Anda di halaman 1dari 6

CH 3 INTERNAL AUDITING THE TWENTY-FIRST CENTURY: SARBANES-OXLEY

AND BEYOND

1

EKA YULIANTY (A31111010)
SARBANES OXLEY ACT (SOX)
Kongres di Amerika Serikat menetapkan undang-undang keuangan yang kemudian dikenal
dengan nama Sarbanes-Oxley Act 2002 (SOX). Undang undang ini dinamakan Sarbanes-Oxley Act (SOX)
berdasarkan dua sponsornya, Senator Paul Sarbanes (D-MD) and Representatif Michael G. Oxley (R-OH).
Undang-undang ini disetujui oleh Dewan dengan suara 423-3 dan oleh Senat dengan suara 99-0 serta
disahkan menjadi hukum oleh Presiden George W. Bush dan ditetapkan pada tanggal 30 Juli 2002.
Perdebatan mengenai untung rugi penerapan SOX juga terjadi. Para pendukungnya merasa bahwa
aturan ini diperlukan dan memegang peranan penting untuk mengembalikan kepercayaan publik
terhadap pasar modal nasional antara lain memperkuat pengawasan akuntansi perusahaan. Sementara
para penentangnya berkilah bahwa SOX tidak diperlukan dan campur tangan pemerintah dalam
manajemen perusahaan menempatkan perusahaan-perusahaan AS pada kerugian kompetitif terhadap
perusahaan asing.
SOX ini dikeluarkan sebagai tanggapan atas sejumlah skandal akuntansi perusahaan besar
seperti Enron yang melibatkan kantor akuntan kondang Arthur Andersen. Skandal-skandal tersebut
menyebabkan kerugian bilyunan dolar bagi investor karena runtuhnya harga saham perusahaan. Hal ini
kemudian mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap pasar saham dunia. Kasus enron ini
merupakan salah satu contoh tidak ditetapkan Good Corporate Governance pada perusahaan. Meskipun
skandal akuntansi itu telah berlalu, tapi diperoleh dampak besar pengaruhnya terhadap reformasi di
dunia praktek akuntansi dan profesi akuntan terutama yang terkait dengan perusahaan publik dan hal
ini membawa pelajaran yang sangat besar.
SOX menetapkan suatu standar baru dan lebih baik bagi semua dewan dan manajemen
perusahaan publik serta kantor akuntan publik walaupun tidak berlaku bagi perusahaan privat. SOX juga
menuntut Securities and Exchange Commission (SEC) untuk menerapkan aturan persyaratan baru untuk
menaati hukum ini. Undang-undang ini juga disebut-sebut sebagai perubahan terbesar dalam
pengaturan pengelolaan perusahaan dan pelaporan keuangan sejak Undang-Undang Keuangan pertama
kali ditetapkan di tahun 1933 dan1934. SOX mengatur tentang akuntansi, pengungkapan &
pembaharuan tatakelola, yang mensyaratkan adanya pengungkapan yang lebih banyak mengenai
informasi keuangan, keterangan tentang hasil-hasil yang dicapai manajemen, kode etik bagi pejabat di
bidang keuangan, pembatasan kompensasi ekskutif dan pembentukan komite audit yang independen.
CH 3 INTERNAL AUDITING THE TWENTY-FIRST CENTURY: SARBANES-OXLEY
AND BEYOND

2

EKA YULIANTY (A31111010)
Adanya SOX akan mengefektifkan pelaksanaan corporate reporting supply chain. Konsep dari
the corporate reporting supply chain merupakan sebuah model yang menggambarkan proses
pembuatan laporan keuangan, hingga penggunaan laporan tersebut untuk pengambilan keputusan.
Dalam proses pembuatan laporan keuangan, manajemen dan pimpinan dari perusahaan berada di awal
dari seluruh rangkaian proses sistem pelaporan tersebut, yakni pihak yang berada di urutan pertama
dari keseluruhan proses penyampaian laporan keuangan kepada masyarakat, sekaligus merupakan pihak
yang berada pada posisi paling dominan dalam menentukan laporan keuangan yang akan disampaikan
kepada masyarakat, dengan kata lain pihak yang cukup dominan dalam menentukan tata kelola yang
baik (good corporate governance).
ISI SARBANES OXLEY ACT
SOX terdiri dari 11 seksi sebagai berikut :
TITLE IPUBLIC COMPANY ACCOUNTING OVERSIGHT BOARD
Sec. 101. Establishment; administrative provisions.
Sec. 102. Registration with the Board.
Sec. 103. Auditing, quality control, and independence standards and rules.
Sec. 104. Inspections of registered public accounting firms.
Sec. 105. Investigations and disciplinary proceedings.
Sec. 106. Foreign public accounting firms.
Sec. 107. Commission oversight of the Board.
Sec. 108. Accounting standards.
Sec. 109. Funding.
TITLE IIAUDITOR INDEPENDENCE
Sec. 201. Services outside the scope of practice of auditors.
Sec. 202. Preapproval requirements.
Sec. 203. Audit partner rotation.
Sec. 204. Auditor reports to audit committees.
Sec. 205. Conforming amendments.
Sec. 206. Conflicts of interest.
Sec. 207. Study of mandatory rotation of registered public accounting firms.
Sec. 208. Commission authority.
CH 3 INTERNAL AUDITING THE TWENTY-FIRST CENTURY: SARBANES-OXLEY
AND BEYOND

3

EKA YULIANTY (A31111010)
Sec. 209. Considerations by appropriate State regulatory authorities.
TITLE IIICORPORATE RESPONSIBILITY
Sec. 301. Public company audit committees.
Sec. 302. Corporate responsibility for financial reports.
Sec. 303. Improper influence on conduct of audits.
Sec. 304. Forfeiture of certain bonuses and profits.
Sec. 305. Officer and director bars and penalties.
Sec. 306. Insider trades during pension fund blackout periods.
Sec. 307. Rules of professional responsibility for attorneys.
Sec. 308. Fair funds for investors.
TITLE IVENHANCED FINANCIAL DISCLOSURES
Sec. 401. Disclosures in periodic reports.
Sec. 402. Enhanced conflict of interest provisions.
Sec. 403. Disclosures of transactions involving management and principal stockholders.
Sec. 404. Management assessment of internal controls.
Sec. 405. Exemption.
Sec. 406. Code of ethics for senior financial officers.
Sec. 407. Disclosure of audit committee financial expert.
Sec. 408. Enhanced review of periodic disclosures by issuers.
Sec. 409. Real time issuer disclosures.
TITLE VANALYST CONFLICTS OF INTEREST
Sec. 501. Treatment of securities analysts by registered securities associations and national securities
exchanges.
TITLE VICOMMISSION RESOURCES AND AUTHORITY
Sec. 601. Authorization of appropriations.
Sec. 602. Appearance and practice before the Commission.
Sec. 603. Federal court authority to impose penny stock bars.
Sec. 604. Qualifications of associated persons of brokers and dealers.
TITLE VIISTUDIES AND REPORTS
CH 3 INTERNAL AUDITING THE TWENTY-FIRST CENTURY: SARBANES-OXLEY
AND BEYOND

4

EKA YULIANTY (A31111010)
Sec. 701. GAO study and report regarding consolidation of public accounting firms.
Sec. 702. Commission study and report regarding credit rating agencies.
Sec. 703. Study and report on violators and violations
Sec. 704. Study of enforcement actions.
Sec. 705. Study of investment banks.
TITLE VIIICORPORATE AND CRIMINAL FRAUD ACCOUNTABILITY
Sec. 801. Short title.
Sec. 802. Criminal penalties for altering documents.
Sec. 803. Debts nondischargeable if incurred in violation of securities fraud laws.
Sec. 804. Statute of limitations for securities fraud.
Sec. 805. Review of Federal Sentencing Guidelines for obstruction of justice and extensive criminalfraud.
Sec. 806. Protection for employees of publicly traded companies who provide evidence of fraud.
Sec. 807. Criminal penalties for defrauding shareholders of publicly traded companies.
TITLE IXWHITE-COLLAR CRIME PENALTY ENHANCEMENTS
Sec. 901. Short title.
Sec. 902. Attempts and conspiracies to commit criminal fraud offenses.
Sec. 903. Criminal penalties for mail and wire fraud.
Sec. 904. Criminal penalties for violations of the Employee Retirement Income Security Act of 1974.
Sec. 905. Amendment to sentencing guidelines relating to certain white-collar offenses.
Sec. 906. Corporate responsibility for financial reports.
TITLE XCORPORATE TAX RETURNS
Sec. 1001. Sense of the Senate regarding the signing of corporate tax returns by chief executive officers.
TITLE XICORPORATE FRAUD AND ACCOUNTABILITY
Sec. 1101. Short title.
Sec. 1102. Tampering with a record or otherwise impeding an official proceeding.
Sec. 1103. Temporary freeze authority for the Securities and Exchange Commission.
Sec. 1104. Amendment to the Federal Sentencing Guidelines.
Sec. 1105. Authority of the Commission to prohibit persons from serving as officers or directors.
Sec. 1106. Increased criminal penalties under Securities Exchange Act of 1934.
CH 3 INTERNAL AUDITING THE TWENTY-FIRST CENTURY: SARBANES-OXLEY
AND BEYOND

5

EKA YULIANTY (A31111010)
Sec. 1107. Retaliation against informants.

TUJUAN SARBANES OXLEY
Tujuan dari undang-undang ini adalah untuk :
1. Melindungi investor melalui pengungkapan keuangan yang lebih akurat, tepat waktu,
komprehensif, dan dapat dimengerti.
2. Tata kelola perusahaan yang lebih baik.
3. Pengawasan yang lebih ketat dengan pembentukan PCAOB.
4. Pengendalian internal yang lebih baik.
PCAOB
SOX menetapkan suatu lembaga semi pemerintah yang dinamakan Public Company Accounting
Oversight Board (PCAOB), yang mengawasi, mengatur, memeriksa, dan mendisiplinkan kantor-kantor
akuntan dalam peranan mereka sebagai auditor perusahaan publik. SOX juga mengatur masalah-
masalah seperti kebebasan auditor, tata kelola perusahaan, penilaian pengendalian internal, serta
pengungkapan laporan keuangan yang lebih dikembangkan.
Tugas dari PCAOB adalah:
1. Mendaftar akuntan publik yang akan melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan yang
mencatatkan bursanya pada pasar modal.
2. Menetapkan standar tentang audit, pengendalian mutu, etika, independensi, dan standar yang
lain terkait dengan proses penyusunan laporan audit untuk perusahaan publik.
3. Melakukan pengawasan terhadap kantor akuntan publik.
4. Melakukan penyelidikan dan penegakan disiplin termasuk memberikan sanksi jika diperlukan
kepada kantor akuntan publik atau perorangan yang berasosiasi dengan suatu kantor akuntan
publik.
Pengaruh SOX
SOX di Amerika telah mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pengembangan praktek
good corporate governance. Meskipun undang-undang ini ditujukan untuk perusahaan publik, tetapi
perusahaan yang belum go publik pun seharusnya juga diperlukan jika ingin memperbaiki tata kelola dan
pengendalian internalnya. Perusahaan yang tidak go publik juga harus belajar mengenai berbagai aspek
CH 3 INTERNAL AUDITING THE TWENTY-FIRST CENTURY: SARBANES-OXLEY
AND BEYOND

6

EKA YULIANTY (A31111010)
pengelolaan yang terjadi di perusahaan yang telah go publik dan yakin bahwa praktek yang telah
dijalankannya berjalan baik dan menggambarkan niatnya untuk fokus pada integritas dan pengungkapan
laporan keuangannya.
SOX sangat luas pengaruhnya, SOX mengarah pada perubahan yang ekstensif dalam sistem
pengungkapan dan pelaporan keuangan, serta menyatakan beberapa pembatasan mengenai
perusahaan publik dan para akuntannya berkegiatan. Hal yang paling berpengaruh adalah adanya
ketetapan yang terpadu yang berfokus pada masalah-masalah mendasar yang menjadi penyebab
skandal akuntansi, berupa prinsip-prinsip fundamental mengenai ethical corporate conduct, yang berisi:
1. Laporan keuangan harus menyajikan secara wajar (fairly) tentang kondisi bisnis (Sections 401).
2. Chief Executive harus bertanggungjawab secara personal tentang akurasi (accuracy) dan
kelengkapan (completness) mengenai laporan keuangan perusahaan (Sections 302).
3. Jasa Non-Audit yang dilakukan oleh eksternal auditor harus dibatasi untuk menjaga adanya
kemungkinan conflict of interest yang da pat menyangsikan kemungkinan integritas sebuah
pelaksanaan audit (audit integrity) (Sections 201, 202 dan 206).
4. Perusahaan harus memiliki sebuah Boards dan Komite Audit yang independen, yang menjunjung
tinggi kepentingan pemegang saham dengan mengawasi isu-isu utama dan penting dari aktivitas
manajemen dan auditor (Sections 301 dan 305).
5. Sebuah sistem pengendalian intern yang kuat dan memadai harus ditegakkan untuk mencegah
penyalahgunaan wewenang dan fraud (Section 404).
6. Perusahaan harus menjunjung tinggi dan menunjukkan budaya etis mulai dari pucuk pimpinan
hingga ke bawah (Section 406).