Anda di halaman 1dari 49

PEMIKIRAN AL-QABISI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM DAN RELEVANSINYA DENGAN

PENDIDIKAN MASA SEKARANG



PEMBAHASAN
A. Latar Belakang
Salah satu tokoh pendidikan di kalangan kaum muslimin adalah Abu Hasan Al-Qabisi,
yang merupakan murid Ibnu Sahnun, Ibnu Shanun adalah seorang tokoh pendidik angkatan
pertama di kalangan umat islam, sebelumnya ia dikenal sebagai ahli fiqih yang bermadzhab
Maliki. Pemikiran Ibnu Shanun mengenai pendidikan banyak menyoroti tentang perilaku
pendidik, dan yang paling diperhatikan adalah berkenaan dengan kompetensi pendidik itu
sendiri.Selain tanggungjawab itu sendiri dalam mengajar, seorang pendidik dituntut memiliki
kemampuan atau kapasitas keilmuan yang mumpuni,[1] sehingga pemikirannya tentang
pendidikan banyak dipengaruhi oleh gurunya. Al-Qabisi terkenal pada masanya abad 4 dengan
karyanya yaitu Ahwalul al-Mutaallimin wa ahkam Al-Muallimin wal Mutaalimin yang berisi
tentang pemikiran pendidikan.
Banyak hal yang seharusnya dapat dipelajari dari pemikiran pendidikan Al-Qabisi
terutama tentang konsep pendidikan dan pengajaran, dimana Al-Qabisi yang pertama kali
membicarakan tentang pemisahan antara murid laki-laki dan perempuan dalam belajar sebab
salah satu yang dapat menganggu masuknya ilmu adalah karena rusaknya pikiran akibat
percampuran antara laki-laki dan perempuan.
Di Indonesia telah banyak lembaga pendidikan yang menggunakan konsep tersebut
salah satunya adalah lembaga pendidikan Islam Pesantren Gontor, pondok pesantren al-Irsyad
dan masih banyak lagi lembaga pendidikan yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan,
hal ini tentunya sesuai dengan tuntunan ajaran Islam.
Malaysia adalah salah satu Negara Asian yang juga telah mengembangkan konsep
pemikiran pendidikan al-Qabisi, sehingga tidak heran jika banyak buku-buku yang mengangkat
konsep pendidikan al-Qabisi yang diterbitkan secara luas.[2]

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi tentang tokoh Al-Qobisi ?
2. Bagaimana pemikiran Al-Qobisi dalam kontek pendidikan masa sekarang ?
3. Bagaimana relevansi pemikiran Al-Qobisi ?
C. Biografi Al-Qobisi

Nama lengkap Al-Qabisi adalah Abu Al-Hasan Muhammad bin Khalaf Al-Maarifi Al-
Qairawaniy. Al-Qabisi adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis.
Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy. Ia lahir di Kota Qairawan
Tunisia (wilayah Maghribi, sekarang Maroko, Afrika Utara) pada hari senin bulan Rajab tahun
324 H-935M.beliau wafat pada tanggal 3 Rabbiul Awal Tahun 403 H. Bertepan pada tanggal 23
Oktober 1012. Literatur-literatur tidak menyebutkan perihal kedudukan orang tuanya.
Barangkali Al-Qabisi bukan dari keturunan ulama yang termasyhur, atau bangsawan ataupun
hartawan sehingga asal keturunannya tidak banyak digambarkan sejarah, namun namanya
terkenal setelah ia menjadi ilmuan yang berpengaruh dalam dunia Islam.
Al-Qadhiiyah pernah mengatakan bahwa Abu Hasan ini bukanlah dari kafilah Al-Qabisy, tetapi
karena pamannya mengenakan surban di kepalanya rapat-rapat yang bertentangan dengan
kebiasaan dari orang Qabisy, maka ia diberi nama Al-Qabisi. Sebenarnya ia adalah penduduk
Qaeruan. Pendapat ini sesuai dengan keterangan As-Shafdi yang menyatakan bahwa nama Al-
Qabisi itu diberikan kepadanya karena pamannya mengenakan surban terlalu ketat di
kepalanya.[3]
Semasa kecil dan remajanya belajar di Kota Qairawan. Ia mulai mempelajari Al-Quran, hadits,
fikih, ilmu-ilmu bahasa Arab dan Qiraat dari beberapa ulama yang terkenal di kotanya. Di
antara ulama yang besar sekali memberi pengaruh pada dirinya adalah Abu Al-Abbas Al-Ibyani
yang amat menguasai fikih mazhab Malik. Al-Qabisi pernah mengatakan tentang gurunya ini:
Saya tidak pernah menemukan di Barat dan di Timur ulama seperti Abu al-Abbas. Guru-guru
lain yang banyak ia menimba ilmu dari mereka adalah Abu Muhammad Abdullah bin Mansur
Al-Najibiy, Abdullah bin Mansur Al-Ashal, Ziyad bin Yunus Al-Yahsabiy, Ali Al-Dibagh dan
Abdullah bin Abi Zaid.
Al-Qabisi pernah sekali melawat ke wilayah Timur Islam dan menghabiskan waktu selama 5
tahun, untuk menunaikan ibadah haji dan sekaligus menuntut ilmu. Ia pernah menetap di
bandar-bandar besar seperti Iskandariyah dan Kairo (Negara Mesir) serta Hejaz dalam waktu
yang relatif tidak begitu lama. Di Iskandariyah ia pernah belajar pada Ali bin Zaid Al-Iskandariy,
seorang ulama yang masyhur dalam meriwayatkan hadits Imam Malik dan mendalami mazhab
fikihnya. Al-Qabisiy mengajar pada sebuah madrasah yang diminati oleh penunut-penuntut
ilmu. Madrasah ini lebih memfokuskan pada ilmu hadits dan fikih. Pelajar-pelajar yang menuntut
ilmu di madrasah ini banyak yang datang dari Afrika dan Andalus. Murid-muridnya yang
terkenal adalah Abu Imran Al-Fasiy, Abu Umar Al-Daniy, Abu Bakar bin Abdurrahman, Abu
Abdullah Al-Maliki, Abu Al-Qasim Al-Labidiy Abu Bakar Atiq Al-Susiy dan lain-lain.[4]
Al-Qabisi hidup dalam kondisi sosial keagamaan yang semarak dan sangat mantap
dengan mempelajari, menyebarluaskan dan mengajarkannya.Dimana lebih banyak diwarnai
aliran Mazhab Maliki, satu aliran yang tergolong ahlussunnah, sehingga tuntutan masyarakat
dalam bidang pendidikan cenderung pada masalah-masalah keagamaan.
Dunia pendidikan diwaktu itu banyak diwarnai oleh pemikir Islam klasik yang konsen
terhadap masalah pendidikan yaitu Ibnu Sahnun, dengan karyanya bernama "Adabal al-
Mualllimin" sebuah kitab kecil tentang pendidikan yang akhirnya nanti, banyak mempengaruhi
pemikiran Al-Qabisi.
Al-Qabisi merupakan seorang ulama yang produktif dalam mengarang kitab-kitab.la
menghasilkan 15 karya dalam bidang fiqh maupun hadist, diantaranya al-Mumahid fi al-Fiqh
dan al-I'tiqadat.Sedangkan karyanya dalam bidang pendidikan berjudul: "al-Mufassal li Ahwal
al-Mutha' alaimin wa Ahkam al-Maulimmin wa al-Muta'allamin', sebuah kitab rincian tentang
keadaan para pelajar, serta hukum-hukum yang mengatur para guru dan pelajar. Kitab ini terdiri
dari 80 halaman dan dibagi ke dalam 3 juz.
D. Latar Belakang Karir Intelektual
Sebagaimana lazimnnya para pelajar muslim pada masa kerajaan Islam dalam mencari ilmu
pengetahuan, yaitu dengan berpindah-pindah tempat belajar dan mencari sejumlah guru
dengan disiplin ilmu yang berbeda pula. Tak terkecuali al-Qabisi yang hidup pada zaman
keemasan Islam ketika itu.Dengan demikian tidak mengherankan jika ulama terdahulu memiliki
banyak disiplin ilmu pengetahuan.
Di Kairawan Afrika beliau belajar kepada sejumlah ulama ternama di antaranya :
Abul 'Abbas at-Tamimy (w.352 H) seorang ahli fiqih yang bermazhab Syafi'i dari kota
Tunisia.Darinyalah al-Qabisi mendapat sejumlah nama-nama guru, baik dari Timur maupun dari
Barat dunia Islam tempat beliau melanjutkan rihlah ilmiah nantinya.
Ibnu Masrur ad-Dibagh (w.359 H)
Abu 'Abdillah bin Masrur al-'Assal (w.346 H), seorang faqih yang bermazhab Maliki di Kairawan.
Ibnu al-Hajjaj (w.346 H)
Abul Hasan al-Kanisyi (w.347 H), seorang ulama yang disegani karena kewara'an dan kemulian
pribadinya.
Durras bin Ismail al-Fasi (w.357 H), seorang faqih yang berhaluan Asy'Ary dalam Theologi
Ibnu Zakrun, seorang faqih yang zuhud dan seorang ulama yang produktif dalam menulis
berbagai kitab tentang ilmu Tasawuf.(w.370 H)
Abu Ishak al-Jibinyani (w.369 H) seorang ulama yang terkenal karena permohonannya.
Di Afrika kelihatannya al-Qabisi banyak belajar tentang ilmu fiqih dan akhlak.Oleh
karenanya, pada tahun 352 H bertepatan dengan 963 M al-Qabisi berangkat ke Timur tepatnya
tanah Hijaz dan Mesir.Tujuan utama adalah menunaikan haji, di samping belajar mencari ilmu
pengetahuan. Disana beliau belajar kepada sejumlah guru, diantaranya:
Abul Qasim Hamzah bin Muhammad al-Kinani, seorang 'alim dari Mesir, dari ulama ini al-Qabisi
belajar kitab hadist An-nasa'i.
Abu Zaid Muhammad bin Ahmad al-Marwazi seorang ulama Mekkah, darinya al-Qabisi
mempelajar kitab Shahih al-Bukhory.
Abul Fath bin Budhan (w.359) ulama Mesir ahli qiraah.
Abu Bakar Muhamma bin Sulaiman al-Nu'ali, seorang ulama terkenal di Mesir, dari beliau al-
Qabisi banyak mengambil teladan.
Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad al-Jurjani salah seorang ulama perawi Shahih Bukhary
Abu Dzar al-Harwi (w.434 H), seorang faqih Maliki yang terkenal dengan karyanya Musnal al-
Muwaththa' darinyalah al-Qabisi mempelajari hadist Imam Maliki dengan kitabnya al-
Muwaththa.
Pada tahun 357H/967M beliau pulang ke Kairawan untuk menerapkan ilmu yang telah
dikuasainya.Dari perjalanannya mencari ilmu pengetahuan menghantarkannya menjadi seorang
alim dalam fiqih dan hadist.Di Kairawan beliau menjadi seorang guru sekaligus kepala
madrasah al-Malikiyah yaitu madrasah al-Fikriyah al-Aqa'idiyah menggantikan teman
sepergurunnya Ibnu Abi Zaid al-Kairawan (w.389 H).Banyak murid yng belajar kepada beliau
dan selanjutnya menjadi ulama besar, bail dari Afrika maupun dari luar Afrika, terutama dari
Andalusia.
Di tinjau dari keadaan politik mada itu (324-403 H masa kehidupan al-Qabisi) Afrika
dikuasai oleh dinasty Fathimiyah yang bermazhab Syi'ah.Ketika itu dynasty Fathimiyah dipimpin
oleh kekhalifahan al-Mu'iz li Dininillah. Pada tahun 362 H Mesir ditaklukkan dan dikuasai oleh
khalifah al-Mu'iz di bawah panglima Jauhar al-Shiqli. Di bawah kekuasaan Syi'ah ekstrim ini, al-
Qabisi mampu berhaluan Asy'ary bermazhabkan fiqih Maliki. Oleh karena itu, dapat kita lihat
tidak adanya subsidi pemerintah terhadap madrasah yang beliau pimpin.
Dari penjelasan ditas dapat dilihat, bahwa al-Qabisi adalah seorang ahli hadist dan
ulama bermazhab Maliki serta di beliau hidup dimasa kekuasaan Syi'ah yang
ekstrim.Pengalamannya menjadi guru dan pemimpin madrasah, menghantarkan al-qabisi
sebagai ahli dalam bidang pendidikan.Latar belakang ini mempengaruhi konsepnya tentang
pendidikan Islam.Keahliannya yang begitu kuat dalam bidang Fiqih dan hadist mrmbust sl-
Qabisi telah mengambil corak pemikiran keislaman normative, tetapi bukan berarti
doktrin.Dengan demikian, maka acuan yang digunakan dalam merumuskan pemikirannya
ternasuk bidang pendidikan adalah paradigma fiqih dan hadist.
Keahlian al-Qabisi dalam tiga bidang ini dapat kita lihat dari karya-karyanya. Dalam
meniti karirnya al-Qabisi telah mampu menulis berbagai kitab di antaranya:








E. Pemikiran Al-Qobisi
Dalam konsep pendidikan al-Qabisi, ada beberapa pemikiran atau pandangan, yaitu
tentang pendidikan anak, tujuan pendidikan, kurikulum, metode da teknik belajar, percampuran
belajar antara murid laki-laki dan perempuan dan demokrasi dalam pendidikan.
Abdul Ashir Samsuddin, menjelaskan pandangan al-Qabisi terhadap pendidikan dan
pengajaran yang membahas tentang belajar alquran dan mengajarkannya adalah wajib bagi
setiap muslim, adab belajar dan syarat-syaratnya, adab mengajar dan syarat-syaratnya, metode
mengajar dan asas pendidikan, keihklasan dan aturan-aturan.
Berikut konsep yang diberikan oleh al-Qobisi

1. Pendidikan Anak-anak
Al-Qabisi memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anak yang berlangsung di
kuttab-kuttab.Menurutnya bahwa mendidik anak-anak merupakan upaya amat strategis dalam
rangka menjaga kelangsungan bangsa dan Negara, oleh karena itu pendidikan anak harus
dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan ketekunan yang tinggi.
Al-Qabisi sebagai ahli fiqih dan hadis mempunyai pendapat tentang pendidikan yaitu
mengenai pengajaran anak-anak di kuttab-kuttab.Barangkali pendapatnya tentang pendidikan
anak-anak ini merupakan tiang yang pertama dalam pendidikan Islam dan juga bagi pendidikan
umat yang lainnya.Dengan lebih memperhatikan dan lebih menekuni, maka mengajar anak-
anak sebagai tuntunan bangsa adalah merupakan tiangnya bangsa itu yang harus dilaksankan
dengan penuh kesungguhan dan ketekunan ibarat seperti membangun piramida pendidikan
(institusi pendidikan, pen). Berdasarkan fondasi yang kokoh dan kuat, oleh karena itu ia tidak
menjelaskan kepada kita dalam kitabnya al-Mufasshalat tentang metoda pengajaran yang lain,
hanya mencukupkan dengan metoda pengajaran yang penting-penting.
Al-Qabisi tidak menentukan usia tertentu untuk menyekolahkan anak di lembaga al-
Kuttab. Oleh karena pendidikan anak merupakan tanggung jawab orang tuanya semenjak mulai
anak dapat berbicara fasih yakni pada usia mukallaf yang wajib diajar bersembahyang (menurut
hadis Nabi). Rasulullah saw bersabda : Perintahlah anak-anak kalian untuk mengerjakan
sholat pada waktu usia tujuh tahun dan pukullah mereka pada waktu usia sepuluh tahun. Dari
sabda Nabi tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam dimulai pertama-tama di
rumah.Pendidikan anak di lembaga al-Kuttab hanyalah kelanjutan daripada tugas pendidikan
yang wajib ditunaikan oleh kedua orang tua di rumah.Anak-anak yang belajar di kuttab mula-
mula diajar menghafal alquran, lalu diajar menulis, dan pada waktu dzuhur mereka pulang ke
rumah masing-masing untuk makan siang, kemudian kembali lagi ke kuttab untuk belajar lagi
sampai sore.
Anak-anak yang belajar di kuttab berlangsung sampai akil baligh, yang mempelajari
berbagai ilmu seperti alquran, tulis menulis, nahwu dan bahasa Arab, juga seringkali belajar
ilmu hitung dan syair serta kisah-kiah Arab.Akan tetapi yang terpenting adalah mempelajari
alquran yang dimulai dengan menghafal secara individual ataupun kelompok dimana guru
membaca berulang kali ayat-ayat pada langkah pertamanya, kemudian anak-anak
membacanya beruang-ulang mengikuti gurunya. Masing-masing anak diberi batu tulis untuk
menuliskan apa yang telah dihafal setiap harinya. Dengan cara ini jelaslah bahwa kemampuan
menulis dan membaca menjadi syarat mutlak untuk memahami alquran, kemudian anak
diharuskan menunjukkan apa yang ditulis di dalam batu tulisanya pada hari berikutnya, lalu apa
yang dituliskan di batu tulis (pada hari kemarin) dihapus untuk ditulisi lagi dengan ayat-ayat
berikutnya pada hari selanjutnya.
Metoda pengajaran dengan mengerjakan tugas berulang kali demikian disertai dengan
hafalan, tolong menolong antara satu dengan yang lain untuk memantapkan hafalan, antara lain
dengan menggerakkan tangan untuk menuliskan apa yang dihafal, memfungsikan mata untuk
mengamati dan membaca, serta penggunaan daya menghafal dan mengingat, kemudian anak
disuruh menunjukkan hasilnya dihadapan guru. Jika anak berbuat kesalahan tulisan atau lalai
tidak menghafal atau karena pergi bermain-main, maka guru memberi hukuman kepadanya,
metoda ini sangat efektif kita jalankan sebagai metode modern.
Mula-mula anak diberi nasihat, lalu diasingkan dan diberi peringatan keras lalu diberi
pukulan, sebagai hukuman tahap akhir, jika dengan melalui nasihat, petunjuk dan peringatan
tidak mempan, maka perlu diberi hukuman yang setimpal sebagai ujian bagi mereka, pada
waktu anak dapat menyelesaikan tugas menhafalkan alquran dengan sukses sepanjang tahun
menekuninya sampai khatam, maka guru hendaknya dapat memberikan hadiah penghargaan
dan pujian untuk mereka. Setelah selesai menghafalkan alquran diberi pelajaran tambahan
yang meliputi tahap ketrampilan seperti industri rumah dan perdagangan (berdagang) untuk
mencari nahfkah hidupnya, dan lain sebagainya dari bidang-bidang ketrampilan, atau merea
tetap belajar ditingkat yang lebih tinggi.
2. Tujuan Pendidikan
Al-Qabisi menghendaki agar pendidikan dan pengajaran dapat menumbuh-kembangkan
pribadi anak yang sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar.Lebih spesifik tujuan
pendidikannya adalah mengembangkan kekuatan akhlak anak, menmbuhkan rasa cinta agama,
berpegang teguh kepada ajaran-ajarannya, serta berperilaku yang sesuai dengan nilai-nilai
agama yang murni.Di ssamping itu juga al-Qabisi mengarahkan dalam tujuan pendidikannya
agar anak memiliki keterampilan dan keahlian pragmatis yang dapat mendukung kemampuanya
mencari nafkah.
3. Kurikulum
Lingkungan sosial pada zaman al-Qabisi adalah lingkungan religius yang bersih, karena
tinjauan kurikulum pengajaran dari sudut keagamaan memang sesuai dengan kurikulum yang
dituntut oleh para ahli agama, karena ciri khas kurikulum yang baik adalah jika tidak keluar dari
tuntutan lingkungan masyarakat. Di antara pendapat Al-Qabisi ialah bahwa agama itu
mempersiapkan anak untuk kehidupan yang seba baik, dan baginya kurikulum pendidikan
dapat dibagi menjadi dua kategori yakni kurikulum Ijbari (wajib) dan kurikulum ichtiyari (tidak
wajib) sebagai berikut :
a) Kurikulum Ilbari (wajib)
Kurikulum yang terdiri daripada kandungan ayat-ayat alquran seperti sembahyang dan
doa-doa. sebagian para ahli mengatakan bahwa ilmu nahwu dan bahasa Arab, keduanya
merupakan persyaratan mutlak memantapkan baca alquran, tilawah, menulis dan hapalan.
b) Kurikulum Ikhtiyari (tidak wajib)
Kurikulum ini berisi ilmu hitung, dan seluruh ilmu nahwu, bahasa Arab, syair, kisah-kisah
Arab.Menurut pandangan Ibnu Khaldun bahwa kurikulum yang berkembang dikawasan Afrika
Utara dan di negara Islam lain, mengalami perbedaan karena perbedaan geografis, yang
kadang-kadang berkisar pada permasalahan bentuk dan sistemnya.
Metode yang pertama di atas jika ditinjau dari segi pendidikan modern adalah lebih baik
dan berdaya guna, karena seluruh kawasan negara Islam dengan tanpa syarat menyetujui cara
mendidik dengan mendahulukan pengajaran al-Quran beserta dengan keharusan mengajarkan
baca tulis, nahwu dan bahasa Arab.
Jika memperbandingkan kurikulum yang ditetapkan untuk al-Kuttab pada abad ketiga
Hijriyah dengan yang diajarkan di al-Kuttab pada abad-abad kemudian, maka tidak menemukan
adanya perbedaan, esensi keberhasilannya terletak pada sikap taat dengan taklid (mengikuti
tanpa kritik) dan semangat melestarikan peninggalan dari pendahulunya; al-Hafiz bin Rajab al-
Baghdadi, pada abad ke-8 memberikan gambaran tentang kurikulum itu sebagai berikut : Ilmu
yang diandang bermanfaat dari ilmu-ilmu yang ada, diukur atas dasar nas-nas dari kitab suci
dan sunnah Nabi, beserta pemahaman pengertian yang dikaitkan kepada riwayat para sahabat
dan tabiin tentang pengertian dari kedua sumber tersebut beserta ketetapan hukum-hukum
halal dan haram, zuhud dan berbudi halus, serta bijaksana dan sebagainya.
Al-Qabisi tidak mau menerima prilaku yang merendahkan Al-Quran dan ia mohon
perlindungan kepada Tuhan dari perilaku seperti itu, Al-Qabisi memberikan garis agar orang
Islam meninggalkan jauh perilaku yang hina, karena jika sampai terjadi penghinaan terhadap
alquran maka pasti terjadi kerusakan yang merajalela. Allah akan mencabut alquran dari lubuk
hati kaum muslimin apabila mereka tidak menghina dan menginjak-injak alquran.
Adapun kondisi lingkungan hidup sosial-budaya pada masa alquran adalah bersifat
keagamaan yang mantap sehingga tidak memungkinkan timbulnya faham atheisme atau
materialisme (seperti sekarang yang kita saksikan. Maka dari iu alquran dan sholat beserta
segenap ilmu yang berkaitan dengan pemahamannya dikenal oleh setiap orang Islam, mulai
dari usaha memotivasi sampai kegiatan mempelajari ilmu-ilmu itu.
Al-Qabisi memperkuat dan mengabadikan sistem yang sedemikian itu karena menjadi
gambaran yang benar dari semangat zamannya. Al-Qabisi bersama-sama ulama ahli fiqih dan
ahli hadits pada maa itu telah berusaha menerangkan kepada kita sikap / pandangan mereka
tentang kurikulum ijbary (wajib) yang menyatakan bahwa alquran adalah kalam Allah dan
menjadi sumber hukum dan tasyri. Ia menjadi referensi (tempat kembali) kaum muslimin dalam
masalah ibadat dan muamalat. Allah mendorong semangat untuk beribadah dengan membaca
alquran sebagai berikut :


Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah dan mendirikan sholat dan
membelanjakan hartanya ke jalan Allah setengah dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka
dengan cara diam-diam (rahasia) maupun dengan cara terang-terangan mereka mengharapkan
usaha dengannya tidak menderita kerugian. (Fathir : 29).
Firman Allah di atas menetapkan bahwa alquran telah memerintahkan agar tilawah, mendirikan
sholat, berbuat ihsan, dilakukan bersamaan, tidak terpisah satu sama lain.
Maka dari itu sembahyang adalah merupakan rukun poko dari semua rukun agama dan
di dalam bersembahyang harus dibaca beberapa ayat alquran. Itulah sebabnya mengerti dan
memahami alquran merupakan persyaratan untuk melaksanakan kewajiban sembahyang lima
waktu. Di samping itu dalam alquran terdapat banyak fadhilah yang tak boleh dijauhi seperti
Rasulullah saw telah memerintahkan agar kita mempelajari alquran dengan segala seluk-beluk
sebagaimana sabda beliau : Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Al-Quran
beserta ilmunya.
Al-Qabisi sebagai ahli fiqih dan hadis memandang bahwa lebih baik diajarkan alquran
lebih dahulu pada anak sejak dini. Sedang ada pendapat lain dikalangan ahli pendidikan Islam
yang berbeda pendapat pendapat dalam hal mendahulukan pengajaran alquran kepada anak
usia dini, misalnya Abu Bakar bin al-Arabi. Dia berpendapat bahwa.Hendaknya kita
mengajarkan anak usia dini dengan syair dan bahasa Arab serta ilmu berhitung.Walau
demikian Ibnu Khaldun menyetujui pandangan ini, kecuali bila hal itu tidak mendatangkan
keselamatan, maka pengajaran alquran harus didahulukan.
Al-Qabisi mensyaratkan pengajaran Al-Quran dengan tartil baik dan tajwidnya, waqaf
yang tepat, mengambil contoh dari pembaca yang bagus. Ia memberi nasihat agar bacaannya
bermanfaat di waktu mengerjakan sembahyang fardlu bagi seluruh kaum muslimin, demikian
juga kewajiban mengajarkan anak sembahyang kepada anak usia tujuh tahun, jika anak tidak
mau sembahyang pada usia sepuluh tahun, ia harus dipukul dan sebagainya.
Al-Qabisi tidak mentolerir anak yang tinggal sembahyang, karena tinggal sembahyang
merupakan batas yang memisahkan antara kekufuran dan ke-Islaman, ia mengajak agar
mendalami makna doa dalam sembahyang. (Hanya kepada-Mu-lah kami beribadah
(menyembah) dan hanya kepadaMu jualah kami memohon pertolongan).
Kita melihat bahwa dengan mengintegrasikan antara kewajiban mempelajari alquran
dengan sembahyang dan berdoa, berarti kita mengintegrasikan antara hakikat berfikir, merasa
dan berbuat (beramal). Pandangan ini sesuai dengan ilmu jiwa yang diterapkan oleh al-Qabisi
ke dalam tiga prinsip yang logis yaitu : 1) Menumpahkan perhatian kepada pengajaran alquran,
karena ia adalah jalan yang ditempuh untuk menambah makrifat kepada Allah serta
mendekatkan kepadaNya. 2) Pentingnya mengetahui ilmu nahwu (grammar) bagi anak agar
dapat memahami kitab suc i alquran secara benar. 3). Mengajarkan bahasa Arab sebagai alat
memahami makna ayat alquran beserta huruf hijaiyahnya agar anak dapat menuliskan ayat-
ayatnya dan mengucapkannya dengan benar.
Dilihat dari segi praktisnya maka tidak diragukan lagi bahwa ikrab membantu
menganalisa pengertian sedangkan nahwu, bahasa, chatt, menjadi penguat halafan dan
memperbagus tilawah serta penguasaan pengertian yang selengkapnya.
Al-Qabisi mengutip pendapat Ibnu Sahnun bahwa sebaiknya kita mengajar anak-anak
bagaimana menginkrabkan alquran, anak harus dibiasakan dengan menaruh syakal,
menghafalkan alfabet Arab, dan belajar tulisan indah.
Di kalangan negara Maghribi telah dikenal sebagai negara yang lebih banyak
perhatiannya kepada tulisan chatt indah yang dipandangnya sebagai suatu seni indah sehingga
dinding-dinding masjid dihiasi dengan tulisan khot ayat-ayat alquran yang indah yang
mengekspresikan ketinggian perasaan ke dalam lukisan, dan daya cipta dalam seni dekorasi
yang tinggi.Oleh karena itu maka masalah ketrampilan menulis chatt yang indah itu ditempatkan
pada posisi resmi dalam kurikulum kuttab-kuttab yang islamiyah.
Dalam kurikulum al-Ijbari menurut pandangan al-Qabisi, bahan pelajaran yang wajib
terdiri dari : al-Quran al-Karim, sholat, doa-doa, menulis dan nahwu, dan sebagian bahasa
Arab, karena ilmu-ilmu ini mendidik budi pekerti anak-mencintai agama serta mengajar anak
hidup di jalan yang terpuji.
Ilmu-ilmu yang ditetapkan dalam kurikulum ichtiyar (tidak wajib dipelajari) Uraian tentang
kurikulum menurut pandangan al-Qabisi yang telah disebabkan terdahulu adalah untuk jenjang
pendidikan dasar atau pradasar yakni al-Kuttab, sesuai dengan jenjang yang dikenal pada
masa itu. Sekarang kurikulum tersebut dipakai di jenjang pendidikan dasar (ibtidai)
. Ilmu-ilmu yang ichtyaru (selektif) pada jenjang pendidikan dasar ini terdiri dari ilmu
hitung, syair, sejarah dan kisah-kisah bangsa Arab, (sejarah Islam), ilmu nahwu (grammar) dan
bahasa Arab lengkap, dan ilmu yang menelaskan tentang perbedaan antara ilmu-ilmu ichtiyari
ini dengan ilmu-ilmu ijbary dari segi jarak jauh-dekatnya untuk pembinaan rasa keagamaan
yang kuat, yang mana ilmu-ilmu ijbaryah lebih dekat jaraknya dengan pembinaan keagamaan.
Kita perlu mengingat benar bahwa kurikulum itu harus tunduk kepada tujuan pendidikan
pada zamannya dan memenuhi tuntutan masyarakatnya, juga harus sesuai dengan jenjang-
jenjang pendidikan, mengikuti politik pendidikan yang telah digariskan oleh pemerintah
zamannya
Al-Qabisi menghendaki agar pendidikan dan pengajaran dapat menumbuh-kembangkan
pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai Islam yang benar. Untuk itu maka kurikulum harus mampu
merealisasikan yang disesuaikan dengan kemampuan anak dari masa ke masa (yag tidak lain
adalah kurikulum yang bercorak ijbariyah dan ictiariyah itu). Dan setelah anak menyelesaikan
studi sesuai dengan kurikulum tersebut hendaknya diajarkan dengan pelajaran ketrampilan
yang berproduksi atau keterampilan bekerja agar mampu membiayai hidupnya.
Jadi dengan demikian, menurut pandangan al-Qabisi bahwa memberikan pelajaran
keterampilan kerja untuk mencari nafkah hidupnya sesudah selesainya tiap jenjang pendidikan
yang ditempuhnya dengan dasar pengetahuan alquran, sembahyang dan doa yang kokoh kuat,
benar-benar merupakan suatu pandangan yang menyatukan antara tujuan pendidikan
keagamaan dengan tujuan pragmatis. Pada hakikatnya pendidikan ketrampilan kerja setelah
memperoleh pendidikan agama dan akhlak, akan menolong anak itu trampil bekerja, menari
nafkah dengan didasari rasa takut kepada Allah (dalam bekerja).
Sebagian ulama ahli fiqih menentang pelajaran berhitung, akan tetapi ada beberapa
diantara yang memberi hukum fardlu kifayah dengan alasan bahwa berhitung merupakan
persyaratan untuk mendapatkan kemanfaatan dalam muamalah dan dalam pembagian harta
warisan (faroidh) dan sebagainya. Menurut pendapat para ahli pendidikan, berhitung itu
memberikan faedah praktis dalam kehidupan manusia, oleh karena itu harus diajarkan kepada
anak sebagai latihan berfikir yang benar.[5]
Manurut pendapat al-Gazzaly, pengajaran berhitung itu dapat merealisasikan
kemaslahatan agama, karena itu harus dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan anak-
anak.Al-Djahiz memandang pentingnya ilmu hitung dan kegunaannya disamakan dengan kata-
kata dalam sebuah kontrak (perjanjian) yang essensinya bukan terletak dalam lafadh atau
tulisannya, (tetapi dalam hitungan).
Dalil yang menunjukkan bahwa ilmu hitung itu penting dan banyak faedahnya, serta
tinggi kadar kemanfaatannya ialah berdasarkan firman Allah sebagai berikut :
. . . .


Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya terang dan ditetapkannya
manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui
bilangan tahun dan perhitungan (waktu). (Yunus: 5)
Dalam ilmu hitung itu terkandung makna besar dan kemanfaatan yang tinggi maka
dengan mengetahui hitungan dan sebagainya orang akan mendapatkan kemudahan dalam
perkiraan.
Al-Qabisi menyetujui pengajaran berhitung itu tidaklah bersifat multak, karena hal itu
disesuaikan dengan kemanfaatannya bagi masyarakat, atau sejauh mana imu hitung itu
diajarkan untuk mempertinggi kehidupan beragama.Ia menyatakan bahwa mengajarkan
berhitung kepada mereka bukanlah suatu yang wajib kecuali bila guru mempersyaratkannya.
Sebaiknya mengajarkan berhitung itu didasarkan atas izin orang tua anak, sehingga
persetujuan orang tua menjadi persyaratan bagi pengajaran berhitung itu.Dengan demikian
maka jelaslah bahwa pengajaran berhitung tersebut tidak terlepas dari pendapat orang-orang
tua mereka.
Al-Qabisi dalam pengajaran syair tidak menentang, karena didasarkan atas sebuah
hadis Nabi yang menyatakan bahwa syair itu merupakan kalimat (perkataan) ia menjadi baik
jika yang mempergunakan itu baik, dan menjadi jelek jika orang yang mengucapkannya itu
buruk. Kemudian dikuatkan lagi pendapatnya itu dalam kitab Risalah Muffasshalah bahwa syair
itu dapat meluruskan lisan, dan membuat orang fasih dalam berkata, serta menghaluskan
hatinya dalam suatu waktu tertentu dan akan dapat memperoleh kesaksian terhadap apa yang
ingin ia jelaskan.
Ketika banyak orang mengkritik al-Qabisi bahwa ia tidak memperhatikan masalah
pendidikan kesenian, maka ia menjawab bahwa pelajaran syair itu sesungguhnya adalah
pndidikan seni keindahan, yang jika diajarkan maka tidaklah hilang seni tersebut. Pelajaran ini
dikaitkan dengan pelajaran khatt (tulisan indah) yang merupakan seni keindahan luas di wilayah
negara maghribi.Khatt adalah juga termasuk pendidikan seni keindahan.
Tidak diragukan lagi bahwa pandangan tersebut diatas mendorong perhatian kita
kepada pentingnya pendidikan seni keindahan itu yang tidak bertentangan dengan
agma.Alasan ini sesuai dengan pendapat para ahli pendidikan modern yang menyatakan
bahwa mendidik anak dengan seni-budaya membuat mereka dapat mengetahui / mengenal
kebaikan. Dan mengajarkan sejarah bangsa Arab tidak ada seorang pun yang melarang atau
menentangnya, karena sejarah ini mengandung pengetahuan tentang tokoh-tokoh, pemimpin-
pemimpin yang berjiwa pahlawan dan kesatria, yang bagi anak-anak dapat mendidik rasa
mencintai kepahlawanan dan dapat mendorongnya ke arah berbuat baik seperti para pahlawan.
Maka dari itu jelaslah pendapat al-Qabisi tersebut bahwa ia memilih dengan teliti bahan-
bahan kurikulum pendidikan anak-anak yang benar-benar sesuai dengan kemampuan mereka.
Pandangan mazhab ahli sunnah tentang bahan-bahan kurikulum anak-anak selalu disesuaikan
dengan kondisi anak tersebut, oleh karena tujuan umum yang dipegangi oleh beliau adalah
bertujuan mengembangkan kekuatan akhlaq anak, menumbuhkan rasa cinta agama,
berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, serta berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai agama
yang murni.
F. Kritik Terhadap Kurikulum Al-Qabisi
Metode dan Teknik Belajar
Selain membicarakan materi, ia juga berbicara mengenai teknik dan langkah
mempelajari ilmu itu. Misalnya menghafal alquran dan belajar menulis langkah-langkah adalah
berdasarkan pemilihan waktu-waktu yang terbaik, yaitu waktu pagi-pagi selama seminggu
terus-menerus dan baru beristirahat sejak waktu dhuhur hari Kamis sampai dengan hari
Jumat.Kemudian belajar lagi pada hari Sabtu pagi hingga minggu berikutnya.
Al-Qabisi juga mengemukakan metode belajar yang efektif, yaitu menghafal, melakukan
latihan dan demonstrasi. Belajar dengan menghafal adalah cara pengajaran yang amat
diperhatikan oleh pendidikan modern sekarang. Di antara ketetapannya adalah pemahaman
terhadap pelajaran dengan baik akan mmbantu hapalan yang baik. Pendidikan modern
sekarang ini menganjurkan agar mengajar anak dengan cara menghafalkan pelajaran agar
mereka memahami maksudnya secara jelas.
Salah satu bukti yang jelas bahwa kurikulum di Al-Kuttab Islam berisi bahan-bahan ilmu
pengetahuan yang wajib dihapal dan diingat.Di dalam al-Kuttab itu hanya diajarkan ilmu-ilmu
alquran tulis menulis nahwu, bahasa Arab, syair, dan sejarah bangsa Arab (Islam) yang
termasuk ilmu-ilmu lafdziyah. Ilmu-ilmu itu harus dibaca,dipahami dan diingat-ingat. Maka
jelaslah bahwa kurikulum al-Kuttab itu mementingkan penggunaan metoda hapalan.Karena
menurut al-Qabisi menghafal merupakan salah satu metoda yang paling baik dan sesuai
dengan pendapat modern yang menyatakan bahwa metode hapalan didasarkan atas
pengulangan, kecenderungan dan pemahaman terhadap bahan pelajaran.
Adapun pentingnya pengulangan itu didasarkan kepada sebuah hadis Nabi saw tentang
menghapalkan alquran, yang diumpamakan untuk yang diikat dengan tali, jika pemiliknya
mengokohkan ikatannya, unta itu akan terikat erat, dan jika ia melepaskan tali ikatannya, maka
ia akan pergi. Jika orang yang hafal alquran di waktu malam dan siang hari mengulanginya,
maka ia akan mengingatnya, dan jika ia tidak pernah membacanya, maka ia akan
melupakannya (hilang hapalannya).
Berkaitan denga hadits itu, al-Qabisi menyatakan ; Sesungguhnya Rasulullah
menjelaskan dalam hadisnya yang tersebut diatas tentang cara-cara mengingat yang dapat
memantapkan hapalan alquran, sehingga ia tak perlu belajar lagi secara berulang-ulang.
Ucapan al-Qabisi tersebut menunjukkan secara jelas tahap-tahap mengingat yaitu mula-
mula menghapal, lalu memahami artinya, kemudian mengulangi lagi.Adapun yang dimaksud
dengan kecenderungan (al-mailu) di atas ialah rasa mencintai alquranulkarim yakni anak
tertarik kepada membacanya.
Menurut al-Qabisi yang dimaksud dengan pemahaman (al-fahmu) diatas adalah tartil
(mengerti bacaan) dalam membaca dan pemahamannya secara serius. Adapun pembacaan
yang dengan cara tartil itu membantu kemampuan untuk merenungkan isi alquran yang telah
diturunkan oleh Allah.

5. Percampuran Belajar antara Murid Laki-Laki dan Perempuan
Percampuran belajar antara murid laki-laki dan perempuan dalam satu tempat atau co-
educational classes juga menjadi perhatian al-Qabisi. Ia tidak setuju bila murid laki-laki dan
perempuan dicampur dalam kuttab, hingga anak itu belajar sampai usia baligh (dewasa).
Sahnun, seorang ahli pendidikan Islam (yang juga guru dari al-Qabisi) abad ke 3
Hijriyah berpendapat (yang juga dinukil oleh al-Qabisi) bahwa :Guru yang paling tidak disukai
ialah guru yang mengajar anak-anak perempuan remaja, kemudian mereka bercampur dengan
anak lelaki remaja, maka hal ini akan mendatangkan kerusakan terutama bagi anak perempuan
remaja.[6]
Salah satu alasan mengapa al-Qabisi berpegang teguh pada pendapatnya; karena ia
khawatir kalau anak-anak itu sendiri menjadi rusak moralnya. Ia memperingatkan agar tidak
mencampurkan anak kecil dengan remaja yang telah dewasa (sudah bermimpi caitus) kecuali
bila anak remaja yang telah baligh tidak akan merusak anak kecil (belum dewasa).
Namun al-Qabisi tidak menjelaskan pendapatnya tentang kerendahan derajat jenis
kelamin.Ia memberikan arahan kepada guru tentang kebebasan melaksanakan pola
berdasarkan kebijaksanaanya, dan sesuai dengan metoda yang ia gunakan dalam menangani
pergaulan antara anak kecil dengan yang sudah baligh itu namun ditinjau dari segi lain apakah
menimbulkan degradasi atau tidak. Jika tidak mengalami kerusakan moral maka percampuran
itu tidak berlangsung di Al-Kuttab, maka keharusan mengajar anak perempuan sangat
dianjurkan, karena anak perempuan harus mengerti agama dan pelaksanaan ibadah.Keadaan
demikian itu juga termasuk tugas pendidikan di rumah-rumah (pendidikan keluarga).
Jelaslah pendapat al-Qabisi bahwa sesungguhnya dorongan jiwa anak terhadap jenis
kelamin lain dapat merubah sikap akhlak dan agamanya, sebab pemenuhan dorongan jenis
kelamin merupakan tenaga yang kuat dalam jiwa remaja, bahkan mungkin menindas dorongan
ini dengan menggunakan kekuatan dorongan yang lain dalam diri remaja (dapat juga dilakukan)
akan tetapi ilmu jiwa pendidikan pada masa itu belum mencapai tingkat kemajuan seperti
sekarang.[7]



[1]
[2]http://nyongandikahendra.blogspot.com/2009/12/dahsyatnya-pemikiran-manajemen.html
[3]Ali Al-Jambulati dan Abdul Futuh Al-Tuwasaanisi. 2002. Perbandingan Pendidikan Islam. PT
Rineka Cipta. Jakarta
[4]http://muhdahlan.wordpress.com/2010/11/20/konsep-pendidikan-al-qabisi-dan-m-rasyid-
ridha-koedukasi-dan-kurikulum/
[5] Ali Al-Jambulati dan Abdul Futuh Al-Tuwasaanisi. 2002. Perbandingan Pendidikan Islam. PT
Rineka Cipta. Jakarta. Hal 81-88
[6]http://nyongandikahendra.blogspot.com/2009/12/dahsyatnya-pemikiran-manajemen.html
[7]http://nyongandikahendra.blogspot.com/2009/12/dahsyatnya-pemikiran-manajemen.html
Diposkan oleh ghozy azam di 17.52
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
berbagai wacana sepintas tentang pengetahuan
Selasa, 09 Oktober 2012
konsep pendidikan Al Qabisi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Posisi manusia sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik), homo education
(makhluk pendidik), dan homo religious (makhluk beragama) mengindikasikan bahwa perilaku
keberagamaan manusia, dapat diarahkan melalui pendidikan. Pendidikan yang dimaksud di sini
adalah pendidikan Islam, yakni dengan cara membimbing dan mengasuhnya agar dapat
memahami, menghayati ajaran-ajaran Islam, sehingga tampak perilaku keberagamaan secara
simultan dan terarah pada tujuan hidup manusia. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang
sangat ideal.
Dikatakan pendidikan Islam sangat ideal, karena menyelaraskan antara pertumbuhan fisik dan
mental, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan masyarakat, serta dunia dan akhirat.
Menanamkan perilaku keberagamaan terhadap peserta didik diharapkan memberikan pengaruh
bagi pembentukan jiwa keagamaan. Besar kecil pengaruh yang dimaksud sangat tergantung
berbagai faktor yang dapat memotivasi untuk memahami nilai-nilai agama, sebab pendidikan
agama pada hakekatnya merupakan pendidikan nilai. Oleh karena itu, pendidikan agama lebih
dititik beratkan pada bagaimana membentuk kebiasaan yang selaras dengan tuntunan agama.
Dengan begitu, disinilah letak pentingnya rumusan kurikulum yang mampu
mengakomodir seluruh dimensi ranah pembelajaran di sekolah (madrasah). Letak
permasalahan selanjutnya adalah kurikulum Pendidikan Islam yang selama ini diterapkan
belum mampu secara maksimal menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan secara
menyeluruh.
Kaitannya dengan pendidikan, maka tujuan pendidikan Islam melalui sistem
persekolahan/madrasah patut diberikan penekanan yang istimewa. Hal ini disebabkan oleh
pendidikan sekolah/madrasah mempunyai program yang teratur, bertingkat dan mengikuti
syarat yang jelas dan ketat. Para tokoh pembaharu dan pemikir Pendidikan Islam menanggapi
tentang kurikulum dan koedukasi pendidikan dengan beragam pandangan. Abu al-Hasan al-
Qabisy sosok pemikir Pendidikan Islam yang memiliki pandangan signifikan tentang obyek
kajian pendidikan.


1.2 Rumusan Masalah

1. Biografi pemikir pendidikan Al-Qabisi ?
2. Konsep-Konsep Pendidikan Al-Qabisi ?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui tentang Biografi pemikir Pendidikan Al-Qabisi.
2. Untuk mengetahui tentang konsep-konsep pendidikan Al-Qabisi.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 BIOGRAFI
Nama lengkap Al-Qabisiy adalah Abu Al-Hasan Muhammad bin Khalaf Al-Maarifi Al-
Qairawaniy. Al-Qabisiy adalah penisbahan kepada sebuah bandar yang terdapat di Tunis.
Kalangan ulama lebih mengenal namanya dengan sebutan Al-Qabisiy. Ia lahir di Kota Qairawan
Tunisia pada tahun 324 H / 935 M. Literatur-literatur tidak menyebutkan perihal kedudukan
orang tuanya. Barangkali Al-Qabisiy bukan dari keturunan ulama yang termasyhur, atau
bangsawan ataupun hartawan sehingga asal keturunannya tidak banyak digambarkan sejarah,
namun namanya terkenal setelah ia menjadi ilmuan yang berpengaruh dalam dunia Islam.[1]
Al-Qabisiy adalah salah seorang tokoh ulama ahli hadits dan seorang pendidik yang
ahli, yang hidup pada 324-403 H di kota Qairawan Tunisia. Kehidupan Al-Qabisi, Karel
Brockelman menyatakan bahwa menurut Ibnu Khalikan dan As-Suyuti dalam kitab Thabaqat
Al-Huffadz, juga mengutip dari Ibnu Ammad dalam kitabnya Syadzarat Al-Dzahab,
mengatakan : Nama lengkap Al-Qabisiy itu adalah Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Khalaf Al-
Qabisiy, lahir pada bulan Rajab 324 H di kota Qairawan. Ia pernah merantau ke negara-negara
timur pada 353 H selama 5 tahun, kemudian kembali ke negeri asalnya dan meninggal dunia
pada tanggal 3 Rabiul Awal 403 H.[2]
Para penulis sejarah sepakat tentang nama lengkap Al-Qabisiy adalah Abu al-Hasan Ali
bin Muhammad bin Khalaf. Tetapi yang diperselisihkan adalah gelar yang diberikan kepadanya.
Apakah disebut al-Qabisi atau Ibnu al-Qabisi ? Pertanyaan kemudian muncul adalah jika dia
seorang yang berkebangsaan Qabisi kenapa dia juga dipanggil dengan al-Mu'afiri?, dan yang
terakhir, kenapa beliau dibangsakan kepada Qairawan. Tidak diketahui secara pasti apakah al-
Qabisi dilahirkan di Qairawan atau keluarganya hijrah ke Qairawan ketika beliau masih kecil,
tetapi yang jelas beliau mendapatkan pendidikan pertama dan dibesarkan kota itu. Dengan
demikian Qairawan adalah kota yang memiliki kenangan tersendiri bagi perjalanan hidup Al-
Qabisi.[3]
Di mesir ia berguru kepada salah seorang ulama di iskandariyah, di afrika utara ia
memperdalam ilmu agama dan hadits dari ulama terkenal, seperti: Abul Abbas al-Ibyani, dan
Abu hasan bin Masrur ad-Dhibaghi dan Abu Abdillah bin Masrur Al-Assali.
Ketika ia berada ditunisia ia belajar ilmu Fiqh kepada ulama mazhab Malikiyah, sehingga ia
menjadi ahli fiqh. Beberapa pengamat sepakat bahwa al-Qabisi adalah ulama yang terkemuka
pada zamannya dalam bidang fiqh dan hadits. Dengan demikian corak pemikiran keislaman
bersifat normative, dengan corak tersebut maka acuan yang digunakan al-Qabisi dalam
merumuskan pemikirannya dalam bidang pendidikan berparadigma fiqh dengan berdasarkan
Quran dan Hadits.[4]
Para pengamat aliran Al-Qabisiy sepakat bahwa dia adalah ulama yang hafal hadits
yang terkemuka dalam ilmu ini dan alim dalam matan-matan dan sanad-sanad al-hadits
sehingga dikenal sebagai ulama yang shaleh, taqwa, dan wirai.
Ia mengintegrasikan antara ilmu dan ibadah yang takut kepada Allah, bebudi halus,
bersih jiwanya dan pecinta orang fakir. Pada zamannya ia terkenal sebagai ulama yang
menonjol, di mana dia gemar berpuasa, shalat tahajud waktu malam, berwatak qanaah
(menerima apa adanya), berhati halus terhadap orang-orang yang menderita musibah dan ia
sendiri tahan atau sabar terhadap segala penyakit yang menimpa dirinya.[5]
Sebagaimana lazimnya para pelajar muslim pada masa kerajaan Islam dalam mencari ilmu
pengetahuan, yaitu dengan berpindah-pindah tempat belajar dan mencari sejumlah guru
dengan disiplin ilmu yang berbeda pula. Tak terkecuali Al-Qabisiy yang hidup pada zaman
keemasan Islam ketika itu. Dengan demikian tidak mengherankan jika ulama terdahulu memiliki
banyak disiplin ilmu pengetahuan.
Di Qairawan beliau belajar kepada sejumlah ulama ternama di antaranya :
Abul 'Abbas at-Tamimy (w.352 H) seorang ahli fiqih yang bermazhab Syafi'i dari kota Tunisia.
Darinyalah Al-Qabisi mendapat sejumlah nama-nama guru, baik dari Timur maupun dari Barat
dunia Islam tempat beliau melanjutkan rihlah ilmiah nantinya.
Ibnu Masrur ad-Dibagh (w.359 H)
Abu 'Abdillah bin Masrur al-'Assal (w.346 H), seorang faqih yang bermazhab Maliki di Kairawan.
Ibnu al-Hajjaj (w.346 H)
Abul Hasan al-Kanisyi (w.347 H), seorang ulama yang disegani karena kewara'an dan kemulian
pribadinya.
Durras bin Ismail al-Fasi (w.357 H), seorang faqih yang berhaluan Asy'ary dalam Theologi
Ibnu Zakrun, seorang faqih yang zuhud dan seorang ulama yang produktif dalam menulis
berbagai kitab tentang ilmu Tasawuf (w.370 H)
Abu Ishak al-Jibinyani (w.369 H) seorang ulama yang terkenal karena permohonannya.
Di Afrika kelihatannya Al-Qabisiy banyak belajar tentang ilmu fiqih dan akhlak. Oleh karenanya,
pada tahun 352 H bertepatan dengan 963 M al-Qabisi berangkat ke Timur tepatnya di tanah
Hijaz dan Mesir. Tujuan utama adalah menunaikan haji, di samping belajar mencari ilmu
pengetahuan. Disana beliau belajar kepada sejumlah guru, diantaranya:
Abul Qasim Hamzah bin Muhammad al-Kinani, seorang 'alim dari Mesir, dari ulama ini al-Qabisi
belajar kitab hadist An-nasa'i
Abu Zaid Muhammad bin Ahmad al-Marwazi seorang ulama Mekkah, darinya al-Qabisi
mempelajar kitab Shahih al-Bukhory
Abul Fath bin Budhan (w.359) ulama Mesir ahli qiraah
Abu Bakar Muhammad bin Sulaiman al-Nu'ali, seorang ulama terkenal di Mesir, dari beliau Al-
Qabisi banyak mengambil teladan
Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad al-Jurjani salah seorang ulama perawiShahih Bukhary
Abu Dzar al-Harwi (w.434 H), seorang faqih Maliki yang terkenal dengan karyanya Musnal al-
Muwaththa' darinyalah al-Qabisi mempelajari hadist Imam Maliki dengan kitabnya al-
Muwaththa'

Pada tahun 357 H / 967 M beliau pulang ke Qairawan untuk menerapkan ilmu yang telah
dikuasainya. Dari perjalanannya mencari ilmu pengetahuan menghantarkannya menjadi
seorang alim dalam fiqih dan hadist. Di Qairawan beliau menjadi seorang guru sekaligus kepala
madrasah al-Malikiyah yaitu madrasah al-Fikriyah al-Aqa'idiyahmenggantikan teman
sepergurunnya Ibnu Abi Zaid Al-Qairawan (w.389 H). Banyak murid yang belajar kepada beliau
dan selanjutnya menjadi ulama besar, baik dari Afrika maupun dari luar Afrika, terutama dari
Andalusia.[6] Salah satu karya tulisnya yang berkaitan dengan topik yang kita bahas di sini
adalah kitab Ahwal Al-Mutaallimin Wa Ahkam AlMutaallimin Wal Mutaallimin.[7]
Al-Qabisiy adalah cermin yang tepat bagi masanya. Ia menjadi seorang yang ahli hadits di
mana pengaruhnya besar sekali dalam lingkungan kehidupan masyarakat islam secara utuh.
Seorang yang alim berbeda pengaruhnya terhadap lingkungannya daripada seorang
budayawan. Seorang ahli budaya lebih besar pengaruhnya kepada lingkungannya, apabila
orang yang alim hanya mengikuti madzhab tertentu dalam pendidikan dan pengajaran. Idealnya
bagi seorang ulama dalam bidang pendidikan harus banyak mengintegrasikan antara ilmu dan
sastra budaya.[8]
Di tinjau dari keadaan politik masa itu (324-403 H masa kehidupan Al-Qabisiy) Afrika dikuasai
oleh dinasty Fathimiyah yang bermazhab Syi'ah. Ketika itu dinasty Fathimiyah dipimpin oleh
kekhalifahan al-Mu'iz li Dinillah. Pada tahun 362 H Mesir ditaklukkan dan dikuasai oleh khalifah
al-Mu'iz di bawah panglima Jauhar al-Shiqli. Di bawah kekuasaan Syi'ah ekstrim ini, Al-Qabisiy
mampu berhaluan Asy'ary bermazhabkan fiqih Maliki. Oleh karena itu, dapat kita lihat tidak
adanya subsidi pemerintah terhadap madrasah yang beliau pimpin.
Dari penjelasan diatas dapat dilihat, bahwa al-Qabisiy adalah seorang ahli hadits dan ulama
bermazhab Maliki serta di beliau hidup dimasa kekuasaan Syi'ah yang ekstrim. Pengalamannya
menjadi guru dan pemimpin madrasah, menghantarkan Al-Qabisiy sebagai ahli dalam bidang
pendidikan. Latar belakang ini mempengaruhi konsepnya tentang pendidikan Islam.
Keahliannya yang begitu kuat dalam bidang Fiqih dan hadits membuat Al-Qabisiy mengambil
corak pemikiran keislaman normative, tetapi bukan berarti doktrin. Dengan demikian, maka
acuan yang digunakan dalam merumuskan pemikirannya termasuk bidang pendidikan adalah
paradigma fiqih dan hadist.[9]
Ada sesuatu yang menarik bagi al-Qabisi. Beliau yang produktif dalam menulis dan beliau juga
diceritakan adalah seorang yang buta, meskipun berbeda pendapat dalam menceritakan
kebutaannya. Namun ada yang mengatakan bahwa beliau menglami kebutaan semenjak kecil.
Tetapi argumentative yang paling kuat adalah yang mengatakan bahwa kebutaan dialaami
menjelang wafat, ketika temannya Ibnu Abi Zaid al-Kairawan meninggal dunia pada tahun 386
H, diceritakan beliau menangis dengan kewafatan temannya ini, sehingga membawa kepada
kebutaan. Al-Qabisi meninggal dunia pada tahun 403 H di Kairawan. Ahmad Fuad al-Ahwani
mengutip pendapat Ibnu Khilkan menjelaskan bahwa al-Qabisi meninggal pada malam Rabu
tanggal 3 Rabiul Akhir tahun 403 H.[10]
2.2 KONSEP PENDIDIKAN AL-QABISI
Pemikiran Al-Qabisi tentang pendidikan Islam yang meliputi: pendidik, peserta didik, tujuan
pendidikan, kurikulum, metode pembelajaran, dan lain-lain yang berhubungan dengan
pendidikan sebagai berikut:
I. Lembaga Pendidikan Anak-Anak
Ali al-Jumbulati sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata menyebutkan bahwa Al-Qabisiy
memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anak yang berlangsung di kuttab-
kuttab. Menurutnya mendidik anak-anak merupakan upaya strategis dalam rangka menjaga
kelangusungan bangsa dan Negara.[11] Ada beberapa pemikiran beliau tentang pendidikan
anak-anak ini (ta'lim as-Shibyan) yang menarik untuk didiskusikan.
Pertama, tentang jenjang pendidikan untuk anak-anak (marhalah ta'lim as-shibyan).Al-Qabisiy
menetapkan kuttab sebagai lembaga pendidikan pertama (marhalah awal) bagi peserta didik.
Berbeda dengan tokoh pendidik lain, Al-Qabisiy tidak membatasi usia anak yang akan
memasuki pendidikan di kuttab-kuttab ini. Namun meskipun demikian Al-Qabisiy melihat usia
anak masuk sekolah seharusnya antara lima sampai tujuh tahun. Beliau tidak menetapkan
batasan umur, karena perbedaan kematangan (psikologi) dan kecepatan pemahaman,
menurutnya ada pada setiap anak manusia.[12] Jadi, ada aspek psikologi anak untuk
menentukan apakah si anak telah berhak mendapatkan pendidikan di kuttab atau belum. Pada
tingkatan pertama ini, anak-anak masih di didik di lembaga pendidikan kuttab sampai mereka
baligh atau antara usia 13 sampai 15. Dengan demikian, pendidikan menurut pemikiran Al-
Qabisiy berkisar antara 7 sampai 9 tahun. Menurut beliau ada empat unsur jenjang pendidikan :
(A). Tempat belajar atau yang disebut dengan kuttab (B). Guru atau mu'allim (C) Peserta didik
atau ash-Shabiy, (D). al-Qur'an sebagai materi yang diajarkan di kuttab ini.[13]
Kedua, urgensi dan pembiayaan pendidikan. Sesuatu yang sangat pelik dan harus diperhatikan
oleh pemerhati pendidikan, menurutnya dalam keengganan orang tua memasukkan anaknya
dibangku pendidikan tanpa alasan yang dibenarkan. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah
biaya belajar anak atau biaya pendidik. Pemerintah, idealnya berkewajiban membuat anggaran
penididikan dari harta Allah SWT, sebagaimana wajibnya membangun fasilitas umat dalam
menjalankan kewajiban mereka. Tetapi realitanya pemerintah melihat pendidikan anak adalah
urusan indivu setiap manusia. Khusus bagi anak yatim dan orang miskin, nampaknya beliau
menggunakan pendekatan agama untuk mengatasinya.
Ketiga, gaji guru. Pada masalah ini beliau berpendapat bahwa pendapat Imam Malik dan Ibnu
Sahnun tentang berhaknya guru memperoleh gaji atau bayaran yang cukup, baik disaratkan
sebelumnya ataupun tidak. Ibnu Mas'ud menjelaskan sebagaimana dikutip oleh al-Qabisi: " Tiga
hal yang mesti ada bagi manusia : Pertama, Pemimpin yang mengatur diantara mereka,
seandainya tidak ada (pemimpin) maka manusia akan memakan manusia lainnya, Kedua,
membeli dan menjual mushaf, jika ini tidak ada akan runtuhlah kitab Allah SWT, dan yang
terakhir adalah guru yang mengajari anak mereka dan memperoleh gaji darinya, dan jika ini
tidak ada, manusia akan menjadi bodoh".

II. Tujuan Pendidikan Islam
Dr. Ahmad Fuad al-Ahwani, menjelaskan bahwa Al-Qabisiy tidak merincikan tujuan yang ingin
dicapai oleh peserta didik dalam pembelajaran mereka terkecuali tujuan keagamaan (al-Ghardli
al-Diniy) berbeda dengan tokoh lain yang membagi sasaran atau tujuan pendidikan kepada
beberapa tujuan seperti tujuan agama, kemasyarakatan atau sosial, kepuasan intektual, tujuan
kejiwaan dan lain-lain.[14]
Ali al-Jumbulati sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, mengtakan secara umum tujuan
pendidikan yang diperangai oleh Al-Qabisiy adalah mengembangkan kekuatan akhlak anak,
menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Nya, serta berprilaku
yang sesuai dengan nilai-nial agama yang murni.[15]
Untuk pendidikan anak-anak tujuan pendidikan mereka adalah mengenal agama jauh sebelum
mereka mengenal yang lain, karena wajib hukumnya memberikan pelajaran agama kepada
mereka demikian menurut Al-Qabisiy. Al-Ahwani menganalisis ketika Al-Qabisiy memulai
kitabnya dengan membahas iman dan islam serta ditutup dengan pembahsan qiraat dan
keutamaan membaca al-Qur'an, itu arti pendidikan anak harus dimulai dengan mencetak
mereka menjadi mukmin yang muslim dan kemudian yang terakhir menjadikan mereka sebagai
seorang yang pembaca al-Qur'an.[16]
III. Kurikiulum Pendidikan
Kurikulum pendidikan islam Al-Qabisiy digolongkan kepada dua bagian :
1. Kurikulum Ijbari
Secara harfiah berarti kurikulum yang merupakan keharusan atau kewajiban setiap anak.
Kurikulum yang masuk ini adalah al-Qur'an, ada dua alasan beliau tentang penetapan al-Qur'an
sebagai kurikulum, yaitu : pertama, al-Qur'an adalah Kalam Allah SWT. Dan Allah SWT dalam
firman mengintruksikan semangat beribadah dengan membaca al-Qur'an.Kedua, menurutnya
al-Qur'an adalah referensi kaum muslimin dalam masalah ibadah dan mu'amalat dan juga
sesuatu yang mustahil mengenal batasan syari'at agama yang benar tampa mengenal sumber
agama itu sendiri yaitu al-Qur'an.[17] Kurikulum yang terdiri daripada kandungan ayat-ayat Al-
Quran seperti sembahyang dan doa-doa. Sebagian para ahli mengatakan bahwa ilmu nahwu
dan bahasa arab merupakan persyaratan mutlak untuk memantapkan baca Al-Quran, tilawah,
menulis dan hafalan.[18]
Dari kurikulum wajib yang ditawarkan Al-Qabisiy tampak jelas adanya relevansi yang kuat
antara tujuan pendidikan yang dibangun dan yang diinginkan oleh Al-Qabisiy dengan wacana
kurikulum yang beliau maksudkan. Semua kurikulum itu, diharapkan mampu membawa peserta
didik kepada suatu tujuan yaitu mengenal agama dan ibadah yang diwajibkan kepada kaum
muslimin. Uraian tentang kurikulum menurut pandangan beliau di atas adalah untuk jenjang
pendidikan dasar, yakni pendidikan di al-Kuttab, sesuai dengan jenjang yang telah di kenal di
masa itu. Secara sederhana dapat di susun kurikulum Ijbari yang diinginkan oleh beliau sebagai
berikut : al-Qur'an, Shalat, do'a, menulis (al-Kitabah), ilmu Nahwu, dan sebagian Bahasa Arab.
2. Kurikulum Ikhtiyari
Menurut Al-Qabisiy ikhtiyari adalah : ilmu tentang berhitung, sya'ir, kisah-kisah masyarakat
Arab, sejarah islam, dan ilmu nahwu serta bahasa arab lengkap. Hal tersebut merelevansi
kepada hadits Nabi ( Sesungguhnya di dalam sya'ir itu ada hikmah (ilmu) ).
Selanjutnya ke dalam kurikulum ikhtiyari ini beliau memasukkan pelajaran keterampilan yang
dapat menghasilkan produksi kerja yang mampu membiayai hidupnya dimasa
depan.[19] Menurut Al-Ahwani, kurikulum yang dikonsepkan Al-Qabisiy yaitu ada dua
kesimpulan, pertama Al-Qabisiy mengabaikan aspek kejiwaan dan pertumbuhan dalam
merumuskan kurikulumnya. Kedua, tidak memperhatikan (bahkan tidak memasukkan) ilmu-ilmu
alam dan olah raga dalam kurikulumnya.[20]

Menurut Ibnu Khaldun bahwa kurikulum yang berkembang di kawasan Afrika Utara dan di
negara islam lain, mengalami perbedaan geografis, yang kadang-kadang berkisar pada
permasalahan bentuk dan sistemnya.[21]
Metode yang pertama di atas jika ditinjau dari segi pendidikan modern adalah lebih baik dan
berdaya guna, karena seluruh kawasan negara islam dengan tanpa syarat menyetujui cara
mendidik dengan mendahulukan pengajaran Al-Quran beserta dengan keharusan mengajarkan
baca dan tulis nahwu serta bahasa arab.[22]
Jika memperbandingkan kurikulum yang ditetapkan untuk Al-Kuttab pada abad ke 3 H dengan
yang diajarkan di Al-Kuttab pada abad-abad kemudian, maka tidak menemukan adanya
perbedaan, esensi keberhasilannya terletak pada sikap taat dengan taklid (mengikuti tanpa
kritik) dan semangat melestarikan peninggalan dari pendahulunya. Al-Hafiz bin Rajab Al-
Baghdadi, pada abad ke 8 memberikan gambaran tentang kurikulum itu sebagai berikut: Ilmu
yang dipandang bermanfaat dari ilmu-ilmu yang ada, diukur atas dasar nas-nas dari kitab suci
dan sunnah Nabi, beserta pemahaman pengertian yang dikaitkan kepada riwayat para sahabat
dan tabiin tentang pengertian dari kedua sumber tersebut beserta ketetapan hukum-hukum
halal dan haram, zuhud dan berbudi halus, serta bijaksana dan sebagainya.[23]
Al-Qabisiy tidak mau menerima perilaku yang merendahkan Al-Quran dan ia mohon
perlindungan kepada Tuhan dari perilaku seperti itu, Al-Qabisiy memberikan garis agar orang
islam meninggalkan jauh berperilaku yang hina, karena jika sampai terjadi penghinaan terhadap
Al-uran maka pasti terjadi kerusakan yang merajalela. Allah akan mencabut Al-Quran dari
lubuk hati kaum muslimin apabila mereka tidak menghina dan menginjak-injak Al-Quran.[24]
Adapun kondisi lingkungan hidup sosial-budaya pada masa Al-Qabisiy adalah bersifat
keagamaan yang mantap sehingga tidak memungkinkan timbulnya paham atheisme atau
materialisme (seperti sekarang yang kita saksikan). Maka dari itu, Al-Quran dan shalat beserta
segenap ilmu yang berkaitan dengan pemahamannya dikenala oleh setiap orang islam, mulai
dari usaha memotivasi sampai kegiatan mempelajari ilmu-ilmu itu. Al-Qabisiy memperkuat dan
mengabadikan sistem yang demikian itu karena menjadi gambaran yang benar dari semangat
zamannya.[25]
Al-Qabisiy sebagai ahli fiqih dan hadits memandang bahwa lebih baik diajarkan Al-Quran lebih
dahulu pada anak sejak dini. Sedang ada pendapat lain di kalangan ahli pendidikan islam yang
berbeda pendapat dalam mendahulukan pengajaran Al-Quran kepada anak usia dini, misalnya
Abu Bakar bin Al-Arabi. Dia berpendapat bahwa, Hendaknya kita mengajarkan anak pada usia
dini dengan syair dan bahasa arab serta ilmu berhitung. Walau demikian Ibnu Khaldun
menyetujui pandangan ini, kecuali bila hal itu tidak mendatangkan keselamatan, maka
pengajaran Al-Quran harus didahaulukan.[26]
Al-Qabisiy mensyaratkan pengajaran Al-Quran dengan tartil dengan baik dan tajwidnya, waqaf
yang tepat, dan mengambil contoh dari pembaca yang bagus. Ia memberi nasehat agar
bacaannya bermanfaat di waktu mengerjakan sembahyang fardlu bagi seluruh kaum muslimin,
demikian juga kewajiban mengajarkan anak sembahyang kepada anak usia tujuh tahun, jika
anak tidak mau bersembahyang pada usia sepuluh tahun, ia harus dipukul dan sebagainya.[27]
Al-Qabisiy mengutip pendapat Ibnu Sahnun bahwa sebaiknya kita mengajar anak-anak
bagaimana mengakrabkan Al-Quran, anak harus dibiasakan dengan menaruh syakal,
menghafalkan alfabet arab, dan belajar tulisan indah.[28]
Al-Qabisiy menghendaki agar pendidikan dan pengajaran dapat menumbuh-kembangkan
pribadi anak sesuai dengan nilai-nilai islam yang benar. Untuk itu maka kurikulum harus mampu
merealisasikan yang disesuaikan dengan kemampuan anak dari masa ke masa (yang tidak lain
adalah kurikulum bercorak ijbariyah dan ikhtiariyah). Dan setelah anak menyelesaikan studi
sesuai dengan kurikulum tersebut hendaknya diajarkan dengan pelajaran keterampilan yang
berproduksi atau keterampilan bekerja agar mampu membiayai hidupnya.[29]

Jadi dengan demikian, menurut pandangan Al-Qabisiy bahwa memberikan pelajaran
keterampilan kerja untuk mencari nafkah hidupnya sesudah selesainya tiap jenjang pendidikan
yang ditempuhnya dengan dasar pengetahuan Al-Quran, sembahyang dan doa yang kokoh
kuat benar-benar merupakan suatu pandangan yang menyatukan antaratujuan pendidikan
keagamaan dengan tujuan pragmatis. Pada hakikatnya pendidikan keterampilan kerja setelah
memperoleh pendidikan agama dan akhlak, akan menolong anak itu trampil bekerja, mencari
nafkah dengan didasari rasa takut kepada Allah (dalam bekerja).[30]
Al-Qabisiy dalam pengajaran syair tidak menentang, karena didasarkan atas sebuah hadits
Nabi yang menyatakan bahwa syair itu merupakan kalimat (perkataan) ia menjadi baik jika yang
mempergunakan itu baik dana menjadi jelek jika orang yang mengucapkannya itu buruk.
Kemudian dikuatkan lagi pendapatnya itu dalam kitab Risalah Muffasshalah bahwa syair itu
dapat meluruskan lisan, dan membuat orang fasih dalam bekata, serta menghaluskan hatinya
dalam suatu waktu tertentu dan akan dapat memperoleh kesaksian terhadap apa yang ingin ia
jelaskan.[31]
Ketika banyak orang mengkritik Al-Qabisiy bahwa ia tidak memperhatikan masalah pendidikan
kesenian, maka ia menjawab bahwa pelajaran syair itu sesungguhnya adalah pendidikan seni
keindahan yang jika diajarkan maka tidaklah hilang seni tersebut. Pelajaran ini dikaitkan dengan
pelajaran khat (tulisan indah) yang merupakan seni keindahan luas di wilayah negara Maghribi,
khat juga termasuk pendidikan seni keindahan.[32]
Tidak diragukan lagi bahwa pandangan tersebut di atas mendorong perhatian kita terhadap
pentingnya pendidikan seni keindahan itu yang tidak bertentangan dengan agama. Alasan ini
sesuai dengan pendapat para ahli pendidikan modern, yang menyatakan bahwa mendidik anak
dengan seni budaya membuat mereka dapat mengetahui atau mengenal kebaikan. Dan
mengajarkan sejarah bangsa arab tidak ada seorang pun yang melarang atau menentangnya,
karena sejarah ini mengandung pengetahuan tentang tokoh-tokoh, pemimpin-pemimpin yang
berjiwa pahalwan dan kesatria, yang bagi anak-anak dapat mendidik rasa mencintai
kepahlawanan dan dapat mendorongnya ke arah berbuat baik seperti para pahlawan.[33]
Maka dari itu jelaslah pendapat Al-Qabisiy tersebut bahwa ia memilih dengan teliti bahan-bahan
kurikulum pendidikan anak-anak yang benar-benar sesuai dengan kemampuan mereka.
Pandangan madzhab ahli sunnah tentang bahan-bahan kurikulum anak-anak selalu
disesuaikan dengan kondisi anak tersebut. Oleh karena tujuan umum yang dipegangi oleh
beliau adalah bertujuan mengembangkan kekuatan akhlak anak, menumbuhkan rasa cinta
agama, berpegang teguh pada ajaran-ajarannya, serta berprilaku yang sesuai dengan nilai-nilai
agama yang murni.[34]
IV. Metode Pembelajaran
Selain kurikulum Al-Qabisiy, beliau juga merumuskan metode pembelajaran dan itu di
masukkan dalam kurikulumnya. Langkah-langkah penting dalam menghafal Al-Qur'an dan
belajar menulis ditetapkan berdasarkan pemilihan waktu-waktu yang baik dan dapat mendorong
kecerdasan akalnya. Al-Qabisiy memulai pembelajaran melalui beberapa klasifikasi yaitu :
Pada pagi hari Sabtu sampai Kamis itu dianggap satu kali pembelajaran.
Guru dapat melihat langsung kegiatan peserta didiknya.
Proses belajar mengajar diakhiri diahir pekan dan dievaluasi sejauh mana perkembangan anak
didik.[35]
Di samping anak-anak libur pada hari Jum'at, menurut beliau selain hari Jum'at sebagai hari
libur anak-anak termasuk juga hari Raya 'Idil Fitri dan terkadang sampai lima hari pada hari raya
qurban. Disampaing kurikulum, metode, ada beberapa pemikiran beliau beliau yang juga
berkaitan dengan pendidikan, yaitu :
Pendidik, mu'allim atau guru menjadi perhatian tersendiri bagi beliau, kualitas guru menurut
beliau tidak harus yang hafidz Al-Qur'an, tetapi beliau lebih menekankan kesiapan guru dalam
mengamalkan kandungan al-Qur'an, memahami rahasia dan makna didalamnya, melalui
pengusaan ilmu-ilmu yang membantu pemahaman ini. Dan juga pemikirannya tentang tidak
bolehnya guru menghukum bodoh dan rendah intelektual para muridnya.
Pemisahan murid laki-laki dan perempuan
Larangan belajar non-muslim di kuttab milik orang Islam
Dan yang lainnya.[36]
V. Metode dan Teknik Belajar
Selain membicarakan materi pendidikan, ia juga berbicara mengenai teknik dan langkah
mempelajari ilmu itu. Misalnya menghafal Al-Quran dan belajar menulis langkah-langkah adalah
berdasarkan pemilihan waktu-waktu yang terbaik, yaitu waktu pagi-pagi selama seminggu
terus-menerus dan baru beristirahat sejak waktu dhuhur hari Kamis sampai dengan hari Jumat.
Kemudian belajar lagi pada hari Sabtu pagi hingga minggu berikutnya.
Al-Qabisiy juga mengemukakan metode belajar yang efektif, yaitu menghafal, melakukan
latihan dan demonstrasi.[37]
Belajar dengan menghafal adalah cara pengajaran yang amat diperhatikan oleh pendidikan
modern sekarang. Di antara ketetapannya adalah pemahaman terhadap pelajaran dengan baik
akan membantu hafalan yang baik. Pendidikan modern sekarang ini menganjurkan agar
mengajar anak dengan cara menghafalkan pelajaran agar mereka memahami maksudnya
secara jelas.[38]
Menurut Al-Qabisiy yang dimaksud dengan pemahaman (al-fahmu) diatas adalah tartil
(mengerti bacaan) dalam membaca dan pemahamannya secara serius. Adapun pembacaan
yang dengan cara tartil itu membantu kemampuan untuk merenungkan isi Al-Quran yang telah
diturunkan oleh Allah.[39]

BAB III
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

Menyimak beberapa uraian bahasan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan,
sebagai berikut:
Abu Al-Hasan Muhammad bin Khalaf Al-Maarifi Al-Qairawaniy, (dikenal Al-Qabisiy), lahir di
Kota Qairawan Tunisia pada 324 H/935 M, dan wafat 403 H/1012 M. Merupakan pemikir
pendidikan Islam di zamannya yang berpengaruh dalam dunia Islam. Konsep pemikiran tujuan
pendidikannya Al-Qabisy secara umum, yaitu: mengembangkan kekuatan akhlak anak,
menumbuhkan rasa cinta agama, berpegang teguh kepada ajaran-ajaran-Nya, serta berprilaku
yang sesuai dengan nilai-nial agama yang murni.
Penerapan sistem koedukasi dalam pendidikan Islam bagi Al-Qabisy bahwa tidak baik anak
pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya, maka
pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak
dari penyimpangan-penyimpangan akhlak.
Al-Qabisy mengklasifikasi kurikulum pendidikan Islam ke dalam dua bagian besar yaitu ilmu-
ilmu asasi/wajib (ijbari) dan ilmu-ilmu yang bukan asasi/tidak wajib (ikhtiyariy).
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Abdul Latief, al-Fikry al-Tarbawy al-Araby al-Islamiy (Tunisia:Maktab al-Araby, 1987)
Ahmad Fuad Al-Ahwani, Al-tarbiyah Fi Al-Islam (Kairo:Dar al-Ma'Arif, 1980)
Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta: PT
Rineka Cipta)
Abu Hasan al-Qabisi, ar-Risalah al-Mufashshilah li Ahwal al-Muta'allimin wa Ahkam
Muta'allimina,ed.Ahmad Khalid.Tunisia:al-Syirkah al-Tunisiyah li al-Tauzi', 1986
Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2001) cetakan: Kedua

Http://artikelborneo.blogspot.com/2010/05/pemikiran-pendidikan-al-qabisi.html (28-09-2012)

Muhdahlans Blog, muhdahlansblow.worldpress.com (28-09-2012)



[1] Nata Abudin, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2001) cetakan: Kedua
[2] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT Rineka Cipta) Hal 76
[3] Ahmad Fuad al-Ahwani, al-tarbiyah fi al-Islam (Kairo:Dar al-Ma'Arif, 1980), hal 22-26
[4] http://artikelborneo.blogspot.com/2010/05/pemikiran-pendidikan-al-qabisi.html (28-09-2012)
[5] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT Rineka Cipta) Hal 77

[6] al-Qabisi, ar-Risalah al-Mufashilah, hal.10-14
[7] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT Rineka Cipta) Hal 77
[8] Ibid. Hal 77-78
[9] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam:Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam
(Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2001), hal 26
[10] al-Ahwani, al-tarbiyah, hal 21
[11] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam:Seri Kajian Filsafat Pendidikan
Islam (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2001), hal 27
[12] al-Ahwani, Tarbiyah, hal 59
[13] Ibid. Hal 54
[14] al-Ahwani, Tarbiyah, hal 106
[15] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam:Seri Kajian Filsafat Pendidikan
Islam (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2001), hal 28
[16] al-Ahwani, Tarbiyah, hal 108

[17] Ahmad Abdul Latief, al-Fikry al-Tarbawy al-Araby al-Islamiy (Tunisia:Maktab al-Araby,
1987), hal 771
[18] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT Rineka Cipta) Hal 83
[19] Ahmad Abdul Latief, al-Fikry al-Tarbawy al-Araby al-Islamiy (Tunisia:Maktab al-Araby,
1987), hal 165-175
[20] al-Ahwani,at-Tarbiyah, hal 175
[21] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT Rineka Cipta) Hal 83
[22] Ibid. Hal 83
[23] Ibid. Hal 83-84
[24] Ibid. Hal 84
[25] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT Rineka Cipta) Hal 84
[26] Ibid. Hal 85
[27] Ibid. Hal 85
[28] Ibid. Hal 86
[29] Ibid. Hal 87
[30][30] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam,
(Jakarta: PT Rineka Cipta) Hal 87
[31] Ibid. Hal 89
[32] Ibid. Hal 89
[33] Ibid. Hal 89
[34] Ali Al-Jumbulati dan Abdul Futuh At-Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam, (Jakarta:
PT Rineka Cipta) Hal 89
[35] Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam:Seri Kajian Filsafat Pendidikan
Islam (Jakarta:Raja Grafindo Persada, 2001), hal 34
[36] Al-Ahwani, At-Tarbiyah Fi Al-Islam, Hal 181-219
[37] Muhdahlans Blog, muhdahlansblow.worldpress.com (28-09-2012)
[38] Ibid
[39] Ibid
Diposkan oleh ahmed92.7 di 01.49





Jom kenali tokoh besar dalam mazhab syafie. Nama beliau tidak pernah asing bagi seorang
penimba ilmu yang benar-benar mendalami segenap bidang ilmu.
Imam Al Ghazali r.a.h adalah tokoh ilmu sufi yang terkenal, lebih lebih lagi di kalangan mereka
yang mempelajari kitab kitab karangan beliau seperti ihya ulumuddin,minhajul abidin,bidayah
alhidayah dan lain lain lagi.


Nama sebenar imam Alghazali ialah Muhamad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al
ghazali Altusi.Beliau lebih dikenali dengan panggilan Alghazali iaitu nisbah kepada kampung
tempat kelahirannya iaitu ghazalah yg terletak dipinggir bandar Tusi di dalam wilayah

Kharasan, Parsi, (Iran). Dengan itu Alghazali bererti org ghazalah, kemungkinan juga panggilan
tersebut dinisbahkan kepada bapanya seorang tukang tenun kain bulu yang dalam bahasa
arabnya dikatakan alghazzal.


Imam Alghazali juga digelar Abu hamid, yang bererti bapa kepada Hamid iaitu dinisbahkan
kepada anaknya. Beliau juga digelar hujjatul Islam iaitu suatu gelaran penghormatan yang
diberikan kepadanya kerana kejituan dan kekuatan hujjahnya di dalam membela agama islam.


Abu Hamid Muhammad Alghazali Altusi adalah seorang tokoh ulama' yang luas ilmu
pengetahuannya dan merupakan seorang pemikir besar dalam sejarah falsafah islam dan
dunia. Dalam ilmu feqah beliau bermazhab syafie sementara dalam ilmu kalam beliau mengikuti
aliran assyaari atau ahlu sunnah wal jamaah. Beliau lahir pada tahun 450H bersamaan 1058M.


Bapanya adalah seorang miskin yang soleh, makan dari hasil usaha sendiri menenun pakaian
daripada bulu kemudian menjualnya di pekan Tusi.Beliau sangat suka belajar ilmu agama dan
mendampingi para ulama' sufi. Beliau meninggal dunia semasa Alghazali dan saudaranya yg
bernama Ahmad masih kecil tetapi sempat menyerahkan sedikit wang saraan serta
mewasiatkan tentang pengurusan pembelajaran kedua anaknya itu kepada sahabatnya yang
miskin yang menjadi guru dan ahli tasawwuf.


Sahabatnya itu telah mendidik dan mengajar mereka berdua menulis sehinggalah wang
peninggalan bapanya habis.kemudian sahabat itu telah menasihatkan Alghazali dua
bersaudara agar pergi ke Tusi belajar di sebuah sekolah yang didirikan oleh perdana menteri
Nizam

Al malik,yang memberi saraan makan, pakain dan buku buku kepada pelajarnya. Beliau sendiri
tidak mampu menyara mereka berdua.


Dengan itu, mereka berdua meninggalkan ghazlah menuju Tusi. Di sana Alghazali belajar
membaca, menulis ,menghafal Al Quran, ilmu nahu, bahasa arab, ilmu matematik dan juga ilmu
feqah daripada As Syeikh Ahmad bin Muhammad ArRazakani.Beliau amat suka mempelajari
ilmu feqah dan perundangan islam sementara saudaranya Ahmad amat suka mempelajari ilmu
tasawwuf dan akhirnya menjadi ahli sufi dan pendakwah yang masyhur digelar Abu AlFatuh.


Pada tahun 469H,Alghazali telah melanjtkan pelajarannya ke Jarjan berguru dengan Abu Nasr
Al Ismaili.Di sana beliau telah berkahwin kemudian beliau pulang ke Tusi selama tiga tahun.
Dalam masa ini beliau belajar tasawwuf daripada Yusuf Annasaj,seorang sufi terkenal.


Dalam perjalanan pulang ke tusi daripada Jarjan,Alghazali telah dirompak termasuk kertas
catitan pelajarannya.Daripada peristiwa itulah beliau mulai menghafal pelajarannya tidak lagi
bergantung kepada nota catitan lagi.


Pada tahun 471H, Alghazali berangkat menuju ke sekolah tinggi Nizmiyyah di Naisabur. Di
sana beliau belajar daripada Abu Almaa'li, Diyaauddin Aljawaini yang terkenal dengan gelaran
Imam haramain. Berbagai cabang ilmu pengetahuan telah dipelajari daripadanya samada ilmu
agama seperti feqah dan ilmu kalam atau ilmu falsafah seperti mantik,jidal,hikmah dan lain lain
sehingga beliau mengetahui berbagai mazhab, perbezaan pendapat masing masing dan beliau
dapat menolak tiap tiap aliran yang dianggap salah. Bahkan beliau dapat mengimbangi
keilmuan gurunya itu.Di sini beliau mula mengarang berbagai buku dan berbagai bidang,
diantara buku karangannya yang dikagumi gurunya ialah yang dinamakan al mankhul.


Sewaktu berada di Naisabur, Alghazali juga mempelajari teori dan amalan tasawwuf daripada
seorang alim fakih dan ketua ahli sufi disana yang bernama Alfaramdi.Al ghazali juga belajar
tasawwuf daripada Abu Bakar Al warak dan Abu Bakar Altusi.


Selepas kematian gurunya, Alghazali telah berpindah ke Muaskar atau askar,suatu tempat di
Iraq, atas jemputan Nizam Almalik. Perdana menteri dari Sultan Turki yang berkuasa di bawah
pemerintahan khalifah Abbasiyyah dari Baghdad. Di Muaskar, Alghazali diminta memberi
pengajaran ssekali dalam dua minggu dihadapan pembesar dan para ahli ilmu disamping
kedudukannya sebagai penasihat agung kepada perdana menteri. Dengan itu kedudukannya
semakin penting dikalangan rasmi.Pengajian dua mingguan itu berlangsung selama lima tahun.


Selepas itu pada tahun 484H Alghazali telah dilantik menjadi Profesor kanan di universiti
Nizmiyyah di Baghdad.Waktu itu beliau baharu berusia 34 tahun.Perlantikan ke jawatan itu
belum pernah diberikan kepada sesiapa pun pada usia yang sebegitu muda,perlantikan itu
adalah merupakan suatu penghormatan tertinggi di dalam dunia islam ketika itu.


Kemasyhuran beliau sebagai orang alim,guru serta pemidato yang petah berucap tersebar
dengan cepat.Kuliahnya semakin menarik perhatian para pelajarnya,beratus ratus orang
kenamaan dan terhormat turut menghadirinya.


Pada tahun 488H,khalifah al mustazhar billah yang baru ditabalkan menjadi khalifah ditahun
487H yang sedang menghadapi ancaman gerakan sesat golongan batiniah yang menimbulkan
kekacauan,keganasan dan pembunuhan sulit terhadap sahabat akrab alghazali iaitu perdana
menteri nizam almalik ditahun 483H,telah meminta alghazali menulis sebuah buku
menerangkan keburukan keburukan golongan batiniah dan kebaikan kebaikan pemerintahan
khalifah mustazhar. Alghazali telah menyahut permintaan tersebut dengan menulis bukunya
yang dinamakan almustazhiri sempena gelaran khalifah.Buku berkenaan politik atau Negara ini
juga dikenali sebagai "fadhaih al batiniah wa fadhail almustazhiri".Kemudian iikuti dengan buku
yang lain antaranya hujatul haq,mufasil alkhilaf dan sebagainya.


Setelah berkhidmat selama 4 tahun di universiti Nizmiyyah, alghazali telah meletak jawatan
pada bulan zulkaedah tahun 488H kerana beliau jatuh sakit selama enam bulan yang tidak
dapat diubati oleh tabib ketika itu akibat dari pergolakan jiwa yang timbul dari keraguan

terhadap pemikiran falsafah dan pertentangan perasaan diantara nafsu cintakan pangkat dan
harta dan antara cetusan jiwa suci mahu mengabdikan diri kepada Allah semata mata dengan
beruzlah dan beramal ibadah gauh dari gah masyhur,kesenangan dan kemewahan duniawi
yang sementara.


Alghazali telah memutuskan tekad untuk meninggalkan kota Baghdad dan kemewahannya
demi untuk menjadi seorang sufi.beliau telah mewakafkan semua kekayaan harta
bendanya,hanya yang diambil sekadar yang mencukupi bagi menyelenggara keluarga dan
bekallan perjalanan nanti.Kemudian beliau menuju ke syam (Syria) dengan niat hendak
berkalwah dimasjid jami' dikota damsyik.Disana beliau tinggal kira kira 2 tahun dengan
melakukan uzlah,khalwah,mujahadah,riadah dan beribadat menurut tasawwuf yg
dipelajarinya.Semua itu dilakukan untuk menjernihkan hati agar mudah berzikir kepada Allah
Taala.Sambil beliau beribadah sambil pula beliau memberikan kuliah tasawwuf di salah satu
sudut masjid itu yg sehingga sekarang,ianya dikenali sebagai sudut alghazali.Pada tiap hari
beliau naik ke puncak menara masjid damsyik yang tinggi itu dan mengunci pintunya dari dalam
agar terhindar dari gangguan orang.disinilah beliau berkhalwah melatihkan batin,berjuang
menentang nafsu,melawan kemalasan hati,membersihgkan diri,mendidik akhlak dan
menyucikan hati dengan memperbayakkan zikir Allah.Semasa beliau berada disinilah beliau
menulis karyanya yang besar berjumlah 4 jilid iaitu ihya ulumuddin.


Dari Damsyik, diakhir tahun 490H beliau berangkat ke baitul maqdis di Palestin untuk
meneruskan ilmu kesufiannya dengan mengunjugi masjid al aqsa dam masuk ke dalam
sahkrah setiap hari kemudian menguncinya dari dalam untuk berkhalwah dan berdoa memohon
hidayah daripada Allah subhanahu Wa Taala.


Alghazali tidak lama tinggal di palestin kerana beliau terpaksa menyelamatkan diri dari
keganasan tentera salib kristian yang berjaya merampas Palestin dari kaum muslimin. Beliau
menuju ke kaherah Mesir dan kemudian ke Iskandariah. Beliau hanya berada

sekejap saja di Mesir, kemungkinan disebabkan ulama' Universiti Al azhar ketika itu dibawah
kekuasaan kerajaan Fatimiyyah dari golongan syiah tidak memberikan sambutan yang baik,
dan kemungkinan juga kerana perbezaan fahaman antara ASWJ dengan syiah.


Di katakana Alghazali telah berazam bertolak dari Mesir menuju Maghribi untuk menemui Amir
Yusuf bin Tasfin, seorang amir yang sukakan cendikiawan tetapi kemudiannya beliau
menukarkan niatnya menuju ke tanah suci makkah dan madinah setelah mendapat tahu
tentang kematian Yusuf bin Tasfin.


Kira kira 8 tahun berada di hijjaz beliau pun merasa rindu hendak pulang ke Baghdad untuk
menziarahi keluarga, anak anak dan isterinya.Sungguhpun Al ghazali menjadi seorang zuhud,
wara',namun kecintaan kepada ank anak dan isteri mempengaruhi beliau untuk pulang. Beliau
cintakan Allah serta cintakan kepada keluarga dan anak isteri tetapi cintakan Allah mengatasi
segala galanya. Oleh itu Alghazali mengimbangkan di antara dua kehidupan,dunia dan akhirat.



Al Ghazali tidak lama tinggal di Baghdad kali ini kerana pada tahun 499H beliau berpindah ke
Nisabur.Di sana beliau telah diangkat menjadi ketua Prof. kanan di universiti Nizmiyyah
cawangan Nisabur oleh perdana menteri Fakhrul Al malik, anak perdana menteri Nizam
Almalik. Alghazali kemudiannya kembali ke Tusi tempat kelahirannya pada tahun 500H setelah
Fakhrul Almalik menerima nasib yang sama dengan ayahandanya, mati dibunuh oleh puak
batiniyyah.Di Tusi, Alghazali telah mendirikan sebuah madrasah dan mengajar para pelajarnya
tentang hukum, akidah dan tasawwuf.


Ahmad, anak sulung Nizam Almalik yg dilantik menjadi perdana menteri menggantikan
saudaranya yang mati dibunuh telah meminta Alghazali bertugas semula di universiti
Nizmiyyah. Alghazali yang kini mengajar kerana Allah dan bukan kerana mengejar pangkat,
kemuliaan dan perdampingan diri dengan khalifah sebagaimana masa lampau telah menolak
permintaan itu.lebih lebih lagi, pada masa itu beliau tidak suka lagi melibatkan diri dalam majlis
majlis perdebatan dan pelajarnya seramai 150 orang di Tusi sukar untuk pergi ke Baghdad
berpindah bersamanya.


Alghazali menghabiskan hari hari akhir kehidupannya dengan mengarang, mengajar dan juga
belajar. Sebelum itu beliau tidak dapat menumpukan peerhatiannya kepada pembelajaran ilmu
hadith.Oleh itu beliau telah mempelajari sahih bukhari dan muslim di bawah seorang muhaddith
terkenal iaitu hafiz A'mr (ain.mim,ra) bin Abu Hassan al Rawasi, malah beliau telah mendapat
ijazah dari mempelajari kedua dua kitab tersebut.


Sebelum meninggal dunia, Alghazali telah mengarang ratusan buku dalam berbagai bidang
seperti falsafah, mantik, agama,akhlak, tasawwuf, kenegaraan dan teori pemerintahan tetapi
hasil karyanya yang tinggal sekarang tidak sampai pun seratus buah. Di antara karyanya yang
telah di terjemah ke dalam bahasa melayu atau Indonesia ialah ihya ulumuddin, bidayah
alhidayah, minhajul abidin, mizan al a'mal, ayyuhal walad, kimia assaadah dan lain lainnya.Di
antara buku yang terakhir ditulis oleh beliau ialah minhajul abidin dan yang paling terakhir ialah
buku berkaitan ilmu kalam.


Alghazali meninggal dunia yang fana' di Tusi pada hari Isnin,14 Jamadil Akhir tahun 505H
bersamaan 19 Disember 1111m dan disemadikan diperkuburan Tabiran.

SUMBANGAN IBNU KHALDUN DALAM BIDANG KEILMUAN ISLAM

LATAR BELAKANG IBNU KHALDUN


Nama sebenar Ibnu Khaldun ialah Abdul al-Rahman Ibn Muhammad Ibn Khaldun al-Hadrami.
Nama Khaldun berasai dari keturunan Khalid bin Uthman iaitu seorang tentera Yaman yang
pernah bergabung dengan tentera Andalusia. Semasa di Andalusia, nama Khalid bertukar
kepada Khaldun.

Dilahirkan di Tunisia pada tahun 732H/1332M dan meninggal dunia di Kaherah, Mesir pada
808H/1404M. Ayahnya seorang ulama, ahli bahasa dan seorang pemerintah tentera. Beliau
telah kehilangan ibu dan ayahnya akibat wabak kusta yang melanda kampungnya.

Berketurunan Arab dari Yaman yang berhijrah ke Andalus. Berpindah ke beberapa tempat iaitu
Algeria, Fez, Granada, Bougie dan Mesir apabila Tunisia dilanda wabak taun.

Beliau merupakan seorang yang tekun dalam menuntut ilmu walaupun sibuk menjalankan tugas
pentadbiran. Beliau telah mempelajari ilmu-ilmu agama seperti fikah, tafsir, hadis dan ilmu-ilmu
naqli seperti logik, falsafah, matematik dan bahasa Arab.

Beliau juga merupakan pemikir Islam terulung dalam bidang sejarah, sosiologi, politik dan
agama. Semasa kecil beliau dididik oleh ayahnya dan dihantar berguru dengan ramai sarjana
Islam yang hebat di Tunisia.

Ketika muda beliau suka merantau, bekerja dan menyertai bidang politik sehingga pernah
dipenjarakan akibat fitnah oleh orang yang cemburu melihat beliau sering berdamping dengan
pemimpin.

Ibnu Khaldun pernah memegang beberapa jawatan penting seperti pernah dilantik sebagai Ahli
Persuratan di Istana Faz, menjadi Hajib (sama taraf Perdana Menteri), menjadi kadi dan khatib,
menjadi orang tengah antara perang perebutan kuasa kerabat diraja dan menjadi Hakim
Mahkamah Raja di Mesir.

Ibnu Khaldun dianggap oleh sarjana Barat sebagai tokoh dan ahli fikir yang tiada bandingannya
dan memberi sumbangan besar kepada manusia di dunia seperti mana yang dinyatakan oleh
Toynbee.

Ibnu Khaldun dianggap seorang ahli falsafah sejarah dan sarjana teragung sepanjang zaman.
Beliau menggunakan kaedah penyelidikan yang mirip kepada kaedah sosiologi di mana beliau
menekankan sifat-sifat semula jadi dan sebab-sebab peristiwa sejarah berlaku. Beliau
membahagikan sejarah kepada 2 iaitu sejarah am dan sejarah khas.

Ibnu Khaldun menekankan aspek-aspek dalaman bagi sesuatu peristiwa kerana sejarah
berhubung rapat dengan latar belakang masyarakat, tidak seperti ahli sejarah sebelumnya.


SUMBANGAN OLEH IBNU KHALDUM


1. Penglibatan dalam aktiviti Sosial dan Politik

Beliau pernah menyandang beberapa jawatan dan pernah berkhidmat dengan beberapa orang
pemerintah di Utara Afrika dan di Andalus.

Banyak menyandang jawatan penting seperti Setiausaha Negara di istana Sultan Abu Ishaq bin
Abi Yahya dan Sultan Abu Annan; Anggota Majlis Ilmiah; Anggota Jabatan Setiausaha Sulit
Sultan Abu Salim bin Abi Al-Hasan di Fez, Maghribi; Duta Granada; Perdana Menteri (Hajib)
Bougie dan Ketua Hakim (Qadhi Al-Dudhah).

Jawatan tersebut memberi peluang untuk berkhidmat kepada negara dengan lebih berkesan.


2. Bidang ilmu dan pemikiran Islam

Berjaya menganalisis sejarah dari aspek kemasyarakatan, ekonomi, politik, dan pendidikan.

Memberi panduan yang terbaik kepada manusia tentang asas pembinaan sesebuah tamadun.
Berpendapat bahawa sesebuah tamadun tertegak hasil dari keunggulan rohani dengan
jasmani.

Merupakan pelopor kepada pemikiran-pemikiran moden khususnya dalam bidang sejarah,
politik, ekonomi, sosiologi dan pendidikan.

Para sarjana mengiktiraf karya beliau sebagai bahan kajian dan rujukan. Pemikiran beliau
sering dijadikan wacana, tema-tema seminar, bengkel, persidangan ilmiah, judul-judul buku dan
tesis di peringkat pengajian tinggi.

Sebuah anugerah ilmiah yang berprestij dinamakan sempena nama beliau iaitu Ibnu Khaldun
Chair of Islamic Studies di Universiti Amerika. Namanya diabdikan di dalam sebuah universiti di
Jakarta, Indonesia iaitu Universiti Ibnu Khaldun.


3. Karya Agung Ibnu Khaldun


Al-Muqaddimah merupakan karya agung Ibnu Khaldun dalam bidang pensejarahan. Mengikut
B. Lewis, buku ini merupakan ensiklopedia sintesis mengenai metadologi sains kebudayaan
yang penting dan buku ini dapat membantu ahli sejarah dalam penghasilan kajian yang benar
dan ilmiah.

Buku ini membahaskan secara terperinci tentang sejarah dan persejarahan. Buku ini setebal
lebih kurang 700 helai muka surat.

Buku Muqaddimah ini dibahagikan kepada enam bab. Kandungannya ialah:

Bab satu - risalah umum tentang masyarakat dan pertumbuhan umat manusia
Bab dua - kehidupan desa masyarakat badwi atau primitif
Bab tiga - mengenai negara, pemerintahan raja dan institusi khalifah
Bab empat - tentang perkembangan kota-kota dan negeri-negeri serta cara membezakan
antara satu kota dgn kota
Bab lima - ekonomi penduduk sesuatu tempat
Bab enam - cara mempelajari ilmu pengetahuan dan pendidikan

Isi kandungan buku ini juga terbahagi kepada bahagian asasi dan tidak asasi:

Bahagian asasi - disiplin falsafah, falsafah sejarah dan falsafah sains sosial
Bahagian tidak asasi - geografi, kebudayaan, politik, agama, peradaban dan ilmu pengetahuan

Muqaddimah ialah sumbangan yang agung dalam bidang pensejarahan yang merupakan
percubaan awal ahli sejarah untuk memahami perubahan yang berlaku pada organisasi politik
dan sosial manusia.

Buku ini merupakan percubaan awal ahli sejarah untuk memahami pola perubahan yang
berlaku kepada organisasi politik dan sosial manusia. Buku ini juga menjadi suatu bahan kajian
yang menarik kerana pendekatan yang rasional, kaedah serta perbahasan yang analitikal dan
terperinci.


4. Pengasas falsafah sejarah

Ibnu Khaldun mendefinisikan sejarah sebagai catatan atau maklumat tentang masyarakat
manusia, iaitu perubahan-perubahan yang berlaku pada sifat-sifat manusia seperti kemarahan,
kebiadaban, revolusi, perasaan setia kawan dan pemberontakan sehingga mengakibatkan
terbentuknya kerajaan, negara dan rakyat, wujudnya pelbagai kegiatan dan pekerjaan mansuia,
pelbagai aspek ilmu pengetahaun dan pertukangan, dan secara umumnya berkenaan semua
perubahan yang dialami oleh manusia.

Secara ringkas daripada definisi di atas, sejarah dan masyarakat adalah satu kesatuan yang
mempunyai kesamaan realiti yang berhubung kait antara satu sama lain.

Konsep ini berbeza dengan pendapat Herodotus, seorang ahli sejarah Yunani yang
mengatakan bahawa Tuhan telah campur tangan secara langsung dalam menentukan sejarah
manusia dan bukan manusia itu sendiri yang menentukan sejarahnya.

Ibnu Khaldun telah menetapkan beberapa prinsip untuk sejarah. Contohnya, apabila mengkaji
sesuatu peristiwa kebangkitan dan kejatuhan sesebuah kerajaan, seseorang individu perlu
memastikan penglibatan sebab dan akibat kejadian itu berlaku.Keadaan ini menunjukkan
hubungan secara langsung antara sebab dan akibat.

Menurut beliau, manusia sendiri yang menentukan sejarahnya kecuali mereka yang melanggar
hukum Allah sama ada hukum tersurat dalam wahyu atau tersirat dalam hukum alam akan
ditentukan Allah.

Berjaya memurnikan ilmu sejarah dengan menjadikan rasional sebagai kayu ukur fakta sejarah
tanpa fanatik kepada sesuatu laporan yang tidak terbukti kebenarannya.

Menggariskan empat perkara yang perlu dilakukan sejarawan dalam penelitian dan analisis
laporan sejarah:

Membandingkan antara peristiwa-peristiwa dengan berdasarkan kaedah sebab dan musabab.
Mengkaji peristiwa-peristiwa lalu untuk dijadikan iktibar kepada peristiwa-peristiwa yang sedang
berlaku.
Mengambil kira pengaruh iklim dan alam sekitar terhadap apa yang berlaku.
Mengambil kira kedudukan ekonomi dan budaya terhadap peristiwa yang berlaku.

5. Sebagai Budayawan

Merupakan penggiat budaya dan kesusasteraan Arab. Pengajian kesusasteraannya dengan
Syeikh Muhammad Bahr di Tunisia dimanfaatkan untuk menajamkan kemahirannya dalam
bersyair.

Banyak menghasilkan syair semenjak kanak-kanak lagi. Kemahiran Ibnu Khaldun dalam bidang
syair jelas kelihatan dalam karyanya al-Muqaddimah apabila beliau membahaskan tentang syair
Arab.


6. Bapa Ekonomi Islam

Ibnu Khaldun dikenali juga sebagai Bapa Ekonomi Islam kerana pemikirannya tentang teori
ekonomi yang logik dan realistik.

Teori yang dikemukakannya jauh lebih terdahulu daripada teori-teori ekonomi yang
dikemukakan oleh pakar ekonomi Barat spt Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-
1823).

Ibnu Khaldun telah mengutarakan beberapa prinsip dan falsafah ekonomi spt keadilan,
hardworking, kerjasama, kesederhanan dan fairness. Beliau menegaskan bahawa keadilan
merupakan tulang belakang dan asas kekuatan sesebuah ekonomi.

Ibnu Khaldun melihat manusia sebagai memerlukan pengetahuan ekonomi utk memenuhi
misinya di ats muka bumi. Manusia perlu menjauhi perbuatan jahat sebaliknya perlu mengikut
ajaran Islam dan mesti memberikan keutamaan kpd kehidupan akhirat.

Beliau juga mengemukakan teori bahawa perekonomian sentiasa berada dlm keseimbangan
antara penawaran dan permintaan. Menurut beliau faktor pengeluaran spt tanah telah tersedia,
faktor buruh masih dianggap faktor terpenting dlm proses pengeluaran.

Ibnu Khaldun juga berpendapat bahawa kenaikan paras harga barangan yang tetap amat perlu
utk mengawal tahap produktiviti.



KESIMPULAN

Ibnu Khaldun merupakan seorang sarjana Islam yang terkemuka dan mempunyai pengetahuan
yang luas tentang kajian beliau. Beliau sangat disegani oleh sarjana Islam dan Barat.

Buku beliau yang terkenal iaitu Muqaddimah dianggap sebagai pengasas ilmu kepada
masyakarat atau ketamadunan. Selain itu pandangan dan teori-teori yang dikemukakan oleh
beliau telah banyak menyumbang kepada masyarakat sehingga ke hari ini.







Anda mungkin juga meminati:
ETIKA PEPERANGAN DAN STRATEGI PEPERANGAN DALAM ISLAM
ETIKA DAN STRATEGI PEPERANGAN DALAM ISLAM
PERANG DUNIA PERTAMA (1914-1918)
CADANGAN PENYELIDIKAN SEJARAH
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN DI ACHEH DAN MESIR
Linkwithin
Oleh PENA BIRU di Sunday, May 19, 2013
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
Label: Ibnu Khaldun Tokoh Ilmuan Islam, Karya Muqadimmah Ibnu Khaldun, Sejarah Tamadun
Islam,Sumbangan Oleh Ibnu Khaldum

No comments:
Post a Comment
"Sila tinggalkan comment anda"
Newer PostOlder PostHome
Subscribe to: Post Comments (Atom)
IBNU KHALDUN

RIWAYAT HIDUP
1. Nama sebenar ialah Abdul Rahman bin Muhammad bin Muhammad

2. Dilahirkan pada tahun 732H/1332M di Tunisia

3. Dikenali sebagai Ibnu Khaldun sempena nama tempat kelahirannya di kawasan
Khalduniyah di Tunisia

4. Keturunan Arab Yaman

5. Meninggal dunia pada tahun 808H/1406M di Kaherah Mesir ketika berusia 87
tahun

6. Dikebumikan di luar Babun Nasr (Perkuburan ahli sufi)

SIFAT PERIBADI
1. Tekun mencari ilmu
- sejak kecil mempelajari pelbagai ilmu fardu ain dan fardu kifayah

2. Kuat ingatan
- menghafal al-Quran sejak kecil serta menguasai pelbagai ilmu agam dalam usia
belasan tahun

3. Berjiwa pemimpin
- menjadi pegawai tertinggi Istana dan Ketua Hakim Negara

4. Kreatif
- Berjaya mengenengahkan sejarah sebagai bidang ilmu tersendiri melalui karyanya
al-Muqaddimah

5. Bijak Berpidato
- aktif berdebat untuk menambahkan ilmu
PENDIDIKAN
1. Mendapat pendidikan awal daripada bapanya dengan mempelajari asas-asas agama
seperti al-Quran, Feqah, Hadis dan Tauhid di Masjid al-Quba Tunisia

2. Menghafal al-Quran sejak kecil

3. Setelah dewasa beliau belajar Linguistik Bahasa Arab ( Nahu dan Saraf ) Usuluddin
dan kesusasteraan.

4. Mempelajari ilmu Mantik, Sains, Falsafah, Matematik dan Sejarah daripada
beberapa orang ulamak terkemuka pada masa itu.

5. Ketika usia 18 tahun, terpaksa berhenti kerana Tunisia dilanda wabak taun

6. Melanjutkan pelajaran di Fez dengan beberapa orang ulamak yang terkenal

JAWATAN YANG PERNAH DISANDANG
1. Anggota Majlis Ilmiah di Fez

2. Perdana Menter di Bougie

3. Ketua Hakim Negara di Mesir

SUMBANGAN DALAM BIDANG ILMU DAN PEMIKIRAN ISLAM
1. Berjaya menganalisis aspek masyarakat, politik, ekonomi dan pendidikan dalam
karyanya

2. Memberi idea dan panduan terbaik tentang asas pembinaan sesebuah tamadun iaitu
mesti tertegak di atas kombinasi keunggulan rohani dan jasmani

3. Pelopor kepada pemikiran moden seperti sejarah, politik, ekonomi, sosialogi dan
pendidikan

4. Karya beliau banyak mengaitkan sesuatu perkara dengan perkembangan rohani.
Akal dan akhlak

5.Karya yang dihasilkan oleh beliau dalam pelbagai bidang telah dijadikan bahan
rujukan dan kajian oleh para sarjana

PERKARA YANG PERLU DILAKUKAN UNTUK MENGANALISIS
LAPORAN SEJARAH BERDASARKAN PANDANGAN IBNU KHALDUN
1. Membandingkan antara peristiwa berdasarkan kaedah sebab musabab

2. Mengkaji peristiwa lalu untuk dijadikan iktibar kepada peristiwa yang sedang
berlaku

3. Mengambil kira pengaruh iklim dan alam sekitar terhadap apa yang berlaku

4. Mengambik kira kedudukan ekonomi dan budaya terhadap peristiwa yang berlaku.

KARYA AGUNG IBNU KHALDUN
1. Al- Muqaddimah

2. Al-Ibar

KEISTEMEWAAN KITAB AL-MUQADDIMAH
1. Telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa asing seperti Perancis, Turki,
Jerman, Inggeris, Spanyol dan Melayu

2. Hasil pemikirannya dijadikan asas panduan kepada perkembangan ilmu sosiologi di
Eropah

3. Menjadi rujukan semua pelajar di dunia dan rujukan utama sehingga kini.

BUKTI IBNU KHALDUN TOKOH PELBAGAI ILMU
1. SEJARAWAN
-Beliau mampu menganalisis tamadun dari segi permulaan, factor kegemilangan serta
kejatuhannya
- Beliau member tafsiran sejarah berdasarkan psikologi, ekonomi, sosiologi, alam
sekitar dan geografi
-Idea beliau dalam al-Muqaddimah telah menobatkan beliau sebagai tokoh sejarawan
dan sarjana yang terunggul.

2. NEGARAWAN:
- Menyandang banyak jawatan penting Negara selama 20 tahun
- Antara jawatannya: Setiausaha Khas Bahagian Surat menyurat di Jabatan Kerajaan
Tunisia ( 751H), Pegawai Jabatan Setiausaha Negara di Istana Abu Ishak dan Sultan
Abu Annan, Anggota Majlis Ilmiah di Fez Maghribi, Anggota Jabatan Setiausaha
Sulit Sultan Abu Salim dan Duta di Granada. Qistina dan Maghribi.

3. BUDAYAWAN
- Mendalami pengajian kesusasteraan dengan Syeikh Muhammad bin Bahri di Tunisia
- Menghasilkan banyak syair semenjak zaman kanak-kanak lagi
- Kemahirannya dalam syair terbukti dalam perbahasannya tentang syair dalam
kitabnya al-Muqaddimah.


Legasi Pemikiran Ibn Khaldun dalam Bidang Pendidikan
Menurut beliau, terdapat 10 perkara penting yang perlu diketengahkan dalam menghasilkan
satu pendidikan yang berkesan.

Antara yang disarankan ialah tentang aspek berfikir sebagai satu cabang pendidikan.
Hindari pelajar dari sikap meniru semata-mata.
Dalam proses pembelajaran, perkara yang mudah perlu didahulukan dan dipastikan
bahawa mereka memahami sepenuhnya sebelum berpindah ke suatu perkara yang lebih
sukar.
Pelajar tidak boleh dipaksa untuk menghafal di mana ini akan menghilangkan
kreativiti dan mengakibatkan kejumudan fikiran.
Seterusnya, subjek yang diajar perlu ada kesinambungan antara yang satu dengan
yang lain dan dua subjek yang berlainan tidak boleh diajar secara serentak demi
memastikan satu-satu subjek benar-benar difahami.
Menurut Ibn Khaldun lagi, kecenderungan meringkaskan teks sehingga hilang fakta-
fakta penting menjadikan matlamat sebenar penyampaian ilmu terbantut.
Pelajar perlu dilayan dengan penuh hikmah dan tindakan secara tegas perlu
dielakkan kerana memberi kesan yang negatif dalam diri pelajar.
Tanggungjawab seorang guru bukan sahaja menyampaikan ilmu tetapi juga harus
mempamirkan akhlak yang terpuji.
Para sarjana pula digalakkan untuk mengembara dan menghadiri majlis-majlis ilmu
di luar negara.
Pendidikan perlulah sesuatu yang praktikal dan ilmu yang disampaikan perlu kepada
rasional akal fikiran terutama yang berkaitan dengan sejarah dan peristiwa-peristiwa
kemasyarakatan.
Akhir sekali di dalam bukunya tentang pendidikan ialah dalam mempelajari sains,
kemahiran amat diperlukan.

kupasan Ibn Khaldun Terhadap Pendidikan Awal Kanak-Kanak. Lima perkara penting yang
diketengahkan oleh beliau, yang paling utama adalah penyediaan pendidikan agama iaitu

pengajaran Al-Quran,
penyediaan teknik pengajaran yang berkesan,
penyediaan pendidikan akhlak,
penyediaan pendidikan psikologi
penyediaan pendidikan sosial.
Ibn Khaldun telah menekankan bahawa anak-anak di peringkat awal haruslah didedahkan
dengan pengajaran Al-Quran. Ini kerana selain dapat memperkukuhkan aqidah dan
keimanan, ia juga dapat membentuk malakah (bererti bakat atau tabiat manusia). Ibn
Khaldun telah mengembara ke merata tempat dan melihat pelbagai teknik telah digunakan
untuk mengajar anak-anak. Pada akhir fasal ke 40 Muqaddimah, Ibn Khaldun menyatakan
teknik yang terbaik adalah teknik yang diarahkan oleh Khalifah Al-Rasyid kepada Khalifah
Al-Ahmar yang diamanahkan mendidik anaknya Muhammad Al-Amin.

Antaranya adalah tegahan mengajar dua disiplin ilmu secara sekaligus dalam satu waktu
kecuali terhadap anak-anak yang memiliki kecerdasan otak dan semangat yang tinggi.

Seterusnya, tentang bahayanya hukuman keras ke atas anak-anak,
tidak boleh melakukan paksaan, menegur kesalahan anak-anak dengan kasih sayang
dan sekiranya tiada perubahan barulah kekerasan digunakan.
Anak-anak tidak boleh dipukul lebih dari tiga kali dalam satu-satu masa.
Walau bagaimanapun, ibubapa dilarang untuk terlalu berlemah lembut kerana ini
boleh melalaikan anak-anak.
Juga disarankan untuk membiasakan anak-anak untuk menghormati tetamu dan
melarang mereka kecuali pada waktu yang sesuai.
sumber: mukabuku


Imam Al-Ghazali
Imam Ghazali memberi penekanan bahawa kanak-kanak perlu :
Dididik sejak lahir dan diajar mengenal huruf, menulis dan membaca.
Diberi pendidikan agama berlandaskan Al-Quran dan hadith bagi membentuk
peribadi mulia.
Diberi latihan jasmani bagi membina kekuatan tubuh badan, kecerdasan minda
dan mengelakkan kemalasan.
Dilatih mengamal budi perkerti yang mulia dan tabiat yang baik.
Dilatih mempunyai sifat berani, merendah diri, sabar dan menghormati orang tua
serta mentaati kedua ibu bapa.
Diberi nasihat ke atas kesalahan yang dilakukan dan dimarahi sekali kala sahaja
supaya mereka lebih menghormati orang tua.
Dibimbing berkenaan kewajipan terhadap agama dan hukum agama Islam
apabila mereka sudah cerdik dan berakal.
Diawasi oleh ibu bapa kerana mereka mudah terpengaruh oleh persekitaran dan
tingkahlaku masyarakat.

Ibnu Khaldun
Ibnu Khaldun pula berpendapat kanak-kanak :

Perlu menggunakan belajar yang disusun dengan baik.
Belajar menggunakan pancaindera dan diberi contoh yang mudah dan konkrit
dalam pembelajaran mereka.
Perlu didedahkan dengan contoh teladan yang baik.
Diajar membaca Al-Quran sebelum menghafalnya.
Menerima bimbingan dengan lemah lembut, bukan melalui kekerasan.
Mudah keliru, apabila diajar dua perkara dalam masa yang sama. Oleh yang
demikian, hanya ajar satu perkara pada satu jangka masa.
IBNU KHALDUN

BIODATA IBNU KHALDUN
1. Nama sebenar beliau ialah Abdul Rahman bin Muhammad bin Muhammad.
2. Beliau lebih dikenali sebagai Ibnu Khaldun.
3. Beliau dilahirkan di Tunisia pada tahun 732 Hijrah bersamaan dengan tahun 1332 Masihi.
4. Keluargabya keturunan Arab dari Yaman yang berhijrah ke Andalus.
5. Bapa Ibnu Khaldun adalah seorang sarjana terkenal.
6. Sejak Tunisia dilanda wabak taun pada tahun 749 hijrah,Ibnu Khaldun berpindah ke beberapa tempat iaitu Algeria,
Fez, Granada, Bougie, dan Mesir.
7. Ibnu Khaldun meninggal dunia di kaherah, mesir pada tahun 808 hijrah bersamaan dengan tahun 1406 Masihi
ketika berusia 87 tahun.

KEPERIBADIAN IBNU KHALDUN
1. Ibnu Khaldun adalah seorang yang tekun dalam menuntut ilmu. Walaupun beliau sibuk dengan tugas pentadbiran,
namun tidak menghalangnya untuk menuntut ilmu. Beliau bijak membahagi masa untuk masyarakat dan menuntut
ilmu.
2. Beliau seorang yang berjiwa pemimpin. Beliau pernah menjawat jawatan penting seperti ketua hakim di Mesir dan
Perdana Menteri di Bougie. Semua jawatan ini diberikan kerana kecekapannya dalam mentadbir serta keupayaannya
mengemukakan idea-idea untuk kemajuan negara.
3. Seorang yang kreatif. Pemikiran Ibnu Khaldun dalam kitab Al-Muqaddimah adalah hasil daripada pengalaman dan
kreativiti beliau untuk mengetengahkan sejarah sebagai bidang ilmu yang tersendiri. Buku ini dijadikan bahan kajian
oleh sarjana- sarjana timur dan barat hingga ke hari ini.

PENDIDIKAN IBNU KHALDUN
1. Ibnu khaldun mempelajari asas agama dan bahasa arab daripasa Abdul Rahman bin Muhammad (bapa
beliau),Muhammad bin Al-Muhaimin Al-Hadrani, Muhammad bin saad bin Barrral Al-Ansari,Muhammad bin Al-
syawasyi Al-Zarzali, dan ramai lagi.
2. Ibnu Khaldun mempelajari ilmu- ilmu fardu kifayah seperti mantic,falsafah, sains dan matematik daripada
Muhammad bin Ibrahim Al-Abili.
3. Semasa di Fez, Ibnu Khaldun mendapat pendidikan tinggi daripada beberapa orang guru yang terkenal seperti
beberapa orang guru terkenal seperti Ahmad bin Al-Qassar dan Lisanuddin bin Al-khatib iaitu pengarang kitab Tarikh
Gharnatah (sejarah Granada) dan Muhammad bin Abdul Salam.

Ibnu Khaldun sebagai sejarawan
1. Ibnu Khaldun menganalisis sesuatu tamadun dari segi permulaan, faktor kegemilangan dan kejatuhan.
2. Beliau memberi tafsiran sejarah berdasarkan psikologi, ekonomi,social, alam sekitar dan geografi.
3. Ideanya yang menarikdalam kitab Al-Muqaddimah mendoron para pengkaji dan pemikir untuk mengiktiraf beliau
sebagai tokoh sarjan dan sejarawan yang mengatasi sejarawan terkenal sebelumnya seperti Al Tabari dan Al-
Mas`udi.

Ibnu Khaldun Sebagai Negarawan
1. Ibnu khaldun merupakan negarawan yang banyak berjasa untuk negara. Beliau pernahmenyandang jawatan-
jawatan penting seperti:
a) Setiausaha negara di istana Sultan Abu Ishaq bin
Abi Yahya dan Sultan Abu Annan.
b) anggota Majlis Ilmiah.
c) anggota Jabatan Setiausaha Sulit Sultan Abu Salim
bin abi Al-Hasan di Fez, Maghribi.
d) duta Granada
e) Perdana Memteri (hajib) bougie
f) Ketua Hakim (Qadi Al-Qudhah) Mesir.
2. Jawatan-jawatan penting tersebut telah memberi peluang kepada Ibnu Khaldun untuk Berkhidmat kepada Negara
dengan berkesan.

Ibnu Khaldun sebagai Budayawan
1. Ibnu Khaldun merupakan penggiat budaya dan kesusasteraan Arab.
2. Pengajian kesusteraannya dengan Syeikh Muhammad Bahr di Tunisia dimanfaatkan untuk menajamkan
kemahirannya dalam syair.
3. Beliau banyak menghasilkan syair semenjak kanak-kanak lagi. Kemahiran beliau dalam bidng ini jelas kelihatan
dalam kitab Al-Muqaddimah ketika beliau membahaskan tentang syair Arab.

SUMBANGAN IBNU KHALDUN DALAM BIDANG ILMU DAN PEMIKIRAN ISLAM
1. Ibnu khaldun banyak meninggalkan sumbangan yang bernilai kepada tamadun manusia.
2. Ibnu khaldun berjaya menganalisis sejarah dari aspek kemasyarakatan,ekonomi,politik dan pendidikan dalam
karyanya.
3. Beliau telah ,memberi panduan terbaik kepada manusia tentang asas pembinaan sesebuah tamadun. Beliau
berpendapat bahawa sesebuah tamadun tertegak di atas hasil kombinasi diantara keunggulan rohani dengan
jasmani.
4. Ibnu Khaldun merupakan pelopor kepada pemikiran-pemikiran moden khususnya dalam bidang sejarah, politik,
ekonomi, sosiologi,dan pendidikan.
5. Kejayaan Ibnu Khaldun itu mendorang para saujana mengiktiraf karya beliau sebagai bahan kajian dan rujukan
dalam bidang-bidang tersebut.
6. Sanjungan terhadap beliau hingga ke hari ini.pemikiran beliau sering dijadikan wacana, tema-tema
seminar,bengkal dan persidangan ilmiah, serta judul-judul buku dan tesis di peringkat pengajian tinggi.
7. Sebuah anugerah ilmiah yang berpestij dinamakan semperna nama beliau iaitu Ibnu Khaldun Chair Of Islamic
Studies di Universiti Amerika.
8. Nama Ibnu Khaldun diabadikan dalam sebuah universiti terkemuka di Jakarta Indonesia iaitu Universiti Ibnu
Khaldun

KARYA AGUNG IBNU KHALDUN
1. Penglibatan Ibnu Khaldun selama 20 tahun dalam bidang pentadbiran memetangkan pemikiran dan pengalaman
beliau.
2. Hasil kombinasi pengalaman, ilmu pengetahuan, dan kreativiti, beliau menghasilkan karya-karya yang bermutu
seperti:
a) Al-Ibar Wa DiwanAl-Mubtada Wal Khabar Fi Ayamil Arab Wal Ajam Wal Babrar Wa Man Asarahum Min Zawi Al-
Sultan Al-Akbar yang lebih dikenali sebagai Muqaddimah Ibnu Khaldun.
b) Al-Takrif Bi Ibni KhaldunWa Rihlatuhu Gharban Wa Syargan.
3. Muqaddimah Ibnu Khaldun lebih berkualiti dan berpengaruh kepada pemikiran manusia.
4. Beliau berjaya memurnikan ilmu sejarah dengan menjadikan rasional sebagai kayu ukur fakta sejarah tanpa
fanatik kepada sesuatu laporan yang tidak terbukti kebenarannya.
5. Beliau menggariskan empat perkara yang perlu dilakukan oleh sejarawan dalam penelitian dan analisis laporan
sejarah, iaitu
(a) mambandingkan antara peristiwa-peristiwa dangan berdasarkan kaedah sebab dan munasabah.
(b) mengkaji peristiwa-peristiwa lalu untuk dijadikan ikhtibar kepada peristiwa-peristiwa yang sedang berlaku,
(c) mengambil kira pengaruh iklim dan alam sekitar terhadap apa yang berlaku.
(d)Mengambil kira kedudukan ekonomi dan budaya
terhadap peristiwa yang Berlaku

RUMUSAN
1. Ibnu Khaldun merupakan tokoh falsafah yang terkenal, beliau juga menguasai pelbagai ilmu pengetahuan.
2. Ibnu Khaldun telah melakukan perubahan dalam bidang ilmu seperti ilmu sejarah dan persejarahan, sosiologi,
politik dan psikologi pendidikan.
3. Ibnu Khaldun berjaya mentafsirkan sejarah dari pelbagai aspek seperti agama, politik, ekonomi dan social.
4. Ibnu Khaldun dianggap sebagai pelopor kepada pemikiran-pemikiran moden terutama dalam bidang sejarah,
politik, ekonomi, sosialogi dan pendidikan.
5. Setiap pelajar hendaklah yakin dengan kebolehan diri dan berdikari untuk mencapai matlamat hidup.