Anda di halaman 1dari 54

MODUL

PENDIDIKAN DAN LATIHAN PROFESI GURU


(PLPG)
WORKSHOP PENELITIAN TINDAKAN
KELAS (PTK)
KIMIA
Oleh :
Sri Yamtinah, S.Pd., M.Pd.
Drs. Sulistyo Saputro, M.Si., Ph.D
PANITIA SERTIFIKASI GURU RAYON 113
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2013
Modul PLPG PTK Kimia ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat ALLAH SWT atas rahmat dan
nikmat serta karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan modul ini
sesuai dengan rencana.
Modul ini dibuat sebagai bahan acuan dalam kegiatan workshop Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) pada Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) Tahun
2012. Para praktisi pendidikan seperti guru dituntut untuk selalu berupaya
meningkatkan kemampuan profesionalnya melalui berbagai kegiatan. Salah satu
kegiatan yang dapat mewujudkan hal tersebut secara sederhana dan lebih bersifat
mandiri bagi mereka adalah dengan melakukan PTK. Kegiatannya dapat
dilakukan secara bersamaan dengan teman sejawat ketika melakukan tugas
pengajaran.
Penyusunan modul ini lebih ditekankan pada pertimbangan kepraktisan agar
guru mudah memahaminya dan sekaligus mempraktekkannya. Namun tentu
dalam penyajiannya masih memiliki kekurangan, sehingga kritik dan saran dari
para guru diperlukan untuk memperbaiki isi modul ini di masa yang akan datang.
Akhirnya, dengan harapan dan keyakinan penuh, semoga modul ini
memberikan manfaat pada kita semua, khususnya bagi peserta PLPG dalam upaya
meningkatkan kompetensi dan profesionalisme kinerjanya.
Penulis
Modul PLPG PTK Kimia iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
BAB I KONSEP PENELITIAN TINDAKAN KELAS ......................................... 4
BAB II MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS........................ 11
BAB III TAHAPAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS................................. 17
BAB IV PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS ... 21
BAB V PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ...... 28
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 32
CONTOH PROPOSAL PTK................................................................................ 33
Modul PLPG PTK Kimia 1
BAB I
PENDAHULUAN
Kemampuan mengelola proses pembelajaran merupakan hal yang sangat
penting untuk dimiliki seorang guru. Penguasaan terhadap materi pelajaran yang
tidak didukung dengan kemampuan mengelola pembelajaran tidak akan
membawa keberhasilan guru dalam pembelajaran di kelas. Hal tersebut
disebabkan pembelajaran bukan hanya sebuah transfer of knowledge semata dari
guru kepada siswa saja namun pembelajaran adalah sebuah proses interaksi multi
arah yang di dalamnya terdapat proses penemuan dan pembentukan struktur
kognitif siswa. Tugas guru adalah menjadi fasilitator dalam proses penemuan dan
pembentukan struktur kognitif siswa tersebut. Guru harus dapat mengelola
pembelajaran sehingga siswa akan dapat menemukan sendiri pengetahuannya
melalui pembentukan struktur kognitifnya, sesuai dengan falsafah
konstruktivistik.
Untuk menginternalisasi serta dapat menerapkan pembelajaran menurut
paradigma konstruktivistik, terlebih dulu guru diharapkan dapat merubah pikiran
sesuai dengan pandangan konstruktivistik. Guru konstruktivistik memiliki ciri-ciri
sebagai berikut :
1) Menghargai otonomi dan inisiatif siswa.
2) Menggunakan data primer dan bahan manipulatif dengan penekanan pada
keterampilan berpikir kritis.
3) Mengutamakan kinerja siswa berupa mengklasifikasi, mengananalisis,
memprediksi, dan mengkreasi dalam mengerjakan tugas.
4) Menyertakan respon siswa dalam pembelajaran dan mengubah model atau
strategi pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi pelajaran.
5) Menggali pemahaman siswa tentang konsep-konsep yang akan dibelajarkan
sebelum sharing pemahamannya tentang konsep-konsep tersebut
6) Menyediakan peluang kepada siswa untuk berdiskusi baik dengan dirinya
maupun dengan siswa yang lain.
Modul PLPG PTK Kimia 2
7) Mendorong sikap inquiry siswa dengan pertanyaan terbuka yang menuntut
mereka untuk berpikir kritis dan berdiskusi antar temannya.
8) Mengelaborasi respon awal siswa.
9) Menyertakan siswa dalam pengalaman-pengalaman yang dapat
menimbulkan kontradiksi terhadap hipotesis awal mereka dan kemudian
mendorong diskusi.
10) Menyediakan kesempatan yang cukup kepada siswa dalam memikirkan dan
mengerjakan tugas-tugas.
11) Menumbuhkan sikap ingin tahu siswa melalui penggunaan model
pembelajaran yang beragam (Santyasa, 2009).
Guru ibarat mesin motor dalam sebuah pembelajaran, gurulah yang menjadi
penggerak pembelajaran dalam kelas. Meskipun guru bukanlah satu-satunya
sumber belajar namun peran guru dalam kelas sangatlah penting. Guru yang
cenderung monoton dalam menyampaikan materi pelajaran membuat siswa tidak
aktif sehingga yang nampak adalah pembelajaran satu arah dari guru ke siswa.
Sehingga hasil pembelajaran menjadi kurang memuaskan yang ditandai dengan
tingginya tingkat ketidaktuntasan siswa.
Untuk dapat mengatasi persoalan yang ada di dalam kelasnya, seorang guru
perlu melakukan penelitian tindakan kelas. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
memiliki potensi yang sangat besar untuk meningkatkan pembelajaran apabila
diimplementasikan dengan baik dan benar. Diimplementasikan dengan baik di sini
berarti pihak yang terlibat (dosen dan guru) mencoba dengan sadar
mengembangkan kemampuan dalam mendeteksi dan memecahkan masalah-
masalah pendidikan dan pembelajaran melalui tindakan bermakna yang
diperhitungkan dapat memecahkan masalah atau memperbaiki situasi dan
kemudian secara cermat mengamati pelaksanaannya untuk mengukur tingkat
keberhasilannya. Diimplementasikan dengan benar berarti sesuai dengan kaidah-
kaidah penelitian tindakan (Herawati, 2008).
Penelitian tindakan kelas (PTK) memiliki tujuan utama yaitu memperbaiki
kualitas pembelajaran. PTK yang dikaitkan dengan pengelolaan kelas dapat
dilakukan dalam rangka: 1) meningkatkan kegiatan belajar-mengajar, 2)
meningkatkan partisipasi siswa dalam belajar, 3) menerapkan pendekatan belajar-
Modul PLPG PTK Kimia 3
mengajar inovatif, dan 4) mengikutsertakan pihak ketiga dalam proses belajar-
mengajar.
Penelitian tindakan kelas yang dikaitkan dengan proses belajar mengajar
dapat dilakukan dalam rangka: 1). menerapkan berbagai metode mengajar, 2).
mengembangkan kurikulum, 3). meningkatkan peranan siswa dalam belajar, dan
3). memperbaiki metode evaluasi.
Penelitian tindakan kelas sebagai wahana peningkatan personal dan
profesional dapat dilakukan dalam rangka 1) meningkatkan hubungan antara
siswa, guru, dan orang tua, 2) meningkatkan konsep diri siswa dalam belajar, 3)
meningkatkan sifat dan kepribadian siswa, serta 4) meningkatkan kompetensi
guru secara profesional.
Modul PLPG PTK Kimia 4
BAB II
KONSEP PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Kompetensi Dasar :
Memahami konsep dasar penelitian tindakan kelas
Indikator Kompetensi :
1. Menjelaskan pengertian penelitian tindakan kelas
2. Menjelaskan karakteristik penelitian tindakan kelas
3. Menjelaskan prinsip-prinsip penelitian tindakan kelas
4. Membedakan penelitian tindakan kelas dan penelitian jenis lain
Materi :
A. Pengertian PTK
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research
merupakan suatu model penelitian yang dikembangkan di kelas. Ide tentang
penelitian tindakan pertama kali dikembangkan oleh Kurt dan Lewin pada tahun
1946. Menurut Hopkins (1993:44), PTK atau action research adalah suatu bentuk
penelaahan atau inkuiri melalui refleksi diri yang dilakukan oleh peserta kegiatan
pendidikan tertentu dalam situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk
memperbaiki rasionalitas dan kebenaran dari (a) praktik-praktik sosial atau
pendidikan yang mereka lakukan sendiri; (b) pemahaman mereka terhadap
praktik-praktik tersebut, dan (c) situasi di tempat praktik itu dilaksanakan.
Sedangkan Tim Pelatih Proyek PGSM (1999) mengemukakan bahwa Penelitian
Tindakan Kelas adalah suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku
tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan
mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-
tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktik
pembelajaran tersebut dilakukan.
Sedangkan ditinjau dari segi semantik, Action Research diterjemahkan
menjadi penelitian tindakan, yang oleh Carr dan Kemmis dalam McNiff (1991)
didefinisikan sebagai berikut :
Modul PLPG PTK Kimia 5
Action Research is a form of self-reflective enquiry undertaken by
participants (teachers, students or principals, for example) in social (including
educational) situations in order to improve the rationality and justice of (a) their
own social or educational practices, (2) their understanding of these practices,
and the situations (and institutions) in which the practices are carried out.
Jika kita cermati pengertian di atas secara seksama, kita akan menemukan
sejumlah ide pokok sebagai berikut :
1. Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang
dilakukan melalui refleksi diri.
2. Penelitian tindakn dilakukan oleh peserta yang terlibat alam situasi yang
diteliti, seperti guru, siswa, atau kepala sekolah.
3. Penelitian tindakan dilakukan dalam situasi sosial, termasuk situasi
pendidikan.
4. Tujuan penelitian tindakan adalah memperbaiki : dasar pemikiran dan
kepantasan dari praktek-praktek, pemahaman terhadap praktek tersebut, serta
situasi atau lembaga tempat praktek tersebut dilaksanakan.
Definisi tersebut dirangkum lagi oleh Sukardi (2000) yang menyatakan
bahwa penelitian tindakan adalah studi sistematik tentang upaya memperbaiki
praktik pendidikan oleh sekelompok peneliti melalui kerja praktik mereka sendiri
dan merefleksikannya untuk mengetahui pengaruh-pengaruh kegiatan tersebut.
Atau bisa disederhanakan dengan kalimat yaitu upaya mengujicobakan ide dalam
praktik dengan tujuan memperbaiki atau mengubah sesuatu, mencoba
memperoleh pengaruh yang sebenarnya dalam situasi tersebut.
Agar PTK tidak lepas dari tujuan perbaikan diri sendiri, maka sebelum
seorang guru atau para Guru memulai merancang dan melaksanakan PTK, perlu
memperhatikan hal-hal berikut :
1. PTK adalah alat untuk memperbaiki atau menyempurnakan mutu
pelaksanaan tugas sehari-hari (mengajar yang mendidik), oleh karena itu
hendaknya sedapat mungkin memilih metode atau model pembelajaran yang
sesuai yang secara praktis tidak mengganggu atau menghambat komitmen
tugasnya sehari-hari.
Modul PLPG PTK Kimia 6
2. Teknik pengumpulan data jangan sampai banyak menyita waktu, sehingga
tugas utama guru tidak terbengkalai.
3. Metodologi penelitian hendaknya memberi kesempatan kepada guru untuk
merumuskan hipotesis yang kuat, dan menentukan strategi yang cocok
dengan suasana dan keadaan kelas tempatnya mengajar.
4. Masalah yang diangkat hendaknya merupakan masalah yang dirasakan dan
diangkat dari wilayah tugasnya sendiri serta benar-benar merupakan masalah
yang dapat dipecahkan melalui PTK oleh guru itu sendiri.
5. Sejauh mungkin, PTK dikembangkan ke arah meliputi ruang lingkup
sekolah. Dalam hal ini, seluruh staf sekolah diharapkan berpartisipasi dan
berkontribusi, sehingga pada gilirannya guru-guru lain ikut merasakan
pentingnya penelitian tersebut. Jika kepedulian seluruh staf berkembang,
maka seluruh staf itu dapat bekerja sama untuk menentukan masalah-
masalah sekolah yang layak dan harus diteliti melalui PTK.
B. Karakteristik PTK
Beberapa ahli telah memberikan kombinasi dari berbagai definisi tentang
PTK yang pada hakikatnya memunculkan empat karakteristik utama, yaitu:
1. Dilakukan oleh praktisi (guru kelas), dengan dilandasi dari kerisauan guru
terhadap kinerjanya dan kemudian memprakarsai diri melakukan perbaikan
2. Metode utamanya adalah refleksi diri dalam mengumpulkan data
3. Fokus penelitian berupa kegiatan pembelajaran, yaitu interaksi guru dengan
siswa dalam kelas
4. Ditujukan untuk mengubah sesuatu yang terkait dengan pembelajaran.
Secara lebih terperinci, IGAK. Wardani, dkk. (2004) menjelaskan enam
karakteristik PTK yaitu :
1. Terfokus pada tujuan praktis, dalam pengertian diarahkan untuk
mengidentifikasi dan memecahkan masalah aktual yang spesifik. Dengan
demikian, PTK digunakan peneliti untuk memperoleh manfaat langsung
bagi dirinya dan pihak lain yang terlibat dalam penelitian tersebut.
Modul PLPG PTK Kimia 7
2. Merupakan penelitian yang reflektif-mandiri (self-reflektive) atau
kolaboratif. Dalam konteks ini, peneliti (atau kelompok peneliti) mengkaji
praktik yang dia/mereka lakukan (bukan praktik orang lain), untuk melihat
apa yang harus dilakukan dalam rangka memperbaiki praktik tersebut.
3. Bersifat kolaboratif karena dilaksanakan oleh individu dengan bantuan orang
lain (minimal sebagai observer) atau oleh sekelompok kolega, praktisi (guru)
atau peneliti.
4. Merupakan sebuah proses yang dinamis dan fleksibel yang melibatkan
pengulangan-pengulangan aktivitas (sehingga membentuk pola spiral) yang
maju-mundur diantara refleksi, penjaringan data, dan tindakan.
5. Merupakan suatu rencana tindakan. Meskipun merupakan proses yg dinamis
dan fleksibel, sebagai sebuah metode penelitian, PTK harus dirancang secara
sistematis yang memenuhi pola umum prosedur PTK.
6. Merupakan penelitian kebersamaan (sharing research). Berbeda dengan hasil
penelitian tradisional yang biasanya langsung dipublikasikan dalam jurnal
atau buku, peneliti PTK biasanya mendistribusikan laporan penelitiannya
kepada teman sejawat yang mungkin dapat memakai temuan tersebut.
Meskipun saat ini laporan PTK juga sudah dipublikasikan melalui jurnal,
biasanya para peneliti PTK lebih cenderung untuk membagikan informasi
tersebut dengan berbagai rekan sejawat untuk dipraktikkan atau dikaji ulang
di sekolah/kelas masing-masing.
C. Prinsip-prinsip PTK
Prinsip dasar yang melandasi penelitian tindakan kelas dikemukakan oleh
Hopkins (1993), yaitu :
1. Tugas guru yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik
dan berkualitas. Untuk itu, guru harus mempunyai komitmen dalam
mengupayakan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran secara terus
menerus. Dalam menerapkan suatu tindakan untuk memperbaiki kualitas
pembelajaran ada kemungkinan tindakan yang dipilih tidak/kurang berhasil,
maka ia harus tetap berusaha mencari alternatif lain. Guru harus
menggunakan pertimbangan dan tanggungjawab profesionalnya dalam
Modul PLPG PTK Kimia 8
mengupayakan jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi dalam
pembelajaran. Prinsip pertama ini berimplikasi pada sifat penelitian tindakan
sebagai suatu upaya yang berkelanjutan secara siklis sampai terjadinya
peningkatan, perbaikan, atau kesembuhan sistem, proses, hasil, dan
sebagainya.
2. Meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran, yang tidak menuntut
kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data. Tahapan-tahapan
penelitian tindakan selaras dengan pelaksanaan pembelajaran, yaitu:
persiapan (planning), pelaksanaan pembelajaran (action), observasi kegiatan
pembelajaran (observation), evaluasi proses dan hasil pembelajaran
(evaluation), dan refleksi dari proses dan hasil pembelajaran (reflection).
Prinsip kedua ini menginsyaratkan agar proses dan hasil pembelajaran
direkam dan dilaporkan secara sistematik dan terkendali menurut kaidah
ilmiah.
3. Kegiatan meneliti, yang merupakan bagian integral dari pembelajaran, harus
diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah. Alur
pikir yang digunakan dimulai dari pendiagnosisan masalah dan faktor
penyebab timbulnya masalah, pemilihan tindakan yang sesuai dengan
permasalahan dan penyebabnya, merumuskan hipotesis tindakan yang tepat,
penetapan skenario tindakan, penetapan prosedur pengumpulan data dan
analisis data. Obyektivitas, reliabilitas , dan validitas proses, data, dan hasil
tetap dipertahankan selama penelitian berlangsung. Prinsip ketiga ini
mempersyaratkan bahwa dalam menyelenggarakan penelitian tindakan agar
tetap menggunakan kaidah-kaidah ilmiah.
4. Masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil dan
merisaukan tanggungjawab profesional dan komitmen terhadap pemerolehan
mutu pembelajaran. Prinsip ini menekankan bahwa diagnosis masalah
bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran
yang sesungguhnya. Bila pendiagnosisan masalah berdasar pada kajian
akademik atau kajian literatur semata, maka penelitian tersebut dipandang
sudah melanggar prinsip ke-otentikan. Jadi masalah harus didiagnosis dari
kancah pembelajaran yang sesungguhnya, bukan sesuatu yang dibayangkan
akan terjadi secara akademik.
Modul PLPG PTK Kimia 9
5. Konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan
kualitas pembelajaran sangat diperlukan. Hal ini penting karena upaya
peningkatan kualitas pembelajaran tidak dapat dilakukan sambil lalu, tetapi
menuntut perencanaan dan pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Oleh karena
itu, motivasi untuk memperbaiki kualitas harus tumbuh dari dalam (motivasi
intrinsik), bukan sesuatu yang bersifat instrumental.
6. Cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada
masalah pembelajaran di ruang kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di
luar ruang kelas, misalnya: tataran sistem atau lembaga. Perspektif yang lebih
luas akan memberi sumbangan lebih signifikan terhadap upaya peningkatan
kualitas pendidikan.
D. Perbedaan PTK dengan Penelitian lain
Dengan memperhatikan karakteristik dan prinsip-prinsip yang ada pada
penelitian tindakan kelas, maka dapat diperbandingkan perbedaan PTK dan jenis
penelitian yang lain, yaitu :
Tabel 1. Perbedaan PTK dan Non PTK
Aspek PTK Non PTK
Peneliti Guru Orang luar
Rencana
Penelitian
Oleh guru (memungkinkan
dibantu orang luar)
Oleh peneliti
Munculnya
masalah
Dirasakan oleh guru
(mungkin dorongan orang
luar)
Dirasakan oleh orang luar
Ciri utama
Ada tindakan untuk
perbaikan yang berulang
Belum tentu ada tindakan
perbaikan
Peran guru Sebagai guru dan peneliti
Sebagai guru (subjek
penelitian)
Tempat
penelitian
Kelas Kelas
Proses
pengumpulan
data
Oleh guru dan bantuan
orang luar
Oleh peneliti
Hasil penelitian
Langsung dimafaatkan oleh
guru dan dirasakan oleh
siswa
Menjadi milik peneliti dan
belum tentu dimanfaatkan
oleh guru
Modul PLPG PTK Kimia 10
Selain perbedaan-perbedaan di atas dapat pula dikemukaan perbedaan antara
PTK dan Non PTK jika dilihat dari berbagai dimensi atau sudut pandang, yaitu :
Tabel 2. Perbedaan karakteristik PTK dan penelitian kelas non PTK
Dimensi PTK Penelitian Non PTK
Motivas Tindakan Kebenaran
Sumber
masalah
Diagnosis status Induktif - deduktif
Tujuan
Memperbaiki praktik,
sekarang dan di ini
Verifikasi dan menemukan
pengetahuan yang dapat
digeneralisasi
Peneliti yang
terlibat
Pelaku dari dalam (guru) Orang yang berminat
Sampel Kasus khusus Sampel yang refresentatif
Metedologi
Longgar tetapi berusaha
objektif, jujur, dan tidak
memihak
Baku dengan objektivitas dan
ketidakmemihakan yang
terintergrasi
Sampel Kasus khusus Sampel yang refresentatif
Metodologi
Longgar tetapi berusaha
objektif, jujur, dan tidak
memihak
Baku dengan objektivitas dan
ketidakmemihakan yang
terintergrasi
Penafsiran
hasil
penelitian
Untuk memahami
praktik melalui refleksi
oleh praktisi yang
membangun
Mendiskripsikan,
mengabstraksikan, penyimpulan
dan pembentukan teori oleh
ilmuwan
Hasil akhir
Siswa belajar lebih baik
(proses dan produk)
Pengetahuan, prosedur atau
materi yang diuji
SOAL LATIHAN :
1. Mengapa seorang guru yang ingin memperbaiki kualitas pembelajarannya
harus melakukan penelitian tindakan kelas ?
2. Telaahlah pendapat Hopkins, Kemmis dan Tim PGSM tentang PTK dan
analisislah kesamaan dari ketiga pendapat tersebut !
3. Buatlah sebuah rangkuman yang dapat menggambarkan karakteristik PTK
yang dikemukakan oleh Hopkins !
4. Jelaskan perbedaan yang prinsip antara PTK dan penelitian lain !
Modul PLPG PTK Kimia 11
BAB III
MODEL-MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Kompetensi Dasar :
Memahami model-model penelitian tindakan kelas
Indikator Kompetensi :
1. Menjelaskan makna model penelitian tindakan kelas
2. Menjelaskan macam-macam model penelitian tindakan kelas
3. Memilih model penelitian tindakan kelas yang sesuai
Materi :
Ada beberapa model PTK yang sampai saat ini sering digunakan di dalam
dunia pendidikan, di antaranya: (1) Model Kurt Lewin, (2) Model Kemmis dan
Mc Taggart dan (3) Model John Elliot.
1. Model Kurt Lewin
Model Kurt Lewin menjadi acuan pokok atau dasar dari adanya berbagai
model penelitian tindakan yang lain, khususnya PTK. Dikatakan demikian, karena
dialah yang pertama kali memperkenalkan Action Research atau penelitian
tindakan.
Konsep pokok penelitian tindakan Model Kurt Lewin terdiri dari empat
komponen, yaitu ; a) perencanaan (planning), b) tindakan (acting), c) pengamatan
(observing), dan d) refleksi (reflecting). Hubungan keempat komponen tersebut
dipandang sebagai siklus yang dapat digambarkan sebagai berikut :
Modul PLPG PTK Kimia 12
Gambar 1. Riset aksi model Kurt Lewin
(Sumber : Rochiati, 2007)
2. Model Kemmis & McTaggart
Model Kemmis & McTaggart merupakan pengembangan dari konsep dasar
yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin sebagaimana yang diutarakan di atas. Hanya
saja, komponen acting (tindakan) dengan observing (pengamatan) dijadikan
sebagai satu kesatuan. Disatukannya kedua komponen tersebut disebabkan oleh
adanya kenyataan bahwa antara implementasi acting dan observing merupakan
dua kegiatan yang tidak terpisahkan. Maksudnya, kedua kegiatan haruslah
dilakukan dalam satu kesatuan waktu, begitu berlangsungnya suatu tindakan
begitu pula observasi juga harus dilaksanakan. Untuk lebih tepatnya, berikut ini
dikemukakan bentuk designnya (Kemmis & McTaggart, 1990:14).
Modul PLPG PTK Kimia 13
Gambar 2. Riset aksi model Kemmis & Taggart
(Sumber : Rochiati, 2007)
Apabila dicermati, model yang dikemukakan oleh Kemmis & McTaggart
pada hakekatnya berupa perangkat-perangkat atau untaian-untaian dengan satu
perangkat terdiri dari empat komponen, yaitu ; perencanaan, tindakan,
pengamatan dan refleksi. Keempat komponen yang berupa untaian tersebut
dipandang sebagai satu siklus. Oleh karena itu, pengertian siklus pada kesempatan
ini adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari perencanaan, tindakan,
pengamatan dan refleksi.
Modul PLPG PTK Kimia 14
3. Model John Elliot
Apabila dibandingkan dua model yang sudah diutarakan di atas, yaitu Model
Kurt Lewin dan Kemmis-McTaggart, PTK Model John Elliot ini tampak lebih
detail dan rinci. Dikatakan demikian, oleh karena di dalam setiap siklus
dimungkinkan terdiri dari beberapa aksi yaitu antara 3-5 aksi (tindakan).
Sementara itu, setiap aksi kemungkinan terdiri dari beberapa langkah, yang
terealisasi dalam bentuk kegiatan belajar-mengajar. Maksud disusunnya secara
terinci pada PTK Model John Elliot ini, supaya terdapat kelancaran yang lebih
tinggi antara taraf-taraf di dalam pelaksanan aksi atau proses belajar-mengajar.
Selanjutnya, dijelaskan pula olehnya bahwa terincinya setiap aksi atau tindakan
sehingga menjadi beberapa langkah oleh karena suatu pelajaran terdiri dari
beberapa subpokok bahasan atau materi pelajaran. Di dalam kenyataan praktik di
lapangan setiap pokok bahasan biasanya tidak akan dapat diselesaikan dalam satu
langkah, tetapi akan diselesaikan dalam beberapa rupa itulah yang menyebabkan
John Elliot menyusun model PTK yang berbeda secara skematis dengan kedua
model sebelumnya, yaitu seperti dikemukakan berikut ini.
Modul PLPG PTK Kimia 15
Gambar 3: Riset Aksi Model John Elliot
SOAL LATIHAN :
1. Perhatikan gambar model yang dikemukakan oleh Kurt Lewin, Kemmis &
Taggart dan John Eliot di atas. Berikan gagasan Anda tentang persamaan dan
perbedaan yang mendasar pada ketiga model tersebut !
Modul PLPG PTK Kimia 16
2. Jelaskan kelebihan dan kelemahan dari model Kurt Lewin, Kemmis & Taggart
dan John Eliot !
3. Cobalah untuk mengemukakan sebuah permasalahan yang akan diselesaikan
melalui PTK dan pilihlah sebuah model yang akan Anda gunakan berikut
alasan rasional pemilihan model tersebut !
Modul PLPG PTK Kimia 17
BAB IV
TAHAPAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Kompetensi Dasar :
Memahami tahapan pelaksanaan penelitian tindakan kelas
Indikator Kompetensi :
1. Menjelaskan kegiatan pra penelitian tindakan kelas
2. Menganalisis permasalahan pembelajaran yang dialami
3. Menjelaskan langkah-langkah kegiatan penelitian tindakan kelas
Materi :
A. Fokus Masalah
Kegiatan PTK sebelum pelaksanaan penyusunan rencana PTK merupakan
kegiatan yang mendasari pelaksanaan PTK, yang berupa kegiatan-kegiatan
sebagai berikut:
1. Identifikasi masalah
Kegiatan diawali dengan langkah mengidentifikasi bidang fokus masalah
yang akan diteliti, bidang masalah diteliti dan dikembangkan. Dalam pendidikan
dan kurikulum, bidang masalah yang dipilih adalah bidang masalah yang
memiliki sumbangan paling besar terhadap mutu hasil pendidikan, khususnya
mutu kemampuan dan pribadi siswa, misalnya implementasi kurikulum. Bidang
tersebut masih mencakup secara luas, cakupannya dapat terdiri dari berbagai sub
bidang atau segi, misalnya segi pembelajaran, segi praktik, pengelolaan
kurikulum, kegiatan ekstra kurikuler, penggunaan media, evaluasi, dll. Dalam segi
pembelajaran masih terdapat lagi masalah-masalah yang bisa diidentifikasi dan
dipilih sebagai fokus masalah, seperti pembelajaran pemecahan masalah,
pembelajaran konstektual, eksprensial, pembelajaran inkuiri-discoveri,
pembelajaran kooperatif, dan lain-lain. Dalam pemilihan fokus masalah atau
kegiatan yang ingin dipilih didasarkan atau urgensi dan mafaatnya, serta
kemampuan diri dalam melaksanakan kegiatan pemecahan masalah tersebut.
2. Pengumpulan data
Modul PLPG PTK Kimia 18
Langkah kedua ini merupakan langkah dengan melakukan kegiatan
pengumpulan data berkenaan dengan pelaksanaan kegiatan yang menjadi fokus
masalah. Sebagai contoh masalah yang menjadi dasar adalah pembelajaran
kooperatif (pembelajaran yang menekankan aktivitas siswa dalam pembelajaran).
Dalam langkah ini seorang guru mengidentifikasi, menghimpun dokumen-
dokumen, mengingat-ingat kegiatan pembelajaran, serta hasil pembelajaran yang
berkenan dengan pemecahan masalah yang pernah dilakukannya. Topik-topik apa
yang dibahas, bagaimana langkah, bagaimana kegiatan guru dan siswa, buku
media, dan sumber belajar, keberhasilan yang dicapai, dan lain-lain.
3. Analisis dan interpretasi data
Hasil pengumpulan data kemudian dianalisis secara kualitatif , diuraikan,
dibandingkan, dikategorikan, disintesiskan, lalu diurutkan secara sistematis. Hasil
analisis diinterpretasikan dalam arti diberi makna, baik makna umum maupun
khusus.
4. Solusi permasalahan
Hasil masalah-masalah yang telah dijabarkan, kemudian dicarikan solusi
untuk mencari/mengembangkan cara perbaikan, yang dapat dilakukan dengan
mengkaji teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan, berdiskusi dengan teman
(guru lain) atau dengan pakar, serta guru dapat menggali pengalaman sendiri.
Pengembangan cara perbaikan atau tindakan harus sesuai dengan kemampuan dan
komitmen guru sebagai peneliti pelaksana, kemampuan siswa, fasilitas yang
tersedia, serta iklim belajar dan iklim kerja di sekolah.
B. Pelaksanaan PTK
Berdasarkan empat kegiatan awal, yaitu identifikasi masalah, pengumpulan
data, analisis dan interpretasi data, dan solusi permasalahan, maka langkah
selanjutnya adalah melakukan langkah-langkah umum PTK yang merupakan satu
daur atau siklus, yang terdiri dari kegiatan:
1. Perencanaan
Pelaksanaan tindakan dimulai dengan mempersiapkan rencana pembelajaran
dan skenario tindakan, termasuk bahan pelajaran dan tugas-tugas, menyiapkan alat
pendukung atau sarana lain yang diperlukan, mempersiapkan cara merekam dan
menganalisis data, dan melakukan simulasi pelaksanaan jika diperlukan.
Modul PLPG PTK Kimia 19
2. Pelaksanaan (Tindakan)
Fase tindakan merupakan tahapan pelaksanaan tindakan-tindakan (intervensi)
yang telah direncanakan. Pada fase ini peneliti peneliti sudah harus benar-benar
menguasai skenario pengajaran sebelum menerapkannya. Fokus perhatian peneliti
pada fase bukan pada bagaimana mengimplementasikan rencana atau pada proses
peningkatan keterampilan mengajar guru, tetapi pada proses menggunakan
strategi yang direncanakan untuk melihat seberapa jauh strategi itu mengatasi
masalah yang ingin diatasi. Peneliti disarankan untuk berkolaborasi dengan satu
atau lebih kolega yang mengampu mata pelajaran yang sama. Kolaborator tersebut
bertugas mengamati implementasi perencanaan dan melihat seberapa jauh strategi
itu memecahkan masalah.
3. Observasi
Observasi merupakan proses pengumpulan data mengenai tingkat
keberhasilan strategi yang digunakan untuk memecahkan masalah. Observasi
difokuskan pada data yang berhubungan dengan kriteria keberhasilan yang telah
ditentukan. Pertanyaan-pertanyaan yang lazim diajukan pada fase observasi
adalah: Seberapa efektif strategi yang digunakan memecahkan masalah?, bukan,
seberapa baik pengajaran guru?. Atau, seberapa baik strategi pengajaran itu
diimplementasikan oleh guru?. Kedua pertanyaan terakhir adalah pertanyaan
untuk observasi ketika mahasiswa melakukan praktik mengajar, bukan dalam
observasi PTK. Pada fase observasi ini, peneliti dan kolaborator juga menyepakati
sumber dan jenis data yang akan dikumpulkan serta teknik dan instrument yang
akan digunakan untuk mengumpulkan data tersebut. Proses penjaringan data
sesuai dengan kesepakatan yang diambil juga dilakukan pada fase observasi ini.
4. Refleksi
Refleksi merupakan proses analisis data dan diskusi (keduanya selalu
berlangsung tumpang tindih) untuk menentukan sejauh mana data yang dijaring
menunjukkan keberhasilan strategi mengatasi masalah. Refleksi juga
menunjukkan faktor-faktor apa saja yang mendukung keberhasilan strategi atau
persoalan-persoalan tambahan apa yang muncul selama proses implementasi
strategi. Analisis terhadap hasil observasi dilakukan dengan membandingkan data
yang terjaring dengan kriteria keberhasilan yang telah ditargetkan. Sebagai
contoh, sebuah strategi yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas hasil belajar
Modul PLPG PTK Kimia 20
siswa pada pembelajaran Sistem Periodik Unsur di SMA melalui model
pembelajaran kooperatif dengan metode STAD, kualitas hasil belajar dianggap
berhasil bila (1) para siswa tersebut menyenangi pembelajaran kooperatif tipe
STAD, (2) para siswa semakin aktif dalam pembelajaran, (3) para siswa
merasakan kepuasan dengan pembelajaran yang dilaksanakan seperti terungkap
melalui penilaian siswa yang memberikan nilai rata-rata 4,6 (dalam skala 5)
kepada guru melalui angket, (4) tingkat ketuntasan mencapai target yang
ditetapkan di awal. Refleksi yang dilakukan melalui proses analisis data dan
diskusi ini berfungsi untuk menilai kriteria keberhasilan yang mana yang sudah
tercapai, mana yang belum tercapai dan apa yang menyebabkan kriteria itu belum
tercapai. Hasil penilaian ini akan memperlihatkan unsur strategi yang perlu
diperbaiki. Dengan demikian peneliti dan kolaborator dapat memperbaiki strategi
tersebut secara optimal sehingga pengimplementasian strategi revisi ini nantinya
dapat mencapai semua target keberhasilan.
Strategi yang sudah diperbaiki (revised strategy) inilah yang menjadi fase
perencanaan (plan) pada siklus kedua, yang nantinya diimplemetasikan,
diobservasi, dan direfleksi kembali. Siklus tersebut dapat diulang beberapa kali
hingga seluruh kriteria keberhasilan tercapai. Jumlah siklus tidak dapat diprediksi
pada awal penelitian. Jika setelah siklus pertama semua kriteria keberhasilan dapat
dicapai maka penelitian dapat dihentikan. Namun selama kriteria-kriteria
keberhasilan itu belum tercapai, revisi terhadap strategi perlu dilakukan dan siklus
berikutnya dilaksanakan.
SOAL LATIHAN :
1. Berdasarkan permasalahan yang Anda kemukakan pada soal latihan bab
sebelumnhya, laporkan kegiatan awal yang dapat Anda lakukan sebelum Anda
melakukan PTK !
2. Dari kegiatan awal yang telah Anda laporkan, identifikasilah permasalahan-
permasalahan yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut dan
telaahlah mana permasalahan yang dapat diselesaikan dengan PTK !
3. Jelaskan langkah-langkah utama dalam PTK berikut contoh kegiatan sehingga
dapat memperjelas jawaban Anda !
Modul PLPG PTK Kimia 21
BAB IV
PENYUSUNAN PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN
KELAS
Kompetensi Dasar :
Menyusun proposal penelitian tindakan kelas
Indikator Kompetensi :
1. Menyusun latar belakang permasalahan
2. Menemukan strategi tindakan yang sesuai dengan permasalahan
3. Menyusun proposal lengkap
Materi :
Sebelum menyusun proposal penelitian, seorang guru yang akan menyusun
penelitian tindakan kelas harus merumuskan permasalahannya dengan jelas
terlebih dahulu. Sebagai contoh : guru menyadari bahwa hasil belajar siswa pada
materi hidrokarbon selalu rendah, siswa juga tidak memiliki keaktifan pada saat
pembelajaran. Guru mencoba melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang
selama ini dilakukan untuk menemukan penyebab permasalahan yang ada. Hasil
refleksi guru didapatkan bahwa beberapa permasalahan yang menjadi penyebab
adalah (1) guru selalu mengajar dengan metode yang monoton, (2) guru tidak
pernah menggunakan alat peraga atau media dalam pembelajaran, (3) siswa
berasal dari keluarga kurang mampu sehingga tidak memiliki buku-buku
penunjang, (4) sekolah berada di tepi jalan raya yang selalu bising.
Keempat permasalahan tersebut harus dianalisis, manakah yang dapat
diperbaiki melalui PTK. Permasalahan no 3 dan 4 bukanlah permasalahan yang
yang dapat diperbaiki oleh guru melalui PTK, sehingga permasalahan yang dapat
diangkat untuk dilakukan tindakan perbaikan adalah no 1 dan 2. Selanjutnya guru
melalui diskusi dengan teman sejawat dan atau kolaborator mencoba untuk
menemukan tindakan yang diyakini akan mampu memperbaiki permasalahan.
Misalnya diperoleh bahwa tindakan yang akan dilakukan adalah dengan
menggunakan model kooperatif dengan metode Teams Game Tournamen
dilengkapi dengan media kartu soal. Permasalahan dan tindakan yang
Modul PLPG PTK Kimia 22
direncanakan tersebut dikemas dalam judul yang dalam PTK harus memuat 3 hal
yaitu permasalahan, tindakan dan setting : Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada
Materi Hidrokarbon melalui Penerapan Model Kooperatif Metode TGT
Dilengkapi Media Kartu Huruf pada Siswa Kelas X SMA Al Muayyad (Sri
Yamtinah, 2008).
Untuk menyusun proposal, digunakan susunan Bab I, Bab II, dan Bab III
sebagai berikut :
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Identifikasi Masalah
C. Pembatasan Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Tujuan Penelitian
F. Manfaat Penelitian
BAB II
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
B. Penelitian yang relevan (bila ada)
C. Kerangka Berpikir
D. Hipotesis Tindakan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
B. Subyek Penelitian
C. Sumber Data
D. Teknik dan Alat Pengumpul Data
E. Validasi Data
F. Analisis data
G. Indikator Kinerja
H. Prosedur Tindakan
Adapun penjelasan terhadap masing-masing komponen tersebut adalah
sebagai berikut :
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada latar belakang masalah, guru menuliskan kenyataan yang ada sebagai
kondisi awal, misalnya tentang rendahnya hasil belajar siswa yang
Modul PLPG PTK Kimia 23
ditunjukkan dengan data tentang rendahnya ketuntasan pada materi
hidrokarbon selama beberapa tahun dan rendahnya keaktifan siswa dalam
pembelajaran. Disampaikan juga tentang kemungkinan penyebab
permasalahan misalnya tentang metode pembelajaran guru yang selalu
monoton dan guru tidak pernah memanfaatkan media atau alat peraga.
Dituliskan pula harapan yang ingin dituju yaitu perbaikan hasil belajar siswa
dan perbaikan kualitas pembelajaran.
Setelah itu dituliskan pula adanya kesenjangan antara kenyataan dan harapan
yang kemudian dilanjutkan dengan menuliskan cara pemecahan masalah
atau solusi yang akan dilakukan. Guru harus dapat meyakinkan bahwa
tindakan yang akan dilakukan merupakan tindakan yang jitu untuk
menyelesaikan permasalahan.
B. Identifikasi Masalah
Beberapa hal yang umum dituliskan pada identifikasi masalah adalah :
(1) umumnya dalam bentuk kalimat tanya, (2). Kalimat tanya dimulai dari
yang kompleks (holistic) sampai pada yang spesifik (atomistic), (3).
Pertanyaan mengacu pada variable pada permasalahan pokok, (4).
Permasalahan dalam identifikasi masalah lebih banyak daripada banyaknya
rumusan masalah.
C. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan penelitian menjadi lebih terfokus, maka diperlukan
pembatasan permasalahan yang akan diteliti. Pembatasan masalah juga
menjelaskan atau membatasi variable terikat, misalnya untuk siswa mana,
kelas berapa, semester kapan, materi apa, dsb.
D. Rumusan Masalah
Perumusan masalah dikembangkan dari identifikasi dan pembatasan
masalah. Dituliskan dalam bentuk kalimat tanya yang mengacu pada
permasalahan yang hendak diteliti. Kalimat tanya yang ada pada rumusan
masalah harus dijawab.
Contoh rumusan masalah non PTK :
1. Bagaimana hubungan antara metode TGT dan media kartu soal dengan
hasil belajar siswa ?
Modul PLPG PTK Kimia 24
2. Apakah terdapat pengaruh metode TGT dan media kartu soal terhadap
hasil belajar siswa ?
Contoh rumusan masalah PTK :
1. Apakah penerapan metode TGT dan media kartu soal dapat
meningkatkan hasil belajar siswa ?
2. Dapatkah penerapan metode TGT dan media kartu soal meningkatkan
keaktifan siswa dalam pembelajaran ?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan PTK hendaknya dirumuskan secara jelas dengan memaparkan
sasaran antara dan akhir tindakan perbaikan. Perumusan tujuan harus
konsisten dengan hakekat permasalahan yang dikemukakan dalam bagian
bagian sebelumnya.
F. Manfaat Penelitian
Dalam bagian ini, perlu dipaparkan secara spesifik keuntungan
keuntungan yang dijanjikan, khususnya bagi siswa sebagai pewaris langsung
(direct beneficiaries) hasil PTK, di samping bagi guru pelaksana PTK, bagi
rekan rekan guru lainnya.
KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Kajian Teori
Kebenaran menurut metode ilmiah dapat berupa kebenaran berdasarkan
teori dan empiris. Kajian teori sebagai dasar untuk mencari kebenaran
berdasarkan teori/buku referensi/buku rujukan. Terdapat dua hal yang harus
diperhatikan ketika menuliskan teori yaitu relevansi dan kemutakhiran.
B. Penelitian yang relevan (bila ada)
Pada bagian ini dikemukakan tentang penelitian yang telah dilakukan
baik oleh diri sendiri maupun orang lain, yang relevan dengan permasalahan
yang sedang kita teliti. Mengemukakan penelitian lain yang relevan
disamping untuk menghinadri duplikasi juga digunakan sebagai pijakan
untuk lebih meyakinkan kita bahwa tindakan yang akan dilakukan memang
tepat untuk menangani masalah.
C. Kerangka Berpikir
Modul PLPG PTK Kimia 25
Berisi analisis, kajian dan simpulan secara deduksi tentang focus
permasalahan berdasar teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan.
Kerangka berpikir merupakan pandangan dan pendapat peneliti terhadap
teori yang dikemukakan. Juga merupakan penjelasan sementara terhadap
gejala yang menjadi focus permasalahan dengan menggunakan alur pikir
yang logis..
Kerangka berpikir bukan menyampaikan kumpulan teori tetapi teori yang
dipilih secara selektif untuk membangun kerangka argumentasi tentang
keyakinan terhadap tindakan yang akan dilakukan.
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir dapat dibuat hipotesis tindakan. Pada
PTK hipotesis yang diajukan adalah hipotesis tindakan bukan hipotesis
statistik.
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
Setting penelitian mengungkapkan 2 hal, yaitu waktu penelitian dan
tempat penelitian. Pada saat mengungkapkan waktu penelitian diuraikan
tentang kapan penelitian dilakukan, meliputi persiapan penyusunan proposal,
penyusunan instrument, pengumpulan data, analisis data, pembahasan dan
laporan. Dapat diuraikan dalam bentuk narasi atau dalam bentuk table dan
sampaikan pula alasan mengapa tindakan dilakukan pada waktu tersebut.
Tempat penelitian disebutkan sekolah dan kelas mana yang menjadi tempat
penelitian dan berikan alasan mengapa penelitian dilakukan di tempat tersebut.
B. Subyek Penelitian
Penelitian tindakan kelas tidak menggunakan teknik sampling karena
memang tujuannya tidak untuk melakukan generalisasi, sehingga tidak
mengenal populasi dan sampel, yang digunakan adalah subyek penelitian.
Subyek penelitian adalah orang-orang yang menjadi focus kajian dalam
penelitian, jika peneliti seorang guru maka subyeknya adalah siswa. Jika
kepala sekolah yang menjadi peneliti, maka subyeknya bisa guru dan siswa.
Jika pengawas yang menjadi peneliti, maka subyeknya adalah guru atau
kepala sekolah.
Modul PLPG PTK Kimia 26
C. Sumber Data
Sumber data dari subyek penelitian merupakan sumber data primer
(misalnya nilai ulangan harian). Sumber data dari selain subyek penelitian
merupakan sumber data sekunder (misalnya data hasil pengamatan yang
dilakukan oleh teman sejawat).
D. Teknik dan Alat Pengumpul Data
Teknik pengumpulan data dapat berbentuk teknik tes maupun non tes,
bisa dipilih lebih dari satu teknik. Alat pengumpulan data tergantung pada
teknik yang digunakan. Teknik tes menggunakan alat berupa butir soal tes.
Teknik non tes dapat menggunakan pedoman dan lembar observasi, pedoman
dan lembar wawancara, dll. Semua instrument atau alat pengumpul data harus
memenuhi persyaratan sebagai instrument yang baik yaitu valid dan reliabel.
Alat pengumpul data yang valid akan memberikan data atau hasil yang valid.
E. Validasi Data
Selain instrumen yang harus valid sebelum digunakan untuk penelitian,
maka data yang dihasilkan dalam penelitian juga harus valid. Validasi data
dilakukan dengan teknik triangulasi, yaitu menggunakan beberapa metode
untuk pengambilan data sebuah variabel. Hal ini digunakan agar data yang
diperoleh merupakan data yang valid.
F. Analisis data
Teknik analisis data yang digunakan dalam PTK disesuaikan dengan jenis
data yang diperoleh. Data yang diperoleh pada PTK meliputi 2 jenis yaitu data
kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif dianalisis dengan teknik analisis
deskriptif kualitatif, sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan teknik
statistik deskriptif. Analisis data kuantitatif digunakan untuk membandingkan
dengan target yang telah ditetapkan di awal (pada indicator kinerja). Hasil
analisis kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk merefleksi tiap-tiap siklus.
G. Indikator Kinerja
Indikator kinerja merupakan kondisi akhir siklus atau target yang
diharapkan untuk dicapai. Penetapan indicator kinerja didasarkan pada
pengalaman atas pencapaian pada masa sebelum dilakukan tindakan. Hal yang
penting adalah penetapan indicator kinerja dengan alasan yang rasional,
Modul PLPG PTK Kimia 27
artinya tidak menetapkan indikator yang terlalu tinggi. Misalnya : jika rata-
rata ulangan biasanya hanya mencapai 50 maka indikator kinerja cukup
dengan 56 atau 60.
H. Prosedur Tindakan
Merupakan langkah-langkah yang harus dilalui oleh peneliti, sesuai
dengan model yang telah dipilih. Tahapan dalam PTK yaitu perencanaan,
tindakan, observasi dan refleksi masing-masing dijelaskan secara singkat
untuk setiap siklus.
SOAL LATIHAN :
1. Buatlah sebuah paragraph latar belakang masalah dari permasalahan yang
telah Anda kemukakan sebelumnya !
2. Pilihlah strategi yang Anda yakini tepat untuk menyembuhkan atau
memperbaiki permasalahan yang telah Anda kemukakan beserta alasan
rasional pemilihan strategi tersebut !
3. Susunlah proposal lengkap berdasarkan permasalahan yang telah Anda
kemukakan tersebut !
Modul PLPG PTK Kimia 28
BAB V
PENYUSUNAN LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN
KELAS
Kompetensi Dasar :
Menuliskan laporan penelitian tindakan kelas
Indikator Kompetensi :
1. Menyusun laporan hasil penelitian tindakan kelas
2. Mendiseminasikan laporan hasil PTK
Materi :
Laporan penelitian tindakan kelas terdiri dari 3 bagian yaitu bagian pembuka,
bagian isi, dan bagian penunjang. Adapun secara rinci format penulisan laporan
adalah sebagai berikut :
A. BAGIAN PEMBUKA
1. Halaman Judul
2. Halaman Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Tabel (bila ada)
6. Daftar Gambar (bila ada)
7. Daftar Lampiran
8. Abstrak atau ringkasan
B. BAGIAN INTI
Bab I. Pendahuluan (isi lengkap seperti pada proposal)
Bab II. Kajian Teori dan Pengajuan Hipotesis (isi lengkap seperti pada
proposal)
Bab III. Metodologi Penelitian (isi lengkap seperti pada proposal)
Bab IV. Hasil Tindakan dan Pembahasan
A. Deskripsi Kondisi Awal
B. Deskripsi Siklus I
1. Perencanaan
2. Tindakan
3. Observasi
4. Refleksi
C. Deskripsi Siklus II (seperti deskripsi siklus I)
D. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus
E. Hasil Penelitian
Modul PLPG PTK Kimia 29
BAB V. PENUTUP
A. Simpulan
B. Implikasi/Rekomendasi
C. Saran
C. BAGIAN PENUNJANG
1. DAFTAR PUSTAKA
2. LAMPIRAN-LAMPIRAN
Penjelasan bab IV dan V sebagai berikut :
HASIL TINDAKAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
Pada bagian ini dideskripsikan semua hasil pengamatan dari kondisi awal
sebelum tindakan. Deskripsi dapat disajikan pula dalam bentuk table/daftar,
maupun dalam grafik/diagram.
B. Deskripsi Hasil Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
Pada bagian ini dituliskan seluruh kegiatan yang dilakukan oleh peneliti
dalam mempersiapkan tindakan pada pembelajaran, misalnya penyusunan
perangkat pembelajaran, media pembelajaran dan asesmen pembelajaran.
2. Pelaksanaan Tindakan
Uraian pada pelaksanaan tindakan berisi kegiatan-kegiatan yang
berlangsung pada saat tindakan dilaksanakan. Pada bagian ini jika
memungkinkan disajikan foto kegiatan pada saat proses tindakan. Uraian
kegiatan hendaknya terperinci mulai dari kegiatan awal sampai kegiatan
akhir dari proses pembelajaran tersebut.
3. Hasil Observasi
Hasil pengamatan dari rekan sejawat yang bertindak sebagai observer
disajikan pada bagian ini. Uraian hasil observasi didasarkan pada poin-
poin pedoman observasi yang telah disiapkan di awal. Selain memaparkan
hasil observasi dengan data kualitatif, disajikan pula hasil pengamatan
berupa nilai hasil tes siklus I.
4. Refleksi
Uraian refleksi didasarkan pada hasil observasi, yang membandingkan
antara hasil yang diperoleh dengan target/indicator kinerja yang telah
ditetapkan sebelumnya, sehingga dapat disimpulkan apakah tindakan yang
Modul PLPG PTK Kimia 30
dilakukan pada siklus I dapat dianggap berhasil ataukah masih harus
dilanjutkan pada siklus II. Pada refleksi inilah akan dapat dilaporkan
keunggulan-keunggulan yang ada pada pelaksanaan siklus I juga
kelemahan-kelemahan yang ditemukan. Jika ternyata siklus I belum
dianggap berhasil karena belum dapat mencapai target yang ditetapkan,
maka untuk memasuki siklus II, peneliti harus mencermati kelebihan dan
kelemahan pelaksanaan tindakan siklus I.
C. Deskripsi Hasil Siklus II (uraian sama dengan deskripsi hasil siklus I)
D. Pembahasan Tiap Siklus dan Antar Siklus
Pada bagian ini dibahas mengenai kondisi awal, pelaksanaan tindakan siklus I,
siklus II dan seterusnya. Juga dibahas hasil observasi pada kondisi awal, siklus
I, siklus II dan seterusnya. Secara empirik kebenaran diperoleh dari hasil
analisis data yang diperoleh dari bab II dan bab IV, sehingga hasil penelitian
pada bab IV ini merupakan kebenaran empirik.
PENUTUP
A. Simpulan
Merupakan sintesis dari temuan-temuan penelitian, bersifat terpadu dan
menyeluruh, mengemukakan seluruh hasil penelitian sebagai kesatuan yang
utuh dari data yang bersifat terpisah. Simpulan ini harus menjawab rumusan
masalah yang ada pada bab I.
B. Implikasi
Diuraikan dampak teoritis dan praktis yang dapat diperoleh dari temuan
penelitian yang telah dilakukan, sehingga dapat digunakan sebagai bagian
penyusunan kebijakan. Implikasi ini lebih condong pada saran penerapan.
C. Saran
Dengan berdasarkan simpulan yang telah diperoleh, peneliti dapat
memberikan saran untuk pihak-pihak yang berkepentingan terhadap penelitian
tindakan kelas.
SOAL LATIHAN :
1. Susunlah laporan penelitian yang telah Anda lakukan !
Modul PLPG PTK Kimia 31
2. Buatlah rancangan diseminasi pada sasaran yang tepat dan alasan rasional
mengapa dipilih kelompok sasaran tersebut !
Modul PLPG PTK Kimia 32
DAFTAR PUSTAKA
Herawati Susilo, dkk. 2008. Penelitian Tindakan Kelas: Sebagai Sarana
Pengembangan Keprofesionalan Guru dan Calon Guru. Malang: UM.
Hopkins, D. 1993. A Teachers Guide to Classroom Research, Buckingham: Open
University Press.
IGAK. Wardani, Kuswaya Wihardit, dan Noehi Nasution. 2004. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
I Wayan Santyasa. 2009. Metodologi Penelitian Tindakan Kelas. Makalah.
Singaraja: UNDHIKSA.
Kemmis, S. dan McTaggart, R. 1983. The Action Research Planner, Third
Edition. Victoria: Deakin University.
McNiff, J. 1991. Action Research: Principles and Practice. London: McMillan.
Rochiati Wiriaatmadja. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas: Untuk
Meningkatkan Kinerja Guru dan Dosen. Bandung: Program Pascasarjana
UPI dan PT. Remaja Rosdakarya.
Sri Yamtinah, dkk. 2008. Peningkatan Hasil Belajar Siswa pada Materi
Hidrokarbon melalui Penerapan Model Kooperatif Metode TGT Dilengkapi
Media Kartu Huruf pada Siswa Kelas X SMA Al Muayyad. Laporan
Penelitian tidak dipublikasikan.
Sukardi. 2005. Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi dan Praktiknya.
Jakarta: Bumi Aksara.
Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Action Research),
Jakarta: Ditjen Dikti, Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah
(Secondary School Teacher Development Project).
Modul PLPG PTK Kimia 33
CONTOH PROPOSAL PTK
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada tahun pelajaran 2007/2008 mata pelajaran kimia menjadi salah satu
dari 6 (enam) mata pelajaran yang masuk dalam daftar Ujian Nasional. Ini
tentunya menjadi tantangan baru bagi para guru kimia, padahal mata pelajaran
kimia selama ini dianggap sebagai mata pelajaran sulit bagi siswa. Hal ini
disebabkan karena sebagian besar materi ilmu kimia merupakan konsep-konsep
yang abstrak, sehingga tidak mudah bagi guru untuk membuat siswa memahami
konsep - konsep kimia dengan segera. Belum lagi bagi guru yang mengajar di
sekolah yang belum memiliki fasilitas laboratorium dan media-media
pembelajaran, tentunya akan sangat sulit mengajarkan konsep-konsep kimia. Di
samping itu guru juga dihadapkan pada keterbatasan waktu, di mana alokasi jam
pelajaran kimia hanya 2 jam pelajaran per minggu (meskipun beberapa sekolah
menambah menjadi 3 jam pelajaran per minggu) dengan beban materi yang cukup
banyak sesuai dengan Standar Isi yang telah ditetapkan pemerintah.
Para guru sering berdiskusi utuk mencari strategi pembelajaran yang
memudahkan penanaman konsep pada siswa. Di SMA Al Muayyad Surakarta,
pembelajaran kimia yang dilakukan masih didominasi dengan metode ceramah,
dilanjutkan dengan contoh soal dan diakhiri dengan latihan soal yang harus
dikerjakan siswa secara mandiri. Belum nampak adanya variasi metode
pembelajaran maupun inovasi-inovasi dalam metode maupun media
pembelajaran. Pada saat guru sedang mengajarkan materi redoks, guru mengajar
dengan metode ceramah disertai contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Hampir tidak ada siswa yang bertanya ketika dijelaskan oleh guru meskipun guru
memberi kesempatan, akan tetapi pada saat ulangan harian persentase siswa yang
mencapai batas ketuntasan (nilai 60) tidak lebih dari 55%, itupun dengan
perolehan nilai yang tidak bisa dikatakan bagus, karena rerata nilai mereka yang
mencapai ketuntasan belajar hanya 62,5. Ini berarti sekitar 45% siswa masih
belum memahami konsep dengan baik.
Modul PLPG PTK Kimia 34
Guru mencoba untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang dihadapi di
kelas, didapatkan bahwa di samping hasil belajar yang rendah, masalah yang
terjadi dalam proses pembelajaran adalah kurang aktifnya siswa di kelas, siswa
dalam keadaan lelah dan mengantuk, dan beberapa siswa sering absen. Sebagai
gambaran, bahwa SMA Al Muayyad adalah lembaga pendidikan yang bernaung
di bawah payung Pondok Pesantren. Pendidikan di pondok pesantren Al Muayyad
ini menerapkan 3 jenis kurikulum , yaitu kurikulum sekolah (SMA) , kurikulum
madrasah, dan kurikulum pondok. Seluruh siswa diwajibkan untuk menempuh 3
kurikulum ini sekaligus. Dengan demikian siswa tidak mempunyai waktu
istirahat yang cukup, apalagi waktu untuk belajar mandiri. Sehingga waktu tatap
muka dengan gurulah satu-satunya kesempatan bagi siswa untuk belajar. Hal ini
menjadi tantangan tersendiri bagi guru-guru di SMA Al Muayyad terutama guru-
guru mata pelajaran MIPA, jika guru hanya menerapkan metode ceramah di kelas
siswa tidak akan bisa belajar dengan baik. Dari yang dilakukan selama ini guru
cenderung menyampaikan informasi (transfer of knowledge) sehingga kegiatan
siswa lebih banyak mencatat dan menghafal. Pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan guru belum dapat menuntun siswa menemukan konsep yang dipelajari
tetapi masih terbatas pada penyelesaian soal-soal yang ada pada buku. Untuk
memperbaiki kualitas proses belajar kimia di kelas itu, perlu dicari suatu metode
yang dapat membuat suasana bahwa siswa tidak malas tetapi aktif mempelajari
ilmu kimia.
Paradigma pembelajaran bergeser dari Behavioristik ke arah
Konstruktivisme. Dengan pendekatan konstruktivisme, siswa belajar untuk
mengkonstruk sendiri pengetahuannya, dengan bantuan guru sebagai fasilitator.
Salah satu model pembelajaran yang menggunakan pendekatan konstruktivis
adalah pembelajaran kooperatif. Dengan pembelajaran kooperatif siswa
diharapkan dapat berperan aktif dalam proses pembelajaran, bekerja sama antar
teman, sehingga dapat meningkatkan kualitas proses maupun prestasi belajar
siswa. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan yang termasuk ke
dalam model kooperatif adalah metode STAD.
Materi koloid merupakan salah satu materi di kelas XI IPA yang selama
ini hanya diajarkan dengan metode ceramah, sehingga hasilnya kurang
Modul PLPG PTK Kimia 35
memuaskan, baik dalam hal kualitas proses maupun prestasi siswa. Kurangnya
fasilitas sarana bahan-bahan kimia menyebabkan materi pembuatan koloid hanya
disampaikan dengan metode ceramah sehingga siswa tidak melakukan secara
langsung pembuatan koloid. Dengan demikian perlu dicari media yang dapat
digunakan untuk mengatasinya. Oleh karena materi pembuatan koloid ini akan
lebih baik jika pembelajaran diberikan secara visual, maka pembelajaran akan
diberikan dengan media VCD. Dengan demikian penelitian ini akan berusaha
memecahkan masalah tentang masih rendahnya kualitas proses dan prestasi
belajar kimia pada materi koloid di SMA Al Muayyad dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif model STAD disertai media VCD.
B. Identifikasi Masalah
Dalam pembelajaran kimia di sekolah, banyak dijumpai kendala yang
dihadapi para guru, yang yang tidak jarang menyebabkan rendahnya prestasi
belajar para siswa. Beberapa kendala yang sering dirasakan sebagai permasalahan
pembelajaran kimia adalah :
1. banyaknya materi kimia yang memuat konsep-konsep abstrak, sehingga
sulit untuk menyampaikan konsep-konsep semacam ini.
2. kemampuan guru-guru kimia, terutama guru-guru muda yang belum
berpengalaman dalam mengajar.
3. kurangnya pengetahuan guru akan model-model pembelajaran yang baru,
sehingga sebagian guru tetap bertahan dengan gaya mengajar
konvensional.
4. materi kajian yang harus diajarkan cukup banyak,sehingga para guru lebih
berorientasi menghabiskan materi.
5. kurangnya kemampuan guru dalam mengembangkan media pembelajaran
yang dapat meningkatkan keaktifan siswa.
C. Pembatasan Masalah
Banyaknya permasalahan dalam pembelajaran kimia sangat menarik untuk
dikaji, akan tetapi agar dapat mengkaji permasalahan secara mendalam maka pada
penelitian ini hanya akan dikaji tentang kualitas proses pembelajaran meliputi :
Modul PLPG PTK Kimia 36
keaktifan belajar siswa dan interaksi siswa dalam kerja kelompok. Juga akan
dikaji tentang kualitas hasil yaitu prestasi belajar siswa pada materi Koloid dengan
menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning metode STAD disertai
media VCD
D. Perumusan Masalah
Masalah yang akan dicari penyelesaiannya dalam penelitian ini dapat
dirumuskan sebagai berikut:
a. Apakah penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning metode
STAD disertai media VCD dapat meningkatkan kualitas proses meliputi
keaktifan siswa dan interaksi dalam kerja kelompok pada siswa kelas XI SMA
Al Muayyad dalam mempelajari materi Koloid ?
b. Apakah penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning metode
STAD disertai media VCD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI
SMA Al Muayyad dalam mempelajari materi Koloid ?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, dapat
dirumuskan tujuan penelitian ini adalah :
a. Penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning metode STAD
disertai media VCD dapat meningkatkan kualitas proses meliputi keaktifan
siswa dan interaksi dalam kerja kelompok pada siswa kelas XI SMA Al
Muayyad dalam mempelajari materi Koloid.
b. Penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning metode STAD
disertai media VCD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI SMA
Al Muayyad dalam mempelajari materi Koloid.
F. Manfaat Penelitian
Penelitian yang akan dilakukan mempunyai kontribusi relatif besar bagi guru
di sekolah, pengembang, dan lembaga khususnya Program Studi Pendidikan
Kimia FKIP Universitas Sebelas Maret. Kontribusi pada masing-masing
komponen dapat dijelaskan sebagai berikut :
Modul PLPG PTK Kimia 37
c. Bagi Peserta Didik
Pengembangan inovasi pembelajaran yang akan dilakukan akan bermanfaat
bagi peserta didik dalam beberapa hal, diantaranya : peningkatan teknik belajar
peserta didik secara kooperatif, saling bekerja sama dan memiliki rasa
ketergantungan positif ( positive interdependence) serta meningkatkan semangat
dan motivasi peserta didik dalam belajar karena menerima teknik pembelajaran
yang baru.
d. Bagi Guru
Pembelajaran konstruktivistik dengan model pembelajaran Cooperative
Learning metode STAD disertai media VCD merupakan hal baru yang belum
umum dilakukan oleh guru di sekolah. Sehingga penelitian ini akan dapat
memberikan pengalaman langsung pada guru-guru kimia yang terlibat sehingga
memperoleh pengalaman baru untuk menerapkan metode baru dalam
pembelajaran. Sehingga permasalahan rendahnya kualitas proses dan hasil belajar
kimia dapat teratasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS TINDAKAN
A. Tinjauan Pustaka
1. Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Selama ini proses pembelajaran kimia yang dilakukan oleh para guru
kimia umumnya dan guru kimia di SMA Al Muayyad khususnya masih
didominasi oleh kegiatan ceramah yang dilanjutkan dengan latihan soal-soal. Pada
pembelajaran ini, guru menjelaskan konsep-konsep kimia secara rinci dengan
menulis di papan tulis, dan setelah guru selesai menjelaskan siswa mencatat apa
yang dijelaskan oleh guru. Setelah itu guru memberikan contoh-contoh soal untuk
dikerjakan bersama-sama (lebih banyak dikerjakan guru sendiri). Selanjutnya
setelah selesai latihan soal yang dikerjakan, guru memerintahkan siswa untuk
mengerjakan soal-soal latihan yang ada pada akhir bab dari buku. Pembelajaran
yang umum dilakukan seperti ini hanya mendorong siswa untuk sekedar
Modul PLPG PTK Kimia 38
menghafal konsep yang diberikan guru. Dan ketika diadakan ulangan harian
hafalan ini dengan mudah hilang, sehingga prestasi siswapun menjadi rendah.
Dalam teori konstruktivisme, peserta didik harus menemukan sendiri dan
memecahkan informasi baru dengan aturan lama dan merevisinya apabila aturan
itu tidak sesuai lagi. Hal ini sangat mutlak diperlukan dalam pembelajaran kimia
yang memiliki sifat dinamis. Menurut Van Glaser dalam Paul (1996) dikatakan
bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dari kenyataan (realitas), pengetahuan
ini dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu ia berinteraksi dengan
lingkungannya. Pandangan konstruktivisme menyatakan bahwa peserta didik
diberi kesempatan agar menggunakan suatu teknik sendiri dalam belajar secara
sadar dan pendidik dalam hal ini membimbing peserta didik ke tingkat
pengetahuan ke arah yang lebih tinggi ( Daiute dalam Strommen,2003). Dengan
demikian agar peserta didik benar-benar memahami materi, mereka harus bekerja
sama untuk memecahkan masalah dan kesulitan yang ada dengan ide-ide dan
kemampuannya.
Ide pokok pada teori konstruktivisme adalah peserta didik secara aktif
membangun pengetahuan mereka sendiri. Pembelajaran merupakan kerja mental
aktif, dan bukanlah menerima pelajaran secara pasif. Dalam kerja mental peserta
didik ini, pendidik memegang peranan penting dengan cara memberi dukungan,
tantangan berfikir, namun dalam hal ini peserta didik tetap merupakan kunci
pembelajaran. Menurut Kamii dalam Dahar (1989) bahwa prinsip yang paling
umum dan esensial yang dapat diturunkan dari konstruktivisme adalah bahwa
siswa memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah dan pendidikan
seharusnya memperhatikan hal itu dan menunjang proses alamiah itu.
Pendekatan dalam pembelajaran konstruktivisme dapat menggunakan
pembelajaran secara kooperatif ekstensif. Menurut teori ini peserta didik akan
lebih mudah menemukan dan mengerti akan konsep-konsep yang sulit jika
mereka dapat membicarakan dan mendiskusikan masalah tersebut dengan
temannya. Peserta didik secara rutin bekerja dalam kelompok yang terdiri dari
sekitar empat orang untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah.
Dalam hal ini penekanannya pada aspek sosial dalam pembelajaran dan
penggunaan kelompok-kelompok yang sederajat untuk menghasilkan pemikiran
Modul PLPG PTK Kimia 39
dan tantangan miskonsepsi peserta didik sebagai unsur kuncinya. Pada sistem
pengajaran ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja sama
dengan temannya dalam tugas-tugas terstruktur dan inilah yang disebut dengan
pengajaran gotong-royong atau Cooperative Learning (Slavin R.E, 1995).
Pembelajaran ini bisa menimbulkan keagresifan dalam sistem kompetisi dan
hilangnya keterasingan individu tanpa mengorbankan aspek kognitif.
Pada prakteknya pembelajaran seperti ini juga membutuhkan lingkungan
belajar yang konstruktivis. Model desain lingkungan belajar konstruktivistik
(Jonassen dalam Reigeluth (Ed), 1999) terdiri dari pemberian masalah (konteks,
representasi, manipulasi ruang), kasus-kasus berhubungan, sumber-sumber
informasi, cognitive tool, pemodelan yang dinamis, percakapan dan kolaborasi,
dan dukungan kontekstual. Penciptaan lingkungan konstruktivistik dapat
dilakukan melalui penerapan model pembelajaran berorientasi konstruktivistik
oleh guru, penyediaan bahan ajar yang dapat mendorong siswa belajar, atau
penciptaan kondisi sekolah yang kondusif untuk belajar. Terdapat beberapa model
pembelajaran berorientasi konstruktivistik yang dapat diterapkan oleh guru seperti
pembelajaran kooperatif, siklus belajar (learning cycle), problem posing, problem
solving, pembelajaran berbasis masalah, peta konsep dan lain-lain. Model-model
tersebut menyediakan lingkungan yang dapat mendorong siswa belajar (stimulate
to learning) sehingga pembelajaran di sekolah berpusat pada siswa (student
centered). Pada pengembangan ini, pemecahan masalah rendahnya kualitas proses
pembelajaran kimia di SMA Al Muayyad Surakarta (pembelajaran masih berpusat
pada guru, kurang aktifnya siswa, dan prestasi belajar yang rendah ) akan
digunakan model peta konsep dan penerapan teknik Cooperative Learning model
STAD dengan pengembangan teknik collective responsibility.
2. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang
berdasarkan faham konstruktivisme sosiologis. Pada pembelajaran kooperatif
diyakini bahwa keberhasilan peserta didik tercapai jika setiap anggota
kelompoknya berhasil. Sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan pada
anak didik untuk bekerja sama dengan temannya dalam tugas-tugas terstruktur
Modul PLPG PTK Kimia 40
disebt dengan sistem gotong royong atau cooperative learning ( Lie dalam Paul
Suparno, 1997).
Sistem pembelajaran kooperatif dapat dibuat model-model tertentu antara
lain :
1). Student Teams Achievement Divisions (STAD)
2). Teams Games Tournaments (STAD)
3). Team Assisted Individualization (TAI)
4). Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Menurut Slavin (1995) keberhasilan dari proses belajar kooperatif adalah karena
adanya lima prinsip yaitu :
1). Adanya sumbangan dari ketua kelompok
Tugas dari ketua kelompok adalah memberikan sumbangan
pengetahuannya untuk anggota kelompoknya, karena ketua kelompok dianggap
berkemampuan lebih dibandingkan dengan anggota yang lain. Anggota
diharapkan memperhatikan, mempelajari informasi yang diberikan ketua
kelompok.
2). Heterogenitas kelompok
Kelompok belajar lebih efektif bila mempunyai anggota kelompok yang
heterogen, baik dari jenis kelamin, latar belakang sosial atau kecerdasan.
3). Ketergantungan pribadi yang positif
Setiap anggota kelompok belajar untuk berkembang dan bekerja sama satu
sama lain. Ketergantungan pribadi ini bisa memberikan motivasi bagi setiap
individu karena pada awalnya mereka harus bisa membangun pengetahuan sendiri
sebelum mereka bekerja sama dengan temannya.
4). Keterampilan bekerja sama
Dalam proses bekerja sama perlu adanya keterampilan khusus sehingga
kelompok tersebut berhasil membawa nama kelompoknya misalnya adanya
komunikasi yang baik antar anggota kelompok.
5). Otonomi kelompok
Setiap kelompok memiliki tujuan agar menjadi yang terbaik jika mereka
mengalami kesulitan dalam proses pemecahan masalah maka mereka dapat
bertanya kepada gurunya.
Modul PLPG PTK Kimia 41
3. Cooperative Learning Model STAD (Student Teams Achievement
Divisions)
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yag
berdasarkan faham konstruktivisme sosiologis. Pada pembelajaran kooperatif
diyakini bahwa keberhasilan peserta didik tercapai jika setiap anggota
kelompoknya berhasil. Sistem pengajaran yang memberikan kesempatan pada
anak didik untuk bekerja sama dengan temannya dalam tugas-tugas terstruktur
disebut sebagai sistem gotong royong atau cooperative learning ( Anita Lie,
2004). Beberapa model cooperative learning yaitu : STAD (Student Teams
Achievement Divisions), STAD (Team Games Tournament), TAI ( Team Assisted
Individualization), CIRC ( Cooperative Integrated Reading dan Composition).
Model pembelajaran STAD merupakan metode yang berdasar pada teori belajar
konstruktivisme dan berlandaskan pada teori belajar kognitif. Pembelajaran
merupakan kerja mental yang aktif dan bukanlah menerima pelajaran secara pasif.
Dalam kerja mental peserta didik ini, pendidik memegang peranan penting dengan
cara memberi dukungan, tantangan berpikir namun tetap merupakan kunci
pembelajaran. Menurut teori ini peserta didik akan lebih mudah menemukan dan
mengerti akan konsep-konsep yang sulit jika mereka dapat membicarakan dan
mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Rukoyah (2003) menyatakan bahwa model
STAD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Demikian pula penelitian yang
dilakukan Sri Yamtinah (2006) dihasilkan bahwa model STAD yang
dikembangkan dengan teknik Collective Responsibility cukup dapat meningkatkan
hasil belajar siswa, namun hasil yang didapatkan masih belum menggembirakan
karena siswa masih mengalami kesulitan dalam memberikan penjelasan kepada
teman yang membutuhkan.
Secara umum metode STAD terdiri dari lima komponen utama, yaitu :
a. Presentasi Kelas
Tahap awal dalam STAD adalah tahap pengenalan awal dalam presentasi
kelas. Presentasi ini bisa dilakukan dengan pengajaran langsung atau pengajaran
diskusi dengan guru, tetapi bisa juga dengan presentasi menggunakan media
Modul PLPG PTK Kimia 42
audiovisual. Presentasi kelas dalam STAD berbeda dengan pembelajaran kelas
biasa, karena dalam STAD terdapat penekanan pada materi, karena materi dalam
presentasi kelas ini akan sangat menentukan kesiapan siswa dalam kuis dan
menentukan skor individu yang nanti akan berpengaruh pada skor kelompok.
b. Tim / kelompok
Tim terdiri dari 4-5 siswa yang mewakili bagiannya baik jenis
kelamin,suku,atau etnik dalam kelas untuk menjalankan aktivitas
akademik.Fungsi utama dari tim adalah membentuk semua tim agar mengingat
materi yang telah diberikan dan lebih memahami materi yang nantinya digunakan
dalam persiapan mengerjakan quis sehingga bisa mengerjakan dengan
baik.Sesudah guru mempresentasikan materi,tim segera mempelajari lembar kerja
atau materi lain.Dalam hal ini siswa biasanya menggunakan cara pembelajaran
diskusi tentang masalah-masalah yang ada,membandingkan soal-soal yang
ada.Tim merupakan hal yang penting yang perlu ditonjolkan dalam STAD.Dalam
setiap langkah,titik beratnya terletak pada ingatan tim agar bisa bekerja yang
terbaik demi timnya dan cara yang terbaik dalam tim adalah dengan adanya kerja
sama yang baik.
c. Kuis
Setelah 1-2 periode dari presentasi guru dan 1-2 periode dari ketua
tim,siswa mengerjakan kuis secara individu.Siswa tidak boleh meminta ataupun
memberikan bantuan pada siswa lain,hal ini dimaksudkan untuk mengetahui
pemahaman materi secara individu.
d. Skor Perbaikan Siswa
Hal ini dimaksudkan untuk memberikan nilai pada setiap siswa jika
mereka mengerjakan sampai selesai.Beberapa siswa dapat memperoleh nilai
maksimal untuk kelompoknya dalam sistem seorang tetapi tidak semua siswa
dapat mengerjakan dengan baik.Masing-masing siswa diberikan skor
cukupyang berasal dari rata-rata siswa pada kuis yang sama.Setelah siswa
mendapatkan nilai maka siswa berhak mendapatkan urutan tingkatan nilai dari
skor kuis dan berusaha untuk melampaui skor cukup.
e. Pengakuan Tim
Modul PLPG PTK Kimia 43
Tim mendapat penghargaan jika dapat melampaui kriteria yang telah
ditentukan. Skor tim ini akan digunakan untuk menentukan tingkatan pemahaman
siswa (Slavin, 1995 : 71-73)
4. Media Pembelajaran VCD
Media pembelajaran diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat
digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima pesan
sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian
peserta didik sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi ( Arief S. Sadiman,
1996 :5)
Media pembelajaran yang tepat dan efektif akan dapat menunjang
tercapainya tujuan pembelajaran yang efektif. Media pembelajaran yang tepat
adalah media pembelajaran yang disesuaikan dengan materi yang diajarkan.
Media pembelajaran yang efektif adalah media pembelajaran yang memanfaatkan
semua potensi yang mendorong tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Tingkat
keefektifan media pembelajaran dilihat dari tingkat pemahaman siswa yang
diperoleh setelah proses belajar mengajar.
Secara umum , media pembelajaran mempunyai kegunaan :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu verbalistik, mengatasi
keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera
2. Dengan menggunakan media pembelajaran secara tepat dan bervariasi dapat
diatasi sikap pasif siswa.
3. Dengan sifat unik pada tiap siswa serta lingkungan dan pengalaman yang
berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pembelajaran ditentukan sama
untuk setiap siswa, maka guru akan banyak mengalami kesulitan bilamana
semuanya itu harus diatasi sendiri.
Zaenal Abidin (1997 : 26-27) mengklasifikasikan media pembelajaran
berdasarkan bentuknya yaitu :
1. Media pandang (visual media) yaitu media yang dapat dilihat, misalnya foto,
OHP, grafik, benda nyata.
2. Media dengar (audio media) yaitu media untuk didengar suaranya, misalnya
tape recorder, radio, telepon.
Modul PLPG PTK Kimia 44
Media Video Compact Disk (VCD) adalah media audiovisual yang
merupakan perkembangan teknologi dari media video dan termasuk salah satu
media yang lengkap, yaitu menggunakan kemampuan audio ( suara), visual
(gambar) dan mempunyai kegunaan untuk mengatasi hambatan dalam
berkomunikasi , keterbatasan fisik dalam kelas, sikap pasif siswa serta
menyatukan pengamatan siswa.
Media VCD adalah bagian dari media audio visual yang secara
keseluruhan adalah penyalur pesan yang dapat ditampilkan lewat suara dan
gambar. Dalam media audiovisual lebih condong didominasi dengan teori
realisme. Lebih banyak sifat bahan audiovisual yang realistis maka makin
memudahkan pengajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
B. Kerangka Berpikir
Sebagai sekolah yang berada di bawah payung pondok pesantren, di mana
para siswa mempunyai kewajiban menempuh 3 jenis kurikulum (Kurikulum
Sekolah / Nasional, Kurikulum Madrasah Dinniyah, dan Kurikulum Pondok)
sekaligus, adalah merupakan tantangan tersendiri bagi guru untuk dapat
membelajarkan siswanya dengan kualitas pembelajaran dan hasil belajar yang
tinggi. Kurangnya sarana laboratorium juga merupakan kendala yang cukup
berarti bagi pembelajaran kimia. Oleh karena siswa yang dihadapi adalah siswa
yang memiliki beban pelajaran yang sangat banyak (mengingat 3 kurikulum),
siswa dalam keadaan lelah karena penuhnya kegiatan, serta sarana prasarana
sekolah yang kurang mendukung maka diperlukan suatu inovasi pembelajaran
yang dapat meningkatkan kualitas proses dan prestasi belajar siswa. Penggunaan
metode Cooperative Learning model STAD disertai media VCD diharapkan akan
dapat mengoptimalkan proses pembelajaran di kelas.
Secara skematis, kerangka pemikiran penelitian ini dapat digambarkan
sebagai berikut :
Kondisi awal :
Siswa kurang aktif
Siswa lelah
Sarana laboratorium
kurang
Prestasi rendah
Pembelajaran
ceramah saja
Pembelajaran
Kooperatif
Metode STAD
Disertai Media
VCD
Kualitas Proses (keaktifan,
interaksi kelompok) meningkat
Prestasi Belajar Meningkat
Modul PLPG PTK Kimia 45
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir, dapat diajukan hipotesis
tindakan sebagai berikut :
a. Penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning metode STAD
disertai media VCD dapat meningkatkan kualitas proses meliputi keaktifan
siswa dan interaksi dalam kelompok pada siswa kelas XI SMA Al Muayyad
dalam mempelajari materi Koloid.
b. Penggunaan model pembelajaran Cooperative Learning metode STAD
disertai media VCD dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas XI SMA
Al Muayyad dalam mempelajari materi Koloid.
BAB III
METODOLOGI PENELITAN
A. Setting Penelitian
Penelitian dilakukan di kelas XI IPA SMA Al Muayyad Surakarta, yang
merupakan salah satu lembaga pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren
Al Muayyad Surakarta, yang beralamat di Jln. K.H. Samanhudi No 64 Surakarta.
Pondok pesantren ini memiliki unit-unit sekolah umum yaitu SMP, SMA, dan
MA. Oleh karena berada di bawah naungan pondok pesantren, maka seorang
siswa berperan ganda yaitu sebagai siswa dan sebagai santri. Kewajiban seorang
siswa adalah menempuh 3 kurikulum sekaligus yaitu kurikulum Nasional (SMA),
kurikulum Dinniyah (MDW), dan kurikulum pondok (kitab). Kondisi ini
menyebabkan beban yang harus ditanggung seorang siswa jauh lebih berat
dibandingkan dengan siswa di sekolah umum.
Pelaksanaan penelitian pada bulan Mei- Juni 2008, yang disesuaikan dengan
alokasi waktu yang telah disusun oleh guru. Pelaksanaan penelitian ada pada
waktu yang kurang efektif, karena bersamaan dengan pelaksanaan ujian nasional
kelas XII sehingga beberapa pertemuan tidak sesuai dengan jadwal yang telah
direncanakan.
B. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Al Muayyad
Surakarta pada semester genap 2007/2008 dengan jumlah siswa sebanyak 21
Modul PLPG PTK Kimia 46
orang terdiri dari 9 siswa putra dan 12 siswa putri. Pada pelaksanaan
pembelajaran, siswa putra dan putri meskipun berada dalam 1 kelas, namun
dipisahkan oleh pembatas yang terbuat dari tripleks yang biasa disebut satir.
Dengan demikian dalam pembentukan kelompok, maka kelompok putra dan putri
juga dipisahkan.
Pemilihan subyek penelitian ini dengan dasar pemikiran bahwa siswa-siswa
pada kelas XI IPA memiliki potensi kemampuan akademik yang cukup bagus
berdasarkan nilai ulangan harian guru , namun cara belajar yang mereka gunakan
selama ini masih individual, sehingga diharapkan dengan mempergunakan model
pembelajaran Cooperative Learning metode STAD disertai media VCD ini akan
meningkatkan keaktifan siswa belajar dan interaksi siswa dalam kerja kelompok
yang pada ujungnya akan meningkatkan prestasi belajar. Materi pokok yang
digunakan dalam penelitian ini adalah materi koloid.
C. Variabel Penelitian
Variabel yang menjadi faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah
terdiri dari variabel kualitatif berupa keaktifan siswa belajar dan interaksi siswa
dalam kerja kelompok. Sedangkan variabel tindakan berupa penggunaan model
pembelajaran Cooperative Learning metode STAD disertai media VCD. Variabel
yang juga diamati yang berupa variabel kuantitatif adalah prestasi siswa yang
berasal dari ulangan harian atau tes akhir siklus yang dibandingkan dengan nilai
batas tuntas untuk mata pelajaran kimia yaitu 65.
D. Teknik Pengumpulan data
1. Data Penelitian
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data informasi
tentang keadaan siswa dilihat dari aspek kualitatif dan kuantitatif. Aspek kualitatif
berupa hasil observasi dengan berpedoman pada lembar pengamatan yang
menggambarkan proses belajar di kelas yang difokuskan pada keaktifan siswa
belajar dan interaksi siswa dalam kerja kelompok yang diamati oleh observer.
Aspek kuantitatif yang dimaksud adalah hasil penilaian belajar dari materi Koloid
berupa nilai yang diperoleh siswa dari penilaian kemampuan berupa aspek
kognitif .
Modul PLPG PTK Kimia 47
2. Sumber Data
Data penelitian ini dikumpulkan dari berbagai sumber yang meliputi:
a. Narasumber yaitu, guru bidang studi dan siswa SMA Al-Muayyad Surakarta
b. Hasil Observasi peneliti di kelas XI IPA SMA Al-Muayyad Surakarta.
c. Arsip atau dokumen kelas XI IPA SMA Al-Muayyad Surakarta.
d. Hasil tes siklus
E. Uji Validitas Data
Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain
menurut Lather dalam Supardi (2006: 128) antara lain :
a. Face validity (validitas muka), setiap anggota kelompok peneliti tindakan
saling mengecek/menilai/memutuskan validitas suatu instrumen dan data
dalam proses kolaborasi dalam penelitian tindakan. Dalam hal ini anggota
kelompok mengadakan diskusi untuk memutuskan kevalidan instrument-
instrumen yang akan digunakan.
b. Triangulation (triangulasi), menggunakan berbagai sumber data untuk
meningkatkan kualitas penelitian. Dalam hal ini peneliti mengadakan diskusi
baik dengan guru maupun siswa untuk melakukan triangulasi.
c. Critical Reflection (refleksi kritis), setiap tahap siklus penelitian tindakan
dirancang untuk meningkatkan kualitas pemahaman.
d. Catalytic validity (validitas pengetahuan) yang dihasilkan oleh peneliti
tindakan bergantung pada kemampuan peneliti sendiri dalam mendorong pada
adanya perubahan (improvement).
F. Indikator Kinerja
Indikator kinerja merupakan rumusan kinerja yang akan dijadikan acuan
dalam menentukan keberhasilan atau keefektifan penelitian (Sarwiji Suwandi,
2007:36).
Indikator yang dijadikan sebagai pedoman untuk menentukan keberhasilan
penelitian ini didasarkan pada diskusi antara guru dengan peneliti, dengan
memperhatikan kondisi awal dari siswa berdasarkan informasi yang diberikan
oleh guru.
Berikut ini tabel indikator keberhasilan kinerja dalam upaya meningkatkan
kualitas proses dan hasil belajar siswa.
Modul PLPG PTK Kimia 48

siswa seluruh
tuntas siswa
Tabel 3. Indikator Keberhasilan kinerja Siklus I
Aspek yang Dinilai Target Cara Penilaian (X 100%)
Keaktifan belajar
siswa
50 % aktif
Dihitung dari :

uruhan siswakesel
lajaran dalampembe siswaaktif
Interaksi siswa
dalam kerja
kelompok
30 % bekerjasama
Dihitung dari
:

ompok seluruhkel
tif eraksiposi r kelompokbe int
Hasil belajar
(prestasi belajar)
60 % tuntas
Dihitung dari :
G. Prosedur Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas
(classroom action research) yang berusaha mengkaji dan merefleksikan secara
mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu keaktifan siswa
belajar dan interaksi siswa dalam kerja kelompok serta prestasi belajar siswa.
Keaktifan siswa belajar dan interaksi siswa dalam kerja kelompok dinilai penting
untuk diamati karena dua hal tersebut merupakan modal penting yang dapat
dipergunakan untuk keberhasilan belajar siswa melalui kooperatif.
Penelitian ini dibagi dalam dua siklus yang disesuaikan dengan alokasi
waktu dan topik yang dipilih. Masing-masing siklus terdiri dari empat langkah
(Kemmis dan Mc Taggart, 1988) berikut: a) perencanaan, yaitu merumuskan
masalah, menentukan tujuan dan metode penelitian serta membuat rencana
tindakan, b) tindakan, yang dilakukan sebagai upaya perubahan yang dilakukan,
c) observasi, dilakukan secara sistematis untuk mengamati hasil atau dampak
tindakan terhadap proses belajar mengajar, dan d) refleksi, yaitu mengkaji dan
mempertimbangkan hasil atau dampak tindakan yang dilakukan. Pemilihan
Kualitas Proses Belajar
Kualitas Hasil Belajar
Modul PLPG PTK Kimia 49
metode Kemmis dan Mc Taggart ini dikarenakan metode ini lebih mudah untuk
diaplikasikan dalam penelitian.
Adapun rancangan penelitian tersebut dapat digambarkan dalam bagan
sebagai berikut :
2. Langkah-langkah Penelitian
Pelaksanaan
Tindakan I
Refleksi I
Perencanaan
Tindakan II
Pelaksanaan
Tindakan II
Observasi II
Refleksi II
Terselesaikan
SIKLUS I
SIKLUS II
Observasi I
Permasalahan
Belum
terselesaikan/
muncul
masalah baru
SIKLUS III
Perencanaan
Tindakan I
Terselesaikan
Modul PLPG PTK Kimia 50
Prosedur dan langkah-langkah yang akan digunakan dalam penelitian ini
mengikuti model yang dikembangkan oleh Kemmis dan Mc Taggart yaitu model
spiral. Perencanaan Kemmis menggunakan sistem spiral refleksi diri yang dimulai
dengan rencana tindakan (planning), tindakan (acting), pengamatan (observing)
dan refleksi (reflecting). Kegiatan ini disebut dengan satu siklus kegiatan
pemecahan masalah (Suharsimi Arikunto, dkk, 2006:117).
Berikut pemaparan tentang hal-hal yang dilakukan dalam tiap-tiap langkah
tersebut :
1. Tahap perencanaan (Planning)
Kegiatan yang dilakukan meliputi :
a. Penyusunan perangkat pembelajaran
b. Penyusunan perangkat evaluasi
c. Penyusunan perangkat observasi.
d. Penyusunan angket balikan siswa.
2. Tahap pelaksanaan atau tindakan (Acting)
Tindakan dilakukan peneliti untuk memperbaiki masalah. Kegiatan yang
dilaksanakan dalam penelitian tindakan kelas ini antara lain :
a. Menyelenggarakan pendistribusian pembagian kelompok.
b. Melaksanakan PBM sesuai langkah-langkah yang telah disusun dalam
Rancangan Pembelajaran.
c. Melakukan kegiatan pemantauan proses belajar melalui observasi
langsung
d. Menyelenggarakan evaluasi ( tes akhir siklus) untuk menilai hasil belajar
siswa.
3. Tahap Observasi dan Evaluasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses observasi adalah :
a. Pengumpulan data.
b. Sumber data.
c. Critical friend dalam penelitian.
d. Analisis data.
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam observasi adalah sebagai
berikut :
Modul PLPG PTK Kimia 51
a. Pelaksanaan pengamatan baik oleh guru maupun peneliti sendiri.
b. Mencatat semua hasil pengamatan ke dalam lembar observasi.
c. Diskusi dengan guru (sebagai critical friend) terhadap hasil pengamatan
setelah proses pembelajaran selesai.
d. Membuat kesimpulan hasil pengamatan.
4. Tahap Refleksi (Reflecting)
Refleksi adalah kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang
terjadi pada siswa, suasana kelas dan guru. Langkah-langkah dalam kegiatan
analisis dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Menganalisis tanggapan siswa pada lembar angket.
b. Menganalisis pengamatan dengan lembar monitoring.
c. Menganalisis hasil tes yang diberikan kepada siswa
d. Mendiskusikan dengan guru dan tim peneliti untuk melihat kekurangan-
kekurangan maupun kelebihan dari pelaksanaan siklus 1.
e. Berdasarkan hasil refleksi peneliti mencoba untuk mengatasi kekurangan
atau kelemahan yang terjadi akibat tindakan yang telah dilakukan.
Dari data hasil refleksi, baik keberhasilan maupun kegagalan dalam
pelaksanaan tindakan maka peneliti dengan guru mengadakan diskusi untuk
mengambil kesepakatan menentukan tindakan perbaikan berikutnya (siklus 2)
dalam proses yang dilaksanakan oleh peneliti.
Dengan adanya penelitian ini diharapkan ada tindak lanjut dari guru
yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan serta mengembangkan strategi
yang tepat agar proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif sehingga
tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dapat tercapai secara maksimal.