi yang diambil dan pemeriksaan mikroskopis yang teliti, tingkat negatif palsu bisa
sebesar 5 10%, karena itu harus dikombinasikan dengan kondisi klinis dan melakukan
pemeriksaan berkala, sebagai metode untuk screening. Prosedur tes ini cepat dan tidak
menimbulkan rasa sakit. Test Pap smear dapat dilakukan bila tidak dalam keadaan haid
ataupun hamil. Untuk hasil terbaik, sebaiknya tidak berhubungan intim minimal 3 hari
sebelum pemeriksaan.
Jenis-jenis Tes Pap Smear :
a. Test Pap Smear konvensional
Dengan menggunakan spekulum, cairan/lendir rahim diambil dengan mengusapkan
spatula, lalu usapan tersebut dioleskan pada obyek glass dan sampel diperiksa di
laboratorium.
b. Thin prep Pap
Biasanya dilakukan bila hasil test Pap smear konvensional kurang baik/kabur.
Sample lendir diambil dengan alat khusus (cervix brush), bukan dengan spatula kayu
dan hasilnya tidak disapukan ke object-glass, melainkan disemprot cairan khusus
Hipertermia
Masuk ke trunkus
linfatikus kanan
1
Menuju vena
subklavia kiri
Penyebaran
secara
hematogen
Pengaktifan
termoregulasi
hipotalamus
produksi
panas


untuk memisahkan kontaminan, seperti darah dan lendir sehingga hasil pemeriksaan
lebih akurat.

c. Thin prep plus tes HPV DNA
Dilakukan bila hasil test Pap smear kurang baik. Sampel diperiksa apakah
mengandung DNA virus HPV.

2. Tes Schiller
Tes serviks atau vagina epitel skuamosa normalnya kaya akan glikogen, yang
dapat menjadi warna coklat setelah diberi cairan yodium, sedangkan serviks epitel
kolumnar, erosi serviks dan epitel skuamosa abnormal (termasuk metaplasia skuamosa,
displasia, karsinoma in situ dan area karsinoma invasif) tidak ada glikogen, sehingga
tidak berwarna ketika diberi cairan yodium. Dalam klinis, serviks yang terpapar oleh
spekulum vagiana, setelah menyeka lendir permukaan, memoleskan larutan yodium ke
serviks dan forniks, bila ditemukan adanya daerah yodium-negatif abnormal, bisa
melakukan biopsi dan pemeriksaan patologis untuk daerah ini.

3. Biopsi serviks dan kanalis servikalis
Pap smear di serviks yang lebih dari kelas III IV, tetapi bila biopsi serviks
negatif, dipersimpangan kolom skuamosa, serviks pada titik 6, 9, 12, dan 3: mengambil
4 poin biopsi atau pada daerah yodium tes tidak berwarna dan situs kanker yang
dicurigai, mengambil beberapa jaringan dan excisional biopsi atau penerapan kuret
kecil mengorek endoserviks dikirim untuk pemeriksaan patologis.

4. Kolposkopi
Kolposkopi tidak dapat langsung mendiagnosis tumor karsinoid, tetapi dapat
membantu memilih lokasi biopsi untuk melakukan biopsi serviks. Menurut statistik,
biopsi dengan bantuan dari kolposkopi, akurasi diagnostik untuk kanker serviks ini
dapat mencapai 98%. Namun, kolposkopi bukan merupakan pengganti untuk Pap smear
dan biopsi, juga tidak dapat menemukan lesi dalam kanal serviks.





5. IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat)
IVA digunakan untuk mendeteksi abnormalitas sel serviks setelah mengoleskan
larutan asam asetat (asam cuka3-5%) pada leher rahim. Asam asetat menegaskan dan
menandai lesi pra-kanker dengan perubahan warna agak keputihan (acetowhite
change). Hasilnya dapat diketahui saat itu juga atau dalam waktu 15 menit.Metode IVA
mengandung kelebihan dibanding test Pap smear, karena sangat sederhana, hasilnya
cukup sensitif dan harganya amat terjangkau. Berbeda dengan test Pap smear,
pemeriksaan dengan metode IVA juga dapat dilakukan kapan saja, termasuk saat
menstruasi, saat asuhan nifas atau paska keguguran. Bila hasilnya bagus, kunjungan
ulang untuk tes IVA adalah setiap 5 tahun.

6. Pemeriksaan HPV-DNA
Merupakan pemeriksasan molekuler yang secara langsung bertujuan untuk
mengetahui ada tidaknya Huma Papilloma Virus (HPV) pada sel-sel yang diambil dari
leher rahim.

7. Pemeriksaan Penanda Tumor
Penanda tumor adalah suatu substansi yang dapat diukur secara kuantitatif dalam
kondisi prakanker maupun kanker. Salah satu PT yang dapat digunakan untuk
mendeteksi adanya perkembangan kanker serviks adalah CEA (Carcino Embryonic
Antigen) dan HCG (Human Chorionic Gonadotropin). Kadar CEA abnormal adalah > 5
L/ml, sedangkan kadar HCG abnormal adalah > 5g/ml. HCG dalam keadaan normal
disekresikan oleh jaringan plasenta dan mencapai kadar tertinggi pada usia kehamilan
60 hari. Kedua PT ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan darah dan urine.

8. MRI/ CT Scan Abdomen atau Pelvis
MRI / CT scan abdomen atau pelvis digunakan untuk menilai penyebaran lokal
dari tumor dan atau terkenanya nodus limfa regional.

9. Servikografi
Servikografi terdiri dari kamera 35 mm dengan lensa 100 mm dan lensa ekstensi
50 mm. Fotografi diambil oleh tenaga kesehatan dan slide (servikogram) dibaca oleh
yang mahir dengan kolposkop. Disebut negatif atau curiga jika tampak kelainan


abnormal, tidak memuaskan jika SSK tidak tampak seluruhnya dan disebut defek
secara teknik jika servikogram tidak dapat dibaca (faktor kamera atau flash).
Kerusakan (defect) secara teknik pada servikogram kurang dari 3%. Servikografi
dapat dikembangkan sebagai skrining kolposkopi. Kombinasi servikografi dan
kolposkopi dengan sitologi mempunyai sensitivitas masing-masing 83% dan 98%
sedang spesifisitas masing-masing 73% dan 99%. Perbedaan ini tidak bermakna.
Dengan demikian servikografi dapat di-gunakan sebagai metoda yang baik untuk
skrining massal, lebih-lebih di daerah di mana tidak ada seorang spesialis sitologi,
maka kombinasi servikogram dan kolposkopi sangat membantu dalam deteksi kanker
serviks.

10. Gineskopi
Gineskopi menggunakan teleskop monokuler, ringan dengan pembesaran 2,5 x
dapat digunakan untuk meningkatkan skrining dengan sitologi. Biopsi atau
pemeriksaan kolposkopi dapat segera disarankan bila tampak daerah berwarna putih
dengan pulasan asam asetat. Sensitivitas dan spesifisitas masing-masing 84% dan 87%
dan negatif palsu sebanyak 12,6% dan positif palsu 16%. Samsuddin dkk pada tahun
1994 membandingkan pemeriksaan gineskopi dengan pemeriksaan sitologi pada
sejumlah 920 pasien dengan hasil sebagai berikut: Sensitivitas 95,8%; spesifisitas
99,7%; predictive positive value 88,5%; negative value 99,9%; positif palsu 11,5%;
negatif palsu 4,7% dan akurasi 96,5%. Hasil tersebut memberi peluang digunakannya
gineskopi oleh tenaga paramedis / bidan untuk mendeteksi lesi prakanker bila fasilitas
pemeriksaan sitologi tidak ada.

11. Pemeriskaan Darah Lengkap
Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi tingkat komplikasi pendarahan yang
terjadi pada penderita kanker serviks dengan mengukur kadar hemoglobin, hematokrit,
trombosit dan kecepatan pembekuan darah yang berlangsung dalam sel-sel tubuh.
Oleh karena itu, semua wanita yang pernah melakukan hubungan seksual sangat
dianjurkan untuk melakukan skrining kanker rahim. Jika seorang wanita berusia :
a. Kurang dari 21 tahun, skrining dengan pap smear dilakukan 3 tahun setelah
hubungan seksual pertama, apabila hasilnya normal, maka selanjutnya dilakukan
setahun sekali.


b. Antara 21-30 tahun, skrining dengan pemeriksaan pap smear dilakukan setiap
tahun atau sesuai dengan saran dokter apabila terdapat hasil yang tidak normal.
c. Lebih dari 30 tahun, pemeriksaan pap smear dan HPV-DNA dilakukan secara
berkala. Wanita > 30 tahun yang telah aktif secara seksual berisiko tinggi
mengalami infeksi HPV yang menetap dalam hal ini berkaitan erat dengan kanker
serviks.
(www.asiacancer.com, www.prodia.co.id)

C. PENATALAKSANAAN DAN PENCEGAHAN

Terapi kanker serviks dilakukan bila diagnosis yang dilakukan secara histologik dan
sesudah dikerjakan perencanan yang matang oleh tim yang sanggup melakukan rehabilitasi
dan pengamatan lanjutan. Penatalaksanaan yang dilakukan disesuaikan dengan stadium
kanker serviks. Penatalaksanaan medis terbagi menjadi tiga cara, yaitu hiterektomi, radiasi
dan kemoterapi. Tabel di bawah ini merupakan klasifikasi penatalaksanaan medis secara
umum berdasarkan staium kanker serviks :
Klasifikasi FIGO
STADIUM PENATALAKSANAAN
0
Biopsi kerucut
Histerektomi transvaginal
Ia
Biopsi kerucut
Histerektomi transvaginal
Ib, IIa
Histerektomi radikal dengan limfadenektomi panggul dan evaluasi kelenjar limfe
paraaorta (bila terdapat metastasis dilakukan radioterapi pasca pembedahan)
IIb, III, IV Histerektomi transvaginal
IVa, IVb
Radioterapi
Radiasi paliatif
Kemoterapi
(Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1)

1. Manajemen Tumor In Situ
Manajemen yang tepat diperlukan pada karsinoma insitu. Biopsi dengan kolposkopi
oleh onkologis berpengalaman dibutuhkan untuk mengeksklusi kemungkinan invasi
sebelum terapi dilakukan. Pilihan terapi pada pasien dengan tumor insitu beragam


bergantung pada usia, kebutuhan fertilitas, dan kondisi medis lainnya. Hal penting yang
harus diketahui juga adalah penyebaran penyakitnya harus diidentifikasi dengan baik.
Karsinoma in situ digolongkan sebagai high grade skuamous intraepitelial lesion
(HGSIL). Beberapa terapi yang dapat digunakan adalah loop electrosurgical excision
procedure (LEEP), konisasi, krioterapi dengan bimbingan kolposkopi, dan vaporisasi
laser. Pada seleksi kasus yang ketat maka LEEP dapat dilakukan selain konisasi. LEEP
memiliki keunggulan karena dapat bertindak sebagai biopsi luas untuk pemeriksaan lebih
lanjut. Keberhasilan eksisi LEEP mencapai 90% sedangkan konisasi mencapai 70-92%.
Teknik lain yang dapat dilakukan untuk terapi karsinoma insitu adalah krioterapi
yang keberhasilannya mencapai 80-90% bila lesi tidak luas (<2,5 cm), tetapi akan turun
sampai 50% apabila lesi luas (> 2,5 cm). Evaporasi laser pada HGSIL memberikan
kerbehasilan sampai 94% untuk lesi tidak luas dan 92% untuk lesi luas. HGSIL yang
disertai NIS III memberikan indikasi yang kuat untuk dilakukan histerektomi. Pada 795
kasus HGSIL yang dilakukan konisasi didapatkan adanya risiko kegagalan 0,9-1,2% untuk
terjadinya karsinoma invasif.

2. Manajemen Mikroinvasif
Diagnosis untuk stadium IA1 dan IA2 hanya dapat ditegakkan setelah biopsi cone
dengan batas sel-sel normal, trakelektomi, atau histerektomi. Bila biopsi cone positif
menunjukkan CIN III atau kanker invasif sebaiknya dilakukan biopsi cone ulangan karena
kemungkinan stadium penyakitnya lebih tinggi yaitu IB. Kolposkopi dianjurkan untuk
menyingkirkan kemungkinan adanya vaginal intraepithelial neoplasia (VAIN) sebelum
dilakukan terapi definitif.
Stadium serviks IA1 diterapi dengan histerektomi total baik abdominal maupun
vaginal. Apabila ada VAIN maka vagina yang berasosiasi harus ikut diangkat.
Pertimbangan fertilitas pada pasien-pasien dengan stadium ini mengarahkan terapi pada
hanya biopsi cone diikuti dengan Paps smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan, dan 12
bulan bila hasilnya negatif. Stadium serviks IA2 berasosiasi dengan penyebaran pada
kelenjar limfe sampai dengan 10% sehingga terapinya adalah modified radical
hysterectomy diikuti dengan limfadenektomi. Pada stadium ini bila kepentingan fertilitas
masih dipertimbangkan atau tidak ditemukan bukti invasi ke kelenjar limfe maka dapat
dilakukan biopsi cone yang luas disertai limfadenektomi laparoskopi atau radikal


trakelektomi dengan limfadenektomi laparoskopi. Observasi selanjutnya dilakukan dengan
Paps smear dengan interval 4 bulan, 10 bulan dan 12 bulan.

3. Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Awal
Pasien-pasien dengan tumor yang tampak harus dilakukan biopsi untuk konfirmasi
diagnosis. Apabila ditemukan gejala-gejala yang berhubungan dengan metastasis maka
sebaiknya dilakukan pemeriksaan seperti sistoskopi dan sigmoidoskopi. Pemeriksaan foto
toraks dan evaluasi fungsi ginjal sangat dianjurkan. Stadium awal karsinoma serviks
invasif adalah stadium IB sampai IIA (< 4cm). Stadium ini memiliki prognosis yang baik
apabila diterapi dengan operasi atau radioterapi. Angka kesembuhan dapat mencapai 85%
sampai 90% pada pasien dengan massa yang kecil. Ukuran tumor merupakan faktor
prognostik yang penting untuk kesembuhan atau angka harapan hidup 5 tahunnya.
Penelitian kontrol acak selama 5 tahun mendapatkan bahwa radioterapi atau operasi
menunjukkan angka harapan hidup 5 tahunan yang sama dan tingkat kekambuhan yang
sama-sama kecil untuk terapi karsinoma serviks stadium dini. Morbiditas terutama
meningkat apabila operasi dan radiasi dilakukan bersama-sama. Namun, pemilihan pasien
dengan penegakkan stadium yang baik dibutuhkan untuk menentukan terapi operatif. Jenis
operasi yang dianjurkan untuk stadium IB dan IIA (dengan massa < 4cm) adalah modified
radical hysterectomy atau radical abdominal hysterectomy disertai limfadenektomi
selektif. Setelah dilakukan pemeriksaan patologi anatomi pada jaringan hasil operasi dan
bila didapatkan penyebaran pada kelenjar limfe paraaorta atau sekitar pelvis maka
dilakukan radiasi pelvis dan paraaorta. Radiasi langsung dilakukan apabila besar massa
mencapai lebih dari 4 cm tanpa harus menunggu hasil patologi anatomi kelenjar limfe.
Penelitian kontrol acak menunjukkan bahwa pemberian terapi sisplatin yang
bersamaan dengan radioterapi setelah operasi yang memiliki invasi pada kelenjar limfe,
parametrium, atau batas-batas operatif menunjukkan keuntungan secara klinis. Penelitian
dengan berbagai dosis dan jadwal pemberian sisplatin yang diberikan bersamaan dengan
radioterapi menunjukkan penurunan risiko kematian karena kanker serviks sebanyak 30-
50%. Risiko juga meningkat apabila didapat ukuran massa yang lebih dari 4 cm walaupun
tanpa invasi pada kelenjar-kelenjar limfe,infiltrasi pada kapiler pembuluh darah, invasi di
lebih dari 1/3 stroma serviks. Radioterapi pelvis adjuvan akan meningkatkan kekambuhan
lokal dan menurunkan angka progresifitas dibandingkan tanpa radioterapi.



4. Manajemen Karsinoma Invasif Stadium Lanjut
Ukuran tumor primer penting sebagai faktor prognostik dan harus dievaluasi dengan
cermat untuk memilih terapi optimal. Angka harapan hidup dan kontrol terhadap rekurensi
lokal lebih baik apabila didapatkan infiltrasi satu parametrium dibandingkan kedua
parametrium. Pengobatan terpilih adalah radioterapi lengkap, dilanjutkan penyinaran
intrakaviter. Terapi variasi yang diberikan biasanya beruapa pemberian kemoterapi seperti
sisplatin, paclitaxel, 5-fluorourasil, docetaxel, dan gemcitabine. Pengobatan bersifat
paliatif bila stadium mencapai staidum IVB dalam bentuk radiasi paliatif.

5. Manajemen Nyeri Kanker
Berdasarkan kekuatan obat anti nyeri kanker, dikenal 3 tingkatan obat, yaitu :
a. Nyeri ringan (VAS 1-4) : obat yang dianjurkan antara lain Asetaminofen, NSAID.
b. Nyeri sedang (VAS 5-6) : obat kelompok pertama ditambah obat golongan opioid
ringan seperti kodein dan tramadol.
c. Nyeri berat (VAS 7-10) : obat yang dianjurkan adalah kelompok opioid kuat seperti
morfin dan fentani.
(Sjaifoellah Noer, 1996)

6. Operasi
Operasi bertujuan untuk mengambil atau merusak kanker. Bisa menggunakan bedah
mikrografik atau laser. Tujuan utamanya untuk mengangkat keseluruhan tumor / kanker.
Pembedahan mikrografik dilaksanakan dengan bedah kimia dimana prosedur
pembedahannya mengharuskan pengangkatan tumor lapis demi lapis.
Adapun beberapa jenis pembedahan yang dilakukan :
a. Cyrosurgery : pengobatan dengan cara membekukan dan menghancurkan jaringan
abnormal (biasanya untuk stadium pra-kanker serviks).
b. Konisasi/ Cone Biopsy : pembuatan sayanan berbentuk kerucut pada serviks dan kanal
serviks untuk diteliti oleh ahli patologi. Digunakan untuk diagnosa ataupun pengobatan
pra-kanker serviks.
c. Bedah laser : dilakukan dengan memotong jaringan atau permukaan lesi pada kanker
serviks.
d. Loop electrosugical excision procedure (LEEP) : menggunakan arus listrik yang
dilewati oleh kawat tipis untuk memotong jaringan abnormal kanker serviks.


e. Histerektomi merupakan suatu tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengangkat
uterus dan serviks ataupun salah satunya. Pada umunya dilakukan pada stadium Ia
sampai IIa (klasifikasi FIGO). Sebaiknya umur pasien sebelum menopause atau bila
ada keadaan umum baik, dapat juga pada pasien yang berumur kurang dari 65 tahun.
Pasien juga harus bebas dari penyakit umum atau yang memiliki risiko tinggi, seperti
penyakit jantung, ginjal dan hepar. Ada 2 jenis histerektomi :
f. Total histerektomi : pengangkatan seluruh rahim dan serviks, tetapi tidak mencakup
jaringan yang berada di dekatnya. Operasi dilakukan di bagian depan abdomen atau
melalui vagina. Setelah operasi, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Metode total
histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa kanker serciks statium awal (I) dan
pra-kanker (0), jika sel-sel kanker ditemukan batas tepi konisasi.
g. Radikal histerektomi : pengangkatan seluruh rahim dan serviks, ovarium, tuba fallopi
maupun kelenjar getah bening di dekatnya. Operasi ini paling sering dilakukan melalui
pemotongan bagian depan abdomen dan jarang melalui vagina. Sebuah radikal
histerektomi dan diseksi kelenjar getah bening panggul adalah pengobatan yang umum
digunakan untuk kanker serviks stadium I dan jarang digunakan pada beberapa kasus
stadium II, terutama pada wanita muda.

Beberapa hari setelah operasi, penderita bisa mengalami nyeri di perut bagian
bawah. Untuk mengatasinya bisa diberikan analgesik. Penderita juga mungkin akan
kesulitan untuk miksi dan defekasi. Untuk membantu penderita miksi dapat dipasang
kateter. Setelah pembedahan, aktivitas penderita harus dibatasi agar penyembuhan berjalan
lancar. Aktivitas normal (termasuk hubungan seksual) biasanya bisa kembali dilakukan
dalam waktu 4-8 minggu. Setelah menjalani histerektomi, penderita tidak akan mengalami
menstruasi lagi. Histerektomi biasanya tidak mempengaruhi gairah seksual dan
kemampuan untuk melakukan hubungan seksual. Tetapi banyak penderita yang
mengalami gangguan emosional setelah histerektomi. Pandangan penderita terhadap
seksualitasnya bisa berubah dan penderita merasakan kehilangan karena dia tidak dapat
hamil lagi.






7. Kemoterapi
Memberikan obat antikanker untuk membunuh sel-sel kanker. Bisa berupa obat yang
diminum, dimasukkan bersama cairan intravena, atau injeksi. Contoh obat yang diberikan
dalam kemoterapi, misalnya sitostatika.
Kemoterapi adalah penatalaksanaan kanker dengan pemberian obat
melalui infus, tablet, atau intramuskuler. Obat kemoterapi digunakan utamanya untuk
membunuh sel kanker dan menghambat perkembangannya. Tujuan pengobatan
kemoterapi tergantung pada jenis kanker dan fasenya saat didiagnosis.
Beberapa kanker mempunyai penyembuhanyang dapat diperkirakan atau dapat
sembuh dengan pengobatan kemoterapi. Dalam hal lain, pengobatan mungkin hanya
diberikan untuk mencegah kanker yang kambuh, ini disebut pengobatan adjuvant.

Dalam beberapa kasus, kemoterapi diberikan untuk mengontrol
penyakit dalam periode waktu yang lama walaupun tidak mungkin sembuh.
Jika kanker menyebar luas dan dalam fase akhir, kemoterapi digunakan
sebagai paliatif untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik. Kemoterapi
kombinasi telah digunakan untuk penyakit metastase karena terapi dengan
agen-agen dosis tunggal belum memberikan keuntungan yang memuaskan.
Contoh obat yang digunakan pada kasus kanker servik antara lain CAP
(CyclophopamideAdremycinPlatamin), PVB (Platamin Veble Bleomycin), dan lain lain.
Cara pemberian kemoterapi :
a. Ditelan
b. Disuntikkan
c. Diinfus
Obat kemoterapi yang paling sering digunakan sebagai terapi awal / bersama terapi
radiasi pada stage IIA, IIB, IIIA, IIIB, and IVA adalah : Cisplatin., Fluorouracil (5-FU).
Sedangkan Obat kemoterapi yang paling sering digunakan untuk kanker serviks stage
IVB/recurrent adalah : Mitomycin. Paclitaxel, Ifosfamide.
Topotecan telah disetujui untuk digunakan bersama dengan cisplastin untuk kanker
serviks stage lanjut, dapat digunakan ketika operasi / radiasi tidak dapat dilakukan atau
tidak menampakkan hasil; kanker serviks yang timbul kembali / menyebar ke organ lain




Efek samping kemoterapi antara lain:
a. Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
b. Kehilangan nafsu makan
c. Kerontokan rambut jangka pendek
d. Sariawan
e. Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih)
f. Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
g. Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
h. Kelelahan
i. Menopause dini
j. Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)
Sebagian besar efek samping (kecuali untuk menopause dan ketidaksuburan)
berhenti ketika pengobatan selesai.

8. Elektrokoagulasi
Membakar sel-sel kanker dengan aliran listrik yang telah diatur voltasenya

9. Radiasi
Terapi ini menggunakan sinar ionisasi (sinar X) untuk merusak sel-sel kanker.
Terapi radiasi bertujuan untuk merusak sel tumor pada serviks serta
mematikan parametrial dan nodus limpa pada pelvik. Kanker serviks stadium
II B, III, IV diobati dengan radiasi. Metoda radioterapi disesuaikan dengan
tujuannya yaitu tujuan pengobatan kuratif atau paliatif. Pengobatan kuratif
ialah mematikan sel kanker serta sel yang telah menjalar ke sekitarnya dan
atau bermetastasis ke kelenjar getah bening panggul, dengan tetap
mempertahankan sebanyak mungkin kebutuhan jaringan sehat di sekitar
seperti rektum, vesika urinaria, usus halus, ureter. Radioterapi dengan dosis
kuratif hanya akan diberikan pada stadium I sampai III B. Bila sel kanker
sudah keluar rongga panggul, maka radioterapi hanya bersifat paliatif yang
diberikan secara selektif pada stadium IV A.
Selama menjalani radioterap, penderita mudah mengalami kelelahan yang luar biasa,
terutama seminggu sesudahnya. Istirahat yang cukup merupakan hal yang penting, tetapi
dokter biasanya menganjurkan agar penderita sebisa mungkin tetap aktif. Pada radiasi


eksternal, sering terjadi kerontokan rambut di daerah yang disinari dan kulit menjadi
merah, kering serta gatal-gatal. Mungkin kulit akan menjadi lebih gelap. Daerah yang
disinari sebaiknya mendapatkan udara yang cukup, tetapi harus terlindung dari sinar
matahari dan penderita sebaiknya tidak menggunakan pakaian yang bisa mengiritasi
daerah yang disinari.
Biasanya, selama menjalani radioterapi penderita tidak boleh melakukan hubungan
seksual. Kadang setelah radiasi internal, vagina menjadi lebih sempit dan kurang lentur,
sehingga bisa menyebabkan nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Untuk mengatasi
hal ini, penderita diajari untuk menggunakan dilator dan pelumas dengan bahan dasar air.
Pada radioterapi juga bisa timbul diare dan sering berkemih.

Pencegahan :
Kanker stadium dini (karsinoma in situ) sangat susah dideteksi karena belum
menimbulkan gejala yang khas dan spesifik. Kematian pada kasus kanker serviks terjadi
karena sebagian besar penderita yang berobat sudah berada dalam stadium lanjut. Atas
dasar itulah, di beberapa negara pemeriksaan sitologi vagina merupakan pemeriksaan rutin
yang dilakukan kepada para ibu hamil, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan biopsi bila
ditemukan hasil yang mencurigakan.
Dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini, kemungkinan janin dapat
dipertahankan dan penyakit ini dapat disembuhkan bisa mencapai hampir 100%. Malahan
sebenarnya kanker serviks ini sangat bisa dicegah.
Kini, cara terbaik yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker ini adalah bentuk
skrining yang dinamakan Pap Smear, dan skrining ini sangat efektif. Pap smear adalah
suatu pemeriksaan sitologi yang diperkenalkan oleh Dr. GN Papanicolaou pada tahun
1943 untuk mengetahui adanya keganasan (kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini
mudah dikerjakan, cepat dan tidak sakit. Masalahnya, banyak wanita yang tidak mau
menjalani pemeriksaan ini, dan kanker serviks ini biasanya justru timbul pada wanita-
wanita yang tidak pernah memeriksakan diri atau tidak mau melakukan pemeriksaan ini.
50% kasus baru kanker serviks terjadi pada wanita yang sebelumnya tidak pernah
melakukan pemeriksaan pap smear. Padahal jika para wanita mau melakukan pemeriksaan
ini, maka penyakit ini suatu hari bisa saja diatasi.
Ada beberapa protokol skrining yang bisa ditetapkan bersama - sama sebagai salah
satu upaya deteksi dini terhadap perkembangan kanker serviks, beberapa di antaranya :


a. Skrining awal
Skrining dilakukan sejak seorang wanita telah melakukan hubungan seksual (vaginal
intercourse) selama kurang lebih tiga tahun dan umurnya tidak kurang dari 21 tahun
saat pemeriksaan. Hal ini didasarkan pada karsinoma serviks berasal lebih banyak dari
lesi prekursornya yang berhubungan dengan infeksi HPV onkogenik dari hubungan
seksual yang akan berkembang lesinya setelah 3-5 tahun setelah paparan pertama dan
biasanya sangat jarang pada wanita di bawah usia 19 tahun.

b. Pemeriksaan DNA-HPV
Penelitian dalam skala besar mendapatkan bahwa Paps smear negatif disertai DNA
HPV yang negatif mengindikasikan tidak akan ada CIN 3 sebanyak hampir 100%.
Kombinasi pemeriksaan ini dianjurkan untuk wanita dengan umur diatas 30 tahun
karena prevalensi infeksi HPV menurun sejalan dengan waktu. Infeksi HPV pada usia
29 tahun atau lebih dengan ASCUS hanya 31,2% sementara infeksi ini meningkat
sampai 65% pada usia 28 tahun atau lebih muda. Walaupun infeksi ini sangat sering
pada wanita muda yang aktif secara seksual tetapi nantinya akan mereda seiring dengan
waktu. Sehingga, deteksi DNA HPV yang positif yang ditenukan kemudian lebih
dianggap sebagai HPV yang persisten. Apabila ini dialami pada wanita dengan usia
yang lebih tua maka akan terjadi peningkatan risiko kanker serviks.

c. Skrining dengan Thinrep/liquid base method
Disarankan untuk wanita di bawah 30 tahun yang berisiko dan dianjurkan untuk
melakukan pemeriksaan setiap 1 - 3 tahun.

d. Skrining dihentikan bila usia mencapai 70 tahun atau telah dilakukan tiga kali
pemeriksaan berturut-turut dengan hasil negatif

Selain hal di atas, untuk mencegah kanker serviks dapat dilakukan dengan :
a. Berperilaku hidup sehat, seperti menjaga kebersihan diri dan lingkungan,
mengkonsumsi makanan yang kaya nutrisi dan tidak merokok.
b. Bersihkan organ vital setiap saat dengan tisu.
c. Mengganti celana dalam minimal dua kali sehari.


d. Lakukan pemeriksaan pap smear dan HPV-DNA secara rutin untuk deteksi dini kanker
serviks.

Semakin dini terdeteksi, semakin dini pula peluang sembuhnya. Kanker seviks
merupakan salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat
disembuhkan dibandingkan dengan jenis kanker lainnya.
(www.prodia.co.id)

D. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN KANKER SERVIKS

KASUS

Ny. KI 54 tahun datang dengan keluhan perdarahan vagina dan banyak clot. Pasien
mengeluh sakit perut skala 7(0-10). Dia dirawat di Rumah Sakit dan pada pemeriksaan
ditemukan massa besar di servix, setelah dibiopsi dan dikonfirmasi sebagai invasif. Dia
melaporkan siklus menstruasi yang teratur sampai 9 bulan yang lalu. Sekarang terjadi
peningkatan pendarahan vagina, sakit perut sejak 7 bulan yang lalu, dan cairan vagina
berbau busuk. Dia juga mengeluhkan nafsu makan yang buruk, dispareunia, dan sembelit.
Dia membantah adanya demam . Hasil lab hematokrit 23% dan mendapat terapi 3 kolf
RBC. CT-scan menunjukkan massa serviks 8,6 x 6,0 cm dengan tanpa hidronefrosis atau
limfadenopati. Pasien kemudian dilakukan cystoscopi dan proktoskopi untuk stadium
klinis. Diagnosis akhir yang diterima adalah stadium IIB kanker serviks. Dia menerima
terapi radiasi panggul harian dan mingguan Cisplatin pada 30 mg/m2 intravena. Setelah
mendapat pengobatan perdarahannya berhenti, kecuali bercak minimal. Sakit perutnya
meningkat; Namun, ia melaporkan peningkatan rasa kelelahan dan sesak napas saat
beraktivitas.
Hasil laboratorium awal menunjukkan: jumlah sel darah putih 3130 sel/mm
3
; hemoglobin
7 g/dl; hematokrit 20%; jumlah trombosit 110/mm
3
; albumin 2,3 g/dl; nitrogen urea darah
24 mg/dl; kreatinin 1,8 g/dl; sodium 137 mEq/L; kalium 4,5 mEq/L; glukosa 86 mg/dl;
magnesium 2,0 mEq/L; kalsium 9,5 mg /dL; dan bilirubin total 0.7mol /L.
Menarche pada usia 12 tahun. Dia telah hamil 7 kali dan memiliki 6 anak. ia melaporkan
Pap smear terakhirnya adalah 8 tahun yang lalu dan tidak normal, tetapi dia tidak
menindaklanjuti dengan dokternya. Riwayat medisnya positif untuk hipertensi. Pasien


telah menikah selama 15 tahun . Dia merokok sekitar 1 bungkus rokok per minggu dan
minuman 3 gelas Bir sehari.
Pemerisaan Fisik
Tanda-tanda vital adalah sebagai berikut: TD 160/98 mm Hg; HR 110 x/ menit; RR = 20x
/ menit; suhu, 37 C; dan SaO
2
96%. Sklera anikterus dan konjungtiva anemis. karies gigi
yang buruk. Leher tanpa limfadenopati. Paru-paru jelas secara bilateral, dan pemeriksaan
jantung : Sinus takikardia tanpa murmur. Bising usus hypoactive dan tidak ada edema
perifer dicatat. Pemeriksaan neurologis adalah dalam batas normal.
Tindakan Medis
Rencana pengobatan untuk pasien ini cisplatin 30 mg/m2 intravena (IV) mingguan
dengan terapi radiasi panggul bersamaan harian. Anemia, dehidrasi, peningkatan serum
kreatinin, dan sembelit terjadi selama kemoterapi.

1. Pengkajian
Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1 DS :
Pasien melaporkan peningkatan
kelelahan dan sesak napas saat
beraktivitas
DO :
Hb 7 g/dL
Konjungtiva anemis
Menerima terapi transfusi RBC 3
kolf
Kanker serviks

Sel-sel byk mengandung
pembuluh darah dan rapuh

Sel tumor ikut luruh saat
haid

Perdarahan masif

Hb

PK Anemia
PK Anemia
2 DS :
Pasien mengeluh sakit perut skala
7 (0 10), sakit perut dirasakan
sejak 7 bulan yang lalu,
dispareunia
Pasien melaporkan setelah
mendapat pengobatan, sakit
perutnya meningkat

DO : -
Virus HPV, faktor risiko

Invasi HPV

Infeksi pada serviks

Iritasi mukosa serviks,
pelvis, jaringan sekitar

Nyeri kronis
Nyeri Kronis
3 DS :
Pasien melaporkan PAP Smear
terakhir 8 tahun yang lalu dan
Faktor risiko (kawin usia
muda, jarak persalinan yang
terlalu dekat, hygiene
Ketidakefektifan
Pemeliharaan


tidak normal tetapi dia tidak
menindaklanjuti dengan dokternya
Pasien mengatakan merokok
sekitar 1 bungkus per minggu dan
minum 3 gelas Bir sehari
DO :
Terdapat karies gigi yang buruk
Diagnosa medis pasien : Ca Cervix
stadium IIB
seksual yang buruk

Proses penyakit

Infeksi oleh HPV

Kanker serviks

Penurunan status kesehatan
Kesehatan
4 DS :
Pasien mengeluh napsu makan
yang buruk dan sembelit
Pasien mengeluh sakit perut skala
7 (0 10)
DO :
Bising usus hypoaktive
Kemoterapi dengan Cisplatin 30
mg/m2 IV
Perkembangan sel kanker
yang cepat

Mendesak dan menekan
saraf lumbosakralis

kontrol sfingter rektum

kontrol defekasi

Konstipasi
Konstipasi

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik kronis ditandai dengan data
subyektif : pasien mengeluh sakit perut skala 7 (0 10), sakit perut dirasakan sejak
7 bulan yang lalu, dispareunia, pasien melaporkan setelah mendapat pengobatan,
sakit perutnya meningkat.
b. PK Anemia berhubungan dengan perdarahan masif ditandai dengan data subyektif:
pasien melaporkan peningkatan kelelahan dan sesak napas saat beraktivitas, data
obyektif : Hb 7 g/dL, konjungtiva anemis, menerima terapi transfusi RBC 3 kolf.
c. Konstipasi berhubungan dengan tumor ditandai dengan data subyektif : pasien
mengeluh napsu makan yang buruk dan sembelit, pasien mengeluh sakit perut
skala 7 (0 10), data obyektif : bising usus hypoaktive, pasien mendapat
kemoterapi dengan Cisplatin 30 mg/m2 IV.
d. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan ketidakefektifan
koping individu ditandai dengan data subyektif : pasien melaporkan PAP Smear
terakhir 8 tahun yang lalu dan tidak normal tetapi pasien tidak menindaklanjuti
dengan dokternya, pasien mengatakan merokok sekitar 1 bungkus per minggu dan
minum 3 gelas Bir sehari, data obyektif : terdapat karies gigi yang buruk,
diangnosa medis pasien Ca Cervix stadium IIB.


3. Rencana Asuhan Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan NOC NIC
1 Nyeri kronis berhubungan dengan ketunadayaan fisik kronis yang ditandai
dengan :
Data subyektif : pasien mengeluh sakit perut skala 7 (0 10), sakit perut
dirasakan sejak 7 bulan yang lalu, dispareunia, pasien melaporkan setelah
mendapat pengobatan, sakit perutnya meningkat

Definisi : pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan dan
muncuk akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau digambarkan
dalam hal kerusakan sedemikian rupa; awitan yang tiba-tiba atau lambat
dengan intensitas dari ringan hingga berat, terjadi secara konstan atau berulang
tanpa akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung > 6 bulan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1 x 24 menit, diharapkan pasien
menunjukkan tanda-tanda :
NOC LABEL : PAIN CONTROL
Mampu mendiskripsikan
penyebab nyeri
Mampu mengenali nyeri (skala,
intensitas, frekuensi dan tanda
nyeri)
Mampu menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri
Melaporkan nyeri terkontrol
Menggunakan analgesik yang
dianjurkan
NOC LABEL : PAIN LEVEL
Ekspresi wajah akan nyeri
Respirasi rate
Rate nadi radialis
NOC LABEL : COMFORT LEVEL
Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri
berkurang
NIC :
Pain Management
Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi,
kualitas dan factor presipitasi
Observasi reaksi nonverbal dari
ketidaknyamanan
Gunakan tekhnik komunikasi
terapeutik untuk ,mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
Kaji kultur yang mempengaruhi
respon nyeri
Evaluasi pengalaman nyeri masa
lampau
Evaluasi bersama pasien dan tim
kesehatan lain tentang
ketidakefektifan control nyeri masa
lampau
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan
Control lingkungan yang dapat
mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan
kebisingan.
Kurangi factor presipitasi nyeri
Pilih dan lakukan penanganan nyeri
(farmakologi, nonfarmakologi dan
interpersonal


Kaji dan sumber nyeri untuk
menentukan intervensi
Ajarkan tentang tehnik non
farmakologi
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan control nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan dokter jika
ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
Monitor penerimaan pasien tentang
manajemen nyeri

Analgesic Administration
Tentukan lokasi, karakteristik,
kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
Cek instruksi dokter tentang jenis
obat, dosis dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesic yang diperlukan
atau kombinasi dari analgesic
ketika pemberian lebih dari Satu
Tentukan pilihan analgesic
tergantung tipe dan beratnya nyeri.
Tentukan analgesic pilihan, rute
pemberian, dan dosis optimal
Pilih rute pemberian secara IV, IM
untuk pengobatan nyeri secara
teratur
Monitor vital sign sebelum dan


sesudah pemberian analgesic
pertama kali
Berikan analgesic tepat waktu
terutama saat nyeri hebaT
Evaluasi efektivitas analgesic, tanda dan
gejala (efek samping)
2 PK Anemia berhubungan dengan perdarahan masif ditandai dengan :
Data subyektif : pasien melaporkan peningkatan kelelahan dan sesak napas
saat beraktivitas
Data obyektif : Hb 7 g/dL, konjungtiva anemis, menerima terapi transfusi
RBC 3 kolf
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2 x 24 jam, diharapkan pasien
menunjukkan tanda-tanda :
Appetite
Nafsu makan pasien membaik (3)
Ada keinginan untuk makan (3)
Nutrition status: biochemical
measurement
Kadar HB normal : 12-16
Konjungtiva kemerahan (tidak
pucat) (5)
Nutrition Status
intake makanan dan minuman baik (3)
Rest
Kualitas istirahat pasien baik (3)
Pola istirahat pasien baik (3)
Recharge energy setalah istirahat (3)
Nutrition Status : Nutrition intake
Intake
Intake zat besi baik (3)
Intake mineral baik (3)
Intake vitamin baik (3)
Nutritional Monitoring
Monitor albumin, total protein,
haemoglobin dan peningkatan
perdarahan
Inisiatif konsul ke ahli gizi
Sediakan makanan dan minuman
bernutrisi bila diperlukan
Tentukan nutrisi khusus yang
diperlukan oleh pasien
Nutrition management
Lakukan penambahan intake
protein, besi, dan vitamin C.
Ajari pasien bagaimana cara
mempertahankan asupan makanan
sesuai kebutuhan tubuh
Simple relaxation therapy
Jelaskan rasional dari relaksasi,
manfaat, syarat-syarat,dan tipe
relaksasi yang ada (musik,
meditasi, relaksasi otot progresif)
Identifikasi jika ada indikasi latihan
relaksasi yang sudah didapat
sebelumnya
Berikan penjelasan detail mengenai
teknik relaksasi yang dipilih pasien
Ciptakan lingkungan yang tenang,
tidak mengganggu,dengan
pencahaan yang redup, dengan
suhu ruangan yang nyaman.
Anjurkan pasien untuk relax dan


biarkan tubuh pasien menerimanya
terjadi.
Anjurkan pasien memakai pakaian
yang nyaman mengendorkan smw
ikatan yang ada pada pakaiannya
saat beristirahat.
3 Konstipasi berhubungan dengan tumor ditandai dengan :
Data subyektif : pasien mengeluh napsu makan yang buruk dan sembelit,
pasien mengeluh sakit perut skala 7 (0 10)
Data obyektif : bising usus hypoaktive, pasien mendapat kemoterapi dengan
Cisplatin 30 mg/m2 IV

Definisi : penurunan pada frekuensi normal defeksi yang disertai oleh
kesulitan atau pengeluaran tidak lengkap feses dan/atau pengeluaran feses
yang keras, kering dan banyak.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2 x 24 jam, diharapkan pasien
menunjukkan tanda-tanda :
Bowel Elimination
Kriteria Hasil:
Tidak terjadi konstipasi
Tonus sfingter terkontrol
Feses dapat dikeluarkan

Gastrointestinal Function
Kriteria Hasil:
Bunyi usus dalam batas normal
Tidak ada distensi abdomen
Konsistensi feses lembek

Nutritional Status
Hematokrit dalam batas normal
Intake makanan adekuat
Mampu mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Menunjukkan peningkatan
kemampuan menelan
Nutrien intake adekuat
Tidak terjadi penurunan berat
badan yang berarti


Constipation Management
Monitor tanda dan gejala konstipasi
Monitor gerakan bowel, termasuk
frekuensi, konsistensi, bentuk,
volume, dan warna feses secara
tepat.
Monitor bunyi usus.
Dorong pasien untuk meningkatkan
intake cairan.
Evaluasi obat-obatan atau terapi
yang memberikan efek samping
pada fungsi gastrointestinal.
Jelaskan pada pasien untuk
meningkatkan asupan makan yang
tinggi serat.
Berikan klien laksatif atatu obat
pelunak feses, bila diperlukan.
Berikan enema atau irigasi, bila
perlu.
Ajarkan pasien dan keluarga tentang
proses normal saluran cerna.
Nutrition Management:
Kaji kemampuan pasien untuk
mendapatkan nutrisi yang
dibutuhkan.
Anjurkan pasien untuk meningkatkan


intake Fe
Anjurkan pasien untuk meningkatkan
protein dan vitamin C
Bantu klien untuk makan sedikit-
sedikit tapi sering
Berikan informasi tentang kebutuhan
nutrisi
Berikan makanan yang terpilih
(sudah dikonsultasikan dengan ahli
gizi).
Dorong klien untuk meningkatkan
intake kalori
Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien.
Yakinkan diet yang dimakan
mengandung tinggi serat untuk
mencegah konstipasi

Nutrition Monitoring:
Catat adanya edema, hiperemik,
hipertonik papila lidah dan cavitas
oral.
Catat jika lidah berwarna magenta,
scarlet
Jadwalkan pengobatan dan tindakan
tidak selama jam makan
Monitor adanya penurunan atau
penambahan berat badan
Monitor kadar albumin, total protein,


Hb, dan kadar Ht
Monitor kalori dan intake nutrisi BB
pasien dalam batas normal
Monitor kekeringan, rambut kusam,
dan mudah patah
Monitor kulit kering dan perubahan
pigmentasi
Monitor lingkungan selama makan
Monitor makanan kesukaan
Monitor mual dan muntah
Monitor pertumbuhan dan
perkembangan
Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
Monitor tipe dan jumlah aktivitas
yang biasa dilakukan
Monitor turgor kulit
Timbang BB pasien
4 Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan berhubungan dengan
ketidakefektifan koping individu ditandai dengan :
Data subyektif : pasien melaporkan PAP Smear terakhir 8 tahun yang lalu dan
tidak normal tetapi pasien tidak menindaklanjuti dengan dokternya, pasien
mengatakan merokok sekitar 1 bungkus per minggu dan minum 3 gelas Bir
sehari
Data obyektif : terdapat karies gigi yang buruk, diagnosa medis pasien Ca
Cervix stadium IIB

Definisi : ketidakmampuan mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari
bantuan untuk mempertahankan kesehatan.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 1 x 24 jam, diharapkan pasien
menunjukkan tanda-tanda :
Risk Detection
Mampu mengenali tanda dan
gejala yang mengindikasikan
risiko
Mampu mengidentifikasi
potensial risiko kesehatan
Mampu mencari validasi
terhadap risiko yang dirasakan
Berpartisipasi secara interval
dalam skriring yang
direkomendasikan
Health Education
Identifikasi faktor internal dan
eksternal yang dapat meningkatkan
atau menurunkan motivasi untuk
perilaku sehat
Tentukan kontek personal dan
budaya sosial dari perilaku sehat
individu
Bantu pasien dan keluarga dalam
mengklarifikasikan nilai dan
kepercayaannya tentang kesehatan
Formulasikan metode untuk
memberikan edukasi kesehatan
Buat strategi agar edukasi kesehatan


Mencari informasi tentang
perubahan dalam rekomendasi
kesehatan
Risk Control : Cancer
Mampu menghindari paparan
terhadap zat karsinogen
Mampu menghentikan
penggunan tembakau/ merokok
Mempu mengikuti diet yang
direkomendasikan untuk
mengurangi risiko
Berpartisipasi dalam skrining
kanker yang direkomendasikan
Mendapat perawatan kesehatan
menurut hasil skiring yang
abnormal
yang dilakukan menarik dan
mendapat perhatian pasien/ peserta
Hindari menggunakan teknik
menakuti-nakuti sebagai strategi
untuk memotivasi pasien untuk
mengubah perilaku atau gaya hidup
sehat
Risk Identification
Tentukan kehadiran dan kualitas
dukungan keluarga
Tentukan status edukasi
Identifikasi strategi koping yang
dimiliki pasien
Tentukan pemenuhan terhadap
penganan medis dan keperawatan
Prioritaskan area untuk pengurangan
risiko dalam kolaborasi dengan
pasien
Rencanakan untuk aktivitas reduksi
risiko, kolaborasikan dengan pasien
Gunakan penentuan tujuan bersama
secara tepat
Health Screening
Sediakan akses yang mudah untuk
mendapat pelayanan skrining
Buat jadwal untuk meningkatkan
efisiensi dan kepedulian pasien
Gunakan instrumen skrining
kesehatan yang valid dan reliable
Jelaskan rasional dan tujuan
dilakukan skrining dan pemeriksaan
diri


Dapatkan informed consent untuk
prosedur skrining
Berikan layanan yang bersifat
privasi dan menjada kerahasiaan
Usahan memberikan kenyamanan
selama prosedur skrining
Dapatkan riwayat kesehatan,
termasuk kebiasaan tentang
kesehatan, faktor risiko dan
pengobatan
Dapatkan riwayat kesehatan
keluarga, bila perlu
Lakukan pemeriksaan fisik secara
tepat
Ukur tekanan darah, tinggi, lemak
tubuh, kolesterol, level gula darah,
urine secara tepat
Lakukan pemeriksaan Pap Smear,
mammography, vision cek secara
tepat
Dapatkan spesimen untuk dianalisis
Berikan hasil pemeriksaan skrining
kepada pasien
Informasikan pasien terhadap hasil
tes skrining
Berikan conseling kepada pasien
dengan temuan skrining yang
abnormal tentang alternatif
penangan/ pengobatan atau
membutuhkan evaluasi lebih lanjut
Arahkan pasien ke pelayanan
kesehatan/ bagian lain, bila


diperlukan
Sediakan follow up contact untuk
pasien dengan temuan skrining yang
abnormal




DAFTAR PUSTAKA

Modern Cancer Hospital Guangzhou.Diagnosis Kanker Serviks. Diakses pada tanggal 13 Juni
2013 pada situs www.asiacancer.com/indonesian/cancer-diagnosis/cervical-cancer-
diagnosis/

Prodia.Kanker Leher Rahim. Diakses pada tanggal 13 Juni 2013 pada situs
www.prodia.co.id/penyakit-dan -diagnosa/kanker-leher-rahim

Sjaifoellah Noer. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 2. Jakarta : FKUI)

Prayetni. 1997. Asuhan Keperawatan Ibu dengan Gangguan Reproduksi. Jakarta

Weinstock, Doris. 2010. Rujukan Cepat di ICU/ICCU. Jakarta : EGC