Anda di halaman 1dari 2

Konsep Suicide

Oleh Septi Rizkia Amalida, 1006672970




Saat ini, suicide atau pembunuhan baik kepada orang lain maupun diri sendiri
telah dikategorikan sebagai major public health problem (John Sommers-Flanagan,Rita
Sommers-Flanagan, 2009). Pada realitanya, saat ini suicide telah membunuh lebih dari
sejuta orang setiap tahunnya dan satu orang setiap empat puluh detik. Resiko suicide
dapat dialami oleh setiap orang di setiap usia. LTM ini akan membahas definisi, faktor
pendukung, etiologi serta tanda dan gejala resiko suicide.
Suicide merupakan keinginan untuk membunuh seseorang, dapat diri sendiri
maupun orang lain (Mary Ann Boyd, 2011). Suicide merupakan pola koping yang
destruktif dengan keinginan untuk mati. Klien dengan gangguan suicide biasanya
neniliki kelainan mental, depresi, ketergantungan pada alkohol atau mengalami
penyiksaan (Mary Ann Boyd, 2011). Suicidality berarti segala tindakan yang
berhubungan dengan pembunuhan. Suicide ideation berarti memikirkan atau
merencanakan kematian seseorang. Parasuicide merupakan penampakan dari gesture
seseorang yang menunjukkan adanya keinginan membunuh baginya, namun terkadang
bukanlah untuk mati tujuannya. Beberapa orang memang menginginkan kematian
sebagian lainnya dikarenakan dirinya tidak merasakan apa-apa atau hanya ingin
mengeluarkan emosinya sesaat. Suicide attemp atau keinginan membunuh lebih sering
terjadi pada masa anak-anak maupun remaja daripada orang dewaasa. Keinginan
membunuh pada anak-anak maupun remaja jarang terealisasikan dibandingkan dengan
dewasa. Biasanya keinginan membunuh saat dewasa timbul dikarenakan adanya faktor
predisposisi dari masa kecil
Suicide bukanlah motivasi mendadak untuk membunuh. Suicide dapat disebaban
oleh berbagai faktor predisposisinya. Terdapat beberapa faktor predisposisi yang
menyebabkan seseroang memiliki jeinginan untuk membunuh (Robert I Simon, 2008).
Faktor yang pertama adalah depresi. Depresi sampai berisiko untuk suicide memiliki
beberapa faktor pendukung, yaitu kecemansan berlebih, serangan panik, kehilangan
harapan, kehilangan hubungan, kesulitan konsentrasi, kecanduan alkohol dan
sebagainya. Faktor kedua adalah ras, suku, agama. Kebudayaan serta nilai-nilai yang
terdapat dalam setiap RAS tertentu. Contohnya pada orang-orang berketurunan ras
oriental dan tinggal di Jepang atau sekitarnya memiliki keinginan membunuh yang lebih
besar disebabkan adanya nilai yang lebih kecil terhadap penghargaan atas nyawa
seseorang dibanding dengan RAS lainnya. Faktor terakhir adalah isolasi sosial dan
faktor interpersonal. Faktor menunjukkan hal-hal seperti kecacatan, kehilangan
kemampuan, pengagguran dapat menyebabkan keinginan untuk membunuh teritama diri
sendiri.
Keinginan membunh atau suicide bukanlah hal yang semata-mata diinginkan
oleh seseorang. Mary ann Boyd dalam bukunya yang berjudul Psychiatric nursing:
contemporary practice (2011) menyatakan bahwa ada tiga teori sebagai etiologi dan
suicide. Pertama, teori biologis yang menyatakan bahwa suicide disebabkan kelainan
genetis juga traumatik karena penganiayaan saat kecil. Banyak kasus membuktikan
bahwa suicide dapat menurun. Contohnya bila seorang ibu memiliki keinginan
membunuh dan melakukannya, biasanya anaknya pun memiliki keinginan yang sama
namun belum tentu melakukannya. Traumatik karena penganiayaan saat kecil biasanya
berdampak pada pola pikir yang menjadi lebih destruktif daripada kebanyakan orang.
Kedua, teori psikologis yang menyatakan pikiran negatif, kehilangan harapan,
kehilangan, perasaan bersalah dan pesimistik mengakibatkan depresi dan berujung pada
keinginan pembunuhan. Seorang yang depresi namun memiliki masih harapan jauh
lebih baik daripada orang tidak memiliki harapan. Ketiga, teori sosial yang menyatakan
bahwa keadaan sosioekonomi seseorang mempengaruhi keadaan psikologis seseorang.
Kemiskinan merupakan contoh keadaan sosioekonomi yang paling sering menyebabkan
depresi pada orang dewasa. Lain halnya dengan remaja dan anak-anak, keadaan sosial
yang paling sering menyebabkan keinginan membunuh adalah suicide contagion atau
keinginan untuk membunuh karena adanya kejadian pembunuhan sebelumnya. Hal ini
serng terjadi di negara Korea dan Jepang ketika seorang artis bunuh diri maka banyak
fansnya ikut bunuh diri.
Suicide bukanlah keadaan yang tidak mungkin dideteksi. Suicide memiliki tanda
gejala tersendiri tertama pada anak-anak dan masa remaja (Mary Ann Boyd, 2011).
Tanda gejala pertama adalah ideation atau pengemukaan ide mengenai keinginan atau
rencana membunuh. Terkadang tanda ini diabaikan karena dianggap sebagi bercanda
atau pembicaraan lalu. Tanda kedua adalah meningkatnya tindakan kekerasan atau
kecanduan pada alkohol, narkotika atau rokok. Tanda ketiga adalah kehilangan arah.
Orang-orang yang memiliki keinginan untuk membunuh biasanya kehilangan tujuannya
untuk hidup, terlihat lesu dan bermalas-malasan. Tanda keempat adalah kecemasan
sampai mengalami gangguan tidur. Tanda kelima adalah merasa terkekang. Orang-
orang yang memiliki keinginan membunuh biasanya berhalusinasi dirinya tidak
memiliki kebebasan untuk melakukan sesuatu. Tanda keenam adalah tidak memiliki
harapan. Tanda ketujuh adalah menarik diri dari lingkungannya. Tanda kedelapan
adalah kemarahan tidak terkontrol atau memiliki keinginan untuk balas dendam. Tanda
kesembilan adalah ceroboh. Orang-orang dengan resiko ini memiliki keinginan untuk
mengambil resiko dari segala kesempatan yang dimilikinya bahkan sampai yang
membahayakan nyawanya. Tanda terakhir adalah perubahan mood. Seseorang yang
memiliki resiko suicide memiliki perubahan mood yang drastis seperti seeorang denga
bipolar disorder.




Sumber Terkait:
Boyd, Mary Ann. 2011. Psychiatric nursing: contemporary practice. America:
Psychiatric Publishing Inc.
John Sommers-Flanagan,Rita Sommers-Flanagan. 2009. Clinical interviewing. New
Jersey: Jhon Wiley & Sons Inc.
Simon, Robert I. 2008. Preventing Patient Suicide: Clinical Assessment and
Management. America: Lippincot