Anda di halaman 1dari 4

REFORMASI KESEHATAN DI INDONESIA

Hingga saat ini, sebagai sebuah negara berkembang Indonesia masih dihadapkan pada
persoalan rendahnya akses masyarakat terutama masyarakat miskin terhadap pelayanan
kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thabrani
(2005) menyatakan bahwa 10 persen penduduk kaya di Indonesia memperoleh kemudahan
dalam mengakses kesehatan 12 X lebih besar diandingkan 10 persen penduduk miskin.
Sementara pengeluaran out of pocket bersifat regresif sehingga semakin menambah berat
beban biaya yang harus di tanggung oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Pembebasan biaya pelayanan di puskesmas di beberapa wilayah kabupaten dan kota,
ternyata tidak memperbesar akses masyarakat miskin terhadap pelayanan
kesehatan. Riset yang dilakukan oleh Susilowati (2004) menemukan bahwa akses ini lebih
banyak dimanfaatkan oleh penduduk perkotaan besar (34,4%) dibandingkan dengan
penduduk pedesaan (26,9%). Sementara pada kenyataannya kelompok yang paling rentan
terhadap kesehatan ada di pedesaan (25,2%) daripada perkotaan (17,7%). Artinya telah
terjadi ketidakadilan dalam pembiayaan kesehatan karena subsidi yang dilakukan
pemerintah justru dinikmati oleh masyarakat mampu.

Walaupun pemerintah telah berupaya mengembangkan berbagai program kesehatan
masyarakat, peningkatan investasi ada pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas
pelayanan, desentralisasi sistem kesehatan, namun akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan tetap menjadi persoalan utama yang berkontribusi pada kemiskinan. Penyebab
utama seluruh persoalan ini terletak pada terbatasnya akses masyarakat terhadap sistem
jaminan kesehatan. Persoalannya sekarang adalah sejauh mana kesehatan dan jaminan
sosial ini dipahami sebagai sebuah alat dan prasyarat untuk mengatasi persoalan
kemiskinan, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan dan sejauh mana persoalan ini
diselenggarakan dalam kebijakan yang efektif dan koheren.

Untuk mendukung reformasi kesehatan di Indonesia maka pemerintah membuat sutau
kebijakan yang bernama Sistem Kesehatan Nasional (SKN) . SKN adalah bentuk dan cara
penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang memadukan berbagai upaya Bangsa
Indonesia dalam satu derap langkah guna menjamin tercapainya tujuan pembangunan
kesehatan dalam kerangka mewujudkan kesejahteraan rakyat sebagaimana dimaksud
dalam UUD 1945. SKN berguna untuk 1) Mempertegas makna pembangunan kesehatan
dalam rangka pemenuhan hak asasi manusia, 2) Memperjelas penyelenggaraan
pembangunan kesehatan sesuai dengan visi dan misi RPJPK Th 2005-2025, 3)
memantapkan kemitraan dan kepemimpinan yang transformatif, 4) Melaksanakan
pemerataan upaya kesehatan yang terjangkau dan bermutu, 5) Meningkatkan investasi
kesehatan untuk keberhasilan pembangunan nasional.
SKN memiliki azas antara lain perikemanusiaan, pemberdayaan & kemandirian, adil &
merata, dan pengutamaan & manfaat yang secara ringkas dapat dikemukakan bahwa
pembangunan kesehatan harus diupayakan secara terintegrasi antara Pusat dan Daerah
dengan mengedepankan nilai-nilai pembangunan kesehatan, yaitu: a) Berpihak pada
Rakyat, b) Bertindak Cepat dan Tepat, c) Kerjasama Tim, d) Integritas yang tinggi, e)
Transparansi dan Akuntabel. Terdapat 7 subsistem SKN antara lain upaya kesehatan;
pembiayaan kesehatan; SDM kesehatan; sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan
dan minuman; manajemen dan informasi kesehatan; dan pemberdayaan masyarakat.
Realisasi paradigma sehat yang sebagian besar tertuang di dalam Visi Indonesia Sehat
2010, masih cukup jauh dari harapan. Bahkan tidak berlebihan jika mengatakan
pembangunan kesehatan kita saat ini terancam gagal. Sebagai gambaran, indeks
pembangunan manusia (Human Development Index/HDI) Indonesia tahun 2004 berada di
peringkat 111, sementara sebagai perbandingan, Vietnam yang tahun 1995 lalu HDI-nya di
peringkat 117, justru melejit ke urutan 95 pada tahun yang sama. HDI merupakan
gambaran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa dari Program Pembangunan
PBB (UNDP), yang dilihat dari tiga aspek, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.
Setidaknya, terdapat dua faktor penting yang menyebabkan kegagalan program kesehatan
di negara kita. Pertama, kebijakan kesehatan kita masih terjebak dalam level kuratif
(pengobatan). Ini sangat bertolak belakang denganParadigma Sehat yang lebih
menomorsatukan terbangunnya kesadaran sehat di masyarakat. Kesadaran sehat akan
banyak berpengaruh terhadap status kesehatan setiap orang. Sementara status kesehatan,
sebagaimana H.L. Blum mengutarakannya, erat tergantung dari empat hal, yakni perilaku,
lingkungan, pelayanan kesehatan, dan genetika.
Lewat level kuratif, pemerintah masih euphoria dengan menghabiskan uang banyak dan
waktu berpikir tentang bagaimana mengobati penyakit dan menanggulangi wabah epidemik
yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, secara struktural, hingga institusi pelayanan
kesehatan paling bawah, Puskesmas, telah terjadi kesalahan kategorial dalam memetakan
problem kesehatan di negara kita. Program-program pengobatan penyakit berjalan paralel
dengan semakin meningkatnya angka kematian akibat penyakit bersangkutan. Fenomena
ini, jika dikaji secara rasional mestinya lebih difokuskan pada upaya penanggulangan
penyakit melalui strategi promosi dan prevensi kesehatan di semua lini.
Masih relevan kiranya mengkaji dan mengaplikasikan parameter status kesehatan H.L. Blum
dalam konteks kita. Yang paling penting dalam hal ini adalah soal perilaku masyarakat.
Upaya kuratif yang selama ini menjadi primadona pembangunan kesehatan tidak cukup
beralasan dapat mengubah banyak perilaku hidup masyarakat. Justru semakin
memperparah kondisi. Realitas ini makin runyam jika melihat realisasi pembangunan
kesehatan yang cenderung sumir, mengagung-agungkan kemoderenan pelayanan
kesehatan di atas kemampuan personal manusia yang serba pas-pasan.
Alasan kedua yang mendasari kegagalan pembangunan kesehatan di negara kita adalah
elitisme pengelolaan kesehatan yang banyak disebabkan oleh sentralistiknya mekanisme
pengambilan kebijakan. Jika memandang bahwa kesehatan merupakan bangunan universal
yang konstruksinya terdiri dari semua elemen dasar kehidupan, maka pelibatan masyarakat
dan elemen lainnya menjadi kemutlakan.
Secara fenomenal, Gus Dur pada tahun 1999 pernah mengatakan: Kalau mau mengikuti
kata hati, seharusnya juga tidak perlu ada Departemen Kesehatan. Urusan kesehatan,
termasuk masalah jamu, adalah urusan masyarakat. Karena itu, penanganannya cukup oleh
masyarakat. Selama ini masyarakat telah mampu menyelenggarakan pelayanan kesehatan,
mulai dari menjual jamu gendongan hingga rumah sakit yang moderen. Selain itu, tak ada
setiap individu pun yang ingin menderita sakit, sehingga secara sendiri-sendiri atau bekerja
sama, orang pasti akan berusaha untuk tetap sehat dan terhindar dari penyakit.
Dalam kenyataannya di masyarakat, pola kebijakan yang top down masih sangat kuat
membelenggu. Pelaksanaan otonomi daerah yang pada awalnya dianggap angin segar,
justru berubah jadi tornado yang meluluh-lantakkan struktur masyarakat, termasuk
kesehatan. Kesalahan kebijakan (malpolicy) justru semakin parah dan secara kuantitas
menunjukkan grafik menanjak. Pemerintah terlalu menghegemoni dalam menentukan hak
hidup masyarakatnya, tak terkecuali untuk dapat hidup sehat secara waja