Anda di halaman 1dari 4
ISSN: 1410-5667 SEMINAR NASIONAL FUNDAMENTAL DAN APLIKASI TEKNIK KIMIA 2004 Surabaya, 7-8 Desember 2004 Diselenggarakan

ISSN: 1410-5667

SEMINAR NASIONAL FUNDAMENTAL DAN APLIKASI TEKNIK KIMIA 2004 Surabaya, 7-8 Desember 2004 Diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Kimia FTI - ITS

Pengaruh Konsentrasi 3-Chloro-2-Hydroxy Propyl Trimethyl AmmoniumChloride(CHPTMA)dan Suhu pada Pembuatan Pati Berkation Dengan Menggunakan Pati Singkong (Manihot utilissima)

Prasetyawan Yunianto 1) , Rony Beatrix Mardipana 2) 1) Pusat P2 Teknologi Farmasi dan Medika – BPPT Jakarta 2) Jurusan Teknologi Industri Pertanian, FATETA – IPB Bogor Telp/Fax : (021) 3169505; e-mail : pyunianto@yahoo.com

Abstrak

Pati berkation (cationic starch) merupakan pati modifikasi yang digunakan dalam pabrik kertas sebagai wet end additives, surface sizing agents dan zat pengikat dalam kertas. Selain itu juga dapat digunakan sebagai flocullant dan emulsifier. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pati berkation dengan menggunakan bahan baku pati singkong, serta mengamati pengaruh perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati (0.1 mol, 0.13 mol dan 0.16 mol) dan suhu (40 0 C, 50 0 C dan 60 0 C) pada pembuatan pati berkation untuk menghasilkan kondisi yang terbaik serta menganalisa karakterisasi pati berkation.Untuk menentukan kondisi terbaik, maka standar yang ditetapkan yaitu DS yang harus memenuhi selang yang ditentukan pada industri kertas (0.02-0.04). Semakin besar perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati maka semakin tinggi nilai DS dan RE yang dihasilkan, sedangkan semakin tinggi suhu yang direaksikan maka semakin cepat waktu reaksi yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi optimal. Kondisi terbaik diperoleh pada perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati 0.16 mol pada suhu 50 O C dengan lama waktu reaksi 4 jam. Hasil Karakterisasi terhadap pati singkong berkation adalah : kadar air (13.395 %), kadar abu (0.036 %), kadar pati (87.1 %), kadar nitrogen (0.2083), DS (0.02455), RE (15.7%), pH (6.7), derajat putih (91.59 %), rendemen (86.74%).

Kata kunci/Key words :

1.

Pendahuluan

Pati berkationik telah banyak digunakan dalam industri pembuatan kertas, yakni sebagai wet- end additives, surface sizing agents dan zat pengikat dalam kertas (Rutenberg dan Solarek,1984). Lebih jauh lagi, pati berkationik pun digunakan juga sebagai flocullant dan emulsifier. Alasan digunakannya pati berkation karena memiliki keuntungan ekonomis yang lebih baik dalam hal ini dapat mengurangi penggunaan bahan tambahan lain dan meningkatkan kualitas pada kertas. Selain itu juga pengaruhnya terhadap lingkungan juga tidak berbahaya. Pati berkation dapat meningkatkan nilai BOD (Biology Oksigen Demand), sebaliknya berdasarkan SSVL`s (Test Methods for Additive Chemicals), belum diketahui efek negatif pada lingkungan, dan pati berkation menunjukkan tidak mengandung racun berdasarkan MICROTOX pada EC20, dan produk dapat di uraikan secara biologis (PERLBOND 911). Solarek (1989) menyatakan bahwa pati berkation dihasilkan melalui reaksi kimia dari pati dengan menggunakan reagen yang mengandung amino, imino, ammonium, sulfonium atau grup

phosphonium yang akan menghasilkan muatan positif.

Tasset (1984) didalam U.S. Patent No. 4,464,528 pada pembuatan pati berkation dengan menggunakan pati jagung melakukan variasi dengan menggunakan garam alkali seperti NaCl atau Na 2 SO 4 yang bertujuan untuk mencegah terjadinya gelatinisasi. Penggunaan alkali dapat diabaikan akan tetapi temperatur yang digunakan pada saat pengadukan harus lebih tinggi dari suhu normal yaitu 200 0 C. Ditambahkan lagi bahwa lamanya waktu reaksi pati berkation umumnya berkisar antara 12 sampai 20 jam, sedangkan suhu yang digunakan harus rendah untuk mencegah terjadinya gelatinisasi, biasanya antara suhu ruang sampai dengan suhu 50 0 C. Selain itu juga digunakan CaO (lime) dan NaOH (caustik) sebagai katalis yang berfungsi untuk mengurangi viskositas dan memungkinkan untuk menggunakan pati dengan konsentrasi yang lebih tinggi sehingga yields yang dihasilkan lebih besar. NaOH yang digunakan konsentrasinya berkisar antara 0.35 sampai 1.2% berat, umumnya sekitar 0.6 sampai 1.0%, sedangkan CaO konsentrasinya berkisar antara 0.15 sampai 0.8%, umumnya berkisar antara 0.3 sampai 0.6%.

SP16-1

Wanrosli et al (2001) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi reaksi kationisasi yaitu temperatur, waktu dan perbandingan mol CHPTMA dengan pati. Wanrosli dalam penelitiannya dengan

menggunakan pati sagu mereaksikan pati dengan quaternary ammonium pada suhu 40 0 C, 50 0 C, 60 0 C, 70 0 C dan 80 0 C, dengan lama waktu reaksi selama 25 jam. Temperatur akan berpengaruh terhadap waktu reaksi dari pati berkation. Ditambahkan lagi bahwa pengaruh perbandingan konsentrasi CHPTMA : pati terhadap degree substitution (DS) akan bertambah dengan meningkatnya konsentrasi yang digunakan. Sedangkan DS yang baik untuk digunakan pada kertas berkisar antara 0.02-0.04. Diversifikasi terhadap pati singkong di Indonesia belum banyak, padahal modifikasi terhadap pati singkong akan meningkatkan nilai ekonomisnya, yang sementara ini masih impor. Oleh sebab itu pada penelitian ini dilakukan digunakan pati singkong sebagai bahan baku utamanya, dengan mengamati pengaruh dari konsentrasi CHPTMA dan suhu dalam menghasilkan pati berkation dengan kondisi terbaik, kemudian dilakukan analisa pada produk akhir untuk mengetahui karakterisasi pati berkation dari pati

singkong.

2. Metodologi Bahan baku yang digunakan untuk penelitian ini adalah pati singkong (pabrik POMAD, Bogor), epichlorohydrin (Sigma-Aldrich) dan trimethylamine 25% (Aldrich), methanol (Scharlau), NaOH (Merck), CaO (BDH analar), Na 2 SO 4 (Merck) , dan HCl (BDH analar) serta bahan - bahan kimia lainnya yang digunakan untuk analisis pendahuluan dan analisis produk akhir. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap, yaitu:

a. Penelitian pendahuluan berupa karakterisasi pati

singkong yang meliputi kadar air, abu, protein, pati, lemak, dan derajat putih.

b. Pembuatan reagent CHPTMA (Modifikasi dari

Doughty et al, 1978) yang terdiri atas tiga konsentrasi, yaitu 0.078 mol, 0.1 mol dan 0.12 mol. Prosedur pembuatan reagen 3-chloro-2-hydroxy propyl trimethyl ammonium chloride secara rinci sebagai berikut:

Epichlorohydrin sebanyak 0.078 mol, 0.1 mol, dan 0.12 mol dilarutkan di dalam methanol (9.135 ml, 11.83 ml dan 14.056 ml) pada suhu 5 ± 3 0 C di dalam ice water bath- Trimethylamine sebanyak 19.786 ml, 25.322 ml dan 30.442 ml (0.078 mol, 0.1 mol dan 0.12 mol) ditambahkan ke dalam larutan. Larutan di aduk dengan stirrer selama 24 jam pada suhu 5 ± 3 0 C. Selanjutnya larutan disimpan pada suhu ruang selama 2 hari, kemudian dilakukan analisa

kadar kloridanya (Cl - ), untuk menghitung kadar %Cl - . Dari perlakuan tersebut didapatkan %Cl - sekitar 93,4

%.

c. Pembuatan pati berkation (Modifikasi dari Tasset, 1984) terdiri atas dua variable peubah, yaitu perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati dan suhu. Perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati yang digunakan yaitu 0.10 mol, 0.13 mol,dan 0.16 mol,

dimana konsentrasi pati singkong yang digunakan tetap yaitu 0.75 mol (121.74 gram), sedangkan suhu pada rentang 40 0 C, 50 0 C dan 60 0 C. Prosedur pembuatan cationic starch secara rinci sebagai berikut:

3-chloro-2-hydroxypropyltrimethylammonium

chloride masing-masing pada konsentrasi 0.078 mol, 0.1 mol dan 0.12 mol direaksikan dengan kaustik yang terbuat dari 2 gr NaOH dalam 97 gr air didalam Erlenmeyer 500 ml pada suhu 40 0 C, 50 0 C, dan 60 0 C yang dilengkapi dengan blade (pengaduk). Larutan diaduk dengan blade hingga terbentuk larutan epoxide yang ditandai dengan penurunan pH dari 13.2-12.3 (± 2 menit). Pati singkong sebanyak 121.74 gr dicampur dengan air sebanyak 264.65 gram dan 2.7 gr Na 2 SO 4 Suspensi pati dicampurkan dengan larutan epoxida, sehingga terbentuk dispersi yang seragam (10-15 menit). Larutan dipanaskan dengan menggunakan blade (pengaduk) pada suhu (40,50,60 0 C) selama 10 menit, yang menyebabkan pH turun menjadi 10.Sebanyak 1 gr CaO dalam 3 gr air ditambahkan. pH naik dari 10 menjadi 11.4. Larutan di aduk selama 24 jam dengan blade pada suhu yang ditentukan, kemudian dilakukan sampling pada jam ke-0, 1, 2, 4, 6, 8, 12, 16, dan 24 untuk diukur kadar nitrogennya. Pada akhir reaksi ditambahkan 10 ml air untuk mengurangi viskositas. Penurunan pH menjadi 6.5 dengan menetralisasi dengan 1 N HCl. Lumpur pati disaring dan dicuci 4 kali dengan 100 ml air, kemudian dikeringkan pada suhu 35 0 C sehingga diperoleh cationic starch. d. Analisis kimia pada pati berkation Analisis yang dilakukan yaitu kadar protein dengan menggunakan metode kjeldahl untuk menghitung DS (derajat substitusi) dan RE. (efisiensi reaksi) (Wanrosli, 2001).

DS =

162 x % N

 

(1400- (117 x % N)

 

RE =

DS

x

100 %

( mol CHPTMA/pati)

 

Karakterisasi

pati

berkation

pada

kondisi

terbaik

meliputi kadar air, abu, protein, pati, lemak, dan

derajat putih.

3. Hasil dan Diskusi

A. Karakterisasi Bahan Karakterisasi pati singkong dilakukan sebagai identifikasi awal terhadap sifat fisik dan kimia pati. Hasil karakterisasi pati dapat diamati pada Tabel 1.

SP16-2

SFATK 2004

Tabel 1. Karakterisasi pati

Karakterisasi pati

Hasil analisa

(%)

Kadar air

15.6

Kadar abu

0.2

Kadar lemak

0.1

Kadar pati

79.7

Kadar nitrogen (%N)

0.072

Derajat putih

97.8

Kadar pati merupakan kriteria mutu terpenting pati yang merupakan nilai terbesar yang dimiliki pati. Kadar pati yang dimiliki oleh pati biasanya berkisar antara 70-85% (Swinkels, 1985). Nilai kadar nitrogen tidak hanya meliputi protein, akan tetapi peptida, amida, asam amino, dan enzim. Kadar protein pati singkong memiliki nilai yang kecil ( < 0.1% ), hal tersebut sesuai dengan data yang diperoleh. Kadar nitrogen pati singkong memiliki nilai yang rendah, karena memiliki granula pati yang besar, (Swinkes, 1985). Pati singkong sebelum dimodifikasi, memiliki nilai kadar nitrogen yang kecil, namun setelah di substitusi dengan 3-chloro-2- hydroxy propyl trimethyl ammonium chloride yang mengandung amine, maka nilai kadar nitrogen pati menjadi lebih besar.

B. Pati Berkation (cationic starch) B.1. Pengaruh suhu dan waktu reaksi Pati singkong mengalami gelatinisasi pada suhu 69-70 0 C (Whistler & Smart, 1953), maka pada penelitian ini suhu yang diamati yaitu 40 0 C, 50 0 C dan 60 0 C dengan waktu reaksi selama 24 jam. Waktu reaksi dipilih 24 jam, karena pada tiap suhu yang berbeda yaitu pada 40 0 C, 50 0 C dan 60 0 C, akan menunjukkan karakterisasi yang berbeda pada proses pensubtitusinya, dimana pada suhu 40 0 C proses subtitusi baru mencapai kisaran DS yang diharapkan (DS 0.02-0.04) dengan waktu reaksi yang lebih lama dibandingkan dengan suhu 50 0 C dan 60 0 C. Pengaruh suhu terhadap pati berkation pada konsentrasi 0.16 mol dapat dilihat pada Gambar 1. Pada suhu 40 0 C, reaksi pati berkation mulai memasuki rentang DS pada jam ke-6 (0.02017), dan mencapai puncaknya pada jam ke-16 dengan nilai DS dan RE sebesar 0.0266;16.625%. Sedangkan pada suhu 50 0 C, nilai DS dan RE mulai mencapai rentang pada jam ke-4 yang juga merupakan nilai DS tertinggi sebesar 0.02512;15.70%. Pada suhu 60 0 C, DS mulai mencapai rentang pada jam ke-2 (0.02203, 13.769%). Sedangkan nilai DS nya mencapai puncak pada jam ke-4 dengan nilai DS dan RE sebesar 0.02314;14.463%. Nilai DS tertinggi pati berkation dengan konsentrasi 0.16 mol CHPTMA/pati terdapat pada suhu 50 0 C dengan waktu reaksi selama 4 jam, dengan nilai DS dan RE sebesar 0.02512;15.7%. Berdasarkan data yang diperoleh dapat diketahui pengaruh suhu terhadap proses substitusi. Pada tiap-tiap konsentrasi, semakin tinggi suhu reaksi yang direaksikan, maka semakin cepat proses substitusi terbentuk. Pada suhu 40 0 C, subtitusi ber- jalan lebih lambat, suhu 50 0 C merupakan suhu terbaik

0.03 0.02 0.01 0 0 1 246 8 12 16 24 Waktu (jam) suhu 40
0.03
0.02
0.01
0
0
1
246
8
12
16
24
Waktu (jam)
suhu 40 C
suhu 50 C
suhu 60 C
DS

Jam/suhu

J-0

J-1

J-2

J-4

J-6

J-8

J-12

J-16

J-24

40

0 C

2.175

7.575

11.065

9.138

12.606

14.7

14.181

16.625

14.181

50

0 C

7.144

8.95

10.531

15.7

14.131

12.675

11.119

11.975

9.363

60

0 C

9.475

11.65

13.769

14.46

13.119

13.038

13.075

11.144

13.069

Gambar 1. Grafik nilai DS dan RE pati berkation pada perbandingan konsentrasi 0.16 mol CHPTMA dengan pati.

karena pada kondisi tersebut DS mencapai selang pada waktu yang lebih cepat dari suhu 40 0 C dan produk akhir yang dihasilkan lebih besar yaitu 86.74% ( yields yang dihasilkan 105.6 gram dari 121.24 gram pati) daripada suhu 60 0 C. Sedangkan pada suhu 60 0 C proses substitusi sudah mencapai rentang pada 2 jam, dan setelah itu mengalami penurunan nilai DS dan RE dikarenakan terjadi hidrolisis yang memperlambat reaksi, meskipun nilai DS yang diperoleh terjadi lebih cepat dari suhu 50 0 C, namun karena pada suhu 60 0 C terjadi pragelatinisasi yang menyebabkan penambahan air sebanyak 40 ml dilakukan semenjak jam pertama, maka suhu terbaik yang dipilih pada temperatur 50 0 C.

B.2. Pengaruh perbandingan konsentrasi CHPTMA dengan pati terhadap suhu. Perbandingan konsentrasi CHPTMA dengan pati juga merupakan faktor yang mempengaruhi kationisasi pada pati. Wanrosli (2001) menyatakan bahwa pengaruh perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati mol terhadap degree substitution (DS) akan bertambah dengan meningkatnya konsentrasi yang digunakan. Reaksi pati berkation pada suhu 50 0 C memiliki nilai DS yang lebih besar dariapada suhu 40 0 C. Berdasarkan grafik, pada perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati 0.1 mol, grafik memiliki nilai DS dengan kecenderungan naik,meskipun turun pada jam ke-4 dan jam ke-6. Pada konsentrasi tersebut, DS baru memasuki selang pada jam ke-12 (0.02121) dan mencapai puncak pada jam ke-16 (0.02222). Nilai DS pada perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati 0.1 mol merupakan yang terkecil jika dibandingkan dengan konsentrasi yang lainnya, namun pada jam ke-12 memiliki nilai DS yang paling besar, hal ini disebabkan karena pada konsentrasi yang kecil, memerlukan waktu untuk mencapai selang pada waktu yang lebih lama. Pada perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati 0.13 mol, memiliki nilai DS yang lebih besar dari konsentrasi CHPTMA:pati 0.1 mol, namun pada jam ke-8 menurun sehingga nilai DS-nya lebih kecil. Pada konsentrasi tersebut, DS mulai memasuki rentang pada jam ke-2 (0.02107). Sedangkan pada perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati 0.16 mol, pati memiliki nilai DS yang

SFATK 2004

SP16-3

lebih besar jika dibandingkan dengan konsentrasi lainnya sampai jam ke-8, kecuali pada jam ke-2, perbedaan
lebih besar jika dibandingkan dengan konsentrasi
lainnya sampai jam ke-8, kecuali pada jam ke-2,
perbedaan ini kemungkinan dapat disebabkan
anomali.
0.03
0.025
0.02
0.015
0.01
0.005
0
0
1
2
4
6
8
12
16
24
Waktu (jam)
CHPTMA:pati 0.1 mol
CHPTMA:pati 0.16 mol
CHPTMA:pati 0.13 mol
Jam/konsentrasi
J-0
J-1
J-2
J-4
J-6
J-8
J-12
J-16
J-24
0.1 mol
2.965
5.61
12.22
12.59
9.665
19.07
21.21
22.22
19.2
0.13
mol
4.589
9.492
16.208
17.354
16.646
12.031
9.639
12.285
11.915
0.16
mol
7.144
8.95
10.531
15.7
14.131
12.675
11.119
11.975
9.363
DS

Gambar 2. Grafik nilai DS dan RE pati berkation dengan CHPTMA pada variasi suhu 50 0 C.

Berdasarkan data, maka dapat diketahui pengaruh konsentrasi terhadap kationisasi pada pati. Semakin besar konsentrasi yang direaksikan dan semakin tinggi suhu yang digunakan maka semakin cepat pati tersubstitusi, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai rentang DS pun lebih cepat. Hal ini sesuai dengan teori laju reaksi yang menyatakan bahwa semakin besar konsentrasi yang digunakan maka semakin cepat laju reaksi pada pati.

B.3. Kondisi Terbaik Pati Berkation Untuk menentukan kondisi terbaik ada beberapa hal yang dijadikan tolak ukur, yaitu DS, RE dan juga waktu reaksi. Untuk mencapai kondisi terbaik, maka DS harus memenuhi syarat yang diperlukan untuk industri kertas, dalam hal ini yaitu sebesar 0.02 sampai 0.04, setelah itu baru diamati RE dari DS tersebut, RE yang dipilih yaitu yang memiliki nilai tertinggi, sedangkan waktu yang dipilih yaitu waktu reaksi yang lebih singkat Berdasarkan kondisi terbaik yang diperoleh, maka dapat diketahui bahwa faktor suhu lebih berpengaruh daripada konsentrasi, karena pada suhu 60 0 C dengan konsentrasi yang lebih kecil menghasilkan nilai DS yang lebih besar daripada suhu 50 0 C dengan konsentrasi yang lebih besar. Hasil karakterisasi dapat diamati pada tabel berikut:

Tabel 2. Karakterisasi pati berkation suhu 50 0 C, konsentrasi CHPTMA:pati 0.16 mol pada jam ke-4

Karakterisasi pati

Rataan

Kadar air

13.395%

Kadar abu

0.036%

Kadar pati

87.1%

Kadar Nitrogen (%N)

0.2083

Derajat putih

91.59 %

pH

6.7

DS

0.02455

Rendemen

86.74%

4. Kesimpulan

Reaksi pati berkation dipengaruhi oleh perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati, suhu dan waktu. Semakin besar konsentrasi CHPTMA:pati yang direaksikan maka semakin tinggi nilai DS dan RE yang dihasilkan. Sedangkan semakin tinggi suhu yang digunakan, maka semakin cepat waktu reaksi yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi optimal. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka kondisi terbaik yang diperlukan untuk menghasilkan hasil maksimum diperoleh pada perbandingan konsentrasi CHPTMA:pati 0.16 mol pada suhu 50 0 C dengan lama

waktu reaksi selama empat jam.

Daftar Pustaka

1. Doughty, J. B, Sullivan’s Island, S. C dan Robert

E. Klem, Columbia, Md. 1978. Process for

Making Quaternary Amines of Epichlorhydrin.

U. S. Patent 4,066,673.

2. Perlbornd

911.

1997.

Lyckeby starkelsen.

Produk

Data

Sheet.

3. Rutenberg, M.W. dan D.B. Solarek. 1984. Starch

Derivatives : Production and Uses. Di dalam Roy

L. Whistler, James N. Be Miller, Eugene F.

Paschall. 1984. Starch, Chemistry and Technology, 2 nd ed. Academic press, Orlando.

4. Solarek, D. B. 1989. Cationic Starch. Di dalam O.B. Wurzburg. 1989. Modified Starches ; Properties and uses. CRC Press, Inc, Florida.

5. Swinkels, JJM,1985, Sources of Starch, Its Chemistry and Physics, didalam GMA Van Beynum and J.A Rocks, Strach Convertions Technology, Marcel Dekker inc; New York

6. Tasset, E. L. 1984. Process for Making Cationic Starch. U. S. Patent 4,464,528.

7. Wanrosli, W. D, A. Abd Karim dan S.G. Wong. 2001. Cationic Modification of Sago Starch (Metroxylan sagu) by an Aqueous Alkaline Process. Didalam K. Kainuma, M. Okazaki, Y. Toyoda dan John E. Cecil. 2001. New Frontiers of Sago Palm Studies. Universal Academic Press, Inc, Tokyo.

8.

Whistler,

Polysaccharide Chemistry. Academic Press, New

dan Smart, C.L. 1953.

R.L.,

York.

SP16-4

SFATK 2004