Anda di halaman 1dari 57

MODUL I

 SKENARIO
Seorang wanita berusia 45 tahun datang ke Puskemas dengan keluhan utama berak
encer yang disertai darah dan lendir. Keluhan ini dirasakan sejak beberapa bulan yang
lalu. Wanita ini juga mengeluhk sakit perut yang sifatnya hilang timbul dan
penurunan berat badan kurang lebih 5 kg dalam satu bulan terakhir. Ia berusaha
mengobati penyakitnya dengan meminum obat anti diare namun tidak memberikan
hasil
 KATA SULIT
Diare adalah defekasi dengan konsistensi tinja cair/setengah cair dengan kandungan
air lebih dari biasanya (200 - 400 ml) per 24 jam dengan frekuensi lebih dari 3x
sehari. Berdasarkan waktunya diklasifikasikan sebagai Diare akut (< 2 minggu) dan
Diare Kronik (> 2 minggu) biasanya pada feces terdapat lendir dan/atau darah .

 KATA KUNCI
• Identitas : Wanita, 45 tahun
• KU : Berak encer disertai darah dan lendir

• Onset : Beberapa bulan yang lalu

• KL : Sakit perut intermitten

BB menurun > 5 kg dalam 1 bulan terakhir

• Riwayat Pengobatan : obat antidiare tidak berhasil

 PERTANYAAN

1
1. Bagaimana Anatomi, Histologi, Faal, Biokimia organ yang berkaitan dari
skenario di atas?

2. Bagaimana patomekanisme keluhan utama?

3. Bagaimana hubungan antar gejala yang dialami oleh pasien pada skenario?

4. Klarifikasi onset?

5. Anamnesis tambahan apa yg dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis?

6. Jenis pemeriksaan tambahan apa yang haus dilakukan untuk pasien dengan
keluhn BAB berdarah?

7. Differential Diagnosis ?

8. Farmakodinamik dan farmakokinetik obat antidiare?

 JAWABAN
1) Berdasarkan keluhan pasien diatas, dapat disimpulkan berhubungan saluran
gastrointestinal
• Anatomi
- Intestinum Tenue

Dimulai dari ujung distal pylorus sampai


di caecum. Terdiri dari duodenum,
jejenum dan ileum. Panjang seluruh
intestinum tenue adalah kira-kira 7 meter.
 DUODENUM
Disebut usus 12 jari oleh karena
panjangnya adalah selebar 12 jari atau
kurang lebih 25 cm.

2
Morfologi
Berbentuk huruf C dengan bagian konkaf menghadap ke kiri. Dimulai dari ujung distal
pylorus sampai flexura duodeno-jejenalis.
Terdiri dari:
1. pars superior
2. pars descendens
3. pars horizontalis
4. pars ascendens.
PARS SUPERIOR DUODENI
Letaknya ke kanan mengarah ke
dorsal, mulai dari sebelah ventral
columna vertebralis dan vena cava
inferior. Pangkal pars superior duodeni
mudah mengikuti gerakan dari pylorus. Di sebelah ventralnya terletak hepar dan vesica
fellea, di sebelah dorsal terletak ductus cysticus, vena portae dan pancreas.
PARS DESCENDENS DUODENI
Bagian ini berbatasan :
 di sebelah dorsal dengan renalis dexter dan sinister
 di sebelah ventral dengan hepar, vesica fellea, colon transversum, intestinum
tenue.
PARS HORIZONTALIS DUODENI
Bagian ini terletak mengarah ke kiri menyilang m.psoas major, vena cava inferior,
aorta abdominalis dan m.psoas minor. Di sebelah dorsal terdapat ureter dexter, vasa
testicularis dextra dan vena mesenterica inferior. Di sebelah ventral terdapat vena
mesentrica superior dan radix mesenterii. Bagian ini lebih panjang bila dibandingkan
dengan ketiga bagian lainnya.
PARS ASCENDENS DUODENI
Berada di sebelah kiri aorta abdominalis, membelok ke ventral menjadi flexura
duodeno-jejenalis. Letak flexura ini kurang lebih setinggi pars superior duodeni.
Lokalisasi

3
Pangkal duodenum dimulai setinggi vertebra lumbalis I, kurang lebih 2,5 cm di
sebelah kanan linea mediana dan berakhir di sebelah kiri linea mediana setinggi vertebra
lumbalis II. Pars descendens turun sampai setinggi vertebra lumbalis III. Bagian konkaf
dari duodenum ditempati oleh caput pancreatic. Batas antara pars superior duodeni dan
pars descendens duodeni disebut flexura duodeni superior, batas antara pars descendens
duodeni dan pars horizontalis duodeni disebut flexura duodeni inferior.
Antara pars superior duodeni dan hepar terdapat ligamentum hepatoduodenale yang
merupakan penebalan dari tepi bebas omentum minus. Jadi bagian ini terletak
intraperitoneal, sedangkan bagian duodenum lainnya terletak retroperitoneal.
Ductus choledochus bermuara ke dalam pars descendens duodeni melalui papilla duodeni
major, yang terletak kurang lebih 7 cm dari pylorus di bagian konkaf dari duodenum.
Kadang-kadang terdapat papilla duodeni minor di sebelah cranial papilla duodeni major.
Flexura duodeno-jejenalis di fixir oleh ligamentum Treitz [ = lig.suspensorium duodeni ]
pada diaphragma. Ligamentum ini terdiri dari jaringan ikat dan otot.
VASCULARISASI
1. Arteria supra duodenalis, memberi suplai darah kepada pars superior duodeni; arteri
ini adalah suatu end arteri sehingga bagian dari duodenum ini sering mengalami
ulcus [ = ulcus duodeni ].
2. Arteria retroduodenalis memberikan aliran darah kepada dinding posterior
duodenum.
3. Arteria pancreatico duodenalis superior, yang berada di sebelah posterior pars
superior duodeni, berjalan di antara pancreas dan pars descendens duodeni, memberi
suplai darah kepada duodenum dan pancreas.
4. Arteria pancreatico duodenalis inferior, dipercabangkan oleh m.mesenterica superior,
berjalan ke cranialis di antara pancreas dan duodenum, mengadakan anastomose
dengan a.pancreatico duodenalis superior. Memberi suplai darah kepada duodenum
dan pancreas.
5. Arteria gastrica dextra, juga memberikan cabang-cabang kepada duodenum.
6. Arteria gastro epiploica dextra, memberikan cabang-cabang kepada duodenum.
INNERVASI

4
Menerima serabut-serabut saraf dari plexus coeliacus dan plexus mesentericus
superior, berjalan sesuai dengan pembuluh darah yang dipercabangkan oleh arteria coeliaca
dan arteria mesenterica superior.
LYMPHONODUS
Pembuluh lymphe dari duodenum membawa lymphe menuju ke lymphonodus
pancreatico duodenalis yang terletak di antara caput pancreatis dan duodenum, kemudian
mengalir menuju ke lymphonodus hepaticus dan l.n.preaorticus.

Jejenum – Ileum
Organ ini berkelok-kelok dan difiksasi pada dinding dorsal cavum abdominis oleh
mesenterium.
Panjang seluruh jejenum – ileum adalah 6 – 7 meter; jejenum berada di bagian proximal
dengan panjang kurang lebih 2/5 bagian dari keseluruhnya, sedangkan ileum berada di bagian
distal [ anal ] dengan panjang kira-kira 3/5 bagian yang sisa.
Pada umumnya jejenum berada dalam keadaan kosong, warnanya lebih merah [ lebih
banyak mengandung pembuluh darah ], dindingnya lebih tebal, diameter lumen lebih besar,
plica circularis Kerkringi lebih besar dan jumlahnya lebih banyak, vili intestinales lebih besar
dan lebih banyak jumlahnya, percabangan pembuluh-pembuluh darah kurang kompleks. Hal
yang tersebut tadi jelas terlihat perbedaannya bila dibandingkan jejenum bagian proximal
dengan ileum bagian distal, di bagian tengah perbedaan-perbedaan tersebut kurang jelas.
Mesenterium pada jejenum kelihatan lebih terang oleh karena jaringan lemak
extraperitoneal hanya terbatas pada pangkal pembuluh darah, sedangkan pada ileum jaringan
lemak tersebut mengikuti seluruh panjang pembuluh darah sampai pada dinding ileum.
Kurang lebih 1 meter di sebelah proximal dari ujung terminal ileum terdapat
diverticulum ilei [ = diverticulum Meckeli ], sebagai sisa dari ductus omphalomesentericus.
Ukuran diverticulum ini sebesar 5 cm.
LOKALISASI
Jejenum dan ileum menempati sebagian besar cavum abdominis bahkan sampai ke dalam
cavum pelvicum. Mesenterium berbentuk kipas dengan bagian yang terlebar di bagian tengah
sebesar 20 cm, melekat pada dinding dorsal abdomen dan tempat melekatnya disebut radix
mesenterii. Panjang radix mesenterii kira-kira 15 cm, terletak miring dari kiri atas ke kanan

5
bawah, dimulai dari flexura duodeno-jejenalis [ setinggi corpus vertebrae lumbalis II ] sampai
setinggi articulatio sacroiliaca dextra. Oleh karena jejenum – ileum bentuknya lebih panjang
daripada radix mesenterii maka jejenum – ileum terletak berkelok-kelok, sangat mobil atau
mudah bergerak.
Di dalam mesenterium terdapat cabang-cabang dari a.mesenterium superior, nervus,
lymphonodus, pembuluh lymphe dan jaringan lemak.
Radix mesenterii menyilang di sebelah ventral pars horizontal duodeni, corpus vertebrae
lumbalis III dan ureter dexter.
VASCULARISASI
Aliran darah bersumber pada a.mesentrica superior melalui cabang aa.jejenales dan
aa.ileae. Pembuluh-pembuluh darah berjalan di dalam mesenterium.
INNERVASI
Jejenum – ileum mendapatkan innervasi dari plexus mesentericus superior, dan
percabangan serabut saraf berjalan mengikuti cabang-cabang arteri.
LYMPHONODUS
Di dalam mesenterium terdapat banyak lymphonodus dari berbagai ukuran dan dibagi
menjadi 3 kelompok, sebagai berikut :
 Dekat jejenum dan ileum
 Mengikuti pembuluh-pembuluh darah
 Pada radix mesenterii

Intestinum Crassum
Lebih pendek daripada intestinum tenue, panjang kira-kira 1,5 meter.
Pangkalnya lebih lebar daripada ujung distalnya.
Terdiri dari :
1. caecum dan processus vermiformis
2. colon
3. rectum.
Pada intestinum crassum dapat dilihat struktur-struktur sebagai berikut :

6
 Taenia coli, yang dibentuk oleh bersatunya serabut-serabut stratum
longitudinale lapisan muscularis; terdapat 3 taenia yang terletak pada ketiga sisi dari
intestinum crassum, yakni taenia omentalis, taenia libera dan taenia mesocolica.
 Haustra, yang terbentuk oleh adanya taenia tersebut tadi; taenia lebih pendek
daripada panjang dinding intestinum crassum sehingga dinding intestinum crassum
tertarik.
 Incisura, yang terdapat di antara haustra dan dibentuk oleh pertumbuuhan
stratum circulare yang terjadi lebih cepat daripada stratum longitudinale, dengan
demikian terbentuk plica ke arah mucosa dan disebut plica semilunaris.
 Appendices epiploicae, yaitu lipatan peritoneum yang berisi jaringan lemak
dan terdapat pada incisura; banyak terdapat pada colon transversum.

CAECUM
Bangunan ini merupakan permulaan dari colon; salah satu ujungnya buntu dan menghadap ke
caudal. Sedangkan ujung yang lain terbuka menghadap ke cranial. Terletak di dalam fossa
iliaca dextra, dibungkus oleh peritoneum [ intra peritoneal ], mudah bergerak.
Pada dinding sebelah kiri caecum terdapat muara dari ileum; mucosa dinding di bagian ini
membentuk lipatan yang dinamakan valvula ileo colica Bauhini. Valvula tersebut tadi terdiri
dari labium superior dan labium inferius, bertemu membentuk frenula valvulae coli, yaitu
frenulum anterior [ sinister ] dan frenulum posterior [ dexter ].
Pada caecum terdapat juga muara dari processus vermiformis [ = appendix ], dan pada
pangkalnya terdapat valvula processus vermiformis. Processus vermiformis berbentuk
silindris, mempunyai lumen dan berujung buntu. Baik letak, maupun panjang dan arah dari
processus vermiformis sangat bervariasi. Letaknya bisa retro caecal, sub caecal, retro colica,
pre ileal dan post ileal. Processus vermiformis mempunyai alat penggantung, yang disebut
mesenteriolum atau mesoappendix sehingga processus vermiformis terletak intra peritoneal.
Pada pangkal processus vermiformis ketiga taeniae coli bersatu.
COLON
Terdiri dari :
1. colon ascendens
2. colon transversum

7
3. colon descendens
4. colon sigmoideum
COLON ASCENDENS
Merupakan kelanjutan dari caecum ke arah cranial, mulai dari fossa iliaca dextra, berada di
sebelah ventral m.quadratus lumborum, di ventral polus inferior ren dexter, membelok ke kiri
setinggi vertebra lumbalis II, membentuk flexura coli dextra, selanjutnya menjadi colon
transversum.
Pada facies ventralis terdapat taenia libera, pada facies dorsolateral terdapat taenia omentalis
dan pada facies dorsomedial terdapat taenia mescolica.
Colon ascendens ditutupi oleh peritoneum, disebut letak retroperitoneal.
COLON TRANSVERSUM
Mulai dari flexura coli dextra, berjalan melintang ke kiri melewati linea mediana, agak
miring ke cranial sampai di tepi kanan ren sinister, d sebelah caudal lien, lalu membelok ke
caudal. Belokan ini disebut flexura coli sinistra, terletak setinggi vertebra lumbalis I, difiksasi
pada diaphragma oleh ligamentum phrenico colicum.
Pada facies ventralis terdapat taenia omentalis, pada facies inferior terdapat taenia libera dan
pada facies dorsalis terdapat taenia mesocolica.
Di sebelah cranial dari kanan ke kiri colon transversum berbatasan dengan :
 hepar
 vesica fellea
 curvatura major ventriculi
 extremitas inferior lienalis.
Di sebelah caudal berbatasan dengan jejenum. Di sebelah ventral ditutupi oleh omentum
majus. Di sebelah dorsal dari kanan ke kiri berbatasan dengan :
 pars descendens duodeni
 caput pancreatic
 ren sinister.
Colon transversum dibungkus oleh peritoneum viscerale, disebut mesocolon transversum,
dan difiksir [ digantung ] pada dinding dorsal abdomen.
COLON DESCENENS

8
Dimulai dari flexura coli sinistra, berjalan ke caudal, berada di sebelah ventro-lateral polus
inferior ren sinister, di sisi lateral m.psoas major, di sebelah ventral m.quadratus lumborum
sampai di sebelah ventral crista iliaca dan tiba di fossa iliaca sinistra. Kemudian membelok
ke kanan, ke arah ventrocaudal menjadi colon sigmoideum, berada di sebelah ventral dari
vasa iliaca externa.
Taenia omentalis terletak pada permukaan dorsolateral, taenia libera berada pada facies
ventralis dan taenia mesocolica berada pada bagian medio-dorsal. Colon descendens ditutupi
oleh peritoneum parietale [ letak retro peritoneal ].

COLON SIGMOIDEUM
Bangunan ini berbentuk huruf S dan terletak di dalam cavum pelvicum. Membuat dua buah
lekukan dan pada linea mediana menjadi rectum, setinggi corpus vertebrae sacralis 3. pada
colon ini masih terdapat haustra dan taenia.
Dibungkus oleh peritoneum viscerale dan membentuk mesocolon sigmoideum, difiksasi pada
dinding pelvis.

RECTUM
Merupakan bagian caudal [ anal ] dari intestinum crassum, terletak retroperitoneal,
memanjang mulai setinggi corpus vertebrae sacralis 3 sampai Anus. Anus adalah muara dari
rectum ke dunia luar. Pada rectum terdapat flexura sacralis yang mengikuti curvatura os
sacrum dan flexura perinealis yang mengikuti lengkungan perineum. Bagian cranialis disebut
pars ampularis recti dan bagian caudalis disebut pars analis recti.
Pada pars ampularis terdapat 3 buah plica transversalis yang dibentuk oleh penebalan stratum
circulare tunica muscularis. Plica yang tengah sangat tebal, disebut plica transversalis
Kohlraush, berfungsi sebagai penahan isi rectum.
Pada pars analis terdapat plica yang arahnya longitudional dan disebut columna rectalis
Morgagni. Di sebelah analis columna rectalis bersatu membentuk anulus rectalis [ = anulus
haemorrhoidalis ]. Di sebelah profunda mucosa terdapat plexus venosus yang disebut plexus
haemorrhoidalis.
VASCULARISASI
Bersumber pada :

9
I. Arteria mesenterica superior
1. A.ileocolica, yang mempercabangkan r.ascendens [ r.superior ] menuju ke colon
ascendens, dan r.descendens [ r.inferior ] yang mempercabangkan :
 A.coecalis anterior
 A.coecalis posterior
 A.appendicularis
 R.ilealis
2. A.colica dextra, mempercabangkan r.ascendens dan r.descendens
3. A.colica media, memberikan cabang terminal berupa ramus sinister dan ramus
dexter.
II. Arteria mesenterica inferior :
1. A.colica sinistra, mempercabangkan r.ascendens dan r.descendens
2. A.sigmoidea.
Aliran darah venous mengikuti perjalanan arteri.
INNERVASI
N.vagus [ chorda posterior ] memberikan cabang-cabang yang mengikuti percabangan
arteria coeliaca dan arteria mesenterica superior untuk caecum, processus vermiformis, colon
ascendens, colon transversum.
Colon descendens dan colon sigmoideum menerima serabut-serabut parasympathis dari
segmental Sacral 3 – 4, melalui plexus mesentericus inferior. Saraf sympathis berpusat
pada medulla spinalis Th. 6 – 12 dan Lumbal 1 – 3.

• Histologi
Struktur Umum Saluran Cerna
Saluran cerna adalah tabung berongga terdiri atas lumen dengan garis tengah
bervariasi, yang dikelilimgi oleh dinding dengan empat lapisan utama: mukosa,
submukosa, muskularis eksterna dan serosa.
Mukosa terdiri atas epitel pelapis, lamina propria yang merupakan jaringan ikat
longgar dengan banyak pembuluh darah, pembuluh limfe dan serat otot polos,
kadang-kadang mengandung kelenjar dan jaringan limfoid dan muskularis mukosa
umumnya terdiri atas lapisan sirkular dalam yang tipis dan lapis longotudinal luar

10
serat otot polos yang memisahkan lapisan mukosa dari submukosa. Mukosa sering
disebut membran mukosa.
Submukosa terdiri atas jaringan ikat longgar dengan banyak pembuluh darah,
pembuluh limfe dan pleksus saraf submukosa(pleksus meissner). Mungkin juga
mengandung kelenjar dan jaringan limfoid
Muskularis mengandung sel-sel otot polos yang berorientasi secara spiral dan terbagi
dalam dua lapisan menurut arah utama perjalanan sel otot. Pada lapisan dalam (dekat
ke lumen), arah jalannya sirkular, pada lapisan luar, kebanyakan arahnya
memanjang. Lapisan muskularis juga mengandung pleksus saraf mienterikus
(pleksus Aauerbach), yang terletak diantara kedua lapisan otot tadi dan pembuluh
darah serta pembuluh limfe terdapat dalam jaringan ikat diantara kedua lapisan.
Serosa adalah suatu lapisan tipis terdiri atas jaringan ikat longgar yang kaya
pembuluh darah dan pembuluh limfe serta jaringan lemak dan epitel selapis gepeng
sebagai pelapis (mesotel).
Fungsi utama epitel pelapis saluran cerna adalah sebagai sawar permeabel selektif
antara isi saluran cerna dan jaringan tubuh, memudahkan transfor dan pencernaan
makanan, memperbaiki penyerapan produk hasil pencernaan dan menghasilkan
hormon yang mempengaruhi aktifitas sistem pencernaan. Sel-sel pada lapisan ini
menghasilkan mukus (lendir) atau terlibat dalam pencernaan atau penyerapan
makanan. Banyaknya limfonoduli dalam lamina propria dan lapis submukosa
melindungi organisme (bersama epitel) dari invasi bakteri.
Seluruh saluran cerna dilapisi oleh epitel selapis tipis yang mudah diserang. Lamina
propria tepat berada dibawah epitel, adalah sebuah zona yang kaya akan makrofag
dan limfosit, beberapa diantaranya secara aktif menghasilkan antibodi. Antibodi ini
terutama adalah imunoglobulin A (IgA) dan terikat pada sebuah protein sekresi yang
dihasilkan oloh sel-sel epitel pelapis usus dan disekresi ke dalam lumen usus.
Kompleks ini mempunyai aktifitas protektif terhadap invasi virus dan bakteri.
IgA dalam saluran pernapasan, pencernaan dan saluran kemih resisten terhadap
aktifitas enzim proteolitik, menghasilkan antibodi yang bersamaan dengan protease
ditemukan dalam lumen usus.

11
Muskularis mukosa membantu gerakan mukosa, tidak bergantung pada gerakan lain
dari saluran cerna, meningkatkan kontak dengan bahan makanan. Kontraksi
muskularis eksterna mendorong dan mencampur makanan dalam saluran cerna.
Pleksus saraf membangkitkan dan mengkordinasi kontraksi otot. Terutama terdiri
atas kumpulan sel saraf yang membentuk ganglia parasimpatis kecil.
1. Rongga Mulut
Seluruh cavum oris dibatasi oleh membrana mucosa dengan epitel gepeng berlapis.
Pada waktu embrio epitel tersebut membentuk gigi dan kelejar ludah.
Cavum oris disebeleh depa dibatasi oleh suatu celah yang disebut: rima oris dengan
labium superior et inferior sebagai dindingnya. Sebelah lateral cavum oris dibatasi
oleh pipi dan sebelah bawah terdapat dasar mulut dengan lidahnya dan sebagi
atapnya adalah palatum. Sedangkan disebelah dorsal terdapat hubungan dengan
pharynx yang merupakan lubang yang disebuat faucia.
Labium oris
Rongga mulut dilapisi oleh epitel berlapis gepeng tanpa lapis tanduk. Sel-sel
permukaannya mempunyai inti dengan sedikit granul keratin di dalamnya. Pada
bagian bibir dapat diamati peralihan antara epitel tanpa lapisan tanduk menjadi epitel
berlapis tanduk. Lamina propria berpapil serupa pada dermis kulit dan menyatu
dengan submukosa yang mengandung kelenjar-kelenjar liur kecil secara difus.
Atap rongga mulut terdiri atas palatum durum dan platum mole, yang dilapisi oleh
epitel berlapis gepeng sejenis. Pada palatum durum membran mukosa melekat pada
jaringan tulang. Bagian pusat palatum mole adalah otot rangka dengan banyak
kelenjar mukosa dalam submukosa.
Uvula palatina adalah sebuah tonjolan berbentuk kerucut kecil yang menjulur ke
bawah dari bagian tengah batas bawah palatum mole. Bagian pusatnya adalah otot
dan jaringan ikat areolar yang ditutupi oleh mukosa mulut biasa.
Baik labium oris superior maupun labium oris inferior mempunyai daerah permukaan
yang berbeda struktur histologisnya yaitu
(a) Facies externa
Daerah permukaan bibir ini merupakan lanjutan kulit disekitar mulut. Maka
gambaran hstologisnya sebagai kulit pula. Paling luar dilapisi oleh epidermis yang

12
merupakan epitel gepeng berlapis berkeratin. Dibawah epidermis terdapat jaringan
pengikat yang disebut corium yang membentuk tonjolan-tonjolan ke arah epidermis
yang disebut sebagai papila corii. Sel-sel basal epidermis mengandung butir-butir
pigmen. Seperti juga pada struktur kulit lainnya pada permukaan kulit ini dilengkapi
oleh alat-alat tambahan kulit seperti glandula sudorifera, glandula sebacea dan folikel
rambut.
(b)Rubrum labii
Merupakan daerah peralihan antara facies externa dan facies interna. Epitelnya
merupakan lanjutan dari epidermis yang mengalami perubahan pada stratum
corneumnya yang makin menipis sampai menghilang. Tetapi epitelnya semakin
menebal.
Lidah
Lidah adalah massa otot rangka yang ditutupi membran mukosa yang strukturnya
bervariasi menurut daerah yang diamati. Serat-serat otot saling menyilang dalam 3
bidang, yang bergabung dalam berkas-berkas, biasanya dipisahkan oleh jaringan ikat.
Membran mukosa melekat dengan erat pada otot, karena jaringan ikat dari lamina
propria menyusup ke dalam celah-celah diantara berkas-berkas otot.
Pada permukaan bawah lidah mukosanya licin. Permukaan dorsal lidah tidak teratur,
dianterior ditutupi banyak tonjolan kecil yang disebut papila. Sepertiga bagian
posterior permukaan dorsal lidah dipisahkan dari dua per tiga bagian anteriornya oleh
batas berbentuk V. Di belakang batas ini permukaan lidah berkelompok limfosit
kecil: kelompok kecil limfonoduli dan tonsila lingualis, dengan limfonoduli
berkumpul mengelilingi invaginasi (kriptus) dari membran mukosa.
(a)nPapila
Papila adalah penonjolan epitel mulut serta lamina propria yang mengambil bentuk-
bentuk dan fungsi berlainan. Ada empat jenisnya dari papilla tersebut yakni :
- Papila filiformis berbentuk kerucut menanjang, jumlahnya banyak dan tersebar
ndiseluruh permukaan lidah. Epitel yang tidak mengandung kuncup kecap, sebagian
ffberlapis tanduk.
- Papila fungiformis mirip jamur karena memiliki tangkai sempit dan bagian atas
ffmelebar dengan permukaannya yang licin. Papila yang mengandung kuncup kecap

13
ffpada permukaan atasnya tersebar secara tidak teratur di antara papila filiformis.
- Papila foliata kurang berkembang pada manusia, terdiri atas dua atau lebih rabung
ff(ridge) dan alur (furrow) paralel pada permukaan dorsolateral lidah. Duktus dari
ffkelenjar serosa bermuara pada dasar alur.
- Papila sirkumvalata adalah papila sirkular yang sangat besar, dengan permukaan
dddatarnya menonjol di atas papila lain. Papila sirkumvalata tersebar sepanjang
dddaerah posterior lidah.
Kelenjar serosa mensekresi lipase, untuk mencegah terbentuknya lapisan hidrofobik
diatas kuncup kecap yang dapat menghambat fungsinya. Aliran sekret ini penting
untuk menghanyutkan parti kel makanan dari kuncup kecap agar dapat menerima dan
mengolah rangsangan baru. Selain kelenjar serosa terdapat kelenjar mukosa dan
serosa kecil tersebar pada pelapis rongga mulut dengan fungsi sama yaitu
menyiapkan kuncup-kuncup kecap di bagian lain dari rongga mulut: epiglotis, faring,
palatum untuk berespon terhadap rangsangan pengecap.
2.Faring
Faring merupakan rongga peralihan antara rongga mulut, sistem pernapasan dan
sistem pencernaan, membentuk hubungan antara bagian nasal dan faring. Faring
dilapisi oleh epitel berlapis gepeng jenis mukosa, kecuali pada daerah bagian
respirasi yang tidak mengalami gesekan. Daerah terakhir ini dilapisi oleh epitel
bertingkat silindris bersilia bersel goblet. Faring mengandung tonsila, mukosa faring
memiliki banyak kelenjar mukosa kacil dalam lapisan jaringan ikat padat. Muskular
konstriktor dan longitudinalis faring terletak di luar lapisan ini.
3. Gigi Dan Struktur Terkait
Pada oramg dewasa normal terdapat 32 gigi tetap (permanen), tersebar dalam 2
lengkung simetris bilateral dalam tulang maksila dan mandibula, dengan 8 gigi pada
pada setiap kuadrannya: 2 insisivus, 1 kaninus, 2 premolar dan 3 molar. Gigi tetap
didahului oleh 20 gigi susu (desidua). Ke 12 gigi molar tetap tidak memiliki
pendahulu gigi desiduanya. Setiap gigi terdiri atas bagian yang menonjol di atas
gingiva (gusi), bagian mahkota (korona), satu atau lebih radiks di bawah gingiva
yang menahan gigi dalam soket tulang yang disebut alveolus. Korona ditutupi oleh
email yang sangat keras, sedangkan radiks oleh sementum. Kedua pelapis ini

14
bertemu pada bagian leher (serviks gigi). Bagian dalam gigi mengandung materi lain
yang disebut dentin, yang mengelilingi rongga berisi jaringan yang dikenal sebagai
rongga pulpa. Rongga pulpa meluas ke apeks radiks (saluran radiks), tempat sebuah
muara (foramen apikal) memungkinkan masuk dan keluarnya pembuluh darah,
pembuluh limfe dan saraf dari rongga pulpa. Ligamen (membran periodontal) adalah
struktur fibrosa berkolagen yang tertanam dalam sementum yang berfungsi menahan
gigi dengan erat pada soket tulangnya (alveolus).
Dentin adalah jaringan yang mengapur mirip tulang tetapi lebih keras karena
kandungan garam kalsiumnya lebih tinggi (70% dari berat kering). Terutama terdiri
atas serat kolagen tipe 1, glikosaminoglikan dan garam kalsium dalam bentuk kristal
hidroksiapatit. Matriks organik dentin dihasilkan oleh odontoblas, sel yang melapisi
permukaan dalam gigi, memisahkan dari rongga pulpa.
Odontoblas adalah sel langsing terpolarisasi yang hanya menghasilkan matriks
organik pada permukaan dentin. Sel-sel inti memiliki struktur sel penghasil sekret
terpolarisasi dengan gradul sekresi yang mengandung prokolagen, sitoplasma sel ini
mengandung sebuah inti pada basisnya. Odontoblas mempunyai cabang sitoplasma
halus yang menerobos secara tagak lurus terhadap lebar dentin yaitu juluran
odontoblas. Juluran-juluran halus ini secara berangsur memanjang seiring dengan
menebalnya dentin, berjalan dalam saluran halus disebut tubul dentin yang bercabang
dekat batas dentin dan email. Juluran odontoblas berangsur menipis ke arah ujung
distalnya. Matriks yang dihasilkan odontoblas belum mengandung mineral dan
disebut predentin. Mineralisasi dari dentin yang berkembang dimulai bila vesikel
bermembran (vesikel matriks) mulai muncul, mengandung kristal hidroksiapatit
halus yang tumbuh dan berfungsi sebagai tempat nukleasi bagi pengendapan mineral
selanjutnya pada serabut kolagen sekitarnya.
Berbeda dengan tulang, dentin menetap sebagai jaringan bermineral untuk waktu
yang lama setelah musnahnya odontoblas. Karena dimungkinkan untuk
mempertahankan gigi yang pulpa serta odontoblasnya telah dirusak oleh infeksi.
Pada gigi orang dewasa, pengrusakan email penutup oleh erosi akibat pemakaian
atau karies dentis (lubang gigi) biasanya memicu reaksi dalam dentin yang
menyebabkan membuatmkomponen-komponennya.

15
Email adalah unsur paling keras pada tubuh manusia dan paling banyak mengandung
kalsium. Ia terdiri atas lebih berkurang 95% garam kalsium (terutama hidroksiapatit),
0,5% materi organik dan sisanya adalah air. Email dibentuk oleh sel-sel ektodermal,
kebanyakan struktur lain dari gigi berkembang dari mesodermal atau sel kristal
neural. Matriks organik email tidak terdiri atas serabut-serabut kolagen tetapi terdiri
atas sekurang-kurangnya 2 golongan protein heterogen yang disebut amelogenin dan
enamelin. Peran protein ini dalam mengatur unsur mineral dari email sedang. Email
terdiri atas batang atau kolom kristal hidroksiapatit memanjang, batang (prisma)
email digabung menjadi satu oleh email antar-batang. Email antar-batang dan batang
email dibentuk oleh kristal hidroksiapatit, hanya berbeda dalam orientasi kristalnya.
Setiap batang terbentang pada keseluruhan tebal lapisan email.
Matriks email dihasilkan oleh sel-sel yang disebut ameloblas. Sel silindris tinggi ini
mempunyai banyak mitokondria di daerah di bawah inti. Retikulum endoplasma
kasar dan kompleks golgi yang berkembang baik, terdapat di atas inti. Setiap
ameloblas memiliki juluran apikal dikenal sebagai prosesus tomes, mengandung
banyak granul sekresi. Granul ini mengandung protein yang menyusun matriks
email.
Pulpa gigi terdiri atas jaringan ikat longgar. Unsur utamanya ialah odontoblas,
fibroblas, serabut kolagen halus dan substansi dasar dengan glikosaminoglikans.
Pulpa adalah jaringan dengan banyak saraf dan pembuluh darah. Pembuluh darah dan
serat saraf bermielin memasuki foramen apikal dan bercabang banyak.
Beberapa serat saraf hilang selubung mielinnya dan menyusup untuk jarak tertentu ke
dalam tubul dentin. Serabut-serabut ini peka terhadap nyeri, satu-satunya sensasi
padaagigi.
StukturaTerkait
Struktur yang berfungsi mempertahankan gigi dalam tulang dan maksila dan
mandibula terdiri atas sementum, ligamen periodontal, tulang alveolus dan gingiva.
(a).vSementum
Jaringan ini menutupi dentin radiks dan komposisinya serupa tulang, meskipun tidak
ada sistem Havers dan pembuluh darah. Pada bagian apikal radiks lebih tebal,
terdapal sel-sel yang mirip osteosit, yaitu sementosit. Seperti osteosit, mereka

16
terkurung dalam lakuna yang saling berhubungan melalui kanalikuli. Seperti jaringan
tulang, sementum adalah labil dan bereaksi dengan resorpsi atau produksi jaringan
baru sesuai dengan stres yang dialaminya. Bila ligamen periodontal dihancurkan,
sementum akan mengalami nekrosis dan mungkin diserap. Produksi sementum
mengatur pertumbuhan normal gigi dan memelihara kontak erat antara radiks gigi
danbsoketnya.
(b).bLigamenmPeriodontal
Ligamen periodontal terdiri atas jaringan ikat padat, yamg serat-seratnya masuk ke
dalam sementum gigi dan menambatnya pada dinding tulang sakunya. Berfungsi
sebagai periosteum bagi tulang alveolus. Serat-serat disusun sedemikian rupa agar
dapat menahan tekanan sewaktu mengunyah, hal ini mencegah pemindahan tekanan
langsung pada tulang, suatu proses yang akan menimbulkan resorpsi setempat.
Kolagen dari ligamen periodontal memiliki kecepatan pergantian protein yang tinggi
dan banyak mengandung kolagen yang larut. Celah-celah diantara serat-seratnya
terisi dengan glikosaminoglikans. Kecepatan pembaruan kolagen yang tinggi dalam
ligamen periodontal memberi peluang bagi proses-proses yang mempengaruhi
pembuatan kolagen atau protein, misalnya defisiensi protein atau vitamin C
mengakibatkan atrofi pada ligamen ini.
(c).nTulangmAlveolus
Bagian tulang ini berkontak langsung dengan ligamen periodontal. Tulang dari jenis
belum dewasa ini (tulang primer) dengan serat-serat kolagen yang tidak disusun
menurut pola berlamel khas pada tulang dewasa. Tulang yamg paling dekat pada akar
gigi membentuk soket gigi. Pembuluh dan saraf melintasi tulang alveolus ini menuju
foramen apikal dan radiks untuk memasuki pulpa.
(d).hGingiva
Gingiva adalah membran mukosa yang secara erat melekat pada periosteum tulang
maksila atau mandibula. Ia terdiri atas epitel berlapis gepeng dan banyak papil
jaringan ikat. Epitel ini melekat pada email gigi oleh kutikula yang menyerupai
lamina basal tebal dan membentuk perlekatan epitel Gottlieb.
Sel-sel epitel melekat pada kutikula oleh hemidesmosom. Diantara email dan epitel

17
terdapat celah gingiva, lekukan sempit di sekeliling korona.
Perkembangan Gigi
Pada minggu keenam kehamilan, lapis basal epitel mulut (ektoderm) berproliferasi
dan tumbuh ke dalam ektomesenkim di bawahnya, yang berkembang dari krista
neural. Sabuk berbentuk tapal kuda yang dikenal sebagai lamina dentis dibentuk pada
tiap rahang. Penjuluran ektodermal ini membentuk sungkup di atas kelompok
ektomesenkim dan setiap kelompok sel (kuncup gigi) akan berkembang menjadi gigi
desidua. Ektomesenkim dibentuk oleh sel-sel mesenkim sehubungan dengan sel
krista neural yang berasal dari ektoderm. Sel-sel ektodermal kemudian berdegenerasi
dan menghilang. Komponen ektodermal kuncup gigi membentuk organ email yang
berfungsi untuk menghasilkan email. Komponen ektomesenkim membentuk papila
dentis yang akan mengembangkan sel odontoblas (sel yang menghasilkan dentin) dan
struktur pulpa dentis lainnya. Mesenkim juga memadat disekitar organ email dan
akhirnya berkembang menjadi sementoblas (sel yang membentuk sementum) dan
ligamen periodontal.
Organ email terus membesar dan mengambil bentuk genta pada minggu ke-8
kehamilan. Epitel email luar (eksterna), yang berhubungan dengan lamina dentis
bertakuk oleh banyak pembuluh kapiler. Sel berbatasan dengan papila dentis menjadi
silindris dan menyusun epitel email dalam (interna). Sel ini berkembang menjadi
ameloblas (sel yang akan menghasilkan email). Sel epitelial di antara lapis luar dan
dalam menyusun retikulum stelata dan stratum intermedium.
Sebelum ameloblas mulai mensekresi email, mereka merangsang sel-sel lapisan
superfisial dari papila dentis untuk memanjang dan berkembang menjadi odontoblas.
Odontoblas mulai mensekresi predentin, yang merangsang pembentukan email oleh
ameloblas.
• Pembentukan Dentin
Odontoblas mensekresi prokolagen yang bergabung menjadi serabut kolagen dari
predentin. Sel-sel ini juga memperantarai mineralisasi serabut kolagen, yang
berakibat terbentuknya dentin. Badan sel odontoblas terdesak mundur ke dalam
rongga pulpa sementara dentin menimbun, tetapi cabangnya tetap terdapat dalam
tubuli dentin yang terbentang di seluruh tebal dentin.

18
• Penbentukan Email
Ameloblas adalah sel epitel luar biasa karena bagian dasarnya, yang berbatasan
dengan lamina basal, menjadi permukaan sekresinya. Taut kedap dijumpai di sekitar
apeks histologis (basis fungsional) dan basis histologis (apeks fungsional) setiap sel.
Retikulum endoplasma kasar dan sebuah kompleks golgi luas terdapat dalam
sitoplasama di antara inti dan apeks fungsional sel ini. Ameloblas berfungsi
menghancurkan lamina basal yang memisahkan sel-sel ini dari odontoblas dan
dentin. Juluran pendek berbentuk kerucut dari ameloblas (prosesus Tomes)
merupakan tempat sekresi dari matriks email. Permukaan lateral prosesus Tomes
menghasilkan matriks organik dari email antar-batang, sedangkan permukaan apikal
berfungsi meletakkan matriks dari batang email. Peranan ameloblas dalam
mineralisasi belum jelas, tetapi kristal hidroksiapatit dibentuk pada matriks organik.
Matriks ini hampir seluruhnya dibuang oleh ameloblas. Setelah pembentukan email
selesai, organ email terdiri atas epitel berlapis gepeng yang cepat terkikis habis bila
gigi muncul dalam rongga mulut.
• Perkembangan Akar Gigi
Setelah perkembangan korona selesai dan sebelum erupsi, lengkung servikal
bertumbuh ke apikal membungkus papila dentis dan membentuk selubung akar
Hertwig, yang terdiri atas penyatuan epitel email luar dan dalam. Lapis dalam
menginduksi pembentukan odontoblas yang menghasilkan dentin dari akar gigi. Bila
dentin telah dibentuk, selubung akar hancur dan dentin yang baru dibentuk ini
menginduksi perkembangan sementoblas dari sel mesenkim sakus dentis di
sekitarnya. Sementoblas menghasilkan sementum, yaitu jaringan mirip tulang yang
membungkus akar gigi.
• Gigi Tetap (permanen)
Pada sisi labial setiap lamina dentis terjulur ke luar suatu massa sel ektodermal dan
membentuk lamina suksesional. Sel-sel lamina dentis menggali ke belakang dan
bakal gigi molar permanen berturut-turut terlepas. Bakal gigi molar kedua dan ketiga
tidak dibentuk sampai sesudah lahir.
4.kEsofagus
Merupakan sebuah tabung lurus yang ada pada orang dewasa panjangnya sekitar 25

19
cm, berfungsi memindahkan makanan dari mulut ke dalam lambung. Sebagian besar
terdapat dalam mediastinum, setelah melalui diaphragma masuk dalam cavum
abdominalis untuk bermuara dalam gaster. Ia dilapisi oleh epitel berlapis gepeng
tanpa lapisan tanduk. Dalam submukosa terdapat kelompokan kelenjar penghasil
mukus kecil, yaitu kelenjar esofageal. Pada lamina propria dekat lambung terdapat
kelompokan kelenjar yang disebut kelenjar kardia esofagus yang juga menghasilkan
mukus. Pada ujung distal esofagus, lapisan ototnya terdiri atas serat otot polos, pada
bagian tengah terdapat campuran serat otot bergaris (rangka) dan serat otot polos,
pada ujung proksimal terdapat serat otot rangka. Hanya bagian esofagus dalam
rongga peritoneum yang ditutupi oleh serosa. Sisanya ditutupi lapisan jaringan ikat
longgar yang disebut adventisia.
A. Tunica mucosa
Karena kontraksi otot-otot stratum circulare tunica muskular maka tunica mukosa
membentuk lipatan-lipatan memanjang.
1. Epitil, tebalnya mencapai 300 mikron dan berbentuk epitel gepeng berlapis tanpa
keratinasi dengan kira-kira 25 lapis sel.
2. Lamina propria, merupakan jaringan pengikat longgar yang tidak banyak
mengandung sel-sel. Bentuk tubuler dan saluran keluarnya melalui puncak papila
untuk bermuara dalam lumen. Bentuknya mirip glandula cardiaca maka disebut
sebagai glandula oesophagea cardiaca.
3. Lamina muskularis mucosa, merupakan lapisan otot polos yang tebal. Hanya
memiliki lapisan serabut-serabut yang tersusun longitudinal.

B. Tunica submukosa
Lapisan sangat longgar hubungannya dengan lapisan dibawahnya hingga dapat
membentuk lipatan-lipatan memanjang. Tebalnya sekitar 300-700 mikron. Di dalam
tunica submukosa terdapat kelenjar yang berbentuk tubulo alveolar kompleks dan
menghasilkan mukus. Saluran keluarnya menembus muscularis mukosa kemudian
melalui diantara papila untuk bermuara ke dalam lumen. Kelenjar ini dinamakan
glandula oesophagea propria.

20
C. Tunica muskularis
Terdiri atas dua lapisan masing-masing sebagai:
Stratum circulare : disebelah dalam
Stratum longitudinale : disebelah luar
Di bagian atas stratum circular menebal membentuk m. Sphincter oesophageus
superior. Pada ¼ bagian sebelah oral, seluruhnya terdiri atas otot bercorak. Pada ¼
bagian tengah terdiri atas campuran otot bercorak dan otot polos. Pada ½ bagian anal
terdiri seluruhnya stas otot polos. Pada perbatasan dengan ventrikulus terdapat m.
Sphincter oesophageus inferior.
D. Tunica adventitia
Pada bagian terluar dari lapisan ini merupakan jaringan pengikat longgar. 2-3 cm
sebelum ventrikulus terdapat banyak serabut-serabut elastis yang melekat pada
diaphragma. Fungsi oesophagus terutama untuk menyalurkan makanan dari pharynx
ke ventrikulus.

5.vGaster
Gaster merupakan pembesaran tractus digestivus yang berbentuk sebagai kantong.
Dalam keadaan kosong ruang di dalamnya tidak jauh lebih besar daripada ruang
usus. Makanan dan minuman dari eosophagus akan bermuara dalam cardia.
Disebelah kiri cardia, dinding ventriculus sedikit lebih membesar, dimana terdapat
fundus ventriculi. Sisi yang melengkung di sebelah kanan dan kiri masing-masing
disebut sebagai curvatura minor dan curvatura mayor. Kedua sisi ini membatasi
permukaan facies anterior dan fascies pesterior. Bagian terbesar yaitu corpus
ventriculi yang melanjutkan diri dengan menyempit disebut pylorus ventriculi.
Selanjutnya pylorus akan bermuara dalam duodenum.
A. Tunica mucosa

Pada keadaan hidup biasanya terlihat merah muda kecuali pada daerah cardia dan
pylorus agak pucat. Tampak pada permukaan lipatan-lipatan yang disebut rugae
karena longgarnya tunica submucosa di bawahnya. Terdapat gambaran yang lebih
menetap yaitu tonjolan-tonjolan yang membentuk bulat dipisahkan oleh alur-alur

21
disekitarnya yang dinamakan areola gastrica. Sebagian besar tunica mucosa terisi
oleh kelenjar lambung yaitu : glandula cardiaca, glandula fundica, dan glandula
pylorica.

• Epitel
Dilapisi oleh epitel silindris selapis. Didaerah cardia terdapat peralihan dari epitel
oesophagus. Semua sel epitel merupakan sel yang menghasilkan mucus. Sel-sel
epitel tersebut dijumpai adanya terminal bars. Dengan mikroskop elektron
tampak microvili pada permukaan dengan lapisan karbohidrat pada membran
plasma. Pada sitoplasma terdapat butir musigen, bentuk bintang dengan warna
gelap dan homogen. Dalam keadaan normal sel-sel epitel ini selalu diperbarui
setiap 3 hari. Tanda-tanda regenerasi tampak pada bagian dasar foveola gastrica.
Sel-sel yang terbentuk baru akan mendorong ke atas utuk menggantikan sel-sel
yang dilepaskan.

• Laminakpropria
Jaringan pengikat pada lamina propria ini sangat sedikit karena terdesak oleh
kelenjar-kelenjar yang begitu rapat, yaitu jaringan ikat kolagen dan retikuler.
Infiltrasi limfosit tersebar secara difusi dan kadang-kadang ditemukan
lymphanodulus solitarius.

Ventriculi terdapat 3 macam kelenjar :

-gGlandulafcardiaca
Kelenjar ini terdapat disekitar muara oesophagus di dalam gaster. Glandula
cardiaca merupakan kelenjar tubuler kompleks yang bermuara pada dasar
foveola gastrica. Pada kelenjar ini hanya ditemukan satu jenis sel yaitu sel
mukosa yang mirip dengan sel mukosa pada glandula pylorica atau sel mukosa
leher dari glandula fundica.

-bGlandula fundica/glandula gastrica propria

Merupakan kelenjar utama pada dinding ventriculus yang menghasilkan getah


lambung. Bentuk masing-masing kelenjar ialah tubuler simplex bercabang,

22
bermuara pada dasar foveola. Ujung-ujungnya sedikit membesar dan bercabang
menjadi 2—3 buah. Ujung-ujung kelenjar mencapai lamina muscularis mucosa.
Dalam sebuah lambung terdapat sekitar 15 juta kelenjar.

Dalam kelenjar ini dibedakan 4 macam sel :

1) Sel principal = sel zimogen atau sel utama (chief cell)

Bentuk sel : silindris pendek atau kuboid, tersusun selapis pada ½ atau 1/3
bagian distal dari kelenjar, Mudah rusak, tapi jika tidak ada asam lambung
kerusakan dapat dihambat, Menghasilkan pepsinogen yang akan berubah
menjadi enzim pepsin

Dengan mikroskop elektron terlihat :

- Pada permukaan terdapat microvili yang tidak teratur

- Kompleks golgi yang berkembang menghasilkan protein

- Granular reticulum endoplasmic lebih banyak

- Ribosom bebas atau menempel lebih banyak, merupakan penyebab


warna basofil

2) Sel parietal

Terdapat tersebar diantara sel utama sepanjang dinding kelenjar, Bentuk sel
seperti pyramid atau agak bulat pada dasarnya yang terdesak ke basal oleh
sel utama, Inti bulat, sitoplasma tampak asidofil serta adanya canaliculi
secretori yang tampak sebagai bangunan intraseluler, Diduga menghasilkan
asam HCl dalam getah lambung. Dengan mikroskop elektron terlihat :

- Permukaan sel yang mengadakan invaginasi membentuk canalikuli

- Microvili panjang

23
- Hubungan dengan sel utama diperkuat oleh zenula occluden dan
desmosom

- Mitokondria tampak asidofil

- Kompleks golgi terdapat antara inti dan basal

3) Sel mukosa leher

Relatif sedikit dan terletak antara sel-sel parietal di daerah leher kelenjar,
Pada pewarnaan biasa mirip sel utama, tapi inti di basal agak pipih
Untuk membedakan dengan sel parietal, diwarnai dengan past/mucicarmine.
Dengan mikroskop elektron terlihat :

- Microvili pendek pada permukaan sel

- Dengan sel di dekatnya dihubungkan dengan desmosom interdigitasi

- Kompleks golgi diatas inti sel

- Mitokondria tersebar diseluruh sitoplasma

- Granular reticulum endoplasma lebih sedikit

4) Sel argentafin (sel enterokromatin)

Sel-sel kecil yang bergranula, tersebar diantara dasar sel utama,


Merupakan tempat sintesa dan penimbunan serotonin,
Menghasilkan gastrin, serotonin, dan enteroglukogen

- Glandula pyloric

Kelenjar ini terdapat di dalam lamina propria daerah pylorus. Glandula


pylorica berbentuk tubuler bercabang simpleks, ujungnya bercilia hingga
pada sediaan tampak terpotong melintang.

24
Sifat-sifat lain : Lumen besar, Terdapat satu macam sel saja, Sel-selnya
berbentuk silindris dengan sitoplasma pucat yang mengandung butir-butir
tidak jelas, inti terdesak ke basal sel, Tampak kapiler sekretori di antara sel-
sel kelenjar Dengan pewrnaan HE tampak sebagai sel zymogen atau sel
mucosa leher

- lamina muskularis mucosa gaster

terdiri atas serabut-serabut otot polos sirkuler sebelah dalam dan


longitudinal sebelah luar. Kadang-kadang terdapat lagi serabut sirkuler di
luar.

- Tunika submucosa

Merupakan jaringan ikat padat yang mengandung sel-sel lemak, mast cells,
sel limfoid

- Tunika muscularis

Terdiri dari 3 lapisan berturut-turut dari dalam keluar, yaitu:

a. Stratum oblique

Terutama pada facies ventralis dan dorsalis di daerah fundus dan


corpus ventriculi.

b. Stratum circulare

Merupakan lapisan yang paling merata di seluruh bagian ventriculus,


di pylorus membentuk muskulus sphincter pylori.

c. Stratum longitudinal

Banyak pada daerah curvatura minor dan curvatura major.

- Tunika serosa

25
Merupakan jaringan pengikat biasa yang sebelah luar dilapisi oleh mesotil
sebagai lanjutan dari peritoneum viscerale yang meneruskan sebagai
omentum majus. Pada perlekatan sepanjang curvatura minor dan major
tidak dilapisi oleh mesotil.

Fungsi Gaster

Ø Tempat penimbunan sementara makanan dan minuman, dan tempat


mengadakan pencernaan yang dilaksanakan secara kimia dan mekanik
Ø Menghasilkan getah lambung yang mengandung mucus air, electrolit,
pepsin, rennin

Ø Sel parietal diduga menghasilkan gastric intrinsic factor untuk absorbsi


vit B12

Di dalam pilorus lambung segera sebelum peralihannya menjadi


duodenum disebut sfingter pilorus, dibentuk terutama oleh penebalan
hebat dari lapisan sirkuler muskularis eksterna.

Ketika pilorus mendekati duodenum, pematang-pematang mukosa yang


mengelilingi sumur-sumur lambung menjadi lebih luas dan tidak
beraturan batasnya. Kelenjar-kelenjar tubuler berkelok-kelok pilorus
masih terdapat di dalam lamina propria yang sebenarnya, dan bermuara
ke dalam sumu-sumur lambung. Nodulus limfatikus sering terlihat pada
daerah peralihan.

Di dalam duodenum evaginasi mukosa vili mulai terlihat. Setiap vilus


berbentuk daun dengan ujung agak membulat. Di antara vili ada ruang
intervili, lanjutan dari lumen intestinum. Epitel sekresi mukus lambung
membentuk peralihan mendadak menjadi epitel intestin, yang terdiri dari
sel goblet dan sel silindris dengan batas berstrip-strip (mikrovili) yang
terus-menerus terlihat sepanjang intestin.

26
Kelenjar tubuler pendek tidak bercabang yang disebut kelenjar intestinal
kriptus Liberkhun. Di dalam lamina propria yang sebenarnya
menggantikan kelenjar pilorus. Kriptus ini terutama dibatasi oleh sel
goblet dan sel dengan permukaan bersrip meneruskan diri dengan epitel
permukaan. Satu atau lebih kelenjar intestinal bermuara ke dalam ruang
intervilus.
Kelenjar duodenal (kelenjar Brunner) memenuhi hampir seluruh bagian
atas duodenum dan sering meluas melewati muskularis mukosa.
Muskularis mukosa terputus dan berkas muskularis mungkin tersebar
diantara tubulus kelenjar mukosa. Bersama dengan kelenjar (submukosa)
oesofagus, kelenjar duodenum adalah satu-satunya kelenjar submukosa
yang sebenarnya di dalam saluran pencernaan.

6. Intestinum Tenue

Intestinum
tenue
merupakan
bagian
tractus
digestivus di
antara
ventriculus
dan
intestinum
crassum, seluruhnya ada sekitar 6 meter panjangnya. Intestinum tenue atau usus
halus ini dibedakan dalam 3 segmen berturut-turut yaitu :

• Duodenum

27
Panjang sekitar 30cm, letak retroperitoneal yang tertutup oleh peritoneum
parietale di sebelah ventralnya.

• Jejunum

• Ileum

Jejunum dan ileum dibungkus seluruhnya oleh peritoneus viscerale.


Dindingnya :

A. Tunika mucosa

Untuk memenuhi fungsi utama yaitu absorbsi makanan, maka perlu perluasan
dari permukaan tunika mucosa. Perluasan tersebut dilaksanakan dalam beberapa
tingkat :

• Lipatan-lipatan tunika mucosa sampai tunika submucosa, yang


melingkar-lingkar yang disebut plica circularis atau valvula kerckingi (mirip
lipatan). Lipatan ini merupakan bangunan yang tetap yang tidak berubah
karena pembesaran usus. Lipatan tersebut dimulai 5cm distal dari pylorus
yang makin membesar dan paling besar pada akhir duodenum dan awal
jejunum dan makin merendah sampai pada pertengahan ileum menghilang.

• Vili intestinalis

Merupakan penonjolan tunika mukosa dengan panjang 0,5 – 1,5 mm. Yang
meliputi seluruh permukaan tunica mucosa. Di daerah ileum agak jarang,
tersusun sebagai jari-jari, pada dasar vili terdapat muara kelenjar usus yang
disebut glandula intestinalis liberkuhn atau crypta lieberkuhn.

• Microvili

Dengan adanya microvili, maka luas permukaan diperbesar sekitar 30x. Pada
permukaan sel-sel epitel gambaran bergaris-garis yang disebut striated

28
border, yang merupakan tonjolan sitoplasmatis diliputi membrane sel.

 Epitel

Bentuk epitel silindris selapis

Oleh vili intestinalis dan glandula dibagi 4 sel, yaitu :

a) Sel absorbtif

- Berbentuk silindris dengan tinggi 20 – 26 μ

- Bentuk inti ovoid pada basal sel

- Pada permukaan bebas terdapat microvili

- Enzim pencernaan amylase dan protease diserap oleh selubung


glukoprotein hingga pencernaan dapat terjadi dalam lumen usus dan
permukaan microvili

- Dalam microvili terdapat filamen-filamen halus yang penting dan


sintesa trigliseride untuk proses absorbsi lemak.

b) Sel piala/goblet sel

- Merupakan sel uniseluler yang menghasilkan mucin.

- Sitoplasma merupakan lapisan yang tipis untuk melindungi lapisan

- secret tersebut sebagai plica.

- Ruangan yang dibatasi oleh plica tersebut berisi tetes-tetes mucigen.

c) Sel argentafis

- Sangat umum ditemukan dalam epitel duodenum

- Sangat banyak pada epitel appendix

29
d) Sel paneth

- Berkelompok dalam jumlah kecil di dasar crypta lieberkuhn

- Bentuk sel seperti pyramid, inti bulat pada dasarnya.

- Sitoplasma terlihat basofil, granular reticulum endoplasma lebih


banyak.

- Menghasilkan peptidase, losozim

 Lamina propria

- Merupakan jaringan pengikat yang mengisi celah-celah di antara


crypta lieberkuhn

- Mengandung serabut reticuler dan elastis

- Terdapat sel makrofag, limfosit, plasmosit, dan leukosit

- Nodus limfaticus lebih banyak, sebesar 0,6 – 3 mm sepanjang usus.

- Pada ileum sebagai nodus limfaticus paling besar plaques peyeri.

 Lamina muscularis

Terdiri atas 2 lapisan, yaitu :

- Stratum circulare di sebelah dalam

- Stratum longitudinal di sebelah luar

B. Tunika submucosa

Merupakan jaringan ikat padat yang banyak mengandung serabut elastis. Di


dalamnya terdapat pula kelompok-kelompok sel lemak. Terdapat anyaman
saraf sebagai plexus nervosus, submucosa meisseri.
Gambaran khusus tunika submucosa ada 2, yaitu:

30
a. Plica circularis

-Merupakan lipatan yang diikuti oleh lapisan dinding usus sampai


tunika submucosa untuk memperluas permukaan usus.

-Terdapat 800 lipatan melingkar sabagai cincin yang tidak sempurna


di sepanjang intestinum.

b. Glandula duodenalis bruneri

-Pars terminalis berbentuk tubuler yang bercabang dan bergelung.

- Ductus excretorius akan menembus lamina muscularis dan bermuara


pada crypta lieberkuhn.

-Pada 2/3 distal duodenum kelenjar tersebut akan berkurang


kemudian menghilang.

c. Tunika muscularis

-Terdiri atas 2 lapisan serabut otot polos :

• Stratum circulare di sebelah dalam

• Stratum longitudinal di sebelah luar

Diantara kedua lapisan tersebut terdapat plexus myentericus aurbach


d. Tunika serosa

Merupakan jaringan pengikat longgar sebagai lanjutan peritoneum viscerale

INTESTINUM CRASUM

Saluran usus ini mempunyai panjang sekitar 1,5 m, diameternya dua kali lipat
intestinum tenue. Tidak ada plica circularis dan juga vili intestinalis, sehingga
permukaan dalamnya tampak lebih halus. Glandula intestinal lebih panjang
dan rapat. Epitel yang melapisi tunika mucosanya pada umumnya sejenis.

31
Berdasarkan letak dan struktrunya, dibedakan dalam beberapa segmen, yaitu:
i. Colon, yang meliputi :

- caecum dan appendix vermiformis

- colon ascendes

- colon tranversum

- colon descendens

- colon sigmoideum

ii. Rectum, yang meliputi :

- pars empularis recti

- pars analis recti

- anus

1. Colon

Kecuali appendix, seluruh colon dan caecum mempunyai struktur yang


sama. Dari luar colon tampak segmen yang melintang menggelembung
yang disebut haustra. Disamping itu tampak adanya tiga jalur sebagai pita
yang memanjang mengikuti sumbu panjang colon yang disebut taenia coli.

Di antara colon, yang terletak intraperitoneal ialah caecum dengan


appendia, colon transversum dan colon sigmoideum. Sedang yang terletak
retro peritoneal ialah conon ascendens dan colon descendens.
Appendix vermicularis

Bangunan ini merupakan tonjolan sebagai jari atau cacing, yang berpangkal
pada caecum. Dindingnya relatif tebal dibandingkan lumennya. Adanya
lipatan tunica mucosa kedalam dinding menyebabkan bentuk lumen yang
tidak teratur. Pada orang dewasa lumen agak membulat. Kadang-kadang

32
lumennya berisi sisa-sisa sel sampai tersumbat. Appendix ini berakhir
buntu.

Dindingnya berstruktur sebagai berikut :

A. Tunica mucosa

Tidak mempunyai villi intestinalis.

1. Epitel, berbentuk silindris selpais dengan sel piala. Banyak


ditemukan sel argentafin dan kadang-kadang sel paneth.

2. Lamina propria, hampir seluruhnya terisi oleh jaringan


limfoid dengan adanya pula nodulus Lymmphaticus yang tersusun
berderet-deret sekeliling lumen. Diantaranya terdapat crypta
lieberkuhn

3. Lamina muscularis mucosa, sangat tipis dan terdesak oleh


jaringan limfoid dan kadang-kadang terputus-putus

B. Tunica submucosa

Tebal, biasanya mengandung sel-sel lemak dan infiltrasi limfosit yang


merata. Di dalam jariangan tunica submucosa terdapat anyaman pembuluh
darah dan saraf.

C. Tunic muscularis

Walaupun tipis, tapi masih dapat dibedakan adanya lapisan dua lapisan.
D. Tunica serosa

Tunica serosanya mempunyai struktur yang tidak berbeda dengan yang


terdapat pada intestinum tenue. Kadang-kadang pada potongan melintang
dapat diikuti pula mesoappendix yang merupakan alat penggantung sebagai
lanjutan peritoneum viscerale.

Valvula Ilecoececalis

33
Merupakan lipatan tunica mucosa dan tunica mucosa yang terdapat pada
muara ileum dalam caecum. Dalam lipatan ini terdapat serabut otot polos
memperkuat struktur tersebut. Serabut-serabut tersebut berasal dari stratum
circulare tunica muscularis. Tapi bebas lipatan tersebut membatasi suatu
celah tempat muara ileum.

Caecum
Struktur histologisnya tidak berbeda dengan colon yang lain.
Colon Ascendens, Colon Tranversum, Colon Descendens dan Colon
Sigmoideum

A. Tunica mucosa

Tidak membentuk lipatan, plica atau villa sehingga permukaan


dalamnya halus. Adanya lekukan ke dalam oleh incisura di luar
menyebabkan di dalam terdapat bangunan sebagai lipatan yang diikuti
seluruh lapisan dinding, yang disebut plica semilunaris.

1. Epitil

Epitil permukaan berbentuk silindris selapis dengan striated border


yang tipis. Diantara sel-sel epitel ini terdapat sel piala. Kelenjar-
kelenjarnya lebih panjang dari yang terdapat di usus halus, maka
tunica mucosa lebih tebal. Kelenjar-kelenjar tersebut tersusun teratur
dan sangat rapat. Hampir seluruhnya sel-sel kelenjar terdiri atas sel
piala. Kadang-kadang terdapat sel argentafin. Sedang sel paneth
sangat jarang.

2. Lamina propria

Susunan jaringan pengikat seperti pada intestinum tenue. Lebih


banyak pula nodulus lymphaticus soliterius yang kadang-kadang
meluas ke tunica submucosa.

3. Lamina muscularis mucosae

34
Jelas adanya dua lapisan

 Tunica submucosa : Tidak ada keistimewaan

 Tunica muscularis

 Tunica serosa

Seperti juga pada intestinum tenue maka colon yang terdapat


intraperitoneal akan dibungkus seluruhnya oleh tunica serosa dengan
mesotil. Pada beberapa tempat terdapat bangunan sebagai kantung
kecil yang berisi lerik yang disebut appendix epiepitionea

2. Rektum

Dibedakan 2 bagian :

Pars ampullaris recti

Sebagian besar tidak banyak berbeda strukturnya dengan colon.


Glandula intestinalis merupakan yang terpanajang diantara kelenjar
usus. Kemudian makin jarang, memendek dan menghilang pars
analis recti.

Jaringan limfoid lebih sedikit daripada digeolony. Tunica


muscularisnya terdiri dari dua lapisan tetapi tidak terdapat taenia lagi.
Tunica serosa diganti oleh tunica adventitia, hingga tidak dilapisi
oleh mesotil.

Pars analis recti

Tunica mucosa membentuk lipatan longitudinal, sebanyak sekitar 8


buah. Lipatan longitudinale ini disebut Columna rectalis Norgagni.
Ujung lipatan-lipatan tersebut bersatu membatasi lubang anus. Maka
terbentuk sebagai katup valvula analis dan ruang yang disebut sinus
analis. Pada apeks katup anus, epitel silindris rektum digantikan

35
langsung oleh epitel gepeng berlapis tanpa kornifikasi dari saluran
anus. Kelenjar intestinal berakhir di sini, lamina propria rektum
digantikan oleh jaringan ikat padat ireguler dalam lamina propria
saluran anus. Submukosa rektum bersatu dengan lamina propria
saluran anus.

Lamina propria dan submukosa keduanya amat vaskular pada daerah


ini. Plexus haemoroidalis interna yang terdiri dari vena terletak di
dalam mukosa saluran anus dan pembuluh darah meluas dari sini ke
dalam submukosa rektum. Hemoroid interna adalah hasil dilatasi
patologik dari pembuluh-pembuluh ini. Hemoroid eksterna
berkembang dari pembuluh-pembuluh plexus venosum eksterna pada
bibir anus.

Stratum circulare tunica musculoaris pada akhirnya akan menebal


membentuk m.spincter ani internum. Sedangkan diluarnya terdapat
bekas-bekas otot yang bergerak melingkar membentuk m.spincter ani
externus.
Pada akhir pars analis recti terdapat perubahan epitil, dari epitil
silindris selapis menjadi epitil gepeng berlapis tanpa keratinisasi.
Daerah perubahan tersebut melingkar, disebut liner anorectale.
Lebih lanjut epitil gepeng terlapis tadi akan mengalami keratinisasi
dan batasnya yang membentuk lingkaran disebut liniaanucutanea.
Di daerah ini mulai muncul folikel-folikel rambut dengan glandula
sebacea.
Galndula suderifera bersifat apokrin seperti di axilla, disebut glndula
circum-anale yang berbentuk tubuler.
Histofisiologi Intestinum CrasumAdanya sel piala yang makin
banyak menghasilkan mukus yang berguna untuk melicinkan.
Disamping itu mucus akan mengikat air sehingga isi colon makin
memesat. Terjadi pula absorbsi air dan vitamin.

36
Didalam colon terdapat banyak sekali bakteri pembusuk sehingga
dapat menghancurkan selulosa yang tadinya belum tercerna.

HEPAR
Anatomi HeparHepar merupakan kelenjar yang terbesar dalam tubuh
manusia. Pada vertebra rendah gambaran strukturnya memang benar-
benar sebagai kelenjar. Pada manusia dan juga pada vertebra tinggi
sudah berubah strukturnya sebagai susunan sel-sel dalam lempeng-
lempeng. Hepar pada manusia terletak pada bagian atas cavum
abdominis, di bawah diafragma, di kedua sisi kuadran atas, yang
sebagian besar terdapat pada sebelah kanan.
Berat organ ini pada orang dewasa sekitar 1,5 kg. Permukaan hepar
sebagian ditutupi peritoneum yang merupakan Capsula Glissoni.

Hepar terdiri atas :

· lobus dexter

· lobus sinister

· lobus caudatus

· lobus quadrates

Jika hepar segar diiris maka tampak warna merah tua dengan
gambaran bulat-bulat yang tersebar rata dan di sekelilingnya terdapat
pembuluh darah besar

Struktur Histologis

Hepar dibagi menjadi unit-unit berbentuk prisma polygonal yang


disebut lobulus, terdiri atas parenchyma hepar dengan diameter 0,7—
2 mm. pada potongan terlihat bahwa lobulus berbentuk sebagai segi

37
enam dengan pembuluh darah yang terdapat di tengah,yang disebut
vena sentralis.

Batas-batas lobulus pada hepar manusia tidak jelas dipisahkan oleh


jaringan pengikat. Pada sudut pertemuan antara lobuli yang
berdekatan terdapat bangunan jaringan pengikat berbentuk segi tiga
berisi saluran-saluran yang disebut Canalis Portalis yang terdiri dari
pembuluh darah, pembuluh limfe, saluran empedu dan serabut saraf.
Bangunan segitiga ini disebut Trigonum Kiernanni.

Jika mengingat hepar sebagai kelenjar maka apa yang disebut lobulus
tadi tidak sesuai dengan lobulus pada kelenjar yang pada umumnya
mempunyai saluran keluar yang terdapat di tengah-tengah lobulus.
Pembagian lobulus hepar tersebut merupakan pembagian cara klasik
yang mendasarkan atas aliran darah yang mengalir dari tepi lobulus
yang kemudian berkumpul di tengah Vena Sentralis. Jika terjadi
gangguan peredaran darah akan terjadi perubahan-perubahan di
daerah perifer lobulus yang meluas ke pusat lobulus.

Elias pada tahun 1949 meyatakan bahwa parenchyma hepar terdiri


atas masa sel yang saling berhubungan dan ditempati oleh suatu
anyaman sinusoid. Sinusoid ini membagi rangkaian sel-sel
parenchyma hepar menjadi lembaran atau lempeng-lempeng setebal
satu sel.

Sel-sel hepar disebut pula hepatosit yang berbentuk polyhedral.


Sepanjang permukaan terdapat anyaman canaliculi biliferi di seluruh
lobuli hepatic yang pada sediaan biasa tidak dapat dilihat dengan
mikroskop karena canaliculi tersebut sangat halus. Semua canaliculi
akan bermuara di cabang Duktus Biliferus di perifer lobulus hepatis.
Histofisiologi Hepar

38
Hepar merupakan alat yang vital terutama dalam proses bahan-bahan
makanan yang diabsorbsi dari saluran usus untuk nantinya dapat
diergunakan oleh jaringan dalam tubuh.
Beberapa fungsinya adalah:

1. Kelenjar eksokrin

• Hepar menghasilkan sekrei empedu sebanyak 1000 cc setiap


hari.
Dalam cairan empedu terdapat:

• pigmen empedu, sebagai hasil pemecahan Hb eritrosit dalam


lien dan medulla osseum (bilirubin yang tidak mengandung Fe
akan masuk darah ke hepatosit)

• garam empedu yang penating untuk pencernaan

• protein

• kolesterol

• kristaloid dalam air

• · hormon steroid yang mengikuti peredaran entahepatik.


Hormon steroid masuk hepatosit mengalami perubahan atau
tidak kemudian masuk enzim yagn disalurkan dalam intestinum.
Di intestinum diserap masuk ke dalam darah lagi untuk kembali
hepatosit. Demikian pula peredaran untuk bilirubin2.
Penimbunan bahan makanan atau vitamin
Misal; karbohidrat (glikogen), lemak vitamin B12 dan vitamin A

1. Transformasi
Protein menjadi karbohidrat atau lemak menjadi fosfolipid atau lipid
menjadi lipoprotein serum yang dilepaskan dalam spatium dise.

39
Konjugasi misalnya untuk detoksikasi amonia mnjadi ureum
Sintesa protein dalam plasma darah

2.Misal; albumin, globulin dan protein untuk pambekuan darah


Mengatur kadar beberapa zat dalam darah
Misal; glukosa yang dibantu oleh beberapa enzim dan hormone

3. Sel Kuffer

4. Termasuk dalam sistim retikuloendotelial membantu dalam


pemecahan eritrosit

VESICA FELLEA

Dinding Vesica Fellea

1. Tunica Mucosa

Bagian dinding ini mudah mengalami kerusakan post mortem, maka pembuatan
sediaan vesica fellea sangat sulit. Tunica mucosa melipat-lipat membentuk rugae
pada permukaan. Pada liatan yang besar akan terdapat lipatan-lipatan yang lebih
kecil. Lipatan-lipatan tersebut akan mendatar apabila vesica fellea berisi penuh.

· Epitel

Terdiri atas selapis sel silindris tanpa sel piala. Sel-selnya mempunyai inti oval
dengan bbutir-butir kromatin halus. Inti terdapat di bagian basal sel. Pada
permukaan sel terdapat banyak microvilli.

· Lamina Propria

Sebagai jaringan pengikat di bawah pitel. Tidak diketemukan kelenjar kecuali


pada collum yang berbentuk tubulo alveolar dengan sel-sel yang berbentuk
kuboid jernih, dengan inti gelap terdesak ke basal. Kelenjar ini menghasilkan

40
mucus
2. Tunica Muscularis

Terdiri atas anyaman serabut-serabut otot polos yang berjalan sirkuler,


longitudinal dan menyerong dengan disertai serabut-serabut elastis.
3. Tunica Perimuscularis

Merupakan jaringan pengikat agak padat yang membungkus seluruh vesica


fellea dan melanjutkan diri kedalam jaringn interlobular hepar. Di dalamnya
banyak mengandung serabut-serabut elastis dengan beberapa fibroblast, sel
lemak, sel limfoid, pembuluh darah, pembuluh limfe dan serabut-serabut saraf.
4. Tunica Serosa

Bagian vesica fellea yang tidak menempel pada permukaan hepar dibungkus
oleh peritoneum yang melanjutkan diri membungkus hepar. Peritoneum yang
menutupi vesica fellea merupakan tunica serosa.

Vesicsa fellea pada collumnya melanjutkan diri sebagai ductus cysticus. Pada
permukaan dalamnya terlihat lipatan-lipatan yang disebut valvula spiralis heister
yang disebabkan karena penebalan sebagian dari tunica mucularis luarnya.
Histofisiologi Vesica Fellea

1. Vesica fellea dipergunakan untuk menampung dan menyimpan empedu yang


dihasilkan oleh hepar terutama pada waktu pencernaan lemak. Cairan empedu
disalurkan dari vesica fellea melalui ductus cholodochus ke dalam duodenum.
Hal ini disebabkan kontraksi otot-otot vesica fellea yang dipengaruhi oleh
hormon cholecystokinin yang ikeluarkan oleh tunica mucosa usus dibawa
melalui darah ke otot-otot vesica fellea.

2. Terdapat pengangkutan aktif ion Na ke dalam celah-elah iantara sel epitel


vesica fellea yagn diikuti transpor air dari cairan empedu ke dalam celah
interseluler. Akibatnya cairan empedu akan lebih pekat.
3. Sekresi mukus oleh kelenjar-kelenmjar yang terdapat dalm collum.

41
PANCREAS
Pancreas merupakan kelenjar campuran pada system digestive yang tarbesar
setelah hepar.

Terdiri atas dua bagian, yaitu:

- Kelenjar eksokrin

- Kelenjar endokrin

Pankreas terdapat retro peritoneal yang melintang dari bagian kanan menyerong
ke kiri atas diantara duodenum. Ujung kiri yang disebut cauda pankreatis
menempel pada lien.

Ukuran pada prang dewasa yaitu:

· Panjang 20—30 cm

· Berat 60—160 cm

Bagian-bagiannya yaitu:

· Caput pankreatis

· Corpus pankreatis

· Caudal pankreatis

Kelenjar Eksokrin

Kelenjar ini terdiri dari gabungan kelenjar acinus yang membentuk lobulus dan
digabungkan masing-masing oleh jaringan pengikat longgar yang dilalui oleh
pembuluh darah, pembuluh limfe, serabut dan saluran keluar kelenjar-
kelenjarnya.
Tiap asiunus dibentuk oleh selapis sel yang berbentuk piramidal yang pada
bagian basalnya bertumpu pada anyaman retikuler. Bagian puncaknya

42
membatasi lumen membesar berisi sekret. Diantara sel asini tadi terdapat kapiler
sekretoris yang bermuara dalam lumen kelenjar.

Di daerah basal terlihat gambaran bergaris-garis yang merupakan granular


endoplasmik retikulum yang saling beranyaman tampak basofil. Daerah
supranuklear terlihat butir-butir sekresi yang asidofil, butir-butir sekresi ini
berisi enzim-enzim proteolitik, lipolitik dan penghancur karbohidrat. Diantara
butir-butir terlihat celah-celah yang sebenarnya adalah kompleks golgi.

Struktur Halus

Nukleus tampak dibatasi oleh membrana nuklearis yang rangkap dengan di sana-
sini terdapat porus nuklearis. Di dalamnya terdapat 1—2 nukleoli yang jelas
dengan di tengah-tengahnya kurang padat (ini yang menyebabkan warna
eosinofil pada sediaan biasa)

Pada bagian basal sel asiner terdapat banyak sekali granular endoplasmik
retikulum yang berjalan sejajar dan saling berhubungan.
Dalam sitoplasma terdapat pula ribosom yang bebas. Riboson tersebut yang
menyebabkan warna basofil.

Mitokondria tidak begitu banyak terdapat. Sebagian besar terdapat di bagian


basal sel di antara granular endoplasmik retikulum. Kompleks golgi terletak di
daerah supranuklear yang bermacam-macam bentuknya.

Butir-butir sekresiu yagn telah terbentuk berkumpul di puncak sel. Butir-butir


sekresi ini diliputi membran yang permukaannya halus.

Saluran Keluar

Saluran keluar dimulai dalam asinus sebagai sel-sel sentreasiner yaitu sel saluran
kelenjar yang masuk ke dalam asinus. Dapat pula dimulai dari duktus ternalatus
yang kemudian menjadi duktus interlobularis.

43
Duktus interlobularis mempunyai dinding berepitel silindris pendek selapis yang
bertumpu pada bagian retikulum di bawahnya.

Duktus pankreatikus warsungi merupakan saluran keluar utama pankreas.


Duktus ini dimulai dari cauda pankreatis berjalan melintang sepanjang pankreas
dan menerima saluran-saluran yang lebih kecil sepanjang perjalanannya.
Kadang-kadang saluran utama ini bermuara sendiri di dalam duodenum pada
ampula vateri. Sebelah cranial dari duktus ini terdapat duktus accessorius
Santorini. Saluran ini mempunyai epitel silindris selapis yang diperkuat oleh
jaringan pengikat padat.

Fisiologi Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan (mulai dari mulut sampai anus) berfungsi sebagai berikut :
• menerima makanan (Mulut)
• memecah makanan menjadi zat-zat gizi
(Mulut, Tenggorokan, Kerongkongan &
Lambung)
• menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah
(Usus)
• membuang bagian makanan yang tidak dapat
dicerna dari tubuh
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan,
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan
juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas,
hati dan kandung empedu.

Mulut, Tenggorokan & Kerongkongan

44
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem
pencernaan. Bagian dalam dari mulut dilapisi
oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh
organ perasa yang terdapat di permukaan
lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri
dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman
dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan
lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau.
Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi
belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna.
Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut
dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung
antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri
secara langsung. Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

Lambung
Lambung merupakan organ otot berongga yang
besar dan berbentuk seperti kandang keledai,
terdiri dari 3 bagian yaitu kardia, fundus dan
antrum. Makanan masuk ke dalam lambung dari
kerongkonan melalui otot berbentuk cincin
(sfinter), yang bisa membuka dan menutup.
Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi
masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.
Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk
mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung
menghasilkan 3 zat penting :
• lendir
• asam klorida (HCl)

45
• prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)
Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap
kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada
terbentuknya tukak lambung.
Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin
guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai
penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri.

Usus Halus
Lambung melepaskan makanan ke dalam
usus dua belas jari (duodenum), yang
merupakan bagian pertama dari usus halus.
Makanan masuk ke dalam duodenum
melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang
bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh,
duodenum akan megirimkan sinyal kepada
lambung untuk berhenti mengalirkan
makanan.
Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke
hati melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan
air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding
usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
Pankreas
Pankraes merupakan suatu organ yang terdiri dari 2 jaringan dasar :
• Asini, menghasilkan enzim-enzim pencernaan

46
• Pulau pankreas, menghasilkan hormon
Pankreas melepaskan enzim pencernaan ke dalam duodenum dan melepaskan hormon
ke dalam darah. Enzim yang dilepaskan oleh pankreas akan mencerna protein,
karbohidrat dan lemak. Enzim proteolitik memecah protein ke dalam bentuk yang
dapat digunakan oleh tubuh dan dilepaskan dalam bentuk inaktif. Enzim ini hanya
akan aktif jika telah mencapai saluran pencernaan. Pankreas juga melepaskan
sejumlah besar sodium bikarbonat, yang berfungsi melindungi duodenum dengan
cara menetralkan asam lambung.
Hati
Hati merupakan sebuah organ yang besar dan memiliki berbagai fungsi, beberapa
diantaranya berhubungan dengan pencernaan.
Zat-zat gizi dari makanan diserap ke dalam dinding usus yang kaya akan pembuluh
darah yang kecil-kecil (kapiler). Kapiler ini mengalirkan darah ke dalam vena yang
bergabung dengan vena yang lebih besar dan pada akhirnya masuk ke dalam hati
sebagai vena porta. Vena porta terbagi menjadi pembuluh-pembuluh kecil di dalam
hati, dimana darah yang masuk diolah.
Hati melakukan proses tersebut dengan kecepatan tinggi, setelah darah diperkaya
dengan zat-zat gizi, darah dialirkan ke dalam sirkulasi umum.
Kandung Empedu & Saluran Empedu
Empedu memiliki 2 fungsi penting :
• membantu pencernaan dan penyerapan lemak
• berperan dalam pembuangan limbah tertentu dari tubuh, terutama
haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel darah merah dan
kelebihan kolesterol
Usus Besar
Usus besar terdiri dari :
• Kolon asendens (kanan)
• Kolon transversum
• Kolon desendens (kiri)

47
• Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa
bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.
Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin
K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta
antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar.
Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan
terjadilah diare.
Rektum & Anus
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal
dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid)
dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini
kosong karena tinja disimpan di tempat yang
lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika
kolon desendens penuh dan tinja masuk ke
dalam rektum, maka timbul keinginan untuk
buang air besar (BAB). Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan
keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam
pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB.
Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar
dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian
lannya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

• Biokimia
- Karbohidrat
Kanji yang tiba di duodenum akan
dicernakan oleh enzim amylase yang
berasal dari getah pankreas ke bentuk
maltosa dan oligosakarida. Kemudian,

48
Maltase,
dextrinase,
glucoamyla
kedua-duanya dicernakan ke bentuk glukosa, fruktosa
se dan galaktosa(monosakarida) dengan
bantuan enzim maltase, dextrinase dan glucoamlase. Ketiga-tiga enzim adalah ‘brush border
enzim’ yang dihasilkan oleh ‘brush border cell’ yang terdapat di permukaan villus usus halus.

Amyla
se

Kanji oligosakarida & maltosa glukosa

Karbohidrat yang telah dicernakan ke


bentuk monosakarida, yaitu glukosa,
fruktosa dan galaktosa akan diabsorpsi
di usus halus (ileum). Glukosa dan
galaktosa dibawa masuk ke dalam sel
absoprtive dengan menggunakan
bantuan Sodium-glukose transporter
(SGLT) manakala fruktosa bisa
melewati sel absorptive dengan proses
difusi. Sebagian besar fruktose akan
dirubah ke dalam bentuk glukosa
setelah berada di intraseluler. Glukosa,
galaktosa dan sebagian sisa fruktosa akan difusi ke dalam villus, kemudian dibawa ke dalam
pembuluh darah portal lalu dibawa ke hati.

Protein

49
Ketika makanan masuk ke oral cavity, tiada reaksi yang berlaku kerana tiada enzim yang
bekerja untuk mencernakan protein. Ketika bolus masuk ke gaster, asam lambung (HCl) akan
mengaktifkan enzim pepsin yang bertindak menghidrolisiskan ikatan peptida menjadi ikatan
polipeptida yang lebih kecil. Apabila chyme tiba di duodenum, enzim pepsin akan di non-
aktifkan dan diganti oleh enzim trypsin dan chymotripsin yang diterdapat dalam getah
pankreas. Kedua-dua enzim ini akan menghidrolisis ikatan polipeptida menjadi ikatan
oligopeptida. Kemudian, enzim carboxypeptidase akan bertindak memutuskan ikatan asam
amino yang terdapat pada ujung ikatan COOH pada oligopeptida.

Absopsi protein

Terdapat 3 macam enzim yang berperan dalam memutuskan ikatan asam amino yaitu
carboxypeptidase (memutuskan asam amino yang terdapat di ujung COOH), aminopeptidase
(memutuskan asam amino yang terdapat di ujung -NH , dan dipeptidase (memutuskan ikatan
asam amino pada dipeptida). Asam amino yang telah terbebas akan masuk ke dalam sel
absoprtive dengan bantuan Sodium-dependent asam amino co-transporter. Asam amino ini
akan dibawa ke dalam pembuluh darah villus, kemudian masuk ke pembuluh darah portal
hepatic, dan terus dibawa ke hati.

Lipid

50
Fat gobule yang terlalu besar menyebabkan pencernaan lipid menjadi kurang efisien. Oleh
karena itu, lecithin dan asam empedu akan memecahkan globul lipid yang besar menjadi
bentuk yang lebih kecil (droplet). Ketika di duodenum, enzim pankreas akan bertindak pada
droplets lipid dengan memecahkan ikatan pada trigliserida sehingga menghasilkan 1
monoglyserida dan 2 asam lemak.

Absorpsi

Monoglyserida, asam lemak, kolesterol dan vitamin yang larut lemak akan membentuk
gumpalan lipid baru yang disebut micelles. Micelles yang diliputi asam empedu yang bersifar
hidrophilic dengan mudah larut dan masuk ke dalam sel(proses difusi). Ketika berada di
intraseluler, micelles akan dihydrolisis kembali menjadi asam lemak dan monoglyserida(yang
akan membentuk semula menjadi triglyserida). Triglyserida akan bergabung sama
phospholipid dan kolesterol membentuk kilomikron. Kilomikron akan dibebaskan oleh badan
golgi keluar dari sel (exocytosis) dan kemudian akan masuk ke dalam lacteal (lymphatic

51
capilary) di villus. Kemudian kilomikron ini akan mengalir di dalam saluran limfe ke vena
subclavia kiri.

2. Patomekanisme Keluhan Utama


Diare

Perdarahan
Inflamasi, keganasanèpembesaran pada usus è makanan yang lewat membentur
dinding usus è mukosa usus rusak è pendarahan
Nyeri abdomen
merupakan kelainan yang tidak khas, dapat terjadi pada kelainan organik maupaun
kelainan fungsional organik, lokasi nyeri menetap fungsional, lokasi nyeri dapat
berubah baik tempat maupun penyebarannya. kelainan usus halus è di sekitar
umbilkus . kelaianan pada usus besar memberikan rasa nyeri pada daerah
suprapubik, kanan, atau kiri bawah. Nyeri terus menerus menandakan adanya
ulserasi yang berat pada usus atau adanya komplikasi abses.

52
3. Klarifikasi onset

• Sekretorik diare

– Peningkatan sekresi aktif atau terhambatnya absorpsi

– Penyebab terbanyak adalah cholera toxin yang merangsang sekresi


anion, terutama ion klorida

• Osmotik diare

– Terlalu banyak air yang tertarik ke usus

– Bisa disebabkan oleh laxatif osmotik, kelebihan magnesium atau


vitamin C, dan konsumsi sorbitol dalam jumlah besar

• Eksudatif diare

– Terdapat darah atau pus dalam feses

– Terjadi pada IBD seperti Crohn’s disease atau Ulcerative colitis

• Motilitik diare

– Hipermotilitas intestinal

– Akibat vagotomy atau diabetic neuropathy

Penyebab diare kronik

• Osmotik diare

– Intoleransi laktosa

– Medikasi: sorbitol, laktulosa, antasida

53
– Gejala: Penurunan volume feses dengan rasa lapar, peningkatan
osmotic gap > 50 mOsm/L

• Malabsorpsi

– Kelainan mukosa intestinal: gastroenteritis, Crohn’s disease

– Obstruksi limfatik

– Penyakit pada pankreas: pankreatitis kronik, karsinoma pankreas

– Pertumbuhan koloni bakteri yang berlebihan pada intestinum tenue:


gangguan motilitas (diabetes)

– Gejala: BB menurun, kandungan lemak pada feses 7 – 10 gr/24 jam,


anemia, hipoalbuminemia

• Sekretorik diare

– Sekresi hormon: gastrinoma, karsinoma pada medulla thyroid

– Malabsorpsi garam empedu: reseksi ileum, Crohn’s disease

– Adenoma vili

– Gejala: Volume feses > 1 L/hari, penurunan BB kecil diikuti rasa lapar
kecuali pada diare akibat malabsorpsi garam empedu

• Inflamasi

– Kolitis ulcerative

– Crohn’s disease

– Enteritis

– Maligna: lymphoma, adenocarcinoma

54
– Gejala: demam, hematochezia, nyeri abdominal

• Gangguan motilitas

– Pasca operasi: vagotomy, gastrectomy parsial

– Gangguan sistemik: hipertiroidism, DM, skleroderma

– Irritable bowel syndrome

4. Differential Diagnosis

• Colitis infektif

• IBD = Crohn’s disease dan Ulcerative Colitis

• Colitis amoeba

• Divertikulosis

• Karsinoma à pd GI

• Psikogenik

5. Obat Antidiare

- Jenis

• Antibiotik

yakni memberantas bakteri penyebab diare, seperti antibiotika, sulfonamida,


kinolon, dan funazolidon.

• Astringen

menciutkan selaput lendir usus

55
• Spasmolitik

yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang sering kali
mengakibatkan nyeri perut pada diare

• Adsorbensia

carbo adsorbens yang pada permukaannya dapat menyerap (adsorpsi) zat-zat


beracun (toksin) yang dihasilkan oleh bakteri atau yang adakalanya berasal
dari makanan (udang, ikan).

• Antimotilitas

56
REFERENSI

1. Wilson F. Practical .Lower Gastrointestinal Bleeding. 5th ed. Singapore:


American Academy of ophthalmology. 2005. 65-6, 90-2

2. Ilyas S. Kelainan Gastroenterology. 2nd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.


2006. 1-14, 35-48

3. Eva RP. Anatomi dan embriologi. In: Vaughan DG, Asbury T, Eva RP,. 14th ed.
Jakarta: Penerbit Widya Medika. 2000. 7-15

4. Lang GK. Secretory Diarrheaa short textbook. Stuttgart: Thieme. 2000. 117-9

5. Snell RS, Lemp MA. Clinical anatomy of Gastroenterology. 2nd ed. Oxford:
Blackwell Publishing. 2006. 143-9, 171, 197-207

6. Rabbets RB, Mallen EE. In The Gastrointestinal System at a Glance.4th


ed. Edinburgh: Elsevier. 2007. 129-31

7. American Academy of diagnosis & treatment Gastroenterology. Section 3.


American Academy. 2003. 118-9, 50

8. Schlote T, Rohrbach J, Grueb M, Mielke J. Pocket atlas of Gastrointestinal.


2006. 135-7

9. Scheie HG, Albert DM. Textbook of ophthalmology. 9th ed. Philadelphia: WB


Saunders Company. 269-70, 72-73

10. Olver J, Cassidy L. Colonic Absorption and Secretion.. Massachusetts:


Blackwell Science. 2005 22-4

57