Anda di halaman 1dari 35

Y L

P 3 E S ID A

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)


SUMATERA BARAT

KONFLIK DAN PERUBAHAN POLITIK

Oleh : Febria Marta Siska

A. KONFLIK PEMILU LEGISLATIF DAN PILPRES

Konflik Lembar Suara dan Bilik Pemungutan Suara

Lembar suara dalam Pemilu 2009 berukuran sangat besar sebagai akibat dari
jumlah partai yang sangat banyak (Pemilu Legislatif 2009 memiliki 38 partai
peserta). Ukuran yang besar ini ternyata tidak disesuaikan dengan besarnya bilik
tempat pemungutan suara dilakukan. Silakan lihat gambar yang saya ambil dalam
salah satu simulasi Pemilu dibawah ini.

Kertas yang besar dengan lipatan yang tidak mudah. Berbagai hal akan
muncul sebagai dampak dari ukuran bilik yang kecil yang sudah tentu akan
merugikan berbagai pihak.

1|Febria Marta Siska


Setiap pemilih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuka dan
menutup lembar suara kedalam bentuk lipatan yang benar. Akibatnya, antrian akan
menjadi panjang dan membuat TPS mengalami kesulitan tutup pada jam yang sudah
disepakati.

Ada beberapa pemilih yang membuka lembar suara sambil memegang pulpen.
Akibatnya bisa terjadi coretan tidak sengaja yang bisa membuat lembar suara tersebut
menjadi tidak sah! Coretan tersebut terjadi –lagi-lagi– akibat membuka lembar suara
yang besar didalam bilik yang kecil.

Pada beberapa daerah pilih, lembar suara tidak hanya besar, tetapi juga terdiri
dari dua lembar suara. Tentu hal ini semakin membuat pemilih merasa kesulitan, baik
saat membuka, melipat bahkan memasukannya kedalam kotak suara.

Konflik Penghitungan Manual dengan Penghitungan Elektronik

Entah kenapa, para perancang Undang-undang Pemilu di negara kita ini benar-
benar tidak mau mempercayai teknologi. Buktinya, Indonesia tetap memilih
menggunakan hitungan manual di abad informasi saat ini. Hitungan secara eletronik
diperkenankan, tetapi yang menjadi patokan tetap hitungan manual yang yang
hasilnya bisa memakan waktu satu bulan. Padahal selain masalah waktu yang jika
dinilai dengan uang adalah sulit, penggunaan IT juga akan memangkas biaya secara
signifikan –tentu dengan catatan jika dibuat dengan benar.

Oleh sebab itu, tidak berlebihan kiranya jika bangsa Indonesia mulai
memikirkan untuk menggunakan IT dalam pemungutan suara di tahun 2014 seperti
yang telah dilakukan oleh banyak negara maju di dunia. Penggunaa IT dalam pemilu
berikutnya bukan hanya membicarakan masalah waktu dan biaya, namun juga sesuatu
yang lebih penting yakni masalah transparansi hasil Pemilu.

Konflik Penyimpanan Data yang Berupa Excel atau DBMS

Bahan dasar dari sebuah pemungutan suara tidak lain adalah pemilihnya.
Artinya data pemilih sangat memegang peranan atas kesuksesan atau tidaknya sebuah
Pemilu. Sayangnya, lagi-lagi IT kurang dimanfaatkan untuk hal ini. Data-data pemilih
disimpan dalam file Excel yang memiliki beragam format yang sudah tentu

2|Febria Marta Siska


menyulitkan dalam pemeliharaannya. Pemeliharaaan sulit otomatis membuat kualitas
data menjadi kurang baik. Inilah salah satu yang membuat DPT memiliki banyak
masalah dan membuat KPU berwacana untuk mengubah DPT menjelang Pemilu
digelar.

Memelihara data pemilih sebanyak 171 juta dari 33 propinsi bukan lah perkara
mudah, apalagi dilakukan menggunakan sistem semi manual seperti yang dilakukan
KPU saat ini. Diperlukan sebuah sistem dengan DBMS yang baik sehingga
pemeliharaannya jauh lebih mudah dan tentu akan menghasilkan kualitas data yang
jauh lebih baik. Saya tidak percaya jika tidak ada satu pun SDM Indonesia yang
mampu membuat ini semua dengan biaya yang relatif murah.

Masalah DPT dan Pemilih Ganda Warnai Pilpres

Dari 25 kecamatan di Kabupaten Asahan, pasangan SBY-Boediono dengan no


urut 2 mengungguli dua pasang capres dan cawapres lainnya dengan meraih 215.061
suara atau 46%.

Pasangan Mega-Pro dengan no urut 1 meraih 89.542 suara atau 19,25%,


disusul no urut 3 pasangan JK-Win mengumpulkan 17.856 suara atau 3,84%.
Sementara masalah DPT dan pemilih ganda masih mewarnai pilpres 2009 di Kab
Asahan.

Ketua Panwaslu Husein Abduh kepada Waspada, tadi malam, menjelaskan,


dalam pilpres 2009 banyak ditemukan pemilih yang di bawah umur yang masuk DPT.
"Berdasarkan pantauan kami di lapangan ada beberapa TPS yang mencantumkan
pemilih di bawah umur dan di Desa Silau Balu TPS II ditemukan pemilih ganda,"
jelas Husein Abduh.

Di tempat yang berbeda, Ketua KPUD Asahan Edy Prayetno melalui Divisi
Teknis Penyelanggaraan M Yusuf Sinambela di konfirmasi Waspada, tadi malam,
menjelaskan, kesalahan pemilih yang di bawah umur yang masuk di DPT dan pemilih
ganda adalah merupakan kesilapan yang dilakukan anggotanya yang kurang dalam
meneliti dalam pengetikan.

3|Febria Marta Siska


"Semua kesalahan itu adalah kesalahan saya, karena saya kurang meniliti
berkas DPT yang masuk, disebabkan banyak tugas yang harus dilakukan," jelas
Sinambela.

Menurutnya, KPUD telah berusah semampunya, namuan demikian masih


ditemukan kesalahan baik itu masalah DPT dan pemilih ganda. " Namun demikian
kami terus berusaha untuk memperbaikinya," ujar Sinambela.

Dua nama; Sinambela juga menjelaskan, warga Asahan selalu menggunakan


dua nama, sehingga menyulitkan petugas dalam mendata nama mereka. " Kebanyakan
warga seringg menggunkan nama panggilan yang berbeda dengan nama aslinya, dan
hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemilih ganda," jelas Sinambela.

Sementara pantauan Waspada, Bupati Asahan Risuddin dan jajarannya


memantau di lapangan Kota Kisaran, demikian juga Kapolres Asahan AKBP Rudi
Sumardiyanto bersama perwiran melakukan hal sama di beberapa TPS di Kota
Kisaran maupun di desa-desa.

Sementara, Ketua Panwaslu Kabupaten Asahan Husaini Abduh memantau di


beberapa kecamatan luar Kota Kisaran, mulai dari Tinggi Raja, Buntu Pane, Bandar
Pasir Mandoge, dan ia mengakui Pilpres berjalan aman."Alhamdulillah situasi Pilpres
berjalan aman dan terkendali," ujar Abduh kepada Waspada.

Masalah Dana Kampanye Pemilu Presiden

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan perolehan dana kampanye


masing-masing pasangan calon yang akan berlaga di Pemilihan Presiden 2009, 8 Juli
mendatang. Ketua KPU, Abdul Hafiz Anshary mengatakan data terbaru merupakan
data per 5 Juli 2009.

Pasangan nomor satu, Megawati-Prabowo mendapatkan dana sebesar Rp


257.600.050.000. Dana tersebut jauh melampaui nilai dana awal kampanye per 1 Juni
2009, yakni Rp 20.005.000.000.

4|Febria Marta Siska


Sedangkan pasangan nomor dua, Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono
memperoleh dana kampanye kedua terbesar yakni Rp 200.470.446.232. Padahal,
menurut catatan KPU dana awal pasangan ini adalah yang terbesar yakni Rp Rp
20.300.010.000.

Sementara, posisi dana kampanye keuangan Jusuf Kalla-Wiranto tetap yang


paling sedikit. Pasangan ini memiliki dana kampanye sebesar Rp 83.327.864.390.
Dana awal pasangan JK-Wiranto juga paling kecil yakni Rp 10.250.000.000.

"Sedangkan pengeluaran akan dilaporkan pada 18 Juli 2009. Selambatnya


dilaporkan 14 hari setelah masa kampanye," kata dia di Gedung Komisi Pemilihan
Umum, Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Senin 6 Juli 2009.

Baik asal maupun penggunaan dana kampanye, kata Hafiz Anshary akan
diaudit oleh kantor akuntan publik.

Aturan dalam Undang-undang pemilihan presiden membatasi batas maksimal


sumbangan dari perusahaan atau institusi sebesar Rp 5 miliar. Sedangkan, sumbangan
perseorangan maksimal Rp 1 miliar.

KPUD Pertanyakan Keaslian DPT yang Didapat Panwas

Delapan hari menjelang pemungutan suara Pemilihan Presiden (Pilpres), daftar


pemilih tetap (DPT) masih diragukan. Di Kota Jambi, Panwas Pemilu menemukan
3.128 nama pemilih yang tertulis dua kali alias ganda serta 150 nama pemilih di
bawah umur 17 tahun.

Temuan tersebut disampaikan anggota Panwas Pemilu Provinsi Jambi Maroli


kemarin (30/6). Maroli menjelaskan, laporan temuan pemilih ganda tersebut baru
diterima dari Panwas Kota Jambi kemarin.

Maroli mengaku kaget atas temuan itu karena selama ini KPUD selalu
meyakinkan Panwas bahwa DPT Pilpres akan lebih baik. Itu karena pengecekan DPT
KPUD memakai program dan perangkat teknologi yang lebih canggih.

5|Febria Marta Siska


Maruli mengaku masih meragukan DPT sejak adanya temuan 180 pemilih
ganda oleh Panwas Kota Jambi beberapa waktu lalu. Waktu itu KPUD
memperbaikinya dengan mencoret nama yang ganda tersebut.

Namun jumlah DPT tidak berkurang. Menurut Maroli, UU tidak membolehkan


perubahan seperti penambahan dan pengurangan bila DPT sudah ditetapkan.
“Pelanggaran itu masuk dalam indikasi pidana pemilu,” ujarnya.

Menurut Maroli, temuan 3.182 DPT ganda dan 150 pemilih di bawah umur
sudah disampaikan ke KPUD Provinsi dan KPUD Kota Jambi. Namun hingga
kemarin belum ada tanggapan.

Sementara itu, lanjut dia, panwas kabupaten kini sedang mencermati soft copy
DPT yang didapat dari KPUD Provinsi Jambi untuk mengetahui ada tidaknya masalah
pada DPT di masing-masing daerah.

Ketua KPUD Kota Jambi Ratna Dewi mengaku sudah menerima laporan
Panwas. Saat ini pihaknya sedang mencocokkan temuan Panwas dengan data KPUD
Kota.

“Sejauh ini tim IT mengatakan tidak ada lagi pemilih ganda. Makanya kami
juga terkejut dengan temuan Panwas,” ujarnya di sekretariat KPUD Kota Jambi
kemarin.

Malah saat penyampaian di KPU Pusat juga tak ditemukan masalah pada DPT
Kota Jambi. Karena itu pihaknya bertanya-tanya, jangan-jangan data yang digunakan
Panwas adalah data pemilih yang belum “dibersihkan”.

Berdasarkan informasi dari sekretariat, lanjut Dewi, pihaknya tidak pernah


mengeluarkan soft copy DPT untuk Panwas Kota Jambi setelah 28 Mei 2009. Hal itu
bisa dibuktikan, karena setiap penyerahan soft copy selalu dengan tanda terima.

Penyerahan ke KPUD Provinsi dan KPU Pusat pun selalu dengan tanda terima.
“Yang ada itu tanda terima di bawah tanggal 28 untuk DPS (daftar pemilih sementara)
yang belum kita bersihkan,” ujarnya.

6|Febria Marta Siska


Waktu itu, lanjut dia, ada perpanjangan waktu dari KPU Pusat untuk
membersihkan data pemilih. Karena itu DPS juga diberikan ke Panwas agar Panwas
membantu proses pemutakhiran data pemilih.

“Makanya kami menanyakan ke Panwas Kota, apakah soft copy itu didapatkan
melalui jalur resmi atau tidak, ada tanda terima atau tidak. Karena di luar sana banyak
bertebaran DPT. Tapi yang asli dikeluarkan KPU Kota pasti ada bukti tanda
terimanya,” jelas Ratna panjang-lebar.

Soal 180 pemilih ganda yang ditemukan sebelumnya, Agus Fiyadi, koordinator
Pemutakhiran Data Pemilih KPUD Kota Jambi, memastikan bahwa itu hanya
kesalahan entry. Di salah satu TPS, kata dia, jumlah pemilih yang seharusnya 450 ter-
entry hanya 300.

Sisanya masuk ke daftar pemilih di TPS lain. “Kalau itu kita akui. Sudah kita
perbaiki. Temuan terakhir ini yang tidak masuk akal,” katanya.

Soal pencoretan DPT setelah penetapan, menurut Agus, sudah dikonsultasikan


ke KPU Pusat. “Kasusnya sama di DIY,” ujarnya.

Ketua Panwas Kota Jambi Taufik Hidayat mengaku menerima soft copy dari
KPUD Kota Jambi pada Juni. Itu berarti data yang diberikan tidak mungkin DPS.

“Besok saya jelaskan. Lihat sama staf saya soft copy yang didapat dari KPUD
Kota,” kata Taufik yang saat dihubungi mengaku masih berada di Bawaslu Jakarta.

Menurutnya, Panwas hanya memakai program sederhana untuk melacak data-


data ganda itu, yakni Microsoft Acces. Itu berbeda dari sofware yang dipakai KPUD.

Distribusi Logistik

Selain DPT, masalah lain yang juga dapat menghambat pelaksanaan Pilpres
adalah logistik yang belum cukup. Ada kekurangan 5.052 lembar surat suara. Menurut
Koordinator Divisi Logistik KPUD Provinsi Jambi Pahmi SY, masalah logistik
merupakan kesalahan teknis dari pusat.

7|Febria Marta Siska


“Ketika kita menemukan kekurangan surat suara, surat suara yang sobek, ada
goresan, dan kabur yang menyebabkan kerusakan, kita langsung mengonfirmasikan ke
KPU Pusat. Sebab, umumnya temuan tersebut merupakan paket yang disiapkan dari
KPU pusat,” ungkapnya.

Dia mengakui, khusus untuk surat suara, terjadi kesalahan dari KPU Pusat
karena jumlah pengiriman tidak sesuai dengan permintaan. “Semua sudah kita
konfirmasikan. Insya Allah temuan yang rusak dan lainnya Kamis (besok) akan datang
dan langsung didistribusikan ke setiap daerah,” kata Pahmi yang saat dihubungi
sedang berada di Jakarta. Menurut Fahmi, semua logistik Pilpres sudah didistribusikan
ke daerah.

Untuk diketahui, logistik Pilpres yang dipersiapkan KPUD Provinsi Jambi antara lain
formulir dan kelengkapan administrasi. Sedangkan surat suara dan tinta berasal dari
KPU Pusat.

Bila distribusi logistik Pemilu tidak dilakukan tepat waktu maka pelaksanaan
Pemilu 9 April 2009 bisa terganggu. Hal ini dikatakan Direktur Monitoring
Demokrasi Sulawesi Tenggara (SulTra DeMo ), Arafat SE, ketika dihubungi via
telpon koran ini, kemarin.

Karena itu, mantan anggota KPU Kota Kendari ini memprediksi, kemungkinan
salah satu masalah pokok yang akan timbul sebelum pelaksanaan Pemilu yang akan
dilaksanakan sekitar 38 hari lagi adalah masalah logistik Pemilu.

Hal ini, kata Arafat, didasarkan pada analisis waktu yang mepet terhadap
ketersediaan logistik Pemilu dan distribusinya, sebab sebahagian logistik Pemilu
seperti kertas suara, tinta dan segel diadakan oleh KPU Pusat.

Selain itu, kata dia, logistik Pemilu seperi kekurangan kotak dan bilik suara
dan segala kebutuhan administrasi logistik pemilu lainnya, baik kebutuhan di tingkat
KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK, PPS, dan KPPS diadakan oleh KPU
Provinsi belum lagi secara geografis wilayah Sulawesi Tenggara daratan dan
kepulauan cukup luas, sehingga sarana dan prasarana pengangkutan menjadi mutlak
diperhitungkan, belum lagi kendala cuaca yang kemungkinannya sulit untuk ditebak

8|Febria Marta Siska


yang bisa saja tidak bersahabat.

“Hal ini harus memerlukan keseriusan analisis waktu yang tersedia, kapan
logistik Pemilu yang diadakan KPU Pusat tiba di KPU Provinsi dan berapa lama pula
KPU Provinsi memilah dan mendistribusikannya kepada KPU Kabupaten/Kota.
Begitu pula KPU Kabupaten/Kota, berapa waktu mereka memilah, melipat kertas
suara, serta merakit bilik dan kotak suara, maupun memverifikasi jumlah kebutuhan
kelengkapan administrasi lainnya serta mendistribusikannya ke PPK, PPS dan KPPS,”
ulas Arafat.

Olehnya itu, lanjut Arafat, jika jadwal waktu tidak dipertimbangkan secara
matang, maka dengan sisa waktu yang sudah semakin singkat ini akan terjadi
emergensi-emergensi diluar dugaan, baik pada pengadaan maupun distribusi logistik.

“Karenanya, analisis waktu dan scedul sangat penting agar kalau terjadi
hambatan kendala logistik dalam pelaksanaan pemilu 9 April 2009 dalam setiap
tingkatan penyelenggara Pemilu tidak saling lempar tanggung jawab antara KPU
Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK, PPS dan KPPS, sebab mata rantai distribusi
cukup panjang sampai ketingkat KPPS/TPS, tidak menutup kemungkinan ada
beberapa TPS pada tanggal 9 April 2009 belum tiba logistik pemilu," tandasnya.

KTP Ganda, Masalah Baru Pilpres

Diperbolehkannya penggunaan KTP untuk memilih oleh MK disambut baik


banyak pihak. Namun KTP ganda menjadi masalah baru di Pilpres 2009.

"KTP bisa diperoleh dengan mudah, sehingga seorang pemilih dapat memiliki
kartu lebih dari satu, makanya harus diseriusi," kata Direktur Lingkar Madani (Lima)
Ray Rangkuti dalam Dialog Publik Quo Vadis Pemilu 2009 di Jakarta, Selasa (7/7).

Sudah bukan rahasia, kata Rangkuti, bahwa banyak penduduk Indonesia yang
memiliki KTP ganda, terutama mereka yang bekerja di kota tapi berasal dari pedesaan.

Memang, kata Rangkuti para pemilih akan diberikan tinta di jari. Tetapi masih

9|Febria Marta Siska


terdapat kemungkinan tinta tersebut hilang sehingga kemudian melakukan
pencentangan dua kali.

"Petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara harus kerja ekstra,


apalagi bekerja dengan sistem manual yang tidak memungkinkan mengecek dalam
waktu cepat siapa saja yang sudah memilih," ujar Rangkuti.

Ia mengatakan, munculnya persoalan DPT sangat disesalkan, sebab KPU


sudah diberikan waktu cukup lama.

"Ini mungkin prestasi terburuk KPU, sebab mereka hanya mengatakan beres
semua tidak ada masalah," ujar Rangkuti.

Dari sisi partisipasi masyarakat cukup baik, karena respon demikian tinggi,
tetapi sayangnya pelayanan KPU tidak optimal sehingga banyak pemilih tidak
terdaftar.

"Kita seperti kembali di jaman kemerdekaan tahun 1945 dimana saat itu
banyak penduduk belum memiliki tanda sebagai penduduk," pungkas Rangkuti.
Masalah Kotak Suara Dan Bilik Suara

Permasalahan kotak suara untuk Pemilu 2009 bukan hanya ditemukan di Bener
Meriah tetapi juga di Kabupaten Bireuen. Seperti halnya di Bener Meriah, kotak suara
yang dikirim ke Bireuen juga berlobang kecil sehingga dikhawatirkan akan merusak
surat suara pemilih.

Laporan banyaknya kotak suara yang tidak bisa digunakan di Kabupaten Bener
Meriah mengundang respon dari Komisi Independen Pemilihan Umum (KPU) Aceh.
Menurut Pj Sekeretaris KPU Aceh, Nasir Zalba SE, tidak ada persoalan dengan
spesifikasi dan kualitas kotak suara di Kabupaten Bener Meriah.

Beberapa saat setelah Nasir menyampaikan bantahan itu, Serambi mendapat


kabar serupa yang menyebutkan KIP Bireuen juga menerima kiriman kotak suara
berlubang kecil yang terbuat dari papan, bukan dari alumunium seperti peninggalan
pemilu lalu.

10 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Banta Husen, anggota PPK dari Kecamatan Peusangan yang ditemui di gudang
logistik pemilu mengatakan, lobang kotak suara kecil dikhawatirkan akan merusak
kertas suara saat dimasukkan oleh pemilih. “Ini lobangnya kecil, terkesan dikerjakan
buru-buru,” kata Banta.

Menurut Banta, kotak suara peninggalan pemilu lalu dari alumunium lebih
bagus dari kotak suara yang dikirim ke KIP Bireuen saat ini.

Imran anggota KIP Bireuen saat menerima kiriman kotak suara melalui Pos
dan Giro mengatakan, kecilnya lobang kotak suara sudah disampaikan ke KIP Aceh
untuk dicarikan solusinya.

“KIP Aceh mengatakan kotak suara sudah sesuai standar. Namun banyak PPK
mengeluh ketika melihat lobang kotak suara kecil dan kunci pengaman pada tutup
kotak mudah rusak,” kata Imran.

Dirincikan Imran, jumlah kotak suara yang dibutuhkan untuk Kabupaten


Bireuen mencapai 4.100 kotak. Kotak lama dari alumunum berjumlah 3.494 kotak,
kotak suara yang dikirim Rabu (18/3) 168 kotak. Itu artinya masih kurang 438 kotak
lagi.

Membantah, Perihal laporan kotak suara berlobang kecil di Bener Meriah,


menurut Pj Sekeretaris KPU Aceh, Nasir Zalba, pihaknya belum menerima laporan
dari KIP Bener Meriah. “Tapi saya sudah cek. Semua kotak suara yang diterima KIP
setempat sudah sesuai spesifikasi. Jadi tidak ada persoalan,” kata Nasir kepada
wartawan di Kantor KIP Aceh, Rabu (18/3).

Nasir menyebutkan pihaknya sudah melakukan survei ke berbagai wilayah di


Aceh. Sejauh ini disimpulkan tidak ada yang bermasalah dengan bilik dan kotak suara.

“Misalkan Aceh Jaya tidak ada laporan bahwa itu (lubang kotak) tidak muat.
Padahal yang buat rekanan yang sama. Malah di Aceh Jaya ada rusak 11 buah bilik
karena engsel copot. Tapi sudah diganti. Tapi kita kaget ketika Pak Ahamdi dari Bener
Meriah mengatakan lubang kotak suara itu kecil,” ujarnya.

11 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Menurut laporan yang diterima KIP, ternyata spesifikasi kotak suara sudah
sesuai dengan kontrak yakni panjangnya 18 cm, lebar 0,8 cm sesuai dengan peraturan
KPU. Bahkan, katanya, oleh rekanan ukuran lebar ditambah menjadi 1 cm.

“Kalau menurut aturan lebarnya itu 0,8 cm. Ketika diukur sudah sesuai dengan
spek. Jadi kenapa teriak-teriak di koran. Kita tidak bisa main-main dalam persoalan
ini,” jelasnya.

Menurut Nasir, bila ditemukan ada masalah terhadap logistik pemilu yang
diadakan di provinsi, kepada semua KIP kabupaten/kota diminta melakukan
koordinasi dengan KIP Provinsi.

Ini penting agar semua persoalan bisa dipecahkan secara bersama. Karena itu
pihaknya meminta agar KIP setempat mengecek kembali kondisi kotak suara yang
telah diterima.

“Kalau pun ditambah ukurannya, itu akan menambah cost lagi. Kecuali
rekanan bertindak tidak sesuai dengan kontrak itu persoalannya menjadi lain,”
katanya.

Nasir juga menegaskan, dalam pengadaan logistik pemilu pihaknya berupaya


transparan. Bila pun ada masalah keterlambatan atau kerusakan logistik, itu tidak ada
kaitannya KIP melakukan kongkalikong dengan rekanan.

Surat Suara Menjelang 21 hari pemungutan suara, sejumlah kabupaten/kota


masih dihadapkan dengan persoalan surat suara yang rusak. Tapi KIP Aceh menyakini
semua persoalan tersebut bisa diatasi. Bila pun ditemukan ada surat suara yang rusak
KIP kabupaten/kota harus segera melapor kepada KPU dengan tembusan kepada KIP
Provinsi.

Surat suara pengganti akan dikirim KPU ke KIP provinsi. Selanjutnya KIP
akan memanggil Ketua Pokja Logistik untuk mengambil.

Terhadap surat suara yang rusak dan telah mendapat ganti harus dimusnahkan

12 | F e b r i a M a r t a S i s k a
dengan disaksikan polisi dan anggota panwaslu. Proses pemusnahan harus dibuat
berita acara.

Tambah kotak suara; Sementara itu, Nasir menyebutkan, hingga kemarin sudah
92 persen logistik pemilu yang pengadaannya di provinsi sudah disalurkan ke
kabupaten/kota. Sebanyak 8 persen sisanya saat ini masih dalam pengerjaan dan
distribusi. Pihak KIP menyatakan optimis pada 20 Maret, baik bilik dan kotak suara
sudah sampai ke seluruh kabupaten/kota. “Kecauali sampul. Keterlambatan ini karena
adanya keterlambatan peraturan KPU. Sehingga kita belum bisa cetak,” katanya.

Selain itu, jumlah kotak suara dan bilik suara juga terjadi penambahan di luar
angka dalam kesepakatan kontrak. Seperti jumlah kotak suara dalam kontrak awal
berjumlah 5.046 bertambah menjadi 6.501. Sedangkan bilik dari 16.265 bertambah
menjadi 22.996. Penamban ini terjadi antara lain karena adanya kotak suara dan bilik
yang rusak setelah diterima oleh KIP kabupaten/kota.(yus/sar)

B. PERUBAHAN PELAKSANAAN PEMILU 2004 DENGAN 2009

Sebelum kita memebahas perubahan pelaksaan pemilu 2004 dengan 2009


alangkah baiknya kita terlebih dahulu mengetahui sejarah pemilu di indonesia.
Pemilihan Umum (Pemilu) yang kita lakukan di tahun 2009 ini adalah yang ke-10.
Pemilu 2009 baru saja dilaksanakan tanggal 8 juli 2009, ada baiknya mengetahui
bagaimana Pemilu-pemilu yang telah dilaksanakan dan seperti apa hasilnya.

Pemilu 1955
Ini merupakan pemilu yang pertama dalam sejarah bangsa Indonesia. Waktu itu
Republik Indonesia berusia 10 tahun. Kalau dikatakan pemilu merupakan syarat
minimal bagi adanya demokrasi, apakah berarti selama 10 tahun itu Indonesia benar
benar tidak demokratis? Tidak mudah juga menjawab pertanyaan tersebut.

Yang jelas, sebetulnya sekitar tiga bulan setelah kemerdekaan dipro-klamasikan


oleh Soekarno dan Hatta pada 17 Agustus 1945, pemerin-tah waktu itu sudah
menyatakan keinginannya untuk bisa menyele-nggarakan pemilu pada awal tahun
1946. Hal itu dicantumkan dalam Maklumat X, atau Maklumat Wakil Presiden
Mohammad Hatta tanggal 3 Nopember 1945, yang berisi anjuran tentang

13 | F e b r i a M a r t a S i s k a
pembentukan par-tai-partai politik. Maklumat tersebut menyebutkan, pemilu untuk
me-milih anggota DPR dan MPR akan diselenggarakan bulan Januari 1946. Kalau
kemudian ternyata pemilu pertama tersebut baru terselenggara hampir sepuluh tahun
setelah kemudian tentu bukan tanpa sebab.

Tetapi, berbeda dengan tujuan yang dimaksudkan oleh Maklumat X, pemilu


1955 dilakukan dua kali. Yang pertama, pada 29 September 1955 untuk memlih
anggota-anggota DPR. Yang kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota-
anggota Dewan Konstituante. Dalam Maklumat X hanya disebutkan bahwa pemilu
yang akan diadakan Januari 1946 adalah untuk memilih angota DPR dan MPR, tidak
ada Konstituante.

Keterlambatan dan “penyimpangan” tersebut bukan tanpa sebab pula. Ada


kendala yang bersumber dari dalam negeri dan ada pula yang berasal dari faktor luar
negeri. Sumber penyebab dari dalam antara lain ketidaksiapan pemerintah
menyelenggarakan pemilu, baik karena belum tersedianya perangkat perundang-
undangan untuk mengatur penyelenggaraan pemilu maupun akibat rendahnya
stabilitas keamanan negara. Dan yang tidak kalah pentingnya, penyebab dari dalam
itu adalah sikap pemerintah yang enggan menyelenggarakan perkisaran (sirkulasi)
kekuasaan secara teratur dan kompetitif. Penyebab dari luar antara lain serbuan
kekuatan asing yang mengharuskan negara ini terlibat peperangan.

Tidak terlaksananya pemilu pertama pada bulan Januari 1946 seperti yang
diamanatkan oleh Maklumat 3 Nopember 1945, paling tidak disebabkan 2 (dua) hal :

1. Belum siapnya pemerintah baru, termasuk dalam penyusunan perangkat UU


Pemilu;

2. Belum stabilnya kondisi keamanan negara akibat konflik internal antar kekuatan
politik yang ada pada waktu itu, apalagi pada saat yang sama gangguan dari luar
juga masih mengancam. Dengan kata lain para pemimpin lebih disibukkan oleh
urusan konsolidasi.

Namun, tidaklah berarti bahwa selama masa konsolidasi kekuatan bangsa dan
perjuangan mengusir penjajah itu, pemerintah kemudian tidak berniat untuk
menyelenggarakan pemilu. Ada indikasi kuat bahwa pemerintah punya keinginan

14 | F e b r i a M a r t a S i s k a
politik untuk menyelengga-rakan pemilu. Misalnya adalah dibentuknya UU No. UU
No 27 tahun 1948 tentang Pemilu, yang kemudian diubah dengan UU No. 12 tahun
1949 tentang Pemilu. Di dalam UU No 12/1949 diamanatkan bahwa pemilihan umum
yang akan dilakukan adalah bertingkat (tidak langsung). Sifat pemilihan tidak
langsung ini didasarkan pada alasan bahwa mayoritas warganegara Indonesia pada
waktu itu masih buta huruf, sehingga kalau pemilihannya langsung dikhawatirkan
akan banyak terjadi distorsi.

Kemudian pada paroh kedua tahun 1950, ketika Mohammad Natsir dari
Masyumi menjadi Perdana Menteri, pemerintah memutuskan untuk menjadikan
pemilu sebagai program kabinetnya. Sejak itu pembahasan UU Pemilu mulai
dilakukan lagi, yang dilakukan oleh Panitia Sahardjo dari Kantor Panitia Pemilihan
Pusat sebelum kemudian dilanjutkan ke parlemen. Pada waktu itu Indonesia kembali
menjadi negara kesatuan, setelah sejak 1949 menjadi negara serikat dengan nama
Republik Indonesia Serikat (RIS).

Setelah Kabinet Natsir jatuh 6 bulan kemudian, pembahasan RUU Pemilu


dilanjutkan oleh pemerintahan Sukiman Wirjosandjojo, juga dari Masyumi.
Pemerintah ketika itu berupaya menyelenggarakan pemilu karena pasal 57 UUDS
1950 menyatakan bahwa anggota DPR dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum.

Tetapi pemerintah Sukiman juga tidak berhasil menuntaskan pembahasan


undang-undang pemilu tersebut. Selanjutnya UU ini baru selesai dibahas oleh
parlemen pada masa pemerintahan Wilopo dari PNI pada tahun 1953. Maka lahirlah
UU No. 7 Tahun 1953 tentang Pemilu. UU inilah yang menjadi payung hukum
Pemilu 1955 yang diselenggarakan secara langsung, umum, bebas dan rahasia.
Dengan demikian UU No. 27 Tahun 1948 tentang Pemilu yang diubah dengan UU
No. 12 tahun 1949 yang mengadopsi pemilihan bertingkat (tidak langsung) bagi
anggota DPR tidak berlaku lagi.

Patut dicatat dan dibanggakan bahwa pemilu yang pertama kali tersebut berhasil
diselenggarakan dengan aman, lancar, jujur dan adil serta sangat demokratis. Pemilu
1955 bahkan mendapat pujian dari berbagai pihak, termasuk dari negara-negara asing.
Pemilu ini diikuti oleh lebih 30-an partai politik dan lebih dari seratus daftar
kumpulan dan calon perorangan.

15 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Yang menarik dari Pemilu 1955 adalah tingginya kesadaran berkom-petisi
secara sehat. Misalnya, meski yang menjadi calon anggota DPR adalah perdana
menteri dan menteri yang sedang memerintah, mereka tidak menggunakan fasilitas
negara dan otoritasnya kepada pejabat bawahan untuk menggiring pemilih yang
menguntungkan partainya. Karena itu sosok pejabat negara tidak dianggap sebagai
pesaing yang menakutkan dan akan memenangkan pemilu dengan segala cara. Karena
pemilu kali ini dilakukan untuk dua keperluan, yaitu memilih anggota DPR dan
memilih anggota Dewan Kons-tituante, maka hasilnya pun perlu dipaparkan
semuanya.

Pemilu untuk anggota Dewan Konstituante dilakukan tanggal 15 Desember


1955. Jumlah kursi anggota Konstituante dipilih sebanyak 520, tetapi di Irian Barat
yang memiliki jatah 6 kursi tidak ada pemilihan. Maka kursi yang dipilih hanya 514.
Hasil pemilihan anggota Dewan Konstituante menunjukkan bahwa PNI, NU dan PKI
meningkat dukungannya, sementara Masyumi, meski tetap menjadi pemenang kedua,
perolehan suaranya merosot 114.267 dibanding-kan suara yang diperoleh dalam
pemilihan anggota DPR.

Periode Demokrasi Terpimpin

Sangat disayangkan, kisah sukses Pemilu 1955 akhirnya tidak bisa dilanjutkan
dan hanya menjadi catatan emas sejarah. Pemilu pertama itu tidak berlanjut dengan
pemilu kedua lima tahun beri-kutnya, meskipun tahun 1958 Pejabat Presiden Sukarno
sudah melantik Panitia Pemilihan Indonesia II.

Yang terjadi kemudian adalah berubahnya format politik dengan keluarnya


Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sebuah keputusan presiden untuk membubarkan
Konstituante dan pernyataan kembali ke UUD 1945 yang diperkuat angan-angan
Presiden Soekarno menguburkan partai-partai. Dekrit itu kemudian mengakhiri rezim
demokrasi dan mengawali otoriterianisme kekuasaan di Indonesia, yang – meminjam
istilah Prof. Ismail Sunny -- sebagai kekuasaan negara bukan lagi mengacu kepada
democracy by law, tetapi democracy by decree.

Otoriterianisme pemerintahan Presiden Soekarno makin jelas ketika pada 4


Juni 1960 ia membubarkan DPR hasil Pemilu 1955, setelah sebelumnya dewan
legislatif itu menolak RAPBN yang diajukan pemerintah. Presiden Soekarno secara

16 | F e b r i a M a r t a S i s k a
sepihak dengan senjata Dekrit 5 Juli 1959 membentuk DPR-Gotong Royong (DPR-
GR) dan MPR Sementara (MPRS) yang semua anggotanya diangkat presiden.

Pengangkatan keanggotaan MPR dan DPR, dalam arti tanpa pemi-lihan,


memang tidak bertentangan dengan UUD 1945. Karena UUD 1945 tidak memuat
klausul tentang tata cara memilih anggota DPR dan MPR. Tetapi, konsekuensi
pengangkatan itu adalah terkooptasi-nya kedua lembaga itu di bawah presiden.
Padahal menurut UUD 1945, MPR adalah pemegang kekuasaan tertinggi, sedangkan
DPR neben atau sejajar dengan presiden.

Sampai Presiden Soekarno diberhentikan oleh MPRS melalui Sidang Istimewa


bulan Maret 1967 (Ketetapan XXXIV/MPRS/ 1967) setelah meluasnya krisis politik,
ekonomi dan sosial pascakudeta G 30 S/PKI yang gagal semakin luas, rezim yang
kemudian dikenal dengan sebutan Demokrasi Terpimpin itu tidak pernah sekalipun
menyelenggarakan pemilu. Malah tahun 1963 MPRS yang anggotanya diangkat
menetapkan Soekarno, orang yang mengangkatnya, sebagai presiden seumur hidup.
Ini adalah satu bentuk kekuasaan otoriter yang mengabaikan kemauan rakyat
tersalurkan lewat pemilihan berkala.

Pemilu 1971

Ketika Jenderal Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi pejabat Presiden


menggantikan Bung Karno dalam Sidang Istimewa MPRS 1967, ia juga tidak
secepatnya menyelenggarakan pemilu untuk mencari legitimasi kekuasaan transisi.
Malah Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 yang mengamanatkan agar Pemilu bisa
diselenggarakan dalam tahun 1968, kemudian diubah lagi pada SI MPR 1967, oleh
Jenderal Soeharto diubah lagi dengan menetapkan bahwa Pemilu akan
diselenggarakan dalam tahun 1971.

Sebagai pejabat presiden Pak Harto tetap menggunakan MPRS dan DPR-GR
bentukan Bung Karno, hanya saja ia melakukan pembersihan lembaga tertinggi dan
tinggi negara tersebut dari sejumlah anggota yang dianggap berbau Orde Lama.

Pada prakteknya Pemilu kedua baru bisa diselenggarakan tanggal 5 Juli 1971,
yang berarti setelah 4 tahun pak Harto berada di kursi kepresidenan. Pada waktu itu
ketentuan tentang kepartaian (tanpa UU) kurang lebih sama dengan yang diterapkan
Presiden Soekarno.
17 | F e b r i a M a r t a S i s k a
UU yang diadakan adalah UU tentang pemilu dan susunan dan kedudukan
MPR, DPR, dan DPRD. Menjelang pemilu 1971, pemerintah bersama DPR GR
menyelesaikan UU No. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. 16 tentang
Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Penyelesaian UU itu sendiri
memakan waktu hampir tiga tahun.

Hal yang sangat signifikan yang berbeda dengan Pemilu 1955 adalah bahwa
para pejebat negara pada Pemilu 1971 diharuskan bersikap netral. Sedangkan pada
Pemilu 1955 pejabat negara, termasuk perdana menteri yang berasal dari partai bisa
ikut menjadi calon partai secara formal. Tetapi pada prakteknya pada Pemilu 1971
para pejabat pemerintah berpihak kepada salah satu peserta Pemilu, yaitu Golkar. Jadi
sesungguhnya pemerintah pun merekayasa ketentuan-ketentuan yang menguntungkan
Golkar seperti menetapkan seluruh pegawai negeri sipil harus menyalurkan
aspirasinya kepada salah satu peserta Pemilu itu.

Dalam hubungannya dengan pembagian kursi, cara pembagian yang


digunakan dalam Pemilu 1971 berbeda dengan Pemilu 1955. Dalam Pemilu 1971,
yang menggunakan UU No. 15 Tahun 1969 sebagai dasar, semua kursi terbagi habis
di setiap daerah pemilihan. Cara ini ternyata mampu menjadi mekanisme tidak
langsung untuk mengurangi jumlah partai yang meraih kursi dibandingkan
penggunaan sistem kombinasi. Tetapi, kelemahannya sistem demiki-an lebih banyak
menyebabkan suara partai terbuang percuma.

Jelasnya, pembagian kursi pada Pemilu 1971 dilakukan dalam tiga tahap, ini
dalam hal ada partai yang melakukan stembus accoord. Tetapi di daerah pemilihan
yang tidak terdapat partai yang melakukan stembus acccord, pembagian kursi hanya
dilakukan dalam dua tahap.

Tahap pembagian kursi pada Pemilu 1971 adalah sebagai berikut. Pertama,
suara partai dibagi dengan kiesquotient di daerah pemi-lihan. Tahap kedua, apabila
ada partai yang melakukan stembus accoord, maka jumlah sisa suara partai-partai
yang menggabungkan sisa suara itu dibagi dengan kiesquotient. Pada tahap
berikutnya apabila masih ada kursi yang tersisa masing-masing satu kursi diserahkan
kepada partai yang meraih sisa suara terbesar, termasuk gabungan sisa suara partai
yang melakukan stembus accoord dari perolehan kursi pembagian tahap kedua.

18 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Apabila tidak ada partai yang melakukan stembus accoord, maka setelah pembagian
pertama, sisa kursi dibagikan langsung kepada partai yang memiliki sisa suara
terbesar.

Namun demikian, cara pembagian kursi dalam Pemilu 1971 menyebabkan


tidak selarasnya hasil perolehan suara secara nasional dengan perolehan keseluruhan
kursi oleh suatu partai. Contoh paling gamblang adalah bias perolehan kursi antara
PNI dan Parmusi. PNI yang secara nasional suaranya lebih besar dari Parmusi,
akhirnya memperoleh kursi lebih sedikit dibandingkan Parmusi.

Sekedar untuk perbandingan, seandainya pembagian kursi peroleh-an suara


partai-partai pada Pemilu 1971 dilakukan dengan sistem kombinasi sebagaimana
digunakan dalam Pemilu 1955, dengan mengabaikan stembus accoord 4 partai Islam
yang mengikuti Pemilu 1971.

Dengan cara pembagian kursi seperti Pemilu 1955 itu, hanya Murba yang
tidak mendapat kursi, karena pada pembagian kursi atas dasar sisa terbesar pun
perolehan suara partai tersebut tidak mencukupi. Karena peringkat terbawah sisa
suara terbesar adalah 65.666. PNI memperoleh kursi lebih banyak dari Parmusi,
karena suaranya secara nasional di atas Parmusi.

Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997

Setelah 1971, pelaksanaan Pemilu yang periodik dan teratur mulai terlaksana.
Pemilu ketiga diselenggarakan 6 tahun lebih setelah Pemilu 1971, yakni tahun 1977,
setelah itu selalu terjadwal sekali dalam 5 tahun. Dari segi jadwal sejak itulah pemilu
teratur dilaksanakan.

Satu hal yang nyata perbedaannya dengan Pemilu-pemilu sebelumnya adalah


bahwa sejak Pemilu 1977 pesertanya jauh lebih sedikit, dua parpol dan satu Golkar.
Ini terjadi setelah sebelumnya pemerintah bersama-sama dengan DPR berusaha
menyederhanakan jumlah partai dengan membuat UU No. 3 Tahun 1975 tentang
Partai Politik dan Golkar. Kedua partai itu adalah Partai Persatuan Pembangunan atau
PPP dan Partai Demokrasi Indonesia atau PDI) dan satu Golongan Karya atau Golkar.
Jadi dalam 5 kali Pemilu, yaitu Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997 pesertanya
hanya tiga tadi.

19 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Hasilnya pun sama, Golkar selalu menjadi pemenang, sedangkan PPP dan PDI
menjadi pelengkap atau sekedar ornamen. Golkar bahkan sudah menjadi pemenang
sejak Pemilu 1971. Keadaan ini secara lang-sung dan tidak langsung membuat
kekuasaan eksekutif dan legislatif berada di bawah kontrol Golkar. Pendukung utama
Golkar adalah birokrasi sipil dan militer. Berikut ini dipaparkan hasil dari 5 kali
Pemilu tersebut secara berturut-turut.

Hasil Pemilu 1977

Pemungutan suara Pemilu 1977 dilakukan 2 Mei 1977. Cara pembagian kursi
masih dilakukan seperti dalam Pemilu 1971, yakni mengikuti sistem proporsional di
daerah pemilihan. Dari 70.378.750 pemilih, suara yang sah mencapai 63.998.344
suara atau 90,93 persen. Dari suara yang sah itu Golkar meraih 39.750.096 suara atau
62,11 persen. Namun perolehan kursinya menurun menjadi 232 kursi atau kehilangan
4 kursi dibandingkan Pemilu 1971.

Pada Pemilu 1977 suara PPP naik di berbagai daerah, bahkan di DKI Jakarta
dan DI Aceh mengalahkan Golkar. Secara nasional PPP berhasil meraih 18.743.491
suara, 99 kursi atau naik 2,17 persen, atau bertambah 5 kursi dibanding gabungan
kursi 4 partai Islam dalam Pemilu 1971. Kenaikan suara PPP terjadi di banyak basis-
basis eks Masjumi. Ini seiring dengan tampilnya tokoh utama Masjumi mendukung
PPP. Tetapi kenaikan suara PPP di basis-basis Masjumi diikuti pula oleh penurunan
suara dan kursi di basis-basis NU, sehingga kenaikan suara secara nasional tidak
begitu besar.

PPP berhasil menaikkan 17 kursi dari Sumatera, Jakarta, Jawa Barat dan
Kalimantan, tetapi kehilangan 12 kursi di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan
Sulawesi Selatan. Secara nasional tambahan kursi hanya 5.

PDI juga merosot perolehan kursinya dibanding gabungan kursi partai-partai


yang berfusi sebelumnya, yakni hanya memperoleh 29 kursi atau berkurang 1 kursi di
banding gabungan suara PNI, Parkindo dan Partai Katolik.

20 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Hasil Pemilu 1982

Pemungutan suara Pemilu 1982 dilangsungkan secara serentak pada tanggal 4


Mei 1982. Pada Pemilu ini perolehan suara dan kursi secara nasional Golkar
meningkat, tetapi gagal merebut kemenangan di Aceh. Hanya Jakarta dan Kalimantan
Selatan yang berhasil diambil Golkar dari PPP. Secara nasional Golkar berhasil
merebut tambahan 10 kursi dan itu berarti kehilangan masing-masing 5 kursi bagi
PPP dan PDI Golkar meraih 48.334.724 suara atau 242 kursi. Adapun cara pembagian
kursi pada Pemilu ini tetap mengacu pada ketentuan Pemilu 1971.

Hasil Pemilu 1987

Pemungutan suara Pemilu 1987 diselenggarakan tanggal 23 April 1987 secara


serentak di seluruh tanah air. Dari 93.737.633 pemilih, suara yang sah mencapai
85.869.816 atau 91,32 persen. Cara pembagian kursi juga tidak berubah, yaitu tetap
mengacu pada Pemilu sebelumnya.

Hasil Pemilu kali ini ditandai dengan kemerosotan terbesar PPP, yakni
hilangnya 33 kursi dibandingkan Pemilu 1982, sehingga hanya mendapat 61 kursi.
Penyebab merosotnya PPP antara lain karena tidak boleh lagi partai itu memakai asas
Islam dan diubahnya lambang dari Ka'bah kepada Bintang dan terjadinya
penggembosan oleh tokoh- tokoh unsur NU, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Sementara itu Golkar memperoleh tambahan 53 kursi sehingga menjadi 299


kursi. PDI, yang tahun 1986 dapat dikatakan mulai dekat dengan kekuasaan,
sebagaimana diindikasikan dengan pembentukan DPP PDI hasil Kongres 1986 oleh
Menteri Dalam Negeri Soepardjo Rustam, berhasil menambah perolehan kursi secara
signifikan dari 30 kursi pada Pemilu 1982 menjadi 40 kursi pada Pemilu 1987 ini.

Hasil Pemilu 1992

Cara pembagian kursi untuk Pemilu 1992 juga masih sama dengan Pemilu
sebelumnya. Hasil Pemilu yang pemungutan suaranya dilaksanakan tanggal 9 Juni
1992 ini pada waktu itu agak mengagetkan banyak orang. Sebab, perolehan suara
Golkar kali ini merosot dibandingkan Pemilu 1987. Kalau pada Pemilu 1987
perolehan suaranya mencapai 73,16 persen, pada Pemilu 1992 turun menjadi 68,10
persen, atau merosot 5,06 persen. Penurunan yang tampak nyata bisa dilihat pada

21 | F e b r i a M a r t a S i s k a
perolehan kursi, yakni menurun dari 299 menjadi 282, atau kehilangan 17 kursi
dibanding pemilu sebelumnya.

PPP juga mengalami hal yang sama, meski masih bisa menaikkan 1 kursi dari
61 pada Pemilu 1987 menjadi 62 kursi pada Pemilu 1992 ini. Tetapi di luar Jawa
suara dan kursi partai berlambang ka’bah itu merosot. Pada Pemilu 1992 partai ini
kehilangan banyak kursi di luar Jawa, meski ada penambahan kursi dari Jawa Timur
dan Jawa Tengah. Malah partai itu tidak memiliki wakil sama sekali di 9 provinsi,
termasuk 3 provinsi di Sumatera. PPP memang berhasil menaikkan perolehan 7 kursi
di Jawa, tetapi karena kehilangan 6 kursi di Sumatera, akibatnya partai itu hanya
mampu menaikkan 1 kursi secara nasional.

Yang berhasil menaikkan perolehan suara dan kursi di berbagai daerah adalah
PDI. Pada Pemilu 1992 ini PDI berhasil meningkatkan perolehan kursinya 16 kursi
dibandingkan Pemilu 1987, sehingga menjadi 56 kursi. Ini artinya dalam dua pemilu,
yaitu 1987 dan 1992, PDI berhasil menambah 32 kursinya di DPR RI.

Hasil Pemilu 1997

Sampai Pemilu 1997 ini cara pembagian kursi yang digunakan tidak berubah,
masih menggunakan cara yang sama dengan Pemilu 1971, 1977, 1982, 1987, dan
1992. Pemungutan suara diselenggarakan tanggal 29 Mei 1997. Hasilnya
menunjukkan bahwa setelah pada Pemilu 1992 mengalami kemerosotan, kali ini
Golkar kembali merebut suara pendukungnnya. Perolehan suaranya mencapai 74,51
persen, atau naik 6,41. Sedangkan perolehan kursinya meningkat menjadi 325 kursi,
atau bertambah 43 kursi dari hasil pemilu sebelumnya.

PPP juga menikmati hal yang sama, yaitu meningkat 5,43 persen. Begitu pula
untuk perolehan kursi. Pada Pemilu 1997 ini PPP meraih 89 kursi atau meningkat 27
kursi dibandingkan Pemilu 1992. Dukungan terhadap partai itu di Jawa sangat besar.
Sedangkan PDI, yang mengalami konflik internal dan terpecah antara PDI Soerjadi
dengan Megawati Soekarnoputri setahun menjelang pemilu, perolehan suaranya
merosot 11,84 persen, dan hanya mendapat 11 kursi, yang berarti kehilangan 45 kursi
di DPR dibandingkan Pemilu 1992.

22 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Pemilu kali ini diwarnai banyak protes. Protes terhadap kecurangan terjadi di
banyak daerah. Bahkan di Kabupaten Sampang, Madura, puluhan kotak suara dibakar
massa karena kecurangan penghitungan suara dianggap keterlaluan. Ketika di
beberapa tempat di daerah itu pemilu diulang pun, tetapi pemilih, khususnya
pendukung PPP, tidak mengambil bagian.

Pemilu 2004

Pemilihan Umum Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan


Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2004 diselenggarakan secara serentak pada tanggal
5 Appril 2004 untuk memilih 550 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), 128
anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2004-
2009.

Pemilihan Umum Anggota DPR

Pemilihan Umum Anggota DPR dilaksanakan dengan sistem proporsional


terbuka, dan diikuti oleh 24 partai politik. Dari 124.420.339 orang pemilih terdaftar,
124.420.339 orang (84,07%) menggunakan hak pilihnya. Dari total jumlah suara,
113.462.414 suara (91,19%) dinyatakan sah.

Pemilihan Umum Anggota DPD

Pemilihan Umum Anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil


banyak, dengan peserta pemilu adalah perseorangan. Jumlah kursi anggota DPD
untuk setiap provinsi ditetapkan sebanyak 4 kursi, dengan daerah pemilihan adalah
provinsi.

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2004

Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2004


diselenggarakan untuk memilih pasangan Presiden dan Wakil Presiden Indonesia
periode 2004-2009. Pemilihan Umum ini adalah yang pertama kalinya
diselenggarakan di Indonesia. Pemilihan Umum ini diselenggarakan selama 2 putaran,
dan dimenangkan oleh pasangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil
Presiden Jusuf Kalla.

23 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Aturan

Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau
gabungan partai politik peserta Pemilihan Umum Anggota DPR 2009. Pasangan calon
Presiden dan Wakil Presiden yang mendapatkan suara lebih dari 50% dari jumlah
suara dalam pemilihan umum dengan sedikitnya 20% suara di setiap provinsi yang
tersebar di lebih dari setengah jumlah provinsi di Indonesia, dilantik menjadi Presiden
dan Wakil Presiden. Apabila tidak ada pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden
terpilih, dua pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua
dalam pemilihan umum dipilih oleh rakyat secara langsung dan pasangan yang
memperoleh suara rakyat terbanyak dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden.

Pendaftaran Pasangan Calon

Sebanyak 6 pasangan calon mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum, yakni :

1. K.H. Abdurrahman Wahid dan Marwah Daud Ibrahim (dicalonkan oleh Partai
KebangkitanBangsa)

2. Prof. Dr. HM. Amien Rais dan Dr. Ir. H. Siswono Yudo Husodo (dicalonkan oleh
Partai Amanat Nasional)

3. Dr. H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar, M.Sc. (dicalonkan oleh Partai
Persatuan Pembangunan)

4. Hj. Megawati Soekarnoputri dan KH. Ahmad Hasyim Muzadi (dicalonkan oleh
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)

5. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla (dicalonkan


oleh Partai Demokrat, Partai Bulan Bintang, dan Partai Persatuan dan Kesatuan
Indonesia)

6. H. Wiranto, SH. dan Ir. H. Salahuddin Wahid (dicalonkan oleh Partai Golongan
Karya)

Dari keenam pasangan calon tersebut, pasangan K.H. Abdurrahman Wahid


dan Marwah Daud Ibrahim tidak lolos karena berdasarkan tes kesehatan,
Abdurrahman Wahid dinilai tidak memenuhi syarat kesehatan.

24 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Putaran Pertama

Pemilu putaran pertama diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004 dan diikuti
oleh 5 pasangan calon. Berdasarkan hasil Pemilihan Umum yang diumumkan pada
tanggal 26 Juli 2004, dari 153.320.544 orang pemilih terdaftar, 122.293.844 orang
(79,76%) menggunakan hak pilihnya. Dari total jumlah suara, 119.656.868 suara
(97,84%) dinyatakan sah. Karena tidak ada satu pasangan yang memperoleh suara
lebih dari 50%, maka diselenggarakan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh 2
pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua, yakni SBY-JK
dan Mega Hasyim.

Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Putaran Kedua

Pemilu putaran kedua diselenggarakan pada tanggal 20 September 2004, dan


diikuti oleh 2 pasangan calon. Berdasarkan hasil Pemilihan Umum yang diumumkan
pada tanggal 4 Oktober 2004, dari 150.644.184 orang pemilih terdaftar, 116.662.705
orang (77,44%) menggunakan hak pilihnya. Dari total jumlah suara, 114.257.054
suara (97,94%) dinyatakan sah.

Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih

Berdasarkan hasil Pemilihan Umum, pasangan calon Susilo Bambang


Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil
Presiden RI terpilih. Pelantikannya diselenggarakan pada tanggal 20 Oktober 2004
dalam Sidang Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pelantikan
Presiden & Wakil Presiden terpilih tahun 2004 ini juga dihadiri sejumlah pemimpin
negara sahabat, yaitu: PM Australia John Howard, PM Singapura Lee Hsien Loong,
PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi, PM Timor Timur Mari Alkatiri, dan Sultan
Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, serta 5 utusan-utusan negara lainnya. Mantan
Presiden Megawati Sukarnoputri tidak menghadiri acara pelantikan tersebut. Pada
malam hari yang sama, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan
anggota kabinet yang baru, yaitu Kabinet Indonesia Bersatu.

Dari sejarah pemilu tersebut diatas dengan mengetahuinya daru kita dapat
mengetahui perubahan yang terjadi jika kita bandingkan pemilu 2004 dengan
pemiluhan 2099 pada saat sekarang ini. Adapun perubahan yang terjadi dari

25 | F e b r i a M a r t a S i s k a
pelaksanaan pemilu baik legislatif dan presiden antara tahun 2004 dengan 2009 antara
lain sebagi berikut. Berikut adalah artikel-artikel yang berkaitan, menguatkan,
menerangkan bahwa adanya perubahan tersebut, untuk lebih lanjut dapat kita lihat
sebagai berikut:

Coblos Versus Centang/Contreng

Pemilu kali ini dilakukan dengan membubuhkan tanda centang/contreng


menggunakan pulpen dengan sebuah alasan mulia, yakni anggapan mencontreng
adalah cara yang lebih cerdas dibandingkan mencoblos. Namun perlu diketahui,
dampak utama dari diberlakukannnya sistem mencentang/mencontreng disamping
pembengkakan biaya –karena mengganti sebatang paku dengan sebuah pulpen–, juga
kesulitan yang akan muncul ketika penghitungan suara dilakukan yang berimplikasi
kepada masalah waktu. Anda bisa membayangkan, melihat perubahan, sebuah
centangan/contrengan (2009) dibandingkan melihat sebuah coblosan (2004) pada
kertas yang cukup besar. Sistem coblos sangat mudah terlihat, sementara sistem
centang/contreng membutuhkan ketelitian mata yang jauh lebih melelahkan. Apalagi
dengan kondisi pulpen yang sudah tipis dan di gores pada foto atau gambar yang
sewarna dengan pulpennya. Dibutuhkan mata dan penerangan yang baik untuk bisa
melihat semua itu dengan teliti. Hal ini masih ditambah lagi dengan ketentuan sah
atau tidak sahnya hasil centangnya/contrengnya, bentuk centang/contreng, letak
centang/contreng dan jumlah centangan/contrengan. Hal ini semakin menjadi masalah
ketika sosialisasi kepada masyarakat sebagai calon pemilih kurang memadai.
Akibatnya muncul potensi suara tidak sah sebesar 21% akibat bentuk contreng.

Banyak iklan para Caleg yang bisa dilihat di sepanjang jalan dan juga di
beberapa kendaraan umum memberikan contoh posisi centang/contreng keluar dari
kotaknya. Saya tidak tahu pasti apakah hal tersebut bisa dianggap sah atau tidak jika
dilakukan saat pemilihan nanti. Jika ternyata diputuskan bahwa
mencentang/mencontreng hingga goresannya keluar dari kotak adalah tidak sah, maka
banyak Caleg turut menanggung dosa karena memberikan contoh yang tidak benar
dalam iklan-iklannya.

26 | F e b r i a M a r t a S i s k a
KPU dalam hal ini tidak tinggal diam, peraturan KPU Nomor 35 Tahun 2008
tentang pedoman teknis tata cara pemungutan dan penghitungan suara dalam pemilu
legislatif akan segera direvisi untuk mengakomodasi kemungkinan pemberian tanda
lain seperti silang atau garis datar. Permasalahannya, bagaimana dengan sosialisasi
revisi tersebut? Cukupkah waktunya? mengingat pelaksanaan pemilu sudah tinggal
hitungan hari.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tahun 1995, bahasa yang
benar adalah Centang, bukan Contreng.

Berikut adalah cara mencontreng pada pemilu 2009 ini:

1. Contreng nama caleg saja

2. Contreng nomor caleg saja

3. Contreng nama partai saja

27 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Berikut ini alur memilih pada TPS:

Fakta Perubahan Pada Parpol dan Pemilu 2009

Fantastis! Itulah kata yang terlontar saat Komisi Pemilihan Umum atau KPU, 7
Juli 2008, mengumumkan 34 partai politik nasional dan enam parpol lokal di Aceh
akan mengikuti Pemilihan Umum 2009.

Maklum, pertama, ketika kita berharap terjadi pengerucutan jumlah dari 48


parpol (Pemilu 1999) menjadi 24 parpol (Pemilu 2004) dan diharapkan menjadi 12
parpol (Pemilu 2009), ternyata malah membengkak menjadi 34 parpol nasional plus 6
partai lokal Aceh. Ini terjadi karena ”politik dagang sapi” pada proses legislasi yang
menghasilkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR,
DPD, dan DPRD, antara lain, menetapkan, 16 parpol yang memiliki kursi di DPR
otomatis menjadi peserta Pemilu 2009, ditambah 18 parpol baru yang lolos verifikasi,
dan 6 partai lokal Aceh dibolehkan ikut pemilu legislatif. Ke-34 parpol nasional itu
akan memperebutkan 560 kursi di DPR, sedangkan enam partai lokal Aceh akan
memperebutkan kursi DPRA dan DPRD kabupaten di Aceh.

Fantastis kedua, masa kampanye Pemilu 2009 yang dimulai 12 Juli 2008,
berlangsung delapan bulan, lebih lama dibanding masa kampanye pemilu
sebelumnya. Ini akan menimbulkan ingar-bingar politik. Selain itu, kita juga tak dapat
membayangkan, berapa triliun rupiah yang akan dikeluarkan oleh seluruh partai
nasional dan partai lokal, baik untuk kampanye tertutup maupun terbuka, arak-
arakan, pertemuan tatap muka, dan iklan-iklan di media cetak dan elektronik di pusat
dan daerah.

28 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Sebagai contoh, Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Golkar menyiapkan
Rp 200 miliar untuk kampanye hingga April 2009. Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
sudah membagi uang jutaan rupiah kepada UKM sebagai modal kerja sebelum
kampanye 12 Juli 2008 dimulai (The Jakarta Post, 9/7/2008). Dana kampanye dari
mana-mana, iuran anggota, donasi individu atau perusahaan, dan lainnya.

Lantas, berapa pengeluaran individu para bakal calon anggota legislatif 2009-
2014 agar dapat menduduki kursi legislatif. Jika Golkar dan PDI-P menyiapkan
14.000-15.000 bakal calon legislatif, masing-masing partai menengah menyiapkan
8.000-10.000 dan partai-partai kecil 5.000-8.000. Jika tiap bakal calon legislatif
mengeluarkan dana Rp 200 juta, berapa triliun akan terkumpul? Fantastis. Itulah
harga demokrasi. Belum lagi pemilu presiden 2009. Tak mengherankan jika survei
Indo Barometer Desember 2007 menunjukkan, bagi 88,2 persen responden, 24 parpol
dinilai terlalu banyak. Idealnya, kata survei itu, Indonesia hanya memiliki lima parpol
(24,0 persen), tiga parpol (21,6 persen) atau maksimal 10 parpol (18,3 persen).

Fantastis ketiga, meski ada 34 parpol, hasil survei Indo Barometer (9/7/2008)
benar-benar mengejutkan, yaitu hanya akan ada tujuh besar partai pemenang pemilu,
jumlah yang sama dengan pemilu legislatif 2004. Bedanya, jika pada tahun 2004
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) masuk tujuh besar, pada 2009 partai ini
mungkin akan menjadi nomor 8, sedangkan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)
pimpinan Jenderal (Pur) Wiranto ke nomor 7 dengan 2,3 persen pemilih.

Partai Golkar boleh saja berangan-angan meraih 30 persen suara, melebihi


perolehan 2004 yang 22 persen dan menduduki peringkat teratas. Namun, geliat Partai
Golkar ibarat gajah gemuk kehabisan tenaga. Golkar sedang kehilangan semangat dan
greget. Dan, menurut survei Indo Barometer di 33 provinsi atas 1.200 responden (5-
16/6/2008), tujuh besar partai pemenang Pemilu 2009 ialah PDI-P (23,8 persen),
Partai Golkar (12,0 persen), Partai Demokrat (9,6 persen), PKS (7,4 persen), PKB
(7,4 persen), PAN (3,5 persen), Partai Hanura (2,3 persen), dan PPP (1,6 persen).
Sisanya, partai lain 3,0 persen dan 29,4 persen belum tahu/tidak menjawab
pilihannya. Jika survei ini menjadi kenyataan, benar-benar fantastis! Lebih fantastis
lagi, jumlah seluruh suara yang diperoleh partai-partai Islam pada Pemilu 2009 hanya
21,1 persen, lebih rendah 2,7 persen dari perolehan PDI-P! Mengapa? Karena tak ada
beda antara partai Islam dan partai lain, perilaku elitenya juga sama.
29 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Fantastis keempat, jika hasil survei Indo Barometer sahih, dapat diartikan akan
ada sekitar 29,4 persen pemilih yang tidak akan menggunakan hak pilihnya. Persepsi
masyarakat tentang parpol memang buruk. Selama ini parpol hanya merupakan alat
mobilisasi massa, perekrutan, dan sosialisasi calon anggota legislatif atau pemimpin,
menjadi saluran kekuasaan (channel of power), tetapi belum menjadi sumber identitas
politik para pemilihnya.

Sebagai saluran kontrol, parpol juga masih setengah hati, baik terhadap
pemerintah maupun anggotanya. Lihat saja hiruk-pikuk di DPR soal hak angket
terkait kenaikan harga BBM atau kian maraknya terungkap korupsi yang dilakukan
anggota DPR. Lihat juga Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) antara pakar politik
dan DPR saat pembuatan undang-undang, tidak jarang anggota DPR dari ideologi apa
pun, secara bersemangat bersatu mengecam para pakar politik yang katanya
mengelabui masyarakat soal legislative heavy. Bipartishanship antara legislatif dan
eksekutif juga jarang terjadi, kecuali soal ”musuh bersama” dari luar, atau soal
kenaikan gaji pegawai negeri sipil dan TNI/Polri dan terlebih lagi soal kenaikan
tunjangan anggota Dewan!

Pemilu legislatif dan pilpres 2009 dapat menjadi saluran kontrol masyarakat
atas parpol. Sebagai warga negara yang demokratis, para pemilih bukan hanya akan
antusias mendukung parpol atau capres/ cawapres, tetapi juga dapat memilih untuk
tidak memilih lagi parpol dan/atau capres/cawapres yang kinerja politiknya buruk.
Rakyat kian canggih menggunakan otoritas politiknya menentukan masa depan
Indonesia. Inilah esensi kedaulatan rakyat.

Bagi rakyat, demokrasi bukan lagi sekadar prosedur, tetapi bagaimana menata
Indonesia ke depan yang lebih baik, anak cucu dapat menikmati kesejahteraan, rasa
aman, dan martabat Indonesia yang semakin tinggi di mata internasional.

Perbandingan Pemilu 2004 dan 2009


Pemilu 2004:
1. jumlah suara sah 113.462.414.
2. Total pemilih 147.105.295
3. Rekapitulasi terbuka, pemantau, wartawan, dan masyarakat umum bisa
menyaksikan langsung masuk keruangan rekapitulasi.

30 | F e b r i a M a r t a S i s k a
4. Penetapan serentak secara nasional
5. Tabulasi elektronik real count dapat menampilkan data 80%
6. Logistik di beberapa daerah tidak tepat waktu.
7. Sejumlah pengadaan logistik pemilu ditunjuk langsung.
Pemilu 2009:
1. Jumlah Suara Sah 104,099,785
2. Total Pemilih 171.265.442
3. Rekapitulasi Tertutup, pemantau dan wartawan tidak bisa menyaksikan langsung
di ruang rekapitulasi.
4. Penetapan dengan catatan karena rekapitulasi ulang penghitungan suara di Nias
Selatan, dapil Sumut 2
5. Tabulasi elektronik real count hanya menampilkan data di bawah 10%.
6. Surat suara tertukar sebanyak 254 kasus.
7. Pengadaan logistik pemilu ditenderkan.
Dari data yang ada dapat kita simpulkan bahwa antara lain terjadinya kenaikan
pemilih dan lainnya. Adapun perubah tersebut diatas juga banyak disebabkan oleh
sistem pemilu yang mana pada pemilu 2009 menggunakan sistem suara terbanyak,
sistem nomor urut yang mana berdampak atas data-data tersebut sehingga
menimbulkan perubahan pemilu 2004 dengan 2009.

Revisi UU Pemilu Merubah Sistem Pemilu yang Ada

Pada pemilu 2009 terdapat perubahan pelaksanaan pileg dan pilpres jika
dibandingkan dengan pemilu 2004. Banyak terjadi perubahan antara lain adalah revisi
UU Pemilu yang menjelaskan sistem suara terbanyak. Perubahan tersebut memberi
warna tersendiri pada pemilu 2009 dan memberikan berbagai macam dampak yang
ditimbulkan dengan revisi tersebut. Berikut penjelasan mengenai revisi tersebut dapat
kita lihat sebagai man dibah ini.

Penerapan suara terbanyak sangat ideal dan akan meningkatkan citra parpol di
mata masyarakat. Mekanisme ini dimungkinkan karena adanya klausul pada Pasal
218 UU No 10 Tahun 2008 yang mengatur pengunduran diri caleg. Karena itu
sejumlah parpol yang menggunakan suara terbanyak meminta bakal calegnya
menandatangani perjanjian internal partai sebelum benar-benar diajukan sebagai

31 | F e b r i a M a r t a S i s k a
caleg. Intinya, caleg akan menyatakan mengundurkan diri dari caleg jadi apabila tidak
memperoleh suara terbanyak.

Setelah caleg mundur, parpol akan menarik namanya dari KPU dan mengganti
dengan caleg peraih suara terbanyak. Bila yang meraih suara terbanyak caleg nomor
bawah, katakan nomor urut tiga, maka para caleg nomor urut lebih kecil satu dan dua
harus mengundurkan diri. Inilah yang harus diatur melalui mekanisme internal partai,
karena UU menetapkan caleg terpilih adalah yang meraih 30 persen BPP dalam
pemilu.

Sekilas, mekanisme internal partai ini tampak akan menyelesaikan persoalan


perebutan nomor kecil di internal parpol. Namun, bagaimana bila kemudian terjadi
sesuatu terhadap peraih suara terbanyak tersebut. Katakan diangkat menjadi menteri,
lantas nomor urut berapa yang akan menggantinya? Begitu pula bila terdapat sisa
suara, akankah mekanisme suara terbanyak masih berlaku atau sebaliknya parpol akan
kembali kepada nomor urut?

Selanjutnya terkait masalah perundangan, apakah ketentuan internal partai ini


cukup kuat dan dipatuhi para caleg? Jika tidak, saya khawatir suara terbanyak akan
menimbulkan masalah di kemudian hari, mengingat ketentuan internal parpol tidak
dapat mengalahkan ketentuan UU. Begitu pula jika terjadi perselisihan di internal
parpol maka akan sulit bagi parpol dan lembaga terkait menyelesaikannya. Ujung-
ujungnya perpecahan internal parpol yang tentu tidak positif bagi perkembangan
demokrasi kita.

Bertolak dari semua itu, hemat saya perlu dilakukan perubahan secara terbatas
UU Pemilu. Ini agar suara terbanyak mendapat legitimasi yang kuat dari UU.
Langkah ini juga bisa menghapus kesan inkonsistensi parpol yang kini duduk di
dewan. Mereka yang membahas dan menyetujui UU Pemilu, namun ternyata tidak
melaksanakan UU tersebut. Dari segi waktu, saya juga melihat waktu tersedia sampai
Desember 2008 jika parpol-parpol bermaksud melakukan perubahan tersebut.

Masalahnya memang tidak semua parpol menyetujui suara terbanyak.


Sebagian tetap berpegang pada UU Pemilu, yakni jika caleg berhasil meraih suara 30
persen dia secara otomatis terpilih sebagai anggota DPR. Namun, jika tidak ada yang

32 | F e b r i a M a r t a S i s k a
meraih suara minimal 30 persen, caleg jadi akan ditetapkan berdasarkan nomor urut.
Apa pun hasilnya, diharapkan sistem yang diterapkan dapat mengakomodasi dua
kepentingan yang berbeda itu, sehingga pemilu berjalan lancar.

Sistim Pemilu 2004 dan 2009 Beda

Sistim pemilihan umum 2009 berbeda dari sistim pemilu 20004 lalu. Hal itu
diungkapkan oleh anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Konawe,
Suhardin dalam sebuah sosialisasi dan tahapan kampaye yang digelar di enam
kecamatan di Kabupaten Konawe, sejak Kamis-Minggu (20-23/11). Sosialisasi di
enam kecamatan, Kecamatan Wawotobi, Konawe, Meluhu, Amonggedo, Pondidaha
dan Wonggeduku, di lakukan di tiap-tiap PPK yang dihadiri oleh anggota PPS, tokoh
masyarakat dan calon anggota legislatif di daerah pemilihan (dapil) tersebut. Kepada
Kendari Ekspres, Selasa (25/11) kemarin, Suhardin mengungkapkan, halhal yang
dibahas dalam pertemuan itu mengenai sistim pemilu tahun 2009. Dikatakan Ketua
Pokja ferivikasi DPD, Partai Politik dan logistik KPU Konawe, Suhardin, pemilu
2009 berbeda dengan pemilu 2004 dimana sistim pemilu 2004 mecoblos pake paku
sementara pemilu 20009 sistimnya mencheck list salah satu calon pilihan
menggunakan folpen di kertas suara sesuai UU No 10 tahun 2008. Begitu pula dengan
peserta pemilu, peserta pemilu 2009 ada dua yakni peserta pemilu dari partai politik
yang mencalonkan sebagai anggota DPR-RI, DPR Prov dan DPR Kabupaten Kota.
Sedanngkan peserta kedua adalah calon perseorangan yaitu calon anggota
DPD. Pemahaman masyarakay mengenai sistimpemilu 2009 ini sangat diharapkan
mengingat pemilu 2009 ini merupakan momen yang sangat penting dalam
menentukan nasib dan kelangsungan nasib masyarakat selama lima tahun mendatang.
Olehnya itu Suhardin mengharapkan partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam
pesta demokrasi pemilu 2009 yang akan dihelat, (9/4) 2009 mendatang. Dan yang
perlu digaris bawahi kata Suhardin, bahwa KPU Konawe sebagai penyelenggara
pemilu legislatif hanya diporsikan untuk 30 anggota DPRD Kabupaten sementara
untuk anggota DPR RI asal Sultra hanya lima orang, DPRD Prov Daerah pemilihan
Konawe/Konawe Utara hanya lima orang serta anggota DPD Sultra berjumlah empat
orang. "Itulan yang menjadi tugas dan tanggung jawab KPU Kab/Kota, KPU Prov dan
KPU pusat,"kata Suhardin mengingatkan. Lanjutnya Pemilu 2009 bisa dikatakan
berhasil apabila nanti jumlah suara sah lebih banyak dari pada suara yang tidak sah.

33 | F e b r i a M a r t a S i s k a
Itu artinya, paartisipasi dan animo masyarakat mengikuti pesta demokrasi pemilihan
calon anggota legislatif 2009, sudah tinggi.

C. KESIMPULAN DAN SARAN

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari berbagai artikel yang terkait
mengenai konflik atau masalah penyelenggaraan pemilu diatas adalah sebagai berikut:
1. Tidak jelas bagaimana kekacauan dalam DPT dapat menguntungkan partai
politik tertentu karena tidak diketahui afiliasi politik penduduk yang tidak
terdaftar.
2. Tidak jelas bagaimana anggota KPU bisa berpihak kepada partai politik
tertentu karena mereka tidak mempunyai afiliasi partai politik yang sama.
3. Kelihatannya kekacauan DPT lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam
pencatatan data kependudukan bukan oleh permainan politik partai politik
tertentu.
4. Tidak jelas bagaimana kekacauan dalam DPT dapat menguntungkan partai
politik tertentu karena tidak diketahui afiliasi politik penduduk yang tidak
terdaftar.
5. Tidak jelas bagaimana anggota KPU bisa berpihak kepada partai politik
tertentu karena mereka tidak mempunyai afiliasi partai politik yang sama.
6. Kelihatannya kekacauan DPT lebih banyak disebabkan oleh kelemahan dalam
pencatatan data kependudukan bukan oleh permainan politik partai politik
tertentu.

Sehingga dari permasalah tersebut memberikan konsekuensi yang timbul dari pemilu
2009 dan saran yaitu:
1. Kelemahan-kelemahan dalam penyelenggaraan pemilu jangan sampai
menimbulkan gugatan terhadap hasil pemilu atau menghasilkan tuntutan bagi
pemilu ulang.
2. Tuntutan pembatalan hasil Pemilu 2009 atau tuntutan pemilu ulang akan
berakibat buruk bagi perkembangan politik di Indonesia.
3. Kelemahan-kelemahan itu harus digunakan untuk memperbaiki
penyelenggaraan Pilpres.
4. Bila ada kecurangan, perlu digunakan jalur hukum tanpa pengerahan massa.

34 | F e b r i a M a r t a S i s k a
D. REFERENSI
Bhakti. Ikrar Nusa, 2009, Parpol Dan Pemilu 2009, Di akses dari
http://wwwsiwah.com tanggal 12 Juli 2009
Riyogatra, 2009, Berbagai Permasalahan Ppada Pemilu 2009, Di akses dari
http://www.riyogarta.com tanggal 12 Juli 2009
Sespamardi, 2009, Cara Memilih Pada Pemilu Legislatif 2009, Diakses dari
http://www.sespamardi.com tanggal12 Juli 2009
Krestanti. Elin Yuniya, Mahaputra. Sandy adam, 2009, KPU Lansir Dana Kampanye
Pemilu Presiden, Diakses dari http://www.calegindonesia.com tanggal12 Juli
2009
Siti. M, Fahrul. R, 2009, KPUD Pertanyakan Kaslian DPT Yang Didapat Panwas,
Diakses dari http://www.jambi-independet.co.id tanggal 12 Juli 2009
Rauh. Maswadi, 2009, Evaluasi Awal Pemilu 2009: Proyeksi Demokrasi Indonesia
Dan Masalah Penyelenggara Pemilu, Depok
Rangkuti, 2009, KTP Ganda Masalah Baru Pilpres, Diakses dari http://www.inilah
.com tanggal 12 Juli 2009
KIP Aceh, 2009, Masalah DPT Dan Pemilih GandaWarnai Pilpres Asahan, Diakses
dari http://www/waspada .co.id tanggal 12 Juli 2009
Redaksi, 2009, Sistem Pemilu 2004 Dan 2009 Beda, Diakses dari
http://www.kendariekspres.com tanggal12 Juli 2009
Redaksi, 2009, Distribusi Tidak Tepat Dapat Menghambat Pemilu, Diakses dari
http://www.kendariekspres.com tanggal 12 Juli 2009
Antara News, 2009, Masalah DPT Berpotensi Timbulkan Gugatan Hasil Pemilu,
Diakses dari http://www.antara.co.id tanggal 12 Juli 2009
Warta Sumut, 2009, Masalah DPT Dan Pemilih Ganda Warnai Pipres Asahan,
Diakses dari http://www.waspada.co.id tanggal 12 Juli 2009
Penetapan KPU Tentang Hasil Pemilu Dan Perbandingan Pemilu 2004 dan 2009,
Diakses dari http://www.kpu.go.id, tanggal 10 Juli 2009
Sejarah Pemilu Di Indonesia, Diakses dari http://www.ppln-penang.org tanggal 10
Juli 2009

35 | F e b r i a M a r t a S i s k a

Anda mungkin juga menyukai