Anda di halaman 1dari 17

1

UNIVERSITAS INDONESIA



GCG DI DUNIA, ASIA & INDONESIA







TUGAS KELOMPOK





ANDIRA YUDITHIARINI (1206316780)
DIVA KARIMA OKTAVIRA (1206317083)
INDRIA FEBIAN (1206317436)
















PROGRAM EKSTENSI
FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK


2

Statement of Authorship

Saya/kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas
terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya/kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang
lain yang saya/kami gunakan tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk
makalah/tugas pada mata ajaran lain kecuali saya/kami menyatakan dengan jelas
bahwa saya/kami menyatakan dengan jelas bahwa saya/kami menyatakan
menggunakannya.

Saya/kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak
dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.






Andira Yudithiarini Diva Karima Oktavira Indria Febian
(1206316780) (1206317083) (1206317436)



























3

Asias Governance Challenge
Dominic Barton, Paul Coombes, and Simon Chiu-Yin Wong


1. Pendahuluan
Krisis keuangan yang melanda hampir sebagian besar Negara-Negara di Asia pada
akhir tahun 1990, membuat Negara-negara yang dilanda krisis tersebut untuk
mereformasi tata kelola perusahaan sebagai suatu prioritas. Sebagian besar dari
Negara yang dilanda krisis keuangan tersebut memerlukan direktur independen dan
komite audit (akan dibahas lebih lanjut pada Exhibit 1). Aturan hukum mengenai
sekuritas, syarat untuk dapat terdaftar di bursa saham , otoritas regulasi juga telah
diperkuat.

Awal mula reformasi tata kelola perusahaan di
benua Asia sangat berbeda dengan awal mula
di benua Eropa atau Amerika Utara.
Pemerintah di negara-negara Asia, pemimpin
perusahaan, pihak investor dan pembuat
kebijakan menyadari bahwa praktik dari tata
kelola perusahaan tidak dapat berubah secara
singkat. Membuat suatu perusahaan di Asia
untuk mematuhi peraturan yang baru merupakan suatu tantangan tersendiri yang
membutuhkan tingkat transparansi yang lebih baik dan peningkatan penegakkan
hukum yang lebih baik lagi dan juga tidak luput untuk memperhatikan pergolakan
budaya dalam jajaran kepempinan.

Pada Exhibit 1, sebelum terjadi krisis keuangan di Asia pada tahun 1997, dapat dilihat
bahwa kebutuhan akan Direktur Independen (Independent Director) dan (Audit
Committee) di beberapa Negara di Asia belum terlalu diperhatikan. Namun, negara-
negara seperti Hong Kong, Malaysia, dan Singapura sudah menerapkan aturan
tersebut. Setelah krisis keuangan terjadi, kebutuhan akan Direktur Independen dan
Komite Audit mulai dipenuhi oleh sebagian besar Negara di Asia. Hal tersebut
menunjukkan adanya perkembangan dalam hal tata kelola perusahaan sebelum dan
sesudah krisis keuangan.
4

Dalam menerapkan tata kelola perusahaan yang baik tentunya banyak tantangan dan
halangan yang harus dihadapi oleh Negara-negara di Asia. Tantangan di Asia atas
penerapan Tata Kelola Perusahaan yang baik, antara lain :

1. I s best practice best for the region ?
Aturan hukum mengenai tata kelola perusahaan yang baru merupakan hal yang
penting sebagai persiapan untuk perubahan tata kelola perusahaan yang lebih baik.
Pemerintah Asia seharusnya menetapkan prioritas dalam kebutuhan Negara nya
masing masing atas tata kelola perusahaan yang baik. Memastikan hukum yang
berlaku di Negara yang bersangkutan, telah sesuai dengan OECD Principles of
Corporate Governance akan menjadi satu langkah yang baik.

2. I mproving transparency
Tanpa adanya transparansi, aturan hukum serta governance code yang baru,
tidak akan terlalu berpengaruh dalam membangun kepercayaan dari para investor.
Standar akuntansi di banyak Negara Asia dapat dikatakan masih lemah. Akibatnya
adalah laporan arus kas, laporan perubahan posisi keuangan menjadi tidak terlalu
diandalkan (reliable). Diperlukan adanya pengungkapan (disclosure) secara jelas
dalam laporan keuangan untuk meningkatkan transparansi.
Selain itu, independensi dari auditor eksternal juga mulai diperhatikan dengan
baik. Sebagai contoh, The China Securities Regulatory Commission (CSRC) mulai
mendorong perusahaan untuk merotasi auditor eksternalnya setiap lima tahun. Hal ini
juga mulai diikuti oleh Negara lain seperti Hong Kong, India, dan Thailand.

3. Regulations with bite
Meskipun banyak Negara yang telah memperkuat
aturan mengenai standar akuntansinya dan aturan
mengenai tata kelola perusahaannya tetapi dalam hal
pelaksanaan dari aturan tersebut masih banyak yang
tertinggal. Bagan Exhibit 2 menggambarkan penilaian
mengenai aturan atau regulasi yang dibuat dengan
pelaksanaan (enforcement) dari aturan tersebut di
beberapa Negara di Asia. Dapat dilihat bahwa
5

Singapura merupakan Negara yang dalam hal penetapan aturan mengenai standar
akuntansi dan tata kelola perusahaan dengan penerapan pelaksanaan dari aturan
tersebut, dilakukan secara seimbang. Semakin besar gap antara aturan dengan
pelaksanaan, maka semakin tidak efektif aturan yang dibuat oleh regulator.
Permasalahan yang terjadi adalah business and political circles terjalin serta
mekanisme dalam hal konflik kepentingan tidak ditangani dengan baik. Permasalahan
lain yang timbul yaitu keinginan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dalam waktu jangka pendek menyebabkan pemerintah menjadi tidak terlalu
fokus dalam hal melindungi kepentingan pemegang saham non-pengendali di
perusahaan besar.
4. The power of investors
Pada prinsipnya, investor dan kreditur dapat
menekan perusahaan untuk patuh pada aturan
yang ditetapkan oleh pemerintah. Mereka akan
berinvestasi pada suatu perusahaan jika mereka
percaya perusahaan tersebut akan memiliki
prospek yang baik. Investor tentunya akan
merasa aman berinvestasi di suatu perusahaan
apabila perusahaan tersebut melaksanakan tata
kelola perusahaan sesuai dengan aturan yang
telah ditetapkan oleh pemerintah. Dalam
Exhibit 3, bagan ini menunjukkan seberapa besar premium yang investor bersedia
bayarkan terhadap perusahaan yang menerapkan tata kelola nya dengan baik. China
dan Indonesia, dibandingkan dengan Negara Asia lainnya merupakan Negara dimana
investor bersedia membayar lebih apabila penerapan tata kelola perusahaan
dilaksanakan dengan baik. Dengan tata kelola perusahaan yang baik, dapat
meningkatkan market value dari perusahaan tersebut sehingga harga saham juga akan
meningkat.

5. Embracing the change
Semenjak tata kelola perusahaan menjadi suatu konsep baru pada sebagian besar
Negara di Asia, meningkatkan kepekaan atas pentingnya tata kelola perusahaan
menjadi elemen yang penting untuk mewujudkan perubahan tersebut.
6

Untuk dapat melangkah ke depan, dewan yang berada dalam struktur
perusahaan harus bertindak secara berbeda, misalnya saja dengan secara aktif
membantu menerapkan strategi korporasi, mengawasi manajemen resiko,
berkontribusi dalam rencana suksesi dari CEO dan memastikan perusahaan dapat
mencapai target keuangan serta kinerja operasinya.

KESIMPULAN
Tata kelola perusahaan telah berkembang di Asia. Beberapa Negara, misalnya
saja Singapura telah menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam hal tata
kelola perusahaan. Dalam mewujudkan tata kelola perusahaan yang baik, tentunya
tidak dapat dicapai dalam waktu yang singkat.
Kedepannya, baik pemerintah maupun perusahaan di Asia harus melakukan
perannya masing-masing dan juga harus bertindak secara berkesinambungan. Pihak
perusahaan harus menciptakan harus menciptakan struktur kepemimpinan yang kuat
dan lebih bermanfaat bagi perusahaan, meningkatkan cakupan, akurasi dan ketepatan
dari pelaporan keuangan serta memberikan perhatian lebih terhadap hak dan
kepentingan dari pemilik saham minoritas. Pihak pemerintah juga harus menyediakan
kerangka perlindungan hukum yang kuat serta kerangka regulasi untuk mendasari
reformasi tersebut. Aturan-aturan tersebut tentunya juga harus disesuaikan dengan
Negara yang bersangkutan. Setiap ketentuan tata kelola secara spesifik berbeda antara
satu negara dengan negara lainnya, akan tetapi setiap tindakan reformasi tersebut
harus didasari atas peningkatan dibidang hukum, standar akuntansi yang kuat,
peraturan yang kuat, sistem peradilan yang efisien dan tindakan yang sungguh-
sungguh dan nyata dalam pemberantasan korupsi. Apabila aturan atas tata kelola
perusahaan dengan pelaksanannya dapat dilaksanakan secara selaras maka hal
tersebut dapat meningkatkan value dari perusahaan. Investor pun akan merasa aman
apabila ingin berinvestasi di perusahaan tersebut.

Corporate Governance in Asia: A Survey
Stijn Claessens and Joseph P. H. Fan
1. Pendahuluan
Peningkatan jumlah penelitian tentang tata kelola perusahaan dikarenakan
terjadinya krisis keuangan di Asia tahun 1997, yang mana kesalahannya terletak
pada masalah tata kelola perusahaan dan mengarah kepada analisis darurat untuk
7

membantu penyusunan kembali dari tata kelola perusahaan. Dalam survey yang
dilakukan oleh Claessens dan Fan, mereka me-review masalah tata kelola
perusahaan di Asia. Tata kelola perusahaan yang berjalan di Asia menunjukkan
bahwa kombinasi dari struktur kepemilikan dan sistem hak kepemilikan(hukum
dan pelaksanaannya) pada dasarnya menggambarkan insentif, kebijakan, dan
performa dari para manajer dan perusahaannya.
Temuan utama dari survey ini dapat dikategorikan kedalam beberapa tema.
Masalah keagenan, yang muncul dari struktur kepemilikan tertentu, terutama dari
besarnya selisih antara kontrol dan hak arus kasnya. Temuan lainnya yaitu bahwa
grup dan struktur kepemilikan itu berhubungan dengan masalah keagenan yang
mungkin mempunyai efek yang menguntungkan dari transaksi di pasar internal
dan praktek di organisasi yang sama.
2. Kepemilikan dan Insentif
Pembahasan disini dimulai dari peninjauan tentang struktur kepemilikan di Asia,
kemudian penyebab dari struktur kepemilikan yang ada di Asia. Kemudian akan
dibahas bagaimana struktur kepemilikan menggambarkan insentif untuk manajer
dan pemilik perusahaan, bagaimana hal itu bisa mempengaruhi kebijakan
perusahaan dan peran struktur kepemilikan dalam mempengaruhi performa
ekonomi dan penilaian perusahaan.
A. Karakteristik kepemilikan pada perusahaan di Asia
Tidak seperti perusahaan di Amerika dan Inggris yang sahamnya tersebar
luas, di perusahaan Asia biasanya satu atau beberapa anggota keluarga
yang memegang saham di suatu perusahaan. Perusahaan tersebut biasanya
terafiliasi dalam suatu grup yang juga dikendalikan oleh keluarga yang
sama. Keluarga tersebut dapat mencapai kontrol yang efektif atas
perusahaan melalui piramida kepemilikan dan lintas kepemilikan. Terlebih
lagi, hak voting dimiliki oleh keluarga tersebut melebihi hak arus kasnya.
B. Penyebab dari terpusatnya kepemilikan
Mengapa kepemilikan perusahaan di Asia sangat terkonsentrasi?
Argumennya sebagai berikut. Baik pemilik individual maupun Negara
dapat melaksanakan hak kepemilikan. Dalam kondisi ekonomi dimana
Negara tidak dapat melaksanakan hak kepemilikan secara efektif,
pelaksanaan hak kepemilikan oleh pemilik individual akan menjadi sangat
penting. Tanpa bergantung pada Negara tentang pelaksanaan hak
8

kepemilikan, controlling owners memperoleh kekuasaan melalui hak
votingnya dan insentif melalui hak arus kasnya untuk bernegosiasi dan
melaksanakan kontrak perusahaan dengan berbagai stakeholders.
Lemahnya pemaksaan Negara terhadap hak kepemilikan adalah penyebab
yang paling mungkin dari terpusatnya kepemilikan di perusahaan Asia,
dimana mereka harus menghadapi sistem hukum yang lemah, pemaksaan
hukum yang memprihatinkan, dan korupsi. Lemahnya sistem hak
kepemilikan di Asia juga menjelaskan mengapa grup bisnis berbasis
keluarga telah menjadi bentuk organisatoris yang dominan. Kepemilikan
keluarga dan grup keluarga merupakan susunan kelembagaan yang
mefasilitasi transaksi-transaksi antar anggota keluarga dan perusahaan
afiliasi yang berdampak pada rendahnya informasi yang asimetris dan
lebih sedikitnya masalah yang timbul, dibandingkan apabila melakukan
transaksi dengan pihak non-afiliasi. Alasan lainnya yang menggambarkan
grup di Asia yaitu perkembangan pasar yang memprihatinkan keuangan,
manajerial, dan faktor pasar lainnya- yang cenderung membantu pasar
internal untuk alokasi sumber dayanya.
C. Efek insentif dari terpusatnya kepemilikan
Sifat dasar dari struktur kepemilikan akan mempengaruhi sifat dasar
masalah keagenannya. Apabila dalam perusahaan yang kepemilikannya
tersebar, maka masalah keagenan akan timbul dari konflik kepentingan
antara pemilik saham dengan manajer. Namun ketika kepemilikan
terkonsentrasi ditingkat dimana seorang pemilik mempunyai kontrol
efektif atas perusahaan, maka masalah keagenan akan bergeser dari konfik
manajer-pemegang saham menjadi konflik antara pemilik saham mayoritas
dengan pemilik saham minoritas.
Entrenchment effects
Memiliki kontrol efektif atas perusahaan membuat controlling
owner mampu untuk menentukan tidak hanya bagaimana
perusahaannya berjalan tetapi juga bagaimana labanya dibagikan.
Meskipun pemilik minoritas mempunyai hak laba sesuai
kepemilkan saham mereka, mereka menghadapi ketidak pastian
bahwa kubu pemilik saham mayoritas mungkin mencabut hak
mereka. Untuk mengkonsolidasikan kontrol, digunakan
9

kepemilikan piramida atau lintas kepemilikan, yang memerlukan
investasi arus kas yang lebih rendah. Dalam situasi seperti ini,
controlling owner dapat memeras kekayaan perusahaan
(apropriasi), menerima keseluruhan keuntungan tetapi hanya
menanggung sedikit biaya melalui penilaian yang lebih rendah dari
kepemilikan arus kasnya.
Alignment effects
Penambahan kepemilikan arus kas berarti bahwa ketika pemilik
saham mayoritas mencoba untuk menyelewengkan arus kas
perusahaan untuk kepentingan pribadi, hal tersebut akan merugika
mereka. Kepemilikan arus kas yang tinggi juga dianggap sebagai
komitmen yang dapat dipercaya bahwa pemilik saham mayoritas
tidak akan mengekspropriasi pemilik saham minoritas (Gomes
2000). Komitmen tersebut dapat dipercaya karena pemilik saham
minoritas tahu apabila pemilik saham mayoritas mengambil
keuntungan pribadi dari perusahaan, mereka akan memotong harga
saham sehingga nilai saham pemilik mayoritas akan turun juga.
Secara ekuilibrium, pemilik saham mayoritas yang mempunyai
kepemilikan yang besar akan melihat harga saham perusahaan yang
lebih tinggi. Jadi, meningkatkan hak arus kas dari controlling
owner dapat memperbaiki kesejajaran kepentingan antara pemilik
saham mayoritas dengan minoritas dan mengurangi efek
entrenchment.
Bukti empiris
Kepustakaan di Asia telah menguji hubungan antara
kepemilikan dan performa perusahaan dan membuat kesimpulan
dari efek insentif dari terkonsentrrasinya kepemilikan. Claessens et
al. (2002a) melaporkan bahwa nilai perusahaan menjadi lebih
tinggi ketika ekuitas dari pemilik terbesar menjadi lebih besar,
tetapi nilai perusahaan menjadi lebih rendah ketika jarak diantara
kontrol dari pemilik terbesar dan ekuitasnya menjadi lebih besar.
Serupa dengan Claessens et al. (2002a), Lins juga menemukan
bahwa nilai perusahaan menjadi lebih rendah ketika hak kontrol
10

dari grup manajemen pengendali melebihi hak arus kasnya. Lins
juga menemukan bahwa blockholdings hak kontrol non-
manajemen berhubungan positif dengan nilai perusahaan. Kedua
efek tersebut terjadi secara signifikan di Negara yang mempunyai
proteksi yang lemah terhadap pemegang sahamnya.
Sebagai tambahan dalam pembelajaran kepemilikan-performa,
ada sebuah bukti bahwa performa saham berhubungan dengan
kualitas tata kelola perusahaannya. Black et al. (2002) mensurvei
perusahaan Korea pada tahun 2001 untuk membuat indeks kualitas
tata kelola perusahaan. Black et al. menunjukkan
bahwapeningkatan dari satu standar deviasi pada indeks berarti
meningkatkan level pengembalian buy-and-hold dari saham
perusahaan sekitar 5% selama periode pemegangan saham tersebut
di tahun 2001.
Negara sebagai pemilik pengendali: Kasus di Cina
Permasalahan kepemilikan dan perusahaan menjadi lebih
kompleks ketika Negara menjadi pemilik pengendali. Alasannya:
pertama, Negara bukanlah pemilik ultimat melainkan agen dari
pemilik ultimat, yaitu masyarakat. Kedua, bisa saja terdapat
berbagai tipe agensi tata kelola yang berbeda yang mengontrol
ekuitas perusahaan. Ketiga, apabila Negara sebagai pemilik
pengendali ada di Negara sosialis seperti Cina, akan menjadi sulit
untuk menginterpretasikan hubungan apapun antara kepemilikan
dan kinerja tanpa melihat struktur institusional lainnya.
Riset pada masalah tata kelola perusahaan dimana Negara
sebagai pemilik pengendali menunjukkan bahwa Cina berada pada
tahap pertumbuhan. Berdasarkan 600 perusahaan milik Negara
yang go public selama 1994-1998, Sun dan Tong menemukan
bahawa terdapat hubungan yang negative antara kepemilikan oleh
Negara dengan kinerja akuntansi setelah terjadinya penawaran
publik pada perusahaan milik Negara. Hal ini mengindikasikan
bahwa kepemilikan oleh Negara dirasa dapat memperburuk kinerja
perusahaan.

11

Mekanisme Tata Kelola di benua Asia
Di benua Asia tingkat kepemilikan perusahaan yang terdominasi dan
rendahnya transparansi memberikan porsi signifikan dalam bentuk tata kelola
perusahaan yang menyebabkan adanya konflik antara pemilik saham utama yang juga
memiliki kontrol atas kebijakan perusahaan dengan pemilik saham minoritas. Oleh
karena itu di benua Asia terdapat suatu mekanisme yang bertujuan untuk melindungi
kepentingan pemilik saham minoritas. Mekanisme-mekanisme tersebut antara lain:
1. Pemilik saham minoritas dan investor luar
Permintaan investor akan tata kelola perusahaan yang lebih baik membuat
perusahaan dapat secara sukarela melakukan mekanisme monitoring dan
pengikatan untuk meminimalisasi opini akan adanya pengecilan peran investor
luar. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari potongan harga saham (
menginginkan besarnya harga saham yang lebih wajar tanpa terkait akan
sentimen pasar ) dan meningkakan akses akan sumber keuangan dari luar.
Salah satu peran investor institusi dan pertumbuhan pasar secara umum atas
konflik antara pemilik utama dengan pemilik minoritas di Asia adalah dalam
bentuk sertifikasi. Ketika tingkat kepemilikan terkonsentrasi pada satu pihak
dan didalam perusahaan mulai tercipta konflik antara pemilik yang memiliki
kontrol dan pemilik saham minoritas maka perusahaan dapat mengundang
partisipasi investor institusi untuk meminjam reputasi mereka agar dapat
meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata pemilik minoritas. Akan tetapi
investor institusi ini belum tentu membawa kedalam peningkatan tata kelola
perusahaan menjadi lebih baik lagi.
2. Pengambilalihan dan tata kelola internal perusahaan
Mekanisme tata kelola perusahaan secara konvensional seperti pembentukan
Boards of Directors dan pengambilalihan perusahaan di benua Asia memiliki
tingkat yang rendah. Posisi Boards of Directors perusahaan-perusahaan di
Asia terlalu banyak didominasi oleh pihak pemegang saham mayoritas
dengan mengikutsertakan bagian keluarga mereka dalam struktur dewan
pimpinan. Sedangkan mekanisme pengambilalihan perusahaan biasanya
sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemilik saham terbesar, bukan dikarenakan
suatu kebijakan yang diambil oleh seluruh pemilik saham.
Tata kelola internal perusahaan di benua Asia juga memiliki bentuk yang
lemah, dilakukan dengan cara disiplinisasi oleh pemilik saham. Pihak manajer
12

sebagai bagian yang menjalankan roda perusahaan akan mendapatkan
disiplinisasi yang keras ketika kinerja perusahaan turun. Hal tersebut
menggambarkan adanya hubungan negatif antara siklus pergantian manajer
dengan kinerja perusahaan.

Alternatif mekanisme tata kelola perusahaan.

Beberapa mekanisme dalam proses monitoring dan pengikatan tercipta atas
adaptasi dari karakteristik tata kelola perusahaan-perusahaan di benua Asia.
Mekanisme tersebut tercipta untuk mengurangi adanya agency problems
dengan tujuan utama mendapatkan sumber keuangan dari luar dan
mendapatkan nilai saham yang lebih masuk akal.
-. Auditor Eksternal
Pemegang saham mayoritas dapat meminimalisir konflik dengan pemilik
minoritas dengan cara mempergunakan eksternal auditor yang berkualitas
tinggi untuk membuat laporan keuangannya sehingga dapat meningkatkan
kepercayaan pemilik minoritas.
-. Analis Ekuitas
Dengan adanya seorang analis ekuitas di pasar uang maka akan muncul
spekulasi-spekulasi atas setiap kebijakan yang diambil perusahaan yang dapat
berimplikasi terhadap perubahan harga saham perusahaan di pasar uang. Oleh
karena itu pihak pemilik saham terbanyak tidak bisa dengan mudah
mengintervensi kebijakan perusahaan, karena hal tersebut akan memicu
pergerakan harga saham yang dapat diawali dari analisis intrepertasi kebijakan
perusahaan oleh seorang analis ekuitas.
-. Dividend Policy
Seorang manajer dapat memberikan dividen kepada para pemilik saham guna
meminamilisir agency problem yang mungkin timbul.
-. Foreign Listing
Salah satu mekanisme tata kelola perusahaan yang baru muncul belakangan ini
adalah pilihan dari suatu perusahaan untuk mendapatkan akses dipasar luar
negri. Dengan adanya keinginan untuk masuk ke pasar negara lain maka
perusahaan diwajibkan untuk mengikuti peraturan tata kelola perusahaan yg
lebih baik dan meningkatkan transparansi mereka.
13

-. General studies
Penelitian umum telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara tata
kelola perusahaan yang dilakukan secara sukarela dibandingkan dengan tata
kelola perusahaan yang didasarkan atas peraturan. Penelitian tersebut
menemukan bahwa tingkat tata kelola perusahaan lebih berarti dalam
penilaian perusahaan di negara yg memiliki perlindungan teerhadap investor
lebih rendah. Yang menggambarkan bahwa perusahaan beradaptasi
(menyesuaikan) atas lingkungan hukum yang rendah untuk mencapai praktik
tata kelola perusahaan yang lebih efisien. Dan juga menemukan bahwa
mekanisme perusahaan secara sukarela hanya dapat sebagian dikompensasi
untuk hukum dan perundangan yang tidak efektif.

Isu-isu akan tata kelola perusahaan yang spesifik di Asia
1. Grup Afiliasi
Claessens et al. (2002b) menyajikan bahwa hampir 70% perusahaan yang
terdaftar dalam bursa saham dalam lingkup wilayah sembilan ekonomi Asia
Timur merupakan grup yang terafiliasi.
Suatu grup perusahaan dapat diartikan sebagai suatu organisasi perusahaan
dimana beberapa perusahaan terhubung dalam stock pyramids dan lintas
kepemilikan. Dalam struktur grup perusahaan yang terafiliasi perusahaan-
perusahaan dalam grup tersebut terhubung dengan penggunaan yang luas dan
besar akan faktor pasar internal, termasuk didalamnya pasar uang. Salah satu
keunggulan ekonomis dari afiliasi grup adalah perusahaan-perusahaan tersebut
dapat mengalokasikan modal dalam grup mereka, terlebih ketika sumber dana
dari luar langka dan tidak pasti (Khanna dan Palepu 1997). Pasar internal yang
dikombinasikan dengan tingkat kepemilikan dan kontrol yang kompleks dari
suatu grup afiliasi dapat membawa kepada masalah pengaturan dan agency
problems yang menyebabkan kesalahan dalam mengalokasikan sumber daya.
Nilai dari suatu bisnis grup afiliasi dan ukuran akan kelebihan dan kekurangan
dalam pasar internal pada akhirnya bergantung kepada faktor institusi yang
membentuk biaya relatif dalam menggunakan pasar uang eksternal
dibandingkan pasar uang internal.
Bukti yang terlihat hingga saat ini akan keuntungan dan kerugian dari afiliasi
grup perusahaan secara umum dan di benua Asia secara spesifik adalah
14

bervariasi dan jauh dari suatu kesimpulan. Beberapa penelitian dilakukan
untuk mencari hubungan antara grup afiliasi dengan kinerja gru bisnis.
Khanna dan Palepu (2000), melakukan penelitian kinerja grup bisnis di India,
menemukan bahwa standar akuntansi dan pasar saham menentukan kinerja
perusahaan mengalami penurunan sejalan dengan besarnya grup afiliasi.
Claessens et al (2000a) mendokumentasikan bahwa untuk perusahaan yang
tergabung dalam grup afiliasi di Asia Timut dan Chili bahwa resiko pasar dari
saham perusahaan tidak hanya dipengaruhi dari karakteristik saham tersebut
(besar, rasio harga dan nilai buku) akan tetapi juga ditentukan oleh
karakteristik gup tersebut.
Keister (1998) melaporkan bahwa grup afiliasi di Cina terhubung dengan
kinerja dan produktifitas yang lebih baik pada akhir tahun 1980.
Chang dan Choi (1988) melaporkan bahwa perusahaan terafiliasi chaebol
memiliki kinerja yang lebih baik bila dibandingkan dengan perusahaan yang
tidak tergabung dalam grup afiliasi.
Claessens et al (200b) melakukan penilitian grup bisnis pada 9 ekonomi
negara Asia Timur yang menghasilkan bahwa semakin matang, pertumbuhan
yang lambat dan terbatasnya finansial dari suatu perusahaan memberikan grup
afiliasi sebagai keuntungan tersendiri.
2. Diversivikasi
Perusahaan di benua Asia terkenal akan diversifikasi bisnis mereka yang
meluas. Dalam pandangan pasar internal memberikan gambaran bahwa
perusahaan yang terdiversifikasi akan memberikan kinerja yang lebih baik
ketika terjadi tekanan keuangan, hal ini dikarenakan pada saat tersebut pasar
uang eksternal mengalami goncangan sedangkan perusahaan masih dapat
mendapatkan keuangannya dari pasar internal. Akan tetapi Lins dan Sevaes
(2002) melakukan studi atas akibat diversifikasi perusahaan terhadap nilai
persahaan (saham perusahaan) akan tetapi mendapatkan akibat yang
berlawanan, diamana suatu perusahaan yang terdiversifikasi sahamnya
diperdagangkan dengan nilai terdiskonto sebesar 7% dibandingkan perusahaan
yang tidak terdiversifikasi.
Claessens et al (2000b) melakukan penelitia pola dari hubungan vertikal dan
bisnis tambahan atas perusahaan yang terdiversfikasi dalam 9 ekonomi di
Asia. Yang menemukan bahwa perusahaan yang ada di negara berkembang
15

lebih berhasil dalam mengintegrasikan komponen vertikal mereka
dibandingkan perusahaan yang ada di negara yang belum berkembang.
3. Financial Disclosure and Transparency
Perusahaan publik di benua Asia memiliki tingkat transparansi dan
pengungkapan yang rendah, yang dapat diakibatkan atas rendahnya tata kelola
perusahaan. Fan dan Wong (2002a) melaporkan bahwa transparansi akuntansi
yang dihitung dari hubungan antara pendapatan yang dilaporkan dan
pengembalian saham dalam 7 ekonomi Asia memiliki tingkat yang rendah.
Mereka berpendapat bahwa rendahnya transparansi terhubung dengan agency
problem dan transaksi yang berdasarkan atas hubungan perusahaan.
4. Asia Financial Crisis
Rajan dan Zingales (1998) mendiskusikan pro dan kontra atas sistem
keuangan yang berdasarkan atas hubungan perusahaan. Mereka berargumen
bahwa sistem bedasarkan hubungan tersebut akan berjalan dengan baik ketika
kontrak kerja dipaksakan secara rendah dan ketersediaan modal yang rendah.
Akan tetapi sistem yang berdasarkan hubungan akan dapat memberikan
kesalahan dalam mengalokasikan modal dalam arus masuk modal yang tinggi.
Johnson et a (2000) menemukan bahwa institusi hukum yag lemah atas tata
kelola perusahaan merupakan faktor kunci yang memperburuk penurunan
harga saham selama 1997 krisis keuangan. Mereka menemukan bahwa
didalam negara yang memilikiproteksi rendah kepada investor, arus masuk
modal lebih sensitif atas kejadian negatif yang berpengaruh secara
berlawananan terhadap tingkat kepercayaan investor.
Mitton (2002) mengukur kinerja saham dari perusahaan yang terdaftar di bursa
Indonesia, Korea, Malaysia, Fillipina dan Thailand. Hasil yang didapatkan
adalah kinerja perusahaan akan lebih baik jika perusahaan memiliki kualitas
pengungkapan atas laoran keuangan yang tinggi dan konsentrasi kepemilikan
luar negri yang tinggi. Hal tersebut menyediakan tingkat pembuktian yang
konsisten dengan pandangan bahwa tata kelola perusahaan membantu kinerja
perusahaan ketika krisis keuangan.
Lemmonn dan Lins melakukan penelitian atas efek struktur kepemilikan atas
nilai perusahaan selama krisis keuangan regional. Krisis tersebut memiliki
dampak negatif atas kesempatan investasi suatu perusahaan, menaikkan
insentif dari pemegang sahamyang memiliki kontrol perusahaan untuk
16

mengambil alih investor minoriitas. Mendapatkan kesimpulan bahwa struktur
kepemilikan memainkan peranan penting dalam menentukan insentif dari
pihak internal untuk mengambil alih pemilik saham minoritas.
5. Financing Structure and the role of banks
Titman et al (2001) meneliti pola keuangan dari perusahaan dalam enam
negara berkembang Asia. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa suatu
perusahaan dalam negara yang belum berkembang menggunakan dana
eksternal lebih banyak dari pada dana internal untuk membiayai proyek
investasi mereka. Hal ini memberikan pendapat bahwa ketergantungan yang
tinggi atas dana eksternal perusahaan-perusahaan Asia merefleksikan kenyatan
bahwa kebutuhan akan investasi melebihi kemampuan pihak internal dalam
meningkatkan arus kas. Akan tetapi tidak menemukan perbedaan yang
signifikan atas penjelasan yang berdasarkan dari pihak institusi.
Wiwattanakantang (1999) menguji kebijakan keuangan perusahaan di negara
Thailand dan menemukan bahwa struktur permodalan perusahaan yang dipilih
oleh suatu perusahaan dipengaruhi oleh faktor yang sama yang ditemukan
sebagai faktor penting di ekonomi negara berkembang. Tingkat pengungkit
ekonomi Thailand adalah tingginya perusahaan milik keluarga. Bukti yang
didapatkan atas kasus Thailand ini memiliki konsistensi dengan pandangan
bahwa pengungkit digunakan oleh keluarga pemilik sebagai suatu bentuk
kontrol yang terkonsentrasi (Harris dan Raviv 1988; Stulz 1988).
Harvey et al (2001) menguji apakah kontrak hutang dapat meringankan
masalah yang timbul dengan insentif ketidaksejajaran yang muncul ketika
seorang manajer memiliki hak kontrol yang melebihi tingkat kepemilikannya.
Mereka menunjukkan bahwa tingkat hutang yang tinggi memberikan efek
peredam atas kerugian dalam nilai yang dikarenakan adanya managerial
agency problems. Dari investigasi lebih lanjut ditemukan bahwa pinjaman
yang dilakukan di luar negri memberikan kenaikan atas nilai jika dikeluarkan
oleh perusahaan dengan tingkat perkiraan managerial agency yang tinggi.
Hubungan perusahaan kepada pihak bang atau afiliasinya dengan pihak bank
merupakan suatu hal yang menentukan dalam keuangan perusahaan di Asia.
Akan tetapi apakah menguntungkan atau tidak suatu perusahaan terafiliasi
dengan bank masih dalam perdebatan. Hubungan perbankan dapat
menguntungkan baik itu kreditur maupun debitur dikarenakan adanya
17

informasi yang asimetris atas pihak tersebut kecil (Diamond 1984). Akan
tetapi hubungan perbankan dapat membawa kepada kesalahan alokasi dari
permodalan ( bolton dan Scharfstein 1996) atau bahkan memberikan
mengurangi batas kredit bagi peminjam (Rajan 1992; weinstein dan Yafeh
1998). Ferri et al (2001) melakukan pengujian atas perusahaan keil dan
menengah dimana sumber keuangan eksternalnya hanya bergantung dari bank
dan berpendapat bahwa hubungan perbankan memiliki efek positif dari nilai
perusahaan pada krisis 1997-1998. Mereka berpendapat bahwa hubungan
perbankan mengurangi batasan keuangan perusahaan yang oleh karena itu
mengurangi kemungkinan bangkrut. Bae et a (2002b) menemukan bahwa
tekanan negatif yang terjadi pada bank akan memiliki efek negatif kepada
bank dan perusahaan krediturnya. Djankov et al (2000) meneliti 31
pengumuman insolvensi bank pada tahun 1998 dan 1999 di Indonesia, Korea
dan Thailand. Penutupan bank mengakibatkan perusahaan kehlangan
hubungan kredit yang terasosiasi dengan penurunan nilai perusahaan di pasar.
Nasionalisasi, rekapitulasi dan pengelolaan yang baru atas perusahaan
terhubung dengan pendapatan positif dari perusahaan yang terafiliasi. Hal
tersebut menggambarkan bahwa hubungan bank (kepemilikan) merupakan hal
yang penting dan dapat meningkatkan nilai perusahaan dalam lingkup
ekonomi Asia.