Anda di halaman 1dari 23

1

PENGGUNAAN MEDIA AUDIO GUNA MENINGKATKAN


KEMAMPUAN MENDENGARKAN DALAM PEMBELAJARAN
BAHASA INGGRIS PADA SISWA KELAS IX.E SMPN 1 CIKAMPEK

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa merupakan cara untuk mengkomunikasikan ide-ide dari satu orang
kepada orang lain dengan pemahaman yang berbeda. Dengan bahasa semua orang di
dunia ini dapat mengekspresikan perasaan, keinginan, pendapat dan kebutuhannya
masing-masing individu. Karena akan sulit bagi setiap orang untuk memahami
maksud dari perkataan orang lain tanpa berbahasa.
Bahasa inggris pada masa kini sangat penting untuk dipelajari, karena bahasa
inggris merupakan bahasa internasional yang secara umum digunakan untuk
berkomunikasi dengan orang-orang yang berasal dari luar negeri. Anak muda zaman
sekarang pun sudah banyak yang menggunakan bahasa inggris dalam kegiatan sehari-
harinya, meskipun masih ada sebagian dari mereka yang mencampur bahasa ibunya
terhadap bahasa inggris. Mereka menganggap menggunakan bahasa inggris itu keren,
sehingga mereka berkeinginan untuk mempelajari bahasa inggris dan
menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari
2

Bahasa inggris pada masa kini dapat menjadi bahasa yang dominan karena
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: sosial, polotik, ekonomi dan budaya.
Itu semua berdasarkan pada sejarah yeng pernah dilakukan oleh orang-orang inggris
yang telah menjajah hampir seluruh belahan di dunia ini, sehingga bahasa inggris
sampai saat ini menjadi bahasa internasional. Maka dari itu, banyak negara-negara
yang ingin bekerjasama dengan negara lain dalam berbagai bidang menganggap
menguasai bahasa inggris dengan baik itu dapat memperlancar hubungan tersebut.
Bahasa inggris memiliki empat kemampuan dasar yakni Listening
(mendengarkan), Speaking (berbicara), Reading (membaca) dan Writing (menulis).
Serta memiliki tiga kemampuan tambahan yakni Grammar (Tata Bahasa), Vocabulary
(Kosa kata) dan Pronunciation (Pengucapan). Semua komponen itu sangat penting
dan harus dipelajari jika ingin menguasai bahasa inggris dengan baik. Tapi bagi
sebagian orang dengan mempelajari Listening, Speaking dan juga Vocabulary sudah
cukup untuk berkomunikasi dengan orang luar. Itu memang tidak salah, hanya saja
jika kita tidak mempelajari tata bahasa juga cara pengucapannya maka kita akan
menjadi pengucap bahasa yang buruk. Mempelajari bahasa Inggris berarti kita harus
mempelajari semua kemampuan-kemampuan tersebut agar kita menjadi pengucap
bahasa yang baik. Disini penulis mencoba meneliti salah satu dari kompenen tersebut
yakni Listening (Mendengarkan). Penulis memilih kemampuan mendengarkan ini
karena penulis berkeyakinan sebelum berbicara kita harus memahami apa yang
diucapkan oleh orang lain yang menggunakan bahasa inggris, karena dengan menjadi
pendengar yang baik, maka kita dapat menjadi pengucap bahasa yang baik pula.
Sehingga dalam hal ini penulis bermaksud meneliti kemampuan Listening. Pollard
(2008:39) mengemukakan bahwa:
Listening is one of the receptive skills and as such it involves students in
capturing and understanding the input of English. Reading, the other receptive skill,
involves students in understanding and interpreting the written word. Listening is
3

probably more difficult than reading because students often recognise the written word
more easily than they recognise the spoken word. Furthermore when reading, students
can go back and reread a phrase whereas with listening they only get one chance. With
reading, its the reader who sets the pace whereas with listening its the speaker or
recording that sets the pace.

Dari pemaparan diatas dapat kita simpulkan bahwa mendengarkan dan
membaca merupakan sama-sama kemampuan menerima dalam berbahasa, namun
memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Jika dalam membaca kita masih belum
paham intisarinya, kita dapat mengulang untuk membacanya. Ini sangat bertentangan
dengan mendengarkan, karena mendengarkan hanya dapat dilakukan dalam satu
kesempatan saja tanpa bisa mengulanginya. Oleh karena itu mendengarkan masih jauh
lebih sulit dibandingkan membaca. Peneliti berkeyakinan pula dalam mengajarkan
kemampuan listening pada siswa Sekolah Menengah Pertama, khususnya kelas
sembilan yang akan mengahadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) dimana disitu ada
pengetesan terhadap kemampuan mendengarkan yang dilakukan melalui media audio.
Oleh karena itu peneliti mencoba menghubungkan kemampuan listening dengan
media audio dalam pembelajarannya disekolah.
Banyak sekali orang yang belum bisa memahami apa yang orang lain ucapkan
dalam bahasa inggris secara menyeluruh, mereka banyak kebingungan ketika ucapan
yang dilontarkan si lawan bicaranya menggunakan kecepatan bicara yang cukup
cepat, sehingga terasa sulit untuk memahami apa yang si orang itu ucapkan. Disinilah
kegunaan mempelajari kemampuan listening agar dapat memahami inti dari apa yang
lawan bicara kita ucapkan dengan lebih mudah.
Penggunaan audio sebagai media pembelajaran di sekolah formal tidaklah
mudah untuk didapatkan. Banyak sekolah-sekolah setara SMP maupun SMA di
Indonesia yang tidak memiliki laboratorium bahasa, karena laboratorium ini
memerlukan banyak biaya dalam pengadaannya. Juga belum lagi jika seketika listrik
di sekolah tersebut mati saat melaksanakan pembelajaran menggunakan audio. Dalam
4

pembelajarannya juga apabila si guru tidak dapat menggunakan metode ataupun
teknik yang cocok dengan materi yang akan diajarkan tentu saja para siswa akan
merasa bosan dan tidak bersemangat dalam belajar. Para siswa memerlukan metode
yang kreatif, efektif, menarik dan tidak membosankan pada saat belajar. Mereka juga
akan merasa bosan jika terus menerus diberikan metode dalam pembelajaran listening
dengan mendengarkan percakapan-percakapan saja, sehingga guru harus sering
memutar otak agar dapat memberikan metode dan teknik yang kreatif dan tidak
membosankan kepada para siswa. Peneliti berkeyakinan bahwa media audio
merupakan salah satu media dalam pembelajaran listening yang cocok untuk
digunakan kepada para siswa khususnya kelas IX SMP guna meningkatkan
kemampuan mendengarkan mereka dalam pembelajaran bahasa inggris.

B. Identifikasi Masalah
1. Apakah penggunaan media audio dapat meningkatkan kemampuan
listening siswa SMPN 1 Cikampek kelas IX?
2. Sejauh mana keefektifan media audio guna meningkatkan kemampuan
listening siswa SMPN 1 Cikampek Kelas IX?
3. Apa saja hal yang perlu diperhatikan agar pembelajaran bahasa inggris
khususnya dalam pembelajaran listening dapat berjalan dengan efektif di
SMPN 1 Cikampek Kelas IX?
4. Apa saja masalah yang dihadapi apabila menggunakan audio sebagai
media pembelajaran Listening dalam pembelajaran bahasa inggris di
SMPN 1 Cikampek Kelas IX?
5

5. Bagaimana cara mengatasi masalah yang akan dihadapi oleh siswa dalam
mempelajari kemampuan mendengarkan dalam pembelajaran bahasa
inggris pada SMPN 1 Cikampek Kelas IX E?

C. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Dikarenakan keterbatasan waktu dan ilmu yang dimiliki oleh penulis, maka
penulis membatasi dan merumuskan masalah menjadi dua poin dari kelima
identifikasi masalah diatas. Dua poin permasalahan diatas yang diambil oleh peneliti
antara lain:
1. Apakah penggunaan media audio dapat meningkatkan kemampuan listening siswa
SMPN 1 Cikampek kelas IX E?
2. Sejauh mana keefektifan media audio guna meningkatkan kemampuan listening
siswa SMPN 1 Cikampek Kelas IX E?
Dibutuhkan sebuah media yang cocok guna meningkatkan kemampuan
mendengarkan, serta sejauh mana media audio efektif digunakan dalam pembelajaran
bahasa inggris kepada para siswa setara Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
Cikampek kelas IX E.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan peneliti mengadakan penelitian ini adalah untuk:
Mengetahui apakah penggunaan media audio dapat meningkatkan kemampuan
listening siswa SMPN 1 Cikampek kelas IX E.
Mengetahui Sejauh mana keefektifan media audio guna meningkatkan
kemampuan listening siswa SMPN 1 Cikampek Kelas IX E.
6

E. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan penelitian ini yang terbagi menjadi tiga, yakni:
1. Manfaat Teoritis
Secara teoritis, dengan adanya pembelajaran bahasa inggris menggunakan
audio sebagai medianya diharapkan kemampuan pemahaman siswa terhadap
listening dapat meningkat.

2. Manfaat Praktis
Secara praktis, penelitian ini dapat memberikan manfaat berupa metode dalam
proses pembelajaran listening yakni metode pengajaran listening dalam
pembelajaran bahasa inggris dengan menggunakan audio sebagai media
pembelajarannya.

3. Manfaat Professional
Secara profesional, dapat menambah wawasan mengenai inovasi dan metode
dalam pengembangan pembelajaran bahasa inggris.

F. Penjelasan Istilah
1. Listening
Field (2008:37) mengemukakan pendapatnya tentang listening :
In some respects, listening is a very individual activity. A speaker does not implant a
message in the listeners mind. The listener has to remake the message: trying to gauge
what the speakers intentions are and extracting from the message whatever seems
relevant to the listeners own goals.

Jadi, mendengarkan merupakan suatu kegiatan yang sangat individu, karena
menurutnya pembicara itu tidak memberikan pesan yang begitu jelas pada pikiran
7

si pendengar dan dia juga harus megulangi pesan apa yang diucapkan oleh si
pembicara, namun mencoba memahaminya sendiri menurut apa yang si
pendengar itu terima dipkikirannya..

2. Audio
Menurut Burns (1999:94), Audio and video recording are a technique for
capturing in detail naturalistic interactions and verbatim utterance. Jadi, audio
dan video rekaman merupakan teknik untuk menangkap dan memahami interaksi
alamiah dan juga harfiah secara mendalam.

3. Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Menurut Arikunto (2006) dalam Astuti (2013:22), Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah
tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara
bersamaan. PTK adalah suatu metode yang digunakan untuk meneliti langsung
ke lapangan guna menerapkan rancangan rencana yang sudah dipersiapkan dari
apa yang akan diteliti di suatu sekolah tertentu yang sudah ditetapkan oleh si
peneliti.





8

BAB II
LANDASAN TEORI

1. Pengajaran Bahasa Inggris
Pembelajaran Bahasa Inggris adalah salah satu upaya nyata untuk
meningkatkan sumber daya manusia dan bukti dari hasil perkembangan pendidikan di
Indonesia. Karena Bahasa Inggris merupakan ilmu pengetahuan komunikasi
internasional yang paling penting dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan dan
budaya. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya penggunaan Bahasa Inggris sebagai
bahasa pengantar untuk saling berkomunikasi antara negara-negara di seluruh belahan
bumi.
Di era globalisasi ini, kita dapat melihat fenomena itu dengan banyaknya
media cetak dan elektronik yang menyajikan berbagai informasi menggunakan
Bahasa Inggris. Oleh sebab itu, pemerintah Indonesia mencantumkan Bahasa Inggris
sebagai mata pelajaran bahasa asing yang wajib dipelajari mulai dari tingkat SD,
SMP, dan SMA/ SMK.
Dengan hadirnya Bahasa Inggris di sekolah mendorong para siswa untuk dapat
menguasai empat macam keterampilan yaitu mendengarkan, berbicara, membaca dan
menulis. Dari keempat keterampilan tersebut, keterampilan mendengarkan dianggap
sebagai salah satu hal yang sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Inggris.
Karena banyak orang yang ingin bisa berbahasa Inggris dengan baik dan lancar,
namun sebelum bisa berbicara kita harus bisa mendengarkan apa yang si lwan bicara
kita bicarakan dulu. Untuk menjadi pengucap yang baik, terlebih dahulu kita harus
menjadi pendengar yang baik. Maka dari itu penulis memilih kemampuan
mendengarkan untuk diteliti dalam penelitian ini.
Akhir-akhir ini kurikulum di Indonesia sudah mulai tidak konsisten, namun
bukan berarti itu semua kemunduran, melainkan perbaikan untuk menyongsong masa
depan di era globalisasi ini. Kress (1995:3) dalam Goodwyn (2005:180)
mengungkapkan, see the English curriculum not only in its traditional role of
preparing students for that future, but to see the curriculum, and the people who
experience it, as making and shaping that future through the competent and confident
action. Jadi, Kita dalam dunia kurikulum jangan hanya melihat dari peran yang dari
9

dulu hanya untuk mempersiapkan siswa mengahdapi masa depan, tapi lihatlah
kurikulum dan orang-orang yang sudah berpengalaman dalam itu, sebagai pembuat
dan pembentuk masa depan dari kokohnya kompeten yang dimiliki dan aksi
kepercayaannya.

2. Mendengarkan (listening)
Secara umum, bahasa Inggris memiliki empat kemampuan dasar yakni
mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. Disini penulis mencoba meneliti
salah satu dari komponen tersebut yakni mendengarkan. Penulis memilih kemampuan
mendengarkan ini karena penulis berkeyakinan sebelum berbicara kita harus
memahami apa yang diucapkan oleh orang lain yang menggunakan bahasa inggris,
karena dengan menjadi pendengar yang baik, maka kita dapat menjadi pengucap
bahasa yang baik pula.
Brown (2006:4) mengemukakan bahwa listening is a complex activity, and we can help
students comprehend what they hear by activating their prior knowledge. Jadi, listening
adalah suatu kegiatan yang kompleks, dan kita dapat membantu anak didik untuk
memahami secara menyeluruh apa yang mereka dengar dengan mengaktifkan
pengetahuan utamanya.
Secara umum listening terbagi dua yaitu Extensive Listening dan Intensive
Listening. Menurut Harmer (2007:135) Intensive listening is different from extensive
listening in that students listen specifically in order to work on listening skills, and in
order to study the way in which English is spoken. It usually takes place in classrooms
or language laboratories, and typically occurs when teachers are present to guide
students through any listening difficulties, and point them to areas of interest. Dari
pernyataan Harmer diatas dapat disimpulkan bahwa intensive listening berbeda
dengan extensive listening secara spesifik, intensive listening adalah suatu kegiatan
mendengarkan secara berkelanjutan untuk memahami konteks suatu pembicaraan
secara mendalam, sedangkan extensive listening merupakan kegiatan mendengarkan
10

secara bebas yang tidak terikat oleh ruang dan waktu, dan hanya memahami konteks
pembicaraan secara umum saja. Jika intensive listening kita belajar di dalam ruangan
kelas dan memahami intisari konteks pembicaraan secara mendalam dan juga
berkelanjutan, maka extensive listening dapat diajarkan secara otodidak melalui DVD
film atau pun lagu-lagu berbahasa inggris dan kita tidak dituntut untuk memahami
intisari secara mendalam.

3. Media Audio
Yang dimaksud dengan media dengar (media audio) adalah alat media yang isi
pesannya hanya diterima melalui indera pendengaran saja. Menurut Sudjana dan
Rivai (2005:129) Media Audio untuk pengajaran adalah bahan yang mengandung
pesan dalam bentuk auditif ( pita suara atau piringan suara), yang dapat merangsang
pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan siswa sehingga terjadi proses belajar
mengajar.
Media audio mempunyai sifat yang khas, yaitu:
Hanya mengandalkan suara (indera pendengaran)
Personal
Cenderung satu a
Mampu menggugah imaginasi
Fungsi media audio menurut Arsyad (2003:44) beliau mengutip pendapat Sudjana
dan Rivai (1991:130) adalah untuk melatih segala kegiatan pengembangan
keterampilan terutama yang berhubungan dengan aspek aspek keterampilan
pendengaran, yang dapat dicapai dengan media audio ialah berupa :
Pemusatan perhatian dan mempertahankan perhatian
Mengikuti pengarahan
11

Melatih daya analisis
Menentukan arti dan kontek
Memilah informasi dan gagasan
Merangkum , mengingat kembali dan menggali informasi.
Sehingga media audio sangat cocok bila diterapkan dalam pembelajaran bahasa
asing, contohnya bahasa inggris. Kemampuan listening pun bisa bertambah pesat bila
sering melatih kemampuannya tersebut secara berkala melalui media audio ini.













12

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Metode Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Creswell (2010) dalam Astuti (2013:22) menyatakan penelitian kualitatif
merupakan metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh
sejumlah individu atau sekelompk orang- - dianggap berasal dari masalah sosial
atau kemanusiaan.
Sedangkan menurut Moeleong, M.A (1989:6) penelitian kualitatif adalah
penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami
oleh subjek penelitian misalnya perilaku persepsi, motivasi, tindakan, dll.,secara
holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu
konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode
alamiah.

2. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Class Room
Research (Penelitian Tindakan Kelas).
Menurut Arikunto (2006) dalam Astuti (2013:22), penelitian Tindakan Kelas
(PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah
tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara
bersamaan. Maka dalam Penelitian Tindakan Kelas guru harus terjun langsung
ke lapangan dalam hal ini kelas, untuk mencermati seluruh kegiatan yang
dilakukan oleh para siswanya selama pembelajaran itu berlangsung. Kegiatan
penelitian ini juga dimunculkan secara sengaja dan perlu diberikan tindakan yang
akan dicermati secara langsung oleh si guru selama proses belajar mengajar. Ini
semua bertujuan untuk memecahkan masalah atau meningkatkan mutu
pembelajaran di kelas tersebut. Tindakan yang secara sengaja dimunculkan
tersebut diberikan oleh guru atau berdasarkan arahan guru yang kemudian
13

dilakukan oleh siswa. Dalam hal ini arti kelas tidak terikat pada pengertian ruang
kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik, yaitu kelas adalah sekelompok
siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru
yang sama juga.
Sedangkan menurut Burns (2010:2), in Action Research (AR), a teacher
becomes an investigator or explorer of his or her personal teaching context,
while at the same time being one of the participants in it. Jadi, Penelitian
Tindakan dapat diartikan bahwa guru sebagai investigator dan pelaku pengajar
dalam konteks kelas dan orang-orang yang bersangkutan dalam hal ini yakni
siswa yang menjadi partisipannya.

B. Subjek Penelitian
Penelitian akan dilakukan di SMPN 1 Cikampek. Subjeknya adalah SMPN 1
Cikampek yang terletak di daerah Cikampek Selatan, Kecamatan Cikampek, Kabupaten
Karawang. Subjek tindakan dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IX.E untuk
dijadikan kelas sampel.
Alasan kenapa peneliti melakukan penelitian di tempat tersebut adalah berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti mengenai kemampuan Bahasa Inggris siswa
khususnya dibidang Listening sangatlah kurang. Dan mengapa peneliti memilih kelas IX.E
untuk dijadikan sampel adalah karena kelas tersebut memiliki nilai listening paling rendah
dibanding nilai listening dari kelas-kelas lainnya. Kelas IX.E memiliki siswa yang berjumlah
38 orang yang terdiri dari 23 orang perempuan dan 15 orang laki-laki. Penelitian ini akan
dilaksanakan pada bulan Maret April 2013.

C. Instrumen Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
1) Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian menurut Arikunto (2006) dalam Astuti (2013:28) adalah
alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam mengupulkan data agar
kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Penelitian ini
menggunakan beberapa instrumen sebagai berikut:

14

a. Lembar Observasi
Penelitian yang dilakukan dalam tindakan ini adalah untuk menlihat
kegiatan siswa ketika belajar didalam kelas. Observasi dalam tindakan ini
bertujuan untuk melihat indikator-indikator siswa yang telah ditentukan.
Indikator tersebut adalah 1). Aktivitas motorik siswa, apakah siswa masih
berdiam diri ditempat duduknya atau tidak selama pembelajaran
berlangsung, 2). Aktivitas Lisan, yang terdiri dari indikator siswa bertanya
kepada guru atau kepada teman tentang materi yang sedang diajarkan dan
menjawab pertanyaan guru secara lisan tanpa tulisan, 3). Aktivitas
menggambar/menulis, yang terdiri dari indikator siswa yang mencatat atau
mengerjakan soal-soal yang diperintahkan oleh guru didalam kelas.
Hasil dari pengumpulan data melalui observasi yang dilakukan oleh
peniliti dalam situasi langsung di kelas ketika penelitian , adanya situasi yang
dilaukan oleh guru maupun siswa diantaranya :


Gambar III.1
Kerangka Catatan Observasi Guru dan Siswa

GURU

SISWA
Menit Tindakan Note



b. Lembar Tes Mendengarkan
Guru memberikan lembar tes mendengarkan sekitar 1-2 lembar kertas
soal berupa multiple choices (pilihan ganda) dan fill in the blanks (mengisi kata
Menit Tindakan Note


15

yang kosong) sebagai tolak ukur peningkatan kemampuan siswa dalam
membaca. Lalu guru mengevaluasi hasil dari kedua tes tersebut apakah ada
peningkatan, tetap atau menurun pada nilai siswa.

c. Pedoman Wawancara / Interview
Menurut Arikunto (2010) dalam Astuti (2013:29), interview yang
sering juga disebut wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang
dilakukan oleh pewawancara (inteviewer) untuk memperoleh informasi dari
terwawancara (interviewer).
Peneliti mewawancarai guru bahasa Inggris dan beberapa siswa kelas
IX.E untuk memperoleh data:
Guru Bahasa Inggris
Peneliti mengumpulkan data kepada guru bahasa Inggris tentang:
1. Masalah apa sajakah yang ditemukan dalam mengajar listening.
2. Apa sajakah kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam menggunakan
media audio pada proses pembelajaran di kelas.
Siswa
Peneliti mewawancarai beberapa siswa tentang:
1. Bagaimana pendapat siswa dalam belajar listening tanpa
menggunakan media audio yang telah diterapkan oleh guru bahasa
inggris sebelum penelitian dilakukan.
2. Bagaimana respon siswa terhadap media audio dalam pengajaran
listening di kelas.
3. Apa sajakah kesulitan yang dihadapi siswa dalam menggunakan
media audio pada pembelajaran listening.

2) Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam Penelitian Tindakan
Kelas ini adalah melakukan observasi, tes, wawancara dan dokumentasi untuk
mendapatkan data kualitatif.

a. Observasi
Observasi dilakukan untuk memperoleh data langsung dari partisipan
mengenai apa saja yang akan diteliti. Sumber data observasi diperoleh ketika
16

interaksi kegiatan belajar mengajar berlangsung. Jenis data berasal dari aktiitas
guru dan siswa pada saat pembelajaran.



b. Tes
Tes dibuat berdasarkan materi yang diajarkan dan memperhatikan
tingkat penguasaan siswa terhadap materi. Pemberian tes ini bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana penguasaan siswa dalam menyelesaikan soal-soal yang
telah disiapkan oleh peneliti. Jika hasil tes menunjukkan siswa masih belum
menguasai isi dan belum memahaminya, peneliti akan melakukan siklus
selanjutnya. Tetapi apabila hasil tes formatif siswa telah menguasai dan mampu
menyelesaikan soal yang diberikan peneliti dengan baik dan terlihat
peningkatan yang signifikan maka proses belajar mengajar telah dinyatakan
berhasil danmelanjutkan pada pokok bahasan selanjutnya.

c. Wawancara
Wawancara dilakukan untuk memperoleh data langsung dari partisipan
mengenai apa saja yang aka diteliti oleh peneliti. Peneliti memilih pengumpulan
data dengan wawancara, agar memudahkan peneliti untuk mengambil data dari
setiap murid yang bersangkutan dengan aspek listening yang menjadi bahan
penelitian bagi peneliti. Agar peneliti juga dapat melihat kemampuan listening
siswa secara tidak langsung dan dapat menjadikanya sumber data.
Hasil dari pengumpulan data melalui wawancara yang peneliti lakukan
dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar III.2
Kerangaka Lembar Wawancara
Respondent Transcript Complication Theme




17

Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa Respondent adalah orang yang
kita wawancarai, Transcript adalah catatan yang ditulis oleh peneliti mengenai
poin penting yang disimpulkan dari jawaban orang yang di wawancarai tersebut,
Complication adalah permasalahan yang dihadapi oleh orang yang
diwawancarai dalam proses pembelajaran di sekolah khususnya listening, dan
theme disini adalah poin penting atau dasar utama permasalahan orang yang
diwawancarai tersebut.

D. Tahap-Tahap Penelitian
Pada pokok bahasan ini peneliti akan memaparkan langkah-langkah teknis pada
penelitian tersebut secara rinci. Sebelum menjelaskan tentang siklus penelitian tindakan
kelas, dibawah ini ada gambar III.3 agar dapat memahami siklus tersebut lebih mudah.










Gambar III.3
Siklus Penelitian Tindakan Kelas

Perencanaan Pelaksanaan
Pengamatan Refleksi
SIKLUS 1
18

















Pada dasarnya setiap siklus terdapat 3 tahapan yang akan dikerjakan oleh peneliti
antara lain: Perencanaan, Pelaksanaan dan Refleksi. Namun, ada juga tahapan Pengamatan
atau Observasi yang dilakukan oleh si peneliti pada saat tahapan pelaksanaan sedang
berlangsung guna mencatat hal-hal yang terjadi atau dilakukan para siswa kelas sampel saat
dilakukannya pengetesan. Jadi, secara umum total tahapan dalam satu siklus terdapat 4
tahapan yakni: Perencanaan, Pelaksanaan, Observasi/Pengamatan dan Refleksi.
19

Dalam memulai siklus Penelitian Tindakan Kelas (PTK), sebelumnya peneliti
mengadakan wawancara kepada guru bahasa Inggris dan murid-murid kelas IX.E untuk
mendapatkan informasi selengkap-lengkapnya tentang satu kelas yang telah dijadikan kelas
sampel pada penelitian ini. Lalu mulailah diadakan pre-test terhadap siswa kelas IX.E di
SMPN 1 Cikampek. Dalam pelaksanaan pre-test tersebut peneliti juga mengamati jalannya
tes tersebut sambil menuliskan hal-hal apa saja yang terjadi pada saat pre-test berlangsung
untuk dievaluasi pada saat tahapan refleksi.
Dimulai dari siklus yang pertama, pada tahapan perencanaan, peneliti menyiapkan
rancangan RPP dan materi yang akan diberikan kepada siswa kelas sampel. Lalu peneliti
mulai mengadakan tes di tahapan pelaksanaan yang sama dengan pre-test namun dengan
topic yang berbeda kepada para siswa untuk mengetahui apakah ada peningkatan dari hasil
pre-test sebelumnya dengan menggunakan media audio sebagai media yang telah dipilih oleh
peneliti. Seiring dengan diadakannya tes tersebut peneliti juga mengobservasi jalannya tes
dan mencatat hal-hal apa saja yang terjadi saat tes dilakukan. Selanjutnya, di tahapan yang
ketiga yakni refleksi, peneliti mengkaji hasil tes tersebut melalui rubrik penilaian listening
yang sudah dipersiapkan.
Setelah mendapatkan hasil penilaian dari siklus pertama, peneliti melanjutkan siklus
yang kedua untuk meyakinkan lagi adanya peningkatan yang signifikan di siklus selanjutnya.
Sebelum mengadakan siklus yang kedua peneliti tentunya sudah mencatat hal-hal yang perlu
diperbaiki dari siklus sebelumnya. Peneliti pun perlu mengadakan wawancara kembali pada
siswa untuk menanyakan kesulitan apa yang dihadapi ketika belajar listening khususnya pada
siswa-siswa yang masih belum berkembang di siklus pertama.
Selanjutnya peneliti mengadakan siklus yang kedua dengan tahapan-tahapan yang
sama pada siklus pertama. Setelah peneliti mengumpulkan data dari hasil observasi dan
20

wawancara dari siklus pertama, maka peneliti dapat memulai tahapan perencanaan lagi di
siklus yang kedua, yakni mempersiapkan materi dan tes dengan topic yang berbeda. Namun,
sebelum diadakannya tes yang kedua, peneliti harus memberikan asupan materi dan
pemaparan tentang materi yang akan di tes kan. Setelah itu baru peneliti dapat memulai tes
yang siklus kedua pada tahapan pelaksanaan. Peneliti harus tetap mencatat hal-hal yang
terjadi pada saat berlangsungnya tes tersebut. Lalu di tahapan refleksi yang kedua peneliti
mengkaji hasil tes tersebut untuk melihat hasil dari tes yang kedua melalui rubrik penilaian
listening. Setelah mendapatkan hasilnya dan ternyata terlihat adanya peningkatan yang
signifikan dalam kemampuan listening para siswa kelas sampel, maka penelitan sukses dan
dapat diakhiri. Namun, apabila masih tidak terlihat adanya peningkatan yang signifikan di
siklus yang kedua ini, maka peneliti akan mengadakan siklus yang ketiga dan seterusnya
dengan tahapan-tahapan yang sama pada siklus-siklus sebelumnya sampai penelitian ini
sukses meningkatkan kemampuan listening para siswa kelas sampel.

E. Teknik Analisis Data
Setelah mendapatkan data penelitian, peneliti harus mempelajari data dalam setiap
siklus, menganalisis kelemahan dan masalah selama kegiatan dan menentukan solusi apa
untuk mengatasi masalah dalam setiap siklus tersebut. Peneliti juga menganalisis hasil siswa
dari pemahaman tes mendengarkan pada setiap siklus untuk mengetahui prestasi siswa
sebelum dan sesudah menerapkan penggunaan media audio dan juga hasil dari tes wawancara
yang diberikan kepada guru bahasa Inggris dan beberapa siswa kelas IX.E. Karena dengan
penelitian dapat mencari tahu reaksi atau respon siswa tentang proses pembelajaran
mendengarkan dengan menggunakan audio sebagai media perantara pembelajarannya.
Dalam membuat soal listening, Buck (2001:138) mengatakan :
It is important to leave enough time for test-takers to respond to each question, before going on to
the next. This is especially problematic when test-takers are asked to complete a task at the same time
21

they are listening especially when filling in information grids, but this also happens with short-
answer questions or multiple-choice question.
Jadi, dalam membuat soal listening janganlah memberikan waktu yang sedikit untuk
menulis jawaban dan jangan pula terlalu sedikit memberikan batas waktu antara pertanyaan
dari satu nomer ke nomer yang lainnya. Berilah para partisipan lebih banyak waktu untuk
berpikir lalu menuliskan jawabannya. Kejadian seperti ini biasanya terjadi pada jenis-jenis
soal pilihan ganda ataupun pertanyaan jawaban-pendek.
Berikut dibawah ini terdapat gambar III.4 mengenai rubrik penilaian listening yang
dipakai peneliti dalam menilai tes yang telah diberikan kepada para partisipan yang tidak lain
adalah siswa kelas IX.E SMPN 1 Cikampek.


Gambar III.4
Rubrik Penilaian Listening
LEMBAR PENILAIAN LISTENING
ASPEK 50 60 70 80 90 100 Total
Accuracy
Grammar
Vocabulary
Comprehensiom
TOTAL

Dan pada akhir penelitian, peneliti membuat kesimpulan mengenai jawaban dari
pertanyaan-pertanyaan penelitian.




22

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi dan Suhardjono dan Supardi. (2006). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Brown, Steve. (2006). Teaching Listening. NewYork:CambridgesUniversityPress.
Buck, Gary. (2001). Assessing Listening. UK: Cambridge University Press.
Burns, Anne. (1999). Collaborative Action Research for English Language Teachers. UK:
Cambridge University Press.
Burns, Anne. (2010). Doing Action Research in Language Teaching. New York: Routledge.
Cresswell, Jhon, W. (2010). Research Design. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Field, John. (2008). Listening in the Language Classroom. UK: Cambridge University Press.
Goodwyn, Andrew and Jane Branson. (2005). Teaching English. Oxon: Routledge Falmer.
Harmer, Jeremy. (2007). How To Teach English. UK:Stenton Associates.
Moeleong, J, Lexy. (1989). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Pollard, Lucy. (2008). Teaching English. UK: Longman.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rifai. (2005). Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru
Algendindo.
Wigati, Fikri Asih. (2012). Level Propesiensi Bahasa Inggris Mahasiswa Unsika
2011/20012. Karawang: Solusi LPPM UNSIKA.
Astuti, Yulia. (2013). Meningkatkan Kemampuan Reading Teks Deskriptif Siswa Melalui
Teknik Jigsaw pada Kelas VII di SMP Negeri 2 Karang Bahagia Kabupaten Bekasi.
Karawang: UNSIKA
23