Anda di halaman 1dari 5

GARA-GARA

Baru hari pertama masuk sekolah setelah MOS selama 3 hari aku sudah terlambat. Aku
tidak akan menyalahkan siapa-siapa ataupun memberi banyak alasan kenapa hari ini aku
terlambat karena memang seratus persen ini kesalahanku. Jemari mama sampai bengkak
bengkak karna saking semangatnya mengetuk pintu membangunkanku. Dan sekarang aku
kelihatan seperti orang bloon, menatap lurus ke arah pagar berharap pagar itu akan terbuka
dengan sendirinya. Atau paling tidak, muka seram satpam itu berubah menjadi sosok Kim Bum
yang bisa membuatku nekat melakukan apa saja, termasuk menciumnya, ups! Setelah
beberapa menit menunggu di depan pagar, akhirnya aku dan rombongan siswa terlambat
lainnya diizinkan masuk.
Kalian ini! Belum ada siapa-siapa yang di urus malah terlambat. Lihat saya, anak 3,
belum lagi suami sama mertua yang mau dibuatin sarapan. Bayangkan bagaimana saya bisa
mengurus semuanya dan masih tetap datang tepat waktu ke sekolah! omel Bu Tuti, guru piket
yang bertugas member kami hukuman.
Curcol ni ye celetuk salah seorang kakak kelas di belakangku. Muka buk Tuti merah
padam.
Update status udah belum buk? tambah yang lain. Bu Tuti langsung berkacak
pinggang.
Kamu! Tuh yang ngomong tadi, pel lantai koridor ruang guru, dan ruang kepala
sekolah. Lalu bu Tuti tersenyum dengan puasnya. Dia sedang membayangkan betapa
panjangnya koridor itu. Kakak kelas yang nyeletuk tadipun jadi mati kutu dan pasrah saja.
Setelah pembagian tugas, ehem.. hukuman maksudnya, kamipun bubar dan berangkat
ke spot masing-masing. Karena aku masih kelas 10, aku diberi hukuman yang paling ringan versi
Bu Tuti : membersihkan wc. Hariku memang lagi sial. Dengan langkah gontai aku berjalan ke
sarang nyamuk, lalat, kecoa dan tikus itu.
WC sekolah sangat kecil, tapi cukup besar buat dijadikan rumah kecoa. Saat masuk saja
seekor tikus kencing dihadapanku. Tanpa rasa malu dan segan dia berlalu saja melewatiku
kembali mengorek-ngorek tong sampah yang ada disudut wc. Melihat itu aku jadi ingin balas
dendam atas ketidaksopanannya. Aku akan mulai membersihkan wc ini dari tong sampah itu.
Aku bawa keluar dan aku buang di tempat pembuangan. Welcome to the new house, rat!
Ujarku dalam hati.
Lantai berlumut dan menjadi tempat menepel bermacam-macam noda itu aku sikat
sampai akhirnya kembali ke warna normal. Kemudian aku pel lantai itu menggunakan pewangi.
Setelah semua beres, sepertinya malah aku yang perlu mandi. Aku keluar dari wc dengan
perasaan puas dan capek luar biasa. Bel habisnya 1 jam pelajaran berbunyi. Berarti aku sudah
ketinggalan. Dengan buru-buru aku ambil ember bekas air pel, dan aku siramkan saja ke pohon
yang tidak jauh dari situ. Saat aku berbalik mau ke kelas, ada suara cowok memanggilku. Bukan
panggilan mesra, tapi marah. Dan hal itu membuatku kaget dan takut.
Hoy!!! Sini kamu!! Yang megang ember! teriaknya. Aku berbalik lagi, dan melihat dari
jarak agak jauh, ada seorang cowok beridiri disana. Sepertinya kakak kelas. Dan dia basah
kuyup?! Apa gara-gara... Eh! Sembarangan aja nyiram orang! Sini kamu! aku berjalan pelan ke
arahnya dengan wajah tertunduk.
Maaf kak...nggak sengaja... ujarku lirih. Kini aku tepat di depannya, tidak berani
menegakkan mukaku. Hanya melihat sepatunya yang juga basah.
Eh, liat sini! ia memegang kepalaku dan berhasil melihat wajahku yang ketakutan.
Akupun akhirnya bisa melihat wajahnya yang basah. Dan saat itu, ada sesuatu yang berdesir di
dadaku, dan angin sepoipun sepertinya tengah membelai wajahku. Muka garangnya seketika
hilang berganti senyuman. Lalu dia geleng-geleng kepala. Ops! Aku ingat dia! Sepertinya dia
juga mengingatku!
Ya Tuhan... aku kira kesialanku berakhir di bioskop itu. Komentarnya, lalu mundur
selangkah, dengan mata terus menatap ke arahku.
Aku jadi salah tingkah, dan jadi teringat kembali kejadian minggu lalu. Saat aku ke
bioskop dengan sepupuku, aku duduk di seat yang salah. Dan ternyata seat itu milik, em, aku
baca dulu name tag nya, Ka Ozi. Aku malah ngotot dan membuat keributan kecil hingga
akhirnya mbak-mbak penjaganya datang dan ternyata seat aku ada disebelahnya. Dan itu
belum berakhir. Aku malah salah makan popcorn. Pop corn kak Ozi yang aku lahap, sedangkan
dia hanya bisa menatapku dengan rasa tidak percaya. Aku cuek saja waktu itu karena merasa
itu popcornku. Dan... ternyata dia kakak kelasku.
Aku lihat lagi kak Ozi yang masih berdiri di depanku. Mukanya tidak menyeramkan lagi.
Tapi pastinya mukaku yang sudah berubah seperti kepiting rebus. Maaf kak. Aku nggak tau
kalau ada orang disana. Dia tersenyum! Tuhan... indahnya ciptaanmu yang satu ini. Dagdigdug
jantungku menunggu reaksinya.
Kamu harus tanggungjawab! Jangan Cuma minta maaf aja. Jawabnya datar. Glek! Aku
harus gimana dong?
Ia kakaku mau tanggungjawab. Aku harus gimana? ujarku pasrah. Aku pasang wajah
menyesalku setotalnya. Dia diam sejenak. Dan itu membuatku makin tidak tahan untuk tidak
melihat wajahnya. Ternyata kegantengannya tidak terhapus oleh air pel yang kusiram.
HP kamu mana? aku mengeluarkan HPku dan memberikan padanya karena ia
mengulur tangannya. Beberapa detik ia mengetikkan sesuatu di Hpku, dan kemudian ia
kembalikan. Nih, hp kamu. Kalau kamu memang mau tanggungjawab, nanti siang kita makan
di luar bareng! Em, berdua! Nomor kamu udah aku simpan, kok! dia berlalu dengan cueknya
sedangkan aku masih melongo di tempat, berusaha mencerna kata-katanya.
Haaaahhh? Aku bayar tanggungjawabku dengan sebuah kencan?

Gara-gara
Baru hari pertama masuk sekolah setelah MOS selama 3 hari aku sudah
terlambat. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa ataupun memberi banyak
alasan kenapa hari ini aku terlambat karena memang seratus persen ini
kesalahanku. Jemari mama sampai bengkak bengkak karna saking semangatnya
mengetuk pintu membangunkanku. Dan sekarang aku kelihatan seperti orang
bloon, menatap lurus ke arah pagar berharap pagar itu akan terbuka dengan
sendirinya. Atau paling tidak, muka seram satpam itu berubah menjadi sosok Kim
Bum yang bisa membuatku nekat melakukan apa saja, termasuk menciumnya,
ups! Setelah beberapa menit menunggu di depan pagar, akhirnya aku dan
rombongan siswa terlambat lainnya diizinkan masuk.

Kalian ini! Belum ada siapa-siapa yang di urus malah terlambat. Lihat saya,
anak 3, belum lagi suami sama mertua yang mau dibuatin sarapan. Bayangkan
bagaimana saya bisa mengurus semuanya dan masih tetap datang tepat waktu ke
sekolah! omel Bu Tuti, guru piket yang bertugas member kami hukuman.
Curcol ni ye celetuk salah seorang kakak kelas di belakangku. Muka buk Tuti
merah padam.
Update status udah belum buk? tambah yang lain. Bu Tuti langsung berkacak
pinggang.
Kamu! Tuh yang ngomong tadi, pel lantai koridor ruang guru, dan ruang kepala
sekolah. Lalu bu Tuti tersenyum dengan puasnya. Dia sedang membayangkan betapa
panjangnya koridor itu. Kakak kelas yang nyeletuk tadipun jadi mati kutu dan pasrah
saja.
Setelah pembagian tugas, ehem.. hukuman maksudnya, kamipun bubar dan
berangkat ke spot masing-masing. Karena aku masih kelas 10, aku diberi hukuman yang
paling ringan versi Bu Tuti : membersihkan wc. Hariku memang lagi sial. Dengan
langkah gontai aku berjalan ke sarang nyamuk, lalat, kecoa dan tikus itu.
WC sekolah sangat kecil, tapi cukup besar buat dijadikan rumah kecoa. Saat
masuk saja seekor tikus kencing dihadapanku. Tanpa rasa malu dan segan dia berlalu
saja melewatiku kembali mengorek-ngorek tong sampah yang ada disudut wc. Melihat
itu aku jadi ingin balas dendam atas ketidaksopanannya. Aku akan mulai membersihkan
wc ini dari tong sampah itu. Aku bawa keluar dan aku buang di tempat pembuangan.
Welcome to the new house, rat! Ujarku dalam hati.
Lantai berlumut dan menjadi tempat menepel bermacam-macam noda itu aku
sikat sampai akhirnya kembali ke warna normal. Kemudian aku pel lantai itu
menggunakan pewangi. Setelah semua beres, sepertinya malah aku yang perlu mandi.
Aku keluar dari wc dengan perasaan puas dan capek luar biasa. Bel habisnya 1 jam
pelajaran berbunyi. Berarti aku sudah ketinggalan. Dengan buru-buru aku ambil ember
bekas air pel, dan aku siramkan saja ke pohon yang tidak jauh dari situ. Saat aku
berbalik mau ke kelas, ada suara cowok memanggilku. Bukan panggilan mesra, tapi
marah. Dan hal itu membuatku kaget dan takut.
Hoy!!! Sini kamu!! Yang megang ember! teriaknya. Aku berbalik lagi, dan
melihat dari jarak agak jauh, ada seorang cowok beridiri disana. Sepertinya kakak kelas.
Dan dia basah kuyup?! Apa gara-gara... Eh! Sembarangan aja nyiram orang! Sini
kamu! aku berjalan pelan ke arahnya dengan wajah tertunduk.
Maaf kak...nggak sengaja... ujarku lirih. Kini aku tepat di depannya, tidak
berani menegakkan mukaku. Hanya melihat sepatunya yang juga basah.


Eh, liat sini! ia memegang kepalaku dan berhasil melihat wajahku yang
ketakutan. Akupun akhirnya bisa melihat wajahnya yang basah. Dan saat
itu, ada sesuatu yang berdesir di dadaku, dan angin sepoipun sepertinya
tengah membelai wajahku. Muka garangnya seketika hilang berganti
senyuman. Lalu dia geleng-geleng kepala. Ops! Aku ingat dia! Sepertinya
dia juga mengingatku!
Ya Tuhan... aku kira kesialanku berakhir di bioskop itu.
Komentarnya, lalu mundur selangkah, dengan mata terus menatap ke
arahku.
Aku jadi salah tingkah, dan jadi teringat kembali kejadian minggu
lalu. Saat aku ke bioskop dengan sepupuku, aku duduk di seat yang salah.
Dan ternyata seat itu milik, em, aku baca dulu name tag nya, Ka Ozi. Aku
malah ngotot dan membuat keributan kecil hingga akhirnya mbak-mbak
penjaganya datang dan ternyata seat aku ada disebelahnya. Dan itu
belum berakhir. Aku malah salah makan popcorn. Pop corn kak Ozi yang
aku lahap, sedangkan dia hanya bisa menatapku dengan rasa tidak
percaya. Aku cuek saja waktu itu karena merasa itu popcornku. Dan...
ternyata dia kakak kelasku.
Aku lihat lagi kak Ozi yang masih berdiri di depanku. Mukanya
tidak menyeramkan lagi. Tapi pastinya mukaku yang sudah berubah
seperti kepiting rebus. Maaf kak. Aku nggak tau kalau ada orang disana.
Dia tersenyum! Tuhan... indahnya ciptaanmu yang satu ini. Dagdigdug
jantungku menunggu reaksinya.
Kamu harus tanggungjawab! Jangan Cuma minta maaf aja.
Jawabnya datar. Glek! Aku harus gimana dong?
Ia kakaku mau tanggungjawab. Aku harus gimana? ujarku
pasrah. Aku pasang wajah menyesalku setotalnya. Dia diam sejenak. Dan
itu membuatku makin tidak tahan untuk tidak melihat wajahnya.
Ternyata kegantengannya tidak terhapus oleh air pel yang kusiram.
HP kamu mana? aku mengeluarkan HPku dan memberikan
padanya karena ia mengulur tangannya. Beberapa detik ia mengetikkan
sesuatu di Hpku, dan kemudian ia kembalikan. Nih, hp kamu. Kalau
kamu memang mau tanggungjawab, nanti siang kita makan di luar
bareng! Em, berdua! Nomor kamu udah aku simpan, kok! dia berlalu
dengan cueknya sedangkan aku masih melongo di tempat, berusaha
mencerna kata-katanya.
Haaaahhh? Aku bayar tanggungjawabku dengan sebuah kencan?(ea)