Anda di halaman 1dari 23

1

ERGONOMI DAN PENYAKIT AKIBAT KERJA






Disusun Oleh:
WIDIASTUTI
1210221003



KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS DIPONEGORO
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA
2014


2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya, Penulis dapat
menyelesaikan penulisan Ergonomi dan Penyakit Akibat Kerja.
Penulisan ini dibuat guna melengkapi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan
Masyarakat. Besar harapan penulis dengan penulisan ini dapat bermanfaat.
Dalam usaha menyelesaikan penulisan ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa hormat dan
terima kasih kepada:
1. dr. Hari Peni
2. Kedua orangtua yang telah memberikan dukungan dan doa
3. Semua teman-teman Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat UPNVeteran
Jakarta yang telah memberikan motivasi.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena
itu, dengan segala kerendahan hati penulis menerima saran dan kritik membangun guna
penyempurnaan penulisan ini.

Semarang, Juli 2014




Penulis

3

DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................................ 1
Kata Pengantar ............................................................................................................... 2
Daftar Isi .......................................................................................................................... 3
Daftar Tabel .................................................................................................................... 4
BAB I ISI ......................................................................................................................... 5
I.1. Ergonomi ................................................................................................................... 5
A. Definisi Ergonomi ................................................................................................. 5
B. Tujuan Ergonomi ................................................................................................. .6
C. Ruang Lingkup Ergonomi..................................................................................... 6
D. Manfaat Ergonomi ................................................................................................ 6
E. Metode-metode Ergonomi .................................................................................... 7
F. Pengembangan Penerapan Ergonomi ................................................................... 7
G. Keluhan-keluhan di Tempat Kerja yang Berkaitan dengan Ergonomi ............... 10
H. Waktu Bekerja dan Istirahat yang Baik bagi Pekerja ......................................... 10
I. Upaya Kesehatan Kerja....................................................................................... 11
I.2. Penyakit Akibat Kerja ........................................................................................... 13
A. Definisi Penyakit Akibat Kerja ........................................................................... 13
B. Penyebab Penyakit Akibat Kerja ........................................................................ 13
C. Klasifikasi Penyakit Akibat Kerja ...................................................................... 13
D. Macam-macam Penyakit Akibat Kerja ............................................................... 14
E. Diagnosis Penyakit Akibat Kerja ........................................................................ 18
F. Pencegahan Penyakit Akibat Kerja ..................................................................... 20
G. Pemeriksaan Kesehatan ...................................................................................... 22
BAB II Daftar Pustaka ................................................................................................. 23





4

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan ........................... 10
Tabel 2. Pedoman intensitas penerangan ........................................................................ 12


5

BAB I
ISI

I. 1. Ergonomi
A. Definisi Ergonomi
Ergonomi yaitu ilmu yang penerapannya berusaha untuk menyerasikan pekerjaan dan
lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan
efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan faktor manusia seoptimal-optimalnya.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan
kondisi tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya antara
lain berupa menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan,
pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban bertujuan agar sesuai dengan kebutuhan tubuh
manusia. Contoh: suatu perusahaan kerajinan mengubah cara kerja duduk di lantai dengan
bekerja di meja kerja, mengatur tata ruangan menjadi lebih baik, mengadakan ventilasi,
menambah penerangan, mengadakan ruang makan, mengorganisasi waktu istirahat,
menyelenggarakan pertandingan olahraga, dan lain-lain. Dengan usaha ini, keluhan-keluhan
tenaga kerja berkurang dan produksi tidak pernah terganggu oleh masalah-masalah
ketenagakerjaan. Dengan begitu, produksi dapat mengimbangi perluasan dari pemasaran.
Ergonomi mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan manusia.
Sasaran penelitian ergonomi ialah manusia pada saat bekerja dalam lingkungan. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa ergonomi ialah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi
tubuh manusia ialah untuk menurunkan stress atau tekanan yang akan dihadapi. Salah satu
upaya yang dilakukan antara lain menyesuaikan ukuran tempat kerja dengan dimensi tubuh
agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembaban. Hal ini bertujuan agar
sesuai dengan kebutuhan tubuh manusia. Ada salah satu definisi yang menyebutkan bahwa
ergonomi bertujuan untuk fitting the job to the worker. Ergonomi juga bertujuan sebagai
ilmu terapan biologi manusia dan hubungannya dengan ilmu teknik bagi pekerja dan
lingkungan kerjanya, agar mendapatkan kepuasan kerja yang maksimal selain meningkatkan
produktivitasnya.


6

B. Tujuan Ergonomi
Pelaksanaan dan penerapan ergonomi di tempat kerja di mulai dari yang sederhana
dan pada tingkat individual terlebih dahulu. Rancangan ergonomi akan dapat meningkatkan
efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja, serta dapat menciptakan sistem serta lingkungan
yang cocok, aman, nyaman dan sehat.
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental dengan meniadakan beban kerja
tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan meningkatkan
kepuasan kerja.
2. Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kontak
sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan menghidupkan sistem
kebersamaan dalam tempat kerja.
3. Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik, ekonomi,
antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan meningkatkan
efisiensi sistem manusia-mesin.

C. Ruang Lingkup Ergonomi
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi:
1. Tehnik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan gerakan otot dan
persendian
5. Sosiologi
6. Fisiologi, kaitanya dengan temperatur tubuh, oxygen up take, dan aktifitas otot
7. Desain, dll

D. Manfaat Ergonomi
1. Menurunnya angka kesakitan akibat kerja
2. Menurunnya kecelakaan kerja
3. Biaya pengobatan dan kompensasi berkurang
4. Stres akibat kerja berkurang
5. Produktivitas membaik
6. Alur kerja bertambah baik
7

7. Rasa aman karena bebas dari gangguan cedera
8. Kepuasan kerja meningkat

E. Metode-metode Ergonomi
1. Diagnosis : Dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat
kerja, penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomi checklist dan pengukuran
lingkungan kerja lainnya. Variasi akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai
kompleks.
2. Terapi : Dapat dilakukan dengan cara perubahan posisi mebel, letak pencahayaan atau
jendela yang sesuai, Membeli furnitur sesuai dengan dimensi fisik pekerja.
3. Follow up : Bisa dilakukan dengan cara menanyakan kenyamanan, bagian badan yang
sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan, sakit kepala dan lain-lain.

F. Pengembangan Penerapan Ergonomi
1. Pengorganisasian kerja
a. Semua sikap tubuh membungkuk atau sikap tubuh yang tidak alamiah harus
dihindari. Fleksi tubuh atau kepala ke arah samping lebih melelahkan dari
sedikit membungkuk ke depan. Sikap tubuh yang disertai paling sedikit
kontraksi otot statis dirasakan paling nyaman.
b. Posisi ekstensi lengan yang terus-menerus baik ke depan, maupun ke samping
harus dihindari. Selain menimbulkan kelelahan, posisi lengan seperti itu
sangat mengurangi ketepatan kerja dan keterampilan aktivitas tangan.
c. Selalu diusahakan agar bekerja dilakukan sambil duduk. Sikap kerja dengan
kemungkinan duduk dan berdiri silih berganti juga dianjurkan.
d. Kedua lengan harus bergerak bersama-sama atau dalam arah yang berlawanan.
Bila hanya satu lengan saja yang bergerak terus-menerus, maka otot-otot
tubuh yang lainnya akan berkontraksi statis. Gerakan berlawanan
memungkinkan pula pengendalian saraf yang lebih cermat terhadap kegiatan
pekerjaan tangan.

8

2. Bangku atau meja kerja
Pembuatan bangku dan meja kerja yang buruk atau mesin sering-sering adalah
penyebab kerja otot statis dan posisi tubuh yang tidak alamiah. Maka syarat-syarat
bangku kerja yang benar adalah sebagai berikut :
a. Tinggi area kerja harus sesuai sehingga pekerjaan dapat dilihat dengan mudah
dengan jarak optimal dan sikap duduk yang enak. Makin kecil ukuran benda,
makin dekat jarak lihat optimal dan makin tinggi area kerja.
b. Pegangan, handel, peralatan dan alat-alat pembantu kerja lainnya harus
ditempatkan sedemikian pada meja atau bangku kerja, agar gerakan-gerakan
yang paling sering dilakukan dalam keadaan fleksi.
c. Kerja otot statis dapat dihilangkan atau sangat berkurang dengan pemberian
penunjang siku, lengan bagian bawah, atau tangan. Topangan-topangan
tersebut harus diberi bahan lembut dan dapat di stel, sehingga sesuai bagi
pemakainya.
3. Sikap kerja
a. Tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga orang yang bekerja
dengan sikap duduk mendapatkan kenyamanan dan tidak mengalami
penekanan-penekanan pada bagian tubuh yang dapat mengganggu sirkulasi
darah.
b. Meja kerja tinggi permukaan atas meja dibuat setinggi siku dan disesuaikan
dengan sikap tubuh pada saat bekerja.
c. Luas pandangan daerah pandangan yang jelas bila pekerja berdiri tegak dan
diukur dari tinggi mata adalah 0-30 vertikal kebawah, dan 0-50 horizontal ke
kanan dan ke kiri.
4. Proses kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja
dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan ukuran anthropometri
barat dan timur.
5. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol
yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

9

6. Mengangkat beban
Bermacam cara dalam mengangkat beban yakni dengan kepala, bahu, tangan,
punggung, dan lain-lain. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera tulang
punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kegiatan-kegiatan mengangkat dan mengangkut adalah sebagai
berikut :
a. Beban yang diperkenakan, jarak angkut dan intensitas pembebanan.
b. Kondisi lingkungan kerja yaitu keadaan medan yang licin, kasar, naik turun,
dan lain-lain.
c. Keterampilan bekerja
d. Peralatan kerja beserta keamanannya.
Cara-cara mengangkut dan mengangkat yang baik harus memenuhi 2 prinsip kinetis,
yaitu:
1. Beban diusahakan menekan pada otot tungkai yang keluar dan sebanyak mungkin otot
tulang belakang yang lebih lemah dibebaskan dari pembebanan
2. Momentum gerak badan dimanfaatkan untuk mengawali gerakan.
Penerapannya adalah sebagai berikut :
1. Pegangan harus tepat
2. Lengan harus berada sedekatnya pada badan dan dalam posisi lurus
3. Punggung harus diluruskan
4. Dagu ditarik segera setelah kepala bisa di tegakkan lagi seperti pada permulaan
gerakan
5. Posisi kaki di buat sedemikian rupa sehingga mampu untuk mengimbangi momentum
yang terjadi dalam posisi mengangkat
6. Beban diusahakan berada sedekat mungkin terhadap garis vertical yang melalui pusat
grafitas tubuh
7. Menjinjing beban.


10

Tabel 1 Beban yang diangkat tidak melebihi aturan yang ditetapkan
Jenis kelamin Umur(th) Beban yang disarankan (kg)
Laki-laki 16-18 15-20
>18 40
Wanita 16-18 12-15
>18 15-20

G. Keluhan-keluhan di Tempat Kerja yang Berkaitan dengan Ergonomi
1. Ketidaktepatan kursi kerja, menyebabkan keluhan kepala, leher, bahu, pinggang,
bokong, lengan, tangan, lutut, kaki, dan paha.
2. Kelelahan fisik akibat kerja yang berlebihan, dimana masih dapat dikompensasi dan
diperbaiki performansnya seperti semula. Kalau tidak terlalu berat kelelahan ini bisa
hilang setelah istirahat dan tidur yang cukup.
a. Kelelahan yang sumber utamanya adalah mata (kelelahan visual). Mata
merupakan indera yang mempunyai peranan penting dalam penyelesaian
pekerjaan.
b. Kebisingan
Pengaruh kebisingan secara keseluruhan adalah:
1. Kerusakan pada indera pendengaran
2. Gangguan komunikasi dan timbulnya salah pengertian
3. Pengaruh faal seperti gangguan psikomotor, gangguan tidur dan efek-efek saraf
otonom
4. Efek psikologis

H. Waktu Bekerja dan Istirahat yang Baik bagi Pekerja
1. Lama bekerja. Lamanya bekerja dalam sehari yang baik pada umumnya 6-8 jam
sisanya untuk istirahat atau kehidupan dalam keluarga dan masyarakat. Dalam hal
lamanya kerja melebihi ketentuan-ketentuan yang ada, perlu diatur istirahat khusus
dengan mengadakan organisasi kerja secara khusus. Pengaturan kerja demikian
bertujuan agar kemampuan kerja dan kesegaran jasmani serta rohani dapat
dipertahankan.

11

2. Istirahat
Terdapat 4 jenis istirahat yaitu :
1. Istirahat secara spontan adalah istirahat pendek setelah pembebanan
2. Istirahat curian terjadi jika beban kerja tidak di imbangi oleh kemampuan kerja
3. Istirahat yang ditetapkan adalah istirahat atas dasar ketentuan perundang-undangan
4. Istirahat oleh karena proses kerja tergantung dari bekerjanya mesin peralatan atau
prosedur-prosedur kerja.

I. Upaya kesehatan kerja
1. Gizi dan produktivitas. Dalam bekerja seorang pekerja dalam kehidupannya
memerlukan kalori makanan yang cukup demi menunjang aktivitas para pekerja.
Adapun susunan yang baik bagi pekerja adalah sebagai berikut :
a. Makan pokok, yakni : Bahan makan yang lazim dimakan dengan porsi besar
sehingga diharapkan dapat menjamin tenaga (kalori) yang besar. Bahan
makanan setempat, yang mudah didapatkan atau yang sesuai dengan selera
keluarga. Bahan-bahan ini berupa beras, jagung, sagu, ubi, dan lain-lain.
b. Lauk pauk, yakni : Bahan makan yang lazim dapat menjamin pertumbuhan
tubuh atau mengganti bagian badan yang aus dan rusak. Bahan-bahan ini
berupa kedelai, kacang, tempe, tahu, dan lain-lain.
c. Sayuran, yakni : Bahan makan yang lazim dapat mempertahankan tubuh,
dalam keadaan sehat atau mempertahankan tubuh terhadap serangan atau
penyakit. Sayuran yang berwarna lebih baik khasiatnya misalnya kangkung,
bayam, wortel, tomat, dan lain-lain.
d. Buah, yakni : Bahan makan yang gunanya hampir seperti sayuran. Di
Indonesia buah terkenal sebagai pencuci mulut. Setelah makan dan biasa
dimakan dan sebagai maknan ekstra diluar waktu-waktu makan. Sebaiknya
buah-buahan yang sesuai dengan musimnya sebab relatif lebih murah.
2. Penerangan dan dekorasi
Penerangan dan dekorasi yaitu keserasian fungsi mata terhadap pekerjaan dan
kegairahan atas dasar faktor kejiwaan.

Intensitas penerangan
Tabel 2 Pedoman intensitas penerangan
12

Pekerjaan Contoh-contoh Tingkat penerangan yang
perlu
Tidak teliti Penimbunan barang 80 70
Agak teliti Pemasangan (tidak teliti) 170 350
Teliti Membaca, menggambar 350 700
Sangat teliti Pemasangan(teliti) 700 10.000

Warna di tempat kerja
Warna yang dipakai di tempat kerja sangat berpengaruh karena menimbulkan
penciptaan kontras warna agar tangkapan mata dan pengadaan lingkungan psikologis yang
optimal.
Pemeliharaan pendengaran dan penggunaan musik.
1. Kebisingan,efek dan pencegahannya
Adapun pengaruh kebisingan secara keseluruhan adalah:
o Kerusakan pada indera pendengaran
o Gangguan komunikasi dan timbulnya salah pengertian
o Pengaruh faal,seperti gangguan psikomotor, gangguan tidur, dan efek-efek saraf
otonom
o Efek psikologis yaitu perasaan terganggu dan ketidaksenangan
2. Musik dan pekerjaan
Musik dalam kerja diharapkan meningkatkan kegairahan dan kesegaran, tetapi musik
tidak dapat dipergunakan dalam pekerjaan yang memiliki kebisingan tinggi, karena pada
keadaan seperti itu musik menambah besarnya gangguan. Musik dapat dimainkan pada saat
sebelum bekerja, Ketika bekerja, pada waktu istirahat atau ketika pulang menurut keperluan.
3. Olahraga dan kesegaran jasmani
Mengingat pentingnya kesegaran jasmani untuk kesehatan dan produktivitas maka
pembinaan kesegaran jasmani perlu mendapat perhatian yang lebih, sungguh-sungguh baik
berupa pelaksanaan, pembinaan kesegaran jasmani yang khusus maupun melalui berbagai
kegiatan olahraga. Pembinaan kesegaran jasmani perlu dilaksanakan sejak seleksi karyawan
yang berupa tes kesegaran jasmani. Misalnya, program aerobik dari cooper.


13

I. 2. Penyakit Akibat Kerja
A. Definisi Penyakit Akibat Kerja
Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja,
bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian penyakit akibat kerja merupakan
penyakit yang artifisual atau man made disease.

B. Penyebab Penyakit Akibat Kerja (PAK)
Terdapat beberapa penyebab PAK yang umum terjadi di tempat kerja, Beberapa
jenisnya yang digolongkan berdasarkan penyebab dari penyakit yang ada di tempat kerja,
antara lain sebagai berikut:
1. Golongan fisik: bising, radiasi, suhu ekstrim, tekanan udara, vibrasi, penerangan
2. Golongan kimiawi: semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut
3. Golongan biologik: bakteri, virus, jamur, dan lain-lain
4. Golongan fisiologik/ergonomik: desain tempat kerja, beban kerja
5. Golongan psikososial: stres psikis, monotomi kerja, tuntutan pekerjaan, dan lain-lain.

C. Klasifikasi Penyakit Akibat Kerja
Dalam melakukan tugasnya di perusahaan seseorang atau sekelompok pekerja
berisiko mendapatkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja.
World Healthy Organization (WHO) membedakan empat kategori Penyakit Akibat
Kerja, yaitu:
1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis
2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma
Bronkhogenik
3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktor-faktor
penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis khronis
4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya,
misalnya asma.


14

D. Macam-macam Penyakit Akibat Kerja
Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis yang banyak dijumpai di daerah yang
memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi, yaitu:
a. Penyakit Silikosis
Penyakit Silikosis disebabkan oleh pencemaran debu silika bebas, berupa SiO2 yang
terhisap masuk ke dalam paru-paru dan kemudian mengendap. Debu silika bebas ini
banyak terdapat di pabrik besi dan baja, keramik, pengecoran beton, bengkel yang
mengerjakan besi (mengikir, menggerinda, dan lain-lain). Selain dari itu, debu silika
juga banyak terdapat di tempat-tempat penampang bijih besi, timah putih dan
tambang batubara. Pemakaian batubara sebagai bahan bakar juga banyak
menghasilkan debu silika bebas SiO2. Pada saat dibakar, debu silika akan keluar dan
terdispersi ke udara bersama-sama dengan partikel lainnya, seperti debu alumina,
oksida besi dan karbon dalam bentuk abu. Debu silika yang masuk ke dalam paru-
paru akan mengalami masa inkubasi sekitar 2 sampai 4 tahun. Masa inkubasi ini akan
lebih pendek, atau gejala penyakit silikosis akan segera tampak, apabila konsentrasi
silika di udara cukup tinggi dan terhisap ke paru-paru dalam jumlah banyak. Penyakit
silikosis ditandai dengan sesak nafas yang disertai batuk-batuk. Batuk ini seringkali
tidak disertai dengan dahak. Pada silikosis tingkah sedang, gejala sesak nafas yang
disertai terlihat dan pada pemeriksaan fototoraks kelainan paru-parunya mudah sekali
diamati. Bila penyakit silikosis sudah berat maka sesak nafas akan semakin parah dan
kemudian diikuti dengan hipertropi jantung sebelah kanan yang akan mengakibatkan
kegagalan kerja jantung. Tempat kerja yang potensial untuk tercemari oleh debu silika
perlu mendapatkan pengawasan keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan
yang ketat sebab penyakit silikosis ini belum ada obatnya yang tepat. Tindakan
preventif lebih penting dan berarti dibandingkan dengan tindakan pengobatannya.
Penyakit silikosis akan lebih buruk kalau penderita sebelumnya juga sudah menderita
penyakit Tubercullosis paru, bronchitis, asma bronchiale dan penyakit saluran
pernapasan lainnya. Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi
pekerja akan sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit
akibat kerja. Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan
sesudah bekerja perlu dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau
sewaktu waktu diperlukan.
b. Penyakit Asbestosis
15

Penyakit Asbestosis adalah penyakit akibat kerja yang disebabkan oleh debu atau
serat asbes yang mencemari udara. Asbes adalah campuran dari berbagai macam silika,
namun yang paling utama adalah Magnesium silika. Debu asbes banyak dijumpai pada
pabrik dan industri yang menggunakan asbes, pabrik pemintalan serat asbes, pabrik beratap
asbes dan lain sebagainya. Debu asbes yang terhirup masuk ke dalam paru-paru akan
mengakibatkan gejala sesak napas dan batuk-batuk yang disertai dengan dahak. Ujung-ujung
jari penderitanya akan tampak membesar/melebar. Apabila dilakukan pemeriksaan pada
dahak maka akan tampak adanya debu asbes dalam dahak tersebut. Pemakaian asbes untuk
berbagai macam keperluan kiranya perlu diikuti dengan kesadaran akan keselamatan dan
kesehatan lingkungan agar jangan sampai mengakibatkan asbestosis ini.
c. Penyakit Bisinosis
Penyakit Bisinosis adalah penyakit pneumoconiosis yang disebabkan oleh
pencemaran debu napas atau serat kapas di udara yang kemudian terhisap ke dalam paru-
paru. Debu kapas atau serat kapas ini banyak dijumpai pada pabrik pemintalan kapas, pabrik
tekstil, perusahaan dan pergudangan kapas serta pabrik atau bekerja lain yang menggunakan
kapas atau tekstil; seperti tempat pembuatan kasur, pembuatan jok kursi dan lain sebagainya.
Masa inkubasi penyakit bisinosis cukup lama, yaitu sekitar 5 tahun. Tanda-tanda awal
penyakit bisinosis ini berupa sesak napas, terasa berat pada dada, terutama pada hari Senin
(yaitu hari awal kerja pada setiap minggu). Secara psikis setiap hari Senin bekerja yang
menderita penyakit bisinosis merasakan beban berat pada dada serta sesak nafas. Reaksi
alergi akibat adanya kapas yang masuk ke dalam saluran pernapasan juga merupakan gejala
awal bisinosis. Pada bisinosis yang sudah lanjut atau berat, penyakit tersebut biasanya juga
diikuti dengan penyakit bronchitis kronis dan mungkin juga disertai dengan emphysema.
d. Penyakit Antrakosis
Penyakit Antrakosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh debu
batubara. Penyakit ini biasanya dijumpai pada pekerja-pekerja tambang batubara atau pada
pekerja-pekerja yang banyak melibatkan penggunaan batubara, seperti pengumpa batubara
pada tanur besi, lokomotif (stoker) dan juga pada kapal laut bertenaga batubara, serta pekerja
boiler pada Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batubara. Masa inkubasi
penyakit ini antara 2 4 tahun. Seperti halnya penyakit silikosis dan juga penyakit-penyakit
pneumoconiosis lainnya, penyakit antrakosis juga ditandai dengan adanya rasa sesak napas.
Karena pada debu batubara terkadang juga terdapat debu silika maka penyakit antrakosis juga
sering disertai dengan penyakit silikosis. Bila hal ini terjadi maka penyakitnya disebut
silikoantrakosis. Penyakit antrakosis ada tiga macam, yaitu penyakit antrakosis murni,
16

penyakit silikoantrakosis dan penyakit tuberkulosilikoantrakosis. Penyakit antrakosis murni
disebabkan debu batubara. Penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadi
berat, dan relatif tidak begitu berbahaya. Penyakit antrakosis menjadi berat bila disertai
dengan komplikasi atau emphysema yang memungkinkan terjadinya kematian. Kalau terjadi
emphysema maka antrakosis murni lebih berat daripada silikoantrakosis yang relatif jarang
diikuti oleh emphysema. Sebenarnya antara antrakosis murni dan silikoantrakosis sulit
dibedakan, kecuali dari sumber penyebabnya. Sedangkan penyakit tuberkulosilikoantrakosis
lebih mudah dibedakan dengan kedua penyakit antrakosis lainnya. Perbedaan ini mudah
dilihat dari fototoraks yang menunjukkan kelainan pada paru-paru akibat adanya debu
batubara dan debu silika, serta juga adanya basil tuberkulosis yang menyerang paru-paru.
e. Penyakit Beriliosis
Udara yang tercemar oleh debu logam berilium, baik yang berupa logam murni,
oksida, sulfat, maupun dalam bentuk halogenida, dapat menyebabkan penyakit saluran
pernapasan yang disebut beriliosis. Debu logam tersebut dapat menyebabkan nasoparingitis,
bronchitis dan pneumonitis yang ditandai dengan gejala sedikit demam, batuk kering dan
sesak napas. Penyakit beriliosis dapat timbul pada pekerja-pekerja industri yang
menggunakan logam campuran berilium, tembaga, pekerja pada pabrik fluoresen, pabrik
pembuatan tabung radio dan juga pada pekerja pengolahan bahan penunjang industri nuklir.
Selain dari itu, pekerja-pekerja yang banyak menggunakan seng (dalam bentuk silika) dan
juga mangan, dapat juga menyebabkan penyakit beriliosis yang tertunda atau delayed
berryliosis yang disebut juga dengan beriliosis kronis. Efek tertunda ini bisa berselang 5
tahun setelah berhenti menghirup udara yang tercemar oleh debu logam tersebut. Jadi lima
tahun setelah pekerja tersebut tidak lagi berada di lingkungan yang mengandung debu logam
tersebut, penyakit beriliosis mungkin saja timbul. Penyakit ini ditandai dengan gejala mudah
lelah, berat badan yang menurun dan sesak napas. Oleh karena itu pemeriksaan kesehatan
secara berkala bagi pekerja-pekerja yang terlibat dengan pekerja yang menggunakan logam
tersebut perlu dilaksanakan terus-menerus.

Adapun beberapa penyakit akibat kerja, antara lain:
a. Penyakit Saluran Pernafasan
PAK pada saluran pernafasan dapat bersifat akut maupun kronis. Akut misalnya asma
akibat kerja. Sering didiagnosis sebagai tracheobronchitis akut atau karena virus.
Kronis, missal: asbestosis. Seperti gejala Chronic Obstructive Pulmonary Disease
17

(COPD). Edema paru akut. Dapat disebabkan oleh bahan kimia seperti nitrogen
oksida.
b. Penyakit Kulit
Pada umumnya tidak spesifik, menyusahkan, tidak mengancam kehidupan, kadang
sembuh sendiri. Dermatitis kontak yang dilaporkan, 90% merupakan penyakit kulit
yang berhubungan dengan pekerjaan. Penting riwayat pekerjaan dalam
mengidentifikasi iritan yang merupakan penyebab, membuat peka atau karena faktor
lain.
c. Kerusakan Pendengaran
Banyak kasus gangguan pendengaran menunjukan akibat pajanan kebisingan yang
lama, ada beberapa kasus bukan karena pekerjaan. Riwayat pekerjaan secara detail
sebaiknya didapatkan dari setiap orang dengan gangguan pendengaran. Dibuat
rekomendasi tentang pencegahan terjadinya hilangnya pendengaran.
d. Gejala pada Punggung dan Sendi
Tidak ada tes atau prosedur yang dapat membedakan penyakit pada punggung yang
berhubungan dengan pekerjaan daripada yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
Penentuan kemungkinan bergantung pada riwayat pekerjaan. Artritis dan
tenosynovitis disebabkan oleh gerakan berulang yang tidak wajar.
e. Kanker
Adanya presentase yang signifikan menunjukan kasus kanker yang disebabkan oleh
pajanan di tempat kerja. Bukti bahwa bahan di tempat kerja, karsinogen sering kali
didapat dari laporan klinis individu dari pada studi epidemiologi. Pada kanker pajanan
untuk terjadinya karsinogen mulai >20 tahun sebelum diagnosis.
f. Coronary Artery Disease
Oleh karena stres atau karbonmonoksida (CO) dan bahan kimia lain di tempat kerja.
g. Penyakit Liver
Sering di diagnosis sebagai penyakit liver oleh karena hepatitis virus atau sirosis
karena alkohol. Penting riwayat tentang pekerjaan, serta bahan toksik yang ada.
h. Masalah Neuropsikiatrik
Masalah neuropsikiatrik yang berhubungan dengan tempat kerja sering diabaikan.
Neuropati perifer, sering dikaitkan dengan diabet, pemakaian alkohol atau tidak
diketahui penyebabnya, depresi SSP oleh karena penyalahgunaan zat-zat atau masalah
psikiatri. Kelakuan yang tidak baik mungkin merupakan gejala awal dari stres yang
berhubungan dengan pekerjaan. Lebih dari 100 bahan kimia (antara lain: solven)
18

dapat menyebabkan depresi SSP. Beberapa neurotoksin (termasuk arsen, timah,
merkuri, methyl, butyl ketone) dapat menyebabkan neuropati perifer. Karbon
Disulfide dapat menyebabkan gejala seperti psikosis.
i. Penyakit yang Tidak Diketahui Sebabnya
Alergi dan gangguan kecemasan mungkin berhubungan dengan bahan kimia atau
lingkungan. Sick building syndrome, Multiple Chemical Sensitivities (MCS), misal:
parfum, derivate petroleum, rokok.

E. Diagnosis Penyakit Akibat Kerja
Untuk dapat mendiagnosis PAK pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan
sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara
tepat. Pendekatan tersebut dapat disusun menjadi 7 langkah yang dapat digunakan sebagai
pedoman:
1. Tentukan diagnosis klinisnya
Diagnosis klinis harus dapat ditegakkan terlebih dahulu, dengan memanfaatkan
fasilitas-fasilitas penunjang yang ada, seperti umumnya dilakukan untuk
mendiagnosis suatu penyakit. Setelah diagnosis klinik ditegakkan baru dapat
dipikirkan lebih lanjut apakah penyakit tersebut berhubungan dengan pekerjaan atau
tidak.
2. Tentukan pajanan yang dialami oleh tenaga kerja selama ini
Pengetahuan mengenai pajanan yang dialami oleh seorang tenaga kerja adalah
esensial untuk dapat menghubungkan suatu penyakit dengan pekerjaannya. Untuk ini
perlu dilakukan anamnesis mengenai riwayat pekerjaannya secara cermat dan teliti,
yang mencakup:
o Penjelasan mengenai semua pekerjaan yang telah dilakukan oleh penderita
secara kronologis
o Lamanya melakukan masing-masing pekerjaan
o Bahan yang diproduksi
o Materi (bahan baku) yang digunakan
o Jumlah pajanannya
o Pemakaian alat perlindungan diri (masker)
o Pola waktu terjadinya gejala
o Informasi mengenai tenaga kerja lain (apakah ada yang mengalami gejala
serupa)
19

o Informasi tertulis yang ada mengenai bahan-bahan yang digunakan (MSDS,
label, dan sebagainya)
3. Tentukan apakah pajanan tersebut memang dapat menyebabkan penyakit tersebut
Apakah terdapat bukti-bukti ilmiah dalam kepustakaan yang mendukung pendapat
bahwa pajanan yang dialami menyebabkan penyakit yang diderita. Jika dalam
kepustakaan tidak ditemukan adanya dasar ilmiah yang menyatakan hal tersebut di
atas, maka tidak dapat ditegakkan diagnosa penyakit akibat kerja. Jika dalam
kepustakaan ada yang mendukung,
4. Tentukan apakah jumlah pajanan yang dialami cukup besar untuk dapat
mengakibatkan penyakit tersebut.
Jika penyakit yang diderita hanya dapat terjadi pada keadaan pajanan tertentu, maka
pajanan yang dialami pasien di tempat kerja menjadi penting untuk diteliti lebih lanjut
dan membandingkannya dengan kepustakaan yang ada untuk dapat menentukan
diagnosis penyakit akibat kerja.
5. Tentukan apakah ada faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi
Apakah ada keterangan dari riwayat penyakit maupun riwayat pekerjaannya, yang
dapat mengubah keadaan pajanannya, misalnya penggunaan Alat Pelindung Diri
(APD), riwayat adanya pajanan serupa sebelumnya sehingga risikonya meningkat.
Apakah pasien mempunyai riwayat kesehatan (riwayat keluarga) yang mengakibatkan
penderita lebih rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami.
6. Cari adanya kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit
Apakah ada faktor lain yang dapat merupakan penyebab penyakit? Apakah penderita
mengalami pajanan lain yang diketahui dapat merupakan penyebab penyakit.
Meskipun demikian, adanya penyebab lain tidak selalu dapat digunakan untuk
menyingkirkan penyebab di tempat kerja.

7. Buat keputusan apakah penyakit tersebut disebabkan oleh pekerjaannya
Sesudah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan
berdasarkan informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah
disebutkan sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu
penyakit, kadang-kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada
sebelumnya. Hal ini perlu dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu
pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai penyebab suatu penyakit apabila tanpa
melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan tertentu, pasien tidak akan menderita
20

penyakit tersebut pada saat ini. Sedangkan pekerjaan dinyatakan memperberat suatu
keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu yang sama tanpa
tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya memperberat/mempercepat
timbulnya penyakit.

Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa untuk menegakkan diagnosis Penyakit
Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang spesifik, tersedianya berbagai informasi yang
didapat baik dari pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di tempat kerja (bila
memungkinkan) dan data epidemiologis.

F. Pencegahan Penyakit Akibat Kerja
Pencegahan penyakit akibat kerja, diantaranya:
1. Pakailah alat pelindung diri secara benar dan teratur
2. Kenali resiko pekerjaan dan cegah supayah tidak terjadi lebih lanjut
3. Segara akses tempat kesehatan terdekat apabila terjadi luka yng berkelanjutan
Selain itu terdapat pula beberapa pencegahan lain yang dapat ditempuh agar bkerja
bukan menjadi lahan untuk menuai penyakit.
a. Pencegahan Primer
o Perilaku kesehatan
o Faktor bahaya di tempat kerja
o Perilaku kerja yang baik
o Olahraga
o Gizi

b. Pencegahan Sekunder
o Pengendalian melalui perundang-undangan
o Pengendalian administratif/organisasi: rotasi/pembatasan jam kerja
o Pengendalian teknis: subtitusi, isolasi, Alat Pelindung Diri (APD)
o Pengendalian jalur kesehatan imunisasi
c. Pencegahan Tertier
o Pemeriksaan kesehatan prakerja
o Pemeriksaan kesehatan berkala
o Pemeriksaan lingkungan secara berkala
o Surveilans
21

o Pengobatan segera bila ditemukan gangguan pada kerja
o Pengendalian segera ditempat kerja
Dalam pengendalian penyakit akibat kerja, salah satu upaya yang wajib dilakukan
adalah deteksi dini, seningga pengobatan bisa dilakukan secepat mungkin. Dengan
demikian, penyakit bisa pulih tanpa menimbulka kecacatan. Sekurang-kurangnya,
tidak menimbulkan kecacatan lebih lanjut.

Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja bersifat berat dan mengakibatkan cacat.
Namun demikian ada dua faktor yang membuat penyakit ini mudah dicegah:
o Pertama: bahan penyebab penyakit mudah diidentifikasi, diukur dan dikontrol
o Kedua: populasi yang berisiko biasanya mudah didatangi dan dapat diawasi secara
teratur serta dilakukan pengobatan.
Disamping itu perubahan awal seringkali bisa pulih dengan penanganan yang tepat.
Karena itulah deteksi dini penyakit akibat kerja sangatlah penting.
Sekurang-kurangnya ada tiga hal menurut WHO yang dapat dijadikan sebagai
pedoman dalam deteksi dini yaitu:
1. Perubahan biokimiawi dan morfologis yang dapat di ukur melalui analisis
laboratorium. Misalnya hambatan aktifitas kolinesterase pada paparan terhadap
pestisida organofosfat, penurunan kada hemoglobin (Hb), sitologi sputum yang
abnormal dan sebagainya.
2. Perubahan kondisi fisik dan sistem tubuh yang dapat dinilai melalui pemeriksaan
fisik laboraturium. Misalnya elektrokardiogram, uji kapsitas kerja fisik, uji saraf dan
sebagainya.
3. Perubahan kesehatan umum yang dapat dinilai dari riwayat medis. Misalnya rasa
kantuk dan iritasi mukosa setelah paparan terhadap pelarut-pelarut organik.

G. Pemeriksaan Kesehatan
1. Pemeriksaan sebelum penempatan
Pemeriksaan ini dilakukan sebelum seorang dipekerjakan atau ditempatkan pada post
pekerjaan tertentu dengan ancaman terhadap kesehatan yang mungkin terjadi.
Pemeriksaan fisik yang di tunjang dengan pemeriksaan lain seperti darah, urine,
radiologis, serta organ tertentu, seperti mata dan telinga, merupakan data dasar yang
sangat berguna apabila terjadi gangguan kesehatan tenaga kerja setelah sekian lama
bekerja.
22

2. Pemeriksaan kesehatan berkala
Pemeriksaan kesehatan berkala sebenarnya dilaksanakan dengan selang waktu teratur
setelah pemeriksaan awal sebelum penempatan. Pada medical check-up rutin tidak
selalu diperlukan pemeriksaan medis lengkap, terutama bila tidak ada indkasi yang
jelas. Pemeriksaan ini juga harus difokuskan pada organ dan sistem tubuh yang
memungkinkan terpengaruh bahan-bahan berbahaya di tempat kerja, sebagai contoh,
audiometri adalah uji yang sangat penting bagi tenaga kerja yang bekerja pada
lingkungan kerja yang bising. Sedang pemerikaan foto thoraks penting untuk
mendeteksi tenaga kerja yang berisiko menderita pneumokonosis, karena lingkungan
kerja tercemar debu.

23

BAB II
DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.ergoweb.com/news/SubscribeNewsletter.cfm
2. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/02/tugas-ergonomi-3/
3. Poerwanto, Helena dan Syaifullah. Hukum Perburuhan Bidang Kesehatan dan
Keselamatan Kerja. Jakarta, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
2005.
4. Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI
http://ariagusti.wordpress.com/2010/10/17/tugas-kelompok-ergonomi di-tempat-kerja/
5. Silalahi, Bennett N.B, dkk, 1991. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja,
Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
6. Suma'mur, 1985, Keselamatan kerja dan pencegahan kecelakaan, Jakarta: Gunung
Agung.
7. Sumamur, 1989, Ergonomi Untuk Produktivitas Kerja, Jakarta, Cermin Dunia
Kedokteran No. 154, 2007.
8. Sumamur, 1990, Upaya kesehatan kerja sektor informal di Indonesia, Jakarta:
Direktorat Bina Peran Masyarakat Depkes RT.
9. Suma'mur, 1991, Higene perusahaan dan kesehatan kerja, Jakarta: Gunung Agung.