Anda di halaman 1dari 18

1

ANISA NURFITRIA
210110090196
MANKOM B
RESUME MATA KULIAH KAP
Komunikasi Antarpribadi
Saya sudah sering mendengar kalau manusia adalah makhluk sosial, terlepas dari si
manusia yang juga merupakan makhluk yang senang mengagung-agungkan privasi yang konon
dimilikinya.
Syarat mutlak bagi kita manusia untuk menyosialkan diri dengan manusia lain di
lingkungan kita adalah dengan jalan berkomunikasi. Baik secara verbal yang melibatkan kata-
kata maupun juga komunikasi non verbal yang hanya mempersilakan tubuh kita untuk berbicara.
Komunikasi antar pribadi terjadi apabila ada dua individu yang saling berinteraksi dalam
satu waktu dan terjadi suatu proses timbal balik di antara mereka berdua. Penjelasan gampang
dari jenis komunikasi ini, paling mudah kita lihat dari dua orang pemuda-pemudi yang sedang
kasmaran. Serangkaian proses komunikasi yang mereka praktikkan adalah komunikasi antar
pribadi.
Komunikasi antar pribadi juga mampu untuk mengawali dan mengembangkan peradaban
manusia . Juga mampu membantu individu untuk mengenal diri dan lingkungannya. Hal ini,
menurut saya, sesuai dengan realitas di kehidupan nyata saat seseorang mulai merasa ngeh
akan sesuatu saat seseorang lain membantu menyadarkannya lewat pesan komunikasi.
Komunikasi-komunikasi sosial yang lain tidak akan terbentuk tanpa adanya komunikasi antar
pribadi ini. Seandainya seseorang ingin berhadapan dengan sejumlah massa, keberhasilannya
dalam menjangkau massa itu ditentukan atas kemampuannya menjalin hubungan antar individu
lainnya. Seandainya dalam menjalin komunikasi dengan satu orang saja tidak bisa, bagaimana
mungkin seseorang mampu menjangkau ke massa yang lebih banyak. Yang ada nanti malah pada
planga-plongo tidak mengerti akan pesan yang disampaikan oleh si komunikator tersebut.
2

Penentuan kepribadian awal dan mendatang juga dipengaruhi oleh komunikasi antar
pribadi. Tidak hanya itu, keterampilan relasional di lingkungan keluarga, teman, rekan kerja dan
masyarakat juga membutuhkan keahlian komunikasi antarpribadi yang bagus.
Hubungan dalam keluarga, antara orangtua dan anak, misalnya, tidak akan berlangsung
baik apabila komunikasi antara satu orang dengan orang yang lain terhambat. Keluarga adalah
sebuah sistem, yang hubungan antara satu bagian dan bagian yang lainnya saling berpengaruh.
Jika dalam sebuah keluarga ada satu pihak yang tidak membuka dirinya pada anggota yang lain,
hal ini bukan tidak mungkin akan mengakibatkan suatu hubungan kurang harmonis dalam
keluarga tersebut.
Ada individu yang terkadang kurang suka apabila harus berdua dengan orang lain yang
kurang dekat dengan dirinya, pokoknya kalau dihadapkan dengan situasi seperti ini, dia
membutuhkan orang-orang lain yang mampu membackingnya dalam berkomunikasi dengan si
orang tersebut. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Mungkin saja hal ini terjadi karena si orang yang
tidak mau berduaan saja dengan orang itu memiliki kemampuan komunikasi yang lemah.
Mungkin harus diingatkan juga bahwa tujuan dari komunikasi antar pribadi itu sendiri.
Seperti yang sudah disinggung di atas, kita sebagai individu mampu mengenal tentang diri kita
sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Kita nantinya akan berelasi dengan orang lain dan
juga mau tidak mau akan membentuk suatu hubungan relasi dengan orang lain. Komunikasi
antar pribadi juga membantu kita agar kita mampu untuk mengontrol kelakuan dari orang lain,
membantu orang lain dan berhubungan dengan orang lain tentu saja.
Jadi, benar sekali pernyataan yang mengatakan bahwa komunikasi antar pribadi
merupakan sebuah dasar untuk komunikasi-komunikasi yang lainnya.
Bagaimana pun, manusia tidak bisa tidak berkomunikasi, ingatlah lagi slogan we cannot
not to communicate, karena komunikasi akan selalu ada dalam hidup kita. Begitu pula
komunikasi antar pribadi, yah, dia tidak bisa dihindari juga, dia tidak bisa diulangi juga, dia
ribet-mengacu pada unsur-unsur yang ada pada proses komunikasi-, dan dia sifatnya kontekstual,
ya, segala sesuatu haruslah runtut.
3

Biar bagaimanapun, tidak mungkin kita berhadapan dengan orang dalam kelompok besar
tanpa melewati komunikasi empat mata ini. Dan manusia itu unik satu sama lainnya. Mungkin
inilah mengapa kita juga harus mempelajari perspektif manusia dari berbagai sudut pandang.
Agar tidak keblinger dalam menghadapi makhluk yang satu ini. Supaya kita juga mengetahui apa
dan siapa maanusia secara menyeluruh. Supaya kita juga mendapatkan pemahaman esensial
tentang manusia sehingga dapat meninjau secara kritis asumsi yang tersembunyi di balik teori-
teori yang terdapat di dalam ilmu-ilmu tentang manusia.
Perlu diingat bahwa Hakekat manusia pada dasarnya adalah Kehendak Buta, kehendak
yang tidak disadari, atau kehendak yang bersifat tidak rasional dan naluriah, itu kata
Schopenhauer. Tidak hanya itu, pengalaman manusia berdasarkan pandangan materialisme (zat
material) atau spiritualisme (roh dan jiwa).
Sebenarnya, agak membingungkan juga bagi saya pribadi apabila diharuskan menghapal
setumpuk teori yang membahas manusia dari berbagai perspektif. Manusia adalah sebuah misteri
nya Scheler,saya setuju dengan pernyataan Scheler. Dalam benak masing-masing individu
tersimpan sejuta rencana yang belum tentu bisa diketahui oleh orang lain.
Manusia juga makhluk ambigu, begitu kata Marleu Ponty. Juga ada Nietsche yang bilang
bahwa Kehendak untuk berkuasa yang memungkinkan peredaran alam dan perilaku manusia.
Maaf kalau ini seperti sekedar membulak-balik penulisan saja, tapi penjelasan akan kalimat
saya di atas yang menyatakan tentang kita menjadi ngeh dengan sesuatu setelah ada orang lain
yang menyadarkannya ternyata dapat dilihat dari perspektif manusia berdasarkan perspektif
Gabriel Marcel : ...maka baru pada taraf perjumpaan dengan orang lain sajalah, saya sebagai
subyek menjadi sadar akan situasi fundamental-ku sendiri.
Ada lagi dua pernyataan dari Gabriel Marcel yang membantu saya menyadari bahwa peranan
orang lain yang saya ajak berhubungan dengan saya itu penting. Dua pernyataan itu adalah :
Aku hanya dapat berkembang secara wajar dan menjadi dewasa, sejauh aku membuka
diriku pada orang lain dan mengadakan persekutuan (communion) dengannya
dan
4

Maka dalam pengalaman intersubjektif, kita menjadi sadar (ada selalu berarti ada
bersama). Eksistensi manusia adalah selalu berada bersama dengan orang lain.
Agama juga mengatakan bahwa kita memang dilarang keras untuk mengabaikan peranan
orang lain dalam hidup ini. Menurut agama Islam yang dilansir dari sabda Rasulullah
Muhamad saw : Belum dikatakan beriman seorang kamu sebelum kamu mencintai
saudaramu sebagai mana kamu mencintai dirimu sendiri
Satu lagi perspektif yang mendukung pernyataan tersebut, teori sistem mengatakan
bahwa manusia adalah sekelompok hal, atau alat, atau bagian yang bekerja sama atau yang
dihubungkan dengan cara tertentu sehingga membentuk suatu keseluruhan, misalnya sistem
transportasi udara, sistem komputer (Webster Dictionary).
Terlepas dari kita tidak boleh melupakan peranan orang lain dalam hidup kita, kita juga
memiliki berbagai kebebasan-ketidakbebasan dalam hidup kita. Klise mungkin kasus
merokok yang merupakan hak si perokok namun juga hak si perokok pasif untuk menghirup
udara segar. Manusia memang mahluk yang bebas berkehendak, mengambil sikap,
menentukan arah kehidupannya, itu menurut Kierkgaard. Sepertinya Freud sependapat
dengan Kierkgaard, maka dia berpendapat bahwa manusia adalah mahluk yang tingkah
lakunya ditentukan oleh dirinya sendiri (naluri, dorongan).
Skinner mengajak kita untuk kembali membahas pentingnya orang lain dalam penentuan
hidup kita, katanya, manusia adalah mahluk yang tingkah lakunya ditentukan oleh faktor
eksternal atau ketentuan lingkungan.
Terima kasih Tuhan, karena manusia diberikan anugerah yang tidak diberikan kepada
makhluk lain. Akal menjadikan manusia sebagai makhluk yang rasional seperti diungkapkan
Maslow-, dan sekaligus juga merupakan makhluk yang irasional karena dorongan kekuatan yang
tidak disadari-menurut Freud-. Manusia menjadi sangat tidak rasional saat seseorang itu masih
mempercayai tahayul.
Untuk mengenal manusia juga dapat dipandang melalui 2 perspektif lain, holisme dan
elementalis. Menurut sudut pandang holisme, suatu fenomena harus dilihat dan hanya dapat
dipahami dalam keseluruhannya atau totalitas. Kebalikan dari sudut pandang ini adalah
5

perspektif elementalis yang bernanggapan bahwa fenomena dapat dipahami dan diterangkan
dengan cara menyelidiki aspek-aspeknya secara terpisah.
Freud beranggapan bahwa untuk memahami manusia (kepribadian) hanya dapat diperoleh
lewat pemahaman secara menyeluruh atau totalitas. Pendapatnya berbanding terbalik
denganargumen yang dikeluarkan oleh Skinner yang berpendapat bahwa memahami manusia
dapat dilakukan secara terpisah/bagian karena kepribadian adalah sekumpulan tingkah laku yang
dipelajari.
Bahkan, pengertian manusia juga bisa ditilik dari sisi ilmu kedokteran. Hipocrates, sang
Bapak Kedokteran mengatakan bahwa temperamen (perilaku) manusia merupakan hasil dari
keseimbangan yang unik dari cairan kimiawi tubuh manusia. Mungkin hal ini memilki kaitan
dengan mengapa antara pria dan wanita memiliki temperamen yang berbeda.
Saat Freud berkata bahwa perilaku merupakan naluri yang bersifat bawaan, maka Skinner
seakan membantahnya dengan mengatakan bahwa perilaku adalah hasil belajar dari lingkungan.
Sependapat dengan Skinner, John Lock berargumen dengan teori tabula rasanya yang
mengatakan bahwa Kepribadian bergantung kepada pengalaman dan pengetahuan yang
diperoleh dari lingkungannya. Teori Tabula Rasa bahwa jiwa manusia ibarat kertas putih yang
masih kosong. Peranan orang lain dalam membentuk kepribadian juga diakui dalam perspektif
milik interaksionism yang menyatakan bahwa Kepribadian (perilaku) manusia adalah hasil
interaksi antara faktor2 bawaan (konstitusi) dan lingkungan (environment).
Para ahli juga masih belum bisa kompak dalam berpendapat tentang sifat kepribadian itu
sendiri, apakah sifatnya berubah-ubah ataukah sifatnya tak berubah. Jika Maslow berkata bahwa
Kepribadian adalah sesuatu yang selalu ada dalam perubahan menuju taraf yang lebih tinggi,
maka Freud membuat argumen sendiri yang berbunyi kepribadian individu adalah sesuatu yang
ditentukan oleh pengalaman awal masa kanak-kanak, dan tidak akan berubah sepanjang hidup
individu tersebut.
Daripada harus sibuk memilih pendapat siapa yang paling benar, maka teori Behaviorism
merupakan jalan tengah yang menggabungkan pendapat Maslow dan Freud tadi. Dalam
Behaviorism disebutkan bahwa Studi tentang perilaku memusatkan bagaimana suatu tingkah
laku dapat diubah, dibentuk, atau dikendalikan. Saya lebih setuju dengan apa kata teori terakhir
6

ini. Karena memang jika berkaca pada diri saya sendiri dan mengutip pernyataan banyak orang,
kepribadian saya dari kecil sampai saat ini telah banyak berubah. Entah menjadi lebih baik atau
menurun grafiknya. Apa yang saya lihat dan saya suka, itulah yang kemudian jadi panutan saya.
Jika ditilik dari perspektif subjektivitas-objektivitas, maka definisi-definisi akan tingkah
laku semakin beragam. C.Rogers, berpendapat bahwa dunia batin/subyektifitas individu adalah
pemberi pengaruh yang paling besar atas tingkah laku individu tersebut. Maslow memiliki
pendapatnya yang berbunyi manusia itu hidup dalam dunia perasaan . (sepertinya argumennya
ini cocok ditujukan kepada kalian manusia-manusia yang memiliki sisi melankolis) dan,
pengalaman subyektif adalah data yang paling penting ketimbang perilaku.
Pernahkah merasa ada suatu masa saat Anda tidak sadar mengapa Anda bersikap
di luar kesadaran Anda? Bukan hal aneh, ternyata Freud beranggapan bahwa s umber atau
penyebab perilaku manusia berada dalam diri manusia itu sendiri yang sebagian besar tidak
disadari.
Maslow berkata bahwa adalah mahluk yang sadar dan bebas dalam bertingkah laku.
Pendapat yang berbanding terbalik dengan argumen yang dilemparkan Freud. Skinner
menganggap bahwa Perilaku manusia diterangkan dalam kerangka stimulus- respons, yang
mengandung implikasi bahwa perilaku manusia itu merupakan respons (reaksi) terhadap
stimulus eksternal.
Menurut teori Homostatis-Heterostatis, dapat dilihat melalui pendapat 3 orang ahli seperti
Leibniz yang meyatakan bahwa Perilaku manusia terutama dimotivasi ke arah pengurangan
tegangan-tegangan internal yang terjadi akibat ketidakseimbangan fisik (lapar, haus, stimuli
inderawi) sehingga (dengan perilaku) keseimbangan dapat dicapai kembali dan terpelihara secara
optimal. Sementara Freud-Miller menganggap bahwa Seluruh perilaku manusia digerakkan dan
ditujukan ke arah pengurangan tegangan yang diakibatkan oleh memuncaknya naluri-naluri dari
Id. Maslow berpendapat bahwa perilaku manusia terutama dimotivasi ke arah pertumbuhan,
pencarian stimulus, dan pengungkapan diri (self actualization).
Pertentangan pendapat antara Maslow dan Freud masih dapat dilihat pada teori
berikutnya. Berdasarkan kemampuan yang dapat diketahui atau tidak dapat diketahui. Freud
bilang Manusia akan dapat dipahami melalui upaya ilmiah karena pada dasarnya manusia
7

berperilaku menurut hukum-hukum alam yang sama dengan mahluk hidup lainnya saat Maslow
mengatakan bahwa Manusia tidak akan bisa dipahami sepenuhnya melalui upaya2 ilmiah karena
manusia adalah mahluk yang unik.
Tinggalkan teori-teori perspektif tentang manusia dan perilakunya. Mari sekarang kita
beralih membicarakan tentang faktor-faktor yang mampu menjadi syarat-syarat tertentu yang
harus dimiliki individu untuk bisa melabeli dirinya dengan kata menarik. Apa saja ?
Ada banyak tentu saja, yang pertama adalah yang paling mudah dijangkau oleh mata
manusia. Apalagi kalau bukan penampilan fisik. Ya, siapa yang tidak tertarik dengan individu
yang sedap dipandang mata. Bahkan Tuhan pun setahu saya- lebih menyukai orang-orang yang
fisiknya indah loh, bukankah fisik kita ini hasil kreasi tanganNya,ya?-.
Penampilan fisik menjadi sebuah tuntutan dalam beberapa bidang. Model sampul
majalah, model iklan, artis sinetron, pramugarai, public relations sebuah perusahaan, bahkan
sales promotion girls di swalayan dekat rumah Anda. Mengapa? Karena orang yang cakep pasti
sinyalnya gampang ditangkap oleh radar mata kita, baik sejenis kelamin ataupun yang berbeda
kelamin
Fakta di lapangan juga mengatakan bahwa kita akan jauh lebih menyukai orang-orang
yang berpenampilan menarik dibandingkan dengan orang lain yang berpenampilan pas-pasan.
Yah, malang sekali orang-orang yang masuk golongan pas-pasan.
Tidak jarang saya melihat orang yang memperlakukan orang yang berwajah di atas rata-
rata dengan sangat baik namun hal itu jarang sekali saya lihat apabila orang tersebut saya
hadapkan dengan seseorang yang berpenampilan di bawah rata-rata.
Mungkin, asumsi yang ada adalah individu-individu yang wajahnya sedap dipandang
mata adalah orang-orang kaya, orang-orang penting, orang-orang kota. Maka harus didekati.
Sebaliknya, mereka yang penampilan fisiknya tidak nyaman dipandang adalah orang-orang kelas
bawah yang tidak mampu mengurus dirinya sendiri, unutuk apa didekati. Mereka bukan siapa-
siapa.
Pernah saya membaca di sebuah buku yang menyatakan bahwa penampilan fisik memang
membantu seseorang untuk naik ke kelas sosial yang lebih tinggi di atasnya. Maka bagi siapapun
8

yang ingin dianggap orang-orang SES A, bergaullah dengan orang-orang yang terlihat golongan
SES A dari penampilannya.
Kalau wanita, maka bergaullah dengan pria yang menarik, agar nilai yang dimilikinya
naik. Dan disebutkan dalam buku itu juga kalau penampilan kita kurang menarik dan kita berada
dalam lingkungan pertemanan yang berisikan orang-orang dengan penampilan fisik di atas rata-
rata diri kita, maka akan ada dua kemungkingan. Yang pertama, kita tidak akan dilihat lebih
menarik yang memang benar begitu adanya- atau yang kedua, nilai teman kita bisa jatuh dimata
orang yang melihatnya.
Padahal belum tentu seperti itu,sih. Itu hanya yang saya baca di buku yang bahkan
judulnya saja saya lupa.
Setelah fisik yang menyapa mata kita, selanjutnya adalah tiga K ; kredibilitas,
kompetensi, dan kharisma. We are attracted to individuals whom we perceive as being
enthusiastic, knowledgeable, skilled, and trustworthy. Ya, pasti itu. Tidak perlu disangsikan lagi.
Saya sering sekali menemukan kalau ada individu-individu tertentu yang menurut saya
penampilan fisiknya memang biasa saja. Namun ada sesuatu yang mampu membuat orang-orang
di sekitarnya kagum dan bahkan tergila-gila padanya. Pernyataan-pernyataan kacangan seperti
karisma nya itu loh, gak nahan,. Biasanya kasus seperti ini saya temukan di kalangan teman-
teman wanita saya. Memang sepertinya sangat jarang saya mendengar pernyataan tersebut
dilontarkan oleh teman pria saya, baik yang ditujukan untuk lawan jenisnya ataupun yang
ditujukan dengan yang sejenisnya.
Kalimat klasik Dont judge a book by its cover sepertinya perlu kita gaungkan lagi di
dunia ini. Saya pribadi memiliki seorang teman. Jangan harap mata Anda akan mampu dibuai
oleh penampilan fisiknya. Fisiknya minus kalau saya boleh bilang. Orangnya slengean. Orang
yang baru pertama kali melihatnya pasti akan jauh-jauh dari dia seakan dia adalah wabah
penyakit. Namun dibalik jubah kesederhaan fisiknya, dia menyimpan sebuah talenta yang
mampu menjadi penarik orang-orang di sekelilingnya.
Feelingnya dalam dunia musik mampu diadu dengan mereka yang mengaku telah
menjadi pakar. Ini menunjukkan kompetensi sekaligus kredibilitasnya yang belum terlalu
9

menonjol. Memang bayak orang-orang seperti ini di sekeliling kita. Orang yang pertama melihat
tidak akan menimbulkan suatu keinginan untuk berpikir wah, saya mau bergaul dengan orang
ini,, namun saat dia menunjukkan mutiaranya yang tidak sembarangan orang bisa melihat,
barulah orang-orang menjadi individu yang berebut untuk mendapat gelar teman darinya.
Selanjutnya adalah jarak. Kita cenderung lebih menyukai orang-orang yang tinggal dekat
dengan kita. Saya berpikir kedekatan jarak yang menimbulkan rasa kesukaan antara satu individu
dengan indivu lainnya ini dikarenakan intensitas pertemuan mereka yang pastinya- akan jauh
lebih sering dibandingkan dengan orang yang tinggalnya jauh dari kita.
Orang-orang yang tinggal dekat dengan lingkungan tempat kita tinggal akan lebih kita
sukai dibanding dengan orang lain yang bukan juga bisa disebabkan karena kita sudah tahu
kebiasaan dan juga bukan sesuatu yang asing lagi bagi kita.
Setelah jarak, faktor penarik selanjutnya adalah kesamaan di antara individu-individu itu.
Bisa diambil contoh dari faktor-faktor penarik sebelumnya. Orang keren berkumpul dan lebih
menyukai orang keren lainnya, warga komplek A lebih menyukai orang yang berasal dari
komplek yang sama dibandingkan harus bersama-sama dengan warga komplek sebelah, mereka
yang jago bermain musik tentu juga akan lebih nyaman berekspresi dengan orang yang juga
mengerti akan dunia musik.
Dalam dunia perkuliahan di Fikom Unpad misalnya, saat mahasiswa naik jenjang
semester 3, kami cenderung lebih menyukai untuk bergabung dengan kelompok orang-orang
yang berasal dari kelas yang sama sebelumnya dibandingkan dengan teman-teman lain yang
bukan. Bukan berarti kami menutup diri dengan teman yang bukan berasal dari kelas kami
sebelumnya, hanya saja, untuk saat seperti ini, disaat tidak ada yang dikenal, lebih nyaman
apabilan berada dengan orang-orang yang berasal dari lingkungan yang sama.
Setelah kesamaan, faktor selanjutnya adalah kebutuhan komplementer kita sebagai
individu. Kita akan selalu mencari orang lain yang mampu untuk melengkapi diri kita. Ibarat
kompor yang selalu membutuhkan gas untuk menyala, kita juga seperti itu. Tidak mungkin kita
mampu memenuhi kebutuhan diri kita sendirian. Pasti kita membutuhkan bantuan dari orang
lain. Dan kita akan cenderung lebih menyukai orang-orang yang mampu memenuhi kebutuhan
kita dibandingkan mereka yang tidak.
10

Misalnya saja, saat kita merasa lemah dalam menghadapi sesuatu, kita pasti lebih
menyukai mereka yang mampu membuat kita merasa terlindungi. Mungkin karena kita merasa
menemukan orang tersebut mampu menyodorkan apa yang sedang kita inginkan saat ini
sedangkan orang lain tidak.
John Thibaut dan Harold Kelley mengatakan bahwa kita juga akan tertarik pada mereka
yang sepertinya menjanjikan suatu hubungan relasional. Sepertiya hal ini menunjukkan bahwa
kita manusia lebih menyukai suatu hal yang sudah pasti adanya dibandiingkan dengan sesuatu
yang masih tidak jelas.
Faktor berikutnya kita namai reciprocation of liking, yang menyatakan bahwa kita akan
tertarik pada mereka yang juga tertarik pada kita. Apakah hal ini dimaksudkan sebagai suatu
wujud apresiasi pribadi diri kita terhadap si individu yang menyukai kita itu atau karena
intensitas individu tersebut bertemu dengan kita atau memang si individu tersebut adalah orang
yang juga sebenarnya kita suka karena dianggap bisa memenuhi segala keinginan kita?
Seandainya hukum ini benar eksistensi nya dalam menumbuhkan suatu usaha
mewujudkan unsur ketertarikan dalam kehidupan sosial, maka seharusnya tidak usah ada lagi
orang-orang dengan status lajang disini. Karena pasti orang yang menyukai kita itu akan kita
sukai dan saat kita menyukai orang lain pun, kita akan tau lambat laun dia juga akan menyukai
kita. Lantas mengapa diam saja dan memendam rasa itu? Sepertinya teori ini wajib hukumnya
dijadikan motivasi bagi teman-teman saya yang sedang diam-diam memendam rasa pada
seseorang.
Berikutnya adalah faktor penarik yang terakhir, tanggung jawab. Katanya, We like those
who are responsive to us. Pasti hal ini berkaitan juga dengan unsur komplementasi yang
sebelumnya disebutkan diatas. Pasti hal ini juga berkaitan dengan keinginan kita yang suka kalau
ada orang lain yang mampu ngemong kita dengan baik.
Yang bisa saya simpulkan adalah ternyata ada banyak cara untuk menarik orang lain di
sekekliling kita selain dari bagaimana penampilan fisik kita. Lebih baik lebarkan semangat
berempati pada sesama dan jangan lupa juga untuk semakin mengasah kemampuan setelah
terlebih dulu menemukan apa minat kita.
11

Basic Interpersonal Needs
Dalam hidup ini, kita juga memiliki kebutuhan-kebutuhan dasar untuk menjalin suatu
hubungan interpersonal, kebutuhan dasar itu adalah :
to include - to be included (inclusion)
to control - to be controlled (control)
to love - to be loved (affection/openness)
Tidak akan ada di zaman saat semua orang ingin masuk tv seperti sekarang ini orang yang
tidak ingin eksistensi nya diakui. Setiap orang dari kita akan membutuhkan suatu pengakuan dari
orang sekitar kita untuk menjalani hidup ini dengan nyaman. Bentuk pengakuan itu adalah
dengan berusaha mengikutsertakan kita pada setiap aktivitas yang terjadi di lingkungan
kehidupan social kita, entah itu hanya sekedar mengajak berbicara orang lain atau membalas
senyuman orang yang berpapasan dengan kita.
Merujuk pada firman Tuhan yang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi
ini, maka pastilah dalam diri kita tersimpan semangat untuk turut serta menjadi manajer, baik
dalam skala kecil maupun manajer dalam arti sebenar-benarnya. Disaat bersamaan juga ada sisi
dalam diri kita yang merasa lelah untuk menjadi yang aktif dan memilih untuk menjadi satu
pihak yang pasif dan ingin untuk diatur.
Selanjutnya adalah kebutuhan individu untuk dicintai dan mencintai. Tuhan saja menurunkan
Hawa untuk Adam. Karena Tuhan menyadari kebutuhan makhluk nya akan hal yang satu ini.
Ada sebuah pernyataan yang berbunyi saat Anda dicintai seseorang, maka Anda akan diberikan
semacam kekuatan dalam hidup ini, dan saat Anda mencintai seseorang, maka Anda akan
diberikan suatu keberanian dalam hidup ini.
Abraham Maslow membuat sebuah hierarki tentang kebutuhan manusia, dia membagi
tingkatan itu dalam lima bagian dan juga digambarkan oleh sebuah piramida. Kebutuhan-
kebutuhan tersebut adalah :
Physiological needs (breathing, nutrition, clothing, shelter)
12

Safety needs (personal & financial security, health and well-being, safety net against
accidents/illness and their adverse impacts)
Social needs (love, belonging; friendship, intimacy, family)
Self Esteem needs (to be accepted, respected, valued)
Self Actualization needs (What a man can be, he must be.)


Konsep Diri
Sebuah deskripsi subjektif yang tentu saja dilihat dari kacamata kita sendiri tentang diri
kita. Kalau ada sesi perkenalan di depan kelas, maka deskripsi apa yang kita keluarkan saat itu
adalah konsep diri kita yang selama ini kita pegang.
Faktor yang memengaruhi sebuah konsep diri individu bisa macam-macam sumbernya,
misalnya saja nilai (suatu konsep mengenai apa yang baik dan buruk, benar dan salah) dan
kepercayaan yang dimiliki oleh orang bersangkutan.
Dimensions of Self
Diri manusia juga tidak hanya sebuah bentuk yang tampak oleh mata. Ternyata bentukan
dari dimensi diri manusia dibagi lagi menjadi dua bentukan lain selain bentuk fisik yang
disebut material self-, yaitu social self dan spiritual self.
Penjelasannya mudah saja, material self adalah segala penampakan wujud fisik yang
dimiliki manusia yang mampu ditangkap oleh sensor-sensor retina mata kita, yang juga mampu
mencerminkan melalui komunikasi non-verbal tentang siapa kita. Bukan hanya tubuh, tapi segala
benda yang menempel pada diri kita, misalnya baju yang kita pakai, jam tangan terbaru kita,
bangles emas kita, mobil yang kita pakai ke kampus, handphone yang yang selalu di tangan kita,
dan benda-benda lainnya.
Social self adalah cerminan dari pribadi individu dari hasil interaksinya dengan orang lain
di sekitar. Baik itu interaksi formal maupun interaksi informal. Orang-orang di sekitar kita juga
menjadi salah satu dari sekian factor penentu konsep diri kita. Saat berinteraksi kita berhadapan
dengan banyak peran yang berbeda.
13

Spiritual Self adalah satu sisi dalam tubuh kita yang berhubungan dengan dunia ketuhanan.
Entah kita memercayai Tuhan atau tidak. Juga sisi dalam diri kita yang mengusik tentang nilai,
moral, dan keyakinan lain yang kita anut.
Self Concept Develops
Konsep diri, dia tidak muncul begitu saja dalam diri kita. Ada factor-faktor penentu yang
akhirnya membentuk satu konsep diri dalam diri kita. Faktor-faktor tersebut adalah :
Interaksi dengan individual lainnya
Kita bias membentuk konsep diri kita dengan melihat diri kita dalam sebuah konsep yang
bernama looking glass self. Di saat itulah kita bisa melihat refleksi mengenai diri kita sendiri.
Looking glass self sendiri adalah sebuah konsep yang ditawarkan oleh Charles H.
Cooley. Di dalamnya terdapat tiga prinsip yang berguna untuk meningkatkan konsep diri kita.
Tiga prinsip itu adalah 1.) Bayangkan bagaimana kita dilihat oleh orang lain, 2.) Bayangkan
tentang penilaian orang-orang tersebut terhadap penampilan kita, lalu 3.) Adalah di tangan kita
sendiri keputusan akankah kita merasa sakit hati atau bangga terhadap perasaan yang kita miliki.
Kita belajar tentang diri dari cara orang memperlakukan , melihat dan memberi label.
Berasosiasi dengan kelompok
Berapa banyak kelompok yang diikuti oleh seorang individu, entah itu organisani relijius,
politik, etnik, social, dan lain sebagainya.
Peran yang kita pilih
Dalam hidup ini banyak sekali peranan yang ditawarkan, entah peran itu penting atau tidak.
Peranan yang kita pilih nantinya akan berpengaruh ke pemilihan sikap kita. Individu yang
memilih berperan sebagai mahasiswa tentu akan memiliki konsep diri yang berbeda dengan
individu yang memilih peranan sebagai pedagang asongan.
Konsep diri sendiri, ternyata dibagi lagi ke dalam 3 tipe yang berbeda. Tipe-tipe tersebut
adalah :
14

Ideal Self
Harapan-harapan yang dimiliki oleh individu yang mampu mendefinisikan cirri-ciri
orang yang dia inginkan seperti itu.
Ought Self
Kewajiban-kewajiban yang yang mendefinisikan keharusan seseorang sesuai peranan
yang dia pilih.
Actual Self
Actual self adalah bagaimana dia dilihat oleh orang di sekelilingnya saat ini.
The I-Self (active observer)
Pemosisian diri menjadi The I self berarti kita memilih untuk menjadi diri yang aktif. Disini diri
menjadi subjek. Dibagi ke dalam empat bagian lagi :
Self-awareness : Diri memberikan batasan sendiri dari keadaan sekelililngnya dan
memiliki satu sisi yang pribadi, sebuah pembatasan akses bagi orang lain untuk
memasuki diri kita sendiri.
Self-continuity
Self-coherence
Self-agency
The Me-self (arises from the observing process)
Kebalikan dari The-I self, maka disini, diri diposisikan sebagai objek. Dibagi ke dalam beberapa
bagian juga, di antaranya adalah :
Material characteristic : segala penampilan yang terlihat mata dan apa yang kita miliki.
Psychologycal characteristic : hasrat, sikap, keyakinan, proses pemikiran & kepribadian.
Social characteristic : peran dan hubungan relasiona dengan orang lain.
15

Teori-teori Komunikasi Antar Pribadi
Dalam ranah komunikasi antar pribadi terdapat 4 teori yang saya kutip untuk lebih
memantapkan pemahaman. Keempat teori tersebut saya ambil dari hasil seluncur saya di dunia
Mozila Firefox.
1. Teori Pengurangan ketidakpastian
Sumber yang menjadi acuan saya mengatakan bahwa teori ini dicetuskan pertama kali
oleh Berger. Inti dari teori ini adalah untuk menjelaskan bagaimana komunikasi digunakan untuk
mengurangi ketidakpastian antara individu yang terikat dalam percakapan mereka bersama.
Teori ini melahirkan aksioma-aksioma yang juga dibuat oleh Berger. Terdapat 7 aksioma
serta 2 aksioma tambahan dalam teori ini. Inilah yang membuat para ahli berpendapat bahwa
teori ini merupakan teori yang paling benar.
Contoh dalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita ambil dari teori ini adalah saat kita
sedang sms-an dengan orang lain, lalu si orang tersebut tidak membalas sms kita padahal sms
kita bersifat pertanyaan. Asumsi yang muncul adalah orang tersebut marahh pada kita. Otak
mulai mencari-cari segala kemungkinan yang dirasa pas untuk menjadi alas an si orang tersebut
untuk marah pada kita. Padahal, bias jadi si orang tersebut tidak membalas sms kita karena
pulsanya habis, atau sinyal yang hilang, atau karena dia sudah tertidur.

2. Teori Disonansi Kognitif
Teori ini dikemukakan oleh Festiner. teori ini berpendapat bahwa disonansi adalah
sebuah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi
mengurangi ketidaknyaman itu.
Dissonansi terjadi ketika satu elemen tidak diharapkan mengikuti yang lain. Jika kita
pikir merokok itu berbahaya bagi kesehatan, mereka tidak berharap kita merokok. Apa yang
konsonan dan dissonan bagi seseorang tidak bisa berlaku b agi orang lain. Jadi kita harus selalu
menanyakan apa yang konsisten dan yang tidak konsisten dalam sistem psikologis orang itu
sendiri. Semakin besar dissonansi, semakin besar kebutuhan untuk menguranginya.
16

Contoh, semakin perokok tidak konsisten dengan pengetahuannay mengenai efek negatif
merokok, semakin besar dorongan untuk berhenti merokok. Dengan kata lain, jika kita
mempunyai beberapa hal yang tidak konsisten dan jika itu penting untuk kita, kita akan
mengalami dissonansi yang lebih besar. Jika kesehatan tidak penting, pengetahuan bahwa
merokok itu buruk bagi kesehatan kemungkinan tidak mempengaruhi perilaku perokok secara
aktual.
3. Teori kebutuhan Hubungan Interpersonal
Antropolog Gregory Bateson adalah pendiri garis teori ini yang selanjutnya dikenal
dengan komunikasi relasional. Kerjanya mengarah pada pengembangan dua proposisi mendasar
pada mana kebanyakan teori relasional masih bersandar. Pertama yaitu sifat mendua dari pesan:
setiap pertukaran interpersonal membawa dua pesan, pesan report dan pesan command.
Report message mengandung substansi atau isi komunikasi, sedangkan command message
membuat pernyataan mengenai hubungan. Dua elemen ini selanjutnya dikenal sebagai isi
pesan dan pesan hubungan.
Pesan report menetapkan mengenai apa yang dikatakan, dan pesan command
menunjukkan hubungan diantara komunikator. Isi pesan sederhana seperti I love you dapat
dibawakan dalam berbagai cara, dimana masing-masing mengatakan sesuatu secara berbeda
mengenai hubungan. Frasa ini dapat dikatakan dalam cara yang bersifat dominasi, submissive,
pleading (memohon), meragukan, atau mempercayakan. Isi pesannya sama, tetapi pesan
hubungan dapat berbeda pada tiap kasus.

4. Teori penetrasi sosial
Salah satu proses yang paling luas dikaji atas perkembangan gubungan adalah
penetrasi sosial. Secara garis besar, ini merupakan ide bahwa hubungan menjadi labih
akrab seiring waktu ketika patner memberitahukan semakin banyak informasi mengenai
mereka sendiri. Selanjutnya, social penetration merupakan proses peningkatan disclosure
dan keakraban dalam hubungan.
17

Irwin Altman dan Dalmas Taylor mengenalkan istilah penetrasi sosial. Manurut teori
mereka, karena hubungan itu berkembang, komunikasi bergerak dari level yang relatif
sedikit dalam, tidak akrab, menuju level yang lebih dalam, lebih personal. Personalitas
komunikator dapat diperlihatkan melalui lingkungan dengan lapisan tiga dimensi;
memiliki jarak (breadth) dan kedalaman (depth). Breadth merupakan susunan yang
berurutan atau keragaman topik yang merasuk kedalam kehidupan individu. Depth adalah
jumlah informasi yang tersedia pada tiap topik. Pada jarak terjauh akan merupakan level
komunikasi yang dapat dilihat, seperti berpakaian dan bicara.



Sumber Referensi
Slide presentasi mata kuliah KAP
www.kuliahkomunikasi.com
www.scribd.com









18