Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Basis gigi tiruan lepasan dapat terbuat dari bahan resin akrilik mapun logam. Bahan
yang masih sering dipakai sampai saat ini adalah resin akrilik. Resin akrilik merupakan rantai
polimer panjang terdiri dari unit-unit metil metakrilat yang berulang disebut juga poly methyl
methacrylate. (Combe, 1992; Craig dan Power, 2002). Resin akrilik terdiri atas serbuk
(polimer) dan cairan (monomer) yang dicampur dengan perbandingan yang benar. Sampai
saat ini resin akrilik masih digunakan sebagai bahan basis gigi tiruan dibidang kedokteran
gigi karena resin akrilik mempunyai sifat estetik dan kekuatan relatif baik serta mudah
dimanipulasi (Combe, 1992).
Bahan basis gigi tiruan resin yang digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan seperti
kayu, tulang, ivory, keramik, metal, aloi dan bermacam polimer telah diaplikasikan untuk
basis gigi tiruan. Sebelum tahun 1937, bahan basis gigi tiruan yang digunakan adalah
vulkanit, nitroselulosa, fenol formaldehid, plastik vinil dan porselen.
Pada tahun 1937, resin akrilik terutama polimetilmetakrilat (PMMA) telah
diperkenalkan dan dengan cepat menggantikan bahan sebelumnya.
Resin akrilik memiliki sifat yang menguntungkan yaitu estetik, warna dan tekstur mirip
dengan gingiva sehinggga estetik di dalam mulut baik, daya serap air relatif rendah dan
perubahan dimensi kecil.

1.2 Tujuan Praktikum
Mengetahui cara pembuatan resin akrilik
Mengetahui sifat sifat resin akrilik
Mengetahui Kesalahan kesalahan saat pembuatan resin akrilik



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Resin Akrilik Polimerisasi Panas
Resin akrilik polimerisasi panas adalah resin jenis poli(metil) metakrilat yang
polimerisasinya dengan pemanasan. Energi termal yang diperlukan untuk polimerisasi bahan-
bahan tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan pemanasan air atau iradiasi gelombang
mikro. Resin akrilik polimerisasi panas dipergunakan untuk bahan pembuatan anasir gigi
tiruan, basis gigi tiruan, bahan reparasi gigi tiruan, bahan obturator, dan pembuatan sendok
cetak fisiologis. Resin akrilik polimerisasi panas dengan pemanasan air dilakukan dengan dua
cara, yaitu pemanasan air menggunakan kompor atau waterbath.
2.1.1 Komposisi
Resin akrilik polimerisasi panas terdiri dari:
1. Polimer:
a. Poli(metil metakrilat)
b. Initiator: berupa 0.2 - 0.5% benzoil peroksida
c. Pigmen: merkuri sulfit, cadmium sulfit, cadmium selenit, ferric oxide.
d. Plasticizer: dibutil pthalat
e. Opacifiers: zinc atau titanium oxide
f. Serat sintetis/organik : serat nilon atau serat akrilik
g. Partikel inorganik, seperti serat kaca, zirkonium silikat.
2. Monomer:
a. Metil metakrilat
b. Stabilizer: terdapat sekitar 0.003 0.1% metil ether hydroquinone untuk mencegah
terjadinya proses polimerisasi selama penyimpanan.
c. Plasticizer: dibutil pthalat
d. Bahan untuk memacu ikatan silang (cross-linking agent) seperti etilen glikol
dimetakrilat (EGDMA). Bahan ini berpengaruh pada sifat fisik polimer dimana
polimer yang memiliki ikatan silang bersifat lebih keras dan tahan terhadap pelarut.
2.1.2 Manipulasi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat melakukan manipulasi resin akrilik
polimerisasi panas yaitu:
a. Perbandingan polimer dan monomer
Perbandingan polimer dan monomer yang umumnya digunakan adalah 3:1 satuan
volume atau 2,5:1 satuan berat. Bila monomer terlalu sedikit maka tidak semua polimer
sanggup dibasahi oleh monomer akibatnya akrilik yang telah selesai berpolimerisasi akan
bergranula, tetapi monomer juga tidak boleh terlalu banyak karena dapat menyebabkan
terjadinya kontraksi yang lebih besar (21% satuan volume) dibandingkan dengan kontraksi
yang terjadi pada adonan resin akrilik yang seharusnya (7% volume), sehingga membutuhkan
waktu yang lebih lama untuk mencapai fase dough (konsistensi) dan akhirnya menyebabkan
timbulnya porositas pada resin akrilik.
b. Pencampuran
Selama reaksi pencampuran, akan terlihat perubahan bentuk fisis ke dalam empat tahap yaitu:
Tahap I : polimer meresap ke dalam monomer membentuk suatu fluid yang tidak
bersatu (sandi/granular).
Tahap II : permukaan polimer larut ke dalam monomer dan bahan ini melekat dengan
pot, berserabut bila ditarik (stingy).
Tahap III : tahap dough atau gel. Polimer telah jenuh di dalam monomer. Massa
menjadi lebih halus dan dough like (seperti adonan). Pada tahap ini, massa dapat
dimasukkan ke dalam mold.
Tahap IV : penetrasi yang lebih lanjut dari polimer. Bahan tidak plastis lagi dan tidak
dapat dimasukkan ke dalam mold lagi (rubbery-hard).



c. Mold lining
Setelah semua malam dikeluarkan dari mold dengan cara menyiramnya dengan air
mendidih dan detergen, dinding mold harus diberi bahan separator (couldmold seal) untuk
mencegah merembesnya monomer ke bahan mold dan berpolimerisasi sehingga
menghasilkan permukaan yang kasar, merekat dengan bahan mold dan mencegah air dari
gips masuk ke dalam resin akrilik.
d. Pengisian
Sewaktu melakukan pengisian ke dalam mold perlu diperhatikan agar moldterisi
penuh dan sewaktu di-press terdapat tekanan yang cukup pada mold, ini dapat dicapai dengan
cara mengisikan adonan akrilik sedikit lebih banyak ke dalam mold. Jika jumlah adonan yang
dimasukkan ke dalam mold kurang, maka dapat menyebabkan terjadinya shrinkage porosity.
2.1.3 Kuring
Proses kuring resin akrilik dilakukan dengan cara mengaplikasikan panas pada resin
dengan merendam kuvet dalam air yang dipanaskan hingga mencapai suhu 70
o
C selama 30
menit kemudian dilanjutkan selama 90 menit pada suhu 100
o
C. Pengaplikasian panas harus
teratur karena reaksi kimia antara monomer dan polimer bersifat eksotermis. Bila
polimerisasi telah dimulai maka suhu resin akrilik akan jauh lebih tinggi dari airnya dan
monomer akan mendidih pada temperatur 212oF atau 100oC, oleh karena itu pada tahap awal
proses kuring, suhu air harus dijaga jangan terlalu tinggi.
Setelah proses polimerisasi selesai kemudian kuvet dibiarkan dingin secara perlahan
hingga sama dengan suhu ruangan. Bahan resin yang telah selesai berpolimerisasi
dikeluarkan dari bahan mold. Selanjutnya dilakukan pemolesan resin akrilik untuk
mendapatkan permukaan yang halus dan mengkilap.
2.1.4 Sifat-sifat
Beberapa sifat-sifat resin akrilik polimerisasi panas adalah:
a. Berat molekul
Resin akrilik polimerisasi panas memiliki berat molekul polimer yang tinggi yaitu
500.000 1.000.000 dan berat molekul monomernya yaitu 100. Berat molekul polimer ini
akan bertambah hingga mencapai angka 1.200.000 setelah berpolimerisasi dengan benar.
Rantai polimer dihubungkan antara satu dengan lainnya oleh gaya Van der Waals dan ikatan
antar rantai molekul. Bahan yang memiliki berat molekul tinggi mempunyai ikatan rantai
molekul yang lebih banyak dan mempunyai kekakuan yang besar dibandingkan polimer yang
memiliki berat molekul yang lebih rendah.
b. Monomer sisa
Monomer sisa berpengaruh pada berat molekul rata-rata. Polimerisasi pada suhu yang
terlalu rendah dan dalam waktu singkat menghasilkan monomer sisa lebih tinggi. Monomer
sisa yang tinggi berpotensi untuk menyebabkan iritasi jaringan mulut, inflamasi dan alergi,
selain itu juga dapat mempengaruhi sifat fisik resin akrilik yang dihasilkan karena monomer
sisa akan bertindak sebagai plasticizer yang menyebabkan resin akrilik menjadi fleksibel dan
kekuatannya menurun. Pada akrilik yang telah berpolimerisasi secara benar, masih terdapat
monomer sisa sebesar 0.2 sampai 0.5%.
Proses kuring yang adekuat pada temperatur tinggi sangat direkomendasikan untuk
mengurangi ketidaknyamanan pasien yang diketahui memiliki riwayat alergi terhadap MMA
(Metil Metakrilat).
c. Porositas
Porositas dapat memberikan pengaruh yang tidak menguntungkan pada kekuatan resin
akrilik. Ada 2 jenis porositas yang dapat kita temukan pada basis gigi tiruan yaitu shrinkage
porosity dan gaseous porosity. Shrinkage porosity kelihatan sebagai gelembung yang tidak
beraturan bentuk di seluruh permukaan gigi tiruan sedangkan gaseous porosity terlihat
berupa gelembung kecil halus yang uniform, biasanya terjadi terutama pada protesa yang
tebal dan di bagian yang lebih jauh dari sumber panas.
d. Absorbsi air
Resin akrilik polimerisasi panas relatif menyerap air lebih sedikit pada lingkungan yang
basah. Nilai absorbsi air oleh resin akrilik yaitu 0.69%mg/cm Absorbsi air oleh resin akrilik
terjadi akibat proses difusi, dimana molekul air dapat diadsorbsi pada permukaan polimer
yang padat dan beberapa lagi dapat menempati posisi di antara rantai polimer. Hal inilah
yang menyebabkan rantai polimer mengalami ekspansi.
Setiap kenaikan berat akrilik sebesar 1% yang disebabkan oleh absorbsi air
menyebabkan terjadinya ekspansi linear sebesar 0.23%. Sebaliknya pengeringan bahan ini
akan disertai oleh timbulnya kontraksi.
e. Retak
Pada permukaan resin akrilik dapat terjadi retak. Hal ini diduga karena adanya tekanan
tarik (tensile stress) yang menyebabkan terpisahnya molekul-molekul polimer. Keretakan
seperti ini dapat terjadi oleh karena stress mekanik, stress akibat perbedaan ekspansi termis
dan kerja bahan pelarut. Adanya crazing (retak kecil) dapat memperlemah gigi tiruan.
f. Ketepatan dimensional
Beberapa hal yang dapat mempengaruhi ketepatan dimensional resin akrilik adalah
ekspansi mold sewaktu pengisian resin akrilik, ekspansi termal resin akrilik, kontraksi
sewaktu polimerisasi, kontraksi termis sewaktu pendinginan dan hilangnya stress yang terjadi
sewaktu pemolesan basis gigi tiruan resin akrilik.
g. Kestabilan dimensional
Kestabilan dimensional berhubungan dengan absorbsi air oleh resin akrilik. Absorbsi
air dapat menyebabkan ekspansi pada resin akrilik. Pada resin akrilik dapat terjadi hilangnya
internal stress selama pemakaian gigi tiruan. Pengaruh ini sangat kecil dan secara klinis tidak
bermakna.
h. Resisten terhadap asam, basa, dan pelarut organik
Resistensi resin akrilik terhadap larutan yang mengandung asam atau basa lemah adalah
baik. Penggunaan alkohol dapat menyebabkan retaknya protesa. Ethanol juga berfungsi
sebagai plasticizer dan dapat mengurangi temperatur transisi kaca. Oleh karena itu, larutan
yang mengandung alkohol sebaiknya tidak digunakan untuk membersihkan protesa.
2.2 Kekasaran Permukaan
Kekasaran permukaan (Ra: Roughness average) adalah karakteristik suatu permukaan
benda yang bergelombang (tidak teratur). Kekasaran permukaan dihitung sebagai
penyimpangan rata-rata aritmetik terhadap lembah/dasar permukaan dan puncak permukaan.
Uji sampel kekasaran permukaan diukur dengan menggunakan suatu alat bernama
profilometer dimana sebuah jarum (stylus) melintasi lapisan permukaan dan sebuah penguat
jiplakan dari profil/gambar digunakan.
Pengukuran kekasaran permukaan langsung didapatkan dari sampel material yang
tidak terlalu tipis dan tidak mudah distorsi. Menurut penelitian Machado dkk efek dari
prosedur perendaman resin akrilik di dalam larutan sodium perborat terhadap kekasaran
permukaan bervariasi di antara bahan material tersebut.
Sementara Alves dkk mengungkapkan pengaruh pemolesan khemis dan manual
terhadap kekasaran permukaan spesimen resin akrilik dan meneliti bahwa metoda khemis
menunjukkan nilai kekasaran permukaan yang lebih tinggi tanpa menghiraukan tipe aktivasi
resin (khemis atau termal) ketika dibandingkan dengan teknik manual. Penelitian Campos
dkk mengungkapkan bahwa kekasaran permukaan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
jenis resin yang dipakai, teknik polimerisasi, dan lamanya jumlah prosedur desinfeksi.
Kekasaran permukaan secara positif dihubungkan dengan tingkat kolonisasi bakteri
pada biomaterial.Hal ini secara langsung mempengaruhi perlekatan awal mikroorganisme,
perkembangan biofilm, dan kolonisasi bakteri. Hal ini terjadi karena permukaan dapat
bertindak sebagai reservoir, dengan ketidakteraturan permukaan, dan pembentukan
depresi/celah yang menyediakan kesempatan bagi retensi mikroorganisme dan perlindungan
terhadap kekuatan pelepasan (shear protection), bahkan sewaktu pembersihan bahan basis
gigi tiruan berbasis resin akrilik.
Perlekatan mikroba pada permukaan biomaterial tergantung pada struktur permukaan
dan komposisi biomaterial serta sifat psikokemis dari permukaan sel mikroba.
Permukaan yang halus dan terpoles dengan baik adalah penting sepenuhnya tidak hanya
bagi kenyamanan pasien tetapi juga keawetan gigi tiruan/restorasi, hasil estetik yang baik,
kesehatan rongga mulut, dan retensi plak yang rendah.
2.3 Klorheksidin Glukonat
Klorheksidin adalah larutan desinfektan khemis yang bersifat bakteriostatik dan
bakterisidal terhadap mikroba gram positif maupun gram negatif. Bahan ini pertama sekali
disintesa pada tahun 1950. Bahan ini merupakan serbuk halus berwarna putih dan dapat
berupa larutan apabila dilarutkan dalam air, alkohol encer, polyethylene glycol.
Klorheksidin glukonat merupakan derivat bis-biquanite dan merupakan basa yang
kuat. Selain memiliki aktivitas antibakterial yang tinggi, klorheksidin glukonat juga
menghambat virus dan aktif melawan jamur, tetapi tidak aktif melawan spora bakteri pada
suhu kamar. Klorheksidin glukonat merupakan bahan yang efektif, bekerja cepat, dan
toksisitasnya rendah. Molekul klorheksidin memiliki interaksi antara molekul-molekulnya
dan muatan positif dengan dinding sel yang bermuatan negatif. Interaksi ini akan
mengakibatkan kehilangan konstitusi sitoplasmik yang irreversibel, penghancuran membran,
dan inhibisi enzim. Pada konsentrasi tinggi, klorheksidin glukonat mampu menghancurkan
sel, mengkoagulasi sitoplasma, dan mempresipitasi protein dan asam nukleat. Kloheksidin
glukonat dengan konsentrasi 0.2% dianggap sebagai standar larutan kumur yang paling
efektif. Klorheksidin glukonat memiliki rumus kimia C22H30Cl2N102C6H12O7.
Klorheksidin glukonat dalam kedokteran gigi dipakai sebagai dental gel, obat kumur,
bahan pembersih gigi tiruan. Sebagai dental gel dipakai konsentrasi 1% sedangkan sebagai
obat kumur / anti plak dipakai konsentrasi 0.2%. Contoh merek obat kumur yang dipasarkan
dalam bentuk larutan klorheksidin glukonat 0.2 % yaitu Minosep, Corsodyl, Chlorhex.
Perendaman gigi tiruan selama beberapa menit setiap hari pada larutan klorheksidin
menyebabkan penurunan yang signifikan pada jumlah plak gigi tiruan.
Pemakaian klorheksidin glukonat sebagai desinfektan untuk merendam gigi tiruan
dianjurkan 15 menit tiap hari. Kontak bahan klorheksidin glukonat tidak secara langsung
mematikan bakteri. Menurut penelitian in vitro Hope dan Wilson, waktu berkontak
klorheksidin glukonat selama 30 detik memiliki efek yang kecil dalam mengurangi jumlah
bakteri yang terdapat pada biofilm rongga mulut. Pada kenyataannya, 0.2% klorheksidin
glukonat telah dibuktikan tidak efektif dalam melawan plak dental pada penelitian in
vitrosetelah 5 menit berkontak, dibutuhkan kontak sekitar 60 menit untuk menghasilkan 2-
log10 sampai 5-log10 dalam mematikan bakteri.
McCourtie dkk juga melaporkan bahwa perlekatan C.albicans kepada permukaan
akrilik kebanyakan berkurang oleh adanya kontak dengan larutan klorheksidin glukonat. Baik
0.2% maupun 2.0% klorheksidin glukonat mampu menghambat perlekatan dengan cepat
selama 20 menit pertama dimana akrilik berkontak dengan klorheksidin glukonat


BAB III
PEMBAHASAN


3.1 Tahap Kerja
1. Flasking
Proses menanam model ke dalam cover bawah menggunakan gips tipe 2
Masukkan model kedalam cuvet yang sudah di berikan gips
Beri vaselin untuk semua permukaan gips tujuan untuk memisahkan gips
pada cuvet atas dan bawah
Ditutup kembali dengan cuvet atas dan beri gips tipe 2

2. Boiling Out
Proses mengeluarkan wax dari cuvet dengan cara perebusan / panas

3. Packing Akrilik
Proses mixing akrilik
Memasukkan akrilik kedalam cuvet sampai tahap dough stage ( III )
Olesi semua permukaan gips dengan cms
Masukkan 10 ml monomer kemudian baru 30 ml polimer masukkan dalam
dippen glass dan aduk dengan spatula
Masukkan resin kedalam cuvet atas
Lakukan pressure untuk mengeluarkan sisa akrilik

4. Prosesing Akrilik
Dengan cara perebusan
Sampai panas air 100 derajat kemudian pertahankan sampai mendidih
dalam waktu 20 menit k
Biarkan cuvet dalam air panas tadi sampai dingin dan cuvet baru
dikeluarkan

5. Deflasking
Mengeluarkan akrilik dari cuvet
Di tunggu sampai dingin supaya tidak terjadi perubahan dimensi

6. Finishing
Membersihkan sisa akrilik

3.2 Kesalahan kesalahan
Hal-hal yang menyebabkan berkurangnya jumlah monomer adalah:
1. Perbandingan monomer dan polimer yang tidak tepat.
2. Penguapan monomer selama proses pengisisan rongga cetak.
3. Pemasakan yang terlalu panas, melebihi titik mdidih monomer (100,30C).
Secara normal setelah pemasakan terdapat sisa monomer 0,2-0,5%.
Pemasakan pada temperature yang terlalu rendah dan dalam waktu singkat akan
menghasilkan sisa monomer yang lebih besar. Ini harus dicegah, karena:
a. Monomer bebas dapat lepas dari gigi tiruan dan mengiritasi jaringan mulut.
b. Sisa monomer akan bertindak sebagai plasticizer dan membuat resin menjadi lunak dan
lebih flexible.
Porositas dapat memberi pengaruh yang tidak menguntungkan pada kekuatan dan sifat-
sfat optic acrylic. Porositas yang terjadi dapat berupa shrinkage porosity (tampak geleembung
yang tidak beraturan pada permukaan acrylic) dan gaseous porosity (berupa gelembung
uniform, kecil, halus dan biasanya terjadi pada bagian acrylic yang tebal dan jauh dari sumber
panas).
Permasalahan yang sering timbul pada acrylic yang telah mengeras adalah terjadinya
crazing (retak) pada permukaannya. Hal ini disebabkan adanya tensile stress ysng
menyebabkan terpisahnya moleku-molekul primer. Retak juga dapat terjadi oleh karena
pengaruh monomer yang berkontak pada permukaan resin acrylic, terutama pada proses
reparasi.
Keretakan seperti ini dapat terjadi oleh karena :
1. Stress mekanis oleh karena berulang-ulang dilakukan pengerigan dan pembasahan
denture yang menyebabkan kontraksi dan ekspansi secara berganti-ganti. Dengan
menggunakan bahan pengganti tin-foil untuk lapisan cetakan maka air dapat masuk ke
dalam acrylic sewaktu pemasakan; selanjutnya apabila air ini hilang dari acrylic maka
dapat menyebabkan keretakan.
2. Stress yang timbul karena adanya perbedaan koefisien ekspansi termis antara denture
porselen atau bahan lain seperti klamer dengan landasan denture acrylic;retak-retak
dapat terjadi di sekeliling bahan tersebut.
3. Kerja bahan pelarut; missal pada denture yang sedang direparasi, sejumlah monomer
berkontak dengan resin dan dapat menyebabkan keretakan.
Denture dapat mengalami fraktur atau patah karena:
1. Impact; missal jatuh pada permukaan yang keras.
2. Fatigue; karena denture mengalami bending secara berulang-ulang selama
pemakaian.

3.3 Hasil











BAB IV

KESIMPULAN

Basis gigi tiruan adalah bagian dari gigi tiruan yang bersandar pada jaringan lunak dan
merupakan tempat melekatnya anasir gigi tiruan. Berbagai macam bahan telah digunakan
dalam pembuatan basis gigi tiruan seperti kayu, tulang, keramik, logam, logam aloi dan
beberapa jenis polimer.
Basis gigi tiruan lepasan dapat terbuat dari bahan resin akrilik mapun logam. Bahan
yang masih sering dipakai sampai saat ini adalah resin akrilik. Resin akrilik merupakan rantai
polimer panjang terdiri dari unit-unit metil metakrilat yang berulang disebut juga poly methyl
methacrylate. (Combe, 1992; Craig dan Power, 2002). Resin akrilik terdiri atas serbuk
(polimer) dan cairan (monomer) yang dicampur dengan perbandingan yang benar. Sampai
saat ini resin akrilik masih digunakan sebagai bahan basis gigi tiruan dibidang kedokteran
gigi karena resin akrilik mempunyai sifat estetik dan kekuatan relatif baik serta mudah
dimanipulasi (Combe, 1992).