Anda di halaman 1dari 27

Y L

P 3 E S ID A

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI (STIE)


SUMATERA BARAT

DINAMIKA PEMILU LEGISLATIF DALAM PERSPEKTIF


LAHIRNYA KEPUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MENGENAI
SUARA TERBANYAK

Oleh : Febria Marta Siska

Pendahuluan
Dalam setahun terakhir Mahkamah Konstitusi (MK) telah membuat
sedikitnya empat keputusan hukum yang memengaruhi kehidupan politik di
Tanah Air. Pertama, keputusan tentang diperbolehkannya calon
perseorangan dalam pemilihan langsung kepala daerah. Kedua, keputusan
tentang penetapan calon terpilih anggota legislatif berdasarkan suara
terbanyak dalam Pemilu 2009. Keputusan ini menganulir penetapan calon
terpilih berdasarkan nomor urut yang lebih kecil. Ketiga, keputusan
peneguhan mengenai ambang batas parlemen 2,5% (parliamentary
threshold). Terakhir, keempat, keputusan MK tanggal 17 Februari lalu
tentang penolakan calon perseorangan dalam pemilihan presiden.
Dua dari keputusan MK yang membatalkan salah satu materi
undang-undang tersebut selain memengaruhi kondisi kehidupan politik di
Indonesia, juga memberikan tanda tanya besar mengenai kekuatan
legitimasi DPR sebagai pembuat UU.
Selain itu Mahkamah Konstitusi (MK) telah mengabulkan uji materi UU No 10
Tahun 2008 tentang pemilu, terkait pasal 214 tentang syarat pencalegan. Dengan demikian
penetapan caleg untuk pemilu 2009 tidak lagi ditentukan dengan sistem nomor urut.
Menurut Mahfud, pelaksanaan putusan MK tidak akan menimbulkan hambatan yang pelik
karena pihak terkait Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menyatakan siap melaksanakan
putusan MK. "Jika memang harus menetapkan anggota legislatif berdasarkan suara

1 STIE-SB Pariaman
terbanyak," katanya1.

Sebagai lembaga yang melakukan pengawasan kesesuaian norma


hukum undang-undang terhadap konstitusi, MK memiliki dua fungsi.
Pertama, fungsi hukum, yaitu menjaga agar semua produk undang-undang
berada dalam bingkai dan koridor konstitusi.

Interpretasi MK tidak saja beranjak secara sempit dari hukum yang


bersifat tekstual (textual law), tetapi juga harus berdimensi luas
menyangkut konteks dan nilai-nilai yang melatarbelakangi lahirnya pasal-
pasal konstitusi (contextual law). Dalam keputusan tentang calon
perseorangan pilkada, interpretasi hukum yang dipergunakan oleh para
hakim bersifat kontekstual memperhatikan suasana praktik demokrasi yang
berkembang di tingkat lokal.

Demikian pula dalam keputusan mengenai penetapan calon terpilih


anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak dan ambang batas
pencalonan presiden, interpretasi para hakim didasarkan pada semangat
membangun budaya baru dalam sistem politik Indonesia. Fungsi hukum MK
juga dapat diwujudkan melalui penyempurnaan atas produk legislatif yang
sering dipenuhi dengan kepentingan partisan. Kedua, selain memiliki fungsi
hukum, keputusan-keputusan MK jelas memiliki pengaruh yang luas secara
politis.

Dalam dimensi politis ini, keputusan- keputusan MK membentuk


sistem, struktur, dan budaya politik yang baru. Secara luas hal ini menjadi
dasar dalam pengembangan kehidupan demokrasi di Indonesia. Calon
perseorangan dalam pilkada misalnya akan menjadi tantangan bagi parpol
untuk membentuk sistem merit politik yang lebih baik. Adapun penetapan
calon terpilih anggota legislatif berdasarkan suara terbanyak akan
meningkatkan semangat kompetisi internal parpol dan terbentuknya
fairness serta openness manajemen parpol.

Keputusan tentang ambang batas parlemen (parliamentary treshold)


2,5% tentu saja akan memantapkan sistem presidensial dan memperkuat

1 . MK Luluskan Sistem Suara Terbanyak (2008). Diakses Tanggal 6 April 2009.

2 STIE-SB Pariaman
integrasi politik. Demikian pula keputusan tentang calon perseorangan
dalam pemilihan presiden memang sangat bersifat tekstual karena bunyi
UUD 1945 Pasal 6 sangat eksplisit diusulkan oleh parpol atau gabungan
parpol. Dalam hal ini dibutuhkan revisi konstitusi jika calon perseorangan
akan dimungkinkan dalam pemilihan presiden2.

Meskipun demikian, patut juga dicermati politisasi keputusan MK


untuk kepentingan politik tertentu. Hal ini biasanya terjadi jika hakim-
hakim MK tidak berdiri di atas kepentingan konstitusi, melainkan
kepentingan yang partisan. Sebagai lembaga tinggi negara pengawal
konstitusi, kredibilitas MK sangat ditentukan oleh sikap kenegarawanan dan
independensi para hakim dalam membuat keputusan.

Dari beberapa hal tersebutlah penulis merasa perlu untuk


diketahuinya dinamika yang terjadi pada pemilu legislatif dalam perspektif
lahirnya keputusan mahkamah konstitusi mengenai suara terbanyak.

Fenomena Politik Menjelang Pemilu 2009


Tinggal beberapa waktu lagi bangsa kita akan melaksanakan
perhelatan nasional, pemilihan umum untuk memilih anggota DPR/MPR,
DPRD Propinsi, kota dan kabupaten, kemudian disusul dengan pemilihan
presiden dan wakil presiden. Menjelang hajatan ini partai-partai politik
peserta pemilu, maupun para calon anggota legilslatif telah berlomba-lomba
berkampanye lewat media massa maupun media elektronik. Spanduk, iklan
dan gambar caleg menjadi ornamen disepanjang ruas jalan protokol sampai
pelosok daerah terpencil sekalipun yang dikemas dalam ragam tema
misalnya berjuang untuk rakyat, mengutamakan kepentingan rakyat,
berjuang untuk keadilan, bangkit untuk perubahan, menciptakan
pemerintahan yang bersih dan berwibawa dan masih banyak lainnya.
Semuanya itu memiliki satu tujuan yaitu untuk menarik simpati masa
pemilih.
Pemilu 2009, agak berbeda dengan pemilu sebelumnya, antara lain

2 Eko Prasojo. Guru Besar Ilmu Administrasi Negara FISIP UI. 2009. MK Superorgan.
Dalam http://www.Ahmadheryawan.com. Diakses Tanggal 6 April 2009.

3 STIE-SB Pariaman
jumlah partai peserta pemilu lebih banyak 34 partai ditambah 6 partai lokal
aceh, dari pemilu 2004 hanya 24 partai, tetapi jauh lebih sedikit
dibandingkan pemilu 1999 sebanyak 48 partai. Banyaknya partai politik
yang lolos verfikasi faktual KPU menggambarkan semakin progresnya
kehidupan demokrasi di Republik ini. Selain itu menggambarkan ekspresi
ketidakpuasan masyarakat terhadap keberadaan partai politik, yang bisanya
hanya mengobral janji saat kampanye, namun tidak mampu merealisasikan
ketika berkuasa. Juga karena partai politik yang ada dianggap tidak mampu
mewadahi aspirasi politik masyarakat yang terus bergerak dinamis dari
waktu ke waktu. Orientasi partai politik masih seputar upaya pelanggengan
kekuasaan, sehingga kepentingan rakyat menjadi termarginalisasi. Dan
paling penting karena semakin tumbuh suburnya kesadaran politik
masyarakat untuk lebih bebas bergerak menyuarakan aspirasi sesuai
kepentingan dan idealisme nuraninya, tanpa tergantung pada partai politik
yang ada. Alasan inilah yang kemudian membidani lahirnya berbagai macam
partai politik dengan idealisme dan kepentingan berbeda pula entah itu
kepentingan bisnis, agama bahkan sampai pada ranah etnis.

Issu ABS, iklan sampai saling tuding Menjelang Pemilu 2009 banyak
hal menarik yang patut dicermati seperti munculnya wacana pelanggengan
kekuasaan dengan hadirnya generasi baru di lingkungan politik seperti
anaknya SBY, Megawati, Amin Rais, Sabam Sirait, dll dalam daftar calon
anggota legislatif. Selain itu issu politik “ABS”, cukup membuat SBY gerah
dan gelisah karena menurutnya ada indikasi gerakan terorganisir oleh
petinggi militer aktif dalam kancah politik praktis sebagai team sukses calon
presiden tertentu. alasan itu lalu kemudian mendorong Presiden SBY
memanggil para petinggi TNI dan Polri ke instana, untuk mengantisipasi
issu tersebut, sekaligus menegaskan netralitas TNI dan Polri.

Hal menarik lainnya seperti perdebatan terkait iklan maupun


pernyataan politik yang sedang menghangat beberapa waktu belakangan.
Sebut saja iklan partai demokrat yang mencoba menonjolkan keberhasilan
SBY dalam menurunkan harga BBM. Begitu juga PDI Perjuangan mencoba

4 STIE-SB Pariaman
menawarkan program beras murah. Demikian juga partai Golkar Jusuf
seakan mendeklarasikan partainya sebagai ikon perdamaian konflik di
wilayah nusantara. Memang demikianlah kondisi bangsa ini ketika
menjelang Pemilu, perang iklan dan pernyataan politik selalu
dipertontonkan kepada rakyat.

Moment-moment tertentu selalu digunakan untuk mencari simpati


rakyat, tetapi tidak jarang juga digunakan untuk mengelabui rakyat. Katakan
saja iklan partai Demokrat soal turunya harga BBM, seakan-akan ingin
mengatakan kepada publik bahwa itu karena presiden SBY. Faktanya
memang harga BBM diturunkan, tetapi sebelumnya juga dinaikkan oleh
pemerintahan SBY.

Pertanyaannya adalah apakah turunnya harga BBM karena SBY


seorang tokoh partai Demokrat, sehingga dijadikan iklan partai demokrat,
atau karena SBY sebagai Presiden Republik Indonesia. Persoalan mendasar
dari turunnya BBM apakah memang karena kemauan politk SBY, atau
sebagi konsekwensi dari turunnya harga minyak dunia. Bila merujuk pada
sejarah, apa yang bisa dilakukan pemerintahan SBY ketika naiknya harga
minyak dunia selain mengatakan tidak ada pilihan lain selain menaikan
harga BBM, tanpa mempedulikan betapa menderitanya rakyat.

Demikian juga dengan iklan partai PDI Perjuangan yang katanya


berjuang mendapatkan beras murah. Iklan seperti ini sebenarnya sangat
tidak populer dan telah kehilangan momentum, kesempatan itu pernah
diberikan rakyat kepada Megawati ketika menjadi presiden, namun toh tidak
mampu memberikan pangan murah kepada rakyat, bisanya hanya menjual
anset-aset negara ke pihak asing.

Demikian halnya dengan Jusuf Kalla laksana seorang satria,


penyelamat wilayah nusantara dari konflik-konflik horizontal seperti di
Ambon, Aceh, Kalimantan, Kupang dll. Harus diakui seorang Jusuf Kalla
cukup berkontribusi terhadap penyelesaian Konflik di Indonesia, tapi bukan
dalam kapasitasnya sebagai seorang Ketua Umum Golkar, melainkan dalam

5 STIE-SB Pariaman
tugasnya sebagai Menkokesra saat itu. Lagipula konflik bisa terselesaikan
karena dukungan semuan komponen bangsa, dan kesadaran masyarakat.
Kenyataan ini menggambarkan para elite politik telah kehilangan
kreativitasnya untuk mendesign iklan yang lebih cerdas dan mendidik
rakyat. Materi eksploitasi hanya keberhasilan semata, sementara kegagalan
ditutup rapat-rapat.

Disamping perdebatan seputar iklan, saling tuding antara elite politik


juga turut meramaikan suasana menjelang pemilu. Misalnya pernyataan
Megawati saat Rakernas PDIP di Solo bahwa Pemerintahan SBY, seperti
permainan anak-anak “yoyo” naik turun, atas bawah. Sebelumnya juga,
Megawati pernah membuat pernyataan bahwa pemerintahan SBY seperti
goyang “poco-poco” goyang sana goyang sini, kemudian dibalas SBY bahwa
Megawati “menebar pesona”. Perdebatan-perdebatan seperti ini adalah hal
biasa, dan dimaknai sebagai politik pencitraan selain sebagai strategi
mencari popularitas, juga untuk menjatuhkan rival politik. Namun kesannya
karakteristik moral politik para elite belum dewasa. Etika kesantunan
kurang dijaga, materi tontonan masih diluar substansi politik.

Dalam dinamika politik kebangsaan harusnya pertarungan politik


dilakukan dalam konteks yang lebih fair, tidak harus dengan hujatan,
kecaman atau nada-nada sinisme untuk menjatuhkan. Mungkin lebih baik
jika perdebatan dilakukan dalam konteks menguji program masing-masing
partai, sehingga lebih matang ketika berkuasa nanti. Seputar recruitmen
Caleg Permasalahan seputar recruitmen calon anggota legislatif, juga
menjadi masalah serius dalam pemilu 2009. Dalam penjaringan caleg
prinsip-prinsip rasional menjadi terabaikan. Siapa saja boleh menjadi caleg
dengan ketentuan telah berusia 17 tahun, memiliki ijazah minimal SMA,
memiliki surat keteranganan kesehatan dan surat berkelakuan baik. Dengan
criteria seperti itu mengesankan pemilu 2009 adalah bursa lowongan kerja,
dan cukup beralasan sebab tidak sedikit para lulusan Perguruan Tinggi yang
selama ini sulit mendapatkan pekerjaan beramai-ramai mencalonkan diri
menjadi anggota legislatif. Fenomena ini sebagai akibat banyaknya partai

6 STIE-SB Pariaman
yang ikut pemilu, sehingga untuk memenuhi ketentuan formil siapa saja
dijaring menjadi anggota parpol kemudian dicalonkan menjadi anggota
legislatif tanpa dibekali dengan pengalaman organisasi atau proses
kaderisasi partai yang matang. Bahkan untuk mencari popularitas tidak
sedikit partai politik memilih jalur instant dengan mengandeng para artis,
atau siapa saja, bahkan tidak ketinggalan ibu-ibu rumah tangga yang
dianggap memiliki kemampuan financial dan mampu mengkatrol perolehan
suara pada pemilu 2009 dengan mekanisme penjaringan dor to dor.

Fakta ini tidak lantas menjadi pembenaran bahwa calon legislatif


pemilu 2009 tidak berkualitas, tetapi yang pasti kemampuannya mesti diuji
lagi. Kalau pencalonannya hanya sekedar untuk meramaikan konfigurasi
pesta demokrasi, itu tidak masalah, namun yang menjadi masalah adalah
ketika mereka terpilih menjadi angota legislatif, apa yang dapat
diperbuatnya selain datang, duduk, dengar, diam, duit. Bahkan mungkin
saja istilah sidang pleno, sidang komisi, pansus dll belum akrab ditelinga
mereka. Dengan pola rekrut caleg seperti ini akan memberikan konsekwensi
tersendiri terhadap wajah perlementer kita. Bagaimana nasib rakyat dan
Bangsa ini ditangan orang-orang seperti itu. Tujuan bangsa ini untuk
terciptanya masyarakat adil, makmur dan sejahtera akan semakin jauh dari
harapan. Logikanya bagaimana mungkin rakyat kebanyakan bisa adil,
makmur dan sejahtera, semetara para legislatornya saja tidak.

Berbeda dengan Amerika dan negara eropa lainnya, dimana orang


yang terlibat ke pentas politik adalah orang yang secara material telah
berkecukupan, sehingga saat menjadi anggota parlemen tidak lagi berfikir
untuk memperkaya diri dengan korupsi atau suap sebagaimana saat ini
menjadi foto buram wajah parlemen bangsa kita, dengan demikian menjadi
mudah baginya untuk berfikir untuk mensejahterakan warga bangasnya.
Berbekal pengalaman-pengalaman yang ada selama ini, mestinya
menjadikan masyarakat kita lebih cerdas dalam menentukan pilihannya,
tidak mesti karena selembar rupiah lalu hak kenegaraan kita menjadi
tergadaikan dan nasib bangsa ini menjadi kelam. Bangunlah bangsaku,

7 STIE-SB Pariaman
bangunlah rakyatku kita buat perubahan untuk negeri tercinta ini3.

Kandidat Berlomba Tampil di Media

Berdasarkan pantauan terhadap pemberitaan media sepanjang


Desember 2008, tampak para kandidat dan parpol penggusungnya berupaya
untuk menjadi berita di media. Posisi tersebut tampaknya disadari sebagai
konsekuensi logis dalam upaya menandingi keberadaan SBY di media.
Sebagai incumbent, dengan sendirinya news maker, SBY memang akan
lebih mudah tampil menyajikan tawaran-tawaran berupa program kerja dan
kebijakan. Tetapi sayangnya pendekatan tersebut tidak diimbangi adanya
bekal kampanye program dan kebijakan yang memadai, terlihat dari
prosentase pemberitaan seputar program dan kebijakan yang hanya kurang
dari 3% dari keseluruhan topik yang muncul dalam pemberitaan di media.

Berita seputar kritik dan respon terhadap iklan-iklan keberhasilan


pemerintahan SBY memang mengemuka, tetapi tidak diikuti dengan
tawaran tandingan. Hanya PDIP yang tampak berupaya mulai
mengedepankan isu-isu program dan kebijakan. Mayoritas partai lain masih
berkutat di pola lama, sekedar “nimbrung” dalam pemberitaan.
Kecenderungan tersebut tampak dari betapa dominannya kubu SBY dan
Mega sebagai pihak pencetus dalam berbagai pemberitaan yang bersifat
bergulir (rolling) di sepanjang Desember 2008. Para kandidat dan parpol
lain masih gagal untuk berselancar di atas dinamika isu yang berkembang.

Terkait Pemilu Legislatif, kecenderungan mengedepankan program


dan kebijakan bahkan lebih lemah dari pada Pemilu Presiden, yang memang
bertumpu pada kekuatan citra kandidat. Parpol tampak tergagap ketika
terjadi perubahan regulasi menjadi pemilihan berdasarkan suara terbanyak.
Belum tampak adanya caleg Parpol yang mampu menjadi newsmaker
melalui pembentukan isu dan kebijakan, baik terkait daerah pemilihan
masing-masing maupun isu nasional. Akibatnya para kandidat incumbent,
yang saat ini duduk di parlemen, menikmati keleluasaan untuk berselancar
3 Gland Yan Nussy. 2009. Fenomena Politik Menjelang 2009. Dalam
http://sumbawanews.com. Diakses Tanggal 6 April 2009

8 STIE-SB Pariaman
melalui isu-isu kebijakan terkait dengan komisi mereka masing-masing4.

Kampanye Kotor (Black Campaign) Pemilu 2009

Dinamika kegiatan kampanye Pemilu Legislatif makin panas, pasca


pembatalan Pasal 214 UU 10/2008 yang mengatur tentang penetapan
anggota legislatif terpilih. Sebelum pembatalan kewenangan penetapan
setelah tidak ada yang mendapatkan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), maka
partai punya kewenangan untuk menentukan berdasarkan nomor urut Calon
Anggota Legislatif. Namun sekarang tidak bisa demikian, calonlah yang akan
menentukan diri sendiri untuk dapat menjadi anggota legislatif atau tidak,
karena hanya mereka yang mendapatkan suara terbanyak di partai yang
memperoleh kursi yang akan duduk menjadi anggota legislatif.

Persaingan calon anggota legislatif tidak hanya terjadi antara calon


dari partai yang berbeda, namun justru sekarang yang muncul adalah
persaingan antar calon dalam partai yang sama. Kaitan dengan peran partai
politik sekarang ini, partai hanya sekedar kendaraan politik bagi orang yang
akan menjadi calon anggota legislatif. Tanpa ada peran yang dimiliki oleh
partai tersebut, menyebabkan calon anggota legislatif dalam melaksanakan
kampanye tanpa memperhatikan garis kebijakan partai, karena perjuangan
yang mereka lakukan hanya untuk kepentingannya, yaitu mendapatkan
suara sebanyak-banyaknya.

Dalam upaya mendapatkan dukungan sebanyak-banyaknya dari para


pendukungnya, maka calon akan menggunakan segala daya dan upaya,
bahkan kadang menghalalkan secara cara baik cara yang halal
(diperbolehkan) maupun yang haram (yang dilarang).

Cara kampanye yang haram oleh orang awam sering disebut dengan
istilah kampanye kotor/hitam (Black Campaign) yang mana calon anggota
legislatif melakukan kampanye yang dapat merugikan calon lain dan/atau
Peserta Pemilu lain dengan mengharapkan dirinya atau partainya mendapat
keuntungan dari kampanye kotor tersebut. Kampanye kotor dilakukan untuk
4 http://magnainformasi.com. Kandidat Berlomba Tampil di Media (2009). Diakses Tanggal
6 April 2009.

9 STIE-SB Pariaman
menjatuhkan calon sehingga calon tersebut menjadi tidak disenangi
temannya, pendukungnya. Dengan begitu calon tersebut akan dikeluarkan
dari partai sehingga karier politiknya habis alias tamat.

Biasanya kampanye kotor hanya didukung oleh fakta yang akurasi


kebenarannya belum terbukti. Media yang dipakai untuk kampanye kotor,
selain oral, juga bisa melalui selebaran, famlet, maupun sekarang melalui
SMS. Sedangkan dalam UU Nomor 10/2008 kampanye kotor tersebut
dilarang sebagaimana tersebut dalam Pasal 84 ayat (1) huruf c, yaitu
menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan calon dan/atau Peserta
Pemilu yang lain.

Untuk itu, yang harus diperhatikan oleh calon anggota lagislatif


dalam melaksanakan kampanye ada beberapa regulasi yang harus
diperhatikan dan ditaati agar kampanye yang dilakukan tidak termasuk
kategori kampanye kotor.

Regulasi tersebut khususnya Pasal 84 ayat (1) UU Nomor 10/2008


disebutkan pelaksana, peserta, dan petugas kampanye dilarang:

a). mempersoalkan dasar Negara Panasila, Pembukaan UUD Negara


Republik Indonesia Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik
Indonesia;

b). melakukan kegiatan yang membahayakan keutuhan Negara Kesatuan


Republik Indonesia;

c). menghina seseorang, agama, suku, ras, golongan, calon dan/atau Peserta
Pemilu yang lain;

d). menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat;

e). mengganggu ketertiban umum;

f). mengancam untuk melakukan kekerasan atau menganjurkan


penggunaan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota
masyarakat, dan/atau Peserta Pemilu yang lain;

10 STIE-SB Pariaman
g). merusak dan/atau menghilangkan alat peraga kampanye Peserta Pemilu;

h). menggunakan fasilitas pemerintah, tempat ibadah, dan tempat


pendidikan;

i). membawa atau menggunakan tanda gambar dan/atau atribut lain selain
dari tanda gambar dan/atau aribut Peserta Pemilu yang bersangkutan;

j). menjanjikan atau memberi uang/materi lainnya kepada peserta


kampanye.

Lebih dipertegas lagi dalam Peraturan KPU Nomor 19/2008 tentang


Kampanye, khususnya Pasal 10 ayat (2) disebutkan penyampaian materi
kampanye dilakukan dengan cara:

a) sopan, yaitu menggunakan bahasa atau kalimat yang santun dan pantas
ditampilkan kepada umum;

b). tertib, yaitu tidak mengganggu kepentingan umum;

c). mendidik, yaitu memberikan informasi yang bermanfaat dan


mencerahkan pemilih;

d). bijak dan beradab, yaitu tidak menyerang pribadi, kelompok, golongan
atau Peserta Pemilu lain.

Sedangkan di Pasal 11 diatur tentang Pelaksana kampanye dalam


menyusun materi dan melaksanakan kampanye Pemilihan Umum, harus:

a). menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945;

b). menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri
bangsa;

c). menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;

d). meningkatkan kesadaran hukum;

e). memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggungjawab


sebagai bagian dari pendidikan politik;

11 STIE-SB Pariaman
f). menjalin komunikasi politik yang sehat antara Peserta Pemilu dan/atau
calon anggota DPR, DPD, dan DPRD dengan masyarakat sebagai bagian
dari membangun budaya politik Indonesia yang demokratis dan
bermartabat.

Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 84 ayat (1) huruf c termasuk


tindak pidana Pemilu, sebagaimana diatur dalam Pasal 270 UU Nomor
10/2008 yang menyebutkan, bahwa "Setiap orang dengan sengaja
melanggar larangan pelaksanaan kampanye pemilu sebagaimana yang
dimaksud dalam Pasal 84 ayat (1) huruf a, b, c, d, e, f, g, h atau i dipidana
penjara 6-24 bulan dan denda Rp. 6.000.000 (enam juta rupiah)-Rp.
24.000.000 (dua puluh juta rupiah).5"

Agar tidak terkena ketentuan pidana di atas, maka sebaiknya calon


dalam melakukan kampanye tidak melakukan kampanye kotor, dengan
begitu akan memberikan pendidikan politik yang baik dan benar bagi
pendukungnya."

Kepekaan Gender Dalam Politik Indonesia

Pasal 28 H UUD 1945 hasil perubahan kedua mengatakan: ”Setiap


orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan
dan keadilan.”

Pasal ini sengaja dan dengan sadar diusulkan, dibahas di Panitia Ad


Hoc (PAH) I Badan Pekerja MPR, dan diputuskan oleh MPR pada masa
perubahan kedua UUD 1945 tahun 2000 sebagai payung kebijakan afirmasi.
Seperti kita ketahui, euforia Reformasi setelah jatuhnya Soeharto ditandai
keinginan kuat untuk merevitalisasi kehidupan politik ke arah yang lebih
demokratis, antara lain dengan mengamendemen UUD 1945.

Ada semacam kebutuhan masyarakat untuk diperlakukan lebih adil


secara ekonomi maupun politik. Sentralisasi politik dan ekonomi selama
Orde Baru telah mengakibatkan daerah- daerah tertinggal secara ekonomi.
5 Edi Pranoto. 2009. Kampanye Kotor (Black Campaign) Pemilu 2009. Dalam
http://www.kabarberita.com. Diakses Tanggal 6 April 2009.

12 STIE-SB Pariaman
Hal ini yang menjelaskan mengapa ada tuntutan otonomi daerah serta
perimbangan keuangan yang lebih adil antara pusat dan daerah. Di samping
itu, kelompok masyarakat yang tertinggal seperti suku-suku terasing di
berbagai pelosok Indonesia juga menuntut perhatian sama.

Demikian pula kelompok yang termarginalkan secara sosial,


ekonomi, dan politik seperti perempuan juga menuntut perlakuan yang lebih
adil. Para aktivis perempuan mengatakan bahwa demokratisasi
menghendaki adanya peningkatan pelaksanaan hak asasi manusia (HAM).
Hak-hak politik perempuan adalah bagian integral yang tak dapat
dipisahkan dari HAM. Prinsip persamaan, kesetaraan, dan keadilan berlaku
untuk semua warga negara Republik Indonesia tanpa ada perkecualian.

Maka tidaklah mengherankan apabila gerakan perempuan Indonesia


memperoleh momentumnya di era demokratisasi ini. Berbagai diskusi dan
temu wicara digelar untuk membahas apa sebaiknya yang dilakukan
perempuan untuk memperoleh hak-haknya secara lebih adil. Salah satu yang
mengemuka adalah perlunya peningkatan keterwakilan politik perempuan
di parlemen.

Konstruksi berpikirnya adalah semakin banyak perempuan di


parlemen, akan semakin besar kemungkinan isu-isu perempuan seperti
pendidikan, kesehatan/reproduksi, lingkungan, persamaan upah,
perlindungan kerja dapat diperjuangkan di tingkat kebijakan publik.

Saya masih ingat betul ketika menghadiri serial diskusi amandemen


UUD 1945 yang diselenggarakan Koalisi Perempuan di Jakarta antara tahun
1999–2000,Nursyahbani Katjasungkana meminta dilakukan upaya
memperjuangkan masuknya ketentuan HAM secara lebih lengkap dalam
UUD 1945 yang sedang diamendemen,termasuk mengenai hak afirmatif
yang sekarang terpatri dalam Pasal 28 H UUD 19456.

Prosesnya sangat dinamis untuk memasukkan pasal ini. Kebetulan


saya waktu itu (1999–2001) adalah anggota PAH I Badan Pekerja MPR yang

6 Dr. Valina Singka Subekti, MA. 2009. Kepekaan Gender Dalam Politik Indonesia. Harian
seputar Indonesia. Dalam http://www.ahmadheryawan.com. Diakses Tanggal 6 April 2009.

13 STIE-SB Pariaman
bertugas mengamendemen UUD 1945. Mampu dihadirkannya pasal tersebut
sebenarnya menggambarkan kerja sama yang baik antara PAH I BP MPR
dengan komponen masyarakat sipil dalam memperjuangkan isu-isu strategis
demokratisasi. PAH I menggelar forum hearing,mengundang dan menerima
masukan dari masyarakat mengenai materi amendemen.

Kebetulan salah satu pokok bahasan pada masa perubahan kedua


UUD 1945 adalah HAM. Yang menjadi fokus perjuangan utama teman-
teman aktivis perempuan adalah materi hak asasi perempuan dan hak asasi
anak. Hampir saja usaha itu tidak berhasil. Sebab pada waktu itu, pada
tahap proses sinkronisasi, sebagian anggota PAH I BP yang laki-laki
mempertanyakan untuk apa gunanya pasal tersebut, toh sudah ada payung
lain yang dapat digunakan, yaitu Pasal 28I ayat (2)?

Pasal itu menyebutkan: “Setiap orang berhak bebas atas perlakuan


yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan
perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif .” Anggota PAH
I waktu itu perlu diyakinkan bahwa pasal itu sangat penting dan mendasar
untuk memajukan perempuan dan kelompok masyarakat lain yang
tertinggal secara sosial dan ekonomi. Karenanya tuntutan utama kelompok
perempuan ini kalau tidak direspons akan menurunkan dukungan atas
proses perubahan UUD 1945 yang sedang berlangsung.

Masyarakat, khususnya perempuan, bersyukur dan berbahagia


karena dengan pasal tersebut mereka memiliki payung konstitusional dalam
memperjuangkan hakhak politiknya.Termasuk di sini masalah affirmative
actiondalam bentuk kuota 30% perempuan di parlemen.

Perjuangan itu sebenarnya telah membuahkan hasil yang


agaklumayan ketika berhasil memasukkan kuota 30% perempuan dalam UU
No 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik dan UU No 10 tentang Pemilihan
Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD Tahun 2008. Namun, keputusan MK
23 Desember 2008 lalu yang menetapkan calon terpilih dengan suara
terbanyak telah menimbulkan reaksi keras. Sebab keputusan MK itu oleh
aktivis perempuan dianggap tidak beperspektif gender dan membuyarkan

14 STIE-SB Pariaman
perjuangan keras bertahun-tahun untuk memperoleh akses dan kesempatan
yang sama dalam pengisian kursi parlemen (DPR).

Kuota perempuan yang diperjuangkan 10 tahun terakhir tiba-tiba


kehilangan maknanya. Penentuan calon tidaklah berdasarkan daftar urut
lagi atau dengan kuota 30% atas BPP (bilangan pembagi pemilih), tapi
dengan suara terbanyak. Keputusan MK itu dianggap telah mengubah
konstruksi UU Pemilu yang disusun dengan disain sistem pemilu
proporsional semiterbuka sehingga memungkinkan masuknya affirmative
action pada Pasal 55 ayat (2) mengenai pencalonan.

Di situ dikatakan bahwa setiap 3 (tiga) bakal calon terdapat sekurang-


kurangnya 1 (satu) orang perempuan bakal calon. Tidaklah mengherankan
kemudian, dan jangan dipersalahkan, apabila perempuan menuntut kuota
30% tetap diberlakukan. Mereka menuntut dari setiap 3 calon terpilih di
satu daerah pemilihan (dapil), 1 (satu) adalah perempuan. Hal ini
menimbulkan pro-kontra tidak hanya di antara sesama kelompok
perempuan,tapi juga dari kelompok laki-laki.

Tampaknya masih tidak mudah untuk memasukkan perspektif


gender dalam setiap perumusan kebijakan publik. Oleh karena itu
pencerahan mengenai perspektif gender perlu terus-menerus dilakukan
kepada semua komponen bangsa. Keputusan MK tersebut telah menegaskan
sistem pemilu yang digunakan adalah proporsional daftar calon terbuka
murni, tidak lagi semiterbuka.

Oleh karena itu, perjuangan perempuan ke depan mesti diubah


dengan menuntut 30% perolehan kursi di parlemen pada Pemilu 2014.Pasti
bukan perjuangan yang mudah. Resistensinya kemungkinan akan tinggi.
Yang jelas, masyarakat sungguh prihatin dengan sikap sebagian fraksi DPR
kita. Proseslegislasidi DPR lebih banyak diwarnai pertimbangan jangka
pendek daripada membangun sistem jangka panjang.

Ada sebagian fraksi di DPR yang dulu tidak menginginkan suara


terbanyak tapi sekarang berbalik setelah UU Pemilu ditetapkan. Selama
hitungannya adalah semata kekuasaan belaka, sulit bagi kita membangun

15 STIE-SB Pariaman
sistem yang lebih baik.

Keputusan MK melehmahkan Politik Perempuan

Setelah masyarakat indonesia dikejutkan dengan putusan Mahkamah


Konstitusi (MK) terkait dengan Pilgub Jawa Timur, selang beberapa hari
kemudian dikejutkan kembali dengan putusan MK yang membatalkan
sistem nomor urut sebagaimana diatur dalam UU. No. 10 Tahun 2008
tentang Pemilu legislatif dan digantikan dengan sistem suara terbanyak.
Tentunya saja, putusan MK ini secara politis berdampak secara serus
terhadap keterwakilan politik perempuan di Parlemen.

Putusan MK tersebut akan mengembalikan posisi politik perempuan


pada titik mundur bahkan nol. Sistem pemilu legislatif sebelumnya sudah
dirancang sedemikian rupa untuk mengakomodir keterwakilan politik
perempuan sebagai wujud kebijakan affirmative action (tindakan khusus).
Namun dengan lahirnya putusan MK tersebut, akan semakin melemahkan
politik perempuan.

Putusan MK tersebut juga akan berpotensi menegasikan salah pasal


terkait dengan sistem zipper, yakni pasal 55 UU 10/2008 Pemilu 2009
mengenai affrimative action atau tindakan khusus sementara.
Namun secara yuridis, sistem zipper ini juga mengandung kelemahan.
Karena pasal 55 tersebut tidak terkait dengan penetapan calon legislatif
(caleg) terpilih, melainkan ditujukan atau diberlakukan untuk pencalonan
yang diajukan parpol dalam Pemilu. Sehingga sistem zipper ini pun sangat
berpotensi gugur.

Gagasan KPU yang saat ini akan membuat regulasi baru untuk
mendukung zipper system. Menurut salah satu anggota KPU, Andi Nurpati,
KPU tetap akan memasukkan zipper system ke dalam peraturan KPU
tentang penetapan dan penggantian calon terpilih anggota DPR, DPRD
provinsi dan kabupaten/kota. Hal ini untuk mengakomodasi suara
perempuan agar mendapat kursi ketiga dari tiga kursi yang didapatkan
partai. Kebijakan itu diambil untuk memastikan bahwa partai benar-benar
memberikan jatah satu kursi dari tiga kursi yang didapat untuk perempuan.

16 STIE-SB Pariaman
Penentuan perempuan diambil dari caleg perempuan yang memperoleh
suara terbanyak.

Sampai saat ini kebijakan tersebut memang belum memiliki dasar


hukum yang kuat. Sebelumnya, aturan itu sudah diajukan sebagai Perppu
untuk payung hukumnya. Langkah KPU ini patut di apresiasi untuk menjaga
“kebijakan affirmative action” tidak terkorbankan. Kebijakan KPU ini juga
mengingat pasal 55 UU 10/2008 Pemilu 2009 mengenai affrimative action
atau tindakan khusus sementara. Peraturan KPU itu, kata Andi, masih
sejalan dengan keputusan MK mengenai suara terbanyak. Sebab, MK hanya
menghapus pasal 214 urut UU No 10/2008 tentang Nomor Urut. Sementara,
pasal 55 mengenai affrimative action tidak dihapus. Semangat peraturan ini
untuk mendongkrak keterwakilan perempuan sebanyak 30 persen. Kalau
tidak begini, keterwakilan perempuan akan semakin terancam.

Politik Perempuan sebuah Keniscayaan. Hingga kini, perkembangan


wacana perempuan dan politik masih terjebak dalam perdebatan tentang
partisipasi dan representasi, yang mengarah pada indikator normatif
kuantatif. Kuota 30 persen untuk reprensentasi politik perempuan, adalah
salah satu indikator tersebut. Sebagai afirmative action (tindakan khusus),
kuota memang tak boleh melupakan kualitas dari representasi tersebut.
Tetapi harus disadari sungguh-sungguh, tuntutan kuota bersumber dari
realitas sejarah panjang pendiskriminasian terhadap perempuan, melalui
proses yang sistemik yang tidak akan berakhir hanya dengan “menunggu
waktu bergulir” tanpa tindakan khusus.

Sejauh ini kontribusi kaum perempuan terhadap pembentukan


institusi demokrasi penting lainnya tidak banyak jika tidak ingin
mengatakan tidak ada. Salah satu sebabnya adalah karena kurangnya
kemampuan perempuan mengartikulasikan masalah-masalah tersebut ke
permukaan. Dengan kata lain, rendahnya partisipasi dan representasi politik
perempuan berkontribusi sangat signifikan terhadap kurangnya perhatian
masyarakat terhadap pemberdayaan perempuan.

Saat ini masalah perempuan dalam politik dalam pengambilan

17 STIE-SB Pariaman
keputusan telah mejadi isu global karena beberapa alasan. Pertama,
pemerintahan oleh (mayoritas) laki-laki dengan perspektif laki-laki (dengan
sendirinya lebih menguntungkan laki-laki), tidak dapat melegitimasi
“prinsip pemerintahan untuk rakyat oleh rakyat” sebagai esensi demokrasi.
Hal ini disebabkan di antaranya, hak-hak politik perempuan merupakan
bagian integral dan tidak terpisahkan dari hak asasi manusia, bahwa dalam
demokrasi pandangan dari kelompok yang berbeda-beda termasuk berbeda
jenis kelamin harus dipertimbangkan dalam setiap kebijakan, dan
perempuan adalah separoh penduduk dunia dan separoh dari jumlah
penduduk masing-masing negara. Kedua, tidak ada sekelompok orangpun
yang dapat mengartikulasikan kepentingan dan kebutuhan perempuan
dengan kualitas tertinggi selain kaum perempuan sendiri khususnya umtuk
mengartikulasikan kebutuhan perempuan yang spesifik misalnya dalam
masalah kekerasan terhadap perempuan, kesehatan reproduksi dll. Ketiga,
kebutuhan-kebutuhan perempuan yang spesifik diatas, lebih berhasil
diagendakan oleh perempuan sendiri dari pada kaum laki-laki.
Keempat, perempuan dianggap membawa perubahan dalam gaya dan nilai-
nilai baru dalam politik dan juga dalam pembangunan.

Peminggiran perempuan dalam politik dan pembangunan telah


bertentangan dengan kemampuan mereka dalam mengelola ketahanan
keluarga dan pemeliharaan kehidupan. Karena itu, keterwakilan politik
dalam parlemen adalah sebuah keniscayaan. Tentunya ini harus didukung
oleh sebuah pihak, terutama terkait dengan regulasi yang ada. Payung
kebijakan yang pro perempuan sudah semestinya dilahirnya untuk
menghadirkan peran dan partisipasi politik perempuan yang lebih baik.
Dalam konteks ini, gagasan KPU yang akan “melindungi” keterwakilan
politik perempuan dalam Pemilu 2009 nanti dengan mengeluarkan regulasi
yang menguatkan zipper system patut didukung. Karena, ini adalah celah
politis dan yuris yang bisa dilakukan untuk menjaga kuantitas keterwakilan
politik perempuan di parlemen7.

7 Yulyani. Anggota DPRD Surabaya. 2009. Keputusan MK Melemahkan Politik


Perempuan. Dalam http://pks-jatim.org. Diakses Tanggal 6 April 2009.

18 STIE-SB Pariaman
Meragukan Kualitas Legislatif Hasil Pemilu 2009

Tulisan ini bukan sebuah pengingkaran atas hak setiap warga negara
untuk memilih dan dipilih, namun lebih kepada pengkritisan atas
inkonsistensi profesi, sekiranya politisi kita kategorikan sebagai profesi.
Karena kami percaya profesi apapun selalu membutuhkan proses untuk
melahirkan skil profesi yang matang. Karena sejujurnya hadirnya fenomena
penyimpangan yang dilakukan partai politik dalam merekrut calon anggota
legislatif, yang lebih mengutamakan popularitas ketimbang kualitas. Serta
turut bersimpati kepada kawan-kawan aktivis, tokoh LSM, OKP dan Ormas
yang telah berproses puluhan tahun karena tuntutan profesionalisme pilihan
karir, namun pada akhirnya tidak terpakai dalam perekrutan calon politisi
senayan atau diabaikan karena partai politik sedang latah untuk lebih
memilih artis ?pelawak dan pesohor sinetron.

Pemilu 2009, adalah pemilu yang diawal persiapan perhelatannya


telah melahirkan banyak kontroversi, menarik perhatian publik, fenomena
yang mengusik atau mungkin bisa dikatakan anomali. Mulai dari pra seleksi
anggota KPU yang menendang figur-figur ternama dan bahkan anggota KPU
incumbent, sampai muncul gugatan salah satu pengamat politik atas tidak
transparannya pola seleksi calon anggota KPU. Lalu kita kembali dikejutkan
dengan terpilihnya anggota KPU dan muncul persoalan terkait dengan
penundaan pelantikan salah satu anggota KPU. Hingga kinerja KPU
perlahan-lahan semakin diragukan bakalan bisa mulus mengawal pemilu,
entah karena minim pengalaman pada level nasional atau memang lemah
kinerjanya.

Tidak berhenti sampai disitu, produk calon legislatif yang


dimunculkan dari tiap partai politik belakangan juga menuai banyak kritikan
dan cercaan. Munculnya banyak kalangan artis yang tampil menjadi calon
anggota legislatif pada Pemilu 2009, bagi banyak kalangan patut
dipertanyaan kesiapan partai dalam mencetak kader-kader partai. Minimnya
pengalaman berorganisasi dan pengalaman politik para artis yang banyak
menempati nomor urut jadi dalam DCS anggota DPR RI pemilu

19 STIE-SB Pariaman
2009 melahirkan pesimisme baru akan produk legislatif 2009 yang bakalan
diisi oleh kalangan pelawak, pesohor dan para pemain sinetron.

Fakta teranyar dan sungguh ironis merujuk pada hasil suvey LSI yang
dikutip dari (RM dan Berpolitik.com) popularitas politisi ternyata masih
jauh dibawah caleg artis yang nota bene adalah pelawak, pemain sinetron
dan foto model. Presiden PKS Tifatul Sembiring dan Ketua DPP Partai
Demokrat Anas Urbaningrum misalnya, masih berada di bawah pelawak Eko
Patrio8.
Dari hasil survei tersebut, popularitas Eko yang jadi caleg dari PAN ini
mengantongi 5,6 persen, Tifatul Sembiring 1,5 persen, dan Anas
Urbaningrum 1,9 persen. Selebihnya, Ketua Umum PBB MS Kaban 1 persen,
Pramono Anung 2,5 persen, Muhaimin Iskandar 2,9 persen. Sedangkan
Ferry Mursidan Baldan menempati posisi buncit dengan tingkat popularitas
0,1 persen.

Sangat tragis nasib para aktivis kepemudaan, mahasiswa dan


perempuan yang berproses begitu lama, melewati berbabagai tahapan
proses, mempelajari kitab-kitab ideologi, stratag, metode persidangan,
hingga menuju kematangan berpolitik dan menguasai berbagai persoalan
dan dinamika kebangsaan, namun kalah bersaing karena popularitas bisa
menjadi faktor yang lebih penting ketimbang kompentensi dalam
mengarahkan perilaku pemilih.

Pada akhirnya Curiculum vitae menjadi tidak penting, rakyat sakit


mata membaca kurikulum vitae, rakyat lebih suka melihat pelawak. Terbukti
Anas Urbaninggrum mantan Ketua Umum PBHMI (periode 1997-1999) yang
menjadi kebanggaan kader-kader HMI tidak populer dibanding eko Patrio-
sang pelawak.

Kalau demikian situasinya kita pantas mempertanyakan kualitas


produk pemilu legislatif 2009 yang meraup anggaran triliunan rupiah. Pesta

8 Jay Paradi. Aktivis Barisan Muda Merah Putih. 2009. Meragukan Kualitas Legislatif
Hasil Pemilu 2009. Dalam http://www.berpolitik .com. Diakses Tanggal 6 April 2009.

20 STIE-SB Pariaman
rutin lima tahunan rakyat ini tidak menjanjikan harapan, justeru melahirkan
pesimisme yang dalam. Kami meragukan kemampuan anggota ledislatif
hasil pemilu 2009 untuk memikirkan nasib rakyat karena kualitas caleg yang
tidak jelas latar belakang karir politiknya. Memang benar kata Rasulullah
Muhammad SAW, jika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggu
saja kehancurannya. Dapat ditebak bahwa udah pasti legislatifnya bakalan
amburadur, kalau gedung senayan isinya para pelawak dan pemain sinetron
serta caleg dari latar belakangan lainnya yang selama ini tidak bersentuhan
dengan substansi persoalan politik kebangsaan.

Coba kita simak petikan komentar Pakar komunikasi politik UI


Effendi Ghazali mengatakan, jika ingin menjadi wakil rakyat, para politisi
sekarang harus rajin mejeng di media massa, dan menjadi selebriti politik.
"Selebriti politik itu artinya orang yang terus-menerus tampil di koran,
televisi, dan media lainnya dengan menyuarakan isu tertentu yang menarik
perhatian publik," katanya. Namun, Effendy khawatir dominasi kalangan
artis dalam perolehan suara pada Pemilu 2009 ini dikhawatirkan akan
membuat kualitas DPR menurun, meskipun ada caleg artis yang memiliki
pendidikan tinggi.

Kalau sudah demikian faktanya, nampaknya semakin lama nasib


bangsa ini semakin tidak jelas arahnya. (Allahu allam ???..)

Optimisme Pemilu 2009

Pelaksanaan tahapan Pemilihan Umum yang dicanangkan Komisi


Pemilihan Umum tanggal 9 April 2009 yang akan datang banyak yang
menilai terancam gagal, sebagian pihak pesimis karena pencapaian
sasarannya belum meyakinkan dan menjamin, seperti sangat kurangnya
sosialisasi pemilu 2009 yang dibayang-bayangi angka golput meningkat,
perubahan penetapan daftar pemilih tetap, adanyan sikap toleransi KPU
menetapkan dan penambahan partai politik peserta pemilu (OPP),
penetapan daftar calon tetap (DCT) dan lain-lain. Hal ini dibumbui lagi
dengan Undang-Undang Pemilu sebagai pijakan yang di-judicial review DPD

21 STIE-SB Pariaman
ditambah persoalan calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang
terpilih berdasarkan nomor urut ataupun perolehan suara terbanyak di
samping itu kompleksitas kesiapan dukungan logistik yang masih dibahas
untuk disesuaikan dengan kebutuhan yang sejak tender hingga
distribusinya. Ternyata juga belum menggambarkan optimisme.

Belum lagi dinamika politik di daerah yang secara langsung ataupun


tidak langsung berdampak pada pelaksanaan tahapan pemilu 2009, sebut
saja Pemilihan kepala daerah/wakil kepala daerah di Jawa Timur yang dapat
mengganggu persiapan Pemilu 2009, sesuai UU Nomor 12 Tahun 2008
memproyeksikan berakhir bulan Desember 2008. Namun, pemilihan
Gubernur/Wakil Gubernur Jawa Timur setelah Putusan Mahkamah
Kontitusi (MK) harus pemungutan suara ulang di Kabupaten Bangkalan dan
Sampang serta penghitungan suara ulang di Kabupaten Pamekasan. Selain
Jawa Timur, tahun 2008 juga diwarnai kerumitan interpretasi yang
berujung konflik penghitungan suara di Maluku Utara dan Kalimantan
Timur.

Variabel Optimisme Pemilu 2009. Dinamika tahapan pemilu 2009


seperti yang digambarkan di atas, tentu harus disikapi arif oleh
penyelenggara pemilu, karena dalam penyelenggaraan pemilu 2009, KPU
Propinsi sampai dengan KPPS merupakan pelaksana dari regulasi yang
diproduk oleh KPU Pusat, namun demikian sebagai penyelenggara tentu
tidak menerima dan terbawa arus begitu saja, tetapi bagaimana kebijakan-
kebijakan tahapan tersebut dapat dijalankan sesuai dengan waktu yang
sudah ditetapkan, walaupun dalam realitasnya dihadapkan kepada
kompleksitas berbagai permasalahan di bawah. Kritikan Gus Dur (mantan
presiden RI ke 4)) bahwa pemilu 2009 harus ditunda, tentu harus menjadi
pemacu kita untuk lebih baik dan optimis dalam melaksanakan tahapan-
tahapan pemilu.

Dalam terminologi pemahaman awam saya, optimisme itu diartikan


dan diimplementasikan ke dalam ”kita (penyelenggara) tetap harus

22 STIE-SB Pariaman
melangkah ke depan” di tengah dinamika pemilu yang kita hadapi. Hal ini
yang harus dijadikan komitmen bersama seluruh penyelenggara pemilu
dilapangan, syukur-syukur ini juga difahami secara bijak oleh seluruh pihak
yang terkait dengan pemilu, baik itu partai politik, panwas pemilu dan
pihak-pihak lainnya. Artinya kita (penyelenggara dan seluruh pihak yang
terkait dengan pemilu) harus memberikan keyakinan kuat kepada
masyarakat/rakyat sang pemilik kedaulatan, agar mereka tidak merasa
pesimis dan terlebih khawatir akan pelaksanaan tahapan-tahapan pemilu
2009. Saya yakin ekspektasi publik mengharapkan sesuatu yang terbaik dari
proses pemilu ini.

Perasaan optimis Pemilu harus berlangsung akan muncul apabila


pelaksanaan Pemilu dikaitkan dengan teori cara perpindahan kekuasaan.
Menurut teori perpindahan kekuasaan prosesnya ada 3 yaitu, bisa melalui
revolusi, kudeta atau melalui pemilu. Saya kira kita akan menentukan
pilihan terhadap pemilu. Walau bagaimanapun pemilu merupakan cara
suatu negara untuk perpindahan kekuasaan secara damai tidak merenggut
korban nyawa ataupun materi yang begitu besar dibanding perpindahan
kekuasaan melalui revolusi ataupun kudeta. Saya kira banyak sejarah
membuktikan bahwa dengan revolusi ataupun kudeta dalam perpindahan
kekuasaan banyak mengorbankan materi terlebih lagi nyawa dan
pertumpahan darah. Jadi pemilu lah cara yang paling elegant untuk kita
pilih dalam meregenerasi kepemimpinan di negeri kita.

Dari perspektif lain, kalau dikaji dan didalami secara ilmiah, bahwa
pelaksanaan pemilu 2009 sudah dapat dilaksanakan dan harus berlangsung
tahapan demi tahapan, sebab penyelenggaraan pemilu 2009 sudah ada
variabel-variabelnya, diantaranya diterbitkannya undang-undang
kepemiluan, sudah dibentuknya lembaga penyelenggara pemilu dari pusat
hingga daerah (KPU sampai dengan PPS), sudah ditetapkannya peserta
pemilu (partai politik dan perseorangan DPD), sudah ditetapkannya calon,
sudah ditetapkannya pemilih (DPT) dan stabilitas keamanan dinegara kita
yang cukup kondisif. Jika semua variabel itu terpenuhi maka diyakini pemilu

23 STIE-SB Pariaman
akan terselenggara dengan baik, apalagi saat ini persiapan-persiapan dan
pelaksanaan tahapan untuk itu sudah dilakukan. Semua persiapan sudah
dijalankan sesuai prosedur, peraturan ada, calon pemilih juga ada meskipun
diyakini ada golongan putih (golput), dan keamanan secara nasional dinilai
aman dan stabil sampai penyelenggaraan pemilu nanti. Hal-hal itulah yang
harss dibangun keyakinan bahwa pemilu 2009 harus berlangsung sesuai
dengan tepat waktu.

Dinamika Pemilu 2009. Pemilu 2009 akan menjadi ajang terbesar


perdebatan banyak kalangan. Hal ini sudah terbukti dalam pelaksanaan
setiap tahapan. Sejak pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) pertama
tahun 1955 sampai dengan pelaksanaan Pemilu tahun 2004, Negara
Kesatuan Republik Indonesia tercatat dalam sejarah sudah melaksanakan
pemilu sebanyak 9 (sembilan) kali, jadi pemilu tahun 2009 merupakan
Pemilu yang kesepuluh sejak Republik ini ada. Sejarah juga akan mencatat
bahwa pelaksanaan pemilu tahun 2009-lah yang merupakan sejarah pemilu
yang menorehkan tinta emas, khususnya dalam teknis pelaksanaannya.

Sebut saja dari teknis pemberian suara, sudah 9 (sembilan) kali kita
pemilu sejak tahun 1955, 1971, 1977, 1992, 1997, 1982, 1987, 1999 dan
terakhir 2004 selalu memberikan suara dengan cara di coblos. Untuk pemilu
2009 ini lah, bangsa kita memulai untuk sesuatu yang baru, yaitu dengan
cara di centang (istilah lain, ceklis, contreng dan lainnya). Tentu dalam
perubahan teknis yang mendasar ini mengandung makna yang mendalam.
Usut punya usut, ternyata Pemilu 2009 diletakkannya pondasi pelaksanaan
”PEMILU YANG CERDAS”. Sejarah membuktikan bahwa di dunia negara
yang dalam pemilunya masih di coblos tinggal 2 negara yaitu negara kita
(Indonesia) dan negara Kamerun. Ada sebuah cita demokrasi yang luhur
barangkali dari pemegang kebijakan di atas akan perubahan ini. Tentunya
perubahan mendasar ini, seyogyanya diikuti oleh gencarnya sosialisasi. Tapi
apa yang terjadi banyak kritikan dan itu diakui sendiri oleh KPU bahwa
sosialisasi belum maksimal dilakukan. Tentunya ini merupakan kewajiban
semua stakeholder untuk mengawal dan menyelamatkan pemilu 2009 ini,

24 STIE-SB Pariaman
dengan terus melakukan kerja sosialisasi yang tidak hanya merupakan
tanggungjawab KPU semata.

Banyaknya parpol dalam pemilu 2009 dibanding pemilu 2004 juga


menambah dinamika kepemiluan 2009, belum lagi dibukanya kran
pendirian parpol lokal yang khusus ada di Nangroe Aceh Darussalam (NAD)
yang dapat menjadi peserta Pemilu 2009 ini. Hal itu tentu berdampak
kepada kuantitas para calon legislatif yang diajukan parpolserta diikuti
dinamikanya internal parpol. Belum lagi dari segi Undang-undang, beberapa
hari setelah UU Pemilu ditetapkan DPR sudah langsung di Judicial Review
kepada Mahkamah Konstitusi oleh pihak-pihak yang tidak puas. Satu sisi
ada kewajiban pelaksana pemilu untuk mensosialisasikan, ternyata ada
upaya hukum yang harus dihormati. Ini yang kemudian memperkaya
dinamika kepemiluan 2009 ini.

Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan


menerbitkan perpu yang diminta oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), guna
mengatasi kemungkinan adanya pemberian suara yang salah akibat
memberi tanda dua kali atau lebih, akan berimbas berkurangnya beberapa
pasal yang sudah diatur mengenai tata cara pemberian suara, baik untuk
pemilu anggota DPR, DPD, maupun DPRD. Penerbitan perpu tersebut akan
mengubah setidaknya pasal 153 ayat 1 yang menyatakan bahwa pemberian
suara untuk pemilu anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota dilakukan dengan memberikan tanda satu kali pada surat
suara.

Kemudian, pada ayat 2 yang menyatakan bahwa pemberian tanda


satu kali itu, pada dasarnya bertujuan untuk memudahkan pemilih, akurasi
dalam penghitungan, dan efisien dalam penyelenggaraan pemilu. Terkait
dengan pasal di atas, pasal lain juga akan mengalami perubahan, yakni pasal
165 ayat 1, pemilih tidak boleh membubuhkan tulisan dan atau catatan lain
pada surat suara; dan pasal 165 ayat 2, surat suara yang terdapat tulisan dan
atau catatan lain dinyatakan tidak sah. Selanjutnya pasal 176 ayat 1 huruf b

25 STIE-SB Pariaman
juga harus mengalami perubahan karena terkait dengan suara untuk pemilu
DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota yang dinyatakan sah
apabila pemberian satu kali pada kolom nama partai atau kolom nomor
calon atau kolom nama calon anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD
Kabupaten/Kota.

Tersisa tiga bulan menjelang Pemilu Legislatif 2009, tentunya kita


sebagai penyelenggara pemilu di daerah berharap pemerintah dan KPU
Pusat segera membuat sebuah kepastian hukum dalam berbagai aspek.
Kalaupun pemerintah berjanji menyiapkan aturan-aturan untuk
meyakinkan keoptimisan kami baik itu peraturan pemerintah pengganti
undang-undang (perpu) untuk mengatur tanda contreng dua kali, peraturan
presiden (perpres) untuk membuat pedoman tentang fasilitasi pemerintah
terhadap pemilu dan Keppres) yang akan memayungi pengadaan logistik
pemilu segera itu direalisasikan.

Sukses Pemilu 2009 akan menjadi tonggak penting bagi kemajuan


demokrasi, namun dalam mewujudkan hal tersebut, tentunya memerlukan
kerja keras dan kerja kolektif semua pihak, sebab sukses Pemilu 2009
khususnya di daerah hanya akan tercapai ketika semua komponen bersama-
sama mengemban tanggungjawab ini, baik itu pemerintah daerah, DPRD,
aparat kemanan, elit partai politik, dan semua elemen masyarakat untuk
bekerja sama dalam mengawal Pemilu 2009 mendatang9.

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat penulis tarik, bahwa terjadi berbagai


dinamika pada pemilu legislatif 2009 akibat dari dikeluarkannya keputusan
MK mengenai suara terbanyak, antara lain: mulai dari pesimisnya banyak
kalangan akan terlaksananya pemilu legislatif, melemahnya kualitas hasil
pemilu sampai dengan optimisme pemilu legislatif 2009. dengan
dikeluarkannya keputusan MK tersebut mengenai suara terbanyak selain

9 Endun Abdul Haq. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kuningan. 2009.
Optimisme Pemilu 2009. Dalam http://www. radarcirebon.com. Diakses Tanggal 6 April 2009.

26 STIE-SB Pariaman
memberikan dampak positif berupa terselenggaranya sistem demokrasi
langsung dimana pemilih lagsung memilih caleg yang dianggapnya pantas
bukan lagi dari partai yang menentukan sehingga caleg yang bernomor urut
berkemungkinan untuk dapat masuk menjadi anggota legislative, namun
keputusan MK tersebut juga memberikan dampak buruk terhadap konstitusi
negara dan juga oleh sebagian kalangan keputusan tersebut dianggap
melemahkan posisi caleg perempuan dalam pemilu legislative 2009.

Referensi

UUD Negara Republik Indonesia Tahu 1945.


Undang-Undang Nomor 10 tahun 2008.
Peraturan KPU Nomor 19/2008 tentang Kampanye.
. MK Luluskan Sistem Suara Terbanyak (2008).
Eko Prasojo. Guru Besar Ilmu Administrasi Negara FISIP UI. 2009. MK
Superorgan. Dalam http://www.Ahmadheryawan.com.
Gland Yan Nussy. 2009. Fenomena Politik Menjelang 2009. Dalam
http://sumbawanews.com.
http://magnainformasi.com. Kandidat Berlomba Tampil di Media (2009).
Edi Pranoto. 2009. Kampanye Kotor (Black Campaign) Pemilu 2009.
Dalam http://www.kabarberita.com.
Dr. Valina Singka Subekti, MA. 2009. Kepekaan Gender Dalam Politik
Indonesia. Harian seputar Indonesia. Dalam
http://www.ahmadheryawan.com.
Yulyani. Anggota DPRD Surabaya. 2009. Keputusan MK Melemahkan
Politik Perempuan. Dalam http://pks-jatim.org.
Jay Paradi. Aktivis Barisan Muda Merah Putih. 2009. Meragukan Kualitas
Legislatif Hasil Pemilu 2009. Dalam http://www.berpolitik .com.
Endun Abdul Haq. Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten
Kuningan. 2009. Optimisme Pemilu 2009. Dalam http://www.
radarcirebon.com.

27 STIE-SB Pariaman