Anda di halaman 1dari 48

LONG CASE

NEKROSIS CRURIS SINISTRA

















Oleh:
R. Ifan Arief Fahrurozi
030.10.226

Pembimbing:
Dr. Jorianto J Ning, Sp.OT


KEPANITERAAN KLINIK BEDAH
RUMAH SAKIT OTORITA BATAM
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 02 JUNI 09 AGUSTUS 2014



LEMBAR PERSETUJUAN LONG CASE

Long Case dibawah ini :

Judul : Nekrosis Cruris Sinistra

Penyusun : R. Ifan Arief Fahrurozi, S.Ked

NIM : 030.10.226

Universitas : Fakultas Kedokteran Trisakti

Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat menyelesaikan
kepaniteraan klinik Ilmu Bedah Rumah Sakit Otorita Batam.



Batam, Agusuts 2014



dr. Jorianto J Ning, Sp.OT R. Ifan Arief Fahrurozi, S.Ked


BAB I
PENDAHULUAN

Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh. Amputasi dapat
terjadi oleh berbagai sebab, seperti trauma, kelainan bawaan, infeksi, keganasan, gangguan
vaskuler dengan atau tanpa diabetes mellitus. Tipe amputasi berdasarkan tingkatan dibagi
menjadi partial foot, syme, transtibial (below knee), knee disarticulation (through knee), hip
disarticulation), transcondylar/supracondylar, transfemoral (above knee) transpelvic
(hemipelvectomy), dan translumbar ( hemicorporectomy).
Prevalensi dan insiden pasti amputasi tidak diketahui. Di United States, sekitar 43.000
amputasi baru terjadi setiap tahun. Kebanyakan terjadi karena penyakit vaskuler, dengan 90%
melibatkan kaki. Sekitar 5% merupakan amputasi partial foot dan ankle, 50% merupakan below
knee amputation, dan 35 % merupakan above knee, dan 7-10% merupakan amputasi pada hip.
Amputasi merupakan hasil dari atau diakibatkan oleh gangguan aliran darah baik akut
maupun kronik. Pada keaadaan akut organ sebagian atau keseluruhan dipotong dan jaringan mati
diangkat.. Pada proses penyakit yang kronik sirkulasi terputus, aliran vena sedikit , protein bocor
ke dalam ruang interstisium dan edema berkembang, edema meningkatkan resiko injuri dan lebih
jauh menurunkan sirkulasi menyebabkan terjadinya nekrosis sehingga diharuskan dilakukannya
amputasi.






1

BAB II
LAPORAN KASUS

STATUS ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN TRISAKTI
SMF BEDAH
RUMAH SAKIT OTORITA BATAM
Nama Mahasiswa : R. Ifan Arief Fahrurozi
NIM : 030.10.226
Dokter Pembimbing : Dr. Jorianto J Ning, Sp.OT

IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : M. Arief Jenis kelamin : Laki-laki
Umur : 43 Tahun Suku bangsa : Jawa
Status perkawinan : Menikah Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta Pendidikan : SMA
Alamat : Selat Nenek RT 4 RW 3
Tanggal masuk RS : 01 Juli 2014

A. ANAMNESIS
Diambil secara autoanamnesis dan alloanamnesis melalui istri pasien pada tanggal 02 Juni 2014
pukul 06.45 WIB
Keluhan Utama : Kaki kiri tidak bisa digerakkan dan kebas sejak 3 bulan SMRS.
Keluhan Tambahan : Memar dan luka yang tidak sembuh.
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengalami kecelakaan antara motor dengan motor 3 bulan SMRS. Saat kejadian
pasien terseret dan terbentur ke jalan ke arah kiri. Kaki kiri bagian bawah terluka dan nyeri saat
digerakkan. Pasien masih ingat dengan jelas proses terjadinya kecelakaan dan riwayat pingsan
disangkal. Setelah kecelakaan, pasien dibawa istrinya ke tukang pijat lalu dipasang gips. Setelah
2

1 bulan, tiba-tiba keluar cairan nanah dan kulit yang mengalami luka melepuh yang semakin
lama semakin membesar hingga tulang kaki kiri mulai terlihat secara kasat mata.
Pasien kemudian pergi ke puskesmas untuk melepas gips dan merawat luka serta nanah
pada kaki tetapi luka tidak mengalami perbaikan, kemudian kaki menjadi kebas dan tidak bisa
digerakkan. Dan pasien dirujuk ke IGD RSBP. Riwayat pengobatan, pasien mengaku
menggunakan obat yang diberikan dari puskesmas namun pasien tidak ingat dan tidak membawa
obat yang digunakan.

Penyakit Dahulu (Tahun)
( - ) Cacar ( - ) Malaria ( - ) DBD
( - ) Cacar air ( - ) Disentri ( - ) Tifus Abdominalis
( - ) Difteri ( - ) Hepatitis ( - ) Penyakit Prostat
( - ) Batuk Rejan ( - ) Wasir ( - ) Campak
( - ) Skirofula ( - ) Diabetes ( - ) Burut (Hernia)
( - ) Influenza ( - ) Sifilis ( - ) Asma
( - ) Tonsilitis ( - ) Gonore ( - ) Tumor
( - ) Khorea ( - ) Hipertensi ( - ) Penyakit Pembuluh
( - ) Demam Rematik ( - ) Ulkus Ventrikuli ( - ) Perdarahan Otak
( - ) Pneumonia ( - ) Ulkus Duodeni ( - ) Psikosis
( - ) Pleuritis ( - ) Gastritis ( - ) Neurosis
( - ) Tuberkulosis ( - ) Batu Empedu ( - ) Batu Ginjal / Saluran Kemih
Lain-lain: ( - ) Kecelakaan ( - ) Penyakit Sendi ( - ) Penyakit Tulang

Riwayat Keluarga : Tidak ada
Adakah Kerabat Yang Menderita:
Penyakit Ya Tidak Hubungan
Alergi
Asma
Tuberkulosis
Arthritis
Rematisme
3

Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
( - ) Bisul ( - ) Rambut ( - ) Keringat malam
( - ) Kuku ( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Sianosis
( + ) Lain-lain : Luka tidak sembuh ( - ) Petechiae
Kepala
( - ) Trauma ( - ) Sakit kepala ( - ) Demam
( - ) Sinkop ( - ) Nyeri pada sinus
Mata
( - ) Nyeri ( - ) Radang
( - ) Sekret ( - ) Gangguan penglihatan
( - ) Kuning / Ikterus ( - ) Ketajaman penglihatan
Telinga
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan pendengaran
( - ) Sekret ( - ) Kehilangan pendengaran
( - ) Tinitus
Hidung
( - ) Trauma ( - ) Gejala penyumbatan
( - ) Nyeri ( - ) Gangguan penciuman
( - ) Sekret ( - ) Pilek
( - ) Epistaksis
Mulut
( - ) Bibir kering ( - ) Lidah kotor
( - ) Gusi sariawan ( - ) Gangguan pengecap
( - ) Selaput ( - ) Stomatitis
4

Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan ( - ) Perubahan suara
Leher
( - ) Benjolan ( - ) Nyeri leher
Dada (Jantung/Paru)
( - ) Nyeri dada ( - ) Sesak nafas
( - ) Berdebar ( - ) Batuk darah
( - ) Ortopnoe ( - ) Batuk
Abdomen (Lambung/Usus)
( - ) Rasa Kembung ( - ) Wasir
( - ) Mual ( - ) Mencret
( - ) Muntah ( - ) Tinja darah
( - ) Muntah darah ( - ) Tinja berwarna dempul
( - ) Sukar menelan ( - ) Tinja berwarna hitam
( - ) Nyeri ulu hati ( - ) Benjolan
( - ) Perut membesar ( - ) Konstipasi
Saluran Kemih / Alat kelamin
( - ) Disuria ( - ) Kencing nanah
( - ) Stranguria ( - ) Kolik
( - ) Poliuria ( - ) Oliguria
( - ) Polakisuria ( - ) Anuria
( - ) Hematuria ( - ) Retensi urin
( - ) Kencing batu ( - ) Kencing menetes
( - ) Ngompol (tidak disadari) ( - ) Penyakit Prostat
Saraf dan Otot
( + ) Anestesi ( - ) Sukar mengingat
( - ) Parestesi ( - ) Ataksia
( - ) Otot lemah ( - ) Hipo / hiperesthesi
( - ) Kejang ( - ) Pingsan
( - ) Afasia ( - ) Kedutan
( - ) Amnesia ( - ) Pusing (vertigo)
5

( + ) Lain-lain : Monoplegia ( + ) Gangguan bicara (Disartri)
Ekstremitas
( + ) Bengkak ( - ) Deformitas
( + ) Nyeri sendi Genu Sinistra ( - ) Sianosis

Berat Badan
Berat badan rata-rata (Kg) : 50 kg
Berat tertinggi (Kg) : Tidak Ingat
Berat badan sekarang (Kg) : 50 kg

B. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 02 Juni 2014 pukul 07.00 WIB
Pemeriksaan Umum
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Tinggi Badan : 159 cm
Berat Badan : 50 kg
BMI : 19,8 (Normal)
Sianosis : -
Edema umum : -
Cara berjalan : Pincang
Mobilitas ( aktif / pasif ) : Aktif
Umur menurut taksiran : Sesuai

Tanda Vital
Tekanan Darah : 100 / 60 mmHg
Nadi : 80 x/menit, regular, isi kuat, ekual
Pernapasan : 16x /menit, simetris
Suhu : 36,7 C


6

Aspek Kejiwaan
Tingkah Laku : Tenang
Alam Perasaan : Biasa
Proses Pikir : Wajar

Kulit
Warna : Kuning langsat Pigmentasi : Merata
Effloresensi : - Petekie : Tidak Ada
Jaringan Parut : + Ikterus : Tidak ada
Pertumbuhan rambut : Merata Lembab/Kering : Kering
Suhu Raba : Hangat Pembuluh darah : Tidak melebar
Keringat : Tidak ada Turgor : Baik
Lapisan Lemak : Cukup Lain-lain : Tidak ada
Oedem : Pedis Sinistra

Kelenjar Getah Bening
Retro Aurikula : tidak teraba membesar
Pre Aurikula : tidak teraba membesar
Submandibula : tidak teraba membesar
Submental : tidak teraba membesar
Anterior Cervical : tidak teraba membesar
Posterior Cervical : tidak teraba membesar
Supraklavikula : tidak teraba membesar
Lipat paha : tidak teraba membesar
Ketiak : tidak teraba membesar

Kepala
Ekspresi wajah : Tenang Simetri muka : Simetris
Rambut : Hitam merata Pembuluh darah temporal : Teraba pulsasi


7

Mata
Exophthalamus : tidak ada Enopthalamus : tidak ada
Kelopak : oedem (-) Lensa : jernih
Konjungtiva : anemis (-) Visus : 6/6
Sklera : ikterik (-) Gerakan Mata : Segala arah
Lapangan penglihatan : Normal Tekanan bola mata : normal/palpasi
Nistagmus : tidak ada

Telinga
Tuli : -/- Selaput pendengaran : intak
Lubang : lapang Penyumbatan : -/-
Serumen : +/+ Perdarahan : -/-
Cairan : -/-

Mulut
Bibir : kering Tonsil : T1 T1 tenang
Langit-langit : tidak ada tonjolan Bau pernapasan : tidak ada
Gigi geligi : OH baik Trismus : tidak ada
Faring : tidak hiperemis Selaput lendir : tidak ada
Lidah : licin, atrofi papil (-)

Leher
Tekanan Vena Jugularis (JVP) : 5 + 1 cmH
2
0
Kelenjar Tiroid : tidak tampak membesar
Kelenjar Limfe kanan : tidak tampak membesar

Dada
Bentuk : datar, simetris
Pembuluh darah : tidak tampak
Buah dada : simetris

8

Paru Paru
Pemeriksaan Hasil
Inspeksi Kiri Simetris saat statis dan dinamis
Kanan Simetris saat statis dan dinamis
Palpasi Kiri - Tidak ada benjolan
- Fremitus +
Kanan - Tidak ada benjolan
- Fremitus +
Perkusi Kiri Sonor di seluruh lapang paru
Kanan Sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi Kiri - Suara vesikuler
-Wheezing (-), Ronki ( -)
Kanan - Suara vesikuler
-Wheezing (-), Ronki ( -)

Jantung
Inspeksi : Tidak tampak pulsasi iktus cordis
Palpasi : Teraba iktus cordis pada sela iga V, 1 cm medial linea midklavikula kiri,
Perkusi :
Batas kanan : sela iga V linea parasternalis kanan.
Batas kiri : sela iga V, 1cm sebelah medial linea midklavikula kiri.
Batas atas : sela iga II linea parasternal kiri.
Auskultasi: Bunyi jantung I-II murni reguler, Gallop (-), Murmur (-).

Pembuluh Darah
Arteri Temporalis : teraba pulsasi
Arteri Karotis : teraba pulsasi
Arteri Brakhialis : teraba pulsasi
Arteri Radialis : teraba pulsasi
Arteri Femoralis : teraba pulsasi
Arteri Poplitea : + / -
9

Arteri Tibialis Posterior : + / -
Arteri Dorsalis Pedis : + / -

Perut
Inspeksi : Datar, Rata, Venektasi ( - ), Smilling Umbilikus ( - ), Hematoma ( - ), Tidak
tampak efloresensi yang bermakna.
Palpasi : Dinding perut : Supel, Distensi ( - ), rigid ( - ), nyeri tekan ( - ), nyeri lepas ( - )
Hati : Teraba, Nyeri tekan ( - ), Benjolan ( - ), Tepi tumpul, Permukaan rata
Limpa : Tidak teraba
Ginjal : Ballotement ( - ) Nyeri Ketuk CVA ( - )
Perkusi : Timpani seluruh lapang abdomen, shifting dullness ( - )
Auskultasi : Bising usus ( + ) frekuensi 2x/menit

Anggota Gerak
Lengan Kanan Kiri
Otot
Tonus : normotonus normotonus
Massa : eutrofi eutrofi
Sendi : normal normal
Gerakan : aktif aktif
Kekuatan : +5 +5
Oedem : : tidak ada tidak ada
Lain-lain : Palmar eritema (-), ptechie (-), clubbing finger (-), kontraktur (-)

Tungkai dan Kaki Kanan Kiri
Luka : tidak ada Luka terbuka dengan nekrosis
Varises : tidak ada tidak ada

Otot
Tonus : normotonus normotonus regio femur
Massa : eutrofi eutrofi regio femur, atrofi regio cruris
10

Sendi : normal Nyeri gerak sendi genu
Gerakan : aktif aktif sendi coxae, pasif sendi genu
Kekuatan : 5555 5000
Oedem : : tidak ada Diatas lutut
Lain-lain : - Nekrosis cruris

Status Lokalis

Lokasi : Cruris Sinistra Pedis Sinistra
Look : Tampak perban dan bidai masih terpasang dan menutupi luka, Sikatriks (+), Fistula (-),
Benjolan (-), Oedema (+), Deformitas (-), Hematoma (-), Warna kulit kehitaman
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi (-), Tonus (-), Benjolan (-),
Anestesia (+)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (-), Kaku sendi (+), Gerak aktif (-), Gerak pasif (-),
ROM tidak dapat dinilai
Refleks








Pemeriksaan Kanan Kiri
Refleks Tendon Positif Positif
Bisep Positif Positif
Trisep Positif Positif
Patela Positif Negatif
Achiles Positif Negatif
Kremaster Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Refleks Patologis Negatif Negatif
11

LABORATORIUM
01 Juli 2014
Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Keterangan
Pemeriksaan Darah
Hemoglobin 11,5 g/dL 11 16,5 Normal
Hematokrit 34,2 % 35 50 Normal
Laju Endap Darah (LED) 96 mm/jam 0 10 Meningkat
Eritrosit 4,5 juta/uL 3,8 5,8 Normal
MCV 76,0 fL 80 97 Normal
MCH 25,6 pg 26,5 33,5 Normal
MCHC 33,6 g/dL 35,3 35 Normal
RDW-CV 14 % 10 15 Normal
Leukosit 7410/uL 4.000 11.000 Normal
Hitung Jenis
Basofil 0,3 % 0 1 Normal
Eosinofil 3,2 % 0 5 Normal
Netrofil 53 % 46 75 Normal
Limfosit 37,7 % 17 48 Normal
Monosit 5,8 % 4 10 Normal
Trombosit 267.000/uL 15 45 x 10
4
Normal
PDW 16,2 fL 10 18 Normal
MPV 12,1 fL 6,5 11 Meningkat
Clotting Time 6 menit 6 14 Normal
Bleeding Time 1 menit 1 6 Normal








12

PEMERIKSAAN PENUNJANG
X-Ray Cruris Sinistra
01 Juli 2014


RESUME
Seorang laki laki bernama M Arief Pasien mengalami kecelakaan antara motor dengan motor 3
bulan SMRS. Saat kejadian pasien terseret dan terbentur ke jalan ke arah kiri. Kaki kiri bagian
bawah terluka dan nyeri saat digerakkan. Pasien masih ingat dengan jelas proses terjadinya
kecelakaan dan riwayat pingsan disangkal. Setelah kecelakaan, pasien dibawa istrinya ke tukang
pijat lalu dipasang gips. Setelah 1 bulan, tiba-tiba keluar cairan nanah dan kulit yang mengalami
luka melepuh dan luka tidak mengalami perbaikan, kemudian kaki menjadi kebas dan tidak bisa
digerakkan. Pasien segera dirujuk ke IGD RSBP. Riwayat pengobatan, pasien mengaku
menggunakan obat yang diberikan dari puskesmas namun pasien tidak ingat dan tidak membawa
obat yang digunakan. Pada pemeriksaan fisik rata rata dalam batas normal, namun didapatkan
tekanan darah 100 / 60 mmHg, nekrosis dan luka tidak sembuh pada cruris sinistra, oedema pada
bagian atas lutut kiri, serta kaki kiri tidak dapat digerakkan dengan nilai motorik 5/0/0/0. Pada
pemeriksaan status lokalis yaitu cruris sinistra didapatkan tampak perban dan bidai masih
terpasang dan menutupi luka, oedema regio supra genu sinistra, kulit kehitaman, suhu raba
hangat, anesthesia (+), kaki kiri tidak dapat digerakkan, kaku sendi (+), Gerak aktif (-), Gerak
13

pasif (-), ROM tidak dapat dinilai. Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan LED
meningkat (96 mm/jam) dan Mean Platelet Volume (MPV) meningkat (12,1 fL) serta dilakukan
pemeriksaan radiologi yaitu x-ray cruris sinistra dan didapatkan kesan terdapat fraktur obliq
tertutup 1/3 proksimal os tibia sinistra.

DIAGNOSIS KERJA
1. Nekrosis Cruris Sinistra
Dasar Diagnosis :
a. Anamnesis
i. Keluar cairan nanah dari kulit yang mengalami luka
ii. Kulit melepuh yang semakin lama semakin membesar hingga tulang kaki
kiri mulai terlihat secara kasat mata.
iii. Perawatan luka serta nanah pada kaki tidak mengalami perbaikan
iv. Kaki menjadi kebas dan tidak bisa digerakkan setelah 3 bulan luka tidak
mengalami perbaikan.
b. Pemeriksaan Fisik
i. Atrofi otot regio cruris sinistra
ii. Tidak ada gerak aktif sendi genu sinistra
iii. Kekuatan motorik tungkai bawah kiri menghilang
iv. Bengkak pada bagian atas lutut kiri
v. Warna kulit tungkai bawah kehitaman
vi. Hilangnya sensasi atau anesthesia tungkai bawah kiri
c. Pemeriksaan Penunjang
i. Pemeriksaan laboratorium darah didapatkan :
1. Laju endap darah (LED) meningkat dan cenderung tinggi
2. Peningkatan Mean Platelet Volume (MPV)
2. Fraktur Obliq Tertutup 1/3 Proksimal Os Tibia Sinistra
Dasar Diagnosis :
a. Pemeriksaan Penunjang
i. Pemeriksaan Radiologi X-Ray Cruris Sinistra didapatkan gambaran
fraktur obliq tertutup 1/3 proksimal os tibia sinistra.
14

TATALAKSANA
Non medikamentosa
o Rawat Inap
o Balut dan Bidai Luka
o Diet bebas
Medikamentosa:
o Terapi IGD :
IVFD Dextrose 5% + Keren 1 ampul + Noralges 1 ampul / 8 jam
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Konsultasi dr Jorianto untuk rencana amputasi
o Terapi Pre Operasi :
IVFD Dextrose 5% + Keren 1 ampul + Noralges 1 ampul / 8 jam
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Konsultasi dokter penyakit dalam untuk rencana amputasi
Konsultasi dokter anestesi untuk rencana amputasi
o Terapi Post Operasi :
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
IVFD Norages 1 ampul + Keren 1 ampul dalam Ringer Laktat / 8 jam
Injeksi Kalnex 500 mg 3 x 1 ampul

PROGNOSIS
Ad vitam : Dubia Ad Bonam
Ad functionam : Dubia Ad Malam
Ad sanationam : Dubia Ad Bonam


15

LAPORAN PEMBEDAHAN
Tanggal 05 Juli 2014 Nomor MR 35-18-91
Nama Pasien M Arief Jenis kelamin Laki-laki
Umur 42 tahun Ahli anestesi Dr. Satriyo
Bagian Orthopedi As. Anestesi Susi
Operator Dr. Jorianto J Ning Teknik Anestesi Anestesi Regional
Asisten operasi Yanti / Melissa ASA BPJS
Instrumen Erika
D/ prabedah Nekrosis Cruris Sinistra
D/ pascabedah sda
Nama Pembedahan Above knee amputasi
Sifat Pembedahan Elektif OP theatre II
Mulai 10.10 WIB Selesai 11.10 WIB
Lama Pembedahan 60 Menit
Uraian Pembedahan :
Pasien posisi supine dalam anestesi regional
A dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya
Dibuat design fisthmouth pada daerah atas lutut kiri
Dilakukan amputasi atas lutut femur kiri
Dilakukan osteomyodesis
Perdarahan dirawat, luka ditutup
Operasi selesai

Instruksi / Terapi Pasca Pembedahan
Pasien boleh diet bebas setelah sadar penuh
Obat :
o Ceftizoxime 2 x 1 gram
o Drip Norages 1 ampul + Keren 1 ampul dalam Ringer Laktat / 8 jam
o Kalnex 500 mg 3 x 1 ampul
Kontrol darah lengkap pasca operasi, tranfusi bila Hb < 10 gr%
16

DOKUMENTASI PEMBEDAHAN









FOLLOW UP
01 Juli 2014
S Kaki kiri tidak bisa digerakkan
Rasa kebas pada kaki kiri
Luka tidak sembuh pada kaki kiri
Nanah keluar dari luka pada kaki kiri
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 80x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 16x/menit, simetris
TD : 100/60 mmHg
Suhu : 36,7
o
C
17

Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Cruris Sinistra)
Look : Tampak perban dan bidai masih terpasang dan menutupi
luka, Sikatriks (+), Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+),
Deformitas (-), Hematoma (-), Warna kulit kehitaman
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-), Anestesia (+)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (-), Kaku sendi (+),
Gerak aktif (-), Gerak pasif (-), ROM tidak dapat dinilai
A Nekrosis Cruris Sinistra
P IVFD Dextrose 5% + Keren 1 ampul + Noralges 1 ampul / 8 jam
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
X-Ray Cruris Sinistra : terdapat gambaran fraktur obliq tertutup
1/3 proksimal os tibia sinistra.

EKG : Ritme sinus, normokardi, LAD, RBBB ( - ), LBBB ( - ),
ST Depresi ( - ), T Inverted ( - ), LVH ( - ), RVH ( - ).
18





Pemeriksaan Laboratorium
19


Konsultasi dr Jorianto untuk rencana amputasi
Perawatan luka

02 Juli 2014
S Kaki kiri tidak bisa digerakkan
Rasa kebas pada kaki kiri
Luka tidak sembuh pada kaki kiri
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 84x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 110/70 mmHg
Suhu : 37
o
C

20

Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Cruris Sinistra)
Look : Tampak perban dan bidai masih terpasang dan menutupi
luka, Sikatriks (+), Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+),
Deformitas (-), Hematoma (-), Warna kulit kehitaman
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-), Anestesia (+)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (-), Kaku sendi (+),
Gerak aktif (-), Gerak pasif (-), ROM tidak dapat dinilai
A Nekrosis Cruris Sinistra
P IVFD Dextrose 5% + Keren 1 ampul + Noralges 1 ampul / 8 jam
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Konsultasi dokter penyakit dalam dan anestesi
Cek laboratorium darah
Perawatan Luka

03 Juli 2014
S Kaki kiri tidak bisa digerakkan
Rasa kebas pada kaki kiri
Luka tidak sembuh pada kaki kiri
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 84x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 120/70 mmHg
Suhu : 36,8
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
21

isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Cruris Sinistra)
Look : Tampak perban dan bidai masih terpasang dan menutupi
luka, Sikatriks (+), Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+),
Deformitas (-), Hematoma (-), Warna kulit kehitaman
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-), Anestesia (+)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (-), Kaku sendi (+),
Gerak aktif (-), Gerak pasif (-), ROM tidak dapat dinilai
A Nekrosis Cruris Sinistra
P IVFD Dextrose 5% + Keren 1 ampul + Noralges 1 ampul / 8 jam
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Acc Rencana Amputasi dari dr.Wahyu dan dr.Satriyo
Hasil Laboratorium

Perawatan Luka


22

04 Juli 2014
S Kaki kiri tidak bisa digerakkan
Rasa kebas pada kaki kiri
Luka tidak sembuh pada kaki kiri
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 84x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 110/80 mmHg
Suhu : 36,5
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Cruris Sinistra)
Look : Tampak perban dan bidai masih terpasang dan menutupi
luka, Sikatriks (+), Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+),
Deformitas (-), Hematoma (-), Warna kulit kehitaman
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-), Anestesia (+)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (-), Kaku sendi (+),
Gerak aktif (-), Gerak pasif (-), ROM tidak dapat dinilai
A Nekrosis Cruris Sinistra
P IVFD Dextrose 5% + Keren 1 ampul + Noralges 1 ampul / 8 jam
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Perawatan Luka
Persiapan Operasi Amputasi




23

05 Juli 2014
S Kaki kiri tidak bisa digerakkan
Rasa kebas pada kaki kiri
Luka tidak sembuh pada kaki kiri
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 80x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 16x/menit, simetris
TD : 110/80 mmHg
Suhu : 36,8
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Cruris Sinistra)
Look : Tampak perban dan bidai masih terpasang dan menutupi
luka, Sikatriks (+), Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+),
Deformitas (-), Hematoma (-), Warna kulit kehitaman
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-), Anestesia (+)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (-), Kaku sendi (+),
Gerak aktif (-), Gerak pasif (-), ROM tidak dapat dinilai
A Nekrosis Cruris Sinistra
Anemia Mikrositik Hipokrom
P Pelaksanaan Operasi Amputasi
Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Norages 1 ampul + Keren 1 ampul dalam Ringer Laktat / 8 jam
Injeksi Kalnex 500 mg 3 x 1 ampul
Transfusi PRC 500cc
Perawatan Luka Jahit
Pemeriksaan Laboratorium Darah
24



06 Juli 2014
S Nyeri pasca operasi pada kaki kiri
Paha kiri bengkak
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 84x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 120/80 mmHg
Suhu : 37
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Femur Sinistra)
Look : Tampak perban menutupi luka operasi, Sikatriks (-),
25

Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+), Deformitas (-), Hematoma
(-), Luka masih basah
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (+), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (+), Kaku sendi
(+), Gerak aktif (+), Gerak pasif (+), ROM tidak dapat dinilai
A Nekrosis Cruris Sinistra
Anemia Mikrositik Hipokrom
P Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Norages 1 ampul + Keren 1 ampul dalam Ringer Laktat / 8 jam
Injeksi Kalnex 500 mg 3 x 1 ampul
Perawatan Luka Jahit

07 Juli 2014
S Nyeri pasca operasi pada kaki kiri
Paha kiri bengkak
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 88x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 120/80 mmHg
Suhu : 36,5
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis + / + , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Femur Sinistra)
Look : Tampak perban menutupi luka operasi, Sikatriks (-),
Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+), Deformitas (-), Hematoma
(-), Luka masih basah
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (+), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-)
26

Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (+), Kaku sendi
(+), Gerak aktif (+), Gerak pasif (+), ROM tidak dapat dinilai
A Nekrosis Cruris Sinistra
Anemia Mikrositik Hipokrom
P Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Drip Keren 1 ampul dalam Ringer Laktat / 8 jam
Injeksi Kalnex 500 mg 3 x 1 ampul
Tranfusi PRC 500cc
Cek Laboratorium Darah
Perawatan Luka Jahit

08 Juli 2014
S Nyeri pasca operasi pada kaki kiri
Paha kiri bengkak
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 88x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 120/80 mmHg
Suhu : 36,5
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Femur Sinistra)
Look : Tampak perban menutupi luka operasi, Sikatriks (-),
Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+), Deformitas (-), Hematoma
(-), Sebagian luka mulai kering
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (+), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-)


27

Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (+), Kaku sendi (-),
Gerak aktif (+), Gerak pasif (+), ROM terbatas fleksi panggul
30
o

A Nekrosis Cruris Sinistra
P Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Drip Keren 1 ampul dalam Ringer Laktat / 8 jam
Injeksi Kalnex 500 mg 3 x 1 ampul
Perawatan Luka Jahit
Hasil Laboratorium Darah


09 Juli 2014
S Nyeri pasca operasi pada kaki kiri
Paha kiri bengkak
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 88x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 110/80 mmHg
Suhu : 36,5
o
C
28

Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 3x/menit
Status Lokalis (Femur Sinistra)
Look : Tampak perban menutupi luka operasi, Sikatriks (-),
Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+), Deformitas (-), Hematoma
(-), Sebagian luka mulai kering
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-)
Move : Tidak dapat digerakkan, Nyeri gerak (+), Kaku sendi (-),
Gerak aktif (+), Gerak pasif (+), ROM terbatas fleksi panggul
30
o

A Nekrosis Cruris Sinistra
P Injeksi Ceftizoxime 2 x 1 gram
Drip Keren 1 ampul dalam Ringer Laktat / 8 jam
Perawatan Luka Jahit

10 Juli 2014
S Paha kiri bengkak
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 84x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 110/70 mmHg
Suhu : 36,8
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
29

frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Femur Sinistra)
Look : Tampak perban menutupi luka operasi, Sikatriks (-),
Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (+), Deformitas (-), Hematoma
(-), Sebagian luka mulai kering
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-)
Move : Nyeri gerak (-), Kaku sendi (-), Gerak aktif (+), Gerak
pasif (+), ROM terbatas fleksi panggul 45
o

A Nekrosis Cruris Sinistra
Weakened Muscle
P Infus dilepas
Pemberian obat secara oral : Celocid 2 x 500 mg, Imunvit 1 x
250 mg, Ketesse 3 x 25 mg
Konsultasi fisioterapi
Latihan jalan dengan tongkat
Perawatan Luka Jahit

11 Juli 2014
S Jalan masih agak kaku
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 84x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 110/70 mmHg
Suhu : 36,5
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 2x/menit
Status Lokalis (Femur Sinistra)
Look : Tampak perban menutupi luka operasi, Sikatriks (-),
30

Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (-), Deformitas (-), Hematoma
(-), Luka sudah kering
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-)
Move : Nyeri gerak (-), Kaku sendi (-), Gerak aktif (+), Gerak
pasif (+), ROM luas dengan sudut 60
o

A Nekrosis Cruris Sinistra
Weakened Muscle
P Pemberian obat secara oral : Celocid 2 x 500 mg, Imunvit 1 x
250 mg, Ketesse 3 x 25 mg
Fisioterapi
Latihan jalan dengan tongkat
Perawatan Luka Jahit

12 Juli 2014
S Jalan masih agak kaku
O KU : Compos mentis, tampak sakit sedang
TV :
HR : 84x/menit, regular, isi kuat, ekual
RR : 20x/menit, simetris
TD : 110/70 mmHg
Suhu : 36,5
o
C
Status Generalis
Kepala : normosefali, rambut hitam merata
Mata : konjungtiva anemis - / - , sklera ikterik - / - , pupil bulat
isokor, reflex cahaya langsung dan tidak langsung + / +
Thorax : pergerakan dada simetris, suara nafas vesicular, ronkhi
( - ), wheezing ( - ), BJ I II regular, murmur ( - ), gallop ( - )
Abdomen : datar, supel, nyeri tekan ( - ), bising usus ( + )
frekuensi 3x/menit

31

Status Lokalis (Femur Sinistra)

Look : Tampak perban menutupi luka operasi, Sikatriks (-),
Fistula (-), Benjolan (-), Oedema (-), Deformitas (-), Hematoma
(-), Luka sudah kering
Feel : Suhu raba hangat, Fluktuasi (-), Nyeri tekan (-), Krepitasi
(-), Tonus (-), Benjolan (-)
Move : Nyeri gerak (-), Kaku sendi (-), Gerak aktif (+), Gerak
pasif (+), ROM luas dengan sudut 60
o

A Nekrosis Cruris Sinistra
Weakened Muscle
P Pemberian obat secara oral : Celocid 2 x 500 mg, Imunvit 1 x
250 mg, Ketesse 3 x 25 mg
Fisioterapi
Latihan jalan dengan tongkat
Pasien diperbolehkan rawat jalan
Kontrol jahitan dan luka di klinik 3 hari setelah keluar RS






32

BAB III
ANALISIS KASUS
Seorang laki laki bernama M Arief Pasien mengalami kecelakaan antara motor dengan
motor 3 bulan SMRS. Sesuai dengan kondisi yang terjadi pada pasien, kecelakaan merupakan
faktor risiko terjadinya trauma pada bagian tubuh baik yang mengalami benturan secara langsung
maupun tidak langsung. Trauma yang akan terjadi paling sering mengarah terjadinya suatu
fraktur. Sesuai berbagai sumber bacaan yang ada, etiologi paling terbanyak terjadinya fraktur
adalah trauma. Pada trauma langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya
trauma dan cenderung patah tulang demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah
melintang atau miring, namun apabila benturan bersifat lemah dan tidak hebat maka dapat
mengarah ke fraktur tertutup. Trauma tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang
jauh dari tempat terjadinya trauma. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam
hantaran vektor benturan. Contoh patah tulang karena kekerasan tidak langsung adalah bila
seorang jatuh dari ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain tulang tumit,
terjadi pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula patah tulang paha dan tulang
belakang.
Saat kejadian pasien terseret dan terbentur ke jalan ke arah kiri. Kaki kiri bagian bawah
terluka dan nyeri saat digerakkan. Hal ini menunjukkan adanya trauma langsung pada
ekstremitas sebelah kiri dan kemungkinan fraktur lebih besar sesuai dengan gejala yang muncul
yaitu nyeri saat digerakkan. Nyeri gerak terjadi akibat adanya pergeseran fragmen tulang dan
jaringan serta pembuluh darah yang mengalami kerusakan. Rasa nyeri dihantarkan oleh
nosiseptor yang reseptor ujung saraf bebas yang ada di kulit, otot, persendian, viseral dan
vaskular. Nosiseptor-nosiseptor ini bertanggung jawab terhadap kehadiran stimulus noksius yang
berasal dari perubahan mekanikal tubuh dan segera memperbaiki kerusakan dengan rasa nyeri
sebagai tanda aktifnya nosiseptor. Rasa nyeri juga merupakan suatu respon fisiologis tubuh
terhadap suatu kerusakan jaringan yang dikenal dengan reaksi inflamasi yang bertujuan untuk
memperbaiki kerusakan jaringan.
Pasien masih ingat dengan jelas proses terjadinya kecelakaan dan riwayat pingsan disangkal.
Hal ini menunjukkan kemungkinan terjadinya trauma kepala dan cedera otak lebih kecil. Karena
apabila terjadi cedera kepala perlu diobservasi lebih ketat untuk mengetahui komplikasi yang
33

telah terjadi sehingga dapat dilakukan pencegahan dan terapi awal untuk mengatasi komplikasi
yang terjadi.
Setelah kecelakaan, pasien dibawa istrinya ke tukang pijat lalu dipasang gips. Setelah 1
bulan, tiba-tiba keluar cairan nanah dan kulit yang mengalami luka melepuh dan luka tidak
mengalami perbaikan, kemudian kaki menjadi kebas dan tidak bisa digerakkan. Pasien segera
dirujuk ke IGD RSBP.
Riwayat pengobatan, pasien mengaku menggunakan obat yang diberikan dari puskesmas
namun pasien tidak ingat dan tidak membawa obat yang digunakan.
Pada pemeriksaan fisik rata rata dalam batas normal, namun didapatkan tekanan darah 100
/ 60 mmHg, nekrosis dan luka tidak sembuh pada cruris sinistra, oedema pada bagian atas lutut
kiri, serta kaki kiri tidak dapat digerakkan dengan nilai motorik 5/0/0/0.
Pada pemeriksaan status lokalis yaitu cruris sinistra didapatkan tampak perban dan bidai
masih terpasang dan menutupi luka, oedema regio supra genu sinistra, kulit kehitaman, suhu raba
hangat, anesthesia (+), kaki kiri tidak dapat digerakkan, kaku sendi (+), Gerak aktif (-), Gerak
pasif (-), ROM tidak dapat dinilai.
Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan LED meningkat (96 mm/jam) dan Mean
Platelet Volume (MPV) meningkat (12,1 fL)
Pada pemeriksaan radiologi x-ray cruris sinistra didapatkan kesan terdapat fraktur obliq
tertutup 1/3 proksimal os tibia sinistra.


















34


BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
1. FRAKTUR
a. Definisi
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan ditentukan sesuai
jenis dan luasnya (Suddarth, 2002). Sedangkan menurut Linda Juall C dalam
buku Nursing Care Plans and Dokumentation menyebutkan Fraktur sebagai
rusaknya kontinuitas tulang disebabkan tekanan eksternal yang datang lebih
besar dari yang dapat diserap oleh tulang.
Fraktur Tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar (Soedarman, 2001). Pendapat lain
menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah fraktur bersih (karena kulit
masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi. (Handerson, M.A, 1992 dalam
Suddarth, 2002)
b. Klasifikasi
Proses terjadinya fraktur dapat sangat bervariasi, tetapi untuk alasan yang
praktis, dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
a. Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan)
a. Fraktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih
(karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan
keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak sekitarnya.
Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit
dan jaringan subkutan.
Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio
jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
35

Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak
yang nyata dan ancaman sindroma kompartement.
b. Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara
fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
b. Berdasarkan komplit atau ketidakkomplitan fraktur.
a. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang
tulang atau melalui kedua korteks tulang.
b. Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh
penampang tulang seperti: Hair Line Fraktur (garis fraktur hampir
tidak tampak sehingga tidak ada perubahan bentuk tulang). Buckle
atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan
kompresi tulang spongiosa di bawahnya. Green Stick Fraktur,
mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang
terjadi pada tulang panjang.
c. Berdasarkan bentuk garis dan hubungannya dengan mekanisme trauma
a. Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang
dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
b. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut
terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi
juga.
c. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral
yang disebabkan trauma rotasi.
d. Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi
yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
e. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan
atau traksi otot pada insersinya pada tulang.
36



d. Berdasarkan jumlah garis patah
a. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan
saling berhubungan.
b. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak berhubungan.
c. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi
tidak pada tulang yang sama.
e. Berdasarkan posisi fraktur
a. 1/3 proksimal
b. 1/3 medial
c. 1/3 distal

c. Manifestasi Klinis
Nyeri, Deformitas, Edema, Hematoma, Spasme otot, Hilang sensasi,
Krepitasi, dan Pergerakan abnormal.
37

d. Tatalaksana
i. Fraktur Terbuka
Merupakan kondisi gawat darurat karena dapat terjadi kontaminasi
oleh bakteri dan perdarahan hebat dalam 6 8 jam. Maka perlu
dilakukan tindakan : Pembersihan luka, eksisi luka, penjahitan luka
dan pemberian antibiotik.
ii. Seluruh Fraktur
Recognition / Pengenalan Reduksi / Manipulasi / Reposisi
Imobilisasi Rehabilitiasi.

e. Komplikasi
1. Kerusakan Arteri
Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak
adanya nadi, kreatinin menurun, cyanosis bagian distal,
hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang
disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan
posisi pada yang sakit, reduksi, dan pembedahan.
2. Sindroma Kompartemen
Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang
terjadi karena terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh
darah dalam jaringan parut. Ini disebabkan oleh perdarahan
yang menekan otot, saraf, dan pembuluh darah. Selain itu
karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang
terlalu kuat.
3. Sindroma Emboli Lemak
Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang
sering terjadi pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi
karena sel-sel lemak yang dihasilkan bone marrow kuning
masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam
darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan,
tachykardi, hypertensi,tachypnea, demam.
38

4. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan.
Pada trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial)
dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur
terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan bahan lain dalam
pembedahan seperti pin dan plat.
5. Nekrosis Avaskular
Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang
rusak atau terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang
dan diawali dengan adanya Volkmans Ischemia.
2. PATOFISIOLOGI KASUS

39



Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekuatan dan gaya pegas untuk
menahan. Tetapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat
diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya
atau terputusnya kontinuitas tulang. Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh
darah serta saraf dalam korteks, bone marrow, dan jaringan lunak yang membungkus
tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah
hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian
tulang yang patah. Jaringan tulang mengalami hambatan aliran darah ke bagian distal
sehingga menyebabkan disfungsi neurovascular. Sementara itu hematoma dan
kerusakan jaringan akan menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai
dengan vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, serta infiltrasi sel darah putih
sehingga menyebabkan oedema jaringan yang menghambat aliran darah dan
mengganggu supply nutrisi dan oksigen ke jaringan bagian distal. Hanya dalam
beberapa jam, sel yang tidak memperoleh nutrisi dan oksigen yang cukup akan
mengalami hipoksia dan iskemia. Sel akan berlanjut mengalami pembengkakan
kemudian berhenti melepaskan zat kimia dan terjadi odema sel lebih lanjut. Sel-sel
yang mengalami oedema akan menyebabkan obstruksi sehingga tekanan kapiler
meningkat. Aliran darah ke kapiler berhenti termasuk nutrisi dan oksigen dan akan
mengarah ke nekrosis. Otot dan tulang yang mengalami nekrosis akan terus
40

mengalami perubahan menjadi jaringan fibrosa dan menyebabkan otot menjadi lebih
pendek sehingga dapat memicu kontraktur.

3. AMPUTASI
a. Definisi
Amputasi berasal dari kata amputare (latin) atau apocope (yunani) yang
berarti pancung (to cut away / to cut off). Pemancungan dalam arti tindakan
bedah sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh
bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam
kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas
sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau
manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara
utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan
komplikasi infeksi.
b. Etiologi
Penyebab amputasi sendiri secara umum dapat dibedakan menjadi
Defek lahir kongenital (5%)
Mayoritas tampak pada usia dari lahir hingga 16 tahun.
Didapat (95%), terdiri dari :
o Penyakit oklusi arterial (Occlusive Arterial Disease) 60%.
Penyakit vaskuler yang berhubungan dengan amputasi adalah
diabetes mellitus, arteriosklerosis, dan Buergers Disease.
Mempunyai insidensi pada usia sekitar 60-70 tahun. 90% kasus
melibatkan alat gerak bawah; 5% partial foot and ankle
amputations, 50% below knee amputation, 35% above knee
amputation dan 7-10% hip amputation.
o Trauma - 30%
Paling sering terjadi pada usia antara 17-55 tahun (71% pria).
Lebih banyak mengenai alat gerak bawah, dengan ratio 10 : 1
dibandingkan dengan alat gerak atas. Trauma dari ekstremitas
melibatkan kerusakan pada vaskuler atau nervus, luka bakar,
41

dingin, dan fraktur yang tidak menyembuh. Ini dapat membuat
ekstremitas secara permanen kurang fungsional. Dalam kasus
tersebut. amputasi awal, dalam upaya menyelamatkan anggota
badan, seringkali merupakan pilihan terbaik.
o Tumor 5%
Biasanya tampak pada usia sekitar 10-20 tahun. Dalam kasus
keganasan, hal itu biasa di masa lalu untuk mengamputasi
proksimal bagian yang baik ke lesi neoplastik. Kemajuan
dibidang kemoterapi dan radiaoterapi dengan staging tumor
lebih baik sekarang menjadi mungkin, dalam banyak kasus,
untuk melakukan reseksi segmental ekstremitas dengan eksisi
lokal luas dari tumor.
c. Indikasi dan Tujuan
Indikasi
o Dead / Dying (Kematian sel), contoh adanya kematian jaringan
di ekstremitas pada trauma berat, luka bakar dan frostbite atau
radang akibat suhu dingin.
o Dangerous (Bahaya), adanya suatu keadaan abnormal yang
bersifat berbahaya bagi tubuh seperti keganasan, keadaan
berpotensi sepsis yang bersifat lethal, dan crush injury (cedera
kompresi). Cedera kompresi berbahaya karena dapat
menyebabkan gagal ginjal.
o Damned Nuisance (Keadaan yang mengganggu kehidupan).
Terdapat suatu keadaan dimana mempertahankan suatu
ekstremitas lebih buruk daripada mengangkat dan
menghilangkan suatu ekstremitas. Kondisi ini disebabkan
karena adanya rasa nyeri hebat, keadaan tubuh yang abnormal,
sepsis berulang dan kehilangan fungsi ekstremitas.
Tujuan
o Live saving (menyelamatkan jiwa), contoh trauma disertai
keadaan yang mengancam jiwa (perdarahan dan infeksi).
42

o Limb saving (memanfaatkan kembali kegagalan fungsi
ekstremitas secara maksimal), seperti pada kelainan kongenital
dan keganasan.
o Tujuan utama amputasi ialah penyembuhan atau menghentikan
penyakit, tetapi kebanyakan penderita juga berharap adanya
perbaikan fungsi, hal ini tergantung pada 5 faktor : kemampuan
keseluruhan, mental dan fisik penderita, ketingggian amputasi,
puntung amputasi, prostetik, rehabilitasi.
d. Tingkat Amputasi Esktremitas Bawah
Amputasi dibawah lutut (below knee amputation).
Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada
nonischemic limb dan inschemic limb. Hal ini dibedakan berhubungan
dengan cara menutup flap yang berbeda. Pada amputasi jenis ini
dikenal tension myodesis dan myoplasty. Tension myodesis adalah
mengikatkan group otot tulang dengan tulang, sedangkan myoplasty
adalah menjahitkan otot dengan jaringan lunak pada sisi yang lain
yaitu pada otot atau fasia sebelahnya. Cara ini berguna untuk
menstabilkan stump dan sangat ditekankan untuk penderita yang masih
aktif dan masih muda.
Amputasi diatas lutut (above knee amputation)
Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien
dengan penyakit vaskuler perifer. Amputasi jenis ini merupkan
tebanyak kedua setelah amputasi bawah lutut. Pada amputasi jenis ini
persendian lutut hilang, maka harus dipikirkan yang terbaik yang dapat
menyangga berat badan. Pada pelaksanaan amputasi diatas lutut
terbagi 3 lokasi yaitu bagian distal femur atau supracondylar, diafisis
femur dan trochanter minor femur, maka prosthesis yang konvensional
membutuhkan jarak 9-10 cm dari distal stump sehingga bisa berfungsi
seperti sendi lutut. Amputasi tulang setinggi 5 cm atau kurang dari
distal trochanter minor akan mempunyai fungsi dan kekuatan
penggunaan postesis sama dengan hip disarticulation.
43

e. Metode
Amputasi dilakukan dengan 2 metode yaitu :
Metode terbuka (guillotine amputasi)
Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang telah
berkembang. Bentuknya benar-benar terbuka dan dipasang drainage
agar luka bersih, dan luka dapa ditutup setelah tidak terinfeksi, dan
dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada
tulang dan otot pada tingkat yang sama.
Metode tertutup

Pada metode ini kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit
pada daerah yang diamputasi. Dilakukan dalam kondisi yang lebih
memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang
dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan
otot dan tulang. Setelah dilakukan tindakan pemotongan, maka
kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah
terjadinya infeksi, menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur,
mempertahankan intaks jaringan, dan persiapan untuk penggunaan
protese.
f. Teknik Above Knee Amputation
44


Pasien dalam posisi supinasi dan kaki yang akan dioperasi dalam posisi
abduksi dan fleksi. Biasanya amputasi dilakukan tanpa menggunakan
tourniquet untuk mempermudah menentukan lokasi perdarahan dan pembuluh
darah. Jenis flap / tutup amputasi yang sering digunakan adalah flap fish-
mouth. Selanjutnya dilakukan insisi sesuai gambar diatas dan transeksi dari
otot serta tulang yang tertera digambar dibawah ini. Selanjutnya dilakukan
myodesis dan penutupan luka membentuk flap serta penjahitan luka.

KESIMPULAN







45
















DAFTAR PUSTAKA