Anda di halaman 1dari 12

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kesejahteraan rakyat merupakan salah satu tujuan dari suatu Negara Indonesia yang
tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yang mana tujuan tersebut haruslah dicapai. Maka dari
itu untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah melakukan sistem otonomi daerah yang mana
otonomi daerah ini merupakan suatu pemberian wewenang pemerintah pusat kepada pemerintah
daerah untuk mengatur masyarakat didaerahnya. Otonomi daerah ini juga dilakukan agar
kesejahteraan yang didapat oleh seluruh masyarakatnya dapat merata atau tidak hanya sebagian
orang saja yang merasakan kesejahteraan.
Dengan adanya otonomi daerah ini juga maka seluruh daerah masing masing mengurus
masalahnya sendiri, contohnya seperti merancang apa yang disebut dengan APBD. APBD atau
disebut dengan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah adalah suatu rencana keuangan yang
disusun oleh pemerintah daerah yang mana pada sebelumnya telah dibahas dan telah disetujui
oleh pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ( DPRD ), dan telah ditetapkan
dengan Peraturan Daerah.
Dalam APBD ini terdapat anggaran dan realisasi penerimaan dan belanja daerah dalam 1
tahun. Penerimaan Daerah dapat dikatakan sebagai uang yang masuk ke dalam kas daerah
(Nurlan Darise, 2009 : 42). Penerimaan daerah berasal dari Pendapatan Asli Daerah yang terdiri
dari Pajak daerah, retribusi daerah dan pendapatan lainnya yang sah. Selain itu pendapatan
2

daerah dapat juga yang berasal dari bantuan pemerintah pusat yang disebut dengan Dana
perimbangan yang terdiri dari Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum ( DAU ) dan Dana Alokasi
Khusus ( DAK ). Sedangkan belanja daerah merupakan pengeluaran yang dilakukan oleh suatu
daerah dalam satu tahun yang mana tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah (
Nurlan Darise, 2009 : 131 ).
APBD masing masing daerah memiliki nilai yang berbeda beda. Adanya perbedaan
ini salah satunya disebabkan oleh berbedanya jumlah Pengeluaran untuk kebutuhan masing
masing daerah dan jumlah pendapatan yang didapat oleh masing masing daerah tersebut.
Seperti yang tadi telah dikatakan bahwa sumber pendapatan setiap daerah terbagi 2, yaitu
Pendapatan asli daerah yang terdiri dari pajak daerah, retribusi daerah, Hasil pengelolaan
kekayaan daerah dan lain lain PAD yang sah yang diterima oleh masing masing daerah. Dari
4 macam sumber PAD tadi, yang paling banyak terdengar dari macam PAD hanyalah
pendapatan yang berasal dari pajak dan retribusi daerah. Pajak daerah merupakan Iuran wajib
yang dilakukan oleh orang pribadi ataupun badan kepada daerah tanpa adanya imbalan secara
langsung yang seimbang yang mana iuran ini dapat dipaksakan berdasarkan peraturan undang
undang yang berlaku ( PP no 65 tahun 2001 ). Sedangkan yang dimaksud dengan retribusi daerah
retribusi daerah adalah pungutan yang dilakukan oleh daerah sebagai pembayaran atas jasa atau
pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk
kepentingan orang pribadi ataupun badan ( Nurlan Darise, 2009 : 67 ).
Jumlah pajak dan retribusi yang diterima oleh masing masing daerah pun bermacam
macam nilainya, ada daerah yang memiliki jumlah pajak daerah yang tinggi ada pula yang
memiliki jumlah pajak daerah dan retribusi daerah yang rendah. Perbedaan jumlah pajak yang
diterima oleh setiap daerah dapat dikarenakan oleh jumlah penduduk dan tingkat kemiskinan
3

yang ada di daerah tersebut. Semakin banyak penduduk yang ada di suatu daerah maka
kemungkinan akan semakin besar pula jumlah pendapatan pajak daerah yang akan diterima oleh
pemerintah daerah tersebut. Selain jumlah penduduk, kemiskinan pun cukup berpengaruh
terhadap pendapatan pajak daerah yang diterima oleh pemerintah daerah. Jika rata rata
penduduk di suatu daerah miskin maka ini tidak akan memperbesar tingkat pendapatan pajak
daerah karena mereka tidak mampu untuk membayar pajak, sehingga dapat dikatakan
kemiskinan pun mempunyai pengaruh yang cukup besar.
Seperti halnya yang ada di salah satu provinsi di Indonesia yaitu provinsi Jawa Barat
yang mana jumlah kota dan kabupaten di provinsi ini adalah 26 kota dan kabupaten yang terdiri
dari 17 kabupaten dan 9 kota yang mana masing masing kota dan kabupatennya ini memiliki
nilai Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) yang berbeda beda, yaitu sebagai berikut :
Tabel 1.1
Jumlah PAD di kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat Tahun 2010
No Kab/ Kota PAD
1 Kab. Bandung Rp152.549.655.824
2 Kab. Bandung Barat Rp50.700.000.000
3 Kab. Bekasi Rp258.671.098.123
4 Kab. Bogor Rp399.263.956.504
5 Kab. Ciamis Rp50.512.875.943
6 Kab. Cianjur Rp185.635.107.450
7 Kab. Cirebon Rp139.426.725.461
8 Kab. Garut Rp108.914.763.970
9 Kab. Indramayu Rp101.840.184.230
10 Kab. Karawang Rp186.949.234.601
11 Kab. Kuningan Rp68.158.690.000
12 Kab. Majalengka Rp76.398.518.123
13 Kab. Purwakarta Rp76.489.287.145
14 Kab. Subang Rp75.532.290.000
15 Kab. Sukabumi Rp98.439.617.628
4

16 Kab. Sumedang Rp108.646.804.000
17 Kab. Tasikmalaya Rp48.338.061.521
18 kota Bandung Rp441.871.141.000
19 kota Banjar Rp37.358.705.002
20 kota Bekasi Rp296.046.878.712
21 kota Bogor Rp127.488.089.831
22 kota Cimahi Rp87.321.279.805
23 kota Cirebon Rp115.194.687.763
24 kota Depok Rp128.229.298.877
25 kota Sukabumi Rp91.472.357.185
26 kota Tasikmalaya Rp104.773.656.468
Sumber data : BPS Jawa barat
Dari data diatas dapat dilihat bahwa PAD yang diterima setiap daerah berbeda beda
nilainya. Dari nilai PAD yang diterima oleh seluruh kota dan kabupaten yang ada di Jawa Barat
diatas dapat dilihat bahwa kota Bandung merupakan kota yang memiliki nilai PAD tertinggi
pada tahun 2010, yaitu sebesar Rp 441.871.141.000,00 diikuti dengan kabupaten Bogor dan kota
Bekasi yang masing masing nilainya adlaah sebesar Rp 399.263.956.504,00 dan
Rp296.046.878.712,00. Sementara itu, daerah yang paling rendah memiliki PAD adalah
Kabupaten Tasikmalaya yang nilainya sebesar Rp 48.338.061.521,00.
Sementara itu selain sumber pendapatan yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah,
sumber pendapatan lain yang didapat masing masing daerah adalah sumber dana yang berasal
dari dana yang diberikan oleh pemerintah pusat yang terdiri dari Dana Alokasi Umum ( DAU )
dan Dana Alokasi Khusus ( DAK ). Dana Alokasi Umum ( DAU ) dapat dikatakan sebagai dana
yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan untuk pemerataan
kemampuan keuangan daerah, untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi ( UU No 33 tahun 2004 ). Sedangkan untuk Dana Alokasi Khusus ( DAK ) dapat
dikatakan sebagai dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah
5

tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan
daerah dan sesuai dengan prioritas nasional ( UU No 33 tahun 2004 ).
Dana Alokasi Umum ( DAU ) dan Dana Alokasi Khusus yang didapat oleh masing
masing kota / kabupaten di suatu provinsi pun nilainya berbeda- beda, ini dikarenakan kebutuhan
dalam melakukan suatu belanja daerah di setiap daerah masing - masing berbeda beda, oleh
karena itu DAU dan DAK yang diberikan pun nilainya berbeda beda. Berikut adalah nilai
DAU dan DAK dari kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat :
Tabel 1.2
Jumlah DAU dan DAK di kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat Tahun 2010
No Kab/ Kota DAU DAK
1 Kab. Bandung Rp1.080.215.507.000 Rp30.627.934.000
2 Kab. Bandung Barat Rp584.620.000.000 Rp89.460.000.000
3 Kab. Bekasi Rp536.786.256.000 Rp83.699.900.000
4 Kab. Bogor Rp1.115.703.641.000 Rp143.081.300.000
5 Kab. Ciamis Rp867.400.725.000 Rp92.253.900.000
6 Kab. Cianjur Rp1.041.234.285.000 Rp454.355.804.000
7 Kab. Cirebon Rp867.300.289.000 Rp81.189.200.000
8 Kab. Garut Rp1.031.869.766.000 Rp119.553.000.000
9 Kab. Indramayu Rp782.462.654.200 Rp91.968.900.000
10 Kab. Karawang Rp714.360.098.000 Rp97.141.100.000
11 Kab. Kuningan Rp660.391.147.000 Rp77.738.300.000
12 Kab. Majalengka Rp717.458.878.600 Rp62.322.500.000
13 Kab. Purwakarta Rp651.229.105.746 Rp45.686.781.969
14 Kab. Subang Rp712.690.907.000 Rp58.051.000.000
15 Kab. Sukabumi Rp871.927.247.000 Rp95.938.500.000
16 Kab. Sumedang Rp736.519.231.400 Rp297.482.129.000
17 Kab. Tasikmalaya Rp921.834.109.200 Rp60.545.500.000
18 kota Bandung Rp989.233.620.000 Rp45.609.711.000
19 kota Banjar Rp217.383.597.000 Rp15.658.600.000
20 kota Bekasi Rp647.082.121.000 Rp11.175.825.000
21 kota Bogor Rp426.093.607.000 Rp9.756.700.000
22 kota Cimahi Rp333.439.320.000 Rp27.927.200.000
6

23 kota Cirebon Rp412.007.037.000 Rp4.671.000.000
24 kota Depok Rp461.602.957.000 Rp35.765.900.000
25 kota Sukabumi Rp314.420.182.400 Rp23.090.700.000
26 kota Tasikmalaya Rp426.764.264.000 Rp28.793.200.000
Sumber data : BPS Jawa Barat
Dari data DAU kota dan kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Barat diatas, dapat dilihat
bahwa kabupaten Bogor lah yang memiliki nilai DAU terbesar yaitu sebesar
Rp1.080.215.507.000,00, disusul dengan kabupaten Bandung dan kabupaten Cianjur dengan
nilai masing masing sebesar Rp1.080.215.507.000,00 dan Rp1.041.234.285.000,00.
Sementara itu daerah yang memiliki DAU terkecil adalah kota Banjar, yaitu sebesar
Rp217.383.597.000,00. Untuk DAK terbesar ada di daerah Kabupaten Cianjur dengan nilai
sebesar Rp454.355.804.000,00 sedangkan daerah terkecil yang memiliki jumlah terkecil adalah
Kota Bogor dengan jumlah sebesar Rp9.756.700.000,00.
Sumber dana yang telah didapat oleh masing masing daerah baik itu dari pendapatan
asli daerah maupun pendapatan yang berasal dari pemerintah pusat dapat dipergunakan oleh
masing masing daerah tersebut untuk mensejahterakan masyarakatnya yaitu dengan melakukan
suatu belanja yang biasanya disebut dengan belanja daerah. Belanja daerah ini berdasarkan
jenisnya terbagi ke dalam 2 macam, yaitu belanja langsung dan belanja tidak langsung. Belanja
langsung merupakan belanja yang penganggarannya dipengaruhi secara langsung oleh adanya
suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam membantu
mensejaherakan masyarakatnya ( Nurlan Darise, 2009 : 136 ), Sedangkan belanja tidak langsung
adalah belanja yang penganggarannya tidak dipengaruhi secara langsung oleh adanya suatu
program aau kegiatan ( Nurlan Darise, 2009 : 133 ).
Jumlah belanja yang dikeluarkan oleh setiap daerah pun berbeda beda, sama seperti
halnya dengan pendapatan yang diterima. Seperti halnya yang dilakukan oleh masing masing
7

pemerintah daerah di kota dan kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Barat yang mana setiap
kota dan kabupaten menganggarkan belanja daerah sesuai dengan kebutuhannya masing
masing. Dari 2 jenis belanja yaitu belanja langsung dan belanja tidak langsung yang harus
dikerjakan dengan serius adalah belanja langsung. Ini dikarenakan Belanja langsung dapat
dikatakan sebagai Belanja daerah yang dapat membantu mensejahterakan seluruh masyarakat di
daerah masing masing, karena belanja ini menganggarkan secara langsung dalam
melaksanakan program ataupun dalam menyediakan pelayanan public yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Pelayanan public adalah kegiatan ataupun serangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan yang sesuai dengan peraturan perundang undangan bagi
setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa dan pelayanan adminstratif yang disediakan
oleh penyelenggara pelayanan public ( UU No 25 Tahun 2009 ). Berikut adalah data belanja
langsung daerah yang dilakukan oleh kota dan kabupaten yang ada di provinsi Jawa Barat pada
tahun 2010 :
Tabel 1.3
Jumlah Belanja langsung daerah yang dikeluarkan oleh kota dan kabupaten di provinsi
Jawa Barat tahun 2010
No Kab/ Kota Belanja Langsung
1 Kab. Bandung Rp148.925.370.067
2 Kab. Bandung Barat Rp1.010.280.000.000
3 Kab. Bekasi Rp747.375.175.177
4 Kab. Bogor Rp1.237.171.424.579
5 Kab. Ciamis Rp120.099.464.487
6 Kab. Cianjur Rp454.355.804.000
7 Kab. Cirebon Rp490.993.074.448
8 Kab. Garut Rp455.078.631.170
9 Kab. Indramayu Rp341.629.526.990
10 Kab. Karawang Rp532.208.528.411
11 Kab. Kuningan Rp293.590.927.000
12 Kab. Majalengka Rp330.366.178.745
8

13 Kab. Purwakarta Rp126.161.699.177
14 Kab. Subang Rp286.489.840.000
15 Kab. Sukabumi Rp564.983.894.000
16 Kab. Sumedang Rp297.482.129.000
17 Kab. Tasikmalaya Rp314.591.929.856
18 kota Bandung Rp893.517.290.000
19 kota Banjar Rp143.126.037.942
20 kota Bekasi Rp786.813.001.490
21 kota Bogor Rp165.939.883.691
22 kota Cimahi Rp175.552.719.651
23 kota Cirebon Rp350.663.848.156
24 kota Depok Rp632.493.478.968
25 kota Sukabumi Rp50.596.285.951
26 kota Tasikmalaya Rp318.639.356.494
Sumber data : BPS Jawa Barat.
Dari data diatas dapat dilihat bahwa kabupaten Bogor lah yang merupakan daerah yang
paling tinggi dalam melakukan belanja langsung daerah yaitu dengan nilai
Rp1.237.171.424.579,00 dan disusul dengan kabupaten Bandung Barat yang juga melakukan
belanja langsung daerah yang tinggi yaitu sebesar Rp 1.010.280.000.000,00. Sementara itu,
daerah yang paling sedikit atau paling kecil nilainya dalam melakukan belanja langsung daerah
adalah kota Sukabumi yaitu sebesar Rp 50.596.285.951,00.
Pada dasarnya Belanja daerah yang menyediakan pelayanan public ini disebut juga
sebagai belanja yang berdasarkan fungsi utama dari pemerintah daerah dalam memberikan
pelayanan umum kepada masyarakat. Pelayanan public yang dapat disediakan oleh pemerintah
daerah ini seperti pelayanan kesehatan, pendidikan, keamanan, prumahan rakyat, penataan ruang,
perlindungan lingkungan hidup dan pelayanan lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Dalam melaksanakan program ataupun menyediakan pelayanan public ini, setiap daerah
seharusnya sudah mandiri dalam melakukannya. Maksud dari mandiri disini adalah dalam
penyediaan pelayanan public yang mana diwakili oleh dengan adanya belanja langsung, dana
9

yang digunakan harus lebih besar peranan dari Pendapatan Asli Daerah bukan dari dana
perimbangan yang terdiri dari DAU dan DAK yang lebih besar peranannya. Jika yang terjadi
pada suatu kota atau kabupaten yang menggunakan dana DAU dan DAK lebih besar daripada
PAD dalam melakukan belanja daerah maka kota atau kabupaten tersebut dapat disebut kota atau
kabupaten yang belum mandiri atau dapat juga dikatakan telah terjadi Flypaper Effect. Flypaper
Effect merupakan suatu kondisi yang terjadi pada saat pemerintah daerah merespon belanja
daerah dengan lebih banyak mengandalkan atau menggunakan dana transfer yang berasal dari
pemerintah pusat yang terdiri daeri DAU dan DAK dibandingkan dengan menggunakan
kemampuan daerahnya sendiri yang berasal dari PAD ( Maimunah, 2006 ).
Suatu daerah harus menggunakan peranan PAD yang lebih besar dalam melakukan
belanja langsung daerah dikarenakan agar pemerintah daerah dapat melaksanakan konsep dari
pajak yang mana merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah yang terbesar dalam
mempengaruhi besarnya Pendapatan Asli Daerah yang dimiliki oleh setiap daerah. Konsep dari
Pajak itu sendiri adalah suatu iuran yang wajib dikeluarkan oleh seseorang ataupun badan yang
tanpa ada balasannya secara langsung kepada seseorang atau badan yang membayarnya, namun
timbal balik yang didapat oleh orang ataupun badan yang telah membayar tersebut adalah degan
adanya infrastruktur / program / pelayanan public yang dapat dinikmatinya secara gratis yang
dapat membantu mensejahterakan seluruh masyarakat. Maka dari itulah harus lebih besar
peranan dari pendapatan asli daerah dalam melaksanakan Belanja Langsung yang berhubungan
langsung dengan pelaksanaan program dan penyediaan pelayanan public.
Berdasarkan dengan paparan masalah diatas, maka untuk mengetahui kota dan kabupaten
mana sajakah yang berada di provinsi Jawa Barat yang sudah mandiri dalam melakukan belanja
langsung daerah, maka disini peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian yang berjudul
10

Analisis Pengaruh Penerimaan Asli Daerah ( PAD ) Dana Alokasi Umum ( DAU ) dan
Dana Alokasi Khusus ( DAK ) terhadap jumlah Belanja Langsung Daerah dalam
mengetahui kemandirian kota dan kabupaten yang berada di provinsi Jawa Barat tahun
2010 .

1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah sangatlah penting karena dapat digunakan untuk mengarahkan analisis
dan pengumpulan data. Dengan adanya 2 sumber pendapatan yang diterima oleh pemerintah
daerah dalam menjalankan otonomi daerah di provinsi Jawa Barat yaitu yang berasal dari
Pendapatan Asli Daerah ( PAD ) dan ynag berasal dari pemerintah pusat yaitu Dana Alokasi
Umum ( DAU ) dan Dana Alokasi Khusus ( DAK ) yang mana pendapatan ini akan digunakan
oleh pemerintah daerah untuk melakukan belanja daerah terutama belanja langsung daerah yang
dilakukan untuk mencapai tujuan dari otonomi daerah tersebut yaitu mensejahterakan seluruh
masyarakat yang ada di kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat tersebut.
Akan tetapi dengan adaya 2 sumber pendapatan yang digunakan untuk melakukan
belanja langsung daerah maka haruslah dilihat berapakah peranan dari masing masing sumber
pendapatan tersebut dalam melakukan belanja langsung yang dilakukan pemerintah daerah,
apakah sumber pendapatan yang berasal dari daerah itu sendiri yang peranannya lebih besar
ataukah dari pendapatan yang diterima yang berasal dari pemerintah pusat yang lebih besar
peranannya yang mana ini dilakukan untuk melihat kemandirian suatu kota atau kabupaten yang
ada di provinsi Jawa Barat tersebut.. Untuk menganalisis permasalahan tadi maka munculah
pertanyaan sebagai berikut :
11

1. Apakah PAD mempengaruhi belanja langsung daerah yang dilakukan oleh kota dan
kabupaten di provinsi Jawa Barat ?
2. Apakah DAU dan DAK mempengaruhi belanja langsung daerah yang dilakukan oleh
kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat ?
3. Seberapa besarkah peranan PAD dalam mempengaruhi belanja langsung daerah yang
dilakukan oleh kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat?
4. Seberapa besarkah peranan DAU dan DAK dalam mempengaruhi belanja langsung
daerah yang dilakukan oleh kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat ?
5. Kota dan Kabupaten di provinsi Jawa Barat mana sajakah yang sudah mandiri dalam
melakukan belanja langsung daerah ?

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pakah PAD mempengaruhi belanja langsung daerah yang dilakukan
oleh kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat.
2. Untuk mengetahui apakah DAU dan DAK mempengaruhi belanja langsung daerah yang
dilakukan oleh kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat
3. Untuk mengetahui Seberapa besarkah peranan PAD dalam mempengaruhi belanja
langsung daerah yang dilakukan oleh kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat.
4. Untuk mengetahui Seberapa besarkah peranan DAU dan DAK dalam mempengaruhi
belanja langsung daerah yang dilakukan oleh kota dan kabupaten di provinsi Jawa Barat
5. Untuk mengetahui Kota dan Kabupaten di provinsi Jawa Barat mana sajakah yang sudah
mandiri dalam melakukan belanja langsung daerah.
12

1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Bagi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Hasil dari penelitian ini dapat digunakan sebagai tambahan bacaan bagi perpustakaan dan
juga sebagai bahan tambahan literatur dan referensi bagi penelitian sejenis di masa
mendatang.
2. Bagi Pihak Pemerintah
Untuk bahan pemerintah daerah agar dapat mengetahui apakah kota atau kabupaten nya
sudah mandiri dalam melakukan belanja langsung daerah dan apa saja yang harus
diperbaiki oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan belanja langsung daerah.
3. Bagi Peneliti
Untuk menambah ilmu pengetahuan sekaligus menambah wawasan secara nyata
sehingga dapat dijadikan bahan referensi yang berharga bagi penulis.